[Freelance] Saranghae, Noona


Title: Saranghae, Noona.

Cast: Seo Joo Hyun, Oh Sehun

Genre: Family, sad, tragedy, angst

Length: Oneshoot

Rating: PG 13

Author: cupcakes95 (CK93)

Yak, balik lagi dengan ff lain. Bedanya yang ini bukan ff pairing kesukaan saya hahahahaha. Dari genrenya aja udah keliatan bukan romance, jadi bukan pairing-pairingan ^^ bikin ff ini karena tiba-tiba otak menghasilkan sebuah ide yang tidak terduga aja. Selamat membaca! ^^ ps: Maaf ya kalo ada typo, dimaklum aja matanya seliweran.

Lelaki itu berjalan dengan langkah yang cepat. Sambil menenteng sekantong belanjaan di tangan kanannya, dia merogoh saku jaket mantel yang terlihat kebesaran di tubuh kurusnya. Setelah menemukan benda yang dia cari, dia kembali berjalan sambil tergesa-gesa. Tempat yang ingin ditujunya sudah ada di depan matanya. Dengan mata yang berbinar, dia membuka kunci pintu apartement itu lalu memutar kenopnya.

Dia segera melepas sepatunya, lalu melihat ke sekeliling rumahnya.

“Noona!” teriaknya. Dia berjalan melewati lorong pintu depannya dan segera menaruh belanjaannya di lantai.

“Noona!” panggilnya lagi. Orang yang dia cari masih belum terlihat batang hidungnya. Lalu dia segera berjalan menuju ruang tengah rumahnya. Ruangan itu terlihat berantakan dengan crayon dan kertas-kertas yang berserakan di lantainya, dan tepat saat itu, dia melihat orang yang dicarinya sedang duduk sambil menggambar sesuatu di atas kertas kosong dengan crayonnya.

“Noona?” lelaki itu berjalan mendekati wanita itu, lalu berjongkok di hadapan wanita itu untuk mengsejajarkan penglihatannya.

Wanita itu mendongak. Awalnya dia menatap lelaki di hadapannya dengan bingung, tapi beberapa detik kemudian terlihat senyum di wajahnya yang sudah dipenuhi crayon.

“Sehun!” wanita itu berteriak dengan antusias lalu segera memeluk lelaki yang bernama Sehun itu.

Lelaki yang bernama Sehun itu pun tersenyum dan segera membalas pelukan wanita itu.

“Noona sudah makan?” Tanya Sehun sambil melepaskan pelukannya.

Wanita itu menggeleng. Sehun segera menarik lengannya menuju ruang makan. Wanita itu hanya diam dan mengikuti langkah Sehun. Sehun menyuruh wanita itu duduk. Setelah wanita itu duduk, dia segera mengambil kantong belanjaannya dan merogoh sesuatu di dalamnya.

“Taraaaa!!! Aku beli ddeokboki! Seohyun noona suka ddeokboki kan?” tanyanya dengan binar di wajahnya.

Wanita yang akrab dipanggil Seohyun itu terdiam sebentar, beberapa detik kemudian dia mengangguk.

“Iya, Seohyun noona suka ddeokboki. Suka sekali!” jawabnya sambil tersenyum.

“Baiklah, sekarang ayo kita makan!”

 

**

Sehun menghembuskan napasnya lega setelah beberapa hari kemarin kewalahan karena Seohyun tidak mau makan. Seohyun adalah kakaknya, satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang. Dia menatap nanar pemandangan di hadapannya. Tubuh kakaknya itu semakin kurus, wajahnya semakin pucat. Tidak, kakaknya tidak memiliki keterbelakangan mental, kakanya bukan seorang idiot. Kakaknya, Seohyun, hanya sakit. Itu yang dia tanamkan dalam kepalanya selama 3 tahun ini. Kakaknya sakit. Dia tidak mau menyebut kalau Seohyun gila, karena dia yakin, suatu hari nanti pasti kakaknya itu bisa kembali seperti dulu.

