[Freelance] Time Machine #2


TITLE : TIME MACHINE (CHAPTER 2)

CAST : Kim JongWoon (YeSung Super Junior), Kwon YuRi (YuRi SNSD), All Super Junior member, All SNSD member

GENRE : Romance, Adventure

AUTHOR : “Mawar” (bukan nama sebenarnya)

“Annyeong, readers nim… Hai, reader han_ka_tya kembali bersama author “Mawar”. Sebelumnya, terima kasih kepada semua YesYul/YulSung/YeRi shippers yang telah membaca, like dan comment di chapter 1. Author “Mawar” benar – benar terharu dan senang dengan respon readers nim semua. Awalnya author “Mawar” sempat khawatir dengan tema dan bahasa yang agak berbobot di FF ini, tetapi syukurlah bila ternyata readers nim semua menyukainya. Maaf sekali bila updatenya lama dan tidak sempat membalas komentar readers nim satu – satu. Harap dimaklumi yah, mengingat kesibukan kami berdua yang sesama karyawan swasta di kehidupan nyata, hhahahahahaha. Terima kasih juga kepada publisher, Gita Oetary aka Goetary yang telah posting FF ini. Oke, happy reading… Annyeong!”

Soundtrack List :

  • Jin Ho – Man Yage Uri
  • Meja – It’s Too Late
  • Keane – Nothing In My Way
  • Incubus – Dig
  • K. Will – Dropping Tears
  • Girls’ Generation – Time Machine
  • Keane – Somewhere Only We Know
  • Rihanna feat Calvin Harris – We Found Love
  • Bob Acri – Sleep Away
  • Far East Movement feat Ryan Tedder – Rockeeter
  • Kings Of Convenience – Misread, Toxic Girl
  • Snow Patrol – Run
  • Ailee – Heaven
  • Infinite – The Chaser
  • Super Junior K.R.Y – The One I Love

Part 1 : https://smtownfanfiction.wordpress.com/2012/05/16/freelance-time-machine-1/

 

~ CHAPTER 2 ~

Kwon YuRi. Akhirnya sang Nona Misterius telah terungkap siapa namanya. Namamu indah dan cantik sekali. Seperti dirimu. Wangi aroma tubuhmu, suara lembutmu, tangan halusmu, senyum manismu, semuanya. Entah sejak kapan, tetapi aku rasa aku sudah mulai kecanduan dengan segala hal tentangmu, YuRi ssi! Ada sesuatu yang berbeda dan spesial pada dirimu sejak aku pertama melihatmu sedang memandangiku lekat saat itu. Apakah kau juga merasakan hal yang sama, YuRi ssi? Itu kah alasannya mengapa kau selalu menatapku seperti itu?

 

SEOUL, 30 Agustus 1962

 

Kulayangkan pandanganku ke arah langit dari atas atap rumahku. Indah sekali. Begitu banyak bintang bertaburan dapat terlihat malam ini. Beberapa tampak bercahaya redup dan beberapa tampak berpendar – pendar sempurna. Semilir angin malam yang sejuk pun turut menerpa tubuh lelahku yang tengah bersantai sejenak, setelah kenyang dengan ‘pertarungan’ perdanaku beberapa saat yang lalu. Yah, meski luka di lengan kiriku ini masih sesekali berdenyut perih. Tetapi suasana tenang di sekitarku  sekarang malah menambah damai hatiku yang tengah larut dalam buaian bayangan indahku hari ini, bersama seorang gadis cantik nan manis. Gadis yang baru saja kutolong malam ini. Kwon YuRi namanya.

 

“Ya, YeSung ssi! Apakah ranjangmu sebegitu tidak nyamannya sampai kau harus berbaring di atas atap rumahmu sendiri?”

“KyuHyun ssi?! Apa yang kau lakukan di sini??”

“Turunlah, Hyung! Ada yang ingin kutunjukkan padamu! Ppalli!”

“Ya, jam berapa ini?? Apa JooHyun ssi sudah mengijinkanmu keluar selarut ini?! Kalian tidak sedang bertengkar, kan?!”

“Tentu saja aku sudah melakukan hal itu, tetapi hal ini sangat mendesak dan memang lebih cepat akan lebih baik untuk kusampaikan padamu. Oleh karena itu, cepatlah turun, kuberitahukan semua padamu agar aku pun bisa segera kembali pulang menemui JooHyunieku tercinta! Ara?!”

Aissh! The Evil One ini! Baru saja aku akan membayangkan kembali beberapa kejadian – kejadian yang aku alami bersama YuRi ssi. Dan kini, ia datang dan membuyarkan semuanya. Baiklah, memang aku harus lebih banyak bersabar demi kau YuRi ssi!

Kulangkahkan kakiku dengan malas memasuki sebuah rumah kecil di halaman belakang rumahku yang lumayan luas. Inilah workshop kami. Tempat di mana aku dan KyuHyun menuangkan ide gilaku. Kemudian bersama teman – teman seperjuangan kami yang lain, sedang dalam proses merealisasikannya.

“Baiklah, KyuHyun ssi. Kau sudah mendapatkan perhatian penuhku sekarang. Ada apa ini sebenarnya?” aku mempersilahkannya duduk di sebuah sofa yang ada di dalam workshop.

“Ne, Hyung. Dengarlah baik – baik, karena ini akan amat – sangat mengejutkanmu. Eomeo, jamkkanman! Ada apa dengan lengan kirimu yang berbalut perban itu?? Hyung, apa yang terjadi denganmu?? Apa kau baru saja mengalami hal yang buruk??”

Sial, rupanya KyuHyun memperhatikan lengan kiriku juga. Padahal, sedari tadi aku sudah berusaha menutupinya dengan lengan kemeja ini. “Animyeon, aku hanya tidak sengaja melukai lenganku ini ketika memangkas rumput sore tadi. Pisau pangkasnya kuayunkan terlalu kencang dan malah mengenai lenganku yang menahan tubuhku.” Elakku berusaha mengecohnya sedikit. Jelas – jelas aku baru saja pulang dari tempat SiWon dan mengalami perkelahian hebat tadi.

KyuHyun mempercayai perkataanku begitu saja. Lagi pula, sesuatu yang akan ia sampaikan padaku ini nampaknya benar – benar penting. Ia melanjutkan perkataannya, “Masih ingat dengan teori pertama yang aku ajukan dulu tapi hyungdeul malah menolak teoriku itu karena dianggap terlalu berbahaya?”

“Ne, aku ingat teori pertama itu.”

“Aku berhasil menemukan penyeimbang teori itu!”

“Mwo?? Jinjja??”

“Ne! Kemarin sepulang dari tempat SiWon ssi, setelah aku menyelesaikan makan malam dengan HyunJoo ah dan JooHyunie, JooHyunie berkata ia tidak sengaja menemukan secarik kertas aneh dari ruang bawah tanah kami saat ia sedang bersih – bersih. Aku memintanya untuk menunjukkan seperti apa kertas yang ia maksud. Ia mengira kertas itu merupakan kertas penting untukku, karena ia menemukan kertas aneh itu di atas sebuah koleksi buku – buku langka milik mendiang appaku. Setelah kulihat, memang benar, kertas itu berisi angka – angka acak yang tersusun membentuk sebuah pola. Menurutku ini semacam kode untuk mencari angka emas dibalik jutaan angka – angka yang lain. Karena setelah kuteliti dan kuhitung, muncul angka emas yang dapat dijadikan sebagai kunci dari teori pertamaku yang kalian bilang tidak masuk akal itu!”

