but with an absence of eternity


but with an absence of eternity | tragedy | PG-14

“Love exist but with an absence of eternity…delusion that the moment will last forever—”

.

ssulchoi.tumblr.com post 89595493929 they-say-before-you-start-a-war-you-better-know

(credit picture to ssulchoi.tumblr.com)

(i recommend you; angel with a shotgun – the cab)

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, dipublish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

.

but with an absence of eternity

Oh Sehun and Choi Sulli

Standar disclaimer applied

2014©Ninischh

Present

.

“STOP!”

Desing bunyi pedang menderu, saling beradu menyipratkan semakin banyak darah. Sehun menaikkan pedang abu-abunya, berputar, menebas, lalu merah-merah bermuncratan. Matanya patuh mengikuti gerak tubuhnya di sepanjang deretan pohon, di bawah langit putih bersalju. Dengan sorotan serius, lurus dan tak gentar.

Ke kanan. Slash!

Ke kiri. Slash!

Tumbang. Tumbang. Tumbang.

Manusia tumbang.

Orang-orang meneriakkan perang semakin menaikkan tensi. Mereka jenis orang yang tidak peduli mati atau hidup. Tujuan masih-masing pihak hanya satu. Menang saja. Menang.

Makanya Sehun tak membiarkan yang mana pun, siapa pun, berdiri menghalangi jalannya. Slash!

Dan satu lagi manusia tumbang.

“Kubilang stop, dasar bodoh!” suara dari balik punggungnya. “Sehun, aku tahu ini perang tapi kau membunuh aliansimu sendiri! Apa-apaan?!”

Sehun berputar dan sejumlah orang di sekelilingnya terjatuh kehilangan nyawa. Memperbanyak darah yang mengotori pedangnya. Membumbui merah di atas salju putih. Satu, dua, tiga. Sudah lama sejak Sehun berhenti menghitung orang yang dibunuhnya. Dan sekarang itu tak lagi penting.

Sebab ia juga kehilangan alasan untuk bertarung.

but with an absence of eternity

flasback

SULLI bisa jurus ilusi. Bukan, bukan. Gadis itu menguasainya. Sulli, master jurus ilusi di seantero medan perang. Yang kerjanya berakting terus, membohongi orang. Baik kawan, musuh, orang netral maupun di luar tugasnya sekalipun, Sulli mengilusi. Tidak ada yang tidak menginginkan jasanya, baik pihak musuh mau pun aliansi, atau kebalikannya juga sama saja.

Semua kenal gadis itu. Semua ingin Sulli bekerja untuk mereka. Siapa yang tidak tahu dan tidak mau?

Makanya gadis itu ingin tertawa terbahak—dalam diam tapi, hanya dalam kepalanya—ketika pemuda itu menghampirinya terbirit-birit. Dengan nada terpesona sekaligus kaget, berkata, “kau baru saja… menyelamatkannya? Kau menyembuhkannya?”

Padahal jelas-jelas Sulli menebas orang yang dibicarakan dengan belati menancap di balik punggung, yang sekarang sudah terkapar di kaki Sulli.

Tapi—lagi-lagi—gadis itu tersenyum saja.

Pemuda dengan rambut hitam, pedang di tangan kanan yang anehnya tanpa baju besi itu, berkeras meminta jawaban. “Kau menyembuhkannya?” ulangnya. “Kau menyembuhkannya! Apa-apaan, nona?!”

Lalu pemuda ini mengeluarkan pedang dari sarungnya, bergerak dalam kecepatan cahaya, dan membolongi dada orang yang sudah terkapar di tanah itu. Membunuhinya kedua kali. Tapi gerakannya yang cepat sempat membuat Sulli terkesiap.

“Apa yang kau lakukan di sini, nona? Kau gila, ya? Ini daerah rawan! Musuh berkeliaran di sekitar sini, lalu kau malah menyembuhkannya? Orang ini? Tidak lihat lambang di punggung baju orang ini, hah? Dia musuh!”

Pemuda ini kalut seperti orang kebelet pipis, Sulli semakin ingin tertawa. Tapi hal itu ditahannya.

“Bagaimana kalau kau terbunuh di sini? Ayo kembali ke kamp,” nada perintahnya mutlak. Lagi-lagi Sulli sempat terpesona ketika pemuda ini meraup pundaknya dan menuntunnya menjauhi daerah perbatasan antara dua negri tersebut, berjalan begitu lembut. “Kau ini benar-benar gila nampaknya,” lanjut pemuda itu.

