[Freelance] Between Friends #2


Tittle: Between Friends Part 2

Cast : Oh Sehun

Kim Jongin (KAI)

Amelia Salisbury / Ri Ah (OC)

Genre: Romance, friendship

Author: AAL (@adlnayu)

Notes: pernah di post di hazelwine.wordpress.com

~BETWEEN FRIENDS~

 You care for the girl, don’t you? –Lumiere (Beauty and the Beast)

Sehun’s POV.

 

Aku memarkir sepeda putih ini di halaman rumahku yang tidak begitu besar. Jam tangan putihku sudah menunjukan pukul enam sore. Tadi sehabis menemani Kai pergi ke apartemen Ri Ah, aku menyempatkan diri mengunjungi pantai untuk menonton pertunjukan seorang diri, baru beranjak pulang.

 

Suasana rumah agak remang. Mungkin ayah dan ibu belum pulang. Tadi pagi mereka berpamitan untuk mengunjungi seorang kerabat di kota sebelah, karena itulah hanya aku dan dia yang menjaga rumah.

 

Aku berjalan dengan langkah mengendap-endap seperti maling, berusaha meminimalkan suara yang ditimbulkan dalam setiap langkah. Tujuannya agar dia tidak sampai terba….

 

“Dari mana saja kau?”

 

Aku menghela nafas mendengar suara yang berasal dari kamar tidur yang terdapat di samping kiriku. Aku mendelik malas, lalu menoleh ke sumber suara dengan memasang senyum palsu yang selalu kutunjukan setiap kali berhadapan dengan nya, “Aku habis dari pantai. Tu-tumben noona sudah bangun”

 

Wanita yang mempunyai rambut cokelat sama sepertiku itu menguap lebar. Mengingatkanku pada karakter kudanil dalam film Madagascar “Terbangun oleh suara langkah kakimu yang berisik itu.”

 

Aku membulatkan kedua mataku. Sepertinya tadi langkah kakiku pelan sekali. Kenapa dia bisa mendengarnya? Dasar telinga anjing. “Mianhae-yo Seohyun noona.” Aku membungkukan badanku bagai sedang berhadapan dengan seorang ratu, yeah memang di rumah ini dialah ratunya –sesudah ibuku tentu saja-  “Kalau begitu aku akan kembali ke kamar, agar kau bisa melanjutkan tidurmu yang berharga itu.”

 

Kaki ku sudah siap berlari secepat kilat menuju kamar yang jaraknya hanya sepuluh langkah dari tempatku berdiri, sampai suara mematikan milik wanita itu kembali terdengar “Setidaknya rapihkan dulu  dapur yang tadi malam kau hancurkan.”

 

Aku meringis, lalu berdecak. “Darimana noona tau semalam aku memakai dapur?”

 

Seohyun noona memutar bola matanya. Rambut panjangnya yang berantakan akibat efek dari bangun tidur membuatnya terlihat seperti Sadako “Aku tidak buta adikku sayang. Kulit alpukat dan sampah jeruk lemon memenuhi tong sampah.” Ia menunjuk tong sampah yang terparkir di samping dapur dengan dagunya ,“Memangnya semalam kau masak apa, sampai membuat dapur jadi kotor begitu?”

 

Aku terdiam. Tidak bisa menjawab pertanyannya. “A-Aku….”

 

Wanita yang lebih tua tiga tahun dariku itu melipat kedua tangannya didepan dada “Mana hasil masakan yang kau buat semalam? Aku ingin mencicipinya.”

 

“Heh?” aku membulatkan kedua mataku. Panik. Bagaimana aku memberikan masakan itu padanya, kalau sudah kuberikan pada Kai, “Ma-masakannya sudah habis noona.”

 

Seohyun noona menaikan sebelah alisnya, lalu berjalan mendekat. Aura yang keluar dari tubuhnya, selalu berhasil membuat bulu kudukku berdiri. Aku bersumpah, wanita ini lebih menakutkan dari pada hantu manapun “Jangan membohongiku.” Katanya ,“Aku tau, kau memberikan masakan itu kepada temanmu yang nakal itu kan? Siapa namanya? Kai?” ia memiringkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat ,“Yeah, siapapun namanya. Kenapa kau tidak memberikan masakan itu kepada gadis berambut merah yang kau sukai itu? kenapa kau malah memberikannya pada Kai?”

 

Tubuhku membeku mendengar dua kalimat terakhirnya. Kedua tangan yang berada disamping pahaku kontan mengepal “Aku tidak menyukai Ri Ah. Ia hanya sahabatku. Kai lah yang menyukai gadis itu.”

 

Noona ku satu-satunya itu tersenyum. Meremehkan. “Sudah berapa kali ku bilang, jangan coba-coba membohongiku kalau matamu sendiri menceritakan kenyataannya.”

 

Aku terjekut, lalu langsung mengerjapkan kedua mataku. Berusaha menutupi kenyataan yang tadi ia katakan.

 

Seohyun noona tiba-tiba tertawa. Ditelingaku, suara tertawanya terdengar menyeramkan. Bukannya menyenangkan. “Adikku polos sekali sih.” Ia mengaca-ngacak rambutku ,“Kalian berdua menyukai gadis yang sama kan? Kenapa kau tidak coba merebutnya? Kenapa malah melakukan hal bodoh, seperti memberikan masakan yang sudah kau buat sendiri itu pada Kai?”

 

“Sudah berapa kali kubilang, aku tidak menyukainya!” aku menaikan nada suaraku, “Kai yang menyukainya. Bukan aku!”

 

“Lalu apa arti dari rona wajahmu yang selalu berubah merah saat nama gadis itu disebut? Kau menyukai gadis itu kan? Amelia Salisbury?”

 

Mungkin hanya wanita inilah yang bisa menyebut nama asli Ri Ah dengan benar. Kepalan tanganku menguat. Sungguh, tidak ada yang bisa kusembunyikan dari nenek sihir ini. “Terserah noona mau bilang apa. Aku tidak peduli” Aku mengangkat bahu sebelum berjalan kearah kamar.

 

Walau begitu aku masih bisa mendengar wanita itu berkata “Jangan pernah membohongi perasaanmu sendiri demi kebahagiaan orang lain Sehun-ah. Kau akan menyesal.”

 

~BETWEEN FRIENDS~


Love is the reason why for the first time ever we’re seeing it eye to eye. –Powerline (A Goofy Movie)

 

Aku menghempaskan tubuhku pada ranjang yang dilapisi sprei berwarna biru polos itu sambil menghela nafas. Ternyata begadang membuat makanan tradional meksiko itu sanggup membuat tubuhku pegal.

