Stitches


Untitlekdhhh-2

Yunho diam saja melihat genangan air mata yang berhamburan di depannya. Tak peduli. Atau tak ingin peduli. Semua sama saja.
Sebelah kakinya mundur selangkah menjauh. Meski tatapannya masih terus terpusar pada aliran air tersebut. Ia ingin lari. Melarikan diri seperti pengecut seharusnya. Seperti dirinya yang sebenarnya.
“Yun…”
Lemah. Suara itu berbisik memanggilnya. Sembari tangannya terentang berusaha menggapai ujung baju hangat yang dipakai Yunho. Tapi seiring bisikan jiwanya, Yunho kembali mundur selangkah lebih jauh. Membuat lelaki yang tengah megap-megap tenggelam oleh air matanya sendiri semakin sulit menjangkaunya.
“Pergi.” Yunho tak berharap suaranya bisa terdengar. Namun entah bagaimana ia berhasil mengumpulkan anak-anak lidahnya, mencapai suara paling nyaring yang pernah ia dengar. Teriakannya barusan menggema. Menyentuh dasar air mata. Menebas jiwa yang kini tergeletak kaku di hadapannya.
Air mata mengalir lagi. Kini lebih sedikit yang keluar. Seakan sumbernya sudah mengering di dasar tubuhnya. Mata bundar pria berdagu runcing itu memandang lurus ke sepasang manik bermata elang. Memohon belas kasihan sebelum semuanya berakhir.
Tapi tak ada belas kasihan lagi.
Yunho meraih sepotong kayu panjang yang tercerai berai dari ranjang miliknya. Keringat membanjiri tubuhnya. Membuatnya basah kuyup. Padahal hujan tak pernah turun. Di luar, dunia sedang mengalami kekeringan paling panjang dalam sejarah. Matanya mengerjap, menghalau keringat yang jatuh dari pelipis.
Satu kedipan mata lagi, Yunho menerjang tubuh besar seorang pria yang sedang membungkuk menarik salah satu kaki panjang yang tadi tergeletak lemah di lantai. Memukul belakang kepalanya yang hampir botak dengan sekuat tenaga. Menjatuhkan lelaki bertubuh gempal itu dalam sekali ayunan lengannya.
Di sebelahnya, pria yang lebih kurus dan lebih tinggi melepas tangan Jejung. Menoleh cepat pada Yunho yang tersengal oleh keringat dan air mata. Tangan berotot itu telak meninju dagu Yunho. Membuat lelaki itu terjerembab ke lantai kamar yang sudah porak-poranda.
“Tinggalkan saja.” Seseorang berkata dengan suara gusar. Yunho menoleh untuk mencari tahu siapa yang sedang berbicara. Tapi belum sempat ia melihat, pria gemuk yang ia pukul tadi sudah memukul kepalanya dengan kayu yang ia pakai sebelumnya.
Terdengar pekik memilukan tak jauh dari sebelah kanannya. Kali ini Yunho mengenali suara tersebut. Tapi ia tak bisa melihat pemilik suara pekikan itu. Kepalanya pecah dan darah berhamburan di lantai. Isak tangis samar-samar terdengar tapi kesadaran dengan cepat menjauhinya.
Beberapa pasang kaki terdengar berderap keluar kamar.
Yunho tak lagi bisa merasakan genggaman tangan yang lembut di antara jari-jemarinya. Kepalanya berdenyut tak keruan, dan kelopak matanya tak mampu terbuka.
Lelaki itu terisak. Sebelah tangannya menggenggam tangan Yunho. Sementara sebelahnya yang bebas berusaha menarik lelaki itu ke dalam pelukannya. Jejung merintih dengan isak teredam.
Di luar rumah terdengar suara-suara marah yang saling tindih bergemuruh di gendang telinganya. Jejung memejam matanya kuat-kuat. Merasakan amarah orang-orang mulai merambat di seluruh dinding rumah.
Lamat-lamat gemuruh di luar menghilang. Atau mungkin teredam oleh sesuatu. Keringat keluar dari pori-pori Jejung seperti butiran jagung. Hawa panas membuat napasnya tak beraturan. Paru-parunya serasa terbakar. Pandangannya kabur oleh gumpalan asap hitam yang mulai memasuki kamar.
Dalam pelukannya ia tak lagi bisa merasakan denyut jantung Yunho, dan tubuh mereka sama-sama basah kuyup. Sepotong kayu entah dari bagian mana dari plafon rumah jatuh di dekat kaki mereka. Gurih suara api meretas kayu tersebut. Mendadak pikiran Jejung kembali jernih. Ia sadar rumah sedang dalam kondisi terbakar.
Mungkin api berasal dari koneksi matahari yang memicu terjadinya si jago merah. Namun pikiran itu seketika di tepisnya. Dan Jejung mengerti. Akhirnya. Rumah mereka sengaja di bakar oleh orang-orang tadi.
Sejak awal penduduk sudah menolak kedatangannya bersama Yunho di pulau ini. Menganggap mereka berdua datang bersama virus dari kota besar. Menganggap hubungan keduanya seperti penyakit menular yang menjijikkan. Mengapa tidak sejak awal ia sadari, jika orang-orang di kota besar tak bisa menerima kenyataan dirinya dan Yunho saling mencintai, bagaimana mungkin ia begitu bodoh menganggap orang-orang yang selama hidupnya terisolasi dari dunia luar mampu menerimanya.
Sepotong kayu kembali jatuh tak jauh dari kayu pertama yang diikuti dengan selembar plafon yang tak lagi utuh terhempas tepat di atas kasur. Membuat api dengan segera melahap ranjang mereka. Lalu satu-persatu kayu beserta plafon mulai berjatuhan. Mengepung Yunho dan Jejung. Lumpuh tak bisa melakukan apapun.
Jejung menangis. Seandainya Yunho masih hidup. Lelaki itu pasti akan bisa membawa mereka berdua keluar dari sini. Tak perlu menanti ajal dengan cara begini menakutkan. Seandainya Yunho masih hidup, mereka bisa pergi secepat mungkin dari pulau ini.
Tapi Yunho tak lagi bernyawa. Dan tepat sebelum sebuah balok kayu besar jatuh menimpa mereka berdua, Jejung telah membenamkan bibirnya ke lekuk bibir Yunho, merengkuh seluruh tubuh pria itu sesanggup yang ia bisa dalam pelukannya. Berharap dengan begitu lelaki tersebut tak akan pernah merasakan perihnya api yang menari-nari di permukaan kulit mereka.

END

Notes:
Original Copyright & Cross Posting only by Goetary
Never take out this fanfic without permission!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s