Trapped [Chapter 1]


Judul: Trapped [Chapter 1]

Cast: Jessica Jung, Krystal Jung, Lee Donghae, Minho, Im Yoona, Choi Siwon, Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Kim Kibum, Seo Joohyun, etc.

Author: Ara Yeon / Aracchi

Type: Series

Pairings: HaeSica, MinStal, (possible) YoonBum

Genre: Drama, Romance, Action

Rating: 15+

Warnings: Alternate Universe, Mafia Centric, Violence, Coarse language

Disclaimer: Jessica, Krystal, Donghae, etc. bukan milik saya. Saya hanya meminjam nama (dan penggambaran fisik) dari orang-orang tersebut. Apabila ada kesamaan karakter dan cerita, itu semua hanya kebetulan karena fanfic ini murni dari hasil pemikiran saya.

 

 

A/N: annyeong~ readers! (yang active maupun yang silent, meskipun saya prefer yang active) maaf menunggu lama ^^ setelah dibaca saya mohon dengan sangat tolong direview ya. Ayo hargai author yang sudah susah payah bikin fanfic ini supaya dapet feedback yuk. Saya cinta readers saya, tapi lebih cinta yang ninggalin komen di bawah hehe. Enjoy the first chapter of Trapped!

 

–o0o–

 

02.00 AM – SooYeon POV

 

 

‘DOR!’ dengan satu tembakan tepat di kepalanya, lelaki itu jatuh tersungkur. Darah mengalir dari tempat peluru menembus kepalanya tadi, segera saja lantai kamar ini dipenuhi dengan warna merah. Kuletakkan kembali pistolku ke dalam mantel hitam yang kugunakan. Aku menatap mayat lelaki yang baru saja kuambil nyawanya itu. Aneh, aku tidak pernah merasakan apa-apa setiap kali aku menarik pelatukku. Yah, lagipula perasaan seperti itu justru merepotkan pekerjaanku sih. Tak perlu lama-lama di sini, aku juga harus berhati-hati agar tidak meninggalkan bukti apapun.

 

“Kyaaa!! Ayaaaah!!” dari belakangku tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita. Sial, kelihatan ya? Aku berbalik cepat ke arah sumber suara itu. Di ambang pintu kamar ini berdiri seorang wanita paruh baya dengan tatapan horor dan penuh ketakutan. Namun belum lama aku menatapnya, sebuah tembakan yang juga tepat mengenai dahinya menghabisi nyawa wanita itu.

 

“Aigoooo~ merepotkan. Yah! SooYeon-ah, sudah kubilang pakai peredam suara. Kamu bisa mengundang saksi mata kalau begitu. Untung kita pakai topeng setengah wajah yang menutupi identitas kita ini.” SooYoung, partnerku yang tadi menembak, terus saja mencerocos sambil mendekati mayat wanita tadi.

 

Dengan menggunakan kakinya yang panjang, SooYoung memutar wajah pucat tak bernyawa wanita tadi agar bisa melihatnya dengan jelas, “Sepertinya wanita ini istrinya.” Kata SooYoung enteng, jangan heran jika dia bisa saja menganggap mayat manusia sama saja dengan mayat kucing liar yang tergeletak di jalan. Setelah mengamati sedikit lebih lama SooYoung sudah tampak mulai bosan, “Ayo pergi. Semuanya sudah beres.”

 

Tanpa bersuara, aku mengikutinya keluar, secepat mungkin menghilang dari TKP. Pakaian kami yang serba hitam berkelebat menembus malam seiring dengan gerakan kaki kami yang cepat. Bergerak seperti hantu, berusaha tidak diketahui oleh siapapun.

 

 

–o0o–

Aku sama sekali tidak punya ingatan tentang masa laluku. Yang kuingat, ketika aku membuka mata ruangan dengan cat serba putih telah menyambutku. Perut dan kepalaku diperban sementara infus tergantung di samping tubuhku yang terbaring lemah. Dan rasa sakit langsung saja menyerang di kedua tempat tadi. Aku tidak bisa ingat siapa namaku, ataupun asalku. Saat itu aku seperti anak hilang, ketakutan dan tidak tahu apa-apa.

 

Tiba-tiba, pintu ruangan yang seperti kamar perawatan itu terbuka. Masuklah seorang lelaki berumur kira-kira 40an diikuti dengan beberapa orang, yang tampak tunduk dengan aura kekuasaan, mengekor di belakangnya. Aku bisa mengingat dengan jelas detail wajahnya ketika itu. Garis wajahnya keras dengan beberapa helai rambut putih muncul di sisiran rambut hitam lebatnya yang rapi, namun ketika ia melihatku, ia bisa tersenyum dengan sangat lembut.

 

Lelaki itu menanyakan kabarku dan menanyakan namaku. Aku bilang padanya aku tidak bisa mengingat apa-apa. Paman itu tersenyum lagi dan mengelus kepalaku, “Tidak perlu khawatir. Mulai hari ini kau ikut bersama kami. Selamat datang di keluarga Choi, nak. Mulai sekarang namamu adalah SooYeon-ah.”

 

Semenjak saat itu, 10 tahun yang lalu, setelah mereka memberiku nama akupun dirawat dan diasuh oleh keluarga Choi. Aku dibesarkan di dunia mereka yang keras. Setiap hari aku bertemu dengan pistol dan darah. Tuan Choi menyuruhku ikut dalam pelatihan keras yang ada di keluarganya. Baru kemudian aku mengerti bahwa keluarga ini sama sekali bukanlah keluarga biasa. Aku baru tahu bahwa ternyata keluarga yang mengasuhku adalah keluarga yang mempunyai pengaruh besar dalam dunia mafia. Terseret dalam gaya hidup mereka, akupun terbiasa dengan bau  mesiu dan bau besi darah setiap hari. Meskipun aku tidak terlalu menyukainya, bagiku baunya terlalu menyesakkan. Dan semenjak saat itu, aku telah dilatih untuk menjadi seorang pembunuh bayaran.