 

Kedua mataku memandang langit-langit kamar yang berwarna putih polos itu dengan nanar. Kalimat itu terulang-ulang di kepalaku,seperti alunan yang biasa dikeluarkan oleh sebuah kaset rusak.

 

Karena kamu yang buat…rasanya terasa enak!

 

Tanpa sadar kedua ujung bibirku tertarik keatas. Aku senang ia menyukai makanan yang kubuat dengan jerih payah itu. Butuh usaha lebih mencari buah alpukat yang jarang dijual di desa kecil ini. Lagipula, Guacamole adalah masakan pertama yang berhasil kubuat dengan tanganku sendiri. Walaupun rasanya tidak seenak itu.

 

Aku masih ingat hari itu. Kai tiba-tiba datang ke rumahku dan memohon untuk membuatkannya sepiring Guacamole. Saat kutanya untuk apa, pemuda itu mengatakan kalau ia ingin memberikan panganan itu untuk Ri Ah.

 

Kenapa kau tidak membuatnya sendiri?’

‘Kau tau Sehun. Aku tidak bisa memasak. Ibu akan membunuhku kalau aku sampai menyentuh kompor, bahkan seujung jaripun.

Jadi, kau mau aku melakukan apa?’

Tolong buatkan masakan itu. Katakan pada Ri Ah, kalau aku yang membuatnya. Kau mau membantuku kan?’

 

Aku menutup kedua mata. Tangan kananku memijat pelipis yang seketika terasa penat. Saat Ri Ah mengatakan bahwa masakan itu terasa enak karena Kai lah yang membuatnya, hatiku seperti dihantam pemukul baseball. Ingin aku berteriak kalau aku lah yang membuatnya. Tetapi saat melihat ekspresi wajah gadis itu yang terlanjur senang mengetahui kalau yang membuat Guacamole itu Kai, aku kembali bungkam.

 

Aku meremas permukaan sprei dengan kedua tanganku yang bergetar, seiring dengan rasa penyesalan yang tiba-tiba menyup masuk ke dalam rongga dada.

 

‘Jangan membohongi perasaan mu sendiri demi kebahagiaan orang lain.

 

Kata-kata nenek sihir itu mulai merecoki perasaanku. Aku senang melihat Kai jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ri Ah juga. Dari sorot matanya,aku langsung tau gadis itu mempunyai perasaan yang sama terhadap Kai.

 

Gadis itu. Amelia Salisbury.

 

Tak ada yang spesial. Tubuh kurus,bahu lebar,kulit yang selalu terlihat pucat walau sering terjamah sinar matahari , dan rambut merah.

 

Tidak banyak hal yang bisa diceritakan tentang gadis ini.

 

Ayah Ri Ah adalah seorang petualang. Pemimpi ulung yang bercita-cita menandai semua tempat di globe dengan spidol merah ,tanda ia pernah menapaki kakinya disana.

Karena itulah Ri Ah dan ayahnya selalu hidup berpindah-pindah. Dari  satu negara ke negara lainnya. Orang lain mungkin tidak betah hidup seperti itu,tapi gadis ini tidak.

Ia malah menganggap ini sangat menyenangkan.  Gadis itu pernah berkata padaku, Momen yang paling menyenangkan dalam hidupku adalah, saat aku membuka jendela dan melihat pemandangan baru setiap harinya.

Tapi saat umurnya menginjak lima belas tahun, ayahnya tiba-tiba menyuruh Ri Ah untuk tinggal di sebuah desa kecil di daratan Busan. Tempat kelahiran mendiang ibunya.

Gadis itu sempat menolak. Ia tidak ingin tinggal jauh dari ayahnya. Ia takut ayahnya akan pergi dan tak pernah kembali. Gadis itu takut  merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya.

Tapi entah apa yang ayahnya katakan hingga akhirnya gadis kelahiran meksiko itu akhirnya menyetujui untuk tinggal di desa kecil ini. Desa kecil yang bahkan tidak disebutkan dalam peta.

Aku masih ingat betul saat pertama kali bertemu dengannya.

Tiga tahun yang lalu, saat aku dan Kai baru pulang sehabis main dari pantai, kami mendengar suara teriakan tertahan yang berasal dari sebuah gang kecil yang dihimpit oleh gedung-gedung tua yang sudah lama terbengkalai.

Kai berfikir kalau itu mungkin hanya perasaan kami saja, dan memutuskan untuk langsung pulang. Tapi aku merasa ganjil.

Akhirnya aku berhasil menarik Kai ikut serta menelusuri gang kecil itu. Dan benar saja, kami menemukan seorang gadis sedang dihimpit oleh beberapa preman yang sedang berusaha merobek bajunya.

Kai langsung maju dan memukuli preman-preman itu dengan jurus karatenya. Tak sampai sepuluh menit, preman-preman yang berjumlah tujuh orang itu langsung berlari terbirit-birit.

Saat Kai masih sibuk mengumpati preman itu satu persatu,aku langsung berlari kearah gadis malang itu dan langsung memeluk tubuhnya.

Tubuh gadis itu spontan membeku dan langsung memberontak. Ia memukuli dadaku dan berusaha untuk lari tapi aku menahannya sambil berkata “Tidak apa-apa… Ini aku! Tenang saja, aku akan melindungimu.”

Bodoh memang mengatakan hal itu. Karena hei, memangnya aku kenal dengan gadis ini? Melihat wajahnya dengan jelas saja tidak, kenapa aku malah mengatakan hal seperti itu?

Lagi pula yang menyelamatkan gadis ini dari para preman tadi itu kan Kai, bukan aku.

Tapi diluar dugaan gadis itu langsung terdiam dan menumpahkan tangisnya yang tadi tertahan. Aku merengkuh tubuhnya yang kurusnya dengan kedua lenganku. Gadis itu membenamkan wajahnya pada dadaku, ia balas pelukanku dengan tangannya yang masih bergetar.

Untuk beberapa saat kami terdiam dengan posisi itu. Aku tidak mencoba untuk merenggangkan ataupun merekatkan pelukanku. Kami tetap diam,tidak bergerak. Sampai salah satu dari kami mengangkat wajah.

Gadis itu menarik diri dari pelukanku. Satu tangannya mengusap air mata yang hampir mengering diujung mata. walaupun wajahnya masih terlihat pucat, Tangannya sudah tidak bergetar. sepertinya ia sudah sedikit tenang.

Gadis itu mengangkat wajahnya. Mata kami bertemu. Memandang satu sama lain bagaikan bayi yang baru pertama kali melihat dunia.

Dan saat itu aku menyadari sesuatu.

Bola matanya berwarna biru.

