[Freelance] Baby I Need Love #3


Tittle : Baby I need Love [Part 2]

Main Cats :

Cho Kyuhyun (Super Junior), Song Kihyun (OC),  Park Nara (OC),  Choi Minho (SHINEE)

Support Cats : Lee Donghae, Jessica (SNSD), Cho Jinhyuk (OC) and Others

Genre : Romance, Family, Married life

Rating : PG 15

Length: Chaptered

Author : rahmassaseol (@rahmassaseol)

Disclaimer  : Cerita ini hanya fiksi dan murni hasil imajinasi saya. Jadi, jika ada kesamaan apapun itu, entah peran, karakter atau bahkan jalan ceritanya saya benar-benar minta maaf, karena saya sama sekali tidak tahu menahu. Dan semoga FF ini bisa menghibur kalian semua!. Gomawo! ^o^

~First Meeting~

Kyuhyun POV

Jemari tanganku terasa sangat pegal sekarang, tak terhitung lagi jumlah lembaran-lembaran kertas yang harus kubaca dan kutanda tangani. Sejenak kuhentikan segala aktivitasku dan menyandarkan tubuhku di sandaran kursi kerjaku yang sangat nyaman. Aku membalikkan tubuhku mengahadap dinding di belakangku yang terbuat dari kaca, menampakkan pemandangan sore hari yang indah di kota Seoul, pemandangan ini sedikit membuat rasa penatku hilang kerena rutinitasku yang sangat sibuk hari ini. Mulai hari ini aku memang resmi bekerja di perusahaan kakek dengan posisi sebagai direktur pertama yang kedudukannya berada satu tingkat di bawah Kakek sebagai President Direktur. Aku sangat pusing dengan pekerjaan ini membuatku sama sekali tidak bisa bersantai seharian karena sibuk mengurus masalah-masalah yang belum diselesaikan oleh direktur terdahulu.

Setelah aku merasa sedikit rileks, aku pun kembali membalikkan tubuhku mengahadap meja kerjaku. Bahuku kembali merosot lemas ketika melihat tumpukan map-map yang masih menggunung dan menunggu untuk kutandatangani. “Aish…, sungguh bekerja itu sangat melelahkan,” gumamku dalam hati sambil mengambil salah satu map dari tumpukannya.

Tiba-tiba terdengar suara pintu ruang kerjaku terbuka dan terlihatlah sesosok pria tua berjalan masuk ke dalam ruanganku sambil tersenyum hangat.

“Kau sedang sibuk Kyuhyun-ah?” tanyanya kepadaku.

“Ne, apa kakek puas sekarang melihatku hampir mati kelelahan?” jawabku mengintimidasi.

“Yah.., aku senang melihatmu bekerja keras Kyuhyun-ah, akhirnya kau bertobat juga.. hahahah..,” ucapnya tertawa lebar sambil menepuk-nepuk pundakku.

“Itu karena Kakek mengancam akan memblokir semua kartu kreditku,” celetukku pelan.

“Mwo? Apa kau bilang?” tanyanya dengan wajah garang yang membuat bulu kudukku berdiri, dan dengan cepat aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan tersenyum polos ke arahnya.

“Aniyo, aku tidak bilang apa-apa kek,” jawabku berusaha mengelak.

“Dasar kau ini, ya sudah besok lusa luangkanlah waktu untuk bertemu dengannya,” ucap kakek yang membuatku memandangnya dengan ekspresi bertanya-tanya.

“Nugu?” tanyanku masih dengan tampang tak mengerti.

“Tentu saja dengan calon istimu, aku sudah mengatur pertemuan kalian besok lusa,” jawab kakek enteng sambil membolak balik kertas yang baru saja kutandatangani.

“Kenapa harus bertemu?, sudahlah kek, cepat nikahkan aku dengan dia saja. Percuma jika aku bertemu dengannya, sekalipun aku menolak kakek akan tetap memaksaku menikah dengannya kan?” balasku yang langsung disambut dengan jitakan dari kepalan tangan kakek.

“Yak! Kakek appo…,” sahutku sambil meringis kesakitan dengan tangan yang mengusap-ngusap puncak kepalaku.

“Kau ini rupanya benar-benar belum berubah! Tentu saja kau HARUS bertemu dengannya! Apa kau mau menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak pernah kau ketahui wajahnya?” balas kakek dengan nada suara mulai meninggi seakan mengisyaratkan padaku untuk tidak mulai memancing amarahnya.

“Ne.. ne, aku akan pergi menemuinya kek,” jawabku pada akhirnya dengan kepala tertunduk lesu.

