RED : Chapter 2


RED3

“Tolong tuntaskan khasus ini. Dan aku butuh data data dari korban ini.” ucap seseorang yang juga ingin melihat korban penembakan itu.

Sebelum masuk kedalam ruang ruang forensic, ia melihat Donghae dan Taeyeon masih terduduk dilantai. Matanya memandang sebuah amplop coklat lalu memandang Donghae satu kali lagi.

“Mereka keluarga dari korban. Mari saya antar kedalam” ucap Changmin.

“Ne, aku butuh berbicara dengan keluarga korban dahulu.” ucap orang itu.

“Baiklah kalau begitu Insung –ssi, saya menunggu didalam.”

Ne..”

Insung mendekati Donghae dan Taeyeon. Ia menepuk pundak Donghae sambil mengeluarkan 1 buah foto dari dalam sakunya. Sebuah foto anak lelaki kecil sekitar umur 3 tahun. Saat Donghae menengok kearah Insung, dan langsung saja Insung menyocokan wajah Donghae dengan wajah anak yang ada difoto tersebut. Betapa kagetnya ia melihat wajah Donghae secara dekat. Terlalu mirip.

“Lee Donghae –ssi?”

Ne..”

Mendengar jawaban Donghae, Insung berjalan beberapa langkah kebelakang. Tanpa melihat keadaan korban. Insung langsung pergi meninggalkan lokasi. Wajahnya sedikit pucat seperti sudah melihat setan. Langsung ia menghubungi orang yang sangat ia pecayai.

Sajangnim, aku menemukannya. Lee Donghae masih hidup.” Ucap Insung.

Ne, aku akan mencari tau tentangnya lebih lanjut.”

Perbincangan singkat itu berhenti, dan Insung segera berlari menuju mobilnya yang kemudian meninggalakan semua yang seharusnya ia lakukan di lokasi itu.

1 Week Later
Cho’s Mansion
7.45 AM

Pagi ini, kediaman Cho kedatangan seorang gadis cantik. Ia adalah Cho Jimin, anak pertama keluarga Cho yang tinggal bersama suaminya, Oh Insung. Jimin yang sudah merasa kesepian karena suaminya harus bekerja dari pagi hingga malam, memutuskan untuk tinggal di rumah kedua orang tuanya beberapa hari kedepan. Ia mempunyai 2 adik laki – laki yang selalu berbeda paham. Dan dialah orang yang selalu berdiri ditengah – tengah kedua adiknya untuk meredam perdebatan.

“Cho Hyunbin, Cho Kyuhyun, noona datang.” Teriak Jimin seketika ia sampai dirumah. “Aish kenapa rumah ini menjadi sepi sunyi seperti ini semenjak aku menikah?” lanjutnya yang heran rumah ini benar – benar sepi.

Noona.. annyeong.” Hyunbin anak kedua keluarga Cho, turun dari tangga hanya dengan menggunakan boxer hitam. Melihat Hyunbin half naked, beberapa pelayan perempuan keluarga itu berhenti sejenak dari pekerjaan mereka untuk menikmati pemandangan indah didepan mata mereka.Sampai didepan Jimin, Hyunbin langsung memeluk erat Cho Jimin noonanya tercinta. Pelukan Hyunbin membuat Jimin sedikit kesulitan untuk bernafas.

Noona!! Waeyo? Kenapa kau pulang?” Sama dengan Hyunbin anak terakhir keluarga Cho, Cho Kyuhyun turun hanya dengan mengenakan celana tidur panjang bewarna abu – abu tua, tanpa atasan.

Melihat Kyuhyun, Jimin mendorong Hyunbin menjauh dari tubuhnya, Ia langsung memeluk Kyuhyun, adik kesayangannya.

Noona, kenapa kau pulang?” Tanya Kyuhyun.

“YA!! Noona mu pulang karena merindukan kalian berdua, kenapa kau malah tidak suka?” balas Jimin.

Aniya Noona, aku hanya kaget.”

Tiba – tiba dari tangga turun seorang gadis berlekuk tuhuh sempurna dengan hanya menggunakan kemeja putih kebesaran. Wajahnya terlihat masih setengah mengantuk, tapi paras cantiknya tidak hilang dari wajahnya. Ia turun dari tangga yang diterangi oleh cahaya matahari pagi yang masuk melalui sela – sela jendela yang berada dibelakangnya. Gadis yang sedang turun itu terlihat seperti malaikat turun dari langit.

“Ah, jadi dia penyebab kegaduhan erotis di kamar mu semalam?” Tanya Hyunbin.

“Diam kau hyung.”

Sampai di bawah, gadis itu mendapati Jimin yang berdiri didepannya. “Jimin eonni” panggil gadis itu.

“Yoona ya.. Aigo apa yang Kyuhyun lakukan padamu?” balas Jimin.

Setelah berpelukan Jimin langsung mengajak Yoona menuju meja makan yang sudah tersedia sarapan lezat. Keduanya duduk sambil berbincang disertai tawa. Sedangkan Hyunbin dan Kyuhyun masih berdiam diri ditempat mereka. Saling menatap satu sama lain. Lalu kemudian menatap koper milik Jimin. Mata mereka kemudian saling menatap satu sama lain lagi, untuk menentukan siapa yang harus membawa koper itu kekamar Jimin. Hyunbin dan Kyuhyun saling menatap tanpa berkedip, siapa yang mengedipkan mata dahulu ia lah yang harus membawa koper itu. Pada detik ke 10 Kyuhyun tak sengaja mengedipkan matanya. Dan berakhir lah pertandingan singkat itu. Cho Kyuhyun kalah dan dialah yang membawa koper itu kekamar Jimin.

