Moment Bends : No Need To Wait Longer


moment bends NNTWL

Title             : Moment Bends (No Need To Wait Longer)

Author        : Cocoa

Casts           : Im Yoona – SNSD

Park Chanyeol – EXO

Kris Wu – EXO

Oh Sehun – EXO

Kai – EXO

Chen – EXO

Genre         : Romance

Length        : Oneshoot

 

“Dimana aku bisa bersembunyi?”

Ne? Musun-“ Yoona menatap kebingungan campur kaget.

Bagaimana tidak? Dia sedang berkonsentrasi membuat garnish untuk banana bread yang dipesan pelanggan di meja 9 dengan choco icing saat seorang pria yang tiba-tiba muncul di sebelahnya dan bertanya dimana-dia-bisa-bersembunyi. Hancur sudah bentuk zig-zag yang dibuatnya karena choco icing yang terlanjur membeku diatas banana bread itu malah mirip mi keriting. Sial.

“Dimana aku bisa bersembunyi? Cepat jawab. Mereka sudah menuju kesini!!” desak pria itu kini sambil menghentak-hentak tak sabar ke counter. Kepalanya celingukan kesana kemari gelisah.

“Saya tidak mengerti maksud Anda. Mereka siapa? Kenapa Anda harus-“

“AH DISITU SAJA!” seru pria itu memotong perkataan Yoona sambil menunjuk ke bawah meja counter pembuatan minuman.

Sebelum Yoona sempat menanggapi, pria itu sudah menerobos pintu masuk ke area servis yang jelas-jelas diberi stiker “Staff Only” dan langsung meringkuk di kolong meja yang selurusan dengan meja tempat Yoona sedang membuat icing tadi.

“Apa yang Anda lakukan?”

“Sssshhhttt. Jika ada yang bertanya keberadaan orang dengan ciri-ciri sepertiku, bilang saja kau tidak tahu. Kumohon. Aku bisa celaka jika bertemu mereka.”

“Aku-“

Kling! Kling!

Bel pintu masuk café itu berbunyi karena pintu itu bergerak.

“Ah! Itu mereka!” desis pria itu tertahan.

Yoona buru-buru melongok kearah pintu masuk untuk melihat siapa yang datang. Empat orang pria muda dengan setelan necis masuk. Mereka berjalan mendekat kearah Yoona sehingga Yoona bisa melihat jelas gerombolan pria itu dan menyadari pria-pria itu berwajah tampan.

Masa iya pria-pria bertampang baik ini akan mencelakai orang?

Berusaha tenang dan bersikap natural, Yoona memasang senyum dan menyapa,”Selamat datang di Clover. Anda mau pesan untuk makan disini atau dibawa pulang?”

“Kemana perginya pria tadi?” tanya salah satu pria berjas hitam yang berdiri paling depan. Perawakannya jangkung dengan rambut pirang dan wajah yang oriental. Mungkin bukan orang Korea asli. Matanya memandang datar kearah Yoona dan terasa menusuk membuat Yoona, dalam pikirannya, langsung mencalonkan pria ini sebagai pemeran vampire selanjutnya menggantikan Robert Pattinson jika ada seri lanjutan maupun spin-off dari film Twilight.

“Pria yang mana ya?” Yoona balik bertanya memasang wajah lugu. Sebenarnya dia sudah tahu bahwa “pria tadi” yang ditanyai orang ini adalah pria yang kini meringkuk di bawah kakinya ini. Meskipun ia masih ragu untuk membantu pria itu, entah kenapa Yoona akhirnya malah bertindak seakan setuju untuk membantu.

“Yang tadi duduk di ujung situ,” Pria jangkung itu menunjuk ke salah satu meja di sudut Clover.

Yoona masih memasang wajah bingung membuat pria itu mendecak kesal.

“Kai, jangan-jangan kau salah lihat.” tuduh pria jangkung itu pada salah satu pria di gerombolan itu.

“Tidak mungkin aku salah lihat. Jelas-jelas dia tadi sedang duduk disitu. Sehun juga melihatnya kok.” bantah pria bernama Kai itu.

Lalu seorang pria lainnya dengan setelan biru laut datang mendekat kearah pria jangkung itu. “Aku dan Kai melihatnya dengan jelas, Kris.”

“Tapi buktinya tidak ada siapa-siapa disini. Café ini saja kosong.” desak pria jangkung yang sepertinya bernama Kris itu. Sepertinya benar dugaan Yoona kalau pria itu bukan orang Korea asli. Namanya saja tidak lumrah.

”Apa nona benar-benar tidak melihat pria yang duduk disitu?” Sehun menunjuk kearah yang sama dengan yang Kris tunjuk tadi. “Badannya tinggi, kurus, hmm…dengan kemeja jeans…rambutnya hitam agak ikal…mukanya menyebalkan…”

Sekilas Yoona melirik ke bawah kakinya dan melihat pria itu. Ciri-ciri yang sangat akurat.

Tapi belum sampai sepuluh detik Yoona melirik, pria itu langsung melempar pandangan jangan-lihat-kearah-sini-nyawaku-bisa-terancam. Yoona kembali melihat Sehun. “Maaf, sepertinya tidak ada customer dengan ciri-ciri seperti itu yang berkunjung. Mungkin Anda salah lihat.”

Kris mendecak kesal lagi kemudian menggerutu, “Dasar bocah pengacau. Kenapa dia gesit seperti belut begini sih kalau urusan melarikan diri?”

Seorang pria lainnya yang sejak tadi tidak angkat bicara akhirnya mendekat dan menepuk pundak Kris perlahan. “Sudahlah. Ayo kita cari lagi. Mungkin dia masih berkeliaran di sekitar sini.”

