[Freelance] Je Me Souviens #1


Je Me Souviens (Prolog+1st Part)

Author             : chenyeol

Main Cast(s)     : Cho Kyuhyun&Seo Joohyun

Genre               : Angst

Disclaimer        : This story is purely mine. I’m just borrowing the characters  but the most important thing is….keep support uri maknae couple, Kyuhyun&Seohyun ^^

Soundtrack(s)  : SNSD – Gee

PROLOG

Je me souviens.

I remember.

Aku ingat.

Semua tawamu, senyummu, tingkah lakumu dan semuanya.

Aku ingin, waktu berpihak kepada kita.

Sedikit berbaik hati untuk memutar ke masa-masa yang indah—dulu.

Ke saat-saat di mana aku dan kau masih bersama.

Apakah bisa?

 

Dia terus berjalan dengan tatapan hampa. Sama sekali tidak merasakan apapun—hampa. Semuanya hampa, hanya itu yang bisa dirasakannya. Kecuali rasa sakit yang sangat menusuk di hatinya. Seandainya ia boleh meminta, ia ingin rasa sakit di hatinya hilang. Apapun caranya. Meskipun ia harus kehilangan jiwa dan raganya—yang memang telah hilang.

***

Satu

Cho Kyuhyun berjalan perlahan di trotoar—menuju apartemennya—sambil merapatkan jaketnya dan merapikan letak penutup telinganya untuk sedikit menghilangkan rasa dingin khas musim dingin yang sangat menusuk itu. Ia terus melihat ke kiri dan ke kanan, mencari toko-toko kecil yang kemungkinan masih buka untuk sekedar membeli soju karena memang persedian di apartemennya semakin menipis.

Ia tersenyum kecil ketika matanya tak sengaja melihat sebuah toko di perempatan jalan yang pintu kacanya masih bertengger tulisan “Open” yang menandakan bahwa toko tersebut memang masih buka. Dengan segera ia langkahkan kedua kakinya menuju toko tersebut dengan sedikit berlari-lari kecil. Setelah sampai di depan toko tadi, ia langsung masuk karena ingin cepat-cepat terbebaskan dari dinginnya jalanan kota Seoul.

“Annyeonghaseyo,” sapa salah satu pegawai toko tersebut. “Ada yang bisa saya bantu tuan?”

“Ah! uh,” Kyuhyun sedikit tersentak dengan kehadiran tiba-tiba sang pegawai toko tersebut. “Aku hanya ingin membeli beberapa botol soju. Bisa kau tunjukkan di mana tempatnya?”

“Tentu saja, tuan.” Sahut sang pegawai toko cepat.

Setelah mendapatkan apa yang dicarinya dan membayar di kasir, Kyuhyun segera berlari kearah apartemennya yang berada di kawasan Hannam-Dong, salah satu kawasan termewah di Seoul. Perumahan dan apartemen yang terletak di kawasan Hannam-Dong biasanya dihuni oleh artis-artis terkenal dan para pejabat tinggi serta orang-orang kaya lainnya. Bukan tanpa alasan mereka memilih kawasan elite nan mewah itu untuk menjadi tempat tinggal mereka. Selain karena berkelas juga karena lingkungan yang indah nan asri serta suguhan pemandangan Sungai Han yang bisa mereka dapatkan secara cuma-cuma setiap harinya juga menjadi salah satu faktor utama mereka memilih kawasan tersebut.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh menit dari toko tersebut akhirnya Kyuhyun tiba di depan gedung apartemennya. Ia sedikit berlari-lari kecil untuk menaiki tangga di depan gedung. Setelah sampai di depan pintu apartemennya Kyuhyun segera merogoh saku celana jinsnya dan mengeluarkan kunci kemudian memasukannya ke lubang kunci. Ia memutar kunci dan kenop pintunya sekaligus agar pintunya bisa terbuka. Yah, memang jika ingin membuka pintu dari luar harus memutar kunci dan kenop pintu secara bersamaan, berbeda jika kita ingin membuka dari dalam yang hanya diputar kenopnya saja bisa langsung terbuka.