“Bukankah teorimu itu kami anggap tidak masuk akal karena hasilnya yang tidak akan pernah ada? Dan bila kita nekat untuk mencoba merealisasikannya malah akan membuat proyek kita terlalu berbahaya, kan?”

“Ne, itu sebelum aku memasukkan angka – angka acak itu ke dalam rumusan awal inti proyek kita! Tadinya aku pikir angka – angka pada kertas itu hanyalah angka – angka iseng yang ditulis oleh HyunJoo ah, tetapi setelah kuperhatikan, tulisan tangannya bukan milik HyunJoo ah, itu milik mendiang appaku!”

“Baiklah, ini mulai terdengar menyeramkan untukku,” aku menyela saat KyuHyun masih berusaha menjelaskan sesuatu dengan mata yang berbinar dan terlewat bersemangat.

“Maksud Hyung, ada arwah mendiang appaku yang menuliskan angka – angka itu dengan sengaja? HHahahahahaha, bukan seperti itu maksudku! Aku teringat waktu itu aku suka sekali bermain tebak – tebakkan dengan mendiang appa. Kami selalu berlomba membuat semacam puzzle dari angka – angka acak yang harus kami kombinasikan satu sama lain. Angka itu dapat kami kombinasikan dengan cara dijumlahkan, dikurangi, dikalikan, dibagi, atau dipersamakan. Yang terpenting adalah, dari hasil akhir pemecahan kombinasi angka acak itu akan mucul angka lain/angka emas yang menjadi lambang untuk suatu benda.

Nah, rupanya kertas yang ditemukan JooHyunie ini adalah kertas yang belum sempat appa tunjukkan padaku untuk permainan terakhir kami. Aku iseng – iseng mencoba memecahkannya dan dari hasilnya aku menemukan tujuh angka kombinasi. Tiba – tiba saja terlintas di pikiranku untuk mencoba memasukkan angka – angka hasil pemecahanku itu ke dalam rumusan awal kita dan hasilnya dapat kugunakan untuk angka – angka yang tidak dapat kita pecahkan di teori pertamaku itu!”

“Geureom, kau berhasil memecahkan teori pertamamu itu dengan sempurna??”

“Ne! Aku berhasil, Hyung! Aku perlu Hyung untuk menguji kembali teori pertamaku ini dengan KiBum hyung dan RyeoWook hyung! Aku ingin memakai kembali teori pertamaku ini karena aku yakin sekali yang ini bisa kita gunakan sepenuhnya!”

“Ne, geureom, permasalahannya sekarang adalah kita harus menunggu. KiBum ssi dan RyeoWook ssi baru akan tiba di Seoul minggu depan dan kita juga harus menunggu anggota yang lain untuk menghadiri uji kembali teori pertamamu ini nantinya.”

“Kecuali bagi ShinDong hyung dan HeeChul hyung, kan? Karena kita tidak mungkin menunggu mereka yang baru akan kembali dua tahun lagi.”

“Ani. Tetapi nanti dari hasil kesepakatan akhir uji kembali teorimu itu akan tetap kita kirimkan kepada mereka dan kita tunggu juga persetujuan mereka apakah menyetujui penambahan teori pertamamu ini.”

“Ne, aratseumnida. Geureom YeSung hyung, aku pamit kembali pulang, ya. Tolong Hyung segera atur sisanya. Aku akan menghubungi hyungdeul semua mengenai kabar baik ini! Akhirnya! Penghargaan Nobel bisa kurasakan hampir berada di tangan kita, Hyung!”

“Ya! Baru hampir, kan?? Lebih baik kita jangan cepat menyimpulkan dulu. Ini masih terlalu dini.”

“Aissh… Hyung, aku bukannya cepat berpuas diri! Tidak ada salahnya kan, kita percaya diri?”

Aku hanya menganggukkan kepalaku singkat dan mengulas senyum ke arah adikku ini. Matanya yang masih berkilat – kilat penuh rasa bangga itu terus menatapku. Baiklah, aku tahu maksudnya.

“Ne, kau benar, KyuHyun ssi. Kerja bagus, hoobaenim! Hhhahahahaahhaa, kami semua bangga memiliki hoobae cerdas sepertimu dan KiBum ssi! Baiklah, sisanya kutangani dari sini, kau pulanglah dulu, JooHyun ssi pasti sudah cemas padamu.”

“Ah! Hyung benar, aku jadi lupa. Baiklah, aku pulang dulu, Hyung! Annyeong!”

“Ne, annyeong! Jangan mampir – mampir lagi!”

“Tidak akan!” teriaknya kali ini. KyuHyun, dalam hitungan sepuluh detik telah benar – benar hilang dari pandanganku sekarang. Benar – benar anak muda yang penuh semangat. Ralat, ayah muda yang penuh semangat.

*Yes*Yul*

 

Pagi hari yang cerah seolah mampu menyihir tubuh lelaki dengan tinggi semampai dan proporsional di sebuah ruangan untuk segera bangun dan menyambut hari. Saat bagi di mana normalnya, seorang YeSung membuka matanya di siang hari. Hari Minggu adalah jadwal rutinnya untuk benar – benar ‘mengistirahatkan’ otak dan pemikiran – pemikirannya mengenai dunia dan segala hal rumit di dalamnya.

Satu jam telah berlalu, lelaki itu kini telah siap dengan kemeja putih lengan panjang dan celana kain panjang berwarna abu – abu gelap. Meski rasa sakit pada luka di lengan kirinya masih sedikit terasa, namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya pagi ini.  Diambilnya jas tanpa lengan berwarna abu – abu yang senada dengan celananya. Setelan itu adalah setelan favoritnya. Rapih. Kesan itu yang selalu terpancar dari lelaki itu, YeSung. Dengan memakai sepatu safety andalannya – meski orang di sekitarnya selalu memandang aneh ke arah sepatunya itu – ia melangkah dengan mantap dan menyunggingkan senyum termanisnya. Seolah kebahagiaan dan dewi fortuna akan berpihak kepadanya hari ini. Bahkan, sebelum ia memulai berjalan keluar rumah tadi, sesekali diusapnya ujung sepatu safetynya itu agar tampak lebih berkilat.

YeSung nampak sangat percaya diri sekali dan bangga pada sepatu safetynya itu. Karena bagaimana pun, sepatu itu jua lah yang turut berperan dalam penyelamatan seorang gadis cantik bernama Kwon YuRi. Yang akhirnya dapat ia kenal dan berharap dapat memulai sesuatu yang ‘bahagia’ ke depannya. Beberapa penggal memori mengenai kejadian heroik kemarin malam tiba – tiba terlintas kembali di benak YeSung. Penggalan adegan ketika ia menghajar keempat penjahat semalam seorang diri dan ketika ia menenangkan YuRi yang nampak sangat ketakutan. Betapa beberapa penggalan memori seseorang dapat menjadi ‘obat’ yang sangat ampuh bagi seorang penyendiri seperti YeSung ini. Relung hatinya yang telah hampa bertahun lamanya, seketika telah dipenuhi dengan segala ‘memori semalam’ bersama seorang gadis jelita. Kwon YuRi.

 

“Eoseoseyo, selamat datang, YeSung ssi!”

“Ne, SiWon ssi, gamsahamnida.”

“Pesan seperti biasa?”

“Ah? Ne, boleh juga, gamsahamnida, SiWon ssi.”

“Menunggu KyuHyun ssi lagi?”

“Animnida. Aku hanya ingin bersantai di sini saja hari ini. KyuHyun ssi sedang ada dalam perjalanan liburannya bersama keluarga kecilnya. Itu sebabnya aku pikir dari pada aku tidak ada kegiatan, kuputuskan untuk menikmati pagiku di tempatmu ini sejenak. Sen – di – ri – an saja.”

