Whisper [Part 1]


HELLO

Seorang namja berambut hitam, tertidur lelap di sebuah kamar bernuansa soft white. Sebuah jendela besar menghadap sebuah taman penuh dengan dedauan hijau tertutup sebuah tirai putih tipis. Terdengar kicauan burung dari halaman. Kamar itu diberi aroma vanilla yang tak terlalu kuat tetapi menenangkan. Perlahan cahaya matahari memasuki ruangan itu, menandakan hari baru telah di mulai. Namja itu masih tertidur, menikmati kedamaian di kamar yang ia tempati seakan tak ingin diganggu lagi.

~ Call me your darling darling… Sugar Pop… Lollipop… ~

Kesunyian itu, Ketenangan itu, Kedamaian itu begitu saja runtuh saat handphone namja itu berbunyi. Tangan kanan namja itu langsung mencari – cari keberadaan handphone nya. Saat didapat handphone nya, matanya terbuka perlahan melihat nama orang yang menelphonenya dipagi hari yang tenang dan damai ini. Matanya yang semula masih sedikit terbuka, saat melihat nama yang muncul langsung terbuka lebar – lebar.

Yeoboseyo Yuri ah~” ucap namja itu yang sekejap langsung terbangun dari tidurnya. Membaca nama Yuri muncul di handphonenya langusng membuat nyawanya terkumpul.

“Donghae oppa, aku pasti membangunkan mu.” Ucap yeoja bernama Yuri dengan suara pelan sedikit merasa bersalah membangunkan Donghae dari tidur nyenyaknya.

Aniyo. oppa sudah bangun. Waeyo? Kau perlu teman untuk mengurus pernikahan kita?” tanya Donghae penuh antusias.

Sebentar, tak ada jawaban dari Yuri. Yeoja itu seakan pergi meninggalkan telponnya.

“Yuri ah~ wae? Kau sakit? Apa aku saja yang mengurus semua pernikahan kita?” tanya Donghae, kali ini ia terdengar kawatir, sangat kawatir.

Aniyo oppa. Kau tak perlu mengurus pernikahan kita. Oppa, aku tak bisa meneruskan hubungan kita. Mianhae oppa. Jeongmal mianhae.”

Seketika sambungan telephone terputus. Tak ada lagi Yuri di ujung sana. Donghae hanya terdiam tanpa melakukan apapun. Ia hampir saja lupa untuk bernafas. ‘aku tak bisa meneruskan hubungan kita’ kalimat itu terniang – niang di kepalanya. Ia kembali berbaring di kasur dan memutup matanya kembali. Tak lama ia membuka matanya dan memastikan bahwa apa yang baru saja ia dengar adalah mimpi.

Segera ia bangun dan bergegas menuju kamar mandi. Dengan secepat kilat ia membersihkan dirinya. Setelah itu ia membuka lemari mencari – cari pakaian yang sesuai satu dengan yang lain. Kemeja putih dengan 2 kancing teratas tak dikancingkan, lengan digulung sampai sikut tangannya. Ia memakai celana biru jeans pucat dengan sepatu bewarna coklat muda. Setelah memastikan penampilannya membuat ketampanannya bertambah dua kali lipat dibandingkan sebelumnya, ia segera keluar dari kamarnya, mengambil kunci mobil dan keluar dari istana hidupnya.

Sesegera mungkin ia menuju sebuah restaurant dimana Yuri selalu menghabiskan paginya sebelum memulai aktivitas. Mobil mewah bewarna hitam yang ia kendarai melaju dengan cepat menuju sebuah café yang tak begitu jauh dari rumah Donghae. Tangan Donghae memenekan tombol on/off radio player di mobil kesayangannya itu. Diputarkan sebuah lagu sendu, dengan suara penyanyi namja yang lebut di telinga.

Tak berapa lama, sebuah bangunan di sudut kiri sebuah perempatan yang diyakini adalah Café itu. Perlahan Donghae memelankan laju kendaraannya, untuk memastikan ada orang yang ia cari disana. Setitik cahaya muncul saat ia melihat Yuri yang sedang duduk didekat jendela yang menghadap keluar. Tempat itu adalah temapat favoritenya dengan Yuri jika berkunjung ke Café itu. Tapi seketika cahaya itu redup, melihat seorang namja yang tiba – tiba datang lalu mengecup kening Yuri. Ia tak bisa mengelak, semua ini bukan mimpi. Semua ini kenyataan yang harus ia terima dengan lapang dada.

Sifatnya yang temperamental membuatnya, memberhentikan mobilnya tepat didepan café itu dan turun dengan wajah penuh amarah. Langkahnya cepat dan nafasnya terasa lebih berat. Tepat didepan Yuri ia berhenti, dengan kasar ia menarik tangan Yuri, menyeretnya keluar.

Oppa! Kau ini mau apa?” Tanya Yuri sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Donghae yang cukup keras.

“YA! Lepaskan tangan Yuri.” ucap namja yang tadi mencium kening Yuri.

Mata Donghae langsung melirik tajan namja itu. Perlahan badannya menghadap namja itu. Sekali lagi ia melirik Yuri lalu melepaskan tangan Yuri yang semula ia cengkram dengan keras.

“Dengar, aku tidak marah kau membatalkan pernikahan kita. Aku marah karena….” Telunjuk jari tangan kanan Donghae menunjuk namja dihadapannya tepat didepan wajahnya.

“Cih.. Kau tau, Yuri tak pernah mencintai mu. Dia hanya terpaksa melakukan semua ini dengan mu sejak 3 tahun lalu karena kedua orang tua kalian sangat menginginkan kalian menikah! Bangun Lee Donghae dia bukan milik mu. Sedih sekali hidup mu.” ucap Namja itu sambil menyingkirkan telunjek Donghae dari hadapannya.

Tangan Donghae langsung menarik kerah baju namja itu dengan sangat kasar.

Oppa sudah lah..” Yuri berusaha melerai Donghae dan namja pilihannya.

Do What ever you want Yuri. Aku muak meliat kalian berdua” Donghae segera melangkah pergi dari Café itu.

Kedua kaki donghae langsung mengambil langkah pergi dari café itu. Dengan cepat kedua kakinya berjalan ke mobil yang ia parkir. Rasa marah didalam dirinya semakin menggebu – gebu. Sesampainya di mobil, tangannya langsung memukul stir mobil itu dengan kecang. Ia kecewa. Ia marah. Tak ada yang bisa menenangkannya. Dinyalakannya mesin mobil itu, sesegera mungkin kakinya menancapkan gas dengan kecepatan penuh. Ia hanya melaju tanpa arah dan tujuan yang jelas.

Mwo ya.. ternyata dia hanya mempermainkan ku. Cih. Kau bodoh Lee Donghae” ucapnya sendiri di dalam mobil sambil berusaha menyalip mobil mobil yang berjalan dengan kecepatan pelan.

~ Call me your darling.. sugar pop.. lolipop~

Ia memelankan mobilnya. Mengambil handphonenya yang ada di kursi disampingnya. Nafas panjang ia ambil saat ia membaca nama penelphone ke dua hari ini.

Yoboseyo, Lee Donghae kau dimana? Aku harus membahas konsep foto Pre Wedding mu dengan Yuri.” Ucap si penelphone di ujung sana.

“Lee Hyukjae, aku…”

Belum sempat Donghae menyelesaikan kalimatnya, orang yang berada di ujung saluran telephone sana sudah melanjutkam bicaranya.

