[Freelance] Endless Love #1


TITTLE: ENDLESS LOVE PART 1 (sequel of Between Friends)

Cast: Amelia Salisbury / Ri Ah. (OC)

Oh Sehun

Kim Jong in/ Kai.

Giselly Kim (OC)

Author: AAL (@adlnayu)

Genre: Family, Friendship, Romance

Length: Chapter

Notes: pernah di post di hazelwine.wordpress.com

Ri Ah’s POV

Madre!

Aku memutar tubuhku dan menemukan seorang gadis kecil berambut merah berlari kearahku, dibelakangnya seorang pria berambut hitam berjalan menyusul dibelakang.

Senyum ku mengembang. Kutundukan tubuhku agar sejajar dengan tinggi gadis kecil itu, lalu merentangkan tanganku untuk menangkap tubuh gadis itu kedalam pelukan. “Gissel!!!”

Madreeee!!!” Gadis kecil itu-Giselly, langsung menghambur kedalam pelukanku. Ibunya. “Aku kangen madre.”

Aku mencium puncak kepala gadis ini, lalu mengelus rambut merahnya yang sama sepertiku dengan sebelah tangan. Lucu juga mendengar gadis ini menyebutku ‘madre’. Dalam bahasa spanyol madre berarti ibu. Aku membiasakan anakku menggunakan bahasa ini walaupun hanya beberapa kata saja yang ia hafal. Ayahku bisa mengamuk kalau cucunya tidak bisa mengerti bahasa tanah airnya,  “Aku juga, sayang. Oiya, dimana appa mu?”

“Ada disini.”

Aku mendongak saat mendengar suara berat itu. Bibirku melengkungkan senyum saat lelaki berambut hitam itu menarikku kedalam pelukannya lalu mencium keningku,”selamat datang ,Ri Ah-ya.”

“Terima kasih sudah menjemputku, Jong in-ah, Gissel.” Aku menoleh bergantian, sebelah tanganku mengusap puncak kepala gadis kecil ini, lalu menggenggam jemari mungilnya “ayo,kita pulang.”

Suasana pelabuhan sore ini cukup sepi. Hanya ada dua sampai tiga kapal saja yang berlabuh. Wajar saja, memangnya siapa yang mau repot-repot datang ke desa kecil yang bahkan tidak terdaftar dalam peta ini?

Jarak pelabuhan dan tempat tinggal kami hanya berjarak lima ratus meter. Berkendara sepuluh menit dan puff! Kami berhasil sampai di depan pintu rumah dengan selamat.

Annyeong haseyo Jung Ajumma.” Aku menyapa seorang wanita tua yang sedang duduk diatas kursi malasnya, kedua tangan yang sudah penuh kriput itu sibuk menyulam suatu pola.

Wanita tua itu mendongak, ia tersenyum sebelah tangannya bergerak seakan memanggilku. “Selamat datang Ri Ah, Apa kau mau mampir dulu?”

Aku tersenyum, lalu menggeleng sopan.”Tidak usah ajumma. Perjalan dari Seoul kesini cukup jauh, jadi aku ingin istirahat saja.”

Jung Ajumma mengangguk mengerti, “kalau begitu, selagi kau beristirahat biar si kecil Giselly dititip di rumahku dulu. Bagaimana?”

“Ah, aku tidak mau merepot…”

“Aku mau!!!”

Belum selesai aku menyelesaikan kalimatku, gadis kecil itu langsung melepas genggamannya lalu berlari kearah Jung Ajumma dan langsung memeluk wanita tua itu erat. “Madre, aku boleh main ke rumah Jung Halmoni sebentar kan? Boleh yaaa?”

Aku memutar bola mata sapphire ku, lalu menggoyang-goyangkan telunjukku “tidak bo….”

“Boleh ko!”

“Terima kasih Appa!

Aku menolehkan tubuhku lalu memasang tatapan gahar pada lelaki berambut hitam itu “jangan terlalu memanjakan dia Jong In-ah.”

Lelaki itu mengangkat bahunya lalu memasang tampang tak bersalah “Hei, dia hanya main ke rumah Jung ajumma. Apa salahnya?”

“Aku tau, tapi….”

