[Freelance] Endless Love #2


ENDLESS LOVE PART 2 (sequel of Between Friends)

Part1

CAST: Amelia Salisbury / Ri Ah (oc), Oh Sehun, Kim Jongin, Giselly Kim/ Se Ri (oc)

AUTHOR: AAL (@adlnayu)

GENRE: Romance, family, friendship

LENGTH: Chapter

Notes: pernah di post di hazelwine.wordpress.com
ysgdfdsjbf

Madre! Kenapa berlari seperti itu? Tunggu aku!”

Aku tidak mendengar teriakan Gissel dan terus berlari menyusuri lorong rumah sakit yang seakan tak berujung. Kedua kakiku yang dibalut oleh sepatu wedges lima centi meter terasa bergetar setiap kubawa lari. Telapak tanganku terasa dingin dan gigiku tak bisa berhenti bergemeletuk.
Kejadian itu terjadi begitu cepat. Aku dan Gissel sedang menyiapkan makan malam ketika tiba-tiba telepon rumah kami berdering. Gissel yang mengangkat teleponnya, lalu menyerahkannya padaku. Belum sempat aku mengucapkan ‘yeoboseyo‘ atau ‘Hallo‘ , tapi sang pembicara sudah mengatakan tujuannya untuk meneleponku.

Kai. Kecelakaan. Koma. Rumah sakit. Sekarang.

Lalu setelah itu, aku hanya mengingat diriku yang langsung menjatuhkan piring yang sedang kupegang. Mengambil mantel dan langsung berlari keluar rumah.

Seorang dokter berdiri dihadapanku. Ditemani oleh seorang suster yang membawa kantung plastik berwarna putih dan buket bunga mawar. Suster itu menyerahkan kantung plastik itu padaku dan saat aku membukanya, mataku menemukan sebuah ponsel yang sudah hancur dan dompet yang berlumuran darah.

Kai sedang menyebrang jalan ketika sebuah truk melaju dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya terpelanting sangat jauh dan jatuh membentur kerasnya aspal lalu langsung dibawa ke rumah sakit oleh seorang wanita yang sedang bekerja paruh waktu di toko bunga yang sedang berada dekat dengan tempat kejadian. Itu yang kudengar dari seorang saksi mata.

“Ini…..” Suster itu menyerahkan buket bunga mawar yang sedang ia pegang dengan takut-takut , “kata orang yang membawa suami anda ke rumah sakit… Suami anda terus menggenggam ini.”

Bunga mawar?

Akan kubawakan kejutan untukmu.

Kau suka warna merah kan?

Apa kau ingat bunga apa yang kubawa saat aku melamarmu?

“Keadaannya sangat kritis.” Dokter itu langsung memberikan penjelasan tanpa kuminta. Ia menghela nafas dalam. Kelihatan gamang untuk berbicara, “Ia kehilangan banyak darah. Benturan yang ia terima di kepalanya begitu keras, sehingga kami tidak bisa memberikan banyak pertolongan.”

“Kita bisa melakukan transfusi! Golongan darah kami sama, dokter bisa ambil sebanyak apapun yang dibutuhkan.” Ucapku sambil menyingsikan mantel ku hingga lengan.

“Kami sudah melakukan sebisanya tapi…..” Dokter itu menggeleng pelan.

Aku tidak menyukai tatapan yang dipancarkan matanya-rasa kasihan. Sehingga aku berlari dan menerobos kamar ICU itu dan mataku membulat saat menemukan Kai terbaring tak berdaya diatas kasur. Perban melilit badan dan kepalanya. Tabung oksigen terpasang di hidungnya, namun aku dapat melihat bahwa alat pendeteksi jantung masih memperlihatkan garis yang naik turun. Itu berarti dia masih hidup.

“Dokter! Ia masih hidup, tolong lakukan tindakan pertolongan apapun! aku mohon!” Aku menggenggam tangan Kai sambil menjerit sekeras mungkin.

“Ri…Ah…” Tangan Kai yang bergetar menggenggam tanganku, “Su…dahlah….”