 

Aku tidak bisa ingat tentang masa laluku maupun identitasku yang dulu. Aku tidak punya tujuan. Bagiku, hanya inilah jalan yang bisa kulewati.

 

–o0o–

 

08.00 AM – Jung Resident

 

Krystal’s POV

 

 

“Nona Krystal! Nona Krystal!!” mendengar suara itu, otomatis aku segera bersembunyi di balik lorong terdekat yang bisa menyembunyikanku. Hmm….. mungkin kau akan bertanya kenapa aku sembunyi-sembunyi seperti ini kan? Tidak-tidak, aku bukan seorang pencuri atau sebagainya. Aku bukanlah seorang kriminal.

 

Err… maksudku… ya, secara teknis sih ‘kami’ memang kriminal. Ah kau pasti bertanya kenapa aku menyebutkan ‘kami’ kan? Begini, apa ya, bagaimana bilangnya? Keluargaku bukanlah sebuah keluarga biasa. Keluargaku juga bukan tipe keluarga yang ideal. Kami tidak saling bercengkrama di Ruang TV. Ibuku tidak akan menyambutku ketika aku pulang sekolah, beliau juga tidak akan ribut kira-kira apa yang harus dimasak untuk makan malam. Ayahku tidak memancing di setiap akhir pekan ataupun repot-repot ke bengkel demi mobil kesayangannya. Tidak, keluarga kami tidaklah yang seperti kalian bayangkan. Keluargaku lebih senang bergelut dengan pistol, darah, perjudian, dan hal-hal underground lainnya yang ilegal. Ya, keluargaku adalah keluarga mafia. Dan termasuk salah satu yang terbesar dan ditakuti di Korea Selatan.

 

Apa? Kalian bilang ini keren? Seperti yang ada di film-film? Percayalah, aku rela menukarnya dengan apapun asalkan aku tidak di sini. Aku hanya ingin jadi seperti gadis normal lain. Sekolah biasa, hang out dengan teman-teman, pacaran, ikut ekskul, sesekali dapat nilai merah, dan sebagainya. Sayangnya, dunia tidak berjalan seperti yang kamu mau kan?

 

Aku mengendap-endap lagi, mengintip untuk memastikan apakah keadaan sudah aman? Syukurlah, orang itu sudah pergi. Dengan begini aku bebas melakukan semuanya sesuka hatiku! Aigooo~ rasanya sudah lama sekali sejak aku merasa bebas jadi diriku sendiri. Aku sudah berniat untuk meninggalkan tempat persembunyianku ketika tiba-tiba aku mendengar suara piano dimainkan dari kejauhan. Aku berbalik pelan, karena penasaran, kakiku mulai bergerak mencari sumber suara itu.

 

Lorong yang kulewati ini sudah lama sekali tidak dilewati orang. Karena di ujung ini, adalah gedung lama rumah kami yang sudah lama tidak dihuni. Ayah memutuskan untuk meninggalkannya dan pindah ke gedung sebelah yang lebih modern dan besar. Beliau tidak berniat menghancurkan rumah lama itu karena rumah itu peninggalan kakek buyut. Sebagai gantinya, dibangun lorong yang menghubungkan gedung baru dengan rumah lama.

 

Dulu sekali, ketika masih kecil aku sering bermain ke sini, tetapi sejak kejadian 10 tahun lalu aku sudah tidak pernah lagi. Semenjak itu, rumah lama ini benar-benar terbengkalai. Tapi kenapa tiba-tiba ada suara piano yang datang dari arah sana? Apa itu hantu? Ohohoho, ini jadi semakin seru.

 

Kulangkahkan kakiku di lantainya yang berdebu. Bahkan helai-helai daun yang berguguran bertebaran di mana-mana. Kakiku semakin membawaku jauh ke dalam. Dentingan piano itu semakin terdengar jelas, merdu sekali. Apa ini Chopin? Beethoven? Bach? Aish, aku tidak bisa menebaknya. Seharusnya aku benar-benar memperhatikan pelajaran musikku.

 

Suara alunan piano itu terdengar paling keras dari dalam sebuah ruangan yang ada di depanku sekarang. Aku berhenti dan menatap pintunya yang besar, kayunya sudah agak lapuk tetapi benda itu masih terlihat kokoh. Potongan-potongan memori meloncat masuk ke kepalaku. Memutar ingatan saat aku sering bermain di sini. Ruangan ini…… aku sangat mengenalnya. Tanganku terulur dan mengelus permukaan kasar pintu itu. Aku tersenyum kecil. Rasanya sudah sangat lama sekali sejak aku terakhir ke sini.

 

Tiba-tiba irama piano yang masih mengalun berubah menjadi lebih cepat. Aku tersentak, kembali ke dunia nyata. Aku hampir lupa tujuan awalku datang ke sini. Dari sini, suaranya makin terdengar jelas. Orang yang memainkannya pasti ada di dalam. Dengan cuek, aku melangkah masuk tanpa mengetuk. Mau hantu kek, pencuri kek, aku tidak takut. Yang penting aku harus tahu siapa orang yang berani masuk ke ruangan yang sangat berarti bagiku ini.

 

Begitu pintu kubuka lebar dan aku melangkah masuk tanpa berusaha menimbulkan suara, di depanku, tampak sesosok laki-laki muda yang sedang hanyut dalam permainan pianonya. Jari-jarinya menari di atas tuts piano tua peninggalan kakek. Ia tampak tenggelam dalam harmoni bunyi yang keluar dari jari-jarinya. Hanya saja, punggungnya yang menghadap ke arahku menyembunyikan wajahnya.

