[Freelance] Ballerilove #2


Ballerilove Part2

I Feel Your Sadness

Author                      : Mashita

Main Cast                 : Lee Tamin (SHINee), Baek Minji (OC), Kim ‘Key’bum (SHINee), Choi Minho (SHINee)

Other Cast               : Found by Yourself🙂

Length                      : Series (part)

Genre                        : Romance, Friendship

Rating                       : General

Summary                : Seorang yeoja bernama Baek Minji yang ingin mewujudkan mimpi eomma-nya menjadi seorang ballerina internasional, dan bertemu dengan namja bernama Lee Taemin yang akan menemaninya mewujudkan mimpi Minji sebagai ‘sahabat’. Dapatkah Minji berhasil mendapatkannya?

PS Ini ff SHINee pertama author, maaf kalo feel nya ga dapet atau terkesan gimana, karena author bukan penulis handal dan hanya ingin menuangkan ide yang ada di pikiran author. Enjoy^^ Sorry for typoJ

*psst saya ingin membuat image Taemin lebih dewasa, tapi masih sedikit kekanakan (?)

            MINJI POV

            Aku meminta Taemin membawaku ke rumahnya. Aku tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini, bisa-bisa ahjumma akan bertanya yang macam-macam. Lagi pula, rumahnya lebih dekat dari sekolah daripada rumahku.

            “Ini rumahku Min, maaf tidak terlalu bagus hehehe” ucapnya ketika kami sampai.

Aigooo tidak bagus apanya?! Ini dua kali lipat lebih luas dari rumahku>,< “Rumahmu sepi sekali, apa tidak ada orang?” tanyaku.

            “Hanya ada hyungku, orang tuaku sedang ke luar negeri. Kau mau minum apa?” teriaknya dari dapur.

            “Teh hangat saja, kenalkan aku pada hyung-mu Ttaem! Aku ingin melihatnya, pasti tampan”

            “Jangan! Kau tidak boleh melihatnya, nanti kau suka padanya. Kau kan hanya punyaku” katanya sambil menyerahkan teh kepadaku. Enak saja! Kenapa dia suka mengaku-ngaku kalau aku punyanya sih?

            “Aisshh, aku kan hanya ingin berkenalan!” kucubit perutnya. Tapi dia malah mencubit pipiku.

            “Awww” jeritku saat tangannya menyentuh lukaku.

            “Mianhe Min, akan kuobati lukamu.” Dia berlari ke dapur, lalu membawa beberapa peralatan P3K dan handuk.

            “Keringkan dulu badanmu, aku akan membersihkan lukamu” dia membersihkan lukaku dengan sangat hati-hati. Astaga dari jarak seedekat ini aku bisa melihat dengan jelas ketampanan nya. Kyaaaaaa>,<

            “Kau tampan Ttaem” aku mengelus pipinya yang bersemu merah. Yak seperti yeoja saja!

            “Kau juga cantik Min, sayang matamu terlalu kecil haha”

            “Yak! Biar sipit kan yang penting alami!” aku tertawa bersamanya. Semenjak kematian Eomma, aku sudah lupa bagaimana caranya tertawa..

            “AKU PULAAAAAAAAAANG” teriak seorang namja dari arah pintu. Siapa dia? Apa itu hyungnya Taemin?

            “Wah ada tamu. Pacarmu ya Ttaem? Akhirnya kau dewasa juga” mukaku memerah. Kenapa hyungnya itu berkata seperti itu sih?

            “Bu..bbukan dia hanya sahabatku. Namanya Baek Minji, Minji itu hyungku namanya Minho. Oiya hyung dia ingin menginap disini, bolehkan?” aku membungkuk kepada Minho oppa.

            “Oh, aku Minho, panggil saja oppa agar lebih akrab. Menginap? Tidak apa-apa, asal kau bisa menjaganya” kata Minho oppa berlari ke lantai atas.

            “Ttaem, kenapa dia tidak marah kau mengajak seorang yeoja  menginap?” bisikku pada Ttaemin, tapi dia hanya tertawa.

            “Untuk apa marah? Dia malah sangat bersyukur ada orang yang mau berteman denganku.” Aku hanya mengangguk-angguk. Dalam hati masih bingung dengan kata-katanya.

            “Ayo ke kamarku, kupinjamkan baju untukmu” dia mengajakku ke kamarnya. Seumur hidupku, aku belum pernah masuk ke kamar seorang namja.

            “Kamarmu bagus sekali Ttaem!” kataku takjub. Kamarnya dipenuhi piala-piala penghargaan, gambar-gambar robot, dan poster-poster. Hanya ada televisi dan computer yang menjadi hiburannya. Lalu dia menyerahkan sepasang baju dan celana tidur untukku. Aku mengernyit heran. Apa ini miliknya? Pasti kebesaran! Tapi dia hanya mengisyaratkanku untuk masuk ke dalam kamar mandinya.

            “Awas jangan ngintip!”

            “Tidak akan Min hahaha”

             A few minutes later

            “Otte? Ini kebesaran Ttaem” ucapku malu setelah selesai mandi.

            “Tidak apa-apa, kau tetap cantik” ughh kenapa dia selalu membuat mukaku memerah?

            Setelah itu kami makan bersama Minho oppa. Aku banyak bercanda dengan Minho oppa. Mereka berdua baik sekali, aku jadi tidak kesepian lagi. Tapi jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.30, Minho oppa menyuruh kami tidur. Katanya kami masih kecil, jadi tidak boleh tidur malam-malam hahaha.

            “Eh? Kita tidur sekamar Ttaem?” tanyaku saat menuju kamarnya.

            “Kau mau aku tidur di sofa? Shireo! Kau hanya boleh tidur di kamarku” aku tertawa. Aku sering tersanjung dengan sifat protektifnya.

            “Aigooo aku lupa mengabari bibiku, bagaimana ini? Handphone-ku mati”

            “Telepon saja dengan telepon rumahku” aku segera mengabari ahjumma bahwa aku sedang menginap di rumah temanku untuk mengerjakan tugas, aku berbohong tentu saja.

            “HUAAAAAAAAAAAA AKU LELAH, BADANKU SAKIT-SAKIT DIPUKULI EUNJUNG SIALAN ITU!” teriakku.

            “Kau bodoh sih, kenapa tidak melawannya?” aku menjitak kepalanya.

            “Jangan bicara sembarangan! Aku bisa saja melawan si Eunjung sialan itu, tapi dia membawa sekutu-sekutunya. Sudah, aku mau tidur saja!” ujarku sambil memunggungi badannya. Posisi tidur kami berdua hanya terhalang sebuah guling, kata Taemin biar tidak terjadi apa-apa. Hiiih aneh!

            “Yak kenapa kau tidur?!” aku berpura-pura tidur. Jebal Ttaem, aku sangat lelah hari ini.

            “Kau pura-pura tidur kan?!” dia memutar badanku paksa menghadapnya. Aku tahu dia juga sangat lelah.