Kemudian Sulli tertawa terbahak-bahak. Ia sudah tidak sanggup lagi, oh tidak. Pemuda ini lucu sekali.

“Eh—ehh—no… nona, maafkan saya, jangan menangis… ehh—aduh…”

Makanya Sulli tertawa. Tidak sadarkah pemuda ini ia telah terperangkap dalam ilusi Sulli? Sedari tadi? Melihat Sulli menyembuhkan orang padahal gadis itu telah membunuh. Membual bahwa ia menangis padahal sebenarnya Sulli tertawa begitu melecehkan.

Tentu saja pemuda itu tidak sadar, ilusi Sulli tidak punya celah untuk dipatahkan. Karenanya gadis itu membiarkan saja. Sulli membiarkan pemuda itu dekat dengannya, mengkhawatirkannya. Serta pelan-pelan jatuh—

mencintainya—dalam ilusi.

but with an absense of eternity

“BERHENTI bercanda,” kali ini naik menjadi nada perintah tapi Sehun masih tidak bergeming. “Kau ini prajurit! Kita ini tim 3! Tim 3, bocah! Buat apa berada di garis paling depan kalau bukan untuk bersiaga lebih dulu. Ini perang!”

Sehun duduk santai saja di tenda utama tersebut, berdesakkan dengan peta-peta, bersama berkas berserakan, maupun senjata rusak yang menunggu diperbaiki. Tidak secemas prajurit lain yang berperang kalut, justru ia sempat bersiul sambil memeluk pedang, dengan baju santai seolah liburan. Jelas Jenderal Lee naik pitam.

“Cepat pakai baju besimu dan usung pedang itu, bocah, kita bergerak bela negri. Ayo, ayo!”

“Negri nggak balik membelaku, sejauh ini.”

“Karena itulah kita berjuang, nak! Supaya semua usahamu dibalas negri. Supaya negri seberang itu jatuh dan gagal merebut negri kita. Supaya semua kembali damai seperti semula.”

Sehun berdecak. “Nggak ada yang namanya ‘kembali damai seperti semula’ apalah itu. Keluargaku mati semua.” Jawaban Sehun membuat pimpinan tim 3, Jenderal Lee, terkesiap dan memberikan tatapan kasihan yang kenyang Sehun telan sejak tiga tahun lalu.

Melihat gerak-gerik keprihatinan Jenderal Lee membuat Sehun mencarut. “Enyahlah, aku nggak ikut. Masih banyak yang lain, tuh,” ditunjuknya sepasukan manusia yang siaga bergerak maju ke depan—secara teknis seluruh anggota yang bertugas telah siap, terkecuali dirinya saja, Sehun itu.

Jenderal Lee menarik napas. “Sudah kubilang, seharusnya nggak ada bocah di tim 3,” gerutunya lalu duduk di samping Sehun. Tidak mengungkit-ungkit kalau Sehun memiliki kemampuan pedang yang unik, betapa usia muda Sehun semakin membuat iri prajurit lain dan betapa Jenderal Lee capek membujuk pemuda itu untuk ikut bertarung hanya agar keahlian Sehun tak tersia-siakan. Semata-mata kurang motivasi saja.

“Kita harus punya alasan untuk bertarung, prajurit Oh Sehun. Dan bagiku, alasan itu adalah keluargaku, yang setia menunggu kepulanganku—”

“ya, ya, betul, keluarga. Oh, crap, aku lupa. Keluargaku sudah mati”

“—yang aku perjuangkan kemenangan ini agar mereka bisa hidup damai dan bahagia, tanpa perang, tanpa ancaman akan ada lemparan bom atau pun tanpa rasa takut sampai mereka menyimpan belati di balik bantal ketika tidur.”

“Istrimu ada di tenda hijau barangkali 10 meter dari sini, Donghae. Keselamatannya bahkan lebih terancam daripada waktu di ibukota dulu.”

“Yang justru membuatku semakin semangat berjuang,” balas Jenderal Lee, saling tatap mata dengan Sehun. “Pria yang punya alasan untuk pulang akan memperjuangkan apa pun untuk alasan tersebut.”

Sehun merenungkan kalimatnya, dalam situasi serius yang jarang Jenderal Lee tempatkan ketika mereka sedang bersama ini. Dan terdiam. Dalam hati mengangguk serta berpikir, perlahan Sehun menyetujui.

“Alasanmu juga… bisa jadi gadis yang ada di tenda hijau, beberapa meter dari sini—wow, WOW!”