“Bisakah kita bertemu di studio ku? Ini untuk masa depan mu dengan Yuri. Ajak Yuri ya. Annyeong” tanya Lee Hyukjae yang kerap siapa Eunhyuk.

Mendengar Eunhyuk sudah berkata – kata, Donghae tak bisa menolak walau dalam keadaan tidak bersahabat seperti saat ini. Eunhyuk dan Donghae sudah bersahabat sejak mereka duduk di taman kanak kanak. Donghae akan selalu berada disamping Eunhyuk dalam suka ataupun duka. Begitu pula sebaliknya. Persahabatan mereka adalah persahabatan yang paling didambakan semua orang.

Mobil Donghae berhenti didepan sebuah gedung dengan gaya minimalis bewarna abu abu. Terlihar sebuah tulisan besar yang menempel di dinding gedung tersebut. ‘Silver Sea Studio’. Tanpa mengatuk ataupun menekan bel, Donghae langsung masuk. Ia menaiki anak tangga menuju lantai dua. Sepasang namja dan yeoja sedang asik bergaya didepan camera. Keduanya tersenyum percaya diri dengan menampilkan kemesraan mereka.

Good! Good! Ok!” ucap sang cameraman yang sedang asik mengambil photo mereka.

“Ehm..” Donghae mencoba menyadarkan sang cameraman tentang kehadirannya.

“Sehun bisa kah kau merangkul Irene?” ucap cameramen itu lagi

“Ehm Lee Hyuk Jae” Kali ini Donghae memanggi nama sang cameraman.

“Irene smile!” ucap Eunhyuk yang masih focus dengan apa yang ia kerjakan saat ini.

Donghae pun berjalan mendekat. Perlahan ia mengangkat kakinya, lalu menendang pantat Eunhyuk yang terlihat sangat menarik. Tendangannya tak begitu kuat, tetapi berhasil membuat Eunhyuk kehilangan keseimbangan untuk mengambil photo lagi. Tubuh Eunhyuk hampir saja jatuh kedepan. Beruntung kedua kakinya masih kuat untuk menjadi penyangga tubuhnya yang sedang membungkuk.

“YAAKKK” teriak Eunhyuk.

Kedua model yang tadi asik bergaya langsung berhenti melihat Eunhyuk yang hampir jatuh dan berteriak. Eunhyuk pun menengokan kepalanya dalam keadaan membungkuk kedepan, melihat siapa pelaku yang menendangnya dan membuatnya jatuh.

“Yo!” sapa Donghae sambil melambaikan tangan kanannya.

“Aish!” Eunhyuk segera bangkit dari posisi membungkuknya. “Sehun, Irene istirahat dulu, aku ada urusan mendadak. Kita lanjutkan nanti.” Lanjut Eunhyuk yang langsung merangkul Donghae sambil menggiringnya kedalam sebuah ruangan.

Eunhyuk dan Donghae langsung duduk disebuah sofa bewarna hitam empuk dengan kulit kualitas terbaik. Donghae langsung menyandarkan badannya dan memandang langit – langit ruangan itu. Ia mengambil nafas panjang, seperti sudah lelah menjalankan hidup ini. Melihat sahabatnya seperti orang yang sudah tidka punya alasan untuk hidup, Eunhyuk bangkit dan membuatkan secangkir earl grey tea yang aromanya sangat menenangkan.

“Hyukjae. Kau tak perlu repot repot membahas konsep pre wedding ku. Kami tidak jadi menikah.” Ucap Donghae dengan suara berat.

Tangan Eunhyuk yang sedang mengaduk gula didalam cangkir teh, berhenti tiba – tiba. Ia segera kembali duduk disamping Donghae dan memberikan Earl Grey tea itu pada Donghae.

Mwo? Wae? Kalian bertengkar?” tanya Eunhyuk.

Aniya. Dia tidak pernah mencintai ku. Aish aku seperti orang bodoh yang mudah diperdayai “ucap Donghae yang kemudian meminum teh yang dibuat oleh Eunhyuk secara perlahan.

“Aii.. that girl.. Sudah lah jangan bersedih. Donghae ah~ Aku disini untuk mu” Eunhyuk secara tiba – tiba memeluk badan Donghae dengan tangan dan kakinya.

Refleks, Donghae mengangkat tangannya yang sedang memegang cangkir teh. Ia berusaha menstablikan tangannya agar Teh tersebut tidak tumpah. Sebenarnya, Donghae sama sekali tidak sedih, ia hanya marah dan kecewa. Orang yang selama ini ia banggakan sebagai pacar dan calon istri, tiba tiba saja meninggalkannya dan berbohong kepadanya. Ia menyesal memberikan segalanya pada Yuri. Apapun yang Yuri inginkan pasti ia berikan. Sekarang Yuri membalasnya dengan meninggalkannya disaat hari pernikahan mereka hanya tinggal 1 bulan lagi. Beruntung undangan pernikahan belum sempat disebar ke kerabat dekat mereka.

“Hyukjae biarkan aku bernafas.” Donghae berusaha menyuruh EUnhyuk melepaskan pelukan mautnya.

Shireo. Kau sedang sedih, jadi butuh pelukan.”

Pintu tiba – tiba terbuka. Masuk dua model yang bernama Irene dan Sehun tadi. Keduanya kaget melihat dua orang namja yang nampak asik bemesraan. Mata mereka tak berkedip dan mulut mereka tidak bisa menutup. Donghae pun sedikit terkejut kedua model itu tiba tiba masuk kedalam ruangan Eunhyuk. Eunhyuk yang juga terkejut langsung melepakan pelukan Donghae.

“Maaf, kami mengganggu.” Ucap Sehun agak terbata bata.

“Ehm. Ada apa Sehun?” Tanya Eunhyuk sedikit canggung, sambil merapikan pakaian yang ia pakai.

Hyung, apa kalian mempraktekan comic comic yaoi?” Tanya Sehun dengan wajah polos.

“YA! Model gila, kau pikir aku se putus asa itu. Aish! aku ini normal, dia yang tidak” Sangkal Donghae.

“Sehun –ssi Yaoi itu apa?” Tanya Irine.

“Bukan apa – apa Irine –ssi, lebih baik kau tidak tau dari pada kau berpikir yang tidak – tidak. Hyung aku pamit membeli minuman di café depan ya. Annyeong” Sehun segera mengajak Irine untuk keluar dari ruangan itu.

Donghae dan Eunhyuk terdiam. Keduanya saling melihat satu sama lain. Saat kedua mata mereka bertemu, keduanya sama – sama memalingkan wajah mereka dan berpikir ‘yang benar saja’. Mereka terdiam. Eunhyuk sibuk memandang dinding, sedang Donghae meminum habis teh yang dibuatkan oleh Eunhyuk tadi.

Seketika, Eunhyuk menepuk tangan dan membuat Donghae mengalihkan pandangannya.

“Ya Donghae. Bukankah kalian sudah berpacaran sejak kuliah, hmm kalau tidak salah 3 tahun lalu kan? Kalian bemesraan didepan ku, bergandengan tangan, berpelukan, Saling menyuapi satu sama lain, dan bahkan bercumbu didepan ku. Lalu kenapa dia semudah itu untuk membatalkan pernikahan kalian yang sudah didepan mata?” tanya Eunhyuk.

“Yuri, dia mencintai orang lain sejak 3 tahun lalu. Dia menyembunyikannya di belakang ku. Hey, kau tau aku sedang muak membicarakan semua ini. Lee Hyukjae, sebaiknya kau menghiburku, bukan membuat ku flashback tentang Yuri.” Ucap Donghae.

