[Freelance] Packet? #2


CAST: Oh Sehun [EXO K], Seo Joo Hyun [SNSD], Jung Soo Jung [F(x)]

AUTHOR: AAL (@adlnayu)

GENRE: Romance.

LENGTH: Chapter

Notes: pernah di post di hazelwine.wordpress.com

Part1

Sehun mengambil setumpuk paket yang memenuhi meja kerjanya setelah sebelumnya mengecek bahwa alamat yang tertera disana sudah lengkap. Setelah memastikan bahwa semua paket sudah tertempeli perangko ia memasukan paket-paket itu kedalam tas kerjanya untuk dikirim.

Sehun menghela nafas pelan. Sudah waktunya ia menjalankan pekerjaan merepotkan ini. Semalam, ia baru bisa sampai di rumah pukul tujuh lewat. Itupun ia tidak bisa langsung beristirahat karena harus mengisi berbagai administrasi universitas nya yang entah sangking banyaknya, ia sampai bingung harus mulai dari mana.

Tapi, tidak apa-apa. Setidaknya hari ini, ia tidak menemukan paket misterius itu di atas meja kerjanya. Jadi hari ini, ia bisa sampai rumah jam enam sore dan bisa istirahat seje….

DEG!

Astaga.

Sehun mengerjapkan matanya. Sekali, dua kali. Tapi pemandangan yang berada tepat dihadapannya tetap tidak berubah, tapi, tidak. Sehun tidak akan mempercayai penglihatannya semudah itu.

Perlahan Sehun mengangkat sebelah tangannya lalu dengan kekuatan penuh ia tampar pipinya sendiri hingga menimbulkan suara yang sanggup membuat rekan kerjanya menolah.

“Sehun-ah, ada apa?” Tanya Soo Jung yang tadi sedang sibuk menghitung perangko yang baru masuk pagi ini, “Hei, pipimu merah. Ya, apa kau baru saja menampar dirimu sendiri?”

Pemuda berambut cokelat itu seakan tidak mendengar apa yang dikatakan Soo Jung. Kedua mata hazelnya tetap memandang pada satu objek dan tak berkedip bahkan sedetikpun.

Ia merasa sakit. Sakit yang menjalar di pipinya itu nyata. Ya. Benar. Berarti… Berarti ini bukan mimpi. Sehun sekarang sedang melihat seorang malaikat berjalan dihadapannya dan ini… Bukan mimpi.

“Ya! Ya, Sehun-ah, kau dengar aku?” Soo Jung melambai-lambaikan tangannya tepat dihadapan wajah Sehun. Namun jangankan bergerak, bahkan berkedip saja tidak. Pemuda itu bagaikan baru saja disihir menjadi batu.

Soo Jung mengerucutkan bibirnya. Ia memutar tubuhnya agar bisa melihat apa yang sebenarnya sedang dilihat oleh pemuda itu. Dan sedetik kemudian ia mengerti, “Ah… Dasar laki-laki. Tidak bisa melihat perempuan mulus bahkan sedetik.” Soo Jung menggelengkan kepalanya, lalu mencubit lengan Sehun keras, agar pemuda itu tersadar dari lamunannya.

“A… AW! Ya, apa yang kau lakukan bodoh!”

“Kau yang bodoh! Lihat perempuan saja sampai bengong begitu! Apa kau tidak sadar air liurmu bahkan sampai menetes hah?!”

Sehun mengelus lengannya yang baru saja jadi korban cubitan maut Soo Jung tapi tetap saja matanya terfokus pada satu objek itu.

Rambut panjangnya yang menyentuh pinggang, kulit putih cenderung pucat yang seperti perawan dari sinar mentari, pipi sedikit chubby yang membuat sehun ingin segera mengecupnya, dan satu tangan yang sedang menggenggam paket bermotif bintang membuat Sehun seakan…

Tunggu.

Bintang?

Sehun kembali mengerjapkan matanya. Perempuan itu sekarang sedang bicara sesuatu pada seseorang di belakang meja administrasi, lalu menyerahkan paketnya dengan hati-hati. -Sehun bahkan merasa kalau perempuan itu menyerahkannya dengan jemari yang bergetar-. Setelah selesai ia memberikan senyum pada petugas administrasi tersebut seraya berbalik pergi.

