The Memoirs of an Invisible Boy: Kyuhyun Doesn’t Live Here Anymore


Title: The Memoirs of an Invisible Boy: Kyuhyun Doesn’t Live Here Anymore

Author: ayoshiari

Character: Kyuhyun, Ryeowook, Kibum, Siwon, Donghae, Eunhyuk, Sungmin, Shindong, Kangin, Yesung, Hangeng, Heechul, Eeteuk

Rating: G

Genre : Drama, Angst

Length : Oneshot

Disclaimer: Enjoy~!

Yesung, Ryeowook, dan Sungmin serentak memasang headphone ke telinga mereka. Sebentar lagi proses recording title song untuk album baru akan dimulai, akan tetapi Sungmin sibuk mencari-cari nada rendah yang pas untuk ia mulai.

“Yak…cue!” seru sang produser member aba-aba musik dimulai. Sebuah instrumen piano bergenre ballad mengalun ke seantero studio.

“…I love you more than—“ Sungmin mengawali dan berhenti tiba-tiba. “Mo-more than… aish…”

“Yaish, Sungmin-ah, kau bisa serius tidak sih?!” pekik Yesung. “Rendahkan suaramu!”

Mau bagaimana lagi, Sungmin mendadak naik jabatan menjadi main vokalis menggantikan Kyuhyun, padahal suara bariton Sungmin cukup tinggi hampir melampaui Yesung juga Ryeowook. Alhasil, S.R.Y version ini mirip cicitan tikus berdesibel tinggi karena tak ada yang bisa menirukan suara tenor rendah Kyuhyun.

“Ah, hyung, aku sudah mencobanya berulangkali, tapi tak bisa!” Sungmin pun ikutan melepas headphone, naik darah juga. “Memangnya ini kemauanku untuk menjadi lead vocal?”

“Kalau bukan kamu, siapa lagi? Berkorban sedikit dong untuk Super Junior! Tanpa kita album terbaru Super Junior tidak akan pernah jadi,” tukas Yesung agak emosi.

“Yesung hyung, Sungmin hyung, jangan berteriak…” Ryeowook berusaha mencairkan suasana. “Kita bicara baik-baik—“

“Ryeowook-ah, lebih baik kau tenangkan dulu hyung-mu satu ini,” Yesung menunjuk jidat Sungmin. “Kita break sebentar.”

“Yah! Beraninya hyung menunjuk jari ke arahku!” Dengan sedikit kasar, Sungmin menangkis tangan Yesung. “Mwo? Tanpa kita album terbaru Super Junior tidak akan pernah jadi? Tanpa Kyuhyun, Super Junior tidak akan bisa merilis album lagi, hyung. Ingat itu.”

Ryeowook sudah panik. Para staff pun tak berani masuk ke dalam bilik kaca, auranya terlalu seram. Mereka cuma bisa berharap semoga Ryeowook berhasil melerai dua makhluk kesetanan tersebut.

“Kyuhyun?” sahut Yesung enteng, mencoba santai. Namun sebenarnya, di dalam hatinya, ia ingin membungkam mulut king of aegyo di depannya ini era-erat. “Lagi-lagi Kyuhyun. Bisa tidak kita stop bicara soal Kyuhyun? Life must go on! Kalau kita terus-terus-an berlarut-larut dalam masalah ini, kita tidak akan bisa—“

Braaakk! Sungmin melemparkan berlembar-lembar kertas lirik lagu ke udara. “Kalau begitu biar aku keluar dari Super Junior.”

“Sungmin hyung!” waduh, gawat. Ryeowook kalang-kabut.

“Tidak usah. Biar aku saja yang keluar. Lebih baik aku bersolo karir daripada berada dalam satu grup dengan anggota rewel seperti dirimu.” Yesung berbalik, hendak meninggalkan bilik studio.

Sebenarnya Sungmin sadar dengan apa yang telah diperbuatnya. Ia juga heran, kenapa tiba-tiba ia mendadak sensitif begini. Toh Yesung juga, sepeninggal Kyuhyun, ia seperti menutup diri. Mungkin hari ini ia meluapkan segalanya, dan yang kebetulan sial jadi target adalah Sungmin.

Yesung memutar badannya sebentar menghadap sang lawan bicara. Meski antara mereka berdua terjalin hubungan persaudaraan yang amat canggung, mereka tak pernah bertengkar separah ini. “Sungmin-ah, kamu perlu tahu. Kamu sudah berubah. Kamu bukan Sungmin yang kukenal lagi.”

