[Freelance] Dark Love [Prolog]


Dark Love (Prolog)

Author : Shin Hae Ran

Main Cast :

Cho Seo Hyun / Seo Joo Hyun covered by Seo Joo Hyun

Kim Kyu Hyun / Cho Kyu Hyun covered by Cho Kyu Hyun

Kim Sung Min covered by Lee Sung Min

Kim Soo Young covered by Choi Soo Young

Cho Hyun Ah / Seo Hyun Ah covered by Kim Yoo Jung kid
Other Cast :
Cho Si Won covered by Choi Si Won
Kim Ki Bum covered by Kim Ki Bum
Cho Yoon Ah covered by Im Yoon Ah
Kim Yu Ri covered by Kwon Yu Ri
Genre : action, romance, sad, tragedy, familyType : long chapter

Rating : PG-17

Disclaimer : semua tokoh di sini hanya sekedar minjem, karena mereka semua milik Tuhan, keluarga dan penggemarnya… (termasuk saya:D). alur cerita terinspirasi dari berbagai sumber yang saya lupa dari mana aja dan hanya bertujuan untuk menghibur readers semua.

Annyeong, annyeong haseyo… Shin Hae Ran here:D
Saya penggemar ff baru-baru ini dan baru terjun (ceileh) ke dunia ff ga lama, jadi dimaklumi ya kalau masih belum memuaskan. Dan kalau boleh dibilang saya spesialis melodrama yang njimet and ga jelas, hehehe…maklum lah, drama lovers’ (ga penting, author!)FF ini sebelumnya pernah di publish di http://seokyualways.wordpress.com

okeh, sebelum membaca, author kasih peringatan ya! Character disini berbeda jauh dengan character para cast dan ini murni fiction, cast disini hanya berperan sebagai covered pemeran. Jadi mian ya kalau tidak memuaskan…

Okay, untuk yang tidak sabar membacanya, let’s read it now! Hope you like it…

dLcoverI
Part 1: “what do you want to do if you see your parents die in front of your eyes?”
_06:30. Bandara Incheon, May 20XX_Keadaan pagi itu di bandara sangat ramai seperti biasanya. Orang-orang dari berbagai ras melakukan kegiatan mereka masing-masing. Suara operator bandara yang sesekali terdengaru semakin membuat bising tempat itu, namun tetap saja hal itu membuat kegiatan mereka tak terhenti.
Tak lama, dari arah pintu kedatangan luar negeri, seorang gadis bertubuh jangkung melangkah dengan anggunnya. Rambut panjang coklatnya dikucir kuda, semakin membuatnya terlihat manis. Tak lupa sebuah kacamata bertengger manis di hidung mancungnya.
Terlihat ia tengah menelpon seseorang seraya berjalan di koridor bandara. Beberapa orang yang dilewatinya menatapnya kagum, namun nampaknya gadis itu tak menghiraukannya. Ia tetap terpaku pada seseorang yang dihubunginya.
“Yeobboseo. Appa, aku sudah sampai…”
“….”
“Mwo?? Bukankah appa sudah berjanji akan menjemputku?”
“….”
“Baiklah, baiklah. Aku akan ke rumah Park ahjuma sekarang”
Kreek…
Sambungan ditutup. Yeoja itu menatap layar androidnya dengan kesal. ‘Ahh, appa selalu begitu’, gumam yeoja itu dalam hati.
Ia segera tersadar dari lamunannya. Setelah memasukkan handphonenya dalam tas selempang putihnya, kaki rampingnya segera bergegas menuju tempat yang sudah 10 tahun tidak didatanginya.

