[Freelance] I Remember #1


 

I Remember ‘Love’ When The Day Starts Raining” (Part 1)

Author: Melati (Bukan Nama Sebenarnya – still in relation with author “Mawar” and reader “han_ka_tya”)

Cast:Seo Joo Hyun (SNSD), Cho Kyu Hyun (Super Junior)

Genre: Romance

Length: Two Shoot

Annyeong, readers nim. Reader han_ka_tya kembali bersama author “Melati” (bukan nama sebenarnya). Loh? Siapa lagi tuh ‘Melati’?? Kok bukan ‘Mawar’?? Hehehehehe… sebenarnya dia ini masih saudara ama ‘Mawar’ dan merupakan teman sepermainan saya juga. Dia juga hobi menulis. Sama dengan sang kakak, dia ini punya banyak karya (lebih ke genre romance sih) yang dia simpan sebagai koleksi pribadi. Dia seneng banget ama SeoKyu couple. Bisa dibilang dia WIRES juga. Oke, happy reading all…”

 

“Rinai hujan basahi aku…”

“Temani sepi yang mengendap kala aku mengingatmu…”

“Dan semua saat manis itu…”

Tik!

Tik!

Tik – tik!

. . .

Zrruusshh…

. . .

“Oh… nice… Now it’s raining… Sh** (Oh… Bagus sekali… Sekarang malah turun hujan… Sial)!”

Rintik hujan yang makin deras di siang itu, telah menyulut amarah seorang gadis cantik nan tinggi semampai yang sedang duduk menunggu bis tujuannya. Siang itu, ia hanya seorang diri menanti bis yang akan ditumpangi menuju apartemen sederhananya di kawasan Myeong Dong.

“Alright, seems like you better get you’re a** off from here right away as you can, Seo (Baiklah, sepertinya lebih baik kau segera pergi meninggalkan tempat ini selagi bisa, Seo)!” dengus gadis cantik itu lagi. Lebih tepatnya, ia bergumam kesal pada dirinya sendiri. Baru saja ia hendak nekat ‘menembus’ hujan. Namun hal itu segera diurungkannya. Ditengadahkan kepalanya ke arah langit mendung di atas.

Gelap.

Sepertinya hujan akan berlangsung lama di siang itu. Nampak raut wajah gadis itu menahan amarah. Kedua alisnya bertaut, mulutnya membentuk sedikit lengkungan ke bawah. Meski sedang marah, tidak mengurangi paras cantiknya sedikit pun. Ia terlihat sangat kesal pada situasi yang sedang ia hadapi saat ini.

Sebentar – sebentar diliriknya jam di tangan kirinya. Setiap selesai melirik jam tangannya, kaki kanannya dihentak – hentakkan kecil ke lantai halte. Menimbulkan sedikit suara derap kaki. Menyalurkan ‘energi’ amarahnya. Sepertinya ada sesuatu yang begitu penting untuk segera dilakukan dan jangan sampai terlewatkan oleh gadis itu. Namun, apa daya? Hujan kini tengah membelenggunya di putaran waktu yang tidak akan pernah berhenti dan berputar kembali. Di halte bis yang sepi itu. Maka, ia hanya dapat berpasrah menanti hujan deras itu reda. Sembari berharap bis tujuannya akan segera datang.

“Aaissh!!” gerutunya. Lagi. “Eotteokhajyo (Bagaimana ini)? Aku bisa terlambat kalau seperti ini!!”

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru jalanan sebisanya.

Sepi.

Gadis itu pun kemudian menundukkan wajahnya dan terus bergumam kesal sendiri. Tak lupa, dengan tetap menghentakkan kedua kakinya dengan kasar.

Hujan turun begitu deras. Itu sebabnya tidak banyak kendaraan berlalu lalang di jalanan saat ini. Menambah kepanikan di raut wajah gadis itu.

Tap!

Tap!

Tap!

Tiba – tiba, seseorang telah berdiri di hadapannya. Membuat gadis itu sedikit tersentak dan segera mendongakkan kepalanya. Nampak seorang lelaki dengan tinggi semampai, kulit putih pucat dan wajah tampan,  sedang berdiri di hadapannya.

“Joesonghamnida (Maaf, permisi)!” ucap si lelaki singkat sembari mendudukkan tubuhnya di sebelah gadis itu. Baju yang dikenakan lelaki tampan itu basah kuyup.

Ia terus mengibas – ngibaskan jaket basahnya ke samping kanannya. Agar cipratan airnya tidak mengenai gadis yang duduk di samping kirinya. Gadis di sampingnya masih terus menatapnya tanpa berkedip.

Terpesona.

 

“Segalanya seperti mimpi…”

“Kujalani hidup sendiri…”

“Andai waktu berganti…”

“Aku tetap takkan berubah…”

 

Kini, gadis yang sedari tadi terus bergumam kesal karena hujan deras telah menahannya di tempat itu, malah bersyukur pada Tuhan karena hujan dapat mempertemukannya dengan lelaki tampan di sampingnya. Ia terus memperhatikan lelaki itu dari atas hingga bawah. Matanya seakan tidak percaya bahwa di Seoul, masih ada lelaki tampan.

Lelaki itu yang merasa sedang menjadi perhatian mata gadis di sampingnya, langsung menolehkan kepalanya ke arah si gadis. Kedua mata mereka bertemu dan gadis itu buru – buru mengalihkan pandangannya. Suasana jadi sedikit terlihat tidak nyaman. Si gadis terlihat malu sekali karena ia tertangkap basah sedang mengamati lelaki tampan di sampingnya. Ia pun sedikit menggeser duduknya menjauh.

Nampak gadis itu sedang bergumam kesal. Lagi – lagi. Mungkin merutuki dirinya sendiri karena kejadian tadi.

Hya, neo pabo aniya (Hei, apa kau ini bodoh)? Pasti namja (lelaki) itu jadi berpikiran yang tidak – tidak padamu! Haaissh… Seo Joo Hyun! Jangan mempermalukan dirimu sendiri!! gerutunya dalam hati.

“Joesonghamnida, Agassi (Permisi, Nona).” ucap lelaki itu padanya. Si gadis nampak terkejut karena baru menyadari bahwa si lelaki sedang mengajaknya ‘berkomunikasi’ dari lima detik yang lalu. Dan… Ia bahkan telah duduk di dekatnya lagi! Gadis itu mendadak menjadi gugup.

“Na (Aku)?” balasnya sembari menunjuk dirinya sendiri. Seperti orang bodoh.