Dan Yesung pun berjalan meninggalkan lokasi, diikuti Ryeowook yang merengek-rengek membujuknya untuk kembali.

Semakin lama menatap punggung Yesung, mata Sungmin berair. Mau bagaimana lagi? Kyuhyun sudah seperti soulmate-nya. Alter-ego nya. Teman sekamarnya. Teman berbagi cerita. Belakangan Kyuhyun menularinya bermain starcraft, begitu juga vice versa, ia mengajari Kyuhyun meracik wine berkualitas.

Kini, kepada siapa Sungmin harus mencurahkan isi hatinya?

 

***

 

Hujan pertama di bulan Mei turun malam itu. Donghae menerawang tetes demi tetes air dari jendela kamar mandi yang berembun.

Donghae adalah milikku.

Donghae masih teringat kalimat ajaib yang selalu diutarakan iblis kecil itu setiap hari, setiap menit, bahkan menulisnya di UFO Reply. Ia juga masih bisa mengingat bagaimana Kyuhyun dengan nakal selalu merusuh tiap kali Donghae hendak cuci muka.

Donghae berjalan ke arah wastafel hendak membersihkan muka, ketika seseorang tiba-tiba menyenggolnya. “Hyung, minggir!” Kyuhyun merebut posisi di depan wastafel dan menyamber sebotol krim pembersih wajah mahal milik Donghae, mengusapkan ke wajahnya yang penuh jerawat.

Donghae memesan sebuah krim pembersih mahal untuk menghilangkan flek-flek hitam di wajahnya, akan tetapi, dasar nggak mau rugi, Kyuhyun memakainya tanpa ijin dan jelas-jelas di depan Donghae. Agak mengganggu sih, tapi Donghae ngebiarin aja karena sepertinya krim itu jadi senjata makan tuan. Jerawat Kyuhyun bukannya berkurang malah berkembang biak. Hahaha.

“Kyuhyun-ah…” Donghae menghela napas, namun terpotong gedoran dari luar pintu kamar mandi.

“Yaaa!! Donghae-ah!! Cepat keluar!!! Aku perlu masuk nih!!” pekik Kangin membabi-buta. Dan buyarlah pikiran Donghae. Ia kembali menghadap ke cermin wastafel. Tidak ada lagi Kyuhyun di sampingnya. Tidak ada lagi yang akan menghabiskan krim pembersihnya. Tidak ada lagi yang akan mengganggunya ketika mencuci muka.

Donghae memutar kran air hangat lalu mengusap wajahnya perlahan untuk menutupi tetesan airmata yang sejak tadi ingin ditahan, tapi tak kuasa menetes dan malah membasahi kedua pipinya.

 

***

 

Kibum dan Heechul duduk berhadap-hadapan di ruang tengah dorm Super Junior. Kibum terpaku manis di depan komputer sementara Heechul memangku laptopnya. Mulut mereka terkunci rapat tapi pandangan mereka benar-benar berapi-api. Kalau sudah berhadapan dengan Starcraft, dua orang ini hampir lupa waktu.

Heechul mengeluarkan karakter andalannya, dan berakhir menang mengalahkan Kibum.

“Assa!” teriak Heechul gembira. “Ya~! Kibum-ah, kamu harus traktir aku makan habis ini!”

“Aish…” Kibum mengacak-acak rambutnya, depresi. “Ini pertama kalinya Hyung menang kan?”

Heechul manggut-manggut. “Biasanya dia yang selalu membantai kita berdua. Ahhh, aku menang tapi kenapa perasaanku tidak karuan begini?”

“Karena bocah itu selalu menang. Ketika ia menang, kita selalu mem-bully-nya, tetapi sekarang…ahhh rasanya aneh kalau bukan dia yang menang,” sahut Kibum sambil men-shut-down komputer.

Heechul menatap meja panjang di depan televisi, itu lokasi favorit Kyuhyun setiap kali bermain Starcraft. Ia akan duduk di kursi, meletakkan kaki di atas meja, dan hanyut dalam dunianya sendiri.

“Jadi sepi ya, Hyung? Magnae bebal itu pasti heboh dan teriak-teriak sendiri ketika main game, beda dengan kita.”

Heechul tersenyum geli. Kyuhyun memang super berisik. Tiba-tiba ia akan memekik ‘aishhh!’ ‘akhhh babo!’ lalu ‘ahhh!! Cepat cepat cepat!’ atau ‘aku menaaaang lagiiii!!’.

