[Freelance] It’s Ours #1


Judul :  IT’S OURS  | Mine and Him

Main Cast : Xi Luhan 25th , Choi Sooyoung 23th, Xi Liyuan as Luhan’s child 2th, and Im Yoona 23th.

Another Cast : EXO’s Members, and other

Genre : Romance, Angst & Drama

Author : Ichi Makiko

Length : Chapter

Rating : NC -15 (jaga-jaga)

Note : disetiap chapt main castnya brubah2 —karena disetiap chapt konfliknya berubah2 juga—, tapi castnya masih samaaaa & Genrenya ikutan brubah juga… ==” ‘readers: dasar author ababil!’ kekkkee

Happy Reading ^,—

‘sudah lama aku tidak kesini …’

Akhir pekan yang indah bagi Sooyoung. Pergi ke Seoul adalah hal yang paling Sooyoung inginkan –setidaknya-  5th belakangan ini. Dan sekarang Sooyoung telah sampai di kota kelahirannya, kota dimana Sooyoung menemukan kasih sayang dan cinta dari orangtua, teman, dan juga kekasihnya. Mungkin kata ‘kekasih’ harus di coret dari daftar orang yang memberikannya kasih sayang. Ya, karena ia tak memiliki seseorang yang special di hatinya. Kecuali sang mantan kekasih.Sudah 5th pula Sooyoung berpisah dengannya, karna seorang sahabat. Sahabat yang paling Sooyoung sayang dan sudah Sooyoung anggap sebagai saudara kandungnya sendiri. Sooyoung mengalah karena ia tidak ingin membuat sahabatnya semakin menderita dengan melihat dirinya -Sooyoung- dengan pria yang ia —sahabatnya Soo— cinta.

Saat itu Sooyoung hanya berfikir bahwa kebahagiaan sahabatnya yang terpenting, tapi Sooyoung salah. Kesalahan yang Sooyoung buat malah menimbulkan penderitaan untuk hidupnya dan juga hidup mantan kekasihnya.

Hingga sekarang Sooyoung tidak pernah.. Tidak, salah. yang benar adalah Sooyoung tidak ingin menemui mereka, Sooyoung tidak akan mampu membuat mereka terluka, tapi apakah Sooyoung tau bahwa mantan kekasihnya juga merasakan apa yang Sooyoung rasakan selama ini? Tidak, Sooyoung tidak pernah memfikirkannya. Terlalu sakit. Itulah alasannya.

‘apa mereka sudah menikah?’ tentu saja!

‘apa mereka sudah mempunyai anak?’ mungkin…

‘atau mreka hanya berteman saja’ tidak, sangat tidak mungkin.

‘atau mereka sudah tidak ada hubungan lagi?’ ………

Banyak pertanyaan yang berputar dibenak Sooyoung, terlihat jika Sooyoung sudah mulai perduli dengan kehidupan mereka. Tapi Sooyoung tersadar bahwa ia telah memilih untuk meninggalkan mereka dan kenangan masa lalu yang menyakitkan itu.

Sekarang seharusnya ia telah mendapatkan kebahagiaan. Itulah yang ada dibenaknya -sekarang-.

‘TES TES TES’

HUJAN….

Jam telah menunjukkan pukul 03.00. itu berarti Sooyoung telah disini selama 2jam, hanya untuk merenungkan kesalah yang selama ini Sooyoung perbuat. Tak perlu ia bersusah payah untuk mengekspresikan semua itu, karena rintik hujan yang jatuh seakan menggantikannya untuk menangis membasahi tanah.

“heii!” seseorang yang sangat Sooyoung kenal sekarang telah berada dihadapannya.

“Luhan?!” Sama sekali tidak menyangka, Sooyoung bisa bertemu dengannya —kembali—.

“Sudah pulang kampung? Bagaimana kabarmu?”

masih seperti 5th lalu, tepatnya saat Sooyoung terakhir kali bertemu dengannya. Dia masih mencintai Sooyoung! Lihatlah sorot matanya, apakah Sooyoung tidak melihat gurat kebahagiaan di dalam mata yang hitam ke coklatan itu?

“hahaa… iya, studyku telah selesai, jadi aku memilih kembali ke sini.”Senyum itu, senyum yang Sooyoung berikan kepadanya hanyalah sebuah senyum perih. dan itu bukan senyuman yang 5th lalu Sooyoung berikan kepadanya.

Jangan ditanya mengapa Luhan ada disini. Ya, karena ketika Sooyoung akan kembali ke Seoul, Luhan selalu menyuruhnya untuk se-segera mungkin. Dan memaksa untuk menjemput Sooyoung di bandara. Sooyoung hanya pasrah saja, lagipula Sooyoung masih tidak –terlalu- nyaman untuk langsung menemui keluarganya.

“hahhaaa, baiklah. Selamat datang kembali di Seoul….” Sambil tersenyum manis dia menyambut Sooyoung. Senyumnya masih sama seperti 5th yang lalu, tak seperti senyum Sooyung yang terllihat pahit dan masam itu.

“ya” Sooyoung tersenyum dengan masamnya.

Sooyoung merasa sangat bersalah, kenapa Sooyoung meninggalkannya, Kenapa Sooyoung pergi begitu saja.

Semuanya telah berlalu, hanya itulah yang mampu Sooyoung ucapkan untuk mengelak Rasa bersalah yang teramat besar yang selalu mengusiknya selama ini.

“appa, ayo. Aku sudah selesai, apa appa sudah beltemu dengan teman appa?” suara anak kecil tiba-tiba mengagetkan Sooyoung dan juga mantan kekasihnya —Luhan—.

“eh, Yuan …”  dengan mensejajarkan tubuhnya, Luhan mengusap lembut pucuk kepala anak kecil tersebut.

“bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu ?” Luhan melihat kearah Sooyoung, seakan ia berbicara dengan Sooyoung, bukan kepada anak kecil yang ia panggil Yuan tersebut.

“hmm, baiklah” jawab Sooyoung

≈≈≈≈≈ @RESTO  ≈≈≈≈≈

“bibi, nama bibi siapa? bibi tau tidak, sejak seminggu yang lalu appa sangat belsemangat untuk beltemu bibi lho…” Pengakuan si anak kecil tersebut membuat Sooyoung menyukainya, entah.

Sooyoung tidak tau kenapa ia bisa menyukai anak kecil. Sejak dulu Sooyoung paling tidak suka dengan anak-anak. Apa lagi mendengar suara anak kecil yang memohon sesuatu terhadap seseorang. Bagi Sooyoung sama saja seperti suara anak kucing yang terus mengeong.

‘Tunggu, apa dia tadi memanggil Luhan dengan sebutan appa, Jadi dia —Yuan— adalah anak darinya —Luhan—?’ Sooyoungpun memutar otaknya.

Sooyoung berfikir harus menjauhi mereka, Sooyoung tidak mungkin akan mendekatinya lagi. Mereka telah bahagia, jika Sooyoung datang kepada mereka Sooyoung hanya akan membawa kesengsaraan bagi mereka. Membuka luka lama bukanlah suatu hal baik untuk semua orang. Termasuk ia dan mantan kekasihnya itu.

“ehehhe, Liyuan jangan membuka aib!” sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Luhan tersenyum malu.

“Benarkah? Hahhaa, mungkin bibi adalah orang istimewa..”