“Apakah enak?” Tanya Sehun sambil tersenyum.

Seohyun menjawab pertanyaan itu dengan memperlihat sederetan giginya yang sudah berwarna kemerahan karena saus ddeokboki, bahkan mulutnya pun belepotan. Sehun hanya tersenyum melihat Seohyun makan dengan lahap setelah beberapa hari kemarin kakaknya itu menolak untuk memberikan tubuhnya asupan makanan yang cukup.

 

**

Sehun membasuh tubuh kakaknya yang sudah dipenuhi dengan crayon itu dengan perlahan. Memang tidak wajar jika dalam keadaan normal seorang adik laki-laki memandikan kakak perempuannya, apalagi mereka sudah sama-sama dewasa. Tapi ini sudah Sehun lakukan selama 3 tahun. Dia tidak bisa melihat kakaknya dengan tubuh yang kotor dan tidak terurus. Dia ingin melihat kakaknya tetap hidup seperti wanita normal lainnya.

Sehun tersenyum melihat Seohyun yang terlihat senang hari ini. Gadis itu memainkan busa di tangannya, lalu meniupkannya ke udara dan tertawa.

 

Setelah memandikan kakaknya, Sehun memakaikan Seohyun baju lalu mengeringkan rambutnya dengan hairdryer dengan sabar. Seohyun menyenandungkan sebuah lagu, lagu kesukaannya. Sehun yang mendengarnya pun ikut bersenandung. Sambil mengeringkan rambut Seohyun, mereka bersenandung bersama dengan senyum terukir di wajah mereka masing-masing.

 

**

Sehun membetulkan posisi tidur Seohyun lalu memberikannya selimut. Dia tersenyum kemudian mengelus pelan rambut kakaknya itu. Sambil menggenggam tangan kakaknya lembut, Sehun menyenandungkan lagu kesukaan kakaknya yang tadi mereka nyanyikan bersama. Seohyun tidak akan bisa tidur jika tidak dinyanyikan lagu itu, kebiasaan ini memang sudah terjadi selama 3 tahun belakangan ini. Saat Sehun bernyanyi, Seohyun perlahan-lahan menutup matanya. Dan setelah yakin jika Seohyun sudah tidur, Sehun melepaskan genggamannya dengan lembut dan mengamati wajah kakaknya. Lama dia memandangi wajah kakaknya dan tak terasa dia mulai terisak.

“Kapan Noona kembali seperti dulu?” adalah pertanyan yang selalu terlontar dari mulut Sehun setiap malam dengan isakan tangisnya.

“Aku merindukan Noona, sungguh. Cepatlah kembali Noona.” Sehun masih terisak dengan pelan. Pedih, itu yang dirasakannya sekarang. Sehun sangat menyayangi kakaknya. Baginya, Seohyun adalah sosok panutannya. Seohyun sosok yang selalu melindungi dan menjaga Sehun.

 

~~

 

“Noona, apakah Eomma dan Appa menyayangi kita?” Tanya Sehun sambil memakan ice creamnya.

“Tentu saja, Eomma dan Appa sangat menyayangi kita.” Seohyun menjawabnya sambil mengelus pelan kepala adiknya.

“Sebesar apa rasa sayang mereka kepada kita?” Sehun kecil masih terus memborbardir Seohyun dengan pertanyaan polosnya.

“Sebesar ini!!!” Jawab Seohyun sambil menggerakkan tangannya ke udara dengan bentuk lingakaran yang tergolong besar untuk ukuran tangan mungilnya.

“Ah! Bahkan lebih besar!” sambungnya.

“Tapi kenapa Appa selalu memarahi kita?”

“Itu tandanya Appa sayang pada kita. Eomma pernah bilang kepada Noona, kalau Appa marah itu adalah tanda sayang.”

