[Freelance] Im sorry, I love you #1


Tittle : I Am So Sorry, But I Love You [because of Donghae]

Cast (s) : Choi Siwon, Im YoonA, Lee Donghae

Genre : romance

Author : Cella-TWD

I Am So Sorry, But I Love You

Empat puluh menit berlalu begitu saja. Ditemani musik blues yang mengalun lembut, aku kembali mengaduk apple-cider tea di hadapanku yang sudah habis setengah gelas. Terlambat, tidak pernah ada dalam CV seorang Choi Siwon—well, setidaknya jika dia ada janji dengan seorang wanita, bukan dengan teman laki-lakinya.

Dasar!

“Dongahe-ssi!”

Nah, itu dia dan kekasihnya yang hendak ia perkenalkan padaku.

Alih-alih menyapaku, Siwon melambai-lambaikan tangannya ke arahku dengan penuh rasa bangga. Di lengannya, yeoja itu menggelayut penuh kasih padanya. Mereka terlihat mesra dan juga serasi.

Iri?

Tentu saja.

“Hei, Donghae-ssi! Perkenalkan, ini yeojachinguku. Namanya Yoona…”

Deg.

“Annyeonghaseyo… Im Yoona imnida…”

Gadis itu membungkuk sopan, lalu mengulurkan tangannya padaku, mengajakku berjabat tangan. Sementara diriku hanya terpana, lalu mengamatinya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.

Dia cantik.

“Lee Donghae-imnida,” kataku pada akhirnya seraya membalas jabat tangannya.

Tubuhnya juga bagus

“Kau sudah pesan makanan?” tanya Siwon yang pada akhirnya menyadarkanku dari lamunan yang membuat sebagian jiwaku terbang kesana kemari mencari berbagai kata yang pas untuk mendeskripsikan kekasih barunya itu.

Matanya indah

“Uh-oh, belum. Aku menunggu kalian,” jawabku. Aku kemudian mengangkat tanganku, menjentikkan jari, memanggil pelayan restauran, dan tak berapa lama pun pelayan restauran datang dengan buku menu.

Aku menerimanya, begitu juga dengan Siwon yang kemudian membuka buku menu itu dan memilih-milih bersama Yoona.

“Aku pesan bruschetta

“Aku pesan bruschetta

Namun senyumnya licik

“hahaha….”

Sontak kami bertiga tertawa bersama-sama. Aku tak menyangka, Yoona akan memesan makanan yang sama denganku. “Aku pakai Tuna ya,”

“Kalau aku pakai Salmon saja,” tambah Yoona mengikuti pesananku pada si pelayan restauran. Sementara Siwon memesan Lasagna, “Aku mau berbeda dari kalian. Hahaha…”

Dan setelah acara pesan-memesan itu, makanan kami pun datang. Sepanjang lunch ini, aku mulai bisa sedikit demi sedikit menyimpulkan seperti apa Im Yoona itu. Gorgeous with the whole packages, tentu saja, dan karena itulah Siwon memilihnya. Siwon yang tampan, dan yeojachingunya harus sempurna luar dalam. Sepanjang aku bersahabat dengan Siwon pun, semua mantan-mantannya juga tidak bisa dibilang biasa-biasa saja, apalagi jelek.

Kesimpulannya, Siwon memiliki standar tinggi untuk seorang kekasih.

Dan untuk Im Yoona, seperti yang kukatakan tadi, dia adalah paket yang sempurna untuk menjadi kekasih Siwon. Cantik, tinggi semampai, matanya indah dan cemerlang, ramah, juga seorang perangkai bunga. Bisa dibilang Yoona adalah tipikal wanita baik-baik.

Tapi benarkah dia sebaik, atau lebih baik dari mantan-mantan Siwon yang rata-rata hanya mengejar prestige sebagai motivasi mencintai pria setampan dan sekaya sahabatku itu?

Benarkah tidak ada motif lain?

Atau justru motif lain itu adalah ‘paket’ dari jati dirinya yang lain yang belum kuketahui?

Entahlah.

Entah mengapa aku memiliki perasaan tidak baik dengan datangnya Yoona dalam kehidupan Siwon sampai-sampai aku ber-underestimate di awal pertemuan ini.

Siwon jauh lebih polos dari siapapun terlepas dari label playboy yang selama ini melekat pada dirinya,

Dan sebagai seseorang yang mengenalnya sejak kecil, aku tak ingin Siwon kecewa karena wanita.

Karena Im Yoona yang dicintainya.

____________________________________________________________________________

 

Suatu malam…

Aku baru saja selesai dari berbelanja beras dan kebutuhan bulanan yang lainnya. Sekarang, aku sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen. Oh, aku belum bercerita bahwa aku tinggal bersama Siwon, karena kami kuliah di Universitas yang sama. Dan apartemen ini kami sewa dengan biaya patungan. Meski kedua orang tua kami bisa membelikan masing-masing satu apartemen, tapi bukankah begini juga lebih hemat?