“Kita selalu memarahinya karena berisik, tapi sekarang… aku malah kangen jeritan cecunguk itu,” tambah Heechul.

“Ne Hyung.” Kibum melengos. “Aku juga.”

 

***

 

Kangin duduk malas-malasan di ruang makan, memperhatikan Sungmin yang tengah menuang wine ke dalam gelas kristal.

“Ini adalah wine Cabernet Sauvignon dari Australia,” pamer Sungmin, menyodorkannya ke depan hidung Kangin. Kangin hendak menyambar gelas kristal tersebut tapi ditahan Sungmin. “Eittt cankkam, minum air putih dulu.”

“Ahhh wae!!?”

“Untuk menetralisir syaraf lidah, sehingga rasa wine akan lebih enak nanti.”

Kangin pun menurut dan berjalan ke arah kulkas menenggak segelas air mineral kemasan. Sungmin nyengir, kemudian menyerahkan gelas berisi red wine itu ke tangan Kangin.

Baru beberapa teguk, wine sudah muncrat keluar menghambur ke wajah Sungmin. Persis seperti tragedi Intimate Note. “Pfftttt!! Rasa apa ini?! Sepet!!! Bwuah!!”

“Hyung, itu sebenarnya wine kesukaan Kyuhyun,” jelas Sungmin sambil mengelap sisa-sisa wine di wajahnya. Dalam keadaan begini, harusnya Sungmin yang marah karena jadi korban semburan, tapi Kangin berhasil membalikkan topik dan malah memaki Sungmin.

“Kyuhyun suka ini?”

“Ne. Orang Korea kebanyakan benci Cabernet Sauvignon karena rasanya sangat tanic alias kecut bukan main. Tapi Kyuhyun suka. Entahlah, anak aneh.”

Kangin meletakkan gelas wine di samping tempat duduknya, tertawa santai. “Kita anggap saja Kyuhyun ada di sini ber-wine party bersama kita.”

 

***

 

Shindong memarkir mobilnya di basement, setelah selesai ia bergegas keluar mobil, tapi tampaknya cowok yang duduk di sebelahnya enggan bangkit dari kursi.

“Yah, Eunhyuk-ah, kita sudah sampai dorm. Ayo turun!”

“Hyung… aku malas pulang. Rasanya aneh. Biar aku tidur di mobil.”

Suara Eunhyuk yang mendesah malas-malasan bener-bener bikin Shindong geregetan. Ia lalu memutar keluar mobil dan membuka pintu di dekat tempat duduk Eunhyuk. “Ayo turun. Aku nggak mau mobilku kena ilermu. Ppali wa~!”

Eunhyuk terpaksa menurut. Dalam lift yang mengantar mereka ke lantai 11, suasana agak jadi awkward. Selain karena Eunhyuk sedang bad mood, Shindong juga enggan bicara. Semenjak kejadian itu, hawa kehidupan di Super Junior berubah 180 derajat.

Sesampai di depan pintu unit apartemen, bukannya membuka password lock, Eunhyuk malah terpaku. Ini malam ketujuh tanpa sosok dia di dorm. Tempo hari, bocah itu selalu membukakan pintu untuk Eunhyuk dan member lain yang kebetulan pulang larut malam. Selain Kyuhyun tidak pernah punya schedule di malam hari, ia juga hobi begadang main game. Jadi jam berapapun hyung-deul-nya pulang, Kyuhyun akan selalu ada di sana menyambut mereka. Tapi sebetulnya Eunhyuk tahu, bermain game sampai pagi hanya alasan. Evil magnae itu rela menunggu hyung-nya pulang ke rumah dan membukakan pintu, atau terkadang menawarkan membuatkan ramyun atau kopi panas.

Kyuhyun tahu bagaimana kesepiannya pulang ke rumah ketika semua orang sudah tidur. Bukankah ketika kau tahu ada yang menunggumu di rumah, kau akan merasa ingin cepat-cepat pulang?

“Ya, kenapa tidak masuk?” tanya Shindong.

Eunhyuk menggeleng. “Ani, Hyung. Mian, aku lebih baik menginap di rumah orangtuaku saja.”

“Ya~~, Hyuk-ah! Mwoya~~?” Shindong menghela napas panjang ingin mencegah Eunhyuk, tapi ia mengerti perasaannya. Betapa pedih ditinggal pergi seorang adik laki-laki yang sudah bersamamu selama bertahun-tahun.

