Toko Antik KangTa


Halooo….. saya Yoorin Matsu. Kali ini saya bikin oneshoot tentang seokyu. Mohon dibaca dan berikan komentarnya ya readers.

FF ini pernah aku share di We Got K-fanfiction dan blog saya sendiri.

Enjoy it! ^^

Bagi Seo Joo Hyun, toko barang antic membawa kebahagiaan untuknya. Kehangatan, kepuasaan hati, bahkan cinta bisa ia dapatkan disana. Bagaimana caranya, sebuah toko tua menyimpan begitu banyak keajaiban?

Judul : Toko Antik KangTa [SeoKyu]

Author : Yoorin Matsu

Cast : Seo Joo Hyun ‘SNSD’, Cho Kyu Hyun ‘SuperJunior’, and Others.

Genre : Romance, Drama, etc.

Type : Oneshoot

.

.

Toko barang antic di pinggir taman memang tak banyak dikunjungi. Bagi Seo Joo Hyun, wanita berumur 22 tahun, hal itu bukanlah masalah besar. Cukup hanya dengan bekerja sambil merawat barang-barang langka bisa membuatnya tersenyum sepanjang hari, meskipun gaji yang diberikan paman tampan pemilik toko sangatlah minim.

Selama hampir 7 bulan Joo Hyun menjaga toko yang sepi pengunjung tak pernah sedikitpun ia merasa bosan. Namun berbeda dengan beberapa hari belakangan. Ia terlihat tak bersemangat, bahkan terkadang ia duduk dengan wajah tertekuk sembari mengelap beberapa guci dengan tulisan-tulisan aneh.

Bukan tanpa alasan Joo Hyun melakukan hal itu. Wanita bertubuh jangkung ini cukup kesal dengan tingkah laku salah satu pengunjung toko.

Cho Kyu Hyun namanya. Pria muda dengan pakaian kantoran selalu datang ke tokonya saat jam makan siang. Jelas ini akan menjadi pertanda bagus bagi kemajuan toko, jika halnya pria ini membeli setidaknya satu barang setiap minggunya. Cho Kyu Hyun, pria eksklusif nan tampan ini nyatanya hanya mengelilingi toko dan berlalu begitu saja tanpa membawa pulang satu barang satupun.

Untuk kunjungan pertama dan kedua tampak wajar dimata Joo Hyun, tapi tidak untuk kunjungan selanjutnya. Seperti saat ini.

Joo Hyun dengan riang mengelap patung burung yang tampak rapuh di tangan kanannya. Ia menyanyikan lagu I’m Yours milik Jason Mraz ketika bel pintu berdenting lembut. Saat Joo Hyun berbalik, nyanyian indah itu hilang, tergantikan dengan wajah masam Joo Hyun.

Cho Kyu Hyun datang kembali untuk kesekian kalinya. Tersenyum pada Joo Hyun seraya mengucapkan salam yang tak lagi Joo Hyun gubris.

“Selamat siang.. selamat datang di toko antic KangTa.” Sapa Joo Hyun malas. Ia kembali mengelap patung burung acuh.

Namun Kyu Hyun hanya tersenyum. Ia memulai ritual anehnya. Mengelilingi toko sendirian.

Meski sudah bosan berkali-kali melihat pria dengan rambut coklat acak itu, namun Joo Hyun tetap mencoba mengintipnya. Mungkin saja ternyata pria itu merusak salah satu barang, pikiran jahat Joo Hyun bekerja. Nyatanya, Cho Kyu Hyun sangat hati-hati menyentuh setiap detail barang antic di toko tersebut. Joo Hyun mencibir.

Keheningan meliputi. Baik Joo Hyun maupun Kyu Hyun tak ada yang berbicara, bahkan untuk mengeluarkan desisan kecilpun tidak.

TENG.. TENG..

Suara lonceng dari jam dinding tua di dalam toko bergema. Pukul 1 tepat. Ini adalah saat-saat yang ditunggu Joo Hyun. Pria itu akan segera pergi dari surga dunianya.

Dengan cepat Joo Hyun berbalik. Merapikan pakaiannya dan melesat mendekati tempat dimana Kyu Hyun berdiri.