Hari berganti hari, orang-orang berlalu melakukan aktivitas mereka masing-masing tanpa menyadari waktu yang berjalan begitu cepat.
Hingga pagi ini menjadi pagi yang cukup cerah musim semi di Seoul. Matahari dengan bersemangat menyinari para manusia meskipun terkadang mereka tak mempedulikan kehadirannya.
Sungmin duduk di belakang meja di sebuah restoran kecil, seraya menyeduh teh hangatnya perlahan. Asap panas sesekali muncul dari cangkir yang dipegangnya.
Tak lama, Taeyeon muncul di balik pintu masuk restoran itu, menimbulkan suara karenanya. Sungmin menoleh ke asal suara, ia tersenyum kecil saat mengetahui orang yang sedari tadi ditunggunya telah datang.
Taeyeon meluaskan pandangannya ke setiap sudut ruangan restoran itu lalu menuju tempat dimana Sungmin berada. Ia sedikit membungkukkan badannya setiba di hadapan Sungmin, dan tersenyum canggung. Sungmin membalas dengan senyuman hangat khasnya.
“Kau sudah datang. Duduklah..”, ucap Sungmin mencairkan suasana kikuk di antara mereka. Taeyeon mengangguk kecil, lalu duduk di kursi di hadapan Sungmin.
“Ingin pesan sesuatu? Biar aku yang…”, ucapan Sungmin terpotong seketika saat Taeyeon menyanggah perkataannya.
“Tidak perlu”, Taeyeon menatap Sungmin intens, seakan memintanya untuk segera membicarakan hal yang sepertinya sangat penting itu.
Sungmin sedikit salah tingkah, ia mengalihkan pandangannya ke jalanan di luar jendela yang ramai oleh beberapa pejalan kaki yang berlalu lalang. Ia nampak berpikir sejenak, bingung, entah apa yang harus ia katakan terlebih dahulu.
“Sepertinya Hyun Ah sudah bisa melewati semuanya dengan lancar. Kau telah menjaganya dengan baik”, ucap Taeyeon akhirnya memecah keheningan, ikut memandang ke luar seperti yang Sungmin lakukan.
Sungmin tersenyum mendengarnya, ternyata tidak semenakutkan yang dipikirkannya.
“Apa Hyun Ah mencariku?”
“Ya, dia selalu marah-marah jika mengingat kau yang tidak juga datang menjemputnya”, ucap Taeyeon, lalu tertawa kecil.
“Aku bisa membayangkan bagaimana raut kesalnya sewaktu itu”, Sungmin balas tertawa dan suasana pun tak lagi secanggung tadi.
“Tapi mengapa kau tidak mau menemuinya?”, nada bicara Taeyeon tiba-tiba berubah serius, tatapannya berubah menjadi tajam.
Sungmin menelan salivanya seketika mendengar hal itu.
“Kau tahu kan, statusku sebagai orang pencarian dalam negeri ini belum juga berubah. Aku tidak ingin terus membawanya larut dalam masalahku. Dia tidak sepantasnya terus berlari sepertiku”, raut wajah Sungmin berubah sendu, air mukanya mengeras mengingat hal berat yang membebaninya selama ini.
“Tapi sepertinya di mata Hyun Ah, kau adalah malaikatnya”
“Ahh, itu…”, Sungmin tersenyum mengingat gadisnya itu.
Suasana kembali hening, Sungmin meminum tehnya lagi yang kini telah menjadi dingin.
“Aku tau semua yang ada dipikiranmu”, ucap Taeyeon tiba-tiba.
Sungmin menatapnya tidak mengerti, menunggu penjelasan berikutnya.
“Meskipun Hyun Ah merasa kau adalah malaikatnya, tapi aku tahu kau memiliki keinginan lain dibalik ini semua. Sepertinya kau ingin memiliki Hyun Ah sepenuhnya, karena dengan itu kau bisa terus melihat wajah yeoja yang kau cintai. Benar bukan?”, pandangan Taeyeon semakin lekat, seakan hendak melahap Sungmin hidup-hidup.
Sungmin membulatkan matanya, terkejut bukan main. Ia bahkan belum pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Tetapi ia juga tidak bisa mengelak, karena tanpa sadar hati kecilnya mengiyakan perkataan Taeyeon. Tenggorokkannya terasa tercekat seketika.
“Itu…”
The Twinkle, twinkle…
Taeyeon dan Sungmin tersentak bersamaan mendengar nada dering dari sebuah handphone. Mereka tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya Taeyeon menyadari sesuatu.
“Ahh, aku lupa. Itu dering handphone Ji Yeon”, gumam Taeyeon, lalu membuka tasnya, mencari asal suara dering itu.
“Hyun Ah”, ucapnya lirih melihat nama dari layar handphone itu. Ia nampak menatap Sungmin sejenak, namun Sungmin hanya mengangguk kecil, seakan menyuruh untuk mengangkatnya.
“Yebboseo”
“…”
“Mwo?”
“…”
“Baiklah, berhati-hatilah di sana”, Taeyeon pun menutup telponnya, lalu menatap Sungmin yang saat ini tengah meminum tehnya lagi.
“Ada apa? Apa ada masalah?”, tanya Sungmin kemudian.
“Hyun Ah dan Ji Yeon sedang mendaki gunung …. Hyun Ah berkata cuaca di sana sedang buruk dan karena itu ia meminta izin untuk tidak pulang malam ini”
“Apa tidak akan apa-apa?”, tanya Sungmin cemas.
“Dia bilang, mereka akan mencari tempat berlindung sementara waktu”
“Ahh, anak itu! Jika sudah mengenai kesenangannya ia pasti akan sangat keras kepala seperti ayahnya”, ujar Sungmin memandang ke arah luar lagi, pikirannya melayang memikirkan keadaan gadis kecilnya, Cho Hyun Ah.