“Eunhyuk-ah, himnae,” gumam Shindong kemudian berlalu masuk ke dorm. Sementara itu, tanpa Shindong sadari, sosok Eunhyuk sudah menghilang dari koridor, bersembunyi di salah satu sudut mati, dan menangis meraung-raung di sana. You may fake your smiles or control your feelings, but tears never lies.

 

***

 

Yesterday’s heartache shouldn’t be tomorrow’s new heartbreak.

Kyuhyun mencuil dumpling-dumpling hangat yang baru saja dikeluarkan Hangeng dari wajan pengukus. Karena hari itu Kyuhyun ulang tahun dan member yang lain sibuk dengan job masing-masing, Hangeng menawarkan diri membuat dumpling kesukaan Kyuhyun.

“Ah ah ah, Hyung!! Panas!!!” Kyuhyun melemparkan dumpling yang ia pegang tadi kembali ke piring.

“Yaish, Kyuhyun-ah, jangan melempar makanankuuuuu~!!”

“…hyung! HYUUUNG! HANKYUNG HYUNG!!! IREONAYOOO!!” pekik sebuah suara bass membuyarkan adegan bromance HanKyu couple.

Hangeng mengerjap-kerjap, mendapati dirinya terlentang tidur di tengah studio latihan gedung  SM, terbangunkan oleh suara husky Siwon. Ternyata adegan tadi hanya mimpi semata.

Tank top putihnya basah kuyup kena keringat. Sudah hampir 3 jam nonstop ia menari dan terus menari mencari gerakan baru untuk konser Super Junior beberapa minggu lagi. Ini merupakan salah satu cara agar pikirannya tidak terus-terusan terfokus pada insiden perginya Kyuhyun dari Super Junior.

“Hyung, jangan tidur di sini!” sahut Siwon. “Ayo bangun, aku punya kabar bagus dan kabar buruk.”

“Mwol? Kyuhyun kembali? Heh? Kamu datang membawa Kyuhyun kan? Mana dia sekarang? Kamu berhasil membujuknya kembali? Siwon-ah? Katakan yang jelas! Benar, kan?”

Siwon merenggut bahu Hangeng yang bergerak-gerak saking excited-nya. “Hyung, jangan berharap yang aneh-aneh, deh. Kyuhyun tidak akan pernah kembali lagi ke Super Junior, arasseoyo? Kabar baik yang kumaksud adalah, kita berdua diberi kesempatan menampilkan solo performance di Super Show besok. Eotte? Bagus kan?”

“Konser Super Junior pertama tanpa Kyuhyun… nggak gitu bagus buatku. Lalu kabar buruknya?”

“Hyung tahu kan suasana di tubuh Super Junior kini benar-benar chaos. Kacau. Rusuh. Yesung dan Sungmin berantem, Eunhyuk dan Donghae ingin keluar dari SuJu untuk bersolo karir, Heechul hyung juga berpikiran sama. Kata dia, selama ia masih anggota Super Junior, ia akan terngiang-ngiang tentang Kyuhyun dan tidak bisa move on. Shindong hyung juga, sepertinya ia sudah taken contract dengan company lain. Ryeowook bilang, tanpa Kyuhyun, ia tidak bisa bernyanyi lagi dengan Super Junior.”

“Maksudmu…?”

“Kabar buruknya adalah, kemungkinan besar konser kita batal. Cepat atau lambat, Super Junior akan membubarkan diri. Disband.”

Where there’s good, there’s bad. Where there’s woman, there’s man. Where there’s dark, there’s light. But when there is no Cho Kyuhyun, there is no Super Junior.

Beberapa hari kemudian, beredar rumor di kalangan fans bahwa Super Junior bubar. Pada tanggal 12 November, SM Entertainment beserta member Super Junior mengadakan konferensi pers.

Kini, berita tersebut bukan lagi isu belaka karena Super Junior sendiri akhirnya menyatakan berpisah. Tentu saja mereka akan mengadakan konser perpisahan sebelum benar-benar mundur dari belantika musik Korea.

Setelah 6 tahun, puluhan penghargaan, 4 sub-unit, 10 top ten hits termasuk 6 number one singles, 3 top 5 album, 6 album yang berhasil menduduki pole position dengan penjualan tak kurang dari 44 juta won untuk keseluruhan album, serta 50 sold-out tickets’ tour, dan banyak kenangan lain akan tetap terpatri dalam ingatan meseka. Hari ini, meski mereka mengumumkan pembubaran diri, Super Junior tetaplah sebuah keluarga.

