[Freelance] Black Rose #2


Title                 : Black Rose [First Question] #2

Author             : vermouth407 (Monica Trihandini)

Main Cast        :  Seohyun and Kyuhyun

Support Cast   : Yoona, Siwon, Yesung, and a man named Leeteuk.

Genre              : Mystery, Romance

Length             : Chapter

Rated              : PG-15

Annyeong yeorobun ^^ *cipok basah chingudeul*

adakah yang menantikan kelanjutan dari ff ini? #halah *kayaknya gak ada* -__-

eh ya numpang bacot.. ff ini MURNI dari otak saya lho ^^ jadi jangan heran kalo ceritanya agak membingungkan .__.v

Jeongmal mianhaeyo jika ada beberapa kesamaan dalam cerita, semua itu hanyalah ketidaksengajaan belaka (?)

oh ya, ngemeng-ngemeng sebelum baca lebih lanjut, liat dulu rating cerita ini ya. Soalnya disini….ada adegan kisseu walau kayaknya bahasanya hancur total. Kan aku belum pernah praktekin sama Siwon #eh -_-v

dan soal chapter sebelumnya, maaf ada sedikit ralat. Umur Seohyun waktu itu 12 tahun dan Kyuhyun 15 tahun. Mianhae kalo ada yg bingung karena ada beberapa kalimat yg aku ketik itu, aku tulis Seohyun umurnya 13 tahun. jeongmal mianhaeyo *bow* -_-v

baiklah, sebelum dibacok karena banyak bacot, happy reading ^^

Previous Chapter >>

“Jadi, Black Rose… Siapa namamu sebenarnya?”

“Tentu saja namaku bukan nona Park.”

Kyuhyun hanya menatap lurus ke arahnya, membuat gadis itu segera menjawab.

“Seo Joo Hyun. Ibu dan teman-temanku di panti asuhan memanggilku dengan sebutan Seohyun.”

“Nama yang bagus.” Kyuhyun tersenyum. “Jadi, bagaimana? Apa kau mau tinggal denganku atau hidup sebagai gelandangan di luar sana, Seohyun-ssi?”

Untuk pertama kalinya Kyuhyun melihat gadis bernama Seohyun itu tersenyum. Senyum misterius dari seorang gadis lugu. “Tentu saja aku ikut denganmu, Kyuhyun-ssi.”

Tanpa mereka sadari, itulah awal dari sejarah lahirnya mesin pembunuh paling dicari nomor satu di dunia: Black Rose.

 

***

Waktu.

Waktu itu ibarat sebuah mantra yang bisa mengubah hidup seseorang.

Mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik, atau bahkan lebih buruk.

Namun sayang, manusia tak punya kemampuan untuk mengetahui waktu yang dijalaninya itu akan mengubahnya menjadi hitam atau putih.

Sama seperti gadis itu.

Delapan tahun bisa mengubah seorang gadis lemah menjadi mesin pembunuh yang paling ditakuti.

Tanpa ia sadari bahwa waktu yang dijalaninya selama ini adalah salah.

***

Moscow, Rusia 09.05 PM

Yeoja berpakaian ketat serba hitam itu mengayunkan langkah kaki jenjangnya secara perlahan menuju sebuah ruangan yang terletak di sebuah gedung bertingkat yang terkenal akan penjagaannya yang super ketat itu. Bahkan dengan pendeteksi sidik jari paling canggih abad ini yang terletak di setiap pintu masuk ruangan, seekor tikus pun takkan bisa lolos untuk memasuki pintu ruangan. Dan kalaupun lolos, tikus tersebut akan segera tertangkap karena alarm yang akan berbunyi jika sandi yang ditekan salah dan sidik jari yang dimasukkan tidak ada dalam daftar akan segera memanggil seluruh tim keamanan yang siaga di setiap titik penjagaan. Sejauh ini pendeteksi tersebut tak pernah gagal meloloskan mangsanya.

Namun tetap saja, ciptaan manusia tidak ada yang sempurna, seperti manusia yang menciptakan benda tersebut pun tak ada yang sempurna.

Seperti yang telah yeoja itu lakukan tadi. Dengan keahlian bela diri yang ia miliki—taekwondo— dengan mudah ia melumpuhkan dua penjaga yang selalu menunggu di setiap pintu masuk ruangan—tentu saja setelah ia berhasil menghancurkan kamera CCTV yang berada di tiap sudut ruangan. Dengan sample sidik jari salah seorang ajudan presiden yang telah ia tembak sewaktu dirinya ingin memasuki salah satu ruangan untuk mengambil salah satu berkas kriminal beberapa tahun itu,  dengan sukses ia lolos dari alat pendeteksi maut itu

Kedua sudut bibir gadis itu sedikit melengkung, membentuk sebuah senyuman yang lebih tepat dikatakan sebagai seringai. Kekelaman malam ditambah nyala lampu yang tidak begitu terang membuat seringai gadis itu menjadi sedikit menyeramkan.

Dan disinilah dirinya.

Dengan penuh waspada yang menghantui setiap langkahnya, ia menatap sekeliling, memastikan bahwa tak ada orang yang datang begitu ia sukses membuat dua penjaga berseragam hitam dan berbadan kekar tersebut tewas dengan senjata andalannya—pistol Bereta peredam suara terbaru buatan Italia.

Begitu ia melihat tak ada tanda seorang pun akan datang, dengan yakinnya ia memasuki pintu sebuah ruangan—yang untungnya tak dilengkapi pendeteksi—sehingga dengan bebas gadis itu masuk.

Ia menghentikan langkah begitu tangannya yang sedang memegang gagang pintu kokoh di hadapannya hendak mendorong pintu tersebut, berniat masuk. Sesaat dahi gadis itu sedikit mengkerut.

Bagaimana mungkin pintu sebuah ruang kerja seorang presiden Rusia tidak dilengkapi sistem keamanan apapun?

Sedikit aneh, mengingat penjagaan menuju ke ruangan ini begitu ketat dan lengkap dengan alat keamanan yang canggih. Lebih aneh lagi ketika gadis itu menggeledah barang bawaan kedua penjaga pintu ini.

Tentu ia masih ingat dengan jelas kejanggalan yang ia temukan tadi. Dalam benaknya sudah terbayang ia akan membawa pulang beberapa pistol terbaru buatan Rusia seperti The PSM pistol (Pistolet Samozaryadnyj Malogabaritnyj), sejenis pistol peredam suara buatan Rusia yang dimiliki para penjaga tersebut. Namun sayang impiannya harus kandas. Tidak ada pistol buatan Rusia yang terkenal canggih itu. Tidak ada pistol model terbaru. Yang ada hanyalah pistol Makarov usang yang biasa dipakai oleh tentara Uni Soviet.

Mencurigakan. Karena para penjaga pinu ruang kerja presiden hanyalah dua orang pria yang sama sekali tak punya kemampuan. Sangat kontras dengan penjagaan di pintu awal.

Walau kekecewaan sedikit mengusik gadis itu, namun dengan percaya diri ia memberanikan diri mendorong gagang pintu tersebut untuk masuk. Begitu ia baru saja menapakkan langkah kakinya yang kedua, bunyi peluru berdesing terdengar jelas di telinga sebelah kanannya—yang berhasil mengoyakkan pundak bajunya yang berwarna hitam. Belum sepersekian detik gadis itu berpikir, peluru yang lain pun bersahutan seolah tidak memberi izin gadis itu untuk mengerti apa yang terjadi saat ini.  Untung saja gadis yang rambutnya dikuncir kuda itu sudah terlatih, sehingga peluru yang datang menyerangnya bisa ia hindari dengan agak mudah.

Dengan hati penuh amarah gadis berbadan tinggi tersebut mengedarkan pandang. Matanya dengan telaten menelaah seisi ruangan, mencari siapa yang berani mempermainkannya seperti ini. Ya. Tentu saja bagi pembunuh berdarah dingin, harga dirinya sedang dipermainkan.

Tak perlu waktu lama bagi gadis itu untuk mengetahui siapa pelaku di balik semua ini, karena kini sang pelaku menampakkan diri dari tempat persembunyiannya, yaitu dibalik meja kerja presiden.

