[Freelance] From Lie to Love #5


Part1, Part2, Part3, Part4, Part5

Author: Tulith28 (@tulith28)
Title: From Lie To Love #5
Length: Chapter
Genre: Romance, Tragedy, etc
Rating: PG15
Cast: Please find by YourSelf ^^
Notes: Maaf jika pairingnya tak sesuai dengan kehendak reader. Maaf jika banyak salah disana-sini, mohon dimaklumi. Maaf jika ceritanya nglantur dan kata-katanya aneh juga terkesan lebay. Maaf jika ceritanya makin geje. Makasih untuk readers yang bersedia membaca FF ini dan memberikan komennya. 😀

  HAPPY READING!!! ^^

SUNGMIN POV

Kuhentikan mobilku tepat didepan pagar rumah baru Wookie dan ‘istrinya’ itu. Kupencet bel yang berada didepan pagar yang seperti gapura rumah itu. Pagar itu terbuka dan terlihat yeoja yang sedang menangis , yeoja itu berlari pelan menjauh dari rumah Wookie.

“Yoona? Gadis itu yang bernama Yoona? Dia sangat cantik. Tapi, kenapa dia menangis?” dengan masih banyak pertanyaan diotakku, akupun mengikuti yeoja itu yang berlari pelan. Setelah beberapa saat dia berlari tanpa arah, diapun menghentikan langkahnya. Tubuhnya bergoyang-goyang seperti kehilangan tumpuan, kudekati dia.

“Yoona, gwaenchanha?” belum sempat dia menjawab, tubuh langsingnya semakin melemah dan akhirnya dia pingsan.

++++

YOONA POV

“Hyung, gomawo sudah menolongnya.” Kudengar suara si Kim Ryeowook itu. Perlahan kubuka mataku. Kulihat ada namja imut, tapi bukan Ryeowook.

“Gwaenchanha, Wookie-ya. Ya sudah, aku balik dulu ya. Jaga dia baik-baik!” ucap namja itu lalu pergi. Melihat namja itu pergi, ada tempat disudut hatiku yang terasa perih. Entahlah, mungkin ini efek karena aku lapar.

“Lapar…” gumamku. Kulihat Ryeowook berjalan mendekat ke aku.

“Kau sudah bangun?”

“Lapar…” gumamku lagi tanpa menjawab pertanyaannya.

“Mianhae, aku tadi sudah…”

“KIM RYEOWOOK, AKU LAPAR!!!” teriakku ditengah rasa perih yang melanda perutku.

“Ne, arra. Bangunlah cepat, aku sudah menyiapkan makanan untukmu didapur.”

“Perutku perih. Aku gak bisa bangun, Wookie-ya.” Rengekku manja. Tapi, perutku ini memang benar-benar perih tau!

“Aish, ne, ne. wait a minute.” . Ryeowook pergi dari kamar, tak lama kemudian dia kembali masuk kedalam kamar dengan membawa nampan yang diatasnya ada banyak makanan.

“Ini, cepat makan!” suruhnya. Diletakkannya nampan itu dimeja yang berada di sebelah kasur.

“Suapin.” Pintaku.

“Makan sendiri!” bentaknya.

“Auww, perih.” Kupegangi perutku, yang benar-benar perih –walaupun hanya sedikit-.

“Ah, ne, ne.” ‘hahaha, ini balasan karena kau tadi membuatku pingsan dijalan , Wookie-ya’ batinku. Pingsan? Oh ya, aku tadi kan pingsan dijalanan, kok tiba-tiba aku sudah ada dikamar ini?

“Aku tadi pingsan kan?” tanyaku disela-sela acara makan disuapi ini.

“Ne.” jawabnya singkat.

“Siapa yang menolongku?”

“Sudahlah, habiskan dulu ini makananmu. Tanganku sudah capek.” Jawabnya sewot. Aku memonyongkan bibirku.

“Sudahlah, gak perlu pake acara memonyongkan bibir gitu. Mau kucium?”

Blusshh, hatiku berdesir. Deg-degan mendengar pertanyaannya itu.

“Maumu.” Cibirku untuk mengurangi rasa deg-degan yang menguasai jantungku.

“akkk.” . kubuka mulutku dan mengunyah suapan terakhirnya.

++++

“Wookie, jangan digonta-ganti! Aku mau nonton gameshow itu tadi!” kutarik-tarik bajunya.

“Aish, apa yang kau lakukan? Jangan tarik-tarik! Ini baju mahal tau?”

“Aku mau tidur!” aku berjalan kekamar, meninggalkan si setan Ryeowook duduk disofa sendirian, dengan sejuta kekesalan *lebay*.

