[Freelance] New Life #1


NEW LIFE (PART 1)

CAST: Kim Jongin, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Joonmyeon, Eun So [OC], Bibi Nam [OC]

AUTHOR: AAL (@adlnayu)

GENRE: Family, romance.

LENGTH: Chapter

SUMMARY: Bagaimana rasanya hidup kita berubah dalam sehari? Aku yang yatim piatu ini tiba-tiba saja memiliki keluarga. Dikelilingi oleh kakak-kakak tiri dan adik yang mengidap autisme, bisakah aku menerima mereka layaknya sebuah keluarga normal?   -Kim Jongin

Notes: FF ini pernah di post di Hazelwine.wordpress.com (blog pribadiku)

 gvhb

Aneh rasanya merasakan rintik-rintik hujan jatuh membasahi tubuhku padahal sekarang adalah puncak musim panas. Memang hanya gerimis biasa, namun tetesan air yang jatuh ini seakan menandakan bahwa langit pun ikut menangis mengantarkan kematian seorang pria.

Tepat dihadapanku, berdirilah sebuah batu nisan yang bertuliskan nama seorang pria. Pria yang katanya adalah ayahku.

 

Kim Junmyeon.

 

Dua hari yang lalu sebuah surat misterius datang ke  panti asuhan tempat dimana selama ini aku tinggal. Surat berwarna cokelat muda dengan ukiran disana sini hanya berisi sepotong kalimat. Mengabarkan bahwa seorang bernama Kim Junmyeon telah meninggal dan aku diundang datang ke pemakamannya.

 

Sebagai anaknya.

 

Ingatanku tentang seorang bernama Kim Jungmyeon bisa dibilang sebuah nol besar. Yang kudengar adalah, orang bernama Junmyeon ini berselingkuh dengan ibuku padahal saat itu istrinya sedang hamil anak ke empat. Istrinya pun murka, dan ia tidak mengijinkan ibuku masuk ke dalam lingkaran keluarganya.

 

Ibu yang saat itu tengah mengandungku, diusir dari rumah mewahnya. Berbekal uang tabungan yang tidak begitu banyak ia membeli sebuah apartemen kecil di kota besar yaitu Seoul dan berencana hidup berdua denganku disana.

 

Sayangnya kebahagiaan kecil itu tidak berlangsung lama. Saat umurku lima tahun ibuku meninggal dunia akibat sakit TBC nya yang sudah lama menggerogoti tubuh nya yang lemah. Tetanggaku yang tidak tega melihat seorang bocah laki-laki kecil yang menangis keras disamping peti ibunya, akhirnya menitipkanku ke sebuah panti asuhan yang ada di Busan.

 

Aku tumbuh besar tanpa mengenal sosok ayahku sedikitpun. Teman-teman ku di panti, sering mengeluh bahwa mereka merindukan ayahnya. Aku hanya bisa diam sambil sesekali mengelus punggung mereka, namun dalam hati diriku kerap bertanya.

 

Siapa ayahku? Dimana dia?

 

Dan pertanyaanku terjawab tiga belas tahun kemudian. Diiringi oleh surat misterius itu, dengan berani aku meninggalkan Busan dan kembali ke Seoul. Kota yang pernah menjadi kenangan dengan ibuku walaupun hanya sekejap saja.

 

Seorang pria berpakaian kemeja putih dan jas hitam berlari tergopoh. Menutup kepalanya dengan sebelah tangan, “Kim Jongin?” tanyanya dengan agak berteriak. Hujan yang entah mengapa turun makin lebat menenggelamkan suara yang dikeluarkan oleh pria itu.

 

Aku mengangguk.

 

“Kalau begitu, ayo ikut aku. Kita bicarakan semuanya di Rumah.”

 

Aku tidak mengerti dan tidak tahu apa yang ia sebut dengan rumah. Rumah siapa? Dimana? Apa aku termasuk dalam salah satu penghuninya?