Pria paruh baya tersebut berjalan perlahan dengan pistol di sebelah kanannya. Gadis itu spontan mundur sembari mengambil ancang-ancang untuk menarik pelatuk dari pistol yang berada di tangan kirinya.

Terdengar suara tepuk tangan yang bergemuruh dari kedua tangan lelaki tersebut, menggema ke seluruh ruangan besar bercat putih yang kedap suara itu. Pria itu semakin maju beberapa langkah, membuat gadis belia itu segera mundur ke sisi kiri ruangan itu.

“Jadi, kau pembunuh bayaran bernama Black Rose itu?”

Pertanyaan pria tersebut tentu saja enggan dijawab oleh gadis berparas cantik itu. Bibir tipisnya masih saja diam menutup.

Sadar bahwa pertanyaan retorisnya tidak dijawab, pria yang sudah menjabat sebagai Presiden Rusia selama 3 tahun itu melanjutkan kalimatnya tanpa diminta. “Jujur saja, aku kecewa. Dalam anganku, Black Rose yang beritanya selalu menjadi berita utama selama beberapa hati itu adalah sosok wanita dewasa yang usianya di atas 20-an dengan fisik cantik, seksi dan menawan. Ternyata jauh dari khayalanku.” Pria tua itu menggeleng pelan kepalanya. “Dalam kenyataan, Black Rose hanyalah gadis ingusan yang sama sekali tidak seksi. Bahkan kurasa umurmu belum genap 20 tahun. Aku benar, kan?”

Gadis manis itu tersenyum simpul. Tangan kirinya tetap siaga. “Tebakan yang tepat, tuan. Tapi ada sedikit kesalahan, tiga bulan lalu aku berulangtahun yang ke dua puluh.”

I don’t care.” Pria itu mengangkat bahu. “Although it was dissapointed, I hope that you’re the right rival.”

“Mwo?!” tanya gadis itu refleks. Otaknya agak susah mencerna ucapan pria itu.

Pria tersebut bukannya menjawab, ia malah semakin mempercepat langkahnya untuk maju, membuat tempo langkah gadis itu juga semakin cepat untuk mundur. Gadis yang tak tau bahwa di belakangnya ada sebuah sofa besar itu meringis kecil karena kaki dan tubuh bagian bawahnya terbentur sofa berwarna coklat mocca tersebut. Gadis itu sedikit lepas kontrol dalam keseimbangan tubuh sehingga tubuhnya terjatuh dengan tubuh bagian atas bersandar di atas sandaran sofa.

Dooorr!!

Andai saja saraf sensorik gadis itu tak bekerja cepat untuk menghindari peluru yang hampir bersarang di pelipis kanannya tadi, mungkin sekarang tubuh gadis tersebut sudah diiris-iris menjadi potongan daging kecil oleh presiden itu.

Yeoja itu tak menyia-nyiakan waktu begitu pria yang seluruh rambutnya hampir ditutupi uban itu sedang menggerutu melihat isi pelurunya yang tak kunjung keluar begitu ia menekan-nekan pelatuk pistol berwarna silver tersebut. Pria tersebut mencampakkan pistol tersebut ke lantai, lalu menunjuk gadis itu dengan telunjuk kanannya.

“Buang pistolmu! Bukankah lebih adil jika kita sama-sama bertarung dengan tangan kosong, kan?”

Gadis itu tersentak. Tidak. Bukan terkejut akan ancaman orang nomor satu di Rusia itu, terlebih pada keheranannya yang baru tau bahwa sang presiden bisa olahraga bela diri.

“Kenapa? Kau baru tau bahwa aku bisa bela diri, bukan?” tanya pria berumur setengah abad lebih itu, seolah tau akan apa yang dipikirkan yeoja berbadan tinggi tersebut.

“Memang, tidak banyak yang tau soal ini. Bahkan istriku saja tak mengetahuinya.” Untuk pertama kali pria itu tersenyum. “Tapi asal kau tau saja, sewaktu kuliah aku ini ahli bela diri SystemaRukopashnogo Boya (bela diri tangan kosong asli dari Rusia) . Apa kau yakin ingin menyerangku? Aku tau kau bosan membunuh targetmu karena tak ada perlawanan berarti dari mereka. Bagaimana?!”

Antara terpengaruh akan perkataan sang presiden atau bukan, gadis itu kini membuang pistol kesayangannya ke sembarang tempat. Lengan panjang baju hitamnya ia gulung sampai siku, bermaksud agar geraknya akan leluasa untuk menyerang.

“Ayo maju!!” pekik presiden itu tak sabar.

Dengan sekali lompat gadis itu sudah sampai di tempat berdirinya presiden tersebut. Tinju yang ia alamatkan pada pria tua itu hanya berhasil memukul udara kosong. Matanya melirik ke samping kiri, mencari sosok presiden itu. Sayang matanya kurang cepat mencari, karena kini tubuh ramping gadis itu sudah tertindih tubuh pria itu.

“Kau masih hijau, Black Rose. Kau membuatku kecewa.” Ujar pria bertubuh yang masih tampak gagah di usianya itu pada gadis yang kini tubuhnya dalam posis telungkup di atas lantai. Tangan kekar presiden itu segera mengunci kedua tangan mulus gadis tersebut dan memelintirnya sekuat mungkin, membuat erangan kecil keluar dari mulut gadis itu.

“Ada pesan terakhir?” tanya presiden itu dengan senyum mengejek. Dinginnya ujung pistol bisa dirasakan oleh tengkuk gadis itu.

Gadis itu hanya bisa menggigit-gigit bibirnya dengan cemas. Ia sangat menyesali sikapnya yang terlalu terbawa emosi.

Ah, penyesalan memang selalu datang belakangan.

“Ah tidak. Karena aku orang yang baik hati, kau tak jadi kubunuh.” Ujung pistol itu pun tak lagi menempel pada tengkuk gadis tersebut.

“Ya, lebih baik kau kutangkap saja. Kurasa dalam waktu tak kurang dari lima belas menit tim S.W.A.T akan segera datang kesini dan langsung membuangmu ke dalam penjara.” Pria itu tertawa, menertawakan hal yang sama sekali tidak lucu menurut gadis tersebut. “Setidaknya, berterimakasihlah padaku karena memberimu waktu untuk merenung dan bertobat.”

“Huh, bertobat kau bilang?!” Gadis itu sudah tak bisa menyimpan lagi emosi yang hampir meledak. “Bukankah kau yang seharusnya bertobat, tuan John Sclhayzyropyz?  (sumpah ini namanya ngarang banget -_-v) Seharusnya kau yang merenung apa yang telah kau perbuat sehingga membuat Presiden dan Wakil Presiden Rusia sebelumnya tewas secara menggenaskan.”

“Kau…” Ada jeda yang sedikit panjang. “Tau dari mana?”

“Mudah saja. Kau yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan sudah menjadi bahan pembicaraan publik karena kau berhasil mengumpulkan bukti palsu dan memangkap pelaku pembunuhan terhadap presiden, yaitu Wakil Presiden yang tentu saja hanya menjadi kambing hitammu saja. Rakyat yang terpengaruh akan analisa bualanmu tak bisa lagi percaya pada Wakil Presiden untuk menggantikan posisi sebagai presiden.” Gadis itu menyeringai. “Maka dari itu, kau bersama partai politikmu yang busuk itu mencalonkan diri sebagai Presiden Rusia. Rakyat yang simpatik akan kehebatanmu dalam memecahkan kasus tentu saja memilihmu untuk maju sebagai Presiden, dan tanpa melakukan kecurangan dalam pemilu pun, kau menang.”

Ada hening yang lumayan lama di antara mereka. Akhirnya sang presiden pun membuka mulut. “Baiklah, aku menarik kembali ucapanku. Kau benar-benar jenius, Black Rose. Tidak salah Nero merekrutmu untuk menjadi anggota.”

Kening dahi itu mengerut. “Nero? Tau dari mana kau soal…”

“Tentu saja aku tau.” Pria itu berambut coklat itu tersenyum. “Dulu aku pernah menjadi anggota.”

“Bagaimana mungkin?!” Gadis itu melayangkan protes. “Nero kan organisasi dari Korea Selatan, bagaimana bisa kau yang merupakan orang Rusia bisa bergabung?”