“Ah, akhirnya sampai juga.” Ujar Kyuhyun dengan nada sedikit lega.

Setelah melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumahan, Kyuhyun segera berjalan ke arah dapurnya kemudian meletakkan semua soju yang ia beli tadi ke lemari khusus penyimpanan minuman.

“Apa kau membeli soju, Oppa?” Tanya sebuah suara yang sudah tak asing lagi di telinga Kyuhyun, siapa lagi kalau bukan Im Yoona—sang pacar.

“Oh Yoong, kau mengagetkanku!” seru Kyuhyun seraya sedikit melompat ke arah samping kirinya.

“Ya Oppa! Kenapa kau seperti melihat setan?” ujar Yoona tak terima sambil menggembungkan pipinya lucu. “Jawab dulu pertanyaanku, apa kau membeli soju?”

“Iya.” Sahut Kyuhyun sambil tertawa kecil melihat kelakuan kekasihnya yang tak pernah berubah, selalu kekanak-kanakan.

“Kau menertawakanku?” kali ini Yoona memasang muka seram.

Kyuhyun mengerutkan keningnya—bingung. Kenapa aku bisa mencintai seseorang berpekribadian ganda seperti ini?

“Yoong sayang, aku tidak menertawakanmu.” akhirnya Kyuhyun angkat bicara. “Hanya saja aku sedang berpikir kenapa aku bisa mencintai wanita berkepribadian ganda sepertimu?” lanjut Kyuhyun kembali, kali ini dengan nada jahil.

Yoona mendecakkan lidah. Merasa tak terima dengan apa yang pacarnya katakan barusan.

“Meskipun begini, kau suka kan Oppa?”

“Ya, aku suka Yoong,” sahut Kyuhyun akhirnya. “Aku suka semua yang ada padamu, semuanya.”

***

“Huh, aku bosan!” gumam seorang gadis berambut hitam lebat dengan pipi chubby itu. Gadis itu—Seo Joohyun—seperti tak pernah jenuh menggumamkan kata tersebut. Sepertinya kata-kata itu memang sudah menjadi hal yang wajib dan tabu untuk selalu diucapkannya setiap hari.

“Apakah aku benar-benar tidak bisa untuk sehari saja tidak berdiam diri di rumah?” ujarnya lagi, kali ini dengan suara yang cukup keras.

“Aku ingin menikmati kehidupanku seperti remaja yang lainnya, aku ingin bebas, aku ingin bersekolah normal, aku tidak mau lagi homeschooling. Kenapa Appa dan Eomma tidak pernah mengerti?” Kali ini Seohyun—seperti orang-orang menyapanya—menangis terisak sambil menelungkupkan wajahnya pada kedua lututnya.

“Apakah karena aku berbeda dari mereka?” jawabnya akan pertanyaannya sendiri dengan nada miris.

“Oh, ayolah! Banyak orang sepertiku yang dapat hidup bebas. Aku ingin seperti mereka. Kenapa Appa dan Eomma tidak pernah mengizinkanku untuk bisa seperti mereka? Apakah mereka takut jika tiba-tiba aku ditemukan dengan keadaan tak bernyawa dan meninggalkan mereka? Hah, di rumah pun sewaktu-waktu aku bisa mati. Hei, benarkan? Aku bisa saja menyayat nadiku sendiri. Tak akan ada yang tau juga, bukan?” Seohyun berbicara sendiri—salah satu kebiasaannya jika sedang dalam keadaan seperti ini—sambil menghapus sisa-sisa air matanya yang masih meleleh.

“Kau bicara dengan siapa, Joohyun-ah?” suara lembut penuh kasih sayang yang berasal dari pintu kamar Seohyun tersebut akhirnya terdengar juga, sedari tadi wanita itu hanya bisa diam memperhatikan anaknya yang sedang mengumpat tidak jelas sembari menangis pilu itu.