“Hhahahahahaha – gwaenchana YeSung ssi, aku rasa kau tidak akan sendiri lagi setelah ini.”

“Ne?”

“Mau kukenalkan pada teman wanita istriku?”

“Ah, ani. Bukan itu maksudku, SiWon ssi. Aku hanya…”

“Ah… Gwaenchana – gwaenchana. Lupakan saja perkataanku tadi, YeSung ssi. Joesonghaeyo.”

“Ah, aniya.”

Meski saat ini YeSung tengah duduk di meja bar menghadap ke arah SiWon, pandangan matanya tidak fokus pada lelaki yang sedari tadi mengajaknya bercakap – cakap itu. Karena jauh di dalam hati dan benak YeSung saat ini hanyalah ingin melihat satu sosok di tempat itu. Sosok seorang gadis, Kwon YuRi, yang dari semalam selalu mengganggu pikirannya.

 

Kwon YuRi ssi, di manakah kau saat ini? Aku bisa gila bila tidak segera dapat melihatmu saat ini juga!

Kulayangkan pandanganku mengitari tempat ini sekali lagi. Benar – benar memperhatikan setiap sudutnya. Mencoba mencari – cari sosok gadis itu lagi. Gadis dengan tubuh tinggi semampai, rambut panjang hitamnya yang sepunggung, kulit putihnya yang sedikit agak lebih gelap, senyumnya yang manis, hidungnya yang mancung, serta sepasang bola mata dengan kilatan berbinar khasnya. Sempurna.

“YeSung ssi, kuperhatikan dari tadi sepertinya kau sedang mencari – cari seseorang?” suara berat SiWon tiba – tiba mengagetkanku. Aku pun hanya tersenyum singkat dan menggeleng lemah. “Ah, aratseumnida,” ucapnya lagi dengan nada agak bingung. Mungkin heran dengan sikapku yang sedari tadi mengedarkan pandanganku ke sana kemari.

 

“Hyung!”

“Ah, yeogi!”

 

Seorang lelaki yang sepertinya masih berumur sekitar 21 tahun tiba – tiba berjalan menuju ke arahku dan SiWon.

“Ah, MinHo ah, kemarilah, perkenalkan ini temanku sekaligus pelanggan tetap baruku!” panggil SiWon lagi kepada lelaki yang ternyata bernama MinHo itu. “YeSung ssi, ini sepupuku, dia baru datang di Korea karena akan melanjutkan kehidupan berkeluarganya di sini,” godanya lagi sembari tersenyum jahil pada lelaki bernama MinHo itu. Sementara yang disebut, hanya mengendikkan bahunya singkat, berpura – pura tidak mengenal SiWon.

“Hya, kau ini, awas ya nanti!”

MinHo hanya menjulurkan lidahnya singkat ke arah SiWon dan segera mengalihkan pandangannya ke arahku yang tersenyum melihat tingkah kedua orang ini. Diulurkannya tangan kanan MinHo padaku dan tersenyum manis membalas senyumanku.

“Annyeonghasimnikka, Choi MinHo imnida. Bangapseumnida.”

“Ne, Kim JongWoon imnida. Biasa dipanggil YeSung. To bangapseumnida.”

“MinHo ah, ada apa pagi – pagi begini sudah rapih seperti itu?” goda SiWon sambil menyodorkan segelas minuman ringan pada lelaki yang terlihat masih seperti anak – anak itu.

“Na? Animnida. Hanya ingin berkunjung kemari saja.”

“Geojitmal! Aku yakin kau juga sebenarnya pasti penasaran kan, dengan calon istrimu yang telah dipersiapkan oleh appaku? Hhhahahahaha… Ayolah, MinHo ah, jangan pura – pura padaku. Aku bukanlah SooYoungie yang mudah percaya pada setiap kata – katamu itu!”

“Memang tidak, Hyung! Eomma pagi ini tadi sudah bawel sekali padaku agar cepat – cepat datang kemari untuk menemui seseorang. Katanya seseorang itu adalah teman eomma.” Jawab MinHo sambil sesekali menyapukan pandangan matanya ke seluruh sudut ruangan. Kemudian ia nampak menghela nafas kasar seperti kecewa.

“Jinjja??” goda SiWon lagi dengan lirikan menyelidiknya. MinHo makin terlihat agak malu – malu untuk mengakui bahwa ia juga tengah menanti seseorang untuk ditemuinya di tempat ini.

“MinHo ssi, bersulang?” ajakku sembari mengangkat gelas minumanku ke arahnya.

Sesaat ia nampak bingung.

“Bersulang untuk apa?” tanyanya dengan raut kebingungan. Wajahnya benar – benar lucu saat itu. Mengingatkanku pada seorang anak kecil yang kebingungan bila terpisah dari ibunya di tempat keramaian.

“Bersulang karena kita sama – sama sedang menunggu seseorang di sini.” Ucapku ikut menggodanya. Kulirik SiWon yang nampak setuju sekali dengan perkataanku tadi. Ia pun tersenyum jahil penuh kemenangan ke arah MinHo karena aku juga mendukungnya untuk menggoda sepupunya itu.

“Hhahahahahahaha, YeSung hyung, bukan seperti itu…” ucapnya lagi dengan agak malu – malu. Kemudian ia angkat juga gelasnya itu. “Baiklah,” ucapnya mantap, “Bersulang untuk para gadis yang membuat kita menunggu di tempat ini, YeSung ssi!”

“TOAST!” teriak kami bersamaan dan langsung menenggak habis minuman kami masing – masing.

“Akh….” Helaku karena rasa pahit minumanku yang kini terasa begitu nikmat dan melegakan perasaanku. Aku sudah benar – benar terbiasa dan ketagihan juga pada rasa pahit minuman – minuman ini.

MinHo dan SiWon menatapku dengan pandangan heran.

“Waeyo?” tanyaku. MinHo dan SiWon hanya menggelengkan kepala dan tersenyum – senyum ke arahku. “Hya, waeyo?”

“Ani, YeSung hyung. Hyung terlihat begitu menikmati saat – saat menghabiskan minuman itu.” MinHo menunjuk gelasku yang tadinya kosong kini sudah dipenuhi lagi oleh SiWon.

“Entahlah, aku rasa aku sudah mulai mengerti dan ikut dapat menikmati, mengapa minuman – minuman ini dibuat dan selalu menjadi rujukan pertama orang – orang yang ingin melupakan sejenak masalah pelik yang tengah mereka hadapi. Karena setelah habis beberapa gelas tadi, kini aku akhirnya merasa lega. Tiba – tiba merasa lega saja, seperti aku sudah melupakannya dan telah usai. Serta… agak sedikit pusing. Hhahahahahaha… SiWon ssi, kalau aku mabuk, tolong biarkan aku menginap di sini, ya?” candaku pada SiWon. Ia hanya terus tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipitnya dan mengangguk. Seolah menurut saja pada semua yang aku katakan.

“Sepertinya kau sedang dalam masalah yang sangat berat, ya?” tanya SiWon. Aku mengangguk singkat. Entahlah, tiba – tiba saja aku merasa sedih karena tidak dapat melihat sosok cantik yang kunanti – nanti.

“Oke, Hyung! Kalau begitu aku temani hari ini!” ucap MinHo bersemangat dan ikut menenggak habis minuman ringannya.

“Apanya yang menemani?” ejek SiWon, “Yang kau minum itu ringan! Berbeda dengan kepunyaan YeSung ssi!”