            “Aku ngantuk Ttaem, aku ingin tidur. Mianhe aku tidak bisa menemanimu.” Kataku jujur.

            “Aku tidak menyuruhmu menemaniku. Aku hanya… hanya.. hanya ingin mengucapkan sesuatu” aku mengernyit heran.

            “Selamat malam, Minji” aku heran, kenapa sampai sesulit itu mengatakan ‘jaljjayo’?

            “Selamat malam juga, Ttaem”

            TAEMIN POV

            “Selamat malam juga Taemin” dia mengelus pipiku pelan lalu mulai memejamkan matanya. Hembusan nafasnya menari-nari di wajahku, membuat perutku terasa geli. Hey inikah rasanya tidur bersama yeoja? Ada kehangatan dan kenyamanan tersendiri.

            Aku bergerak mendekat ke arahnya, membuang jarak pembatas yang menghalangi kami.

            Chu~

            Aku mengecup dahinya singkat. Merapihkan anak-anak rambut yang menghalangi dahinya dan mengelus pipinya pelan. Rasanya aku selalu ingin menyentuh kullitnya, melakukan kontak fisik bersamanya.

 Dia adalah yeoja pertama yang kubiarkan untuk memasuki kehidupanku, yeoja pertama yang membuatku tertawa bebas, yeoja pertama yang membuatku mengerti arti ketakutan akan kehilangan seseorang. Dialah yeojaku, Baek Minji.

****************

KRIIIIIIIIIIIIIIIINGGGGGG

            Aishh siapa yang menyalakan alarm sepagi ini sih?!

            Kupaksakan mataku untuk terbuka. Aigooooo jam 06.45!! Aku terlambat. Sial!

            “MINJI IREONAAAA!!!!!” aku membangunkannya yang masih tidur lelap.

            “ADA APA?! ADA KEBAKARAN??” dia shock. Mukanya lucu sekali, tapi ini bukan saat yang tepat untuk memperhatikan wajahnya.

            “Kita terlambat masuk sekolah, palli Min! Mandi sana!” aku menarik-narik tubuhnya yang masih kehilangan setengah nyawa. Aihh anak ini seperti babi!

            Dia bangun dengan mata terpejam menuju kamar mandi. Aku harus buru-buru mandi agar tidak kena hukuman Shin seonsaengnim!

**************

07.25

Ckiiit..

            Akhirnya kami sampai sekolah dengan selamat. Aku segera memarkirkan motorku dan menemui Minji yang sedang memohon-mohon pada penjaga sekolah.

            “Jebal ahjjushi, biarkan kami masuk, sekarang sedang pelajaran Shin seonsaengnim jadi kami tidak mau dimarahi” ujar Minji memelas pada penjaga sekolah.

            “Nanti pulang kami traktir jajangmyeon! Otte?” kataku menyogoknya. Dia mengangguk senang dan membukakan pintu. Aihhh manusia jaman sekarang, mudah sekali menerima sogokkan.

            “Jadi kalian yang mengikuti jurusan seni tari dan seni theater akan mengadakan blablablabla”. Aku mengintip ke dalam kelas. Sial, si guru killer itu sudah datang!

            “Ttaem, ayo masuk! Nanti kita dihukum lagi!”

            Aku dan Minji mencoba masuk ke dalam kelas. Dan seperti yang aku pikirkan, kami dihukum mengepel koridor di depan kelas kami. Sialan!

            “Ttaem kenapa kita harus dihukum seperti ini sih? Bajuku kotor semua jadinya!” Minji menggerutu tidak jelas saat kami mengerjakan hukumannya.

            “Aku juga tidak mau mengerjakan ini Min, mau bagaimana lagi” kataku pasrah. Tiba-tiba ada seorang namja yang lewat di depan kami dan membuat Minji berteriak histeris.

            “KEY-SUNBAE!!!”

**********************

            MINJI POV

            “KEY-SUNBAE!!!” teriakku shock. Aku harus segera melaksanakan rencanaku. Mendapatkan Key-sunbae.

            “Hai Minji, ada apa? Sedang apa kau berduaan dengan Taemin disini?” katanya sambil tertawa. Kulirik Taemin yang sedang serius mengepel, kenapa sih setiap aku bertemu Key-sunbae wajahnya harus ditekuk seperti itu?

            “Tidak ada apa-apa, hanya ingin meminta nomor handphone-mu sunbae, boleh kan? Aku ingin bertanya-tanya tentang seni tari hehehe. Oiya aku sedang dihukum oleh Shin seonsaengnim karena telat. Huaaah lelah sekali sunbae!” aku tertawa kecil. Jarang sekali aku berbicara panjang kali lebar dengan seorang namja selain Taemin.

            “Ohahaha aku harus pinjam handphone-mu untuk memasukan nomorku, tidak enak bila disebutkan, nanti banyak yang tahu nomorku! Aku kan namja paling tampan di antara semua namja hahaha.” Aku tertawa dengannya lalu menyerahkan handphone-ku.

            “Ini fotomu Minji? Aigo yeppeuda!” mukaku bersemu merah ketika dia melihat wallpaper handphone-ku.

            “Sudah. Nanti kalau ada apa-apa hubungi aku saja, annyeong!” dia mengacak rambutku dan berlari meninggalkanku. Satu langkah sudah kudapatkan untuk menjalankan rencanaku.

            “Apa yang kau bicarakan dengannya?” Taemin menatapku dingin. Hey, dia tidak pernah berbicara se-dingin itu padaku.

            “Aku hanya meminta nomor handphone-nya, wae?”

            “Kita bahkan bertukar nomor handphone. Jadi ini yang dinamakan sahabat Minji-sshi?” dia menatapku tidak suka. Yak! Kenapa jadi sinis seperti itu sih dia?

            “Yak kau kan memang sahabatku Ttaem, kau mau nomorku? Ini ambil handphone-ku! Catat nomormu!” aku menyerahkan handphone-ku dengan kesal. Hanya karena nomor handphone kami jadi bertengkar seperti ini? Kekanakan sekali dia!

            “Tidak perlu, aku sudah tak berminat. Aku duluan, aku sudah membersihkan setengah koridor ini. Annyeong” dia meninggalkanku yang masih melongo karena perkataannya. Hyaaaaa Lee Taemin babo!!!

******************

            TAEMIN POV

            Sungguh aku kesal dengan Minji. Kenapa dia dengan gampangnya meminta nomor Key-sunbae sedangkan kami tidak pernah bertukar nomor handphone. Sahabat macam apa itu?!

             Tapi kenapa aku kesal ya? Kan salahku juga tidak meminta nomor nya-_- sudahlah aku pusing! Oiya ku dengar akan ada pementasan drama musical oleh jurusan seni tari dan theater, aku harus ikut!