“Benar kata Chen, Kris. Dia tidak akan pergi jauh. Dia kan tidak membawa mobil maupun dompetnya karena semua barangnya ada pada kita. Dia tidak mungkin bisa bergerak banyak.” imbuh Kai.

Kris tampak setuju meskipun masih tampak geram. Ia kemudian menoleh kearah Yoona lagi. “Maaf mengganggumu ya, nona. Terimakasih.”

Begitu keempat pria tampan itu akhirnya keluar dari Clover, Yoona segera berjongkok menghadap ke pria yang namanya belum diketahui itu yang masih meringkuk bersembunyi.

“Mereka sudah pergi?” tanya pria itu berbisik.

Yoona mengangguk. “Sekarang saya butuh penjelasan Anda. Bukannya ingin ikut campur tapi sepertinya tindakan Anda bersembunyi dari teman-teman Anda juga bukan hal yang benar dan Anda mengganggu pekerjaan saya.”

Pria itu tidak menggubris omelan Yoona sama sekali. Ia bangkit dari posisi meringkuknya tadi lalu menoleh kearah piring saji berisi banana bread dengan hiasan coklat gagal itu dan memotong cake itu lalu mengunyahnya dengan santai.

Chogiyo-“

“Tidak usah seformal itu denganku. Santai saja.” Ia menatap Yoona yang kini berdiri di sisinya dengan ramah lalu mengulurkan tangan. “Perkenalkan, namaku Park Chanyeol.”

“Ehm, Chanyeol-ssi, Anda-“

“Sudah ku bilang santai saja. Anggap saja aku temanmu. Omong-omong, kuenya enak sekali. Siapa namamu?” ujar pria bernama Chanyeol itu acak. Tidak jelas ingin memuji atau mengajak berkenalan.

Yoona membenarkan perkataan Sehun tadi. Bukan cuma tampangnya yang meski tampan tapi tampak menyebalkan, sikap Chanyeol memang menyebalkan.

“Chanyeol-ssi, kue itu untuk pelanggan yang memesannya bukan untukmu. Berhenti memakannya dan kau berhutang penjelasan padaku. Ganti rugi juga.” serobot Yoona sebelum Chanyeol menyelanya lagi.

Chanyeol menaikkan sebelah alisnya tanda heran. “Bukannya ini pesanan untuk meja nomor 9?”

“Kalau iya, memangnya kenapa?” Yoona bertanya balik.

“Aku orang yang duduk di meja nomor 9. Itu artinya…..” Nada bicara Chanyeol mengambang seakan isyarat bagi Yoona untuk melanjutkannya.

“…kau yang memesan kue ini.” lanjut Yoona sambil menoleh ke meja nomor 9 yang ternyata meja yang ditunjuk oleh Kris dan Sehun tadi. Ia sendiri baru sadar bahwa tidak ada pengunjung lain di Clover.

“Selamat nona cantik, kau mendapatkan nilai 100.” sambung Chanyeol usil.

Yoona mengerucutkan bibirnya kesal.

“Soal kue sudah selesai ya? Lanjut ke soal ganti rugi. Aku harus ganti rugi apa padamu? Memangnya aku berbuat apa?” ujar Chanyeol masih mengunyah sisa banana bread itu.

“Kau mengagetkanku dan itu membuat…hmmm…”

“Membuat-hmmm-apa?”

“Hiasan coklat untuk kue itu gagal.”

Chanyeol tergelak geli. Suara tawanya yang renyah mengumandang bercampur dengan sayup-sayup nyanyian Paris Match – Call My Name dari speaker di seluruh penjuru Clover. Alih-alih kesal, Yoona malah terperangah mendengar tawa pria itu dengan alasan yang Yoona sendiri tidak temukan.

“Kau ini lucu sekali. Pacarmu pasti beruntung sekali memilikimu. Cantik, pintar membuat kue, lucu lagi. Hahaha,” Lagi-lagi Chanyeol berbicara tak tentu arah.

Yoona seakan mulai terbiasa dengan gaya bicara Chanyeol hanya menanggapi acuh,”Aku anggap itu pujian. Kecuali bagian pacar.”

“Kenapa kecuali bagian itu? Pacarmu tidak bahagia denganmu? Kalian sedang bertengkar ya?”

“Aku tidak punya pacar.” tukas Yoona.

“Wah sayang sekali ya?” komentar Chanyeol santai.

Yoona memasang wajah masam. Chanyeol berhenti terkekeh lalu mengimbuhi,”Soal ganti rugi juga sudah selesai ya. Kuenya sudah habis dan aku sebagai customer tidak kecewa dengan kuenya jadi anggap saja tidak masalah.”

Banana bread itu sudah habis tandas. Chanyeol lalu mengeluarkan dompetnya sambil bertanya,”Aku harus bayar berapa nona cantik?”

“Berhenti memanggilku nona cantik.”

“Loh? Kau tidak suka? Lalu aku harus memanggilmu apa? Nona lucu? Nona pintar membuat kue? Aku kan tidak tahu namamu. Tadi aku bertanya tapi kau tidak menjawabnya malah langsung marah-marah padaku.”

“Yoona. Im Yoona.”

“Oke, Yoona-ssi, aku harus bayar berapa?”

“3000 Won.”

Chanyeol kemudian menyerahkan sejumlah uang. Sembari menunggu Yoona menghitung kembalian dan mencetak bukti bayar, Chanyeol tampak celingukan melihat ke seisi Clover dari balik counter staff seakan dia sudah biasa berada disitu.

