Ichiban No Takaramono [Side Story From Starduster]


INT

Ichiban No Takaramono (My Greatest Treasure)*/

/*One Shoot*/

/*Romance, Sad, Ficlet*/

Author : Naru (Kurochan).

Main Cast : Cho Kyuhyun (Super Junior) // Seo Joo Hyun (SNSD).

Other Cast : Oh Sehun (EXO)

Kyuhyun’s POV

 

Sebelum cerita ini dimulai, aku ingin menanyakan satu hal pada kalian? Apa yang kalian lakukan ketika kalian terjebak cinta kepada sahabat terbaik sepanjang hidupmu? Bingung? Senang? Atau malah sedih?

Tenang itu hanya sebuah pertanyaan, pertanyaan yang memang sangat menyangkut pristiwa yang benar-benar merubah hidupku dan hidup sahabatku. Well, let’s begin the story.

Cerita ini berawal dari 15 tahun yang lalu, ketika anak tunggal dari keluarga Cho dan keluarga Joo bertemu. Awalnya hanya orang tua kami yang berteman, tapi karena seringnya kami bertemu, akhirnya dia menjadi teman sepermainanku.

Namanya Seo Joo Hyun, gadis polos nan lugu yang 2 tahun lebih muda dariku. Sifatnya yang pemalu membuatnya tidak mempunyai teman, dia berkata ‘Oppa lah, teman sekaligus kakakku.’ Yah itulah yang diucapkan gadis itu.

Bertahun-tahun berlalu, aku lulus dari Seoul Internasional Elementary School, meninggalkan Seohyun yang sendiri di tingkat 5. Akupun melanjutkan ke Seoul Internasional middle School, walau tak jarang aku menemui anak itu untuk sekedar bermain bersama.

Setelah aku dengar kabar ia lulus, ia putuskan masuk SMP yang sama denganku, dan kejadian yang paling aku takutkanpun terjadi. Yah, siapa yang bisa tau tentang rahasia hati? Sekian lama berteman aku mulai jatuh cinta padanya.

Tapi, mengingat status kami yang sudah bersahabat sejak kecil membuatku mengubur dalam-dalam perasaan itu, karena tidak mau persahabatan kami ternodai oleh hubungan kekasih.

Kembali aku lulus dari Seoul internasional middle school, dan melanjutkan ke Seoul internasional high school. Entah apa yang didalam otak Seohyun, dia terus masuk ke sekolah yang sama denganku.

Dan akhirnya kami bersama-sama di dalam satu kampus ‘Seoul University’ aku mengambil jurusan Seni Lukis dan dia mengambil jurusan Seni Musik Modern, aku yang sempat vakum kuliah selama 2 semester menjadikan aku dan Seohyun 1 angkatan.

Dan seperti hari-hari kuliah seperti biasanya, aku dan Seohyun kini sedang duduk dikantin kampus menunggu jam mata kuliah selanjutnya, “Ahhh! Bosan..bosan.” Gadis itu mengeluh ketika aku hendak melahap Tokoyaki yang baru aku beli.

Aku melihat ke arahnya, raut bosan memang sangat terpancar diwajah manis “Bosan? Sehabis kuliah kita pergi main, terserah kau tempatnya.” Sahutku sambil memasukan lahapan pertama ke dalam mulutku.

Seketika ekspresi Seohyun langsung segar, “Asyik! aku mau ke mall, membeli beberapa baju dan tas baru.” Ucapnya sambil meminum jus jeruk miliknya, aku memutar bola mataku sejenak.

“Oh yah, Seohyun. Apa kau sudah selesai dengan novel ‘Ichiban No Takaramono’ yang sempat aku pinjamkan? Aku ingin membacanya lagi. Jadi, cepat kembalikan.” Ujarku kearah gadis itu.

Ia terlihat terkejut saat aku mengajukaan pertanyaan tentang novel itu, “Ah…ahaha..novel itu yah…novel itu…..aku lupa menyimpannya dimana. MIANHAE!!” apa aku bilang, pasti ada yang aneh.

Aku tersenyum muram “Cepat cari, atau tidak semua jatah Tokoyakimu untukku.” Ujarku seraya menganyambar Tokoyaki milik Seohyun, “Ah, jangan oppa. Itu Tokoyaki terakhir disini.” larangnya dengan mencoba meraih Tokoyaki ditanganku.

