[Freelance] Love At Last Sight


Pernah dipublish di egaarista.wordpress.com dan fanficskpopindo.wordpress.com dan exoshidaefanfic.wordpress.com

 

Title

Love At The Last Sight

 

Author

Park Yoo An aka Ega Arista

 

Length

Oneshoot

 

Rating

PG-13

 

Genre

Romance

 

Main Cast

Park Chanyeol

Kim Taeyeon

 

Other Cast

Seo Joo-hyun

 

***

1998 Chung Ang University

 

Kim Taeyeon. Gadis kecil yang duduk di pojok kursi cafeteria Chung Ang University. Rambut sebahunya yang agak ikal dibiarkan terurai guna menghangatkan lehernya yang sedari tadi tertiup angin dingin. Dress hitam selututnya semakin menambah kehangatan tubuhnya. Tak tertinggal pula stocking hitamnya. Sengaja gadis itu memilih warna hitam, karena warna hitam bersifat menyerap panas.

 

Didepan gadis itu, tergeletak manis secangkir kopi hangat. Tangan Taeyeon terus saja digesek-gesekannya guna mendapat kehangatan. Kemudian meletakkan kedua tangannya ke pipinya. ‘Hangatnya…’ pikir Taeyeon.

 

Sesekali, Taeyeon melirik ke arah meja pojok depan. Berulangkali kikikan geli muncul darinya. ‘Aigoo… Manis sekali Park Chanyeol.’ batin Taeyeon.

 

Park Chanyeol, adalah namja yang sedari tadi dilirik oleh Taeyeon, kini merasa mulai sadar kalau Taeyeon terus saja meliriknya. Entah kenapa perasaan namja itu benar-benar kesal sekali. Dia tidak menyukai Taeyeon. Entah alasannya kenapa Chanyeol sendiri juga tidak tahu. Tapi mata Taeyeon, itu mengingatkan Chanyeol akan seorang gadis yang meninggalkannya…

 

Flashback

 

BRAK! Chanyeol menggebrak meja didepannya. Seorang yeoja hanya duduk tertunduk. Yeoja itu tak bisa menahan air matanya.

 

”ARGHH! Jadi selama ini, kau selingkuh?!” tanya Chanyeol dengan suara yang menggelegar.

 

Sang yeoja hanya menunduk. Yeoja itu tidak mampu melihat Chanyeol. Pipinya sudah sukses dibasahi cairan asin dari matanya. Air mata…

 

”Mianhae…” yeoja itu akhirnya bicara.

 

”Tapi! Arghhh! Kenapa kau tega melakukannya!!?? HA!!?” teriakan Chanyeol mampu membuat yeoja itu terlonjak. Tangisan yeoja itu pecah.

 

”Seo! Jawab aku!!”

 

Bukannya menjawab, Seohyun, nama yeoja itu langsung beranjak dari tempat itu. Kemudian berlari pergi.

 

Beberapa bulan kemudian…

 

Chanyeol masih merasa sakit sejak kejadian beberapa bulan lalu. Sungguh, dirinya sudah tidak berhubungan lagi dengan mantan kekasihnya. Bukan! Bukan! Bukan mantan kekasih. Mereka belum putus. Hanya saja hubungan mereka menggantung. Berkali-kali Chanyeol mencoba mencari tahu keberadaan Seohyun. Tapi seperti sia-sia, bahkan keluarga Seohyun pindah.

 

Flashback End

 

Kejadian itu benar-benar membuat Chanyeol agak dingin dengan wanita. Semenjak hilangnya Seo Joohyun, Chanyeol betul-betul dingin. Bahkan dengan orangtuanya dan adiknya.

 

Hanya saja, Chanyeol tidak mengetahui sesuatu hal. Berhubungan dengan Seohyun dan Taeyeon…

 

***

Taeyeon senyam-senyum sendiri melihat lukisannya sudah selesai. Lukisan seorang namja yang dilukis Taeyeon betul-betul membuat gadis itu bahagia saking mabuk kepayang (?).

 

CKLEK…

Pintu ruangan itu terbuka. Seorang namja masuk. Semua siswa sontak menoleh ke arah namja itu. Tepatnya siswa yeoja, mereka kagum melihat namja itu. Sedangkan Taeyeon yang tidak tahu siapa namja itu, memilih untuk tidak menoleh dan terus memperbaiki warna-warna yang dianggapnya kurang cocok dilukisannya.

 

Cukup lama namja itu berkutat dengan dosen disitu. Hingga akhirnya, perkutatan itu selesai.