“Kau mengurus café ini sendirian?” tanya Chanyeol.

“Iya.”

“Kenapa tidak sewa pegawai? Apa tidak kerepotan?”

“Malas. Aku susah percaya dengan orang lain.”

“Oh ya? Berarti aku hebat.”

Yoona mengerutkan keningnya heran.

“Kau bisa cepat percaya denganku bahkan membantuku sembunyi dari orang-orang tadi. Berarti aku hebat kan?” Chanyeol memamerkan cengirannya.

“Terserahlah.” tanggap Yoona pendek lalu menyerahkan uang kembalian dan struk pembelian.

“Ya sudah. Secepatnya aku akan berkunjung kesini lagi ya, Yoona-ssi. Sangat senang mengenalmu hari ini, terimakasih juga untuk bantuanmu tadi.”

Lalu Chanyeol dengan cepat keluar dari counter itu dan juga dari Clover sebelumnya Yoona sempat berseru,”Kau belum memberi penjelasan padaku soal orang-orang itu!!! HEY!!!”

***

Di sore yang sama, kira-kira pukul lima sore, Yoona menutup Clover. Dia sedang tidak mood hari ini untuk membuka Clover lebih lama. Seharian ini yang ada di pikirannya adalah pulang ke rumah dan mungkin membeli seporsi ddeokbokki atau jeon untuk cemilan saat di rumah. Entah kenapa ia malas sekali hari ini. Toh, setelah Chanyeol pergi, Clover hanya dikunjungi sepasang kekasih yang hanya take away beberapa potong opera cake.

Saat Yoona akan menggembok pintu masuk Clover dengan niatan keluar dari pintu belakang dapur saja karena ingin membeli ddeokbokki dekat situ, seseorang mengetuk pintu kaca itu membuat bel kecil yang tergantung di badan pintu itu berguncang pelan. Yoona memelototkan matanya begitu menyadari siapa orang yang mengetuk pintu itu. Park Chanyeol. Dengan pakaian yang sama dan gelagat yang sama dengan yang tadi siang.

“Apa yang kau lakukan disini? Clover sudah tutup!” pekik Yoona kaget.

Chanyeol menunjuk-nunjuk telinganya lalu menggeleng-geleng dan mengedikkan bahunya. Isyarat dia tidak bisa mendengar apa yang Yoona katakan dari dalam Clover. Yoona, meski gusar, akhirnya membuka pintu kaca itu dan seketika Chanyeol masuk ke Clover tanpa menunggu dipersilahkan.

“Apa yang kau lakukan disini? Clover sudah tutup, Chanyeol-ssi.” ulang Yoona.

“Ooooh, tadi kau bicara itu padaku? Maaf ya, aku tidak mendengarnya hehehe…” balas Chanyeol.

“Chanyeol-ssi…” geram Yoona membuat Chanyeol meringis.

“Iya, iya, aku jawab pertanyaanmu. Aku disini karena aku ingin. Bukankah tadi siang aku bilang aku akan mengunjungi café ini secepatnya?”

Yoona membatin kesal. Iya sih, tapi tidak secepat ini juga.

“Apa café-nya sudah tutup? Cepat sekali. Apa memang biasanya tutup sesore ini?” oceh Chanyeol.

Yoona menggeleng malas. “Aku sedang malas saja. Karena kau sudah tahu kalau Clover tutup, apa kau bisa pergi sekarang?”

“Eits, tidak bisa.”

“Kenapa tidak?”

“Tidak sebelum kau mau ikut pergi denganku.” Chanyeol tersenyum lebar penuh harap kearah Yoona.

“Kenapa aku harus mau? Sudah ku bilang, aku tidak mudah percaya dengan orang lain.” tolak Yoona.

“Tapi kau sudah percaya padaku.” tuntut Chanyeol.

“Itu asumsimu.” sanggah Yoona tak kalah bersikeras.

“Ayolah, Yoona-ssi. Kau tidak akan menyesal, sungguh.” rengek Chanyeol seakan dia sudah biasa melakukan hal itu pada Yoona.

“Benar juga ya kata temanmu tadi. Kau menyebalkan.”

“Pasti Sehun yang bilang begitu. Ya kan? Dasar bocah. Kenapa malah aku yang dibilang menyebalkan? Padahal Kris lebih menyebalkan.” gerutu Chanyeol sendiri.

“Berarti benar dugaanku mereka teman-temanmu kan?” tebak Yoona.

Chanyeol mendesah kesal lalu akhirnya berujar,”Dengan menyesal, aku harus mengatakan iya. Orang-orang yang tadi mencariku itu…teman baikku.”

“Lalu kenapa kau sembunyi dari mereka?” selidik Yoona.

“Itu karena-“ Chanyeol sudah berapi-api ingin menjawab tapi tiba-tiba terhenti.

“Karena apa?” desak Yoona tak sabar.

Chanyeol malah tersenyum iseng. “Bagaimana kalau begini saja, aku akan menceritakan semuanya tentangku dan orang-orang tadi asal kau mau pergi denganku.” tawar Chanyeol.

Yoona mendelik kesal. Kenapa malah jadi begini?

“Siapa bilang aku mau mendengar semua tentangmu?” balas Yoona sok acuh.

“Tidak usah malu-malu. Kau penasaran kan?”

Yoona berusaha tak bergeming.

“Aku akan mengantarmu pulang juga kok. Meskipun rumahmu di galaksi lain. Sungguh.”

“Kenapa sih kau bersikeras mengajakku? Kita bahkan baru berkenalan tadi siang.”

“Memangnya aku harus berapa lama mengenalmu supaya bisa mengajakmu pergi?”