 

Perjalanan menggunakan mobil ini membuat dadaku terasa sesak. Terhimpit oleh beribu pertanyaan yang menyeruak keluar.

 

~NEW LIFE ~

 

Dari perjalanan ini, aku jadi mengetahui sesuatu. Pria yang sedang menyetir di sebelahku ini bernama Kyungsoo. Dan dia adalah kakakku. Tepatnya kakak tiriku.

 

Kyungsoo adalah anak ketiga dari hasil perkawinan Junmyeon dengan istri sah nya. Dan baru kutahu juga bahwa istrinya telah meninggal dua tahun yang lalu. Ditambah dengan Junmyeon yang baru saja meninggal itu berarti anak-anak keluarga Kim sekarang yatim piatu.

 

Kyungsoo bercerita banyak tentang Junmyeon dan keluarganya. Junmyeon yang sudah lama mengidap penyakit jantung ternyata sudah siap bila ajal menjemputnya sewaktu-waktu. Karena itu ia sudah menyiapkan surat wasiat dengan namaku tercantum disana.

 

Diatas kertas yang sudah mulai menguning itu, bertuliskan bahwa aku, Kim jongin, akan tinggal di rumah besarnya saat ia meninggal nanti. Dan harta warisannya yang aku sendiri tidak tahu berapa besarnya telah dibagi lima. Empat untuk anak hasil perkawinannya dengan istri sah nya, dan satu untukku.

 

“Kami tidak mempersoalkan warisan itu. hanya saja sebagai anak, Kami merasa wajib untuk memenuhi permintaan terakhir ayah. Yaitu membawamu pulang ke rumah.”

 

Ia berkata seakan aku ini seperti sebuah barang yang mudah untuk dipindah-pindah saja. Tapi sekarang bukan waktunya untuk merasa tersinggung. Uang yang kubawa tidak cukup untuk menyewa apartemen disini. Dan tawarannya untuk mengajakku tinggal di rumah mereka adalah sebuah anugrah yang patut untuk disyukuri.

 

Sedan hitam ini berbelok memasuki kawasan perumahan mewah dengan pagar tinggi yang terpasang di setiap rumah. Rintik-rintik hujan masih turun membasahi saat aku sudah sampai di depan sebuah rumah bertingkat dua. Seakan-akan memberi ucapan selamat datang untukku yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari rumah ini.

 

Kyungsoo menekan bel yang terpasang disamping pagar sambil mengatakan sesuatu lewat interkom. Aku tidak begitu memperhatikan apa yang ia lakukan selanjutnya karena kedua mataku sendiri sudah membulat saat melihat pagar itu terbuka otomatis dan menampakan sebuah rumah besar yang berdiri kokoh diatas tanah.

 

Rumah dengan gaya Victorian kini berdiri megah di hadapanku. Cat putih yang melapisi hampir seluruh rumah ini terlihat sangat bersih. Membuat kesan seakan rumah ini tertutupi oleh tumpukan salju. Pintu utama nya yang berbahan dasar kayu jati terukir dengan indah disetiap sisi. Tamannya yang luas dilengkapi oleh air mancur bertingkat tiga yang membuat rumah ini terkesan kian mewah.

 

Setelah Kyungsoo memakirkan mobilnya di basement bawah tanah ia mengajakku untuk memasuki rumah yang lebih mirip istana ini.

 

Jantungku berdebar cepat saat Kyungsoo meraih gagang pintu dan membukanya. Dengan ragu kaki ku bergerak memasuki rumah itu. berjalan dengan hati-hati takut tanganku menyenggol sesuatu yang mahal dan merusaknya. Walaupun ia sudah bilang bahwa aku sudah menjadi bagian dari rumah ini, separuh hatiku masih merasa tidak pantas.