”Kamsahamnidah…” ucap Chanyeol sebelum meninggalkan ruangan itu.

 

GLEK… Taeyeon menelan ludahnya. ‘Suara itu…’ pikir Taeyeon. Taeyeon buru-buru mengalihkan pandangannya pada namja itu. Park Chanyeol! Taeyeon melengos karena baru menyadari kalau Chanyeol baru saja disitu. Kini Taeyeon hanya memandang kecewa punggung Chanyeol yang perlahan mulai lenyap dari pandangan.

 

***

Sudah pukul setengah 6, Taeyeon menghabiskan waktunya di kampus untuk menyelesaikan tugas membuat lagunya. Sungguh! Taeyeon benar-benar lupa akan waktu. Gadis itu terlonjak kaget saat menyadari waktu.

 

Taeyeon berlari menyusuri lorong kampus yang diterangi oleh lampu balon. Setiap hentakkan kakinya terdengar menggema di lorong itu.

 

Walau gelap dan hanya tinggal Taeyeon seorang diri, Taeyeon tidak takut dengan sesuatu yang berbau gaib.

 

Hingga sesuatu bertubuh jangkung dan tinggi menabrak Taeyeon dan akhirnya mereka jatuh di dekat aula kampus.

 

”Ahhh…” rintih Taeyeon saat badan kecilnya ditindih oleh seseorang.

 

Keduanya tersadar. Baik Taeyeon maupun orang itu membelalakkan mata saking kagetnya. Cukup lama mereka dalam posisi seperti ini. Cukup lama pula mereka saling bertatapan dengan mata yang terbelalak dan kadang diiringi oleh kedipan-kedipan.

 

Chanyeol. Namja itu yang menubruk Taeyeon.

 

Cukup setengah jam mereka dalam posisi seperti ini!

Teng Teng Teng Teng Teng Teng…

 

Dentingan jam bandul yang besar di kampus, membuat mereka berdua cepat-cepat memperbaiki posisi seperti semula.

 

”Ekhmmm…” keduanya berdeham.

 

”Mi..mianhae…” ujar Taeyeon kemudian cepat-cepat pergi dari situ. Namun, Chanyeol menahannya.

 

”Chankkaman…” kata Chanyeol. Keduanya bertatapan. Chanyeol menatap mata Taeyeon. Matanya memang tidak mirip tetapi bola matanya yang mirip (?).

 

DEG DEG DEG

Detak jantung Chanyeol… Entah rasanya Chanyeol benci sekali dengan mata itu. Karena masa lalu. Tapi disisi lain, rasanya sama persis saat Chanyeol pertama kali jatuh cinta dengan Seohyun…

 

Flashback

 

Seorang yeoja jatuh tersungkur saat menaiki skateboardnya.

 

”Ahkk appo…” rintih yeoja itu.

 

Chanyeol yang merasa iba, akhirnya menolong yeoja itu. Dibantunya yeoja itu berdiri.

 

”Gwencha…” belum sempat Chanyeol menyelesaikan katanya, Chanyeol sadar bahwa lutut gadis itu mengeluarkan banyak darah.

 

”Kajja, kuobati kau…” Chanyeol memopoh yeoja itu menuju kursi panjang di taman itu.

 

”Sebentar, aku mau ambil obat.” kata Chanyeol. Kemudian berjalan menuju mobilnya yang terparkir dekat dengan tempat yeoja itu duduk.

 

Setelah mengambil kotak P3K, Chanyeol mulai mengobati lutut yeoja itu. Karena Chanyeol memasuki jurusan kedokteran, dia tahu bagaimana cara mengobati luka.

 

Dibersihkannya luka itu dari pasir-pasir yang menempel. Setelah itu ditetesi dengan obat merah. Lalu diperban rapi.

 

”Selesai.” ucap Chanyeol.

 

”Kamsahamnidah…” ucap yeoja itu.

 

Chanyeol mengangguk dan tersenyum kemudian menatap yeoja itu. Tepatnya mata yeoja itu. ‘Omo…’ batin Chanyeol. Chanyeol terkesima melihat mata indah itu.

 

Sungguh! Sedari tadi saat menolong dan mengobati yeoja ini, Chanyeol belum melihat matanya apalagi wajahnya.

 

Sekarang, Chanyeol melihat wajah yeoja itu yang menurutnya seperti… Dewi.

 

”Choneun, Seo Joohyun imnida. Panggil saja Seohyun” yeoja itu memperkenalkan diri.