**********

KiHyun POV

Matahari mulai bersinar dari balik selambu kamarku, sinarnya yang menyelinap di sela-sela selambu kamarku itu mengusikku yang masih ingin bermain di alam mimpi. Perlahan kubuka mataku yang masih terasa lengket dan tampaklah seorang namja beralis tebal yang masih terlelap di sampingku.

Aku pun mendekat ke arahnya, mengamati setiap lekuk wajahnya yang rupawan itu dari dekat, wajah yang selalu membuatku berdebar setiap kali melihatnya. Kutelusuri garis wajahnya itu dengan jari telunjukku dan berhenti di bibir ranum miliknya, mataku terkesiap ketika tiba-tiba saja tangannya yang kekar itu menarik kepalaku hingga bibir kami tak mampu menolak untuk bertemu. Singkat tapi manis itu yang kurasakan saat ia melepas ciuman kami, semburat merah pun kini mulai tampak di pipiku.

“Ya… Kihyunie, ini masih pagi tapi kau sudah mau menyerangku? Dasar nakal,” ucapnya dengan tersenyum jahil padaku yang membuat wajahku semakin memanas. Bukankah dia yang memulai duluan, protesku dalam hati, dan kini aku menatapnya kesal.

“Yak! Kibum-ah bukankah kau yang memulainya duluan?” protesku tidak terima dengan bibir mengerucut dan pipi yang menggembung.

“Itu karena wajahmu terlalu dekat denganku, mengaku sajalah jika tadi kau ingin memberiku morning kiss yang hangat…. Ahahha,” balasnya masih dengan senyuman jahil yang kini asyik menertawakanku.

“Mwo! Sudahlah! Kau membuatku kesal!” ucapku kesal yang kemudian mulai beranjak dari tempat tidur ini. Sungguh dia sangat menyebalkan jika sudah mulai menggodaku. Tapi tanganku segera ia tahan, dengan cepat ia menarikku kembali ke hadapanya memaksaku untuk kembali menatap wajahnya.

Sejenak suasana menjadi hening, ia menatapku lurus-lurus terlihat hanya ada pantulan wajahku di kedua bola matanya. Jantungku mulai berdebar tak beraturan ketika wajahnya semakin mendekat ke arahku, dan hanya ada suara desah nafas masing-masing yang kami dengar saat ini. Rasa damai kian menyelimuti kami ketika bibir kami kembali bertemu, hangat itu yang kembali kurasakan ketika bibirnya mulai melumat bibirku lembut. Kedua mataku kini pun terpejam mencoba menikmati segala sentuhan yang ia berikan padaku hingga tiba pada saat aku mulai kehabisan oksigen. Aku yang berusaha melepaskan ciuman ini sungguh tak sanggup menerima sikap Kibum yang justru menarik tengkuk leherku untuk lebih memperdalam ciumannya.

“Ya, Kibum-ah geman kaja..,” ucapku lirih di sela-sela ciuman kami dengan nafas tersengal.

“Andwe…,” tolaknya manja yang kini menarik tubuhku ke pelukannya berusaha meminimalisir jarak di antara kami, dan aku hanya bisa pasrah saat ia kembali meraup bibir mungilku.

Lama kami berciuman, satu menit… dua menit… tiga menit… dan cukup aku sudah tidak kuat lagi nafasku mulai memburu sekarang. Dan dengan usaha yang cukup susah akhirnya aku bisa melepaskan ciuman kami, ekspresi kecewa pun mulai tampak di wajahnya yang rupawan itu. Sungguh manis.

“Kenapa kau melepaskanya?” tanyanya kecewa.

“Ya, Kim Kibum kau tahu ini sudah jam berapa? Bukankah kau ada kuliah hari ini. Apa kau lupa?” jawabku yang sudah bangkit dari tempat tidur, menatapnya intens. Kalau mau jujur sebenarnya aku juga tidak mau melepaskan ciuman tadi, hanya saja gerakannya yang terlalu terburu-buru itu selalu membuatku kehabisan oksigen untuk bernafas.

“Cepatlah mandi, aku akan menyiapkan sarapan untukmu..,” lanjutku yang kemudian berjalan keluar kamar meninggalkannya yang masih menatapku kecewa.