“Ah, aku merasa senang setelah mendengar jawaban dari Seohyun Noona.” Sehun tersenyum hingga matanya terlihat hanya segaris.

Seohyun tertawa lalu berkata,”Cepat habiskan ice creamnya.”

 

~~

 

“Appa kan sudah bilang, beli barang yang kamu butuhkan saja! Untuk apa kamu membeli barang seperti itu?!” suara teriakkan seorang lelaki tua terdengar dengan jelas.

“Tapi Appa, teman-teman Sehun banyak yang memakai sepatu itu. Sehun juga mau.” Sehun kecil itu terlihat sedang berbicara sambil menunduk dengan menautkan kedua tangannya.

Appanya menghembuskan napasnya perlahan.

“Sehun, dengarkan Appa, keluarga kita bukanlah keluarga berada yang dapat membeli apa saja. Appa masih harus menabung untuk persiapan masuk sekolah Noona mu, tahun ini  kan Noona mu akan masuk ke sekolah menengah. Sehun mengerti kan?” jelas apanya dengan lembut.

Sehun kecil terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan.

“Sehun mengerti Appa.” Jawab Sehun pelan.

Seohyun kecil yang sedari tadi mengintip dari balik pintu terdiam sambil mengigit bibir bawahnya. Dia kemudian berlari ke kamarnya dan mengambil sebuah toples yang terbuat dari alumunium, dia memandang toples itu sebentar dan kemudian membuka tutup toples itu. Toples itu berisi uang. Uang yang jumlahnya tidak besar memang, tapi uang itu adalah hasil jerih payahnya sendiri. Setiap sore sepulang sekolah, dia selalu memunguti sampah botol plastik dan kaleng, lalu mengumpulkannya di belakang rumahnya. Saat sampah itu sudah terkumpul banyak, dia menukarkannya dengan sejumlah uang. Tadinya, uang itu ingin dia pakai untuk membeli sepatunya yang memang sudah rusak tapi melihat kejadian tadi, dia menjadi berpikir dua kali untuk menggunakan uang itu demi membeli sepatunya. Dia mengambil semua uang yang ada di dalam toples, lalu memasukkannya ke plastik kecil.

 

“Sehun!!”Seohyun memanggil adiknya yang sedang bermain dengan mobil-mobilan bututnya di depan rumahnya. Sehun mendongak dan melambaikan tangannya.

“Noona!”

Seohyun berlari menghampiri Sehun dengan menenteng plastik kecil.

“Sehun-a, Noona baru saja mendapat uang dari Appa untuk membelikanmu sepatu.” Jawabnya dengan napas yang tersengal-sengal.

“Benarkah?” Sehun membulatkan matanya tidak percaya.

Seohyun megangguk kecil, lalu tersenyum.

“Ayo kita membeli sepatu untukmu! Kau ingin memiliki sepatu yang seperti teman-temanmu kan?” Tanya Seohyum sambil menarik lengan kecil adiknya.

Sehun mengangguk dengan semangat.

“Ayo!”

Kemudian mereka berlari bersama dengan kaki kecilnya menuju sebuah toko sepatu dekat rumahnya. Sehun tersenyum dengan lembut sambil menatap punggung mungil kakaknya, dia tahu, uang yang dibawa oleh Seohyun bukanlah uang Appanya.

 

Saat itu, Sehun berumur 9 tahun dan Seohyun berumur 12 tahun.

 

~~

Sehun sudah berumur 16 tahun sekarang, dan Seohyun sudah berumur 19 tahun. Sekarang adalah tahun pertama Sehun masuk ke sekolah menengah atas, itu berarti keluarganya membutuhkan banyak uang untuk membayar biaya sekolahnya. Dan tepat pada saat itu juga, Seohyun harus masuk universitas untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi setelah tahun kemarin batal mengikuti ujian masuk, dan tentu saja hal ini membuat orang tua mereka bingung.