Sooyoung mulai lupa akan rasanya, Sooyoung sudah melupakannya oh tidak Sooyoung bukannya melupakannya tapi rasa itu yang pergi dengan sendirinya. Dan DENGAN BEGITU CEPATNYA.

“empp, tentu.. bibi adalah teman wanita appa yang satu-satunya Yuan tau. Tapi bibi belum menjawab peltanyaanku?”

“hahhaa, nama bibi Choi Sooyoung. bibi adalah teman appamu.” Sooyoung benar-benar sudah melupakan rasa ingin pergi dari mereka.

“namaku Xi Liyuan, 3 bulan lagi aku akan belulang tahun yang ke 3 lho…” Ucapnya dengan penuh semangat.

Sooyoung hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepala saja. Liyuan terlihat sangat menyukai Sooyoung, dari bandara sampai di restoran ini dia selalu tersenyum. ‘bukankah anak-anak memang ceria’ batin  Sooyoung.

“appa, bukankah kita nanti akan mengunjungi eomma? Apakah bibi Sooyoung akan ikut?”

‘Mengunjungi? Apakah yang terjadi? Apakah Yoona dalam keadaan yang tidak baik?’ batin Sooyoung kaget.

“ne, sebaiknya Yuan yang bertanya sendiri..” jawab Luhan sambil melihat daftar menu yang di beri oleh pelayan. Yuan yang mendengar jawaban dari appanya mengangguk mengerti.

“bibi.. apakah bibi mau pelgi mengunjungi eomma belsama kami?” Tanya Yuan dengan polosnya.

“emm.. baiklah, bibi akan ikut” ucap Sooyoung dengan mengerutkan jidat-?-nya.

Sungguh Sooyoung sangat tidak menyangka, kenapa Luhan mengajak Sooyoung menemui istrinya. Bukankah itu akan menjadi hal terburuk yang akan terjadi.

Apakah Sooyoung harus menolaknya. Tidak, Sooyoung harus ikut dengannya. Setidaknya Sooyoung bisa mengucapkan selamat kepada Yoona dan sedikit beracting terkejut karena mereka telah memiliki seorang anak yang benar-benar tampan.

Bukankah keadaan Yoona sedang tidak baik? Jadi tidak ada alasan untuk Sooyoung menolak ajakkan Luhan dan Yuan.

Sooyoung mulai iri kepada mereka. Namun, Sooyoung kembali pada kenyataan dan ia akan melupakan masa lalu setelah itu ia akan membuka hatianya untuk orang lain.

‘kenapa aku harus berkutat dengan masa lalu yang suram itu? lebih baik aku mencari seseorang untuk membenahi hidupku yang kacau ini.. kekkkeekkke’ ucapnya dalam hati.

≈≈≈≈≈ Sooyoung POV ≈≈≈≈≈

Sakit. Sangat sakit yang kurasakan, kenapa ini bisa terjadi, apakah dia mulai membenciku? Tunggu, bukankah aku —sudah— tidak memiliki hubungan lagi dengannya. Percuma saja, kenapa yang kurasakan begitu sakit.

Apakah dia benar-benar anaknya, kenapa terlihat berbeda. Setidaknya jika Yuan adalah anak dari Luhan dan Yoona, Yuan akan terlihat sedikit mirip dengan mereka. Tapi kenapa Yuan terlihat berbeda sekali.

Hahh! Apa yang kupikirkan, sangat tidak penting untukku. Lebih baik aku menghabiskan makanan ini sebelum mereka meninggalkanku. Tapi mungkin aku harus menata beberapa kata untuk menemui Yoona.

Jujur saja aku sangat tidak srek untuk saat ini, bagaimana bisa aku menyetujui ajakkan Yuan dan Luhan untuk menemui Yoona. Dasar bodoh!! Sejak kapan lulusan universitas yang notabennya universitas ternama menjadi sebodoh ini.

Tapi…….. jika aku menolaknya akan terlihat sangat jahat kepada Yoona. Oh god, Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku membatalkannya dan beralasan ingin pulang cepat.

”yaa, Soo… kenapa kau memukul kepalamu?” Tanya Luhan tiba-tiba.

“uhukk..”

Aku yang kaget karena ia berbicara dengan cepat dan keras, langsung tersedak makanan yang tengah ku kunyah.  Aku memukul dadaku berkali-kali, berharap makanan yang sedang berkontraksi dengan tenggorokan ku dapat keluar.

“bibi! Cepat minum ini..” dengan segera Yuan memberiku segelas air.

Anak kecilpun tanggap jika ada orang yang sedang terluka -?-. kenapa appanya hanya melihatku sambil membulatkan matanya?

Tanpa babibu lagi aku meminum habis air dalam gelas itu. haahhhhh~ rasanya begitu melegakan, akhirnya rasa yang bercampur aduk itu telah hilang dari tenggorokanku. Dengan senyuman di bibirku, aku mengusap sisa-sisa air dengan punggung tangan. Sambil melihat ke arah Luhan yang sedari tadi diam saja, kupikir ada sesuatu yang ia pikirkan. Kenapa dahinya berkerut seperti itu. tidak biasa.

“apakah bibi baik-baik saja?” Tanya Yuan dengan raut kekhawatiran ala anak kecil.

Menurutku itu sangat lucu, raut muka anak kecil yang polos dengan sedikit kecemasan membuatku sangat ingin mencubit kedua pipinya yang terlihat seperti bapao itu. Andai saja ia adalah anakku, pasti setiap hari aku akan menciuminya. Dan membanggakannya didepan semua orang. Kekkkeeke…

“ahh, bibi baik-baik saja..” jawabku sambil mengacak-ngacak rambutnya.

“haaahh.. bibi membuat Yuan khawatil..” raut muka yang menampakkan kekhawatirannya telah hilang terggantikan oleh senyum yang seolah-olah mengtakan ‘untung sajaaa’.

Semakin membuatku menyukainya. Bagaimana bisa ada anak kecil selucu ini, bolehkah aku menjadi ibu ke-2 mu Yuan? Ahh, aku terlalu mengharapkan. Cukup menjadi bibimu saja itu sudah cukup. Tapi…

Ketika melihat senyuman Yuan yang begitu tulus —menurutku— aku jadi ragu jika dia.. ahh, tidak seharusnya aku berfikiran seperti ini. Tentu saja Yuan dekat dengan ibunya, jika tidak pasti Yoona akan sedih saat ini. Kurasa aku mulai memikirkan hal yang bukan-bukan..

“BWAHAAHAHAAA… kau sangat lucu Soo..” ucap Luhan tiba-tiba, apakah dia sudah gila.

“apa maksudmu hahhh!!” jawabku sambil menatapnya sinis.

“masih sama seperti pertama bertemu, ketika kau tersedak.. pasti.. pasti kau ling-lung seperti orang buta arah.. bwahahahaaa” sabil mengelap airmatanya Luhan tetap tertawa dengan tidak elitnya.

“hssss…. Dasarr!” dengusku kesal.

Apakah dia tidak malu dengan perbuatannya yang memalukan itu. memang sih, kami makan di restoran biasa, tapi sangat tidak enak jika kau mengganggu acara makan siang orang lain. Apa lagi menjadi pusat perhatian, aku sangat membenci itu semua, tapi kenapa ia tidak? Mungkin urat kemaluannya —?— sudah putus.

Yuan yang tak mengerti apa-apa hanya memandangi kami bergantian, mungkin sekarang ia sedang bertanya-tanya kenapa bisa appanya tertawa terbahak-bahak setelah melihatku tersedak.