Mian. Tapi Donghae.. apa yang akan kau katakan pada kedua orang tua mu?” tanya Eunhyuk.

Molla.”

Keluarga Donghae atau pun Eunhyuk adalah keluarga terpandang di Korea. Kehidupan ekonomi keluarga mereka sangat diatas garis rata rata. Kedua orang tua Donghae adalah orang yang keras. Ayahnya seorang pengacara termahal di Korea dan ibunya adalah pemilik clinic kecantikan ternama di Korea serta keluarga mereka mempunya perusahaan arsitektur yang diwariskan dari kakek Donghae. Ia mempunyai seorang kakak laki bernama Lee Donghwa yang sekarang bekerja dan tinggal di Inggris. Orang tua Donghae sangat menginginkan menantu terbaik untuk anak bungsunya itu. Mereka tak mau asal pilih karena Donghwa memilih menikah dengan yeoja kalangan bawah lalu membawanya pergi keluar Korea dan tak pernah kembali . Mereka tak mau menyia nyiakan anak bungsunya seperti anak sulungnya.

Munculah Yuri disuatu acara lelang yang biasa diadakan untuk kalangan atas. Eomma Donghae sangat jatuh hati padanya dan sesegera mungkin mengajak berunding kedua orang tua Yuri untuk menikahkan anaknya. Disitulah Donghae mulai menjalin hubungan dengan Yuri.

“Hyukjae, apa aku bunuh diri saja?” tanya Donghae sambil memandang langit langit.

“Donghae sampai kau bunuh diri aku tak akan pernah datang ke pemakaman mu. Ingat itu. Menangis saja mungkin tidak. ”

“Hahaha kejam sekali kau. Aniya.. aku cuma bercanda. Yeoja banyak didunia ini! Terlalu berharga nyawaku untuk mati karenanya.” Ucap Donghae yang kemudian bangkit dari duduknya.

~ Call me your Darling… Sugar pop.. Lolipop~

“Eii.. Ringtone hp mu itu menjijikan. Badan kekar berotot besar tapi ringtone mu seperti yeoja yang sedang kasmaran” Ejek Eunhyuk.

Donghae langsung melihat nama yang menelphonenya. Ia palingkan wajahnya kearah Eunhyuk yang tak henti – hentinya menyanyikan lagu ringtone hpnya dengan maksud mengejek. Ia segera menaruh telunjuknya didepan mulutnya. Bibirnya membuat kata kata tanpa suara “Eomma Eomma Eomma”. Seketika itu juga Eunhyuk diam tak mengeluarkan apapun bahkan nafasnya diatur sehingga tidak mengeluarkan suara.

“Yoboseo”

Eomma, mendengar dari Yuri bahwa kalian tidak melanjutkan pernikahan ini?”

Ne Eomma, kami sudah memutuskannya, tidak akan ada pernikahan.” Ucap Dongahe.

“Lee Donghae! Kau tau eomma sangat berharap kau menikah dengan Yuri? Kalau kau tidak menikah dengannya lalu dengan siapa kau akan menikah? Jangan temui eomma sampai kau mendapatkan orang yang pantas untuk menjadi istri mu. Eomma berharap kau tidak mempermalukan keluarga seperti Donghwa!”

Tuut.. Tut..

Sambungan telephone terputus. Donghae menggenggam handphonenya dengan kencang seakan mau meremukan handphone itu.

“Sudah lah, akan kukenalkan pada yeoja yeoja yang selevel dengan selera orang tua mu. Bagaimana kalau nanti malam kita ke club? Akan ku jemput nanti malam du kantor mu. Sekarang pergilah bekerja, cari duit yang banyak!” ucap Eunhyuk.

“Kau mengusir ku?”

Aniya. Hanya saja aku masih banyak pekerjaan. Aku harus memotret Sehun dan Irene. Aku harus mencari uang Donghae sayang.. Dan nanti aku ada janji dengen eomma ku tercinta” Eunhyuk mendorong tubuh Donghae keluar dari ruangannya secara paksa.

“Baiklah aku mengerti. Jangan lupa nanti malam!” Donghae segera keluar dari ruangan Eunhyuk.

Donghae saat ini bekerja di perusahaan milik keluarganya yang bergerak di bidang arsitektur. Ia adalah CEO muda yang mempunyai banyak penggemar di dalam kantornya. Saat ini perusahaannya bekerjasama dengan salah satu hotel berbintang 5 di Korea. Manager hotel itu juga adalah Manager muda. Sedang Hotel itu bernama LUMIERE HOTEL.

Lumiere Hotel adalah hotel milik keluarga Cho. Keluarga lain yang memiliki perekonomian diatas rata rata normal orang kaya. General Manager mereka adalah anak bungsu keluarga Cho yang bernama Cho Kyuhyun sedang pemiliknya masih ayah Kyuhyun. Anak sulung mereka bernama Cho Ahra yang sekarang menjadi violinist yang tinggal di Vienna Austria. Kyuhyun adalah orang yang sangat dingin dan tidak begitu tertarik dan terbiasa dengan yeoja. Bukan karena ia penyuka sesama jenis, tetapi ia beranggapan bahwa yeoja terlalu berisik dan mengganggu.

“Cho Kyuhyun Kwajangnim datang. Jangan bercanda” Ucap salah seorang receptionist yeoja yang melihat mobil milik Kyuhyun sampai didepan lobby hotel.

Sebuah mobil hitam mewah yang diimport dari Negara Eropa berhenti didepan Lumiere Hotel. Seorang pemuda tampan turun dari mobil itu dari bangku supir dengan kemeja bewarna biru langit, dasi bewarna biru tua dengan corak bunga floral warna putih, jas bewarna biru tua, celana juga sewarna dengan jasnya dan sepatu pantofel bewarna hitam. Rambut namja itu sedikit curly yang tertata rapi layaknya seorang model.

“Selamat Datang tuan muda Cho.” Barisan pegawai hotel membuat sebuah jalan dengan menunduk menuju lift.

Pemuda itu berjalan lurus kedepan. Matanya sama sekali tidak memperhatikan orang orang yang menunduk di kanan ataupun kirinya. Saat ia sampai didepan lift, barisan orang itu segera bubar dan melanjutkan aktivitas mereka di lobby sebagai pegawai hotel.

Saat lift terbuka, Kyuhyun segera masuk kedalam lift itu. Ia menekan lantai 17, lantai tertinggi hotel itu, yang dijadikan office. Saat pintu hampir semuanya tertutup, sebuah tangan menahan diantara. Pintu lift terbuka lagi, nampak dua orang namja dengan pakaian serupa dengan Kyuhyun. Salah satu diantara mereka tersenyum pada Kyuhyun dengan puppy face.

“Tuan Cho Selamat datang di Lumiere Hotel” ucap kedua namja itu yang kemudia menunduk dan kemudian tertawa geli dengan apa yang mereka lakukan.

“Haha lucu sekali Sungmin hyung, Changmin ah~” balas Kyuhyun.

Kedua namja itu langsung masuk ke lift yang sama dengan Kyuhyun. Kedua namja itu adalah Lee Sungmin dan Shim Changmin. Lee Sungmin adalah Chief Engineer sebagai pengelola dan perawat gedung dan saat ini untuk sementara menjadi Room Division Manager. Shim Changmin adalah Food and Beverage Manager. Shim Changmin sangat suka dengan bercanda dan tetapi ia akan sangat serius jika membicarakan pekerjaan. Keduanya adalah teman Kyuhyun. Setelah hotel itu dipimpin Kyuhyun, ia meminta bantuan kedua sahabatnya itu untuk membantunya dalam mengelola Lumiere Hotel. Ia sadar ia masih pemula dan ia butuh bantuan orang lain.