 

Tetapi sosok itu terlalu familiar hingga aku tak perlu melihat wajahnya untuk tahu siapa dia. Aku menghembuskan nafas lega, setidaknya dia bukan hantu. Lagu yang dimainkannya kemudian sampai di bagian final dan diakhirinya dengan lembut pada kunci terakhir. Spontan, aku bertepuk tangan. Dia terlonjak dan langsung memutar badannya ke arahku dengan cepat. Tampak terkejut. Sepertinya sama sekali tidak merasakan kehadiranku dari tadi. Aku tersenyum padanya, menunjukkan bahwa aku sangat terkesan.

 

“Ooooh~ Tuan Putri, kau mengagetkanku.”  Katanya dengan suara lega yang tidak dibuat-buat.

 

Aku mengernyit, aku tidak suka dengan nama panggilannya untukku itu, “Sudah berapa kali kubilang jangan memanggil aku dengan itu, DongHae oppa.”

 

Lelaki itu memamerkan deretan giginya yang putih, tersenyum kekanak-kanakan padaku. Aku berusaha mengabaikannya dan memilih berjalan mengelilingi ruangan itu. Bernostalgia sebentar tidak akan menjadi masalah kan?

 

Aaaah~ sudah lama sekali, aku jadi rindu. Ingin sekali rasanya memutar waktu. Aku menghirup nafas dalam-dalam, bau kayu tua sangat mendominasi di antara yang lain. Kuamati dindingnya, catnya sudah terkelupas dan ada retakan-retakan di beberapa tempat. Foto-foto tua masih tertelak di salah satu sisi tembok kamar ini. Meskipun letaknya sudah miring-miring sih.

 

Ketika aku melangkah, ada suara berdecit di beberapa tempat akibat lantai kayunya yang sudah tua. Angin berhembus semilir melalui jendela yang sedikit terbuka, melambaikan gorden putih yang bergerak seperti ombak. Pantas saja banyak daun-daun yang masuk, jendelanya terbuka begitu. Aku baru saja melangkah maju untuk menutup jendela ketika DongHae oppa menghentikanku dengan perkataannya.

 

“Aku seperti bisa merasakan keberadaannya kalau ke sini.” Katanya sambil mengamati seisi ruangan dengan tatapan nanar.

 

Bulu kudukku jadi meremang ketika aku mendengarnya, “Jangan bikin aku merinding, oppa.” Timpalku kilat.

 

Giliran kedua mata Donghae oppa yang jatuh menatapku dengan tatapan serius, “Ani, aku tidak bercanda. Hanya saja ruangan ini memiliki terlalu banyak memori tentangnya.” Dia beranjak dari tempatnya dan memutuskan duduk di sofa merah butut yang ada di dekat jendela. Sofa itu satu-satunya perabotan yang ada di sini selain piano tua yang ada di tengah-tengah ruangan. DongHae oppa menepuk-nepuk tempat di sebelahnya menyuruhku untuk ikut duduk bersama. Aku cuma menurut dan merebahkan tubuhku di sana.

 

“Ne… Ini selalu menjadi tempat pelariannya dari apapun. Dia memang selalu merasa aman di sini.” Gumamku yang kini sedang memejamkan mata. Kepalaku kurebahkan di sandaran sofa, mencoba duduk senyaman mungkin.

 

Meskipun saat itu aku tak bisa melihatnya, aku bisa tahu bahwa DongHae oppa sedang tersenyum sekarang. “Aaa… Krystal-ah, kalian dulu sering mengajakku ke sini. Kemudian dia akan mengajariku bermain piano dengan piano tua itu.”

 

Aku tertawa kecil mendengarnya, “Aku ingat oppa, dulu kau cuma bisa bisa memainkan ‘twinkle-twinkle little star’. Hahaha! Tapi kau sudah berkembang pesat sekarang.” Kataku berusaha memuji laki-laki muda di sebelahku itu.

 

“Alasanku terus bermain piano adalah hanya karena dia. Karena aku tahu dia sangat senang dengan piano makanya aku terus belajar.” Lelaki itu kini memandangi piano yang ada di tengah dengan tatapan muram, tetapi ada rasa kehilangan terpancar di matanya.

 

“Ini sangat tidak cocok dengan profesimu, oppa.” Celetukku merusak suasana.

 

Kepala DongHae oppa seketika langsung menengok ke arahku, ekspresinya terlihat bingung sekali saat ini. “Mwo?? Wae?!” protesnya.

 

“Aish, jjinjja. Kau seharusnya lebih sering memegang pistol atau pisau. Bukannya main piano. Yah, oppa, kau ini mafia. MA-FI-A.” aku berusaha menekankan setiap suku kata yang kuucapkan.

 

“Ah apa yang salah dengan itu? Ini kan hobi. Aku masih seorang mafia tahu. Lagipula kerjaku tidak melulu berurusan dengan pistol dan sebangsanya itu.” bibirnya mulai monyong-monyong sedikit karena terlalu bersemangat menyangkalku.

 

Aku memutar kedua bola mataku, “Cih, iya-iya, ‘Penasehat Muda Ketua’ kan? Kau ini sepertinya bangga sekali punya gelar seperti itu.” cibirku padanya. Lagi-lagi dia cuma nyengir.

 

“Tentu saja! Tuan Jung, Ayahmu, kan sudah banyak sekali membantu keluargaku. Sejak ayahku meninggal akulah yang bertugas menggantikannya menjadi penasihat Bos, tangan kanannya.” katanya sumringah.

 

Lagi-lagi kuputar mataku, sedikit muak mendengarnya. “Tidak ada yang bisa dibanggakan menjadi seorang mafia.” kataku dengan dingin.

 

DongHae oppa bersiul mendengarnya, “Dan itu keluar dari mulut penerus tunggal keluarga Jung yang terkenal ditakuti itu.”

 

Wajahku otomatis tertekuk, kupasang ekspresi semasam mungkin, “Aku seharusnya tidak perlu menjadi penerus tunggal seandainya kakak masih di sini.” gumamku tanpa sadar.

 

‘PLAK!’ sebuah pukulan tepat mengenai dahiku.

 

“Adaaaaww!” aku mengerang akibat rasa sakit panas yang menyerang dahiku kemudian. “Oppa!!”

