RED : Chapter 1


Before read the story please kindly read this first Prolog and House
Enjoy

Kenapa kau berlari?

Siapa yang mengejar mu?

Berhenti! Tidak seharusnya kau berlari.

South Korea
30 December 1995 | 23 : 50

Seorang anak lelaki berlari tanpa arah. Matanya sama sekali tak berani menatap ke belakang. Setetes demi setetes air mata turun membasahi pipinya. Pakaiannya masih terlihat rapi, tapi sayang ia tak memakai pakaian hangat. Kaki kanannya beralaskan sepatu baru warna biru tua. Kaki kirinya berlari tanpa alas. Melawan arah angin, anak itu terus berlari menahan suhu dingin malam ini.

DAR!

Langkahnya berhenti. Perlahan dengan nafas yang tersenggal – senggal, ia membalikan badan. Tubuhnya gemetar bukan main. Mendapati sebuah api berkobar besar, air matanya turun semakin deras. Kedua kakinya memaksa seluruh tubuhnya untuk berlari kembali ketempat ia semula.

“Eomma!!”

Mobil yang terbalik ditepi jalan tiba – tiba terbakar. Asapnya menggumpal keatas membelah langit langit seakan menjadi tempat pembuangan. Tangis seorang anak lelaki didepan mobil malang tersebut mewarnai malam ini. Anak itu terduduk. Kakinya tak kuat menopang badannya. Lemas, hanya itu yang ia rasakan. Tak sampai lima menit, pandangannya mulai kabur menghitam.

“Dowajuseyo” desisnya sebelum menutup kedua matanya.

Api yang menyala seakan menemani anak tersebut. Suhu yang sangat dingin, dikalahkan oleh kehangatannya. Anak itu tak lagi merasa kedinginan. Jari jarinya yang semula sedikit kaku karena dingin, mulai melemas.

Tak lama, sebuah lampu mobil terlihat dari kejauhan.

“Appa!! Lihat itu” Seorang anak gadis kecil menunjuk setitik cahaya api yang tertangkap pandangannya.

“Orang jaman sekarang, bakar mobil seperti bakar sampah. Mudah sekali mereka membakar mobil. Mereka pikir mencari uang gampang.” Desis lelaki paruh baya yang duduk disamping gadis kecil yang masih memperhatikan api didepannya.

“Appa, kenapa dia tidur disana?” Tanya gadis itu saat mobil sudah lumyan dekat dengan mobil yang terbakar tersebut.

Lelaki paruh baya itu segera menginjak rem mobil tua yang ia kendarai. Ia memperhatikan sekali lagi apa yang ada didepannya. Sedikit tak percaya apa yang ia lihat, ia meminta gadis kecilnya untuk menampar wajahnya. Lalu kemudian ia memandang sekali lagi. Seorang anak lelaki, terbaring tak sadarkan diri di jalan yang dingin. Yakin dengan apa yang ia lihat, ia segera menjalankan mobilnya kedekat anak lelaki tersebut.

“Taeyeon ah~ kau diam dimobil. Appa harus menolong anak itu.” Ucap lelaki paruh baya pada Taeyeon, gadis kecilnya.

Taeyeon mengangguk, tanda mengerti ucapan Appanya. Dengan gelisah ia menatap keluar. Lelaki itu langsung menaruh telinganya tepat di dada anak tersebut. Terdengar suara yang membuat hati lelaki itu lega. Masih terdengar detak jantung yang berdebar saat ia mendekatkan telinganya pada dada anak itu. Ia segera mengangkat anak itu masuk kedalam mobil.

“Ah..ju..ssii.. Eoom..ma..” desis anak lelaki malang tersebut.

“Aigo, sudah jangan berbicara. Ahjussi akan membawa mu ke rumah sakit.” Ucap lelaki paruh baya itu.

Segera lelaki itu mengendarai mobil tuanya kesebuah rumah sakit terdekat. Wajahnya terlihat panik dan sedikit berkeringat. Beberapa lampu merah ia lewati. Pada lampu merah terakhir yang ia lewati, dua orang polisi sedang berjaga. Langsung, keduanya megejar mobil tua tersebut. Tanpa memperdulikan kehadiran polisi disana,ia tetap melaju menuju rumah sakit terdekat.