Kai tiba-tiba menarik tubuhku lalu berbisik, “sudah lama kita tidak bisa menghabiskan waktu berdua. Sekarang, tidak ada salahnya kan?”

Astaga.

“O…oke…”

~ENDLESS LOVE~

*lalu ri ah dan kai berduaan di kamar dan kalian pasti tau apa yang mereka lakukan saat seri masih bermain di rumah Jung Ajumma. Maaf ya aku ga berani menulis adegan ini dengan lebih mendetail maaf bgt…. aku takut nulisnya -_-*

~ENDLESS LOVE~

 

Aku membuka kedua mataku yang terasa begitu berat. Menatap langit-langit kamar yang gelap karena sedari tadi aku dan Kai memang sengaja tidak menyalakan lampu.

Kutatap pemuda yang sedang terbaring di sampingku, lalu mengecup keningnya. Mengambil sebuah handuk lalu masuk ke kamar mandi.

Aku langsung menyalakan shower. Menyalakan wastafel. Juga keran air. Itu semua kulakukan agar suara air yang mengucur dapat menyamarkan suara tangisanku.

Selangkanganku masih terasa agak sakit. Dan kiss mark yang terdapat di tengkukku masih menyerupai lebam.

Takut.

Tubuhku merosot kelantai. Membiarkan kucuran shower membasahi seluruh tubuhku.

Kai orang yang baik. Sangat baik. Dia tidak pernah memaksa melakukan itu kalau aku tidak mau. Tapi sebagai seorang istri, itu sudah kewajibanku untuk bercinta dengannya. Jadi aku pun tidak punya alasan untuk menolak.

Selama lima tahun berumah tangga dengannya. Kami hampir tidak pernah bertengkar. Semua konflik yang terjadi kami pikirkan matang-matang agar dapat menemui jalan pemecahan yang baik.

Kai bahkan mengijinkanku untuk bekerja. Biasanya pria di desa ini tidak akan mengijinkan istrinya bekerja karena kewajiban mengurus anak. Tapi, ia berbeda. Ia membebaskanku untuk tetap melakukan pekerjaanku sebagai jurnalis. Walaupun itu berarti ia harus lebih memberikan perhatian kepada Gisselly.

Giselly Kim. Anak perempuan yang lahir dari hasil perkawinanku dengan Kai.

Rambutnya yang merah benar-benar persis dengan milikku, juga Kulitnya yang pucat dengan bintik-bintik merah di pipinya. Tapi, mata itu. Mata hitam miliknya adalah milik Kai.

Seharusnya aku tidak perlu memohon apapun lagi. Aku mempunyai suami yang sangat baik. Anak yang cantik. Rumah tangga yang sederhana namun sempurna. Tapi, ada kalanya. Perasaan itu kembali menguar dari kotak pandora dan menyusup masuk ke dalam ruang hati.

Perasaan itu. Perasaan cintaku pada pemuda lain.

Aku masih tidak bisa menyangkalnya. Bahwa aku mencintai seseorang yang bukan suamiku. Aku mencintai pemuda bermata hazel itu. Masih mencintainya.

Sehun-ah, kau ada dimana? Bagaimana kabarmu? Apa kau masih hidup?

Sehun-ah, aku masih disini. Masih ingatkah kau tentang aku? Tentang kita? Dan kenangan yang bahkan tidak pernah kita lalui namun kita berharap itu akan terjadi?

Aku membekap mulutku untuk mengecilkan volume suara dari isakan yang keluar agar Kai yang sedang tidur tidak mendengarnya.

Namun yang aku tidak tahu adalah. Dibalik pintu kamar mandi ini, Kai dapat mendengar tangisanku ,dengan sangat. Sangat jelas.

~ENDLESS LOVE~

“Kau ingat hari ini hari apa?”

Aku yang sedang membereskan piring bekas pancake untuk sarapan mendongak. Lalu memiringkan kepala, “Rabu?”

Kai menepuk kening, lalu menggelengkan kepala. “bukan, bukan. Maksudku apa kau ingat lima tahun yang lalu apa yang kita lakukan pada hari ini?”

Aku mengerutkan kening. Ikut berfikir. “tidak. Memangnya hari ini hari apa?”