“Tentu saja bisa, Black Rose.” Pria itu semakin menindih gadis belia itu. “Nero sudah memiliki cabang dimana-mana dan tersebar hampir di seluruh dunia dua tahun belakangan ini. Mana mungkin kau yang merupakan anggota mereka tidak tau? Yaah, bisa dikatakan sekarang Nero seperti Mozzad.”

“Mozzad? Organisasi orang-orang Yahudi itu?!”

Bukan sebuah jawaban yang ditangkap oleh gendang telinganya, melainkan bunyi tembakan diiringi suara erangan yang bersumber dari balik punggung gadis itu. Semakin lama beban yang menindih punggungnya tidak lagi berat. Gadis itu langsung bangkit, ingin mengetahui apa yang terjadi.

Presiden tersebut kini terbujur kaku di lantai dengan dahi yang bercucuran darah.

“Kyuhyun sunbaenim?!” pekik gadis itu terkejut melihat sosok pria berseragam hitam yang sama dengannya berdiri gagah dengan pistol di tangan kanan yang ujungnya masih mengeluarkan asap mesiu itu.

“Cepat, kita tak punya waktu lagi!!” Pria tampan itu segera menyergap lengan kanan gadis itu erat menuju ke arah balkon ruangan tersebut. Walau gadis itu tak mengerti tetap saja ia urungkan niat untuk bertanya. Ia tau ini bukan saat yang tepat.

Ah iya! Mendadak saja Seohyun teringat sesuatu.

“Tunggu, Kyuhyun sunbaenim!”

Kyuhyun menghentikan langkahnya begitu tangannya hendak membuka pintu balkon kaca tersebut. Sesaat ia bingung kenapa kini Seohyun seperti hendak mengambil sesuatu dalam saku celana hitamnya, namun begitu ia memandang sesuatu yang ada dalam genggaman Seohyun kini ia pun mengerti.

“Huh, bunga itu seperti alat ritualmu saja.”

Seohyun tersenyum lebar mendengar ucapan pria yang sudah dikenalnya selama delapan tahun itu. “Anggap saja ini sebagai ejekan untuk para polisi pecundang itu.”

Seohyun melempar sesuatu—bunga mawar hitam—yang sudah menjadi ciri khasnya pada tiap target yang dibunuhnya dan bunga tersebut tepat jatuh di atas dada sang presiden.

“Ppaliwa! Kita tak punya waktu lagi!!” ujar Kyuhyun sembari menarik tangan Seohyun lagi.

Begitu mereka sampai di balkon angin yang berhembus kencang segera menyergap mereka, membuat Kyuhyun dan gadis itu melindungi mata mereka dengan jemari tangan yang menutupi setengah bagian atas penglihatan mereka.

“Pegangan yang erat denganku, Seohyun.” Perintah singkat dari seniornya langsung saja Seohyun turuti. Ia memeluk erat pinggang Kyuhyun dari belakang sehingga menghapus jarak di antara mereka. Sementara itu Kyuhyun sudah siap dengan hang rider raksasa berwarna putih miliknya. Bentuknya seperti sebuah pesawat kertas mainan raksasa, hanya saja terbuat dari kain ringan yang bisa mengangkut tubuh manusia dengan berat total maksimum 150 kilogram. Persis seperti milik Kaito Kid, pencuri yang berada di dalam manga Detective Conan.

Sebagai persiapan akhir, Kyuhyun mengikat tali yang melingkar di pinggangnya dengan erat. Lalu diliriknya gadis yang memeluknya dengan erat itu. Ia hanya menyunggingkan senyum melihat gadis yang kini memejamkan mata dengan takut.

“Hey, kau!!”

Teriakan yang dipekikkan anggota tim SWAT tentu saja tak dihiraukan oleh mereka, karena kini sosok mereka bagai hilang ditelan oleh gemerlap lampu dan keremangan malam yang menghiasi kota Moscow, ibu kota Rusia tersebut.

***

Jari Seohyun dengan lincah menyentuh layar handphone touch screen-nya. Begitu jarinya menyentuh tulisan ‘OK’ yang tertera di layar handphone nya, tampaklah foto Presiden Rusia yang menjadi targetnya dalam kasus ini.

Mission Complete?

Setelah membaca tulisan yang tertera dilayar tersebut, dengan penuh keyakinan ia menyentuh tulisan di layar tersebut.

‘Yes’

***

-Flashback-

“Mianhae, bukan bermaksud untuk menyinggung…” Dengan penuh keraguan yangtergambar jelas di nada bicaranya ia pun bertanya pada lelaki paruh baya berbadan gempal di hadapannya. Ia mengambil foto yang terdapat dalam map di atas meja yang ada di depannya, yang sebelumnya ditunjukkan oleh pria berwajah dingin itu. “Tapi apa benar gadis ini pembunuh berdarah dingin bernama Black Rose itu?”

Pria bertopi coklat itu terkekeh kecil lalu menopang dagunya dengan kedua tangan di atas meja. “Memang kenapa, Siwon-ssi?”

“Aniyo, hanya saja…” Pria tinggi berbadan tegap yang dipanggil Siwon itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pandangannya pun beralih pada foto yang ada di tangannya. “Hanya saja, wajah gadis ini terlalu polos untuk menjadi pembunuh. Lagipula, lihatlah biodatanya.” Siwon mengambil selembar kertas yang ada di dalam map itu. “Umurnya baru 20 tahun dan kau bilang ia menjadi anggota Nero delapan tahun yang lalu, kan? Itu berarti waktu itu gadis ini berumur 12 tahun. Bagaimana mungkin Nero yang merupakan organisasi pembunuh profesional mau merekrut seorang bocah ingusan?!”

Pria itu melepas topinya dan menaruhnya di atas meja, menampilkan rambutnya yang hampir ditutupi uban.  Ia tersenyum simpul, menampakkan sediki lesung pipitnya. “Maka dari itulah aku memanggilmu, Choi Siwon. Seperti biasa, aku memberimu batas waktu tiga hari untuk menyelesaikan kasus ini.”

Siwon terhenyak sebentar, lalu mulai angkat bicara. Ada raut bimbang pada wajah tampannya. “Kau mau… Aku melenyapkan gadis ini?”

“Bukan begitu. Aku mau kau mencari bukti bahwa gadis ini memang Black Rose. Jujur saja, aku juga ragu jika gadis inilah Black Rose yang dijuluki mesin pembunuh nomor satu di Asia, ah tidak, maksudku dunia. Lihatlah, dari wajahnya saja aku ragu gadis itu bisa melihat darah dalam waktu lima detik.”

“Molla.” jawab Siwon singkat. Pikirannya dipenuhi rasa keingintahuan yang teramat besar begitu menatap foto gadis tersebut. Sesaat matanya terpaku pada sebuah nama yang bertuliskan tinta hitam di pojok kanan bawah foto tersebut.

Seo Joo Hyun.

Nama yang sesuai untuk gadis polos, gumam Siwon dalam hati.

-End of flashback-

***

“Baiklah, dengan begini kau sudah punya dua hutang nyawa denganku.” ujar Kyuhyun sembari meletakkan koper di dekat meja dan duduk di sebelah Seohyun yang sedari tadi sudah duduk di sofa sambil sesekali meringis memegang pundaknya. “Yang pertama, sewaktu kasus pembunuhan terhadap Pemilik Hyundai Departement Store, yang kedua kasus presiden Rusia ini.”

Kyuhyun sedikit menundukkan wajahnya agar bisa melihat jelas wajah Seohyun yang tak merespon perkataannya, menatap Seohyun yang sedikit tertunduk. “Masih sakit?”

“Apa dengan kondisi seperti ini aku terlihat baik-baik saja, sunbaenim?!” jawab Seohyun sedikit emosi.

Kyuhyun tak menjawab perkataan Seohyun. Ia sibuk memperhatikan perban yang membalut pundak kanan Seohyun sambil sesekali menatap wajah Seohyun yang sedang meringis kesakitan.

“Kan sudah kubilang untuk minum obat, Seohyun-ssi.” ucap Kyuhyun dengan wajah cemas dengan tangan yang ingin menyentuh rambut Seohyun, yang segera ditepis cepat oleh gadis itu.

“Aku tidak mau minum obat.”

Bukannya mendengar celotehan Seohyun, Kyuhyun malah beranjak dari sofa dan segera mengambil obat berbentuk pil yang bisa mengurangi sakit pada pundak Seohyun.