 

Kyungsoo mulai menjelaskan tentang denah rumah ini. seperti dimana letak kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga (aku baru tahu kalau ruang tamu dan ruang keluarga itu berbeda), dapur bersih, dapur kotor (kalau yang ini sumpah aku benar-benar tidak mengerti dimana letak perbedaannya). Ia juga menjelaskan karena kamarku belum siap untuk ditinggali, terpaksa aku harus memakai kamar tamu untuk sementara.

 

Aku sih tidak begitu peduli dengan masalah kamar. Aku sudah terbiasa tidur berhimpitan dengan teman-teman ku di panti asuhan. Jadi bila Kyungsoo menyuruhku untuk tidur di sofa pun, tidak akan menjadi masalah besar bagiku.

 

“Kamarmu ada di lantai dua. Lurus lalu belok ke kiri. Di sebelah kanan adalah kamar milik Chanyeol Hyung. Dan kamar yang paling ujung itu milik Baekhyun hyung. Sedangkan kamarku ada di lantai satu disamping ruang keluarga.”

 

Hyung? Apa mereka….”

 

“Ya. Mereka kakak tirimu juga. Sama sepertiku.”

 

Aku tidak tahu harus merespon apa sehingga mulutku hanya bisa membuka dan mengeluarkan suara, “Oh.”

 

“Kalau boleh tahu, kapan ulang tahunmu?”

 

“em… 14 Januari 1994.”

 

“Kalau begitu, kau kakaknya.”

 

“Hah?” aku mengerutkan kening tidak mengerti.

 

Kyungsoo lalu membawaku ke ruang keluarga yang berada di lantai satu. Ruang keluarga itu dilengkapi oleh satu set sofa mewah berwarna abu-abu. TV flat 32 inch bertengger diatas sebuah lemari mungil yang berisi tumpukan DVD. Meja bulat yang berada di depan sofa menyediakan cemilan berbagai merek. Tapi bukan itu semua yang menarik perhatianku.

 

Melainkan sesosok pemuda yang sedang duduk meringkuk dipinggiran sofa. Pemuda itu memakai piyama bergambar Tom & Jerry yang kebesaran di tubuhnya yang kurus. Warna kulitnya yang putih pucat sangat berkebalikan dengan milikku yang sawo matang. Rambut cokelatnya yang tumbuh panjang menutupi sebagian wajahnya. Membuatku tidak bisa memperhatikannya lebih jelas.

 

“Kau lahir Januari kan? Berarti anak itu adikmu.”

 

“Sebenarnya apa maksudmu? Siapa dia?” tanyaku pada Kyungsoo yang sekarang sedang berjalan mendekati pemuda itu. Ragu, aku pun ikut berjalan mengikutinya.

 

“Dek, Kenalkan, ini kakak barumu.” Kyungsoo menepuk pelan pundak pemuda itu.

 

Aku memiringkan kepalaku untuk memperhatikannya lebih jelas. Tangan kiri pemuda itu menggenggam satu buah potongan puzzle. Sedangkan tangan kanannya menggenggam satu buah keping lego. Ia mendongak saat dipanggil. dan mata hazel itu langsung menatap manik milikku.

 

“Ayo, ucapkan salam padanya.” Kata Kyungsoo lagi, sambil sesekali mengelus surai cokelat milik pemuda itu.

 

Pemuda itu menatapku dari ujung kaki hingga kepala tanpa berkedip. Kedua kakinya yang disilangkan bergerak ke kiri dan ke kanan secara perlahan. Setelah sepertinya puas mengamatiku, ia menaruh kepingan puzzle itu diatas meja lalu mengambil mobil-mobilan Hot wheels yang ada disana lalu mulai memainkannya.

 

Kyungsoo menghela nafas. Ia menarikku menjauh dari pemuda tadi lalu berbisik, “Ia adalah anak ke empat dari perkawinan ibu dan ayahku. Saat ibu sedang hamil dia, beliau stress berat karena saat itu ayah ketauan selingkuh dengan ibumu. Imbasnya adalah ia melahirkan seorang anak laki-laki yang autisme.”

