Whisper [ Part 3 ]


whisper

Sam il Hospital
8.15 PM

Hati namja itu terasa tercabik. Detak jantungnya tak beraturan. Nafasnya mulai tersengal. Perasaan bahagia yang semula menyelimutinya kini telah pergi berganti dengan kekecewaan dari semua penjelasan dari yeoja yang sangat ia cintai. Changmin merapat ke tembok. Ia berusaha berdiri dengan tegap dengan pandangan lurus kedepan. Matanya memandang Eunhyuk dari ujung rambut hingga kaki. Yang benar saja, tak mungkin ia kalah dengan namja yang ada didepan matanya ini.

“Jinjja?” Tiffany tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia menatap Jessica meminta penjelasan lebih lanjut, karena ia tau bahwa sahabatnya itu masih menyimpan rasa pada Changmin.

“Ya! dia calon istri mu?” Bisik Donghae pada Eunhyuk.

Kyuhyun dan Sungmin menatap Changmin yang tak bisa berkata sepatah kata pun. Ternyata kebahgiaan yang Changmin rasakan hari ini hanyalah kebahagiaan sementara yang mempunyai kadarluarsa. Tiffany menatap Jessica, ia sadar raut wajah sahabatnya yang satu ini sudah berubah. Ia pun mengajak Jessica keluar dari ruangan itu menuju café yang berada di lobby rumah sakit.

“Sepertinya acara menengok ku berubah menjadi adegan drama drama tv yang menyayat hati.” ucap Kyuhyun.

Tangan Sungmin spontan memukul paha Kyuhyun. Ucapannya sangat tidak cocok dalam keadaan seperti ini. Apa lagi, Changmin masih disana. Masih merapat di tembok sambil mengasihani hidupnya. Dan didepan mereka masih ada Eunhyuk dan Donghae yang menjadi tamu.

“Kyuhyun –ssi sepertinya kehadiran ku mengganggu.” Ucap Donghae.

“Ani, kau tidak mengganggu. Besok akan ku kirimkan berkas berkas Nona Jung pada mu. Saat designnya sudah siap hubungi aku.” balas Kyuhyun.

“Baik kalau begitu. Sebelum memperburuk suasana sepertinya aku dan teman ku pamit dahulu.”

Donghae langsung menarik Eunhyuk yang terpaku terdiam disana. Sedang Sungmin langsung memberikan tempat untuk Changmin duduk. Setidaknya Changmin ada di posisi yang nyaman untuk berpikir dengan jernih. Donghae dan Eunhyuk segera turun ke bawah menggunakan lift. Sesekali Donghae memandang Eunhyuk yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara.

“Raut wajah yeoja, calon istrimu persis seperti raut wajah Yuri saat tau ia dijodohkan dengan ku.” Jelas Donghae.

“Dia sepertinya terpaksa menikah dengan ku.” balas Eunhyuk.

“Dengar baik baik, wajar saja kalau dia menolak. Haknya seperti dirampas oleh kedua orangtuanya hanya untuk kepentingan mereka sendiri dengan alibi untuk kebahagiaan calon istri mu. Tapi kalau kau suka padanya, tunjukan bahwa kau bukan calon yang berkualitas rendah.” Jelas Donghae. Kalau urusan cinta cintaan Donghae lebih berpengalaman dari pada Eunhyuk.

Mereka berdua keluar dari lift, mendapati Jessica yang sedang duduk sendirian di café. Dengan niat baik Eunhyuk menghampiri Jessica yang sedang duduk sendiri sedang Tiffany sedang memesan minuman. Donghae pun mengikuti Eunhyuk dari belakang.

“Mainhae” ucap Eunhyuk. “Kalau kau tidak mau pertunangan ini dilanjutkan, aku terima.” Jelas Eunhyuk sedetik berikutnya. Kemudian ia duduk dihadapan Jessica.

“Mi-cho-so? Ya! Kau pikir segampang itu kita membatalkan pernikahan ini?” balas Jessica dengan nada tinggi.

Datanglah Tiffany dengan membawa minuman, dia tidak duduk tapi berdiri disamping Donghae. Berdiri sebagai penonton. Sedang yang menjadi tontonan adalah Eunhyuk dan Jessica yang duduk berhadapan.

“Jadi sekarang bagaimana?” tanya Eunhyuk.

“Begini, aku sudah memikirkan hal ini semalaman. Kita tetap menikah. Tapi hanya 6 bulan. Tidak ada skinship atau apa pun itu. Setelah 6 bulan kita bercerai” ucap Jessica.

“Mwo?” teriak Eunhyuk yang masih sedikit tak percaya dengan apa yang Jessica ucapkan saat ini.

Mendengar ucapan Jessica, Donghae dan Tiffany segera duduk di bangku yang semeja dengan Eunhyuk dan Jessica. Mereka berdua saling duduk berhadapan. Terlihat wajah bingung dari Eunhyuk, Donghae dan Tiffany. Ketiganya masih sedikit abu abu dengan apa yang Jessica ucapkan. Ke abu – abuan itu adalah keraguan mereka, apakah iya Jessica mau melakukan hal tersebut atau hanya bercanda.

“Kita menikah diatas kontrak.” Lanjut Jessica. Dan semuanya jelas. Yeoja ini sungguh sungguh mau melakukan apa yang ia ucapkan.

“Nona Jung, maaf memotong perundingan kalian. Bukan maksudku menggurui kalian beruda, tapi pernikahan itu bukan permainan. Jika kalian sudah terikat satu sama lain, maka selamanya terikat. Semua harus didasarkan dengan cinta. Kalau kau melakukan itu, sama saja kau hanya mempermainkan perasaan orang lain.” Kata Donghae.

“Right. You can’t play with someone else feeling Jess. Mian kalau aku lebih membela mereka, tapi ini semua terlalu berlebihan. Kau seperti anak kecil” Tiffany pun akhirnya turun tangan.

Eunhyuk tak berkata satu katapun. Ia memikirkan perkataan Jessica. Jelas sekali yeoja yang dijodohkan dengannya tidak mau melakukan pernikahan ini. Dan satu satunya cara untuk menjadikan dia sebagai istrinya adalah dengan cara menyetujui apa yang ditawarkan oleh Jessica. Ditambah lagi, eommanya sangat ingin dirinya menikah dengan Jessica, begitu pula eomma Jessica menginginkan Jessica menikah dengannya. Setidaknya dengan menyetujui pernikahan kontrak itu ada pihak yang mereka bahagiakan. 6 bulan dirasa sudah cukup untuknya membuat Jessica jatuh hati padanya. Jika gagal, berarti ia bukan lah yeoja yang tepat untuk nya.

“Aku pasti sudah gila.” Desis Eunhyuk. Ia mengacak acak rambutnya. Dirinya tak menyangka ia dapat berpikir seperti itu.

Donghae dan Tiffany langsung menatap Eunhyuk dengan wajah yang sangat datar.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita hadapi kedua orang tua kita untuk membatalkan pernikahan kita.” Ucap Jessica.

Kedua orang itu mengalihkan pandangannya ke arah Jessica secara bersamaan dengan wajah datar sama seperti yang mereka lakukan sebelumnya.