“Jogiyo, anda baru saja melanggar lampu lalu lintas. Bisakah kami meminta keterangan anda? Siapa nama anda?”Tanya salah satu dari kedua polisi tersebut saat sudah sampai di rumah sakit.

“Kim Taejun”

“Ne, Kim Taejun -ssi kami harus men…” kedua polisi itu langsung berhenti berbicara saat seorang anak keluar dari mobil dengan wajah pucat.

“Di jalan sana, ada sebuah kecelakaan. Mobil terbalik dan terbakar.” Ucap Taejun panic.

“Ne?!! Bisakah kau antarkan kami kesana?”

Lelaki paruh baya itu memandang anak gadis kesayangannya, Taeyeon. “Ne.. Taeyeon ah~, appa harus pergi sebentar untuk menunjukan tempat kita menemukan dia. Bisakah kau menjaganya? ” ucapnya sambil mengelus rambut anak berwajah polos itu.

Kepala Taeyeon mengangguk pelan. Ia nampak mengerti maksud perkataan Appanya yang terlihat sangat panik. Bersama dengan beberapa perawat yang membawa anak lelaki malang yang ia temukan di tengah jalan, Taeyeon masuk kedalam rumah sakit. Tangan Taeyeon langsung digandeng perawat lain. Sedang Anak lelaki malang itu terbaring disebuah ranjang rumah sakit.

“Siapa nama mu?” Tanya salah seorang perawat.

“Kim Taeyeon imnida” jawab anak itu dengan wajah polosnya

“Aigo, nama yang indah.”

Taeyeon mengikuti kemana sang perawat itu membawanya pergi. Tangannya terus menggenggam erat tangan sang perawat. Ia bingung, ini pertama kalinya ia harus berada di tempat asing sendiri tanpa ditemani orang tua. Dan pada akhirnya, setelah anak lelaki itu selesai diperiksa, Taeyeon melepaskan genggamannya pada tangan sang perawat.

“Appa bilang, aku harus menjaganya.” Ucap Taeyeon.

“Aigo anak pintar. Kalau begitu duduklah disini ini dahulu ya.”

Taeyeon mengangguk. Mereka masih berada di ruang UGD. Taeyeon duduk dengan tenang tanpa mengeluarkan kata apapun. Matanya tak bias beralih dari anak lelaki dihadapannya. Mata anak lelaki itu sesekali mengerut seperti sedang mendapat mimpi buruk. Perlahan keluar keringat di kepalanya.

“Eomma…” desis anak itu.

Perlahan, Taeyeon bangun dari duduknya. Kursi yang ia duduki berada tepat disamping tempat tidur anak tersebut. Hanya beberapa langkah ia sampai tepat disamping tempat tidur. Lalu tangannya langsung memegang tangan anak lelaki tersebut. Dan tangan lainnya mengelus – elus kepala anak malang itu.

“Gwaenchana..” ucapnya.

“Egnn..”

“Gwaenchana.. Gwaenchana..” ucap Taeyeon tanpa henti.

Tak lama mata anak lelaki itu perlahan mulai terbuka. Nafasnya tak beraturan seperti baru saja dikejar oleh monster jahat dalam mimpi. Dengan infus yang menempel di tangan kanannya, ia bangun dari tidurnya. Pertama, ia menengokan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang. Kemudian ia memandang tangannya karena merasa ada seseorang yang menggenggamnya.

“Ya! Nuguya? Dimana eomma ku?” Tanya anak lelaki itu sambil menarik tangannya.

“Na.. Kim Taeyeon imnida. No nuguseyo?” balas Taeyeon.

“Lee Donghae. Sekarang katakan dimana eomma ku?”

“Taeyeon ah~ appa sudah kembali. Aigo kau sudah bangun, katakan pada ahjussi, bagian mana yang sakit?” Taejun tiba tiba muncul dari balik tirai pembatas.

“Ahjussi, kau yang menolong ku tadikan? Dimana eomma ku?”

“Eomma mu.. dia..”

“Ahjussi, kenapa kau tidak menjawabku? Dimana eomma ku?”

Mata Taeyeon menatap mata appanya. Mata lelaki paruh baya itu terlihat bingung mencari jawaban. Kemudian matanya mengarah pada Lee Donghae yang sedari tadi mempertanyakan keberadaan eommanya yang entah kemana perginya. Donghae mulai menangis lagi, tak ada seorangpun yang mengatakan keberadaan eommanya.

