[Freelance] Back To Sleep Tight #2


Title : A Back To Sleep Tight

Nama Author : Kinta-chan (@Sheeranoed)

Main Cast : Lee Jinki (25 yo), Jung Re Na (22 yo), Lee Taemin (23 yo)

Other Cast : Jung Yonghwa(25 yo), Lee Hyuk Jae (27 yo), Han Chae Rim (22 yo)

Length : Chapter

Genre : Romance, Family, Marriage Life

Rating : PG +16

Disclaimer : Ide dan alur cerita hasil pemikiran saya selama berhari-hari bahkan di sela-sela ngerjain soal UAS #LOL. Semua castnya terserah milik siapa saja. Dan jika anda menemukan kesamaan alur yang benar-benar mirip dengan FF saya mohon complain via twitter (@Sheeranoed), karena saya tidak merasa pernah meng-copypaste ide siapapun.

Your comment is my oxygen. Without your comment I’m still alive but I’m barely breathing. Haha #LOL. Okay, just read it and give your response. –KintaChan- (95liner).

 A Back To Sleep Tight Poster 2

~A Back To Sleep Tight [Chapter 2]~

Our Honeymoon

Jung Re Na POV

Aku mempunyai kebiasaan buruk dan aneh. Dan aku baru sadar, kebiasaan itulah yang juga ikut mendominasi mengapa aku memutuskan untuk segera menikah dengan Jinki Oppa meskipun aku masih mecintai Temin yang sekarang tidak kuketahui keberadaannnya. Aku tidak bisa tidur tanpa memeluk punggung orang lain. Aneh kan?

Dan pasti selanjutnya kalian akan bertanya, ‘Lalu, selama ini kau tidur dengan siapa?’. Tentu saja aku tidur sendirian meskipun setiap hari juga aku terkena syndrome Insomnia, setidaknya sejak enam bulan lalu. Sebelumnya, aku sekamar dengan Han Chae Rim dan aku selalu memeluk punggungnya ketika dia tidur. Kalian jangan berpikir kalau aku penyuka sesama jenis. Tentu saja TIDAK. Tapi sekarang dia sudah menikah dan tidak mungkin jika aku tetap tidur bersamanya.

Karena aku sudah tidak tahan lagi hidup enam bulan dengan penyakit Insomnia yang berkepanjangan, lalu aku mengambil keputusan yang sangat berat. Menikah dengan orang lain dan meninggalkan Taemin. Pasti kalian merasa tidak masuk akal dengan alasanku. Dan memang itu hal yang sebenarnya. Aku sudah lelah. Lelah menghadapi Insomnia ini. Lelah menunggu Taemin. Lelah karena…entahlah. Dan masalah terbesar kedua adalah bagaimana aku mengatakan ini kepada Jinki Oppa. Aisssh~ aku gugup sekali. Bagaimana ini?

 “Oppa… Ireona!” dia tetap diam tak berkutik. Aku baru menyadari, jika dia tertidur wajahnya tampak begitu damai seperti seorang bayi. Tentu saja, karena baru hari ini aku melihatnya tertidur jadi aku juga baru saja menyadarinya. Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan jari-jari kakiku. Cukup lama sampai kedua mata sipit itu mengerjap-kerjap tidak nyaman.

Unggh…wae?” tanyanya sesaat setelah mata sipit itu sedikit terbuka.

“Tidurlah disana. Tidurlah bersamaku…”

Mwo?! ” mata sipit itu kini membuka lebar. Aku hanya menggigit bibir bagian bawahku. Antara gugup, takut dan malu.

“mmm… aku punya alasan tersendiri. Jadi, jangan berpikir macam-macam,” sergahku.

“Apa? Apa alasanmu?”

“Apa aku harus mengatakannya? Alasan ini sedikit konyol. Jadi, jika aku mengatakannya kau jangan tertawa ya Oppa?” aku tersenyum gugup, takut kalau sebentar lagi dia akan menertawaiku habis-habisan dan membuatku malu seumur hidup.

“Katakan saja. Ini sudah terlalu larut untuk berpikir panjang.”

“Aku tidak bisa tidur jika tidak memeluk punggung orang lain. Jadi aku mohon Oppa, tidurlah bersamaku dan pinjamkan aku punggungmu.” Kupejamkan mataku seraya menggabungkan kedua telapak tanganku seperti orang memohon sesuatu.

“Mwo?! Jadi selama ini kau tidur dengan siapa? Yyong?” Langsung kubuka kedua kelopak mataku dan menatapnya dengan tatapan membunuh.