Dengan senyum lebar dan kepercayaan diri yang penuh, Joo Hyun dengan lantang memanggil.

“Tuan.. ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah. Matanya mengerjap centil. Di hadapannya Cho Kyu Hyun memandang datar.

“Tidak terimakasih.”

Joo Hyun sama sekali tidak kaget karena memang ia sudah hapal betul jawaban yang akan terlontar dari mulut Kyu Hyun.

“Kalau begitu, sampai nanti.” Joo Hyun membungkuk dalam. Kyu Hyun tersenyum kecil. Meskipun Joo Hyun dengan terang-terangan mengusirnya-dengan cara mendorong pelan bahu Kyu Hyun, pria itu sama sekali tak keberatan.

Seo Joo Hyun tersenyum penuh kemenangan melihat punggung lebar Kyu Hyun yang menjauh.

“Akhirnya dia pergi juga. Awas saja jika dia datang lagi tanpa membeli satupun barang di tokoku. Wajahnya saja tampan tapi tak punya uang.” Cibir Joo Hyun.

.

.

.

Esoknya toko barang antic KangTa tetap buka seperti biasa. Jam 10 tepat, Joo Hyun sudah siap menyambut tamu yang datang. Ia menunggu di balik mesin kasir sambil mengetuk-ngetuk meja.

2 jam lebih terlewati sudah. Bel di pintu depan toko tak bergemerincing sama sekali. Seo Joo Hyun kelewat bosan. Ia sudah menguap setidaknya 7 kali dalam 2 jam ini. Ia melirik jam yang -tentu saja- antic di dinding. Pukul 12.35. haah.. tiba-tiba saja Joo Hyun berharap Cho Kyu Hyun mendatangi tokonya. Setidaknya toko ini tidak terlalu sepi pengunjung.

Namun harapan Joo Hyun kali ini tidak terkabul. Jam makan siang telah berakhir, sayangnya batang hidung pengunjung setianya itu tak nampak sama sekali. Joo Hyun mendengus untuk kesekian kalinya.

Joo Hyun berjalan malas menuju jendela kaca depan toko. Ia berdiri terdiam disana, melihat sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk cinta duduk di bangku taman. Sesekali ekor matanya menangkap sekumpulan anak kecil berebut balon di tangan penjualnya.

Taman utama kota Seoul sangat ramai, bahkan di jam-jam sibuk seperti ini. Tetapi keadaan itu berbanding terbalik dengan toko antic KangTa. Kesepian menjalari Joo Hyun. Sekali dalam hidupnya ia merasa kecewa Cho Kyu Hyun tak datang ke toko.

Joo Hyun mengembungkan pipinya. Setidaknya melakukan hal yang kekanak-kanakkan bisa mengusir kebosanan. Bosan hanya berdiri sembari memandangi ramainya taman, Joo Hyun berjalan berbalik arah mengelilingi toko kecilnya.

Beberapa menit kemudian, bel pintu berdenting. Secercah harapan Joo Hyun muncul. Sosok itu muncul dari arah pintu. Tubuhnya yang jangkung hampir menyentuh kayu pintu. Ia menebarkan senyumnya pada Joo Hyun.

Joo Hyun terkesiap, senyum yang siap di lontarkannya berubah menjadi ekspresi kesal.

“Kau kenapa? Jangan memasang wajah seperti itu.” tukas sosok yang menjulang tinggi itu. Ternyata KangTa, bossnya, yang biasa datang di hari Kamis untuk mengecek keadaan toko. Bodohnya Joo Hyun jika mengira itu adalah Kyu Hyun. Sangat tidak mungkin pria itu datang di tengah tugas kantor, -yang sepertinya- menunggu untuk di kerjakan.

“Boss, jika datang bisa tidak menelepon terlebih dahulu. Jangan datang secara tiba-tiba seperti itu.” ketus Joo Hyun. Aneh memang melihat seorang atasan yang dimaki oleh bawahannya sendiri. Tapi tidak bagi kedua orang ini.

“Ini kan tokoku, Nona Seo.” Sahut KangTa tenang. “Jadi, bagaimana keadaan toko kita?” lanjutnya.