“Hhahahahaahahaha… Ara – ara… Oleh karena itu aku berani menemani YeSung hyung…” jawab MinHo tersenyum polos sambil memberi tanda pada SiWon untuk mengisi gelasnya lagi.

“Payah!” seru SiWon menuangkan minuman lagi untuk MinHo. MinHo hanya terus tertawa melihat ekspresi kesal SiWon.

“Ayo, Hyungdeul, mari kita nikmati hari ini! Bersulang!” teriak MinHo lagi.

Hari itu kami habiskan untuk minum sambil bercerita – cerita mengenai kejadian buruk dalam hidup yang pernah kami alami. SiWon bercerita betapa buruknya ia dulu saat belum bertemu dan menikah dengan seorang Choi SooYoung. Ia dulu terbilang lelaki tampan yang kaya dan lumayan playboy. Hubungan yang ia jalani dengan para gadis tidak ada yang bertahan lebih dari satu bulan. Berganti – ganti terus. Hingga akhirnya ia merasa nyaman saat bertemu dengan sosok SooYoung yang ceria, baik hati, perhatian, pengertian akan kebutuhan lelaki, dan mandiri. Untuk pertama kalinya ia merasa sangat cemburu pada seorang gadis karena SooYoung termasuk orang yang supel dan mudah bergaul. Tidak hanya pada gadis namun juga lelaki. SooYoung dari dulu memang selalu memiliki banyak teman lelaki. Dan, tidak sedikit juga yang terbilang akrab padanya. BANYAK yang AKRAB dengannya. Itu sebabnya SiWon merasa sangat cemburu pada semua teman laki – laki istrinya itu. Ia pun merasa akan sangat bodoh bila sampai melepaskan seorang Choi SooYoung. Akhirnya, kini ia berubah dan bahagia karena pilihannya tidak salah. Kehidupannya benar – benar terlihat bahagia.

MinHo juga bercerita mengapa ia dulu sampai memutuskan untuk meraih gelar sarjana di luar negeri. Ternyata itu pun juga gara – gara seorang gadis yang pernah mengecewakannya. Ia telah melakukan segalanya agar gadis itu bahagia bersamanya. Tetapi yang ia dapat hanyalah pengkhianatan. Gadis itu lebih memilih bersama dengan lelaki lain. MinHo sakit hati sekali karena gadis itu adalah cinta pertamanya. Itu sebabnya ia membutuhkan waktu yang lama untuk melupakan kejadian pahit itu dengan bersekolah di luar negeri. Di Jepang tepatnya. Kini, ia masih enggan mencari kekasih lagi. Menurutnya, cinta hanya membuang waktunya. Tetapi, SiWon kemudian menggodanya. SiWon berkata bahwa MinHo memang enggan mencari kekasih lagi karena ia sedang menunggu seorang gadis cantik dan manis yang akan dijodohkan dengannya. Anak dari teman bisnis ayah SiWon. MinHo sudah melihat foto gadis itu dan langsung tertarik karena paras cantiknya. MinHo hanya tertawa malu – malu karena itu adalah ‘cinta pada pandangan pertama’ yang kedua untuknya.

“Bagaimana denganmu, Hyung?” tanya MinHo. Akhirnya tiba juga giliranku bercerita. Kutenggak  habis lagi sisa minumanku sambil menghembuskan nafas berat. Kulihat SiWon langsung mengisinya lagi. MinHo memandangku seolah benar – benar tertarik dan menanti cerita yang akan keluar dari mulutku.

“Kisahku, ya…” bisikku memulai cerita, “Kisah cintaku… tidak ada karena aku memang belum menemukan satu pun hingga kini. Semenjak kecil aku selalu belajar sambil bekerja membantu kedua orang tuaku. Perekonomian keluargaku memang tidak sulit, hanya saja bila aku juga berdiam diri, aku merasa kasihan pada kedua orang tuaku yang bekerja keras hanya demi sekolahku. Aku selalu ingin berbakti pada mereka. Oleh karena itu hari – hariku telah kuhabiskan untuk sibuk bekerja sambil bersekolah. Sepulang sekolah setelah selesai belajar dan mengerjakan tugas sekolah, aku langsung ke restoran tempat appa dan eomma bekerja. Restoran itu dulunya milik bos appa, tetapi karena bangkrut, akhirnya appa memutuskan untuk membelinya. Meski dengan mencicil tiap bulannya dari hasil yang didapat dari mengelola restoran itu.”

Kutenggak lagi minumanku. Entah mengapa, aku menjadi sedikit agak sedih mengingat perjuangan keluargaku dulu. SiWon dan MinHo menatapku dengan pandangan seolah berusaha menegarkanku agar aku dapat kembali bercerita. “Syukurlah semua itu telah berakhir sekarang. Restoran yang kami kelola susah payah dulu telah berkembang baik kini. Kami memiliki pegawai yang banyak dan bersiap membuka cabang baru lagi.”

“Dan… itukah sebabnya Hyung memutuskan tidak memiliki kekasih?” tanya MinHo agak berhati – hati.

“Ne… Sama denganmu, karena aku pikir itu hanya akan merepotkanku saja. Lagi pula, aku bingung bagaimana membagi waktuku. Dan… yah, akhirnya aku malah keasyikan sendiri hingga kini hampir akan berkepala tiga. Aku hanya sudah terlalu biasa dengan kesendirianku. Hhhahahahaha… Itu lucu, kan?” Aku mencoba menghibur diriku sendiri.

“Tidak, YeSung ssi. Yang kau lakukan itu sungguh hebat sekali. Dan sangat mulia. Aku jadi malu pada diriku sendiri karena belum bisa sepertimu yang dapat berbakti pada orang tua. Appa dan eommamu pasti bangga sekali padamu. Kau hebat, YeSung ssi!” puji SiWon padaku. Aku jadi merasa sedikit tidak enak. Aku terlihat seperti menyindirnya.

“SiWon ssi, mianhae, bukan maksudku menyindirmu begitu, aku…”

“Ani, YeSung ssi, gomawoyo, perkataanmu tadi sama sekali tidak menyinggungku atau menyindirku, aku malah bersyukur karena kau malah menyadarkanku. Aku akan lebih berusaha mendengarkan appaku mulai sekarang.”

“Ne, Hyung memang hebat! Ayo bersulang untuk YeSung hyung, semoga ia dapat segera merasakan jatuh cinta!” seru MinHo tiba – tiba sambil mengangkat gelasnya tinggi – tinggi. SiWon mengikutinya dan mereka menungguku untuk mengangkat gelasku juga.

Aku tersenyum ke arah mereka dan mengangkat gelasku akhirnya.

“TOAST!” teriak kami serempak dan meneguk isi gelas kami masing – masing.

Dan, kami terlarut dalam kesenangan kami di tengah – tengah minuman hasil racikan SiWon yang handal. Hari itu, tempat SiWon tidak terlalu ramai pengunjung seperti biasa. Bahkan hingga saat SiWon telah menutup tempatnya, hanya ada aku, MinHo, SiWon dan beberapa pegawai SiWon. Serta…

“Yeobo! Sudah kukatakan jangan minum – minum di depan JinRi ah!”

“Soo – SooYoung ah, sejak kapan ada di sini?” SiWon nampak terkejut dan buru – buru menyembunyikan gelasnya.

“Eomma, aku sudah tujuh belas tahun, kan… Mengapa Appa harus dilarang minum – minum di depanku, toh aku juga sudah boleh minum soju juga, kan?”