“Ya! Oppa!!!”

Jung Re Na POV end

Lee Jin Ki POV

“Tidurlah disana. Tidurlah bersamaku…”

Apa yang baru saja dia katakan? Tidur bersama? Aku membuka mataku lebar-lebar, takut jika aku hanya melamun dan membayangkan sesuatu yang tidak mungkin. “Mwo?! ” aku mencoba meyakinkan kata-kata yang baru saja diucapkannya.

“mmm… aku punya alasan tersendiri. Jadi, jangan berpikir macam-macam,” sergahnya. Mimik wajahnya seperti takut dan gugup. Lucu sekali.

“Apa? Apa alasanmu?”

“Apa aku harus mengatakannya? Alasan ini sedikit konyol. Jadi, jika aku mengatakannya kau jangan tertawa ya Oppa?”

“Katakan saja. Ini sudah terlalu larut untuk berpikir panjang.”

“Aku tidak bisa tidur jika tidak memeluk punggung orang lain. Jadi aku mohon Oppa, tidurlah bersamaku dan pinjamkan aku punggungmu.”

Aku menatapnya tak percaya. Jadi selama ini dia tidur dengan siapa? Aku tahu dulu di sekamar dengan Chae Rim, tetapi sekarang Chae rim sudah menikah dan tidak mungkin kalau Re Na tidur dengan Chae Rim yang statusnya sudah menjadi istri orang. Jangan-jangan dia tidur dengan Yong Hwa?! Omo~ seketika wajahku memanas. Cemburu? Tentu saja. Meskipun mereka saudara kandung tetap saja kalau yang namanya tidur bersama apalagi peluk-pelukan itu tidak boleh. Andwae!

Mwo?! Jadi selama ini kau tidur dengan siapa? Yyong?”

Ya! Oppa!!!” Dia menghujaniku dengan bantal dan pukulan-pukulannya yang sesungguhnya tidak sakit tetapi bertubi-tubi.

Ya! Re Na~ya! Appo! Hentikan! Ya! Aisssh~ kenapa kau kasar sekali?” sesaat kemudian, dia menenggelamkan mukanya di balik selimut. Aku yakin pasti mukanya seperti lobster rebus di dalam sana.

“Jangan sembunyikan mukamu seperti itu. Hahaha. Kalau kau terus menyembunyikan mukamu seperti itu, aku tidak akan meminjamkan punggungku.”

Perlahan-lahan kepalanya menyembul di balik selimut. Dan benar saja, mukanya sudah merah padam. Dan itu membuatnya tambah lucu, menggemaskan dan…cantik. “Aigooo~ neomu kyoepta,” kucubit pipi bulatnya yang sedari tadi menyemburkan warna merah jambu dibalik kulit putihnya.

Lee Jin Ki POV end

Author POV

Pukul satu dinihari. Di sebuah kamar berukuran 3×5 meter, kedua pasangan itu akhirnya menyerah akan rasa kantuk dan lelah yang mereka alami hari ini. Seorang namja terlihat telah terbaring tak berdaya di atas kasur lipat yang hanya cukup dihuni oleh satu setengah orang itu. Disebelahnya terdapat seorang yoeja yang masih duduk sambil memeluk kakinya. Raut mukanya seakan menimabng-nimbang sesuatu. Menimbang antara kebutuhan dan resiko.

Perlahan-lahan pertahanannya mulai runtuh. Rasa kantuk dan lelah sudah menguasai fisik gadis yang bernama Jung Re Na itu. Dengan setengah hati, akhirnya dia berbaring di kasur lipat yang telah dihuni seorang pria yang juga berstatus sebagai suaminya. Kemudian dia membaringkan tubuhnya menghadap ke langit-langit rumah. Berbalik ke kanan dan ke kiri. Tetap saja tidak dapat membawanya menuju ke alam penghubung antara hidup dan mati. Tidak ada jalan lain. Dengan sangat hati-hati dia menggerakkan kedua tangannya kemudian dengan sekejap namun pelan dilingkarkan keduanya pada tubuh yang berada di hadapannya.

Lee Jin Ki terlihat telah terlelap di seberang sana. Tetapi sesungguhnya dia sedang menunggu. Menunggu gadis itu memeluknya seperti apa yang dikatakannya satu jam lalu. Kemudian dirasakannya tangan yang ditunggu-tunggu itu memeluknya dari belakang. Seketika tubuhnya menegang, urat sarafnya seakan dibangunkan dengan sekali hentakan. Tetapi dia tidak bisa berbuat banyak, jika dia bergerak sedikit saja dia meyakini gadis itu akan menarik tangannya dan malu untuk memeluknya lagi.

