[Freelance] Blizzard of Love 1/2


Title : Blizzard of Love (1/2)

Cast: Kim Jongwoon, Kwon Yuri, Jessica Jung, Kim Taeyeon, and Park Jungsoo.

Genre: Romance, Friendship, and Family.

Author: Carrie Kim

Disclaimer: Semua alur/plot yang terdapat dalam fanfiksi adalah murni dari hasil imajinasi saya semata. Mungkin ada kesamaan tempat yang dapat dimaklumi, namun sebelumnya saya sudah mempublish terlebih dahulu fanfiksi ini di blog pribadi saya.

Kim Jongwoon belong to himself as Super Junior member, and Jessica/Yuri belong to herself as Super Generation member.

▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬

Pernikahan bukanlah terletak dengan aspek usia ketika kau menikah,

Tapi merupakan aspek bagaimana kau menemukan seseorang yang tepat

untukmu.

▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬

10 Desember 2008

Saat itu Seoul sudah mulai diselimuti oleh salju, musim dingin telah tiba. Namun syukurlah, musim dingin tahun ini tidak separah tahun lalu dengan badai dan hujan salju setiap harinya. Atau mungkin belum saatnya. Pukul 6 lewat 15 menit, Kwon Yuri mengecek jam digital melalui ponselnya dan menggosokkan tangannya memberikan sedikit kehangatan. Berdiri sudah hampir setengah jam di halte tidak jauh dari kantornya memang—dan tentu saja tidak menjamin kehangatan di musim dingin seperti ini.

Hari sudah hampir menjelang malam, sementara salju perlahan  jatuh dengan lembut ke bumi. Sesekali Yuri mengedarkan pandangannya mengharap sosok yang kini tengah ia tunggu segera tiba. Gadis itu merapatkan jaketnya dan mengetuk-ngetuk kakinya, hingga tiba-tiba seseorang mengejutkannya dari belakang membuatnya refleks berteriak kencang—tentu saja membuat sedikit perhatian dari orang-orang yang tengah berada di halte.

“ Jongwoon!” pekiknya menarik napas lega.

Seorang pria berpakaian jas resmi hitam dengan rambut berantakan tersenyum lebar membuat matanya terlihat sipit. Yuri menghembuskan napas dan menyentil kening pria itu dengan gemas.

“ Membuatku terkejut sekaligus takut! Mengapa lama sekali, sih?” keluh gadis itu.

Pria itu tersenyum lembut,” Maaf. Pertemuan tadi sedikit molor, hingga selesai lebih dari waktu yang seharusnya. Kau kedinginan?”

“ Pertanyaan bodoh! Tentu saja aku kedinginan, ayo pulang!” Yuri menarik lengan pria itu bersamanya dan berjalan menuju mobil yang diparkirkan tak jauh dari halte. Pria itu tersenyum dan beralih melepas tangan Yuri lalu merangkulnya.

“ Kwon Yuri jelek.” Bisiknya seraya menahan tawa. Yuri mengangkat wajahnya menatap pria yang lebih tinggi darinya dengan tajam. Namun tak lama pria itu mengecup keningnya dengan lembut. Memberikan sensasi tersendiri bagi Yuri dan rasanya menyenangkan.

“ Kim Jongwoon bodoh.” ucap Yuri pelan seraya memasangkan seatbelt begitu keduanya sudah berada dalam mobil milik Jongwoon yang hangat.

Pria itu menoleh ke arah Yuri sembari tersenyum masam dan kemudian menyalakan mobil. Seraya pura-pura tidak menyadari Jongwoon melihatnya, gadis itu mengalihkan perhatiannya ke arah jendela kaca, seperti kurang kerjaan ia menghitung berapa banyak salju yang turun sejauh yang bisa ia hitung.

Yuri menoleh kepalanya perlahan seraya menggigit bibir bawahnya ke sosok di sampingnya yang sedang menyetir tanpa suara seperti biasanya—berusaha fokus menyetir. Yuri tersenyum tanpa sempat pria itu melihatnya. Bibir Jongwoon sesekali mengerucut sebal ketika ada pengemudi yang nakal menyalip di depannya, atau tersenyum bahkan sesekali menganggukkan kepalanya ataupun bergumam sendiri membaca iklan-iklan yang selintas terlewat.

Kim Jongwoon.

Berusia dua puluh tujuh tahun. Bekerja sebagai direktur sebuah perusahaan konstruksi milik orangtuanya. Kariernya cemerlang begitu cepat karena kemampuannya dalam bisnis, ataupun teknik arsitektur yang menjadi andalannya. Pria yang menjadi idaman semua orang karena sikapnya yang sudah ditebak, membuat para wanita begitu penasaran untuk mendekatinya. Seumur hidupnya, Jongwoon hanya dua kali menjalani pacaran.

Sebuah rekor yang patutkah untuk di apresiasi? Mengingat biasanya pria tampan, kaya, dan memiliki segalanya terkenal akan kelihaiannya dalam mencari perhatian wanita, dan tak jarang mereka berganti pasangan sesuka hati, atau sebut saja istilah kerennya; playboy. Dua kali menjalani cinta. Pertama, dengan seorang gadis blasteran yang kini berada di luar negeri mengejar mimpinya sebagai pelukis. Kedua? Tentu saja, Kwon Yuri!

Sudah tiga tahun keduanya menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Jangan ditanya sudah berapa kali keduanya bertengkar, ataupun berselisih. Yuri yang pencemburu dan cerewet sementara sifat Jongwoon yang santai dan berbicara sekedarnya—hanya berbicara jika memang ada sesuatu yang ia harus katakan.

Yuri tersenyum pelan seraya menatap lekukan wajah yang membentuk sosok yang sangat ia cintai meski terkadang ia sebal setengah mati karena sifatnya itu. Dan Yuri menyukai semua yang ada di dalam diri Jongwoon. Suaranya, bibirnya, dan semua yang Jongwoon miliki kecuali sifat menyebalkannya.

“ Menatapku terlalu lama bisa membuatmu mati lemas perlahan-lahan karena ketampananku. Kau ingin mati seperti itu?” seloroh Jongwoon menoleh ke Yuri sekilas kemudian berkonsentrasi kembali.

Yuri mendesis. Rasanya ia ingin mengunci erat-erat mulut pria itu atau mengkarantinanya agar berbicara dengan bahasa yang lebih nyaman didengarkan.

“ Kalau aku mati hah, kau bisa bertahan tanpaku?” goda Yuri. Jongwoon tertawa.

“ Tentu saja. Dengan mudah aku akan mencari wanita lain, dan ah mungkin lebih cantik darimu, lebih pintar, lebih seksi dan terutama tidak pencemburu sepertimu.” Yuri mencengkeram tangannya keras, sebal dengan perkataan Jongwoon barusan.

Ia menatap pria itu dengan tajam, dan dengan liciknya Jongwoon berpura-pura berkonsentrasi menyetir. Meski ia sangat tidak nyaman ditatap Yuri seperti itu. Yuri mengembungkan kedua pipinya seraya melipat kedua lengannya di dada, dan menatap jalanan dengan kosong.

“ Tidak mungkin. Sangat tidak mungkin.” ucapnya pelan.