“Wait. Aku ikuti mau mu. Kita menikah diatas kontrak 6 bulan.” Balas Eunhyuk. Kali ini dengan wajah serius.

Wajah Tiffany dan Donghae berhenti memandang satu sama lain wajah mereka sama kagetnya.

“YAKKK” Teriak Donghae dan Tiffany secara bersamaan.

“Lee Hyukjae, kau serius?” Tanya Donghae.

“Aku ikuti semua permainan mu Jung Jessica. Semua yang kau mau akan ku turuti. Semua ini karena aku hanya ingin membahagiaakan kedua orang tua ku.” Jelas Eunhyuk.

“Baiklah. Deal?” Jessica menyodorkan tangan kanannya.

“Deal” Eunhyuk menjabat tangan Jessica.

Tak ada pembicaraan lebih lanjut. Tiffany naik kembali ke kamar Kyuhyun dengan perjanjian ia tak boleh mengatakan apapun pada orang lain. Jessica langsung pamit pulang, meninggalakan kedua namja itu di café. Eunhyuk memangku wajahnya dengan tangan kirinya di meja. Ia sangga dagunya dengan telapak tangannya dan jari jarinya menutupi bibirnya. Sebenarnya ia masih sedikit ragu dengan apa yang ia pilih. Donghae sibuk memandang sahabatnya yang sedang berpikir keras.

“Aku tak mengerti dengan jalan pikir mu.” Donghae pun lelah memandang Eunhyuk lalu meninggalkannya sendiri di café sendirian.

“Aish kenapa semua jadi seperti ini”

****

Boarding House
06.30 AM

Masih belum ada tanda tanda kehidupan dari penghuni rumah itu. Ke-empat penghuni masih asik melakukan petualangan di alam mimpi. Hening tak ada suara sama sekali. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit. Lima menit. Masuk menit ke lima mulai terjadi pergerakan didalam. Taeyeon penghuni terbaru mulai menggerakan tubuhnya kekanan dan kekiri tanpa sadar. Kemudian tak ada lagi pergerakan.

Sepuluh menit berlalu, masih tak ada pergerakan. Namun terdengar dari salah satu kamar suara alaram. Sebuah tangan segera mengambil handphonenya untuk mematikan alaramnya. Sambil menahan kantuk, ia membuka matanya melihat jam yang ada di handphonenya.

“Ah,kerja kerja Minho semangat. Hari ini hari jumat besok libur” ucap Minho sambil bangkit dari kasurnya.

Ia masuk ke kamar Kai, membangunkan temannya. Gaya tidur Kai sangat tidak terkendali. Ia dapat memutar tubuhnya layaknya jarum jam. Tangan Minho langsung menghoyang goyangkan tubuh Kai.

“Ireona” ucap Minho.

Tak ada jawaban dari Kai. Ia hanya menggaruk garuk lehernya.

“Ireona palli” Minho sekali lagi membangunkan Kai.

Sekali lagi juga, tak ada jawaban dari Kai. Ia masih terlelap dalam tidurnya. Minho segera masuk kekamar mandi mengambil air yang ia masukan kedalam gelas plastic. Sampai di kamar Kai ia meminum air itu tidak sampai ia telan tapi hanya ia simpan didalam mulutnya. Setelah itu segera ia menempatkan wajahnya di depan wajah Kai. Sedetik berikutnya ia menyemburkan air di mulutnya.

DUK

Kepala Minho beradu dengan kepala Kai. Kai sangat kaget dengan semburan air maut dari Minho. Ia meloncat kaget membuat kepalanya beradu dengan kepala Minho dengan keras. Keduanya menahan sakit di kepala mereka. Minho pun keluar dari kamar Kai.

“Hyung!! Aish menjijikan.” Teriak Kai dengan suara keras.

Yoona dari kamar yang berdekatan, begitu saja terbangun mendengar teriakan Kai. Matanya langsung melihat jam dinding yang menempel di dinding kamarnya. Matanya langsung terbuka lebar. Jam 7. Ia harus sampai di Lumiere jam setengah 8. Segera ia bangun dari kasurnya berlari menuju kamar mandi. Ia segera membersihkan dirinya secara kilat. Tak ada 5 menit ia telah selesai membersihkan tubuhnya. Dengan baju seadanya ia segera pergi ke tempat kerjanya yang baru, Lumiere Hotel. Langkah Yoona yang berisik, berhasil menarik perhatian seluruh isi rumah. Minho dan Kai yang sedang mengundi siapa yang akan mandi terlebih dahulu, langsung menatap Yoona yang berlarian keluar rumah.

“Argghhh berisik sekali” Taeyeon yang masih tidur mengacak acak rambutnya.

Yeoja itu keluar kamar. Menatap Minho dan Kai yang membuka baju mereka. Ia kedipkan kedipkan matanya. Kai dan Minho masih diam sambil menatap Taeyeon yang keluar dari kamarnya. Saat Taeyeon mulai sadar ia langsung membuka matanya lebar – lebar. Dan Kai langsung sebisa mungkin menutupi tubuhnya dengan tangannya.

“AAAAAA!!!!!” teriak Taeyeon yang kemudian masuk kembali ke dalam kamar.

“Hyung.. aku lupa ada Taeyeon.” Ucap Kai.

“Sama. Matilah harga diri ku.” Balas Minho.

“Waeyo hyung?” Tanya Kai dengan wajah bodoh.

“Aish.. pikir saja sendiri.” Minho segera mengambil alat mandi dan langsung menuju kamar mandi.

“Hyung! Biarkan aku menggunakan kamar mandi dulu Hyung! Aku SOS hyung!” Kai mengejar Minho kekamar mandi.

Didalam kamar Taeyeon masih terdiam. Ia antara percaya dengan tidak dengan apa yang ia lihat ditambah dengan peristiwa saat mereka pulang dari club. Ia menggelengkan kepalanya. Menghapuskan pikiran pikiran aneh didalam otaknya dan segera bergerak menuju handphonenya. Ia menatap handphonenya, 8.15 ia masih punya 45 menit untuk pergi ke tempat kerjanya yang baru.

Ia membuka lemari pakaiannya. Tangannya berusaha mencari pakaian yang sopan untuk masuk kedalam kantor untuk pertama kali. Ia ambil sebuah rok tule yang mekar bewarna hitam dan untuk atasannya ia pakai sebuah kemeja bewarna nude lengan panjang. Setelah mengambil pakaian ia masuk kedalam kamar mandi khusus yeoja dan menikmati 20 menit didalam untuk membersihkan diri. Selesai mandi dengan handuk ia keringkan rambutnya sembari masuk kedalam kamarnya.

Didalam kamar ia nyalakan hairdryer untuk mempercepat mengeringkan rambutnya dan tak lupa ia membuat curly di ujung ujung rambutnya. Ia pakai lipstick bewarna merah muda. Tak lupa eyeliner untuk mempercantik wajahnya. Tetapi Taeyeon sangat tidak suka menggunakan bedak atau powder di wajahnya. Setelah semua dikira siap, rambut, make up dan pakaian, ia langsung membereskan peralatan fotonya. Dan ia siap untuk pergi ke kantor barunya.