Gugup pada awalnya. Bukankah memulai adalah awal yang sangat sulit? Hal itu yang dialami Re Na. Awalnya dia memang gengsi untuk melaksanakan kehendak batinnya itu, tetapi ketika sudah memeluk tubuh Jinki dia merasakan kedamaian, kehangatan yang sudah tak dirasakan lagi di dalam tidurnya sejak enam bulan lalu. Dia merasa hari ini pasti akan tidur nyenyak. Justru hal sebaliknya dirasakan oleh Jinki, ia merasa hari ini dia tidak akan bisa tidur. Dia harus menekan debaran jantung yang bergejolak dan tentunya dia juga harus menekan nafsunya yang sejak tadi merongrong dalam hatinya.

Seakan waktu berlari dan matahari terbit lebih cepat dari sebelumnya. Kedua manusia yang berada dalam satu kamar dan satu tempat tidur itu masih betah bersarang di balik selimut tebal. Seakan mereka akan mati jika harus dibangunkan dan dipisahkan dengan selimut itu. Seorang perempuan masih nyaman bersandar pada dada bidang suaminya dengan kedua tangan yang memeluk erat tubuh sang suami. Sedangkan seorang pria dengan mesra melingkarkan kedua tangan di pinggang istrinya. Tidurnya tidak sedikitpun terganggu meskipun sudah berjam-jam lengannya dibebani oleh kepala istrinya.

Tokk… Tokk… Tokk…

Seakan merasa risih dengan suara gesekan antara tangan yang mengepal dengan pintu yang ditimbulkan, keduanya membuka matanya pelan-pelan. Takut-takut jika pandangan mereka akan dirusak oleh cahaya mentari pagi yang sudah hampir terbang meninggi.

“Ayo bangun! Apa kalian tidak malu dilihat oleh cahaya matahari yang sudah diatas ubun-ubun?” sura serak wanita tua itu juga ikut mengganggu ketentraman tidur penghuni kamar.

Tokk… Tokk… Tokk…

Suara ketukan itu benar-benar membuka mata kedua penghuni dan berhasil membuat mood mereka hancur di pagi hari yang cerah. Mereka hanya menatap satu sama lain dengan posisi tubuh yang belum berubah. Kemudian seakan menyadari sesuatu, bola mata mereka langsung berpencar saling menghindari kontak mata satu dengan lainnya. Jinki langsung melompat dari tidurnya dan menggeser pintu ke samping. Dilihat neneknya yang sudah berpakaian hanbok rapi dengan sanggul kecil yang terisi rambut beruban miliknya.

“Kalian tidur jam berapa? Sekarang sudah pukul delapan. Apa kalian lupa? Hari ini aku akan menyuruh kalian mengurusi kandang ayam selayaknya peternak profesional,” omel Halmeoni yang langsung melongokkan kepalanya ke dalam kamar. Dilihatnya Re Na yang masih terduduk lemas dengan rambut panjang yang acak-acakan tetapi seksi. Sedetik kemudian Halmeoni tersenyum memandangi kedua cucunya.

Mwo?! Kami kesini kan untuk Honeymoon, nek?” protes Jinki.

“Tentu saja ini bagian dari honeymoon kalian. Hal ini akan menguji kekompakan kalian. Ayo cepat mandi!” ujar sang nenek tidak mau kalah. Kemudian Halmeoni berbalik dan meninggalkan sepasang sejoli yang masih mengantuk itu. Senyum bahagia terpampang di balik wajah keriput milik si nenek.

Keduanya saling berpandangan, Jinki mengangkat kedua bahunya tanda tak mengerti. Sedetik kemudian, ia beranjak menuju koper miliknya dan mengambil beberapa lapis pakaian. Ia menoleh kearah Re Na, “Aku mandi dulu, kau bersihkan kamar ini selagi menungguku mandi.”

Re Na menatap Jinki dengan tatapan tidak terima. “Kenapa tidak kita berdua saja yang membersihkan kamar ini. Kita berdua juga kan yang menempatinya?” Jinki tersenyum mengejek dan membalas ucapan Re Na dengan nada simpati yang dibuat-buat. “Kau mau kita membersihkan kamar ini bersama-sama berarti kau juga menginginkan kita mandi bersama-sama, chagiya!” Dia memang sengaja menekankan kata chagiya di akhir kalimatnya.