“Mianhae adik ku sayang, sepertinya kau akan melewatkan sarapan bersama kekasih mu tercinta.” Ejek Hyunbin sambil berjalan munuju meja makan dengan santai dan masih menggunakan boxer.

“Aish..Sial”

Hyunbin duduk menghadap Jimin noonanya yang menurutnya sangat cantik dimatanya. Mata Hyunbin langsung menjadi scanner dadakan. Ia mencari luka diwajah ataupun tubuh Jimin. Otaknya berpikir bahwa Jimin kembali kerumah karena Insung telah melakukan kekerasan. Dari awal, Hyunbin sangat tidka menyukai Insung. Menurutnya Insung bukanlah orang baik yang cocok dijadikan suami.

Waeyo Hyunbin ah? Kau melihat ku seperti anjing penjaga saja.” Tanya Jimin sambil menikmati sarapan.

Sarapan pagi ini adalah toast dengan telur diatasnya dan bacon yang terlihat lezat dimasing masing piring mereka. Serta untuk melengkapi sarapan hari ini tak lupa, beberapa buah segar yang telah siap untuk disantap sebagai hidangan penutup.

“Kau tidak dipukuli Insung kan?” Tanya Hyunbin.

Aniyo, kenapa kau bertanya seperti itu? Dan panggil dia Hyung, dia itukan suami ku. Cobalah menerimanya menjadi kakak ipar mu” balas Jimin.

Shireo sampai kapan pun aku tidak akan menyutujui pernikahan kalian. Ngomong – ngomong, kalau kau tidak dipukuli kenapa kau pulang ke rumah?” Tanya Hyunbin lagi.

“Dia ada pekerjaan beberapa hari kedepan. Karena aku merasa kesepian, aku meminta ijin menginap disini sampai pekerjaannya itu selesai.” Balas Jimin.

“Aigo, Insung oppa benar – benar sibuk sepertinya.” Ucap Yoona.

“Oo.. Suami mu itu, lebih mementingkan pekerjaan dari pada kau ya? Dan kau Yoona, berhati – hatilah kemungkinan besar pacar mu itu bisa menjadi seperti Insung.” Kata Hyunbin.

“Berhentilah berpikir negative tentang suami ku Cho Hyunbin. Ngomong – ngomong dimana eomma dan appa?”

“Mereka sedang honeymoon ke Alaska” Jawab Hyunbin

Beberapa detik kemudian, Cho Kyuhyun muncul di ruang makan. Ia sudah mengenakan sebuah T-shirt putih polos untuk menutupi tubuhnya. Ia langsung duduk disamping Hyunbin dan menghadap ke Yoona. Yoona langsung menuangkan orange juice ke gelas Kyuhyun.

“Hyung aku dengar kau menyebut nama ku kenapa?” Tanya Kyuhyun.

“Aku hanya mengingatkan Yoona, kalau kau sudah sah menjadi CEO pasti kau akan sesibuk Insung dan Yoona akan merasa kesepian seperti Jimin Noona ini.” Ucap Hyunbin.

“Ah.. Aku bukan tipe pria yang akan membiarkan gadis ku kesepian. Tenang saja Yoona ya.. sesibuk apa pun aku pasti tak akan membuat mu merasa kesepian.” Balas Kyuhyun membela diri.

Eyy, Kyuhyun ah~ Sejak kapan kau tumbuh menjadi lelaki dewasa yang sangat pintar berkata kata manis seperti itu?” ejek Jimin.

“Aish noona kau kira aku masih anak kecil. Yoona ya, kau ada pemotretan apa hari ini?” Tanya Kyuhyun mengganti topic

Yoona adalah public figure yang berprofesi sebagai aktris ternama di Korea. Ia sering membintangi beberapa judul drama dan film yang kemudian mendapatkan rating tinggi. Bukan hanya menjadi seorang pemain drama atau film, Yoona juga menjadi seorang model majalah dan media cetak atau televisi. Saat ini ia terikat kontrak dengan perusahaan Star Lee.

“Kalau tidak salah, hari ini aku ada pemotretan untuk promo terbaru taman bermain indoor baru milik Star Lee. Aku dengar taman bermain itu sangat besar. Oppa, lain kali kita harus kesana untuk berkencan.” Ucap Yoona.

“Atur saja honey, aku bisa kapan saja.” Balas Kyuhyun sambil mencubit pipi Yoona pelan.

Mendengar kata Honey keluar dari mulut Kyuhyun, secara bersamaan perut Jimin dan Hyunbin terasa sangat mual dan ingin memuntahkan apa yang baru saja mereka makan. Ini pertama kalinya mereka mendengar Kyuhyun menggunakan panggilan mesra dan itu terasa sangat tidak enak didengar. Tetapi bagi Yoona, mendengar Kyuhyun memanggilnya Honey adalah hal biasa. Kyuhyun memang sering memanggilnya Honey. Awalnya Kyuhyun hanya mengikuti teman baiknya yang memanggil kekasihnya dengan sebuatan ‘baby’. Karena tak mau kalah, Kyuhyun memanggil Yoona dengan ‘honey’. Dan tak ia sadari, hal tersebut menjadi suatu kebiasaan baginya.