Jenderal Lee berhasil menghindari serangan pedang berkilau Sehun, yang terhunus begitu cepatnya kalau tidak sedang waspada Jenderal Lee mungkin terbunuh. Soalnya Sehun bangkit berdiri dan memasukkan pedangnya lagi dalam sarung, mengenakan baju besi dan bersiap pergi. Plus rona merah di pipi kali ini.

“Jangan sebut-sebut Sulli,” ancam Sehun, berbalik. “Ayo, bos.”

“Aku bahkan nggak menyebut namanya, ya Tuhan.”

Alasan, angguk Sehun. Setelah sempat melirik ke tenda hijau sepuluh meter dari tempatnya berdiri, melirik secercah tawa yang Sulli utarakan dengan istri Jenderal Lee di antara wanita lainnya di kamp.

Yang sekarang jadi alasan Sehun.

but with an absence of eternity

“SULLI? aku masuk, ya?” suara Sehun. Sulli bisa merasakan keberadaan pemuda itu yang berdiri di balik pintu masuk tenda hijau. Sulli melirik ke luar, membuat Sehun berpikir bahwa Sulli berkata, “ya, tunggu,” tanpa benar-benar gadis itu katakan. Ia lalu berbalik pada orang di hadapannya lagi.

“Ingat tugasmu, jangan lalai,” kata orang tersebut. Kemudian berkedip genit sambil melanjutkan, “istriku.”

Sulli berusaka keras mengangguk dan tidak mendesah di saat yang bersamaan. Tentu saja ia ingat tugas itu, tidak pernah dilupa sehari pun dalam hidup Sulli tiga bulan belakangan di kamp ini. Dan Sulli tidak lalai. Terbukti betapa ia dengan gigih mempertahankan jurus ilusi yang diterapkannya pada seluruh penghuni kamp, pun betapa Sulli berusaha keras membuat Sehun hidup dalam kebohongan buatannya. Semua itu dilakukannya demi tujuan Sulli. Lagi pula apa yang selama ini tidak dilakukannya untuk mencapai tujuan itu?

“Aku ingat tugas itu,” sahut Sulli. “Dan aku tidak pernah jadi istrimu. Sekarang pergilah.”

Orang tersebut terkekeh licik, mengulurkan jemarinya untuk mengusap pipi Sulli namun tak sampai, sebab Sehun keburu membuka tenda yang membuat orang itu terpaksa lari lebih cepat. Oh, tidak. Sehun tak akan melihat sepercik pun gerak-gerik orang tersebut, semua terima kasih pada Sulli sang master ilusi.

“Hei, Sul,” sapa Sehun, tersenyum menenangkan, yang entah bagaimana membuat dada Sulli miris.

Oh Sehun begitu mencintainya, orang bodoh saja tahu. Pemuda itu tulus mengkhawatirkan Sulli meski yang dilihatnya hanya ilusi buatan Sulli, jujur ketika mengucap kata cinta, sungguh-sungguh menjadikan Sulli sebagai alasan untuk bertarung, tempat untuk berpulang. Kemudian tiba-tiba menimbulkan rasa bersalah pada Sulli, yang telah memperalat dan berbuat beribu dosa untuk pemuda satu ini.

“Oh, hei,” balas gadis itu.

Sulli teringat akan waktu pelaksaan tugasnya, apa dan kapan akan terjadi. Ia lalu menarik napas. Setelah ini baru pertempuran yang sebenarnya akan dimulai. Ini akan jadi yang terakhir kalinya ia menemui Sehun. Jadi Sulli memutuskan untuk—sekali ini saja, pertama dan terakhirnya dalam sejarah pertemuan mereka—Sulli akan bersungguh-sungguh menjadi dirinya di hadapan Sehun. Tanpa ilusi, tanpa akting dan tanpa kebohongan apa pun.

Ini akan jadi yang terkakhir, Sulli meyakinkan hatinya yang gundah untuk tidak khawatir. Rileks dan bersikap biasa saja. Jujur padanya. Minta maaflah padanya.

“Kau sedang apa?” tanya Sehun menghampiri.

“Nggak ada,” katanya mengangkat bahu canggung. Sulli menarik napas dan membisikkan beberapa mantra untuk menghapus ilusi dari mata Sehun, sebelum menampilkan yang sesungguhnya terjadi. “Kau ada waktu? Jalan-jalan, yuk,” Sulli tersenyum manis sembari meraih lengan Sehun yang tidak membawa pedang, lalu berjalan berdua keluar tenda, menjauhi keramaian.