Apa karena aku meninggalkannya ia jadi seperti ini? Oh, aku tidak menyangkanya. Sungguh kasian kau Luhannn!! Ahh, tapi bukankah kau sudah memiliki seorang istri yang cantik dan juga pandai dalam semua hal, tak seperti aku ini. Yang hanya bisa menghabiskan waktu dan uangku untuk hal yang —sebenarnya— tidak penting untukku.

Dia mendapat nilai 10 dan aku mendapat nilai 3, jauh bukan. Tak percuma aku meninggalkanmu, jika akhirnya kau mendapatkan seseorang yang benar-benar sempurna. Tak ada sedikitpun kekurangan yang ia miliki. Tuhan memang sangat adil.

≈≈≈≈≈  FLASH BACK  ≈≈≈≈≈

Pertama kali kami —aku dan Luhan— bertemu aku sedang makan di warung ramyun, dan secara tidak sengaja aku tersedak kuah ramyun yang sangat panas. Alhasil aku kelimbungan bagaimana harus menanganinya, karna sebelumnya aku tidak pernah tersedak. tapi, tiba-tiba Luhan datang dengan segelas penuh air putih, dan menyuruhku untuk meminumnya.

Setelah itu ia bertanya kenapa aku tidak segera mengambil air dan meminumnya. Dengan polosnya aku menjawab jika aku tidak pernah tersedak sebelumnya, dan Luhan langsung tertawa didepanku. Langsung saja aku menyiramnya dengan air. Sejak saat itulah kami sering bertemu di warung ramyun itu.

Dan ketika masuk senior high school ternyata kami satu sekolah. Tapi saat pertama kali masuk senior high school Luhan menyatakan perasaannya terhadapku dan… dengan begitu saja aku menerimanya.

Mungkin pada awalnya aku merasa jika aku berpacaran dengannya aku bisa memanfaatkannya, tapi setelah beberapa lama. Aku malah benar—benar jatuh cinta degannya, suatu keajaiban yang sangat tak ku sangka pada saat itu. tapi keajaiban itulah yang membuatku selalu tersenyum dan mensyukuri hidupku —selama itu—.

Sikapnya yang hangat, penuh perhatian, dan penyayang membuatku selalu memfikirkannya. Setiap aku akan melakukan sesuatu aku akan teringat oleh perkataannya yang mengharuskan ku untuk melakukan ini ataupun itu. dia bagaikan kompas yang menuntunku di tengah gurun pasir, mengharap jika aku tidak tersesat ataupun berputar-putar di tempat yang sama.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Teringat jelas saat kencan pertama kami, pada saat itu aku yang memang tidak serius akan hubungan tersebut selalu bertindak sesuka hatiku. Dan tanpa memikirkan perasaanya —jahat bukan, tapi itulah aku pada saat itu—. kencan yang seharusnya pada pukul 4 sore di taman kota, aku mengulurnya hingga pukul 6 sore tanpa memberitahunya.

“ne, maaf aku telat. Tadi eomma menyuruhku untuk membantunya membereskan rumah.” Ketika aku sampai ditaman aku masih melihatnya duduk di salah satu bangku taman, aku datang kepadanya lalu meminta maaf kepadanya dan bersikap agak dingin.

“tak apa, itu bukanlah hal yang disengaja. Baiklah,karena kau sudah datang..  tempat mana yang ingin kau kunjungi pertama kali?” ucapnya, tetap dengan senyuman. Tidak lupa ia memberikan bunga yang ada di tangannya. Bunga itu sudah agak layu, mungkin ia membelinya tadi sore.

Terlalu baik bukan? Dia sangat sempurna, gadis mana yang tak tertarik olehnya. Ketika mataku terbuka akan sikapnya yang sangat tulus kepadaku—

“youngie—ahh.. aku ingin memberitahumu sesuatu..” ucapnya

“ne, apaa?” jawabku sambil menengok kepadanya.

“aku sedang mencintai seseorang, emm… dari dulu.. yaa, dari dulu dan selamanya. Bahkan aku mencintainnya melebihi diriku sendiri.. hahhaa”

“itu bagus bukannn, jadi siapakah pria beruntung ituu?”

“dia adalah… Xi Luhan….”

—Ada  seorang gadis yang mengatakan jika ia sangat mencintai Luhan dan rasa cintanya kepada Luhan melebihi rasa cintanya terhadap dirinya sendiri. Aku diam, dan tak merespon perkataanya. Aku tidak bisa mengucapkan apapun, tak ada satu kata yang dapat keluar dari rongga leherku. Aku merasakan mataku terasa sangat panas dan berair, namun aku tetap menahan cairan itu agar tidak jatuh didepannya.

Tetapi aku tidak bisa menahannya. hatiku terasa sangat sakit saat itu —mungkin dari saat itu hingga saat ini rasa sakit itu masih berada di dalam hatiku—, saat mendengar sahabatku mengatakan hal yang tak bisa ku mengerti kenapa ia dapat mengucapkannya kepadaku.

Pada awalnya aku merasa jika Yoona sangat keterlaluan kepadaku, aku merasa jika ia sangat egois, bagaimana bisa dia menyukai bukan ia mencintai pacar sahabatnya sendiri. Dan juga, Yoona mengatakannya kepadaku sendiri, dan dia juga tau jika aku dan Luhan —pada saat itu— sedang berpacaran.

≈≈≈≈≈ end of FLASHBACK  ≈≈≈≈≈

Tapi, sekarang adalah jawaban dari semuanya. Aku merelakan semuanya, merelakan cinta yang baru kutau apa arti dari kata itu setelah aku bertemu dengannya. Disatu sisi, aku merasa sangat bodoh dengan keputusanku ini. Tapi, disisi lain aku merasa jika keputusan ini adalah keputusan yang sangat tepat.

Hingga sekarang aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya kurasakan. Sedihkah, suka kah, atau tak peduli? Tidak, mungkin option yang terakhir bukanlah jawabannya. Haruskah aku bertanya padanya? Jika aku bertanya apakah ia dapat oh tidak, mungkin kata ‘dapat’ tak pantas, apakah dia mau menjawabnya? Ya, ini yang ku maksud.

Xi LiYuan adalah sisi positif dari keputusan yang ku ambil, jika aku tetap mempertahankannya mungkin Yuan tidak akan ada. dan tidak akan ada senyum hangat yang terlukis pada bibir Luhan saat ini.

Ya, itu adalah sisi positifnya. Aku tidak ingin membicarakan hal buruk terus menerus. Bukankah aku ingin keluar dari kubangan lumpur ini? Ya, maka dari itu aku harus bisa menemukan pria yang lebih darinya. Dan..

Ku harap… aku segera menemukan pria itu ….

“ahh, bibi melamun lagi?” suara khas anak kecil —suara milik Yuan— menyadarkanku dari lamunanku.

“ahh..”

“jika kau melamun lagi bisa-bisa kau tersedak lagi” Luhan ikut mengingatkanku.

“appa, tidak usah berkata sepelti itu.. appa diam saja, ketika bibi youngie tersedak..” ucap polos khas anak-anak keluar dari mulut Yuan. Untuk saat ini aku merasa —sudah— tidak dipojokkan lagi.

“maaf.…” ucap Luhan, mungkin ia merasa bersalah setelah ia mendengar sang anak mengucapkan kata-kata yang begitu menohok —?—.