“Taman bermain itu menjadi project terakhir CEO Lee Donghwan ya?” Tanya Hyunbin.

“Hmm, hyung apa mereka sudah mencari CEO baru?” Tanya Kyuhyun.

“Entah lah, aku juga tak begitu paham dengan peruahaan itu. Setelah ku pelajari berkas mereka, perusahaan itu adalah perusahaan keluarga. Siapa pun yang akan menjadi CEO pastilah salah satu keluarga dari CEO Lee Donghwan.” Jelas Hyunbin.

“Bukan kah Insung hyung, orang kepercayaan pemilik Star Lee? Siapa tau Insung hyung bisa menjadi CEO Star Lee.” Lanjut Kyuhyun.

“Eyy, tidak mungkin. Aku dengar dari Insung mereka sudah menemukan calon CEO tapi belum diumumkan ke public. Dan dia bukanlah suami ku.”

“Kita lihat saja nanti.” Ucap Hyunbin.

Kim Taeyeon’s Apartment.
8.00 AM

Tepat seminggu, Lee Taejun meninggal dunia. Tepat seminggu pula, anak gadis kesayangannya tidak beranjak dari Apartmentnya. Polisi tak lagi menangani khasus penembakan ini. Mereka seakan tutup mata dengan khasus ini. Atau mungkin ada sesuatu hal yang membuat mereka takut untuk melanjutkan khasus ini ke tahap yang lebih tinggi. Taeyeon yang hanya tinggal seorang diri, seakan kehilangan kepercayaan dirinya untuk keluar rumah. Sudah seminggu ia tidak keluar dari apartment ini. Tatapan matanya seakan mengatakan bahwa ia sudah putus asa dengan segala hal yang terjadi di hidupnya. Ia hanya berdiam diri dikamar. Sedangkan restaurant milik appanya dijalankan oleh Donghae seorang diri yang dibantu oleh beberapa pekerja yang memang bekerja disana.

Setiap hari sebelum pergi ke restaurant itu, Donghae selalu mampir ke apartment ini. Berkali – kali ia membunyukan bel, tapi Taeyeon tak menjawab. Pukul 8 pagi, Donghae akan membunyikan bel. Begitu pula hari ini, tepat jam 8 pagi, Donghae sampai didepan pintu apartment milik Taeyeon dan membunyikan bel. Sesekali Donghae berteriak dari luar.

“Kim Taeyeon, bukakan pintu. Oppa khawatir pada mu.” Ucap Donghae dari luar.

Taeyeon yang berbaring setengah sadari kasurnya, merasa cukup terganggu dengan bunyi bel yang tak pernah berhenti. Biasanya ia langsung menggunakan headphone nya lalu mendengarkan lagu lagu sedih dengan volume paling kencang. Tapi kali ini, ia tak berhasil menemukan headphonenya didalam kamarnya. Headphone itu seakan tiba – tiba menghilang. Terpaksa, ia harus membukakan pintu bagi Donghae agar bunyi berisik bel itu berhenti.

Mwo?” Tanya Taeyeon saat membuka pintu. Hanya kepalanya saja yang muncul dari balik pintu.

Donghae tak menjawab pertanyaan Taeyeon yang menurutnya sangat dingin. Ia langsung mendorong pintu apartment itu lebar – lebar. Setelah itu ia memaksa masuk kedalam apartment. Taeyeon terlihat sangat kesal dengan Donghae. Tetapi menurut Donghae perbuatannya ini sangat tepat. Ia harus mengeluarkan gadis yang sudah terkapar di tempat ini selama satu minggu penuh. Gadis itu sudah berada dalam jalan menuju menjadi sociopath ( Anti Social Disorder ).

Oppa, aku tidak mengijinkan mu masuk.”

“Kalau kau tidak menginjinkan ku masuk, apa kau ingin mati disini?” Tanya Donghae.

Aniya, aku hanya ingin sendiri saat ini.” Balas Taeyeon.

“Ya.. Kau sudah menyindiri di tempat ini selama 1 minggu. Kau tidak keluar, tidak berbicara pada siapa pun. Dan mungkin saja kau belum mandi selama 1 minggu ini. Kim Taeyeon, aku tau kau sedih. Aku juga sedih. Tapi jika kau terus menerus membiarkan awan hitam berkeliaran di hati mu, tak akan ada matahari yang mau membuat hatimu hangat seperti dulu lagi.”

Taeyeon hanya diam dan memandang Donghae dengan tatapan bahwa apa yang dikatakan Donghae benar. Ia membiarkan kesedihan menyelimuti hatinya. Tak ada lagi kebahagiaan yang ia rasakan. Yang ia pikirkan selama ini hanyalah mengingat semua kenangannya bersama appanya. Menangis dan terus menangis, hanya itulah yang ia lakukan. Dan sekarang Donghae, berada didepannya menghapus sedikit demi sedikit kesedihan yang ada dihatinya. Membantunya berpikir normal kembali.