“Kai?!” Aku menangkupkan wajahnya, “Diam, kumohon jangan bicara dulu. Kondisimu belum sta…”

“A…ku…ingin… Bica…ra…” Ia melengkungkan senyum tipis. Membuatku ingin berteriak untuk menyuruhnya berhenti memaksakan diri, “Maaf… Dihari.. Yang seharusnya bahagia…i-ini a-ku malah……”

Aku menggeleng keras. Ini bukan salahmu. Jadi tolong berhenti. Diam. Jangan bicara lagi. Aku mohon.

Aku tidak akan merasa bahagia lagi juga tidak apa-apa. Aku menanggung kesialan seumur hiduppun tak apa. Aku janji tidak akan meminta apapun lagi padamu Tuhan. Jadi tolong selamatkan nyawanya.

“Maaf… Ma-Maafkan aku… Ri Ah…”

“Bukan! Yang salah itu aku! Karena kamu membeli bunga untukku, kamu malah….”

Kai mengangkat tangannya yang bergetar lalu menempelkan telunjuknya pada bibirku, “Bu..Bukan…ka-mu.. Tapi Aku….”

“Ma-maafkan aku… Karena… Sudah ma-masuk… Dalam… Lingkaran… Ci-cinta.. Ka-lian…”

“Kau bicara apa? Sekarang bukan saatnya untuk bicara!” Air mataku turun membajiri pipi. Melihatnya tersiksa seperti ini, membuatku ingin menjerit sekeras-kerasnya.

“A..ku.. Sangat senang … Dapat menikah denganmu… Ta-tapi….” Ia terbatuk-batuk. Satu tangannya meremas permukaan seprai. Seperti sedang menahan sakit, “Aku tau… Kau.. Tidak pernah… Mera-sakan.. Hal.. Yang sa-sama…”

“Itu bohong! Jangan pernah perfikir begitu! Aku mencintaimu Kai. Sangat mencintaimu.”

Kai tersenyum lemah, lalu menggeleng, “Jangan… Berbohong.. La-lagi….”

“Maafkan aku… Ka-karena.. Telah.. Menjadi penghalang.. Ba-bagi kalian berdua…” Setetes air mata jatuh dari ujung matanya, “Aku… Baru menyadari… Bahwa… Cinta… Dan perasaan ingin memiliki itu… Tidak sama…”

Semakin lama volume suaranya semakin mengecil namun anehnya kedua telingaku menangkap semua yang ia katakan. Seakan otak dan hatiku tetap menuntutnya untuk bicara.

“A-apa… Kau tahu.. Mengapa.. Aku selalu memanggil… Nama anak ki-ta.. Dengan.. Seri?”

Aku menggeleng. Dalam hati diriku selalu penasaran, mengapa ia selalu memanggil Giselly dengan seri. Apakah karena logat Busan nya yang masih kental? Tapi itu mustahil. Jung Ajumma yang notabenase sudah jauh lebih lama tinggal di Busan saja bisa mengucapkan ‘Giselly’ dengan baik. Tapi mengapa pemuda ini tidak bisa?

“Seri….” Ia menutup kedua matanya. Bibirnya melengkungkan senyum. Raut wajahnya terlihat sangat damai. “Sehun… Dan Ri Ah…..”

Aku dapat merasakan jantungku seperti berhenti berdetak. Kedua tanganku bergetar hebat. Mulutku terbuka ingin bicara sesuatu tapi tidak ada yang keluar selain tiupan karbon dioksida.

“Aku ingin… Saat aku sudah.. Tiada… Anak itu… Bi-bisa… Mempersatukan kalian…” Ia menghembuskan nafas dengan susah payah. Tangan kanannya yang menggenggam tanganku terlepas. “To-tolong maafkan… Keegosisanku.. Se-lama ini…”

Kedua mataku membulat saat mendengar alat pendeteksi jantung itu mengeluarkan suara satu nada yang seperti memekakkan telinga. Garis yang tadinya naik turun itu kini menampakan garis horizontal yang bergerak seakan tidak ada akhir.

Namaku Kim Jongin. Panggil saja Kai, siapa namamu?

Ri Ah, Sehun, maukah kalian menemaniku pergi ke laut?

Lihat, ini lukisan pertama yang berhasil kubuat. Bagaimana menurut kalian?

Sudah kubilang, pokoknya aku tidak mau belajar fisika!

Kita bertiga akan selalu bersama selamanya. Aku janji.