            Ngomong-ngomong, makan bekal tanpa ditemani Minji tidak enak sekali. Biasanya ada yeoja cerewet yang selalu menanyakan hal-hal bodoh padaku. Tapi sekarang kemana dia? Sudahlah aku kan sedang perang dingin dengannya, aku masih kesal!

            Bruukkk..

            Sendok dan tempat makan yang sedang kupegang jatuh ke lantai. Tangan kananku bergetar hebat seperti disetrum listrik 1000 volt. Tremor lagi. Aisshh tapi kenapa harus sekarang?

            “Arrrghh!” aku menggigit bibirku sekuat-kuatnya saat seluruh badan bagian kananku tidak bisa digerakkan. Sial! Aku hanya bisa meringis di bawah meja. Dan seperti biasa, teman-teman sekelasku hanya memandang tidak minat. Aku sudah biasa diperlakukan seperti itu.

            Aku mencoba menggerakkan tangan kiriku untuk meraih obat yang ada di tasku, sebelum tubuh sebelah kiriku ikut mati rasa.

Braakk..

Argggh kenapa kursi ini harus membuat kegaduhan sih?! Dengan sisa-sisa kekuatan yang kupunya, aku mengambil beberapa butir obat dan meminumnya. Dada ku naik turun, kepalaku pening dan berputar-putar, keringatku bercucuran. Kenapa kambuh lagi?

Aku mencoba bangun dengan meraba-raba dinding. Mataku masih berputar-putar, hamper saja aku jatuh kalau Jonghyun tidak membantuku.

“Hati-hati Ttaem, sini aku bantu” dia satu-satunya teman sekelasku yang masih peduli padaku. Meskipun dia agak kutu buku, tapi aku beruntung masih ada yang peduli denganku.

“Gomawo Jjong” dia hanya nyengir.

Dia mengantarkanku ke kamar mandi terdekat, aku memandangi bayanganku di cermin. Berapa lama lagi kau akan bertahan Ttaem? Berapa banyak orang lagi yang akan kau repotkan? Aku tak tahu dan tidak mau tahu. Kenapa aku harus mendapat cobaan seperti ini?!

Aku menggenggam erat-erat westafel di hadapanku untuk melampiaskan semua emosiku. Jangan sampai Minji mengetahui hal ini, aku tidak mau merepotkannya.

“Tremor lagi, Taemin-sshi?” kata Key-sunbae dengan muka meremehkan. Aku tidak pernah menyukainya apalagi setelah Minji dekat dengannya.

“Bukan urusanmu Kibum-sshi. Kenapa kau mendekati Minji? Bukankah kau sudah mempunyai yeojachingu yang bisa kau mainkan setiap hari?” ucapku setengah marah. Aku tidak mau Minji bernasib sama seperti yeoja-yeoja itu.

“Hahaha bukan aku yang mendekatinya, tapi dia yang mendekatiku. Dia yang meminta nomor handphone-ku, apa itu yang dinamakan aku mendekatinya?” sial, dia selalu memancing emosiku.

“Kau cemburu? Kau menyukainya? Tidak kan? Jadi apa urusannya kalau aku mendekatinya? Kau hanya temannya, bukan kekasihnya!” sialan!

Brukkk..

“Jangan pernah menyentuh Minji sehelai rambutpun brengsek! Kau boleh bersikap manis di depannya, tapi aku tahu sifat aslimu!” dengan tangan yang masih sedikit bergetar, aku memukulnya tepat di hidungnya dan membuat hidungnya berdarah.

“Semakin kau larang aku mendekatinya, semakin ingin aku mendekatinya Taemin-sshi”

********************

MINJI POV

Saat aku kembali ke kelas untuk meminta maaf pada Ttaem, aku terkejut melihat meja kami. Kursinya jatuh dan makanannya jatuh berantakan. Aigooo apa yang sebenarnya terjadi? Beberapa saat setelah aku datang, Taemin kembali dengan wajah lusuh dan rambut acak-acakan. Ada apa sebenarnya?

“Ttaem ada apa? Kenapa  jalanmu pincang seperti itu?” aku mencengkram pergelangan tangannya erat.

“Gwenchanayo, hanya ada sedikit masalah tadi” dia masih menghiraukanku. Apa salahku sebenarnya?

************************

2 hours later, at dance class

“Jurusan ini akan mengadakan sebuah drama musical yang akan berkolaborasi dengan jurusan theater. Akan menampilkan drama musical yang berjudul ‘Snow White and 7’.” Kata Key –sunbae. Mwo? Itu kan cerita anak-anak, lagipula tidak ada romantic-romantisnya-_- kenapa tidak ‘Romeo and Juliette’?

Lagi pula aku tidak akan ikut. Ya, karena kemampuan dance-ku masih di bawah rata-rata. Mungkin nanti peranku hanya menjadi pohon saja.

“Dan pemeran utamanya adalah Baek Minji menjadi ‘Snow White’. “ HAAAA?? AKU?! BAEK MINJI? Kiamat menantiku!

“Ta..ta..pi ak.ku belum berbakat dalam bidang menari dan acting” protesku. Tapi Key-sunbae hanya tertawa.

“Tenang saja, kau tahu yang menjadi pemeran pangerannya siapa?” aku menggeleng. Semua teman satu jurusanku berbisik-bisik tidak jelas. Kulirik Ttaem yang tampak antusias. Kalau aku yang jadi putri nya, semoga Taemin yang jadi pangerannya.

“Pangerannya adalah aku. Ini bukan kemauanku, ini pilihan para pelatih kita”

*******************

TAEMIN POV

Sungguh aku sangat berharap mendapatkan peran pangeran itu, kapan lagi bisa menjadi pemeran utama sebuah drama musical kelas atas? Dan alasanku yang kedua adalah Minji yang akan jadi Snow White nya!! Aigooo kapan lagi bisa mencium Baek Minji? Eh?

“Pangerannya adalah aku. Ini bukan kemauanku, ini pilihan para pelatih kita”

Dia? Menjadi pangerannya? Pupus sudah harapanku. Cih aku sudah tidak minat lagi ikut acara ini.

“Dan yang menjadi Ibu tiri adalah Shin Eunjung dari jurusan theater” Ha? Ada si nenek sihir itu? Peran yang dia mainkan sangat cocok dengan kepribadiannya hahaha

“Dan yang menjadi 7 kurcacinya adalah Taemin, Jisung, blablablabla” aku? Jadi kurcaci? Lebih baik aku menjadi pohon saja-_-

Lalu kami semua memulai latihan kami. Dan sialnya aku harus melihat Minji dekat-dekat dengan namja itu. Kami belajar acting, menyanyi, dan menari dalam waktu yang bersamaan. Tapi biarpun hanya menjadi kurcaci, aku senang bisa berpastisipasi dalam acara tahunan ini. Biasanya kami kalau mengadakan pementasan, pasti tiketnya laku keras!