 

”Ah ehm… Choneun Park Chanyeol imnida. Panggil saja Chanyeol” Chanyeol balik memperkenalkan diri pada yeoja yang bernama Seohyun itu.

 

Flashback End

 

APA? Kenapa Chanyeol tiba-tiba melihat Taeyeon adalah Seohyun? Entah apa karena hari sudah malam atau karena dia sudah mengantuk. Mengantuk? Hey! Ini masih pukul 6!

 

”Siapa kau?” tanya Chanyeol.

 

”Kim Taeyeon.” jawab Taeyeon.

 

Chanyeol melepas Taeyeon. Namja itu pergi…

 

***

Taeyeon agak kecewa tapi juga bahagia. Kecewa karena sikap Chanyeol tadi… Ya begitulah! Bahagia karena dia dan Chanyeol tadi… Awwww! Rasanya Taeyeon ingin menjerit karena saking kecewa tapi juga saking bahagia.

 

Taeyeon menaikki tangga rumahnya. Matanya menangkap foto seorang yeoja. Yeoja yang begitu dibenci Taeyeon. Yeoja yang sudah meninggal 2 tahun lalu. Juga yeoja yang memberikan kedua matanya untuk Taeyeon, sayangnya Taeyeon tidak mengetahui akan hal itu.

 

”Seo Joohyun” desis Taeyeon.

 

‘Untung yeoja itu sudah meninggal. Coba saja kalau yeoja itu masih disini, pasti appa dan omma akan lebih menyayangi yeoja itu.’ batin Taeyeon sambil terus berjalan menaiki tangganya.

 

***

Entah karena apa. Taeyeon betul-betul membenci adik tirinya yang sudah meninggal itu. Taeyeon adalah anak hasil adopsi kedua orangtuanya. Sewaktu itu, Mr. dan Mrs. Seo tidak bisa memiliki anak. Mereka ingin sekali mendapatkan momongan. Hingga akhirnya Mr. Seo berniat mengadopsi anak perempuan di panti asuhan sebagai hadiah ulang tahun Mrs. Seo. Juga sebagai hadiah karena Mrs. Seo begitu menginginkan anak.

 

Keluarga itu bahagia. Sewaktu diadopsi, Taeyeon, nama anak yang diadopsi itu berusia 4 tahun. Hingga saat usia Taeyeon sudah 7 tahun, Mrs. Seo mengandung. Anak keluarga Seo yang pertama lahir saat Taeyeon sudah berusia 8 tahun.

 

Taeyeon merasa tidak adil. Hingga saat ini, Taeyeon masih membenci adik tirinya itu.

 

Mungkin jika Taeyeon mengetahui yang sebenarnya, saat Taeyeon buta akibat garam yang mengenai matanya, Seohyun-lah yang menyumbangkan matanya, mungkin Taeyeon akan menyesalinya.

 

***

KRING…

Alarm berbunyi. Taeyeon membuka matanya. Aneh sekali. Seperti bukan kamarnya. Kenapa langit-langitnya berwarna biru? Omo!

 

Taeyeon berada di kamar Seohyun. Taeyeon ingin sekali keluar dari kamar Seohyun. Tetapi, seluruh badannya malah menyeretnya menuju lemari kecil disamping tempat tidur Seohyun.

Tangan Taeyeon seperti bergerak sendiri. Hatinya menyuruhnya agar pergi dari kamar itu, tetapi otaknya menyuruh seluruh organnya membuka lemari kecil itu.

 

Diraihnya buku diary milik Seohyun. Dibukanya lembar demi lembar diary itu.

 

1 Oktober 1993

 

Hari ini aku bertemu dengan first loveku. Oh Sehun! Kya!!

 

+++++

 

13 Desember 1993

 

Omo, benarkah? Oh Sehun menyukaiku? Oh Sehun menyatakan perasaannya padaku? Kya! Terimakasih Tuhan!

 

+++++

 

25 Januari 1994

 

Mwo? Secepat itu? T.T Sehun Oppa! Jangan tinggalkan aku…😥

 

+++++

 

30 Januari 1994

 

Berita buruk. Aku tidak menyangka Sehun Oppa mengalami kecelakaan. Mulai dari tulang punggung sampai kakinya nyaris hancur. Dia terluka. Tuhan, mohon selamatkan Sehun Oppa.