Lelaki itu tersenyum dan berkata, “Ne. Neo ya (Ya. Kau).”

Berhenti.

Gadis itu tiba – tiba merasa waktu di sekitarnya berhenti berputar dari ‘tugas’ memainkan kehidupan. Dibenaknya saat ini hanyalah terdapat wajah lelaki tampan itu tersenyum padanya tadi. Seperti ia memiliki remote control ajaib dan sedang menekan tombol ‘pause’nya. Rasanya sangat nyaman, damai, manis, dan bahagia… sekali!

“Agassi (Nona)?” ucap lelaki itu sembari menjentikkan kedua jarinya di hadapan si gadis.

“Ah! Ye (Ya)!” seru si gadis karena tersadar dari ‘waktunya yang terhenti sesaat’ tadi.

Lelaki tampan itu malah tertawa padanya.

What? Is there something wrong with me so that he laughs at me like this (Apa ada sesuatu yang salah padaku sampai ia tertawa seperti ini)? batin si gadis. Ia benar – benar tidak menemukan mengapa lelaki di hadapannya semakin tertawa lepas. Si gadis memalingkan wajahnya dari lelaki itu dan kembali menggembungkan pipinya.

“Mianhaeda, Agassi (Maafkan aku, Nona)… Mianhae, jeongmal mianhaeda (Maaf, aku benar – benar mohon maaf)… Aku tidak bermaksud tidak sopan padamu…” ucapnya di sela tawanya.

Si gadis tidak merespon. Ia malah semakin menjauhi lelaki itu dengan menggeser duduknya. Sampai ke ujung bangku tunggu halte. Membuat si lelaki nampak terkejut. Tetapi ia tidak menyerah. Ia merasa tidak enak pada gadis itu. Tiba – tiba saja.

Lelaki itu kembali merapatkan duduknya ke arah si gadis. “Agassi, mianhaeda (Nona, maafkan aku). Baiklah, kalau kau tidak mau memaafkanku, aku…”

Perkataannya terhenti.

Si gadis tiba – tiba saja memutar tubuhnya hingga mereka kini saling berhadapan dan… ternyata berada sangat dekat satu sama lain! Kedua manik mata mereka kembali beradu untuk sepuluh detik lamanya hingga…

Glaar…!!

Gemuruh suara guntur menyadarkan mereka berdua. Keduanya pun saling mengalihkan pandangannya masing – masing ke arah berlawanan. Dan bergerak menjauh saling membelakangi. Tubuh keduanya nampak bergetar naik – turun. Seiring irama degub jantung mereka yang telah terpompa dengan cepat. Mungkin akibat saling memandang tadi.

Hya, nan jeongmal mwoya (Hei, ada apa denganku)? Aku tadi tidak seperti orang bodoh, kan? batin si lelaki sembari terus mengatur nafasnya.

Kyaa…! Aigoo (Aduh)… Eotteokhaeyo (Bagaimana ya)? Aku tadi terlalu dekat memandangnya! Aissh… apakah pipiku yang chubby ini dapat terlihat jelas di hadapannya? Aarrgh…! Aku jadi makin malu dan kesal pada diriku sendiri yang tidak cantik di saat seperti ini…! Keluh si gadis di dalam hatinya. Kedua tangannya menyentuh pipi chubbynya sendiri. Arasseoyo (Oke)! Aku harus mulai serius berdiet mulai saat ini! tambah gadis itu lagi.

. . .

“Neo (Kau)…”

“Ah, neo (kau)…”

Bagaikan anggota koor, keduanya serempak berucap. Si gadis pun tersenyum menahan tawa, begitu pula dengan si lelaki. Ia tersenyum sambil menyibakkan poni rambutnya yang basah ke arah puncak kepalanya.

“Ah, anieyo (tidak). Kau saja dulu.” Ucap si lelaki kemudian sambil mengisyaratkan pada si gadis untuk mengutarakan kata – katanya tadi.

“Ah… ne (baiklah)… ” ucap si gadis nampak malu – malu, “Aku… hanya ingin tahu… Sepertinya kau juga takut dengan suara guntur ya?”

Kening si lelaki berkerut. “Na?” tanyanya dengan nada ragu. Si gadis mengangguk – angguk dengan cepat. Lelaki itu pun tersenyum. Sangat manis dan hangat. Kemudian ia menggeleng perlahan. Menjawab pertanyaan si gadis lawan bicaranya. Namun, apa yang terjadi pada lawan bicaranya itu adalah…

Oemeona (Astaga)~ senyum namja ini… akan selalu kusimpan di dalam lubuk hatiku selamanya! Batin si gadis dengan sangat girang. Jantungnya terasa begitu meledak – ledak lebih hebat dari pada sebelumnya. Perasaannya melayang – layang dengan begitu menyenangkan. Seketika semua ‘beban’ di kepala dan di pundaknya terasa menghilang. Sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dan ia ingin dapat terus merasakan perasaan itu. Dengan lelaki tampan di hadapannya.

“Agassi?” suara lembut lelaki itu kembali ‘menormalkan’ semua sensasi aneh menyenangkan yang sedang terjadi di tubuh si gadis cantik.

“Ye!” jawabnya dengan lantang. Sekali lagi membuat si lelaki tertawa. Si gadis bingung sekaligus merasa malu sendiri. “Waeyo(Kenapa)?”

“Anieyo…” Jawab lelaki itu dengan wajah serius seolah berkata ‘benar – benar tidak ada maksud apa – apa’

“Ah…” gumam si gadis lagi. Sebenarnya ia masih kurang puas dengan jawaban si lelaki.

“Cho Kyu Hyun imnida (Aku Cho Kyu Hyun). Bangapseumnida (Senang berkenalan denganmu).”

Lelaki tampan itu memperkenalkan dirinya. Tangannya terulur ke hadapan gadis cantik itu. Yang sejenak terdiam karena belum menyadari bahwa lelaki itu sedang menunggu balasan darinya.

“Ne… Bangapseumnida…” jawab gadis itu akhirnya di detik ke sepuluh, “Na neun Seo Joo Hyun imnida (Aku Seo Joo Hyun). Biasa dipanggil Seo Hyun.” Tangan kanan Seo Hyun menyambut uluran tangan Kyu Hyun dengan balas tersenyum ke arahnya.

“Kau bisa memanggilku Kyu Hyun. Geureomyeon (Kalau begitu)… Seo Hyun ssi, would you be friends with me? (Seo Hyun, maukah berteman denganku?)”

