[Freelance] Too Love #2


TOO LOVE chapter. 2

TITLE : Too Love

AUTHOR : Park HyeRie @Dictator3424

MAIN CAST : Choi Jinri,  Lee Taemin, Kim Jong In – Kai

And other casts

GENRE : Romance, family, little angst, etc.

LENGTH : chapter

RATE : PG16

Note:

Di chapter 2 ini nggak akan banyak dimunculin, tapi Kai yang akan mendominasi cerita dengan Jinri. Berbanding terbalik dengan chapter 1. Heheee… Jangan lupa RCL^^

Nggak suka pairingnya, nggak usah baca-_-v

Aku sekarang telah menemukan belahan jiwaku, yaitu kau Jinri-ah -Lee Taemin

 

Aku percaya bahwa kita suatu hari nanti benar-benar berada dalam ikatan suci itu -Kim Jong In

 

Yang berkhianat rupanya bukan dia, tapi aku!! Aku yang memulai semuanya -Choi Sulli

///////

Tepat pkl 04.40 KST, Taemin terbangun. Lagi-lagi ia menatap Jinri dengan seksama. Yeoja yang tengah terlelap di sampingnya dengan bernaung di selimut yang sama dengan yang ia gunakan. Ia tak menyangka akan melakukan hal tadi dengan seorang yeoja yang bahkan belum ia kenal lewat sehari. Yeoja ini tampak ajaib di mata Taemin. Ia selalu tidak peduli dan dingin bahkan ia seakan lumpuh, hanya dengan tatapan sendu dari gadis ini. Lucu memang, tapi ia merasa telah menemukan belahan jiwanya, Choi Jinri.

“Kau bahkan belum menjawabnya. Jeongmal sarangheyo, Jinri-ah”, ucap Taemin, seraya mengecup kening Jinri lalu menarik selimut untuk lebih menutupi tubuhnya dan Jinri. Ia kembali terlelap dengan memeluk yeojanya.

Flashback end..

///////////

JINRI POV

Sekarang aku berada di sebuah taman yang berada tak jauh dari kompleks rumahku. Duduk di sebuah kursi panjang dengan cat berwarna putih namun sudah tampak usam. Udara disini masih sangat dingin. Heuhh.. tentu saja inikan musim dingin. Musim dingin ini bahkan telah berhasil membekukan segalanya, bahkan masa depanku pun telah beku. Yah.. mungkin memang bukan karena musim dingin ini, tapi karena kebodohanku sendiri. Jeongmal paboya..

Aku menatap surat yang diberikan oleh seorang dokter muda cantik yang sangat jelas menyatakan bahwa aku hamil, dua minggu tepatnya. Ohh.. tuhan.. apa yang harus kulakukan sekarang. Aku benar-benar tidak menginginkan ini semua terjadi padaku. Aku juga tidak menginginkan bayi ini. Benar.. aku tidak menginginkannya. Hei.. aku masih terlalu muda, terlalu cepat bagiku jika aku harus mengurus bayi dengan statusku yang masih sebagai mahasiswa, apalagi ia hadir karena kebodohanku dan karena nappeun namja itu. Apa sebaiknya aku menggugurkan bayi ini? Mungkin ini cara satu-satunya yang dapat kulakukan, setidaknya untuk tetap melajutkan hidupku. Tapi, apa aku harus setega itu?

AUTHOR POV

Jinri yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri tak menyadari seorang namja yang dsedari tadi memperhatikannya dari jarak yang tidak begitu jauh. Ia bersandar di pohon yang sebenarnya jika diperhatikan dapat dijangkau oleh penglihatan Jinri jika saja ia tidak larut dalam pikirannya yang benar-benar menyibukkan itu.

Namja yang sangat sangat mencintai Jinri. Tentu saja, ia namjachingu Jinri. Namja yang Jinri anggap telah mengkhianati cintanya. Namun, sebenarnya tidak pernah sedikit pun ia berniat apalagi melakukan hal-hal untuk mengkhianati yeojanya itu. Ia menyiapkan sesuatu untuk Jinri, dan malam ini ia benar-benar akan menjelaskan semuanya.

Tiba-tiba namja itu mengeluarkan androidnya, dan mengetikkan beberapa kata untuk ia jadikan pesan singkat lalu ia kirim pada yeoja yang dari tadi ada tak jauh dari hadapannya. Ia tersenyum simpul melihat yeojanya, sebenarnya ia tak tega melakukannya pada awalnya. Namun, sedikit membuat kejutan tak apa bukan.

“Maaf.. kau pasti sakit karena aku.. Jinri-ah. Tapi percayalah aku benar-benar mencintaimu. Sangat..!! ku harap kau juga merasakannya..”, batin Kai. Tentu saja yang author maksud adalah namja itu.

//////////

Jinri yang masih setia duduk di taman itu, tiba-tiba dikagetkan oleh getaran yang berasal dari ponselnya. Ada pesan rupanya. Terpampang jelas disana nama Jong In oppa.