“hn…” ucapku dingin

“jadi, lebih baik kita cepat-cepat untuk menemui Yoona. Dia pasti sangat khawatir anak dan suaminya tidak segera pulang kerumah..”

mencoba sewajar dan seramah mungkin aku mengatakan kalimat yang cukup membuatku untuk mengeluarkan makanan yang telah ku masukkan kedalam mulutku —dan mungkin sekarang sedang proses menuju ke dalam— beberapa menit yang lalu. Mungkin.. akan sangat mudah mereka —makanan— keluar, karna kupikir mereka masih berada di kerongkonganku.

Ketika aku melihat kearah Luhan, raut mukanya berubah semakin masam. Namun, beberapa detik kemudian ia menganggukkan kepalanya dan menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman, senyum paksaan dibandingkan dengan senyuman sebelumnya.

“hemm, benal eomma pasti sangat melindukanku..” ucap Yuan dengan senyuman yang sangat lebar di bibirnya.

“kalau begitu ayo… tapi kita harus beli bunga dulu untuk eomma.” Jawab Luhan sambil menggandeng tanganku dan tangan Yuan. Hangat.

Dengan halus ku tepis genggaman tangannya yang begitu hangat —tidak hanya tanganku yang merasakannya, tapi seluruh tubuhku—. Aku sangat merindukan saat seperti ini.

Ia memandangku dengan tatapan bertanya ‘mengapa?’ Dengan menganggukkan kepalaku dia sudah mengerti apa maksudku menepis genggaman tangannya. seperti kembali pada 5th yang lalu. Saat yang ku abaikan pada waktu itu.. tapi sangat ku butuhkan saat ini. Mungkin aku terlalu naïf untuk semua ini, tapi tidak seharusnya aku seperti ini.

Tidak lama setelah itu, kami segera masuk kembali kedalam mobil. Yuan duduk di pangkuanku, karena mobil ini adalah mobil sport yang hanya bisa di huni —?— oleh dua orang saja. Suasana didalam mobil agak sedikit tegang, entah karena aku yang mengatakan bahwa Yoona akan blablablaaa, atau karena tadi aku melepaskan genggaman tangannya.

Ingin sekali segera sampai di toko bunga dan rumah mereka —Luhan&Yoona—. Aku mulai takut untuk membuka bibirku, kenapa Luhan bisa berubah menjadi seperti itu? apakah dia benar-benar marah karena perbuatanku tadi. bukankah perbuatanku itu benar, jika aku membiarkannya akan menjadi masalah jika ada seseorang yang mengenalnya mengetahui jika Luhan menggandeng tanganku di restoran, sementara itu istrinya sedang dirumah dengan perasaan cemas kenapa suami dan anaknya tak kunjung pulang.

Mungkin rasa khawatirku berlebihan tapi inilah yang kurasa.

“baiklah, kita sudah sampai di toko bunga.. ayo cepat turun..” ucap Luhan terhadapku dan Yuan.

“wahh, appa cepat sekali menyetilnya..” ucap Yuan sambil membuka pintu mobil dengan tangan mungilnya.

“tentu sajaaaa…”

Di toko bungan kami berkeliling untuk mencari bunga kesukaan Yoona, sebuah ide melintas di otakku. Bagaiman jika aku memberikan sebuah rangkaian bunga MAWAR kesukaan Yoona dan menuliskan pesan untuknya. Yahh, ide yang tidak buruk.. I’ll do it!

Karen aku ingin memberikan Yoona bunga MAWA, aku berpencar dari Luhan dan Yuan. Mereka pergi kesisi kiri toko sedangkan aku yang menangkap siluet bayangan MAWAR ada di dalam toko tersebut, langsung melangkahkan kaki kedalam toko itu.

Bunga yang ada di toko ini sangat segar, ada beberapa tetes air yang masih berada di mahkota dan daun bunga. Setelah memilih bunga mawar yang paling indah aku meminta kepada pelayan toko untuk memberiku sebuah kertas dan pena. Akupun mulai menulis di kertas kecil itu dengan pena yang telah diberikan oleh pelayan tadi.

‘haii, Yoona!!

Lama ya tidak bertemu, kau pasti semakin bahagia

dengan bertambahnya anggota keluargamu.. aku juga ikut bahagia!!

Kuharap kau suka dengan bunga ini J

Kau tau, mereka baru dipetik dari kebunnyaa!

Your best friend

Youngie❤ ‘

 

Semoga ia suka dengan karangna bunganya..

Sesaat kemudian aku membayar bunga ini dan di kasir aku bertemu dengan Luhan dan Yuan. Mereka membawa bunga lily putih. Bukankah Yoona menyukai MAWAR merah? Tapi kenapa mereka membeli lily putih?

“eerrrr.. bukankah Yoona menyukai MAWAR merah?” tanyaku pada Luhan.

Ia menoleh dan tersenyum simpul kepadaku, tapi ia tidak mengatakan apapun. Akupun semakin pusing, apakah Yoona sudah tidak menyukai MAWAR merah? Jadi apa gunanya aku beli ini, hahh. Sudahlah suka tidak suka dia harus menerima ini.

“kau akan mengerti, nanti……” ucap Luhan sambil menatapku dengan pandangan sayu.

“ne..” jawabku dengan pandangan ita itu. semakin jauh semakin tidak kumengerti apa yang dia maksud sedari tadi.

“bibi youngie sangat baik ke eomma… pasti eomma sangat gembila ketika bibi mengunjunginya..” ucap Yuan sambil menggandeng tanganku. Mengajakku mengikuti appanya yang sudah masuk ke dalam mobil terlebih dulu.

Mengunjungi? Apa lagi iniii……. Kenapa mereka berdua sangat hobi membuatku menjadi orang yang tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Baiklah aku akan diam dan berpura-pura tidak —terlalu— memperdulikannya.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Sudah cukup lama kami berada di dalam mobil sport ini, tapi mobil ini tak kunjung berhenti. Yang menandakan bahwa kami belum sampai di tempat tujuan.

Semoga tidak lama lagi, selesai memberikan bunga kepada Yoona dan mengobrol sebentar dengannya setelah itu pulang dan beristirahat. Aku sangat tidak sabar ingin menjatuhkan diri ke kasur empukku yang telah kutinggalkan selama 5th ini. Apakah mereka masih ada? mungkin, eomma telah menyimpan semuanya.

‘One mistake, got a one regret, daremo kanpeki janai tte

sou iiki ka setemitemo, naniwo shitemo kizu ha iyase nakute

ima Time Machine…’ (SNSD — time machine)

eh.. sepertinya aku mengenali bunyi ini..

“smartphoneku..!” seketika aku merogoh tas yang berada di pangkuan Yuan.

Tapi kenapa tidak ada? kalau ada suara pasti ada benda bukan, tapi dimana smartphoneku. Ahh, kalau telfon penting bagaimana. Aku mulai gila Karena tidak menemukannya.. aku merasakan jika mobil ini menepi ke pinggir jalan, tapi untuk apa?

“ini…” ucap Luhan, sambil mengulurkan tangannya, ada smartphoneku di genggaman tangannya.

“gamsahae..”