“Chanyeol-ssi, kau belum tahu aku orang macam apa dan begitu pula aku tidak mengetahui tentangmu.”

“Makanya kau harus pergi denganku supaya kau tahu tentangku. Kan aku sudah janji akan menceritakan semua tentangku kalau kau mau pergi denganku.”

“Aku tidak percaya denganmu.”

“Kenapa tidak? Aku tidak akan berbuat jahat atau membahayakanmu kok.”

“Kenapa kau keras kepala sih?”

“Kenapa kau juga keras kepala?”

Jika diteruskan mungkin saja pertengkaran mereka akan usai esok paginya dan rencana Yoona untuk beristirahat di rumah akan semakin jauh dari kenyataan. Yoona menggeram kesal lalu dengan wajah masam berkata,”Baiklah. Aku ikut denganmu tapi-“

“Apapun syaratnya aku setuju. Ayo!”

***

“KAU BURONAN???”

“Ssshhhhttt…” Chanyeol mendelik kearah Yoona mengisyaratkan agar yeoja itu mengecilkan suaranya dan jangan sehisteris itu.

Yoona meringis kecil lalu kembali menyendokkan ddeokbokki ke mulutnya sebelum bertanya,”Kau merampok? Membunuh orang? Memperkosa….wanita…”

“Bukan buronan macam itu. Memangnya aku punya tampang penjahat apa?” protes Chanyeol jengkel. Apalagi Yoona sempat memandangnya takut.

Ekspresi Yoona melunak tapi masih curiga memandangi Chanyeol. “Lalu buronan macam apa?”

“Hmm…” Chanyeol memutar bola matanya tampak berpikir. “Bagaimana ya menyebutnya? Intinya aku buronannya orang-orang itu.”

“Mereka kan teman-temanmu. Kenapa mereka mengejar-ngejarmu seperti itu? Kau berhutang uang yang sangat banyak ya dengan mereka?”

“Aduh kau ini kenapa menuduhku begitu sih? Aku bukannya buron karena tindakan kriminal.”

“Lalu apa?” desak Yoona tak sabar.

“Singkatnya begini, jika mereka berhasil menangkapku, aku akan masuk neraka.”

“Cerita macam apa itu? Kau kan sudah janji akan menceritakan semuanya padaku. Kalau kau melanggar janjimu, aku akan turun di perhentian bis selanjutnya!” ancam Yoona.

Chanyeol dan Yoona memang menggunakan transportasi bis untuk menuju tempat yang Chanyeol inginkan. Masih belum jelas tempat macam apa hingga Chanyeol bersikeras mengajaknya tapi bagi Yoona, rasa penasarannya dengan cerita pria ini melebihi apapun. Rasa malasnya langsung lenyap entah kemana

“Ku kira akan mudah menceritakannya tapi ternyata susah. Bagaimana ya…hmmm…”

“Aku serius dengan perkataanku tadi. Lagipula tidak ada ruginya bagiku untuk tidak-“

“Oke, oke, aku akan cerita sebagian dulu. Karena akan lebih baik kalau kau mendengarnya-eh? Kita sudah sampai ternyata. Ayo turun.” ajak Chanyeol lalu beranjak dari kursinya.

Yoona mengeluh kesal lagi. Batal sudah ancamannya.

Mengikuti Chanyeol yang turun dari bis, Yoona lalu turun dan mengambil tempat di sisi kanan Chanyeol dan berjalan beriringan. Yoona dengan cepat menoleh kearah Chanyeol dan memandang menuntut kearah pria itu.

“Berhenti menatapku begitu, Yoona-ssi. Aku bukan tipe pria yang ingkar janji kok. Tenang saja.”

“Buktikan kalau begitu.”

“Mereka berempat, Kris, Chen, Sehun dan Kai adalah temanku sejak SMA. Kami berlima bekerja di satu perusahaan yang sama.”

“Lalu?”

“Aku keluar dari perusahaan dan mereka tidak terima. Makanya mereka mengejar-ngejarku agar aku kembali bekerja.”

“Hanya itu saja?”

“Ya hanya itu saja.”

“Sungguh?”

“Sungguh.”

“Benar-benar hanya itu saja?”

“Memangnya kau kira akan seperti apa?

Seketika Yoona merasa tertipu mendapati kenyataan bahwa cerita pria itu tak lebih dari satu paragraf dan dia sudah menukar cerita itu dengan kerelaannya pergi malam ini entah kemana dengan pria itu. Raut wajahnya berubah kesal dan jengkel.

“Nah kita sudah sampai!” pekik Chanyeol tiba-tiba.

Seakan rasa jengkel Yoona masih belum tinggi kadarnya, fakta bahwa mereka telah sampai di tempat yang dituju membuat Yoona semakin kesal. Dan lihat apa yang terbentang di hadapannya kini, sebuah taman sepi dengan sepasang ayunan di tengahnya. Apa-apaan ini?

“Ayo kita duduk di ayunan itu.” ajak Chanyeol semangat tanpa menyadari yeoja disampingnya itu sedang menyusun rencana “menyiksa” pria itu karena kebohongannya.

Saat Chanyeol sudah duduk di salah satu ayunan itu, Yoona tetap berdiri di hadapan Chanyeol.

“Kau tidak duduk?”

“Kau tidak berhak memaksa.”

“Kau marah padaku, Yoona-ssi?”

“Menurutmu?”

“Hmm…menurutku sih iya dan itu karena…hmm…kau kecewa dengan ceritaku?” tebak Chanyeol dengan mata berbinar seakan dia baru saja menebak jawaban kuis cerdas cermat antar sekolah.