RYEOWOOK POV

Kulihat jam yang berada di sebelah televisi. Sudah jam 11 malam. Ini masih hari pertama, tapi sudah sangat sulit kujalani.’ Ya Tuhan, teguhkan hatiku, biarkan aku menyelesaikan tugasku ini. Jangan biarkan aku membuatnya terluka karena apapun. Dan jangan tumbuhkan perasaan apapun yang tak seharusnya kurasakan untuknya.’ Batinku. Kulirik pintu kamar yang sedari tadi tertutup rapat. Pasti Yoona sudah tidur. Bolehkah aku tidur dikamar juga? Atau haruskah aku tidur disana? Kalau aku bisa langsung tidur sih gak apa-apa, toh takkan mungkin ada yang terjadi saat aku tidur, mentok aku paling bisa mimpi sama ngi-gau. Yang aku khawatirkan adalah kalau aku gak bisa tidur, lalu… arghhh, Ya Tuhan, bersihkan otakku ini dari pikiran-pikiran yang terkutuk itu.

Kenapa juga ya, aku membeli rumah yang hanya ada satu kamar? Aish, Kim Ryeowook, kau benar-benar NSP –Namja Super Pabo-!!!

“Wookie, kau tidak tidur? Ini kan sudah malam sekali.” Yoona tiba-tiba muncu dari balik kamar dengan memakai baju tidur yang… Wookie, apa yang kau pikirkan?

“Kau, kau belum tidur?” tanyaku.

“Aku haus, jadi kebangun dari tidur. Cepatlah tidur, Wookie-ya! Gak baik setiap hari begadang.” Yoona berjalan kedapur. ‘Dia perhatian sekali.’ Pikirku.

YOONA POV

Kutenggak air minum satu gelas dalam satu nafas. Lega rasanya. Aku melangkahkan kakiku untuk kembali ke kamar dan kulihat Ryeowook yang telah memejamkan matanya dengan menyenderkan kepalanya  diatas bantalan sofa, dengan tetap menyalakan televisi yang ada didepannya. Dia mudah sekali tertidur, pikirku. Kudekati dia, kuraih remote televisi yang digenggamnya dan perlahan menekan tombol on/off pada remote control itu.

“Wookie-ya, tidurlah dikamar.” Kupandangi wajah imutnya yang seperti anak bayi yang baru lahir itu.

“Wookie-ya, tidurlah dikamar.” Kutepuk-tepuk pipinya pelan.

Sentuhan halusmu itu yang membuatku bertahan sampai saat ini.*aduhh, masnya kan masih sehari boong ke mbak Yoona.*

“Wookie-ya, bangunlah.” Dia tetap tidak bergeming.

“Ya sudahlah.”

Aku beranjak dari tempatku sebelumnya, aku berjalan masuk kekamar dan segera kembali ke sofa dengan membawa selimut tebal ditanganku.

“Kalau kau tidur disini, aku juga harus tidur disini.” Gumamku. Aku duduk disebelah Ryeowook. Kuselimutinya dengan selimut tebal yang kuambil dari kamar. Sedangkan aku, walau aku tak suka dingin, aku gak perlu selimut, karena dengan memeluk dia saja sudah cukup membuatku hangat. *huhhh*

= = = = =

“Eungh…” erangku. Cahaya mentari berhasil menembus gorden putih yang berlapis-lapis dan  menimpa tubuhku dengan semangatnya. Kurasakan empuknya kasur yang aku tempati. Kasur? Tadi malam kan aku tidur disofa. Kupaksakan mataku untuk terbuka lebar-lebar. Kulihat kesekelilingku untuk memastikan keberadaanku sekarang. Ya, aku berada di kamarku dan Ryeowook dan pasti Ryeowook yang memindahkanku kesini, gak mungkin kan aku berjalan sendiri kekamar ini?

“Morning, Yoona! Cepat bangun, terus mandi. Sarapan sudah aku siapkan dimeja makan. Jangan kemana-mana ya, aku akan kekantor penerbit sekarang. Mungkin aku pulang agak sore.” Cerocos Ryeowook yang datang seperti iklan. Sepeninggalnya dari kamar, aku kembali melanjutkan tidurku.