Aku langsung mengambil smartphoneku darinya, bagaiman bisa smartphoneku ada pada dirinya. Apakah ia mencurinya? Masa bodoh, yang penting aku harus menjawab telfon ini. Ternyata itu adalah telfon dari…

≈≈≈≈≈ end of Sooyoung POV to Luhan POV ≈≈≈≈≈

Sepertinya smartphone miliknya sedang berbunyi. Ya, smartphonenya ada di diriku. Bagaimana bisa? Dia memang ceroboh, smartphonenya hilang tapi ia tidak menyadarinya. Untung aku menemukannya di bawah jok mobil. Bayangkan bagaimana jika aku tidak mengambil smartphonenya. Pasti tidak akan berbunyi lagi samrtphone itu.

Dai merogoh-rogoh —?— tasnya, mencoba untuk mencari sumber suara itu. tapi lama ia tidak menemukannya hingga ia terlihat sangat pasrah akan nasib samrtphonenya. Aku yang membawa smartphonenya langsung menepikan mobil dan memberikan smartphonenya.

“ini…” ucapku sambil memberikan smartphonenya.

“gamsahae..” ucapnya.

Ia melihatku dengan heran, seakan menanyakan ‘bagaimana bisa ini ada pada mu?’. Hanya kubalas dengan senyuman seperti biasanya.

“jawablah.. mungkin itu penting” ucapku.

Ia hanya menganggukkan kepalanya, akan tetapi ketika ia melihat ke layar smartphonenya ekspresi mukanya sedikit terkejut. Apakah, Siwon adalah pacar barunya? atau tunangannya? Siapapun dia aku berharap jika tidak ada hubungan special antara mereka ber-2.

“ne.. aku ada di Seoul, dan aku bersama temanku”

“aku akan mengunjungi teman lamaku..”

“maaf, aku tidak memberi tahumu terlebih dulu..”

“iyaa, setelah mengunjungi temanku, aku akan langsung pulang tapi kurasa aku lebih suka untuk tinggal di apartement mu…”

“wahh, kau baik sekali.. gumawo..”

“ne… annyeong..”

Samar-samar aku dengar pembicaraanya dengan Siwon itu. nampaknya mereka sangat akrab satu sama lain, aku cemburu dibuatnya. Tapi, apa hak-ku untuk cemburu ataupun marah terhadap mereka berdua? Aku hanyalah seorang mantan kekasih yang buruk untuknya. Dan sangat tidak pantas jika aku kembali dengannya. Yang paling jelas adalah kembali dengannya hanyalah omong kosong bagiku.

Akupun memacu kembali mobil ini, dan mencoba untuk tidak memperdulikan apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi pikiranku tidak bisa fokus terhadap jalanan didepanku, kenapa begitu sesak. Disini, dan diotakku ada sesuatu yang membuatnya terasa begitu sesak dan… sakit.

Tidak lama setelah itu kami sudah sampai di tempat Yoona, ya tempat ini. Akupun segera turun dari mobil dan menggandeng tangan Sooyoung dan Yuan. Terlihat raut penuh pertanyaan dan ketidak percayaan, mungkin memang berat untuk Soo percaya semua ini. Tapi cepat atau lambat dia harus tau yang sebenarnya.

Sedikit terbesit rasa menyesal karena membawa Soo ke tempat ini begitu cepat, dan juga Yuan yang masih kecil harus berfikir dewasa karena harus mengerti apa yang sedang terjadi. Karena,  Soo baru saja sampai disini dan Yuan yang masih 3th 3bln lagi. Tapi aku tidak bisa menahan rasa untuk memberitahunya –Sooyoung-. Ada beberapa tetes cairan bening yang -berkilau- berada di sudut matanya, aku tak sanggup untuk melihatnya.

Langsung saja aku membawa mereka masuk dan segera pergi ke tempat Yoona berada. Yuan yang telah mengerti semuanya hanya bisa memandang pusaran ibunya dengan senyum hangat. Sedangkan Soo, dia mematung cairan yang ada di sudut mata indahnya kini mulai berjatuhan. Seakan tidak percaya akan hal ini.

Tempat ini, mungkin kebanyakkan orang sangat tidak menyukai tempat ini, namun suatu hari nanti kita semua pasti akan berakhir disini juga. Pemakaman. Disinilah Yoona disemayamkan untuk yang terakhir kalinya, tepatnya 1th yang lalu.

Masih dengan airmatanya yang berjatuhan Soo melihat kearahku dengan pandangan hancur.

“Lu..han-ssshhhiii…. Ap…a ma..maksud… semua in..i, ini tidak mung…kin bukan..” suaranya mulai bergetar, kurasa mataku mulai panas karena melihatnya menangis seperti itu.

“ye.. semua ini nyata Soo..”

“Yoona-ahh, lihatlah Sooyoung datang untuk mengunjungimu. Kau pasti sangat bahagia karena orang yang paling kau sayang telah datang.. untuk mengunjungimu..”

Kutarik Sooyoung dan Yuan kedalam pelukanku, berharap kesedihan yang mereka rasa sedikit menghilang. Dan menegarkan hati mereka –mencoba untuk kembali pada kenyataan yang ada-. Yuan ikut memeluk Soo erat, ya.. Yuan adalah harta yang ditinggalkan Yoona untukku, mungkin Yoona tidak ingin aku hidup sendiri didunia ini. Walaupun Yuan bukanlah milik kami berdua.

Cairan bening itu terus keluar dari mata indahnya, yang semakin membuatku menyesal membawanya kesini.

“bibi… jangan menangis lagi, nanti Yuan bisa-bisa ikut nangis…” ucap Yuan mencoba untuk menenangkan Soo, namun ekspresi di mukanya seperti seorang anak yang tidak dibelikan permen oleh orangtuanya.

Soo mulai tenang, dan mengusap air mata yang berada di pipi putihnya. Aku menahan tangannya dan mengambil saputangan kemudian mengusap jejak-jejak airmata yang ada di pipinya menggantikan punggung tanganya tersebut.

Ia –Soo- mulai mendongakkan kepalanya dan menatap Yuan dengan hangat dan juga senyuman yang tulus terlukis dibibir indahnya. Sekaan memberitau Yuan jika ia tidak akan menangis lagi, dan tidak ingin membuat Yuan ikut menangis.

Ia usap cairan bening yang menetes dari mata bulat Yuan, dan mengecup dahi Yuan kilat. Yuan menggandeng tangan Soo yang mulai melangkah mendekat pada pusaran yang bernisankan ‘Im Yoona’ diatasnya. Ia menunduk dan menaruh  MAWAR yang telah ia beli di toko bunga tadi, akupun mendekat dan menaruh bunga lily putih yang sedari tadi ku genggam erat.

“kuharap kau menyukainya, deer..” sangat pelan mungkin ia hanya berbisik kepada Yoona. Tatapan matanya sangat kosong seakan tidak merelakan apa yang telah ia lihat saat ini.

“haii, Yoona!! Lama tidak bertemu, kau pasti semakin bahagia dengan bertambahnya anggota keluargamu.. aku juga ikut bahagia. Kuharap kau suka dengan bunga ini. Kau tau, mereka baru dipetik dari kebunnyaa.. Your best friend, Youngie..” lanjut Soo sambil membaca surat kecil yang tadi ia tulis di toko bunga. Tidak seperti isi surat yang begitu riang dan ceria, Soo membacakannya dengan nada yang parau dan penuh dengan kesakitan -?- didalamnya.

“eomma, apa eomma disana bahagia? Yuan sangat melindukan eomma, appa jugaa..” ucap Yuan seakan mengerti jika Yoona sedang mendengarkannya.