“Ne. With all my pleasure, Kyu Hyun ssi (Dengan senang hati, Kyu Hyun).”

 

“Aku selalu bahagia saat hujan turun…”

“Karna aku dapat mengenangmu untukku sendiri…”

“Aku bisa tersenyum sepanjang hari…”

“Karna hujan pernah… menahanmu di sini…”

“Untukku…” [Utopia – Hujan]

 

Lima Tahun Kemudian…

“Seo Hyun ah, bos memanggilmu di ruangannya.” Ucap seorang gadis pada kawannya yang tengah sibuk membersihkan meja dengan kain lap dan cairan pembersih.

“Ne, aratseumnida, Tae Yeon eonni. (Baiklah, aku mengerti, Ka’ Tae Yeon.)”

“Seo Hyun ah!” panggil gadis bernama Tae Yeon itu lagi. Gadis yang dimaksud itu pun mengalihkan pandangannya ke sumber suara. “Aku rasa bos sedang tidak ‘bersahabat’ malam ini. Aku harap kau bisa sedikit berhati – hati padanya, ya…”

“Ne, Eonni. Aratseumnida. Gamsahamnida.”

Owner’s Room

Seo Hyun membaca tulisan di plat yang menempel di sebuah pintu dan menghela nafas dalam – dalam. Dengan keraguan yang membuncah di dada – hingga sedikit terasa menyesakkan dirinya – ia memutar kenop pintu ruangan itu. Di mana sang pemilik tempatnya bekerja tengah menantinya.

“Joesonghamnida, Hee Chul nim.”

“Ah, Seo Hyun ssi, masuk!” sahut suara dari dalam. Dingin. Membuat langkah Seo Hyun semakin berat untuk ke dalam ruangan.

“Mwoseumnikka? (Ada yang bisa saya bantu?)” ucap Seo Hyun lirih. Tiba – tiba saja semua suara dan keberaniannya tercekat di tenggorokan.

“Silahkan duduk dulu, Seo Hyun ssi.”

Seo Hyun menurut. Tenaganya terasa lemah sekali saat hendak menarik kursi yang berada di depan sang pemilik/bos tempatnya bekerja, Hee Chul, hingga ia pun begitu berusaha sekeras mungkin untuk menarik benda yang beratnya tidak lebih dari 2kg tersebut.

“Seo Joo Hyun ssi. Apa kabarmu akhir – akhir ini?” sang owner mencoba berbasa – basi sedikit pada gadis yang terlihat sangat lemah sekali saat ini.

Dengan keberanian yang menciut, Seo Hyun berusaha memandang lawan bicaranya saat ini. “Kabar saya… baik – baik saja, Hee nim. Gamsahamnida telah menanyakan kabar saya…” suaranya kini terdengar seperti berbisik.

“Aratseumnida. Geureomnikka (Kalau begitu), ada yang harus kusampaikan padamu, Seo Hyun ssi. Aku harap, kau bisa menerima ini dengan lapang dada.”

Jantung Seo Hyun seperti berhenti berdetak. Bukan dalam arti yang menyenangkan, melainkan seperti sebuah teror di siang hari. Tiba – tiba saja suasana di sekitarnya terasa begitu mencekam menanti sesuatu yang akan disampaikan oleh bosnya ini.

“Seo Joo Hyun ssi, mianhamnida. Kau dipecat.”

 

“No one knew all the pain I went through (Tak seorang pun tahu sakit yang tlah kualami)…”

“All the love I saved deep in my heart for you (Semua rasa cinta yang kupendam jauh dalam lubuk hatiku untukmu)…”

“Didn’t know where I would go, where I would be (Tak tahu ‘kan pergi ke mana, tak tahu ‘kan menjadi seperti apa)…”

“But you made me leave (Tapi kau yang memaksaku tuk pergi)…”

“And plus my heart it just, it just kept telling me so (Dan hatiku pun terus mendorongku)…”

 

Bagai disambar petir di siang hari, sekujur tubuh Seo Hyun lemas seketika. Kabar yang tengah ia nantikan dengan harap – harap cemas, malah menjatuhkan perasaannya ke dalam sumur dalam tak berujung yang bernama ‘putus asa’. Pupus sudah semuanya. Hancur hatinya. Satu – satunya masa depannya pun telah melayang. Kembali.

Sudah hampir selama tiga tahun ini Seo Hyun berkali – kali dipecat dari berbagai macam pekerjaannya. Menjadi pramuniaga toko serba ada, kasir swalayan, penjual tiket taman hiburan, penjaga tempat penitipan anak, buruh di salah satu pabrik makanan ringan, pegawai di gudang pabrik minuman ringan, hingga yang terakhir adalah sebagai pelayan café ini. Satu pun tidak ada yang bertahan lebih dari enam bulan. Dan alasan pemecatannya selalu sama. Yaitu..

“Aku merasa akhir – akhir ini kau semakin tidak becus dan tidak kompeten di antara semua pegawaiku. Kau sering terlambat masuk dengan alasan yang terlalu dibuat – buat, sering mengantuk bahkan tertidur di tempat kerja, sama sekali tidak bersemangat, dan tidak masuk kerja satu minggu dua kali. Kuakui kau cukup rajin dan sangat memuaskan di tiga bulan awal. Tapi… apa yang terjadi setelah tiga bulan itu? Kau mulai berubah dan puncaknya adalah akhir – akhir ini. Aku tahu kau sedang berada dalam masalah, tetapi bukankah sudah sepantasnya profesionalitas itu harus kita tunjukkan dan lakukan di tempat bekerja? Entahlah, Seo Hyun ssi. Aku rasa kesempatan dua bulanmu sudah habis dan tidak berlaku lagi mulai hari ini. Dengan sangat menyesal, aku harus melakukan ini. Semoga sukses di lain kesempatan.”

Seo Hyun masih terdiam mencerna semua perkataan bosnya. Semua kata – kata yang selalu sama ia dapatkan ketika dipecat. Matanya mulai memanas. Dadanya sesak. Yang lebih menyakitkan adalah, semua hal yang menjadi sebab kegagalannya itu memang benar adanya dan bukan karena dibuat – buat. Tetapi karena ia secara sadar dan nyata melakukan semua hal itu. Untuk satu alasan yang sama pula. Setelah kejadian di hari itu.