Saat ini, aku sedang berjalan menuju stasiun MRT yang letaknya cukup jauh dari departemen store tempat aku berbelanja tadi (bulan ini giliranku belanja). Untuk mempersingkat waktu, maka aku memotong jalan dengan menyusuri gang-gang sempit dan gelap di sekitar departemen store. Samar-samar, aku melihat sekolompok gangstar sedang mengerubungi seorang gadis, dan ketika aku memutuskan untuk sedikit mendekat, gadis itu adalah Yoona!

“YOONA!”

“Siapa itu?! Tolong aku!”

Secepat kilat aku melesat ke kumpulan yang tengah mengerubungi Yoona itu. Dan aku baru tau bahwa mereka adalah anak-anak SMU tak terurus yang tengah mabuk dan suka menggoda gadis-gadis yang kebetulan lewat di gang ini. Dasar preman-preman labil!

“Menjauhlah dari gadis itu!” bentakku dan anak-anak sejumlah lima orang itu langsung menengok ke arahku.

Dan mereka menyerangku.

“NONE OF YOUR BUSINESS, DUDE!”

BUG!

Sebuah tinjuan melayang bebas ke mukaku. Sial! Mereka ingin bermain dengan kekerasan, rupanya…

BUG!

“JANGAN BERMAIN-MAIN DENGAN KAMI, AHJUSSI!”

“KAU YANG JANGAN BERMAIN-MAIN DENGANKU!” balasku tersulut emosi.

Karena emosiku sudah memuncak, akhirnya aku melayani perkelahian mereka dengan membabi buta. Memukuli satu per satu dari mereka hingga terkapar

BUG!

BUG!

BUG!

“Kau tidak akan menang, Ahjussi!”

BUG!

Anak yang terakhir itu akhirnya tumbang juga setelah terkena satu bogem mentah dariku.

“Yoona-ssi!”

Yoona yang tadi menyelamatkan diri ke tempat yang aman selama aku menghabisi anak-anak mabuk itu berlari ke arahku. “Donghae-ssi!”

“Kau tidak apa-apa, kan?”

“Aku tidak apa-apa. Tapi kau babak belur…” ucapnya khawatir.

“Tak apa,” jawabku. Aku menatapnya curiga. “Kau sedang apa malam-malam begini di sini?”

“A… Aku baru saja mau pulang. Lalu tiba-tiba anak-anak ini menghadangku. Biasanya jalan ini sepi…”

“Benarkah? Kalau begitu lain kali kau harus pulang lebih awal…”

“Nde. Kau sendiri, kenapa ada di sini?”

“Aku baru saja belanja bulanan.”

“oke?”

“… aku memotong jalan. Stasiunnya menuju rumah cukup jauh…”

“Oke, baiklah…” Yoona lalu membungkuk padaku. “Gomawo. Mungkin aku tidak akan selamat jika kau tidak menolongku,”

“Itu bukan apa-apa…”

“rumahku di ujung gang itu…” tunjuknya pada tikungan gang yang gelap di depan sana. “Aku pulang ya. Selamat malam.”

“Tidak mau kuantar? Aku hanya ingin mengatakan pada Siwon bahwa akhirnya kau pulang dengan selamat…”

Yoona setengah berpikir, namun pada akhirnya ia memperbolehkanku mengantarnya pulang. “Baiklah.”

Aku kemudian mengikutinya. Berjalan menembus gelapnya gang-gang sempit dan kotor di daerah Itaewon ini. Hingga pada akhirnya kami berbelok di ujung gang yang tadi di tunjuk Yoona.

Dan betapa takjubnya aku…

Pemandangan kontras terlihat jelas dari apa yang kutemui di hadapanku ini. Sebuah distrik hingar bingar yang ramai dengan pejalan kaki dan di kanan kirinya adalah toko-toko dengan penerangan temaram.

“Yang mana rumahmu?” tanyaku pada Yoona yang sudah mulai keringat dingin. Yah, kau bisa mengira, ia mungkin seperti tengah dikuliti karena predikat ‘wanita baik-baik’nya sedikit demi sedikit mulai memudar dengan kenyataan bahwa ia bertempat tinggal di Itaewon.

“Setelah diskotik itu,” jawab Yoona.

“Kedai teh?” tanyaku sembari membaca papan berlampu yang menjulang di atasnya.

“Ayahku seorang pembuat teh.”

“Benarkah itu sebuah kedai teh?” tanyaku mengorek lebih dalam dimana maksudku yang sebenarnya adalah benarkah itu hanya sebuah kedai teh tanpa embel-embel apapun mengingat saat ini kami sedang berada di kawasan esek-esek Itaewon.

“Mau kutraktir minum teh?” tantang Yoona.