“Pelupa, pendek, tempo lambat dan culun. Itulah Seohyun yang aku kenal.” Ujarku yang berhasil membuat gadis berpipi chubby itu menggembungkan pipinya, dia marah sepertinya.

Dan kejadian tidak mengenakan terjadi, saat Seohyun berusaha menggapai Tokoyaki di tanganku, tak sengaja ia malah menepisnya dan piring plastik berisi Tokoyaki itupun terbang bebas dan mendarat di wajah seseorang.

Melihat dengan hati-hati, dan sialnya yang terkena itu adalah salah satu mahasiswa yang paling di segani di SM University, Sehun. Anak dari Rektor kampus ini, terkenal tampan dan gagah di mata para mahasiswi.

“Astaga! Siapa yang melempar Tokoyaki? Ini makanan, malah di lempar-lempar.” Ketus Sehun, seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh kantin, membuat para Mahasiswa/i menundukan kepala mereka.

“Mianhae, jeongmal mianhae. Itu kesalahanku dan Seohyun, mohon maaf.” Ujarku sambil membungkuk, dan mencoba menyuruh Seohyun melakukan hal yang sama, dan untungnya gadis ini pintar.

“ah, tidak apa, namanya juga kecelakaan, Seo Joo Hyun yah? Dari Seni Musik Moderen?” tanya Sehun menunjuk ke arah Seohyun.

Seohyun terlihat kaget “N-Ne, kamu juga?” tanya Seohyun, Sehun hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman.

~Ichiban….~

 

Dan apa yang aku takukan sekarang? Berbulan-bulan berlalu, semenjak kejadian itu, saat aku dan Seohyun sedang bermain ataupun berdiam berdua, topik yang selalu tidak luput dari pembahasannya ada topik tetang Sehun.

Aku tidak heran jika ia jatuh cinta pada Sehun. Sehun sempurna, dia anak Rektor, pintar dalam akademik atau olah raga, dan juga tampan. Ah! Seharusnya aku sebagai sahabatnya senang melihat Seohyun yang sedang bahagia.

Tapi………perasaan apa ini? Sakit, sesak, rasanya seperti di himpit dua dinding besar dari kiri dan kanan. Apa aku salah tidak menyampaikan perasaan yang sudah hampir 10 tahun aku pendam? Tidak! aku tidak salah, itu adalah keputusan yang benar.

Aku hanya….aku hanya tidak ingin persahabatan kami putus begitu saja. Ayo namja bodoh! Kuatkan dirimu, jika Seohyun melihatmu cengeng dia akan menghawatirkanmu dan mungkin semua rahasiaku akan terbongkar, bahwa aku juga menyukainya.

“Kyuhyun~ah…..Kyuhyun~ah, turunlah ada yang ingin eomma sampaikan.”

Aku menyeka air mata yang sempat keluar, cegeng. Saat aku mendengar suara eommaku memanggil dari lantai bawah, aku langsung beranjak dari kamar dan berjalan menuruni tangga untuk menemui eomma.

“Ne, eomma ada apa?” tanyaku ke arah eommaku yang sedang sibuk di dapur.

Eomma tersenyum saat sedang mengocok adonan, “Eomma ingin tanya, berapa lama kau dan Seohyun berteman?” tanya eommaku, yang sontak membuatku terkejut, namun kubalas dengan senyum.

“Emh….kira-kira 19 tahun lebih.” Jawabku mengira-ngira.

“19 tahun dan apakah kau tidak sedikitpun menyukainya?” blush~ sekali lagi eommaku memojokan anaknya sendiri.

“Ah…ahaha, eomma ada-ada saja. Aku menyayanginya, sebagai mana kakak menyayangi adiknya.” Jawabku, DUSTA!.

“Benar? Tidak akan marah jika ada namja lain yang mendekatinya?”

“Selama namja itu bisa membahagiakan dan membuat Seohyun tersenyum, aku tidak masalah.” Jawabku kembali berdusta. ‘Tidak! jika jujur aku tidak mau ada satupun namja yang mendekati Seohyun, selain diriku. Tapi….’

Eomma menghembuskan nafasnya pelan, “Maaf eomma bertanya hal-hal aneh. Jujur Kyu, eomma dan appa menginginkan dirimu dan Seohyun menikah, tapi sekarang jaman sudah modern, perjodohan yang tidak dilandaskan cinta pasti akan hancur.”

“Eomma……” aku berdesis melihat ekspresi wajah eommaku.