“Salah Minji, yang benar seperti ini tekniknya” aku menengok ke sumber suara. Namja itu sedang mengajarkan Minji berdiri menggunakan ibu jarinya. Harusnya aku yang ada di posisinya, bukan namja itu.

MINJI POV

“Salah Minji, yang benar seperti ini tekniknya” Key sunbae mengajarkan ku cara berdiri menggunakan ibu jari. Sakit sekali, tapi aku harus berjuang! Ini juga demi eomma!

            “Aih susah sekali sunbae!” dia hanya tersenyum. Mata sipitnya itu bagus sekali! Dan senyumannya ituuuu!!!

“Aigooo Minji, tidak akan susah kalau kau terus mencobanya. Sini biar kubantu” aku mencobanya lagi, sementara dia memegangi badanku agar tidak terjatuh. Aku memulainya pelan-pelan, takut akan terkilir seperti waktu itu.

“SUNBAE! Aku bisa!!! KYAAAA!!” karena terlalu girang, aku tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhku.

Brukkk

Kami berdua terjatuh. Memalukan , tubuhku mendarat bebas di atas tubuhnya. Sial mukaku memerah!

“Neomu yeppo” dia menatapku dalam tapi tajam. Aku hanya bisa mematung seperti orang bodoh.

“MIIIIN kau mau pulang tidd…”

TAEMIN POV

“MIIIIN kau mau pulang tidd..” ucapanku terhenti ketika melihat sebuah pemandangan tak mengenakan di hadapanku..

“Mianhe aku menganggumu Min” aku segera meninggalkan ruangan latihan itu. Padahal aku ingin mengajaknya pulang bersama, tapi apa yang kudapatkan?

“Taemin tunggu!” dia menarik lenganku.

“Hmmm? Kau masih ingin latihan kan? Aku pulang duluan ya Min” aku tersenyum. Tentu senyum yang dipaksakan.

“Benarkah tidak apa-apa? Maaf ya Ttaem” Aku hanya mengacungkan jempol ke arahnya sementara namja itu hanya tersenyum meremehkanku.

Aku sering bingung dengan perasaanku, kenapa setiap aku melihat Minji bersama namja itu, perasaanku selalu tidak tenang? Dadaku seperti tusuk-tusuk. Ini namanya apa? Mungkinkah ini karena perasaan iri? Atau perasaan tidak terima sahabatmu direbut orang lain?

Atau…

Cemburu?

KEY POV

Aku  tahu Taemin cemburu, sangat terlihat jelas dari wajahnya. Tapi kenapa Minji tidak mengetahuinya?

“Tadi kenapa Taemin seperti itu?” tanyaku basa-basi pada Minji saat kami sedang merapihkan ruang latihan.

“Ah itu, dia memang suka bersikap aneh kalau aku dekat-dekat denganmu sunbae. Dia memang suka protektif seperti itu, setiap hari aku harus pulang bersamanya. Tapi aku senang dengan sifatnya yang seperti itu” ucapannya itu membuatku mengernyit heran.

“Sepertinya tadi dia cemburu padaku, kau tidak lihat mukanya?”

“Cemburu? Kau bercanda sunbae, kami hanya sahabat tidak akan mungkin jatuh cinta satu sama lain. Mungkin tadi dia hanya kaget melihat kita” hah ingin sekali aku menertawakan kebodohan si Minji ini.

“Hahaha bukannya seorang yeoja dan seorang namja jika bersahabat tidak akan bersahabat dengan ‘murni’?” dia mengerutkan keningnya. Aissshh yeoja babo.

“Maksudku, pasti ada perasaan cinta yang terselip. Entah itu dari salah satu atau keduanya”

“Hmmm sepertinya tidak untuk diriku” dia melenggang meninggalkaku.

“Yak kau mau kemana?” ku tarik tangannya. Enak saja bisa lari dari seorang Kim Kibum.

“Aku ingin pulang sunbae, wae?”

“Kau.. pulang bersamaku!”

MINJI POV

Ckiiiitt..

“Gomawo sunbae atas tumpangannya” ucapku ketika keluar dari mobilnya. Hyaaa mobilnya saja bagus sekali, pasti dia orang kaya-_-

“Jangan pernah memanggil ku sunbae lagi, panggil saja oppa. Arraseo?” dia mengatakannya sambil melirik ke arah pintu. Aku mengikuti arah lirikannya. Tuhaaan, kenapa ada Taemin disini? Pasti akan ada kekacauan sebentar lagi. Tapi siapa peduli? Aku hanya melaksanakan rencanaku.

“Kalau  begitu, aku pergi dulu ya. Annyeong” katanya sambil mengacak rambutku.

“Annyeong juga oppa” aku mencubit pipinya. Sebentar lagi aku akan mendapatkanmu sunbae.

“Sepertinya kau senang sekali diantar oppa barumu itu” tiba-tiba Taemin berbisik di telingaku. Astaga ini semakin lama semakin menyebalkan saja!

“Kenapa kau bisa ada disini?! Bukannya kau sudah pulang??” ucapku kesal.

“Memangnya aku tidak boleh ke rumahmu? Lee ahjumma saja tidak marah. Oh kau marah ya karena ada aku, kau jadi tidak bisa bermesraan dengan oppa-mu itu??”

“TERSERAH KAU SAJA LEE TAEMIN!!”

Blammm

Aku membanting pintu rumahku dengan kasar. Dadaku naik turun menahan emosi, dasar Lee Taemin babo!!

“Yak kenapa berteriak-teriak seperti itu Minji?! Hey kemana Taemin? Kau mengusirnya?! Aigooo padahal aku masih ingin mengobrol dengannya” kata bibiku sambil memegang adonan kue. Ciihh sekarang dia lebih membela Taemin?

“Terserah kalian saja aku tidak peduli!”  aku berlari ke kamarku. Malas meladeni ocehan bibiku lagi.

Drrt.. drrt..

Kurasakan handphoneku bergetar. Ada sms? Nugu?

 

From                            : <Nomor tidak dikenal>

Subject                        :

Annyeong Minji, ini aku Key. Apa kau tadi bertengkar dengan Taemin setelah aku pulang? Kalau iya, maafkan aku ya^^ oiya simpan nomorku baik-baik!

 

Tanpa terasa bibirku mengukir sebuah senyuman, lebih tepatnya seringaian. Akhirnya aku tidak perlu repot-repot mendekatinya, malah sekarang dia yang mendekatiku hahaha.

To                                : Key oppa

Subject                        :

Annyeong juga sunbae^^ aniyo, aku hanya berdebat kecil dengannya dan itu bukan karena mu🙂 baiklah akan kusimpan nomormu baik-baik! Mhihihi

Drrt.. drrt..

From                : Key oppa

Subject                        :

Sudah kubilang jangan memanggilku sunbae! Itu membuatku terlihat lebih kaku dan kutu buku>,<

 

            Ternyata Key oppa orangnya baik dan ramah ya? Aku tidak salah pilih target.