Pemuda itu tertawa. “Okay. Kita mau ke mana? Di sekitar sini cuman ada pohon dan meriam. Nggak ada yang bagus.”

“Lihat-lihat langit saja. Mereka biru dan luas dan cantik.”

Sehun mengangguk setuju. “Ya, langit itu menenangkan. Tidak terbatas.”

Sulli berusaha menahan getar di bibirnya ketika bicara, merasakan sensai aneh ketika akhirnya mengobrol secara langsung—tidak melalui ilusi—untuk pertama kalinya bersama Sehun. Menekan rasa bersalahnya ketika pemuda itu membersihkan tanah untuk Sulli duduk, di atas bukit tempat langit terbuka, ketika lagi-lagi Sulli merasa dosanya kian menumpuk.

Membohongi yang tak bersalah, menipu demi tujuan semata. Ya Tuhan, apa yang sudah diperbuatnya.

Diliriknya Sehun di sebelah, yang mana bahunya bersentuhan dengan bahu Sulli, yang sebelah tangannya memeluk pedang dan tangannya yang lain di belakang Sulli, melindungi gadis itu. Sulli harus bicara yang sebenarnya sekarang.

“Aku selalu ingin jadi ratu,” ungkapnya.

“Oh, ya?” respon Sehun. “Ratu yang bagaimana?”

Sulli menghadapnya, tangan terkepal karena akhirnya sanggup bicara jujur. “Iya. Aku ingin jadi ratu sebuah negri. Mungkin negri ini, mungkin negri di seberang itu. Yang memimpin rakyat-rakyat yang damai dan tentram, hidup serba berkecukupan, memakai gaun indah juga bahagia.” Ia menarik napas. “Aku ingin jadi ratu yang berani bicara di khalayak umum secara jujur, membantu rakyatnya secara tulus, tidak berbohong sama sekali.”

“Well, bagus kalau begitu. Kau akan jadi ratu yang menakjubkan,” muncul cengiran tampan nan menggugah Sehun. “Sayangnya aku nggak ingin jadi raja. Pasti repot.”

Gadis itu memutar bolah mata. “Oh benar, sial. Kau kan bisanya cuman main pedang,” gerutunya.

“Aku akan jadi ksatriamu, Sul. Yang naik di atas kuda putih bersayap dan pedang di tangan. Aku akan melindungimu.” Sehun terkekeh mencemooh. “Pasti keren. Kayak dongeng sebelum tidur.”

Sulli ingin bilang kalau ksatria itu ada untuk melindungi putrinya, mana ada ksatria melindungi ratu. Tapi gadis itu tetap terkesima mendengar keinginan pemuda itu melindunginya. Kemudian diraihnya jemari Sehun, meremasnya, berharap suasana menyenangkan begini bisa berlangsung selamanya. Yang nyatanya tidak.

Ia menarik napas. Berbisik, “Tapi aku sudah melakukan apa pun untuk mencapai tujuan itu, menjadi ratu tersebut.”

“Kalau begitu aku akan melindungimu terus sampai tercapai tujuan itu,” cengiran Sehun makin lebar. “Aku ksatria, ingat?”

Sulli memalingkan wajah dan menutupi mulutnya dengan tangan. Matanya lembap, dadanya sesak. Apa yang sudah kulakukan? Gumamnya. Tidak, jangan menangis di sini, Sulli. Jangan menangis di hadapan pemuda ini. Jangan goyahkan keyakinannya. Sulli sudah bermuluran dosa dan ia tak pantas bersanding dengan manusia mana pun, terutama Sehun.

“Sul? Kenapa? A—aduh, jangan menangis… ehh—”

Siulan. Terompet panjang tiga tarikan napas terdengar seantero kamp. Sehun bangkit berdiri, tubuhnya menegang.

“Mereka menyerang,” gumam pemuda itu. Sulli mengusap matanya dengan punggung tangan. “Ayo pergi ke tempat yang aman, Sul, aku harus bersiap—”

Sulli tetap bergeming ketika Sehun menarik pergelangannya, tidak bangkit dari duduk sama sekali. Pemuda itu menatapnya bingung. “Sul? Mereka menyerang! Mereka bakalan ke sini dalam hitungan detik, kau harus berlindung!”

Gadis itu melepaskan pegangan Sehun akan tangannya lembut. “Aku mau di sini sebentar.”