Rupanya SooYoung – istri SiWon, dan JinRi – anak angkat SiWon dan SooYoung, sudah datang menjemput SiWon. Tapi… ah, kurasa aku tadi melihat bayangan seorang gadis lagi di belakang mereka. Apa mungkin aku salah lihat, karena sebenarnya saat ini pandanganku sudah agak kabur dan berlipat – lipat. Semuanya terasa berputar – putar, mataku panas dan aku lelah sekali.

“Hya, JinRi ah, kata siapa kau sudah boleh minum – minum soju?” MinHo menyentil hidung mancung gadis imut itu.

“Ahjussi, jangan lakukan itu! Kau hanya akan membuat hidungku merah!” seru JinRi mencubit tangan kanan MinHo.

“Hya, JinRi ah, jangan panggil aku ‘ahjussi’ di depan orang banyak dong, kau membuat pasaranku turun!” balas MinHo sambil mencubit gemas kedua pipi tembem JinRi. Yang dicubit hanya semakin memanyunkan bibirnya. Mereka semua pun tertawa. Kecuali aku yang semakin merasa terganggu dengan gejala – gejala aneh ini.

“Ah… Baiklah. Sudah larut ma…lam, aku akan pulang saja! Pa – pasti rumahku sudah gelap sekarang, karena… aku kan belum pulang dan menyalakan lampu – lampunya! Hhaha… ha – ha – ha – ha…!” racauku memecah suara tawa mereka. Sepertinya sekarang aku sangat pusing dan mabuk berat. Berarti hari ini aku benar – benar terlalu banyak minum.

“YeSung sunbae, kau tidak apa – apa? Apa perlu diantar salah satu pegawai kami?” tawar SooYoung padaku. Aku jadi merasa tidak enak.

“Ne, YeSung ssi, anak buahku bisa mengantarmu kalau kau mau,” tambah SiWon lagi. Kulihat ia mengkhawatirkan keadaanku saat ini.

“Gamsahamnida, SooYoung – SiWon ssi, aku baik – baik saja. A… Aku bisa pulang sendiri! Bukan – bukankah jarak rumahku dan tempat ini tidak terlalu jauh? A.. Aku bisa sendiri, gwaenchana…”

“Hyung, kau terlihat mabuk berat, atau aku saja yang mengantarmu, eotte?” Kini MinHo juga menunjukkan wajah cemasnya padaku. Sungguh, aku malah jadi ingin cepat – cepat pulang saja.

“G – gwaenchana – gwaenchana, aku bisa pulang sendiri…” ucapku sembari mulai bangkit, namun tubuhku tidak juga mau menyeimbangkan diri, alhasil, aku jadi terlihat sempoyongan, tidak bisa berdiri dengan tegap, dan seperti akan jatuh saja.

“Ahjussi, hati – hati!” seru JinRi menarik lengan kiriku dengan cepat. Menahan tubuhku yang akan ambruk ke meja bar.

“N – ne, JinRi ah, gomawo… Hha – ha – ha… Baiklah, semuanya, aku pamit dulu… SiWon ssi, SooYoung ssi, MinHo ssi, dan… JinRi ah, ya JinRi ah – hhahahaha – gamsahamnida, annyeonghigyesibsiyo!” ucapku seperti orang bodoh. Kuseimbangkan lagi tubuh dan kepalaku dengan susah payah. Akhirnya aku bisa dan mulai melangkahkan kedua kakiku yang terasa berat. Kulirik mereka semua yang kini terlihat semakin mencemaskanku namun tidak berani melanggar perkataanku yang melarang mereka membantuku.

Kusunggingkan senyum ke arah mereka untuk menenangkan dan menyiratkan bahwa aku baik – baik saja. Aku mampu pulang sendiri. Mereka semua kemudian membalas senyumku dan mengangguk.

“Berhati – hatilah, YeSung ssi!” seru SiWon di kejauhan saat aku telah berjalan mencapai pintu. Aku mengangguk lagi dan melanjutkan langkahku yang agak terseret karena aku berusaha menjaga keseimbangan tubuhku.

Aku mulai berjalan pelan – pelan karena takut tiba – tiba ambruk di jalan. Sesekali aku merapatkan tubuhku bersandar sejenak di lampu jalan dan dinding – dinding rumah sepanjang perjalanan pulang. Sekedar untuk menahan pusing dan pandanganku yang berputar – putar. Konsentrasi dan tenagaku benar – benar terkuras habis saat ini.

Kau lihat dan rasakan sendiri kan, Kim JongWoon? Inilah yang kau dapat bila terlalu banyak menghabiskan minuman – minuman itu! Ingat, kau itu bukan Cho KyuHyun ssi sang peminum handal itu!, kesalku dalam hati.

Tanpa terasa kakiku telah melangkah maju lagi di luar kendaliku, mungkin karena aku dalam pengaruh alkohol, tubuhku ini seakan bergerak sendiri tanpa komando karena aku tidak sadar sepenuhnya. Dengan berjalan meraba – raba dinding sebuah rumah, kupejamkan lagi mataku karena terasa panas dan berat untuk dibuka. Akhirnya, aku malah berjalan sambil menutup mata dan hanya mengandalkan rabaan kedua tanganku pada dinding sepanjang jalan.

Bila kupejamkan mataku, perasaan berputar – putar itu menghilang, hanya pusingnya saja yang tetap ada. Tanpa kusadari, aku meraba udara karena dinding – dinding sepanjang jalan itu telah berakhir di ujung jalan. Normalnya, aku seharusnya menyebrangi sebuah pertigaan kecil sebelum mencapai blok rumahku. Karena aku sedang mabuk berat, akhirnya aku malah terus berjalan terseok karena meraba udara dan hilang keseimbangan.

BRUK!

Aku terjatuh cukup keras menghantam jalan. Tubuhku yang berat karena hilang keseimbangan, tergeletak di pinggir jalan begitu saja. Aku berusaha bangkit, tetapi tubuh dan kepalaku terasa berat sekali. Tiba – tiba kurasakan tanah di sekitarku bergetar dan sayup – sayup terdengar suara mobil berderu ke arahku. Dengan sedikit kesadaran yang ada, kukerahkan tenaga terakhirku dan perlahan bangkit merangkak maju untuk mencapai sisi seberang jalan. Jalanan malam itu cukup gelap, karena penerangan yang memang tidak seberapa.

Kurasakan adanya berkas sinar menerpa wajahku. Silau. Sepertinya itu berasal dari mobil yang akan melintasiku. Aku rasa tubuhku masih berada di tengah jalan.

“Eomeo! Aku akan mati tertabrak!” seruku ketika kesadaranku perlahan kembali. Otakku berkata aku harus segera bangkit dan beranjak menjauh dari situ.

Terlambat! Aku sudah tidak akan sempat lagi. Aku hanya tertegun menanti benda bermesin itu terus melaju ke arahku. Aku menutup mataku. Satu… dua… tiga!

Hening. Gelap. Kenapa semua tiba – tiba gelap dan hening? Ah, ya. Aku tadi masih menutup mataku rapat, kan? Dan, aku rasa pasti karena aku telah mati saat ini. Ke mana malaikat penjemput nyawa itu? Kenapa belum juga menghampiriku?

“Oppa!”

Seperti suara yang aku kenal. Suara lembut itu…

“Oppa, gwaenchanayo? Eotteokhaeyo?”

“Agassi, igeo namja gwaenchana? Hya, mianhamnida, Agassi! Jeon jinjja mollayo, eotteokhaeyo?” (Nona, laki – laki itu tidak apa – apa kan? Maafkan aku, Nona! Aku benar – benar tidak tahu, bagaimana ini?)