 

“jadi…a-anak itu..adikku?”

 

Kyungsoo mengangguk, “Namanya Sehun. Kalian seumuran. Tapi karena ia lahir di bulan april, kau lah kakaknya.” Sesekali Kyungsoo mencuri pandang ke arah Sehun yang sedang mengangkat mobil-mobilannya tinggi-tinggi, “Ia mengidap autis semenjak umur dua tahun. Tapi tenang saja, ia tidak akan berbuat macam-macam padamu selama kau tidak menyentuh mainannya.”

 

Melihatku yang hanya bisa mendengar penjelasannya dengan mulut menganga dan kedua mata yang hampir copot , Kyungsoo menarikku ke ruang tamu lalu menunjukan sebuah foto keluarga yang besar terpasang di salah satu dinding.

 

Didalam foto itu terdapat seorang pria yang sedang duduk di sebelah istrinya. Di belakang mereka berdirilah tiga orang pemuda yang memakai setelan jas berwarna hitam. Sang istri sedang mendekap seorang anak kecil yang sedang mengulum lollipop. Diantara keenam manusia itu, hanya sang anak saja yang tidak menghadap kamera.

 

“Foto itu diambil saat aku berumur Sembilan tahun.” Kyungsoo menjelaskan, ia menunjuk dua pemuda yang sedang tersenyum memperlihatkan gigi mereka yang rapih sempurna, “Yang berdiri diantaraku ini adalah Chanyeol Hyung dan Baekhyun Hyung

 

“ini ibuku. Namanya Kim Soo Yeon. Dan anak yang sedang ia pangku ini adalah Sehun. Saat itu ia masih berumur delapan tahun.” Tangannya bergerak menyentuh wajah seorang pria dewasa yang sedang tersenyum lebar, “dan ini adalah ayahku. Ayah kita. Kim Junmyeon.”

 

Aku mengamati wajah pria itu. sebersit perasaan aneh merasuki relung hatiku saat melihat rahangna yang begitu mirip dengan milikku. Seakan mengingatkan bahwa didalam diriku mengalir darahnya. namun ada sebersit amarah yang tiba-tiba saja hinggap menghantui. Amarah bahwa seharusnya aku juga menjadi bagian dari foto ini.

 

“Kau pasti capek kan? beristirahatlah. aku ada di kamarku jika kau membutuhkan bantuan.” Kyungsoo menepuk pelan pundakku sebelum berbalik pergi dan berjalan menuju kamarnya.

 

Aku masih terdiam membeku menatap foto itu. kedua mataku menatap lekat pria yang sedang tersenyum lebar. Bibirku yang bergetar perlahan terbuka, dan berkata “Apa yang sedang kau rencanakan……Jumyeon-ssi?”

 

~NEW LIFE ~

 

Istirahat dua jam itu benar-benar kupergunakan sebaik mungkin. Cerita yang Kyungsoo beberkan tentang keluarga ini benar-benar mengusik pikiran dan hatiku. Tentang ayahku yang baru saja meninggal, ibu tiriku yang mengusir ibu kandungku dari lingkaran keluarganya, ketiga kakak tiriku, dan adik tiri yang mengidap autisme.

 

Benang-benang keluarga ini terasa begitu rumit untuk dipahami juga untuk diterima.

 

Kepalaku terasa berdenyut hebat. Mungkin segelas teh hangat mampu mengusir rasa sakit yang hinggap di kepalaku ini.

 

Aku menuruni tangga melingkar ini menuju dapur. Lalu seketika teringat sesuatu.

 

Teh nya ada di dapur kotor atau bersih yah?

 

Ah,sudahlah. Dapur yang manapun jadi. Yang jelas aku harus merasakan hangatnya teh secepat mungkin kalau tidak mau sakit kepala ini menjalar ke seluruh tubuhku.