            To                    : Key oppa

            Subject                        :

            Arraseo oppa! Kau sedang apa? apakah sedang latihan untuk drama nanti? Kkkk~ ngomong-ngomong kau sudah punya yeojachingu kan? Apa dia tidak akan marah?

            Drrrt.. drrt

            From                : Key oppa

            Subject                        :

            Aku sedang browsing internet, kau sendiri? Aku tidak pernah latihan di rumah😄 Hmm? Yeojachingu? Shim Kangmi maksudmu? Dia sudah ku-putuskan beberapa hari yang lalu. Sekarang aku free!

            Yak Baek Minji ini kesempatan yang bagus untuk mendapatkan Key oppa!

            To                    : Key oppa

            Subject                        :

            Oh  kau sudah putus? Baguslah! Hahaha sudah dulu ya oppa, aku ingin mandi dulu. Annyeong^^

 

            Aku segera mengambil handuk dan baju. Baru beberapa menit aku berbincang-bincang dengan Key oppa, aku sudah merindukan Taemin. Sedang apa ya dia?

            30 minutes later

            “Yak Minji kau mau kemana? Bajumu rapi sekali” kata bibiku saat aku melintasi meja makan. Rapi dari mana? Aku hanya mengenakan celana jeans santai ditambah kaus putih yang dilapis cardigan rajut berwarna hijau.

            “Aku mau pergi ke rumah Taemin, wae?”

            “Aku ikut! Sudah lama aku tidak mengunjungi Eomma-nya Taemin” aku mengernyit heran.

            “Kami bersahabat. Kajja kita berangkat!” tambahnya. Dunia sempit sekali ya?

Dengan seenaknya Lee ahjumma menarik tanganku. Dan lagi-lagi dia menyuruhku pergi dengannya menggunakan sepeda. Hello, kenapa ahjumma tidak membeli motor saja? Ketinggalan jaman sekali dia-_-

************************

Ckiit..

Ting tong

“Annyeonghaseyo. Minho??! kau Minho kan? Aigooo kau makin tampan!!” kata bibiku norak. Haaah Minho oppa memang tampan!

“Mwo? Lee ahjumma?! Waaa bogoshipoyo ahjumma!” kata Minho oppa girang. Jadilah sekarang mereka bernostalgia tidak jelas.

“Lee ahjumma ini bibimu, Minji? Aaah kenapa tidak cerita-cerita?”

“Untuk apa aku cerita oppa? Taemin mana?” tanyaku.

“Dia di atas, kesana saja sepertinya dia sedang kesepian.” Aku langsung menaiki anak tangga menuju kamar Taemin.

“TTAEEEEEEM!”

“Ttaem ka..kau ken..napa?” kataku kaget melihat tubuhnya menggelinjang tidak jelas di lantai. Barang-baranya berhamburan di lantai. Wajahnya meringis menahan sakit. Tangannya bergetar hebat. Tuhan, Taemin kenapa?

“OPPA! MINHO OPPA!! AHJUMMAAAA! TOLOOONG TAEMINN! AIGOOO TOLOONG!”teriakku kesetanan.

“Min.. min.. jji?” syukurlah dia masih sadar. Tak lama setelah itu Minho oppa dan bibiku datang. Minho oppa membopongnya ke tempat tidur sementara aku dan bibiku disuruh menunggu di luar. Yang bisa kulakukan hanya mondar-mandir tidak jelas sambil menggigiti kuku tanganku.

“Ahjumma, Taemin kenapa?!” tanyaku panik, tapi ahjumma hanya tersenyum menenangkanku. Jebbal jangan merahasiakan sesuatu dariku.

“Oppa, bagaimana keadaan Taemin? Sebenarnya Taemin sakit apa? Oppa ayo katakan!” tanyaku saat Minho oppa keluar kamar. Aku bingung, kenapa raut wajah Minho oppa tidak menunjukkan ke-khawatiran sepertiku?

“Hmm Taemin sudah baikan, kau tenang saja dia memang suka kambuh seperti itu, tapi itu hanya kejang-kejang biasa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan dongsaengku” kata Minho oppa sambil mengacak rambutku. Penjelasan Minho oppa membuatku bingung, sebenarnya Taemin sakit apa?

“Ttaem?” mataku berkaca-kaca ketika melihat keadaannya. Wajahnya pucat, tubuhnya ringkih, tapi dia masih tetap tersenyum tulus. Aku merangkak duduk di atas kasurnya.

“Kau kenapa? Apa yang sakit? Kenapa kau tidak bercerita tentang penyakitmu padaku?” dia masih memejamkan mata. Aku hanya bisa menggigit bibirku sekencang-kencangnya. Aku tidak mau air mataku tumpah lebih banyak. Ku sibakkan rambut yang menutupi dahinya. Ku telusuri tiap inchi wajahnya dengan jari telunjukku.

“Kau tahu? Kau adalah orang membuatku mengerti arti kehilangan”

“Setelah eommaku” tambahku. Tiba-tiba sungai kecil sudah terbentuk di pipiku, tangisanku makin deras. Aku takut kehilangannya.

“Taemin bangun! Kalau kau mati sekarang siapa lagi yang melindungiku nanti? Siapa yang akan mengantar-jemputku lagi? Hikss hikss” ku goncang-goncangkan tubuh ringkihnya.

“Ke.. kennap..pa kau menangis Min? aku baik-baik saja. Gomawo sudah mengkhawatirkanku” matanya terbuka untukku. Dia tersenyum lirih, sumpah mati aku tidak tahan melihat senyumannya yang seperti itu.

“Jangan begini lagi Ttaem, meskipun aku tidak tahu apa penyakitmu, aku tahu ini berat untukmu. Kau harus semangat Ttaem! Jangan mudah menyerah!” ku paksakan bibirku untuk tersenyum. Ku peluk erat tubuh lemahnya, dia hanya mengelus-elus kepalaku. Aku selalu meraakan kehangatan setiap bersamanya.

“Jangan menangis lagi Min, nanti kau tambah jelek” katanya sambil mencubit hidungku. Aku menghapus air mataku.

“Kau bilang aku cantik!” aku merengut berpura-pura marah dan memeluknya lagi.

“Jangan lakukan seperti tadi lagi, kau membuatku khawatir setengah mati!” ku coba memejamkan mataku untuk tidur dipelukannya. Tiba-tiba suatu benda mendarat di keningku.

Chu~

“Aku menyayangimu Min” kata-katanya membuatku menangis lagi.

“Aku juga Ttaem”

Tuhan, aku berjanji akan selalu menjaga Taemin dari sgala penyakitnya,aku bersedia menjadi seseorang yang selalu berasa di sisinya,aku berjanji akan selalu menyayanginya, karena dia adalah Taemin, namjaku.

Five hours later..

00.00 am

Nggh aku ketiduran ya? Aku meregangkan badanku. Sepertinya aku tidur dengan posisi yang tidak nyaman.