Seohyun sedikit tersentak kaget melihat ibunya—Kwon Yuri—yang sudah berdiri dengan senyum manisnya di ambang pintu kamarnya.

“Biasalah Eomma,” sahut Seohyun dengan nada datar. “Aku hanya mengeluhkan betapa membosankannya hidupku ini.”

“Sejak kapan kau jadi mendramatisir seperti ini Hyun-ah?’ Tanya ibunya dengan senyum geli yang nampak jelas di mukanya yang masih terlihat muda dan cantik untuk ukuran seorang wanita yang hampir berumur empat puluh tahun.

“Sejak aku dilahirkan.” Sahut Seohyun lagi dengan nada yang sama seperti tadi—datar.

“Eomma mengerti sayang, kau bosan dengan ini semua kan?” tanya Yuri dengan sabar menghadapi anak semata wayangnya tersebut. “Tapi percayalah. Apapun yang Appa dan Eommamu ini lakukan semuanya hanya untuk kebaikanmu, Hyun.”

Seohyun mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia mengerti. “Aku mengerti Eomma!” lanjutnya,”Tapi, apakah tidak bisa jika aku bersekolah seperti remaja lainnya? Aku ingin merasakan yang namanya sekolah Eomma. Maksudku bukan homeschooling tapi sekolah. Ini benar-benar sekolah. Aku ingin mempunyai teman, mengenal guru-guruku, merasakan apa yang namanya persahabatan dan juga…”

“Cinta?” sahut Yuri cepat, menyela perkataan anaknya.

Seohyun membelalakan matanya terkejut. Ternyata naluri seorang Eomma hebat juga ya, aku jadi ingin mempunyai anak. Tiba-tiba pikiran konyol tersebut melintas begitu saja di benak Seohyun.

“Hyun-ah?” tanya Yuri bingung karena anaknya tiba-tiba diam.

“Ah!” Seohyun segera sadar dari lamunannya dan sedetik kemudian muncul semburat merah di pipi gembulnya menandakan bahwa ia sedang malu sekarang.

“Astaga sayang,” Yuri pura-pura terkejut sembari berbicara dengan nada jahil. “Kenapa pipimu tiba-tiba memerah? Jadi, benarkan kau ingin punya pacar? Ayo mengakulah dengan Eommamu ini Joohyun-ah. Aigo, anakku sudah dewasa. Jongwoon Oppa harus tahu tentang ini.” Ujar Yuri menggoda anak gadisnya tersebut.

Seohyun langsung terkaget-kaget dengan respon ibunya yang dinilainya terlalu berlebihan itu.

“Eomma, jangan beritahu Appa,” sahut Seohyun jengkel. “Aku tidak mau Appa berpikiran yang macam-macam. Nanti dia pasti bilang kalau dia tidak memperbolehkanku pacaran karena tak ingin kasih sayangku terbagi untuk namja lain.”

Yuri tertawa renyah memandang anaknya yang terlihat menggemaskan itu, meskipun baru berusia enam belas tahun tetapi Seohyun sudah memiliki pikiran seperti orang dewasa.

“Kau bisa saja hyun, tenang saja. Eomma memberitahu Appamu agar dia mencarikan pacar untukmu bukan untuk melarangmu.”

“Oh Astaga!” sahut Seohyun lagi dengan nada jengkel. “Aku tidak mau dicarikan Eomma, aku bisa mencarinya sendiri kok. Tenang saja!”

***

Sinar matahari menyeruak begitu saja dan tanpa izin telah memabangunkan sepasang kekasih—Kyuhyun&Yoona—yang tengah tertidur dalam keadaan saling berpelukan. Yoona yang terlebih dahulu terbangun dari alam mimpinya segera membangunkan sang pria yang tengah tertidur pulas di sebelahnya tersebut. Sejenak, Yoona berhenti membangunkan pacarnya. Dia lebih suka memandang wajah Kyuhyun yang benar-benar terlihat seperti malaikat ketika sedang tertidur.