“Taeyeon –ssi apa kau punya…” Pintu kamar Taeyeon tiba tiba terbuka. Kai yang muncul dari balik pintu tiba tiba saja terdiam melihat Taeyeon. Matanya tak berkedip dan mulutnya terbuka lebar.

“Punya apa?” tanya Taeyeon.

Kai langsung menampar wajahnya. Ia kembalikan focusnya. “USB kosong” jawab Kai.

“Ani aku tidak punya. Semuanya sudah terisi.” Balas Taeyeon sambil memkai parfume berwangi vanilla.

Wangi manis bercampur hangat membuat Kai kembail kehilangan focus. Ia benar benar terkesima melihat Taeyeon. Sekali lagi ia tampar wajahnya untuk kembali menjadi normal. Segera ia tutup pintu kamar Taeyeon. Dibalik pintu yang tertutup, ia memegang dadanya dirasa ada degup kencang jantungnya.

“Wae?” tanya Minho yang keluar dari kamarnya.

“Hyung! Coba kau rasakan detak jantungku. Ini pertama kalinya dalam hidupku jantungku berdegup sekencang ini.” Balas Kai sambil menarik tangan Minho dan meletakannya di dada nya.

Pintu kamar Taeyeon terbuka. Keluarlah Taeyeon dengan penampilan yang berbeda. Detak jantung Kai makin kencang membuat Minho memandang wajah Kai yang terbengong – bengong menatap Taeyeon. Sedang Taeyeon langsung menutup wajahnya. Sepertinya ia mengganggu Kai dan Minho yang menurutnya sedang asik bemesraan dan sekarang ia memutuskan untuk pergi turun kebawah.

“Ya! Kau suka dengan Taeyeon?” tanya Minho.

“Molla hyung, tapi hanya dia yang bisa membuat jantungku berdegup sekencang ini.” Jelas Kai.

Minho langsung melepaskan tangannya dari dada Kai dan langsung mengikuti Taeyeon turun kebawa. Saat ia dibawah, sudah tak ia dapati sosok Taeyeon. Taeyeon sudah pergi dari boarding house menuju tempat kerja barunya. Kakinya di alasi sebuah flat shoes bewarna gold dengan hiasan pita dibagian depannya. Sesampainya di Silver Sea dengan berjalan kaki, ia berpapasan dengan Eunhyuk yang baru saja memarkirkan mobil kuningnya. Taeyeon langsung membungkukan tubuhnya 90 derajat. Dan dibalas dengan bungkukan juga oleh Eunhyuk.

Mereka berdua masuk kedalam bersamaan. Disana sudah datang berbagai macam produk pembersih badan. Sebut saja itu sabun mandi dengan berbagai jenis dan wangi. Eunhyuk langsung menyuruh anak buahnya membersiapkan tempat untuk mengambil gambar dan menjelaskan Taeyeon apa saja yang harus ia foto.

“Taeyeon, kau saja yang foto. Aku lelah.” Ucap Eunhyuk.

“Hyukjae –ssi, ini banyak sekali.” Keluh Taeyeon.

“Ya, kau mau gaji tidak? Istirahat jam 12 dan jam pulang jam 5. Bagaimana caranya semua produk itu harus selesai difoto 30 menit sebelum pulang. Dan ah panggil aku Eunhyuk saja.” Balas Eunhyuk.

“Ne…”

Dengan berat hati dan demi gaji ia lakukan apa yang Eunhyuk suruh. Seharusnya ia harus lakukan semua ini bersama dengan Eunhyuk. Sebelum masuk keruangannya Eunhyuk menatap Taeyeon sekali lagi. Ia lihat yeoja itu masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Eunhyuk pun turun tangan kembali kelapangan.

“Kau berdiri disini, tugas mu hanya memfoto. Lightning dan jarak sudah ku atur. Dan sebaiknya kau pakai camera milik ku semua sudah ku setting. Kalau kau sudah selesai memfoto bilang saja ‘Next’ maka crew lain akan mengganti. Mengerti?” tanya Eunhyuk setelah menjelaskan dan memberikan camera miliknya.

“Hmm mengerti.”

Eunhyuk langsung masuk ke ruangannya. Duduk di sofa memandang langit langit ruangannya. Eunhyuk menutup kedua matanya. Memikirkan apa yang semalam ia lakukan. Ia lelah semalaman ia tak bisa tidur kepalanya penuh dengan bayang bayang hal hal aneh yang seharusnya ia tak pikirkan. Tak sadar ia terlelap dalam tidurnya.

***

Lumiere Hotel
8.45 AM

Hari ini, hari pertama Yoona bekerja. Ia sudah berganti pakaian dengan seragam hotel Lumiere. Dengan penuh semangat Yoona mengerjakan pekerjaannya. Ia ditugaskan untuk mengecheck kebersihan dan kelengkapan kamar VIP yang akan ditempati oleh tamu hari ini jam 12 siang nanti.

“Aigo kapan aku bisa menginap di hotel sebagus ini.” Ucap Yoona saat membuka pintu kamar VIP atau sebut saja Suite Room.

Ia membersihkan semua isi ruangan itu. Setelah selesai ia tak tau harus berbuat apa. Ia belum mendapatkan kepercayaan penuh untuk membereskan kamar karena ia tak punya keahlian dalam membersihkan kamar dengan waktu kilat. Ia harus berlatih terus menerus. Kakinya berjalan menuju ke gedung yang berdiri dibelakang gedung utama Lumiere dan keadaannya tertutup dengan taman. Lebih kecil dan lebih sederhana. Gedung itu diperuntukan untuk para pegawai hotel. Disana adalah tempat mereka mencuci, stock barang dan pembuangan, loker, kantin pegawai, sedangkan dapur berada di restaurant.

“Yoona –ssi kau tolong cuci sprei ini” suruh seorang pegawai lain sambil memberikan sebuah troli dengan penuh setumpuk sprei kasur yang kotor saat ia dalam perjalanan ke gedung staff.

“Ne…” balas Yoona.

Ia pun masuk kedalam gedung itu. Menuju tempat pencucian. Ia masukan semua sprei ke dalam mensin cuci. Sebelum memulai menyalakan mesin cuci itu ia harus mencari cari dimana para staff lain menyimpan ditergent. Ia buka semua laci yang ada didalam ruangan itu. Dan akhirnya ia menemukannya di salah satu laci. Saat ia memasukan ditergent dan langsung menyalakan mesin cuci tersebut, tiba – tiba dari luar ruangan terdengar para pegawai mengatakan sesuatu tapi tak begitu jelas ia dengar.

“Kyu, kita harus mengganti ditergent. Sudah ada 8 tamu yang mengeluh dengan wangi sprei dan selimut ataupun handuk” ucap seorang yeoja yang menjabat sebagai Room Division Manager, Tiffany.

“Mwo Ditergert? Bukannya kita mencuci hanya dengan air?” tanya pria bernama Kyuhyun.

“Ya. Kau ini CEO tapi otak mu bodoh sekali.” Omel Tiffany. “Tentu saja kalau tidak ada ditergent, sprei dan segala macamnya itu tidak akan bersih dan wangi.”

“Jadi, kau mengajak diriku yang baru saja keluar dari rumah sakit hanya untuk mengecheck ditergent?” tanya Kyuhyun dengan wajah datar.