Seo Hyun pun bangkit dan berusaha sekuat tenaga agar tangisnya tidak pecah. Namun, apa dayanya? Toh buliran bening itu tetap menetes juga. Ia pun segera membungkuk hormat untuk menyembunyikan air matanya. Setelah menerima amplop – amplop berisi surat pemecatan dan uang pesangon, ia segera pamit pergi meninggalkan tempat kerjanya yang terakhir itu.

“Seo Hyun ah!” panggil seseorang yang sangat ia kenali. Seseorang yang begitu perhatian dan sayang padanya selama kurang lebih hampir lima bulan ini.

“Tae Yeon eonni? Ah, mianhamnida jika aku selalu merepotkan Eonni selama di sini…” ucap Seo Hyun sembari cepat – cepat menghapus air matanya yang tidak mau berhenti mengalir. Membasahi kedua pipinya.

Tik!

Tik!

Rintik hujan… Apakah hari ini akan turun hujan lagi…? Apakah ia pun mengetahui bahwa rintik hujan akan membasahiku di hari ini? ucap Seo Hyun dalam hati. Tiba – tiba saja perasaannya seperti dipenuhi kebimbangan. Haruskah ia membiarkan otaknya memainkan ‘kenangan manis’ itu di saat hari turun hujan. Atau…

“Seo Hyun ah…” Tae Yeon memeluk erat gadis yang telah dianggapnya seperti adiknya sendiri itu. Menyadarkannya untuk kembali ke kehidupan nyatanya. “Jebal (Aku mohon), Seo Hyun ah… Kenapa kau menjadi seperti ini? Ada apa denganmu? Kau bisa menceritakannya padaku. Aku mohon kita jangan sampai putus hubungan ya, aku akan sering – sering mampir ke tempatmu bila aku sedang libur, kau tidak keberatan kan?” tangis Tae Yeon pun kini pecah bersamaan dengan pelukannya yang semakin erat pada Seo Hyun.

“Gamsahamnida, Eonni… Gamsahae… Aku… aku benar – benar banyak berhutang budi pada Eonni… A – aku…”

Tik! Tik!

“Sudahlah, Hyunnie. Ingatlah satu hal ini, aku – sampai kapan pun, akan selalu menjadi Eonnimu! Dan kau bisa meminta bantuanku kapan saja! Jangan pernah ragu, aku pasti akan segera ke tempatmu dan membantumu sebisaku, Hyunnie…”

“Ne, Eonni. Gomawoyo… Jeongmal gomabseumnida (Aku benar – benar berterima kasih).  Geureom, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa, jaga kesehatan Eonni, jangan sering marah – marah pada Yun Ho oppa, dia itu namja yang sangat baik dan tampan…”

Tik! Tik! Tik!

“Ne… Arasseoyo… Kau juga Hyunnie. Aku akan meneleponmu besok. Aku mohon beritahu aku jika kau akan mengganti nomormu, ya? Ara?”

Seo Hyun tersenyum dan melepaskan pelukannya. Menghapus sisa air mata di kedua pipi gadis bernama Tae Yeon itu. Gadis yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri. Tae Yeon membalasnya dengan menyentil gemas ujung hidungnya. Mereka pun tertawa. Untuk yang terakhir kalinya di tempat itu.

Zrruusshh…

 

“Seo Hyun ah, cepat kemari! Ayolah! Ini tidak apa – apa!”

“Tidak, Oppa! Aku tidak mau!!”

“Jangan konyol, Seo Hyun ah! Rintik hujan tidak akan membunuhmu!”

Gadis itu nampak berpikir sejenak. Tetapi, si lelaki malah menarik tangannya paksa. Hingga tubuhnya pun keluar dari bangunan itu. Baru saja gadis itu membiarkan rintik hujan menerpa tubuhnya. Kini, rintik hujan telah membasahi seluruh tubuhnya.

“Eotteyo (Bagaimana)?! Rasanya menyenangkan, bukan?!” sahut si lelaki agak berseru karena derasnya hujan sambil merentangkan kedua tangannya lebar – lebar. Terlihat begitu menikmati setiap tetesan hujan deras itu.

“Oppa! Aku rasa ini sudah cukup! Hujannya deras sekali! Lagi pula anginnya kencang! Nanti kalau kita berdua sakit, eotteokhae?!” balas si gadis sambil ikut berteriak. Namun teriakannya terdengar bergetar. Gadis itu sudah sangat kedinginan.

“Kau tidak akan jatuh sakit kemudian mati karena berhujan – hujanan, Seo Hyun ah! Bukankah kau bertanya padaku bagaimana caranya menghapus rasa sakit hatimu, kan?! Biarkan hujan yang menghapusnya, Seo Hyun ah! Lepaskan semuanya pada hujan…!!” teriak lelaki itu dengan sangat keras.

Si gadis hanya terus terdiam memandangi lelaki yang terus saja berteriak – teriak kencang itu. Lelaki itu nampak tidak peduli sama sekali. Yang jelas, setelah beberapa kali meneriak – riakkan isi hatinya, ia nampak sangat bebas dan ‘tanpa beban’. Nampak lebih ‘hidup’ dari pada sebelumnya. Lelaki itu pun kini bahkan dapat tersenyum kembali. Senyuman yang damai, hangat, menenangkan, dan terlihat bahagia sekali. Senyuman yang selalu sama untuk diperlihatkan pada gadis itu.

Si gadis pun jadi tertarik untuk ikut mencobanya. Menumpahkan segala perasaan dan isi di hatinya pada hujan yang sedang turun membasahi bumi. Menumpahkannya pada hujan yang tengah memberikan ‘kehidupan’ bagi seluruh makhluk ciptaanNya yang berada di seluruh dunia.

Untung saja di taman itu hanya ada mereka berdua. Tidak ada seorang pun yang terganggu dengan teriakan – teriakan mereka saat itu. Teriakan – teriakan yang berasal dari dalam lubuk hati mereka yang paling dalam…

 

 

Hujan deras pun turun membasahi kota Seoul di sore itu. Menyisakan sejuta kenangan yang terus ‘bermain’ di benak Seo Hyun. Tanpa bisa ia hindari sendiri. Perlahan namun pasti, air matanya turun sederas dan sebanyak rintik hujan di sore itu…

*Seo*Kyu*

 

Beberapa Minggu Kemudian…

Sinar mentari perlahan mulai menyeruak masuk ke dalam sebuah ruangan berukuran 4×6 itu. Hari ternyata sudah siang. Satu – satunya ‘benda bernyawa’ yang berada di dalam ruangan itu telah membuka matanya dengan sedikit malas. Seo Joo Hyun bangkit dari kasur lipatnya dan segera beranjak menuju satu – satunya jendela di ruangan itu.