“Bagaimana bisa?” gumam Yoona dengan nada sanksi. “Seorang Cho Kyuhyun yang benar-benar jahil memiliki wajah semalaikat ini. Benar-benar sulit dipercaya!”

“Aku mendengar semuanya, jagiya!” ujar sebuah suara yang tak lain adalah Cho Kyuhyun, ternyata sedari tadi dia hanya pura-pura tertidur dan membiarkan pacarnya untuk lebih berlama-lama melihat wajah tampannya—menurutnya—karena dia sangat senang dipuji dan dikagumi oleh perempuan, termasuk oleh kekasihnya. Begitu pikirnya.

Yoona tersentak kaget dan langsung memalingkan wajahnya, terlihat ada semburat merah di wajah cantiknya.

“Oh, jadi begini ya,” Kyuhyun berkata sambir beranjak dari sebelah Yoona dan berdiri sambil bersedekap. “Kau sudah bisa meledekku? Begitu? Bagus Im Yoona, kau harus mendapatkan hukuman.”

Yoona membelalakan matanya, lagi-lagi dibuat dengan sikap Kyuhyun yang benar-benar menyebalkan pagi ini. Tch, dasar. Apa dia memang tidak tau caranya berterima kasih? Sudah dipuji malah sembarangan memberi hukuman.

“Ya, Im Yoona!” sahut Kyuhyun lagi-lagi mengagetkan Yoona. “Kau harus mendapatkan Hukuman.” Ulangnya lagi.

“Apa itu?” tanya Yoona dengan nada malas.

“Masakan aku sarapan pagi,” kata Kyuhyun dengan nada manja. “Yah yah? Ayolah sebagai calon Nyonya Cho kau harus berlatih mulai dari sekarang Yoong.”

“Okay. Tapi ada satu syarat.” Yoona akhirnya berkata dengan nada menantang.

“Baiklah, apa itu?” sahut Kyuhyun pasrah.

kiss me!” ujar Yoona dengan malu-malu.

Kyuhyun terbelalak kaget. Apa dia gila? Aku bahkan tidak pernah mencium eommaku, kecuali ketika aku masih kecil.

Kyuhyun menjawab dengan muka masam. “Apakah tak ada syarat lain?”

“Kenapa kau tak pernah mau menciumku, Oppa?” Tanya Yoona dengan raut muka penuh tanda tanya.

“Aku hanya merasa belum siap Yoong,” jawab Kyuhyun akhirnya. “Kita bisa melakukannya setelah menikah, bahkan lebih. Jadi bersabarlah, okay?”

Yoona menundukkan wajahnya sambil memasang muka cemberutnya, Kyuhyun yang tak tega melihatnya akhirnya memegang pipi Yoona kemudian sedikit mengangkatnya.

“Bisakan kau bersabar, jagiya?” Tanya Kyuhyun.

“Ya Oppa,” sahut Yoona akhirnya. “Aku akan selalu bersabar, sampai kau siap.”

***

Tidak ada yang spesial di kediaman keluarga Seo pagi ini, tepatnya di ruang makan. Hanya ada suara dentingan pisau dan sendok yang digunakan untuk sarapan. Seohyun hanya memotong-motong rotinya—sama sekali tak memakannya—lagi-lagi karena satu alasan yang memang selalu menghampirinya setiap saat di manapun ia berada setiap di lingkungan rumahnya—bosan.

“Jadi, apakah benar Hyun?” Akhirnya sang kepala keluarga—Seo Jongwoon—memecah keheningan di ruangan itu.

“Maksudnya Appa?” Tanya Seohyun heran kepada sang ayah yang menanyakan hal yang sama sekali tidak dimengertinya.

“Jadi, apakah benar kau ingin punya pacar, Joohyun-ah?” Kali ini sang ayah bertanya dengan nada menggoda.