“Dengar, kau itu bukan gadis yang mudah menangis. Walau kau manja, kau itu bukanlah orang yang dengan mudah membuang air mata mu dengan percuma. Cukup 1 minggu aku membiarkan mu menangis ditempat ini sendirian. Hari ini, aku akan mengembalikan mu menjadi Kim Taeyeon.” Ucap Donghae.

Ne?”

“Sekarang mandi lah, aku akan membuatkan mu sarapan. Dan pakailah pakaian pergi mu, karena hari ini aku akan mengajak mu keluar. Menghirup udara segar agar tubuh mu menjadi bugar.” Ucap Donghae sambil mendorong Taeyeon ke dalam kamarnya.

Sambil menunggu gadis yang sudah seminggu tinggal dalam goa ini, Donghae menyiapkan telur mata sapi dengan grill salmon. Hari ini, ia menyiapkan sarapan special bagi Taeyeon. Bukan hana hari ini, hampir setiap hari Donghae membawa bahan makanan kesukaan Taeyeon. Siapa tau gadis itu akan membukakan pintu baginya.

Ia ambil sebuah gelas ia isi dengan air mineral yang tersedia di apartment ini. Setelah selesai menyiapkan sarapan untuk Taeyeon, Donghae duduk menghadap tempat dimana Taeyeon akan duduk. Tak lama Taeyeon keluar dengan rambut setengah basah. Ia belum menggunakan pakaian perginya, ia masih mengenakan pakaian apa adanya. Tank top putih dengan hot pants warna abu – abu. Tak Donghae sadari, matanya tak mau pindah ke arah lain. Matanya terpaku pada Taeyeon yang baru saja selesai mandi. Gadis itu terlihat lebih cantik 5% saat selesai mandi dengan rambut basah. Tak ada make up yang menempel di wajahnya, membuat kesempurnaan wajah Taeyeon bertambah 2 kali lipat.

Waeyo oppa? Kenapa kau memandang ku seperti itu?” Tanya Taeyeon.

Aniya, kau itu benar – benar tak bisa menjaga diri ya?”

“Hah? Apa maksud mu?” Taeyeon menatap Donghae bingung sambil duduk di kursi meja makan.

“Kau.. pakaian mu.. rambut mu.. basah.. dan aku lelaki… aishh sudah lah makan saja. Mungkin ini cobaan bagi ku.” Donghae mengacak – acak rambutnya frustasi karena gadis yang ada didepannya tak mengerti apapun..

“Kau aneh sekali hari ini. Oppa, kau mau membawa ku kemana?” Tanya Taeyeon sambil memotong salmon grill kesukaannya.

“Ada taman bermain indoor baru, kemarin ada pelanggan yang memberiku kupon promo. Tidak ada salahnya kan kita menggunakan kupon itu?” jawab Donghae

“Baiklah.. ngomong – ngomong, kenapa kau membuka restaurant tanpa meminta izin dari ku??”

“Ah, itu karena menurut ku restaurant itu adalah peninggalan appa mu. Kalau tutup terlalu lama mungkin saja restaurant itu akan kehilangan pelanggan. Kau mau restaurant appa mu itu bangkrut? Sudah lah, kau cepat habiskan sarapan mu itu. Kalau tidak kita akan kesiangan. Taman bermain itu berada di Ilsan, butuh waktu satu setengah jam untuk kesana.” jelas Donghae

Ne..”

“Dan jangan gunakan pakaian seterbuka pakaian yang kau gunakan sekarang.”

Ne…” Taeyeon mengangguk patuh pada Donghae.

Taeyeon masuk kedalam kamarnya, mengganti pakaian yang dikritik oleh Donghae. Ia memilih sebuah tshirt warna hitam dengan tulisan putih ‘Tokyo’ ditengah – tengah baju itu. Selain itu ia menggunakan celana jeans bewarna biru muda dan sepatu kets hitam. Untuk outer ia mengenakan sebuah outer bewarna hijau army yang tak begitu tebal tapi cukup hangat, mengingat angin musim dingin masih berhembus di Korea. Tak lupa ia mengenakan sedikit make up pada wajahnya. Untuk rambut, Taeyeon memilih untuk membiarkannya terurai. Setelah siap Taeyeon keluar dan mendapati Donghae sudah menunggunya.

Let’s go!!” ucap Donghae.

Star Department Store
11.45 AM – Ilsan

Setelah satu setenga jam perjalanan dengan menggunakan bis Taeyeon dan Donghae sampai di Ilsan dengan selamat. Donghae yang berhasil membawa Taeyeon keluar dari rumah, membawa gadis itu kesebuah taman bermain yang baru saja di buka. Star Wonderland, tempat yang dijanjikan perusahaan ternama di Korea sebagai tempat bermain keluarga indoor terbesar di Korea. Pada bulan pertama buka, Star Wonderland memberikan discount setengah harga. Tak heran, saat ini banyak sekali orang yang datang untuk menikmati taman bermain ini. Dengan kupon tambahan discount yang ia terima dari salah seorang pelanggannya, Donghae membeli ticket vip pass hanya untuk membuat gadis yang datang bersamanya ini bahagia. Melihat Taeyeon yang sangat takjub dengan kemegahan taman bermain itu, Donghae merasa lega.