“Kyuhyun ah, besok Tiffany akan sampai di Korea. Apa kau serius membutuhkan yeoja chingu ku?” Tanya Sungmin.

Yeojachingu mu itu adalah Room Division berpengalaman di International Hotel. Dia sangat dibutuhkan disini. Dan lagi pula, itu akan mengurangi tugas mu saat ini.” Jelas Kyuhyun.

“Tapi, kalau Tiffany bekerja di hotel ini, fans ku akan berkurang. Dan aku tak bisa merayu yeoja yeoja cantik yang bekerja di hotel ini.” Ucap Sungmin dengan suara agak kecil.

“Aishh” Changmin dan Kyuhyun langsung meneriaki Sungmin.

“Seharusnya kau berterimakasih pada Kyuhyun, kau tak perlu melakukan Long Distance Relitionship dengan Tiffany.” Ucap Changmin.

“iya iya gomawo yo Kyuhyun ah~” Sungmin langsung melakukan apa yang Changmin ucapkan.

Ketiga namja itu keluar dari lift saat mencapai lantai. Ketiganya masuk ke ruangan masing masing. Kyuhyun menyalakan laptopnya melihat –lihat laporan dari setiap bagian hotel ini. Sedikit membosankan. Hidupnya setiap hari hanya melakukan hal yang sama tanpa ada hal menarik.

“Kyuhyun ah~ Sepertinya kita kedatangan tamu penting. Sebaiknya kau bersiap diri kita harus menemuinya.” Ucap Changmin sambil memunculkan kepalanya pintu ruangan Kyuhyun.

Nugu?”

“Kau ingat Jung Jessica?” tanya Changmin

“Jung Jessica? Ah. Mantan kekasih mu? Mau apa dia kesini?” Tanya Kyuhyun.

“Yes. Mantan kekasih ku. Dia akan mengadakan launching brandnya disini.” Jelas Changmin.

“Ah, ternyata meninggalkan mu ke Paris membuahkan hasil dan tidak sia sia.”

Kyuhyun langsung bangkit dari duduknya. Ia dan Changmin langsung menuju ruang rapat menunggu kedatangan Jessica yang sedang dijemput di lobby oleh Sungmin. Changmin terlihat sangat gugup, terlihat dari cara ia menarik dan mengeluarkan nafas. Keringat di wajahnya juga mulai terlihat. Kakinya tak bisa berhenti bergerak. Kyuhyun yang melihat sahabatnya gelisah dan gugup itu hanya bisa tertawa.

Jessica adalah mantan kekasih Changmin. Mereka berpacaran saat SMA. Saat lulus SMA, Jessica memutuskan untuk memutuskan hubungan dengan Changmin dan pergi ke Paris untuk belajar menjadi designer. Changmin sangat mencintai Jessica. Saat Jessica memutuskannya, ia benar benar terpuruk. Sampai sekarang ia belum bisa move on dari Jessica walau sudah bertahun tahun lamanya.

Pintu terbuka. Sungmin membuka pintu dari depan dan mempersilahkan Jessica untuk masuk terlebih dahulu baru kemudian ia masuk. Kyuhyun sekali lagi melirik Changmin, keadaannya semakin memprihatinkan. Ia benar benar gugup dan tidak bisa berkata apa apa, hanya mengagumi Jessica.

Kyuhyun menarik lengan Changmin.

“Fokus, kau mau gaji tidak?” bisik Kyuhyun. Changmin hanya membalas dengan anggukan yang sedikit kaku layaknya robot yang hampir kehabisan daya.

Kyuhyun sadar Changmin benar benar tidak dapat focus. Kyuhyun akui Jessica memang cantik. Penampilannya sangat menawan. Atasan putih bergaris hitam horizontal bermodel kemeja yang sedikit kebesaran dengan rok bewarna pink yang terang. Rambutnya di urai dengan sedikit curly di bagian bawah rambutnya yang panjang. Wangi parfum yang sweet dan warm membuat Changmin tak bisa memalingkan pandangannya.

Bonjour Shim Changmin. Long time no see” Jessica tersenyum pada Changmin.

Sungmin dan Kyuhyun langsung memandnag Changmin yang tak bisa mengendalikan dirinya.

“Jessica silahkan duduk” ucap Kyuhyun mengalihkan situasi awkward ini.

Jessica dan Tiffany hanya kedua yeoja itulah yang dapat berkomunikasi dengan baik dengan Kyuhyun. Tentu saja karena Jessica adalah mantan kekasih Changmin dan Tiffany adalah kekasih Sungmin.

“Sica.. aigo sudah lama sekali tidak bertemu. Kau tambah cantik.” Ucap Sungmin mencairkan suasana.

Aigo, oppa kau tidak ada lelahnya ya merayu yeoja? Mau ku adukan ke Tiffany?” tanya Jessica. Mata Jessica langsung mengarah ke Changmin yang masih terdiam sambil memandangnya. “Waeyo Changminie oppa?” tanya Jessica.

“Sica.. kau masih mengingat ku?” tanya Changmin

“Tentu saja ingat mantan kekasih pertama ku. Ah Right aku ingin mengadakan Lauching Brand ku disini. Kyuhyun oppa berikan service terbaik hotel ini untuk ku.” Ucap Jessica

“Bisakah kau memjelaskan konsep brand mu itu?” tanya Kyuhyun.

“Ini semua sudah ada di usb ini. Ah aku juga mau ada makanan di acara ku itu.” Ucap Jessica.

Tangan Sungmin langsung menunjuk Changmin. “Kalau makanan kau diskusikan sendiri dengan Changmin.”

Changmin langsung tersadar dari lamunannya. Ia memandang Jessica yang memandangnya, menunggu penjelasan dari Changmin. Dalam otaknya ia ingin sekali focus tapi hatinya tak bisa membuat dirinya focus. Tangan Kyuhyun langsung mencubit paha Changmin dengan keras membuatnya meringis kesakitan dan langsung focus pada pekerjaannya walau tidak 100%

“Begini, kami punya pilihan menu. Japanesse, Korean, Western, atau mungkin kau mau membuat menu makanan Prancis, kami bisa membuatkannya. Kalau kau mau, besok kita bisa food tester di restaurant hotel” Ucap Changmin.

“Good Idea, baiklah sepertinya aku hanya butuh food tester. Semua konsep dan apa yang aku inginkan untuk acara ku sudah ada di usb itu. Changminie oppa besok kau harus menemani ku.”

“Baiklah kau tidak akan berpindah tempat lagi kan? Kalau tidak tanda tangan disini. Ini surat persetujuan kita.” Ucap Kyuhyun.

Jessica membca setiap kaca yang ada di kertas itu. Sungmin dan Kyuhyun sangat kawatir dengan keadaan sahabatnya. Changmin masih tak percaya ia dapat bertemu dan berbicara pada Jessica. Dan besok mereka akan makan berdua, walau dengan judul Food Tester tetap saja berdua. Setelah mengerti apa yang tertulis disitu, Jessica langsung menandatangani surat itu dan memberikannya kembali pada Kyuhyun.

“That’s it aku bisa pulang kan?” tanya Jessica.

“Tentu, ayo ku antar.” Ucap Sungmin.

“Changminie oppa kau tak mau mengantar ku?” tanya Jessica.