“Tepat sekali. Sudah ayo kita ke Staff building.” Tiffany langsung menarik kemeja yang Kyuhyun kenakan.

Memasuki Staff Room membuat Kyuhyun merasa seperti raja. Semua orang tunduk padanya. Terlihat senyum sombong dibibirnya. Tiffany yang baru mulai bekerja hari ini pun juga langsung mendapat sambutan berupa bungkukan pegawai yang berada di bawah mereka. Mereka segera menuju ruang tempat mencuci.

“Oo, Im Yoona –ssi!” ucap Kyuhyun.

Mata Kyuhyun terbuka lebar melihat sesosok yeoja yang ia kenali berada dihadapannya dengan mengenakan seragam Lumiere. Yeoja bernama Yoona itu langsung memandang Kyuhyun dengan wajah yang sama kaget dengan Kyuhyun. Tangannya menunjuk nunjuk Kyuhyun. Tiffany langsung memandang Kyuhyun dangan Yoona.

“Kau sedang apa disini Kyuhyun –ssi? Tamu hotel tidak boleh berada disini.” tanya Yoona bingung.

“Im Yoona –ssi, dia General Manager Lumiere Hotel.” Jelas Tiffany.

“MWO??” teriak Yoona. Dengan segera ia membungkuk kan tubuhnya berkali kali.

“Berhentilah membungkuk.” Ucap Kyuhyun.

“Kyu, kau mengenalnya?” tanya Tiffany bingung.

“Yes baru kemarin kenal. Fany, mana ditergentnya? Aku harus bertemu Lee Donghae dan Jessica sebentar lagi.” Balas Kyuhyun.

Tiffany langsung menyuruh Yoona mengambil ditergent yang baru saja ia gunakan. Lalu kemudian mengambil handuk yang baru saja selesai di keringkan. Ia sodorkan ke hidung Kyuhyun. Tak ada wangi harum, yang ia cium hanyalah wangi rumah sakit yang sangat tidak enak. Ia lempar handuk itu jauh jauh dari hidungnya.

“Kau mau menjamu tamu atau mau membuat orang masuk icu mendadak?” tanya Kyuhyun dengan maksud menyindir.

“See.. Kau ingin aku mencari ditergent baru? Atau kau tetap mau menggunakan yang lama?” balas Tiffany.

“Apa aku berbuat kesalahan?” Sela Yoona yang merasa tersindir dengan apa yang Kyuhyun dan Tiffany ucapkan.

“Aniyo Yoona –ssi, ini bukan salah mu. Kau kan baru pertama kali bekerja mana mungkin ini salah mu.” Ucap Kyuhyun.

Kyuhyun dengan cepat melirik Tiffany dengan tatapan garang. “Fany, kau mau gaji tidak? Kalau mau, cari ditergent lengkap dengan pewangi sekarang juga.”

Setelah itu, merasa sudah tidak punya kepentingan lagi, Kyuhyun pergi kembali ke ruangannya. Sekali lagi saat ia berjalan, semua orang menunduk padanya dan memanggil namanya. Tiffany terlihat agak kesal dengan ucapan Kyuhyun yang sedikit mengancamnya. Mengingat Kyuhyunlah yang membutuhkannya, bukan dia yang membutuhkan Kyuhyun.

“Aish bisanya hanya mengancam. Im Yoona –ssi kau tidak ada pekerjaan lain kan? Lebih baik kau ikut dengan ku.” Ucap Tiffany.

“Ne..”

“Ah! Ganti baju mu dahulu. Kau tidak mau kan keluar dengan seragam itu? Aku menunggu mu di lobby 15 menit dari sekarang. Cepat ya!” Tiffany melangkah pergi, meninggalkan Yoona.

Didalam ruangannya Kyuhyun duduk diam memandang kembali file file milik Jessica yang akan ia diskusikan dengan Donghae dan Jessica. Ia baca baik baik kata demi kata. Ia berusaha keras menatap layar computernya walau matanya menolak untuk menatapnya karena semua yang ada di dalam file itu bewarna pink. Ia juga butuh laporan dari Changmin dan Sungmin dengan supply di setiap divisi yang mereka pegang agar semua cocok dengan perkiraan dan taka da kekurangan apapun.

“Kyu, ini data yang kau minta.” Sungmin masuk dan langsung memberikan beberapa lebar kertas pada Kyuhyun.

“Thanks Hyung. Ah Changmin mana?” tanya Kyuhyun.

“Terpuruh didalam ruangannya. Kau tau, saat aku melewati ruangannya awan hitam kelam menyelimuti ruangan itu. Dari luar kau bisa mendengar lagu patah hati.” Balas Sungmin.

“Seperah itu kah?”

Sungmin hanya mengangguk untuk membalas pertanyaan Kyuhyun. Langsung saja Kyuhyun dan Sungmin berjalan menuju ruangan Changmin. Sebenarnya tak ada awan hitam kelam di ruangan itu, hanya ada hawa hawa kesedihan didalamnya. Dan didalam Changmin sibuk memandang computer dengan tatapan kosong. Lagu lagu patah hati pun sesekali ia nyanyikan dengan suara keras. Kyuhyun dan Sungmin langsung merasa iba pada sahabatnya yang satu ini.

“When will I see you again~ you left with no good bye~” nyanyi Changmin dengan suara kecil. Beberapa saat kemudian, ia lanjutkan lagu tersebut dengan suara keras. “But Don’t You Remember.. Don’t you remember the reason you loved me before…”

“Changmin, apa kau butuh libur?” Tanya Kyuhyun yang semakin kawatir dengan keadaan Changmin. Ia takut temannya putus asa dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meloncat kebawah mengingat mereka ada di lantai 17.

“Kyu. Ah mian, ini makanan yang sudah dipilih Jessica.” Ucap Changmin

“Changmin, relakan Jessica. Move on.” ucap Sungmin dengan hati hati.

“Ne Hyung.. itu sudah menjadi pilihannya. Aku akan merelakannya.Dan nampaknya aku akan menerima tawaran libur mu Kyuhyun Hyung.” Balas Changmin dengn suara lesu tak bertenaga.

“Kau pulang saja sekarang, dari pada mengambil tindakan bodoh.” Kata Kyuhyun sambil melirik kaca jendela yang ada diruangan Changmin.

“Ne.. aku pulang kalau begitu.”

Changmin segera mengemasi barang barangnya. Ia nampak tidak punya tenaga lagi untuk melakukan kegiatan hari ini. Tanpa berpamitan pada Kyuhyun dan Sungmin, ia turun ke lobby menggunakan Lift bukan meloncat dari jendela seperti yang Kyuhyun pikirkan. Hari ini terasa sangat berat baginya, bukan tubuhnya tapi hati dan otaknya. Pernyataan Jessica berhasil membuatnya hilang kendali atas tubuhnya.

“Aigo.. poor Changminie” desis Sungmin.