“Sudah bangun tuan putrid? Aigooo kau makan apa sih? Berat sekali!” aku hanya tersipu malu. Aku baru ingat kalau aku tidur dipelukannya>,<

“Jam berapa sekarang?”

“Jam 12 malam, wae?” Mwo?? Ahjumma bagaimana kabarnya?!

“Kau ini bukannya mengurus orang sakit malah kau yang ketiduran”  katanya sambil mengacak rambutku. Di saat sakitpun dia masih bisa membuatku malu.

“Kau sudah baikan Ttaem?” tanyaku hati-hati.

“Sudah, sangat sudah malah. Aku tidak bisa tidur bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman sebentar?” aku hanya mengiyakan ajakannya, lalu dia langsung menarikku pergi. Padahal dia masih mengenakan piyama dan sandal rumah bergambar doraemon-_-

******************************

Sesampainya di taman kami hanya saling berdiam diri di bangku taman, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Kau tidak kedinginan Ttaem?”

“Sedikit” katanya sambil menggosok-gosokan tangannya.

“Pakai ini, aku tidak mau kau kejang-kejang seperti tadi” aku memakaikan cardigan hijau-ku ke badannya. Biarlah aku hanya memakai kaus tipis, yang penting Taemin tidak kedinginan.

“Gomawo Min, tapi ini tidak lucu. Biasanya di drama-drama yang ku tonton, seharusnya namja yang memberikan jaketnya saat si yeoja kedinginan, tapi ini sebaliknya” dia mengerucutkan bibirnya. Lucu sekali, ku acak-acak saja rambutnya.

“Ttaem, kalau boleh aku tahu, kenapa kau bisa kejang-kejang seperti tadi? Apa kau sakit?” tanyaku ragu-ragu.

“Hmm.. aku memang sakit, tetapi ini bukan penyakit dari kecil, tapi penyakit ini datang saat aku kelas 3 sekolah menengah pertama. Aku kecelakaan Min, dan itu karena aku menyelamatkan seseorang yang sangat ku cintai” hatiku mencelos mendengar kata-katanya. Menyelamatkan orang yang sangat dicintainya? Siapa? Mengapa hatiku bagai tertusuk duri?

“Siapa orang nya Ttaem?” dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Matanya terpejam damai, seolah sedang mengingat kenangannya bersama ‘seseorang’nya dulu.

“Dia adik kembarku” ucapannya membuatku terperanjat. Taemin? Punya saudara kembar? Kenapa Minho oppa tidak menceritakannya padaku?

“A..adik kembarmu? Memangnya kenapa dia? Sekarang dia dimana?” tanyaku penasaran.

“Dia di surga” ucapnya sambil tersenyum. Matanya masih terpejam. Tangannya mulai menggenggam tanganku.

“Aku menyelamatkannya dari percobaan bunuh dirinya. Waktu itu dia ingin menabrakan dirinya ke sebuah truk pengangkut yang sangat besar” dia menghela nafas sejenak.

 

Flashback, one year ago..

TAEMIN POV

“Younggie, apa yang kau lakukan?!” kataku sambil mengejar Min-Young, saudara kembarku. Sudah tengah malam, jalanan kota Seoul sudah sepi. Hanya ada aku dan Min-Young, hanya ada sepasang yeoja dan namja yang berteriak-teriak kesetanan.

“Berhenti di situ Taemin!! Untuk apa kau mengejarku?! Aku sudah tidak peduli dengan semuanya!!” dia menangis meraung-raung, memecah keheningan kota. Aku tidak peduli mau semarah apapun dia terhadap diriku, aku harus menyelamatkannya sebelum terjadi yang tidak-tidak.

“AKU TAHU KAU SEDIH, AKU TAHU KAU KECEWA, SETIDAKNYA GUNAKAN AKAL SEHATMU MIN!!” ya, dia sedang tidak menggunakan akal sehatnya. Berlari-lari menggunakan piyama tengah malam dan meraung-raung tidak jelas, apa itu dinamakan menggunakan akal sehat?

“KAU TIDAK TAHU APA YANG KURASAKAN! KAU TIDAK TAHU BAGAIMANA MENJADI DIRIKU, DIDUAKAN OLEH PACARMU SENDIRI DI DEPAN MATAMU, DICAMPAKKAN DEMI YEOJA LAIN, APA AKU HARUS MENGGUNAKAN AKAL SEHAT??!!” Min-Young keterlaluan. Dia terlalu berlebihan, cintanya buta. Namja brengsek itu benar-benar keterlaluan! Dia hampir merenggut keperawanan Min-Young dan sekarang dia meninggalkannya begitu saja? Brengsek!

“Aku tahu! Aku mengerti! Setidaknya jangan lakukan hal yang bodoh Min! Pulanglah Min, Minho hyung pasti sedih melihat keadaanmu! Lupakan pria brengsek itu! Kau masih kecil Min, kau masih punya banyak waktu untuk melupakan namja itu” pintaku saat dia sudah di ujung jalan menuju jalan raya. Tuhan, jangan bilang dia…..

“Baik kau, Minho oppa, maupun Eomma dan Appa tidak ada yang mengerti! Aku mencintainya, dia itu belahan jiwaku! Tapi kenapa dia tega meninggalkanku?” dia menangis hingga terduduk. Rambutnya acak-acakan, wajahnya tirus seperti mayat hidup. Aku mencoba mendekatinya, mencoba memeluknya.

“Berhenti di situ Lee Taemin!! Aku hanya sudi dipeluk namjachinguku!” aku berlari mendekatinya, dia benar-benar sudah keterlaluan.

Plak..

“KAU SUDAH DIBUTAKAN OLEHNYA! DIA HANYA NAMJA BRENGSEK YANG MEMANFAATKANMU! Ku mohon Younggie, sadarlah!”  kataku setelah menamparnya. Tamparan untuk menyadarkannya.

“KAU TIDAK MERASAKAN PENDERITAANKU!” dia berlari ke tengah jalan raya. Tuhan selamatkan Min-Youngku.

TIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNN..

“YAK YEOJA GILA CEPAT MENYINGKIR DARI SITU!! KAU MAU MATI?!”

Suara klakson sebuah truk pengangkut menyadarkan lamunanku. Sial, aku kecolongan. Aku berlari menyelamatkan Min-Young. Aku memeluknya untuk melindunginya. Tuhan masih berbaik hati, kami masih diberi kesempatan untuk hidup. Kami terlempar jauh ke pinggir jalanan. Sayangnya punggungku yang menjadi tumpuan mendarat harus rela terbentur keras oleh trotoar.

BRUUUUK

“TAEMIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!!” dan semuanya gelap.

End flashback

MINJI POV

“Dan aku koma selama 2 bulan karena benturan keras itu mengenai syaraf tulang belakangku. Kata dokter, kesempatan hidupku hanya 20%” ucap Taemin lirih. Setitik air mata jatuh di pipiku. Aku tak pernah menyangka Taemin bisa mengalami hal seberat itu.