Eomma tersenyum dalam kearahku, “Jika kamu tidak menyayanginya sebagai kekasih, dan malah meganggapnya sebagai adik, eomma tidak keberatan, mungkin juga kau sudah mempunyai calon lain. Yosh~ sekarang kau kerumah Seohyun antarkan kue ini kepada ibunya, yah?”

“eomma….Ba-baiklah, aku berangkat.” Dengan segera aku menyambar jaket dan kunci mobil yang tergeletak di meja, serta tidak lupa kue untuk ibu Seohyun yang sepertinya sangat khusus dibuatkan eommaku.

Melihat begitu besarnya keinginan eomma dan appa menjodohkanku dengan Seohyun, membuatku berpikir dua kali untuk menyatakan kembali perasaan yang selama 10 tahun sudah terkubur dalam.

Tapi aku juga bertanya kepada diriku sendiri, apa ini jalan yang benar? Apa ini pilihanku yang benar? Apa dengan ini persahabatanku masih bisa bertahan, walau Seohyun menolakku? Apa masih kami bisa berteman?

Tanganku mememukul pelan stir mobil, perasaan campur aduk memang kadang membuat tingkat emosi seseorang menjadi lebih besar dari biasanya. Tak lama berseling, aku sampai di depan rumah keluarga Seohyun.

Ah, sudah berapa tahun aku tidak berkunjung kesini, “Permisi, annyeong Haseo.” Aku menekan beberapa kali bel yang tersedia di depan pintu, tak lama seorang yeoja membuka pintu, dia adalah eomma Seohyun.

“Ah, Kyuhyun~ah sudah lama tidak bertemu, kau makin gagah dan tampan saja. Ayo silahkan masuk.” Sapaan hangat lah yang aku terima jika aku berkunjung kemari, eomma dan appa Seohyun sudah seperti bibi dan pamanku sendiri.

“Ano…ajumma, aku membawakan titipan dari eomma. Ini~” aku menyerahkan titipan eommaku, eomma Seohyun terlihat senang menerimanya “Ah, ghamsahamida, ucapkan salamku kepada ayah dan ibu mu yah.” Ujar eomma Seohyun.

“Dan siapa anak muda yang tampan ini?” tiba-tiba dari arah belakang ada yang memegang pundakku, dia adalah appa Seohyun, “Annyeong haseo, ajusshi. Sudah lama tidak bertemu.” Ujarku sambil membungkukka badan.

“Ah, sama-sama Kyuhyun. Yah sayang sekali Seohyun baru saja tadi keluar, di jemput seorang laki-laki, dan ajusshipun tidak tau siapa.” Ujar ajusshi, yah tidak apa itu pasti Sehun.

“Apa kau dan Seohyun sedang bertengkar? Ajumma lihat kau dan dia jarang sekali bersama sejak 3 bulan yang lalu, dan sejak 3 bulan itu Seohyun selalu di jemput pria yang tadi juga ke rumah.” Ucap Ajumma.

Aku tersenyum, “Emh….kamu tidak bertengkar, mungkin karena kami sedang sibuk dengan kuliah kami masing-masing, jadi jarang bertemu.” Jawabku, yang sebenarnya memang aku tidak pernah menemui Seohyun karena dia mungkin sedang sibuk dengan Sehun.

“Sebenarnya, Kyuhyun. Ajusshi, Ajumma, eomma mu dan appa mu sudah merencakan ingin menjodohkanmu dengan Seohyun. Tapi, melihat semua ini kami rasa rencana itu tidak akan berjalan. Tapi, ajumma ingin tanya apa kau mempunyai rasa untuk Seohyun? Jujur saja.”

Aku terdiam sejenak, memandang ke arah lantai rumah Seohyun ‘Apa yang harus aku katakan? Apa aku akan membohongi meraka semua? Tuhan!’ aku menghela nafas “Saya menyayanginya, sebagaimana kakak menyayangi adiknya.” BODOH! Rutukku kepada diriku sendiri.

“ah…yah…kau meganggap dia sebagai adikmu.” Aku melihat raut kecewa dari arah ajumma dan ajusshi, tuhan sudah berapa orang termasuk diriku yang aku bohongi?

Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, sudah waktunya aku untuk pulang dan bersiap masuk mata kuliah soreku. Aku pamit kepada ajumma dan Ajusshi dan bergegas pulang.