“Yoonie, aku harap kau disana bahagia seperti kami disini.. Ya, kami harus bahagia. Agar kau juga bahagia disana seperti katamu… dulu..”

Tidak sanggup lagi, kami pergi dari tempat Yoona dan kembali ke mobil untuk pergi pulang.

Jika di ingat keadaan saat ini seakan mengulang kejadian 5th yang lalu, ketika kau ditinggalkan oleh seseorang yang kau cintai, itu akan membuat hatimu sakit dan membuatmu menjadi lemah. Dan tiba-tiba saja ada seorang bidadari yang datang seakan menyelamatkanmu dari keterpurukan itu. Ia juga membuatmu mau tidak mau mengikutinya dan menjadi miliknya. Yoona adalah bidadari pada 5th yang lalu, namun Sooyoung dialah bidadari pada saat ini –untukku-..

Choi Sooyoung. Dia sangat aku cintai hingga saat ini meskipun dulu ia meninggalkanku dengan alasan yang tak bisa ku mengerti, ia pergi dan memutuskan hubungan kami begitu saja. Jujur saja, saat ini meskipun aku telah mempunyai seorang istri dan seorang anak, aku masih tetap mencintainya. Melebihi siapapun. Sebenarnya pada saat itu aku ingin mengatakan tidak kepadanya. Akan tetapi ia meneteskan airmatanya yang tak pernah ku lihat selama aku bersamanya. Tubuhku lunglai karena melihat semua itu, seperti merasakan apa yang tengah Soo rasakan.

≈≈≈≈≈  FLASH BACK  ≈≈≈≈≈

“oppa.. sebaiknya kita berteman saja..” suara yang biasa terdengar ceria kini ia terdengar sangat parau.

“ap.. apaa Soo? Apa yang kau katakan..?” jawabku tak percaya.

“aku tidak mencintaimu oppa! Jadi lebih baik kita berteman saja” ucapnya sambil meneteskan airmata yang tak sedikit.

“tidak Soo, tak apa meskipun kau tidak men..”

“sudahlah oppa lebih baik jika kita akhiri saja semuanya.” ucapnya memotong perkataanku.

Kutarik ia dalam pelukkanku, ia menangis semakin keras dan bahuku mulai terasa basah oleh airmatanya. Aku merasa sangat bersalah terhadapnya, kenapa aku membuatnya menangis. Aku telah berjanji kepada diriku sendiri untuk menjaga senyuman di bibirnya dan tak akan pernah membiarkan airmata menetes dari mata indahnya.

Dengan melihatnya menangis aku jadi merasa sangat sedih dan bersalah, aku tak tau siapakah yang membuat Sooyoung-ku menangis seperti ini. Apa ini kesalahanku?

“aku tidak ingin Yoona sedih karena sikapku yang egois..” terusnya, namun tak terdengar jelas olehku.

Setelah ia mengucapkan kalimat yang tak kumengerti apa maksudnya. Ia berlari dan menghilang. Aku mencoba untuk mengejarnya hingga akau sampai pada taman kota yang menjadi saksi bisu kencan pertama kami.

“Sooyoungiee!! Kau dimanaa!” Aku terus meneriakkan namanya namun aku tetap tidak melihatnya.

Hujanpun turun dengan derasnya, membasahi seluruh tubuhku. Aku tidak peduli, kurasa Sooyoung masih berada di sekitar sini. Sooyoung bukanlah tipe melarikan diri, ia akan memilih untuk bersembunyi dan bersembunyi di suatu tempat. Dan tempat ini —taman kota— adalah satu-satunya tempat favorit —menurutku— Sooyoung untuk melampiaskan perasaanya.

“Soo, aku tau kau pasti berada disekitar sini. Dan aku berharap kau dapat mendengarkanku..

Soo… aku sangat mencintaimu, kau tau! meskipun kau tak mencintaiku aku akan tetap mencintaimu dengan setulus hatiku. Mungkin ini hanya omong kosong bagimu, tapi percayalah aku mengatakan ini semua dari hati, jiwa dan ragaku bukan hanya dari bibirku. Aku tak tau apa alasanmu untuk mengakhiri hubungan kita, aku sangat kecewa kepadamu Soo.. tapi seperti yang kukatakan aku akan terus mencintaimu. Kuharap kau merubah pikiranmu itu dan tidak akan pernah memikirkannya lagi..

Dan ketika kau berubah pikiran jangan ragu untuk kembali kepadaku, aku sudah berjaji akan menjadi benteng untukmu, berjanji untuk menjadi rumah, yang bisa kapan saja Sooyoung masuk kedalamnya. Dan kau tau jika.. itu akan berlangsung untuk selamanya..

Akuu.. mencintaimu Soo, dan aku tau… jika

Kau juga mencintaikuu…”

Dengan suara yang bergetar aku mengungkapkan semua isi hatiku disini. Entah Sooyoung ada disini ataupun dia tidak disini. Tapi aku sangat berharap jika ia mendengarnya. Meskipun aku tau jika Sooyoung telah mengetahui semua isi hatiku.

Hujan semakin deras, kurasakan dadaku mulai sesak dan tubuhku bergetar hebat. Kenapa semua menjadi tertutupi oleh kabut? Kenapa semuanya menjadi gelap….

“oppa..” ucap seorang gadis di depanku.

“Soo… aku sangat men… cin…” Akupun sudah tidak kuat untuk menjaga keseimbangan tubuhku. akhirnya aku jatuh kepelukkan gadis tersebut.

“oppa… apakah kau masih bisa mendengarku… oppaa!” samar-samar aku mendengar suaranya, bukan. Itu bukan Sooyoung-ku, tapi ia begitu cantik, apakah ia dewi yang akan mencabut nyawaku?

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Kepalaku terasa sangat sakit, ketika aku mencoba untuk membuka mata dan melihat ke sekitar ruangan ini. Ini bukan kamarku, disini penuh dengan benda yang berwarna putih, berbeda dengan kamarku yang penuh dengan foto-fotoku bersama Sooyoung.

“Sooyoung..” aku mencoba bangkit dan ingin mencarinya kembali. Aku masih tidak bisa merelakannya pergi.

Namun ketika aku mencoba bangun ada sesuatu yang mengenggam tanganku, setelah kulihat ada seorang gadis yang tertidur pulas di samping ranjangku. Bukanlah dia gadis cantik yang kemarin sore. Tapi sepertinya aku mengenalnya.. bukankahh dia sahabatnya Sooyoung?

“enggghh… oppaa! Kau sudah bangun? Syukurlahh” ucapnya dengan cepat yang membuat kepalaku semakin sakit.

“diamlah!” pekikku, entah kenapa ada sedikit kebencian yang kurasakan ketika melihatnya.

Akupun memegangi kepalaku yang semakin sakit, sungguh tidak kuat rasanya. Akhirnya aku kembali membaringkan badan ke kasur yang —sedikit— empuk ini. Kurasa, Aku sedang berada di rumah sakit. Dari bau dan juga semua peralatan yang ada disekitarku aku bisa menebaknya.

Doker datang dengan dua orang suster di belakangnya, mereka mulai mengecek keadaanku. Kepalaku semakin sakit ketika dokter menempelkan steteskopnya pada dadaku. Terasa sangat dingin dan… mengingatkanku pada kemarin sore. Apakah Sooyoung baik-baik saja bukannya ia juga kehujanan?