I love you. I always do.

Appa?” Gissely tiba-tiba muncul dari belakang punggungku. Ia memiringkan kepalanya tidak mengerti. Lalu dengan susah payah ia naik keatas tempat tidur lalu berkata, “Madre, jangan teriak-teriak. Appa, sedang tidur.”

Gadis itu menempelkan telunjuknya yang mungil diatas bibirnya. Mengisyaratkanku untuk diam.

Appa, tau tidak, tadi aku mendampatkan nilai terbaik saat pelajaran menggambar. Ibu guru bilang, aku mendapatkan bakat keturunan darimu. Terimakasih ya, Appa.” Gadis kecil itu mengecup kening Kai, “makanya Appa, cepat bangun ya. Biar bisa mengajariku menggambar lagi.”

Aku tidak bisa menahan diriku untuk menarik gadis kecil itu lalu memeluknya erat. Kurasakan wajahku kembali lembab. Air mata kembali jatuh membajiri kedua pipi.

Madre, kenapa menangis?”

Pertanyaan polos yang keluar dari bibir mungilnya membuat hatiku kian diremas rasa sakit. Otakku seperti mengulang-ulang rekaman kenanganku bersama Kai. Saat pertama kali aku melihat bola mata hitamnya, saat mendengar suara tawanya yang lepas, kehangatan kulitnya, tapi sekarang semua itu tidak lebih dari sebuah kenangan.

Kai sudah tiada.

Dan bagaimana pun caranya aku memohon, sekeras apapun aku berteriak, seberapa jauh aku mencari, dia tidak akan pernah kembali. Selamanya.

Entah kenapa. Aku merasa kata itu terdengar sangat menakutkan

~ENDLESS LOVE~

Pemakaman Kai dilaksanakan dua hari kemudian. Seluruh warga di desa ikut serta untuk mengambil bagian. Mereka seakan ingin memberikan penghormatan terakhir untuk Kai.

Para tamu yang datang memakai baju berwarna hitam dan dengan wajah tertunduk mengucapkan bela sungkawa. Dan aku dapat melihat ujung mata mereka basah.

Jung Ajumma tidak berhenti menangis sejak kemarin malam. Tangannya yang keriput membekap mulutnya yang terisak. Air matanya seakan tidak abis untuk meluncur keluar. Entah sudah berapa kotak tisue yang sudah ia habiskan.

Aku berjalan pelan ke arah peti yang terdapat diatas altar. Melihat tubuh Kai dengan warna kulitnya yang sekarang berubah putih pucat. tubuhnya sudah dimandikan dan lukanya sudah ditutup. Sekilas kupikit ia sedang tertidur, namun saat melihat dadanya yang tidak naik turun aku pun menyadari bahwa ia sudah tiada.

Bau dupa yang terdapat di sekeliling altar membuatku sempoyongan. Tapi aku tetap tidak mau untuk meninggalkan tempat ini. Aku ingin menghafal setiap inci wajah Kai untuk terakhir kali. Rambutnya yang hitam. Kedua tangannya yang lincah bergerak diatas kanvas. Aku tidak ingin melupakannya.

“Kau! Anak kurang ajar!”

Aku menoleh saat mendengar suara amarah itu, dan melihat ibu Kai yang sedang berlari dibalut oleh Kimono hitam yang melekat di tubuhnya. Ia menundudukan dirinya disamping peti Kai, lalu kedua tangannya mengguncang tubuh pemuda itu “Jongin, apa yang kau lakukan disini?!! Bangun!!”

Eomma…..” Desisku sambil mengelus punggungnya, tapi wanita itu seakan tidak mendengar.

“Aku yang melahirkanmu! Susah payah aku mengurusmu dan kau malah pergi tanpa membalas apapun! Binatang pun tau balas budi! Bangun sekarang Jongin!”

Kedua mata wanita itu mulai mengeluarkan tetesan air mata. Tangannya yang sudah mulai berkeriput bergetar. Keningnya berkerut-kerut menunjukan amarah. “Apa kau tega meninggalkanku sendiri Jongin?! Bangun, jongin bangun!!!”