“Sudah kubilang aku tak mau minum obat, Kyuhyun-ssi. Rasanya pahit, aku tak tahan dengan rasanya.” tolak Seohyun ketus sambil menyingkirkan pelan tangan Kyuhyun yang memegang obat dan segelas air putih.

“Apa boleh buat jika kau menolak.” Kyuhyun meletakkan gelas tersebut ke atas meja dan memandang obat di tangannya lalu melirik Seohyun yang kini menatap pundaknya dengan sesekali ringisan pelan keluar dari mulutnya.

“Tatap aku.”

Ucapan singkat dari Kyuhyun sukses menghentikan segala aktifitas Seohyun yang sibuk memperhatikan pundaknya yang terbalut perban.

Aneh. Ada suatu desiran yang berbunyi dalam hati Seohyun. Desiran aneh itu semakin kuat di kala Kyuhyun menatapnya semakin dalam, menatap tepat di manik mata Seohyun yang seolah menohok hatinya.

Ah, apa yang kau pikirkan Seo Joo Hyun?! rutuknya dalam hati.

Secara mengejutkan Kyuhyun melahap obat tersebut kemudian dengan cepat mendekat ke arah Seohyun.

Seohyun kaget setengah mati begitu bibir Kyuhyun mengecup lembut bibir mungilnya. Lama kelamaan kecupan itu berubah menjadi agak liar dan bibir Kyuhyun sedikit melumat bibirnya, membuat Seohyun sulit bernafas karena paru-parunya berteriak meminta oksigen. Seohyun hanya bisa memejamkan mata dan berdiam diri. Tubuhnya terasa kaku, seolah kini saraf motoriknya sudah mati karena ciuman seorang Cho Kyuhyun.

Seohyun mundur ke belakang karena tak kuat menahan berat tubuh Kyuhyun yang semakin mendorongnya. Kyuhyun semakin memperdalam ciumannya sembari menahan kedua tangan Seohyun agar tidak memberontak. Dan saat itu juga, Seohyun merasa sesuatu masuk ke dalam mulutnya.

Mau tak mau Seohyun mengunyah dan mencoba menelan sesuatu yang ternyata pil obat itu. Rasa obat itu tercampur antara pahitnya obat dan manisnya ciuman Kyuhyun.

Setelah Seohyun benar-benar menelan obat tersebut barulah Kyuhyun melepaskan tautan bibir mereka. Seohyun langsung mengambil kesempatan ini untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin.

“Baguslah jika kau sudah memakan obatmu.” Kyuhyun pun menegakkan dirinya dan segera duduk. Seohyun yang masih syok atas perlakuan seniornya itu tetap dalam posisinya sambil melongo kaget ke arah Kyuhyun yang menatapnya dengan wajah tak berdosa. Ia memegang-megang bibirnya sambil duduk dan menatap kesal ke arah Kyuhyun.

“Yak!! Kenapa sunbae menciumku, hah?!”

“Supaya kau memakan obatmu.” jawab Kyuhyun santai.

“Tapi kenapa kau menciumku sedalam itu, hah? Kau hampir saja membuatku mati kehabisan nafas.” protes Seohyun sambil mengusap bibir dengan punggung tangannya.

“Ah, yang tadi itu bonus.” jawab Kyuhyun seraya mengeluarkan evil smirknya, yang spontan membuat Seohyun bergidik ngeri.

“Kau mencuri first kiss-ku, sunbae…” gumam Seohyun lirih.

“Jinjja? Aku sedikit tersanjung.”

Seohyun hanya menatapnya kesal.

“Bayarannya sudah kau terima?” tanya Kyuhyun mengalihkan pembicaraan, bermaksud agar suasana tidak canggung.

“Sudah. Aku baru tau jika nyawa presiden itu seharga lima ratus ribu euro saja. Nyawanya begitu murah.” jawab Seohyun dengan nada meremehkan, lalu mendadak ia meringis lagi. Seohyun hanya memandang pundaknya nanar.

“Kurasa obatnya sudah bekerja.” kata Kyuhyun menatap pundak Seohyun. “Tidurlah. Subuh hari kita harus kembali ke Seoul.”

“Untuk apa kita buru-buru, sunbae? Ayolah, kan jarang-jarang kita mendapat tugas di luar negeri seperti ini dengan biaya gratis..”

Kyuhyun melotot. “Kau pikir kita ini sedang berbulan madu, hah? Sekarang ini kita buronan. FBI dan CIA bahkan akan membayar mahal jika ada yang berhasil membawa mayat kita di depan mereka.”

Seohyun merengut, lalu meluncurkan pembelaan. “Tapi mereka kan tidak tau wajah kita, sunbae. Kurasa kita akan aman-aman saja.”

“Aniyo. Jika kita gegabah, suatu saat identitas kita akan ketahuan. Dan kau juga harus kembali kuliah mulai besok. Aku juga. Akan mencurigakan kalau selama delapan hari kita tidak ke kampus.” ucap Kyuhyun sambil melirik jam dinding di ruangan itu.

“Mana mungkin aku ke kampus dengan kondisi pundak seperti ini, sunbaenim?!” protes Seohyun sembari menunjukkan pundaknya.

“Jika tidak bertugas kau boleh memanggilku oppa.” ralat Kyuhyun sambil berdiri. “Dan kau, Seo Joo Hyun!!” Telunjuknya mengarah tepat di kening putih mulus Seohyun, membuat mata gadis itu sedikit juling karena mengikuti arah telunjuk Kyuhyun.

“Jangan manja. Masa hanya luka begitu kau jadi gadis lemah begini, huh? Kurasa bos akan menangis di balik rerumputan bila tau Black Rose yang amat ditakuti itu jadi lemah gara-gara luka tembak kecil di pundaknya.” sindir Kyuhyun dengan wajah sinis. Seohyun hanya menanggapi cibiran pria yang sudah membiayai hidupnya selama delapan tahun itu dengan mulut mengerucut.

Seohyun berdiri sambil menggembungkan pipi. Kedua tangannya bersedekap di depan dada. “Ne! Jangan panggil aku gadis lemah lagi, sunbae….ah, aniyo…. maksudku, oppa…” ucap Seohyun meralat kalimatnya begitu melihat Kyuhyun memandangnya dengan mata melotot.

“Baiklah anak kecil, aku malas meladenimu kali ini. Aku ingin tidur.” Kyuhyun menutup mulutnya yang menguap lebar. “Selamat tidur.”

Seohyun menggembungkan pipinya mendengar Kyuhyun memanggilnya dengan sebutan ‘anak kecil’ lagi. Sebenarnya ia ingin protes, namun mata yang kini tersisa lima watt saja mengurungkan niatnya tersebut. Ia menjawab dengan malas. “Ne, oppa.”

Kyuhyun menyunggingkan senyum begitu dirinya yang ingin masuk ke dalam kamar mendengar Seohyun memanggilnya seperti itu.

***

“Seohyun-ah. Syukurlah kau kuliah hari ini!!”

Seohyun hanya menatap tanpa ekspresi pada yeoja manis yang menatapnya dengan tatapan senang. Seohyun meletakkan tasnya di atas meja belajarnya yang berada di belakang meja gadis itu, lalu duduk di bangku tanpa menghiraukan gadis berpakaian putih dan celana jeans panjang di hadapannya yang sedang menatapnya dari bangku dengan tatapan bahagia yang berubah menjadi cemberut.

Aish, gadis ini lagi… keluh Seohyun dalam hati sembari menatap gadis kurus di hadapannya dengan pandangan kesal.

“Seohyun, apa kau sudah dengar berita hari ini?” Yeoja di depannya memulai pembicaraan. “Black Rose, pembunuh misterius itu beraksi lagi. Kali ini ia membunuh Presiden Rusia yang terkenal ahli dalam Systema, bela diri Rusia. Dan di berita itu juga terdapat foto mayat presiden tersebut dengan mawar hitam yang ada tepat di atas dada presiden itu.”

“Aku tau.” jawab Seohyun singkat. Mendengar itu mata yeoja manis di depannya itu terbelalak kaget. “Waw, tau dari mana kau? Aku saja baru tau tadi pagi, dari berita di KBS tadi pagi.”