.. datanglah di taman pusat kota pkl 09.00 PM. Aku menunggumu.. baby. Ada sesuatu yang harus kau tahu. Saranghe..~

Itulah pesan yang dapat Jinri baca dari ponselnya. Jujur hatinya perih.. bagaimana bisa namja itu berkata seakan semuanya baik-baik saja? Dan untuk apa pula Kai menyuruhnya datang ke tempat itu? Apa ia mau mengabarkan pada Jinri kalau ia tidak mencintai Jinri lagi dan ia sudah punya wanita selain Jinri di hatinya? Jika memang itu yang ia ingin katakan, jujur saja Jinri belum bisa menerima semua kenyataan itu, meski memang Jinri sangat kecewa pada Kai, tapi setidaknya perasaan cintanya pada namja itu belum juga terkikis barang sedikit pun. Sampai saat ini hatinya masih dipenuhi oleh nama Kim Jong In alias Kai.

Seandainya ia adalah orang jahat… ia benar-benar akan menghampiri yeoja yang telah membuat Kai berpaling darinya dan ia akan membuat perhitungan dengan yeoja tersebut, tapi setidaknya Jinri sadar, ia bukan orang seperti itu, karena pada kenyataannya, bukan yeoja itu yang bersalah, mungkin yang patut disalahkan disini ialah dirinya sendiri, kenapa ia tidak bisa mempertahankan apa yang jadi miliknya, kenapa ia tidak bisa membuat Kai berdiri dengan nyaman disampingnya sehingga Kai tak perlu mencari yeoja yang lebih baik darinya. Miris memang, tapi inilah kisah menyedihkan Jinri, disaat ia tahu ia telah dikhianatai, ternyata kemalangan lain telah menjemputnya pula.

Matahari senja rupanya tak begitu membuat suasana musim dingin ini begitu hangat. Yah.. mungkin ia hanya penyemarak saja untuk senja ini. Merasakan keadaan yang bertambah dingin,sekarang Jinri telah merapatkan mantelnya yang berwarna hijau gelap, setidaknya ia sadar kalau ia pulang terlambat orang tua dan oppanya pasti akan mencarinya. Terlebih appanya.. tentu ia akan memarahi Jinri jika ketahuan putrinya ini hanya keluyuran menghabiskan waktunya, bukan malah belajar seperti yang selalu diwanti-wanti kan oleh appanya itu. Ia benar-benar meninggalkan taman itu. Sementara Kai yang masih berada di posisinya semula hanya mengeluarkan senyum tipisnya, yang cukup abstrak untuk diketahui maksudnya.

‘ku harap kau datang. Kau harus tahu sesuatu.. Jinri-ah’, gumamnya sebelum ia benar-benar meinggalkan tamain itu juga dengan menggunakan motornya.

//////////

Jinri’s Home

Dengan langkah gontai Jinri mulai memasuki ruang tengah rumahnya, rupanya hanya oppanya yang ia dapati tengah sibuk dengan androidnya.

“Eomma pergi menemani appa ke Daegu. Biasa urusan kantor”, ujar oppanya tanpa menolehkan wajah dari androidnya itu. Benar-benar sibuk rupanya.

“hmm..”, hanya gumaman yang Jinri berikan. Ia sedikit bingung dengan tanggapan yang harus ia berikan pada oppanya.

“Kau kenapa eoh? Sepertinya ada yang aneh.. kau ada masalah? Dengan Jong In?”, mungkin sekarang si android sudah tidak menarik lagi sehingga sekarang Jonghun-oppanya Jinri. Telah berdiri dan menatap intens yeodongsaengnya itu. Jonghun memang orang tampak sangat dingin, tapi kalau menyangkut masalah Jinri, ia benar-benar akan mencairkan dirinya.

“Ne..? ah.. anio oppa, gwenchana.”

“hehh… baiklah mungkin sekarang kau memang sudah dewasa, tapi aku adalah oppa mu. Arra? Jangan menyembunyikan masalahmu dariku. Bahkan kalaupun itu menyangkut masalah asmaramu sekalipun, bukankah selama ini tak ada seorang pun yang bisa kau ajak berbagi selain aku?”

“Arraseo oppa.. kau memang oppa-ku yang sangat perhatian dan baik. Tapi sekarang aku benar-benar baik-baik saja. Jadi tenanglah, mungkin ini hanya karena aku kurang istirahat. Tugas kuliahku sedang banyak.”, ujar Jinri  seraya tersenyum, setidaknya ia harus bisa meyakinkan oppanya. Ini masih terlalu dini jika ada seseorang yang tahu masalahnya.

“Ne.. oppa percaya padamu. Pergilah istirahat kalau begitu, jangan memaksakan dirimu, bagaimana pun kesahatan mu lebih penting. Lagipula appa juga sedang tak disini, kau bisa memanfaatkan waktu senggangmu”, Jonghun mengacak-acak poni adiknya. Kemudian ia tersenyum dan membiarkan Jinri berlalu dari hadapannya.

Sebenarnya Jonghun masih merasa janggal, karena memang tak biasanya Jinri seperti itu, bahkan ketika ia sangat lelah sekali pun. Setidaknya Jinri akan meneriakinya jika ia ketahuan kelewat sibuk dengan notebook, android, atau apapun yang membuatnya harus membagi perhatian dengan Jinri. Yahh.. walaupun Jinri tidak begitu manja, setidaknya ia masih sedikit enggan dinomor dua kan oleh Jonghun. Namun, beberapa minggu ini, Jinri tampak begitu dingin, kenapa sekarang keadaan tampak terbalik? Bukanlah selama ini ia yang bersikap seperti itu?