Sepanjang perjalanan pulang aku terus berputar-putar dengan pertanyaanku sendiri, beranikah aku menyatakan hal ini walau hal ini akan merusak persahabatan kami? Yah! Aku akan mencoba, walau persahabatan kami taruhannya.

Aku menyambar handphoneku dan mencoba menghubungi Seohyun, tak lama ‘tersambung.’

Seohyun ah kau dimana?

Aku di rumah, baru pulang dari kampus. Oppa?

 

Oh yah, aku habis dari rumahmu mengantarkan titipan eommaku untuk eommamu.

 

Ah, oppa..oppa. Bisa kita bertemu, sudah lama aku ingin berbincang denganmu, ada hal yang harus aku sampaikan. Boleh?

 

‘Ini kesempatan terbaikku.’

Yah boleh, mau dimana?

 

Cafe biasa, jam 7 malam. Bagaimana?

 

Baiklah, jangan pulang sebelum aku datang, aku juga punya hal yang ingin aku tanyakan.

 

Ah, baiklah. Akan aku tunggu. Bye, bye~

 

Ah, bye bye.

 

Ini kesempatan terbaikku, aku akan menyatakan perasaan yang sudah 10 tahun aku pendam kepada gadis itu. Aku tidak mau melihat lagi raut kecewa di wajah orang tua kami, walau aku di tolak aku tak peduli.

~…No…~

 

Jam 7 malam, aku duduk sendiri di dalam cafe langganan ku dan Seohyun. Cafe yang simple tapi selalu ramai di kunjungi orang-orang, tak lama Seohyun’pun datang dan menarik kursi duduk di hadapanku.

“Ah~ mian..mianhae, aku terlambat.”

“Tidak apa, aku juga baru sampai. Pesan apa? Seperti biasa?”

“Yap, boleh.”

Sementara kami menunggu pesanan kami terlebih dahulu mengobrol tentang hidup kami, entah kuliah, keseharian selama 3 bulan tidak bertemu, hobby kami dan tidak luput cerita masa kecil kami, yang tidak lain kami habiskan hanya berdua.

“Ah oppa/Ah Seohyun….”

Tak sadar kami berdua berbicara bersamaan, “Kau duluan Seohyun.” Aku mempersilahkannya untuk menyampaikan pertama, dia terlihat begitu senang, akupun tidak tau apa yang ia ingin sampaikan.

“Itu oppa, apa kau masih mengenal Sehun. Sekarang aku dan dia, RESMI BERPACARAN! Ah, senangnya.” Dia memelukku, sambil tersenyum begitu manis, berpacaran yah? Yah…yah…kalian sangat serasi.

Tunggu. Apa yang aku rasakan? Perasaan ini lagi. Sesak, kenapa? Kenapa aku tidak bisa bahagia mendengar sahabatku berpacaran? Dia masih memelukku dan masih dengan senyum manis yang dari dulu ingin aku miliki.

Namun, sekarang itu sudah tidak mungkin, senyum manis itu bukan untukku, tapi untuk namja bernama Sehun. “Oppa…..oppa, apa kau baik-baik saja?” aku terhentak, lalu tersenyum ke arah Seohyun.

“Oh, yah..bagus kalau begitu, kalian sangat serasi, aku do’a kan supaya kalian tetap bersama.”

“Amin, nah sekarang giliran oppa. Katanya ada yang mau di sampaikan, apa itu?”

Huh! Apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan membohongi sahabat terbaikku? Tapi jika aku mengatakan hal itu, hal itu akan membuatnya marah padaku dan persahabatan kami akan hancur. Tuhan.

“Ah itu….itu…ano, aku membeli game baru, mau kau bermain denganku?” BODOH! PABOYO! KYUHYUN NO BAKA! HOW STUPID YOU ARE! Aku merutuki diriku sendiri di dalam hati. Mianhae, mianhaeyo Seohyun~ah.

“Ah, boleh. Nanti setelah aku mengambil cuti kulih, sambil aku dan Sehun liburan bersama, oppa mau ikut?”

“Ti-tidak, itu liburanmu dan Sehun. Aku tidak mau mengganggu, bersenang-senanglah.”

Sesudah itu hatiku benar-benar hancur, perasaan yang hampir aku utarakan kini ku kubur kembali lebih dalam. Aku tidak mau perasaan ini tumbuh lagi, aku putuskan untuk tidak menemui Seohyun selama beberapa bulan lagi, dan menghindari pertemuan dengan orang tuanya.