“Kau ini, seperti orang desa yang tak pernah pergi ke kota saja.” Ejek Donghae.

“Ya!! Jangan mengejek ku. Lihat tempat ini, besar sekali.” Ucap Taeyeon.

“Sudah lah ayo! Aku sudah membeli ticket untuk kita berdua.”

Donghae merangkul gadis itu dan menariknya masuk kedalam Star Wonderland. Gadis itu sekali lagi membuat tatapan takjub. Rasanya ia ingin mencoba semua wahana yang ada didalam taman bermain ini. Dari yang khusus dewasa hingga khusus anak anak. Walau ia sadar ia terlalu tua untuk menaiki wahana khusus anak – anak, hasrat dalam hatinya benar – benar tak terkalahkan. Mata Taeyeon terhenti pada 1 wahana yang menurutnya wajib ia naiki. Sebuah Roller Coaster tinggi yang rumit seperti benang kusut.

“Donghae oppa, ayo naik itu.” Ucap Taeyeon.

“Taeyeon ah, kau saja yang naik. Aku tunggu dibawah saja.”

Sambil memasang wajah terimutnya Taeyeon merengek ke Donghae yang jelas jelas tidak tertarik pada Roller Coaster. “Oppa, tidak seru bermain sendiri.”

“Aish biaklah, jangan berikan aku muka seperti itu.”

“Yey!!”

Pada Akhirnya keduanya menaiki semua wahana yang ada didalam Star Wonderland. Dari permainan yang menantang hingga permainan yang diciptakan untuk anak – anak. Walau merasa sangat malu, keduanya tetap menaiki semua atraksi anak – anak yang ada. Tak lupa mereka mengabadikan kesenangan mereka dengan mengambil beberapa foto bahagia.

Oppa kuda pony!!” Taeyeon menarik Donghae menuju wahana marry go round yang penuh dengan warna pink.

Andwaeee!! Taeyeon ah, tidak kah ini keterlaluan?” rengek Donghae

Aniyo!! Aku ingin naik itu. Ayo oppa!

“Aku tunggu saja di bawah.”

“Baiklah..”

Taeyeon dengan gembiranya menaiki wahana yang penuh dengan warna pink. Donghae menunggunya sambil mengarahkan camera handphonenya ke arah Taeyeon. Beberapa kali Taeyeon memanggil nama Donghae sambil melambaikan tangannya pada Donghae. Gadis itu benar benar seperti anak kecil. Yang Donghae lakukan hanyalah melambaikan tangannya kembali dan membuat gadis itu tersenyum lebar.

Aish that girl really…” desis Donghae sambil tersenyum.

Setelah menaiki wahana itu, Taeyeon mengajak Donghae untuk menonton pertunjukan musical. Donghae dan Taeyeon keduanya sangat terpukau saat melihat pemeran wanita utama, menyanyi seriosa. Keduanya terlihat puas dengan pertunjukan itu.

Oppa, kalau aku menjadi penyanyi seriosa saja bagaimana?” Tanya Taeyeon.

“Jika kau menjadi penyanyi seriosa, mungkin aku akan pura pura tidak mengenali mu.” Balas Donghae sedikit bercanda.

“Ya.. Jika aku benar – benar menjadi penyanyi seriosa terkenal, jangan pernah meminta tanda tangan ku!”

“Tenang saja, aku tidak tertarik.”

Nampak raut senang bercampur lelah menghiasi wajah Donghae dan Taeyeon. Mereka memutuskan untuk mengakhiri hari mereka di tempat ini dengan mengisi perut kosong mereka. Didalam sana ada sebuah restaurant cepat saji yang tak begitu ramai. Saat Taeyeon berlari karena kelaparan, Donghae terdiam saat melihat papan yang bergambar seorang gadis cantik. Wajah gadis itu sangat familiar baginya. Tapi entah mengapa ia tak menemukan memori tentang gadis itu didalam ingatannya.

Oppa ayo!” Taeyeon langsung menarik Donghae. Ia membuat Donghae, meninggalkan tanda Tanya akan gadis itu.

Sambil menunggu makanan datang, Taeyeon memandang Donghae yang masih memikirkan gadis yang membuat otaknya berpikir berat.

Oppa, kau itu fans Im Yoona?” Tanya Taeyeon, to the point.

“Im Yoona?”

“Yep, gambar gadis yang kau perhatikan layaknya orang bodoh itu, adalah gambar Im Yoona. Hmm Im Yoona adalah seorang akris yang sangat cantik dan terkenal.” Ucap Taeyeon.

“Oh nama gadis itu Im Yoona.” Ucap Donghae yang akhirnya mendapatkan pencerahan akan gadis itu.

“Kau tidak pernah menonton tv ya?” Tanya Taeyeon.

Aniyo, kau tau sendiri aku terlalu sibuk mengurusi mu sampai aku tak punya waktu untuk menonton tv.” Balas Donghae.

Saat makanan datang, Taeyeon langsung menyantap makanan yang ia pesan. Sebuah hotdog berukuran besar, dalam sekejap langsung masuk kedalam diri Taeyeon. Walau sedikit geli melihat gadis didepannya ini makan layaknya orang yang tidak pernah diberi makan berhari – hari, hati Donghae sangat bahagia. Akhirnya gadis itu kembali menjadi normal. Rencananya untuk membuatnya bahagia berhasil. Gadis itu benar – benar menikmati semua hal yang di tawarkan didalam taman bermain ini. Walau Donghae harus kehilangan harga dirinya karena harus menemani gadis itu menaiki wahana anak – anak, hatinya tetap senang.