 

Aku membuka lemari yang berisi bahan makanan dan menemukan sebungkus teh  merek twinings berwarna hijau. Tanganku sedang sibuk menyeduh air panas sampai sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku.

 

“Apa yang sedang kau lakukan?”

 

Aku terlompat kaget saat menemukan seorang perempuan tua sedang berdiri dibelakangku. Rambut perempuan itu sudah beruban disana sini. Bercak hitam terdapat di kedua sisi matanya. Tangannya yang keriput menyentuh wajahku, “Kau pasti yang bernama Tuan Jongin kan?”

 

“i-iya. bibi siapa?”

 

“Aku Bibi Nam. Pembantu rumah ini.” ia menatap wajahku lekat, “kau benar-benar mirip dengan Tuan Junmyeon.”

 

“ha? Ahahaha…terimakasih bibi.”

 

Bibi Nam hanya mengangguk sambil tersenyum. Namun ketika ia melihat aku sedang merebus air. Ia kembali berkata “Kau ingin membuat teh? Biar bibi buatkan saja ya. Kau duduklah di ruang keluarga sambil menemani tuan muda Sehun bermain.”

 

Glek.

 

Mendengar nama pemuda itu disebut tengkukku langsung merinding. Bukannya aku merasa segan dengannya, namun saat tahu bahwa ia mengidap autisme aku jadi sedikit…takut.

 

Seperti bisa membaca pikiranku, Bibi Nam berkata, “Tenanglah. Asalkan kau tidak menyentuh mainannya, ia tidak akan macam-macam padamu.”

 

“ta-tapi…”

 

“lagipula ini kesempatan untuk dekat dengannya. Bagaimana pun juga kalian tetap keluarga. Ingat?”

 

Keluarga. Kata yang dulu terdengar begitu asing ditelingaku. Namun sekarang aku sudah menjadi bagian dari salah satu keluarga. Dan detik ini juga aku berjanji tidak akan mengecewakan orang-orang didalamnya, “Baiklah bibi.”

 

Bibi Nam tersenyum, “Jika kau ingin buah-buahan. Ada Melon dan semangka di kulkas. Ambil saja semaumu.”

 

“terimakasih bibi.”

 

Aku menggerakan kakiku pada sebuah kulkas bertingkat empat dan kedua mataku membulat saat melihat di pintu kulkas ini penuh dengan kertas-kertas bergambar dengan crayon.

 

Mataku meneliti kertas itu satu persatu. Ada gambar mobil-mobilan, rumah, robot, hewan, dan manusia.

 

Aku menyentuh gambar seorang pria yang sedang menggandeng seorang anak laki-laki. Seorang pria itu memakai jas sedangkan anak laki-lakinya sedang mengulum permen lollipop. Dibawahnya terdapat tulisan hangul yang ditulis dengan crayon berwarna kuning.

 

Ayah dan Aku.

 

“itu adalah gambar-gambar Tuan muda Sehun.” Bibi Nam tiba-tiba menjelaskan, “Ia selalu menempelkan gambar buatannya di kulkas ini. Jika ia menggambarmu dan menempelkannya juga itu berarti kau berharga untuknya.”

 

Aku mengangguk mengerti dan kembali mengamati. Sepertinya hampir semua orang di rumah ini pernah di gambar oleh Sehun. Aku dapat membaca semua tulisan hangul yang ia tulis.

 

Chanyeol Hyung, Baekhyun Hyung dan Aku. Kyungsoo Hyung dan Ayah. Bibi Nam dan Aku. Ibu dan Aku. Eun So dan Aku.

 

Siapa itu Eun So?

 

~NEW LIFE ~

 

“Ha-Halo Sehun-ah.”

 

Pemuda bernama Sehun itu mengangkat wajahnya dari buku gambar yang sedang ia corat-coret. Kedua matanya yang berwarna hazel menatapku datar, sebelum kembali menunduk dan berkonsentrasi pada gambar yang sedang ia buat.