“Buruk. Sangat buruk.” Lapor Joo Hyun dengan penekanan di setiap katanya. Ia kembali duduk di balik meja kasir. Membuka lacinya dan mengeluarkan buku keuangan.

“Seminggu ini tak ada satupun barang yang terjual.”

KangTa meraih buku bersampul hijau itu dari tangan Joo Hyun, membacanya sebentar kemudian meletakkan kembali diatas meja.

“Yasudahlah, tidak apa-apa.” KangTa tersenyum misterius. Ia memperhatikan setiap sudut toko. Joo Hyun terpaku dengan perkataan atasannya tadi.

“Aneh. Seharusnya kau sedih karena tak mendapat pemasukkan.” Cibir Joo Hyun.

Lagi-lagi KangTa hanya menunjukkan senyumannya.

“Tapi bukan berarti kita tak dapat pengunjung kan?”

Joo Hyun memandangi langit-langit toko. Ia mengingat-ingat lagi pelanggan mereka. “Ada beberapa. Ah.. ada juga seorang pria yang selalu mengunjungi toko. Bahkan hampir setiap hari. Sayangnya ia tak pernah membeli satupun barang kita.” Ketus Joo Hyun. Di benaknya terlintas sosok Kyu Hyun yang menyebalkan.

“Eh? Seorang.. pria?” goda KangTa. Matanya mengerling jahil. Joo Hyun mengernyit jijik. Ia tak heran bossnya ini masih melajang hingga umurnya sekarang, mengingat ketampanannya ternoda oleh sikap konyolnya sendiri.

“Jangan seperti itu. Bagaimanapun juga dia itu adalah pelanggan kita. Yang terpenting bukanlah keuntungan tapi kepuasan hati. Toko kita mencari kebahagian pelanggan maupun penjual bukan keuntungan.” Ujar KangTa bijak.

“Kepuasan hati itu takkan membuat kita kenyang, boss.” Sahut Joo Hyun. Ia berusaha untuk terus berpikir realistis. Tidak seperti bossnya yang selalu mengkhayal hal-hal yang tak jelas.

“Tapi akan membuat bahagia saat kita mendapatkannya. Itulah keajaiban dari tokoku.” KangTa tersenyum misterius lagi. “Siapa tahu kau salah satunya yang mendapatkan keajaiban itu.”

.

.

.

Joo Hyun tengah bersiap-siap pulang ketika derap langkah kaki terdengar. Desahan nafas terdengar semakin keras. Saat Joo Hyun berbalik ia dikejutkan dengan Cho Kyu Hyun yang tengah mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Tangan Joo Hyun yang akan mengunci pintu toko menggantung di udara. Ia memperhatikan Kyu Hyun yang kini terbatuk-batuk sembari membungkuk kelelahan.

Tangan besar Kyu Hyun terangkat. Pria itu berdiri tegap. Nafasnya masih tak beraturan. Nampaknya ia berlari jauh dari kantornya hanya untuk menemui Joo Hyun.

“Kau… sudah mau… pulang?” tanyanya.

Joo Hyun mengangguk kaku. Ia terlalu kaget dengan kedatangan Kyu Hyun yang tiba-tiba.

“Aaah.. aku benar-benar telat ternyata.” Desahnya. Joo Hyun terkejut luar biasa. Pria ini benar-benar aneh. hanya untuk datang ketokonya saja, ia membuat kemeja mahalnya basah oleh keringat.

“Maaf. Tapi toko kami sudah tutup, Tuan. Silakan datang lain waktu.” Joo Hyun beranjak pergi. Ia meninggalkan Kyu Hyun yang masih berdiri mematung di tempat yang sama. Jujur saja, Joo Hyun cukup merasa bersalah meninggalkan pria itu sendiri. Tapi apa daya, langit taman mulai menggelap dan perutnya juga sudah berteriak lapar, mau tak mau Joo Hyun harus segera pulang.

“Tunggu..” seruan Kyu Hyun menghentikan langkah Joo Hyun. Wanita itu memejamkan matanya kesal. Bisakah Tuan Tampan itu tak mengganggunya sekali saja, harap Joo Hyun.

“Mau makan malam bersama?”

.

.

.