 

“Jaga ucapanmu Tuan Putri. Tidak ada yang senang dengan kejadian itu. Tidak pernah ada yang berharap hal itu akan terjadi.” DongHae oppa mulai dengan sikapnya yang begini. Yang berlagak seperti seorang pengasuh. Hmm… tapi ada yang beda dengan nada bicaranya tadi, mungkin… sedikit bergetar? Dia memang selalu bertingkah aneh kalau diingatkan tentang malam yang buruk itu.

 

Tanganku masih sibuk mengusap-usap dahiku yang mulai memerah, “Aku juga tidak mau itu terjadi, oppa! Daripada siapapun, akulah yang paling sedih tahu! Dia orang yang paling berarti untukku. Bagiku, kakak adalah orang yang paling bisa mengerti keadaanku. Kau pikir aku tidak sedih? Tiap malam aku selalu berdoa agar suatu hari kakak kembali bersama kita.” rentetan luapan emosiku akhirnya berhenti. Aaaish, kenapa di saat seperti ini mataku berair sih? Suaraku juga jadi ikut-ikutan serak begini.

 

Entah apakah karena emosiku yang tumpah seperti ini, tetapi mata DongHae oppa kini melembut. Eh? Apakah dia tersentuh? “Nona Krystal, aku mengerti. Sangat mengerti. Aku juga tumbuh besar bersama kalian, dan sama sepertimu, bagiku… kakakmu juga sangat berarti untukku.” katanya lembut.

 

Aku dan kakak memang tumbuh besar bersama DongHae oppa. Karena Ayah DongHae oppa adalah orang kepercayaan orangtua kami, maka tidak aneh jika kami sangat sering bertemu dan bermain bersama ketika kecil. Saat itu DongHae oppa yang lebih tua setahun dari kakak senang sekali nempel-nempel dengan kami. Hmm… tidak, lebih tepatnya, DongHae oppa senang sekali nempel kakak ke mana-mana. Sejak saat itu, aku yang jauh lebih muda dari mereka saja mengerti kalau memang ada sesuatu yang spesial di antara mereka. Apa? Aku masih terlalu kecil saat itu katamu? Yah! Jangan remehkan aku! Aku sejak pakai popok saja sudah tahu tentang masalah cinta-cintaan begitu.

 

Ehm, kembali ke topik. Trio aku-kakak-DongHae oppa rasanya tidak bisa dipisahkan ketika itu. Kami sering bermain bersama, termasuk diam-diam menyusup ke kamar ini. Ruangan ini jadi tempat pengaduan kami. Ketika sedih atau marah kami akan saling mendukung di kamar ini, biasanya kakak akan memainkan sebuah lagu dan mengajari DongHae oppa juga untuk memainkannya. Ia pernah mencoba mengajariku sekali, tetapi dia jadi frustasi sendiri karena aku buta nada dan bermain seperti orang kesurupan.

 

“Ne, Nona Krystal… apa kau ingat? Besok adalah hari ulang tahunnya.” DongHae oppa lagi-lagi tersenyum dengan tulus. Tiba-tiba aku jadi merasa iri pada kakak, ia memiliki banyak orang yang mengasihinya dengan tulus.

 

Aku membalas senyum DongHae oppa dan menganggukkan kepalaku, “Ng, aku ingat, bagaimana aku bisa lupa?”

 

“Aku ingin berdoa untuknya, untuk ulang tahunnya. Aku berharap dia bisa bahagia, di manapun ia sekarang berada.” mata DongHae oppa tampak menerawang jauh, “Sudah sejak 10 tahun sejak ia hilang. Terkadang aku berpikir untuk menyerah dan percuma untuk menunggunya. Rasanya sungguh menyiksa, menunggu tanpa kepastian itu.”Dan lagi-lagi lelaki di sebelahku itu menyunggingkan senyum sedih.

 

“Jangan sampai lelah oppa. Kita tidak boleh lelah menunggunya.” kataku melembut, “Aku juga selalu berharap dia akan kembali lagi bersama kita. Bersama-sama menjadi keluarga lagi.”

 

Tanpa sadar, tanganku menggenggam erat liontin yang kukenakan sekarang. Liontin itu tidak pernah lepas dariku, karena liontin ini adalah pemberian kedua orangtuaku. Bentuknya seperti kupu-kupu, lambang keluarga kami, dengan permata berwarna ungu di tengahnya. Ibu kami masing-masing memberikan aku dan kakak liontin sebagai penanda bahwa kami datang dari Keluarga Jung. Hanya saja liontin milikku dan kakak berbeda. Liontin milik kakak ikut menghilang bersama dengan hilangnya kakak 10 tahun lalu. Dan dengan menggenggam liontin milikku erat-erat seperti ini, aku merasa setidaknya kami masih saling terhubung satu sama lain, entah bagaimana caranya.

 

“Jessica unnie… kembalilah.” bisikku lirih.

 

DongHae oppa hanya duduk terdiam di sebelahku, tampak seperti patung yang menunduk dengan semua kesedihannya. “10 tahun yang lalu itu… kenapa kecelakaan itu harus terjadi? Dan kenapa tubuh kakak tidak bisa ditemukan di antara puing-puing mobil yang sudah hancur itu? Aku selalu berpikir bahwa ia hanya ‘menghilang’ dan masih bertahan hidup entah di mana. Aku selalu yakin dengan itu.” kataku pelan. Sementara itu, DongHae oppa hanya tersenyum kecil, gesture yang cukup untuk memberitahuku bahwa ia juga memiliki pikiran yang sama sepertiku.

 

Aku mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya keras-keras, “Anyway, selamat ulang tahun yang ke-22 Jessica unnie!” teriakku sekeras mungkin. Aku tahu dia tidak bisa mendengarnya, tetapi setidaknya aku ingin bisa menyampaikan perasaanku.