“Sehun-ah, bisakah kau taruh perangko-perangko ini ke laci sebelah sa-…. Hey! Sehun-ah, kau mau kemana?!” Soo Jung yang tadi ingin memberikan setumpuk perangko pada pemuda berambut cokelat berteriak memanggil pemuda itu saat dilihatnya Sehun berlari kearah pintu keluar.

Pemuda berambut cokelat itu seakan tidak mendengar teriakan Soo Jung dan terus melangkah kakinya untuk berlari. Ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. Yang jelas ia hanya ingin bertemu perempuan itu. menemui seseorang yang tiga bulan ini sudah membuat ia menderita karena harus mengantar paket sialan bermotif bintang.

A-Agasshi! Agasshi, tunggu sebentar! H-Hei! Agasshi!” Sehun merentangkan tangan kanannya, berusaha mencegah agar perempuan itu tidak menaiki taksi kosong yang tepat berada di hadapannya ,“Agasshi! Tunggu! Tunggu seben- AH! SHIT

Sehun menghentakan kakinya saat dilihatnya perempuan itu sudah memasuki taksi. Dengan cepat ia langsung memutar tubuhnya dan bermaksud untuk mengambil motornya yang terparkir di samping karton pos sampai sebuah tangan tiba-tiba menghentikan langkahnya “YA, Sehun-ah! Kau mau kemana?!”

“tidak ada waktu untuk menjelas-AAA! Bisakah kau berhenti untuk mencubitku, Jung Soo Jung?!”

“makanya kalau orang lain lagi bicara dengarkan! Lagian, ngapain sih lari-lari?”

Ingin rasanya Sehun menyumpal mulut gadis yang sedang berdiri dihadapannya. Bagaimana caranya ia bisa konsentrasi mencari perempuan misterius itu kalau gadis ini selaluuu saja menahannya. “Soo Jung-ah, maaf. aku tidak bisa menjelaskannya sekarang karena aku harus AAAA!”

“bicara yang benar atau aku akan mencubitmu lagi?!”

Sehun berdecak sebal. Ia elus lengannya yang entah sudah berapa kali menjadi korban keganasan cubitan gadis itu, “Aku harus menyelesaikan sebuah urusan penting yang menyankut hidup dan mati beserta masa depanku. Mengerti?”

“kau berlebihan Sehun-ah. Paling sebenarnya… kau hanya ingin mengejar wanita tadi kan?”

“Naahh!” Sehun menepuk-nepuk pundak Soo Jung sebelum berbalik dan berlari mengambil sepeda motornya, “itu kamu tahu maksudku. Sudah ya, aku duluan.”

“eh loh tunggu, Sehun-ah pekerjaan mu bagaimanaaa? Hei, jangan pergi duluuu!”

Terlambat. Jangankan untuk mendengar teriakannya. Sehun sekarang sudah memakai helmnya dan mulai mengendarai motornya dengan cepat dan membelah jalan raya.

Soo Jung menghela nafas keras. Gadis itu menatap bayangan Sehun yang sudah menghilang dari pelupuk matanya seraya berkata, “Kenapa selalu seperti ini….Sehun-ah?”

~PACKET ? ~

Seohyun melemparkan tubuhnya pada sofa putih besar yang terdapat di ruang tamu kediamannya. Ia tatap langit-langit berwarna putih diatasnya sambil mengatur nafasnya yang agak terengah. Setelah merasa agak tenang, ia bangkit berdiri. Berjalan menuju dapur  untuk mengambil segelas air putih lalu menenggaknya dengan cepat.

Seohyun jarang pergi keluar dari area perumahannya. Paling jauh, ia hanya bisa berpergian sampai mini market terdekat untuk membeli bahan-bahan baku untuk dimasak. Selebihnya, ia tidak berani menginjakkan diri pada tempat asing yang jauh dari rumah.

Pasalnya perempuan ini mengidap penyakit Agorophobia, sebuah kondisi yang membuatnya takut meninggalkan rumah. Barang-barang yang ia beli selama ini ia dapatkan dari pre-order yang dijual online. Dan biasanya, akan ada kurir khusus yang sudah ia sewa untuk mengantarkan barang-barang yang sudah ia beli itu ke kantor pos.