Bingo! Re Na tidak bisa berkutik jika namja telah menggunakan otak mesumnya sebagai ancaman. Akhirnya dengan wajah tidak ikhlas, Re Na perlahan-lahan bangkit dari duduknya dan melipat selimut dan kasur yang telah digunakannya bersama Jinki semalam.

Kandang ayam, tempat yang unik untuk sebuah jadwal honeymoon. Sebuah ruangan dengan panjang 10×8 meter dengan lantai yang hanya terbuat dari semen bertaburankan kulit padi –dan tai ayam yang berceceran- juga tentunya dipenuhi dengan ratusan ayam-ayam. Di sudut kandang terdapat beberapa karung makanan ayam, puluhan tabung air minum untuk ayam dan puluhan tempat pakan ayam. Di sudut kandang yang lainnya terdapat sumur yang sengaja dibuat untuk memudahkan si peternak memberi minum ayam-ayam mereka.

Kandang ayam yang kini telah dimasuki oleh Jinki dan Re Na adalah satu dari dua puluh kandang milik keluarga Jinki. Mereka adalah peternak ayam yang sukses dan berhasil bekerja sama dengan puluhan perusahaan makanan cepat saji dan restoran yang terkenal. Dan mungkin hal itu yang menyebabkan Jinki kini berprofesi sebagai dokter hewan. Hal itu menghemat biaya vaksinasi ayam yang dikeluarkan oleh keluarga Jinki. Sedangkan kakanya Lee Hyuk Jae lebih berbakat menjadi seorang businessman yang menangani bisnis peternakan ayam keluarga Lee.

“Kau serius kita akan membersihkan dan memberi makan dua puluh kandang ayam dalam satu hari?” Re Na memandang Jinki dengan tatapan menyerah.

“Tentu saja tidak. Apa kau mau menghabiskan masa libur kita hanya dengan mengurusi kandang ayam?” Re Na menggeleng mantap. Dia tahu sendiri bahwa desa Jangho memiliki pesona alam yang indah dan banyak didatangi para turis domestik. Tidak mungkin jika ia ke desa itu hanya untuk membersihkan kandang ayam atau memberi makan dan minum ayam-ayam keluarga Jinki. Apalagi disaat honeymoon, bukan acara pramuka ataupun pecinta alam.

Jinki mulai berjalan menuju arah sumur, kemudian disisingkan kaus lengan panjangnya. Dijatuhkannya ember ke dalam mulut sumur kemudian dia menunggu beberapa detik untuk memastika ember itu terisi oleh air. Lalu dengan sigap ia menarik tali yang telah melingkar di tepi katrol. Kharisma lelaki akan keluar jika lelaki tersebut bekerja keras dan hal tersebut juga ada dalam tubuh Jinki. Re Na menatap Jinki kagum seolah ia baru saja menemukan seorang pria mampu menimba sumur.

“Sampai kapan kau terus membuat ayam-ayam itu menunggu? Cepat bawa seluruh tabung air itu kemari!” Re Na menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Alih-alih supaya ia dapat bangun dari keterpukauannya melihat Jinki. Kemudian ia berlari kecil menuju tempat penyimpanan tabung air yang dimaksudkan Jinki.

“Jujur saja, apakah kau terpukau melihatku?” Tanya Jinki kepada Re Na tepat pada saat gadis itu membawa tabung air terakhir.

“Ani… aku hanya melihat sumur tua ini. Tahun berapa didirikan?” Tanya Re Na gugup. Alih-alih mengalihkan pembicaraan tapi hasilnya gagal total.

“Aku tahu kau hanya mengalihkan pembicaraan.” Seketika Jinki mencondongkan tubuhnya kearah Re Na seperti gaya yang dilakukan oleh Michael Jackson. Kemudian ia menatap leher Re Na dengan tatapan seduktif dan perlahan mendekati leher jenjang itu.

“Ji… Jinki~ya, kau…kau mau berbuat apa?” sesaat kemudian Jinki mendorong tubuh Re Na hingga hilang keseimbangan. Seketika Re Na terjatuh pelan –karena Jinki memegang punggungnya- dengan kedua tangan yang menyangga berat badannya. Tepat seperti posisi kayang.

“Yak! Berani-beraninya kau membuatku terjatuh dan menyentuh tai ayam hina ini! Oppa! Akan kuadukan kau ke Halmeoni,” ujar Re Na uring-uringan. Dia memandang jijik telapak tangannya yang penuh dengan kotoran ayam. Ia langsung menatap Jinki penuh dendam dan mengejarnya penuh amarah.