“Siapa nama mu?” Tanya Taejun sambil duduk disamping Donghae.

“Lee.. Dong..hae…” suaranya terdengar samar samar.

“Donghae ah~ Eomma mu sudah pergi ketempat yang lebih indah diatas sana.” Jelas Taejun.

“Wae? Kenapa eomma pergi kesana? Kenapa dia tidak mengajak ku?”

“Eomma mu berpesan agar kau belajar dahulu untuk menjadi anak yang baik didunia ini dan suatu saat nanti, dia pasti akan tersenyum diatas sana. Ia akan bangga pada mu dan berkata ‘Donghae ah~ eomma bangga pada mu’.” Jelas Taejun yang kemudian memeluk Donghae.

Donghae langsung menghapus air matanya. Ia duduk dengan tegap, lalu memandang Taejun. “Aku akan menjadi anak yang baik. Ahjussi, kalau aku menjadi anak yang baik apakah aku akan bertemu dengan eomma?” Tanya Donghae.

“Hmm aniyo. Eomma mu sudah bahagia di atas sana. Kau tak mau melihat eomma mu sedih lagi kan?” Tanya Taejun.

Donghae hanya menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, kau harus menjadi anak yang baik dan buat lah eomma mu diatas sana semakin bahagia dengan membuatnya bangga.”

Sambil menahan air mata yang hampir menetes keluar Taejun memeluk kedua anak yang ada didekatnya. Ia tak tau kenapa ia dapat mengucapkan kata – kata manis didepan anak malang ini. Kenyataan yang sesungguhnya tak semanis apa yang ia ucapkan. Eomma Donghae meninggal dalam kecelakaan tungga tersebut. Hampir sebagian besar tubuhnya terbakar karena ledakan mobil yang ia kendarai. Sampai sekarang polisi yang bertugas masih belum bias memastikan apakah itu kecelakaan atau sebuah kesengajaan.

Lebih dari 48 jam setelah kejadian, tak ada pihak keluarga yang muncul mengambil Donghae. Walau pihak keluarga sudah mengambil Jang Seyi, Eomma Donghae dari pihak forensic, tak ada satu pun dari mereka yang mau merawat Donghae. Anak malang itu seakan disalahkan atas meninggalnya Seyi. Dan anak malang itu saat ini harus berhadapan dengan pihak dinas social yang akan membawanya ke sebuah panti asuhan.

“Donghae ah ayo!” ucap salah seorang pihak dinas social yang sudah bersiap membawa Donghae pergi dari rumah sakit.

“Shireo!!” Donghae langsung mengumpat dibalik kaki Taejun sambil mencengkram celana milik lelaki paruh baya itu.

“Lee Donghae” panggil orang asing itu lagi.

“Shireo!! Aku tidak mau. Ahjussi orang jahat itu mau menculik ku.” Ucap Donghae asal.

Sang pihak dinas social itu kemudian menarik tangan Donghae yang tak mau lepas dari kaki Taejun. Tangis anak itu kembali mewarnai hari ini. Mendengar suara tangis anak tak berdosa itu, Taejun semakin tak tega. Ia langsung menjauhkan Donghae dari pihak dinas social itu. Ia menyuruhnya duduk manis disamping Taeyeon.

“Jogiyo, bisakah aku merawatnya?” Tanya Taejun.

“Kalau kau memenuhi semua persyaratan kau bias merawatnya.”

“Baiklah apa saja persyaratan yang harus aku penuhi.”

“Mari saya tunjukan.”

Taejun mengikuti kemana sang dinas social itu membawanya. Kedua anak yang sedang duduk manis itu, duduk saling memandang satu sama lain. Kembali keduanya berada di tengah manusia asing yang sama sekali tidak mereka kenal. Taeyeon memandang Donghae, begitu pula Donghae memandang Taeyeon.

“Aku akan menjaga mu.” Ucap Taeyeon pelan. “Jika ada orang jahat datang untuk menculik mu, aku akan memukulnya” lanjutnya.

“Kau tak sebesar mereka. Kau pasti akan kalah. Andai saja ada eomma disini.” Balas Donghae.

“Uri eomma, sudah bahagia diatas sana. Kata appa, kita tidak boleh memanggil mereka turun karena akan membuatnya tidak bahagia.”