Namun karena kurir langganannya itu sekarang sedang sakit, terpaksa ia harus mengantar paket bulan ini ke kantor pos seorang diri.

Seohyun tidak ingin mengingat bagaimana tadi, berbagai pasang mata seperti menghujam kearahnya. Apalagi mata seorang lelaki berambut cokelat yang memakai topi hijau itu. Ia merasa lelaki itu seperti sedang menelanjanginya, hanya dengan menatapnya. Seohyun bersumpah ia tidak akan pergi keluar area perumahannya lagi. Tidak akan pernah.

Setelah merasa sedikit tenang, perempuan itu berjalan menuju meja kerjanya dan menyalakan laptop. Editornya sudah memberikan deadline. Yaitu, bulan depan ia sudah harus menyelesaikan novelnya. Karena itu lah, perempuan ini bertekad untuk begadang hingga tengah malam. Ia tidak ingin editornya kecewa karena pekerjaannya yang belum rampung.

Seohyun menyingkap sebagian rambutnya ke belakang telinga lalu mulai mengetik. Pemeran utama dalam novelnya adalah seorang direktur muda yang jatuh cinta dengan seorang gadis sederhana pengantar koran. Namun karena berbagai konflik yang menghadang pada akhirnya sang direktur muda menyerah. Ia memilih untuk menyerahkan semuanya, rasa cintanya, pada sang takdir.

Sad ending lagi…..

Ah, suara itu. Seohyun berdecak sebal. Hatinya selalu bicara disaat yang tidak tepat.

Bagaimana kau bisa mengubah hidupmu kalau mengubah akhir dalam ceritamu sendiri saja kau tidak bisa?

Seohyun menutup kedua matanya. Sekarang bukan waktunya untuk mendengarkan isi hatinya. Pekerjaannya tidak akan selesai kalau pikirannya terbang kemana-mana.

Perempuan itu mengerutkan kening saat ia sampai dibagian dimana, ia harus menjelaskan fisik sang direktur muda dengan jelas. Selama ini, ia selalu membayangkan bahwa karakter lelaki yang ada dalam novelnya mirip dengan aktor kenamaan bernama Choi Siwon itu. Ia sangat suka dengan lelaki macho tetapi berhati lembut seperti Siwon.

Kira-kira, fisik si postman seperti apa ya?

Lagi-lagi hatinya bersuara. Tapi kali ini, seohyun tidak berusaha untuk pura-pura tidak mendengarnya. Sebenarnya, perempuan itu suka penasarang dengan fisik sang postman, alias pengantar pos yang biasa mengantarkan paket-paket bodohnya itu.

Selama ini, sang postman selalu memakai helm yang menutupi seluruh mukanya. Jadi, itu membuat Seohyun tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Akan menyenangkan bila sang postman memiliki wajah setampan Choi Siwon… Hidungnya mancung, rahangnya yang kotak , belum lagi perut sixpact yang seksi luar biasa itu. juga…..

Tiiinnn!! Tiiiinnn!!!

Seohyun terlonjak saat mendengar suara klakson motor yang seperti memekakkan kedua telinganya. Perempuan itu berjalan menuju jendela lantai dua dan menyingkap tirai. Dan betapa terkejutnya ia saat matanya menangkap apa yang ia lihat.

Postman! Ngapain dia ada di bawah sana?

Seohyun mengerutkan kedua alisnya. Ia kan baru saja mengirimkan paketnya tadi, mengapa tiba-tiba sang postman sudah mengantarkan paket itu ke rumahnya?

Sang postman yang masih memakai helm turun dari sepeda motornya. Ia membuka jaket kulit yang sedang ia pakai lalu mengeluarkan sebuah paket bermotif bintang dari salah satu sakunya.

Sepertinya sang postman melihat bayangan Seohyun yang sedang berdiri di jendela lantai dua rumahnya, sehingga ia mengangkat paket itu tinggi-tinggi lalu melambai-lambaikannya.

“A-apa yang ia lakukan…..?” Desis Seohyun pelan. Ia semakin tidak mengerti saat sang postman mengangkat sebelah tangannya dan menggerakan telapak tangannya keatas dan kebawah.