“Yeobo, bagaimana ini? Kita membutuhkan banyak uang. Kedua anak kita pintar, sayang jika mereka tidak melanjutkan pendidikan mereka. Seohyun tahun kemarin sudah membatalkan rencananya untuk mendaftar di universitas karena kekurangan biaya juga. Apa yang harus kita lakukan?”

Kalimat itulah yang Seohyun dengar dari pembicaraan kedua orang tuanya. Dia terdiam sebentar dan berpikir. Lalu dia berjalan memasukin kamar Sehun. Dia membuka pintu kamar yang sudah rusak itu perlahan, dan melihat adiknya sedang tertidur pulas sambil memeluk guling. Seohyun duduk di pinggir kasur dan dengan perlahan mengusap lembut wajah Sehun.

 

“Sehun-a, Noona tahu, kau anak yang pintar. Kau harus terus belajar agar nanti bisa menjadi orang sukses dan membantu keluarga kita. Noona sudah gagal membantu keluarga kita. Sekarang adalah giliran mu.”, katanya. Setelah diam beberapa lama, Seohyun segera beranjak dengan pelan dan berjalan keluar. Sehun yang memang belum tertidur pun membuka matanya, lalu terdiam. Tak lama dia mendengar teriakan ayahnya.

 

“Apa maksudmu Seohyun?! Kau tidak ingin masuk universitas?! Tahun kemarin kau sudah membatalkan rencanamu untuk ikut ujian masuk, dan sekarang kau juga tidak mau mengikutinya? Tidak! Appa tidak setuju!”

 

Sehun beranjak dari kasurnya dan membuka pintu kamarnya dengan perlahan lalu mengintip keluar. Dia melihat kakaknya sedang duduk bersimpuh di lantai sambil menunduk ke bawah dan ayahnya yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang. Wajahnya terlihat menahan marah.

 

“Tapi Appa, Sehun lebih membutuhkan uang itu. Dia pintar, dia pasti bisa menjadi orang sukses. Dia harus bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan aku, tanpa kuliah pun aku bisa saja bekerja untuk membantu keluarga kita. Aku mohon Appa.” Seohyun berkata sambil memohon kepada ayahnya. Ayahnya mengusap wajahnya dengan perlahan. Ibunya yang sedari tadi diam saja, memeluk Seohyun sambil menangis. Lalu Sehun melihat, bahu kakaknya bergetar pelan. Kakaknya menangis. Sehun terdiam menatap pemandangan di hadapannya. Dia menutup pintu kamarnya dengan perlahan lalu duduk di atas kasurnya. Sehun pun diam, dan tak lama kemudian, suara isakan kecil terdengar di dalam kamarnya. Dia menangis.

 

Dan sejak saat itu, Sehun bisa melanjutkan pendidikannya sementara Seohyun berkerja dengan keras untuk membantu keluarga mereka.

~~

 

Sehun kembali terisak mengingat bagaimana kakaknya sangat menyayangi dia. Bagaimana kakaknya selalu mendahulukan kepentingannya dibandingkan kepentingan dirinya sendiri. Bagaimana kakaknya selalu memberikannya nasihat-nasihat yang walaupun kecil tapi memberikan pengaruh besar untuknya. Dia selalu berpikir, kenapa Tuhan malah memberikan kakaknya beban yang begitu berat. Jika saja malam itu dia berada di rumahnya….

 

~~

Sehun sudah berumur 20 tahun sekarang dan dia baru  bekerja di sebuah perusahaan besar satu minggu yang lalu. Dia  baru saja sampai di rumahnya setelah seharian ini bekerja. Saat membuka pagar rumahnya, dia menghentikan langkahnya. Rumahnya terlihat gelap. Aneh, itu yang dia rasakan. Lampu ruang tengah rumahnya mati, tidak biasanya ayahnya mematikan lampu ruang tengah rumahnya. Dia merasakan sesuatu yang tidak biasanya, jantungnya berdetak keras. Dengan perlahan dia berjalan memasuki halaman rumahnya yang kecil, lalu memutar kenop pintu rumahnya. Sambil membuka pintunya dengan perlahan, hatinya terus berdoa mudah-mudahan sesuatu yang ada di pikirannya tidak terjadi. Saat pintu rumahnya sudah terbuka sempurna, matanya membesar.