“Ah, Changmin harus mempertanggung jawabkan laporannya. Mian dia tak kuijinkan keluar dari lantai ini.” Ucap Kyuhyun.

“Oh ok. Sampai jumpa besok Oppa” Jessica melambaikan tangan pada Changmin.

Sekali lagi Kyuhyun memandang Changmin yang masih tak percaya dengan apa yang pernah terjadi. Ia bangkit dan menepuk pundak Changmin lalu keluar dari ruangan.

“Sungmin oppa” panggil Jessica saat berada didalam lift berdua dengan Sungmin.

“Ada apa Sica?” Sica adalah nama panggilan Jessica sejak SMA. Nama itu pertama kali muncul dari mulut Kyuhyun yang lalu dipopulerkan oleh Sungmin.

Jessica, Kyuhyun, Sungmin, Changmin dan Tiffany adalah teman dari SMA. Ke-empat orang itulah yang mengenal Kyuhyun dan sangat Kyuhyun percayai. Mereka ber-lima selalu bersama hingga akhirnya berpisah saat masuk ke bangku kuliah. Jessica pergi ke Paris untuk belajar fashion. Changmin ke Australia untuk belajar menjadi seorang Chef. Tiffany dan Kyuhyun ke America sama sama belajar Hospitality Business atau Bisnis Perhotelan. Sungmin tak mau kalah ia pergi ke Swiss untuk belajar perhotelan. Hingga saat ini yang belum kembali ke korea adalah Tiffany. Ia masih berada di America untuk menyelesaikan pekerjaannya di America sebagai pegawai hotel bintang 5 dengan jabatan sebagai Room Division Manager.

Aniya lupakan.”ucap Jessica yang kemudian disusul dengan lift yang terbuka.

“Eii. Kalau kau memerlukan sesuatu, kau bisa menghubungiku. Kemarikan hand phone mu.” Sungmin langsung menyodorkan tangannya pada Jessica.

Jessica dengan segera mengambil handphone miliknya lalu memberikannya pada Sungmin. Dan Sungmin memberikan nomer handphonenya cuma cuma.

“Kalau butuh sesuatu telphone saja kesitu.” Ucap sungmin sambil memberikan kembali handphone itu pada Jessica.

Mobil Jessica terparkir di lobby. Ia tak perlu susah – susah mencari parkir dan pergi ke basement untuk menuju ke mobilnya. Yeoja itu melambai pada Sungmin dan kemudian masuk ke mobil. Ah dia tidak menggunakan supir, Jessica lebih senang menyetir sendiri. Ia tak mau ada orang lain mengotori mobilnya yang masih baru. Ia pun mulai melaju menuju kawasan Gangnam. Hotel untuk menemui Eommanya yang sedari tadi sudah mewanti wantinya untuk datang ke Sebuah Restaurant dikawasan Gangnam.
Restaurant itu adalah salah satu restaurant yang cukup terkenal di Seoul. Terkenal karena rasa makanan yang enak, dan terkenal karena harganya juga sebanding dengan rasanya. Royal Tree Restaurant, itulah nama restaurant itu.

“Selamat datang, sudah ada reservasi? Untuk siang ini restaurant kami sedang full” ucap seorang waiters namja yang berjaga di bagian luar restaurant itu.

“Ah Jung Soobin” ucap Jessica. Soobin adalah ibu dari Jessica.

“Baik, silahkan” sang waiters namja itu langsung mengantarkan Jessica ke tempat yang sudah di pesan oleh eommanya.

Sang waiters membawanye ke sebuah ruangan private. Disana sudah duduk seorang yeoja paruh baya yang menunggu kedatangannya. Tangan Eommanya menyuruhnya duduk disampingnya. Jessica mulai curiga dengan eommanya sendiri. Mereka hanya berdua tetapi meja itu di atur untuk berempat. Eommanya pun menyuruhnya merapikan penampilannya agar terlihat lebih cantik.

Eomma, kalau kau mau arisan jangan ajak aku. Aku tidak mau penuaan dini” ucap Jessica yang tau hobby dari eommanya adalah arisan bersama teman temannya.

“Ini bukan arisan. Kau akan bertemu calon suami mu.”

Jawaban dari Soobin menjelaskan rasa curiga Jessica sejak masuk ke dalam ruangan ini. Jessica berusaha sebisa mungkin mengatur emosinya agar tidak meluap dan meledak. Dia memandang eommanya dengan tatapan sangan tajam. Seribu satu kata kutukan sudah berada di ujung lidah. ia mengambil nafas dalam dalam dan berusaha berbicara dengan baik pada Eommanya.

Eomma, aku ini sudah dewasa dan masalah suami aku bisa mengurus sendiri.” Ucap Jessica.

Soobin tidak menjawab hanya meminum ocha hangat yang disediakan oleh restaurant ini. Jessica sekali lagi mengambil nafas dalam untuk menahan emosinya.

“Jessica, eomma tidak mau kau mendapatkan laki laki yang tidak sederajat dengan kita. Kalau kau hidup melarat dengan suami mu, eomma tidak tega.” Akhirnya mulut Soobin terbuka.

“Tapi bukan begini caranya eomma. Ini sama saja dengan pemaksaan.” Ucap Jessica.

“Sudahlah. Turuti saja apa kata eomma. Dia adalah seorang photograper terkenal di Korea. Ia punya studio photo sendiri. Keluarganya juga berasal dari kalangan kita. Kau tidak akan menyesal dengan pilihan eomma.” Balas Soobin

Eomma, Kenapa yang ada di pikiran mu hanya drajat sosial seseorang? Apa jangan jangan aku hanya dijodohkan hanya untuk bisnis? Eomma kalau begitu kenapa tidak sekalian saja kau jual aku pada jutawan atau mafia? Toh sama saja kau mendapatkan uangnya.” Tanya Jessica sambil menahan air matanya.

“Aku menemukan Changmin Oppa. Besok aku akan bertemu dengannya lagi. Bisakah kau pertimbangkan perjodohan ini?” Lanjut Jessica

“Tidak bisa. Semua sudah terencana. Kau tidak bisa membatalkan perjodohan ini hanya karena kau menemukan Changmin mantan kekasihmu itu.” Ucap Soobin.

Jessica bangkit berdiri. Ia merasa semua yang ia ucapkan benar. Ia hanya alat sebagai pelebar dan penyukses bisnis keluarga. Seperti barang yang dapat diperjual belikan. Ia tak menyangkan eommanya sendiri rela memaksanya menikah dengan orang yang belum ia kenal. Saat Jessica hendak berjalan keluar, pintu terbuka dan masuklah seorang yeoja paruh baya lain diikuti dengan seorang namja muda dengan penampilan apa adanya. Celana pendek bewarna pasir, selutut. Sepatu casual bewarna coklat dengan tali warna putih. Sebuah kemeja body fit bewarna biru tua. Rambutnya telihat berantakan tapi pas dengan penampilannya.

Aigo ini yang namanya Jessica?” Tanya yeoja paruh baya itu.

Ne. Dan ini pasti Hyukjae.” Ucap Soobin sambil tersenyum pada Eunhyuk.

Ne, panggil Eunhyuk saja” jelas Eunhyuk.

Jessica terjebak. Ia tak bisa keluar sekarang. Yeoja itu hanya bisa memandangi gelas kosong didepannya. Ia sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun. Bukan karena ia tidak tertatik pada lelaki dihadapannya. Ia hanya kecewa dengan semua ini. Soobin dengan Eunji, eomma dari Hyukjae atau Eunhyuk terus menerus berbicara tanpa henti. Mereka membicarakn masa depan anak mereka yang sudah dijodohkan. Sedang Eunhyuk hanya menatap kagum yeoja dihadapannya. ia seperti mendapat jackpot dunia. Dimata Eunhyuk, Jessica adalah bidadari turun dari kayangan.