Reporter menduga bahwa penyebab bubarnya Super Junior adalah Cho Kyuhyun, salah satu mantan anggota mereka. Sang leader, Eeteuk buru-buru menanggapi dan mengatakan bahwa itu bukan penyebab utama. Masih banyak faktor-faktor lain yang mengakibatkan ketidakcocokan diantara mereka.

 

***

Eeteuk menelan ramyun pedas dari panci aluminium sambil mengambal ke luar jendela kamarnya. Ia kemudian bangkit berdiri dan membuka pintu menuju teras balkon. Langit benar-benar mendung malam itu, tak tampak satu bintang pun berpijar di atas kota Seoul.

Leader Super Junior tersebut berbalik memandang panci ramyun yang tergeletak di atas lantai. Kyuhyun pernah gagal memasak ramyun untuknya, dan Eeteuk marah bukan main. Selalu saja, penyesalan datangnya telat. Di saat Kyuhyun entah ada di mana, Eeteuk malah kangen masa-masa indah jaman dahulu.

Dan kini, dorm Super Junior benar-benar sepi bukan main. Setengah dari mereka memutuskan cabut dari dorm. Selain dorm itu menyimpang terlalu banyak kenangan, schedule antar member sudah tidak sama lagi, padahal adanya dorm itu dimaksudkan untuk mempermudah transportasi dan akomodasi.

Malam itu, Eeteuk seorang diri stay di unit apartemen 1202, entah member lainnya pada kemana. Setelah Kyuhyun pergi, Super Junior bubar, member yang lain pun sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri, Eeteuk jadi kesepian bukan main.

“Kyuhyun-ah, mianhae… sebagai leader aku tidak bisa menjaga Super Junior… malah berakhir pecah seperti ini. Mianhae Kyuhyun-ah. Mianhae…”

Sesenggukan, mata Eeteuk terpaku pada selembar robekan headline surat kabar, yang ada di dalam keranjang sampah tak jauh dari situ. Perlahan angel without wings itu menjumput dan membacanya…sial. Berita ini lagi. Pasti salah satu member merobeknya dan membuangnya ke sini.

Eeteuk menjambak rambutnya untuk meredam tangis, tapi percuma. Sepanjang malam itu, Eeteuk mengunci diri, berteman dengan kesunyian dan terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri atas bubarnya Super Junior.

Headline surat kabar itu tertulis: Kecelakaan Mobil Beruntun, Super Junior Kyuhyun Tewas di TKP.

***

Pukul 22.30, sebuah kecelakaan mobil terjadi di kawasan Stasiun Seohyun, distrik Boondang. Sang pengemudi, personil boyband Super Junior Kyuhyun, tewas di tempat karena mengalami shock jantung akibat pecahnya pembuluh darah vena yang menyebabkan penurunan takanan darah secara mendadak. Sementara itu, dua korban lainnya, seorang maanjer dan stylist, tak sadarkan diri dan baru saja dievakuasi ke Rumah Sakit Gangnam untuk menjalani perawatan.

Kecelakaan itu tak hanya menimbulkan masalah bagi keluarga korban, bahkan telah memberikan dampak rentetan kejadian pada kehidupan anggota Super Junior yang lain.

 


24 thoughts on “The Memoirs of an Invisible Boy: Kyuhyun Doesn’t Live Here Anymore

  1. ANDWAEEE!!! Jangan sampai kejadian itu benar2 terjadi!!!
    Sudah cukup Kyuhyun koma sekali karena kecelakaan, jangan lagi!!!
    Author sukses bikin aq nangis!!! hueee hikss T.T

    Like

  2. ffnya daebak! Keren banget😀
    tapi kok author tega bikin kyu meninggal?😥 huwaa
    sad banget😦
    aku nunggu ff sad author slanjutnya ya🙂 keep writing

    Like

  3. Hiks..hiks… kyu oppa jangan tinggalin kita donk !!😦

    FF.nya bagus banget !! Daebak deh buat authornya.. keep writing ya😀

    Like

  4. amit amit yaa allah smoga kejadian itu ngga pernah terjadi pada uri superman dan mreka ngga akan pernah bubar
    smoga tuhan slalu melindungi kalian dmanapun kalian berada
    amiiiin

    Like

  5. amit amit yaa allah smoga kejadian itu ngga pernah terjadi pada uri superman dan mereka ngga akan pernah bubar
    smoga tuhan selalu melindungi kalian dimanapun kalian berada
    amiiiin

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s