“OI, OH SEHUN! CEPAT!!” seruan orang dari bawah bukit menggetarkan memanggil. Dapat Sulli lihat ekspresi panik Sehun, matanya menggelora merah dan alisnya bertautan. Muka khawatir itu.

“Sulli!”

“A.. aku janji akan ada di tempat yang aman. Kau pergilah,” katanya kecil.

Napas Sehun memburu. Ia menatap Sulli ragu, tidak terima, tidak mau melepas. Tapi gadis itu balas menatap matanya, dan membuat Sulli lagi-lagi terpesona dengan ambisi di mata Sehun yang ditatapnya secara jujur. Betapa tanpa ilusi pun Sulli berhasil meyakinkan Sehun akan pandangannya.

Karena pemuda itu akhirnya mengangguk. Garis wajahnya, dagunya, hidungnya, matanya ketika mereka bertatapan langsung.

“Kau harus janji kita akan bertemu lagi. Aku berperang untukmu,” Sehun tidak pergi sampai gadis itu menyahut, “Janji.” Lalu mengecup pipi Sulli. “Tunggu aku,” bisik Sehun sebelum berlalu turun ke bawah bukit, bergabung dengan prajurit-prajurit lain yang kalang kabut berlarian menyiapkan alat perang.

Sulli memalingkan wajahnya dari keributan perang, menelungkup di atas tangannya, terisak sampai sesak. Menangis tidak tega bukan hanya soal apa yang sudah diperbuatnya pada pemuda itu, tapi juga akan apa yang akan diperbuatnya nanti.

Tidak, tidak. Ia tidak bisa begini. Sulli tidak akan menyakiti Sehun lebih lagi. Ia harus bergerak menemui orang itu. Master ilusi tidak goyah. Ia akan berjuang terus, dan akan merubah tujuannya. Untuh Sehun.

Tanpa Sulli sadari, ketika akhirnya ia membuka dirinya yang sebenarnya pada Sehun, saat itulah seluruh jurus ilusi yang dilancarkannya pada penduduk kamp, lepas sudah.

but with and absence of eternity

“APA yang kau lakukan dengannya?” tanya Tao, prajurit sesama tim 3 yang tadi memanggilnya dari bukit. Prajurit-prajurit lain sibuk bersiap mengenakan baju besi, membersihkan belati, mengikuti instruksi ketua tim di kamp. Berada di tim 3 membuat Sehun dan Tao terkhusus bergerak maju lebih dulu, sudah berada di garis paling depan lapangan luas sebuah hutan, menunggu datangnya musuh di atas kuda. Bersiap mengumandangkan gendang peperangan.

“Dengan siapa? Sulli?”

“Bukan, dengan Choi Jinri, istri Jenderal tim 3 itu—”

Lalu Sehun tersedak. Bukan hanya karena perkataan Tao, tapi memorinya yang tiba-tiba terkoyak dan berhamburan meledak. Satu persatu kenangannya dengan Sulli bermunculan, tentang apa yang telah Sehun lihat dan apa yang sebenarnya terjadi.

Diingatnya memori ketika Sulli tengah menyembuhkan seorang pria—ketika pertama bertemu dulu—yang tiba-tiba bertolak belakang dengan memori matanya yang mengatakan kalau kala itu Sulli justru membunuh pria tersebut. Atau ketika Sulli menangis yang di saat bersamaan memoarnya bertabrakan dengan ketika gadis itu tertawa mencemoohnya. Waktu gadis itu bicara yang juga tidak benar-benar menggerakan mulut. Ketika mereka di kamp, ketika kedunya berbicara, ketika apa yang dilakukan Sulli berlainan dengan apa yang diingat Sehun, ketika—ketika—

“A…apa… ini?” suara Tao.

Sehun menelan ludah. Matanya berputar, kepalanya penat serasa akan pecah. Apa yang dilihatnya ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semuanya berhungan dengan Sulli? Kenapa selalu ada dua memoar yang terjadi pada saat bersamaan ketika Sehun bersama dengan gadis itu?

“Se…Sehun? Kau nggak apa?” diliriknya Tao di samping, memperhatikannya bingung. “Ya…yang tadi bersamamu itu Choi Jinri atau Sulli? Terus ingatan apa ini di kepalaku?”

Oksigen, Sehun butuh oksigen. Dadanya sesak, ia sulit bernapas. Ia butuh bernapas. Matanya perih dengan tangan bergelayut. Kakinya meleas. Digapainya Tao untuk mempertahannya tidak jatuh dari kuda.