“Aku cucu kandungnya. Tentu saja ia akan membelaku,” ucap Jinki disela-sela tawanya. Dua pasang kaki yang berlarian di kandang ayam tentu membuat para ayam yang ada disana kalang kabut menghindari mereka. Kandang ayam bisa saja menjadi tempat honeymoon yang indah.

~(˘▾˘~) ~(˘▾˘)~ (~˘▾˘)~

Ketika matahari mulai lelah bergantung di atas pencak kepala para umat manusia, Jinki berusaha menggenjot sepeda motor Honda butut milik pesuruh neneknya. Ia sengaja bersusah payah menstarter sepeda butut itu hanya untuk menghentikan rengekan Re Na yang ingin ditemani untuk berkeliling desa Jangho. Dan sepeda motor butut itulah satu-satunya kendaraan yang masih ‘mampu’ digunakan untuk berkeliling desa Jangho.

Re Na telah bersiap dengan dress selutut polkadot berwarna peach dan biru tua. Di pinggangnya melingkar sabuk kepang kecil yang membuat tubuh mungilnya terlihat indah. Sedangakan Jinki hanya memakai kaus berwarna biru langit yang dipadupadankan dengan celana skaters tiga perempat miliknya. Dan tidak ketinggalan sandal jepit adidasnya.

Setelah sepeda motor butut itu mampu hidup kembali Jinki langsung melambaikan satu tanganny ke arah Re Na. Kemudian ia menyerahkan sebuah helm tanpa teropong yang tak kalah butut dengan motornya. Dan sesaat setelah Re Na mulai naik ke sepeda motor, Jinki langsung menginjak pedal gas yang membuat motor itu mulai berjalan. Setidaknya berjalan meskipun dengan kecepatan 30 km/jam. Re Na dengan canggung menarik ujung kaus Jinki. Seolah merasakan apa yang diperbuat Re Na, dengan jail Jinki menarik tangan itu untuk melingkar di tubuhnya. Senyum manis tiga jari terukir di wajah Jinki sedangakan Re Na juga tersipu melihat apa yang dilakukan oleh suaminya itu. “Dasar genit,” desisnya yang juga mampu tertangkap oleh radar pendengaran Jinki.

Mereka mulai menyusuri jembatan yang terbuat dari kayu dengan sebuah pondok di masing-masing ujungnya. Angin yang berhembus nakal menerbangkan beberapa helai rambut sepasang pengantin baru ini. Memang suasana yang romantis tetapi gagal diciptakan oleh keduanya. Yang tersisa hanyalah kesunyian yang menghantui disepanjang langkah kaki mereka. Tidak tahu bagaimana cara memulai pembicaraan dan tidak tahu cara berbagi rasa dari hati ke hati.

Langkah kaki membawa mereka ke tepi pantai yang berpasir putih. Pasir lembut tanpa batu cadas yang mampu membuat manusia gemas melihatnya. Begitu gemasnya sampai mereka rela melepaskan alas kaki mereka untuk merasakan kelembutan pasir putih yang terhampar di tepi pantai. Bahkan Re Na dan Jin Ki sudah terbaring di atas pasir putih itu, mereka memandang langit yang mulai berwarna keemasan.

Oppa…” ucap Re Na memecah keheningan diantara merdu suara deburan ombak.

Ne?

“Mulai sekarang aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Tapi ada satu hal yang masih belum bisa aku berikan.” Re Na menatap Jinki sekilas dengan tatapan sayu. Lalu ia mengambil nafas yang berat seolah tidak mampu mengatakan apa yang ada di otakya. “Cinta… cinta antara laki-laki dan perempuan. Aku akan selalu berusaha untuk dapat membuka hatiku ini Oppa. Tetapi tidak secepat itu, ini butuh proses. Dan sebelum hal itu terjadi, aku masih belum bisa menyerahkan tubuhku untukmu seutuhnya, jeongmal mianhae Oppa. Apakah hal itu memberatkanmu?”

Jinki tersenyum dan memandangi Re Na melalui ujung matanya. Tak mampu melihat mata gadis itu sepenuhnya. “Aku juga akan berusaha untuk mendapatkanmu seutuhnya dengan caraku sendiri.” Ia memiringkan tubuhnya menghadap Re Na dan gadis itu pun melakukan hal yang sama. Dengan lembut Jinki mengecup puncak kepala Re Na. Kecupan kasih sayang. Kecupan tanpa tuntutan, kecupan tulus untuk sebuah pengakuan dan usaha yang tulus. Kecupan awal untuk hubungan mereka.