Berbanding terbalik dengan keadaan di Seoul, cuaca di gunung … justru sebaliknya. Kabut putih tebal menutupi sepanjang mata memandang, langit semakin mendung dan angin gunung tak henti-hentinya berhembus. Membuat bulu kuduk setiap orang yang merasakannya akan merinding.
Seorang yeoja meringkuk di dekat sebuah batu besar, mendekap kedua kakinya sambil sesekali menggigil kedinginan. Seorang yeoja lagi tampak sibuk dengan handphone di tangannya, berjalan mondar mandir dengan tampang gelisah.
“Aishh, mengapa sedikit sekali sinyal di daerah ini”, runtuknya kemudian, menatap layar androidnya itu dengan kesal.
“Kan sudah kubilang, di gunung seperti ini mana ada sinyal, eonni”, ujar yeoja yang sedang meringkuk itu tanpa mengubah posisi duduknya.
“Sudah, diamlah! Aku sedang berusaha menelpon ibumu yang sangat over protektif itu. Jika kita tidak pulang malam ini tanpa meminta izin terlebih dahulu padanya, ia pasti akan mengomel pada kita”, jelas yeoja itu, ia tampak semakin gelisah.
Yeoja di hadapannya hanya terdiam dan semakin mengeratkan kedua kaki ke tubuhnya yang mungil itu. Tiba-tiba, yeoja-yang sedari tadi mengomel itu-tersenyum.
“…”
“Ahjumma, aku dan Ji Yeon terjebak cuaca buruk di sini”
Mendengar namanya disebut, yeoja yang dari tadi meringkuk itu menengadahkan wajahnya, ia tersenyum menatap yeoja yang tengah menelpon itu dengan penuh harap.
“Tapi tenang saja, kami akan segera mencari tempat berlindung, dan aku pasti akan menjaga Ji Yeon dengan baik. Karena itu mungkin kita tidak bisa pulang ke Seoul malam ini. Tak apakan?”
Raut wajah Ji Yeon yang tadinya bersinar berubah masam. Apa katanya tadi? Tenang? Ia sudah menggigil seperti ini tapi ia mengatakan pada ibunya untuk tenang? Dan, mencari tempat berlindung? Di mana ada tempat berlindung di tempat terpencil seperti ini?
“Eonni, mengapa kau tidak minta eomma untuk menjemput kita di sini?”, tanya Ji Yeon, menatap yeoja di hadapannya dengan kesal.
“Nde? Memangnya kenapa?”
“Aku sudah hampir mati kedinginan di sini!”, ucapnya sedikit berteriak.
“Tidak bisa, Jiyeonnie. Jika kita bisa mendaki tanpa bantuan siapapun, seharusnya kita juga bisa turun tanpa bantuan siapapun bukan?”, ucap yeoja itu dengan tenang seraya memasukkan handphone ke dalam tas ransel besarnya lagi.
Ji Yeon menghela nafas berat, percuma berdebat dengan eonninya yang satu ini. “Lalu, di mana kita akan mendapatkan tempat berlindung? Di sini sangat terpencil, kan?”
“Hmm”, yeoja itu nampak berfikir. “Sebaiknya kau menunggu di sini saja, aku akan mencari tempat yang bisa kita diami sementara”
“Apa itu sebuah gua?”, tanya Ji Yeon takut-takut, tiba-tiba bulu kuduknya merinding.
“Jika memang hanya itu yang aku dapatkan, mungkin memang itu”, ucap yeoja itu, kemudian beranjak meninggalkan Ji Yeon.
“Eonni, aku menyesal mengikuti ide gilamu ini!”, teriak Ji Yeon meluapkan kekesalannya. Yeoja yang mendengar itu hanya tertawa kecil.