Hmm.. mungkin sekarang Jinri memang harus ia biarkan mandiri untuk setidaknya menyelesaikan masalah asmaranya sendiri dan satu hal lagi, sepertinya Jonghun juga harus mulai mencari seorang yeoja untuk dirinya sendiri agar ia juga punya kesibukan lain, selain kuliah, ngeband atau sibuk dengan gadgetnya.

///////////

Jinri POV

Drrttt~~ Drrttt~~

Euuhh..!! aku tertidur rupanya..

Drrttt~~ Drrttt~~

Handphone’ku dimana sih? Rupanya sudah malam dan lampu di kamarku tidak menyala. Penglihatanku masih samar-samar.

Drrttt~~ Drrttt~~

Aisshhh… jam berapa sekarang? Sepertinya aku menyimpan handphoneku tak jauh dari bantalku. Ahh.. ini dia!!

JongIn oppa calling..

Mau apa dia? Apa sekarang dia benar-benar menungguku. Ahh.. molla~ sekarang sudah jam 10.25 malam. Sehabis makan malam tadi aku ternyata langsung terlelap. 15 panggilan tak terjawab dan 19 sms yang belum terbaca olehku. Sudah kuduga ini semua pasti darinya.

‘Kau dimana sekarang? Aku menunggumu di taman. Jangan sampai kau tak datang.’ Yahh.. mungkin itulah inti dari setiap pesan yang telah ia kirim padaku. Apa aku harus benar-benar menyatakan dengan jelas bahwa aku tak akan datang? Seharusnya dia sadar kalau akan kesalahannya dan tahu kalau aku tidak akan datang, lagipula aku sudah sangat terlambat sekarang. Yahh… mungkin beberapa saat lagi dia akan meniggalkan taman itu. Ingat, ini musim dingin! Orang bodoh mana yang mau menunggu diluar di tengah cuaca yang super dingin ini. Hmm.. kecuali kalau JongIn oppa memang bodoh dan keras kepala.

‘aku tidak akan datang. Pulanglah sekarang oppa!!’, itulah pesan yang ku kirim padanya.

Drrttt~~ Drrttt~~

JongIn oppa calling..

Ohh.. Tuhan, apa aku harus mengangkatnya? Jujur saja aku tidak siap jika harus berbicara langsung dengannya. Bisa-bisa benteng yang telah berusaha ku bangun dengan susah payah diruntuhkan olehnya.

‘aku bilang sebaiknya kau pulang oppa. Udara sangat dingin! Pulang.. aku benar-benar tak bisa datang’

Drrttt~~ Drrttt~~

Heuhh.. sampai kapan dia menyerah? Sekarang dia malah mengirimiku pesan singkat lagi.

‘kau harus mengangkat telpon ku! Jebal..’

Drrttt~~ Drrttt~~

‘Yeoboseyo?’, dengan suara setenang mungkin aku berusaha mengeluarkan suaraku.

‘huufftt… jinri-ah, akhirnya kau mengangkat telponku juga. Kau dimana eoh? Apa kau lupa dengan janji denganku? Cepatlah datang, karena aku menunggumu’, suara bassnya benar-benar sangat kurindukan. Jujur saja. Tapi..

‘berhenti dengan basa-basi itu oppa. Bukankah aku bilang aku tak akan datang. Jangan menungguku, bergegaslah pulang. Udara sangat dingin, jangan melakukan hal-hal konyol yang akan membuatmu tampak bodoh!’, ucapku dengan suara sedikit bergetar. Ini pertama kalinya aku berkata sekasar itu padanya.

‘kau seharusnya tahu kalau aku benar-benar akan menjadi bodoh jika itu menyangkut aku! Jadi jangan heran kalau aku akan benar-benar menunggumu bahkan sampai aku membeku sekalipun. Asal kau datang! Aku tak peduli dengan udara ini’

‘yaakk… kenapa kau benar-benar keras kepala?!! Aku bilang….’

Tuuttt.. tuuttt…

Haahhh.. kenapa telponnya terputus? Ada apa ini? Dia benar-benar keras kepala, sudah tahu ini musim dingin. Untuk apa ia menungguku yang jelas-jelas tak akan datang. Baiklah.. baiklah.. lagipula ia pasti tak akan serius dengan ucapannya bukan. Ia tak akan menungguku, ini sudah  pukul 11 malam, setidaknya JongIn oppa pasti tahu itu.

Mataku ku alihkan ke jendela. Salju masih turun, walau memang tidak begitu lebat tapi aku yakin udara pasti akan sangat dingin sekarang.

Ayolah Jinri, jangan bodoh! Mau sampai kapan kau seperti ini, bahkan kalaupun udara dingin ini pun akan membuat dia sakit. Bukankah itu belum bisa dikatakan setimpal dengan rasa sakit yang ia tinggalkan untukmu? Bahkan masa depanmu sekarang telah di ujung tanduk.

Aku berusaha menyingkirkan rasa khawatirku pada JongIn oppa. Tapi rupanya sangat sulit. Aku benar-benar takut terjadi apa-apa padanya. Bersikap seolah-olah tak peduli padanya benar-benar menyiksa diriku sendiri. Setidaknya aku harus memastikan kalau dia sekarang sudah pulang.

Berkali-kali aku menghubunginya, tapi tak bisa! Hanya suara operator yang menyatakan bahwa nomornya tidak aktif. Jujur aku benar-benar sangat khawatir dan tak bisa berpura-pura lagi. Jangan sampai ia benar-benar menungguku. Akhh… aku mengacak-acak rambutku frustasi. Aku bisa gila kalau seperti ini.