***************

Kini kami berada dalam meja makan yang sama, menikmati sarapan di pagi yang indah ini. Ia duduk di hadapanku yang sedang asyik mengunyah roti isi coklat sambil selalu tersenyum hangat kepadaku, kami saling berbagi cerita tentang kehidupan kami selama satu tahun jarak memisahkan kami, tawa renyah pun keluar dari bibirnya ketika ia kembali berhasil menggodaku. Yap, Kim Kibum adalah kekasihku selama tiga tahun terakhir ini, kami bertemu untuk pertamakali saat acara ulang tahun temanku Kent di Paris yang kebetulan juga adalah teman dekatnya. Dari situlah kami akhirnya saling mengenal dan mulai akrab sebagai teman hingga kami merasakan ada sesuatu yang berbeda di hati masing-masing, dan sejak saat itulah kami memutuskan untuk menjalani hubungan yang serius.

Kim Kibum adalah putra tunggal dari keluarga yang cukup terpandang, ayahnya adalah seorang pengusaha konstruksi yang cukup sukses, cabang perusahaannya kini pun mulai menjamah ke negara-negara besar. Ia kini sedang menimba ilmu di Seoul University, mengambil jurusan arsitek untuk bersiap menjadi pengganti ayahnya kelak. Satu tahun yang lalu ayahnya memindahkan kantor pusatnya ke Seoul dan memutuskan untuk menetap di sana yang memaksanya untuk pergi mengikuti ayahnya, seperti yang biasa orang katakan ‘seenak-enaknya negeri orang tetap lebih nyaman negeri sendiri bukan?’, dan selama satu tahun itulah kami memulai berhubungan jarak jauh. Tapi kini kami tidak perlu lagi merasakan kerinduan yang menyakitkan lagi karena kami akan selalu bersama mulai saat ini.

“Kau kuliah jam berapa?” tanyaku sambil mengoles selai rasa Strawberry ke atas rotiku.

“Jam Sembilan,” jawabnya singkat sambil terus mengunyah rotinya.

“Mwo! Jam Sembilan? Ya! Ini sudah jam berapa? Kau bisa terlambat nanti. Cepat sana pergi!” omelku dengan mata terbelalak terkejut. Kemudian aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan cepat ke arahnya, menarik tangannya hingga ia berdiri dari tempat duduknya dan kini aku sedang berusaha menyeretnya keluar.

“Yak! Song Kihyun apa yang kau lakukan hah! Rotiku belum habis tahu!” protesnya kesal dengan mulut penuh roti tak terima dengan perlakuanku yang kelewat kasar ini.

“Aku sedang mempercepat masa kelulusanmu,” jawabku singkat tak peduli yang kini berhasil menyeretnya sampai ke depan pintu apartemenku, tapi ia berhasil menahanku dengan tenaganya yang jauh lebih besar dariku, ia kembali berhasil merengkuh tubuhku ke pelukanya dan menopangkan dagunya di pundakku. Aku hanya diam menerima segala perlakuannya kepadaku.

“Aku hanya sangat merindukanmu, aku ingin terus melihat wajahmu, dan merasakan kehadiranmu yang nyata,” jawabnya lembut yang berhasil membuat jantungku kembali berdegup kencang.

“Ne, aku juga sama denganmu Kibum-ah. Tapi kau harus pergi kuliah sekarang, kau tak mau kan rencana kita kembali tertunda karena studymu.”

“Yah baiklah aku kalah jika kau sudah membahas itu, aku akan pergi kuliah sekarang…,” jawabnya, ia perlahan melepaskan pelukan kami dan kembali menatapku intens, aku tahu apa maksud dari tatapannya itu, perlahan aku pun mulai memejamkan kedua mataku dan aku kembali merasakan hangat ketika ia menempelkan bibirnya ke bibirku.

“Tapi nanti siang kita kencan yah? Kuliahku hanya sampai jam dua belas siang,” tanyanya dengan mata berbinar yang disambut dengan sebuah anggukan dariku. Aku masih saja merasa malu setelah berciuman dengannya dan saat ini aku hanya menunduk tak berani manatapnya.

“Oke kalau begitu kita janji bertemu di café dekat kampusku yah, jam satu siang, ingat kau tidak boleh melupakan itu,” ucapnya bersemangat yang beberapa saat kemudian pergi meninggalkanku dengan melambaikan tangannya.

Aku pun kembali masuk ke apartemenku, membersihkan piring-piring bekas sarapanku dan Kibum. Tapi tak beberapa lama kemudian terdengar suara dering dari ponselku, aku pun segera berlari cepat ke kamarku dimana aku meletakkannya untuk terakhir kali.

“Yoboseo, Ne Appa,” sapaku kepada pria setengah baya di seberang sana.

“Ne Kihyunie, apa kau ada waktu hari ini? Appa ingin bertemu denganmu.”