Jongwoon menoleh dan menghela napas. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadisnya. Gadis itu menatap jendela mobil di sampingya dengan kosong. Jongwoon melepas tangan kirinya dari kemudi, mengangkat tangannya pelan namun diurungkannya lalu kembali mencengkeram kemudi begitu kencang. Rasanya barusan ia hanya bercanda, tak lebih dari apapun itu selain bercanda. Namun kini ia menyadari, mengapa rasanya begitu menyakitkan begitu kalimat tadi terucap? Dengan pelan Jongwoon meraih tangan Yuri dan menggenggamnya.

“ Aku bercanda. Tak lebih dari itu, kuharap kau mengerti, Yul. Karena kau tahu menyadari atau bahkan memahaminya aku tanpa kau.” ucap Jongwoon lembut. Yuri tak menjawab.

Bukan Kwon Yuri apabila ia tidak memikirkan sesuatu yang mengganjal perasaannya. Ah, seharusnya tadi tidak perlu membahas mengenai hal itu! Semua ini karena Kim Jongwoon! Yuri menghela napas dan menaruh tangannya di dada yang berdegup begitu cepat.

“ Jika aku tidak disampingmu lagi, akankah kau kembali pada cinta pertamu itu, Kim Jongwoon?” Jauh dalam lubuk hati Yuri berkata. Gadis itu memejamkan kedua matanya, ia menyadari pertama kalinya perjalanan dari halte kantornya menuju rumah terasa begitu panjang.

**

Jongwoon memakirkan mobilnya tepat di depan pagar sebuah rumah dengan model rumah tradisional Korea. Ia menghela napas seraya memutar kunci—mematikan mesin mobilnya dan menoleh ke sosok di sampingnya yang tertidur pulas. Pria itu tersenyum lembut seraya mengelus kepala Yuri, lalu melepaskan seatbelt miliknya dan mendekati gadis itu dengan pelan untuk melepaskan seatbelt yang dipakai Yuri. Pria itu tidak tahan untuk menahan senyumnya terlebih ketika melihat wajah gadis yang tertidur dengan pulas tanpa menyadari bahwa mereka sudah sampai di tujuan, dengan cepat ia mengecup bibir Yuri dan bergegas keluar mobil dan tak lama ia membukakan pintu mobil seraya membangunkan Yuri.

Bersikap seolah tidak terjadi apapun—yang dimaksud adalah Jongwoon mencium Yuri tanpa sepengetahuan gadis tersebut. Jongwoon berdeham pelan, entah mengapa rasanya ia sungguh sangat malu. 

“ Kita sudah sampai. Atau mau kutinggalkan di jalanan?”

Yuri mengucek kedua matanya, sementara kedua matanya berkejap pelan berusaha beradaptasi. “ Setidaknya walau aku tidak bangun pun, sebagai seorang pria—kau menggendongku atau membawaku sampai kamarku tanpa sepengetahuanku. Hingga akhirnya, aku terbangun paginya tanpa mengetahui dan menyadari kau yang membawaku sampai kamar.”

Jongwoon tergelak dan menoyor kepala Yuri pelan, “ Menjijikkan. Aku tidak mau melakukan hal aneh dan absurd seperti drama-drama di televisi. Hentikan kebiasaan menonton drama! Sungguh meracuni pikiran wanita dan berharap para pria melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan aktor-aktor di drama. Mereka melakukannya karena dibayar dengan jutaan won. Kau tahu, ‘kan?”

Yuri mendesis kesal. Apakah Kim Jongwoon bisa mengatakan sesuatu yang bisa menyenangkan hatinya? Gadis itu mengambil tasnya dan keluar dari mobil Jongwoon lalu berjalan menuju pintu rumahnya dengan langkah besar. Jongwoon hanya tersenyum geli melihatnya. Hal yang sangat Jongwoon sukai; melihat Yuri kesal.

Tiba-tiba Jongwoon teringat sesuatu. Pria itu menggerutu sendiri, seraya memukul pelan kepalanya. Sesuatu yang sejak dulu ingin ia katakan, namun haruskah ia mengatakannya sekarang? Ia melihat punggung Yuri yang tak lama lagi akan menghilang di balik pintu kayu yang menjadi pembatas jalan dengan rumahnya tersebut.

“ Ya, Kim Yuli.” Panggil Jongwoon. Gadis itu membalik dengan kesal seraya memandang Jongwoon dengan kesal.

“ Jangan memanggilku seperti itu! Kim Yuli! Namaku.Kwon.Yu-Ri!”

Jongwoon mengatup bibirnya berusaha untuk menahan tawa, perlahan ia menghampiri Yuri dengan kedua tangan yang ia selipkan di balik saku jasnya. Dimana tangan kanannya mencengkeram sesuatu dalam sakunya, sangat erat. Yuri menatap Jongwoon dari atas hingga bawah memastikan tidak ada sesuatu yang salah dengan pria itu malam ini. Yuri mengerucutkan bibirnya alih-alih masih sebal untuk menutupi debar jantungnya yang sudah tidak beraturan.

“ Buka tangan kananmu.” Gadis itu mengernyitkan keningnya.

“ Untuk—“ Ketika ia membuka tangan kanannya dengan cepat sekali Jongwoon mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan menaruhnya di atas telapak tangan Yuri. Yuri menggigit bibirnya dan mengambil kotak dalam telapak tangannya lalu membukanya perlahan.

Sebuah cincin putih dengan berlian sebagai tanda matanya. Yuri terpana melihat keindahan cincin dalam kotak beludru merah tersebut. Ia mengangkat wajahnya untuk menatap Jongwoon yang wajahnya sudah tidak bisa Yuri lukiskan. Senang? Gugup? Tanpa ia sadari, gadis itu tersenyum melihatnya. Baru pertama kalinya ia melihat pria itu seperti ini.

“ Kau mau menikah denganku, tidak? Jadi istriku dan ibu anak-anakku?” Yuri membuka mulutnya. Sebuah permintaan? Menikah? Melamar?

“ Ya! Jangan diam saja. Kau mau atau tidak?” bentak Jongwoon tidak sabar.

 

“ Jika aku menolaknya?” ucap Yuri tanpa sadar.

“ Aku tetap akan memaksamu untuk kunikahi. Lantas, siapa lagi yang harus kunikahi selain kau? Wanita yang kucintai dan satu-satunya aku ingin membentuk sebuah keluarga yang bahagia itu, ya.. dirimu. Aish, jangan terlalu lama berpikir, Kim Yuli!”

Yuri tersenyum. Ia menutup kotak cincin tersebut dan memberikannya kembali kepada Jongwoon. Pria itu menerimanya dengan mata terbelalak sekaligus kecewa. Ia ingin meminta penjelasan alasan gadis itu menolaknya, namun diurungkan ketika gadis itu mengulurkan tangan kanannya kepada Jongwoon.

“ Kenapa, Kim Jongwoon? Patah hati sudah kutolak? Cepat, pakai cincin itu di jari manisku.” ujar Yuri seraya tersenyum. Tak lama pria itu menarik napas lega dan tertawa pelan lantas memakaikan cincin indah tersebut di sela jari-jari Yuri.

Jongwoon menatap cincin indah tersebut dengan bangga.