Ekspresi Kai terlihat hopeless. Namun sedetik kemudian ia menunjukan senyumnya. “Happy Anniversary yang ke 5 ya.”

….

….

….

“he? Oh…. AAAAAAAAAA!”

“ya! Kenapa kau berteriak Ri Ah?” Kai reflek menutup kedua telinganya.

Aku memukul kepalaku berkali-kali. Lalu menaruh piring pancake yang ada di tanganku diatas meja. Kakiku berlari kearah meja kecil lalu mengambil kalender meja yang terdapat disana.

Sebelas april. Benar

“Kai…..”

“ya?”

“Maaf… aku lupa…” kataku sambil menunduk untuk menyembunyikan rasa bersalah. Pantas saja sedari pagi Kai tidak berhenti tersenyum. Bahkan hari ini ia dapat menyelesaikan satu lukisan masterpiecenya. Pekerjaannya yang sebagai pelukis lepas memang tidak menuntutnya untuk membuat lukisan sebanyak mungkin, tetapi setiap kali ia membuatnya. Lukisan itu akan membuat orang yang melihatnya berdecak kagum.

Gwenchanna. Sudah lima tahun berlalu. Wajar saja kalau kau sudah lupa.” Ia tersenyum menenangkan lalu mengelus kepalaku. Namun aku bisa melihat sebersit kesedihan dalam kedua bola mata hitamnya. Membuatku makin merasa bersalah.

“em…Ah! Bagaimana kalau kita rayakan saja?” aku menepukan kedua tanganku. Merasa menemukan ide bagus, “Kita bisa makan malam di rumah bersama Gissel. Lalu memainkan permainan sederhana, berfoto bersama, lalu malam ini kita akan tidur bertiga! Bagaimana?”

Kai mengerjapkan kedua matanya. Lalu mengangguk semangat, “ide yang bagus! Kalau begitu, nanti aku akan membeli sesuatu untuk perayaan nanti malam. Hari ini kau yang jemput Seri di sekolah ya?”

aye aye Captain!” aku membuat gesture siap grak yang membuat Kai tertawa. Lalu tiba-tiba teringat sesuatu, “hei, ngomong-ngomong anak kita bernama Gisselly loh. Kau bisa memanggilnya dengan Gissel atau Selly. Mengapa kau selalu memanggilnya dengan Seri?”

“aku tidak bisa mengucapkan nama barat seperti itu. rasanya lidahku seperti terlipat.” Jawabnya sambil menjulurkan lidah.

Aku hanya bisa menghela nafas lalu menggelengkan kepala. Mestinya kalau begitu, aku memberikan nama anak gadisku dengan nama korea saja. Aneh rasanya bila seorang ayah tidak bisa menyebut nama anaknya sendiri.

“Ri Ah.”

“hm?”

“apa kau ingat bunga apa yng kubawakan saat aku melamarmu?”

“heh?” aku membuka mulutku untuk menjawab. Namun otakku tidak memberikan jawaban dari pertanyaanya. Aku benar-benar lupa. Amelia, kau jahat sekali. “a…em….”

“Kau suka warna merah kan?” Tanya Kai lagi.

N…Nde.”

“Kalau begitu nanti aku akan membawa kejutan untukmu.”

Kai mengambil dompet, ponsel, dan jaket kulitnya yang tergantung lalu memakainya. “Jangan lupa siapkan makanan yang enak ya. Ah, ya dan aku akan membunuhmu jika kau memasukan wortel dalam makananku.”

Aku langsung mengambil bantal sofa lalu memukulinya, “dasar! Sebagai orang tua seharusnya kau mengajarkan anakmu untuk makan sayur, bukannya sebaliknya!”

Kai tergelak. Ia mengambil bantal itu dari tanganku lalu melemparnya ke sembarang tempat. Sedetik kemudian aku dapat merasakan tubuhku di tarik ke dalam pelukannya. Ia mendekapku erat seakan tidak ingin melepaskannya lagi. Ia mengecup puncak kepalaku lalu berkata, “I love you. I always do.”

Aku membalas pelukannya dan bergumam, “hmmmm.”

Ia melupas dekapannya lalu berkata, “tunggu aku di rumah. Dan malam mini kita akan bersenang-senang. Aku janji”

~ENDLESS LOVE~

 

Ri Ah’s POV.