“Arasseo Appa…”

*************

Saat ini aku sedang duduk di salah satu kursi sebuah restoran, aku duduk di pojok dimana aku bisa melihat suasana di luar restoran lewat dinding kaca yang berada tepat di samping kiriku. Mataku bergerak-gerak liar mengamati situasi jalanan yang sangat ramai sambil menunggu seseorang yang biasa kusebut ‘Appa’.

Kini mataku tertuju pada sebuah mobil silver yang baru saja berhenti tepat di depan restoran ini dan nampaklah seorang pria setengah baya dengan perut yang sedikit tambun keluar dari mobil silver itu. Pria itu pun tersenyum renyah saat kedua matanya mendapatiku yang melambaikan tangan kepadanya dari balik dinding kaca restoran ini, dengan langkah cepat ia berjalan masuk ke dalam restoran dan menghampiriku. Tatapan matanya tetap teduh seperti biasanya. Ia hanya memandangiku sedetik sebelum kemudian membawaku ke lengannya dan memelukku erat hingga setiap udara yang ada dalam tubuhku harus keluar.

“Kihyunie!” serunya. Sejauh yang ku ingat, begitulah ia selalu memanggilku. Ia memandangiku ke atas ke bawah, menyerap semua yang sudah ditinggalkanya.

“Pogoshiposo,” kataku. Ia tersenyum hangat dan menurunkanku hingga kembali bisa berdiri di atas kakiku.

“Annyeong Kihyunie bagaimana kabarmu?” sapanya ramah kepadaku.

“Aku baik-baik saja Appa,” jawabku dengan senyum mengembang.

“Joha! Kau memang terlihat sehat Kihyunie. Apa kehidupanmu menyenangkan selama kau tinggal di Paris?” tanyanya dengan mata berbinar.

“Ehm, tentu saja appa. Aku sangat senang tinggal di sana ada banyak teman yang selalu ada untukku. Mereka semua memperlakukanku sangat baik appa,” jawabku yang disambut dengan sebuah senyuman bahagia yang tersungging di bibirnya.

“Geure? Mereka pasti sedih karena kau pergi.”

“Ne, mereka semua menangis saat mengantarku ke bandara,” jawabku.

Kemudian appa mulai menceritakan kisahnya selama sepuluh tahun kami berpisah. Di sepanjang waktu ia menceritakan kisahnya, dengan bersemangat mengibaskan tangannya  dan menggambarkan  setiap detail kehidupannya di Seoul, aku tidak berbicara apa-apa. Aku tidak pernah bertanya ketika ia mengunjungiku di Paris.

Sebagian dari diriku ingin memberitahunya betapa aku merindukannya. Aku ingin memberitahunya apa yang sudah terjadi ketika ia pergi bersama wanita sial itu dan bertanya apakah ia bahagia. Tapi, satu bagian lebih besar dariku takut jika aku membuka mulut, apa yang keluar bukan apa yang aku ingin katakan. Aku takut justru akan mengatakan kepadanya betapa ia melukaiku dan ibu. Aku takut aku akan mengatakan kepadanya bahwa aku marah. Aku marah ia lebih memilih wanita sial itu daripada ibuku. Aku marah ia pergi meninggalkan kami. Aku takut aku akan bertanya kepadanya, “Mengapa?” Mengapa ia lebih memilih wanita sial itu daripada rumah tangga yang sudah susah payah ia bangun? Mengapa ia tidak memilih aku dan ibu?

Ada saat ketika aku melihat atau merasakan sesuatu, dan aku tahu ia hilang dari kehidupanku. Ibu dan aku duduk di meja makan setiap malam, dan aku menatap kursi kosong di seberangku, bertanya-tanya tentang orang yang seharusnya duduk di sana. Bertanya-tanya apakah ia baik-baik saja. Bertanya-tanya apakah salahku yang membuatnya pergi pada awalnya. Aku benci tidak bisa berbicara dengannya. Aku benci tidak tahu apakah ia baik-baik saja. Aku bertanya-tanya apakah ia pernah memikirkanku. Aku benci bermimpi suatu hari ia akan memintaku untuk berada di sampingnya lagi.

Setiap kali ia menemuiku, aku semakin dekat dan semakin dekat berbicara dengannya, tapi sesuatu selalu menghentikanku. Mungkin aku menunggu saat yang tepat ketika aku tahu semua hal yang tepat untuk aku utarakan.

“Bagaimana kabar eomma mu?” sahutnya tiba-tiba yang membuatku menatapnya tajam.

“Eomma? Oh ne, eomma baik-baik saja appa,” jawabku gugup.