“ Bahkan cincin ini mengapa terlihat sangat indah dari sebelumnya ketika aku menerima cincin ini baru selesai dibuat?” gumam Jongwoon. Yuri menyingkap rambutnya yang diselipkan di sela telinganya.

“ Hmm… tolong katakan sekali lagi.”

“ Apa?”

“ Kalimat gombalmu barusan.” Jongwoon menyadari maksud Yuri, dan langsung melepaskan tangan Yuri. Sementara wajahnya sudah memerah karena malu. Perlahan Yuri mendekati pria yang tak lama lagi akan berstatus suaminya, dan meraih tangannya.

“ Aku mencintaimu. Dengan segala kekurangan serta kelebihanmu, meski dirimu banyak sekali kekurangan termasuk sifat menyebalkanmu itu, Kim Jongwoon. Jaga perasaanku padamu untuk saat ini dan masa depan.” ujar Yuri tersipu malu seraya menundukkan wajahnya. Jongwoon mengangguk lalu menaikkan dagu Yuri dengan tangannya lantas memeluknya dengan erat.

“ Jangan khawatir. Aku akan menjaga perasaanmu, dan perasaanku padamu. “ sahut Jongwoon seraya tersenyum lembut. Yuri mengangguk pelan dalam pelukan hangat Jongwoon, tiba-tiba pria itu melepaskan pelukannya menatap Yuri dengan dalam. Tak lama pria itu menundukkan wajahnya semakin mendekati wajah Yuri, dan mencium Yuri dengan lembut.

**

▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬

If only I took a step faster, and If only I took a step slower

Then our painful encounter, we could’ve avoided it.

There’s no use even if I push you out, now I cant let you go.

Even if you want to cry, cry in my arms. Because i’ll die without you.

K.WILL-Love is Crying.

▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬

**

-Gangnam-gu, Seoul—pukul 08.00 KST.

Yuri membuka sebuah kamar dan memasukkinya dengan kesal ketika dilihatnya sesosok pria sedang meringkuk dengan nyaman di balik selimut tebalnya. Ia menghampiri tempat tidur dan langsung menarik paksa selimut, dan tak lama pria tersebut bergeliat malas hingga akhirnya membuka kedua matanya dengan malas.

“ Kim Jongwoon, sudah berapa aku memanggilmu untuk bangun?!” teriak Yuri kesal.

 “ Beri aku waktu setengah jam lagi untuk tidur!” erang Jongwoon seraya menarik selimut kembali melingkup seluruh tubuhnya. Pria itu kembali memejamkan matanya tanpa memperdulikan Yuri berdecak pinggang di samping tempat tidurnya.

“  Kim Jongwoon!” gerutu Yuri kesal seraya menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba dari belakang Yuri—di balik kaki jenjang Yuri seorang gadis kecil berpakaian seragam taman kanak-kanak berwarna cokelat muda mengulum bibirnya dengan sangat lucu. Yuri tersenyum seraya mengacak pelan gadis kecil itu, lalu menunduk untuk menyamakan tingginya dengan gadis kecilnya—Carrie Kim, malaikat kecilnya bersama dengan Jongwoon.

“ Carrie, kau lihat sendiri ayahmu belum bangun?” bisik Yuri. Gadis kecil itu mengangguk pelan seraya menolehkan kepalanya ke arah Jongwoon yang kembali terlelap.

“ Kau bangunkan ayahmu dengan caramu seperti biasa, kalau tidak kau akan kembali terlambat ke sekolah? Arraso?” Carrie mengangguk pelan seraya memamerkan deretan gigi kecilnya, Yuri tersenyum puas seraya mengacak gemas rambut putrinya.

Sementara Yuri melangkah pelan untuk membuka tirai jendela, dan Carrie mulai dengan aksinya seperti biasa—cara ampuh membangunkan Jongwoon. Carrie merangkak dengan susah payah menaiki tempat tidur yang cukup tinggi untuk seusianya lalu dengan sekuat tenaga ia menarik selimut Jongwoon, dengan refleks membuat Jongwoon menarik selimut.

Papa, ireonayo~” ujar Carrie dengan logat khas anak usia lima tahun. Gadis kecil itu tetap berusaha menarik selimut Jongwoon dengan susah payah, “ Papa…”

“ Ada apa, Carrie?” tanya Jongwoon setengah sadar.

Carrie mengembungkan pipinya dan naik di punggung Jongwoon seraya menarik-narik rambut Jongwoon, tak lama pria itu mengerang pelan dan membuka kedua matanya perlahan seraya mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Namun melihat muka kesal Carrie, membuat Jongwoon tersenyum dan mencubit pipinya dengan  gemas. Akhirnya, Jongwoon menyibak selimutnya dan mengangkat Carrie dalam dekapannya beranjak dari tempat tidur menghampiri Yuri yang menyenderkan diri di depan pintu seraya melipat kedua lengannya di dada.

“ Kenapa kau memakai setan kecil ini untuk membangunkanku?” ujar Jongwoon seraya mencium pipi kanan Carrie dengan cepat. Yuri menggelengkan kepalanya kemudian menarik napas panjang.

“ Kau tak mungkin memarahi anakmu sendiri karena kebiasaan bodohmu itu, ‘kan?”

Jongwoon hanya menyeringai kecil, “ Dia itu sama menyebalkan dan menyeramkan persis sekali seperti Kim Yuli, betapapun kalian berdua sangat menyebalkan tetap saja aku menyayangi kalian berdua.” ucapnya ringan.

Yuri hanya mengangguk-angguk pelan saja dan mengambil Carrie dalam dekapan Jongwoon dan menepuk pundaknya dengan gemas. Dengan tatapan mata tajamnya, Yuri memberi isyarat Jongwoon lekas mandi dan berpakaian ke kantor sementara ia akan menunggu di meja makan. Alih-alih menunjukkan ekspresi ketakutan, Jongwoon mengulum bibirnya seraya mengangguk-angguk dan meninggalkan kecupan kilat di kening Yuri lalu lari secepat mungkin sebelum Yuri benar-benar akan menendangnya menuju kamar mandi.

Wanita itu menarik napas kesal melihat kelakuan pria yang sudah hampir lima tahun hidup bersamanya. Lima tahun perkawinannya, Yuri tidak pernah merasa menyesali keputusannya menerima lamaran Jongwoon lima tahun yang lalu. Hidup bersama bersama dengan putri yang lucu serta menggemaskan, ditambah dengan kelakukan aneh dan menyebalkan Kim Jongwoon yang tak berubah—menambah kebahagiannya.

Cukup seperti ini—bisa melihat tawa dan senyum Jongwoon dan Carrie, bagi Yuri sudahlah cukup. Karena ia hanya membutuhkan dua sosok yang sangat ia butuhkan hari ini, dan juga selamanya.

Tuhan, tolong jangan pisahkan dirinya dengan keduanya.

**

30 April 2012, 10.00 AM KST—Incheon International Airport, Incheon.

“ Mari kubantu.” ujar seorang pria bersuara berat seraya mengambil sebuah koper dari bagasi airport. Seorang gadis berambut cokelat menoleh ke arahnya seraya menurunkan kacamata hitamnya.