“Ayo kita pulang. Langit mendung, kita tidak akan bisa memandangi matahari tenggelam.” Jinki menggenggam tangan Re Na kemudian menariknya berdiri. Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggenggam. Takut-takut mereka akan menjatuhkan hati masing-masing. Perjalanan pulang tidak seperti awalnya karena kali ini tidak ditemukannya  gengsi dari kedua pasangan tersebut. Mereka kembali menaiki motor butut milik pesuruh nenek Jinki. Re Na dengan sukarela memeluk tubuh suaminya dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada punggung Jinki. Matanya jauh menerawang. Entah apa yang ia coba pikirkan. Masing-masing sibuk berkutat dengan pikiran dan kekalutan hati mereka –hati Re Na tepatnya-.

~(˘▾˘~) ~(˘▾˘)~ (~˘▾˘)~

Bumi selalu berputar dan matahari tetap pada tempatnya. Sekarang sudah saatnya bagian lain dari bumi yang harus mendapatkan cahaya matahari. Sedangkan kegelapan malam yang telah dihiasi oleh bintang dan pantulan sinar matahari ke bulan sudah bertengger manis di langit desa Jangho. Jam dinding yang setia berputar sudah menunjukkan angka sepuluh dan mereka yang lelah telah berada di balik selimut tebal dan nyaman. Tetapi tentu saja masih ada segelintir manusia yang masih ragu untuk membawa jiwanya pergi sementara meninggalkan tubuhnya.

Jinki sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur lipat. Tubuhnya ia miringkan ke samping dengan siku yang menahan berat kepalanya. “Ayo kemarilah! Apa kau tidak ingin memeluk tubuhku dari belakang?” godanya kepada Re Na.

Merasa haraga dirinya direndahkan gadis itu langsung mengatupkan bibir mungilnya dan memutar bola matanya. “Yaaah…kalau kau gengsi seperti itu tidak masalah. Tetapi jangan salahkan aku jika kau tidak bisa tidur malam ini.” Jinki menarik selimutnya hingga menenggelamkan tubuhnya dan menyisakan kepala yang muncul dibalik selimut. Tetapi di belakangnya sudah ada gadis manis yang dengan malu melingkarkan tangannya dibalik tubuh Jinki. Senyum kemenangan berhasil dicetak oleh si pemilik tubuh.

Kreekk

Pintu kamar mereka bergeser dan muncullah sosok wanita tua yang membawa nampan dengan teko kecil juga beberapa gelas yang tak kalah kecil. Kehadirannya mampu membuat pasangan tersebut kelabakan dan sontak menegakkan tubuhnya. Kepala keduanya menunduk tanda hormat kepada seorang yang lebih tua.

“Ah… kalian sudah mau tidur rupanya. Sebenarnya aku ingin mengajak kalian minum teh bersama. Tetapi rupanya kalian sudah lelah.” Nada kecewa dan juga bersalah terias di balik wajah tua nenek itu.

“Mari nek kita minum teh bersama. Kami belum benar-benar mengantuk,” ujar Re Na sopan. Ia merasa kasihan melihat rau kecewa yang terpampang di wajah Halmeoni.

“Tidak perlu Re Na~ya. Biar nenek taruh teh ini di atas meja penghangat. Kalian harus meminumnya selagi hangat karena selain mahal teh hitam ini juga dapat menetralisir racun yang ada di tubuh kalian.”

“Apakah Halmeoni serius tidak ingin minum teh bersama kami?” Nenek itu pun tersenyum ramah dan menggelengkan kepalanya pelan. “Baiklah. Jaljjayo Halmeoni.”

Ne, jaljja.” Halmeoni menutup pintu kamar dan sosoknya perlahan menghilang termakan remang-remang kegelapan malam.

Re Na menuangkan teh hitam ke dua gelas kecil yang sudah disiapkan. Ia memberikan satu gelas untuk Jinki yang masih berdiri menatapnya. Tanpa berkata-kata mereka saling menghisap aroma teh yang segar dan pelan-pelan menyeruputnya. Membawa cairan berwarna coklat tua itu masuk ke dalam organ pencernaan mereka.

Harum aroma yang ditimbulkan beserta rasa khas yang tercetak di teh hitam tersebut membuat Re Na menuangkan kembali teh ke dalam gelasnya. “Mashitta…” Jinki menatap kelakuan istrinya dan terkekeh pelan. “Kau sama persis seperti nenekku. Sama-sama penggila teh.”