“Miane Kihyunie…,” ucapnya lirih dan sejenak suasana menjadi hening.

“Waeyo appa?”

“Maafkan appa telah meninggalkanmu dan ibumu,” katanya yang seketika membuat bulir-bulir air mataku berkumpul di pelupuk. Hatiku bergejolak mendengar kata-katanya itu. Aku merasa seolah kata-kata itu terus menjerit kepadaku. Kata-kata yang muncul dalam kepalaku dari folder tua berdebu, yang jauh tersembunyi di dasar hatiku.

“Sudahlah appa jangan membahas itu lagi ne? Aku sudah sangat sakit jika mengingat kejadian mengerikan itu appa. Sebenarnya apa maksud appa memintaku kembali ke Seoul? Kota yang menyimpan berjuta kenangan pahit yang selalu ingin kulupakan,” ucapku yang tak sanggup lagi membendung air mata dan kini aku mulai terisak pelan.

“Appa ingin menebus semua kesalahan appa padamu Kihyunie. Appa ingin memberikan seluruh cinta yang appa punya, appa ingin melihatmu bahagia bersama laki-laki yang baik,” ucapnya yang membuatku menatapnya penuh tanda tanya.

“Mwo? apa maksud appa?”

“Appa sudah menjodohkanmu dengan cucu dari teman baik appa, ia adalah pria yang baik Kihyunie dan appa yakin ia akan membuatmu bahagia,” jawabnya yang sontak membuat mataku terbelalak lebar tak percaya pada apa yang baru ia ucapkan.

“Mwo! ANDWEE! Appa, aku tidak ingin dijodohkan! Aku sudah mempunyai kekasih appa dan aku sangat mencintainya,” tandasku.

“Kekasih? Apa yang kau maksud pria berandalan itu! Kau tahu Kihyunie ia bukan pria yang baik untukmu,” balasnya yang membuat wajahku memanas.

“Apa yang appa tahu tentang dia! Aku sudah mengenalnya lebih dari tiga tahun appa, dia bukan seorang pria berandalan! Dia adalah pria yang baik!”

“Dengan sihir apa dia menggodamu hah! Appa yang lebih tahu mana yang baik dan buruk untukmu Kihyunie! Pria itu tak pantas untukmu!”

“Mwo! Yang terbaik untukku? Apa Appa ingin sejarah kelam terulang kembali! Aku tidak ingin bernasip sama seperti ibu appa!” ucapku dengan nada tinggi yang kemudian buru-buru beranjak dari tempat dudukku.

“Appa hanya ingin melihatmu bahagia Kihyunie, percayalah dia adalah pria yang baik untukmu. Temui dia besok di sini,” ucapnya lirih yang sempat menahanku sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya.

Air mataku semakin deras mengalir seiring dengan langkah kakiku yang semakin menjauh darinya, dari lelaki tua yang kini hanya bia menatap kepergianku pilu.

Kibum-ah apa yang harus aku lakukan?

****************

Kyuhyun POV

Akhirnya aku terlepas juga dari aktivitas pembunuh hari ini, aku pun merenggangkan otot-otot jemariku yang terasa linu yang kemudian bergerak cepat menyambar kunci mobilku dan berjalan keluar ruang kerja membosankan ini. Aku melirik jam tanganku yang menunjukkan pukul sebelas malam, “Belum terlalu malam,” gumamku. Aku semakin cepat melangkahkan kakiku menuju area parkir, dan tiba-tiba kurasakan ada seseorang yang menarik pundakku dari belakang menahanku untuk pergi. Perasaanku tiba-tiba terasa tidak enak dan janggal, aku pun memalingkan wajahku ke belakang.

“Mau kemana kau Kyuhyun-ah?” tanya seseorang tersebut dengan suara berat.

“Oh, Annyeong Donghae hyung. Kau masih belum pulang?” jawabku berusaha bersikap sebiasa mungkin.

“Sudalah jangan sok perhatian begitu padaku, katakan saja kau mau kemana?” balasnya dengan memicingkan matanya menatapku curiga.

“Aku mau ke Diskotik,” jawabku santai.

“Mwo? Diskotik? Lagi? Ya! Cho Kyuhyun kau tahu kan kau akan mati jika kakekmu sampai mengetahuinya?”

“Ani, aku tidak akan mati jika kau tidak memberitahunya hyung. Aku janji aku tidak akan terlambat untuk bekerja besok, jadi kau tenang saja hyung. Annyeong,” kataku yang kemudian melenggang pergi meninggalkan Donghae hyung yang saat ini sedang sibuk mengacak-ngacak rambutnya frustasi.