 

“Ne… saengil chukkahamnida!!” aku agak terkejut ketika DongHae oppa tiba-tiba ikut berteriak bersamaku. Lalu kemudian laki-laki itu menoleh ke arahku dan menatapku dengan pandangan agak bingung, “Ah ngomong-ngomong kenapa Nona ada di sini? Bukankah seharusnya Anda ikut les sekarang ya?”

 

Mendengar itu rasanya aku ingin meninju tembok, “Aaaah! Tidak kau juga, oppa! Aku bosan tahu tiap hari harus ikut jadwal ini jadwal itu, pelajaran ini itu. Aku juga butuh bernafas! Lagipula ini kan Hari Minggu dan hanya les Tae Kwon Do sekarang. Memangnya wanita seperti aku butuh yang seperti itu?!”

 

DongHae oppa hanya menatapku dengan tanpa ekspresi, “Ng… aku rasa iya. Kau kan putri Mafia.” katanya datar.

 

“Lalu apa hubungannya? Lagipula aku ini sekarang sudah sabuk merah! Tidak perlu les lagi kan?!”

 

“Daripada meributkan itu… Di mana Minho? Dia seharusnya selalu bersamamu. Itu tugasnya sebagai bodyguardmu kan?” ucapnya dengan menusukkan pandangan menyelidik ke arahku.

 

Aku mencibir mendengar nama orang itu disebut, “Daripada bodyguard lebih cocok disebut manajer. Kerjaannya cuma mengatur-atur jadwalku saja. Cerewet sekali.”

 

“Itu sudah menjadi bagian pekerjaannya ‘mengasuh’mu Nona. Nah sekarang jelaskan padaku di mana dia?”

 

Sebisa mungkin aku menghindar dari tatapan menyelidik milik DongHae oppa, “…..aku mana tahu. Aku kabur darinya.” kataku pelan.

 

“Kabur?! Nona Krystal, anda tahu kan kalau Anda begini terus bisa-bisa yang kena getahnya adalah Minho? Dia bisa dipecat!!”

 

“Err…” Bagus deh, dengan begitu kan aku bisa jadi bebas.

 

“Sekarang ikut aku, Nona! Akan kugeret kau ke tempat Minho. Aish bocah merepotkan.” Setelah uring-uringan DongHae oppa selesai, ia menarik tanganku dan menggeretku berdiri dari sofa menuju keluar.

 

Aku cuma bisa meringis dan pasrah ketika diseret, “Huweee~” rintihku sambil berusaha mengikuti langkah milik DongHae oppa yang lebar-lebar. Ya Tuhan, tolonglah aku.

 

–o0o–

08.00 AM – Choi Family’s Headquarter

 

SooYeon POV

 

 

Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, aku dan SooYoung sampai di Headquarter Keluarga Choi. Gedung tinggi besar dengan aura dinginnya yang selalu menyambutku. Anehnya, hanya tempat inilah yang kuingat bisa kupanggil ‘rumah’.

 

SooYoung dan aku langsung menuju Lounge, di sanalah tempat kami, para Assassin dikumpulkan. Biasanya untuk menerima misi dari atasan kami. Ruangan itu cukup luas, dengan interiornya yang megah seolah ingin mengintimidasi siapapun yang masuk ke sini.

 

“Unnie, annyeonghaseyo! Bagaimana misinya?” sapa SeoHyun, junior kami begitu melihat kami melangkah masuk. Aku cuma terdiam, merasa tidak perlu menjawab karena SooYoung sudah mengacungkan jempolnya sebagai jawaban. Aku langsung terduduk di salah satu sofa sambil merebahkan kepalaku. Entah kenapa, rasanya misi kali ini sangat melelahkan. Aku melirik ke arah SeoHyun yang kini asyik membicarakan sesuatu dengan SooYoung. SeoHyun, gadis bertampang manis ini umurnya 2 tahun lebih muda dariku tetapi sudah terlibat dengan dunia yang kotor seperti ini.

 

Diam-diam aku kagum padanya, orang awam pasti akan mengira dia hanyalah gadis polos dan lugu. Hmm… yah, secara teknis sih begitu. Tetapi ketika ia sudah memakai topengnya dan mulai menjalankan misi, yang kulihat hanyalah pembunuh berdarah dingin.

 

“Seo, siapa saja yang sekarang ada di sini?” celetukku.

 

Kepala SeoHyun langsung tertoleh ke arahku, “Ah… BoA unnie belum kembali dari Jepang. Sepertinya Yakuza di sana agak sulit ditangani.” Pikiranku langsung melayang ke sosok wanita yang lebih tua dariku itu. Tidak heran dia tidak pernah ada di sini, secara dialah Top Assassin yang dimiliki Keluarga Choi. Aku bahkan hanya pernah bertemu dengannya sekali atau dua kali.

 

“Lalu selain aku, SooYeon unnie, dan SooYoung unnie di sini ada…” Belum selesai juniorku itu becerita, suara pintu yang tiba-tiba dibuka mengalihkan perhatian kami. Dan masuklah dua orang laki-laki yang kira-kira berumur sepantaran denganku.

 

“KiBum sunbae, KyuHyun sunbae.” Celetuk SeoHyun yang melihat kedatangan mereka.

 

Laki-laki yang berjalan di depan mengangkat sebelah tangannya dan menyapa kami, “Annyeoong~”. Rambutnya yang ikal kecoklatan serta perawakannya yang tinggi tegap selalu menarik perhatian orang-orang, terutama wanita. Tapi sayang, Cho KyuHyun bukan tipeku.

 

Di belakangnya, Kim KiBum mengikuti. Yang satu ini lebih kalem dan terlihat mengalir seperti air. Kalau kuamati mereka berdua baik-baik, keduanya tampak berlawanan hampir 180 derajat. Dari pakaiannya saja sudah terlihat. KyuHyun lebih memilih jaket kulit hitam dengan kaos putih polos dan celana jins yang agak kusam. Sementara KiBum tampak rapi dengan jas dan kemeja serba hitam. Kalau saja aku tidak mengenal mereka, mungkin aku sudah mengira mereka adalah model atau aktor.