Aigoo~ hari ini sangat berbeda dengan kemarin. Hari ini cuacanya cerah sampai-sampai malam pun juga terasa panas.” Jinki tertegun sesaat mendengar ucapan Re Na. Ia mulai mencium gelagat aneh yang juga pelan-pelan merasuk dalam tubuhnya. Dia berpikir sejenak kemudian dilihatnya gadis itu sudah melempar piyamanya yang menyisakan selapis tanktop putih yang bertengger di tubuhnya. Tentu saja pemandangan ini membuat jakun Jinki seketika naik turun.

“Ya! Re Na~ya  kenapa kau menanggalkan piyamamu itu?”

“Hari ini udaranya panas sekali Oppa. Aku tidak tahan jika tetap mengenakannya, apalagi tidak ada AC di rumah Halmeoni,” jawab Re Na dengan suara pelan tak berdaya. Jinki berbalik sembari memutar otak dan tak lama kemudian ia tahu siapa dalang dibalik insiden yang mampu meruntuhkan pertahanan imannya. Ia kemudian mencari ponselnya di atas meja rias dan menekan speed dial yang menghubungkan dengan seseorang yang kini telah tertawa terbahak-bahak di seberang sana. Ketika panggilan telepon telah terhubung, sebelum si penerima mengucap salam Jinki telah menyerbunya dengan sumpah serapah yang tentu ditujukan kepada si penerima telepon.

Yak!! Monyet korea!!! Aku tahu kau pasti sedang tertawa puas di seberang sana!!!” maki Jinki yang ditujukan kepada si penerima telepon yang tidak lain adalah kakak kandungnya sendiri. Lee Hyuk Jae alias Eunhyuk –bagaimana ia biasa dipanggil oleh orang-orang terdekatnya- hanya tekekeh pelan sembari mengambil napas yang mulai habis akibat tawanya yang tak henti-henti sejak ia menerima laporan dari Halmeoni bahwa rencananya telah sukses dilaksanakan.

‘Bagaimana kau bisa tahu, Onew~ya. Kau sedang mengintip di balik jendela rumahku ya?’ gurau Eunhyuk yang semakin menambah tanduk di kepala Jinki.

“Kau cuci dengan kata-kata apa otak Halmeoni sampai mau mengikuti rencana busukmu itu?” ucap jinki geram.

Aniyo…aku tidak mencuci otak nenek-nenek yang lemah tak berdaya.’

“Jangan membantah!! Kau racuni apa minuman kami, monyet korea?!”

Yak! Aku ini Hyungmu, bagaimana bisa kau bebicara tidak sopan denganku?’ ucap Eunhyuk dengan nada yang dibuat-buat marah.

Arrrrgggh… awas saja kau! Tidak kubiarkan hidupmu bahagia ketika aku telah menginjakkan kaki di Seoul nanti,” ancam Jinki. Ia menarik dan meremas rambutnya sendiri karena kesal menghadapi Hyungnya yang tak pernah serius kecuali dalam masalah pekerjaan.

‘Silahkan saja jika itu maumu. Selamat bersenang-senang adikku sayang. Hahaha…’ tawa Eunhyuk yang membahana semakin membuat Jinki dongkol. Di dalam hatinya sudah terkumpul berbagai kalimat sumpah serapah yang ditujukannya kepada Eunhyuk.

Tubuhnya pun kini merasakan aura-aura yang tidak lazim. Sama persis seperti apa yang dikatakan oleh Re Na, udara tiba-tiba menjadi panas dan ia ingin merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dadanya sesak serasa ingin disentuh oleh sentuhan-sentuhan manja seorang wanita. Ia menggelengakan kepalanya kuat dan memantapkan tekad dalam hatinya. Apalagi ketika ia teringat akan kata-kata yang telah diucap Re Na sore tadi. Membuatnya termotivasi untuk tidak melakukan hal yang bukan kehendak dan komitmen mereka sejak awal. Membuatnya termotivasi untuk melakukan hal ‘itu’ atas dasar cinta yang lahir karena kerja kerasnya dalam meluluhkan hati gadis punjaannya.

Dialihkannya bola mata ke kasur lipat tempat Re Na berbaring sambil mengibas-kibaskan tangannya dan sesekali memaju mundurkan tanktop di bagian belahan dadanya seakan-akan hal itu akan mengurangi rasa gerah yang ia alami. Lelaki mana yang tidak meneguk air liurnya sendiri ketika melihat pemandangan itu. Ingin rasanya Jinki lari dan menjatuhkan diri di kolam renang untuk mencuci pikirannya dari pikiran-pikiran jorok yang perlahan-lahan mulai mengalahkan logikanya. Ia merasakan pikirannya telah terkontaminasi seperti air sungai yang tercemar terkena limbah minyak yang notabene tidak bisa disatukan maupun sulit dipisahkan.