Dengan bergegas ku ikat rambut panjangku dengan yang tadinya tampak cukup berantakan. Setidaknya ini lebih baik. Dengan bermodalkan satu stel piyama biru muda, aku cepat-cepat menyambar jaket dan mantelku. Aku pikir, aku harus benar-benar menyusulnya. Ini sudah tengah malam, setidaknya kalaupun ia benar-benar sudah tak disana, aku bisa tidur tenang setelah ini. Bukan malah seperti sekarang.

/////////////

Dengan berjalan cukup cepat aku berusaha mencari taksi. Tujuanku hanya satu, yah di taman itu. Dimana seharusnya JongIn oppa sudah benar-benar pulang sekarang, tak melakukan hal-hal yang benar-benar berhasil membuatku khawatir setengah mati seperti ini.

Setelah berjalan cukup jauh dari rumah, akhirnya aku menemukan taksi. Perasaanku semakin was-was. sekitar 15 menit akhirnya aku tiba di taman yang ia maksud. Aku bisa melihat pohon-pohon tanpa daun yang kini ada di hadapanku, tentu saja bukan hanya itu masih banyak yang lain. Taman ini cukup luas, aku belum dapat menemukan ia dimana.

Aku sudah cukup mengitari taman ini, tapi aku belum juga menemukannya. Sebenarnya ia dimana? Apa ia benar-benar sudah pulang? Jadi ia tak menungguku? Hei Jinri.. kenapa kau seakan kecewa, bukankah lebih baik seperti itu. Setidaknya itu berarti JongIn oppa baik-baik saja, tidak seperti yang dari tadi ku khawatirkan. Ia benar-benar pulang, mungkin itu juga bisa cukup untuk meandakan bahwa JongIn oppa lelah menungguku?

Aku sudah berniat kembali. Mungkin lebih baik seperti ini bukan. Ini seperti harapanku bukan? Dengan langkah biasa aku berjalan meninggalkan tempat ini. Rupanya cuaca benar-benar dingin. Aku mengusap-usapakan kedua belah tanganku untuk setidaknya mengurangi rasa dingin yang cukup menjalariku sekarang. Baru beberapa aku berjalan ingin meninggalkan taman ini, mataku menangkap sosoknya. Dengan berbalik dan menyipitkan mataku, aku benar-benar yakin itu dia.

‘JongIn oppa..’

Aku berjalan cepat ke arahnya. Dia benar-benar membuktikan ucapannya kalau ia benar-benar bodoh. Tak sadarkah dia kalau disini sangat dingin. Baiklah mungkin dia sudah tidak bodoh lagi. Dia gila..!!

Sekarang ia ada di hadapanku. Lebih tepatnya ia membelakangku. Ia duduk di sebuah bangku panjang. Rasanya aku ingin memukulinya karena telah membuatku sangat khawatir. Dengan perlahan aku berjalan menuju hadapannya. Apa ia tertidur? Ia memejamkan matanya.

“Oppa.. JongIn oppa”, aku menepuk pelan pipinya. Ia tak bergeming. Aku baru sadar kalau hidungnya merah. Ia pasti benar-benar kedinginan. Dahinya juga cukup hangat.

“Yaakk.. oppa ireonna!! Jangan membuatku khawatir”, suaraku bergetar, seketika itu air mataku tumpah. Aku benar-benar takut ia kenapa napa.

“Bukankah aku sudah bilang kau harusnya pulang saja! Kau benar-benar menyebalkan”, aku benar-benar menangis sekarang. aku lalu duduk di sampingnya dan memeluknya erat.

“Jebal.. jangan seperti ini. Kau membuatku takut”, aku sesegukan di bahunya. Namun, seketika suara tangisku terhenti. Aku sadar ternyata bangku yang menjadi tempat dudukku bersama JongIn oppa sekarang telah di kelilingi oleh lampu-lampu kecil yang bersatu sehingga berbentuk hati dan diantara bangku dan lampu-lampu kecil yang ku ketahui mengeluarkan cahaya biru ini, terdapat mahkota-mahkota mawar merah yang berserakan mengelilingi kami.

“Akhirnya kau datang. Keyakinanku ternyata tak salah”, ku dengar namja yang ku peluk sudah bersuara. Aku berusaha melepaskan pelukanku darinya. Ia benar-benar harus menjelaskan semuanya padaku.

“Biarkan seperti ini. Beberapa menit saja. Aku kedinginan”, ia mengucapkannya tepat di telingaku. Aku benar-benar berhasil dibuatnya diam. Tak bisa menolak. Ia memelukku makin erat setelah tanganku yang tadi kugunakan untuk merangkulnya ku biarkan bebas begitu saja darinya. Ia tampak benar-benar mencari kehangatan rupanya.

“Bisa lepaskan aku sekarang Tuan Kim. Kau membuatku sesak”, tentu saja perkatanku tadi bohong. Ini tak membuatku sesak. Setidaknya aku merasa bahagia di pelukannya.

“Jangan seperti itu nyonya Kim. Sebentar lagi waktunya tiba”, ucapnya dengan lembut. Benar-benar terdengar abstrak.