“…”

“Kau tidak penasaran kenapa aku bersikeras mengajakmu kesini?”

“Tidak karena aku akan pulang sekarang, Chanyeol-SSI!” Yoona lalu balik badan bergerak keluar dari area taman itu namun sebelah tangannya tertahan. Chanyeol yang menahannya.

“Aku keluar dari perusahaan karena aku sakit keras.”

DEG! Hati Yoona mencelos.

“Tapi aku tidak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya itu kepada mereka. Makanya aku memilih kabur menghindari mereka.” jelas Chanyeol dengan nada sedih. Tangannya yang menahan tangan Yoona perlahan terlepas.

Yoona buru-buru balik badan menatap Chanyeol yang kini merunduk lesu. Yoona lalu berjongkok di depan pria itu agar bisa bicara lebih dekat.

“Chanyeol-ssi…”

Tiba-tiba tubuh Chanyeol terkulai lemas dan ambruk ke pelukan Yoona yang berjongkok di hadapannya.

“Chanyeol-ssi? Kau kenapa? Chan-“

YA!!! PARK CHANYEOL!!!” Terdengar suara pria memekik dari ujung sana.

Yoona menoleh cepat kearah sumber suara dan rupanya ada empat pria tengah berlari kearahnya. Dengan cepat, sebelum Yoona berhasil memutuskan apakah ia harus kabur melarikan diri dengan menyeret Chanyeol atau hanya diam dan meminta pertolongan empat pria itu karena tiba-tiba Chanyeol pingsan, empat pria itu sudah sampai di sisinya.

“Chanyeol-ah, kau kenapa?”

“Astaga, pasti dia kumat lagi. Ayo kita bawa ke rumah sakit!”

“Nona, kau ikut saja. Dokter disana pasti butuh menanyaimu soal kronologis Chanyeol pingsan.”

“Ayo, ayo.”

“Hey, aku tidak-“

Terlambat. Yoona keburu diseret masuk ke dalam mobil.

***

“Kau teman Chanyeol?” selidik Kris.

Yoona tampak bingung harus menjawab apa. “Hmmm, ya, anggap saja begitu. Sebenarnya…kami baru berkenalan hari ini.”

“Apa kau yang menemani Chanyeol ke taman itu?”

“Hmmm, iya.”

“Dimana kau-“

“AH IYA! Kau nona yang bekerja di café itu kan? Apa nama café-nya…hmm…Clover?” seru Kai tiba-tiba memecah ketenangan di koridor rumah sakit malam itu.

Kris dan kedua pria lain, Sehun dan Chen, menoleh kaget kearah Yoona. Apa benar yeoja ini adalah pegawai café yang mereka tanyai tentang Chanyeol tadi siang?

Sebagai jawaban, Yoona hanya mengangguk kecil.

“Berarti kau berbohong soal tidak melihat Chanyeol di café itu tadi siang?” tuduh Kris.

Yoona mengangguk pelan lagi. Dia merasa terintimidasi dengan pria vampire di hadapannya ini. Bagaimanapun ia kan hanya bermaksud membantu Chanyeol.

“Dasar bocah pengacau. Dia pasti memanfaatkan nona ini untuk menghindari kita. Tunggu saja sampai ibunya mendengar tentang ini, dia tidak akan selamat.” gerutu Kris berapi-api.

“Aku sudah menelpon Ny. Park. Beliau sedang dalam perjalanan kesini.” kata Chen.

Sehun hanya menghela nafas. Seharian ini sungguh melelahkan mulai dari kaburnya Chanyeol hingga pencarian mereka yang tak kunjung selesai dan sekarang sudah pukul sebelas malam, dia masih harus di rumah sakit menunggu ibu Chanyeol datang untuk membereskan segalanya. Kepalanya berdenyut pelan menuntut diistirahatkan tapi Sehun berusaha mengabaikan. Dalam hati ia mengutuk Chanyeol. Begitu kau siuman, aku akan membuat perhitungan padamu.

Chogiyo…mmm…” ujar Yoona tiba-tiba menarik perhatian empat pria itu lagi padanya.

Yoona tampak ragu sejenak namun akhirnya bertanya,”Sebenarnya Chanyeol sakit separah apa ya?”

Sejak Chanyeol masuk ruang rawat dan mereka disuruh menunggu diluar dulu, belum ada satu orang pun yang bercerita tentang penyakit yang diderita Chanyeol. Yoona sendiri cukup gelisah menghadapi empat orang asing ini dan faktar dia akan segera diwawancarai dokter begitu perawatan Chanyeol selesai. Belum lagi, kontradiksi pernyataan Chanyeol tadi bahwa teman-temannya tidak tahu ia sakit dengan pernyataan teman-temannya bahwa sakitnya Chanyeol kumat saat menemukan Chanyeol pingsan di pelukannya, membuat Yoona bingung.  Takutnya, ia malah diduga mencelakai Chanyeol. Sial sekali dia hari ini.

“Loh? Dia menceritakan penyakitnya padamu?” selidik Sehun.

“Tidak detail sih.” balas Yoona. Dalam hati, ia memutuskan untuk jujur saja sekalian pada keempat pria ini. Jadi akhirnya Yoona melanjutkan penjelasannya. “Dia hanya bilang dia punya penyakit dan tidak ingin kalian tahu agar kalian tidak khawatir.”

Heol,” cetus Sehun terdengar jengkel.

“Nona, apa benar kau baru mengenalnya hari ini?”

“Iya. Kenapa memangnya?”

Daebak.” ujar Kai tidak jelas memberi sanjungan atau meledek.