“Yak! Cho Kyuhyun kapan kau akan berhenti membuatku susah hah!” umpatnya dengan jari telunjuk yang mengacung ke arahku.

“Miane hyung,” ucapku lirih sambil terkekeh kecil dan segera berlari menuju mobilku takut-takut kalau Donghae hyung akan mengejarku.

**************

Author POV

Seorang namja tampan berambut ikal terlihat memasuki Dikotik yang sudah terkenal di kalangan penikmat hiburan malam. Ia bejalan ke arah seorang gadis jelita yang selalu menemaninya saat ia berada di Diskotik itu.

“Annyeong Jessica-shi,” sapa Kyuhyun sambil merengkuh pinggang gadis itu dari belakang. Sontak gadis itu menoleh ke arahnya dengan tersenyum cerah.

“Oppa! Waseo? Pogoshiposo…,” ucap Jessica girang yang kemudian memeluk Kyuhyun erat.

“Ne, nado pogoshiposoyo Jessica-shi…,” balas Kyuhyun dengan merapatkan pelukannya pada gadis jelita itu.

Jarak mereka sangat dekat sekarang, keduanya seketika membisu dan hanya bisa saling memandang. Wajah mereka semakin lama semakin dekat hingga hidung mereka kini pun bersentuhan, Jessica perlahan menutup kedua matanya seolah ia tahu Kyuhyun akan melakukan apa setelah ini. Kyuhyun menatap lurus ke arah gadis yang saat ini sudah memejamkan matanya, ia begitu menikmati setiap desir nafas Jessica yang menerpa wajah rupawannya dan sedetik kemudian ia tersenyum tipis.

“Di sini saja ya..”

CHU~

Kyuhyun mengecup kening Jessica lembut yang seketika membuat Jessica buru-buru melepaskan pelukannya, ia menatap Kyuhyun kesal.

“Ya! Kenapa hanya di kening oppa? Aku kira aku akan menjadi wanita pertama yang mendapatkan kissu darimu,” protesnya kesal.

“Ya.. bukankah tadi itu juga kissu?” jawab Kyuhyun enteng yang membuat bibir gadis itu mengerucut sebagai tanda ia marah.

“Tapi bukan kissu di kening yang aku inginkan, aku ingin kissu di bibir!” ucap Jessica lantang yang seketika membuat Kyunhyun tertawa terbahak-bahak.

“Mwo! AHAHAHAHHA! Sudahlah Sica-shi jangan bermimpi, aku tidak akan pernah memberikan kissu pertamaku padamu,” kata Kyuhyun yang semakin membuat Jessica kesal.

“Nappeunom,” umpatnya kesal dengan tatapan mengerikan.

“Ya… yaa miane Sica-shi, kau ini gampang sekali marah ya…,” ucap Kyuhyun sambil mencubit pipi Jessica yang sudah menggembung dengan gemas.

“Yak! Appo!” balasnya kesal yang segera menampik tangan Kyuhyun kasar.

“Yaa… jangan marah Sica-shi, hari ini mungkin terakhir kalinya aku kemari. Apa kau tidak ingin mengadakan pesta perpisahan denganku?” kata Kyuhyun yang membuat mata gadis itu membeliak.

“Mwo? Terakhir kali? Memang kau mau kemana oppa?” tanyanya terkejut mendengar ucapan Kyuhyun barusan, sorot matanya sarat akan kekhawatiran.

“Aku akan segera menikah, mungkin bulan depan, ah tidak mungkin akan dipercepat menjadi minggu depan dan sulit bagiku untuk datang kemari lagi karena kakek mengancam akan memblokir semua kartu kreditku,” jelas Kyuhyun pada Jessica yang kini hanya bisa menatap Kyuhyun dengan mulut menganga.

“Mwo! Kau akan menikah oppa? Apa kau tidak salah dengar?” tanyanya lagi yang masih tidak bisa mempercayai ucapan Kyuhyun. Matanya yang indah itu hanya bisa mengerjap-ngerjap.

“Ne, kau ti..” ucapan Kyuhyun terpotong saat ia mendengar suara seorang namja memekik memanggil Jessica.

“Jessica-ya! na waeso!” pekik seorang namja berambut pirang dan beralis tebal itu. Ia berjalan perlahan menghampiri Jessica sambil melambaikan tangannya.

Kyuhyun mengerutkan dahinya dan menatap Jessica tajam, jelas Kyuhyun tidak suka dengan kehadiran namja beralis tebal itu. “Jessica-shi apa kau masih menemui namja brengsek itu?”