Graakk…!

Ia menggeser pintu jendela yang berukuran cukup besar itu. Membiarkan sinar mentari menerobos masuk dengan bebas menerpa tubuhnya. Sejenak ia hanya memejamkan matanya kuat – kuat. Matanya tidak cukup kuat menahan terpaan cahaya terang sang mentari di siang itu. Setelah kedua matanya dapat beradaptasi dengan baik, barulah ia membukanya kembali secara perlahan. Menikmati pemandangan di siang itu. Di sekitar rumah kecilnya yang sangat sederhana di kawasan perkampungan pinggiran kota Seoul. Mungkin lebih tepatnya bukan sebuah rumah, melainkan sebuah kamar. Karena tempat Seo Hyun bernaung saat ini lebih pantas disebut kamar. Ukurannya sama sekali tidak cocok untuk disebut sebagai sebuah rumah sederhana sekalipun.

Di dalam ruangan itu hanya terdapat sebuah lemari pakaian ukuran sedang, sebuah meja lengkap dengan dua bantal duduk, sebuah magic com, sebuah kompor, beberapa peralatan memasak, sebuah kasur lipat, dan kulkas mini. Kamar mandinya berada di luar ruangan itu.

Suasana di sekitar rumahnya sepi. Meski hari sudah siang. Bisa dibilang, kawasan tempat tinggal Seo Hyun adalah kawasan terpencil di pinggiran kota Seoul. Kawasan sepi yang sangat ideal untuk suasana hati Seo Hyun saat ini. Setelah kejadian itu.

Drrtt! Drrtt!

Getaran dari handphone Seo Hyun menyadarkannya sejenak dari pikirannya yang akan melayang kembali ke masa lalunya. Ia pun segera menjauh dari jendelanya dan beralih mengangkat panggilan masuk dari handphonenya.

“Yeoboseyo?” ucap Seo Hyun dengan suara sedikit bergetar.

“Yeoboseyo, Seo Hyunnie?” ucap suara dari seberang panggilan.

“Eonni?” Seo Hyun seperti mengenal betul suara itu.

“Ne! Na ya (Ini aku)! Eodieyo (Di mana kau)?”

“Rumah. Waeyo?” Seo Hyun memastikan benar suara yang sedang ia dengarkan saat ini. Ia mencoba mengingatnya. Akhirnya ia pun menyadari siapa si pemilik suara tersebut.

“Aniya. Aku dan Yesung oppa sedang dalam perjalanan ke tempatmu. Hari ini, kau tidak pergi ke mana – mana kan?”

“Ani. Aku tidak akan pergi ke mana – mana hari ini. Geunde, Yuri eonni ada apa ingin bertemu denganku?” nada suara Seo Hyun terdengar sedikit tidak suka.

“Hyunnie… Bogoshippeoyo (Aku rindu padamu)! Neo jinjja mwoya (Ada apa denganmu)? Aku hanya ingin melihat keadaanmu, Saranghaneun Yeo-Dongsaeng (Adikku Tersayang)…Kau satu – satunya adik kesayanganku! Neo… nareul do bogoshippeo aniya (Tidakkah kau juga merindukanku)?”

Seo Hyun terhenyak mendengar kata – kata kakak kandungnya itu, Seo Yuri. Yang kini telah berganti marga menjadi Kim Yuri, mengikuti marga suaminya. Sejenak Seo Hyun merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia sempat melupakan kakak kandungnya yang telah cukup lama tidak dijumpainya? Bahkan, ia tadi juga mengeluarkan nada tidak sukanya saat mendengar kakak kandungnya yang ditemani kakak iparnya itu akan datang menemuinya.

“Eonni… mianhaeyo. Aku bukannya tidak suka Eonni dan Oppa datang ke rumahku, hanya saja aku…”

“Gwaenchana (Tidak apa), Hyunnie… Sudahlah, kita lupakan saja. Yang jelas, aku sudah hampir sampai di tempatmu. Mungkin aku akan tiba di sana dua puluh menit lagi. Arasseo?”

“Ne, Eonni. Aku akan bersiap. Tolong berkendaralah dengan hati – hati, ya.”

“Arayo… Ah, Hyunnie! Aku lupa! Cepatlah mandi, aissh… bau badanmu sampai kemari, iya kan Oppa?”

“Ne! Hhahahahahaha….” Kini, suara di seberang telepon berganti suara pria. Sudah pasti itu adalah suara suami kakaknya.

“Hyunnie, kami hanya bercanda kok! Oke, sampai bertemu di tempatmu ya, kami pergi!”

Tuut…

Sambungan pun terputus. Menyisakan Seo Hyun yang masih tersenyum – senyum sendiri. Kakak kandungnya – Yuri – dan kakak iparnya – Kim Jong Woon atau biasa dipanggil Yesung – rupanya sama sekali tidak berubah. Pernikahan mereka berdua sudah berjalan satu tahun ini. Meski belum dikaruniai seorang anak, mereka sangat bahagia dengan kehidupan baru mereka. Bagi Seo Hyun, mereka benar – benar pasangan yang serasi. Walau sama – sama sedikit ‘aneh’ dan kadang malah terlihat konyol satu sama lain, tetapi justru itu yang membuat mereka cocok satu sama lain.

Seo Hyun pun membayangkan, andai saja takdirnya sebagus Yuri. Namun, sebagai seorang manusia, tentu kita tidak boleh mempersalahkan takdir bukan? Karena takdir merupakan garis permainanNya yang mutlak. Dan setiap ciptaanNya telah memiliki takdirnya masing – masing.

Tidak. Ia tidak boleh seperti ini lagi. Sudah cukup baginya. Ia pun segera bangkit dan bergegas menuju kamar mandi. Bersiap menyambut kedatangan dua orang yang ternyata cukup ia rindukan.

 

“There was no where else to go, oh (Tak ada lagi tempat tuk dituju)…”

“Nobody else to turn to, oh (Tak ada seorangpun tuk jadi penggantimu)…”

“For the rest of my life, I promised myself I will love me first genuinely (Di sisa hidupku, aku berjanji pada diriku sendiri aku akan mulai mencintai diriku terlebih dahulu)…”

 

Tok! Tok! Tok!

“Seo Hyunnie?! Kami sudah sampai…!” seru seorang wanita kepada penghuni rumah kecil itu.

“Annyeong, Seo Hyun ah! Apa kau berada di dalam?!” sahut pula seorang pria di samping wanita itu.