 

+++++

 

2 Februari 1994

 

Untuk pertamakalinya aku menjenguk Sehun Oppa. T.T

 

+++++

 

10 Februari 1994

 

T.T kenapa kau meninggalkanku Oppa? Oppa!? Kenapa kau meninggalkan dunia ini?! Aku ingin ikut denganmu Oppa. T_T

 

+++++

 

16 Februari 1994

 

Sejak kepergian Sehun Oppa, aku tidak mau makan. Aku sering berhalusinasi kalau Sehun Oppa ada didekatku. Bahkan kurasa tadi malam dia menemaniku saat aku tidur… T_T

 

+++++

 

22 Februari 1994

 

Bayangan Sehun Oppa muncul! Dia bilang aku harus merelakannya…😥

 

+++++

 

24 Juli 1994

 

Kurasa sudah cukup lama aku menjadi Seohyun yang dingin. Aku harus keluar! Aku harus tersenyum lagi!

 

26 Juli 1994

 

Aku bertemu dengan seorang namja. Namanya Park Chanyeol. Kurasa aku jatuh cinta padanya!❤ Tapi walau begitu, cintaku pada Sehun Oppa sebanding 9 kali perasaanku pada Chanyeol-ssi…

 

JLEB…

Taeyeon terkesiap. Park Chanyeol? Jangan-jangan… Taeyeon meneruskan membaca diary itu.

 

10 Agustus 1994

 

Unnieku, tidak bisa melihat. Tuhan, semoga ada pendonor yang bersedia mendonorkan matanya untuk Taeng Unnie…

 

Senyum haru terukir saat Taeyeon membaca baris itu.

 

15 Desember 1994

 

Hari dimana aku jadian dengan Chanyeol Oppa. Akhh! Senangnya. Tapi… Apa ini berarti aku bersenang-senang disaat Taeng Unnie sedang sakit?

 

Dada Taeyeon terasa sesak saat membaca tulisan yang itu. Jadi… Chanyeol pacar Seohyun?

 

14 Mei 1996

 

Akhirnya kau kutemukan diaryku. Setelah hilang hampir 1 tahun lebih, akhirnya aku bisa menemukanmu. Bogoshipo… Hehe

 

+++++

 

25 Desember 1996

 

Natal ini. Mungkin akan menjadi natal terakhir bagiku. Aku memutuskan untuk menyumbangkan mataku untuk Taeng Unnie.

 

Hah? Taeyeon kaget bukan main. Jadi selama ini Seohyun yang menyumbangkan matanya untukku?. Kenapa Taeyeon tidak tahu?

 

… Mungkin sebentar lagi aku tidak akan bertemu dengan Chanyeol Oppa. Aku akan berpisah dengan kedua orangtuaku. Semoga Taeng Unnie bisa melihat lagi. Semoga, di atas sana aku bertemu lagi dengan Sehun. Diary… Mungkin ini adalah curhatan terakhirku untukmu…

 

Taeyeon menangis. Ingin rasanya tangisan itu meledak. Tapi, yang ada suara Taeyeon tidak keluar.

 

‘Jadi selama ini, Seohyun yang mendonorkan matanya? Mianhae Seohyun-ah, aku benar-benar minta maaf. Kalau aku tahu aku tidak akan memperlakukanmu seperti itu. Aku minta maaf Seohyun-ah. Unnie… Menyayangimu.’ kata Taeyeon dalam hati.

 

Hari Minggu ini, Taeyeon berencana menenangkan dirinya. Bukan ditaman tetapi di kamar Seohyun. Taeyeon diliputi oleh rasa bersalahnya. Kini ia sadar. Harusnya dia berterimakasih. Harusnya dia tidak membenci Seohyun. Seohyun adalah anak kandung appa dan ommanya. Sedangkan Taeyeon hanya anak hasil adopsi. Harusnya, Taeyeon masih bersyukur. Bukannya malah membenci Seohyun. Seohyun memang patut lebih disayangi ketimbang dirinya. Karena Seohyun adalah anak kandung.

 

Taeyeon mengedarkan pandangannya disetiap sudut kamar itu. Matanya berlinangan air mata.

 

Taeyeon menangkap bayangan seorang gadis. Seohyun. Rambut hitam lurus panjang, kulit putih susu, pipi tembem tapi menggemaskan, mata indah, bibir kecil dan tubuh Seohyun yang tinggi dan bagus. Itulah bayangan yang sekarang dilihat Taeyeon…

 

***

Tok Tok Tok…

 

Pintu kamar Chanyeol diketuk oleh seseorang. ”Masuk…” kata Chanyeol.

 

Seorang namja masuk ke kamar Chanyeol.

 

”Chanyeol-ah! Bogoshipoo!!” pekik seorang namja.