 

Tetapi mereka mengingatkan pada diriku sendiri dan SooYoung. Sifat kami berbeda, tetapi kami terjebak dalam sebuah hubungan bernama ‘partner’.

 

“Tumben sekali kalian ke sini.” SooYoung sepertinya tidak berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

 

“Akhir-akhir ini kami tidak ada kerjaan. Jadi kami punya banyak waktu luang.” Seperti yang sudah diduga, KyuHyunlah yang menjawab.

 

“Aku tidak pernah berharap kalian punya kerjaan, atau misi. Kalau boleh jujur.” Bodoh, mulutku bergerak sendiri.

 

KiBum melirik ke arahku, masih dengan wajah tanpa emosinya. SooYoung sedikit ternganga dan SeoHyun tampak khawatir. Sementara KyuHyun malah nyengir mendengarku. “Hahaha! SooYeon-ah! Aku suka sifatmu yang blak-blakan itu!” tawa KyuHyun menggema di seluruh ruangan, “Tentu saja kan, tidak ada satupun dari keluarga ini yang menginginkan kami bergerak.”

 

Aku mengangkat satu alisku, tetap berusaha terlihat tenang di hadapannya. Sedetik kemudian, aku bisa melihat ada kilatan kelicikan di mata KyuHyun. “Karena jika kami bergerak itu artinya akhir bagi salah satu anggota Keluarga Choi itu sendiri.” Katanya mengakhiri.

 

Ah, aku belum cerita ya? Yang membedakan mereka berdua dari kami, adalah fakta bahwa mereka merupakan tim elit assassin yang dimiliki Keluarga Choi. Tugasnya: membinasakan seluruh pengkhianat Keluarga Choi. Termasuk semua pembelot.

 

Tangan mereka sudah banyak terlumuri darah dari saudara kami sendiri. Darah orang-orang yang dulunya mengabdi pada keluarga ini namun berani berkhianat. Dalam dunia kami, tidak ada yang lebih buruk daripada menjual kesetiaanmu pada orang lain.

 

Karena itu, tiap kali aku bertemu mereka aku pasti selalu bergidik jika mengingat kenyataan itu. Aku tidak pernah suka berlama-lama berada di sekitar mereka.

 

Belum apa-apa, KyuHyun sudah membuka mulut lagi. “Makanya, jangan pernah berpikiran yang aneh-aneh ya SooYeon-ah. Ah, tapi itu kalau kamu tidak ingin berakhir di tangan kami sih.”

 

Apa-apaan ekspresinya itu? Licik seperti ular. Kalau saja aku tidak punya kesabaran sudah kutarik pelatukku, biar saja peluruku menembus tulang tengkoraknya.

 

“KyuHyun…” suara KiBum yang tenang menyela ketegangan di antara kami. Oh? Apakah dia akan mengatakan sesuatu untuk membelaku? Tetapi sedetik kemudian, lelaki itu berdiri dan malah berjalan menuju pintu. Bodoh juga kalau aku berharap pada robot satu ini.

 

“Aku tidak dibutuhkan lagi kan? Kalau begitu aku pergi ya.” Ucapnya enteng sambil ngeloyor pergi, tak sekalipun mengarahkan pandangan ke arah kami. Yah, sikap macam apa itu. Meskipun aku tahu sikapku dingin, tapi setidaknya aku masih memiliki sopan santun.

 

Dan dari pintu yang tadi dilewati KiBum, tidak lama kemudian muncul seorang gadis yang menenteng-nenteng hardboard serta berpakaian rapi. Aku mengenalnya sebagai Luna. “SooYeon-ssi dan SooYoung-ssi, Tuan Choi ingin bertemu dengan Anda.” Katanya dengan sangat formal.

 

KyuHyun mendengus mendengarnya, sementara SeoHyun memilih untuk menyemangati kami. “Selamat bekerja unnie!” SooYoung sudah bangkit duluan dan dengan segera aku mengikutinya. Luna memimpin di depan kami.

 

Di depan ruangan yang tidak terlalu asing bagiku itu, Luna berbalik dan membungkuk ke arah kami. “Silahkan masuk, Tuan Choi sudah ada di dalam menunggu Anda.” Katanya mempersilakan.

 

Kami pun masuk ke dalam ruangan kerja dengan interior gelap yang mendominasi. Beberapa furniture bergaya klasik semakin menambah atmosfer berat yang menyelimuti kami. Di sana, di meja kerjanya yang rapi, telah menunggu seorang pria berbadan tegap yang menggunakan setelan jas hitam. Punggungnyalah yang menatap ke arah kami, lelaki itu sedang mengamati keadaan di luar melewati jendela yang ada di belakang meja kerjanya. Meski tak menghadap ke arah kami, lelaki itu selalu memberikan aura menekan yang selalu kurasakan jika ia berdiri di sekitar kami.

 

“Apa yang ingin kau bicarakan pada kami?” tembak SooYoung langsung. Aish, kenapa aku punya partner yang mulutnya lebih cepat daripada otaknya sih?

 

“Begitukah caramu bicara pada atasanmu SooYoung?” suara lelaki itu, seperti yang sudah pernah kudengar berkali-kali, tetap dingin seperti biasa.

 

SooYoung berdecak, “Aku ini sepupumu, Siwon.” Dan dengan itu lelaki yang tadi dipanggil SooYoung berbalik menghadap ke arah kami. Matanya memandang kami tajam, ekspresinya tetap dingin seperti robot. Choi Siwon, saat ini menjabat sebagai kepala keluarga Choi sekaligus atasan kami. Ya, dialah pimpinan tertinggi keluarga mafia ini. Setelah Tuan Choi senior, ayahnya, meninggal SiWon menggantikan posisinya dengan segera. Sejak saat itu dia menjadi salah satu lelaki paling berpengaruh di dunia bawah tanah Korea Selatan.