“Siapa…? Siapa itu Sulli?”

“Pa.. pacarmu? Yang selama ini bersamamu itu Sulli yang master ilusi itu atau istri Jenderal Lee? Tunggu, kenapa mereka mirip?”

Dibukanya mulut untuk menjawab tapi tidak ada suara yang keluar, karena benar, bahkan Sehun pun tidak mengerti. Sehun tidak tahu… tidak tahu… apa-apaan semua ini?

Suara terompet dan gendang seketika menggelora besar-besaran. Jenderal Lee di tengah-tengah deret barisan mereka berteriak lantang, menunjuk sepasukan kuda dan orang-orang yang menghadang di depan, berlari ke arah mereka. Kemudian,

“SERAAANGG!”

Dari Jenderal Lee dan mereka maju berombongan. Tao meninggalkannya dikarenakan kuda yang berpacu berambisi, siap mati demi negara. Tapi kepala Sehun pening. Pandangannya kabur sampai kudanya sendiri menjatuhkan Sehun.

Ia ingat sekarang mengenai rumor itu. Tentang Sulli. Gadis muda nan menawan yang piawai berakting, seolah-olah dunia ini panggung teaternya saja. Membohongi manusia-manusia, bekerja untuk pihak mana pun yang menguntungkannya. Yang kabar mengenani permainannya terdengar ke negri-negri. Yang kerjanya mengilusi saja. Sulli sang master ilusi.

Kenapa Sehun bisa lupa, ya Tuhan. Jadi selama ini? Selama tiga bulan terakhir Sehun menikmati hidup dengan Sulli itu apaan? Selama ini Sehun menyanjungnya—mengkhawatirkannya—

Menyayanginya?

Sehun ingin muntah.

Kakinya berjalan linglung menuju daerah penuh asap, kobaran dan lagi-lagi merah darah. Orang-orang bertebaran di sekitar kakinya, melayang-layangkan pedang meneriakan nama negri sambil menebas pedang, yang satu-persatu datang ke arahnya niat membunuh.

Sehun menarik napas. Dadanya bergerak naik turun. Ia tidak terima. Sehun tidak terima diperlakukan seperti ini. Dibohongi, ditelanjangi, dipermainkan dalam ilusi. Wanita jalang. Matanya menajam menatap lurus ke depan. Pedangnya terhunus, dagunya terangkat dan dengan dipenuhi amarah, ia menerjang ke depan, ke medan perang.

Sebab lagi-lagi Sehun tidak punya tujuan selain maju, dan bertarung.

but with an absence of eternity

“STOP!”

Desing bunyi pedang menderu, saling beradu menyipratkan semakin banyak darah. Sehun menaikkan pedang abu-abunya, berputar, menebas, lalu merah-merah bermuncratan. Menendang, memukulnya, menjungkir balikkan hidup manusia-manusia. Matanya patuh mengikuti gerak tubuhnya di sepanjang deretan pohon, di bawah langit putih bersalju. Dengan sorotan serius, lurus dan tak gentar.

Ke kanan. Slash!

Ke kiri. Slash!

Tumbang. Tumbang. Tumbang.

Manusia tumbang. Manusia-manusia.

“Stop! Sehun, kau membunuh aliansimu sendiri!” dari balik punggungnya. Suara Jenderal Lee, dari atas kuda kemudian meloncat turun dan berdiri dekat dengannya. Sehun tahu itu bukan perintah, dan kalau pun memang perintah, ia tak peduli. Tak ada gunanya lagi semua ini.

Sehun terus menerjang, memainkan pedang semudah membalik telapak tangan, menebas nyawa-nyawa lain, mewarnai merah di atas putih.

Mulutnya meneteskan darah, orang di depan Sehun ini. Sekali lagi tak ia pedulikan musuh atau bukan musuh. Mati sajalah. Berhenti saja kalian hidup. Semua tak berguna.

“Ap… apa yang kau laku… kan, se… sehun?” getir orang itu. Padahal pedang legendaris Sehun sudah mematahkan baju perangnya. Sudah menembus organ dalamnya. Tapi orang ini masih berdiri, memegang perut sekaligus berusaha bertahan.

Sehun menebas pedangnya lagi pada orang ini. Lalu berjalan maju pada target lainnya.

“Sehun!” panggil Jenderal Lee lagi, kali ini suaranya syok tertahan. “I..itu Tao… Tao bertahanlah!”