Aku, aku hanylah namja bodoh, yang takut kehilangan sabahatnya dan mengorbankan perasaannya sendiri, saat dia sudah dimiliki namja lain aku hanya bisa diam, dan tersenyum untuk menutupi sakit hati.

~…Takaramono~

 

=== 4 Year Later ===

Yah, janjiku tidak akan menemui Seohyun untuk beberapa waktunya nyatanya benar-benar aku lakukan. Sudah 4 tahun aku tidak bertemu dengannya, aku sudah lulus dari Seoul University, dan sempat bertemu dengan orang tua Seohyun saat acara kelulusan.

Dan sekarang Cho Kyuhyun, namja pabo yang baru pulang dari Canada setelah 1 tahun mengurus perusahaan appaku yang terdapat disana. Ah, aku merindukan Seoul dan semua keluargaku.

Aku sudah tenang sekarang, saat aku dengar Seohyun bertunangan dengan Sehun entah kenapa tidak ada sedikitpun rasa sakit hati, yang aku rasakan hanya rasa senang melihat sahabatku akan segera menikah.

Sekarang aku hanya perlu pulang, bertemu keluargaku, mengunjungi keluarga Seohyun dan memberi selamat kepada dia dan juga Sehun tentunya. Ah, dan mungkin aku akan bersenang-senang sedikit dengan teman lamaku.

Tak lama dari arah bandara aku naik taksi untuk pulang. Perjalanan pulang kuhabiskan dengan menatap keluar jendela taksi, suasana Seoul yang begitu ku rindukan memang memanjakan mataku sekarang.

Sesampainya dirumahku, aku membayar taksi itu dan masuk kedalam rumah “Aku pulang. Eomma, appa.” Aku membuka pintu rumahku, namun tidak ada siapa-siapa disana, tak lama salah satu asisitem rumahku menyambutku.

“Tuan muda Kyuhyun, anda pulang. Tuan dan Nyonya sedang keluar, aku akan membawakan koper anda.” Ujarnya sambil membawa koperku.

“Memang kemana eomma dan appa?” tanyaku.

“Apa mereka tidak mengabari anda? Saat 1 minggu sebelum pernikahan nyonya Seohyun, insiden menimpa dia. Saat pulang dari kantor mobilnya tertabrak truk dan masuk jurang, tapi untunglah nyonya Seohyun selamat, dia sekarang ada di rumah sakit bersama appa dan eomma anda.”

Marah? Sedih? Yah itu yang aku rasakan sekarang, tak pikir panjang aku mengambil kunci mobilku dan melaju langsung ke arah rumah sakit Seoul yang tak jaduh dari rumah kami.

Perasaan khawatir menyelimuti kembali diriku, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa bisa? Seohyun akan segera menikah, Tuhan kau memang membuat kejutan yang sangat hebat.

Sesampainya disana ku perkirkan mobilku dan berlari masuk ke arah rumah sakit, bertanya kepada resepsionis nomor kamar Seohyun, dan setelah mengetahuinya aku langsung berlari ke kamar itu.

Kedua mataku melihat semua orang disana, termasuk Sehun dan kedua orang tuaku. Aku berjalan perlahan mendekati mereka “Ap-apa yang terjadi pada Seohyun?” tanyaku yang membuat semua pasang mata tertuju padaku.

“Kyuhyun~ah? Kau pulang.” Orang tua Seohyun dan orang tuaku memelukku dengan penuh rasa rindu, aku sapa Sehun yang terlihat sangat terpukul disana.

“Sehun?” sapaku.

“Ah, pasti Kyuhyun. Senang bertemu denganmu.”

“Aku juga. Kenapa dengan Seohyun?”

“Jadi begini ceritanya. Saat itu aku sedang di luar kota, mengurus kantor appaku, dan malam saat sesudah aku dan Seohyun memilih baju pengantin, dia di panggil ke kantornya malam-malam, saat ia hendak pulang kecelakaan terjadi. Kami tidak tau apa yang terjadi pada Seohyun.”

Aku melihat namja itu sangat terpukul, yah aku bisa merasakan hal yang sama “Tenanglah, kita berdoa supaya Seohyun selamat dan tidak apa-apa.” Ujarku seraya mengusap pundak namja itu.

“Yah, kau benar. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga Seohyun.”

“Itu bukan salahmu. Bersabarlah.”