 

“Mau aku sepupumu atau bukan, tetapi saat ini jangan mencampur adukkan urusan pribadi dan pekerjaan SooYoung” kata Siwon tegas. Jika sudah begitu SooYoung pasti terdiam dan memilih tidak melawannya.

 

Ketika kemudian perhatian SiWon teralih padaku, seketika bulu kudukku meremang. Ya, mungkin bisa dikatakan aku memiliki rasa takut pada lelaki ini. “SooYeon, kau tahu kan selama ini aku menganggapmu sebagai salah satu assassin terbaik kami.” Mendengar suaranya yang berat itu aku hanya memilih diam. Kepalaku tertunduk, berusaha sama sekali tidak tertangkap oleh sepasang mata hitam legam miliknya. Sepertinya aku tahu ke mana pembicaraan ini akan mengarah.

 

“Pagi ini aku mendapat laporan, kalian telah melakukan hal yang tidak perlu.” Nadanya yang tenang ketika mengatakannya justru tidak membuatku rileks sama sekali. “Bisa kukatakan aku agak kecewa dengan kerja kalian kali ini.”

 

“Maafkan kami, istrinya tiba tiba muncul dan kami tidak pernah sampai berpikir ke sana. Itu di luar dugaan kami. Kami tahu kami lengah.” Dengan cepat aku menimpali, aku harap kali ini setidaknya SiWon bermurah hati sedikit.

 

“Kami terpaksa melakukannya untuk sebisa mungkin menghilangkan saksi yang ada.” Sahut SooYoung menambahi.

 

Saat itu, SiWon sudah terduduk di kursi kerjanya, kedua siku ia letakkan di atas meja dan tangannya tertangkup hingga menutupi mulutnya. Aku hafal gestur itu, gestur yang menandakan SiWon sedang mempertimbangkan sesuatu.

 

“Tanpa perlu kuingatkan lagi kalian pasti sudah mengerti kan. Prinsip kerja keluarga ini.” Pandangan matanya kini begitu menusuk ke arah kami berdua, “kerjakan dengan sebersih mungkin dan seefisien mungkin. Tinggalkan hal-hal yang tidak perlu.’

 

Perlahan-lahan, badanku kubungkukkan menghadap lelaki itu, “Maafkan kami  atas kelalaian yang kami lakukan. Kami tidak akan mengulanginya.” Dari pojok penglihatanku, aku bisa melihat SooYoung meniru apa yang kulakukan. Badan kami membungkuk sedalam-dalamnya yang kami bisa. Jika sudah berurusan dengan SiWon kami tidak mau mengambil resiko apapun. Dan kemurah hatiannyalah yang sangat kami perlukan sekarang.

 

SiWon terdiam sejenak, namun kemudian terdengar helaian nafas yang berat darinya, “Seharusnya kalian bisa melakukannya tanpa mengundang saksi kan? Kali ini kumaafkan, tetapi sebagai salah satu assassin terbaik kami, seharusnya kalian tahu kualitas diri kalian sendiri.”

 

Meskipun melembut, suara SiWon tetap terasa menekan perasaanku. Perlahan, kutegakkan kembali tubuhku. Rasanya lega sekali, setidaknya maut sudah berlalu. “Terima kasih atas pengertiannya” kataku singkat.

 

SiWon mengangguk sedikit dan memejamkan matanya, “Kalian boleh pergi”. Bersamaan dengan perintahnya, aku langsung berbalik menuju pintu keluar. Namun lagi-lagi suara SiWon menghentikanku. “SooYeon-ah” panggilnya. Aku menengok ke balik punggungku dan menemukan lelaki itu menatapku dalam-dalam. “Aku harap kau bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga ini. Kami percaya padamu.” Aku tidak tahu apakah yang barusan dia ucapkan tadi bermakna ambigu, namun dari dalam matanya aku bisa menemukan ada arti lain yang ia coba katakan padaku. Aku memilih diam tentang itu, namun kubungkukkan lagi sedikit tubuhku, “Ne, saya mengerti.”

Dan dengan itu, SooYoung dan aku bergegas membawa kaki kami keluar dari ruangan ini. Sepanjang perjalanan menuju kamar kami masing-masing yang terletak di lantai atas gedung induk, SooYoung dan aku sama-sama terdiam. Ah, tetapi tidak semua assassin maupun anggota keluarga mafia ini tinggal di gedung milik keluarga Choi. Hanya keluarga inti saja seperti SooYoung dan -tentu saja- SiWon, yang menyandang nama ‘Choi’ yang tinggal di gedung induk. Pengecualian diberlakukan terhadapku. Karena sejak 10 tahun yang lalu aku diasuh oleh Tuan Choi Senior, aku sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Beliau bahkan memberiku marga Choi di depan nama yang ia buat sendiri untukku, Choi SooYeon. Sejak saat itu aku selalu dianggap menjadi bagian dari keluarga inti.

 

Tanpa terasa, kami sudah sampai ke kamar kami masing-masing. SooYoung mengucapkan pamit duluan, ia bilang ia terlalu lelah karena semalaman tidur akibat menjalankan misi. Aku hanya mengiyakan dan segera masuk ke kamarku sendiri.

 

Kamarku adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri. Menjadi orang biasa. Bukan SooYeon si assassin. Aku menghirup nafas dalam-dalam dan berusaha memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya ke paru-paruku. Rasanya semua lelah dan beban bisa terangkat jika aku berada di suaka kecil milikku ini.

 

Aku melangkahkan kakiku ke meja rias yang ada di sudut. Salah satu laci yang ada di bawah kubuka dan kukeluarkan kotak beludru hitam berukuran sedang yang ada di dalamnya. Aku membukanya seraya kududukkan tubuhku di kursi.