Giginya bergemetar, ia tahu. Sehun pandai sekali membunuh orang, sekarang sudah jadi malaikat pencabut nyawa, yang itu juga ia tahu. Juga betapa ini semua sia-sia serta tak kan ada akhirnya. Ia paham betul.

“PRAJURIT OH SEHUN!” deru teriakan Jenderal Lee di baliknya menggelegar. “Kuperintahkan kau untuk berhenti sekarang juga!”

Sehun berbalik untuk menoleh sesaat, lalu lanjut menerjang tak menghiraukan.

Jenderal Lee menggeram dan menyusul, menebas yang menghalangi jalan. “Ingat Sulli, Sehun! Ingat alasanmu!”

Sukses membeku, Sehun. Dieratkannya genggaman atas pedang untuk meredam emosinya, menahan dadanya yang menjolak-jolak siap meledak. Jangan sebut namanya. Jangan sebut-sebut nama gadis itu.

“Sulli tidak akan suka melihatmu begini! Bertarunglah untuknya, berjuanglah untuk kehidupan damaimu!”

Tidak, jangan sebut namanya.

Sehun mendengus lucu sebelum berbalik, mata pedangnya terarah pada Jenderal Lee. “Dan kau masih berani bicara soal alasan-alasan brengsek apalah itu.”

Ia bertatapan dengan Jenderal Lee dan meledaklah kembang apinya. Bermuncratan seluruh frustasinya, kesalnya, marahnya, sedihnya, kekecewannya, emosi dalam dirinya. Hingga Sehun kehilangan kosakata untuk mendeskripsi sampai ia berdesis, “Akhhh, mati kau!” dan meloncat maju.

Tentunya Jenderal Lee pasti ingat soal kecepatan pemuda yang satu ini, soal teknik dan kemampuannya bermain pedang sampai-sampai seolah sedang menari bukannya membunuh. Ia tahu betul. Jenderal Lee lah yang mestinya paling tahu kekuatan serangan Sehun, juga presentase luka-luka yang menyambut jika korban yang dituju diam, bahkan melawan sekalipun. Endingnya jelas; kematian.

Ia akan mati kecuali ada yang meloncat di depan sang pimpinan, menerima tusukan Sehun alih-alih Jenderal Lee.

Yang terbuka pelindung wajahnya serta baju besinya, terkapar setelah meneriakan sakit dan memunculkan rambut hitam panjang, muka secerah salju dan bibir merona jambu.

Lagi-lagi Sehun ingin tertawa. Klise sekali ilusi yang satu ini.

Tapi tak juga mencegahnya bergumam, “Su… Sulli.” Dan dari Jenderal Lee, “…Jinri ah.”

Sehun melangkah dekat, dan kali ini giginya bergemetar. Tangannya bergoyang takut, pedangnya terasa kebas. Ini pasti ilusi yang lain.

“Ilusi, eh, Sulli?” keluar dari mulutnya.

Gadis itu ingin tertawa, tapi yang keluar malah aduhan dan darah yang muncrat dari mulutnya. Jenderal Lee yang tak bergeming membuat Sehun semakin kalut. Langkahnya mendekat. Mendorong yang tiba-tiba menghalangi jalannya. Membuang yang menganggu. Sampai ia berlutut dengan gadis itu dan, “kau ini bermain ilusi denganku lagi, ya?” dari Sehun.

Sulli memejamkan matanya—meskipun ketika berkedip tapi Sehun sangat takut sampai rasanya ingin mati juga. Gadis itu menoleh pada Jenderal Lee yang terpaku.

“Sudah lunas berarti.. uhuk, hutangku untuk melindungimu, Jenderal…”

Jenderal Lee menggeleng. “Tidak… bukan begini perjanjiannya, Jinri ah. Katamu—katamu—”

Tapi tak ada kata lanjutan yang keluar dari sang pimpinan.

Sehun menarik napas. Dilihatnya Sulli sekarang mengulurkan tangannya, mengalihkan perhatian Sehun berusaha menggapai pipinya. Dan Sehun menunduk untuk memudahkan gadis itu. Tahu betul soal serangan yang barusan dilancarkannya. Soal kekuatan serangan dari pedangnya. Soal efeknya.

Semua amarahnya menguap entah kemana.

Namun Sehun juga tahu betul soal kehilangan. Soal nyawa-nyawa yang barusan ditebasnya, dilepasnya semudah begitu saja. Soal kematian.