Aku langsung menarik tubuh wanita itu lalu memeluknya erat. Berusaha mengirimkan kekuatan dari kulit kami yang bersentuhan. Awalnya ia memberontak melepaskan, namun kueratkan pelukanku. “Eomma….. Tenanglah….”

Berangsur akhiranya Wanita itu kehabisan tenaga, kedua lengannya perlahan mendaki lalu balas memelukku. “Ia anakku satu-satunya….”

Aku mengangguk mengerti. Kuusap punggungnya dengan lembut. Berusaha untuk menenangkannya walau kutahu hatiku sendiri seperti porak poranda.

“Aku tidak punya siapa-siapa lagi…. Jongin adalah hartaku yang tersisa…..”

Wanita itu melepaskan pelukannya. Kedua mata hitamnya menatap sapphire milikku. Ekspresinya tidak terbaca. “Gisselly….” Tiba-tiba ia berkata, “Gissel… Dimana dia?”

“D-dia….sedang bersama Hayoung. Aku… Aku sudah menjelaskan padanya tapi ia tidak mengerti…”

Ibu Kai mengangguk. Ia menoleh pada peti itu lagi. Wanita itu menunduk lalu menggenggam tangan Kai. Satu tangannya lagi mengusap wajah Kai yang pucat. Bibirnya bergerak seperti mengucapkan sesuatu tapi aku tidak dapat mendengarnya. Ia terlihat seperti sedang melantunkan lagu nina bobo untuk Kai.

Tidak ingin mengganggu, aku pun turun dari altar untuk membiarkan mereka berdua.

Kremasi dan pemakaman dilanjutkan keesokan harinya. Aku melihat tubuh Kai dimasukan ke dalam lorong kecil untuk dibakar. Lidah api yang menyala-nyala seakan membakar habis tubuhnya.

Aku dan ibu Kai memungut tulang-tulang yang berserakan lalu memasukannya ke dalam pot keramik. Salah satu potnya dibawa untuk dikubur, dan sisanya lagi dibawa untuk penebaran abu.

“Ri Ah-ya.”

Aku menoleh dan mendapati ibu Kai sedang membawa salah satu pot berisi abu lalu menyerahkannya padaku, “Biar kau yang menyimpannya.”

“Aku?” Aku mengambil pot itu dari tangannya, “Tapi… Mengapa?” Aku merasa tidak pantas.

“Dia…pasti ingin tetap bersama orang yang dicintainya kan? Karena itu, terimalah.”

Eomma…..”

Wanita tua itu tersenyum lemah, lalu berbalik pergi.

Pemakaman berlanjut di bawah rintik hujan. Pot keramik yang lain dikubur di dalam sebuah monumen batu bertuliskan nama Kai. Orang-orang yang hadir di hari sebelumnya kembali datang untuk mengucapkan selamat tinggal.

Teman-teman SMA kami berdatangan. Mereka mengucapkan ucapan bela sungkawa padaku, lalu mereka secara bergantian menyentuh batu nisan Kai sambil menitikan air mata.

sementara aku hanya bisa memandangi batu nisan itu dengan pandangan kosong. Kakiku seperti menempel di tempat dan tidak bisa diajak untuk bergerak. Padahal kupikit aku akan menangis tersedu-sedu sambil memeluk nisannya.

Tapi, air mataku seakan kering kelontang. Lidahku terasa kelu dan kedua kakiku kebas. Kulitku tidak bisa merasakan apapun kecuali dinginnya rintik hujan. dan mataku hanya bisa menatap ke satu titik.

Setelah pembacaan doa dan tangisan pilu kembali terdengar, mereka semua mulai berbalik untuk pulang. Acara pemakaman sudah selesai.

Madre.

Aku menunduk dan menemukan Gissel yang sedang menarik-narik ujung bajuku, “kenapa sayang?”

“Meninggal itu apa?”

Eh?

“Semua orang bilang appa meninggal. Memangnya meninggal itu apa?”

“A…em… Itu…”

“Itu berarti appa pergi ke suatu tempat yang jauh Gissel-ah.”

Aku menoleh dan menemukan Ibu Kai sedang berjalan kearahku. Wanita tua itu menunduk untuk mensejajarkan tingginya dengan Gissel, “ia pergi ke tempat yang jauh Gissel-ah. Tapi ia tetap bisa melihat kita.”