“apa maksudnya?”, seketika ku lepas pelukannya. Ini benar-benar membuatku bertanya-bertanya. Apa maksudnya semua ini dan maksud pernyataannya barusan?

“Kau lupa?”, aku semakin menatapnya bingung. Dengan wajah yang masih tampak pucat, ia kemudian tersenyum. Masih saja seperti dulu. Mampu membuatku berbunga-bunga.

“Ini 2th anniversary jadian kita. Sekarang tepatnya”, ia memperlihatkan padaku jam tanganya yang ternyata sudah tepat menunjukkan pukul 00.00 KST. Ia kembali tersenyum, lebih menawan dari yang sebelumnya. Dapat kurasakan jemarinya telah menggait erat tanganku. Ia benar-benar dingin. Bagaimana bisa ia menyiapkan semua ini untukku?

Ia semakin mendekat ke arahku. Dan..

Chu~..

Ia mengecup bibirku singkat. Aku bahkan masih bingung dengan semua ini, entah apa yang harus aku katakan padanya. Ia belum menjelaskan apa-apa, tapi sudah berbuat sejauh ini, sebenarnya apa yang ada di pikirannya. Beberapa bulir kristal kecil cair telah berhasil menetes dari pelupuk mataku. Aku tak bisa menahannya.

“Uljima.. Jinri-ah”, ia kemudian menghapus air mataku. Entah ini hanya perasaanku atau apa, tapi aku merasakan kalau tangannya makin dingin. Ku lihat wajahnya bahkan makin pucat pula. Yang membuatku kaget, ia menjatuhkan tubuhnya ke pelukanku dan semakin mengeratkan pelukannya.

“Saranghe Jinri-ah.. jeongmal saranghe”, aku tidak mampu berkata-kata lagi. Jujur aku sangat tersentuh dengan semua ini, apalagi dengan pernyataan barusan. Aku tahu ia tulus, tapi bagaimana dengan yang ku lihat di taman waktu itu. Apa itu ilusi?

“Oppa.. sebaiknya kita pulang. Kau hampir mati membeku disini. Ireona”, ucapku berusaha setenang mungkin, aku belum bisa merangkai kata yang lebih dari yang tadi.

“Katakan kau juga mencintaiku”, entah ini sebuah harapan atau sebuah perintah. Suaranya begitu lemah di pendengaranku. Aku tahu sekarang, ia pasti sudah benar-benar demam.

“Ini sudah tengah malam, oppa” aku melepas pelukannya. Benar wajahnya makin pucat.

“Mian.. Jinri-ah.. Mianhee.. A..ku akan.. men..jelaskan..”

“Sudahlah oppa, cukup! Ayo kita pulang, kau benar-benar akan mati kedinginan kalau seperti ini. Kau sakit!!”, tanpa meminta persetujuannya, aku segera memapahnya untuk berdiri. Segera pulang meniggalkan taman ini.

“Tapii..”

“Keras kepala!”, ucapku ketus dengan tetap memapahnya. Apa dia tidak tahu betapa aku khawatir dengan keadaanya yang seperti ini. Mungkin malam ini aku harus melupakan masalahku dengannya. Sesaat saja.

Aku berbalik sebentar menatap bangku tadi. Bangku dengan lampu-lampur kecil indah serta mahkota dari bunga-bungar mawar itu. Jeongmal yeoppo. Sayang, sekarang aku bahkan tak sempat menyatakn kebahagiaanku. Ternyata kami sudah bersama selama dua tahun.

/////////

Akhirnya JongIn oppa dan aku telah sampai di apartemennya. Untungnya, tadi taksi yang aku tumpangi untuk ke taman tersebut masih ada di sana dan sang sopir berbaik hati mengantar dan membantuku membawa JongIn oppa sampai ke aparetemen ini. Kalau tidak, mungkin aku akan setengah mati memapahnya. Apalagi di tengah keadaan JongIn opaa yang seperti ini.

Ternyata apartemen masih berdesain sama seperti dulu, tatakan barang-barangnya pun tak berubah. Masih seperti ketika kami dulu menatanya bersama di hari pertama ia mulai menempati apartemen ini sebagai hadiah dari orang tuannya. Satu hal yang membuatku takjub, passwordnya masih sama dengan password perdananya, yaitu 29031401. Bisa kalian tebak, itu gabungan dari tanggal ulang tahunku dengannya. Aku tersenyum miris mengingatnya. Seandainya saja keadaan masih sama seperti yang dulu. Pasti malam ini akan sangat menyenangkan bagiku. Tidak seperti sekarang. Memilukan!

Aku menyentuh keningnya, ternyata masih panas. Kemudian kunaikkan suhu melalui penghangat ruangan. Ku lepas sepatu dan pakaian yang kuanggap mengganggunya *tentu gak semuanya-sebagian aja* kemudian kunaikkan selimut hingga bagian dadanya.

Aku segera turun dari ranjang dan berlari ke dapur untuk mengambil air, agar aku bisa mengompresnya.

Kumasukkan handuk kecil merah yang kemudian ku peras dan kuletakkan di dahi JongIn oppa. Aku menatapnya lekat-lekat. Ku elus kepalanya dan sedikit memperbaiki tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.