Setelah memeriksaku dokter mengatakan bahwa aku baik-baik saja, namun aku harus banyak istirahat dan tidak boleh terkena air ataupun benda-benda yang bersuhu rendah lainnya. Setelah mendengar kata sang dokter gadis itu mengangguk mengerti dan melihat kearahku. Senyuman itu, aku tau siapa dia. Dia adalah Yoona teman Sooyoung satu kelas dan juga sahabat Sooyoung.

Ia tersenyum manis terhadapku, akan tetapi wajahnya berubah menjadi wajah Sooyoung. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, hingga wajah Sooyoung sudah mulai hilang. Yoona mendekat kearahku, Ia terus memperhatikanku dengan tatapan yang tak kutau apa artinya.

“oppa, apakah kau lapar? Akan aku ambilkan makanan. Setelah kau makan kau harus minum obat.” Ucapnya tiba-tiba.

“apakah kau yang membawaku kesini?” tanyaku kepadanya.

“tidak kemarin aku langsung menelfon ke rumahmu, dan para pengawalmu yang membawamu kesini” jawabnya sambil menatakan piring—piring dan mangkuk tempat makananku.

“hn, gumawo Yoona..” meskipun ada sedikit rasa benci terhadapnya, aku masih harus bertrimakasih terhadapnya.

“cheonmaneyo oppa… emm, oppa tau namaku?”jawabnya sedikit terkejut.

“tentu saja, bukankah kau adalah teman dari Sooyoung? Dan Sooyoung selalu menceritakanmu kepadaku”

“ohh, begitu.. baiklah, cepat makan makanan mu..”

“hn..”

Dia sangat baik terhadapku, bagaimana bisa, kami bahkan tidak saling mengenal. appa dan eomma saja belum kesini.. pasti mereka sedang dalam perjalanan. Semoga saja mereka cepat sampai agar Yoona bisa pulang dan beristirahat. Dia pasti lelah semalaman menjagaku disini.

Makanan ini terasa seperti airputih… hambar sekali, tidak pernah aku memakan makanan sehambar ini, jika Sooyoung yang memakan ini dia pasti akan menegur sang koki.. Sooyoung.. Apa Sooyoung baik-baik saja? Aku harus menghubunginya, dan memastikan ia baik-baik saja. Semoga ia tidak sakit sepertiku.

“handphoneku…?” ucapku sambil membuka laci meja disamping tempat tidur yang sedang ku tempati.

“handphonemu rusak karena terkena air.. memangnya kau mau menghubungi siapa?” ucap Yoona sambil menoleh kearahku.

“pakai punyaku saja..” terusnya.

“ne, aku pinjam dulu..”

Segera aku memencet beberapa nomor dan segera menekan tombol hijau di keypad handpone flip ini. Di layar tertera nama ‘Sooyoungie’ dengan gambar mereka berdua —Soo&Yoona—. Aku merindukan Sooyoung. Aku tidak meletakkan handphone itu ditelingaku, aku malah hanya melihat gambar mereka berdua. Tidak sadar di sebrang telfon ada suara yang sangat damiliar bagiku. Suara Sooyoung.

“yobosseyo.. Yoona-ahh? Apa kau disitu? Haissyuuuuuuuuuuuuuuuuu~” jawab Sooyoung di sebrang sana.

“kau tau, aku sakit flu dan demam.. ini karena kemarin aku hujan-huajan saat pulang dari kursus.. dan kau tak perlu khawatir kata dokter aku akan segera sembuh..” suaranya terdengar sangat buruk, jelas saja ia pasti sedang sakit parah —flunya sangat parah—

“Yoona-ahh apakah kau disana? Heii… kenapa kau tak menjawabku? Terus kenapa kau men… slurp, menelfonku hhhaaaahh?” dasar Soo, jorok sekali dia.

Aku terlalu takut untuk menjawab telfon itu, akhirnya aku memberikan handpone itu kepada Yoona dan menyusruhnya untuk bicara tapi dengna menggunakan speaker. Yoona terlihat kaget setelah mengetahui jika aku menghubungi Soo.. apakah ada sesuatu diantara mereka berdua? Tapi dilihat dari gaya bicara Soo tadi. sepertinya tidak ada apa-apa.

“ne.. Soo?” ucap Yoona

“heiii!! Slruppp, akk.. akkuu darriii tadii hasyu~ berbicara panajng lebar tapi kau hanya diamm…”

“mianhae, tadi aku tidak menyadari jika kau telah menjawab telfon dariku. Apakah kau baik-baik saja? Kau terdengar sanget buruk..”

“akuu kena flyuuu Yoong… dan juga demam..” jawab Sooyoung dengan nada mengejek.

“kau ini, begitu saja sudah marahh..” ejek Yoona

“ne… mungkiin ini akan terdengar buruk, 4 hari lagi aku akann….”

“SAYAAANGGG!!! APAKAH KAU BAIK BAIK SAJAA? KENAPA BISA KAU …”

“eomma!!” ucapku memotong perkataan eomma, lebih tepatnya teriakkannya.

Sungguh mengaggu saja, apa yang eomma lakukan dengan berteriak seperti itu. apakah pendidikan yang ia junjung tinggi telah ia jatuhkan. Gara-gara eomma berteriak aku jadi tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Sooyoung di telfon. Sangat menyebalkan.

“heii!! Dia eomma-mu Xi Luhan.. kenapa kau memarahinya?” sahut appa.

Ternyata appa dan eomma telah sampai disini, memang aku sangat membutuhkan mereka sekarang. Tapi lihatlah, gara-gara mereka aku jaid kelewatan penbicaraan antara Soo dan Yoona. Tapi beberapa detik berikutnya, Yoona menatap ke arahku dengan tatapan menyesal, apa maksudnya?

“ada apa?” tanyaku penasaran.

“youngie menutup telfonnya, setelah ia mendengar suara ahjumma..”

“eommaa!! Tuhkannn, Soo jadi menutup telfonnya…..”

Soo menutup telfonnya, dia mengerti jika ada eomma ada di sini. Sooyoung mngenal eomma dengan baik, karena kami —aku&Soo— sudah berpacaran sejak kami kelas 1 di SHS, jadi kami telah berpacaran selama 3th. Eomma sangat menyukai Sooyoung. Maka dari itu setiap hari sekolah eomma selalu membuatkan Sooyoung bekal.

Dan Sooyoungpun menyukai masakkan eommaku, setiap hari ia —Sooyoung—. Ketika istirahat siang dia akan datang kekelasku dan bergelayut manja di lenganku. Jika sudah seperti itu, menandakan bahwa ia ingin mengambil bekalnya. Semua penghuni -?- kelasku sudah tau jika kami adalah sepasang muda-mudi yang mencoba membangun komitmen bersama (baca: pacaran).

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“memangnya ada apa?”Tanya eomma kepadaku.

“Soo menelfon” jawabku kecewa.

Aku mulai teringat incident -?- kemarin sore, semua kembali membuatku merasa sakit. Disini, didadaku. Terasa begitu sesak dan sakit, seakan oksigen disekitarku sangat tipis. Dan terasa seperti tertimpa benda yang beratnya beratus-ratus kilogram, namun sekarang aku mulai merasakan sesuatu. Aku tidak mengerti apa rasa ini yang benar kurasakan, namun itu sangat tidak mungkin.

“jadii..?”

“tidak..” jawabku parau.