“Kenapa begitu? Apa aku bisa melihatnya juga?”

Wanita tua itu menggeleng. Tapi seulas senyum terpatri diwajahnya, “kau tidak bisa melihatnya tapi ia bisa melihatmu. Dengan sangat jelas.” Ia mengusap kepala Gissel, “Karena itu kau harus berjanji untuk selalu tersenyum dan tertawa Gissel-ah. Agar appa senang melihatmu. Ya?”

Gissel memiringkan kepalanya untuk berfikir, lalu ia mengangguk sambil tersenyum. “Ne! Aku janji!”

“Anak pintar.”

Gissel tertawa kecil lalu bertolak untuk berlari mengejar tamu-tamu yang sudah pergi duluan. Meninggalkan aku dan ibu Kai bedua.

Aku merasa beruntung karena ibu Kai sama sekali tidak menyalahkanku akan kematian anak semata wayangnya. Kupikir ia akan sangat marah dan tidak mengijinkanku datang ke pemakaman anaknya tapi ternyata tidak. Aku bersyukur ia bisa mengerti. karena aku juga tidak menginginkan kejadian ini terjadi. Memang siapa yang mau?

“Gisselly anak yang ceria.”

“Ya, eomma. Aku tahu.”

“Kau… Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

Jujur aku tidak tahu. Sulit rasanya untuk melakukan kegiatan seperti biasa dengan bayang-bayang Kai yang menemani. “Aku tidak tahu, eomma.”

Wanita tua itu menghadapku. Lalu menatapku dengan sorot pengertian, “menurutku, lebih baik kau pergi dari sini.”

“M-maksudnya?”

“Tinggalkan desa ini. Kembalilah ke Seoul dan tinggal disana. Kau hanya akan terjerat bayangan masa lalu jika tetap ada disini.”

Eomma, aku….”

“Ia juga pasti berfikir seperti itu.” Wanita itu menoleh pada batu nisan Kai, “Jongin juga pasti sedih melihatmu tidak bisa menjalankan kehidupan dengan ceria jika kau tetap mengingat dirinya. Karena itu, pergilah.”

Eomma….”

“Tidak ada lagi yang bisa kau lakukan disini. Lebih baik kau pergi dan meninggalkan semua kenangan itu.”

~ENDLESS LOVE~

“Kita akan pergi?”

“Ne.”

“Kemana?”

“Seoul.”

“Apakah itu tempat yang jauh?”

“Tentu Seri-ah. Tapi tidak apa-apa selama kau berada dekat denganku.”

“Mengapa madre memanggilku Seri? Bukannya… hanya appa yang memanggilku begitu?”

Aniyo. Mulai hari ini kau Seri. Seri-ku.”

~ENDLESS LOVE~

Author’s POV

one week later~

Seorang pemuda melangkahkan kedua kakinya, satu tangannya menggeret sebuah koper berwarna broken white.

Dengan seulas senyum terpatri di wajahnya, pemuda berambut cokelat itu menatap ke sekeliling bangunan berasitektur Fentress Architect ini dengan kedua mata yang berbinar.

Bandara Incheon.

Sudah dua bulan ini ia bekerja tanpa henti. Menerbangkan burung besi yang membawa berbagai macam penumpang tanpa mengenal lelah. Bagaimanapun juga, pilot adalah pekerjaan yang ia impikan sejak dulu, mustahil rasanya ia merasa jenuh dengan yang satu ini.

Beruntung baginya, perusahaan penerbangan dimana ia bekerja -Estrella Airlines- memberikan libur seminggu untuknya.

Walaupun begitu, waktu liburnya tidak bisa ia nikmati sepenuhnya. Mengingat bahwa direktur utama perusahaan tersebut berencana memuat  Estrella Airlines dalam sebuah majalah kenamaan di Seoul ini.

Karena itulah walaupun ia diliburkan dari jadwal penerbangan, pemuda itu ditugaskan untuk menjawab semua pertanyaan dari para pers yang ditugaskan untuk meliput Estrella Airlines.

Captain!

Pemuda itu memutar tubuhnya dan tersenyum saat melihat Chen-salah satu pramugara, berjalan kearahnya. “Karena jadwal kita setelah ini kosong, apa captain ingin langsung pulang? Bagaimana kalau ikut makan-makan di restoran langganan bersama para kru kabin yang lain?”