RYEOWOOK POV

Kuparkirkan mobil baruku ini diarea parkir gedung ini. Gedung perusahaan penerbitan terbesar di Korea. Aku adalah penulis novel terbaik di perusahaan ini. Sudah lebih dari 5 novelku yang diluncurkan oleh perusahaan ini yang laku keras di pasaran. Tapi, walaupun setiap novelku selalu terjual habis di pasaran, aku termasuk didalam kumpulan orang yang tidak famous. Ya, aku tidak suka dengan ketenaran dan kepopuleran yang berpotensi membuat hidupku tidak bisa tenang dari kejaran para pembaca setia novelku. Dan itu akan menggangguku dalam menulis novel. Aku tidak pernah mencantumkan nama asliku apalagi foto untuk mengisi biografi yang disediakan halamannya dibagian akhir dari novelku, aku hanya mencantumkan nama samaranku, Kim Gyeo Ul. Dan dengan sedikit kata-kata pengantar rasa penasaran para pembaca novelku akan diriku seperti kata, “Let your heart know me by my story. If you can feel the story, its mean you feel how I am and know Who I am J” dan sebagainya pun tak lupa aku cantumkan dinovelku.

“Oppa!” kudengar suara yang memanggilku, otomatis tubuhku pun berputar-putar untuk mencari si asal suara. Dan kudapati Seohyun yang sedang berjalan kearahku.

“Oppa, ada urusan apa disini?” tanyanya.

“Oh, Seohyun-ssi, aku hanya ingin bertemu dengan Cha Sajang-nim. Kau sendiri kenapa berada disini?”

“Aku sekretaris baru Cha Sajang-nim, Oppa.” Jawabnya.

“Oh, pantas saja aku baru melihatmu sekarang.”

“Oppa ada urusan apa dengan Cha Sajang-nim? Sekarang Cha Sajang-nim ada diruangannya, dia sedang menunggu penulis novel si Kim…” ucapnya tak dilanjutkan. Untuk beberapa saat dia terlihat berpikir keras.

“Seohyun-ssi, gwaenchanha-yo?” tanyaku akhirnya setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan juga –mungkin- kebingungan.

“Oppa, kau si ‘Musim Dingin’? Penulis novel Fireworks? Penulis andalan perusahaan ini?” tanyanya bertubi-tubi. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

“Kau hebat, Oppa!” pujinya, aku hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.

“Aku adalah penggemar novel-novel mu, Oppa.” Ujarnya.

“Gomawo sudah mau membaca novelku, Seohyun-ssi. Sepertinya aku harus segera menemui Cha Sajang-nim. Annyeong.”

“Oppa, tunggu aku. Ayo bersama-sama ke ruangan Cha Sajang-nim.” Seru Seohyun sembari menggandeng tanganku, namun cepat-cepat kutepis.

++++

SEOHYUN POV

Tak kusangka penulis novel terkenal yang aku kagumi itu adalah Ryeowook Oppa. kan memang dari dulu dia suka banget nulis ya? Huh, babo! Aku saja yang tidak pernah mau membaca cerita-cerita yang dulu ditulisnya.

Flashback On

“Hyun-aa, sini deh.” Seru Ryeowook Oppa dari sofa yang berada di ruang tamu.

Kuletakkan majalah fashion yang sedang kubaca diatas meja makan dan aku berjalan menghampiri Ryeowook Oppa yang sedang duduk di sofa sambil senyum-senyum sendiri melihat laptopnya.

“Ada apa, Oppa?” tanyaku. Kuambil posisi duduk disebelahnya.

“Ceritaku yang ini sudah selesai, tapi aku belum kasih judul. Aku bingung buat judulnya. Bantu aku cari judul yang bagus untuk ceritaku ini dong.”

“Oppa, aku kan ambil jurusan manajemen bisnis, bukan sastra nasional sepertimu.” Ujarku. Malas sekali membaca cerita yang terdiri dari begitu banyak kata hanya untuk mencari judul yang tak lebih dari 5 kata. Batinku.

“Hmm? Maksudnya?” tanyanya bingung.

“Aku malas, Oppa. kalau ceritanya bagus she gak masalah, kalau enggak? Apalagi Oppa kan bukan penulis handal. Membaca cerita buatanmu mungkin hanya membuang waktuku dengan percuma.” Kata-kata itu seolah meluncur begitu saja dari mulutku.

“Ya sudah. Maaf sudah mengganggu waktumu yang berharga itu, Hyun.” Sesalnya. Tanpa merespon ucapan maaf dari Ryeowook Oppa, aku segera kembali ke meja makan –tempatku membaca majalah-.

Flashback Off

“Kamsahamnida, Cha Sajang-nim. Annyeong.” Kudengar suara Ryeowook Oppa pamit kepada Cha Sajang-nim. Kulihat jam tanganku, sudah waktunya makan siang. Lebih baik aku mengajaknya makan siang bersama di café yang dulu sering kudatangi dengannya.