“Gissel!”

Gadis kecil berambut merah itu mengangkat wajahnya lalu tersenyum. Ia berlari-lari kecil kearahku. Membuat rambutnya yang dikuncir dua bergoyang mengikuti irama langkahnya, “tumben hari ini madre yang menjemputku. Appa ada dimana?”

“ia sedang membeli kejutan untuk kita, sayang.”

“kejutan? Apakah itu adalah sesuatu yang menyenangkan?”

“tentu!” aku menangkupkan wajahnya yang mungil lalu mengecup keningnya, “kalau begitu ayo kita pulang sekarang. Aku sudah berjanji akan memasakkan makanan yang enak untuk appa-mu. Bisa gawat kalau janji itu tidak ditepati.”

Giselly tergelak. Aku jadi mengingat saat aku berjanji untuk mendekorasi ruang tamu untuk ulang tahun gadis kecil ini, namun karena pekerjaanku yang saat itu benar-benar sedang menumpuk mengakibatku lupa dan tidak bisa pulang ke desa.

Kai yang mengetahui itu ngambek setengah mati. Ia tidak menjawab teleponku, dan tidak mengijinkanku bicara dengan Gissel. Namun pada akhirnya ia juga yang duluan menelponku. Entah kenapa kadang aku merasa sisi kekanak-kanakan Kai tidak akan pernah bisa hilang dari dirinya.

Dan aku tidak pernah keberatan akan hal itu.

Aku menyayangi dirinya apadanya. Namun aku tidak bisa mencintainya.

Madre.”

Nde?

“saat pelajaran menggambar, aku dapat nilai terbaik loh. Ibu guru bilang aku mendapatkan bakat keturunan dari Appa.” Gadis itu tersenyum, memamerkan gigi susu nya yang berbaris rapih, “Aku sangat menyayangi Appa.”

Mendengarnya aku jadi ikut tersenyum. Kutundukan tubuhku agar dapat bediri sejajar dengannya, “Gissel sayang Appa?”

nde!”

“kalau begitu, aku lebihhhhh menyayanginya. Jauh lebih besar daripada rasa sayang Gissel padanya.”

Andwe! Pokonya rasa sayangku pada appa yang lebih besar!”

Aku tergelak. Melepas gandengan tangannya lalu berlari, “siapa yang duluan sampai ke rumah, itu berarti rasa sayangnya lebih besar!”

madre curaaaaaaaaaaaaang!”

~ENDLESS LOVE~

Author’s POV

 

Seorang lelaki keluar dari sebuah tokoh bunga sambil membawa sebuket bunga mawar putih. Senyum manis itu tak henti-hentinya menghiasi wajah tampannya.

Hidung mancungnya mencium kuncup berwarna merah itu, merasakan aroma manis yang menguar memenuhi indra penciumannya.

Bagi lelaki itu, sebelas april adalah tanggal yang penting. Ia mungkin sering lupa dengan tanggal ulang tahunnya sendiri, tapi tidak untuk yang ini.

Sebelas april adalah, hari dimana ia mempersunting seorang gadis yang telah mengisi hatinya sejak ia masih duduk dibangku sekolah menengah atas.

Di hari dimana bunga mawar memekarkan kuncupnya, lelaki itu bersimpuh di depan sang gadis. Tangan lelaki itu terangkat, memperlihatkan sebuah kotak mungil berhiaskan pita.

Gadis itu bertanya, Apa itu?

Lelaki itu, tidak menjawab pertanyaan sang gadis dengan mulutnya,melainkan dengan membuka tutup kotak itu dan memperlihatkan sebuah cincin perak bermahkotakan berlian.

Amelia Salisbury, lelaki itu membuka kedua belah bibirnya, Quieres casarte conmigo?

Lelaki berambut hitam itu tidak mengumbarkan janji-janji yang biasa digunakan sebagai hiasan dalam kalimat cinta. Ia tidak membawa bunga ataupun cokelat. Hanya sebuah cincin, dan cinta yang murni.

Gadis berambut merah itu menatap benda bulat yang ada di depan matanya dengan mulut terkatup rapat. Pertanyaan yang diajukan lelaki itu berputar dikepalanya. Quieres casarte conmigo? Mau kah kau menikah denganku?