“Ne oppa dia yang menemaniku di sini setiap malam saat kau tidak datang,” jawab Jessica. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam ia tak berani menatap mata Kyuhyun.

“Sudah berapa kali aku bilang dia itu pria jah…,” ucapan Kyuhyun kembali terpotong saat dirasanya namja beralis tebal itu menepuk sebelah pundaknya.

“Oh! Annyeong Cho Kyuhyun-shi,” sapa namja itu dengan senyum licik.

“Oh ne, annyeong Kibum-shi,” balas Kyuhyun datar yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi ketidaksukaannya.

“Aku hanya ingin memberitahumu jika waktumu sudah habis, sekarang adalah giliranku. Kaja Sica-ya,” ucap Kibum masih dengan senyuman licik yang kemudian dengan cepat menarik lengan Jessica ke sisinya dan melenggang pergi meninggalkan Kyuhyun yang mulai terbakar amarah. Sekilas Jessica memalingkan wajahnya ke arah Kyuhyun menatapnya seolah ia berkata ‘miane oppa, aku tidak bisa menemanimu’

Kyuhyun berdecak kesal, rahangnya mengeras, dan kakinya bergerak-gerak menendang angin. “Kurang ajar kau Kim Kibum!”

**************

Author POV

            Pria bermata besar itu masih asyik dengan kesibukannya, tangannya seakan tak pernah berhenti untuk membalik setiap lembaran-lembaran laporan yang sedang ia cermati. Matanya bergerak-gerak cepat membaca setiap kata yang ada di lembaran laporannya itu, sesekali ia menguap sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku akibat berkerja seharian. Dan tiba-tiba perhatiannya teralihkan saat ia mendengar pintu ruang kerjanya tebuka.

“Choi Sajangnim, anda belum pulang?” tanya seorang karyawan dengan wajah heran.

“Oh ne, apa ada yang perlu kau sampaikan padaku?”

“Saya hanya ingin memberikan portofolio yang berisi desain-desain karya siswi terbaik Esmod tahun ini,” jawabnya yang kemudian menyerahkannya pada pria bermata besar itu.

“Arasseo, kau boleh pergi sekarang,” jawabnya.

Sejenak ia menghentikan aktivitasnya dan mulai membuka lembaran demi lembaran portofolio itu, ia selalu tersenyum setiap kali membaliknya.

“Sungguh menyegarkan mata,” gumamnya lirih. Kemudian di tekannya tombol interkom telepon yang ada di meja kerjanya.

“Sekertaris Kim, tolong segera hubungi nona Song Kihyun dan suruh ia kemari.”

“Ne sajangnim, saya akan segera menghubunginnya,” jawab sekertaris itu dari seberang sana.

Kihyun POV

Aku mungkin sudah gila, pikiranku benar-benar tidak waras. Hari ini aku duduk sendirian di salah satu bangku restoran, restoran yang sama tempatku bertemu appa kemarin. Aku sedang menunggu kedatangan ‘calon suamiku’ yah mungkin bisa dibilang begitu, seorang namja yang sama sekali tidak kukenal. Ini terlalu konyol untukku, yang benar saja appa kemarin kembali meneleponku dan berkata padaku bahwa pernikahanku akan dilaksanakan seminggu dari sekarang.

Aku belum menceritakan tentang perjodohan ini kepada Kibum, aku terlalu takut untuk menceritakan  hal ini padanya, sudah cukup kemarin aku membuatnya khawatir dengan keadaanku yang sangat memprihatinkan. Kemarin setelah aku menemui appa, aku datang untuk memenuhi janjiku pada Kibum dengan wajah yang sudah tak karu-karuan, mataku sembab, rambutku berantakan dan aku tak bisa berhenti menangis. Dan aku hanya membisu saat ia bertanya ‘ada apa denganmu?’ aku terlalu takut untuk menceritakannya, aku takut ia akan marah padaku, aku takut jika aku akan menyakitinya.

Sekarang aku datang untuk menemuinya bukan karena tiba-tiba aku setuju dengan perjodohan konyol ini melainkan aku ingin mengajaknya untuk bekerjasama menolak perjodohan ini. Aku yakin dia juga tidak setuju dengan perjodohan ini, hanya laki-laki kolot yang setuju untuk dijodohkan di jaman yang sudah modern ini.

Sejenak aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, aku berdecak kesal kerena ia tidak juga datang. Aku sudah menunggunya sejak satu jam yang lalu dan berhasil menghabiskan sepuluh gelas jus jeruk yang membuat perutku kembung sekarang, tapi ada sedikit kelegaan di setiap helaan nafasku karena ia secara tidak langsung memberitahuku bahwa ia juga sangat menolak perjodohan ini.