 

Chanyeol menoleh ke arah suara, ”Baekhyun-ah! Wah! Sudah lama aku tidak melihatmu. Kemana saja kau?” tanya Chanyeol sambil memeluk Baekhyun.

 

”Ya! Apa kau lupa? Aku ke Shanghai…” ucapan Baekhyun itu, seakan mengingatkan Chanyeol.

 

”Ne! Aish kau benar. Ya, kau kan ke Shanghai.” kata Chanyeol.

 

***

 

Chanyeol tengah asyik dengan mimpinya. Entah mimpi buruk atau mimpi indah. Dalam tidurnya, perlahan senyum terukir dari bibir Chanyeol. Namja itu sedang bermimpi…

 

”Sehun-ah?” panggil Chanyeol saat melihat namdongsaengnya mengenakan baju putih di dekat pohon terompet.

 

”Hyung…” ujar Sehun. Senyum menghiasi wajah tampan Sehun.

 

Chanyeol benar-benar tidak percaya. Apa dia hanya bermimpi? Untuk saat ini Chanyeol yakin dirinya sedang bermimpi. Tapi dia tidak akan mencubit tangannya dan merasakan sakit lalu bangun dan mendapati mimpinya itu tidak nyata. Chanyeol ingin tetap meneruskan mimpi itu.

 

Chanyeol berlari ke arah dongsaengnya yang sudah meninggal itu.

 

Dipeluknya erat Sehun. Sehun membalasnya. Tak kalah erat dari pelukan Chanyeol.

 

”Sehun-ah… Nan jeongmal bogoshipeo…” ujar Chanyeol.

 

Mereka melepaskan pelukannya. Kemudian Sehun berjalan menuju kursi yang dipenuhi rumput (?). Chanyeol mengikutinya dari belakang.

 

”Bagaimana disana hyung?” tanya Sehun yang sekarang sudah duduk di kursi rumput itu.

 

”Baik. Bagaimana denganmu?” tanya Chanyeol.

 

”Baik.” ujar Sehun singkat.

 

”Sehun Oppa!” suara seorang yeoja. Terdengar familiar di telinga Chanyeol. Baik keduanya menolehkan kepala ke arah yeoja  itu.

 

Sehun tersenyum mendapati Seohyun. Sedangkan Chanyeol, diam membeku dan menatap tak percaya. Seohyun… Itukah kau?

 

”ARGHHH!!” Chanyeol mengerang.

 

Derap kaki terdengar. Pintu kamar Chanyeol tiba-tiba terbuka.

 

”Gwenchana?” tanya Baekhyun yang datang dengan terengah-engah.

 

”Andwe.” jawab Chanyeol singkat sambil menggelengkan kepalanya. Keringat dingin mulai mengucur dari tubuh namja tinggi itu.

 

”Ceritakan padaku.” kata Baekhyun sambil berjalan menuju ranjang Chanyeol.

 

Chanyeol menceritakan semuanya. Tentang mimpinya itu. Baekhyun mendengarkannya dengan serius. Dan ketika mimpi itu berakhir, Baekhyun hanya diam saja.

 

***

Pagi ini, Baekhyun masih dalam keadaan yang sama. Masih diam saja. Seperti ada sesuatu yang aneh. Tapi entahlah, Baekhyun sendiri juga tidak bisa menyatakannya.

 

Chanyeol yang dari tadi sadar, akhirnya membuka mulutnya,

 

”Ada apa?” tanya Chanyeol.

 

”Aniyo hanya saja…” Baekhyun menggantungkan kata-katanya. ”Kau bilang Seo Joohyun?” tanya Baekhyun.

 

”Ne…” ucap Chanyeol lirih.

 

”Bukannya gadis itu sudah…” kembali. Baekhyun menggantungkan kalimatnya.

 

”Sudah… Sudah apa?”

 

”Meninggal.”

 

Chanyeol terkesiap mendengarnya.

 

”Mwo?”

 

”Ya! Bukankah kau kekasihnya? Kenapa kau tidak tahu?” tanya Baekhyun.

 

”Ya! Kenapa kau tidak memberitahuku.”

 

”Kau kan kekasihnya. Aku juga tidak berpikir kalau aku memberitahumu karena setahuku, dia kekasihmu. Harusnya kau tahu.” pernyataan Baekhyun itu seakan menjadi pertanyaan baginya. Bagaimana bisa Chanyeol tidak tahu?

 

***

Beberapa minggu setelah kejadian itu, mereka bertemu dengan seorang yeoja yang mengaku sebagai sahabat dekat Seohyun. Yoona namanya. Yoona menceritakan semua tentang Seohyun yang banyak belum diketahui Chanyeol.