“Lain kali saja,” tolakku, mengingat sekarang arlojiku sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam atau Siwon akan mengira aku maling jika masuk ke rumah dengan mengendap-endap. “Kalau aku datang sendiri, dan mengatakan ‘aku temannya Yoona’, aku dapat gratis kan?”

“Tentu saja” jawab Yoona mantab dan meyakinkan.

“Baiklah. Aku akan datang lain kali.”

“Akan kutunggu,”

Dan sekali lagi senyum licik berkedok senyum manisnya itu terpampang dari paras cantiknya.

Matanya yang cemerlang itu tidak akan bisa membohongi bahwa ia memang benar-benar tengah berbohong.

“Sampai juma, Donghae-ssi,” ucap Yoona. “…dan terima kasih.”

No worries…”jawabku.

Dan ia pun menghilang di antara ramainya lalu lalang pengunjung Itaewon yang haus akan hiburan.

Seorang wanita tinggal di daerah Itaewon, kau pikir dia wanita macam apa? Itaewon sama dengan Bronx-nya kota Seoul, jadi kau bisa menyimpulkan sendiri…

____________________________________________________________________________

 

00:13 am

“Hyung, kau dari mana saja?! Kupikir kau kenapa-napa…. ASTAGA!”

Siwon yang ternyata belum tidur itu langsung berteriak seperti orang gila begitu melihatku tengah membersihkan luka gores di tanganku. Ternyata, salah satu dari anak-anak yang berkelahi denganku ketika menyelematakan Yoona itu ada yang membawa pisau.

Luka goresannya cukup dalam dan panjang, tapi untungnya tidak mengenai urat nadiku.

“Hyung, lukanya parah sekali…”

“Tadi aku berkelahi dengan pemabuk yang mengganggu Yoona”

“YOONA?!” seru Siwon begitu mendengar apa yang kuceritakan menyangkut kekasihnya. “Dia tidak apa-apa kan? Apa dia terluka? Lalu bagaimana kau bisa bertemu dengan Yoona?”

“Kau tidak bertanya bagaimana aku bertemu dengan Yoona di Itaewon?”

“Kau sendiri kenapa berbelanja di Itaewon. Memang harga barang-barang di sana murah, tapi tempat itu kan berbahaya, Hyung…”

“…lalu apa itu tidak berbahaya bagi seorang wanita seperti Yoona?” tembakku langsung dan itu membuat Siwon tertegun. “Kau pikir, mengapa seorang Yoona berada di daerah berbahaya seperti Itaewon seorang diri?”

Siwon terdiam. Dia cukup mengerti apa maksudku membicarakan Yoona, kekasihnya yang wanita baik-baik itu, yang berada di kawasan ‘temaram’ Itaewon.

“Mungkin saja dia ada urusan di daerah itu, Hyung…” ucap Siwon lirih pada akhirnya.

“Rumahnya Yoona di situ…” tambahku

“Aku tidak ingin berprasangka buruk tentang dirinya dulu sebelum mengetahi yang sebenarnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan kuharap kau juga begitu, Hyung…” Siwon lalu bangkit berdiri dan beranjak meninggalkanku.“Bersihkan lukamu sampai bersih, Hyung. Jangan sampai infeksi…” kata Siwon sambil berjalan menuju kamarnya. “Selamat malam, Hyung.”

Namun sebelum ia benar-benar menghilang di balik pintu kamarnya…

“Terima kasih sudah menyelamatkan Yoona.”

 

Cheonmaneyo, Choi Siwon…

 

 

To be continued


33 thoughts on “[Freelance] Im sorry, I love you #1

  1. wah hae hyung keren..

    kayany bner ga y yoongny sperti yg dipkir hae hyung?bkin bener aj dh biar seru..

    plotny hae hyung aj nie bagus…

    Like

  2. Aish, bagus begini nih ff. Authornya sengaja lagi bikin pendek ff-nya padahal ffnya bagus biar bikin ane penasaran. Ff-nya bagus, seru, n menarik ceritanya chingu. Apalagi didukung ama tulisannya yang rapi n gak ada typo sama sekali. Satu kata buat ff ini, DAEBAK…..!!!!!!

    Like

  3. waah yg coment kebnyakan Yoonwonited,,
    sendirian neh q Pyro,,
    phi gag pa2,,pnasaran ma kelanjutan ne ff,,,
    siapa YoonA sbnernya,,,???
    n akan brakhir dngan siapa Yoona,,
    Siwon ato Donghae??
    dengan spapun akhirnya q oke2 jah,,
    yg pnting cpet dlanjutin ne ff..
    oke thor..!!!
    kekekeke

    Like

  4. penasaran banget siapa yoona sebenernya
    smoga hubungan siwon sm yoona ga kenapa”
    dan smoga dugaan haeppa tentang yoona itu salah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s