. . .

“Oppa, apa menurutmu… Hyunnie… Apa dia mencoba bunuh diri lagi?! Eomeona! Oppa, cepat dobrak pintunya! Aku tidak ingin hampir kehilangan dia lagi!!” pekik si wanita yang tak lain adalah kakak kandung Seo Hyun, Yuri.

“Ne! Jamkkanman! Menjauhlah sedikit, Istriku. Aku akan mendobrak pintu ini! Hana (Satu)… Dul (Dua)… Set (Tiga)!”

Brraakk!

“Seo Hyunnie! Kau di mana?! Hyunnie??!!” teriak Yuri dengan keras ke dalam rumah sempit itu. Ia dan suaminya cepat – cepat menerobos masuk ke dalam rumah. Seharusnya Yuri tidak perlu berteriak sekencang itu, mengingat dimensi rumah yang kecil.

Tidak juga ada jawaban.

“HYUNNIE!!” teriak Yuri kembali saat ia melihat gundukan bertutupkan selimut di atas kasur lipat yang berada di dekat jendela. Ia pun segera berlari dan duduk bersimpuh di hadapan kasur lipat itu. “Oppa… Kita terlambat… Hyun – Hyunnie, ia sudah… Hiks – hiks – ia sudah… Huuaaa….!!!”

Yesung pun duduk bersimpuh di samping istrinya itu – yang masih terus menangis terisak sambil memandangi ‘gundukan’ di atas kasur – dan meraih tubuhnya untuk dipeluknya erat. Mencoba menenangkan dan menguatkan hati istrinya yang nampak benar – benar terpukul. “Jagiya… Sudahlah… Ini bukan kesalahan kita…” ucapnya berulang – ulang sembari mengelus punggung istrinya dengan lembut.

“Geunde (Tapi), Oppa… Seo Hyun itu masih muda, harusnya ia tidak meninggalkan kita terlebih dahulu dengan cara seperti ini…!” isak Yuri semakin menjadi. Ia pun hanya pasrah saat tangan Yesung mendekatkan kepalanya untuk bersandar di bahunya. Agar Yuri berhenti memandangi ‘gundukan’ itu. Yuri terlalu syok untuk mencerna semua yang telah terjadi saat ini.

“Hya, apa – apaan kalian ini?!” sahut sebuah suara dengan dingin.

Dengan serempak Yesung dan Yuri menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari belakang mereka.

“Hyunnie! Kau masih hidup?!” pekik Yuri. Ia mengerjap – ngerjapkan matanya sejenak. Kemudian ia langsung bangkit dan memeluk seseorang yang ia kira ada di dalam ‘gundukan’ itu tadi.

Seo Hyun hanya menatap datar ke arah Yuri kemudian menatap tajam ke arah Yesung yang masih dengan mulut menganga – mungkin karena otak Yesung pun masih dalam usaha untuk mencerna pemandangan apa yang sedang terjadi di hadapannya – terdiam tak beranjak dari tempatnya. Sejenak kemudian, Yesung tersadar sesuatu dan membuka selimut kasur lipat itu dengan tergesa. Kemudian, ia tertawa – tawa sendiri setelah menemukan apa yang ada dibaliknya.

“Jagiya (Sayang), syukurlah… Rupanya ini hanya boneka Keroro!” canda Yesung sembari mengangkat boneka itu dan memainkan tangan hijau si boneka dengan menggerak – gerakkannya ke atas – bawah. Yuri pun melepas pelukannya sejenak. Ia hanya menatap kosong boneka itu dan kembali menatap Seo Hyun dengan penuh kekhawatiran serta masih berlinang air mata.

“Oppa, sebenarnya ada apa dengan istrimu ini?!” seru Seo Hyun yang masih tidak bisa menerima kehadiran Yuri dan Yesung yang menurutnya terlihat seperti sedang bermain ‘drama’ di dekat kasur lipatnya. Terkesan sedikit berlebihan. Yesung hanya tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Hyunnie… Kau jahat sekali… Begini – begini aku kan juga Eonnimu…” rajuk Yuri. Ia pun kembali memeluk erat dan sayang adiknya itu.

“Bukan begitu, Eonni… Kenapa kalian tega sekali merusak pintu rumahku?!! Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang di malam hari nanti jika pintunya tidak bisa ditutup?!!” pekik Seo Hyun dengan keras sampai – sampai Yuri dan Yesung dengan serempak menutup kedua telinganya.

“Oppa, aku takut…” ucap Yuri spontan dan cepat – cepat melepaskan pelukannya dari Seo Hyun. Ia kemudian segera berlari menuju Yesung dan memeluk erat suaminya itu, seolah mencari perlindungan di balik tubuh tegapnya. Yesung pun dengan cekatan balas memeluk istrinya dan mengelus pipinya, seolah sedang menenangkan anak kecil yang ketakutan akan menerima amarah dari ibunya.

Seo Hyun memutar kedua bola matanya dengan malas saat melihat pemandangan ‘berlebihan sekali’ di hadapannya. Kemudian ia mendengus kasar. Kesal dengan kelakuan kakak kandung dan kakak iparnya yang menurutnya konyol dan tidak juga berubah dari dulu. Kompak sekali mereka berdua! Dasar pasangan aneh dan konyol! Umpat Seo Hyun dalam hatinya. Ia tidak habis pikir, mengapa kakak kandung dan kakak iparnya itu bisa – bisanya ‘bermain drama’ dan tidak serius di saat seperti ini.

Ralat, menurut Seo Hyun, Yuri dan Yesung hampir tidak pernah terlihat dan berlaku serius di hadapannya.

“Baiklah, Oppa – Eonni. Apa kalian mau menjelaskan sesuatu padaku dan pintuku yang rusak itu?” ucap Seo Hyun dengan dingin dan menunjuk ke arah pintunya yang hampir lepas dari kusennya.

“Mianhaeyo, Hyunnie… Mau bagaimana lagi? Kami langsung panik saat kau tidak juga membukakan pintu untuk kami…” Ucap Yuri dengan memasang wajah ‘innocent’nya.

Seo Hyun terlihat makin malas.“Eonni, hentikan itu! Jangan terlalu berlebihan,” ucap Seo Hyun lagi. Menyela dengan dingin.