Tak lama Taejun muncul dan berlutut dihadapan kedua anak itu. Ia tersenyum pada mereka, lalu memeluknya.

“Donghae ah berapa umur mu?” Tanya Taejun.

“5”

“Kalau begitu, mulai sekarang kau akan menjadi oppa bagi Taeyeon. Dan kalian harus saling menjaga satu sama lain.” Jelas Taejun.

“Appa! Apa kita akan tinggal bersama?” Tanya Taeyeon.

“Ne, mulai sekarang kita akan tinggal bersama.”

****

Seoul – South Korea
2 January 2015 ( 20 Years after the accident)|| 8.45 AM

“Donghae Oppa!!!!!”

Seorang lelaki terbangun dari tidurnya saat mendengar namanya dipanggil cukup kencang oleh seseorang. Ia diam sebentar, merasakan hal aneh dalam dirinya. Tubuhnya basah berkeringat. Pagi itu terasa cukup aneh baginya. Bukan yang pertama, ini kesekian kalinya ia mengalami keanehan saat pagi hari setelah ia bangun. Matanya perlahan melihat sekujur tubuhnya dan kemudian bangkit berdiri lalu melepas kaus tak berlengan yang ia kenakan. Dan kemudian mengatur nafasnya yang tidak beraturan.

TOK TOK TOK

Suara ketukan pintu keras mulai mewarnai pagi hari ini. Suara itu melepas kesunyian yang melanda kamar lelaki itu. Berusaha menghiraukan ketukan pintu, semakin keras dan brutal pula ketukan itu. Muak mendengar ketukan yang tiada henti, lelaki itu berjalan membuka pintu yang menjadi sumber suara.

Pintu dibuka. Dan dikeluarkannya kepalanya layaknya orang yang sedang mengintip. Tentu saja ia harus menutupi tubuhnya yang tidak mengenakan apapun karena ia tak mau orang asing dapat melihat tubuh indahnya. Ditambah lagi suhu diluar sangatlah dingin. Seorang gadis berambut hitam panjang terurai berdiri dengan wajah kesal. Lelaki itu langsung menatap tatapan bingung.

“Ada apa Taeyeon ah?” Tanya lelaki itu.

“Donghae oppa, kau itu sudah ku telephone berkali – kali kenapa tidak mengangkat?” Tanya gadis bernama Taeyeon.

Donghae hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Taeyeon. Memang kenyataannya dialah yang salah karena tidak mengangkat telephone dari Taeyeon.

“Ada apa?” Tanya Donghae ketus.

“Apa kau tidak menyuruh ku masuk? Kau ini benar – benar ingin melihat ku mati kedinginan disini?”

Tanpa adanya ijin dari pemilik, Taeyeon langsung menerobos masuk kedalam. Reflek, kedua tangan Donghae langsung berusaha menutupi tubuhnya yang polos dan menutup pintu. Taeyeon, melangkah percaya diri masuk kedalam kamar Donghae.

“Ya! Kau ini bisa bisanya ting….” Taeyeon membalikan badannya lalu melihat Donghae yang masih berdiam diri didepan pintu sambil berusaha menutupi tubuhnya. Gadis itu diam seakan kehabisan kata kata. “Ya!! Berapa gadis yang kau bawa pulang semalam? Kau sembunyikan dimana mereka?” Tanya Taeyeon kemudian.

“Aish kau pikir aku ini pria hidung belang? Dalam sejarah hidup ku, hanya kau gadis yang masuk ke kamarku. Mau ku tiduri?” Tanya Donghae sedikit bercanda.

Taeyeon langsung menatap lelaki itu dengan tatapan hina. Tapi kemudian, sebentar ia menemukan celah diantara tangan Donghae. Tubuh Donghae yang sedikit basah memperlihatkan abs yang sudah terbentuk sempurna. Tatapan hina itu langsung berubah menjadi tatapan terpesona. Donghae yang merasa menjadi pusat perhatian, langsung berlari mencari pakaian untuk menutupi tubuhnya.

“Berhentilah menatap ku seakan kau benar benar ingin ku tiduri. Kalau kau hamil, aku bisa mati ditangan appa mu.” oceh Donghae sambil menyembunyikan tawa pelan.

“Aish.. Aku tidak sudi ditiduri oleh lelaki hidung belang seperti mu.” Balas Taeyeon.