“ Kopermu cukup berat, aku hanya menurunkan kopermu dari rolling,” ucap pria itu ramah seraya menaruh koper berwarna pink tersebut di depan gadis tersebut. Pria itu melepaskan topinya sejenak untuk memberi salam perkenalan kepada gadis tersebut sebelum pergi berlalu bersama beberapa pria berpakaian kasual yang berjalan melewati gadis itu dengan cepat.

“ Kurasa aku pernah melihat pria itu sebelumnya, namun… dimana aku melihatnya?” gumam gadis itu pelan. Tak ingin berpikir terlalu jauh, gadis itu mengedikkan bahunya kemudian menarik kopernya perlahan keluar menuju pintu kedatangan.

Gadis itu hanya membuka mulutnya terkagum dengan keriuhan yang terjadi di bandara pada hari ini. Beberapa gadis remaja terlihat memenuhi bagian luar pagar pintu kedatangan luar negeri, sesekali mereka berteriak riuh dan lebih mengesankan beberapa wartawan sibuk menyiapkan lensa mereka. Gadis itu tersenyum ketika ia melihat sebuah banner yang dipegang oleh gadis remaja tersebut,’Super Junior’? Ia mengangkat bahunya, namun ketika beberapa langkah keluar dari pintu kedatangan, ia melihat pria yang barusan membantunya.

Pria itu sedang berjongkok seraya melipat kedua lengannya di dada bersama dengan teman-temannya yang tadi sempat ia lihat. Hanya ia seorang yang tak memegang kamera, sementara teman, gadis remaja, dan tak lengkap wartawan pun memegang kamera di tangan mereka siap untuk mengabadikan momen yang tak lama akan terjadi—namun tak ia pahami. Pria itu menoleh ke arahnya seraya tersenyum, hingga membuat gadis itu mengangkat bibirnya membalas senyum pria itu.

“ Jessica! Kemari!” Gadis itu menoleh ketika mendengar namanya disebut seseorang cukup kencang. Cukup terdengar di tengah keriuhan bandara pada saat ini.

Jessica membalikkan badannya dan melihat seorang wanita bersama pria di sampingnya melambaikan tangan ke arahnya, ia pun tersenyum dan berlari menghampiri wanita tersebut serta memeluknya dengan erat.

“ Taeyeon ah!” ucapnya terharu.

“ Ah, mau kutunjukkan langsung apartemen barumu atau mampir ke rumahku terlebih dahulu?” tanya wanita berambut panjang pirang tersebut seraya tersenyum. Jessica berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mendesah panjang.

“ Kau tunjukkan saja apartemenku terlebih dahulu, aku  masih merasa jetlag. Nanti malam aku akan berkunjung ke rumah kalian, tinggal kau sebut alamatnya.” Balas Jessica. Taeyeon mengangguk mengerti dan menoleh ke belakang dimana seorang pria menghela napas panjang sembari mengangkat koper Jessica.

“ Akhirnya kau menyadari kehadiranku,” keluhnya. Taeyeon tertawa.

“ Bukan begitu maksudku, Jungsoo ya. Masa kau tidak paham, sih?”

Jungsoo tertawa pelan dan menghampiri istrinya seraya mengacak-acak rambut Taeyeon dengan gemas, “ Aku tahu. Ayo, kita ke mobil.”

Jessica tersenyum melihat interaksi Taeyeon dengan Jungsoo, gadis itu mengikuti keduanya di belakang seraya mengamati sekelilingnya sepanjang perjalanan menuju parkiran. Tanpa ia sadari ternyata dirinya sudah terlampau jauh dari Taeyeon dan Jungsoo, ia melihat Jungsoo memasukkan kopernya ke bagasi di kejauhan. Ia menghela napas.

“ Hati-hati jangan terlalu banyak berpikir ketika sedang berjalan,” ujar seseorang di belakangnya. Jessica menoleh dan mendapati pria yang tadi ia jumpai berjalan menghampirinya. Baru ia sadari pria itu sungguh tampan dengan potongan rambut hitamnya yang terlihat sangat cocok dengannya.

“ Aku duluan. Semoga di lain kesempatan kita dapat berjumpa lagi,” ujarnya menjauhi Jessica menuju sebuah van hitam dan masuk ke dalamnya.

**

“ Sica, kudengar kau akan mengadakan pameran lukisanmu?” tanya Jungsoo tiba-tiba di sela-sela ia tengah menyetir mobil. Jessica tersadar dari pikiran kosongnya ketika mendengar suara Jungsoo, gadis itu hanya mengangguk tersenyum.

Ne, oppa. Tolong doakan lancar, bukan hanya aku saja kok yang akan mengadakan pameran. Jadi, untuk pertama kali aku mengikuti pameran untuk amal terlebih dahulu sebelum akhirnya mengadakan pameran solo.” tukasnya. Taeyeon menoleh ke belakang seraya mengacungkan jempolnya.

Sejam lamanya perjalanan dari Incheon menuju apartement baru Jessica yang terletak di Jaegi-gong, distrik Jaegi yang tidak jauh dari National Heritage—Gyeongbukgong palace, istana terbesar peninggalan Dinasti Joseon. Dibantu Jungsoo yang membawa koper milik Jessica, Taeyeon menuntunnya untuk segera masuk sebuah gedung mewah dan kemudian mereka naik lift menuju lantai 9.

“ Bagaimana menurutmu? Kau menyukainya?” tanya Taeyeon seraya menghempaskan diri ke atas sofa sementara Jessica menelusuri apartement yang akan ia tinggali selama berada di Seoul.

“ Ya. Aku menyukainya.” Jawabnya singkat. Ia menoleh ke belakang—ke arah Taeyeon serta Jungsoo yang sedang berbincang di sofa dan kemudian menghampiri mereka, “ terimakasih sudah membantuku,”

Jungsoo tersenyum, “ Ada yang perlu kami bantu lagi?”

Jessica mengeleng pelan. Gadis itu membawa kopernya serta sebuah kandang hewan berisi kucingnya ke dalam kamar. Sesampainya ia langsung membuka tutup kandangnya, sehingga hewan mungil berwarna putih bersih dengan bulu lebat keluar dari dalam seraya mengeong pelan. Jessica tersenyum seraya mengelus kucing tersebut dengan lembut. Tak lama gadis itu menghampiri jendela besar di kamarnya dan membukanya lebar membuat angin kencang memasuki kamarnya.

“ Sica… Jungsoo akan membeli makanan di luar untuk makan siang. Apa yang ingin kau makan?” tanya Taeyeon tiba-tiba dari balik pintu. Gadis itu menoleh pelan.

“ Aku ikut denganmu saja.”

Taeyeon mengangguk dan tersenyum lalu menutup kembali pintu kamar Jessica. Sepeniingal Taeyeon, Jessica melangkah pelan menuju tempat tidur dan membuka kopernya perlahan mengeluarkan sebuah pigura dari dalam. Dengan lembut ia mengelus foto tersebut hingga ia tak menyadari senyumnya mengembang jauh lebih indah ketika ia tersenyum kepada Taeyeon ataupun Jungsoo.

“ Kau… masih menyimpan foto dirinya?” sahut Taeyeon terkekeh, membuat Jessica terkejut dan menyimpannya di atas meja samping tempat tidurnya. “ Ternyata… waktu berlalu begitu cepat,” ucap Taeyeon pelan.

“ Aku hanya ingin menyimpannya. Itu saja, Taeyeon.” Jawab Jessica pelan.