 

Banyak hal yang akhirnya diketahui Chanyeol. Seohyun meninggal karena sakit juga menyumbangkan matanya untuk unnienya. Unnie Seohyun adalah Kim Taeyeon. Kim Taeyeon selalu bersikap dingin dan sangat membenci Seohyun. Seohyun adalah satu-satunya anak kandung dari keluarga Seo. Sedangkan Kim Taeyeon hanyalah anak adopsi.

 

Anehnya, ketika mereka berdua memperhatikan Yoona, ada sesuatu yang sedikit aneh dari yeoja itu. Bukan! Bukan sedikit! Tapi aneh sekali. Membuat bulu kuduk kedua namja itu berdiri : tubuh Yoona itu seperti bersinar, matanya juga sangat berbinar, bajunya putih bersih tanpa corak ataupun motif, bahkan satu hal yang membuat mereka yakin Yoona bukanlah sebangsa (?) mereka, tubuh Yoona menembus pintu…

 

***

Kembali pada Taeyeon. Taeyeon masih merasa bersalah pada Seohyun. Harusnya Taeyeon tahu diri.

 

Kini, Taeyeon duduk di kamar Seohyun. Berusaha mengingat-ingat adik tirinya itu.

 

Perlahan, Taeyeon membuka salah satu dari banyaknya album foto yang bertumpuk rapi di meja belajar Seohyun.

 

Album pertama yang dibuka itu, berisi banyak sekali foto Seohyun bersama keluarganya, termasuk Taeyeon.

 

Album demi album dibuka Taeyeon. Setiap album yang dibukanya pasti mendatangkan senyuman di wajahnya.

 

Album kedua berisi foto Seohyun bersama guru dan temannya. Album kedua berisi foto-foto Taeyeon, saat melihat album ketiga itu, Taeyeon menitihkan air mata. Album keempat berisi foto-foto Seohyun dengan Yoona *hehe jadi yang diatas tadi, Yoona udah meninggal. Makanya tubuhnya nembus pintu* , sahabatnya yang sudah meninggal karena leukimia. Album kelima berisi foto Seohyun dengan Oh Sehun, cinta pertama Seohyun. Kemudian, di album keenam, berisi foto-foto Seohyun bersama Chanyeol. Album keenam membuat Taeyeon agak sakit (?).

 

***

4 Bulan kemudian

 

Sejak pengalaman saat Chanyeol bertemu dengan yeoja bernama Im Yoona itu, Chanyeol jadi ingin mencari tahu lebih banyak tentang Seohyun, dengan cara mendekati Taeyeon.

 

”Taeyeon-ah!” panggil Chanyeol dari kejauhan.

 

”Oppa!” panggil Taeyeon balik.

 

Taeyeon berlari kecil kearah Chanyeol. Chanyeol melambaikan tangannya dan tersenyum pada Taeyeon.

 

BUK… ”Awh!” rintih Taeyeon.

 

”Ya! Taeyeon-ah, gwenchana?” tanya Chanyeol berlari kearah Taeyeon.

 

”Appoyo Chanyeol-ah…” kata Taeyeon. Suaranya sedikit terbata-bata.

 

”Naiklah, aku akan membawamu pulang.” Chanyeol berjongkok di depan Taeyeon. Tanpa berpikir lebih lama, Taeyeon menaiki punggung Chanyeol.

 

Perlahan, Chanyeol mulai berdiri dan berjalan. Chanyeol memegang kaki Taeyeon agar yeoja itu tidak jatuh dari tubuhnya.

 

”Chanyeol-ah…” panggil Taeyeon.

 

”Ne.”

 

”Apa aku berat?” tanya Taeyeon.

 

”Tidak.” jawab Chanyeol singkat.

 

”Apa aku merepotkanmu?” tanya Taeyeon lagi.

 

”Aniyo. Aku senang seperti ini.” ujar Chanyeol.

 

”Ne?” Taeyeon tak percaya dengan apa yang barusan Chanyeol katakan.

 

”Wae? Bukankah kau menyukaiku??” seketika itu juga, pipi Taeyeon memanas.

 

”M.mwo?”

 

”Sudahlah. Aku sudah tau.”

 

”Lalu…”

 

Dengan segera Chanyeol memotong pembicaraanya. ”Aku senang ada yeoja yang menyukaiku. Tapi maaf, aku masih sangat mencintai adikmu.”

 

Mata Taeyeon membulat saat itu. Mata Taeyeon memanas saat itu.