~BETWEEN FRIENDS~

“I love her. And so he does”

Jika orang-orang melihatku berjalan berdua dengan Kai,mereka selalu mengira kalau kami adalah pasangan gay.

Bagaimana tidak? Kami selalu bersekolah di tempat yang sama. Rumah bersebelahan, orangtua yang dekat satu sama lain. Faktor itulah yang membuat orang-orang mengira kalau kami ini berjodoh.

Kai bukanlah nama sebenernya. Nama aslinya adalah Kim Jong In. Tipikal nama-nama orang korea biasa yang mungkin tidak terdengar menarik.

Kai mempunya obsesi dengan segala yang berbau jepang. Berawal dari kecintaannya pada sebuah Manga, Kai mempelajari semua yang berbau negara sakura itu. Makanan, kebudayaan, sampai bahasa.

Alasan inilah yang membuatnya memperkenalkan dirinya pada semua orang dengan nama Kai -nama orang jepang- ,bukanlah Jong In.

Ia sendiri sebenarnya tidak tau menau tentang arti dari ‘Kai’. Pemuda itu memakai nama tersebut karna mengidolakan sebuah Band kenamaan jepang ,The Gazette yang kebetulan mempunyai salah satu personil bernama ‘Kai’.

Yang boleh memanggilnya dengan nama Jong In hanyalah aku,Ri Ah,dan ibunya sendiri.

Pernah suatu hari,ia menulis nama ‘populernya’ itu pada selembar kertas ujian matematika,dan berakhir dengan nilai 0 yang terpampang disisi kiri kertas tersebut karna guru kami merasa bahwa Kai sedang mengajaknya bercanda.

Tapi pemuda berambut hitam itu tidak mempedulikannya.

Ia memang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi dan terkesan tidak mempedulikan keadaan sekitar. Orang awam mungkin menyebut ini adalah sifat yang buruk tapi tidak denganku.

Aku malah merasa iri.

Kai dengan mudahnya dapat mengucapkan apa yang ia rasa tanpa nada beban yang terselip disana. Sedangkan aku? Aku terlalu takut menyakiti perasaan orang lain,karena itulah aku lebih memilih memendam semuanya dalam hati demi menjaga agar tidak terjadinya suatu konflik yang berarti.

Dibandingkan denganku yang mempunyai sifat dewasa lebih tinggi dari pada remaja biasa, Kai terkesan kekanak-kanakan.

Kekalahan dalam suatu pertandingan sepak bola antar kelas saja dapat membuat moodnya buruk sampai satu minggu.

Aku ingat hari itu. Tiga hari yang lalu, seorang Kai yang tingkah kenak-kanakannya masih sama seperti anak SD itu mengatakan sesuatu yang sanggup membuat kedua bola mataku membulat.
“Aku jatuh cinta.”

Hanya tiga kata yang terkesan sangat sederhana tapi sanggup membuatku menyemburkan orange juice yang saat itu sedang kutenggak.

“Kau….apa?!” Aku memutar tubuhku menghadap Kai yang sedang berleha-leha di tempat tidurku dengan tampang seperti habis melihat hantu.

Ia memang biasa begini. Masuk ke kamarku lalu langsung membanting tubuhnya pada ranjang yang terletak disamping meja belajarku tanpa permisi.

“Aku jatuh cinta.” Ia mengulangi perkataannya dengan nada ceria yang sama seperti sebelumnya,”Pernahkah kau bayangkan? orang seperti aku? Jatuh cinta?”

“Tentu tidak.” Aku kembali berkonsentrasi pada tugas Biologi yang sedang kukerjakan. Berusaha untuk terlihat biasa,karna kalau tidak ia pasti akan-

“Kau kaget kan? Ternyata seorang Jenius sepertimu bisa kaget juga Hahaha” –mengolok-olokku.

“Jatuh cinta adalah hal yang biasa, kau tau? Apalagi umur kita sudah memasuki 18,jadi itu adalah hal yang wajar terjadi.” Aku menggigit-gigit unjung pensil berbahan rotanku dengan tampang pura-pura resah karna mengerjakan tugas untuk menutupi kekagetanku.

“Kau mengatakannya ‘biasa’ karna belum pernah mengalaminya, aku benarkan Sehun?”

Gerak tanganku yang sedang menulis jawaban pada buku biologi sontak terhenti. “Maksudmu?”

“Yaaahhh, jenius sepertimu apa pernah merasakan hal seperti itu?” Kai mendudukan dirinya yang tadi sedang tengkurap, “Perasaan seperti meledak-ledak saat bersentuhan dengan orang yang kita sukai, perasaan ingin melindungi dan ingin memiliki. Kau tau, perasaan itu seperti berkat yang turun dari langit.”

“Kau berkata seakan kau ahli dalam hal ini, Kim Jong In.”

“Aku memang masih pemula,tapi setidaknya lebih baik darimu yang bahkan belum pernah merasakannya.” Kai dengan cekatan menghindar dari bantal yang barusan kulempar. Pemuda itu terbahak, puas melihat tampangku yang berubah kesal,”Hei, jangan marah. Cepat atau lambat kau pasti akan merasakannya.”

Aku sudah merasakannya.

“Ngomong-ngomong, kau tidak bertanya tentang siapa gadis beruntung itu?” Tanya Kai sambil menggerataki tumpukan buku bertema kesehatan yang terjejer rapih di rak buku-iseng.

“Apanya yang beruntung?” Aku balas bertanya.

Kai menoleh kearahku dengan tampang tak habis pikir. “Apa kau tidak berfikir kalau gadis yang kutaksir ini beruntung? Disukai oleh laki-laki tampan sepertiku, bukannya itu suatu keberuntungan?”

BUK!

Dengan satu gerakan aku berhasil mengenai wajahnya dengan bantal yang kulempar “Ternyata kau narsis juga ya.”

“Hei apa itu salah?” Kai merapikan rambut hitam nya yang jadi berantakan akibat lemparan bantal tadi. “Jadi apa kau tidak mau tau siapa gadis beruntung itu?”

“Kenapa aku harus tau?” Lagi-lagi aku menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan.

“Karena gadis itu adalah gadis yang sangat kau kenal, Oh Sehun.”

Tubuhku mematung. Tanpa ia beritahu pun,aku tau pasti siapa gadis ‘beruntung itu’. Instingku mengatakan kalau gadis itu adalah dia. Aku hanya tidak ingin mendengar langsung dari mulutnya. “Oh.”

“Kenapa reponmu datar begitu? Kau benar-benar tidak mau tau?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karna itu bukan urusanku.”