Taeyeon tertegun saat mendengar jawaban Jessica barusan. Ia tersenyum pahit ketika di saat bersamaan Jessica kembali tersenyum saat menatap foto tersebut.

“ Tujuh tahun berlalu… seperti apa dia sekarang, Taeyeon ah?”

**

Myeongdong—distrik Jong-gu, Seoul.

“ Carrie! Jangan berlari di tempat seperti ini!” teriak Jongwoon kencang di tengah keramaian kawasan Myeongdong yang begitu ramai. Pria itu mendengus kesal dan berlari mengejar putrinya sebelum menjauh, dan menangkapnya dari belakangnya alih-alih membuat kesal ayahnya, gadis kecil itu memeluk leher sang ayah dengan erat.

Keduanya pun kembali menikmati suasana ramai Myeongdong, sementara itu Yuri hanya menggelengkan kepalanya seolah terbiasa dengan kelakuan keduanya. Ia pun mengejar Jongwoon di belakangnya hingga akhirnya ia mensejajarkan diri dengan Jongwoon. Jongwoon menoleh ke arah Yuri sembari tersenyum.

Hanya satu hari dalam seminggu keduanya bisa menghabiskan waktu bersama-sama seperti ini dengan berjalan-jalan santai. Kesibukan Jongwoon dengan pekerjaan mengurusi perusahaan kontruksi miliknya, sementara Yuri yang semenjak menikah aktif dalam organisasi sosial yang dikelolanya. Tiba-tiba Carrie meminta diturunkan dari dekapan Jongwoon dan berlari kecil menuju penjual emperan yang menjual berbagai boneka yang sedang populer di kalangan anak-anak.

Dengan cekatan gadis kecil itu mengambil boneka beruang cokelat dan langsung memeluknya. Jongwoon melipat kedua lengannya di dada seraya menggelengkan kepalanya, membuat gadis itu merengut kesal dan menarik-narik kaus Jongwoon dengan mimic wajah hampir menangis.

“ Untuk apa sih beli boneka? Kau sudah punya cukup banyak di rumah!” ujar Jongwoon. Kontan membuat mata Carrie langsung memerah hampir menangis, jika saja Yuri dengan cepat mengeluarkan uang dari dalam saku bleazernya dan memberikannya kepada ahjumma penjual boneka.

“ Dia masih kecil Kim Jongwoon.” ujar Yuri kesal dan menarik lengan Carrie bersamanya. Jongwoon hanya mengembungkan pipinya dan setengah berlari mengejar Yuri.

“ Aku lapar. Kita makan saja, ya?” rajuk Yuri. Masih kesal dengan kejadian barusan, pria itu hanya mengangguk pelan tanpa berbicara membuat Yuri menjadi kesal. “ Kau masih marah padaku?!”

Jongwoon menoleh pelan dengan mata yang menyipit tajam, “ Aku tidak suka kau memperlakukan anakku dengan manja. Itu saja.”

Seketika kening Yuri berubah mengerut dan menatap suaminya dengan tajam.

“ Anakmu? Carrie juga anakku!” bentak Yuri kesal.

Sesaat keduanya terdiam satu sama lain masih mempertahankan ego masing-masing. Hingga akhirnya Jongwoon menghela napas menyerah, dan menarik lengan Yuri mengikutinya menuju sebuah rumah makan. Yuri hanya tersenyum kecil. Ketika keduanya tiba di sebuah restoran kecil masih dalam kawasan Myeongdong namun agak sedikit terpojok, Jongwoon membukakan pintu untuk Yuri dan Carrie masuk terlebih dahulu. Ketika keduanya sedang mencari tempat makan kosong, tiba-tiba seseorang memanggil nama Jongwoon dari arah belakang dengan suara bak lonceng berdenting.

“ Jongwoon oppa!” panggil seseorang kontan membuat Jongwoon menoleh dan menatap tercengang. Jessica tersenyum dan berlari menghampiri Jongwoon memeluknya dengan erat, membuat Yuri hanya berdiri diam terpaku melihat gadis itu memeluk Jongwoon.

“ Je… Jessica yo? Kau…” ujar Jongwoon gugup. Gadis itu tersenyum lebar dan manis namun tak lama ia mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

Ya! Oppa melupakanku?!” ujar Jessica. Jongwoon tertawa pelan dan mengacak-acak rambut Jessica dengan gemas.

“ Tentu saja tidak, wajahmu saja bahkan tak berubah sedikit pun. Jadi aku masih mengenali, kecuali kau melakukan operasi plastik dan merubah wajahmu mungkin aku tidak akan mengenalimu. Apa yang sedang kau lakukan? Kau ingin makan siang juga?”

Jessica mengangguk girang, “ Hm! Aku baru saja pulang pagi kemarin. Ketika aku sedang berjalan-jalan aku melihatmu masuk ke dalam restoran ini, jadi aku mengikutimu. Err, dia ini siapa?” ujar Jessica seraya menujuk Yuri yang masih diam terpaku menatapnya, tanpa ia sadari Yuri mengcengkeram jemari Carrie untuk menguatkannya.

“ Dia istriku, Kim Yuri serta putri satu-satuku, Carrie.” Jawab Jongwoon cepat. Ia menatap Yuri dengan tatapan memohon namun tanpa disangka Yuri memalingkan wajahnya dari pria itu.

Jessica mengangguk mengerti, sekilas gadis itu menatap Yuri dengan tatapan tajam namun tak lama tersenyum kembali ketika ia menatap Jongwoon. Yuri menarik napas panjang dan sejenak memejamkan kedua matanya, berharap sesuatu jauh dari ekspetasinya tidak akan terjadi.

“ Bagaimana kalau kita satu meja, oppa?” ujar Jessica antusias. Tanpa sempat menyatakan persetujuan Jessica menarik lengan Jongwoon bersamanya menuju sebuah tempat duduk yang kosong di pojok restoran. Yuri menghela napas seraya menuntun Carrie, ia mengikuti keduanya dari belakang.

Kemudian, Yuri mengambil tempat duduk samping Jongwoon—tentu saja, Yuri cukup puas untuk hal ini. Jongwoon memandangi Yuri yang sibuk dengan Carrie, entah ekspresi yang tepat untuk menggambarkan tatapannya terhadap Yuri. Tiba-tiba Jessica membuka pembicaraan dengan menawarkan menu kepada Jongwoon terlebih dahulu.

“ Ah! Ada masakan kesukaanmu, oppa! Dak Gang Jung!” ujar Jessica girang dan tak lama tertawa. “ Jadi kau mau makan dengan apa?”

Jongwoon menggigit bibir bawahnya, “ Dak gang jung. Itu saja.” ucapnya sedikit kaku. Jessica mengangguk mengerti dan kembali membuka halaman buku menu untuk memesan makanan untuk dirinya.

“ Yuri ya, jangan bersikap seperti ini. Tolong, Yuri.” ucap Jongwoon lemas. Ia barusaha menggapai lengan Yuri namun ditepis pelan oleh wanita itu tanpa berkata sepatah kata pun, dan itu cukup membuat Jongwoon frustrasi saat Yuri tidak ingin berbicara dengannya.