Sungguh tidak pantas, apakah ini sikapku kepada gadis yang kucintai. Ya, aku tau jika aku akan selalu mencintainya. Semua telah berbeda untuk saat ini, jujur saja aku sama sekali tidak berniat untuk memutuskan hubunganku dengan Sooyoung. Mungkin, memancingnya -?- akan memebuat Soo merubah pikirannya.

“kau ini bagaimana.. kalau begitu cepat hubungi dia” tutur presdir Zhang. Appaku.

“nanti saja, aku ingin beristirahat sekarang..”

“baiklah appa yang akan membertahunya”

‘Ya, kau benar sekali presdir Zhang! Kau harus menghubunginya, dan menyuruhnya untuk kesini dan kembali padaku.’ Aku tersenyum senang, itulah yang kubutuhkan saat ini. Bagaimana bisa dia –appaku- menjadi orang yang pengertian seperti ini. Hahh! Tuhan selalu baik terhadapku.

Kulihat presdir Zhang Yixing -appaku- sedang memijit-mijit -?- layar smartphonenya. Sedari tadi aku tidak berhenti tersenyum senang, mungkin eomma menyadarinya. Karena eomma melihatku dengan intens sambil tersenyum heran kepadaku. Perasaanku mulai segar kembali, beban yang menindih dadaku seakan mulai hilang, digantikan oleh kapas empuk yang menggelitikinya –dadaku-.

Tunggu, mungkinkah Soo menjawab telfon dari presdir Zhang. Apakah soo menjawabnya, karena kemarin Soo mengatakan hal –laknat- dengan tatapan seolah-olah ia sangat mantab dengan perkataanya itu. Dan baru kali itu aku melihatnya seperti itu, jujur saja nyaliku jadi menciut. Takut, jika Soo akan benar-benar meninggalkanku.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Eomma tersadar jika ada Yoona di ruang ini, eomma segera menyuruh Yoona untuk pulang dan beristirahat, tidak lupa untuk berterima kasih pada Yoona. Namun, Yoona tidak mau, dia memilih untuk menjagaku disini, dia bilang agar aku tidak sendirian –setidaknya aku dan Yoona masih seumuran-. Yoona berkeras untuk tetap menjagaku disini, apalah yang bisa diperbuat oleh eomma. Yoona diizinkan untuk menjagaku disini, terlihat senyum bahagia yang terlukis indah di bibirnya. Dia sangat cantik.

Meskipun Yoona sangat cantik tetap saja yang ada difikiranku sekarang adalah Soo, dia sakit. Sama sepertiku, tapi mungkin ia hanya flu saja. Yah, itu –sangat- baik daripada aku harus mengetahuinya sakit yang tidak biasa -?-. jika harus memilih aku atau dia yang akan sakit parah aku lebih memilih ia. Memilihnya, untuk selalu sehat dan tidak merasakan sakit apapun.

Seperti drama, biarlah, biarlah aku berlarut-larut dalam drama ini. Yang terpenting dari semuanya adalah kebahagiaan Sooyoung. Mungkin kebahagian semua orang yang ada disekitarku juga. Biarlah aku mengucapkan kata-kata pasaran -?- ini, karna ini yang kurasakan. Dan apakah mungkin ada yang mengerti dan memahaminya, tidak. Mungkin tidak ada. sedikit berharap jika Sooyoung juga merasakannya.

Namun, aku tidak boleh berlarut-larut akan hal itu semua.

Jika memang hal terburuk harus menjadi hal yang kulakukan, aku akan melakukan itu. apapun resikonya. Walaupun harus melepasnya. Dan selama aku membuka mata, bagaimanapun caranya aku harus bisa melihatnya tersenyum. Tanpa beban di hati dan juga pikirannya.

Sementara ituYoona memandangku aneh, seperti tidak suka dan sedikit terlihat… kecewa

Aku tidak tau pasti apa yang sedang dipikirkan oleh Yoona, sekilas ia terlihat seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu dengan sangat berlebihan, dan tidak memiliki pilihan lain selain memikirkan hal tersebut. Aku. Apakah aku hal itu? tapi kenapa, ada yang aneh denganku.

“Yoboseyo..”

“… ye, soo-ahh, kau sedang apa? apakah kau tau jika Luhan ada di rumah sakit?…”

“…mwooooo? kenapa luhan tidak membertahuku? Tapi, apa kau serius, baiklah..”

Raut muka appa menjadi lesu dan terlihat tidak percaya, setelah ia mendengar jawaban dari Sooyoung.

“wae?” tanyaku penasaran.

“Soo.. dia.. dia akan, tunggu dulu! Kenapa kau tidak memberi tau appa jikaa…”

TBC

 

“per… pergi?”

 

“slamat tinggal Soo..”

 

saya, Xi Luhan
menyambut engkau, Im Yoona sebagai istriku, dan berjanji bahwa saya tetap setia kepadamu dalam untung dan malang, bahwa saya akan memelihara engkau dengan setia sebagaimana wajib diperbuat oleh orang yang beriman kepada Tuhan”

 

“baiklah jika itu yang kau inginkan..”

 

“apa ini yang selama ini kau sembunyikan kepadaku?”

 

“aku tau jika kau tak mencintaiku oppa..”

“aku harap kau akan bahagia, dengan itu aku juga akan bahagia di sisinya..”

 

Author: hyaaaaaaaa, gimana chingudeul? Jelekkah? Mianhae, author baru.. Comment-nya diharapkan!! ;D Dan.. akhirnya slese jugaaa!! Sebenernya Chapt ini belom slese, tapi author cut aja, dari pada kepanjangan…  heheee…

Di Chapt 2 [teasernya yang italic di atas, dibawah tulisan TBC..] bakal mengenang masalalunya si Luhan oppa sama Yoona unnie alias FLASH BACK. Mungkin Sooyoung unnie bakal muncul dikit-dikit.

See ya next chapt! Kissu kissu buat Readers :*

 

 


12 thoughts on “[Freelance] It’s Ours #1

  1. sekali baca langsung kecantol(?) sama SooHan couple …
    sungguh terenyuh(?) hati ku saat liat pengorbanan soo
    huweeeeeeeeee *mewek lagi
    akhir nya happy ending kan ??
    akhir nya SooHan couple kan ???
    ayolaaaaaaahh ya pleaseeeeeeeeeeee
    ayo next saya tunggu lo😀

    Like

  2. Aku suka ffnya^^
    Tpi entah knp feelnya muncul-tenggelam (?) –”
    Aku nggk trlalu srek ama couple ini hehehe ._.v *mian ya :(* *bow*

    Tpi ttp lanjutin ya thor😉

    Like

  3. gileee sedihnya berasa bener thor….lucu juga nih bayanginnya soohan couple-meskipun baru tapi lucu juga kalo mereka beneran couple hihi. next chap ditunggu ya^^

    Like

  4. sesuai tebakan aku Yoona nya meninggal, tapi kasian Yoona nya meninggal😥
    bagus thor, tapi menurut aku terlalu banyak penjelasannya, yang sebenernya tanpa di jelasin juga udah bisa di mengerti. Kaya “ia -sooyoung-” gitu. Maaf ya thor ga maksud ngajarin.hehe😀
    thor Yoona nya ko disini sedikit aga ‘jahat’. Kasian, kurang cocok😦
    oya itu kayanya mau bilang kalo soo nya udah atau mau pergi ya ?
    Udah ada part selanjutnya belum thor ?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s