Karena akulah yang membunuh orang itu yeoja babo, jawab Seohyun dalam hati.

Keheningan pun terjadi. Yeoja itu—Im Yoon Ah namanya—segera mengalihkan pembicaraan. Wajahnya yang tadi serius kembali cerah.

“Oh ya.. ngomong-ngomong dosen Hwang untuk sementara tidak mengajar kita, beliau cuti hamil…” kata Yoona tanpa diminta. Bibir merah jambunya mengembang, membentuk sebuah ulas senyum. “Dan kau mau tau siapa penggantinya?! Seorang namja tampan yang langsung jadi idola di sekolah ini!!”

Beberapa mahasiswa yang tampak terusik dengan teriakan dari mulut cerewet gadis itu langsung melemparkan pandangan tak senang, membuat gadis berisik di depanku ini segera menutup mulutnya.

“Jinjja? Nuguseyo?” jawab Seohyun dengan nada tak tertarik begitu para mahasiswa tak lagi memperhatikan mereka berdua. Sebenarnya ia malas meladeni omongan gadis ini, tapi ia tau betul jika ia tak meladeni ucapan gadis berisik itu maka gadis itu akan semakin berbicara lebih banyak agar Seohyun mau menghiraukannya.

“Namanya Choi Siwon. Minggu lalu dia mengajar di kelas kita. Kau sih, tidak masuk waktu itu… Dia pria paling tampan yang pernah kutemui seumur hidup. Selain tampan, dia juga baik, ramah, dan yang paling penting dia masih single!! Seohyun-ah, apa menurutmu aku bisa mendapatkan Choi seonsaengnim?”

“Huh, memangnya kau mau dengan ahjussi umur tiga puluhan?” cibirku sembari menatapnya malas. Setauku usia standar seorang dosen pastilah berusia sekitar dua puluhan akhir dan awal tiga puluhan.

“Aniyo. Walau wajahnya dewasa tapi umurnya kalau tidak salah sekitar dua puluhan. Aaah, jika aku mengingat wajah tampannya lagi, aku rasa kepalaku akan meledak.”

“Terserah kau sajalah, nona Im Yoon Ah.” jawab Seohyun cuek. “Lagipula, aku tak peduli siapa guru pengganti dosen Hwang cerewet itu.”

“Ah, baiklah.. Kau lihat saja ya, mata kuliah Seni Musik Modern kan jam pertama. Aku rasa jika kau melihat Siwon oppa, kau akan tergila-gila padanya.”

“Siwon oppa?” Kening Seohyun mengerut begitu Yoona—gadis berisik yang kini tak lagi memandangnya karena kehadiran seorang pria di depan kelas itu— menyebut seorang pria yang baru dikenalnya dengan sebutan konyol itu? Seohyun yang sudah mengenal Kyuhyun selama delapan tahun saja tak berani sembarangan memanggil panggilan akrab itu. Bahkan baru semalam dirinya memanggil Kyuhyun dnegan sebutan oppa—itu pun setelah dipaksa oleh pria itu.

Seohyun menggeleng-gelengkan kepala, berusaha tak mempermasalahkan hal tersebut.

Seohyun lalu mengedarkan pandang sembari menutup mulutnya karena menguap. Kenapa kelas mendadak sunyi senyap begitu pria yang sepertinya orang yang dibicarakan Yoona tadi ada di depan kelas? Padahal para siswa selalu ribut biarpun guru selevel Shin seonsaengnim yang terkenal killer itu sudah masuk ke dalam kelas.

Sebegitu hebatnyakah pria itu?

Pria itu mengedarkan pandang seisi kelas. “Annyeong!! Mungkin kalian sudah mengenalku karena minggu lalu aku pernah mengajar di kelas ini. Dan bagi kalian yang belum mengenalku karena tidak masuk di hariku mengajar, ijinkan aku memperkenalkan diri sekali lagi. Namaku Choi Siwon, asisten dosen Hwang dan untuk sementara aku yang akan mengajar mata kuliah Seni Musik Modern sampai dosen Hwang kembali mengajar seperti biasa. Ada pertanyaan?”

Hening. Semua siswa terdiam begitu usai mendengar kalimat panjang dari Siwon. Seohyun, yang kini berbaring di atas meja karena kurang tidur semalam melirik sekilas pria jangkung itu. Masa bodoh dengan guru itu, batinnya kesal kemudian kembali melanjutkan tidurnya yang terputus.

Karena tak seorang pun yang kunjung berbicara, Siwon melanjutkan lagi kalimatnya. Ia memberikan senyum yang selalu sukses membuat setiap yeoja meleleh. “Gwenchana. Karena aku masih baru dan belum terlalu mengenal kalian, aku mau kalian memperkenalkan diri sekali lagi. Baiklah, aku mulai dari kau, gadis yang sedari tadi tidur di atas meja!”

Seohyun yang tak sadar dirinya sedang dipanggil dan jadi pusat perhatian seisi kelas masih tertidur dengan pulas. Melihat itu Yoona sedikit menghadap ke belakang sambil berbisik. “Seohyun-ah, ireona… Kau dipanggil tuan Choi..”

Seohyun tak bergeming sama sekali. Sepertinya jiwanya kini benar-benar tenggelam dalam dunia mimpi. Tangan kanan yang menjadi ‘bantal’nya dan tangan kiri yang menjulur ke depan sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda bahwa gadis kurus itu sadar. Melihat itu Siwon menghela nafas dan perlahan berjalan mendekati meja Seohyun dengan tampang dingin.

Yoona yang mejanya dilalui oleh Siwon merasa jantungnya kini berpacu cepat. Bukan karena Siwon yang diidolakannya itu lewat di depannya, melainkan panik dengan Siwon yang tak pernah menampilkan eskpresi seperti itu sebelumnya. Yoona melirik ke belakang sambil menggigit bibirnya dan berbisik membangunkan Seohyun, berharap gadis itu mendengarnya. Yoona sangat takut jika teman pertamanya di kampus itu dihukum.

Namun terlambat. Siwon yang sudah berada di samping Seohyun menatap Yoona agar gadis itu tak membangunkan temannya, kemudian matanya beralih menatap Seohyun.

Tangan kekar Siwon menggebrak meja yang tak hanya otomatis membuat Seohyun mendadak bangun, melainkan berhasil membuat seisi kelas tersentak kaget. Seohyun, yang tak mengerti apa yang terjadi, memandang datar Yoona yang kini hanya bisa melirik dirinya dengan tatapan cemas. Seohyun lalu mendongakkan dagunya sedikit sambil menatap Yoona heran, berharap Yoona mau memberi penjelasan.

Tapi sepertinya tak perlu.

Seohyun terlonjak kaget begitu sosok gagah di depannya menatapnya dengan mata dingin dan tampak tak bersahabat. Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, tapi Seohyun hanya membalas tatapan dingin pria itu dengan wajah mengantuk dan perkataan yang membuat semua menahan nafas.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Siwon kini sampai di puncak amarahnya. Sekuat tenaga ia berusaha menahan diri untuk tidak membentak. Tangan yang berada di atas meja mengepal keras, berharap kekesalannya tersalurkan lalu amarahnya terhadap gadis ini menguap dan hilang tak berbekas. Namun sayang, harapannya tak menjadi kenyataan. Oleh karena itu, Siwon menunjuk tepat di depan wajah Seohyun. “Kau. Ikut aku ke ruang guru!!”

***

“Bagaimana bisa….” Kyuhyun melongo tak percaya pada apa yang ditangkap retina matanya sekarang. Setelah ia mengantar Seohyun berangkat ke sekolah tadi, ia langsung menancap gas mobilnya menuju sebuah perumahan yang berada di wilayah yang tak terlalu jauh dari Seoul.

Kyuhyun mengerjapkan matanya untuk yang kesekian kali. Masih tak percaya dengan pemandangan di depannya.

Ini tak mungkin! pekik Kyuhyun dalam hati. Ia sudah menyuruh seorang yeoja yang sangat berarti dalam hidupnya untuk menjaga seseorang di dalam rumah itu, dan kenapa yang ada di hadapannya kini hanyalah puing-puing rumah yang sudah menjadi abu?