“Lalu Min-Young bagaimana?”

“Dia selamat, tapi semenjak kejadian itu dia mengalami gangguan kejiwaan. Kami semua harus rela melihatnya terkurung di rumah sakit jiwa. Karena tekanan batin yang dialaminya, dia bunuh diri di kamar rawatnya.” Aku melihat Taemin menangis. Seorang Taemin yang kukenal ceria bisa menangis karena seorang Min-Young?

“Lalu kenapa kau bisa sakit seperti ini?”

“Tiga puluh persen syaraf dari tulang belakangku rusak karena benturan itu. Kau tahu kan efeknya apa? aku mengalami pemunduran gerak tubuh karena syaraf yang mengontrol gerak tubuhku rusak. Ya lama-lama aku bisa lumpuh total. Makanya aku sering gemetaran dan kejang-kejang.” Lumpuh total? Taemin?

“Kenapa kau berbicara enteng sekali, seakan-akan kau tidak akan mengalami apa-apa?” aku mulai terisak. Aku tidak bisa membayangkan apa yang dikatakan Taemin itu akan terjadi.

“Aku biasa saja karena… aku sudah bersiap menghadapi hari dimana aku lumpuh total. Aku sudah siap menerima apapun konsekuensinya. Bahkan aku sudah siap jika aku dipanggil Tuhan detik ini juga”

“Ttaem.. jjan.. ngan.. bberkkata.. sse pperti itu” tangisanku makin deras mendengar ucapannya. Kenapa setiap orang yang aku sayang perlahan-lahan meninggalkanku? Dulu Eomma, sekarang Taemin.

“Bukankah setiap orang akan pergi ke surga? Aku hanya mempersiapkan diri untuk itu, harusnya kau juga begitu Min “ ucapnya diselingi senyuman. Di saat keadaan baik atau buruk, mengapa dia suka sekali tersenyum?

“ Min-Young itu seperti apa orangnya?”

“Dia sepertimu Min” aku mengernyit heran. Seperti aku?

“Ne, sepertimu. Ceria, baik, ceroboh, bodoh, kadang menyebalkan, pendek, tapi matanya besar tidak sepertimu” dia berkata sambil mencubit mataku. Yak aku tahu aku sipit!

“Kau sangat menyayanginya ya?” bodoh, pertanyaan yang sangat bodoh Min.

“Sangat, sama seperti dirimu.” Mukaku memerah, bisa-bisanya di saat seperti ini dia berkata seperti itu. Kami terdiam sejenak, saling memejamkan mata, saling bersandar satu sama lain, seakan membagi derita kami masing-masing.

“Apa ini sakit Ttaem?” aku meraba punggungnya, merasakan setiap inchi luka di tubuhnya.

“Ini terlalu sakit sampai aku sudah tidak bisa merasakan apa yang dinamakan sakit. Sudah lah jangan menangis lagi Min” dia menghapus air mataku. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi, hanya ada kami, dua orang yang sedang membagi derita masing-masing.

“Ttaem kau tidak ingin pulang? Nanti ahjumma dan Minho oppa mencari kita” kataku khawatir.

“Biarkan saja, biarkan seperti ini dulu. Aku jarang sekali keluar rumah, Minho hyung selalu melarangku. Tapi terkadang aku suka kabur dari rumah hehe.”

“Karena penyakitmu?” dia mengangguk semangat.

“Hooaaamm Ttaem aku ngantuk. Kita pulang yuk” aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Mataku sudah beraaaat sekali>,<

“Nanti dulu, aku masih ingin menghirup udara bebas. Kau tidur saja duluan”  aku mulai memejamkan mata. Selamat datang dunia mimpi.

TAEMIN POV

Aissh yeoja ini malah tidur disini, aku kan tadi hanya bercanda, aku takut bagaimana kalao ada Gumiho? Aigoooo>,<

“Min bangun! Aku takut sendirian disini” aku menggoyang-goyangkan badannya. Sudah kubilang dia mirip babi, ada gempa 9 skala richter pun dia tidak akan bangun.

Srrkksrrrksrrk

Aigooo suara apa itu? Tuhan semoga itu hanya suara kucing yang sedang kawin>,<

Ssrrrkksssrrrkk… Hmmgrrrrwwwwrrrrhhhrr

Eomma itu.. itu.. itu Gumiho!!!

“Min ayo bangun! A… ada Gumiho!” sial dia tidak bangun juga. Terpaksa aku harus menggendongnya di punggungku.

Aku setengah berlari menggendong yeoja yang seperti karung goni itu. Seenaknya saja dia tidur sementara aku harus tertatih-tatih menggendongnya seperti ini.

Blammm..

 Brukk..

Akhirnya aku sampai di rumah. Gumiho sialan membuatku berolahraga di pagi buta. Astagaaa, Minji masih tidur?!

“Yak kenapa kau membanting pintu seperti itu?! Dari mana saja kalian?!” kata Lee ahjumma. Aigoo ternyata dia sudah bangun.>,<

“Mianhe ahjumma”

*********************

MINJI POV

Huwaaaa sudah pagi ya? Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, mengumpulkan nyawa. Aku melirik seseorang di sampingku. Ternyata Taemin masih tidur-_-. Aigooo mukanya lucu sekali!! Wajah kekanakannya tampak sekali, dan itu membuatnya semakin lucu!

Chu~

Aku mencium hidungnya. Aigoo mukaku langsung memerah><

“Nggh Min jangan menciumku seperti itu, aku masih mengantuk” katanya dengan mata yang masih terpejam. Haissssh salah sendiri kenapa semalam mengajakku jalan-jalan.

Drrrtt.. drrrtt

From                : Key oppa

Message          :

Annyeong Minji! Kau sudah bangun belum? Kalau belum parah sekali! Masa seorang yeoja belum bangun jam segini? Aigoooo>,< aku hanya ingin mengajakmu latihan di sekolah, meskipun libur kita harus tetap latihan bukan? Aku tungu di ruang latihan ya. Gamsahamnida^^

Key oppa? Mengajakku? Kesempatan yang bagus bukan?

“Ttaem ireona! Antarkan aku ke sekolah, aku ingin latihan drama musical dengan Key oppa. Jebbal, bangunlah” dia mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Key sunbae? Aigooo kenapa harus aku?” aku hanya memelototinya dan pergi mandi. Anak itu harus dipaksa agar mau hahaha.

15 minutes later

            “Ahjumma kami berangkat dulu ya, jaga Minho oppa baik-baik” kataku setelah sarapan lalu menggandeng tangan Taemin.

            “Kenapa harus aku yang mengantarmu? Kenapa tidak oppamu itu yang menjemputmu?” tuhkan mulai lagi.