“Beberapa detik yang lalu, kau baru saja memasang wajah seakan menginginkan ku. Sudah lah tidak ada gunanya beradu mulut dengan mu. Ada apa kau kesini?”

“Sial.. Ah benar benar, appa menyuruh mu untuk membantunya di restaurant.” Ucap Taeyeon santai.

“Bukannya itu tugas mu?”

“Appa harus menemui seseorang hari ini. Karena di restaurant sangat miskin pelayan jadi kau harus menggantikan appa.”

Donghae terdiam. Pikiran jahatnya, mulai merencanakan rencana jahat untuk mengerjai gadis polos dihadapannya.

“Ini permintaan appa mu atau jangan jangan kau yang meminta ku karena tertarik pada ku?” Goda Donghae.

“Ya.. tinggi sekali rasa percaya dirimu. Ideal type ku bukan lelaki seperti mu.” Sangkal Taeyeon.

“Jangan menyangkal. Semua sudah tertulis diwajah mu.”

“Mwo Ya? kau ini kelebihan hormon percaya diri ya? Kau bahkan tak setampan Won Bin.”

Tanpa membalas semua perkataan yang keluar perlahan dari mulut Taeyeon, Donghae langsung bersiap diri untuk mandi. Taeyeon memutuskan untuk menggeledah kamar milik Donghae. Ia masih tak percaya bahwa lelaki ini tidak menyembunyikan seorang atau bahkan lebih dari satu gadis di kamarnya. Sambil mencari ia membersihkan kamar Donghae yang sudah seperti kandang hewan. Satu persatu pakaian kotor Donghae yang berserakan di lantai atau tergeletak begitu saja di meja, ia ambil dan masukan kedalam sebuah keranjang pakaian. Setelah itu ia rapikan tepat tidur Donghae. Pada saat ia mengangkat selimut, sebuah benda berhasil menangkap perhatiannya.

Sebuah pistol berukuran normal ditemukan tergeletak di salah satu sudut tempat tidur Donghae. Ia ambil pistol itu lalu menirukan gaya James Bond, kemudian ia mengarahkan pistol tersebut ke arah pintu kamar mandi yang dimana Donghae sudah selesai mandi. Mata lelaki itu terbuka lebar.

“Ya!! Berikan pistol itu pada ku!” Teriak Donghae panic.

“Wae? Bukan kah ini mainan?” Tanya Taeyeon polos.

“Kalau ini mainan, aku tak akan sepanik ini melihat mu mengarahkan pistol itu pada ku. Bodoh!” Omel Donghae sambil mengambil pistol iu dari tangan Taeyeon.

“Jadi itu pistol sungguhan…” ucap Taeyeon santai. Tapi kemudian ia seakan tersadar, matanya langsung menatap Donghae dengan tatapan ketakutan. “Ada apa benda itu ada di kamar mu? Ternyata kau menyembunyikan hal yang lebih menyeramkan dibandingkan seorang gadis… Oppa kau tidak berniat bunuh diri kan?” Lanjut Taeyeon.

Donghae memasukan pistol itu kedalam lemari pakaiannya. Lalu mengacak – acak rambut Taeyeon. “Aniyo, kalau aku mati siapa yang akan merelakan dirinya untuk menjadi suami mu?” Canda Donghae.

“Oppa.. aku serius”

“Naddo! Aku juga serius. Sudah lah ayo.”

“Aish, sampai kau bunuh diri aku tak akan menangis untuk mu. Aku bahkan tidak akan datang ke pemakaman mu.”

“Kita lihat saja nanti.”

Siap menerjang dinginnya suhu di pagi hari itu, Keduanya memakai pakaian hangat super tebal. Terutama Donghae, ia sangat membenci udara dingin. Dipakainya sebuah syal untuk menghangatkan leher dan menghalangi udara dingin masuk ke hidung dan mulutnya. Keduanya berjalan menyusuri jalan jalan yang masih tertutup salju. Sesekali Taeyeon hampir terpleset karena terlalu girang. Beruntung disampingnya ada seorang Donghae yang dengan setia menjaganya. Sesampainya didepan lampu merah sebuah layar besar menarik perhatian banyak orang yang sedang berjalan didaerah itu.