Kyuhyun mendekat. Ditatapnya reruntuhan rumah itu dengan pandangan kosong. Ia menggigit bibirnya kuat, geram melihat kegagalannya yang tak bisa menjaga orang itu.

“Ah, permisi… Apa anda tau apa yang terjadi dengan rumah ini?” tanya Kyuhyun begitu ada seorang ibu yang sedang menenteng tas belanja lewat di dekatnya. Ibu itu menyipitkan mata sambil menaikkan gagang kacamatanya yang sedikit melorot lalu melihat rumah yang ditunjuk Kyuhyun.

“Oh, rumah itu… Tiga hari lalu rumah itu kebakaran, dan kalau tak salah ada seorang mayat yang hangus di dalam rumah itu.”

“Mayat?!” Wanita tua itu mengangguk. “Namja atau yeoja?” tanya Kyuhyun tak sabar.

“Hmm… Sepengetahuanku sih mayat itu yeoja.. Ne, tak salah lagi. Mayat hangus di dalam rumah itu seorang yeoja.”

Wanita paruh baya itu segera pergi meninggalkan Kyuhyun begitu pria itu kini terduduk di tanah. Kyuhyun meninju tanah dengan kepalan tangan. Dipegangnya kepalanya yang kini penuh dengan berbagai pikiran.

Kyuhyun masih syok mengetahui fakta bahwa yeoja yang adalah adik kandungnya sendiri sudah tewas. Segera disekanya air mata yang hampir menetes di sudut matanya. Ia lalu bangkit berdiri. Toh jika ia menangis dan merutuki nasib, tak mungkin yeoja itu bangkit dari kubur lalu hadir di hadapannya, bukan?

Kyuhyun membuka pintu mobilnya kasar lalu masuk dan segera menekan kuat gasnya. Meninggalkan tempat itu dengan hati pedih.

***

“Aku….Dimana aku?”

Namja yang sedari tadi tertidur dengan posisi tangan tertopang dagu yang ada di atas ranjang sedikit kehilangan keseimbangan, kaget dengan suara yang mendadak muncul di depannya. Namja itu menatap pria di hadapannya dengan wajah mengantuk dan mata sipitnya. “Oh, kau ternyata.. Syukurlah kau sudah bangun.”

“Siapa kau? Dimana aku sekarang? Dan kenapa aku bisa sampai disini?”

“Hey, jangan memborongku dengan pertanyaan yang beruntun dong. Santai.” Namja bermata sipit dan berbaju V-neck berwarna hitam itu segera bangkit dari kursi lalu berjalan pelan. Membuat pria yang kini terduduk di ranjang dengan seluruh wajah yang tertutup perban karena luka bakar—yang membuatnya persis seperti mumi—terpancing emosi. Pria itu segera menyibak selimut putih yang menutupinya lalu berlari dan mencekik namja yang membelakanginya.

“Arrgh……lepaskan…erggh…aku…” susah payah namja bermata sipit itu berteriak begitu tangan kekar pria itu sukses mencekik erat lehernya. Kini namja itu sulit bernafas karena pria perban tersebut semakin mempererat cengkramannya.

Namja itu dengan sekuat tenaga menginjak kaki pria itu—yang otomatis membuat pria itu berteriak kesakitan—lalu berbalik dan mempelintir kedua lengan pria itu hingga pria itu terjerembab di atas lantai putih kamar pribadinya. Namja itu kini berada di atas punggung pria itu, menyunggingkan senyum penuh kemenangan dengan tangan yang mengunci lengan pria itu. Membuat pria itu tak berkutik.

“Inikah caramu berterima kasih pada penyelamatmu?” ujar namja itu dengan wajah meremehkan.

“Siapa kau? Penyelamat katamu? Cih!! Memandangmu pun aku tak sudi.”

Namja itu tentu tak terima dengan kalimat yang menantang maut tersebut. Andai saja namja itu tak ingat bahwa pria di depannya ini seseorang yang menjadi kunci dari persoalan hidupnya, tentu pria ini sudah terbaring kaku menjadi mayat.

“Kau ingat kasus kebakaran di rumahmu ?Akulah yang menolongmu. Berterima kasihlah padaku. Aku bahkan sampai mengabaikan seorang yeoja cantik dan membiarkannya mati terbakar bersama reruntuhan rumah.”

“Kasus kebakaran? Kapan? Setauku tidak ada apa-apa kemarin.”

“Jakkaman… aku ingin tanya.” Ucap namja itu hati-hati. “Siapa namamu?”

“Nama?” Ada hening panjang di antara mereka sebelum pria itu melanjutkan lagi. “Ah.. Siapa namaku?!”

Terukir senyum di bibir namja itu. Inilah yang diharapkannya. Pria itu hilang ingatan. Pria itu takkan ingat dengan masa lalunya.

Obat itu benar-benar bekerja, gumam namja itu dalam hati.

“Jinjja, hyung? Kau sama sekali tak ingat?” tanya namja itu dengan nada bingung. “Padahal aku teman dekatmu dan kita bahkan satu perusahaan. Kau sama sekali tak ingat?”

“Aniyo. Aku… Apakah aku amnesia?”

“Andwae.” Namja itu menjawab dengan nada pura-pura terkejut, melanjutkan sandiwaranya. “Hyung, kau benar-benar tak ingat apapun?”

Namja itu langsung menjawab begitu pria perban itu menggeleng. “Namamu Leeteuk. Kau ingat sekarang?”

***

“Baiklah, gadis penidur. Sekarang jelaskan padaku kenapa kau berkata kurang ajar seperti itu.” Siwon menopang dagu dengan kedua tangannya yang berada di atas meja guru sambil menatap tajam Seohyun.

Seohyun, yang tak suka ditatap seperti itu berkata dengan ketus. “Hey kau, asisten dosen!! Namaku Seo Joo Hyun, bukan gadis pendiur.”

Siwon diam, hanya menatap tajam gadis itu.

Karena ditatap seperti itu Seohyun kembali membentak. “Kau pikir aku takut denganmu, hah? Jangan pikir kau bisa mengaturku seenak perutmu!!”

Ucapan gadis itu semakin membuat Siwon sulit untuk bernafas. Gadis ini benar-benar menjengkelkan, rutuknya kesal dalam hati.

Siwon semakin bingung akan melakukan apa lagi agar gadis di depannya ini takut dan tunduk padanya. Tapi sepertinya sulit. Gadis itu bahkan dengan terang-terangan menggaruk-garuk kupingnya yang sepertinya gatal di depan Siwon. Sikap seperti itu tentu tidak sopan jika dilakukan di depan orang yang lebih tua, apalagi dosen. Tapi gadis itu tetap saja melakukannya, menandakan betapa sulitnya mengatur gadis berpostur tinggi tersebut.

Siwon berusaha tak ambil pusing. Ia mengambil selembar foto yang diselipkannya di buku agenda. Mata tajamnya lalu mengamati tiap inchi tubuh Seohyun dari bawah hingga atas. Memastikan kemiripan rupa dalam foto dan gadis di depannya.

Tidak salah lagi, dia gadis yang ada di foto ini, batin Siwon senang.

Seohyun bangkit dari kursi kemudian menggebrak meja dengan kasar begitu Siwon memperhatikannya dari ujung kaki hingga ubun rambut. Untung saja hanya mereka berdua di ruangan besar itu, jadi tidak ada guru yang protes dengan kelakuan Seohyun.

“Kenapa kau menatapku seperti itu, hah? Kau menyukaiku? Mianhae, aku tidak bernafsu dengan ahjussi umur 30-an.” ujar Seohyun tanpa jeda sambil melipat tangan di depan dada, membuat Siwon terkekeh kecil lalu mencibir.

“Mwo? Aish, pede sekali kau anak kecil. Dengarkan. Pertama, aku masih berumur 25 tahun dan aku bukan ahjussi usia 30-an. Kedua, aku tak suka denganmu. Ah, lebih tepatnya aku tak suka dengan gadis yang dari atas hingga bawah rata semua.”

Seohyun mendelik. “Lalu kenapa kau menatapku?”

“Memangnya ada Undang-Undang yang mengatur untuk tidak menatap seseorang, huh?!”

Merasa terpojok, Seohyun mendecakkan lidah. “Cih. Teserah kau sajalah, asisten dosen yang sombong.”