“Aku ingin jadi ratu,” gumam Sulli.

Sehun mengangguk. “Ratu hatiku.”

Jadi meskipun perempuan yang dicintainya berbaring di atas tanah bersalju, dengan backsound pedang-pedang berdering yang saling adu, asap-asap peperangan dan derap kuda, dan kematian yang menjelang, Sehun tidak menangis. Ia tahu alasannya bertarung. Sekarang. Tahu sedari awal. Makanya ia terkekeh kecil.

“Kau ini, nyata atau ilusi sebenarnya?”

Sulli tertawa sebelum menghembuskan napas terakhir dalam pelukan Sehun.

but with an absence of eternity

“AKU akan hentikan perangnya,” terengah-engah berlari menemui Jenderal Lee setelah kepergian Sehun, Sulli itu, tepat setelah terompet perang dikumandangkan dan manusia-manusia kalang kabut siap berjuang.

“Memang itu tugasmu, sayangku,” sahut pria itu, membalik menyambut kedatangan Sulli. “Atau harus kupanggil, Yang Mulia Ratu.”

Mata Sulli menajam, alis matanya kian bertaut dan mukanya mengeras. Mempertebal ilusi di sekeliling mereka untuk memperkecil kecurigaan, tidak mau berisiko ada makhluk hidup mana pun yang menguping.

“Jaga bicaramu,” lanjutnya. “Akan aku ilusikan semuanya dan memberimu kemenangan, menjadikanmu pahlawan perang tipuan ini. Karenanya berikan yang aku mau.”

Jenderal Lee terkekeh, sungguh-sungguh melangkah memperhatikan Sulli dan matanya merayu manja. “Akan kukembalikan semuanya, Yang Mulia Ratu. Tahta itu, rakyat-rakyat yang katamu tak berdosa, lahan kerajaan negrimu. Oh, dan nisan keluargamu itu. Ambil saja.”

Sulli menggeleng tegas. “Tidak. Aku mau prajurit Oh Sehun, dan pastikan padanya kalau aku bukan istrimu.”

end


7 thoughts on “but with an absence of eternity

  1. Satu paragraf aku baca 2 sampai 3 kali saking susah aku ngertinya. Tp aku suka banget sama gaya bahasa author. Dan suka nih cerita cerita yg gini:) 2 thumbs up deh buat author

    Like

  2. Belum baca, komen dulu. Lama ga mampir pas buka rasa pangling ternyata tampilan baru lbh fresh. Karna aq wires, jd kangen nih ama ff seokyu disini, klu blh request ya ff seokyu genre apa aja klu seokyu aq.pasti suka, hehe mian byk maunya. Fighting ditunggu karya lainnya.

    Like

  3. hmmm jadi bingung apa yang jendral Lee dan Sulli rencanakan -sebelum bertemu Sehun tentunya.

    But, it’s good with the smells of blood LOL. apa mungkin Sulli punya dendam terhadap Jendral Lee dan sebaliknya? Karena di tengah Sulli mau berkorban, memperdebatkan “Ratu” atau Sulli memang sebenarnya Ratu? ‘-‘

    Awalnya ikut sebel sama Sulli yang penuh ilusi. sampai Sehun kalut begitu. Tapi ternyata…. tetap saja aku masih bingunh dengan alasan Sulli ._.

    as i said before, it’s good~ terlebih menggambarkan peperangan itu susah :”3

    Like

  4. Dasar laki2!!
    Kasian sehun yang ngira semuanya cuman tipuan ckckck~
    Tapi apa boleh dikata, cintanya perempuan itu rumit😛
    Btw ninis, rasanya onnie udah lama banget hiatusnya yah? Pas liat ff terakhir ternyata itu dua tahun yang lalu. Sempet shock juga.
    Setahun kemaren onnie sibuk banget, jadi gak pernah bisa mampir ngeblog. Sekarang liat blog ini sepi mirisnya minta ampun. Lebih miris dari sehun yang merasa cintanya cuman ilusi😀 untung masih ada giri oppa yang ngerawat tampilan blog.
    Jadi, untuk itu, onnie mau minta tolong. Ninis lebih rajin posting ff disini yah ^^
    Ayo bikin smff ini rame seperti sebelumnya, hwaiting!!
    Dan seperti biasa, ffnya selalu enak untuk dibaca. Tapi onnie sempet ngerasa kehilangan taemin juga sih sebenernya. Entah kenapa taeli udah lekat di hati aja gitu:mrgreen:

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s