_10 minutes later_
“Eonni, kau lama sekali!” Ji Yeon menengadahkan wajahnya, matanya berputar mencari sesuatu. Hingga akhirnya ia tersenyum menyadari sebuah bayangan datang menghampirinya.
“Eonni, apa kau sudah mendapatkannya?”, teriak Ji Yeon.
Hyun Ah yang baru terlihat itu mengangguk puas, lalu menunjuk sebuah pondok tak jauh dari tempat itu.
“Aku belum melihatnya dengan pasti. Sebaiknya kita coba kesana terlebih dahulu”
Hyun Ah berjalan menuju pondok itu diikuti Ji Yeon. Namun saat mereka sudah mendekati halaman pondok itu, Ji Yeon tiba-tiba berteriak.
“Eonni, aku takut! Bagaimana jika yang menghuni pondok itu bukan manusia”, ucap Ji Yeon dengan wajah ketakutan. Ia bergidik melihat pondok yang tinggal beberapa meter lagi di hadapannya.
“Kau terlalu banyak menonton drama”, ucap Hyun Ah tenang.
“Jika kau takut, biar aku yang masuk terlebih dahulu” Hyun Ah beranjak masuk ke dalam pondok.
“Eonni, tunggu aku!”, Ji Yeon yang menyadari ia seorang diri sekarang segera berlari mengikuti Hyun Ah.
Mereka masuk ke dalam pondok itu perlahan-lahan. Mereka mengamati keadaan ruangan itu yang sepertinya kurang terawat.
Ji Yeon masih tampak ketakutan, tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak karena ia merasa hangat berada di pondok ini. Entahu kehangatan itu berasal darimana, ia tidak tahu.
Tiba-tiba mata Hyun Ah terpaku pada sebuah kertas di atas salah satu meja yang sepertinya sudah sangat tua itu. Tanpa sadar, tangannya mengambil kertas itu yang ternyata adalah sebuah foto.
Di dalam foto itu terdapat gambar tiga orang, dengan salah satu wajah dari mereka tak terlihat karena sepertinya foto itu pernah terbakar. Dua orang lainnya adalah seorang yeoja dengan seorang anak perempuan kecil disebelahnya.
Hyun Ah terkejut bukan main, dua wajah itu Hyun Ah sangat mengenalnya. Meskipun terlihat sangat lusuh, tapi ia masih bisa melihatnya dengan jelas.
“Eomma…”, gumamnya lirih, wajahnya berubah sendu dan tatapannya menanar. Sebuah luka besar kembali mengangan di hatinya.
Kreek…
Terdengar suara pintu dibuka, namun bukan dari arah pintu yang tadi dimasuki Hyun Ah dan Ji Yeon.
Mereka tersentak, Ji Yeon sangat ketakutan. Ia beranjak mendekati Hyun Ah saat seorang namja paruh baya memasuki pondok itu. Ji Yeon menutupi mukanya ketakutan, namun Hyun Ah justru menatap lekat wajah namja itu.
Wajah yang sepertinya sangat ia kenal, tak salah lagi, ia adalah…
“Appa…”
Ji Yeon yang mendengar perkataan Hyun Ah terkejut, termasuk namja itu. Namun anehnya, namja itu tetap takb melihat ke arahnya. Ia melihat ke arah lain dan Hyun Ah tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh namja itu.
“Kau…”, ucap namja itu kemudian.