Dan saat ini mereka, Joo Hyun dan Kyu Hyun, duduk berhadapan di sebuah meja penuh dengan hidangan samgyupsal. Mata Joo Hyun berbinar lapar. Ia menggigit bibirnya pelan sembari menatap Kyu Hyun, memohon agar pria itu lekas mengambil sumpit dan mereka bisa cepat menghabiskan hidangan makan malam itu.

“Maaf jika aku sudah bersikap tidak sopan dengan memintamu menemaniku makan malam.” Ucap Kyu Hyun mengawali santapan malam mereka. Oh, bahkan Joo Hyun tak begitu mendengarkan. Ia sibuk memilih daging mana yang akan di panggang terlebih dahulu.

“Padahal kita sama sekali tak mengenal satu sama lain.” Lanjutnya. Kyu Hyun menunduk malu hanya karena ucapan yang ia lontarkan sendiri.

“Tidak perlu sungkan. Aku bahkan sangat senang kau mentraktirku makan.”

“Ah, ya. Maaf sebelumnya tapi aku belum tahu namamu.” Tanya Kyu Hyun sopan dan tentunya dengan ekspresi malu-malu.

“Eh? Aku… Seo Joo Hyun.” Jawabnya. “Dan kau Cho Kyu Hyun, kan?” tebakan Joo Hyun membuat terkejut pria dihadapannya.

“Bagaimana kau…”

“Tenang saja. Aku tahu namamu dari kartu identitas kantormu yang kau pakai ketika datang ke toko. Sudah jelas aku ini bukan penguntit.” Terang Joo Hyun.

Penuturan jujur Joo Hyun lagi-lagi membuat Kyu Hyun kaget. Ia tak menyangka jika wanita penjaga toko barang antic ini begitu memperhatikan dirinya. Eh, memperhatikan? Benarkah? Kyu Hyun tak ingin terlalu beharap banyak.

Merasa suasana mulai canggung, Kyu Hyun mengambil sepotong daging dan menaruhnya diatas panggangan. Suara desisan daging yang dimasak bagaikan alunan irama merdu bagi Joo Hyun. Secara tak sadar perutnya bahkan ikut berbunyi pelan.

Kini beberapa potong daging sapi hampir matang. Joo Hyun mengambil daun selada yang paling lebar, menaruh beberapa sayuran juga sepotong daging yang sudah matang diatasnya. Ia menutup daunnya dan menyantap dengan sekali suapan besar sekaligus, tentunya dengan cara yang sopan.

Kyu Hyun ikut melakukan hal yang sama. Bedanya, Cho Kyu Hyun tersenyum tipis di akhir suapannya.

.

.

.

Esoknya Kyu Hyun datang seperti biasa. Tepat saat jam makan siang, pria itu datang lengkap dengan pakaian kantor yang masih melekat di badannya. Kyu Hyun tersenyum tipis melihat Joo Hyun duduk di meja kasir. Tak seperti biasanya, Seo Joo Hyun kini menyampaikan senyuman tulus untuk Kyu Hyun.

“Selamat siang, Kyu Hyun-ssi.” Sapanya. Joo Hyun hanya ingin bersikap sopan, mengingat semalam Tuan Tampan itu telah mentraktirnya makan malam hingga mengantar Joo Hyun pulang sampai apartemennya.

Kyu Hyun mengangguk kaku. Ia kembali melakukan ritual biasa. Mengelilingi toko tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Joo Hyun pun kembali membaca buku yang ia bawa dari rumah.

Lama mereka terdiam. Joo Hyun pun larut dalam bacaan super tebalnya. Derap langkah kaki terdengar mendekati meja. Joo Hyun mendongak. Ia menutup bukunya dan tersenyum lebar.

“Ada yang bisa kubantu, Kyu Hyun-ssi?” tanyanya. Ia bangkit dari kursi kemudian mendekati Kyu Hyun, mempersempit jarak keduanya.

Kyu Hyun menggaruk tengkuknya, ia merasa canggung.

“Aku butuh bantuanmu. Bisa kau membantuku, Joo Hyun-ssi?” Joo Hyun tertawa kecil. Pria dihadapannya cukup pemalu ternyata.

“Baiklah.. katakan apa yang harus kulakukan?”