“Kau tidur saja duluan. Rasanya aku akan tidur lebih larut lagi,” kata Jinki yang memecah kekakuan suasana malam ini.

“Bagaimana aku bisa tidur? Bukannya aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak bisa tidur tanpa memeluk punggung orang lain.” Jinki merutuki syndrome yang dimiliki Re Na yang terkadang membuatnya bahagia tapi tidak untuk hari ini.

Ara…sebaiknya kita harus lekas tidur.” Akhirnya Jinki mengalah juga karena memang keadaan yang tidak mendukungnya untuk mengalihkan perhatian dari nafsu prianya. Imannya benar-benar diuji untuk malam ini.

Entah karena pengaruh teh hitam oplosan atau entah bagaimana, Re Na bersikap agresif kali ini. Ia tak lagi menunggu Jinki hingga terlelap atau tepatnya pura-pura telelap seperti kemarin. Setelah Jinki terbaring, Re Na langsung saja memeluknya dari belakang. Membuat otot dan saraf Jinki menegang dan bekerja tidak normal. Dengan gerakan kilat ia langsung membalikkan tubuhnya dan memeluk Re Na. Entah pelukan apa yang ia berikan, pelukan tanda menyerah atau pelukan tulus yang memang ia peruntukkan untuk gadis sejak dulu sembunyi-sembunyi dicintainya.

Perlahan-lahan Jinki mengecup kening gadis didepannya, lama dan dalam seakan ia ingin menghisap aroma rambut Re Na hingga tak bersisa. Kemudian ia mendorong pelan kepala Re Na untuk bersandar lebih dalam kepada dadanya. Membiarkan Re Na mendengar degup jantungnya yang berdetak dalam tempo yang semakin cepat tiap detiknya. Jinki berusaha memejamkan matanya yang tak kunjung mampu membawanya ke alam bawah sadar.

Ia merasakan bibir Re Na menyentuh permukaan bibirnya. Bukan ia yang memulai tetapi gadis yang daritadi sangat ingin dihindarinya. Seperti peribahasa, membangunkan harimau tidur. Jinki seketika terbangun dari tidur imitasinya. Nafsunya dibangkitkan, pertahanan yang dengan susah payah dibangunnya kini dirobohkan oleh seorang yang ingin dilindunginya.

Ia membalas kecupan Re Na dengan lumatan-lumatan kecil nan lembut. Ia menarik ulur bibirnya yang membuat Re Na semakin menutup matanya dan menuntutnya lebih. Tidak ada yang patut disalahkan. Keduanya berada di bawah pengaruh sihir teh hitam oplosan buatan Halmeoni yang mereka minum. Jinki mencoba menembus pertahanan Re Na untuk dapat memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Re Na. Re Na membalasnya dengan senyuman manis kepada Jinki lalu seakan ingin memimpin permainan, Re Na mengalungkan tangannya di leher Jinki kemudian kembali menciumi Jin Ki. Ia menekankan bibirnya yang lembut dan kian memerah ke bibir Jinki yang siap untuk menyambutnya. Tapi tetap saja. Seakan tidak mau harga dirinya sebagai lelaki terinjak-injak, Jinki mulai kembali memimpin permainan.

Kini mereka bermain satu level lebih tinggi. Mereka mulai saling memainkan lidah. Merasa terjebak oleh permainan yang mereka buat sendiri, Re Na mengeluarkan erangannya yang terdengar samar dan pelan. Tetapi mampu membangkitkan insting hewani Jinki. Ia mulai mengelus-elus perut datar Re Na. “Maafkan aku Re Na~ya… jeongmal mianhae…” ucapnya dalam hati.

-T  B  C-

Annyeong! Saya kembali lagi dengan FF imajinasi sedikit aneh saya. Ada yang nunggin gak? *celingukan kanan kiri* Ga ada yah~ #nangis tersedu-sedu di dada bidang Kyuhyun. Di chapter ini sudah terjawab kan kenapa judulnya aku bikin sedikit aneh? Hehe (: Chapter 1 kemarin commentnya dikit banget #nangis lagi di dada bidang Yesung. Tapi aku tetep tanggung jawab kok sama ide abal-abal ku yang super absurd. Jadi ditunggu aja yah~ ^^

Masalah typo. I’m so sorry, I can’t handle that.

Kinta-chan


7 thoughts on “[Freelance] Back To Sleep Tight #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s