“Melihat kelakuanmu yang seperti ini, kelihatannya kau tak pernah diajar sopan santun oleh orangtuamu.”

“Memang.” Seohyun menatap ke arah lain, lalu beralih pada Siwon lagi. “Aku yatim piatu. Sekarang aku tinggal bersama oppa ku.” Kyuhyun memang sudah memperingatkan Seohyun jika ada yang bertanya dengan siapa ia tinggal, Seohyun harus menjawab bahwa ia tinggal dengan Kyuhyun yang menyamar sebagai oppa nya.

“Oppa mu? Nuguya?” selidik Siwon lagi.

“Cho Kyuhyun. Dia juga mahasiswa di kampus ini, dia semester akhir.”

“Cho Kyuhyun?” ulang Siwon tak yakin. “Bagaimana bisa kalian bersaudara sementara marga kalian berbeda?”

Seohyun gelalapan. Emosi yang tersulut membuatnya kelepasan bicara. Dengan segera ia mengarang cerita. “Ah itu, sebenarnya kami saudara beda ayah. Ayahku bercerai dan ayahku menikahi ibu Kyuhyun oppa sewaktu oppa berumur tujuh tahun.”

Siwon menatap tajam lagi gadis itu. Jelas sekali bahwa Seohyun mengarang semua bualan itu, namun agar Seohyun tak curiga Siwon mengiyakan saja. “Jeongmal mianhaeyo karena sudah berpikiran buruk tentangmu. Kupikir kau gadis berandalan yang hobinya menghamburkan uang orangtuamu saja.” jawab Siwon dengan wajah bersalah, membuat Seohyun merasa di atas angin. “Jadi, bagaimana oppa mu itu membiayai hidup kalian? Apakah dia bekerja sambilan, begitu?”

“Ne. Tidak hanya Kyuhyun oppa saja, tapi aku juga bekerja part time.” jawab Seohyun dengan wajah sedikit tersenyum.

“Jinjja?” ucap Siwon dengan wajah dan nada bicara menunjukkan ketertarikan. “Apa pekerjaan kalian?”

Seohyun kaget, tak menyangka akan ditodong dengan pertanyaan sejenis ini. Siwon tersenyum tipis dengan tatapan misterius yang seolah berkata,

Kena kau, gadis pembual!

Seohyun berusaha tenang. Ia menggigit bibir. Bumi yang dipijaknya serasa panas, membuatnya ingin meninggalkan namja berbadan tegap di depannya. setelah mengatur nafas, ia melanjutkan lagi. “Oppa ku memberi les privat sedangkan aku bekerja part time sebagai pelayan cafe pada malam hari.”

“Jinjja? Dimana cafenya? Aku ingin sesekali mengunjungi cafe itu, ingin melihatmu bekerja.” jawab Siwon dengan seulas senyum kemenangan di bibirnya. Membuat Seohyun mendengus kesal.

Seohyun merutuk dalam hati. Tidak bisakah namja ini berhenti menginterogasiku?

“Ah itu, aku lupa nama cafe itu. Sebenarnya…baru kemarin aku bekerja di cafe itu jadi aku lupa namanya hehee.” jawab Seohyun seraya memberi senyum palsu.

“Baiklah. Jika kau ingat nama cafe itu segera beritahu aku, arraseo. Sebenarnya aku diberi saran oleh dosen Hwang untuk memberi perhatian khususupada mahasiswa yang kurang mampu. Berhubung kondisi keluargamu begitu, aku ingin sering-sering mengunjungi cafe tempatmu bekerja. Kalau perlu akan kupromosikan cafe itu pada teman-temanku. Jika cafe ramai, kau sebagai pelayan pun pasti akan mendapat gaji besar kan?”

“Ah, ne..” jawab Seohyun sekenanya. Kini ia menyesali jawabannya tadi. Kenapa ia tak menjawab saja bahwa orangtua mereka bekerja di luar negeri? Kalau begitu maka asisten dosen menyebalkan itu takkan pernah mau mengunjungi cafe tempatnya bekerja, yang sebetulnya hanyalah karangan fiktifnya.

 

***

Sudah satu jam Seohyun berjalan kaki mengelilingi kota Seoul, mencari lowongan pekerjaan sebagai pelayan cafe. Kyuhyun, yang sudah diberitahunya tentang masalah ini menanggapi dengan dingin sambil masih berkutat dengan ‘istri’ elektroniknya—PSP—tak menatap wajah Seohyun yang sudah memelas. “Itu urusanmu. Bukan urusanku. Cari saja sendiri!”

Seohyun berjongkok di depan sebuah cafe setelah kakinya sudah tak sanggup lagi untuk berjalan. Ia mengamati sekeliling yang dipenuhi oleh para pejalan kaki yang melintas di depannya. Lalu pandangannya beralih pada t-shirt hijau bergambar Keororo dan celana jeans hitam yang melekat di tubuhnya, serta tas selempang bergambar sama dengan kausnya.

Pikiran bodoh mulai menghantuinya. Apakah aku tidak diterima karena aku memakai baju dan tas anak-anak ini? Seohyun membatin, yang segera dijawab dengan gelengan kepala darinya.

Ah, kenapa kau berpikiran sempit begini, Seo Joo Hyun? Kau hanya sedang tidak beruntung, bukan karena kau memakai kaus dan tas kodok hijau ini, jawabnya meyakinkan diri.

Begitu Seohyun bangkit berdiri, terdengar suara kilatan guntur disusul rintikan hujan yang semakin deras.

“Omo ~ kenapa harus hujan? Sial sekali aku…” rutuk Seohyun sambil berlari di tengah derasnya hujan.

Bahkan dalam pelariannya itu Seohyun sempat berpikir. Apakah baju Keroronya secara tidak langsung memanggil datangnya hujan?

***

Seohyun menghela nafas lelah. Sore hari sepulang dari kampus ia akan mendatangi tempat yang ditunjukkan selebaran lowongan pekerjaan yang terselip tadi pagi di bawah pintu rumah sederhana yang ditempatinya bersama Kyuhyun. Seohyun—yang semakin niat bekerja setelah Siwon bertanya tentang dimana cafe tempatnya bekerja lagi—membuatnya bersemangat sehingga ia lupa bahwa ia belum makan sesuatu sementara hari sudah menjelang malam.

“Aish, perutku…” Seohyun jongkok, berhenti di depan sebuah cafe. Tangannya mencubit keras perut ratanya, membujuk agar perutnya tak memberontak minta makan.

Seohyun membuka selebaran yang sudah terlipat lusuh itu. Ia membaca lagi denah tersebut.

Tunggu, daerah ini kan sudah kulewati tadi, gumamnya berpikir. Berarti sekarang aku ada disini. Telunjuk Seohyun bergeser dan mengarah pada suatu tempat.

Hei, jangan-jangan…

Ia berbalik dan mendongak, membaca papan nama cafe di depannya yang dihiasi hiasan warna-warni yang sebagian didominasi warna biru.

“Handel and Grettel Coffee Shop.” gumam Seohyun membaca tulisan di papan nama cafe tersebut. Lalu matanya mengekor pada selebaran itu. Sesaat ia tertawa kecil, mentertawakan kebodohannya.

Seohyun memperhatikan para pengunjung yang ada di cafe tersebut. Suasana cafe itu sederhana namun terkesan meriah dan teduh. Pengunjungnya juga cukup banyak. Seohyun menarik nafas lalu menghembuskan perlahan. Ia melirih, berdoa agar cafe ini masih membuka lowongan pekerjaan sehingga ia bisa segera bekerja dan membuat asisten dosen menyebalkan itu terdiam.

Bunyi gemercing lonceng menyambut begitu Seohyun membuka pintu cafe tersebut. Segera diedarkannya pandang, mencari pemilik atau manager cafe itu. Setelah matanya puas mencari, tujuan matanya terarah pada seorang namja yang sedang memerintah beberapa pegawai cafe tersebut.

Sepertinya namja itu pemilik cafe ini, pikir Seohyun. Maka tanpa keraguan ia mendekati namja berkulit putih itu. “Annyeong agassi.. Apakah kau pemilik cafe ini?”

Ucapan namja itu pada pegawainya terhenti begitu melihat yeoja berpakaian serba hitam itu berbicara padanya. Seohyun memang tak mau lagi memakai baju Keroronya semenjak peristiwa kemarin.