Oppa, setelah ini kita kemana? Aku tidak ingin pulang.” Ucap Taeyeon.

“Ini sudah malam Taeyeon ah. Kau tidak lelah?” Tanya Donghae.

Aniya.. aku belum mengantuk. Oppa ayo kita minum.” Ucap Taeyeon.

“Minum? Okay! Lets go! Disana ada tenda snack kita kesana saja.”

Taeyeon langsung berlari menuju tenda itu. Dan Donghae hanya bisa mengejarnya dari belakang seperti anak bebek mengikuti induknya. Sesampainya disana Donghae mendapati Taeyeon yang sudah sibuk memesan makan dan beberap botol soju. Gadis itu benar – benar berenca ingin mabuk. Satu gelas, dua gelas, tiga gelas. Donghae berhenti meminum soju. Ia rasa kalau ia mabuk, mereka tak akan sampai di Seoul dengan selamat. Sedangkan Taeyeon masih melanjutkan minumnya. Menikmati setiap gelas soju yang ia minum.

Oppa kenapa kau peduli sekali pada ku?” Tanya Taeyeon tiba tiba.

“Karena kau sudah ku anggap sebagai keluarga ku sendiri.” Balas Donghae.

Oppa apa aku cantik? Apa aku lebih canti dari Im Yoona?” Tanya Taeyeon sambil mengedipkan matanya berkali – kali.

“Ne, kau cantik dank au lebih cantik dari Im Yoona.”

Oppa.. Kenapa kau baik sekali..?” Tanya Taeyeon lagi.

“Karena memang begitu adanya.” Balas Donghae yang sudah yakin gadis dihadapannya ini mabuk.

Oppa, kenapa kau selalu ada saat aku membutuhkan mu?” Tanya Taeyeon.

“Karena aku tidak bisa membiarkan mu sendiri.” Jawab Donghae.

Oppa kenapa appa harus pergi?”

Lelaki itu berpikir sebentar, ia tak tau apa yang harus ia jawab. “Taeyeon ah.. sudah jangan minum lagi. Kau sudah cukup mabuk.” Ucap Donghae yang mengalihkan pembicaraan.

Oppa kenapa kau tidak menjawab ku?”

“Sudah ayo kita pulang.”

Shireo!!”

Donghae berdiri dan sedikit menarik Taeyeon untuk pergi dari tenda tersebut. Tetapi Taeyeon berusaha untuk tetap duduk di tempatnya. Beberapa menit kemudian air mata Taeyeon mulai membasahi pipinya dan membuat Donghae berhenti menariknya dan berlutut diepannya.

Mianhae, oppa kasar pada mu.” Ucap Donghae.

Oppa.. Aku.. takut.. aku tidak tau cara hidup seorang diri. Appa belum mengajari ku hal itu. Aku tidak tau harus mulai dari mana..” ucap Taeyeon sedikit tersengal – senggal.

“Taeyeon ah~ uljima. Aku masih disini. Oppa tidak akan meninggalkan mu.” Ucap Donghae sambil menghapus air mata Taeyeon. “Sekarang kita pulang ya. Ini sudah malam, kau pasti lelah.” Lanjut Donghae.

“Hmm” Taeyeon mengangguk.

Setelah berhasil menenangkan Taeyeon dan membujuknya untuk pulang, Donghae membayar minuman dan makanan ringan yang mereka pesan. Donghae langsung menawarkan gendongan belakang pada Taeyeon yang sudah mabuk. Ia melakukan itu karena, tidak mungkin ia membiarkan Taeyeon yang sedang mabuk berjalan sendiri. Beberapa detik setelah berada di gendongan Donghae, Taeyeon langsung terlelap dan melancong ke alam mimpinya. Sambil menikmari berjalan menyusuri jalanan yang terasa asing baginya, Donghae sesekali mencuri kesempatan untuk memandang wajah gadis yang tertidur di pundaknya.

Lampu – lampu jalan yang menerangi jalanan yang dingin, menemani Donghae dan Taeyeon. Sesekali Taeyeon berbicara dalam tidurnya. Berbicara hal – hal yang ada didalam mimpinya saat ini. Dan Donghae sesekali tertawa mendengar suara Taeyeon yang terkadang tidak masuk akal.

“Eghh” erang Taeyeon seperti orang kesakitan.

Gwaenchana Taeyeon ah. Kita sudah mau sampai terminal.” Ucap Donghae.

Ditengah jalan menuju terminal bus yang berada di sebrang jalan, beberapa mobil berhenti menghalangi Donghae menyebrangi jalan. Beberapa orang turun dari mobil dengan menggunakan stelan tuxedo hitam. Kira – kira jumlah mereka 15 orang. Mereka mengepung Donghae sehingga Donghae tidak bisa kabur kemana – kemana. Lalu kemudian seorang lelaki yang berlaga menjadi pemimpin mereka turun dari salah satu mobil tersebut.

“Lee Donghae –ssi?” Tanya lelaki itu.