Pemuda yang dipanggil Captain itu, memiringkan kepalanya. Kebiasaan bila sedang berfikir. “Boleh. Kapan?”

“Malam ini. Mungkin jam delapan.” Chen menggeret koper berwarna hitamnya, sesekali kedua matanya celingukan seperti mencari sesuatu. “Ngomong-ngomong tumben kapten berjalan sendiri. Biasanya kau selalu ditemani oleh pramugari itu.”

Pemuda itu tersenyum mendengarnya. Satu bulan yang lalu -entah siapa yang menyebarkan- beredar gosip kalau salah satu pilot Estrella airlines yaitu dirinya, bertunangan dengan salah seorang pramugari. Walau risih dengan gosip itu, toh dia tidak bisa menyangkalnya karena berita itu benar. “Krystal? Ah, sepertinya ia sudah pulang duluan. Dia bilang ingin menemani neneknya check-up ke rumah sakit.”

“Hmmm begitu.” Chen mengangguk-anggukan kepalanya. “Kalau bagitu, aku duluan ya captain. Sampai ketemu nanti malam.”

“Ya, hati-hati dijalan. Dan satu lagi, berhenti memanggilku captain!”

Chen tergelak mendengar suara pilot muda itu. Walaupun sudah hampir lima tahun mengemban profesi ini, pemuda bermata hazel itu masih tidak memiliki wibawa seorang pilot. Bahkan kru kabin yang lain selalu bicara menggunakan bahasa informal dengannya. “Ya,ya,ya. Sampai ketemu nanti malam ya ,Sehun-ah!”

Pemuda itu-Sehun hanya bisa tersenyum saat melihat punggung Chen yang semakin jauh. kembali ia langkahkan kedua kakinya sampai gendang telinganya menangkap suara asing yang entah datang dari mana.

Suara tangisan.

Sehun tolehkan kepalanya ke segala arah, sekaligus menajamkan indra pendengarannya guna mengetahui dari mana suara tangisan yang terdengar melengking itu datang.

Gerak tubuhnya terhenti saat melihat sosok gadis kecil yang tengah terisak. Gadis kecil itu duduk di salah satu sofa, menekuk kedua lututnya sebelum membenamkan wajahnya disana. Setangkai lollipop tergenggam erat diantara jemari mungilnya.

Merasa hatinya tersentuh melihat pemandangan -yang menurutnya- memilukan itu, ia gerakan kedua kakinya menuju tempat gadis kecil itu lalu menepuk pelan pundak mungilnya. “Adik kecil, kenapa kau menangis?”

Gadis kecil itu perlahan mengangkat wajahnya, menatap Sehun dengan bola mata hitamnya yang bagaikan boneka. Ia hapus air mata yang mengalir di kedua pipinya dengan sebelah tangan sebelum kembali terisak. “Ma-madre…..”

Madre?” Sehun mengerutkan kedua alisnya. Madre. Ia mencoba mengingat-ingat arti kata itu. Ah, ia ingat. Bahasa spanyol. Ibu. “Ada apa dengan ibumu? Apa kau terpisah darinya?”

Gadis kecil itu menganggukan kepalanya. “Ta-tadi, aku membeli sebuah lollipop di toko suvenir, ta-tapi saat aku berbalik. Madre sudah tidak adaaaa”

Tangisan melengking itu kembali pecah. Yang mau tidak mau menarik perhatian orang yang berlalu lalang di sekeliling mereka.

Dengan kepanikan yang tiba-tiba menjalar -takut dikira menangisi seorang gadis kecil-, Sehun mencoba menenangkan gadis kecil itu dengan berkata “a-adik kecil, jangan menangis. Aku akan mempertemukanmu dengan ibumu.”

Tangisan itu sontak berhenti. Perlahan gadis kecil itu menurunkan kedua kakinya untuk berdiri “jinjja?”

O.” Sehun menundukan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi gadis kecil itu, ia angkat sebelah tangan untuk mengelus puncak kepalanya. “karena itu, jangan menangis lagi ya.”