‘Haaahhh… kenapa sekarang semua jadi seperti ini oppa?’, aku mendengus. Nasib percintaanku benar-benar malang rupanya. Ku kira setelah bertemu denganmu, kita akan berakhir dengan happily ever after *seperti yang EXO bilang*, tapi ternyata semua hanya mimpi dan kini aku sadar, aku telah terbangun dari mimpi itu. Sekarang aku harus menghadapi kenyataan yang jauh dari apa yang kuimpikan.

/////////////////////////////

Author POV

Mungkin karena kelelahan Jinri sekarang juga ikut tertidur. Matanya terpejam, ia duduk, namun dengan posisi menyandarkan kepalanya pada ranjang yang tempati Kai. Tanganya dari tadi menggenggam erat tangan kekasihnya, seakan tak ingin dilepas.

Sedangkan orang yang dari tadi berbaring di ranjang ternyata baru saja terbangun. Ia menatap pujaan hatinya yang rupanya masih setia menunggunya. Ia tersenyum, walau memang tak begitu lebar namun ia benar-benar bahagia. Ia merindukan saat-saat seperti ini. Dimana ia dan Jinri menghabiskan waktu berdua, walau hanya dengan menemaninya di perpustakaan.

Ia mengusap lembut kepala Jinri dan menatapnya wajahnya. Tampak dengan jelas di pandangan Kai kalau kekasihnya tidur dalam keadaan tak nyaman, bukan hanya itu, ia juga melihat kalau Jinri benar-benar kelelahan sekarang. ia sadar, betapa ia sangat menyusahkan Jinri rupanya. entah sekarang siapa yang sedang sakit. Niatnya ingin membuat kejutan, malah jadi seperti ini. Sepertinya ia benar-benar tak ada bakat untuk bersikap romantis.

Kai bangun dengan perlahan dari pembaringannya, dengan tak lepas melepas handuk kecil yang ternyata bertengger di dahinya. Ia tak ingin mengganggu Jinri tentunya. Kemudian dengan sedikit tenaga ekstra ia mengangkat tubuh Jinri dengan perlahan dan membaringkannya di ranjangnya. Walau masih sedikit lemas, rupanya ia masih memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu. Ia kembali tersenyum, wajah tenang Jinri berhasil menghipnotisnya. Jujur saja.

“Mian.. Mianhe Jinri-ah.. seharusnya malam ini menjadi melam romantis dan menyenangkan bagi kita. Tapi rupanya aku malah menghancurkannya. Bisa-bisanya aku sakit dalam keadaan seperti ini”, ucap Kai lembut sambil menggenggam tangan Jinri.

“Kau pasti sangat marah dan kecewa padaku karena kau melihatku di taman waktu itu. Sekali lagi aku minta maaf.. sebenarnya itu skenarioku. Aku mempersiapkan itu untuk mebuat kejutan padamu, dengan berpura-pura berkhianat. Dengar itu hanya pura-pura! Dan wanita itu sebenarnya hanya temanku. Heheheee.. kau tertipu rupanya dengan aktingku. Pasti hari itu kau ingin membunuhku bukan. Tapi kau tak bisa karena kau mencintaiku. Aku yakin!”

“Aku menyiapkan hal konyol itu untuk menyambut perayaan 2th anniversary jadian kita. Aku benar mati-amatian mempersiapkan semua itu. Di musim dingin seperti ini aku menyiapkan hal bodoh di taman dan ternyata membuat rencana yang ku susun hancur sendiri. Kau harus menyalahkan musim dingin ini. Arra!! Sebenarnya setelah menyaksikan pemandangan di taman itu, aku juga ingin mengajakmu makan malam romantis. Hmm.. tapi gagal, karena tubuhku terlalu lemah, jadinya yah.. seperti sekarang. Jeongmal paboya ”

“Tapi ada yang lebih menyakitkan dari semua itu. Kau tahu betapa sulitnya aku menahan diri untuk tidak menghubungi dan menampakkan diri di hadapanmu selama berhari-hari. Aku seperti kehilangan bayanganku saja. Baiklah itu memang perumpaan yang cukup gila. Namun satu hal tang harus kau tahu, aku mencintaimu. Jeongmal Saranghae”, ujar Kai seraya mengecup lembut tengan Jinri.

“Nappeun.. Paboya..” rupanya Jinri sudah membuka mata dan membalas ucapan-ucapan Kai. Kai pikir Jinri benar-benar msih tertidur lelap. Jinri segera bangun dari pembaringannya dan duduk di hadapan Kai.

“Lain kali bisakah oppa berbicara saat kau bangun. Kau berbicara di belakangku”, ujar Jinri berusaha menampakkan wajah kesalnya pada namja di hadapannya ini.

“Sekarang aku bahkan tampak benar-benar seperti pengecut”, Kai membalasnya sambil tersenyum.

“Kenapa oppa tak bilang dari awal. Eoh? Oppa tahu bagaimana perasaanku saat tahu kalau orang yang sangat kucintai nyatanya menghianatiku. Rasanya sangat sakit. Appo!”, rupanya bulir-bulir air mata Jinri sudah menetes di pipinya.

“Mianhe.. Jeongmal. Aku tahu aku sangat bodoh dan jahat padamu, tapi ku nohon maafkan aku Jinri-ah. Aku mempersiapkan perayaan anniversary kita, dengan mengesampingkanmu. Dan sekarang semuanya ternyata percuma, apa yang kurencanakan tak berjalan sesuai. Malah aku..”, ucapan Kai terhenti ketika Jinri memeluknya erat.