Ne.. Kalian siapa?” Tanya Donghae.

“Nama saya Oh Insung. Kita pernah bertemu beberapa hari yang lalu di kantor forensic. Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan anda. Dan sebaiknya anda ikut dengan kami.” Ucap Insung.

“Maaf saya tidak bisa ikut karena saya harus membawa gadis ini pulang” balas Donghae.

“Donghae –ssi tidak perlu kawatir, kami akan mengantarkan anda dan teman anda sampai di Seoul dengan selamat. Jika anda menolak terpaksa saya harus menggunakan kekerasan.”

Mengingat digendongannya masih ada Taeyeon yang tertidur pulas. Donghae mengurungkan niat untuk melawan. Ia tak ingin Taeyeon terluka. Terpaksa ia menuruti permintaan Insung.

“Aish” desis nya kesal karena tak ada plihan lain.

Didalam mobil Insung duduk disamping supir dan Donghae beserta Taeyeon duduk di bangku belakang. Beberapa menit pertama tak ada yang memulai pembicaraan didalam mobil. Donghae masih bingung dengan keadaan yang ia alami saat ini ditambah lagi, ia harus menjaga Taeyeon yang tertidur karena mabuk. Tapi beberapa menit kemudian, Insung mengeluarkan foto seorang anak kecil, dan memberikan foto itu pada Donghae.

“Apa ini?” Tanya Donghae saat menerima foto itu.

“Itu adalah cucu tunggal dari pemilik perusahaan Star Lee yang hilang 20 tahun lalu.” Balas Insung.

“Lalu kenapa kau memberikan ini kepada ku?” Tanya Donghae bingung.

“Nama anak itu adalah Lee Donghae.”

Seluruh tubuh Donghae kaget. Mendengar nama anak itu adalah Lee Donghae.

“Lee Donghae –ssi, saya adalah perwakilan dari Star Lee. Dan sejauh ini kami menduga bahwa anda lah Lee Donghae cucu tunggal atau lebih tepatnya pewaris tunggal perusahaan Star Lee.” Jelas Insung.

“Sebentar.. Kau pasti bercanda kan? Aku hanya mempunyai seorang eomma dan dia meninggal karena kecelakaan saat aku masih kecil.”

“Jang Seyi apakah itu nama eomma mu?” Tanya Insung.

“Bagaimana kau tahu nama eomma ku?” balas Donghae yang semakin bingung.

Insung mengarahkan tubuhnya menghadap Donghae. Lalu matanya menatap Donghae yang kebingungnan dengan tatapan serius. Ia tau ini cukup membingungkan bagi Donghae, tapi jika ia tidak memberi tau Donghae, kehancuran Star Lee menunggu didepan mata. Perusahaan itu membutuhkan pemimpin baru dan Donghae lah pewaris tunggal perusahaan itu.

“Jika Jang Seyi benar eomma mu, tidak diragukan lagi kau adalah Lee Donghae. Aku harap kau bisa menemui ku di kantor Star Lee di Seoul besok.” Ucap Insung.

Waeyo? Kenapa aku harus menemui mu?”

“Kim Taejun, meninggal tertembak didepan lobby Star Lee. Sampai sekarang khasus itu tidak pernah ditangani oleh polisi. Apa kau tidak ingin tau ada apa dibalik itu semua?” Tanya Insung.

Melihat wajah Donghae yang berubah menjadi sedikit tertarik setelah mendengar nama orang yang dulu menyelamatkannya dari kecelakaan. Kim Taejun sudah ia anggap sebagai appanya sendiri. Melihat khasus Taejun yang tak kunjung digarap atau diabaikan oleh polisi membuatnya marah.

“Kim Taejun meninggalkan sebuah map yang berisikan beberapa berkas yang ia garap selama hidupnya. Berkas itu mengenai status dan identitas mu Lee Donghae –ssi. Kami menduga ada pihak yang mengetahui bahwa kau adalah pewaris tunggal dari Star Lee selain Kim Taejun. Dan pihak itulah yang menjadi pelaku penembakan pada Kim Taejun. Lee Donghae –ssi, di luar sana banyak pihak yang menginginkan mu mati.” Jelas Insung secara singkat.

“Kenapa kalian mecari ku?” Tanya Donghae.

“Ne?”

“Dulu, saat aku berada dirumah sakit. Tidak ada yang menjemput ku. Tidak ada yang membawa ku pulang. Hanya Kim Taejun dan Taeyeon yang bersedia menerima ku. Wae? Kenapa baru sekarang kalian mencari ku?” Tanya Donghae yang ingat betul kejadian 20 tahun lalu.

“Maaf Lee Donghae –ssi saya tidak mengetahui apa apa tentang itu. Saya hanya ditugaskan untuk membawa anda bertemu dengan pendiri Star Lee, atau lebih tepatnya kakek anda.” Jawab Insung.

Tak ada jawaban dari Donghae. Lelaki itu sudah cukup muak dengan hal – hal yang terjadi padanya beberapa menit terakhir. 20 tahun ia buta akan kehidupan lamanya. Ia tak mengingat apa apa tentang dirinya sebelum terjadi kecelakaan. Dan sekarang ada orang asing yang mengaku salah satu utusan kakeknya untuk menjemputnya pulang. Donghae hanya bisa menahan marahnya dengan membuat kepalan erat di kedua tangannya.