“Iya!” Sepertinya mood gadis kecil itu cepat sekali berubahnya. Lihat saja, sekarang ia sudah bisa tertawa-tawa sambil melompat-lompat kecil, mengakibatkan ujung rambut merahnya yang diikat kuda berkibar.

Tunggu. Merah?

Sehun memiringkan kepalanya sambil menatap gadis kecil itu dalam-dalam. Rambut merah. Kulit pucat. Gadis kecil ini seperti mengingatkannya pada sesuatu. Ah, tidak. Seseorang. Seseorang yang tak dia ingat.

Atau, dia sendiri yang tidak ingin mengingatnya?

Ajusshi, ayo kita cari madre.” Sehun menundukan kepalanya saat merasa ujung jasnya ditarik-tarik.

Pemuda bermata Hazel itu mengembangkan senyumnya, lalu menggenggam jemari mungil milik gadis kecil itu. “Ayo. Ah, ngomong-ngomong, siapa nama ibumu? Biar kita lebih mudah untuk mencarinya.”

Gadis kecil itu tersenyum, lalu berkata “Nama madre adalah…”

“SE RI!”

Sontak dua kepala manusia itu menoleh ke sumber suara. Terlihatlah seorang wanita dengan pakaian yang sudah acak-acakan berlari kearah mereka, roda koper yang ia geret beradu dengan kerasnya lantai marmer.

Madre!!!”

Gadis kecil yang dipanggil Seri itu langsung berlari kearah wanita tadi lalu dengan segera memeluk leher wanita itu dengan erat. “Huuuu aku takut sekali. Aku pikir tidak akan bertemu madre lagi.”

Wanita itu mengeratkan pelukannya lalu mengecup kening anak gadisnya itu dengan penuh kasih sayang “Sshhh jangan menangis sayang. Semuanya baik-baik saja.” Ia hapus air mata yang mengalir di pipi malaikat kecilnya. “Ah, kau tadi bersama dengan siapa? Sudah ku katakan, jangan bicara dengan orang asing.”

Ajusshi bukan orang jahat ko, madre.” Seri melepaskan pelukannya,berjalan kearah pemuda berambut cokelat itu lalu menarik tangannya. “Ajusshi ini lah yang telah menemukanku. Madre harus berterima kasih padanya!”

Wanita itu menghela nafas melihat tingkah gadis kecilnya. Perlahan ia dongakan kepalanya untuk menatap orang yang sudah membantu anaknya itu, lalu seketika kedua matanya membulat.

Wanita itu melepas genggaman tangan Seri. Kilasan kenangan sepuluh tahun lalu seakan berkelebat dalam pikirannya. Saat pertama kali wanita itu bertemu dengan seorang pemuda bermata hazel.

“Sehun? Ah. My name is Amelia. Nice to meet you.”

“Ahmeyriah?”

“it’s Amelia.”

“Ahmeyriah? Ah. It’s so hard to called your name. sorry.”

“it’s okay. You can call me Ri Ah, if you want.”

 

Pemuda itu. Dia tak pernah melupakannya.

Pemuda dengan sorot mata yang selalu berhasil membuat dirinya tenang. Pemuda yang selalu menaiki sepeda putih kemana-mana. Pemuda yang selalu mendapatkan nilai sempurna di setiap pelajaran. Pemuda, yang pernah berjanji tidak akan melupakannya.

Sang Pemuda pun bereaksi yang sama. Mana mungkin ia melupakan rambut merah itu. Mana mungkin ia lupa dengan wanita ini. Wanita yang mengajarinya mengenal gugus bintang. Wanita yang memberitahukan asyiknya menebak bentuk awan. Wanita, yang memiliki iris mata sebiru samudra.

Kedua insan itu seperti masuk ke dalam pusaran waktu. Potongan-potongan masa lalu bagai berlarian dalam benak mereka. Seribu satu Kenangan manis itu  memberontak untuk kembali diingat. Mengakibatkan cinta yang sudah terkubur rapat dalam diri keduanya kembali muncul ke permukaan.

“Sehun?”

“Ri Ah?”

-TBC-

Oke. Kai. Dead. *kabur*

Untuk kesekian kalinya aku minta maaf kalau chapter ini masih tidak punya feel.

Jangan lupa RCL sebelum meng-close page ini. terimakasih. ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s