“Oppa!” seruku saat tubuh Ryeowook Oppa sudah terlihat keluar dari ruangan Cha Sajang-nim.

“Seohyun-ssi, waeyo?” tanyanya.

“Oppa, ini sudah waktunya makan siang. Ayo makan siang bersama.” Ajakku. Tanpa menunggu persetujuan darinya, aku langsung menarik tangan Ryeowook Oppa.

YOONA POV

Kulahap semua makanan yang sudah disiapkan si Ryeowook. Masakannya memang enak, batinku.

Sesudah menghabiskan semua makanan itu, aku hanya menonton acara-acara di televisi. Sungguh membosankan. Berkali-kali kulihat jam yang berada disebelah Tivi flat yang ada dihadapanku. Waktu seolah-olah berjalan sangat lambat.

“Sudah jam 12 siang, kenapa si Wookie belum juga pulang?” gumamku. Kugonta-ganti channel Tivi yang aku lihat. Aku bisa mati karena bosan kalau terus seperti ini.

“Aha! Lebih baik aku berjalan-jalan.” Gumamku saat satu ide itu mampir diotakku. Tanpa buang waktu lagi aku cepat-cepat mengganti baju tidurku –yang belum aku ganti semenjak tadi bangun tidur- dengan baju santai tapi tetap casual. Tak lupa aku menuliskan alamat rumahku ini pada sebuah kertas –untuk berjaga-jaga jikalau nanti aku tersesat, aku hanya butuh mencari taksi dan memberikan tulisan alamat ini ke sopirnya- sebelum aku benar-benar keluar dari pintu rumah ini.

“Babo! Kenapa aku bisa lupa hal yang terpenting.” Kutepuk pelan dahiku dengan tangan kananku. Aku masuk kembali kedalam rumah dan mengambil uang yang ditinggal Ryeowook untukku.

= = = = =

“Yeppeoda!” seruku saat aku melihat hamparan bunga yang warna-warni ini. Kini aku sedang berada di taman bunga yang ada di pusat kota Seoul. Kuitari taman bunga ini dengan terus menggumamkan kekaguman pada keindahan di taman bunga ini.

1 jam berlalu.

“HUh, capek juga ya keliling-keliling taman ini.” Gumamku. Matahari yang bersinar sangat terik membuat tenggorokanku terasa seperti gurun sahara. Tak mau berlama-lama diserang dehidrasi, akupun cepat-cepat melangkahkan kakiku untuk membeli minum disalah satu kedai yang berada tidak jauh dari taman bunga.

“Ini pesanan anda, Agassi.”

“Ne, Gomawo, Ahjussi.” Langsung ku seruput habis jus jeruk yang baru saja mendarat di mejaku ini.

Setelah selesai melepas lelah dan haus di kedai ini, aku segera beranjak pergi. Aku masih ingin jalan-jalan mengelilingi kota Seoul. Bukan seperti saat tadi aku pergi ke taman Bunga dengan naik taksi,kali ini aku memilih jalan kaki untuk menuju tempat tujuan selanjutnya wisata singkatku ini. Aku berjalan disepanjang trotoar dengan tetap memasang senyum diwajahku. Aku seperti hidup kembali dalam masa laluku yang terlupakan.

BRAKKK…

Tidak sengaja aku menabrak seorang wanita muda yang tubuhnya mungil. Barang-barang yang dibawanya berceceran diatas tanah.

“Mianhae.” Ujarku sembari membantunya memunguti barang-barangnya yang jatuh.

“Ne, gwaenchan… Yoona?”

“Nde?” tanyaku bingung.

“Yoona… bogoshipeo.” Tiba-tiba wanita muda itu memelukku. Aku hanya terdiam –bingung-. saat itu juga, aku melihat sesosok orang yang sangat aku kenal berjalan bersama yeoja jangkung nan cantik masuk ke salah satu café yang ada diseberang jalan. Ryeowook? Siapa yeoja yang bersamanya itu? Kenapa mereka terlihat begitu mesra? Aish, Ryeowook kau bilang aku ini istrimu, tapi kenapa kau jalan dengan mesra bersama yeoja lain?

“Mianhae, aku harus segera pergi. Annyeong.” Pamitku pada wanita muda –yang mungkin mengetahui masa laluku- ini.

= = = = =

RYEOWOOK POV

Di Cafe

“Seohyun-ssi.”

“Panggil aku Hyun, Oppa.” pintanya. aku tidak menyahutinya, juga membatalkan pertanyaan yang sebenarnya ingin aku tanyakan ke dia.