“CEO dari Star Lee Corp, Lee Dong Hwan ditemukan meninggal dunia di rumahnya. Dugaan saat ini peyebab kematiannya adalah serangan jantung.”

Taeyeon yang sedari tadi memandangi berita tersebut merinding. Lalu kemudian menatap Donghae yang sedari tadi sibuk merasakan hawa dingin hari ini.

“Oppa kasian sekali dia.” Ucap Taeyeon.

“Hmm, berhentilah mengasihani orang lain. Seharusnya kau mengasihani dirimu sendiri karena tidak pernah memiliki seorang kekasih. Hanya aku yang rela menikahi mu dengan cuma cuma” ejek Donghae.

“Aish.. aku tak pernah mengemis pada mu untuk dinikahi. Sudah lah lelah berdebat dengan mu. Ayo!”

Tangan Taeyeon langsung menarik telinga Donghae lalu berjalan menuju restaurant Jepang milik Appanya.


8.50 AM
Gangnam Distric
Infornt of Star Lee Corp

Sebuah benda kotak berdering di kantong celana seorang lelaki yang terlihat sudah hampir memasuki umur 60 tahun. Dengan tangannya yang sedikit gemetar, ia mengambi benda tersebut yang tak lain adalah sebuah handphone, bukan smart phone. Sebuah nomer tak dikenal memanggil handphone orang tua itu. Ia langsung mengangkat nomer tersebut.

“Lee Taejun –ssi, kau masih punya kesempatan untuk mundur dari tempat mu saat ini.” Ucap orang yang menelphonenya itu.

“Aku tak akan mundur, aku harus memberi tau mereka keberadaan Lee Donghae.”

“Kim Taejun –ssi, ini peringatan terakhir kalau kau tidak mundur, kau harus menanggung akibatnya. Kau tidak tau apa yang kau hadapi saat ini.” Balas si penelphone.

“Aku hanya ingin anak itu tau siapa dia sebenarnya.”

“Baiklah kalau itu mau mu. Ini adalah peringatan terakhir.”

Sambungan telephone itu terputus. Kemudian ia memasukan beberapa nomer yang ia kenal untuk dihubungi.

“Taeyeon ah, kau sudah di restaurant?” Tanya Taejun.

“Ne appa waeyo?” suara manis anak kesayangannya itu, seakan memberinya sebuah kekuatan baru.

“Aniyo, hanya mengecheck. Taeyeon ah, appa senang bias mendengar suaramu. Taeyeon ah~ appa sayang pada mu. Jadilah anak yang baik, jangan menyusahkan oppa mu terus. Kau harus belajar menjadi mandiri. Tersenyumlah Taeyeon ah~”

“Appa kau tidak sakitkan? Kenapa tiba tiba berbicara seperti ini?” Tanya Taeyeon bingung.

“Aniya, memangnya appa tidak boleh bicara seperti itu? Ah iya dimana Donghae?”

“Sebentar” Terdengar Taeyeon sibuk memanggil Donghae di sisi sana.

“Ne Ahjussi ada apa?” Tanya Donghae.

“Donghae ah~ tolong jaga Taeyeon. Anak itu walau pun keras kepala dan manja tapi dia sangat perhatian pada mu. Donghae ah~ kau harus menyiapkan diri, didepan mu akan ada dunia baru yang harus kau hadapi. Mungkin akan lebih kejam dari para pereman yang selalu meminta uang pada kita. Dunia yang tak pernah kau kenali ini sangat keras dan kejam. Dan jika Taeyeon terlibat didalamnya, ahjussi mohon lindungilah dia.” Ucap Taejun

Tanpa menunggu jawaban dari Donghae, ia memutuskan sambungan telephone tersebut dan kembali memasukan handphone kedalam saku celananya. Dan saat lampu merah berubah menjadi hijau, dia bejalan menyebrangi jalan raya menuju sebuah gedung tinggi dengan nama “Star Lee”. Dipeluknya sebuah amplop coklat cukup tebal didepan dadanya. Dengan langkah cepat ia menuju lobby Star Lee Corp. Ia merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.

Didepan meja receptionist, ia memberikan pada penjaganya amplop coklat tersebut.

“Tolong berikan ini pada Choi Insung atau Lee Hwanhae” Ucap lelaki itu.

PRANG!!