Oppa!” sahut Jessica menepuk pundak Jongwoon pelan membuat pria tersebut terkejut. Jongwoon tersenyum namun sesekali menoleh ke arah Yuri yang sedang asyik bermain dengan Carrie di sela-sela menunggu makanan pesanan mereka.

Hingga makanan habis pun, sekalipun Yuri tidak ingin menatap Jongwoon. Hingga akhirnya, Carrie menarik-narik baju Yuri untuk menemaninya melihat akuarium ikan yang terletak di tengah-tengah restoran dan tentu saja dengan senang hati menerimanya. Tanpa sepatah kata pun, wanita itu bangkit dari tempat duduknya mengikuti lengan kecil Carrie menuntunnya menuju akuarium tanpa bisa Jongwoon untuk mencegahnya. Yuri memejamkan kedua matanya.

Bagaimana ia bisa tahan, ketika Jessica bersikap seolah-olah tidak menyadari kehadirannya di samping Jongwoon? Ketika gadis itu membatasi bahkan menutupinya untuk ikut dalam pembicaraan bersama Jongwoon?

“ Mama, ikannya lucu-lucu.” Puji Carrie menatap kagum ikan berwarna-warni dalam akuarium, Yuri tersenyum lembut seraya mengelus kepala putrinya. Ketika ia mengangkat wajahnya dan menoleh ke tempat duduk yang tadi ia duduki—tempat duduk Jessica dan Jongwoon—sesuatu terasa menusuk hatinya saat melihat keduanya tertawa bersama.

Yuri mengusap air matanya sebelum mengalir jauh lebih deras. Apa yang harus ia lakukan? Ia takut kotak pandora yang selama ini sudah Jongwoon kubur jauh dalam lubuk hatinya akan tergali kembali seiiring dengan kehadiran Jessica.

Cinta pertama Kim Jongwoon.

**

Autumn. 2003.

Seperti biasa di saat waktu luangnya menunggu kuliah, Yuri selalu akan mengunjungi lokasi favoritnya di seluruh kampus. Rooftop Garden—taman atap yang terdapat persis di atas gedung utama kampusnya, Universitas Dongguk. Sembari berjalan santai ia memasangkan earphone di telinganya yang terpasang pada walkman portable yang baru saja ia beli kemarin.

Terdengar alunan lagu Homeward milik penyanyi favoritnya Lee Sejin mengalun indah dalam telinganya. Ketika akhirnya ia sampai di Rooftop Garden dengan kasar ia menaruh tas miliknya di sebuah kursi yang selalu ia tempati saat ke tempat ini. Namun ada sesuatu yang berbeda pada hari ini, ketika ia melihat si bintang kampus, Kim Jongwoon sedang duduk termenung dengan lesu menatap langit bersih di atasnya. Perlahan Yuri melepaskan earphone dan berjalan pelan menghampiri Jongwoon yang tampak belum menyadari kehadirannya.

“ Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Yuri pelan. Tak lama, pria itu menoleh ke arahnya dan menatapnya datar. Yuri mengangkat bahunya pelan dan duduk di samping pria itu—tanpa seiijin Jongwoon untuk duduk di sampingnya.

“ Ah, kau sedang merenung tentang ‘itu’, ya?” tebak Yuri seraya tersenyum. Pria itu menelengkan kepalanya dengan kening mengerut.

“ Tentang ‘itu’, maksudmu?”

Yuri tertawa pelan dan kemudian memelankan suaranya takut Jongwoon akan tersinggung, “ Kabar kau putus dengan Jessica. Seluruh kampus sudah mengetahuinya, bahkan para gadis-gadis bertanya-tanya bagaimana bisa kau putus dengannya. Maaf, aku tak bermaksud untuk menyinggungmu.”

Jongwoon tertawa pelan namun sesaat kemudian terdiam menatap situasi di bawah gedung utama dengan kosong. Yuri terdiam hingga akhirnya ia menyadari pria itu menangis. Begitu terlihat dari punggung serta dada yang naik turun, Yuri mendekati Jongwoon seraya mengelus pundak pria itu dengan lembut.

Pria itu pun mengangkat wajahnya dan menghapus air matanya seraya menarik napas panjang. Sementara Yuri hanya terdiam melihat sosok yang selama ini ia sukai menangis di sampingnya, dan bodohnya ia tidak bisa melakukan apapun.

“ Hah, mengapa aku terlihat lemah seperti ini? Aku bahkan tidak tahu alasan Jessica memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Apa aku telah mengecewakannya? Aku. Tidak tahu.” Isak Jongwoon berusaha tegar.

Yuri menundukkan wajahnya, “ Semua orang selalu bersikap lemah terhadap cinta. Mereka berusaha mengingkari namun nyatanya mereka tidak mampu.”

“ Jessica… dia cinta pertamaku. Hingga saat ini aku bahkan tidak tahu apa yang kulakukan tanpa kehadirannya. Apa yang harus aku lakukan?”ujar Jongwoon dengan tatapan kosong, tangan Yuri terangkat untuk menyentuh bahunya namun diurungkannya.

“ Hanya ada 2 hal yang bisa dilakukan. Orang berkata cinta itu menyenangkan, selalu membawa kebahagiaan namun nyatanya tidak semua kebahagiaan itu karena cinta, ia bisa menyakiti kita jauh lebih menyakitkan. Kau bisa menginjinkan waktu menyembuhkan luka hatimu dengan konsekuensi mungkin itu akan membutuhkan waktu panjang, atau bahkan seumur hidupmu? Atau… kau mengijinkan cinta lain memasuki hatimu. “

“ Maksud poin terakhirmu?”

Yuri mencoba untuk bertahan ketika kedua mata hitam Jongwoon menatapnya lekat-lekat. Ia menelan ludahnya berusaha untuk mengeluarkan suara agar terlihat ‘normal’ tanpa terlihat seseorang yang bicara gugup karena ditatap orang yang disukainya.

“ Kau. Belajar mencintai sekali. Cintai gadis lain dengan sepenuh hatimu, gadis yang mencintaimu jauh lebih besar dari yang kau rasakan saat bersama Jessica. Perlahan, luka hatimu akan hilang dengan sendirinya.” Jawab Yuri dengan yakin.

Jongwoon tertegun mendengar jawaban teguh serta yakin dari Yuri. Pria itu menatap langit dengan kosong namun sesaat kemudian Jongwoon tersenyum manis dan menoleh ke arahnya. Lagi. Jantung Yuri terasa berhenti berdetak.

“ Kau benar.” ucapnya singkat. Yuri hanya mampu tersenyum meski dalam hatinya dipenuhi pengharapan begitu tinggi. Sangat tinggi.

Karena ia ingin, dirinyalah yang dipilih Jongwoon menggantikan Jessica.

**

“ Yuri ya, kau masih marah padaku?” tanya Jongwoon was-was sementara dirinya pun harus berkonsentrasi menyetir. Sesekali pria tersebut tak henti melirik ke arah Yuri yang memalingkan wajah terhadapnya.

“ Untuk apa aku marah? Kau hanya berbincang dengannya, lantas alasan apa yang bisa membuatku marah?” jawab Yuri pada akhirnya seraya menoleh ke arah Jongwoon. Pria itu tersenyum dan mengangguk. Yuri menghela napas panjang dan memandang objek yang lewat begitu saja di luar jendela mobil.