Yoona hanya tersenyum kecut. “Jadi sebenarnya Chanyeol sakit apa?”

“Tifus. Sudah hampir seminggu dirawat. Tapi karena dia seringkali tidak meminum obat, akhirnya dia tidak sembuh-sembuh.” jelas Chen.

“Tifus?” ulang Yoona tak percaya. Chanyeol hanya sakit tifus?

Melihat ekspresi aneh Yoona, Kris mendadak menaruh curiga. Curiga kalau Chanyeol mengarang cerita lainnya pada teman satu harinya ini.

“Nona, ceritakan apa saja yang Chanyeol katakan padamu. Jangan mengurangi atau melebihkan.” desak Kris tiba-tiba.

“D-dia bilang…dia…hmmm…sakit keras…makanya dia mengundurkan diri dari perusahaan tempat kalian berlima bekerja. Dia juga bilang kalian terus memaksanya untuk kembali bekerja di perusahaan itu.” aku Yoona.

Kai tertawa nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan Yoona. Sehun dan Chen hanya melongo sementara Kris menggeram kesal untuk kesekian kalinya.

Melihat ekspresi empat pria itu, Yoona tiba-tiba menyadari Chanyeol mungkin berbohong lagi padanya.

“Nona, sebenarnya Chanyeol hanya sakit tifus dan sepertinya tidak separah ceritanya padamu. Soal mengundurkan diri dari perusahaan, dia sebenarnya hanya cuti sakit.” Chen lagi-lagi menjelaskan.

“Hah?!?!”

***

“Kau pembohong!”

Chanyeol mengerutkan keningnya heran. Dilipatnya majalah yang sedang dibacanya pagi itu dan berusaha menegakkan sedikit posisi badannya dari tempat tidur rawat rumah sakit itu.

Adalah Yoona yang pagi ini masuk ke kamarnya, saat jam besuk belum mulai, dan menudingnya serta meneriakinya sebagai pembohong. Bahkan Chanyeol belum sempat menyapa yeoja cantik itu hari ini.

“Yoona-ssi…apa maksudmu?”

Yoona tak menjawab. Ia hanya berjalan mendekat ke sisi ranjang Chanyeol dan memandang pria itu dengan kesal.

Semalam, ia sudah tahu cerita yang sebenarnya. Benar dugaan Yoona bahwa cerita kenapa-Chanyeol-buron-oleh-temannya-sendiri itu memang lebih dari satu paragraf. Yang terjadi sebenarnya adalah Chanyeol sesungguhnya direktur perusahaan jaringan supermarket Yongdae. Keempat temannya itu adalah deputi di masing-masing bidang yang juga teman SMA-nya sendiri. Di usianya yang cukup dewasa untuk menikah, ibunya mulai gelisah karena Chanyeol tidak menunjukkan tanda-tanda mempunyai pasangan. Akhirnya, ibunya mulai gencar menjodohkan Chanyeol dengan anak relasinya.

Sekitar dua bulan lalu, ibunya memaksanya untuk bertunangan dengan putri seorang komisaris perusahaan tekstil. Chanyeol yang mati-matian menolak perjodohan itu lalu berusaha kabur dari rumah. Sialnya, ia malah mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan dirinya harus dirawat intensif meskipun luka-lukanya tidak terlalu parah. Karena ia sakit, pertunangan itu lalu ditunda. Saat Chanyeol selesai dirawat, ia punya ide untuk terus sakit saja agar pertunangan itu ditunda terus dan ia punya waktu untuk mencari solusi lain. Entah memang Tuhan membantunya atau kebetulan saja, tak sampai seminggu sejak Chanyeol keluar dari rumah sakit, ia terserang tifus. Dia lalu berencana memperlama durasi sakitnya itu dengan tidak meminum obat yang diberikan. Hingga seminggu yang lalu, ibunya sadar Chanyeol melakukan kecurangan untuk menghindari perjodohan itu, ibunya memilih menunggui Chanyeol di rumah sakit 24 jam penuh untuk memastikan Chanyeol meminum semua obat itu. Akhirnya, kemarin dokter mengatakan Chanyeol boleh pulang dua hari lagi, Chanyeol panik dan tahu dia akan langsung bertunangan begitu ia keluar dari rumah sakit. Ia memutuskan kabur dari rumah sakit dan disitulah awal mula Chanyeol menjadi buron.

Dan alasan kenapa keempat temannya menjadi gusar adalah karena ibu Chanyeol mengancam akan memecat mereka berempat jika tidak berhasil menemukan Chanyeol. Meskipun mereka berempat sebenarnya sudah tahu akal bulus Chanyeol untuk menghindari perjodohan itu.

“Aku sudah tahu cerita yang sebenarnya.”

Chanyeol meringis ngeri melihat tatapan Yoona. “Siapa yang menceritakannya padamu? Kris? Chen? Sehun? Kai?”

“Kau membohongiku lagi, Chanyeol-ssi.”

Chanyeol tak tahu harus berkata apa. Dia sendiri masih meraba alasan kenapa emosi Yoona tiba-tiba fluktuatif begini? Sebenarnya Yoona sudah tahu bagian mana saja? Bagian dia kabur dari rumah sakit? Bagian dia dijodohkan? Atau apa?

“Aku tidak-“

“Dasar orang kaya gila! Apa salahnya kalau kau dijodohkan? Memangnya kau dijodohkan dengan kambing gunung sampai harus melarikan diri dari rumah sakit? Melibatkan orang lain segala. Aku mendapat masalah karenamu, kau tahu???” omel Yoona.