“Kau tahu, mungkin aku sedikit mengganggu. Sejak beberapa hari yang lalu aku datang, berkeliling toko, melihat berbagai barang tanpa pernah membeli satupun. Dan kurasa itu sangat menggangumu.” Joo Hyun mengangguk cepat. Itu memang cukup mengganggu.

“Semua yang kulakukan bukan tanpa alasan. Sebenarnya… aku ingin…” Kyu Hyun tampak ragu membuat Joo Hyun semakin antusias mendengarkan.

“Aku ingin… membelikan hadiah untuk ulang tahun ibuku.” Lanjutnya.

“Eh?”

Kyu Hyun mengangguk pelan. “Ibuku berulang tahun hari Sabtu depan. Tapi aku sama sekali belum memutuskan untuk membeli satupun hadiah. Mengingat ibuku adalah seorang wanita yang senang mengoleksi guci antic. Maka kuputuskan untuk datang ke tokomu.”

“Jadi sekarang…?”

“Aku telah memilih beberapa barang. Tapi… aku tetap bingung apa yang harus ku beli.” Kyu Hyun mengakhiri keluh kesahnya. Joo Hyun bersandar di meja. Tangannya saling melipat, keningnya berkerut samar. Ia tampak berpikir begitu pula dengan Kyu Hyun. Keduanya terdiam kembali.

“Setiap hari aku datang, mengamati setiap detail barang. Tapi tetap tak bisa memutuskan.” Keluh Kyu Hyun lagi. Joo Hyun menatapnya iba.

“Ayo kutunjukan beberapa guci yang mungkin ibumu suka.” Ajak Joo Hyun. Ia menarik pelan lengan Kyu Hyun kearah rak-rak penyimpanan guci tua. Kyu Hyun menegang sesaat. Ia cukup kaget dengan sentuhan tiba-tiba Joo Hyun. Beruntungnya pria itu dengan cepat mengendalikan ekspresi tubuhnya.

“Bagaimana dengan ini?” tukas Joo Hyun. Kyu Hyun mengamati sesaat guci kecil berwarna perak tua yang Joo Hyun tunjuk. Ia mendesis, kepalanya menggeleng pelan. Joo Hyun mengernyit kecewa.

“Yang ini?” Joo Hyun kembali merekomendasikan guci berukuran kecil lainnya. Kali ini berwarna merah cerah. Lagi-lagi Kyu Hyun menolaknya. Tak sampai disitu, Joo Hyun dengan gesit melihat beberapa koleksi guci di toko mereka.

TENG.. TENG..

Keduanya sontak kaget oleh suara jam dinding toko. Sudah satu jam terlewati. Waktunya Kyu Hyun kembali. Perasaan kecewa menjalari hati Joo Hyun. Tak biasanya hal ini terjadi. Biasanya ia menunggu saat-saat seperti ini. Tapi kini berbeda.

Keduanya saling bersitatap. “Sepertinya sudah saatnya aku kembali bekerja.” Ujar Kyu Hyun. Joo Hyun mengangguk pelan.

“Maaf sudah merepotkanmu.” Tukasnya lagi. Joo Hyun menggeleng, “Tidak apa-apa. Anggap saja ini rasa terima kasihku atas traktiran makan malam kemarin.” Senyuman tulus tersungging lagi di bibir Joo Hyun.

Kyu Hyun melangkah menjauh, mendekati pintu. Saat pintu terbuka sedikit, Joo Hyun berseru cepat. “Besok kau datang kan?”

“Tentu. Aku harus mendapatkan hadiah untuk ibuku”

“Kalau begitu, bagaimana jika kau foto koleksi guci ibumu. Agar aku mudah menentukan guci yang tepat untuk hadiah.“ saran Joo Hyun.

“Baiklah. Sampai jumpa besok.”

“Sampai jumpa.”

.

.

.

Kyu Hyun menepati janjinya. Mereka bertemu kembali di toko. Seperti biasa, saat jam makan siang. Kali ini Kyu Hyun membawa kumpulan foto koleksi guci ibunya.

Beberapa hari selanjutnya pertemuan mereka masih seputar memilih guci untuk hadiah. Joo Hyun dengan semangat menunjukkan beberapa koleksi guci toko antic KangTa. Beberapa buah guci sudah di perlihatkan. Bahkan Joo Hyun sampai harus menelepon KangTa untuk menanyakan koleksi yang lain.