“Ne.. memang kau sangat bodoh. Kenapa tadi oppa sangat keras kepala. Hah? Oppa tahu betapa aku sangat khawatir dan kenapa juga oppa mempersiapkan segalanya tanpa meberi tahuku apa. Sehingga membuatku berpikiran kalau oppa telah berkhianat dan merasa menjadi yeoja paling tolol. Tapi nyatanya aku benar-benar tak bisa membencimu, karena aku juga sangat mencintaimu”, ujar Jinri di tengah isakannya.

“Uljima.. Mau sampai kapan kau menangis eoh? Ini pasti untuk yang kesekian kalinya kau membuatmu seperti ini. Aku benar-benar minta maaf Jinri-ah..” Jinri kemudian melepas pelukannya dari Kai dan menghapus air matanya.

“Tapi oppa harus janji untuk tidak berbuat seperti ini padaku. Yakso?”, ucap Jinri kemudian mengacungkan kelingkingnya.

“Ne.. yaksokhe..”, Kai kemudian mengaitkan kelingkingnya di kelingking Jinri. Mereka berdua kemudian tersenyum. Dilajutkan dengan acara mereka dengan saling mencurahkan rasa rindu, mereka menceritakan bagaimana hari-hari mereka ketika tidak ada kontak sama sekali. Rupanya mereka sadar kalau sebenarnya mereka berdua sama tersiksanya. Ternyata kue yang Jinri buat dulu ketika ulang tahun Kai, yang ia tinggalkan di taman rupanya sampai di tangan Kai, dan Kai bahkan menagku kalau ia menghabiskan semua. Walau Kai merasa cukup miris karena harus merayakan ultahnya sendirian. Mendadak suasana jadi hening. Dua insan ini larut dalam pikiran mereka masing-masing.

“Jinri-ah..”

“Eemmh… wae?”

“Hmm.. sebenarnya aku ingin memberikan sesuatu padamu”, ujar Kai berusaha setenang mungkin, walau ia sebenarnya sangat gugup. Yahh.. jujur saja, ini adalah inti dari semua yang ia siapkan selama ini.

“Ne.. apa itu?”, Jinri menyengitkan dahinya. Ia tentu saja penasaran. Jinri kemudian memperbaiki posisi duduknya, dimana tadinya ia bersandar di punggung Kai. Dan sekarang ia telah berhadapan dengannya.

Kai kemudian merogoh sakunya. Ia mencari-cari sesuatu. Suatu kotak kecil berwarna biru safir rupanya telah hadir di hadapan Jinri.

“Hmm.. mungkin ini memang terlalu dini. Tapi aku ingin menyerahkan ini padamu. Semoga kau menyukainya.”

Jinri tertegun melihat cincin emas putih dengan tahta berlian mungil di atasnya. Jeongmal yeppeo. Pasti harganya tidak murah. Jinri menatap Kai dengan tatapan nanar. Entah ia harus merasa seperti apa sekarang. jujur ia bingung menentukan sikap. Di satu sisi ia sangat bahagia dan ingin menerima cincin itu dengan senang hati, tentu saja itu karena Jinri begitu mencintai Kai dan jujur ia takjub dengan hal ini. Namun di sisi lain, ia merasa tak pantas. Baginya Kai terlalu sempurna. Hal tersebut bagai kasta tinggi yang tak bisa ia lawan karena ia sudah bukan Jinri yang dulu, sekarang ia sudah kotor, dan tentunya Kai akan sangat rugi jika memilih bersama dirinya.

“Maaf membuatmu tidak nyaman seperti ini, tapi aku hanya ingin kau menerimanya dan sebagai tanda bahwa aku telah melamarmu sebagai calon istriku. Yahh.. walau mungkin memang kita masih sama-sama muda dan kata menikah  masih jauh dari pemikiranmu. Namun satu hal yang harus kau tahu, bahwa ketika kita memulainya dua tahun yang lalu aku memang sudah percaya bahwa suatu hari nanti kita benar-benar akan berada pada ikatan suci itu”, Kai kembali tersenyum. Jinri hanya bisa membalasnya dengan senyum miris. Ia merasa bersalah..

‘Rupanya yang berkhianat bukan dia, tapi aku!!’

To Be Continue..

——-


31 thoughts on “[Freelance] Too Love #2

  1. OMG *speechless* trnyta Kai sbgtu cntany sm sulli, taemin’pun jg..errr
    Aq bnr2 bngung hrs ngedukung syapa dsni, aq it TaeLLi shipper yg skaligus mrangkap sbg KaiLLi shipper *plakkkk* hehe update soon yg author, aq sk ma ceritanya🙂

    Like

    1. Hehee… Kai+Taemm emang cinta banget sma Ssul eon, tpi gitulah.. Bnyak halangan untk mndptkannya.
      Reader bingung?? Riri sbg author jg bingung endingnya mw TaeLLi atau KaiLli. Abis dua2.ny cocok sihh..
      Ya udah.. TAEKAI aj klo gitu.. #digampar

      Like

    1. Sama siapa yah??
      Kai or Taemin?? *lah Riri jg malah balik nanya*
      Tnggu aja next chap.nya.. kita liat siapa true love.nya Ssul eon.
      Hmm.. Iy’.. Kai emng kasian banget. Pdahal dia segitu cintanya ma Ssul eon,, tp dy gak tau apa yg terjadi sebenrnya #poorKai

      Like

  2. wah.. Daebak!!! itu Kai oppa nya macam mana? T_T kasihan amat.. itu anaknya gimana nantinya thor?… thor… jangan biarkan Kai oppa sakit hati.. tapi Taemin oppa pun jangan dibiarkan sakit hati.. *waduh ters nantinya gimana?