            “Dia sudah di sekolah, lagi pula dia kan tidak tahu aku menginap di rumahmu. Lagipula kau kan bodyguard-ku hehe” kataku mendinginkan suasana, aku tidak mau kami bertengkar lagi.

            “Pakai helm-nya” dia melempariku helm berwarna biru.

            “Mwoya? Shireo! Nanti rambutku berantakan” aku sudah dandan secantik mungkin untuk Key oppa, masa mau dirusak begitu saja?

            “Pilih rambutmu atau nyawamu” dia memasangkan helm itu ke kepalaku.

            “Begini lebih cantik, kajja!” dia memuji atau menghinaku?

            *******************************

            Ckiiit

            TAEMIN POV

            “MINJI!!” baru saja kami sampai di depan gerbang, namja itu sudah memanggil-manggil Minji, mau apa sih dia?

            “Oppa sudah menunggu lama? Mianhe, salahkan Taemin saja hahaha” oppa? Tcchh..

            “Kenapa kalian selalu bersama-sama? Aku jadi curiga dengan hubungan kalian” dia menggoda Minji. Lihat muka yeoja itu memerah.

            “Kkami han.. hanya berteman oppa” dia meremas kemeja bagian bawahnya.

            “Teman? Kau bercanda? Kau yeojachinguku Minji” aku merangkul bahunya.

            “Jangan percaya oppa! Aigooo kau apa-apaan sih Ttaem?” dia melepaskan rangkulanku risih.

            “Jinjjayo? Kalian berpacaran? Aigooo chukkae!!!” kata namja itu heboh. Dia tampak seperti Lee ahjumma.

            “Sudahlah oppa, jangan membuang-buang waktu, ayo kita latihan sekarang” Minji menarik tangan namja itu.

            “Kau mau kujemput tidak pulangnya?” tanyaku. Dia hanya menggeleng lalu kembali mengobrol dengan namja itu. Cihhh

            “Yasudah, annyeong!”

            AUTHOR POV

“Oppa, sekarang kita latihan apa? koreo? Acting? Atau menyanyi?” tanya Minji.

“Lebih baik kita latihan koreografi dulu. Yang seperti kemarin, tarian klasik. Masih ingatkan?” Minji mengangguk semangat. Karena mereka berdua pemeran utama, maka mereka selalu latihan bersama. Dan kebetulan hari ini sekolah libur jadi mereka bisa latihan sepuasnya.

Ireol ttaereul bomyeon na eorigineun hangabwa nun ape dugodo eojji haljul molla


Eotteoke deul sarangeul shijakago ineunji sarang haneun saramdeul malhaejwoyo

Mereka berlatih bersama, melekuk-lekukan badan mereka sesuai irama, merasakan tiap bait dari lagu tersebut, seakan-akan mereka benar-benar seorang Putri Salju dan Pangerannya.

“Kibum? Dan Minji? Sedang apa mereka disini?” kata seorang yeoja yang tidak sengaja mendengar alunan lagu-lagu dari ruang latihan. Dia, Shin Eunjung, seketika itu juga mengeluarkan senyum liciknya, pertanda akal bulusnya tengah bekerja. Ia mengeluarkan handphone super canggihnya dari kantong tasnya, berharap momen-momen ini masih bisa ia abadi kan.

KLIK..

Eunjung memotret Key dan Minji yang sedang berlatih, dengan posisi tangan Key menggenggam erat tangan Minji yang berada di pinggangnya. Walaupun itu hanya sebagian gerakan tari, tapi siapa saja pasti akan jengah melihatnya, terutama Taemin. Inilah tujuan Eunjung mengabadikan mereka berdua.

“Minji, apa kau mau makan siang di luar bersamaku? Ini sudah jam makan siang, nanti kalau kau sakit bagaimana? Lihat mukamu sudah pucat seperti itu, ku dengar ada warung jajangmyeon disini, ayo kita kesana. Nanti setelah itu kita jalan-jalan, otte?” kata Key dengan semangat, padahal dia harusnya sangat lelah karena seharian berlatih.

“Oh boleh sunbae, tapi pulangnya jangan malam-malam ya”

Mereka meninggalkan sekolah menuju warung jajangmyeon yang ditunjukkan Key.  Mereka memulai aksinya satu sama lain, saling memanfaatkan dan saling mempermainkan. Minji akan mendekati Key demi misi 3 bulan mendapatkan Key-nya itu. Dan si namja sendiri juga sedang memanfaatkan Minji untuk bahan taruhan satu angkatan. Karena seperti slogan seorang Kim Kibum, tidak ada yeoja di sekolah yang tidak bisa menolak pesona seorang Kim Kibum, tidak ada satupun yeoja di sekolah yang belum menjadi pacarnya. Dan sekarang, Minji akan menjadi korbannya.

“Kau dan Taemin berpacaran ya?” mendengar pertanyaan itu, Minji hampir tersedak bukan main. ‘Kenapa orang-orang mengira aku dan Taemin mempunyai hubungan khusus?’ batin Minji.

“Aku dan dia hanya bersahabat, karena kami di sekolah sama-sama tidak mempunyai teman, jadi kami kemana-mana selalu berdua” dalam hati Key tersenyum, kalau Taemin bukan pacar Minji, ia akan lebih leluasa mendekati Minji.

“Oh baguslah, kalau tidak nanti aku ada saingannya hahaha” Key tertawa renyah, membuat Minji hampir menyemburkan milkshake strawberry-nya ke wajah Key. Minji tidak menyangka sunbaenya akan berkata seperti itu padahal dia belum melancarkan aksinya sama sekali.

Drrrttt… drrrrt

“Yoboseoyo Ttaem, ada apa? aku sedang makan bersama Key oppa, tidak usah dijemput aku bisa pulang sendiri. Arra, arra nanti aku ke rumahmu, gomawo sudah mengkhawatirkanku. Jangan lupa istirahat ya Ttaem, annyeong” Minji menutup telepon dari Taemin, dia tidak tahu bahwa ada seseorang yang jauh disana sedang merasakan suatu perasaan yang dinamakan cemburu.

“Kelihatannya Taemin-mu itu perhatian sekali, aku tidak yakin kau tidak menyukainya” kata Key menggoda Minji.

“Ah jinjja, aku sungguh tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya, hanya perasaan nyaman saat ada di dekatnya. Itu bukan cinta kan?” kata Minji penasaran, Key hanya mengangguk.

“Kalau kau tidak menyukainya, bisakah kau menjadi pacarku?”

TBC


6 thoughts on “[Freelance] Ballerilove #2

  1. Dasar key playboy !! Thor, minji sama taemin aja deh… FFnya bagus banget thor… Taemin jangan dibuat mati gara-gara penyakitnya ya ….😉 part 3 jangan lama-lama. Oh ya, mian thor. Soalnya waktu baca part 1 aku kira belom ada part 2nya. Jadi aku bilang’part 2 jangan lama-lama’ hehehehehehe….

    Hwaithing !!😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s