“Tentu saja itu urusanmu!” Kai tiba-tiba bangkit berdiri. Ia melangkah kearahku dengan langkah lebar. “Kita saling mengenal bukan satu atau dua hari yang lalu tapi sudah dua belas tahun! Masa kau tidak mau tau siapa gadis yang ditaksir sahabatmu ini?”

Penyakit keras kepala Kai kumat lagi. Kalau begini,biasanya akulah yang mengalah. Memilih mendengarnya bercerita sampai selesai daripada melihatnya ngambek karna aku tidak mengubrisnya.

Tapi kali ini berbeda. Aku tidak mau mendengarnya. Jika bisa, aku ingin Tuhan menulikan telingaku sekarang juga.

“Aku menyukai Ri Ah.”

Strike.

Aku memejamkan kedua mataku. Genggaman pada pensil rotanku mengerat. Seolah-olah aku bisa menghancurkannya detik itu juga.

“Bagaimana menurutmu, Sehun?”

“Apanya?” Aku menundukan kepala. Memutuskan kontak mata dengannya,agar ia tidak mengetahui kenyataan  yang sesungguhnya.

Bahwa kami menyukai gadis yang sama.

“Kau mau membantuku kan?” Kai menatapku dengan mata berbinar-binar. Kedua tangannya menggenggam bahuku erat.

Aku mengangkat kepala. Mati-matian kuperintahkan mataku agat memancarkan sorot yang berkebalikan dengan kondisi hatiku saat ini. “Baiklah.”

Great!” Kai mengepalkan tangannya sambil melompat kecil. Kebiasan bila ada sesuatu yang membuatnya senang, “Terimakasih, kau memang sahabatku terbaikku, Oh Sehun!”

Sahabat terbaik? Benarkah? Memangnya apa definisi dari sahabat terbaik itu?

Aku tidak membalas ucapan terimakasihnya. Sejuta pertanyaan bermunculan dikepalaku. Apa yang akan Kai lakukan selanjutnya? Menyatakan rasa cinta nya kepada Ri Ah? Apakah Ri Ah akan menerimanya?

Ah, apa yang kupikirkan. Tentu saja gadis itu akan menerimanya. Ini akan terjadi seperti yang sudah-sudah. Tidak ada gadis yang sanggup menolak persona Kai,karena itu Ri Ah pasti juga akan menerimanya. Aku benar kan?

Tapi bagaimana dengan ku? Dengan kami? Kalau mereka berdua menjadi sepasang kekasih, apa yang akan terjadi dengan persahabatan ini?

Aku tau di dunia ini tidak ada yang abadi. Begitu juga dengan persahabatan ini. Semua nya akan berubah. Persahabatan ini, kami , tidak bisa menolak kodrat yang sudah ada sejak lama. Bahwa semua yang terjadi akan mengalir bersama dengan berbagai macam perubahan.

“Kai….”

Pemuda berambut hitam itu berhenti berjingkrak-jingkrak. Bola matanya menatapku masih dengan tatapan antusias. “Ada apa?”

“Persahabatan pasti akan berubah kan?”

Kai menautkan kedua alisnya. Bingung. “Maksudmu?”

“Di dunia ini tidak ada yang abadi. Jadi persahabatan kita pun pasti akan berubah kan?”

Sinar antusias yang tadi terpajang di bola matanya memudar, digantikan dengan sorot penuh kasih sayang yang jarang pemuda ini pancarkan. “Kau menyanyakan hal yang sama seperti yang Ri Ah tanyakan saat di pantai waktu itu.” Kai mendudukan tubuhnya di sofa mungil yang terdapat di pojok kamar,”Suatu hari nanti persahabatan kita pasti akan berubah dan kita tidak bisa menyangkalnya” Ia tersenyum padaku, “Tapi seperti apapun kita nanti. Kita bertiga akan selalu bersama. Selamanya.”

Mungkin ini pertama kalinya dalam hidupku mendengar Kai bisa bicara dewasa seperti ini. Bahkan lebih dewasa dariku. “Walau kita berdua menyukai gadis yang sama?”

“Apa?!”

Entah setan apa yang membuatku mengatakan pertanyaan bodoh seperti itu. Tiba-tiba saja lidahku menyuarakan apa yang ada di hatiku sejak tadi. Aura yang tadi tenang berubah tegang.

Kai menatapku sengit “Apa maksudmu?”

Perlu sepuluh detik  bagiku untuk menetralisir ekspresi wajahku yang tadi berubah kaku. Pada detik ke sebelas aku baru sanggup membuka mulutku “Ini hanya perandaian saja.” Kataku ,”Misalnya, kau menyukai gadis yang sama dengan sahabatmu, apa yang akan kau lakukan? Tetap berjuang mengejar gadis itu atau menyerah demi kebahagiaan sahabatmu?”

“Tentu saja menyerah demi kebahagiaan sahabatku.” Ia menjawab mantap,” Aku tidak mungkin membiarkan sebuah persahabatan hancur hanya karena memperebutkan seorang gadis, itu sangat egois.”

Aku terdiam. Meresapi semua omongan Kai dalam benakku. Entah kenapa aku lebih berharap kalau Kai akan menjawab opsi yang pertama.

“Almarhum ayahku pernah bilang, kalau seorang lelaki sejati selalu mengutamakan persahabatan diatas cinta.” Ia berkata sambil tersenyum polos. Kalau seperti ini Kai terlihat seperti anak kecil yang baru diajari matematika oleh orangtuanya, “Jadi jika hal yang kau umpamakan itu terjadi, aku akan merelakan gadis yang kusukai itu untuk sahabatku. Kata ayah, itu adalah suatu pilihan yang hanya bisa dilakukan oleh gentleman.”

“Begitukah?” Aku tersenyum. Perkataan Kai ada benarnya. Aku tidak mungkin membuat persahabatan ini hancur hanya karna seorang gadis. Tidak akan. Walaupun perasaanku lah yang menjadi taruhannya.

 

~BETWEEN FRIENDS~

Promise me you won’t forget about me, ever. Not even when I am a hundred. –Christopher Robin

Tiga hari lagi ujian kelulusan akan dilaksanakan. Sudah seminggu murid-murid SMA di desa ini tidak beranjak keluar dari kamar mereka. Lebih memilih menghabis kan waktu untuk menghafal, menghitung, dan memecahkan soal-soal yang membuat otak ngejelimet.

Di desa ini hanya ada satu SMA dan tidak terdapat unirvesitas. Karena itu lah bagi yang ingin melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah mau tidak mau harus keluar dari desa ini.

“Fuaahhh!!!” Aku naik ke permukaan dan menghiru oksigen sebanyak-banyaknya. “Ri Ah, kita istirahat dulu.”