 

Rumahnya benar-benar berantakan. Mejanya hancur, televisinya menghilang, sofanya sudah tidak di posisinya lagi, dan dia tidak melihat kedua orang tuanya juga Noonanya. Dengan perasaan takut, dia terus berjalan menghampiri setiap sudut rumahnya. Saat sampai di dapur, matanya kembali melebar. Hal yang benar-benar ditakutkannya terjadi. Dia melihat kedua orang tuanya sudah terkapar di lantai dengan darah dimana-mana. Sehun tercekat, kemudian berlari menuju kamar Seohyun.

 

“Noona!! Noona!!! Seohyun Noona!!” suara teriakannya bergetar. Dia mendorong pintu kamar kakaknya dengan keras. Dan tepat pada saat itu, dia melihat Seohyun yang sedang menangis dengan keadaan yang tidak wajar. Seohyun duduk meringkuk. Dia tidak memakai selembar benang pun di tubuhnya. Tubuhnya yang telanjang hanya ditutupi oleh selimut. Sehun merasa dunianya kembali di porak poranda kan. Hal yang dia harapkan sama sekali tidak terjadi.

“Noona!” Sehun berlari lalu memeluk Seohyun dengan erat.

“Noona…… Noona…. Kau tidak apa-apa? Noona….” Sehun bertanya sambil menangis dengan suara yang bergetar. Seohyun tidak menjawab Sehun, dia hanya terus menangis sambil meringkuk.

“Noona… gwenchana…. Noona…. Gwencahana, jebal… Noona, jangan menangis…” Sehun mempererat pelukannya. Seohyun masih terus menangis.

“Noona… Seohyun Noona, maafkan Sehun. Mianhae, mianhae Noona…” Sehun terus memeluk Noonanya sepanjang malam itu sambil berulang kali mengucapkan maaf. Dan Seohyun…. Hanya bisa menangis….

 

**

 

Pelakunya adalah gerombolan pencuri yang sudah menjadi buronan polisi selama 1 tahun. Setelah malam itu, Sehun segera melaporkan kejadian ini kepada polis, dan polisi pun segera melakukan penyelidikan. Orang tuanya dibunuh dan yang paling menyayat hatinya adalah, Seohyun, kakak Sehun satu-satunya, orang yang paling Sehun sayangi dan hormati, diperkosa dengan cara yang tidak manusiawi oleh segerombolan pencuri itu.

 

Setelah menunggu selama 1 tahun, akhirnya segerombolan pencuri itu berhasil ditangkap dan segera dihukum mati. Tapi hati Sehun masih menyimpan sakit hati yang luar biasa. Apalagi setelah kejadian itu, kakaknya kehilangan akal sehatnya. Kakaknya menjadi gila.

 

Selama satu tahun, Sehun berusaha agar kakaknya mau berbicara. Pasalnya, setelah kejadian itu kakaknya menjadi bisu (sementara). Dia tidak mau berbicara kepada siapa pun. Bahkan kadang, kakaknya bisa menangis, tertawa, dan marah secara tiba-tiba. Kakaknya sempat mendekam di rumah sakit jiwa selama 3 bulan, tapi Sehun tidak mau kakaknya dianggap gila, lalu dengan usahanya, Seohyun berhasil dikeluarkan dari rumah sakit jiwa dan tinggal bersama Sehun di apartement kecil dan murah.

 

**

Sehun masih terisak dan mengusap lembut tangan Seohyun.

“Noona, Sehun gagal membahagiakan Eomma, Appa, dan Noona. Mianhae Noona.”