“Ne, Ahjussi, gwaenchana. Sepertinya hanya pingsan saja. Bisa bantu aku membawa dia ke tepi?”

Sebenarnya apa yang terjadi? Suara – suara ribut itu terus menggema di sekitarku. Apa aku belum mati? Hei, tubuhku terasa diangkat dan melayang – layang di udara. Apa yang salah denganku?

“Oppa, jebal, ireona! Buka matamu, YeSung Oppa! Jebal, ireonbwayo! Oppa… Kau belum mati, kan? Oppa… Oppa!”

Igeo… Yeppeon yeoja indeyo?(Itu… Bukankah itu si Gadis Cantik?) Kwon… Kwon YuRi ssi? Aku belum mati?

. . . . . . . . . . . . .

YeSung membuka matanya dengan perlahan. Mungkin karena masih terasa berat. Ia pun kini tersadar dari pingsannya. Beberapa kali ia mengerjap – ngerjapkan matanya. Mencoba beradaptasi dengan sinar yang masuk ke matanya setelah kurang lebih satu setengah jam yang lalu, ia hanya dapat melihat kegelapan karena pingsan. Terlihat sosok yang paling ia rindukan akhir – akhir ini di hadapannya. Paras cantik gadis itu terlihat tidak berkurang sama sekali. Hanya saja ekspresi yang terpancar dari raut wajah dan tatapan matanya adalah kekhawatiran dan ketakutan.

“Oppa, gwaenchanayo?”

. . . . . . . . . . . . . . .

“Oppa, gwaenchanayo? Oppa tidak ingat siapa aku?” gadis cantik di hadapan YeSung itu mengerjapkan kedua matanya. Ia bingung. Ia mengira YeSung mungkin masih belum tersadar sepenuhnya. “Oppa? Kim JongWoon ssi? YeSung ssi, anitji?”

“Ah, ye!” jawab YeSung akhirnya setelah beberapa ingatannya benar – benar kembali sedikit demi sedikit. Ia ingat ia sedang dalam perjalanan pulang dari tempat SiWon dan dalam keadaan mabuk berat. “YuRi ssi, bagaimana kau bisa di sini? A – apa yang terjadi?” YeSung memegang kepalanya yang terasa amat pusing dan pandangannya kembali berputar – putar. Efek mabuk berat YeSung kembali lagi.

“Menurut orang – orang, Oppa tadi hampir saja tertabrak mobil karena jatuh tersungkur dengan tiba – tiba ke tengah jalan. Oppa lupa? Apa Oppa sakit?” Tangan kanan YuRi menyentuh kening YeSung. Memeriksa apakah suhu tubuh YeSung panas atau tidak.

“A – ani, YuRi ah, ah – mian – ssi, ah – ani, YuRi ssi!” ucap YeSung dengan terbata. Tiba – tiba ia merasa aneh saat tangan halus gadis cantik bernama YuRi itu menyentuh keningnya. Seperti ada sengatan listrik halus menyenangkan yang menyentuh permukaan kulitnya. Menyebabkan sedikit ‘korsleting’ pada otak dan syaraf – syarafnya, hingga akhirnya ia sampai beberapa kali salah menyebut panggilan kepada gadis cantik itu. Mungkin karena gugup mendapati dirinya telah berada di rumah gadis yang paling ingin ditemuinya hari ini.

Tenang, JongWoon… Tenangkan dirimu… Aissh, jangan sampai kau terlihat bodoh di hadapannya! Aku dan mulutku ini, mengapa terkadang tidak mau kompak??

“Oppa, Oppa boleh memanggilku ‘YuRi ah’ bila Oppa mau… Aku rasa itu terdengar lebih baik dan… akrab?” ucap YuRi seakan membaca pikiran YeSung. Rupanya ia pun ingin dapat lebih akrab dengan lelaki tampan yang telah lebih dulu menyelamatkan nyawanya kemarin. “Lagi pula, bukankah aku juga sudah diijinkan memanggilmu dengan panggilan ‘Oppa’? Mengapa aku harus keberatan bila Oppa juga ingin tidak terlalu formal padaku?”

“Ne. Gomawo. YuRi ssi, ah – ani, YuRi ah. Nan gwaenchana. Hajiman, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku bisa ada di sini? Maukah kau menjelaskannya sekali lagi padaku?” ucap YeSung. Dari suaranya tersirat sedikit keraguan. Mungkin ragu akan ingatannya sendiri.

Mengapa tiba – tiba aku sudah berada di rumah seorang Kwon YuRi lagi?? Aissh… Kim JongWoon, yang benar saja! Jangan sampai YuRi ah mengetahui kejadian yang sebenarnya! Pabo sekali aku!

“Yeogi… ini di rumahku. Orang yang hampir akan menabrak Oppa memintaku untuk ikut dengannya mengantar Oppa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Sekaligus sebagai bukti bahwa ia telah bertanggung jawab pada Oppa. Aku pun menjelaskan padanya bahwa aku memang mengenal Oppa, jadi setelah serangkaian pemeriksaan oleh pihak rumah sakit selesai dan Oppa dinyatakan baik – baik saja, aku yang memintanya untuk membawa Oppa ke rumahku ini. Karena menurut dokter, Oppa hanya pingsan biasa. Tidak ada luka sama sekali dan… aku pun sedikit mencium bau alkohol. Oppa sepertinya tadi mabuk berat, ya?”

Oh, bagus sekali, Kim JongWoon! Hilang sudah reputasi baikmu sebagai pahlawan Nona Cantik ini!

YeSung menundukkan kepalanya. Gadis ini benar sekali. Ia tidak dapat mengelak lagi. Dengan agak malu – malu YeSung mengangguk dan tersenyum ke arah YuRi, gadis yang telah menolongnya hari ini. YeSung mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan di mana ia dan YuRi berada kini. Mencoba merekam segalanya yang ada di ruangan itu ke dalam memori otaknya.

“Ini di ruang keluarga rumahku, Oppa. Oppa masih ingat, kan? Bukankah kemarin malam Oppa baru dari sini?” ucap YuRi yang menyadari gerakan bola mata YeSung tidak henti – hentinya diedarkan ke setiap sudut ruang di rumahnya. Seperti mencoba mengingat – ingat sesuatu.

“Ah, ye…” YeSung mencoba mengingat memori yang ‘itu’. Diselaminya kembali berkas – berkas ingatannya yang baru saja terjadi kemarin. Namun, tiba – tiba ia teringat sesuatu, “Geunde, YuRi ah. Bagaimana kau bisa terlibat?”

“Ne?” YuRi nampak terkejut dengan pertanyaan YeSung.

“Bagaimana kau bisa berada di sana saat kejadian itu? Apakah… kau juga… baru saja dari tempat SiWon ssi?”

YuRi terdiam. Ia nampak gelisah. YeSung merasa ada sesuatu yang harus ia ketahui.

“A… Aku kebetulan sedang dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan beberapa urusan.” YuRi memulai penjelasannya, “Tempatnya memang tidak jauh dari tempat SiWon ssi. Dan… jalan pulang terdekat menuju rumah ada di ujung jalan beberapa blok dari tempat SiWon ssi. Dalam perjalanan ke sana, aku melihat kerumunan beberapa orang yang ramai membicarakan sesuatu. Aku tertarik mendekat dan ternyata itu adalah Oppa yang sudah tergeletak pingsan di jalan. Begitu, Oppa…”

YeSung terseyum. Meski ia merasa agak sedikit kecewa karena jawaban YuRi yang tidak sesuai harapannya, tetap saja ia berusaha untuk tersenyum manis pada gadis cantik di hadapannya ini. “Ah, ye… Geureom… Joesonghamnida, YuRi ah, aku jadi banyak merepotkanmu malam ini. Aku… Aku berterima kasih sekali karena kau sudah mau repot – repot menolongku hari ini.”