Apa-apaan ini? Aku baru saja pulang dari Canada, dan Seohyun mengalami kecelakaan. Apa yang harus aku lakukan? Sehun terlihat sangat terpukul dengan kejadian ini. Aku kasihan padanya.

Tak lama tim dokter keluar dari arah ruang Seohyun, kami mendekati dokter itu dan menanyakan keadaan Seohyun, “Syukurlah, Seohyun selamat. Tapi….maaf sekali, akibat benturan yang keras antara truk dan mobil Seohyun, sekujur tubuhnya mengalami kelumpuhan total.”

Lu-lumpuh? Seohyun lumpuh?

“Apa yang anda maksud dokter?” tanyaku ke arah dokter itu.

“Yah, Seohyun selamat ia hidup, masih bisa membuka mata dan masih bisa berkomunikasi, tapi tubuh dari pundak sampai kaki mengalami kelumpuhan total. Dia tidak akan bisa melakukan apapun sendirian.” Jelas dokter.

Sehun terduduk di atas lantai rumah sakit dengan wajah yang putus asa, aku hanya bisa menyembunyikan mata yang mulai berair. Dan lalu kami semuanpun masuk ke dalam ruang rawat Seohyun.

Tak lama gadis polos yang kukenal itu siuman, walau wajahnya terlihat sayu dan lelah “Hai, semua. Oppa, apa itu kau? Kau pulang.” Ujar Seohyun ke arahku.

Tadaima(1)*….Seohyun.” ucapku.

Okerinasai(2)*, Oppa.” Jawab Seohyun, dengan senyum yang menyayat hati siapapun yang melihat itu, lemas, letih dan sayu. Seohyun. “Tunggu, kenapa aku tidak bisa menggerakan tubuhku?” ia bertanya, tidak ada satupun yang mau menjawabnya.

“emh…kenapa? ayolah jawab aku…..aku….aku menerima apapun yang terjadi.” Ujarnya, dia sangat pasrah. Ya tuhan, kau kejam sekali.

1)* Aku pulang 2)* Selamat datang.

 

~….Ichiban No Takaramono~

Beberapa bulan kemudian, Seohyun sudah mengetahui keadaanya tapi ia masih bisa tersenyum. Setiap, hari setiap saat eomma Seohyun selalu menjaga di kamar Seohyun, yah orang tua Seohyun memutuskan untuk membawa pulang Seohyun dan menjaganya dirumah.

Seohyun tak bisa melakukan apapun seorang diri, makan, minum, ganti baju, bahkan mandipun semua dibantu entah oleh asisten rumah atau oleh eomma Seohyun. Rencana pernikahanpun ditunda dan masih tidak jelas.

Semakin hari, Sehun semakin jarang mengunjungi Seohyun, ia berkata akan sangat sibuk mengurus perusahaan appanya, Seohyun bisa mengerti. Aku, aku hanya bisa menemani saat eomma Seohyun sedang menemani Seohyun.

Seperti sekarang, aku datang dengan membawa bunga kesukaannya, Sakura.

“Pagi, Seohyun. Bagaimana kedaanmu hari ini?” tanyaku yang batu masuk ke dalam kamarnya.

“Baik, oppa? ah Sakura.” Ia terlihat senang, setiap kali aku membawakannya Sakura untuknya. “Bosan, bosan. Setiap hari berbaring tidak bisa melakukan apapun.” Ujarnya, aku mengepal erat telapak tanganku.

“Apa yang ingin kau lakukan?” tanyaku.

“Banyak! Mo ippai (3)*! Bermain golf, menonton pertandingan Baseball, karoke.” Ujarnya dengan senang, 3)*Banyak sekali.

 

“Yosh~! Aku kita lakukan. Ajumma, apa aku boleh mengajak Seohyun keluar?” tanyaku ke ara eomma Seohyun.

“Emh? Boleh, tapi sebelum sore kalian harus sudah pulang.” Jawabnya.

“Baiklah. Aku akan menggendongmu ke kursi roda, tenang saja.” aku langsung memangkunya ke arah kursi roda, dia terlihat malu dan wajahnya memerah. “Aku harap tunanganmu tidak membunuhku karena aku memangkumu. Ahaha.” Ujarku bermaksud membuatny tertawa.

Aku mendorong kursi roda Seohyun ke arah taman, untuk sekedar mengajaknya bermain golf, walau aku tau akan sangat sulit baginya bermain golf dengan kursi roda. Tapi harus berusaha bukan.