Pertanyaan yang sederhana dengan jawaban yang sederhana pula. Iya atau tidak. Segala keputusan berada ditangannya.

Gadis itu menutup kedua mata. Perlahan, ia anggukan kepalanya, seulas senyum terpatri di wajahnya yang pucat. Sí. Adalah jawabannya.

Lelaki itu-Kai, tidak mungkin melupakan perasaan senang yang meyelimuti dirinya saat berhasil menyematkan cincin itu di jemari mungil milik sang gadis.

Kai mendongakan kepalanya, bola mata hitamnya menatap langit yang memunculkan gumpalah kapas berwarna kelabu. Potongan kenangan yang muncul di kepalanya tadi, membuat ia tidak menyadari bahwa langit tiba-tiba berubah mendung.

Ia menghela nafas sebal sebelum merapatkan jaket kulitnya. Sebelah tangannya terangkat , melindungi buket mawar itu dari tetesan hujan yang sebentar lagi pasti akan turun.

Ia langkahkan kedua kakinya menuju sebuah bangunan tinggi beratap yang berada di sebrang jalan untuk berteduh.

Dengan langkah terburu -karena hujan sudah mulai turun- ia percepat langkah kakinya menuju bangunan itu, tanpa menyadari ada sebuah truk yang melaju cepat dari arah berlawanan.

“Awas!”

Kejadian itu terjadi dalam hitungan detik. Mulut truk itu menghantam tubuh sang lelaki tanpa ampun. Para mata yang menyaksikan kejadian itu hanya mampu terdiam. Terkesima. Menatap dengan mulut yang menganga. Merasakan waktu seakan terhenti. Hanya tubuh sang lelaki saja yang bergerak mengarungi seperkian detik waktu.

Tubrukan itu mengakibatkan tulang ditubuhnya remuk dalam sekali hantam. Membuat tubuh itu seakan terhempas dan pada akhirnya gaya gravitasi  menjatuhkan tubuh tanpa daya itu menghantam kerasnya aspal tanah.

Darah mulai mengalir dari pelipisnya. Tapi buket bunga ditangannya itu tetap utuh. Tidak rusak. Tidak pula terlepas dari genggaman sang lelaki . Seakan mengatakan bahwa ia lebih mementingkan bunga yang akan dipersembahkan kepada sang gadis dibandingkan dirinya sendiri.

Seiring deru nafasnya yang mulai melemah, lelaki itu menggerakan kedua belah bibirnya sebelum kedua matanya menutup rapat.

“Ri Ah…”

-TBC-

Aku sangat teramat minta maaf karna chapter ini jelek bgt : (. Maaf ya aku lagi gak nemu feelnya. Dan soal adegan diatas yang tidak kuceritakan, aku tau kalian juga pasti udah bisa ngebayanginnya kan. Maaf ya aku ga berani nulisnya -_-.

Sehun kemana, thor?

Ada nih dia lagi disampingku sekarang /PLAK. Haha dia pasti akan muncul ko. slow but sure, okay?

Jangan lupa RCL yaaaa aku akan lebih semangat nulisnya kalo baca RCL dari kalian terima kasih : ).

~BONUS~

Sebagai permintaan maaf karena chpt ini benar-benar jelek, aku akan memberi kalian preview part 2 nya. Cekidot!

“Aku tidak akan merasa bahagia lagi juga tidak apa. Aku akan menyerahkan semuanya dan berjanji tidak akan memohon apapun lagi padamu Tuhan. Jadi tolong, selamatkan nyawanya.”

“Aku baru menyadari bahwa cinta dan rasa ingin memiliki itu tidak sama.”

“Sssssstt! Madre, tolong jangan berisik. Sekarang Appa sedang tidur.”

“Tidak ada lagi yang bisa kau lakukan disini. Lebih baik kau pergi dan meninggalkan semua kenangan itu.”

.

.

“Sehun?”

“Ri Ah?”

 

 

 

 


7 thoughts on “[Freelance] Endless Love #1

  1. Kai koq dah mati duluan sich?
    Kai~ah noona belum siap nikah baru lagi
    -_-
    *exoticbawagolok*
    Like this^_^ jgn lama lama ya thor??

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s