 

Aku menaruh sepiring salad buah yang tadi kubuat bersama Bibi Nam diatas meja, “Sehun-ah, apa kau lapar? Aku membuatkan salad untukmu.”

 

Tidak ada tanggapan.

 

“e-em…boleh aku…duduk disampingmu?”

 

Masih tidak ada tanggapan.

 

“Kau sedang menggambar apa Sehun-ah?”

 

Tetap tidak ada tanggapan.

 

Aku menghela nafas. Di panti asuhanku dulu ,juga ada anak yang mengidap penyakit autis seperti dia. Namun karena aku sudah mengenalnya sejak kecil, kami jadi lebih mudah akrab dan ia tidak segan-segan untuk bermain denganku. Namun Sehun berbeda.

 

Punggungnya yang bungkuk seperti menanggung begitu banyak beban. Tangannya yang kurus bergetar setiap kali digerakan. Kulitnya begitu pucat seakan-akan bisa hangus bila terkena sinar matahari. Dimataku ia terlihat seperti anak anjing yang begitu rapuh.

 

“Ah,kita belum berkenalan. Namaku Jongin, sekarang aku adalah kakakmu.”

 

Tak kusangka Sehun mengangkat wajahnya. Ia menatap lekat wajahku. Menaruh sebuah crayon berwarna biru yang sedang ia pegang diatas meja lalu menjabat tanganku yang terulur. “Jong…In?”

 

Saat jemarinya menggenggam tanganku, aku dapat merasakan suhu tubuhnya yang sangat dingin. Ia jadi mirip Edwar Cullen si Vampire tampan. Bedanya, Sehun jauh lebih kurus, “iya, Jongin. Senang berkenalan denganmu Sehun-ah.”

 

“Jong….in.”

 

“ya?” kataku tersenyum. Aku menarik tanganku dari genggamannya, namun kurasakan tangannya seperti mencengkram jemariku. Membuat jantungku seperti berhenti berdetak, dan perasaan takut mulai menggerogoti tubuhku.

 

“Jong….in…..”

 

“i…iya?”

 

Sehun membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu. Memperlihatkan gigi taringnya yang terlihat sangat tajam. Membuatku meneguk ludah. Takut tiba-tiba ia menggigit leherku atau semacamnya.

 

Pemuda itu menyatukan kedua alisnya. Membuat keningnya berkerat-kerut menyeramkan. Ia eratkan genggamannnya pada jemariku, dan berkata “Kau…menduduki mainanku.”

 

Dan kalimat itu terdengar seperti tiupan sangkakala ditelingaku.

 

MATI. AKU.

 

~TBC~

 

Halloooo. Kali ini Aku membawakan ff bergenre family. Ini pertama kalinya aku membuat ff seperti ini, jadi maaf jika tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan. : ). Biasanya, ff bergenre family menjurus kearah komedi, tapi aku berniat untuk membuat sesuatu yang beda seperti ini.

 

Maaf untuk para Sehun bias. Bukan maksud apa-apa ko membuar Sehun jadi karakter yang mengidap autis. Itu semua demi kepentingan cerita.

Terimakasih karena sudah membaca, dan jangan lupa RCL sebelum meng-close page ini. kita ketemu lagi di chapter selanjutnya ^^.

 

 

 

 

 

 


13 thoughts on “[Freelance] New Life #1

  1. Ceritanya keren banget. Kebayang banget mukanya sehun kaya’ apa. Hahhaha.. Authornya daebak. Ff nya ga ngebosenin dan saya suka. Ditunggu kelanjutannya ya..

    Like

  2. Whoaaa keren…. Jarang2 kan ada ff seperti ini.. Haha apalagi sehun jadi autis dan jongin jadi kalem nan malang begini nasibnya..
    Wahh bahaya nih,, gimana reaksi sehun mainannya ntar rusak…
    Ditunggu next chapternya ya😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s