 

Aku menatap benda yang ada di dalamnya dengan memberikan seluruh perhatianku, kuamati dengan jelas setiap detilnya. Sebuah kalung dengan liontin oval yang berpendar dengan indah. Warnanya seperti batu onyx, tetapi dengan ukiran kupu-kupu besar bersayap ungu di  tengahnya. Di pinggir sayap-sayapnya tertanam permata-permata mungil yang membuatnya semakin bersinar. Desainnya kuno dan elegan, sehingga terlihat seperti datang dari jaman dulu. Aku membuka liontin itu, tak ada apa-apa di dalamnya selain sebuah ukiran dengan huruf latin yang membentuk sebuah nama.

 

“Jessica..” kataku berbisik ketika membacanya. Aku mengulanginya lagi, kubiarkan nama itu berulang kali meluncur dari ujung bibirku.

 

“Jessica…” ada apa denganku? Kenapa hatiku berdesir setiap kali kuucapkan nama ini? Liontin ini adalah satu-satunya barang yang kumiliki sejak aku tersadar di rumah sakit dengan tanpa ingatan yang tersisa sama sekali. Aku tak pernah memberitahu siapa-siapa tentang keberadaan liontin ini, tidak SooYoung, bahkan dari Tuan Choi sekalipun. Ketika aku terbangun, liontin ini sudah terkalungkan di leherku. Hanya inilah yang tersisa dari kehidupanku yang sebelumnya. Hanya benda inilah yang menghubungkan diriku dengan siapa aku sebenarnya. Mungkin… mungkin saja, liontin ini adalah kunci dari semua pertanyaanku.

 

“Jessica… siapa? Kau… orang yang seperti apa, Jessica?”

 

 

 

-TO BE CONTINUED-

A/N: Untuk para readers yang menantikan action dari fic ini. Author minta maaf dulu soalnya untuk chapter chapter awal masih tentang pengenalan tokoh. Jadi actionnya mungkin baru ada sekitar 3 atau 4 chapter ke depan. Author jujur aja juga baru pertama kalinya bikin fic action u,u jadi mohon maaf nanti kalo ada yang tidak berkenan. Oh iya, jangan lupa untuk review dan komen yang membangun ya readers! Misalnya apa yang kalian pikirkan tentang fic ini, mulai dari jalan ceritanya, tokohnya de el el. Biar author bisa semakin improve😀 Kalau banyak yang komen insyaAllah saya update lebih cepat. Dan… takutnya kalau sedikit sekali yang komen saya akan kasih password fic ini atau malah tidak saya lanjutkan lagi. Saya sempet kaget akhir akhir ini viewers blog ini mbludak, tapi dikit banget yang komen L Sudah ah, saya akhiri saja ngomong sendirinya -,- Terima kasih sudah membaca❤ untuk character chart, silakan kunjungi icyfishy.wordpress.com


16 thoughts on “Trapped [Chapter 1]

  1. Daebak chingu !!
    Wah aku paling suka ff genre action kayak gini .
    Tapi, menurut aku pilhan katanya agak terlalu ‘berat’ jadi susah dimengerti😄
    atau aku aja yg gak ngerti ya ? *lupakan*
    pokoknya lanjutkan !!😄

    Like

  2. akhirnya nemu ff bertemakan action lagi u.u
    DAEBAK!!!
    suka bgt sama gayanya mafia mafia cantik disini.. jessica jadi sooyeon.. itu keren😀
    aku juga suka bgt sama gaya bahasa di ffini^^ jarang ada loh ff yang kata katanya “seberat” ini.. itu keren..
    lanjuuut thoor~
    jangan lama lamaa~

    Like

  3. Wah annyeoong, di sini Ara, authornya.
    Eeee maaf admin, author notenya ternyata saya ga sengaja ngirim yang untuk blog pribadi saya :O aaa maaf ya hehe. Tapi terimakasih sudah mau publish!

    Like

  4. keren jarang bgt ada FF action!
    pairing’a Haesica,Seokyu,Minstal dan q b’harap ada Yoowon coz jrg bgt nie pairing!B’harap bgt!!
    bahasa’a mnurutq ga brt2 amat!!
    pkok’a lanjuttt+ga pk lama!!

    Like

  5. wah si sica lupa ingatan ya ??
    apakah choi grup dan jung grup slng bermusuhan??
    d tunggu lanjutan partx eon😀
    mian br bs comment skrg*bow*

    Like

  6. aigoo kenapa Jessica bisa lupa sama dirinya sendiri?
    btw saya suka sama semua tokohnya, hohhhooo karakternya menarik dan kuat jadi makin semangat bacanyaa =)

    eh iya. kalau katahuan Jessica berkhianat berarti dia bakal di bunuh sama Kibum dan Kyuhyun, ya? ommooo jangan dong. btw ini haesica kan?

    siip. saya akan terus pantau trapped sampai akhir. yeah!
    eonni fighting~

    Like

  7. Keren chingu…wlupun aq kadang bnyak yg kurang ngerti
    hehehe
    #plakk,,,bingung…
    Asyix…asyik ad my favorit couple HaeSica,,,
    aduwh thor jngan bilang nanti keluarga choi,,bkal’n musuhan sma keluarga ‘jung’ wahh…gimana nanti sma Jessicanya….
    Ditunggu next chapter chingu…

    Like

  8. Annyeong…mianhae-mianhae, baru bisa komen sekarang, baru tau ada ff berat kaya gini tapi nyandu buat pengen baca lanjutannya terus-hahahahaha. Dari segi cerita asyik, dari segi bahasa emang agak berat tapi justru itu yang bikin beda dari yang lain karena temanya juga action kan, berbau ala mafia-gangster pula-wah komplit lah, segi pairing juga oke, banyak banget pairing yang aku suka pada maen mua di ff ini, best of the best lah untuk genre action di page ini, satu kata lagi, D-A-E-B-A-K!

    Like

  9. Satu kata, Wow! Aku suka banget sama action, entah itu film, cerita atau apa pun yg berhubungan dgn action. Ini satu2nya fic action yg pernah kubaca. Ya ampun! Daebak pecah! ^o^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s