“Oppa, dibibirmu ada sausnya.” Belum aku merespon kata-katanya, tangannya sudah hinggap disudut bibirku. Diusapnya lembut sudut bibirku dengan tissue.

“Hyun-aa…” kujauhkan tangannya dari bibirku.

“Oppa, tanganmu masih lembut.”

“Ya! Oppa apa yang kau lakukan?”

Itu suara Yoona? Kulemparkan pandanganku kesekeliling café ini sampai kutangkap bayangan Yoona yang dengan cepatnya sudah ada didepanku dan Seohyun.

“Jagi-ya? Aku… Aku…”aku berdiri dan menatap mata Yoona.

“Oppa? Jagi? Siapa dia, Oppa?” Tanya Seohyun yang kini sudah berdiri juga.

“Kau! Hm, perkenalkan aku Im Yoona. Aku istri sah Kim Ryeowook.” Ucap Yoona dengan tegasnya. Aku hanya terdiam mendengarnya. Sedangkan Seohyun yang  terlihat lemas karena ucapan Yoona, kini tubuhnya telah beringsut duduk dan menatapku dengan tatapan apa-itu-benar-Oppa?-tolong-katakan-tidak.

“Jagi-ya, dia ini Seo Joo Hyun. Anak dari teman orang tuaku.”

Yoona hanya mengangguk dan mendekatkan tubuhnya ditubuhku.

“Oh, arraseo, Oppa. maaf telah berburuk sangka padamu. Saranghae.” Cupp. Yoona mengecup pipiku singkat.

“Na ddo, Jagi.” Balasku.

“Oppa, ayo kita jalan-jalan! Aku ingin melakukan kencan denganmu.”

Tanpa menunggu jawaban dariku, Yoona langsung menarik tanganku untuk berjalan keluar meninggalkan café ini juga Seohyun yang terpaku sendiri.

‘Ucapan cintamu adalah semangat terbesar bagiku, walau ucapan itu tak datang dari dalam hatimu.’

= = = = =

YOONA POV

Apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’ lagi? Kenapa aku mengajaknya kencan? Dan mengapa aku menciumnya? Aish, Yoona, neon jeongmal babonikka!

“Maaf sudah merusak acara makan mesramu dengan Joohyun. Maaf sudah menciummu. Maaf sudah…”

“Sudahlah, kau tidak  merusak acara makanku tadi kok, aku malah senang kau datang disaat yang tepat. Dan aku senang kau mau menciumku. Aku mau lagi.” Sssssrrrr, hatiku berdesir.

“Kau mau lagi? Nanti saja dirumah ya.” Aigoo, apa yang aku katakana? Babo!

“Kalau gitu ayo langsung pulang saja.”

“Ani-yo. Aku ingin berwisata singkat mengelilingi taman ini, Wookie-ya.” Kataku manja.

“Eh? Kau tidak memanggilku ‘Oppa’ lagi?”

“Buat apa? Tak ada untungnya bagiku memanggilmu dengan sebutan ‘Oppa’.” cibirku.

“Aish, kau ini.”

“Wookie-ya, dimana orang tuamu? Aku ingin bertemu dengan Eomma-nim dan Appa-nim ku.”

Ryeowook duduk dikursi yang ada dipinggir taman, akupun aku ikut duduk disebelahnya.

“Orang tuaku sudah meninggal saat aku masih berusia 10 tahun dan saat itu Seohyun masih berusia 7 tahun.”

“Seohyun? Nugu?”

“Seohyun itu nama panggilan Seo Joo Hyun.”

“Orang tua kalian meninggal bersama?”

“Ne, orang tuaku dan orang tua Seohyun mengalami kecelakaan saat mereka dalam perjalanan bisnis di Eropa. Mobil yang mereka tumpangi mengalami tabrakan beruntun dengan 8 kendaraan lain, dan mereka meninggal ditempat.”

“Oh, jadi karena itu kau jadi dekat dengan Seohyun.”

“Ani-yo, bukan karena itu aku dan Seohyun menjadi dekat.”

“Maksudmu?”

“Aish, kau ini. Makanya kalau aku belum selesai bicara jangan disela.” Marahnya padaku.

“Hm, ne ne lanjutkanlah ceritamu.”

Sepertinya mendengar kisah hidup Ryeowook itu menyenangkan.

“Saat mengetahui orang tuaku mengalami kecelakaan di Italia dan meninggal disana, aku hanya bisa menangis dan menunggu jenazah orang tuaku dipulangkan ke Korea.”

-_- TBC -_-

masih ada yang mau baca nih FF? *krik, krik, krik* *nangis dipelukan Wookie Oppa*.


One thought on “[Freelance] From Lie to Love #5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s