Lima detik kemudian kepala seorang gadis menyembul ke permukaan, ia terbatuk-batuk sebentar lalu menyatukan telunjuk dan ibu jarinya membentuk lingkaran kecil “Oke”

Kami berenang sampai ke mulut pantai. Menghempaskan tubuh ke atas gundukan pasir dan merasakan ombak menggelitiki permukaan telapak kaki kami yang menghadap laut.

Kai tidak ikut dalam acara berenang kali ini. Sudah seminggu ia dikurung oleh ibunya. Nilainya dalam ujian semester lalu didominasi dengan angka enam. Karena ini adalah ujian kelulusan, ibunya tidak berbaik hati untuk memberikan Kai waktu istirahat, bahkan satu hari saja.

Sebenarnya aku dan Ri Ah bisa saja mengajarinya, tetapi ibu Kai tidak mengijinkan karena beliau tidak ingin membuat kami repot.

“Kalau sudah lulus nanti, apa yang mau kau lakukan?” Tanya Ri Ah sambil meneguk air mineralnya, “Kau tahu? dengan nilaimu yang sempurna, kau bisa jadi apa saja.”

Aku menaikan sebelah alis, bibirku mencetak senyum jenaka. “Kau berkata seperti nilaimu tidak sempurna saja.” Telunjukku mengetuk-ngetuk dagu. Berfikir,”Yang jelas…aku ingin keluar dari desa ini dan melihat dunia. Mungkin aku akan menjadi pilot.”

“Wahhh!” Ri Ah menutup mulut dengan satu tangannya, “Kalau kau sudah jadi pilot nanti kau harus mengajakku terbang keliling dunia ya!”

Aku tertawa melihat responnya “Pasti. Kalau kau? Apa cita-cita mu?”

“Hmmmmm” gadis itu mendongak menghadap langit, seakan mencari jawaban disana ,”Aku masih belum tau. Tapi yang jelas kalau kau sudah jadi pilot nanti jangan lupakan aku ya.”

“Tentu saja. Kau pikir apa yang akan membuatku lupa denganmu?”

“Yahh bisa saja kan.” Gadis itu menyisir rambutnya yang sedikit kusut akibat terlalu lama terendam di air laut dengan jarinya yang kurus, “Ah, aku tau! Bagaimana kalau kita buat perjanjian?”

“Hah?” Aku menatap gadis itu dengan bingung,”Perjanjian apa?”

“Berjanjilah kau tidak akan melupakanku. Hmmm…mari kita cari sesuatu yang dapat mengingatkanmu tentangku.” Gadis itu mengedarkan pandangan kesekeliling, satu tangannya menghalangi sinar matahari agar tidak langsung menyinari matanya.

Tunggu. Mata?

“Aku tau!” Tiba-tiba aku berseru, satu tanganku menunjuk ke depan,”Laut! Laut selalu mengingatkanku padamu!”

“Hehh? Kenapa laut?” Gadis itu terdengar kecewa ,”Kenapa tidak boneka barbie saja? Aku kan cantik seperti boneka barbie.” Ri Ah mengerjap-ngerjapkan matanya, berharap agar terlihat manis.

Aku tergelak “Hei serius. Warna laut. Iris matamu. Mempunyai kesamaan kan?”

“Maksudmu, sama-sama berwarna biru?”

“Betul!”

“Hmmm boleh juga.” Gadis itu mengangguk-anggukan kepalanya, jari tangannya menyisir rambut merahnya kebelakang ,”Kalau begitu laut juga mengingatkanku tentangmu!”

“Loh? Aku? Kenapa?”

“Aroma tubuhmu.” Ia menoleh padaku, tersenyum, “Aroma tubuhmu itu seperti laut.”

“Maksudmu, aku bau amis begitu?” Tanyaku sedikit tersinggung.

Gadis itu terkejut, lalu buru-buru meralat omongannya “Bukan, bukan begitu! Maksudku aroma tubuhmu itu…menenangkan. Seperti laut. Kau mengerti maksudku kan?”

“Hmmmmmmm” aku menimang-nimang. Aroma laut. Menenangkan. Itu satu hal yang positif kan?, “Oke. Kalau begitu mulai sekarang, tiap melihat laut kita akan teringat satu sama lain. Deal?

Deal!

Gadis itu bangkit lalu merentangkan kedua tangannya. Merasakan terpaan angin meniup tubuhnya yang masih basah. Sinar matahari senja jatuh menimpa wajahnya. Dengan posisi seperti ini rambut merahnya terlihat seperti lidah api yang menyala.

Ri Ah menoleh , ia tarik salah satu tanganku lalu mengaitkan kelingkingku dengan miliknya “Sehun-ah, ayo kita lakukan janji kelingking.” Katanya, “Berjanjilah. Jika kau melihat laut, kau harus teringat padaku”

Aku tersenyum, lalu menggoyang-goyangkan kaitan jari kami, “Janji.”

Gadis itu tersenyum puas. Iris matanya seakan merekam perjanjian yang baru kami lakukan. Ia selipkan jarinya pada genggamanku. Kami berpegangan tangan. Saling mengikat janji. Dengan laut sebagai saksi.

~BETWEEN FRIENDS~

“Looking at the two of you makes me dizzy.”

Hari kelulusan pun tiba.

Sekolah kami menggelar pertunjukan kecil-kecilan. Tentu saja, memangnya apa yang bisa dilakukan oleh sekolah kecil ini selain membuat pertunjukan yang kecil juga?

Aku lulus dengan nilai terbaik. Ri Ah seperti biasa ,selalu menempati posisi kedua. Kai? Ia sudah cukup puas dengan nilainya yang pas-pasan. Pemuda itu bilang yang terpenting adalah ia sudah lulus SMA.

Ngomong-ngomong soal Kai aku tidak melihatnya sejak tadi. Mungkin sibuk lari dari incaran gadis-gadis yang menginginkan kancing jaketnya.

Apa kau tau tradisi di Jepang yang mengatakan bahwa jika seorang murid laki-laki memberikan kancing jaketnya pada seorang murid perempuan, itu berarti perasaan si perempuan akan terbalas?

Tradisi seperti itu sedang populer disini. Siapa lagi yang menyebarkannya kalau bukan Kai itu sendiri.

Tapi pemuda itu tidak menyangka kalau tradisi ini menjadi ‘meledak’ dan ia sendiri yang terkena imbasnya. Dikejar gadis-gadis ganas yang berharap akan dibalas perasaannya.

Aneh nya aku tidak melihat Ri Ah menjadi salah satu bagian dari mereka. Ah, apa yang kupikirkan. Untuk apa Ri Ah melakukannya, toh perasaannya sendiri sudah terbalas kan?

“Sehun-ssi, kau sudah siap?”