Kyuhyun kembali kedalam ruanganya. Dari arah kantong belakang celananya ia rasakan getaran. Tangannya langsung mengambil benda yang sedari tadi menghuni kantong belakang celana yang ia kenakan. Handphonenya bergetar. Selama ini Kyuhyun tak pernah memasang sound di hanphonenya, ia hanya memasang getaran jika ada telephone ataupun notification yang masuk. Hpnya bergetar dan Kyuhyun menatap layar handphonenya. Merasa mengenali nama yang ada dilayar handphonenya. Ia langsung menjawab panggilan telephone tersebut.

“Yoboseyo” Sapa Kyuhyun.

“Kyu! Kau dimana? Aku sangat merindukan mu. Kata eomma kau dirawat dirumah sakit.. Kau tidak sekarat kan?” Itu adalah Ahra noona dari Kyuhyun yang baru saja datang dari Vienna untuk berlibur.

“Aku di Hotel. Noona ku sayang kalau aku sekarat mana mungkin aku bisa berdiri di hotel dan membalas pertanya pertanyaan mu ini?” Balas Kyuhyun.

“Baguslah kalau begitu. Nanti malam pulang lah lebih cepat ya.” ucap Ahra.

“Kau tau kan hubungan ku dengan appa sedang tidak baik. Kau masih menyuruhku pulang cepat?” Kyuhyun dan appanya sedang bertengkar mengenai kehidupan Kyuhyun. Kyuhyun sangat ingin tinggal sendiri tapi appanya belum memperbolehkannya tinggal sendiri hingga ia mempunyai istri.

“Aigo, kalian ini bertengkar terus. Kau harus pulang atau aku tak akan menganggapmu sebagai adik ku lagi.” Ucap Ahra.

“Baiklah noona ku yang cantik kalau tidak ada tugas ya.” Balas Kyuhyun dengan sangat terpaksa.

Diam beberapa detik. Lalu otak Ahra mulai memikirkan sesuatu. Ahra yang selama ini belum pernah mendengar kabar atau pun melihat dengan mata kepalanya sendiri Kyuhyun dekat dengan yeoja, mulai curiga dengan Kyuhyun. Sejak ia mendengar Kyuhyun ingin tinggal sendiri, membuatnya yakin bahwa adiknya ini sudah memiliki kekasih dan ingin memulai hidup yang baru bersama kekasihnya itu

“Bocah jelek, apa kau sudah punya pacar?” tanya Ahra

“I don’t have girlfriend” Balas Kyuhyun dengan Santai

Mendengar Kyuhyun langsung menjawab dengan nada yang santai. Ia langsung tau bahwa adiknya benar benar belum mempunyai pacar.“Eii kau itu tidak laku atau malas mencari?”

“Tidak perlu mencari, nanti juga datang sendiri.” Balas Kyuhyun dengan suara santai lagi.

“Ey kau kira kau itu magnet maka yeoja akan menempel? ” Kata Ahra.

“Sudahlah aku harus menemui client dulu. Bye” Kyuhyun langsung menutup telephone dan memasukannya kembali kedalam kantong belakang celana yang ia kenakan.

Sambil menunggu Donghae dan Jessica, ia merapikan penampilannya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tak lupa ia berkaca di kaca toilet. Setelah ia dipikir pikir, Jessica sangat stylist dan Donghae adalah tipe pria tampan yang menggunakan apa saja cocok sedangkan dia sangat plain. Taka ada yang menarik dari penampilannya kecuali ketampanan wajahnya. Selera fashionnya juga tak sebaik orang orang yang ia kenal.

“Kau sudah tampan Kyuhyun.” Ucapnya pada dirinya sendiri.

Handphonenya pun bergetar sekali lagi. Kali ini Jessica yang menelphone handphonenya.

“Hello” sapa Kyuhyun

“Dimana kau ? Aku di lobby bersama Donghae” balas Jessica.

“Kau cepat sekali. Baik lah aku turun tunggu aku saja dibawah.”

Kyuhyun menutup telephone dari Jessica. Tak lupa ia membawa laptop miliknya dan USB Jessica bersamanya. Didalam lift sekali lagi ia merapikan penampilannya. Ia akan seharian menghabiskan waktu dengan Jessica dan Donghae hari ini.

“Selamat siang Kyuhyun -ssi” sapa Donghae yang melihat Kyuhyun keluar dari lift dan sekarang sudah berada didepannya.

Kyuhyun memperhatikan pakaian Donghae. Kemeja biru uda dengan dasi kupu kupu. Sepatu biru tua dan celana hitam. Entah mengapa sangan cocok di kenakan olehnya. Sedang Jessica. Rambut digerai dan lipstic bewarna terang. Dengan kemeja putih dan celana jeans biru muda yang robek robel. Ditambah dengan gelang dan tas yang ia yakini sangat mahal harganya. Matilah ia benar benar orang yang paling plain diantara kedua orang ini.

“Selamat siang Donghae -ssi. Annyeong Sica. Ayo kita bicara di restaurant saja.”

Jessica sangat salut melihat Kyuhyun dalam berhadapan dengan rekan kerjanya. Ia berbeda dengan Kyuhyun yang ia kenal. Lebih professional, gentle, ramah dan pintar. Kyuhyun berjalan menuju ke Restaurant bersama dengan Jessica dan Donghae.

“Silahkan” Kyuhyun mempersilahkan Jessica dan Donghae duduk. “Mau pesan apa? Sudah makan siang semua?” Tanya Kyuhyun saat Donghae dan Jessica sudah duduk.

“Oppa, kau saja yang memasankan. Kau tau selera ku.” Balas Jessica.

“Aku ikut saja dengan kalian” ucap Donghae.

Tangan Kyuhyun sedikit melambai, bermaksud memanggil seorang pelayan untuk melayaninya. Seorang pegawai namja pun datang dan mencatat pesanan Kyuhyun. Sambil memunggu makanan datang. Kyuhyun menjelaskan fasilitas di hotel ini pada Jessica. Tepatnya hall / ballroom yang dapat Jessica gunakan untuk acaranya. Ada 2 pilihan. Kedua duanya memiliki kekurangan dan kelebihannya masing masing. Membuat Jessica sedikit bimbang dengan mana yang harus ia pilih.

“Menurut ku Glass Hall lebih cocok. Lebih dekat dengan pintu masuk dan ditambah lagi, tidak menggunakan carpet.” Ucap Donghae.

“Kalau begitu yang ini saja.” Lanjut Jessica.

“Oke setelah makan kita kesana untuk melihat ruangannya.”

Makanan pun datang. Kyuhyun memesan Sushi parade. Bermacam macam sushi di sajikan dihadapan mereka. Mulai dari Salmon, Unagi, Tuna, Kyuri, semua disajikan. Jessica sekali lagi hanya dapat terbengong – bengong dengan apa yang disajikan di restaurant ini. Menu yang disajikan benar benar dalam porsi besar. Tak menolak pesanan Kyuhyun, Donghae langsung menyantap sushi – sushi didepan matanya.

Seoul Super Market

Tiffany dan Yoona tiba di sebuah super market. Seharusnya Tiffany dapat langsung menyuruh bawahannya untuk mencari macam macam ditergent untuk dicoba tetapi, ingin rasanya ia berkeling – keeling kota Seoul setalah sekian lama ia tinggal di America. Mereka segera masuk kedalam super market itu.