“Aku menyerah.” Desah Kyu Hyun. Ia meneguk sekaligus minuman yang disediakan Joo Hyun. Mereka duduk di antar rak-rak koleksi toko. Joo Hyun mengerucutkan bibirnya. Ia pun sama lelahnya dengan Kyu Hyun. Tinggal dua hari lagi waktu untuk Kyu Hyun. Mencari satu buah guci diantara berpuluh-puluh membuat tenaga keduanya terkuras banyak.

“Kurasa aku mencari hadiah yang lain saja.” Joo Hyun sontak kaget. Bibirnya terbuka, “Jangan! Aku masih ada satu lagi yang belum kuperlihatkan padamu.” Ia buru-buru bangkit. Joo Hyun menghilang di balik pintu belakang. Tak lama. Ia kembali dengan sebuah bungkusan coklat di tangan.

“Ini. Guci ini mungkin cocok dengan selera ibumu.” Tawar Joo Hyun. Dengan hati-hati, Joo Hyun membuka plastic yang membungkus guci berukuran sedang itu. Guci yang tadinya Joo Hyun simpan untuk dibeli oleh dirinya sendiri, akhirnya ia perlihatkan.

Warnanya yang lembut dengan ukiran burung merak indah membuat mata Kyu Hyun terpana. Sekali melihat Kyu Hyun sudah jatuh hati.

“Kenapa baru ditunjukkan sekarang.” Protesnya. Joo Hyun tertawa pelan.

“Jadi, sudah kau putuskan?” Kyu Hyun mengangguk mantap.

“Aku pilih yang ini.”

.

.

.

Dengan telaten Joo Hyun membungkus kembali hadiah untuk ibu Kyu Hyun. Memasukkannya kedalam kantung kertas besar dengan hati-hati. “Semuanya jadi 45.000 won.” Mata Kyu Hyun membulat. “Mahalnya…”

“Barang langka memang malah harganya.” Cibir Joo Hyun. Keduanya tertawa bersama. Hah, keadaan menjadi berbeda saat makan malam beberapa hari yang lalu. Tak ada lagi kecanggungan, yang Joo Hyun rasakan hanya kenyamanan bersama Kyu Hyun. Aneh, tapi memang itu yang ia rasakan. Bekerja di toko KangTa menjadi lebih menyenangkan saat mereka bersama-sama mencari guci.

Kyu Hyun menyodorkan beberapa lembar won. Mengambil alih kantung besar dari tangan Joo Hyun, lalu terdiam sesaat.

Senyuman Joo Hyun menghilang secara perlahan. Hening.

Tujuan awal Kyu Hyun datang ke toko ini sudah terlaksana. Apa ia tak bisa datang kembali?

“Yah, sepertinya kau sudah mendapat apa yang diinginkan Kyu Hyun-ssi.” Joo Hyun memecah keheningan yang mulai terasa canggung. Kyu Hyun mengangguk lemah. Diam lagi.

“Semoga ibumu menyukainya.” Harap Joo Hyun. Bibirnya tersenyum senang, namun matanya memancarkan kekecewaan. Ekspresi Kyu Hyun tak jauh berbeda.

“Terimakasih atas bantuanmu, Joo Hyun-ssi.” Canggung kembali.

Kyu Hyun membungkuk samar. Melangkah pelan. Badannya tak tegap seperti biasa, wajahnya terlihat sendu.

Joo Hyun memandangi punggung lebar Kyu Hyun. Ia menggigit bibirnya pelan. Lagi-lagi perasaan kecewa menyeruak di dalam hatinya. Joo Hyun duduk bersandar di kursi tak bersemangat. Apakah ini artinya ucapan ‘Selamat Tinggal’?

“Joo Hyun-ssi.” Seru Kyu Hyun di ambang pintu. Joo Hyun terperanjat, ia langsung berdiri dari duduknya. “Ya?”

Kyu Hyun nampak ragu.

“Ada yang ingin kau katakan?” tanya Joo Hyun. Entah mengapa ia sedikit berharap.