Waktu menunjukkan pukul 11 pagi, masih ada waktu untuk menonton pertandingan Baseball di lapangan dekat taman tadi. Dan untunglah ada jalur khusus pemakai kursi roda, jadi tidak perlu berhimpitan dengan orang lain.

Dan pertandingan baseball itu berakhir tepat jam 1 siang, kini aku mengajaknya makan siang di sebuah restoran. “Eh, Seohyun aku akan menelepon Sehun, dan mengajak dia makan siang bersama kita, boleh?” tanyaku.

“Silahkan. Jika ia mau, sudah beberapa minggu ini aku tidak bertemu dengan Sehun. Aku rindu padanya.” Ujarnya dengan senyum.

Aku meneleponnya, namun beberapa menit menunggu tidak ada jawaban dari handphonenya. Tak lama setelah aku tutup, ada sebuah pesan masuk berisi ‘Mianhae, aku sedang rapat dengan client, bisa hubungi lagi nanti.’ Itulah isinya.

“Seohyun…….”

“Oppa…” ia memotong perkataanku “Bukankah itu Sehun, bersama seorang gadis.” Ujar Seohyun, yang pandangannya mengarah ke sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang makan bersama.

“Tapi Sehun tadi SMS dia sedang rapat, apa rapatnya di restoran? Apa gadis itu clientnya? Kenapa sangat mesra…Agata! mereka…mereka…”

“Oppa! ayo kita datangi dia.” Ujar Seohyun yang sedikit geram.

Dengan terpaksa aku mendorong kursi roda Seohyun kearah meja Sehun, dan benar saja itu Sehun bersama Seorang gadis. Tapi siapa? Clientnya? Tapi merka sangta mesra. Apa jangan-jangan?

“Kyu….Kyuhyun hyung…Seo…Seohyun~ah.” Ia terlihat kacau, ia kaget saat melihat kami, seperti melihat hantu di siang bolong.

“Siapa merah Sehun~ah?” tanya gadis yang duduk bersamanya.

“Aku….aku tunangan namja ini.” Ujar Seohyun.

“Huh!? Jangan macam-macam yah, mana bisa Sehun bertungan dengan gadis…cih, lumpuh sepertimu.” Dia…seorang gadis tapi mulutnya.

“Jaga bicaramu nona, tak peduli kau seorang gadis, aku tak segan menamparmu karena sudah berkata kasar pada sahabatku.” Ujarku pandangan tajam ke arah yeoja itu.

“Sehun, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Seohyun.

“Emh…eto….Yah! aku jujur, aku selingkuh darimu Seohyun. Aku….aku tak kuat, aku tak bisa menikahimu, kau….aku lumpuh Seohyun aku tak bisa jika aku menikahimu, aku akan mengurusmu selama. Aku tak bisa.”

“Sehun…….” Seohyun terlihat kaget dengan pernyataan terang-terangan dari Sehun. “Emh…yah, memang aku gadis tak berguna. Kalau begitu, terima kasih untuk selama ini, cincin ini aku kembalikan.” Seohyun memintaku melepas cincing di jari nya dan menaruhnya diatas meja.

“Kyuhyun oppa, tolong. Aku ingin pulang sekarang.” Ujarnya, aku hanya bisa menurutinya.

“Kau….kau akan menyesali perbuatanmu, Sehun!” aku ancam anak itu, dari dulu aku memang tidak suka sifatnya. Dia playboy di kalangan mahasiswi Universitas Seoul, tapi melihat Seohyun begitu mencintainya aku tak berani mengatakannya.

Dia cukup bersenang-senang hari ini dan juga cukup merasakan sakit hati dalam waktu yang sama. “Seohyun apa kau baik-baik saja?” tanyaku saat perjalanan menuju rumah Seohyun.

“Aku baik-baik saja, oppa. Lucu yah, Tuhan sudah mengambil fungsi tubuhku, aku tidak bisa berjalan, ataupun menggerakan satu jaripun, bahkan aku tidak bisa mempunyai anak, dan sekarang tunanganku meninggalkanku. Tuhan sangat senang mengambil kebahagiaan yang aku miliki.”

“Tidak, Seohyun kau masih mempunyai orang tua yang sangat menyayangimu dan aku yang akan selalu menjadi sahabatmu. Tuhan tidak akan bisa mengubah itu, aku akan selalu menjadi sahabatmu.”