**************

Author POV

Kyuhyun keluar dari mobil kesayangannya, ia melangkahkan kakinya malas menuju ke sebuah restoran tempat ia akan menemui seorang gadis yang cepat atau lambat akan segera ia nikahi. Ia membuka pintu kaca restoran itu dan berjalan cepat ke arah meja kasir.

Kyuhyun POV

“Chogiyo, aku sudah membuat janji dengan seorang yeoja di sini, bisakah kau menunjukkan padaku mana orangnya?” tanyaku sopan kepada seorang kasir yang sedang mendengarkanku seksama.

“Oh ne, bisakah anda sebutkan nama anda?” jawabnya ramah.

“Cho Kyuhyun imnida,” ucapku, dan kasir itu segera berkutat dengan computer yang ada di hadapanya.

“Baik, Cho Kyuhyun-shi nona Song Kihyun sudah menunggu anda sejak satu jam yang lalu. Salah satu pelayan kami akan menunjukkan mejanya pada anda,” jelasnya yang kemudian melambaikan salah satu tangannya kepada salah satu pelayan dan memberi isyarat untuk segera menghampirinya.

“Ne, Gamsahamnida.”

Aku tersenyum tipis, jadi Song Kihyun namanya, sungguh nama yang unik.

Aku pun berjalan mengikuti seorang pelayan di depanku. Pelayan itu menuntunku berjalan ke deretan meja yang berada tepat di sisi dinding kaca restoran ini. Pandanganku seketika menangkap sosok yeoja yang teramat cantik yang sedang duduk di deretan meja ketiga. ‘Apakah ia seorang malaikat?’ Rambutnya panjang berwarna coklat gelap begitu juga warna iris matanya yang berwarna serupa. Kedua bola mata jernih itu bergerak-gerak mengamati sesuatu yang sedang dilihatnya, ia menopangkan dagunya pada satu kelapan tangannya terlihat ia sedang menunggu seseorang. Dan aku baru tersadar jika pelayan ini berjalan menuntunku ke arah gadis cantik itu, jantungku berdebar kencang saat pelayan ini benar-bernar berhenti tepat di depan meja gadis jelita itu. Jangan-jangan dia…..

“Cho Kyuhyun-shi kita sudah sampai,” ucap pelayan itu yang membuatku tersentak. Nafasku tercekat saat gadis itu menoleh ke arahku dan memandangku bingung, wajahnya yang menawan itu semakin jelas terlihat.

“Oh ne, gamsahamnida,” jawabku dengan suara senormal mungkin, mencoba menghilangkan rasa gugupku. Aku segera menarik kursi dan duduk di hadapan gadis itu, dan tubuhku seakan mati rasa tatkala kedua bola mata jernih itu menatapku intens.

“Annyeonghaseyo, Song Kihyun imnida,” sapanya ramah dan tersenyum manis kepadaku. Oh Tuhan! Gadis ini membuatku gila!

Kihyun POV

            Sejenak aku terpaku melihat sebuah patung porselen berjalan mendekat ke arahku, wajahnya sangat tampan. Jadi dia namja yang dielu-elukan oleh appa.

“Annyeonghaseyo, Song Kihyun imnida,” sapaku ramah kepada namja tampan yang ada di hadapanku sekarang ini.

“Ne, annyeonghaseyo,” balasnya datar dan enggan menatapku. Aku tidak tahu apakah ada yang salah di wajahku sehingga namja itu enggan melihatku, bahkan melirik pun tidak.

“Boleh aku tahu siapa namamu?” tanyaku.

Tapi bukan jawaban yang aku dapat melainkan sebuah kartu nama yang ia sodorkan kepadaku. Cih! Sombong sekali pria ini.

“Kau bisa membaca namaku di sana,” ucapnya angkuh. Aku pun mengambil kartu namanya kasar.

“Baiklah Cho Kyuhyun-shi , aku langsung pada pokok permasalahannya,” kataku yang menatapnya tajam. Kemudian aku menghela nafas berat sebelum melanjutkan kata-kataku, “Ayo kita bekerja sama membatalkan perjodohan konyol ini.” Aku menatapnya berapi-api.

“Andwe, aku tidak akan membatalkan perjodohan ini. Menikahlah denganku Song Kihyun-shi,” balasnya masih dengan ekspresi datar yang membuat mataku membeliak. Apakah pria ini sudah gila?

“Mwo!!!”

-To be Continue-


4 thoughts on “[Freelance] Baby I Need Love #3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s