Apakah… Ia menyuruhku untuk turun?

Turun? Ke bawah? Dan menemui seorang asing yang tidak ia kenal? Hah. Sampai mati Seohyun tidak akan pernah melakukannya.

Sang postman sepertinya mengerti dengan gelagat Seohyun yang masih mematung di tempat wanita itu berdiri, sehingga ia berteriak, “Jika kau tidak mau turun, aku akan membuang paketmu.”

Seohyun membulatkan kedua matanya. Sang postman ini minta ditatar mulutnya.

Wanita itu menghentakan kakinya kesal. Lalu secepat kilat ia menuruni tangga rumahnya, menuju pintu depan dan membukanya. Ia terengah sedikit, lalu mengatur nafas.

“Apa yang kau mau?” Tanya Seohyun. Sedekit terkejut dengan dirinya sendiri karena berani berbicara dengan orang yang bahkan sama sekali tidak ia kenal.

Sang postman terdiam sebentar, lalu menggelengkan kedua kepalanya. Ia maju beberapa langkah untuk mempersempit jaraknya dengan Seohyun. Membuat perempuan itu malah merasa agak takut dan akhirnya mundur selangkah.

“Akhirnya.” Sang postman mulai berbicara, “Akhirnya aku…bisa melihat wujud aslimu.”

Wujud asli?

Seohyun agak tersinggung mendengar perkataan sang postman. Kesannya ia ini ratu yang selalu menyendiri di istananya yang suram dan hanya bisa menunggu sang pangeran untuk menyelamatkannya.

Dengan gerak cepat perempuan itu langsung mengambil paketnya dari tangan si postman. Lalu berbalik dan segera menutup pintu rumahnya.

Tapi, rupanya ia kalah cepat. Sang postman telah mengganjal pintu rumahnya menggunakan kakinya yang panjang, “Sebentar saja. Tolong dengarkan aku.”

Seohyun ingin menatap kedua bola mata sang postman agar ia bisa melihat kejujuran yang dipancarkan. Menurutnya, bola mata adalah salah satu dari cerminan jiwa. Namun, bila seluruh mukanya ditutupi oleh helm begini, apa yang bisa ia lihat?

Perempuan itu akhirnya mengalah dan kembali keluar. Ia menghembuskan nafas pelan lalu berkata, “Lima menit. Dan buka helm mu itu.”

“Kenapa?”

“Kau sudah meminta. Itu berarti aku juga berhak mengajukan permohonan.” Jawab perempuan itu ketus.

Sang postman memiringkan kepalanya sebentar seperti sedang berfikir. “Baiklah.”

Entah kenapa, Seohyun merasa jantungnya berdetak keras saat tangan sang postman terangkat untuk melepas helm yang biasa menempel di kepalanya. Ini jauh lebih menegangkan dari pada menonton episode terakhir dari pada American Next top Model. Serial televisi yang tidak pernah ditinggalkan oleh perempuan itu.

Seohyun merasa ia sedang menahan nafas saat melihat sejumput rambut cokelat tiba-tiba terlihat. Disusul oleh helaian selanjutnya, dan akhirnya helm itu telah terlepas seutuhnya.

Sedetik kemudian, paket yang ada ditangannya langsung terlepas dan jatuh membentur lantai.

Seohyun mengerjapkan matanya. Mulutnya terbuka lebar membentuk angka ‘O’ besar. mungkin sekarang ia sudah terlihat seperti karakter kudanil yang ada dalam film animasi Madagascar.

Sekarang, wanita itu seperti melihat seorang malaikat. Malaikat berambut cokelat dalam seragam seorang pengantar paket. Kulit pemuda yang sekarang berdiri dihadapannya, putih bersih. Bahkan mungkin pualam kalah darinya.

Bibirnya yang berwarna cherry terukir mungil di wajahnya yang kecil. sepasang mata hazel miliknya begitu sayu seperti seekor racoon.

Perempuan itu terpesona.

Namun, sebersit rasa kecewa mampir di hatinya. Karena ekspetasinya yang mengira bahwa sang postman memiliki rupa seperti Choi Siwon pupus sudah.

“Lihat, aku sudah membuka helm ku kan? Jadi, sekarang ak-“

“berapa umurmu?”