“Oppa. Apa kau tau aku mempunyai satu permintaan lagi?”

“Apa itu Seohyun?”

“Sebenarnya aku sangat ingin menikah. Yah, menikah adalah suatu kebahagiaan terbesar seorang perempuan, mengabdi kepada suami yang dicintai dan juga mencintai.”

Kami sampai, aku masuk dan seperti biasa aku menidurkan Seohyun di atas ranjangnya dibantu eommanya. Seohyun menjelaskan semua kepada eommanya, dan hanya anggukan mengerti serta helaan nafas kasian yang terlihat.

Eomma Seohyun sudah menerima itu semua, dan memutuskan untuk memutuskan hubungan dengan keluarga Sehun, karena itu sama saja dengan penghinaan secara tidak langsung.

“Dan sekarang eomma, aku tidak memiliki siapapun. Namja yang aku harap menjadi suamiku ternyata bukan jodohku. Dan sekarang hapus sudah keinginanku untuk menikah. Eomma, aku ada 1 permintaan.”

“Apa itu Seohyun~ah?”

“Apa eomma keberatan untuk mengurusku? Karena jujur saja aku tidak bisa melakukan apapun sendirian, jika aku merepotkan eomma dan appa, kalian bisa meninggalkanku. Tinggalkan anak kalian yang tidak berguna ini.”

“Seohyun~ah….kau tidak seharusnya berbicara seperti itu, sampai kapanpun, sampai ajal menjemput eomma dan appa akan selalu mengurusmu. Kau adalah anugrah Tuhan paling indah yang eomma terima.”

Ini…..ini semua…apa ini? Takdir? Kenapa harus Seohyun yang menerima ini semua? Tuhan! Apa kau tidak melihat, apa kau tidak tau Seohyun adalah orang yang paling baik, tapi kenapa…kenapa kau merenggut segalanya darinya? Aku……aku…..

.

.

.

“Aku akan menikahimu! Aku….aku akan mengurusmu.”

“Kyuhyun oppa? Ta-tapi….aku lumpuh, kau tau itu.”

“Sudah aku bilang aku akan menikahimu. Aku tak peduli penyakit apa yang kau derita, aku tak peduli kau tidak bisa berjalan atau bergerak dan bahkan tidak bisa mempunya anak, aku akan tetap menikahimu. Walau aku harus menunggu selama enam ribu tahun untuk menjadi suamimu, aku akan menikahimu.”

“Oppa…..”

“Membuatmu tersenyum, membuatmu bahagia…walau tidak ada seorang anak di dalam hidup kita aku akan menerima itu semua. Aku menerima semua kekuranganmu, Seohyun. Aku akan menikahimu.”

“Oppa, benarkah?”

“Yah, apa kau menyukai itu Seohyun? Six Billion Against 1 odds. Aku akan menikahimu dan mengurusmu sampai ajal menjemput kita. Saksinya adalah langit, bumi dan eommamu Seohyun.”

“Eh, oppa. Aku mengerti sekarang, terima kasih. Kyuhyun oppa….”

“Ne, Seohyun?”

Anatawa……anatawa Ichiban No Takaramono. Saranghaeyo oppa.”

 

“Seohyun~ah nado…nado saranghae, Orewa daisuki dayo!!!!”

 

~FIN~

 

I want to marry you

No matter what sickness you have, i still mary you.

Even you can walk or stand, i still marry you.

Even we can’t have a child, i still marry you.

Six Billon Aginst 1 Odds

– Hinata To Yui –

Ultimate promise of Angel Beast.


14 thoughts on “Ichiban No Takaramono [Side Story From Starduster]

  1. annyeong~
    ya ampun kisahnya sedih banget…kasian seonya,…tapi syukurlah ada kyu yang bakalan ada disamping seo forever…
    adain sequel donk thor…seru banget….gomawo…

    Like

  2. Annyeong..
    Tragis bgt kisahnya Seohyun. Tp Kyuhyun oppa tetap setia.
    Ada bbrp typo. Salah satunya tokoyaki, seharusnya takoyaki. Alurnya menurutku juga tlalu cepat. Tp tetap smangat ya chingu. Keep writing.

    Like

  3. Yah Sehun oppa selingkuhan playboy -_- kalo orang punya kekurangan seperti aku yang tidak bisa berjalan itu tak apa anu’grah dari Tuhan ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s