Aku menoleh, lalu tersenyum kearah Terra saem sambil mengangguk “Ne

Guru musik itu puas mendengar jawabanku. Ia ikut tersenyum lalu kembali ke belakang panggung. “Semua sudah siap. Sekarang giliranmu.”

Aku mengangguk lagi,tanda mengerti. Tanganku meraih selembar partitur dari atas meja. Menyiapkan diri,lalu berjalan keatas panggung dengan langkah tenang.

Terra saem memintaku untuk menyanyikan sebuah lagu untuk pertunjukan ini. Memang alat musik yang disediakan sangat terbatas. Hanya sebuah grand piano tua dan gitar usang yang sudah beberapa kali ganti senar.

Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk mengiringi lagu yang akan aku nyanyikan.

Aku duduk di bangku kecil yang menghadap grand piano berwarna hitam itu , lalu memberi tanda pada Tao bahwa aku sudah siap. Tao mengangguk mengerti lalu mulai memetik senar dengan jari-jarinya yang panjang.

“Fuuuuuhhhh…” Aku membuang nafas sambil merentangkan jari-jari tangan untuk mengurangi ketegangan, bagaimana kalau nanti aku lupa liriknya?

Setelah memasuki bagian dimana aku mulai bermain, kutekan tuts-tuts berwarna hitam dan putih itu bergantian untuk menciptakan sebuah nada.

You’re in my arms, and all the world is calm

The music playing on, for only two

So close together, and when I’m with you

So close to feeling alive

So close to reaching that famous happy end

Almost believing this was not pretend

And now you’re beside me, and look how far we’ve come

So far, we are so close

How could I face, the faceless days

If I should lose you know?

We’re so close, to reaching that famous happy end

And almost believing this was not pretend

Let’s go on dreaming for we know we are

So close

So close

And still…so far

Aku menekan tuts berwarna putih untuk nada terakhir sebelum suara riuh tepuk tangan dari penonton membahana. Kedua ujung bibirku tertarik keatas. Aku bangkit dari tempat duduk lalu menunduk beberapa kali sambil mengucapkan terimakasih.

Mataku menyapu bangku-bangku penonton, mencari gadis berambut merah yang mengisi pikiranku sejak tadi. Tidak ada. Dimana dia?

Bersama dengan Kai? Mungkin.

Setelah mengucapkan terimakasih untuk terakhir kalinya aku turun dari panggung dengan langkah gontai. Sedikit kecewa karena Ri Ah tidak mendengarku bernyanyi.

Taukah dia kalau lagu itu kupersembahkan untuknya?

Tapi mungkin lebih baik kalau dia tidak mendengarnya. Ah, kenapa aku jadi labil begini?

“Kaiii!!!! Kaiiii!!!”

“Aaaaa!!! Berhenti mengejarku!!!”

Aku memutar tubuhku dan melihat seorang pemuda berambut hitam sedang berlari sambil membawa jaket sekolahnya dengan terburu-buru. Sesekali pemuda itu menoleh kebelakang, lalu kembali berlari dengan langkah panjang.

Mataku bertemu pandang dengan pemuda itu, dan seketika ia langsung bersembunyi di belakang punggungku, “Sehun, cepat tutupi aku!”

“Hah?!” Aku memutar kepalaku “Hei, Kai kau kenapa?”

Pemuda itu tetap diam dan lebih memilih menenggelamkan wajahnya pada punggungku. Lima detik kemudian sekumpulan murid perempuan muncul dari arah berlawanan. Tangan mereka terangkat, ,menunjukan sebuah benda mungil berwarna keemasan.

“Yeay! Aku dapat kancingnya Kai Oppa!”

“Aku juga dapaaaat!”

“Dengan begini perasaan kita pasti terbalas!”

“Kyaaaaa, terimakasih Kai Oppa!

Pemuda berambut hitam itu muncul dari belakang punggungku. Sebelah tangannya bergerak mengusir kerumunan gadis-gadis itu “Iya sama-sama. Sekarang bubar sanah!”

Kerumunan gadis itu cekikikan, mereka memasukan benda bulat itu kedalam kantong kemeja sambil berlalu pergi.

“Sehun, lihatlah!” Kai merentangkan jaketnya, memperlihatkan kancing yang hilang sepenuhnya, “Aku laku banget kan?”

Aku memutar bola mataku. Malu juga, mengingat kancing jaketku yang masih penuh “Ya,ya ya. Selamat ya Tuan Populer.”

YA! KIM JONG IN!”

Kami memutar badan-hampir bersamaan. Seorang gadis berlari dari kejauhan. Rambut merahnya yang panjang terkibas di terpa angin. Tampang gadis itu mengeras. Aku memperkirakan kalau dia akan…

BUK!

“Aaaaaa!!”

Tuhkan.

“Kenapa kau memukul ku?!” Kai mengelus puncak kepalanya yang dua detik lalu baru terkena bogem mentah dari Ri Ah.

“Kau ini! dari tadi aku memanggilmu, kenapa tidak menyahut?!” Ri Ah melanjutkan aksi ‘brutal’ nya dengan menjewer telinga kiri Kai, “Memangnya kau tidak lihat, dari tadi aku mengerjarmu?”

“Heh?!” aku dan Kai spontan menoleh pada gadis itu. “Kau…mengejarku?” Tanya Kai sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.

Gadis itu bedecak sebal “Tentu saja!” sebelah tangannya ia sampirkan ke pinggang, “Aku mengejarmu untuk…yahh, sudah habis ya?”

DEG!

“Heh?” Kai memperlihatkan jaketnya yang sudah tidak berkancing lagi, “Maksudmu ini?”

Gadis itu menaikan sebelah alisnya, ia menyilangkan tangannya didepan dada ,“Yahh, kalau kamu tidak mau memberikannya yasudah.”

Ri Ah sudah hendak membalikan badannya dan berjalan pergi sampai Kai merentangkan jaketnya dan memakaikannya pada tubuh gadis itu ,“Aku sudah mempersiapkan yang lebih baik daripada sebuah kancing.”

Sepasang lengan milik pemuda itu tiba-tiba merengkuh tubuh Ri Ah dari belakang, ia sandarkan dagunya pada bahu gadis itu seraya berbisik “Pakailah jaket ini ketika kamu kedinginan. Dia akan selalu menghangatkanmu.”

Bahu gadis itu langsung menegang, tapi tidak lama. Ia menyambut rangkulan Kai dengan memeluk lengan pemuda itu dengan kehangatan yang sama seperti pemuda itu berikan, “Gracias.”

Dan saat itu, aku menyadari. Bahwa tidak ada lagi kesempatan,untuk merebut gadis itu darinya.