Pintu terbuka. Satu persatu makanan dagang. Salah satu dari mereka membuka botol wine dan menuangkan wine di setiap gelas.

Aigo. Kau memesan ini semua?” Tanya Eunji.

Ne. Hari inikan hari special. Kita harus merayakannya.” Ucap Soobin.

Tangan sang pelayan yang menuang wine itu mulai bergetar. Ia merasa perutnya sudah berteriak meminta diisi saat melihat makanan yang dipesan pelanggannya. Matanya yang kelaparan tak henti hentinya memandangi makanan itu. Ia sama sekali tak memperhatikan wine yang sedang ia tuang ke gelas milik Eunhyuk. Mata Eunhyuk memandang 
Gelas yang sedang diisi pelayan itu. Saat wine sudah melebihi betas. Eunhyuk memandang pelayan itu.

Agassi..” ucap Eunhyuk.

Pelayan itu masih terpaku pada makanan dan wine itu akhirnya keluar dari gelas dan tumpah ke paha Eunhyuk. Dan akhirnya pelayan itu sadar atas kesalahannya.

Aigo. Jeongmal mianhae..” ucap pelayan itu sambil mengambil serbet dan membersihkan tumpahan wine itu di paha Eunhyuk.

Gwenchana, biar aku saja” ucap Eunhyuk dengan ramah.

“Ya! Kau tau kami ini tamu penting. Pelayanan macam apa ini” ucap Soojin

“Restaurant mahal seperti ini tapi pelayanannya jelek sekali. Kau tau berapa harga celana anak ku ini? Mungkin harga celananya lebih mahal dari pada gaji mu.” Ucap Eunji.

Kedua yeoja paruh baya itu berlomba lomba mencaci maki pelayan itu. Sedang sang pelayan hanya bisa menunduk kebawah menyesal dengan apa yang telah ia perbuat. Eunhyuk sambil mengeringkan celana yang basah dan berubah warna, hanya bisa menonton ajang adu mulut kedua yeoja paruh baya. Jessica yang melihat prilaku eommanya hanya bisa mencengkram rok nya dengan kedua tangannya.

Eomma gwechana ini hanya basah. Sebentar lagi juga kering. Im Yoona -ssi, gwaenchana tak usah meminta maaf terus menerus.” ucap Eunhyuk. Matanya menatap nametag pelayan malang itu.

Jeongmal mianhae” ucap pelayan itu sekali lagi.

Mi-an-hae? Mudah sekali kau mengatakan hal itu. Mana manager mu?” Ucap Soojin yang dilanjutkan anggukan Eunji.

Tak lama seorang namja dengan pakaian jas lebih baik dari pada pelayan pelayan yang ada datanh. Terdapat nametag bertuliskam “Manager” di dada kirinya. Soojin dan Eunji langsung melaporkan apa yang terjadi. Sekali lagi Eunhyuk dan Jessica hanya bisa berdiam diri melihat prilaku kedua eomma mereka.

“Kami meminta maaf dengan pelayanan kami yang tidak memuaskan. Sebagai gantinya, kami hidangkan lobster terbaik kami secara cuma cuma” ucap manager itu. Sebentar sang manager memandang Yoona “Im Yoona -ssi mohon ikut saya.”

“Eomma, kau keterlaluan” Ucap Jessica sedikit berbisik pada eommanya.

Im Yoona sang pelayan mengikuti manager yang menyuruhnya mengikutinya. Dengan tangannya, ia memukul kepalanya menyesali semua yang baru saja ia lakukan. Walaupin sang pelanggan tidak mengalami luka berat, tetap saja ia benar benar mengutuk dirinya. Sang manager membawanya ke dapur dengan wajah yang sangat menyeramkan.

“Im Yoona –ssi, kau tau apa yang baru saja kau lakukan?”

Ne.. Mianhae aku tak..”

“Mereka adalah tamu penting, dank au sudah membuat mereka maaf. Im Yoona –ssi mianhae kau tak bisa melanjutkan bekerja di sini.” Ucap Manager restaurant.

Manager itu meninggalkan Yoona sendiri. Yoona mangambil nafas panjang. Tanpa melawan membenarkan diri, Yoona menerima pernyataan itu. Yoona segera menuju locker para pelayan dan staff restaurant itu. Mengganti pakaiannya dengan pakaian sehari hari meninggalkan seragam restaurant itu. Sekali ia mengambil nafas panjang dengan sangat berat.

Aish babo babo babo. Sekarang aku harus mencari kerja dimana lagi untuk membayar sewa kamar?” ucap Yoona.

Yoona adalah seorang pelayan restaurant, tepatnya mantan pelayan restaurant mahal di Korea. Restaurant favorite orang orang beruang. Saat ini ia tinggal di sebuah Boarding House atau lebih kerennya “Kost Kostan” milik teman orang tuanya. Boarding House itu berbentuk rumah dengan 6 kamar yang disewakan oleh sangpemilik. Untuk saat ini sudah terisi 3 kamar. Yoona pergi ke Seoul untuk mencari pekerjaan sedang kedua orangtuanya tinggal di kampung halaman mereka. Hingga saat ini Yoona belum mendapatkan pekerjaan yang cocok, sehingga ia harus terus menerus mengganti pekerjaan.

Hari ini, Yoona pulang ke Boarding house. sebelum matahari terbenam. Rumah berlantai dua dengan luas yang cukup lumayan luas, itu masih sepi, hanya ada Yoona seorang. Yeoja itu menuju dapur dan mencari sebungkus ramyeon. Salah satu seahlian yang tak penting dari Yoona adalah, ia bisa memasak ramyeon dengan tepat, tidak terlalu keras, tidak terlalu empuk. Bukan untuk melatih keahliannya, tapi ia tak punya pilihan lain selain memakan ramyeon. Peraturan di Boarding House itu adalah, tidak boleh memakan makanan orang lain. Dan saat ini, Yoona belum membeli bahan makanan ataupun makanan jadi untuk energinya. Ramyeon selalu menjadi menu wajib baginya, jika keadaan lapar darurat seperti ini karena yeoja itu selalu menyimpan ramyeon didalam lemarinya.

Ia siapkan seluruh peralatan memasak sekaligus memakan ramyeon. Panci bewarna gold, ramyeon tentu dan jam tangan digital. Pertama – tama Yoona memasak air hingga mendidih lalu memasukan semua apa yang ada didalam bungkus ramyeon itu. Ia aduk sedikit sampai merata lalu menutup panci tersebut dan menunggunya kira kira 3 menit. 3 menit berlalu, ia segera mengangkat panci itu dari kompor lalu mematikan kompornya. Barulah ia dapat menyantap ramyeon dengan nikmat.

Saat ia sedang asik menyantap Ramyeon, seorang namja sedikit tua datang ke boarding house tersebut. Dibelakangnya nampak seorang yeoja muda dengan koper yang cukup besar. Namja itu masuk kedalam dan mendapati Yoona yang sedang asik menyantap Ramyeon.