Marah? Kecewa? Kesal? Atau cemburu pada akhirnya?

Yuri tidak tahu. Hanya untuk mengatakan marah terasa sangat begitu tidak etis. Kecewa? Kecewa karena ia merasa tidak dihargai Jessica? Sepertinya pun bukan untuk hal itu. Lantas apa?

Yuri hanya menghela napas panjang seraya memeluk Carrie yang tertidur dengan lelap dalam dekapannya semakin erat.

**

Jessica melangkah keluar lift dengan santai seraya memeluk kucing Persia putih bersih. Gadis itu melangkah menuju koridor mewah apartemen yang terletak di tengah kota Seoul tersebut hingga akhirnya ia menemukan sebuah papan bertuliskan 608 di depan pintu dan kemudian menekan bel menunggu seseorang dari dalam membukakan pintu untuknya.

Berselang beberapa menit kemudian, pintu terbuka dan keluar Taeyeon dari dalam apartemen 608 tersebut. Jessica tersenyum seraya memamerkan kucing kesayangannya kepada Taeyeon, wanita tersebut hanya tertawa dan menuntun Jessica untuk masuk ke dalam rumah flatnya.

“ Rumahmu sangat bagus, Taeyeon ah.” Puji Jessica seraya menurunkan kucingnya di lantai yang disambut kedua gadis kecil—putri-putri Taeyeon yang langsung mengajak kucing Jessica bermain. Jessica memutar tubuhnya memperhatikan apartemen Taeyeon yang sangat bagus, tidak terlalu besar namun nyaman. Jessica pun tersenyum dan menghampiri Taeyeon yang sedang sibuk di dapur.

“ Jungsoo? Aku tidak melihatnya. Pergi kemana?” tanya Jessica seraya membantu Taeyeon mengaduk-aduk masakan di atas wajan. Ia menyium aroma masakan yang sangat enak, kemampuan Taeyeon dalam bermasak tidak pernah hilang.

Taeyeon tersenyum, “ Dia pergi keluar untuk sementara. Tiba-tiba ia mendapat telepon dari kantornya. “

Jessica mengangguk dan mengambil sedikit masakan Taeyeon yang sudah tersaji. Ia memperhatikan Taeyeon yang begitu piawai memasak sementara dirinya untuk masuk ke dapur seperti saat ini sudah merupakan suatu anugerah, perlahan Jessica keluar dari dapur mengikuti Taeyeon yang menghampiri kedua gadis kecilnya yang sedang bermain dengan kucing kesayangannya. Taeyeon menyuruh kedua putrinya untuk berhenti bermain dan menuntun keduanya untuk mencuci tangan sebelum makan.

Tak lama kemudian, Jungsoo tiba di rumah dan ia membawa plastik besar berisi boneka Barbie yang langsung saja dipeluk oleh kedua putrinya, dan mereka pun segera menuju meja makan dengan suka cita. Jessica terhenyak melihat pemandangan yang ia lihat, ia seperti berada di sebuah film keluarga yang menceritakan kehangatan. Jessica menarik napas panjang, dan baru tersadar dari pikirannya ketika Taeyeon menepuk pundaknya untuk bergaung di meja makan. Alangkah menyengkan apabila ia pun dapat merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan Taeyeon bersama Jungsoo saat ini.

“ Taeyeon ah.” Sahut Jessica pelan.

Taeyeon menoleh pelan seraya mengangkat bahunya, “ Ada apa?”

“ Aku ingin menikah dan mempunyai anak. Tampaknya menyenangkan. Sangat menyenangkan.” Jawab Jessica dengan tatapan kosong.

**

Jongwoon menatap Carrie yang sedang menyusu di kamarnya seraya memeluk boneka beruang yang baru saja dibeli tadi siang. Pria itu tersenyum lembut ketika Carrie tersenyum kepadanya, ia mengangkat tangannya dan mengelus kepala Carrie kemudian mencium keningnya dengan lembut. Tiba-tiba saja Jongwoon tersadar dengan apa yang baru saja terjadi tadi siang, seharusnya yang sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan namun berubah menjadi canggung antara dirinya dengan Yuri.

Tiba-tiba ponsel Jongwoon bergetar di atas meja samping tempat tidur, pria itu terbangun dan meraih ponselnya. Pria itu mengerutkan keningnya begitu membuka sebuah pesan baru yang diterimanya.

 

Jongwoon oppa, bagaimana harimu?! ^^ Aku senang dapat bertemu denganmu kembali.”

Jongwoon tersenyum melihat foto Jessica yang terpampang di layar ponselnya. Begitu cepat sekali gadis itu akan menghubunginya ketika tadi siang saat di restoran, keduanya bertukar nomor ponsel. Jongwoon menghela napas jika suatu hari nanti Yuri mengetahuinya.

“ Papa, mengapa tersenyum sendiri? Apa yang lucu? Carrie mau liaaat,” rengek Carrie seraya melepaskan botol susunya dan bangkit dari baringannya mendekati Jongwoon berusaha menggapai ponsel milik ayahnya. Namun dengan cepat Jongwoon memasukkan ponsel ke dalam sakunya dan mencium kening Carrie.

“ Tidak ada apa-apa, kok. Teman papa mengirim sesuatu yang lucu, dan kurang pantas untuk dilihat olehmu.” Kilah Jongwoon. Carrie mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

“ Aku ingin lihat!”

“ Carrie, ayo kita ke meja makan. Mungkin ibumu sudah selesai masak makan malam untuk kita,” Jongwoon kembali mengindahkan gadis kecilnya dan langsung menggendongnya menuju lantai bawah. Tapi tiba-tiba saja ia teringat dengan foto menggemaskan Jessica barusan—Jessica tetap tidak berubah.

Jongwoon menurunkan Carrie dan membiarkannya menuju ruang keluarga untuk menyalakan televisi sementara dirinya pergi ke dapur untuk mengecek Yuri yang terakhir kali sedang memasak. Sesampainya di dapur, ia terkejut ketika melihat Yuri terduduk di lantai seraya menggigit bibirnya seperti menahan kesakitan dan kontan membuat Jongwoon panik lalu berlari menghampirinya.

“ Yuri ya, kau kenapa—akh! Kau berdarah!” ujar Jongwoon panik ketika melihat jari telunjuk kiri Yuri mengeluarkan darah yang cukup mengalir.

“ Jongwoon ah…

**

Ingatan kejadian pada saat siang hari ini berkelebat begitu cepat dalam ingatan Kim Yuri. Segalanya terasa begitu cepat, seperti flash dan seolah tidak mengijikannya untuk berpikir terlebih dahulu. Yuri menghela napas panjang dan kemudian membuka kulkas mengambil beberapa bahan makanan yang ia letakkan di atas konter.

“ Jessica kembali.” ucapnya pelan.

Berusaha mengindahkan pikiran tidak jernihnya, ia pun berusaha segera menyelesaikan masakan makan malam. Dengan tergesa-gesa ia mengambil wortel dan pisau, sementara ia mengiris wortel—lagi, pikirannya kembali melayang. Hingga membuatnya tak bisa berkonsentrasi.