_08:30. Daegu, May 19XX_

Pagi hari di sebuah kota kecil adalah sesuatu yang tidak istimewa. Seperti biasa, orang-orang berlalu lalang menjalani aktivitas mereka masing-masing di antara hawa pagi hari yang masih saat bersih dan sejuk. Tetapi ini adalah hari minggu, dimana sebagian dari mereka memilih untuk tetap tinggal di rumah mereka.
“Berita Selanjutnya. Perusahaan Kim kembali memberikan sumbangan kepada pembangunan proyek Negara. Namun kali ini jumlahnya tidak biasa, yaitu 150ribu won. Ini adalah salah satu sumbangan terbesar kepada Negara sampai saat ini. Berikut adalah liputannya”
Terlihat seorang namja duduk bersantai di lantai kayu rumahnya sambil menonton acara dari layar televisi kecil di rumah itu. Ia tampak serius melihat salah satu berita dari acara itu, dia duduk di balik meja panjang dan di dekatnya seorang anak perempuan kecil sedang asyik dengan beberapa kertas warna-warni di hadapannya.
Tak lama anak perempuan itu berdiri dan mendekati namja itu.
“Appa, gunting di mana?”, tanya anak itu dengan wajah polosnya.
“Appa tidak tau chagi, mungkin di laci kamar eomma”, jawab namja itu seadanya, tetap serius memperhatikan salah satu berita yang tengah diberitakan itu.
Anak kecil itu mengangguk kecil dan tersenyum manis, lalu kaki mungilnya berjalan menuju kamar eommanya. Eommanya yang hendak menuju ruang keluarga berpapasan dengannya.
Ia yang tengah membawa beberapa cangkir dan kue untuk suaminya itu, memandang putri kecilnya dengan bingung.
“Mau kemana chagi?”, tanyanya lembut.
“Ke kamar eomma. Eomma menyimpan gunting di mana?”, tanya anak itu lugu, senyum di wajahnya tak henti tergambarkan di sana.
“Di laci lemari sebelah kanan”, jawab eommanya, lalu melanjutkan menuju ruang keluarga. Sedang anak itu melanjutkan perjalannya menuju kamar eommanya dengan langkah ceria.
“Oppa, kau sedang menonton apa? Serius sekali?”, tanya yeoja tadi pada suaminya setibanya ia di ruang keluarga. Ia meletakkan baki yang ia bawa di atas meja perlahan-lahan.
“Aku sedang menonton berita mengenai Perusahaan Kim”, ucap suaminya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
Yeoja itu tercekat, wajahnya pucat seketika, keringat dingin tiba-tiba keluar dari kedua pelipisnya.
“Yoong?”, Cho Siwon, namja yang merupakan suami dari yeoja itu pun merasakan hawa aneh dari istrinya. Ia beralih menatap istrinya dan mendapatkan perubahan dari raut wajah istrinya itu.
“Oppa, aku takut”, ucap yeoja itu. Tubuhnya bergetar dan air matanya jatuh dari kedua ujung matanya. Siwon yang mengerti keadaan itu segera meraih istrinya ke dalam pelukannya, berusaha menenangkan yeoja itu di dalam dekapan dada bidangnya.
“Tenanglah Yoong, kau tak perlu takut. Kita bukan orang jahat, kita bukan orang munafik seperti mereka yang menutupi kejahatan mereka dengan berbuat baik di hadapan semua orang. Kita sudah
berbuat benar, Yoong”, jelas Siwon, seraya mengelus rambut panjang istrinya dengan lembut.
“Tapi aku takut oppa, aku takut pada mereka akan mengejar kita seperti waktu itu…”
“Ssst,…”, Siwon melepaskan dekapannya dan menatap mata istrinya dengan lekat.
“Aku, kau dan Seohyun akan tetap baik-baik saja, jadi tenanglah, Hem?”
Yeoja itu mengangguk pelan lalu kembali masuk ke dalam dalam dekapan suaminya itu. Siwon hanya bisa tersenyum getir melihat tingkah istrinya itu.

_TBC_

Jadi gmana? Pasti masih bingung sama jalan ceritanya kan? Wkwk, ini kan memang masih prolog.
Oya, mian ya kalau kata-katanya agak bertele-tele dan membingungkan. Mungkin masih ga mudeng dengan alurnya karena di sini ada 4 latar waktu berbeda dan berjalan mundur. Tapi semoga setelah part 1 nya nanti publish, readers bisa mengerti semuanya.
Mohon comment dan sarannya, gomawo#^_^


16 thoughts on “[Freelance] Dark Love [Prolog]

  1. Oh iya, ini prolog ya, saya lupa -_-
    Yg baru keliatan sisi seohyun ya? kyuhyunnya belum terlalu nih, ditunggu part 1 nya ya

    Like

  2. Pingback: natalizrizzo
  3. For years in this industry the most suitable and best platform
    for you arabaoyunlarimiz. The Noggin website has several free Oobi games that preschool children adore.
    One of the long time favourites at shockwave is the
    Daily Jigsaw.

    Like

  4. This must not be too difficult, considering it’s the sport’s second level-plus it’s
    very easy. Men with power oftentimes see even
    their wives as a possible accomplishment and an acquisition, hence
    the term “trophy wife. Escaping to a hidden location to chat to strangers like car, garage, and basement is only suspicious.

    Like

  5. This really should not be too difficult, considering it’s the game’s second level-plus it’s very easy.

    He was presented with an opportunity to cheat devoid of the fear of getting caught, so he took advantage
    from the situation. He attracts sexy girls that come onto him,
    and the man doesn’t understand how to say ‘no.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s