“hah?”

Sehun mengerjapkan matanya bingung. Biasanya, orang akan menanyakan pertanyaan umum saat bertemu orang asing seperti, ‘siapa namamu?’ tapi mengapa perempuan ini malah bertanya berapakah umurnya. “Memangnya kenapa?”

“Berapa umurmu?” Tanya perempuan itu lagi. Entah kenapa nadanya terdengar seperti mengintimidasi.

Sehun mengerutkan alisnya. Perempuan cantik yang berada dihadapannya seperti sedang menatapnya layaknya seekor hewan buas yang bisa saja memangsa dirinya jika ia tidak pergi sekarang juga.

“du-dua…puluh. Me-memangnya kenapa?” Tanya pemuda itu ragu-ragu.

Dapat ia lihat bahu perempuan itu seperti merosot. Awan hitam tiba-tiba seperti menggantung diatas kepalanya. Kedua tungkai kakinya seakan tidak kuat lagi untuk menyangga tubuh tingginya.

“Apa kau punya kakak?” Tanya perempuan itu lagi.

Sehun lagi-lagi merasa bahwa pertanyaan yang diajukan oleh perempuan itu tidak masuk akal. Tadi umur, sekarang ia bertanya apakah Sehun punya saudara apa tidak. Jangan jangan setelah ini perempuan itu akan bertanya apakah ia mencuci kakinya sebelum tidur atau tidak.

“Ya.” Jawab Sehun singkat.

“Berapa umurnya?”

WHAT THE #$%^& ?!!. Sehun membulatkan kedua matanya. Apakah perempuan ini benar-benar terobsesi dengan umur seseorang?

“Kenapa kau menanyakan hal seperti it-“

“Berapa umurnya?” perempuan itu kembali bertanya dengan nada mengintimidasi.

Sehun menghela nafas keras, “dua puluh tiga! Sekarang kau mau bertanya apa lagi hah?!”

Kini Sehun benar-benar bisa melihat perubahan ekspresi di wajah perempuan itu. kecewa, sedih, dan berbagai ekspresi negative lainnya. Seakan seseorang baru saja menaruh bom atom di depan rumahnya.

“Bahkan aku lebih tua dari kakakmu!” perempuan itu tiba-tiba berteriak.

“H-Hah?!!”

“tidak bisa! Aku lebih tua dari kakakmu!”

“Apanya yang tidak bisa?! H-Hey agasshi jangan tutup pintunya, hey, dengarkan aku dulu!”

Sehun menggedor-gedor pintu yang ada dihadapannya. Perempuan ini benar-benar mahluk paling aneh yang pernah ia temui seumurhidupnya.

“Pergi! Kumohon pergilah sebelum aku berharap lebih!” Perempuan itu berteriak dari dalam rumahnya.

“Apanya yang berharap lebih?! Tolong jelaskan padaku, dan buka pintunya!”

“Kumohon….” Sehun bisa mendengar suara perempuan itu terisak, “Aku tidak ingin membuat harapan ini kembali melambung…jadi tolong pergilah.”

Apa maksudnya dengan harapan yang melambung? Pemuda ini benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran perempuan itu. sepeluh menit yang lalu ia bersikap ketus, lalu beberapa detik kemudian tiba-tiba ia menangis.

Tapi Sehun dapat mendengar betapa pilunya tangis perempuan itu, yang membuatnya tidak tega untuk memaksa perempuan itu keluar.

Akhirnya dengan sangat terpaksa ia meninggalkan rumah itu. dengan membawa berjuta-juta tanda Tanya yang menggantung di kepalanya.

                                                                                     ~TBC~

Ya, aku tahu kalian pasti berfikir. Apa maksudnya nih? Ga jelas.

Tenang saja…semua akan terungkap di chapter selanjutnya ^^.

Jangan lupa RCL ya teman-teman, terimakasih banyaak.


6 thoughts on “[Freelance] Packet? #2

  1. KEREEEEEN ABIEEEEZT

    Kayak nonton film beneran.

    Ngakak gila gara2 pertanyaan anehx seohyun. Bisa q byangin muka bingungnya sehun hahahaha

    pokoknya daebak dah!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s