Yuri sedikit terkejut dengan ucapan dan sikap Seo Hyun yang terasa begitu dingin sekali padanya. Ia mencoba untuk tetap biasa saja, agar tidak terpancing perasaan aneh yang mulai muncul di dadanya. “Aku bukan bermaksud berlebihan, Hyunnie… Hanya saja… setelah kami cukup lama mengetuk – ngetuk pintu, tidak juga ada tanggapan dari dalam. Kami mulai panik.”

Seo Hyun bahkan masih sempat menguap di hadapan Yuri. Yuri terhenyak menyaksikan sikap Seo Hyun yang seperti tidak menganggapnya.

“Bahkan,” lanjutnya mencoba mencairkan suasana dan mengalihkan perasaan aneh yang mulai terasa seperti amarah itu, “Kami tidak mendengar suara apa – apa dari dalam, kami kira kau…” ucapannya terhenti. Ia terkejut karena Seo Hyun tiba – tiba menatapnya begitu tajam dan dingin.

“Aku apa, Eonni? Mati?” jawab Seo Hyun dengan begitu datar dan ringan. Seperti tidak ada beban sama sekali.

“Seperti sudah tidak ada lagi kehidupan!” bentak Yuri akhirnya. Ia tidak tahan lagi. Hatinya sakit saat orang yang begitu ia sayangi ternyata benar – benar telah berubah padanya. “Aku jadi teringat saat itu! Saat kau… hampir mati karena percobaan bunuh dirimu itu! Kau tahu betapa takut dan syoknya aku saat itu, kan?! Tidakkah kau pahami juga, kami semua ini sangat menyayangimu, Hyunnie! Berhentilah seperti ini! Jebal, kembalilah pada dirimu yang dulu! Seo Hyunnieku yang aku kenal! Bukan Seo Hyun yang seperti sekarang ini!!”

‘Ledakan’ hati terdalam Yuri pun pecah sudah. Tak terbendung lagi. Yesung yang sedari tadi berusaha menahannya pun sudah tidak ada guna lagi. Semua pemikiran yang Yuri pendam selama hampir tiga tahun ini telah terungkap semuanya pada orang yang paling ia sayangi, adik kandungnya, Seo Joo Hyun.

Yuri kembali terisak. Yesung terus berusaha menenangkan istrinya itu. Seo Hyun hanya terdiam mencerna semua perkataan Yuri. Sebersit perasaan bersalah dan menyesal mulai muncul di dirinya.

Eonni benar. Siapakah aku ini sebenarnya selama tiga tahun terakhir ini?? Ada apa denganku..?!! teriak Seo Hyun dalam hatinya. Perlahan, tubuhnya bergetar. Ia berusaha sekuat tenaga menahan tangisannya. Ia tidak ingin menangis di hadapan dua orang yang sangat ia rindukan akhir – akhir ini.

“Seo Hyunnie…”

Yuri meraih tangan kanan adiknya yang masih berdiri menahan tangis di hadapannya. Yuri bangkit dan menatap dalam mata adik kandung satu – satunya itu.

“Seo Hyunnie, aku sangat menyayangimu melebihi nyawaku sendiri. Jebal, kembalilah pulang atau ikutlah denganku. Kau harus berhenti meratapi dirimu yang seperti ini. Ada aku, Yesung oppa, bahkan Appa dan Eomma juga…”

“Hentikan, Eonni! Aku sudah yatim piatu!” Seo Hyun menepis kasar tangan Yuri yang menggenggam tangan kanannya tadi.

“Seo Hyun ah! Jaga ucapanmu!” balas Yuri. Ia nampak lebih terpukul saat mendengar Seo Hyun mengatakan hal itu. “Appa dan Eomma tidak pernah berkata seperti itu! Mereka hanya tidak ingin kau menjatuhkan pilihan yang salah!”

“Tidak, Eonni. Jelas – jelas mereka mengusirku saat itu. Mereka tidak mau menganggapku sebagai anak kandung mereka saat aku menolak bersekolah di Amerika. Mengikuti kemauan mereka. Eonni tahu betul kejadiannya! Mengapa Eonni tidak juga bisa memahami perasaanku saat itu?!” ucap Seo Hyun yang akhirnya meninggikan nada suaranya. Membuat Yuri yang berada di hadapannya kembali tersentak kaget.

Yesung hanya terdiam mendengarkan pertengkaran kedua kakak beradik itu. Memang hal inilah yang lebih baik ia lakukan saat ini. Ia sama sekali tidak berhak untuk ikut campur di situasi ini atau ia hanya akan memperkeruh suasana bila ia nekat untuk ikut berbicara. Maka, ia memutuskan untuk berdiri agak jauh dari mereka, istri dan adik iparnya itu. Ia memilih berdiri di dekat jendela dan memandang keluar. Berpura – pura menikmati pemandangan kota Seoul yang nampak dari jendela.

“Oleh karena itu, pulanglah ke rumah, Hyunnie… Sudah sepantasnya sebagai seorang anak, kitalah yang datang untuk meminta maaf pada mereka… Bukan mereka yang harus mendatangi kita…” suara Yuri terdengar melemah. Ia tidak ingin ikut terpancing emosi saat ini. “Hyunnie… kalau saja kau tahu… Appa… Sudah setahun ini ia mengidap penyakit jantung lemah… Appa… Beliau begitu syok semenjak mendengar berita kau berniat mengakhiri hidupmu di saat itu. Semenjak itulah Appa didiagnosa oleh dokter memiliki bakat penyakit jantung lemah… Dan beberapa bulan terakhir ini adalah puncaknya. Betapa beliau begitu menyesali ucapannya saat itu…”

Seo Hyun masih terus terdiam. Tuan Seo Jung Mo dan Nyonya Seo Bo Ah, adalah kedua orang tua kandung Seo Hyun dan Yuri. Tuan Seo adalah salah satu dari pemilik saham terbesar dari perusahaan elektronik ternama di Seoul. Grup Dae Han. Maka, Seo Hyun sebenarnya bisa dikatakan sebagai anak orang kaya/konglomerat. Namun, sesuatu telah terjadi di masa lalu hingga Seo Hyun terpaksa meninggalkan semua kemewahan itu dan memilih menjalani hidupnya yang sederhana seperti saat ini. Jauh dari kata glamor seperti yang harusnya ia jalani di masa lalu.

“Aku… sangat tersinggung dengan ucapan Appa saat itu, Eonni.” Ucap Seo Hyun setelah ia terdiam cukup lama.

“Kalau kau memang masih sangat marah pada Appa… Bagaimana dengan Eomma? Pernahkah kau memikirkan bagaimana perasaan Eomma? Tiada hari beliau lalui tanpa menangisi dan mengkhawatirkanmu, Hyunnie… Kau harus tahu itu!”