Namja itu melanjutkan kembali perintahnya yang sempat terputus pada pegawainya, lalu menatap Seohyun lagi.

“Ne, aku pemilik cafe ini. Ada yang bisa kubantu?” jawabnya ramah sambil tersenyum.

“Ah, ne. Aku menerima selebaran ini dirumahku tadi pagi.” Seohyun merogoh selebaran yang sudah berubah jadi lipatan kertas lusuh dari sakunya lalu memberikannya pada namja itu. Sesaat namja itu tersenyum penuh arti menatap selebaran itu dan memandang Seohyun lagi. “Ne. Cafeku memang memerlukan beberapa pelayan karena seperti yang kau lihat, pelayan kami yang hanya beberapa tak bisa melayani para pengunjung yang membludak tiap hari.” Namja itu menoleh ke arah para pengunjung, begitu juga Seohyun.

“Namaku Yesung. Tidak perlu terlalu formal jika memanggilku. Aku tak suka dengan sebutan bos atau apalah itu. Kau cukup memanggilku Yesung-ssi ataupun Yesung oppa kalau kau mau.”

“Bangapta, Yesung-ssi.” Seohyun membungkuk 90°. “Naneun Seo Joo Hyun imnida, lebih singkatnya kau bisa memanggilku Seohyun.”

“Na do, Seohyun-ssi. Baiklah. Sebaiknya sekarang kau simpan dulu tasmu lalu mengganti pakaianmu dengan seragam pelayan dan segera layani pelanggan.” sambung namja itu dan ketika ia hendak pergi, langkahnya spontan terhenti begitu nada heran dari mulut Seohyun bicara. “Jadi… Aku sudah diterima?”

Yesung berbalik. “Lho, memang kau tak mau bekerja disini, Seohyun-ssi?”

“Aniyo, maksudku… Tidak ada tes wawancara, begitu?”

Yesung mengerutkan dahi. “Lho.. Memang apa yang harus kuwawancarai, nona Seo? Melihatmu saja aku tau kau sudah masuk dalam semua kriteria pegawaiku. Kau cantik, tinggi, sopan, dan melihat matamu aku tau kau gadis polos yang jujur.” Ia tersenyum lalu menunjuk ke arah ruangan yang berada di sebelah kasir.

Seohyun terhenyak mendengar kalimat terakhir dari ucapan Yesung. Dirinya disebut gadis polos yang jujur? Apakah wajahnya memang lugu untuk ukuran gadis usia dua puluh tahun?

Andai saja Yesung tau bahwa tangan Seohyun sudah sekian kali berlumuran darah, masihkah ia memanggil yeoja itu sebagai gadis polos?!

“Segera ganti bajumu di ruang ganti dan oh ya, untuk tau apa saja tugasmu kau bisa menanyakan pada namja itu.” Telunjuk Yesung berganti haluan dan kini mengarah pada namja yang posisinya sedang membelakangi mereka. Namja itu sedang mengelap meja tempat pembuatan kopi yang terlihat sedikit berantakan.

“Gwenchana, Yesung-ssi. Permisi, aku ingin ganti baju dulu.” Seohyun membungkuk lalu segera masuk ke dalam ruang pegawai dan berganti pakaian di ruang ganti yang berada di pojok ruangan.

“Tidak buruk.” ujar Seohyun menatap seragam pelayan cafenya yang berwarna coklat mocca itu. Yeoja itu segera keluar dari ruang ganti dengan senyum yang terpatri di wajahnya. Namun saat ia hampir sampai di depan pintu ruang itu, langkahnya terhenti begitu ponselnya bergetar, pertanda ada pesan masuk.

From: Kyuhyun oppa

Kau kemana? Cepat pulang dan buatkan aku makanan. Aku hampir mati kelaparan disini!!

Seohyun tertawa kecil. Hah, rasakan kau, Kyuhyun-ssi! rutuknya dalam hati. Siapa suruh mengacuhkanku sewaktu aku pergi? Terus saja kau pacaran dengan PSP!

Dengan cepat jemari Seohyun membalas pesan tersebut.

To: Kyuhyun oppa

Kenapa tidak suruh ‘istri’mu memasakkan jjangmyeon untukmu, eoh?

Ponsel Seohyun bergetar lagi tak lama setelah ia membalas pesan singkat Kyuhyun.

Sejenak Seohyun berpikir. Tumben sekali Kyuhyun membalas secepat ini. Ah, sepertinya ini bukan pesan dari namja itu.

Benar dugaan Seohyun. Pesan itu bukan balasan dari Kyuhyun, melainkan pesan dari nomor yang tak dikenal.

Kau mau tau sejarah hidupmu?

Seohyun menggaruk kecil kepalanya. Bingung akan membalas atau tidak. Tapi karena penasaran ia pun membalas.

Siapa kau? Tau apa kau tentangku, orang tak dikenal?!

Ponsel Seohyun bergetar. Tadinya Seohyun berharap itu balasan dari orang misterius itu. Namun ternyata dari orang yang tak diharapkan.

From: Kyuhyun oppa

Yak!! Jangan bercanda di saat genting seperti ini, Hyunie-ah! Kau ingin namja setampan aku mati kelaparan?

Aish, percaya diri sekali namja ini!! gerutu Seohyun dalam hati. Di saat lapar memang sifat kekanak-kanakan seniornya itu semakin menjadi. Dan heeiii coba lihat apa yang ditulis Kyuhyun tadi. Hyunie-ah? Seohyun sedikit merinding membaca kata itu. Entahlah, Seohyun merasa itu seperti panggilan sayang seorang suami pada istri.

Seohyun dengan cepat menggeleng-gelengkan kepala. Seohyun, kenapa sekarang otakmu sering membayangkan sesuatu yang aneh, sih?! Seohyun mengetukkan kepalanya dengan jari beberapa kali.

Lamunan Seohyun buyar begitu ponselnya bergetar lagi dengan amplop kuning yang menari-nari ria di layar. Dengan rasa tak sabar Seohyun membuka pesan itu.

Aku tau kau agen rahasia Nero. Ah tidak, lebih tepatnya kau adalah Black Rose, buronan yang paling dicari itu. Aku benar, kan?

Seohyun menahan nafas. Bukan reaksi karena membaca pesan itu—walau itu salah satunya—melainkan terlebih karena seseorang yang seharusnya tak ada di dunia ini kini muncul di hadapannya dengan wajah datar.

Ponsel Seohyun terjatuh. Seohyun berusaha keras menutup mulutnya agar tak menjerit.

Seohyun benar-benar tak tahu harus berbuat apa.

###

Siapa namja itu? Siapa ya? Kasih tau gak yah? #eh #digampar -_-

Gomawo yang udah mau baca ff ini😉

kalo belum baca ff chapter sebelumnya, bisa baca di blog aku ^^

www.misschoyoungri.wordpress.com

Gak terlalu berharap komen sih, paling enggak kalau udah baca ff ini dimohon menjadi readers yang BAIK HATI dgn meninggalkan jejak. Lebih baik lagi kalau ada yg mau kritik dan saran, aku terima dgn tangan terbuka ^_^

at least, your comments are important for me ^^


13 thoughts on “[Freelance] Black Rose #2

  1. Wah keren. Beda dari yang lain, dan tidak membosankan :p. Apalagi Castnya pairing favoritku. Kelanjutannya ditunggu ya. Sebenarnya prihatin juga ada ff sebagus ini yang komen sedikit. Ya sudahlah, semangat!

    Like

  2. qu blum bca part pertma’nya sich jdu bngung mi ksih coment gmn…

    tpi yg psti crta’nya mnarik bwat qu. apalgi cast utma’nya SeoKyu.. suka bgt sma couple ini. bwt author’nya semangat menulis klanjutan’nya..

    Like

  3. Tebakan aku,yg sms siwon,! Nah,yg d.hdapan seo itu org yg prnah dy bnuh,tp siapa ya???penasaran author,
    d.buat agak pnjang dong thor,byar lbih puas bca na…

    Like

  4. bagus kok🙂
    tapi ini mirirp” sama novel mawar merah🙂 bukan bilang plagiat🙂 tp kayaknya ‘mungkin’ ide ceritanya aj yg sama

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s