“Oo! Yoona ya.. aku bawa penghuni baru. Ayo masuk! ” sapa namja itu sambil membawa seorang yeoja masuk kedalam boarding house itu

Yeoja yang baru datang itu, dengan malu – malu melihat kekanan dan kekiri. Mata dan otaknya mulai menilai rumah yang akan ia tempati. Dinding rumah itu bewarna putih yang sudah mulai menguning. Kebersihan masih dapat ditolerin walau masih banyak sampah kertas ataupun tisyu di sudut sudut rumah. Setidaknya atap rumah ini tidak bocor. Setelah menilai keadaan rumah. Ia menatap Yoona yang sedang duduk sendiri dimeja makan dengan ramyeon didepannya.

Annyeong! Im Yoona imnida.” Sapa Yoona.

Ah ne.. Kim Taeyeon imnida.” Balas Taeyeon.

Sang pemilik boarding house ini, mendekati Yoona dan menyuruhnya untuk memberi tur dan penjelasan singkat dengan boarding house ini serta menunjukan kamar kosong yang dapat ditempati Taeyeon. Taeyeon masih berdiri memandang sekitar dengan pandangan polos. Setelah menyuruh Yoona sang pemilik langsung meninggalkan Yoona dan Taeyeon hanya berdua. Yoona langsung mengajak Taeyeon kelantai dua untuk menunjukan kamarnya.

“Taeyeon –ssi. Ini kamar mu. Disamping kanan itu kamar Choi Minho. Dan tepat didepan mu kamar ku. Dan disamping kamar ku adalah kamar Kai. Kau akan bertemu mereka saat malam nanti.” Jelas Yoona sambil menunjuk – nunjuk kamar yang ia maksud.

“Ah okey. Yoona –ssi kamar mandi ada dimana?” tanya Taeyeon.

“Kamar mandi ada 2, satu diatas dan satu lagi dibawah. Yeoja pakai kamar mandi lantai 2 dan namja memakai kamar mandi lantai 1. Ah aku hampir lupa memberi tau peraturan di rumah ini. Kau tidak boleh memakan atau memakai barang orang lain tanpa ijin. Mungkin itu saja. Selamat datang di boarding house ini. Kalau kau lapar ramyeon dibawah bisa kita makan bersama – sama.” Kata Yoona.

Ne. Begopayo..” ucap Taeyeon sambil memegang perutnya.

Kedua yeoja itu turun dan mendapati seorang namja memandangi ramyeon dengan wajah sangat menyedihkan. Namja itu seperti sedang menahan rasa napsu didalam tubuhnya. Yoona segera berlari, dan memukul pelan kepala namja itu dengan tangannya.

“Yak! Menjauh kau dari ramyeon ku.” Ucap Yoona.

Noona.. aku hanya memandangnya” ucap namja itu.

“Memandang ? Yak kau pikir aku tak tau apa yang ada dipikiran mu? Ah, Kai ini ada penghuni baru. Kim Taeyeon” ucap Yoona.

Annyeong Taeyeon –ssi. Aku Kim Jongin tapi panggil saja aku Kai.” Ucap Kai dengan wajah polosnya.

Taeyeon hanya tersenyum pada Kai dan langsung duduk dimeja makan. Yoona mencari mangkok dan sumpit untuk Taeyeon.

Noona.. kau memberikan ramyeon pada penghuni baru.. kenapa aku tidak kau berikan.”

“Cih. Untuk apa aku berbaik hati pada mu? Haha bercanda ambillah sesuka hati mu.”

Wajah Kai langsung berubah menjadi girang. Ia dengan cepat mengambil mangkuk dan sumpit untuk makan. Walau porsinya sedikit tapi ramyeon itu cukup untuk dimakan bertiga dan habis dalam waktu yang sangat singkat. Sesudah makan mereka meninggalkan saja semua bekas peralatan makan diatas meja tanpa membereskannya. Yoona dan Kai segera duduk di sofa menonton televise dan Taeyeon memberskan barang barang di kamarnya.

Tak terasa mata hari sudah terbenam. Taeyeon sudah membereskan barang – barangnya. Kamarnya sekarang tidak lagi kosong. Setiap sisi sudah terisi barang bawaannya. Ia pun segera turun dengan niat bersosialisasi dengan Yoona maupun Kai yang sedari tadi duduk manis didepan tv.

“Aku pulang.” Sebuah suara berat terdengar dari pintu depan.

“Oo Minho hyung annyeong!” sapa Kai.

Seorang namja bertubuh tinggi, memasuki rumah itu. Wajah namja itu kecil tetapi wajahnya sangat menawan. Namja itu bernama Choi Minho, ia adalah seorang atleet sepak bola. Minho lumayan terkejut melihat seorang yeoja baru didalam rumah ini. Tetapi perasaan terkejutnya berubah seketika, ia tersenyum pada yeoja itu dengan senyuman mematikan.

Annyeong. Choi Minho imnida. Selamat datang.” Ucap Minho dengan nada ramah.

Ne.. Annyeong, Kim Taeyeon imnida

Hyung! Aku bosan. Ayo ke club” ajak Kai.

“Ya! dua hari lalu kita baru saja kesana. Dan aku harus membopong tubuh mu dari club sampai kesini. Shireo!” Minho sesegera mungkin menolak ajakan Kai, mengingat dua hari yang lalu ia harus membopong tubuh Kai dari club hingga ke rumah.

“Club? Good Idea. Ayo kita kesana.” Yoona tiba tiba saja ikut dalam perdebatan antara Kai dan Minho.

Noona. Kau, ah pasti kau dipecat lagi.” Kai menebak – nebak.

“hmm,.. Sudah lah ayo, lagi pula ayo rayakan kehadiran penghuni baru disini.” Ucap Yoona.

“Baiklah kalau begitu. Taeyeon –ssi kau harus ikut.” Kata Minho

Ne..”

Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya Taeyeon pergi ke club malam. Seumur hidupnya ia hidup sebagai anak yang jalan hidupnya lurus tidak tergoda dengan hal hal buruk duniawi. Ia tak pernah meminum alcohol. Ia tak merokok. Orangtuanya selalu mengajarinya nilai moral baik dalam kehidupan. Mereka tak mau Taeyeon anak satu satunya menjadi anak yang tidak benar secara sifat ataupun kelakuan.

Yoona, Taeyeon, Kai dan Minho langsung menuju club dengan menaiki bus. Terlihat tidak modal. Tetapi pakaian mereka layak untuk masuk kedalam club malam di kawasan Gangnam.

“Yoona –ssi, ini pertama kalinya aku ke club malam.” Ucap Taeyeon sambil merangkul tangan Yoona dengan erat.

“hmm, Kalau begitu, jangan jauh jauh dari ku.”

“Ne…”

Pada kenyataannya, Yoona benar benar meluapkan ke stressannya di club itu. Ia tak ada hentinya memasukan minuman beralkohol yang tak begitu mahal kedalam tubuhnya. Kemudian bersama dengan Kai menari sebebas mereka didalam lautan manusia yang terlihat sangat menikmati lagu yang berdendang.

“Taeyeon –ssi, kau tidak bergabung dengan mereka?” tanya Minho mendekati Taeyeon yang hanya berdiri dipojok dekat dinding.

Aniyo.. aku tidak suka menari seperti itu. Minho –ssi lantai dua kenapa ditutup untuk umum?” tanya Taeyeon.

“Ah, itu khusus untuk orang orang kaya.” Jawab Minho.

Taeyeon hanya mengangguk. Dan kembali menikmati lagu yang sedang diputarkan. Minho tetap berdiri disampingnya. Entah mengapa ia tidak tega meninggalkan Taeyeon sendirian, apa lagi wajah Taeyeon sangat lugu. Tetapi Kai tiba tiba saja menarik Minho untuk bergabung dengannya.