~BETWEEN FRIENDS~

When the morning comes and the sun begins to rise, I will lose you because it’s just a dream. –Pooh

Kami pulang tanpa Kai. Pemuda berambut hitam itu masih sibuk mengurusi berbagai macam urusan sekolah yang memang dipertanggung jawabkan olehnya.

Siapa yang menyangka kalau Kai yang kekanak-kanakan itu adalah seorang ketua osis?

Aku mengayuh pedal sepedaku pelan, merasakan hembusan angin sore yang membelai wajahku dengan lembut. Gadis yang duduk di jok belakang sepedaku sedari tadi mengatupkan bibirnya. Memilih mengisi suasana dengan keheningan dibandingkan dengan suatu obrolan ringan.

“Ri Ah, sebentar lagi pertunjukan dimulai, apa kau mau mampir ke pantai dulu?” akhirnya aku membuka mulutku untuk menetralisir suasana. Jujur, keheningan tadi membuat dadaku sesak. Kalau ada Kai disini, aku yakin suasananya tidak akan secanggung ini.

“Tidak.” Jawab gadis itu singkat bahkan tanpa memberikan jeda untuk berfikir.

Aku memutar kepalaku sedikit untuk melihat keadaan gadis itu , “Tumben. Biasanya kau paling semangat.”

Ri Ah meniup poni panjangnya, lalu menghela nafas keras. “Berhenti disini.”

Aku menghentikan sepeda tanpa rem ini dengan menghentakan kaki kananku ke tanah. Ri Ah turun dari jok belakang, lalu mendudukan tubuhnya pada hamparan padang rumput hijau yang menghadap matahari senja.

“Sehun-ah, apa kau pernah mendengar kisah cinta segitiga antara bulan,bintang dan matahari?”

Aku mendudukan diriku disamping gadis itu lalu menggeleng. Banyak buku yang sudah kubaca, tapi tak pernah sekalipun diriku tertarik untuk membaca buku bertemakan cinta.

Terlalu melankolis, mengada-ada, dan terasa begitu asing.

“Sudah kuduga.” Ri Ah tersenyum maklum,”Mau ku ceritakan?” Melihatku yang tidak merespon apa-apa, gadis itu melanjutkan, “Kuanggap itu sebagai ya.”

Udara sore yang hangat menyentuh kulit pucat gadis itu, seakan juga ingin mendengar kisah yang akan ia ceritakan. “Setiap malam, bulan selalu bekerja ditemani oleh sahabatnya, bintang. Seiring waktu berjalan bintang menyadari kalau ia mempunyai perasaan khusus untuk bulan. Tapi suatu hari bintang mengatakan kalau ia ingin berhenti menemani bulan dalam menghias malam.

‘Kenapa? ‘ Tanya bulan ‘Padahal aku menyukaimu, aku menyukai kebersamaan kita menghiasi langit hingga fajar menyapa. Kenapa tiba-tiba kau ingin pergi dariku?’

Bintang tidak menjawab, ia malah meredupkan cahaya merahnya dan bersembunyi dibalik mega.”

“Kenapa?” Aku menyatukan alisku tidak mengerti. Bulan,bintang, matahari. Sepertinya kompleks sekali, “Kalau bintang menyukainya, kenapa ia pergi meninggalkan bulan? Lalu apa hubungannya dengan matahari?”

Ri Ah terkikik pelan, “Kau memang selalu tidak sabaran ya” ia tersenyum lalu melanjutkan ,”Bintang pernah mendengar kalau matahari juga menyukai bulan. Karena itulah ia memutuskan untuk pergi.”

“Hah?” Kedua alisku makin bertaut, “Kenapa dia pergi? aku tidak mengerti”, sungguh kisah cinta seperti ini bukanlah keahlianku.

Ri Ah menatap ujung sepatu putihnya yang sedikit kotor akibat tanah merah dengan  pandangan kosong “Ia merasa tidak bisa menandingi matahari. Dibandingkan dengan dengan sang penguasa surya itu, memangnya bintang bisa apa? Ia hanyalah benda kecil yang bahkan jaraknya jauh dengan bulan.”

“Aaahhhh” aku menganggukan kepalaku. Mulai mengerti dengan jalan ceritanya ,”Lalu bagaimana dengan bulan?”

Bahu Ri Ah tiba-tiba menegang. Tangannya yang tadi ingin menyelipkan sebagian rambut ke belakang telinga kontan membeku di udara “Bulan… Ia sedih akan kepergian bintang. Sesungguhnya… Ia juga menyukai bintang”

“Kalau sudah tau begitu kenapa bintang malah memilih pergi dan meninggalkan bulan sendiri?” Lagi-lagi aku menautkan alis. Bingung.

Ri Ah menghela nafas, membuat poninya yang panjang melambai di depan wajahnya “Ia merasa tidak pantas mendapatkan bulan. Ia fikir matahari lebih cocok untuk sahabatnya itu. Karena itu ia memilih pergi…dan menyimpan semua rasa sakit itu sendiri” Gadis itu menggigit bibir bawahnya, seperti hendak menangis, “Akhir kisah yang sangat menyedihkan ya?”

Aku melempar pandangan mataku pada matahari senja yang tinggal setengah. Terbayang kisah tadi, entah kenapa aku jadi membenci matahari. Pihak ketiga yang menjadi sumber hancurnya suatu persahabatan yang sudah terjalin lama.

“Kau tau, karena membaca kisah tadi aku jadi membenci bintang.”

“Eh?” Aku menoleh kearah Ri Ah tidak mengerti. “Bukannya yang harus dibenci itu matahari karena sudah menjadi pihak ketiga diantara bintang dan bulan?”

“Tentu tidak. Dari jalan cerita tadi, apa kau tidak menyadari sesuatu? Matahari tidak tau apa-apa. Ia tidak mengetahui kalau bintang juga menyukai bulan.” Ia menjatuhkan tubuhnya pada hamparan rumput, wajahnya menengadah ke angkasa, “Bintang itu pengecut. Belum apa-apa sudah menyerah. Aku membencinya”

Saat kata ‘pengecut’ dan ‘benci’ keluar dari kedua belah bibir gadis itu, entah kenapa dadaku seperti tertohok sesuatu.  “Mungkin saja bintang tidak mau menghancurkan persahabatannya dengan bulan. Karena itulah ia memutuskan untuk pergi.”

“Dan memilih menyimpan semua rasa sakit itu sendiri? Huh, pengecut.” Ri Ah mendengus sambil mencabuti rumput ilalang yang tumbuh disekelilingnya, “Kalau aku jadi bintang, aku pasti tetap menyatakan perasaanku. Menurutku berakhir dengan penyesalan lebih sakit daripada perasaan ditolak. Bukankah begitu?”