 

**

Hari ini Sehun pulang lebih cepat dari biasanya. Seperti biasa, dia mebawa sekantong makanan dalam kresek besarnya. Saat sedang menaiki tangga menuju pintu apartementnya, sehun melihat jendela apartementnya yang selama ini dikunci terbuka. Dengan cepat, Sehun berlari dan bergegas membuka kunci apartementnya. Saat masuk, dia segera menjatuhkan kantong kreseknya dan berlari.

“Noona!! Seohyun Noona!!!”

Dia terus berteriak panik dan hasilnya nihil. Yang dia lihat, hanyalah jendela yang terbuka lebar dengan tirai yang terkena hembusan angin. Dia mengambil napas sebentar, lalu segera berlari keluar.

 

**

“Seohyun Noona!!!” teriak Sehun.

Sudah hampir 1 jam Sehun berlari mencari Seohyun, dan dia masih belum menemukan kakaknya. Sehun berhenti sebentar, mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah. Dia menunduk sambil memegang lututnya. Keringatnya bercucuran. Dia kembali berjalan dan langkahnya terhenti mendadak.

Sehun membungkukan badannya, mengambil selembar kertas yang dia injak. Dia diam menatap gambaran di hadapannya.

Itu gambaran Seohyun!!!

 

Matanya kembali berputar mencari kertas yang lain, sambil terus berjalan, dia mengikuti kemana ketas itu membawa dia pergi. Dan lembaran kertas itu habis tepat di depan sebuah lemari bobrok di tempat pembuangan sampah. Dia mendengar suara isak tangis dari dalam lemari itu. Dengan perlahan, dia membuka lemari bobrok itu. Dia melihat Seohyun sedang duduk meringkuk sambil menangis. Beberapa lembar kertas yang sudah berbentuk gumpalan ada di tangan Seohyun.

 

Sehun menghembuskan napasnya lega dan menarik tubuh Seohyun keluar.

 

**

Sesampainya di apartement, Seohyun segera berlari ke ruang tengah lalu terdiam. Matanya menatap kosong tembok kotor di hadapannya. Sehun yang baru saja melepaskan sepatunya, berjalan dengan perlahan lalu memeluk Seohyun dari belakang.

“Noona, kau membuat jantungku berhenti tadi. Aku benar-benar khawatir, jangan lakukan itu lagi ya?” katanya.

Seohyun yang dari tadi diam, kini tatapannya berubah. Menjadi tatapan ketakutan, dia segera menghempaskan tangan Sehun lalu berteriak histeris. Kilatan kejadian 2 tahun lalu kembali terbayang di otaknya. Bagaimana segerombolan pencuri itu memaksa Seohyun perlahan-lahan. Seohyun berteriak histeris sambil memeluk tubuhnya. Bahkan dia menjambak rambutnya sendiri, dia berlari ke arah dapur.

 

Sehun yang merasa kaget ikut berlari dan memegang kedua bahu Seohyun.

“Noona!! Kau kenapa Noona?!!” Tanya Sehun cemas.

Seohyun masih terus beteriak histeris, dia berjalan menghampiri tempat cuci piring. Ekor matanya melihat pisau yang tergeletak. Dengan gerakan cepat, dia segera mengambil pisau itu.

Sehun kaget dan tercekat. Pikirannya kalut.

“Noona, tenanglah. Noona!” Sehun kembali mendekati Seohyun dengan perlahan, mencoba menyingkirkan benda tajam itu dari tangan Seohyun.

Seohyun berteriak lalu berlari menerjang Sehun sebelum lelaki itu sempat mengambil pisau itu.

 

Pisau tertancap sempurna di perut Sehun. Sehun berteriak dengan suara tercekat. Tangannya mencoba memeluk kakaknya. Sedangkan Seohyun masih memegang pisau dengan tubuh yang bergetar hebat. Matanya melebar, napasnya tersengal-sengal.