Tiba – tiba saja, sebuah kaca pecah dan sebuah peluru masuk kedalam punggung Taejun. Peluru itu bersarang di jantung lelaki tua malang itu. Dan hanya dalam hitungan menit peluru itu berhasil menghentikan jantung Taejun untuk memompa darah ke seluruh tubuhnya. Sontak semua orang yang ada didalam lobby itu langsung berteriak histeris dan berhamburan keluar gedung. Pengamanan gedung pun diperketat. Alaram pun berbunyi dan membuat orang – orang yang berada digedung itu ikut berhamburan keluar.

“Apa apa ini?” seorang lelaki tinggi berparas tampan muncul dari balik lift.

“Choi Insung –nim ada lelaki yang tertembak lobby.”

“Tunjukan padaku.”

Choi Insung, adalah orang kepercayaan pemilik perusahaan Star Lee Corp. Setelah ada berita meninggalnya CEO Lee Donghwan pagi ini, lelaki muda itu harus menghadapi seseorang tewas di lobby perusahaan tempat ini bekerja. Ia mendekati lelaki tua yang malang tersebut dan langsung menyuruh para penjaga menghubungi kantor polisi.

“Choi Insung nim… pria itu tadi memberikan ini pada ku.” Ucap receptionist yang dititipkan sebuah amplop coklat oleh Taejun. “Dia bilang, ini untuk mu dan Lee Hwan Hae sajangnim.”

Disebrang Star Lee ada sebuah gedung. Tepat disuatu jendela yang mengarah tepat pada lobby Star Lee, seorang lelaki mengenakan topi dan masker serta sarung tangan hitam duduk sambil menghubungi seseorang.

“Apa lelaki tua itu sudah mati?”

“Sudah, tapi ia berhasil memberikan berkas itu pada receptionist dan saat ini sudah ada polisi ditempat ini.”

“Kau tau apa yang harus kau lakukan.”

“Ne”

9.15 AM
Aozora Japanese Restaurant

Deringan telephone restaurant tersebut membuat sang pemilik meninggalkan apa yang sedang ia kerjakan. Kim Taeyeon anak pemilik restaurant tersebut langsung meninggalkan piring yang sedang ia cuci, tetapi pada saat ia membalikan badannya, tak sengaja ia menyengol tumpukan piring yang sudah ia cuci bersih.

PRANG

“Aish.. Ya Donghae oppa tolong angkat telephone” teriak Taeyeon pada Donghae yang sedang menyapu dapur tempat mereka berada.

“Kau saja yang angkat, aku yang membereskan pecahan ini. Tangan mu bisa luka jika kau tidak hati – hati.” Balas Donghae yang dengan senang hati membersihkan pecahan piring itu.

“Aigo, baik sekali kau.” Ucap Taeyeon sambil mencubut pipi Donghae.

“Aish sudah sana cepat!”

Taeyeon langsung berlari, menuju telephone yang berada didepan. Dengan suara senang, ia mengangkat telephone tersebut.

“Yoboseyo.. Ne, saya sendiri”

“Kantor polisi? Mwo? Apa kau bilang?” Teriak Taeyeon.

Mendengar Taeyeon yang tiba – tiba berteriak, Donghae segera bergegas kedepan dan mendekati Taeyeon yang sudah terduduk dilantai tanpa mendengarkan orang yang berbicara di telephone sana. Ia segera mengambil telephone itu dan memintanya untuk mengulangi apa yang baru saja ia katakana pada Taeyeon.

“Oppa.. mereka bohongkan?” Tanya Taeyeon. Air mata Taeyeon mulai membasahi pipinya.

“Molla, ayo kita buktikan mereka bohong atau tidak.”

Tangan Donghae langsung meraih tangan Taeyeon. Donghae langsung menghapus air mata yang membasahi pipi Taeyeon. Ia menatap mata gadis itu. Lalu memeluknya dengan erat. Kalau apa yang baru saja ia dengar itu benar, Donghae sama sekali tak tau harus berbuat apa. Segera dengan motor milik restaurant itu, Donghae dan Taeyeon menuju kantor polisi di kota Seoul, distrik Gangnam.