Ternyata nyaris semuanya. Chanyeol mengeluh dalam hati.

“KAU GILA YA?” pekik Yoona kesal.

Lagi-lagi Yoona memekik marah. Chanyeol jadi menaruh curiga pada empat sahabatnya itu kalau mereka bercerita hiperbola pada yeoja cantik ini.

“Kau tiba-tiba pingsan dan membuatku khawatir. Kalau temanmu tidak datang ke taman itu karena tidak percaya padamu, bagaimana? Kau bisa mati betulan! Kau kira aku sekuat apa sampai bisa menggotongmu ke rumah sakit? Kau benar-benar menyebalkan!” marah Yoona.

Chanyeol tersenyum kecil.

Bukan nyaris lagi sebenarnya. Yoona memang sudah tahu semuanya termasuk sms-nya pada Kris, sebelum menemui Yoona di Clover, untuk menjemputnya di taman kecil itu dengan alasan ia sudah lelah kabur. Meskipun memang kenyataannya ia sudah lelah dan yakin akan pingsan cepat atau lambat, ia sendiri tidak yakin Kris percaya dengan sms-nya itu. Karena bukan sekali dua kali, ia usil pada Kris dan teman-temannya. Kemungkinan terburuk memang ia jatuh pingsan di taman itu tanpa Kris dan teman-temannya sempat menyelamatkannya.

“Maafkan aku, Yoona-ssi. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir.” ujar Chanyeol.

“Kenapa kau harus melibatkanku sih? Kita baru berkenalan kemarin siang dan kau membuatku dalam masalah.” protes Yoona masih belum mau melunak pada Chanyeol.

“Soal itu…sebenarnya…aku penasaran denganmu. Kau pasti tidak sadar kalau kita sudah bertemu seminggu yang lalu.”

“Bertemu? Dimana?”

“Disini.”

“Di-si-ni-?” Yoona berusaha mengingat kapan ia pernah kesini.

“Seminggu yang lalu, kau menabrakku di lift.”

Yoona mendadak ingat. Seminggu yang lalu ia ke rumah sakit ini menjenguk temannya dan ia memang menabrak seorang pasien di lift. Jadi pasien itu Chanyeol?

“Sudah ingat ya?”

“Tapi bagaimana kau bisa tahu café-ku?”

“Aku minta tolong pada supirku mengikutimu. Sayangnya, saat itu ibu sadar aku menipunya, aku jadi tidak bisa langsung menemuimu.”

“Dan kemarin kau kabur lalu membawaku dalam masalah ini?”

“Tadinya aku mau berkenalan denganmu saja tapi mereka berempat keburu mengetahui keberadaanku jadi aku terpaksa sedikit memanfaatkanmu.”

“Sedikit??? Kau jelas-jelas BANYAK memanfaatkanku.”

“Ya anggap saja begitu. Maaf ya.”

“Lalu kenapa kau memaksaku ikut ke taman itu? Padahal kau menyuruh teman-temanmu menjemputmu disana.”

“Itu kesialanku juga. Sebenarnya aku mau bernegosiasi denganmu dan empat temanku itu agar kau mau pura-pura jadi pacarku. Tapi karena kelelahan, aku keburu pingsan.”

NE?!?!

“Yoona-ssi, pelankan suaramu. Ini rumah sakit. Kau bisa mengganggu pasien lain.”

“Apa maksudmu aku pura-pura jadi pacarmu.”

“Kau sudah tahu kan kalau aku dijodohkan dan aku menolak. Aku berpikir kalau aku punya pacar pasti ibu akan melunak.”

“Kenapa harus aku? Memangnya tidak punya kandidat lain?”

“Karena aku ingin kau jadi pacarku yang sesungguhnya setelah berpura-pura.”

“Eh?”

Chanyeol terkekeh melihat ekspresi Yoona. “Aku suka padamu. Kau tidak sadar? Untuk apa aku repot-repot menyuruh supirku menyelidiki orang yang menabrakku di lift, kalau bukan karena aku menyukai orang itu?”

“Bagaimana mungkin kau menyukaiku? Kita baru berkenalan kemarin siang. Kau gila ya?”

“Memangnya harus mengenalmu berapa lama sampai aku boleh menyukaimu?”

Yoona terhenyak. Kalimat yang mirip saat semalam Yoona menolak diajak pergi dengan Chanyeol.

“Lagipula ini masih dari sisiku saja yang menyukaimu. Tentunya kalau kau setuju pura-pura jadi pacarku, kita akan punya lebih banyak waktu bersama dan saling mengenal. Lama-lama kau juga akan menyukaiku dan kita bisa benar-benar pacaran.” Chanyeol kemudian tersenyum.

Gila.

Dalam waktu satu hari, semua ini terjadi. Yoona benar-benar tak habis pikir.

“Kau mau kan jadi pacarku?”

“Kau benar-benar menyebalkan.”

“Aku serius kok. Kenapa malah dibilang menyebalkan? Soal kejadian kemarin sampai aku menyusahkanmu, itu karena kesalahan teknis. Jadi jangan judge aku menyebalkan hanya karena itu.” elak Chanyeol.

“Pantas saja ibumu khawatir kau tidak akan punya kekasih.”

“Jangan salah. Aku populer loh di kalangan yeoja. Melihatku saja, mereka sudah berdebar-debar dan nyaris pingsan.”

“Sayangnya aku tidak masuk golongan itu.”

“Oh ya?” Chanyeol tiba-tiba menarik lengan Yoona membuat yeoja itu jatuh ke pelukannya yang berbaring di ranjang.