    Like

    1. iya.. Kai emang kasian. Tapi tenang aja, seperti kta ‘brsakit-sakit dhulu, brsenang-senang kmdian’ #apadeh
      Kai nanti akan mendapatkan kbhagiannya. Dan tntunya Taemin pun tdak sya buat mnderita.
      Gomawo udh komen^^

      Like

  3. Huwa~~😦
    Jdi stengah” nih, awlnya aku dukung Taemin ama Sulli, tpi skrg jdi bingung. -.- aku jga ska Sulli sama Kai –”
    argh! *acak” rmbut onew (?)*
    pokoknya author harus tanggung jawab! Mesti lanjutin ff ini smpe tuntas dan cepet updatenya😀 janji? *acungin kelingking* xD

    Author udh sukses bkn aku suka Kai-Sulli😀

    Like

  4. Yahh.. Rambut Onew’ku jgan diacak-acak.. #lah(?)
    Daripada bingung ngedukung siapa, mendingan dkung aku sma Onew aja *kok onew lagi?
    Janji deh *Insyllah sih*, Riri bakal slesain smpe tuntas ni FF.
    Tpi, klo untk publish cepet, aku gak bisa janji. Aku kan author freelance, jdi hrus ngantri dlu.
    Gomawo udh komen^^

    Like

  5. Yahhhhh kok yg #2 ini pendek.. Haha..
    Duh parahhhh lagian Kai lebay jg sih pake acara sok2 selingkuh segala.. Uda deh jdnya kacau bgt.. Sulli udah hamil sama cowo laen..
    Yaudah sama Taemin aja deh Sullinya.. Kan anaknya anak si Tetem :p

    Like

    1. Mianhe.. Kalo chap. Ini kependekan..heheee
      Hmm.. Aku usahain next chap.nya lebih panjang dari ini.
      Kai jga jngan disalahin donk, kan dia juga kasian… *kok Riri jdi ngebela Kai(?)*
      Gomawo udah komen^^

      Like

    1. KaiLLi?
      Hmm.. Kita liat aja selanjutnya.
      Tapi yang pasti semuanya bakal berakhir Happy Ever After *jadi kyak lagu EXO aja*
      Hehee… Smga sym masih sabar nunggu next chap.nya.
      Gomawo udah komen^^

      Like

  6. oh apa-apaan ini? saya mau marah nih sama eonni. taemm nya mana? u,u

    ahh gak bisa komen apa-apa dah saking rumitnya. pokoknya kirim cepet part 3 nya okey? siip eon. fighting!!

    Like

    1. Yaa.. Eonni jngn dimarahin dong.. *aegyo*
      Taemm lagi ngurus ayam2 Onew dulu. Heheee… Brhbung kemaren Taemm sdah mnghbiskan bnyak wktu dg Sulli, maka kali ini qta beri ksmpatan u/ Kai.
      Sperti biasa.. Next chap.nya dtunggu *yg sabar yah saeng*
      Gomawo udh komen^^

      Like

  7. Taemin kemana?
    Kok malah dominan KaiLli?! Aduh, aku pendukung TaeLli!
    Gimana ya nasib sulli yg lagi hamil?
    Next part onn!

    Like

  8. huaaahhhh taelli…..
    aku udah baca yang part 1 nya….
    hahhh…. bagaimanapun aku SUKA….
    taemin nya bkan nappeun namja, sulli nya juga, dan ine ad kai…
    hahhh…. sukka sangatt
    tapi ,,, hahhh sediiihh pengennya taelli, tpi again kai sama sulli nya so sweet sangatt…
    ANDWAE…. ayo taemin datang….

    ohh yya, aku reader baru…. keke
    annyeong Taeyoten imnida

    Like

    1. Alhamdulilah.. Kalo udh suka sma ff abal sya ini.
      Iya.. Taemm bkan nappeun namja kok, Jinri aja yg blum sadar ama sifat malaikatnya Taemm.. *ngebela Taemm nih*
      Dtunggu aja yah next chap.nya Taemm bkal dtang kok.. Hehe
      Gomawo udh komen^^

      Like

  9. waaah!!!! daebak authorny!! Suka bngtzz ma konflikny… Bruntung ia dcintai o/ 2 good namja,, tp posisi & kondisiny bnar-bnar sngat sulit skali…! Ikut sedih..
    thor, next! next! saya tunggu…

    Like

  10. Annyeong… Readers!! Sya sbg author cma ingin mengumumkan bhwa Too Love #3 udh dipublish,,
    Tpi bukan d blog ini.. Ada kok d blog sebelah..
    readfanfiction.wordpress.com/2012/10/07/ff-freelance-too-love-part-3/
    kamsahamnida..^^

    Like

  11. thor,, lanjut dong!! beneran nih ff keren dah!! tapi kasian nih sma kai nya!!
    eh thor,, boleh nanya ga??
    kan kalo taemin emng nyata di couple in sma sulli .. kalo kai sulli itu emng couple asli atau author aja yg buat?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s