“Ah! Im Yoona –ssi, kenalkan aku Tiffany Hwang. Kalau kita di luar kantor jangan anggap aku sebagai atasan mu!” kata Tiffany.

“Tidak apa apa?” tanya Yoona

“Ne! panggil saja aku Tiffany. Aku lebih nyaman seperti itu. Ngomong – ngomong bagaimana ceritanya kau bisa mengenal Kyuhyun?” tanya Tiffany.

“Cho Kyuhyun –nim?” tanya Yoona sedikit canggung menyebutkan nama orang yang menyelamatkan nyawanya dan ternyata ia adalah pemilih Hotel dimana ia bekerja sekarang.

“Jangan panggil dia dengan –nim. Dia tidak pantas dipanggil seperti itu.” Balas Tiffany.

“Kemarin saat aku mau melamar pekerjaan di Lumiere, hampir saja aku tertabrak mini bus dan dia lah yang menyelatkan ku. Dia menarik tubuh ku lalu terjatuh. Setelah itu dia mengantar ku ke Lumiere dan saat itu aku sama sekali tidak tau bahwa dia adalah pemilik hotel Lumiere.” Jelas Yoona

Mendengar pendengan dari Yoona, Tiffany sedikit tersenyum. Setau dan menurut pengalamannya ini pertama kali ia mendengar Kyuhyun menyelamatkan nyawa seseorang ditambah lagi yeoja. Tiffany tau Kyuhyun sangat tidak bisa bersahabat dengan yeoja sembarangan. Perlu waktu lama untuk Jessica dan Tiffany dekat dengan Kyuhyun.

“Waeyo kenapa tersenyum?” tanya Yoona bingung.

“Kyuhyun tidak pernah bisa bersosialisai dengan yeoja. Bukan tidak bisa, tapi ia selalu menganggap yeoja itu sangat menyusahkan. Perlu waktu lama aku dekat dengan Kyuhyun. Dan kau, hanya sehari dia sudah mengingat nama mu.” Jawab Tiffany.

Mereka masuk kedalam tempat orang orang menawarkan makan. Tak sedikit orang menawarkan produk mereka dalam bentuk tester. Tiffany langsung berlari mencicipi makanan satu persatu. Jika pas dilidahnya ia langsung membelinya. Ia seakan melupakan tugasnya untuk membeli ditegent baru untuk Lumiere. Yoona pun mengikuti Tiffany mencicipi satu persatu makanan disana. Mengingat ketiga sahabatnya yang tinggal di boarding house ia membei daging dengan jumlah sedikit banyak. Setidaknya ia membelikan ketiga orang sahabatnya makanan untuk merayakan hari pertama kerja.

“Banyak sekali. Untuk siapa?” tanya Tiffany.

“Ini untuk teman ku. Aku tinggal di boarding house.” Balas Yoona.

“Ey.. enak sekali menjadi teman mu.” Balas Tiffany.

Melihat seorang SPG menawarkan ditergent Tiffany dan Yoona akhirnya mengingat tujuan mereka kesini. Segera mereka berlari ke tempat ditergent. Yoona pun mengambi ditergent yang biasa ia gunakan. Dan tiffany mengambil beberapa ditergent atau sabun pencuci kain yang ditambahkan pewangi. 1 troli yang mereka bawa langusung penuh dengan berbagai macam ditergent.

“Yoona, bagaimana kalau kita makan dulu. Ada satu tempat yang ingin aku kunjungi.” Usul Tiffany.

“Lalu ini, bagaimana?” tanya Yoona sambil menunjuk katong kantong plastic berisi ditergent.

“Berikan saja ke supir hotel. Kita jalan kaki saja. Tidak jauh kok.” Ucap Tiffany.

Tiffany langsung memanggil sang supir hotel. Ia memberikan semua belanjaan pada sang supir dan menyuruhnya memasukan semua kedalam ruang cuci. Setelah itu ia menarik tangan Yoona dan membawanya kekeramaian kota Seoul yang sangat ia rindukan. Ia berlari seperti lepas dari sangkar dengan wajah gembira. Hari masih terang menjelang gelap, sekitar pukul 4 sore. Banyak anak anak sekolah yang berjalan di tempat yang mereka kunjungi. Bukan hanya anak sekolah tapi banyak orang orang yang pulang lebih cepat dari kerjanya mengingat hari ini adalah hari jumat.

“Yoona! Ayo selfie!” ucap Tiffany yang langsung merangkul Yoona untuk mengambil foto.

Mereka asik berkeliling kota Seoul kira kira sampai satu jam lamanya. Setelah lelah, Tiffany langsung mengajak Yoon amenuju restaurant yang ia ingin kunjungi. Sebuah restaurant yang tidak mewah tapi biasa saja. Mereka menyajikan berbagai macam makanan Korea, terutama beef. Tiffany langsung memesan beef dalam jumlah banyak dan juga tteokboki. Tak lupa ada satu yang tak bisa ia lewatkan Soju. Nama restaurant tersebut adalah Miso Gogi.

“Kau pesan banyak sekali.” Ucap Jessica.

“Aku mengajak kekasihku kesini dan juga Cho Kyuhyun serta sahabatku Jessica. Dan woops Jessica cant make it. Eish this girl.” Jelas Tiffany yang asik dengan handphonenya.

“Cho Kyuhyun?”

“Ne.. Kyuhyun. Santai saja dia tidak menggigit. “ jelas Tiffany yang menahan tawa melihat ekspresi Yoona.

Yoona, sejujurnya tidak enak jika Kyuhyun berada di sekitarnya. Pertama ia hampir menyelakainya. Dan kedua dia adalah atasan paling atas.

“Kyuhyun dan Sungmin masih harus menyelesaikan pekerjaan mereka. Tapi mereka akan kesini. Ya! jangan coba coba kabur.” Ancam Tiffany.

Silver Sea Studio
4.30 PM

Ini yang terakhir. Tangannya hampir mati rasa. Taeyeon akhirnya akan menyelesaikan tugas pertamanya. Sedari tadi Bosnya Eunhyuk tidak keluar ruangan sama sekali. Entah mengapa ia sedikit merasa kawatir pada bosnya itu. Ia cepat cepat menyelesaikan pekerjaannya. Satu lagi dan ia akan selesai.

Dari luar terdengar suara mobil yang parkir didepan studio foto ini. Seorang namja turun dari sana. Lalu ada mobil lain yang berenti dan memparkirkan mobilnya dan keluarlah seorang yeoja dengan penampilan menarik. Keduanya naik ke lantai dua.

“Ayo cepat” ucap namja itu.

“Ya Lee Donghae –ssi kau jalan cepat sekali.” Keluh yeoja itu.

“Baiklah aku jalan pelan pelan. Miss Jung Jessica.” Namja bernama Donghae itu langsung melambatkan jalannya.

Jessica hanya mengendus kesal mendengar Donghae menyebutkan namanya seakan tidak suka padanya. Saat naik kelantai 2, mereka bergegas memeriksa studio miliknya. Saat mencari cari keberadaan Eunhyuk, Donghae berhenti pada satu orang yang sedang asik memperhatikan laptop yang menunjukan foto –foto. Ia berjalan mendekati yeoja itu.