Sehun mencoba menahan rasa sakitnya. Kilatan masa lalunya bersama Seohyun berputar mundur di otaknya seperi roll film. Matanya perlahan mengeluarkan air mata. Dengan sekuat tenaga dia mencoba berbicara.

“Noona… Sa-sa-rang…hae. Mi…an…hae ji-ji-ka S-se…hun gagal me…wuj..jud..kan i-im-p-p..ian Noona. Mianhae… saranghae… Noona.” Sehun berkata dengan sisa tenaganya yang ada sambil terbata-bata. Kemudian dia terjatuh ke lantai. Sehun menatap kakaknya yang masih berdiri dengan tubuh yang bergetar dan matanya yang sudah basah, mata itu….. perlahan tertutup. Mungkin ini adalah balasan setelah apa yang Seohyun lakukan untuknya.

 

Seohyun berhenti menangis, lalu berlari keluar dengan kaki telanjang, meninggalkan Sehun.

 

END

 

Ga kerasa feelnya ya? Emang -_____- btw ff ini terinspirasi dari mvnya Bohemian, tapi aku permak sana sini. Nonton mvnya itu sedih loh /lebay/ buat yang tertarik boleh liat mvnya Bohemian – Don’t Hurt /promosi/ yah sekian. Terimakasih buat yang udah mau baca apalagi comment hehehe. Ketemu di ff lainnya ya.

 

 

 


18 thoughts on “[Freelance] Saranghae, Noona

  1. WAH endingnya mengenaskan…
    kirain di seo bakalan blik kaya’ dlu…
    trnyata mlah nyakitin sehun…
    huaaaa my sehun….
    chingu bkin lg dong ff kya’ gni…
    tpi yg happy ending…
    lw bsa da kyu nya hihihihihi*SEOKYU EKSIS
    jdi seohun jdi kakak adik
    seokyu psangan shidup semati
    ^O^))//

    Like

  2. Wh-what the… I want moreeee!!! SEHYUNNN COUPLEEE OMG.
    Sama-sama magnae, sama-sama paling putih, sama-sama polos omg i love this couple. Berasa ga sih kalo muka mereka emg mirip? Kayanya emg adek-kakak beneran deh. Hmmmm

    Like

  3. waaa ceritanya ga nyangka berakhir kaya gitu chingu ^^
    ffnya keren
    makin banyak aj ni sehun-seohyun couple *lirikKyu
    tpi kalo diliat2 eamng seo ama sehun agak mirip sih apa karna sama2 maknae ya ^^

    Like

  4. Thor, gila ni FF kagak ada bagian happy2 ny yak?? Dr awal-akhir mnyayat hati dan mnguras dompey(?)
    Thor bwt sequel donk, jgn biarkn dedek Sehun die. Gak prlu genre romance. Tpi yg family jg gak pa-pa…jrg tuh FF main genre ny Family

    Like

  5. miris ffnya..
    tapi bagus. ada hikmah yang bisa diambil, yaitu… jangan pernah ninggalin orang tua dan kakak sendiri di dalam rumah, nanti bisa bernasib sama seperti sehun *PLAK
    aku suka ff dengan gaya bahasa kayak gini
    sayang banget ya ini bukan romance, padahal aku lagi suka – sukanya sama SeHyun nih
    waaaaa…

    eonni daebak! buat lagi SeHyun donk.. tapi yang unyu – unyu :3

    Like

  6. huaa,,, sad end yaa…
    kasian bnget ksah hdup nya SeHun,, TT_TT.
    Daebak bnget ff nii..
    Trus bwat fanfic baru yg gk klah daebak ya..
    Gomawo..😀 Fighting!

    Like

  7. Hiks sedih bngt crtnya dpt co’ feelnya…
    Nah napa end dst trz napa Sehun mati aduh spa lg yg akan menjaga Seobb yg sakit.^^
    sequel dunk thor yah 1 part aj…hehe…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s