Disana, terlihat sangat ramai. Taeyeon yang sudah tidak dapat berpikir sangat kebingungan. Kepalanya terlalu sakit melihat orang berlalu lalang dihadapannya. Beberapa wartawan sibuk menyampaikan berita yang baru saja terjadi disebuah perusahaan besar di Korea. Beberapa kali gadis itu terkena senggolan cameraman ataupun polisi yang bertugas. Hampir saja gadis itu kehilangan kesadaran, tetapi seorang lelaki berhasil membawanya keluar dari kerumunan manusia. Tangan Donghae dengan erat menarik Taeyeon menuju meja seorang detective yang menghubungi mereka.

“Jogiyo, apa kau detective Shim Changmin? Saya Lee Donghae dan ini putri Kim Taejun” ucap Donghae.

“Ah ne.. saya Shim Changmin. Ayo ikut saya.”

Mereka berdua berjalan mengikuti Changmin menuju tempat dimana Taejun terbaring tak bernyawa. Tepat didepan pintu, Taeyeon menahan tangan Donghae. Ia menatap Donghae dan menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tak bisa menggerakan kakinya bahkan seluruh tubuhnya.

“Kalau kau tidak kuat, biarkan aku saja yang melihatnya.” Ucap Donghae.

Taeyeon hanya mengangguk, ia berdiri mengaku. Hatinya berharap orang itu bukanlah appa nya. Matanya terus menatap Donghae yang masuk kedalam untuk memastikan identitas orang tersebut. Saat Donghae memandang orang itu, ia langsung memandang Taeyeon lalu menganggukan kepalanya pada Taeyeon. Seketika, satu tubuh Taeyeon melemas. Ia bahkan tak sanggup berdiri dengan kedua kakinya.

“appa…”

Donghae langsung berlari kedepan menghampiri Taeyeon yang terduduk tepat didepan pintu ruang forensic. Dia langsung memeluk gadis manja itu. Ia genggam tangan Taeyeon, lalu membenamkan wajah gadis itu didadanya sedang tangannya yang lain sibuk mengelus rambut yeoja itu.

“Appa…”

Tangis Taeyeon seakan tak ada hentinya. Nafasnya tak lagi beraturan dan suaranya semakin lama semakin kecil. Donghae terus memeluk gadis itu, ia sama sekali tak ada niat untuk melepaskan pelukannya.

“Gwaenchana.. Taeyeon ah~ Gwaenchana..” ucap Donghae.

“Oppa..”

“Gwaenchana, aku masih disini. Gwaenchana”

Donghae mencoba menahan air matanya turun dari matanya. Bagaimana pun juga, Taejun sudah seperti appanya sendiri. Ia mencoba menenangkan Taeyeon dengan segala cara tetapi semuanya sia sia. Gadis manja itu, seperti kehilangan setengah jiwanya. Walaupun tangisnya sudah mulai reda, tapi ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Tangannya memukul dada Donghae berkali – kali seperti sedang mengeluarkan rasa sedih dan kesalnya.

“Tolong tuntaskan khasus ini. Dan aku butuh data data dari korban ini.” ucap seseorang yang juga ingin melihat korban penembakan itu.

Sebelum masuk kedalam ruang ruang forensic, ia melihat Donghae dan Taeyeon masih terduduk dilantai. Matanya memandang sebuah amplop coklat lalu memandang Donghae satu kali lagi.

“Mereka keluarga dari korban. Mari saya antar kedalam” ucap Changmin.

“Ne, aku butuh berbicara dengan keluarga korban dahulu.” ucap orang itu.

“Baiklah kalau begitu Insung –ssi, saya menunggu didalam.”

“Ne..”

Insung mendekati Donghae dan Taeyeon. Ia menepuk pundak Donghae sambil mengeluarkan 1 buah foto dari dalam sakunya. Sebuah foto anak lelaki kecil sekitar umur 3 tahun. Saat Donghae menengok kearah Insung, dan langsung saja Insung menyocokan wajah Donghae dengan wajah anak yang ada difoto tersebut. Betapa kagetnya ia melihat wajah Donghae secara dekat. Terlalu mirip.

“Lee Donghae –ssi?”

TBC

If you read LENS and want to read Lens season 2 please visit GoldPlum . And if you need more information about other FF you can ask me on my Instagram🙂


5 thoughts on “RED : Chapter 1

  1. Hai thor salam kenal, sy new reader di sini ^^
    Saya suka deh ceritanya apalagi castnya donghae ama taeyeon
    semangat terus ya lanjutin ditunggu sambungannya hehe😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s