“Kim Taeyeon –ssi” Donghae menarik tangan yeoja itu ke arahnya dan membuat yeoja bernama Taeyeon melihatnya.

“Ne.. ah! Kau teman dari pemilik studio ini. Jogiyo.. teman mu dari tadi pagi belum keluar ruangan.” Jelas Taeyeon.

“Bagaimana bisa kau terdampar di studio buluk ini?” tanya Donghae.

“Ah! Aku melamar kerja disini. Dan teman mu menerima ku. Bisakah kau lepaskan tangan ku?” Balas Taeyeon.

Donghae langsung melepaskan genggaman tangannya. Jadi selama ini Eunhyuk belum memberitaukan Donghae bahwa yeoja yang mereka tolong ia terima bekerja di studionya. Jessica disana hanya berdiri sambil melipat tangannya sebagai penonton tak dibayar.

“Teman mu belum makan dari pagi tadi.” Ulang Taeyeon sekali lagi.

“Oh bagus! Baru mau ku diskusikan tentang kontrak 6 bulan, dia sudah berniat untuk membunuh dirinya dengan tidak makan.” Sela Jessica asal dan langsung berjalan menuju ruangan yang ia yakini adalah ruangan Eunhyuk.

Taeyeon dan Donghae yang penasaran dengan keadaan Eunhyuk didalam langsung ikut berjalan masuk ke ruangan itu. Sosok Eunhyuk, sedang duduk menghadap ke langit lagit dengan mata tertutup dan tangan dalam posisi menggenggam erat handphone miliknya. Jessica mendekati namja yang ia cari – cari. Dengan sengaja ia menginjak kaki namja itu dengan heelsnya. Ia beri tekanan pada heelsnya hingga Eunhyuk membuka matanya dan meringis kesakitan. Donghae dan Taeyeon hanya bisa melihat dengan tatapan iba pada Eunhyuk.

“Baguslah kau masih hidup.” Kata Jessica yang lalu melepaskan injakan dan duduk disampingnya.

Sambil memegangi kakinya, Eunhyuk melirik Jessica. Bukan hanya Jessica ia sedikit heran dengan kehadiran Donghae didepannya. Sedang Taeyeon, ah menurutnya ia hanya ingin melaporkan hasil kerjanya. Kebali ia focus terhadap Jessica yang ada disampinya.

“Dengar ini aku membawa surat perjanjian kira. Kau tanda tangan disini.” Jessica membuka tasnya dan menyodorkan selembar kertas dengan sebuah pen bewarna pink.

“Hanya 6 bulan, tanpa skinship, tidak boleh mencampuri urusan orang lain, hidup biaya sendiri sendiri.” Ucap Eunhyuk sambil membaca semua perjanjian yang dibuat oleh Jessica.

“Bagaimana masih mau melanjutkan perjanjian ini?” tanya Jessica sambil tersenyum licik pada Eunhyuk.

Mendear Jessica berkata seperti itu, ia langsung memberikan tanda tangannya secara cuma cuma pada kertas itu. Jessica seperti mengintimidasi dirinya agar sesegera mungkin menandatangani kertas itu. Ia berikan langsung kertas itu pada Jessica dan langsung ia masukan kedalam tasnya lagi.

“Kalian berdua mau apa?” tanya Eunhyun.

“Aku, ah aku mau bertanya, kenapa ada dia di kantor mu?” Donghae menunjuk Taeyeon. “Kau tau kan, kita menolongnya dengan cuma cuma tapi dia lari begitu saja.” Lanjut Donghae dengan suara sedikit kejam.

“Mianhae. Aku tak tau kalian menolong ku. Aku kira kalian sejenis dengan orang yang menyeret ku.” Balas Taeyeon.

Eunhyuk memejamkan matanya sekali lagi, ia terlihat pusing dengan apa yang terjadi saat ini. Kenapa harus ada keributan disaat ia bangun dari tidurnya. Saat ia membuka matanya, Donghae sudah menatap Taeyeon dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya. Sedang yeoja disampingnya asik memainkan handphonenya sambil tersenyum – senyum.

“Mwo? Kau bilang apa? Aku mau meniduri mu seperti orang yang menyeret mu itu? Aku bahkan tak sudi meniduri mu.” teriak Donghae.

Mendengar kata ‘memperkosa’, Jessica langsung menjauhkan handphonenya, lalu memandang Donghae yang sedang beradu mulut dengan yeoja didepannya. Eunhyuk mengusap wajahnya dengan kedua tangannnya, wajahnya sangat frustasi menghadapi keributan di hari ini.

“Aku sudah meminta maaf. Tidak usah berteriak pada ku seperti itu!” balas Taeyeon yang juga tak mau kalah keras bicaranya.

“Kau yang memancing ku berteriak. Ternyata wajah lugumu itu hanya tipuan.” Kata Donghae sekali lagi sambil menatap Taeyeon.

“YA!!” teriak Taeyeon tidak terima.

Jessica tersenyum melihat pertengkaran Donghae dan Taeyeon. Berbeda dengan Jessica yang menikmati tontonan didepannya, Eunhyuk sama sekali tidak tertarik atau pun menikmati. Kepalanya sangat pening mendengar semua teriakan Donghae ataupun Taeyeon. Badan Eunhyuk pun berdiri dan mulai melerai kedua manusia yang ada di ruangannya .

“Donghae ah~ dia pegawai ku aku mohon jangan membentaknya seperti itu. Bagaimana pun dia tangung jawab ku. Biar aku saja yang bicara dengannya. Kau dan Jessica pulang lah ini sudah waktunya studio ku tutup.” Ucap Eunhyuk dengan tangan menepuk pundak Donghae.

“Kenapa kau jadi membelanya?” tanya Donghae tidak terima.

“Jessica Donghae aku mohon keluar lah. Kalian membuat kepala ku mau pecah. Aku masih harus memeriksa pekerjaannya.” Balas Eunhyuk yang tak mau menjawab pertanyaan Donghae.

Di doronglah tubuh Donghae dan Jessica keluar dari ruangan miliknya. Keduanya hanya pasrah dengan perlakuan Eunhyuk. Panas dihati Donghae yang tak reda membuat Donghae teru terusan berekspresi seperti ingin memakan orang. Sedang Jessica memang sebenarnya ia tak mau lama lama disini. Segeralah Donghae pergi dari studio milik sahabatnya ini lalu pulang ke rumahnya. Sedang Jessica menuju sebuah rumah yang ia sewa untuk menjadi tempatnya untuk berkreasi dalam fashion. Dan disanalah ia menaruh pakauan yang merupakan hasil karyanya.

“Taeyeon mana foto foto nya?” tanya Eunhyuk.

“Semua sudah dipindah ke dalam File di server.”jawab Taeyeon.

Eunhyuk segera menyalakan computer. Ia mulai mengecheck satu persatu foto hasil jepretan Taeyeon. Baru beberapa saat ia memeriksa, terdengar suara misterius dari dalam diri Eunhyuk. Mata Eunhyuk langsung memeriksa tubuh bagian tengahnya. Suara itu semakin kencangg sehingga Taeyeon dapat mendengarnya. Perutnya berteiak teriak meminta diisi. Sejak pagi perutnya bekum mendapat makanan.