Seo Hyun seperti tercambuk ribuan kali mendengar perkataan Yuri mengenai ibunya. Nyonya Seo Bo Ah. Sosok wanita yang paling ia sayangi dan cintai di dunia ini. Tubuh Seo Hyun bergetar hebat. Ibunya. Ia sangat merindukan sosok wanita itu. Hampir enam tahun ia tidak pernah bertemu dengan ibunya lagi. Tidak mendengar suara lembutnya, tidak merasakan sentuh hangatnya, bahkan… tidak melihat senyum keibuan yang selalu dapat menenangkan hati gundahnya itu lagi! Semua perasaan rindu pada ibunya telah membuncah di dadanya. Sesak sekali. Karena rasa rindunya ternyata melebihi kapasitas ruang hatinya. Semuanya membludak begitu saja menjadi tangisan pilu seorang anak yang merasa bersalah sekali pada ibunya. Ia terus meneriakkan kata – kata ‘maaf’ di sela isak tangisannya.

Yuri kembali memeluk erat tubuh adiknya yang bergetar dengan sangat hebat itu. Sebagai seorang kakak, ia merasa gagal. Gagal tidak bisa membimbing adiknya menuju kebahagiaan yang seharusnya mereka terima dan rasakan sama rata. Hatinya miris melihat nasib adiknya yang seperti ini. Hingga tanpa ia sadari, ia turut larut dalam tangisan pilu adiknya.

Yesung datang dengan tergopoh – gopoh ke arah Yuri. Ia tersentak kaget saat mendengar erangan pilu tangis Seo Hyun. Baru pertama kali ia mendengar dan melihat sendiri Seo Hyun menangis seperti itu. Ia hanya mampu terdiam – kembali – menyaksikan pemandangan mengharukan di hadapannya.

 

“Where were you when I said I love you? (Di manakah dirimu saat aku berteriak mencintaimu?)…”

“And where were you when I cried at night? (Di manakah dirimu saat aku menangis sendiri di malam sepiku?)…”

“Waiting up, couldn’t sleep without you (Terjaga, tak dapat memejamkan mata tanpamu di sisiku)…”

“Thinking of all the times we shared (Terbayang saat – saat indah kita saling berbagi)…”

 

“Apakah ia sudah tertidur?” tanya Yesung pada Yuri yang sedang membenarkan letak selimut pada tubuh Seo Hyun.

“Ne, Oppa. Ia sudah lelap dalam mimpinya kurasa…” jawab Yuri dengan lirih. Ia pandangi wajah adiknya yang sedang tertidur dengan lelap itu. Setelah hampir selama dua jam lamanya – non stop – adiknya menangis menumpahkan seluruh kesedihannya yang tertahan.

“Baiklah. Malam ini kita temani dia di sini. Mau kubelikan sesuatu agar kau bisa tidur dengan nyenyak?”

“Animyeon (Tidak perlu). Gomawo, Oppa.”

“Ne, Jagiya .” ucap Yesung sambil mengangguk singkat dan hendak beranjak keluar rumah namun tertahan oleh suara deham istrinya.”Waeyo?”

“Ani… Geunde, Oppa… Apa Oppa bisa memperbaiki pintu rumah ini? Aku tetap merasa tidak enak pada Hyunnie… Sepertinya ia sangat menyayangi rumah ini. Itu sebabnya ia sampai terlihat tidak terima tadi karena kau sudah mendobraknya.”

Yesung tersenyum dan menyentil hidung Yuri. “Hhahahahaha – ne, Jagiya. Gwaenchana. Akan kuperbaiki sekarang juga. Untukmu.”

“Gomawo, Oppa. Saranghaeyo (Aku mencintaimu).”

“Arasseoyo.”

“Tcih, pede sekali Oppa ini…”

“Mwoya? Hya, Kim Yuri… Siapa yang dulu begitu mengagumi kakak kelasnya di fakultas hukum karena ia tidak hanya tampan dan mempesona, tetapi ia juga pandai bernyanyi dengan merdu? Nuguya (Siapa)?” tanya Yesung sembari menunjuk – nunjuk Yuri.

Yuri menggembungkan pipinya. Yesung makin tergelak melihat tingkah laku istrinya yang sangat imut itu – menurutnya. “Ne… Itu aku…” jawab Yuri pada akhirnya.

“Hahahahahaha… Good… Good… Good Wife…” balas Yesung sembari menepuk – nepuk pundak Yuri.

“Hentikan, Oppa. Oppa tidak cocok berbahasa Inggris. Pronounciation(Cara pengucapan)nya masih terdengar tidak enak!” ejek Yuri yang langsung mendapat cubitan gemas dari suaminya di pipi kirinya. “Kya..! Hya! Kim Jong Woon! Appo, do (Sakit, tahu)!”

“Sssttt….!” Sela Yesung sembari membekap mulut Yuri dengan cepat. “Adikmu sedang tidur, jangan teriak seperti itu! Bagaimana jika ia terbangun lagi??”

Yuri mengangguk – angguk mengerti dan menepis tangan Yesung yang tadi membekap mulutnya. “Itu karena dari tadi Oppa yang menggodaku terus! Hentikan, ah!” desisnya pelan namun tegas. Yesung mengacungkan kedua jari tangan kanannya membentuk tanda ‘peace/damai’, meminta maaf pada Yuri dan berjanji akan berhenti menggoda istrinya itu.

“Baiklah, kau istirahatlah, Jagiya. Pasti kau sangat lelah hari ini. Tunggulah, akan kuambilkan selimut lagi untukmu. Aku selalu membawa selimut cadangan di mobilku. Setelah itu, akan kuperbaiki pintu rumah ini. Oke?”

Yuri mengangguk dan berkata, “Kau juga cepatlah tidur setelah memperbaiki pintu itu, Oppa. Besok pagi setelah Seo Hyunnie tenang dan bersedia, kita harus segera berangkat ke Busan. Membawa kembali Seo Joo Hyun pulang ke rumah menemui Appa dan Eomma…”

*To*Be*Continued*

 


4 thoughts on “[Freelance] I Remember #1

  1. crita ne bgus dan sya ska cara u mnulis di crita nya,,, distiap kta mempunyai makna tersendri, ttp semngat dgn krya2 nya ya,,, sya suka krna lagu hujan yang u buat dlm crita ne,,,,,
    lnjutttt & lam knal.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s