Benar-benar posisi yang membuat orang akan salah paham. Wajah mereka berdua berhadapan begitu dekat sementara badan Yoona yang setengah rubuh membentur dada Chanyeol membuat mereka memang nyaris berpelukan. Belum lagi sebelah tangan Chanyeol memeluk pinggang Yoona.

DEG! DEG! DEG!

“Jika sudah sedekat ini, apa kau masih belum berdebar merasakan pesonaku? Masih bisa menolak tawaranku?” goda Chanyeol.

“Dasar gila!” Yoona menghentakkan tangan Chanyeol agar badannya menjauh dari pelukan pria itu, menarik selimut di kaki Chanyeol lalu menghempasnya ke muka pria itu dan dengan cepat berbalik meninggalkan ruangan itu.

Chanyeol hanya tersenyum lebar. “Yoona-ssi, kau tidak memberi pernyataan menolak berarti aku anggap kau setuju ya???”

Tapi Yoona sudah menghilang di balik pintu ruang rawat itu meninggalkan Chanyeol yang kegirangan sendiri seakan dia memang benar-benar sudah mendapatkan hati cinta pandangan pertama sekaligus cinta pertamanya itu.

***

“Chanyeol benar-benar nekat.”

“Wajah nona itu sampai merah begitu. Pasti Chanyeol melakukan sesuatu padanya.”

“Bagaimanapun, yeoja itu memang pantas jadi cinta pertama Chanyeol.”

“Sepertinya Chanyeol benar-benar akan membuktikannya pada kita.”

“Membuktikan apa?”

“Membuktikan perkataannya kalau diantara kita berlima, dia yang akan punya kekasih duluan.”

END


53 thoughts on “Moment Bends : No Need To Wait Longer

  1. HUWAAAAAAA ff macam apa nih bisa sekeren ini????
    demi tuhan, pas baca tuh kaya muter film-nya. beneran kebayang peradegannya. konfliknya juga ringan. pokoknya keren bgt. ehemm, boleh kali request ff kyuhyun yoona. thanks 🙂

    Like

    1. serius?
      syukurlah kalo dapet imajinasinya ^^
      gomawo…

      kyuhyun yoona? maaf gak bisa krn yoona udh pernah jd cast di project FF Moment Bends dan kyuhyun udh pernah jd cast di project FF Lovesick. sementara ini project ff dg cast as reader request punyaku cuma ada 2 itu. mungkin akan dipertimbangkan utk ff lainnya diluar project, maaf ya 😦

      gomawo ^^

      Like

      1. aku harap kamu bisa ya buat ff kyuhyun yoona 🙂 oneshoot jg boleh, drabble series apa lagi, hahaha. ngga usah yg project gpp .hehehe

        Like

  2. sumpah demi apah pun ini ff terlucu yg pernah aku baca.daebak.. ditambah castnya past bgtt ma mrka, chanyeol yg memang lucu, trus yoona yg mmang my bias:D.. ahh suka suka…

    berharap ada sequelnya thor,, okey okey.muach.annyeong^^

    Like

  3. Wah….. Ff nya terlalu keren nih….
    Authornya terinspirasi dr mana sih ? Kok bisa se keren ini !!!
    Bikin yg banyak lg ya… Ff chanyeol-yoona yg lainnya ya……
    Gomawoyo sudah berkerja keras . Fighting ya Author…. 🙂

    Like

  4. Ah sumpe lu thor, ni ff DAEBAK ABISS!!
    Padahal gw ni kyuna shipper loh tapi gw jadi suka pairing yoonyeol karena ff ne.

    Ceritanya keren abis, gak berbelit2, konfliknyapun sederhana tapi ngena banget.
    Kata2 yang dipakai juga ringan dan sumpah gw jadi gila baca ni ff karna t’tawa ndiri tengah malam *sorry thor, muncrat ya? Hehehe maklum t’lalu semangat..

    Pokoknya DAEBAK. Request ff yoonyeol lg dong, juga yang yoonkris ya *maruk.com

    keep writing thor!!

    Like

  5. YAAMPUM THORRRRR CEKIKIKAN SENDIRI BACA FFMU=____=
    Chanyeol kenapa kamu LOL sekalii?! huaaaa pengen makan es chanyeol ;___; *apaini*
    Suka sama gaya bahasa kamu thor^^ gatau kenapa suka ajasih ;p
    keep writing yaaaa’-‘)9 maap komennya cuman segini wkwkwk

    Like

  6. Cocoa-ssi, aku menyukai ffmu!!! muah!:3 wkwk. ini pas banget, semuanya pas, ceritanya, karakternya, pendeskripsiannya, ahh aku sukaaaa^-^ aku mau ikutin setiap ff project kamu, beneran._. aku udah baca love sick; the way it was tp belum komen, huhu:””| tp aku bakalan komen ff itu juga, serius._. wkwk

    Like

  7. Kyaaaaa keren walaupun msh da beberapa tipo ttp jeren alurnya tpi kecepetan endnya😭 tdi pas yeol neik yoona malah aku yg deg degan bahaha btw ini sequelnya gak? Kegantung banget😭😭😭

    Like

  8. Aaaaaaa keyeen sekaliii😂😂 suka suka suka deeh wkwk sweet banget dan reality life banget pokoknya😁 makasih authoor!!! Sering sering berkarya seperti ini dengan alur sweet dan cast yoona chanyeol, semangaaat❤

    Like

  9. Sumpaaaaaah Kereeeeeeen! Sequel dong. Kata katanya ringan dan mudah untuk mengerti sama alur ceritanya sederhana tapi manis. Menunggu FF mu yg lain kak. Semangaaaat 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s