“Apa hari Minggu nanti kau punya acara?” pertanyaan Kyu Hyun tersendat-sendat. Joo Hyun menggelengkan kepalanya. Ia tertunduk malu.

“Baguslah. Kalau begitu mau kan menemaniku menghabiskan hari libur bersama?” Joo Hyun melongo sesaat. Pipinya merona, apakah pria ini sedang mengajaknya berkencan?

“Baiklah.” Gumam Joo Hyun.

Kali ini giliran Kyu Hyun yang tersipu. “Minggu nanti, pukul 10. Kutunggu di depan toko.”

“Minggu. Pukul 10. Di depan toko. Aku mengerti.” Ulang Joo Hyun. Kyu Hyun tersenyum lebar, sederet gigi putihnya terlihat. “Sampai jumpa.” Ucapnya sebelum pergi.

Joo Hyun masih di posisi yang sama. Pipinya bersemu, ia tersenyum sendiri membayangkan hari esok. Joo Hyun menjerit tertahan. Mengepalkan tangan dan meloncat kegirangan, mengekspresikan kesenangan hatinya.

Lelah terus melompat Joo Hyun terduduk di kursi. Kedua tangannya memegang pipi bulatnya. Benar apa kata boss KangTa, toko tua ini penuh keajaiban. Awalnya ia tidak percaya, tapi setelah ia pikir kembali, toko ini membawa keberuntungan baginya. Kehangatan dari bossnya, kepuasaan hati saat melihat barang-barang langka, bahkan sekarang cinta yang selalu ia dambakan dapat ia temukan di dalam toko.

“Terimakasih toko KangTa…” pekiknya girang.

.

.

.

END

.

.

Mungkin ceritanya menggantung, tapi jika reders tanya soal sekuel, maafkan author yang idenya mentok ini ya, yang sepertinya belum puny aide buat sekuel.


27 thoughts on “Toko Antik KangTa

  1. endingnya masih gantung eonni,padahal penasaran apa kyu akan menyatakan cinta ke seo?
    cie seokyu sama2 malu2 ternyata ^^
    aku suka jalan cerita FF ini eonni ^^
    eonni sequel yaaaaa ^^

    Like

  2. Haha!
    Kyu kenapa gak dari awal bilang mau beli guci?! Jangan-jangan mau tebar pesona dulu sama seo!
    Kayaknya butuh sequel nih. Tapi, gak buat juga gak apa kok. Gantinya FF seokyu baru! Hehe!

    Like

  3. bagusss bget…….
    tp emang endingnya krasa menggantung gitu…
    klo ada rencana bikin sequel,aq tunggu ya thor….
    keep writing!🙂

    Like

  4. daebbaaaaaaak~~~
    aaaa ada sequelnya ya eonn *puppyeyes*
    wakak kyu bolak balik garagara bingung mau belli apa

    Like

  5. Bagus sih……… Tapi ngegantung u,u
    Cie banget Kyuhyun disini kagak evil…… Malahan pemalu xD
    Apakah Kyuhyun juga menyukai Seohyun?
    Ah penasaran. Semoga aja ada ide baru untuk bisa membuat sequel dari ff ini hehehehe
    Hwaiting!^^

    Like

  6. So sweet … akhirnya kyu ngaku juga .. kalo sebenernya dia bolak-balik demi beli kado utk ibunya ..🙂 tapi akhirnya mereka bisa deket deh … seneng😀

    Like

  7. Gantung nih #gantung Naru.
    Maksudnya masih gantung gimana akhirnya apa Happy ending atau Sad ending #ga mungkin sad ending Naru ;zzz;
    Over all ini FF B.A.G.U.S T.O.P B.G.T #ngomong opo?

    Like

  8. awalnya aku pikir kyuhyun selalu ke toko tanpa beli apapun gara2 selalu pengen ketemu seo..eh ternyata nyari kado yg ga kunjung ketemu..hehe
    HARUS ADA SEQUEL THOORR >//<

    Like

  9. bagus nya… aish sii seo tadi nya males ngliat kyu malah jadi kangen ngeliat kyu!! tuh kan! kalau ada orang nya di cuekin jiliran orang nya ga da dicariin… cieeee seo… kyu lagi… malu2 ama sii seo! hahahaha bagus banget unnie ceritanya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s