 

”Ne?” Taeyeon tak percaya dengan ucapan Chanyeol.

 

”Ne. Mianhae Taeyeon-ah. Aku masih mencintai Seohyun hingga saat ini. Walau aku tahu, kini tubuhnya sudah terkubur didalam tanah.”

 

ANDWE! Taeyeon tak ingin mendengarnya lagi. Jebal! Jangan bicara lagi Chanyeol-ssi!

 

”Sudahlah. Aku tahu kau akan sakit mendengar ini.”

 

Akhirnya, keduanya terdiam.

 

***

BRAK… Taeyeon membanting kasar pintu kamarnya. Wajahnya sudah merah sekali. Matanyapun juga ikutan merah.

 

Yeoja itu bersandar di pintu. Perlahan, tubuhnya mulai merosot kebawah. Akhirnya, yeoja itu tertunduk sambil memeluk kedua kakinya. Yeoja itu menangis.

 

”Chanyeol-ah, tak bisakah kau melihatku? Aku tahu kau mencintai Seohyun. Aku tahu dia adalah bagian dari kenangan terindahmu. Tapi bukankah dia sudah di surga? Kenapa kau tak cari pengganti untuknya? Seohyun-ah, mianhae. Aku mencintai Chanyeol.” isak Taeyeon.

 

Lama Taeyeon dalam posisi itu. Lama pula Taeyeon menangis. Hingga akhirnya, yeoja itu kelelahan dan akhirnya tertidur.

***

Ponsel Taeyeon berbunyi. Taeyeon meraba-raba lantainya hingga akhirnya menemukan ponselnya. Dengan malas dan mata yang sayu, Taeyeon menekan tombol hijau itu dan mendekatkan benda itu ke telinganya.

 

”Yeoboseyo, Appa…”

 

”Taeng-nni, bagaimana kabarmu?” tanya suara dari seberang.

 

”Baik. Bagaimana dengan Appa? Omma?” senyuman terukir di bibirnya walau matanya masih berat.

 

”Kami baik-baik saja. Tae, ada sesuatu yang ingin Appa katakan padamu.”

 

”Apa itu?”

 

”Hmmm… Kau akan pindah ke Jepang. Appa sudah menyiapkan segalanya. Passport, tiket dan semuanya. Besok pagi sekali akan ada orang yang akan mengantarmu.”

 

”Ne?” mata Taeyeon membulat. ”Ha..hajiman, Appa. Lalu bagaimana dengan kuliahku?”

 

”Hmmm…” desah Mr. Seo.

 

***

Taeyeon berjalan dengan gontai menelusuri kampusnya sore itu.

 

”Appa menyuruhku pindah ke Jepang. Aku tak bisa menolak. Aku akan merindukan Korea. Kegiatan rutinku mengunjungi makam Seohyun selama 1 minggu 2 kali, sebentar lagi akan berubah menjadi 2 tahun sekali. Lalu…” gumaman Taeyeon itu terhenti saat Taeyeon teringat seseorang. Ya, Chanyeol.

 

Tanpa pikir panjang, Taeyeon berlari menuju kelas Chanyeol. Nihil. Tak didapatnya namja itu. Kemudian cafeteria, taman, ruang kesenian : SEMUA NIHIL.

 

”Baekhyun! Baekhyun-ssi!” panggil Taeyeon kepada seorang namja berjarak 20 kaki darinya.

 

Baekhyun, namja itu menoleh kearah Taeyeon. Dilihatnya Taeyeon berlari kearahnya.

 

”Baek…hyun..sii…” nafas Taeyeon terengah-engah.

 

”Wae, kenapa…Chan…yeol…tidak masuk…hhhhh?” tanya Taeyeon masih dengan nafas tersengal-sengal.

 

”Ooo, kau tak tahu? Chanyeol sedang di Jeju dan besok baru pulang. Wae?” tanya Baekhyun.

 

”MWO??” pekik Taeyeon.

 

”Aish, jangan seperti itu Taeyeon-ssi. Aku tidak mau tuli!”

 

Taeyeon tak menggubris Baekhyun. Yeoja itu langsung pergi. Meninggalkan universitasnya. Menuju rumahnya.

***

Duduk Taeyeon di kursi panjang bandara itu. Sementara 2 orang namja dan 1 orang yeoja berdiri tak jauh disampingnya.

 

”Oppa… Kenapa kau tak bisa kuhubungi?” desah Taeyeon karena sejak dari kemarin, Chanyeol tidak bisa dihubungi.

 

Taeyeon mendesah. Agak berat hatinya meninggalkan Korea. Bukan! Bukan agak! Tapi sangat!