Musik tak berhenti diputar, semakin malam club tersebut semakin ramai dipenuhi manusia. Beberapa dari tamu, naik ke lantai dua. Pakaian mereka sangat berbeda dengan orang orang yang asik menari dibawah, terlihat classy dan elegant. Terlihat dua orang namja yang memasuki club itu dan menarik perhatian beberapa yeoja.

“Ya! itu Eunhyuk photographer terkenal itukan? Dan itu sahabatnya Lee Donghae. Aigo mereka tampan sekali.” Itulah yang dibicarakan oleh banyak yeoja didalam club ini saat melihat dua orang namja tampan, lebih spesifiknya Donghae dan Eunhyuk.

“Hae! Ayo naik, aku sudah reservasi table.” Ajak Eunhyuk.

Donghaepun hanya mengikuti apa perkataan Eunhyuk. Mereka berdua naik lantai dua. Dan didapatinya benyak pengusaha pengusaha yang sedang menghibur dirinya didalam club ini. Donghae dan Eunhyuk duduk disebuah bangku berbentuk setengah lingkara. Seorang pelayan mendekati mereka menanyakan apa yang mereka ingin mereka pesan.

“Berikan kami 1 Dry Martini dan 1 Vodka Stinger” ucap Donghae. Itulah 2 minuman yang selalu mereka pesan. Dry Martini untuk Donghae dan Vodka untuk Eunhyuk.

Pelayan itu segera pergi dan mengambilkan pesanan mereka.

“Ya, sepertinya aku akan menikah lebih dahulu daripada kau.” Ucap Eunhyuk.

“Memangnya kau sudah punya calon?” tanya Donghae sedikit mengejek.

“Tadi siang, eomma ku mengajak ku bertemu calon istri ku.” Balas Eunhyuk.

“Dijodohkan?”

“Hmm, yeoja itu cantik. Wajahnya terniang – niang dikepala ku. Wanginya masih terasa. Dan suaranya masih bisa kuingat.” Ucap Eunhyuk yang berhasil membuat bulu kuduk Donghae terangkat.

Ditengah – tengah obrolan mereka, sang pelayan datang membawa dua buah gelas pesanan mereka. Eunhyuk segera meminum pesanannya dan begitu pula Donghae.

“Ya.. Hae kau sedang mencari calon istri kan? kenapa kau tidak mencarinya disini?” tanya Eunhyuk.

“Kau pikir aku mencari pasangan one night stand?”

Donghae perlahan bangkit dari tempat duduknya berjalan menuju pagar pembatas lantai dua. Dari sana ia bisa melihat dancefloor yang diisi oleh banyak orang. Sambil meminum minumannya Donghae memperharikan wajah – wajah yeoja yang ada didalam club itu. Seketika, matanya mendapatkan yeoja yang berbeda dari yang lain. Ia hanya berdiri tanpa melakukan apapun. Wajah yeoja itu sangat polos.

Dari atas ia bisa melihat semuanya. Semua hal – hal yang dilakukan orang di lantai satu. Dari semua yeoja yang ada di club itu, hanya yeoja berwajah polos itulah yang menarik perhatiannya. Ia terus memperhatikan yeoja itu, seakan menjaganya dari atas. Tak lama ada seorang namja bertatto mendekati yeoja itu. Tangan namja itu mulai menyentuh rambut yeoja polos itu. Yeoja itu berusaha menghindar dari namja itu. Ia berpindah tempat ke tempat yang tidak terjangkau oleh Donghae. Donghae segera meletakan minumannya dimeja dimana Eunhyuk duduk sambil membayangkan wajah calon istrinya, lalu turun kebawah mencari yeoja itu.

“Lepaskan!” teriak seorang yeoja di sebuah lorong menuju ke toilet.

Aigo, lucu sekali yeoja ini.” Seorang namja bertatto mengelus wajah yeoja itu.

Tak lama beberapa teman namja itu datang kira kira 3 orang, kemudian mereka ikut bergabung dengan namja betatto itu menggoda seorang yeoja lugu.

“Siapa nama mu?” tanya salah satu dari mereka.

Yeoja itu tak menjawab.

“Siapa nama mu?” sekali lagi mereka bertanya tapi dengan nada yang sangat keras.

Dan akhirnya pertahanan diri yeoja itu tumbang. Ia benar – benar ketakutan hingga kedua kakinya lemas.

“Kim Taeyeon.” Ucap yeoja itu dengan suara bergetar.

“Kim Taeyeon –ssi bagaimana kalau kau ikut dengan kami. Tubuh mu lumayan menghibur ditambah lagi, wajah mu sangat cantik.” Goda namja bertato itu.

Shireo! Lepaskan aku.”

Taeyeon berusaha sebisa mungkin melepaskan cengkraman namja bertatto yang sedari tadi menggodanya. Tetapi nampaknya sia sia, ia hanya sendiri dan mereka berempat. Pertama kali datang ke club malam, dan ini adalah sambutannya. Taeyeon sangat menyesal masuk kedalam club malam seperti ini.

“YA! sebaiknya kau lepaskan yeoja itu.” teriak seorang namja yang tiba – tiba muncul dihadapan mereka.

Hyung, dia mau mengambil mangsa kita.” Bisik salah seorang dari para penggoda ke telinga namja bertatto itu.

“Mau apa kau? Lebih baik kau kembali ke atas. Lee Donghae –ssi. Tempatmu diatas bersama dengan para orang kaya bukan dengan kita. ” Ucap namja bertatto.

Nama Donghae ataupun Eunhyuk sangat terkenal di club ini. Mereka berdua adalah pelanggan vip yang sering datang kesini. Ditambah modal ketampanan mereka, membuat banyak yeoja membicarakannya. Tentu saja mereka berdua sangat terkenal.

“Lepaskan yeoja itu!” sekali lagi Donghae berteriak.

Namja bertatto itu langsung mendekati Donghae. Menatap kedua mata Donghae yang sedari tadi menatapnya. Taeyeon itu terduduk saat cengkraman tangan namja bertato itu dilepaskan, kakinya lemas tak bisa menopang badannya lagi. Matanya menatap Donghae, namja yang suka rela menolonnya. Tetapi Taeyeon sangat ketakutan, dan begitu saja ia kehilangan kesadaran.

“Lee Donghae –ssi aku minta baik – baik kembali ke alam mu. Dan jangan ganggu kami.” Ucap namja itu dengan penuh nada ancaman.

“Lepaskan yeoja itu.”

TBC HORE SELESAI. Mian berubah lagi judulnya. Kemaren mau nilis tentang bittersweet tapi ga tau kenapa malah kepikiran cerita seperti ini. Mian aku udah lama banget ga buat FF terakhir Lens kalo ga salah. Dan ini FF baru semoga menghibur. Kritik dan saran bisa di tulis di comment ini. BTW haha bagi yang bisa liat videonya mohon ditonton maaf kalau banyak typo di FF ataupin di videonya. For more update please visit my site GOLDPLUM Terimakasih.


10 thoughts on “Whisper [Part 1]

  1. Penasaran bangeeettt
    Mereka saling terkait satu sama lain…
    Gak nyangka ma pasangannya….
    Di tunggu banget kelanjutannya…..
    Jgn lama2 ta thor
    Fighting !!!
    Btw videonya gak bisa di putar, katanya private :(((

    Like

  2. kyaaaa….joa joa neomu joa…ff nya bagus bingitss…ayo lanjuuuuuttttt authornim..jjebbal eoh…kalau tidak..aku akan menghantuimu..kkkk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s