“Mau kupesankan makanan?” tanya Taeyeon.

“Ide bagus. Pesankan aku pizza. Beli yang large. Sekalian jangan lupa pesan minum” balas Eunhyuk.

Taeyeon langsung mengeluarkan handphonenya. Ia mencari di internet nomer restaurant yang menjual pizza dan dapat diantar. Setelah mendapatkan nomer restaurant itu, ia menelphone dan memasan sebuah pizza dengan ukuran terbesar dan sebotol besar soda. Setelah 45 menit semua pesanan yang dipesan datang, ia menyodorkan tangan pada Eunhyuk meminta uang untuk membayar pizza itu.

“Taeyeon ah~ jangan pikirkan perkataan Donghae.” Ucap Eunhyuk.

“Ah, itu apa aku sejahat itu padanya sampai sampai dia marah pada ku?” Tanya Taeyeon.

“Molla, biarkan saja dia. Nanti juga baik dengan sendirinya. Ah besok hari senin temani aku ke pantai, ada pemotretan disana. Aku mau mengajari mu cara mengambil photo outdoor yang baik.” Balas Eunhyuk sambil mengambil satu slice pizza berukuran paling besar.

“Jinjja kau mau mengajarkan ku?”

“Hmm mana mungkin aku bercanda.”

Pada akhirnya Taeyeon ikut Eunhyuk menyantap pizza yang ia pesan. Keduanya berbincang hingga akhirnya Taeyeon memutuskan untuk pulang karena hari sudah gelap. Sedangkan Eunhyuk masih harus merapikan beberapa hal di studionya.

Miso Gogi Restaurant
6.00 PM

Daging daging diatas panggangan panas mulai berubah warna. Tiffany maupun Yoona segera menyantap daging tersebut. Wajah Tiffany nampak puas saat merasakan daging tersebut walau ini sudah suapan yang kesekian. Restaurant ini adalah restaurant yang paling sering Tiffany kunjungi. Tempat favorite Tiffany untuk mencari makanan dikala ia bosan dengan makanan yang ada di rumahnya.

“Fany!!!” teriak seorang namja dari pintu masuk.

“Sungmin oppa!!” balas Tiffany.

Namja bernama Sungmin tersebut masuk dan duduk disamping Tiffany. Dari belakang Sungmin muncul sosok Kyuhyun. Ekspresi Yoona berubah. Ia hanya seorang pegawai baru dengan posisi rendah di Lumiere tapi ia makan di satu meja dengan para petinggi hotel ditambah lagi Kyuhyun adalah pemilik Lumiere. Ia seperti kehilangan setengah nyawanya. Bibirnya tak bisa mengucapkan apapun seakan terkunci. Kyuhyun segera duduk di samping Yoona. Ia memandang Yoona yang berwajah pucat.

“Waeyo? Kau sakit ? Wajah mu pucat.” Tanya Kyuhyun.

“Ani” Balas Yoona dengan suara kecil dan lemah.

“Yoona! Sudah ku bilang jangan takut pada Kyuhyun. Dia tidak menggigit.” Kata Tiffany.

Mata Kyuhyun langsung melirik yeoja yang duduk disampingnya. “Mwo? Kau takut padaku?”

“Aniyo, hanya saja aku sepertinya tidak pantas makan satu meja dengan kalian.” Jelas Yoona.

“Wae? Kita sama sama manusia. Hanya saja di hotel kita berbeda jabatan tapi diluar kita bisa berteman. Ngomong – ngomong aku Lee Sungmin.” Sungmin menyodorkan tangannya untuk menjabat tangan Yoona. Dan langsung dibalas dengan kedua tangan Yoona, membuat Sungmin terkikih geli melihat Yoona yang sangat malu.

Tiffany langsung mengalihkan pembicaraan agar tidak ada kecanggungan diantara mereka. Walau Yoona masih merasa tidak enak tapi karena candaan dari Tiffany sedikit demi sedikit ia mulai merasa salah satu bagian dari mereka. Tawa dan canda mewarnai makan malam kali ini. Semua makanan yang disajikan oleh pemilik, habis dilahap mereka berempat dalam sekejap mata.

“Kyu, bukan kah tadi aku menyuruh mu mengajak Changmin? Kemana dia?” tanya Tiffany yang akhirnya menyadari tidak hadirnya Changmin.

“Dia ku suruh libur. Hari ini dia seperti namja putus asa yang ingin loncat dari lantai 17.” Balas Kyuhyun.

“Mwo? Ah ini semua pasti karena Jessica pujaan hatinya akan menikah dengan orang lain.” Lanjut Tiffany.

“Tidak kah sebaiknya kau check keadaannya? Siapa tau dia putus asa dan…” Sungmin berhenti karena pikirannya sudah memikirkan hal yang tidak tidak.

Pikiran Kyuhyun ikut memikirkan hal yang tidak tidak. Siapa tau Changmin benar benar putus asa dan tiba tiba saja mencoba membunuh dirinya dengan cara lain selain loncat dari lantai 17. Kyuhyun mengeluarkan handphonenya. Sebentar ia cari contact Changmin di handphonenya setelah ia temukan segera ia menelphone namja itu. Detik detikk pertama tidak ada jawaban tapi kemudian namja yang dihubungi Kyuhyun mengangkat telphonenya. Terdengar suara berisik dari ujung sana.

“Yo Hyung wae?” tanya Changmin. Mendengar suara Changmin, Kyuhyun merasa lega. Setidaknya temannya itu tidak melakukan hal bodoh.

“Dimana kau? Jangan bilang sedang menghibur diri di club bersama yeoja yeoja?” tanya Kyuhyun yang menebak nembak keberadaan Changmin berdasarkan suara berisik yang ada diujung telephone sana.

“Aniyo! Kau pikir aku namja hidung belang?”

“Lalu kau dimana? Berisik sekali..”

Changmin tak menjawab pertanyaan Kyuhyun. Tiffany dan Sungmin menanti jawaban dari Changmin. Sedangkan Yoona hanya bisa meminum minumannya karena tidak tau apa yang mereka bicarakan. Ia bahkan tidak mengetahui rupa dan siapa itu Changmin yang sedang Kyuhyun hubungi.

“YA Bocah gila jawab aku! Kau dimana? Jangan buat aku kawatir.” Ucap Kyuhyun dengan suara sedikit keras.

“Tadi aku tak sengaja menemukan ticket pesawat murah saat browsing internet. Ya lumayan lah hyung, untuk refreshing. Kepala ku pusing memikirkan Jessica.”Balas Changmin yang tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Kau dimana Changmin ah~ aku tak peduli ticket pesawat murah, yang penting kau ada dimana?”

“Sekarang aku ada di Jeju Hyung!” jelas Changmin.

“MWO? Jeju?”

TBC

MAAF ya pasti kemaren jelek banget deh penulisannya. Nih semoga lebih baik dari yang kemarin. Semoga part ini bisa mengubur. Dan Maaf ya Seohyun belum muncul, sebentar lagi muncul kok. Hahah. Kritik dan saran masih dibuka loh, comment aja sejujur apa adanya. Aku terima.


17 thoughts on “Whisper [ Part 3 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s