 

”MOHON PERHATIAN. PARA PENUMPANG TUJUAN JEPANG AKAN BERANGKAT 20 MENIT LAGI.”

 

”Oppa, aku ingin menghubungimu.” Taeyeon terisak lagi. Percuma, berkali-kali yeoja itu menghubungi Chanyeol.

 

”Nona, kita harus cepat.” kata yeoja yang dikirim Mr. Seo untuk mengkawal (?) Taeyeon.

 

Sementara 2 namja yang lainnya, membawa barang-barang Taeyeon menuju pesawat.

 

Perlahan Taeyeon beranjak dari kursi itu. Dilangkahkannya kakinya itu. Sementara yeoja tadi di belakangnya.

***

Sementara itu…

 

Chanyeol segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tujuan namja itu adalah bandara.

***

”Sebentar, aku ingin ke toilet.” ucap Taeyeon kepada yeoja tadi.

 

”Ne, saya tunggu Nona.”

***

Kembali Taeyeon menuju tempat tadi.

 

”Aku sudah siap.” kata Taeyeon pada yeoja itu.

 

”Ayo masuk nona.”

 

Baru selangkah Taeyeon melangkahkan kakinya. Tiba-tiba…

 

”Kim Taeyeon!” teriak seorang namja yang berhasil membuat Taeyeon dengan sigap membalikkan badannya.

 

”Oppa…” mata Taeyeon kembali memanas.

 

”Nona…” belum sempat yeoja di sebelahnya menyelesaikan ucapannya, Taeyeon sudah berlari menuju ke arah Chanyeol.

 

Keduanya berpelukkan.

 

”Chanyeol-ah…” kata Taeyeon dalam pelukan Chanyeol.

 

”Taeyeon-ah, kenapa kau tidak bilang-bilang dulu kalau mau ke Jepang?” tanya Chanyeol.

 

”Mianhae. Kau susah dihubungi.”

 

”Taeyeon.” Chanyeol mendorong Taeyeon agar dapat melihat wajahnya.

 

”Mianhae Oppa. Tapi, aku harus berangkat.” kata Taeyeon lesu.

 

Awalnya, Taeyeon berharap Chanyeol akan menghentikannya dan membujuk Taeyeon agar tidak usah ke Jepang. Namun ternyata, namja itu hanya diam saja.

 

Tinggal selangkah lagi Taeyeon memasuki pesawat itu. Untuk terakhir kalinya, Taeyeon membalikkan badan dan tersenyum ke arah Chanyeol.

 

DEG. Rasa ini…

Rasa ini seperti saat Chanyeol jatuh cinta kepada Seohyun.

 

‘Ya Tuhan, ada apa denganku? Aku merasa aku… Mencintai Taeyeon. Tapi, kenapa baru sekarang perasaan itu muncul? Kini aku merasa, aku tidak rela melepas Taeyeon. Aku… Ya! Aku mencintainya.’

 

”Taeyeon…” panggil Chanyeol.

 

”Wae Oppa?” tanya Taeyeon setengah berteriak.

 

”Saranghae!”

 

Taeyeon membulatkan matanya.

 

”I Love You. I love you from the last sight!”

 

Taeyeon bahagia dengan perkataan Chanyeol barusan. Taeyeon merasa keinginanya agar Chanyeol mencintainya terkabul. Ya, walau Chanyeol mencintainya dari pandangan terakhir.

 

”Nado saranghae! I love you at the first sight.”

 

Keduanya tersenyum. Taeyeon melangkahkan kakinya memasuki pesawat itu.

 

Dilihatnya pesawat itu sudah terbang di udara sana.

 

”Aku akan terus mencintaimu Taeyeon-ah. Saranghae…” gumam Chanyeol sambil terus memperhatikan pesawat yang ditumpangi Taeyeon itu hilang dari tatapannya.

 

-The End-

 

Hmm… mungkin FF saya ini agak mengecewakan (?)… HUWAA mianhae chingu…

Oiya, saya membuka lowongan utk siapa saja yg bersedia menjadi admin dan author di exoshidaefanfic.wordpress.com. Syarat bisa dibaca di blog tsb… GOMAWO!!

 


6 thoughts on “[Freelance] Love At Last Sight

  1. Msih bingung kok yoona bisa ketemu sma chanyeol,,pdhl yoona kn udh mninggal,,,*abaikan,,,
    daebbak author,,
    critanya bgus,,

    itu tae ksihan jg ortu nya pilih kasih ma dia,,,,,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s