Jessica Jung. Gadis cantik, sangat sempurna yang begitu terkenal di kampus dahulu. Kecantikannya, keanggunannya, kecerdasannya dalam melukis, serta kelancarannya dalam berbicara Bahasa Inggris. Semua mengenal Jessica dan para pria berharap untuk menjadi kekasihnya—dan salah satunya adalah Jongwoon. Hingga kini, setelah pernikahannya ia masih tidak mengerti alasan Jessica memutuskan hubungannya dengan pria yang kini telah menjadi suaminya. Tak ada yang mengetahui selain gadis itu sendiri. Dan selama itulah, ia takut akan kehadiran Jessica yang akan membuka kembali kenangannya bersama dengan Jongwoon.

Kenangan yang begitu susah payah pria itu lupakan. Dan kehadirannya akan membuka kembali kenangan itu. Cinta pertama Kim Jongwoon. Ia tahu Jongwoon mencintainya, namun di saat yang sama ia yakin pria itu pun masih mencintai Jessica hingga saat ini. Ekspresi Jongwoon saat pertama kali berjumpa Jessica di restoran tadi siang menjawab semuanya.

Hingga tanpa sadar, Yuri telah mengiris sedikit jarinya hingga mengeluarkan darah yang begitu banyak. Wanita itu mengerang dan segera mencuci jarinya dengan air, alih-alih berusaha menghilangkan darah namun malah berakibat semakin perih. Ia pun terduduk lemas tak kuat menahan rasa sakit.

“Yuri ya, kau kenapa—akh! Kau berdarah!” ujar Jongwoon yang tiba-tiba menghampirinya dengan panik.

“ Jongwoon ah, “ ucapnya pelan. Jongwoon menghela napas dan lalu meninggalkan Yuri namun tak lama pria itu membawa kotak obat, dan membukanya dengan panik. Yuri hanya memperhatikan yang Jongwoon lakukan terhadap jarinya.

Pria itu membasuh luka Yuri dengan sedikit alkohol, membuat Yuri merintih namun begitu melihat ekspresi Jongwoon yang kaku membuat wanita itu menahan rasa sakitnya. Ia tahu pria itu sedang marah apabila memasang ekspresi seperti itu. Hingga akhirnya, Jongwoon membalut jari Yuri dengan perban, setelah itu tanpa berkata sedikit pun pria itu bangkit berdiri untuk kembali menyimpan kotak obat. Tanpa bisa menahan perasaannya Yuri berusaha bangkit berdiri dan memeluk Jongwoon dari belakang.

Sesaat pria itu terdiam begitu Yuri memeluknya dari belakang, ia menoleh saat kedua tangan Yuri memeluk pinggangnya begitu erat dan di saat bersamaan ia merasakan sesuatu yang hangat membahasi t-shirtnya. Ia memejamkan kedua matanya dan melepaskan kedua tangan Yuri dengan pelan dan berbalik memeluk Yuri.

“ Jongwoon ah.” Isak Yuri semakin menenggelamkan kepalanya dalam dekapan dada Jongwoon. “ Jongwoon ah.”

Aku takut kehilanganmu, Jongwoon.

Jongwoon memejamkan kedua matanya seraya menumpu dagunya di puncak kepala Yuri seraya mengelus pundak Yuri dengan lembut. Ia tidak tahu apa yang terjadi serta dipikirkan oleh Yuri hingga seperti ini, namun…sesuatu terasa menusuk dadanya begitu tajam hingga ia pun terasa sulit untuk bernapas.

“ Jongwoon ah. Jebal…” isak Yuri tanpa mampu melanjutkan kalimatnya.

**

Jessica menutup pintu di belakangnya dengan pelan, dan melangkah gontai masuk ke dalam apartemennya. Ia melepas boot dan menggantinya dengan sandal bulu pink seraya menurunkan kucingnya ke lantai yang langsung saja berlari menuju kandangnya yang hangat.

Gadis itu memutar pandangannya ke seluruh penjuru apartemen. Terasa begitu lengang berbeda sekali saat ia berada di rumah Taeyeon. Jessica menghela napas dan melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air putih lalu berjalan menuju kamarnya. Begitu di kamar, ia langsung menghempaskan badannya ke atas tempat tidur seraya menatap kosong langit-langit kamarnya. Ingatannya saat berada di Taeyeon kembali teringat lagi olehnya.

Jessica bangkit dan duduk di atas tempat tidur seraya mengambil sebuah pigura foto di atas meja. Dengan lembut ia mengelus foto sosok dalam pigura tersebut seraya tersenyum.

“ Kita bertemu kembali. Waktu berlalu begitu cepat hingga kini kau telah memiliki keluarga. Istri serta putri yang sangat lucu. Kehidupanmu berlalu dengan kebahagiaan, bukankah begitu, oppa?” ucapnya pelan seolah sedang berbicara dengan foto yang tak lain adalah fotonya bersama dengan Jongwoon saat kuliah dulu.

“ Tapi oppa, bukankah seharusnya posisi itu milikku? Bersama di sampingmu, bahagia denganmu, memiliki anak darimu? Bukankah seharusnya seperti itu?”

Jessica menaruh pigura foto di sampingnya seraya menatap kosong. Ia merindukan Jongwoon untuk berada di sisinya. Apakah ia bisa mendapatkan kembali pria itu?

Bukankah Kim Jongwoon pernah berkata akan selalu mencintainya?

*BERSAMBUNG*

Fiuh akhirnya aku memberanikan diri mengirim ini kemari. Jangan lupa komentar kalian mengenai fanfic aku ini ya. Sampai jumpa lagi di part berikutnya (apabila banyak yang berkomentar)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


32 thoughts on “[Freelance] Blizzard of Love 1/2

  1. aduh yuri unnie kasian
    jongwon oppa sebenarnya kau msh ada perasaan ma jessica or enggk sh?
    pokoknya harus yesyul…
    jessica ma namja yg ia bilang tampan wktu di airport aja #hehehe
    ok lannjjuuttt author

    Like

  2. hikss yuri ksian oppa jangan kecewain yuri,,huwaa sica pliss jangan rebut kebahagiaan yulsung andweee..hiks hiks…
    Lanjutannya jangan lama2 ya thorr…namja yang ktemu sica di bndara juga bkin pnasaran tu xixi

    Like

  3. Ahhhhhh
    COMPLICATEDDDDD >.<?
    Suka suka🙂
    lanjutin yah chinguuuu, jarang baca ff YulSung klo ada pun, yah putus di tengah jalan
    Jebbal yah~
    HWAITING!!

    Like

  4. LANJUTTTTT!!!
    Aku sukaaaaaaaa, pokoknya harus lanjut!!
    jangan sampe Jessica ngerebut Jongwoon dari Yuri!! biarkanlah Yuri bahagia *eaaa
    Sica~~ jangan ganggu rumah tangga oranggg yahh
    ihhh si Carrie pasti lucu deh tuhh

    Like

  5. seru nih… kehidupan rumah tangga YulSung ini bakal konflik dengan adanya Jessica. Semoga saja Ssica dapat penggantinya yaa biar gak menganggu YulSung ^^
    ditunggu part selanjutnyaaa

    Like

  6. Suka sama yesyul waktu yesung ngelamar yuri! Lucu!
    Kenapa jessica kembali? Jessica cariin namja lain dong. Biar gak ganggu yesyul! Donghae kek! Haha!
    Lanjut!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s