“Ini, map yang ditinggalkan oleh Kim Taejun di kantor kami.” Ucap Insung sambil menyerahkan map yang sedari tadi ia pegang.

Dengan kedua tangannya, Donghae mengambil map tersebut. Perlahan ia membuka map itu. Ia menemuka beberapa artikel yang sudah dirangkai menjadi sebuah buku. Semua artikel itu memberitakan semua yang terjadi pada Star Lee Corp. ‘Lee Hwan Hae Pendiri Star Lee Corp’. ‘Lee Hwan Hae Memberikan Jabatannya Kepada Lee Dong Hwan’. ‘Star Lee Menjadi Perusahaan Terkuat di Asia’, Matanya tak berhenti membaca satu persatu halaman yang penuh dengan artikel yang dirangkai secara urut oleh Kim Taejun.

Pernikahan Lee Dong Hwan dan Jang Seyi Disembunyikan dari Public” baca Donghae.

Ia buka halaman berikutnya “Lee Dong Hwan Menghilang Setelah Dikabarkan Telah Menikah” bacanya. “Jang Seyi, Istri Lee Donghwan Ditemukan Meninggal dalam Kecelakaan.” Lanjut Donghae.

“Lee Donghwan?” Tanya Donghae.

“Lee Donghwan adalah anak dari pendiri Star Lee Corp. Dia adalah pewaris utama, tetapi beliau sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Jika kau benar anak dari Jang Seyi dan Lee Donghwan, kau lah yang menjadi pewaris dari perusahaan ini.” Jelas Insung.

Donghae tak membalas penjelasan dari Insung. Ia terus membaca artikel – artikel yang telah dikumpulkan oleh orang ia anggap sebagai appanya. Sampai di halaman paling belakang, ia menemukan sebuah post note kecil bewarna kuning terang. Disana ada tulisan tangan Taejun yang ditujukan untuk Donghae.

“Donghae ah~ Jika kau bertanya siapa keluarga mu, mereka adalah keluarga mu. Jang Seyi adalah eomma mu dan Lee Donghwan adalah appa mu. Mianhae, aku tidak memberi tau mu secara langsung. Mianhae aku membuat mu hidup bersama ku dan Taeyeon dalam jangka waktu yang sangat lama dan memaksa mu menjadi oppa bagi Taeyeon. Jika kau ingin mencari tentang keluarga mu. Hanya ini yang bisa kulakukan. Gomawo Donghae ah~ Kim Taejun”

Perlahan mata Donghae berkaca – kaca. Ia menahan air matanya sejak hari dimana Taejun meninggal. Ia harus terlihat kuat didepan Taeyeon, karena gadis itu membutuhkannya. Dan kali ini pertahannya luluh setelah membaca memo dari Taejun. Ia langsung memandang langit – langit mobil yang ia kendarai. Menahan air matanya adar tidak menetes membasahi wajahnya. Rasa sedih yang ia rasakan, bercampur dengan rasa bersalah yang tiba – tiba muncul. Kim Taejun meninggal karena ingin menolong Donghae untuk mengetahui kejelasan identitas aslinya. Rasa bersalah semakin bertambah saat ia memandang Taeyeon yang tertidur disampingnya. Ia seakan mengambil orang yang paling berharga bagi Taeyeon, dan membuat nya menangis.

“Oh Insung –ssi, apa benar Kim Taejun dibunuh oleh pihak yang menginginkan ku mati?” Tanya Donghae.

“Sejauh ini, itulah dugaan kami.”

“Apa kau tau siapa mereka?” Tanya Donghae.

“Kami masih menyelidikinya.” Jawab Taejun.

“Aku akan memikirkan tawaran mu untuk datang ke Star Lee.” Ucap Donghae.

Insung tersenyum tipis. “Baiklah, kalau begitu. Ini kartu nama ku. Jika dalam perjalanan kau berubah pikiran atau ada yang ingin membunuh mu kau hubungi saja nomer yang tertrera disana.” Ucap Insung.

Ne Kamsahamida.” Balas Donghae.

Tak terasa mereka sudah sampai didepan Apartment milik Donghae. Lelaki itu turun dari mobil dan kembali memposisikan Taeyeon di gendongannya. Sebelum Insung meninggalkan mereka, Donghae menunduk untuk sekedar mengucapkan terima kasih. Merasa tubuhnya sudah cukup lemas setelah mengetahui sedikit dari masa lalunya, Donghae memutuskan untuk membawa gadis itu ke apartmentnya. Kakinya sudah tidak kuat membawa gadis itu kemabali ke apartmentnya.

Ia menidurkan Taeyeon di tempat tidurnya yang sedikit berantakan. Sebelum menyelimutinya, ia lepas sepatu yang masih Taeyeon pakai. Baru kemudian ia menyelimuti gadis itu. Sebentar ia duduk disamping Taeyeon dengan tatapan sedih dan bersalah. Tangannya mengelus halus rambut Taeyeon dengan hati – hati.

Mianhae Taeyeon ah..”

AHAHAHA CUT sampai sini dulu ya.

NEXT Mungkin Eunhyuk dan Jessica akan muncul

Thanks Sudah mau nunggu dan bersabar.


2 thoughts on “RED : Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s