Aku terdiam. Meresapi setiap kalimat yang gadis itu ucapkan dalam sukma. Aku tau sekarang. Perasaan bintang adalah perasaanku. Lebih memilih pergi dengan membawa semua rasa sakit itu sendiri demi menjaga sebuah persahabatan yang sudah lama terjalin.

Cinta yang terselip diantara persahabatan malah akan menghancurkan persahabatan itu sendiri. Bukankah begitu?

“Aku tidak mau berakhir seperti bintang.” Kata gadis itu lagi. Kepalanya mendongak menatap langit sore, seakan mencari benda Canicula itu, “Tidak peduli jika persahabatanku bisa hancur. Aku akan tetap menyatakan perasaanku.”

“Hmmmmmmm.” Aku memanggutkan kepalaku.  “Oh iya, ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba kau menceritakan kisah ini padaku?”

Ri Ah tersentak. Ia mengerjapkan matanya, berusaha menetralisir ekspresi wajahnya yang tiba-tiba berubah kaku. “Karena…aku tidak ingin, aku dan orang terdekatku bernasib seperti bintang.” Bibirnya melengkungkan senyum. Bukan senyum bahagia, aku tau itu.

Saat bola mata sapphire milik gadis itu menatap manik mataku,aku merasa seperti sedang ditelanjangi.Bola matanya menampakan  seorang pemuda pengecut yang hanya bisa bersembunyi dibalik topeng bernama persahabatan.

Pemuda itu adalah refleksiku. Diriku.

Suara hatiku berbisik, Aku tidak ingin menjadi bintang. Pengecut yang berakhir dengan penyesalan. Seorang yang kalah akan rasa takut disakiti oleh cinta. Persahabatan, cinta. Apakah itu adalah dua hal yang berbeda?

Tuhan, bolehkah aku memiliki salah satunya?

“Ri Ah.”

Cahaya senja jatuh tepat menimpa wajah gadis itu. Angin sore yang berhembus meniupkan rambut merahnya. Menciptakan siluet paling indah yang pernah kulihat. “Ya?”

“Aku….” seiring dengan nafasku yang mulai tercekat, aku mulai berkata ,“Sebenarnya aku….”

“Hei Kai, seandainya kau menyukai gadis yang sama dengan sahabatmu, apa yang akan kau lakukan? Tetap berjuang mengejar gadis itu atau menyerah demi kebahagiaan sahabatmu?”

“Tentu saja menyerah demi kebahagiaan sahabatku, Aku tidak mungkin membiarkan sebuah persahabatan hancur hanya karena memperebutkan seorang gadis, itu sangat egois.”

“Aku?” Ri Ah memiringkan kepala,menungguku untuk melanjutkan kalimat. “Aku kenapa?”

Tanganku terkepal kuat. Membuat buku-buku jemariku memutih akibat aliran darah yang tersumbat. Sial. Kau hampir melewati batas, Oh Sehun.

Aku menarik kedua ujung bibirku. Tangan kananku terangkat, menyelipkan rambut merah gadis itu ke belakang telinga. “Rambutmu berantakan.”. Aku bangkit, lalu menjulurkan tangan, “Ayo, kita pulang.”

Ri Ah menatap tanganku, seakan ragu untuk menyentuhnya. “Baiklah.” Gadis itu bangkit lalu membersihkan belakang rok nya dari rumput ilalang yang menempel. Tanpa sedikitpun melirik tanganku yang terjulur nganggur.

Aku memutar tubuh dan berjalan menuju sepeda putih yang terparkir disamping pembatas jalan sampai gadis itu tiba-tiba membuka mulutnya.

“Sehun-ah apa kau menyukai ku?”

Kaki ku yang baru saja akan menaiki sepeda kontan membeku saat mendengar gadis itu mengucapkan pertanyaan yang sanggup membuat kedua mataku membulat. Bibirku bergetar, ingin aku berteriak “Ya!” Tapi wajah Kai terbayang dalam benak. Sehingga aku memutar tubuhku menghadap gadis itu lalu berkata ,”Aku menyukaimu….aku juga menyukai Kai. Kalian adalah sahabat terbaikku.”

Gadis itu terdiam sebentar, lalu mengangguk-anggukan kepalanya “Ahhh… Majjayo”  Ia dudukan tubuhnya di atas jok, “Ayo, kita pulang.”

Aku mengayuh pedal sepeda dengan pelan. Setengah berharap agar waktu terhenti. Bahkan sedetik saja. Izinkan aku untuk berada disisinya walau hanya sebentar.

Tiba-tiba aku merasakan sepasang lengan memeluk pinggangku. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada punggungku. Membuatku kaget dan kayuhan sepedaku menjadi sedikit oleng.

“Ri Ah?”

“Pinjamkan punggungmu ya?.” Gadis itu bergumam pelan. Pelukan lengannya pada pinggangku mengerat, “Aku lelah”

Walaupun aku tidak memberikan respon apapun, aku yakin gadis itu tau kalau aku mengijinkannya.

Tanpa kusadari mataku memanas, setetes air mata jatuh dari pelupuk mata. Seakan mengatakan bahwa topeng persahabatan yang selama ini kupakai hancur sudah.

Gadis ini. Aku mencintainya.

Ingin aku menjerit sekeras-kerasnya. Mengatakan bahwa gadis ini seharusnya menjadi milikku. Bukan dia.

Mustahil. Aku tau. Gadis ini tak akan pernah menjadi milikku, karena yang ia pilih adalah dia. Bukan aku.

Seiring dengan air mataku yang mulai mengering, aku bersumpah. Untuk tidak  pernah lagi melihat ke belakang.

-TBC-

Wah, ternyata sehun juga suka sama Ri Ah. Ri Ah gimana ya? Apa bener dia suka sama Kai? Atau malah suka sama…. Hehehe tebak aja sendiri.

Jangan lupa RCL yaaaa makasih J


6 thoughts on “[Freelance] Between Friends #2

  1. Aku first reader ya…

    Sequelnya secepatnya yaa..

    Daebakk thor ceritanya…sedih…

    Kasian sehunnya lama2..keep writing thor..;;)

    Like

  2. Daebak^^ aku suka bahasanya thor, jdi lbh berasa konfliknya.
    Hmm..
    Ri Ah sbnrnya suka Sehun atau Kai sih -.- jdi bingung. Dia suka Sehun bukan? Tpi krn Sehun nggk brani blg dy jdi benci (?) Ama Sehun, kyk yg dia blg, dy benci sama ‘bintang’ krn bintang itu pengecut.

    cepet lanjutin ya thor😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s