“Aniya, Oppa. Bukankah Oppa juga telah menyelamatkanku kemarin malam? Aku rasa ini adalah takdir karena aku tidak memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat membalas budi baik Oppa. Tidakkah Oppa juga merasakannya?” jawab YuRi sembari membalas senyuman manis YeSung yang duduk di hadapannya.

DEG!

Eomeona, Nona Cantik ini mulai membawa – bawa nama takdir! Tuhan… bila Engkau mengijinkan, aku sama sekali tidak keberatan bila harus bertakdir dengannya!

“Oppa? YeSung Oppa?” ucap YuRi sembari menjentikkan jarinya di hadapan YeSung.

“Ah, ne!” seru YeSung yang tersadar dari lamunan sesaatnya.

“Oppa gwaenchanayo?” tanya YuRi nampak khawatir.

“Ne, jinjja, gwaenchanayo – hha – hha – hha…” jawab YeSung kikuk.

“Apa Oppa masih pusing?”

“Aniya.”

“Apa perlu aku bawakan obat atau sesuatu untuk meringankan efek mabuk itu?”

“Mwo?”

“Joesonghaeyo, aku pikir Oppa masih sedikit dalam pengaruh alkohol…”

“Jinjjayo? Jeon?”

“Ne, jelas sekali.”

YeSung menunduk malu. Percuma saja. Benar – benar tidak ada gunanya. YuRi terlanjur mengingat betul bahwa pahlawannya, YeSung, malam ini hampir saja mengalami kecelakaan dikarenakan mabuk berat alkohol.

“Tunggulah di sini, sepertinya appa menyimpan beberapa aspirin untuk meredakan rasa pusingnya. Aku akan segera kembali.” Ucap YuRi singkat dan langsung beranjak meninggalkan YeSung.

YeSung tersenyum dan mengangguk lemah. Dalam hitungan detik, bayangan tubuh YuRi telah benar – benar raib dari pandangannya. Kini, tinggal YeSung sendiri di ruangan itu. Ia bangkit dari sofa ruangan itu dan mulai berjalan perlahan ke arah sebuah piano klasik di salah satu sudutnya. Entah mengapa, tiba – tiba saja ia ingin memainkan alat musik klasik itu.

“Bukankah sudah lama sekali ‘kau’ tidak menari di atas tuts – tuts piano itu?” gumam YeSung pada kedua tangannya. Direnggangkannya kesepuluh jari – jemarinya itu, hingga menimbulkan beberapa bunyi pada ruas sendi – sendinya. YeSung nampak sangat bersemangat. Ia segera membuka penutup tuts piano, merapatkan duduknya, melebarkan kedua lengannya dan…

TING!

Denting tuts piano pertama pada nada tingginya. Sekedar percobaan sederhana untuk mengetahui adakah senar pada tuts yang perlu disetem ulang.

TING!

TING!

TING!

YeSung nampak puas dengan suara nada yang dihasilkan piano klasik itu. Sama sekali tidak ada nada tuts yang sumbang atau senar yang kendor. Itu artinya piano siap digunakan tanpa perlu menyetem ulang lagi

“Okay, are you ready ‘the fingers’? Let’s play!”

YeSung memainkan nada dasar untuk melemaskan jari – jemarinya kembali. Perlahan, sedikit kenangan lalunya saat ia mendalami alat musik piano di masa sekolah menengah kembali muncul.

 

 

“Ne, itu benar, JongWoon ah.Naikkan lagi nadanya sedikit dan tambah temponya lebih cepat.”

. . . . . . . . . . . . . .

“Daebak, JongWoon ah! Kini, lagu cinta ciptaanmu benar – benar sempurna dan telah siap dipertunjukkan di hadapan orang banyak saat acara pertunjukan bakat tahunan sekolah!”

“Hhahahahaha, ne… Gomawo,YunHo sunbae. Ini juga berkat bantuan Sunbae ssi. Lagu cinta ini jadi lebih terasa hidup.”

“Aniya, JongWoon ah, untuk menciptakan lagu cinta, kau tidak harus pernah mengalaminya sendiri. Cinta itu sesuatu yang universal sekaligus dapat menjadi kompleks. Yang penting adalah pesan emosi yang ingin kau sampaikan di dalam lagu itu.”

“Hajiman, YunHo sunbae, dengan kita mengalaminya sendiri, bukankah kesan emosi dalam yang terkandung di dalam lagu itu akan dapat lebih terpancar?”

“Ne, itu memang benar. Tetapi jangan lupa, setiap manusia memiliki kepekaan emosi yang berbeda – beda. Ada yang hanya dengan mendengarkan nada intro lagu saja, ia sudah dapat merasakan pesan emosi yang terkandung di dalamnya. Ada yang harus dengan mendengarkan berulang – ulang keseluruhan nada pada lagu, baru dapat memahami pesan emosi yang tersirat di dalamnya. Bahkan, ada juga pendengar maupun penikmat musik yang dapat membaca keseluruhan pesan emosi secara tepat di dalam suatu lagu dengan memahami setiap liriknya, JongWoon ah!”

“Aah… Geureotseoyo…”

“Ne, kuncinya adalah, nada yang tepat, lirik yang bagus dan whole packaging lagu saat kau membawakannya di hadapan orang banyak! Arasseo?”

“Ne, gomawo, Sunbae ssi! Geureomyeon, jeongmal neomu gamsahamnida untuk semua pelajaran dan bantuan YunHo sunbae selama ini. Ah ya, neomu gamsahae untuk berbagi pengalaman cinta Sunbae ssi padaku. Dengan mendengar cerita pengalaman cinta Sunbae ssi, aku jadi semakin terinspirasi untuk lebih menghayati lagu cinta ini. Agar pendengar dapat dengan mudah segera memahami pesan emosi yang terkandung di dalamnya, anitji?”

“Ne, geureotji! Oke JongWoon ah, phaiting!”

“Ne, phaiting!”

 

 

Benar. Lagu cinta ciptaanku sendiri yang pertama. Dengan bantuan YunHo sunbae, senior terbaikku semasa sekolah menengah. Sudah lama sekali aku tidak memainkannya. Baiklah, dalam rangka mengenang persahabatan indah kami semasa sekolah, aku akan memainkan lagu ciptaan kita itu untukmu, YunHo! Semoga kau dapat merasakannya juga, bahwa aku tidak akan pernah melupakan budi baikmu, Kakak Seniorku. Baiklah, kalau tidak salah kunci nadanya berada di C. Satu… dua… tiga…

“Eonjebuteo yeohtneunji ijeosseoyo” (Aku tidak ingat kapan bermulanya)

“Naega wae ireoneunji nan moreujyo” (Aku tidak tahu mengapa aku bisa begini)

“Harun gilgiman hago ddeut-I eobneunde” (Sehari terasa begitu lama dan tanpa akhir)

“Eotteokhae tto achimi oneun geonji” (Masihkah hari esok ‘kan datang?)

“Nan moreujyo” (Aku tidak tahu)

“Eojjeol suga eobseoyo amugeotdo mothago” (Aku tidak dapat berbuat apa – apa, tidak ada yang dapat kulakukan)

“I deodin shiganeul jikyeobwahtjyo” (Kulihat waktu yang berdetak dengan lambat)

“Eodi-e ihtneunji mu-eoseul haneunji” (Di manakah dirimu? Sedang apakah dirimu?)

“Ojikhan saram maneul saenggakhago ihtgi-e” (Karena hanya seseoranglah yang selalu kupikirkan)

“Irae seoneun andoeneungeol nan arayo” (Aku tahu tidak seharusnya aku seperti ini)

“Saranghalsu eobdaneungeol algo ihtjyo” (Aku tahu aku tidak boleh mencintaimu)

“Naye seotun gobaeki geudaereuldeo apeugehal ppuniraneungeol nan arayo algo ihtjyo” (Pengakuanku ‘kan membuatmu lebih menderita, aku memahami hal itu)

“Geureon jeul almyeon seodo (almyeon seodo) eojjeol suga eobneyo (eobseoyo)” (Meskipun aku mengetahuinya, tak ada yang dapat kuperbuat lagi)

“Geujeo geumoseubman ddeo-oreujyo” (Aku hanya dapat memikirkanmu)

“Do nuneul gamado dashi nuneul deodo” (Meski kupejamkan dan kubuka lagi kedua mataku ini)

“Ojikhan saram maneul saenggakhago ihtgi-e” (Aku hanya dapat memikirkan seseorang saja)

“Hansun gando jieolsu eobneun geumoseubeul (nan oneuldo eonjerado)” (Kenangan yang takkan dapat kuhapus sedetik pun)

“Nan geujeo geudaemaneul” (Hanya dapat memikirkanmu)

“Saenggakhajyo” (Memikirkanmu)

“Eojjeol suga eobseoyo amugeotdo mothago” (Aku tidak dapat berbuat apa – apa, tidak ada yang dapat kulakukan)

“ I deodin shiganeul shikyeobojyo” (Kulihat waktu yang berdetak lambat)

“Eodi-e ihtdeunji mu-eoseul hadeunji” (Di manakah dirimu? Sedang apa dirimu?)

“Ojikhan saram maneul saranghago ihtgi-e” (Karena hanya seseoranglah yang selalu kupikirkan)

“Ojikhan saram maneul nan saenggakhago ihtjyo” (Hanya seseorang itulah yang kupikirkan)

{Super Junior K.R.Y – The One I Love}

 

“Oppa?”

Permainanku terhenti. Aku segera mencari sumber suara.

“Oppa bisa memainkan piano dan bernyanyi?”

Rupanya YuRi telah berdiri agak jauh di samping kananku. Entah sejak kapan. Kedua matanya menatapku dengan binar yang tidak dapat kujelaskan.

“Ah, YuRi ah… Se – sejak kapan kau ada di situ?” tanyaku gugup. Entah mengapa, setiap menatap kedua matanya yang berbinar seperti itu, jantungku selalu berdebar tidak menentu dan desiran lembut di aliran darahku seperti waktu itu, muncul kembali berulang – ulang. Seakan sewaktu – waktu dapat meledak tanpa diperintah.

“Dari awal Oppa memainkan piano itu.” Ucapnya dengan lembut. Perlahan ia mulai mendekat ke arahku.

Hya, YuRi ah! Jebal, jangan berdiri terlalu dekat denganku! Jangan sampai debaran jantungku yang aneh dan keras ini mengagetkanmu!! Eomeo, kurasa sebentar lagi jantungku akan meledak dan sekujur tubuhku sudah mulai melemas! Apa – apaan ini?! Mengapa aku menjadi selemah ini?!

“Jeongmalyo? Ah, geureom, mianhaeyo, pasti permainan dan nyanyianku ini jelek sekali ya, sampai kau merasa agak terganggu. YuRi ah, mianhae – mianhaeyo, aku telah lancang memainkan piano klasikmu ini…” ucapku seperti robot rusak yang terus berbicara tanpa jeda.

PABOYA KIM JONG WOON!!

“Mwoya?? Anieyo, Oppa. Anindeyo, sebenarnya, aku malah menyukai permainan dan nyanyian Oppa tadi. Itu benar – benar indah dan membuatku merinding. Lagu itu terkesan dalam sekali…”

“Itji??”

“Ne! Aku jadi semakin kagum pada Oppa!” ucap YuRi sembari tersenyum manis padaku. Menambah paras cantiknya yang semakin menawan dan sulit untuk dilupakan begitu saja.

Baiklah, ini dia. Satu… Dua… Ti… Ah… Kurasakan lagi jutaan kupu – kupu kembali terbang melayang dari dalam perutku. Desiran angin lembut di dalam darahku semakin menggila dan debaran jantungku… aku bahkan tidak yakin apakah aku masih memiliki debaran jantung. Karena, aku merasa jantungku itu sudah ikut melompat keluar bersama jutaan kupu – kupu yang melayang keluar dari dalam perutku tadi. Astaga..!!! Aku bisa gila karena sensasi aneh ini!! Dan ini semua hanya berasal dari beberapa kata yang keluar dari mulutnya kemudian diakhiri dengan senyum cantiknya itu!

Where am I now?? I’m feeling like flying in the air. My body, my soul… just wander around somewhere!! Somebody please help me find my soul back to my body…!!! (Di manakah aku berada kini?? Aku seperti melayang di udara. Tubuhku, jiwaku… berkeliaran entah kemana! Siapa saja tolong temukan jiwaku dan bawa kembali ke tubuhku…!!!)

 

*To*Be*Continued*

 

 

 


12 thoughts on “[Freelance] Time Machine #2

  1. huwaa YulSung….crittanya so sweet banget….
    thor daebakkkk…..daebak…..gaya bahasanya bagus banget. mpe bingung hrus comment pa?.

    pokoknya kelanjutaannya hars lbh daebakkk lagi.

    Like

  2. kyaaaaaa kata-katanya bagus banget …
    feelnya dapet .. apalagi waktu jantung berdebar-debar …
    kyaaaa jantung aku ikutan berdebar bacanya ><
    Thor , cepetan lanjut ya …😀
    udah gak sabar nunggu Yulsung dipart selanjutnya😀

    Like

  3. horeeee yulsung
    wow yesung oppa keren
    ceritanya so sweet n bahasanya bgs banget
    kesan ceritanya mendalam
    pokoknya q gak bsa berkata apa” lagi
    DAEBAKKK bgt untuk author

    ok author lanjjuuttttttt
    updatesoon y

    Like

  4. part duaaaa, akhirnya muncul juga, yesyul yesyul !!😀, ga sabar pengen cepet2 part selanjutnya, author daebak, ceritanya bgus bgt, pokoknya keren deh🙂

    Like

  5. wahh yesung suka banget tuh ma yul.
    cepet dilanjut yya thor?
    penasaran inti ceritanya kayak apa.
    apa hubungannya ma title nya ?
    apa ada hubungannya dgn proyeknya yesung?
    apa minho namja yg akan di jodohkan ma yuri unnie?
    penasaran.
    lanjuut.

    Like

  6. wow ceritanya unik! pake latar tahun 1960-an segala…
    Hahaha Yesung mulai cinta sama Yuri nih, apa Yuri akan membalasnya? Entahlah, aku kok rasa calon istri Minho itu Nona Cantik-nya Yesung._.
    Eh ya, aku penasaran banget sama proyek Yesung sama teman-temannya itu. Mesin waktu ya? Huwa makin penasaran deh!!!
    Ditunggu part selanjutnyaaaa.

    Like

  7. kpan eon part 3 ny dah nunggu ..
    Pokokny dr awl smpai skrng daebakkk superr ..
    Lnjut
    ALWAYS SUPPORT YULSUNG !!!
    YEYUL JJANG ..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s