“Ya Tuhan,” Seohyun terlalu kaget hanya untuk sekedar menggumamkan kata yang lainnya. “Eomma, kenapa kau memberi tahu Appa?” gumamnya lagi, lebih lirih dari tadi.

“Jadi benar?” Suara sang ayah terdengar lagi, kali ini diiringi gelak tawa renyah dari lelaki setengah  baya yang baru menginjak umur empat puluh dua tahun itu.

“Appa, berhenti menertawakanku.”

Kali ini terdengar gelak tawa dari sang ibu.

“Anak kita sudah besar, yeobo-ah!” suara sang ibu akhirnya terdengar juga.

Seohyun terlalu shock untuk meladeni kedua orang tuanya yang tengah tertawa di hadapannya.

“Appa, Eomma berhenti menertawakanku!” sentak Seohyun kesal.

Beberapa detik kemudian ruangan itu kembali hening seperti sedia kala.

Ayahnya kemudian berbicara. “Maafkan kami Joohyun-ah,” mengambil nafas sedikit kemudian melanjutkan, “Apa kau ingin appa carikan pacar sayang? Appa punya daftar anak-anak teman appa, mereka semua tampan. Hanya saja mungkin beberapa dari mereka ada yang sudah menikah.”

Seohyun menganga, lagi-lagi dibuat kaget oleh orang tuanya tersebut. Bahkan dia punya daftar .anak-anak temannya? Astaga, appa sungguh. Apakah dia tak punya pekerjaan lain?

“Jadi, bagaimana sayang?”

Perkataan sang ibu barusan menyadar Seohyun untuk kembali ke alam sadar.

“Terserah Appa dan Eomma saja.” Ujar Seohyun akhirnya.

Seohyun kemudian terdiam, merasa ada yang terlupakan. Dia masih berusaha mengingat ketika tiba-tiba sang ayah bersuara lagi.

“Apa ada yang salah Joohyun-ah?”

Ah! Itu dia. Batin Seohyun.

“Appa, Eomma.” Panggil Seohyun.

“Nde, honey?” sahut ayah dan ibunya berbarengan.

“Kenapa kalian selalu memanggilku Joohyun?” Ujarnya kembali. “Sedangkan kalian selalu memperkenalkanku dihadapan teman-teman kalian dengan nama Seohyun bahkan di keluarga besar kita.”

Yuri dan Yesung—panggilan akrab Jongwoon—saling berpandangan lama. Akhirnya Yuri menjawab dengan nada lantang.

“Karena Joohyun adalah nama spesial dari kami sayang.”

Kemudian sang ayah menimpali.

“Hanya kami yang boleh memanggilmu Joohyun,” kemudian dia melanjutkan. “dan juga orang yang kau cintai.”

***

Cho Kyuhyun tampak uring-uringan sejak satu jam yang lalu. Bagaimana tidak? sebelum pergi Im Yoona tidak memasak apapun untuknya. Ia meringis pelan sambil memegang perutnya. Kyuhyun sempat berfikir apakah tidak sebaiknya dia membeli makanan di luar saja. Kyuhyun mengernyitkan dahinya—merasa ada yang aneh. Tentu saja. Kenapa dia tidak membuat roti dengan selai saja? Itu lebih simple dan praktis bukan?

Kyuhyun berjalan pelan ke arah ruang makannya dan membuka tudung saji yang ada di atas meja makan. Kosong. Tidak ada apapun.

Kyuhyun menutup tudung sajinya dan menggerutu, “Di mana persediaan roti dan selai-selaiku?” kemudian dia melanjutkan, “Oh, jangan katakan aku lupa membelinya kemarin ketika aku membeli soju? Ya Cho Kyuhyun! Kau memang bodoh!” umpatnya kesal.

Kemudian Kyuhyun berjalan ke arah kamar mandinya yang terletak persis di sebelah dapur kemudian membersihkan dirinya. Setelah beberapa menit berkutat dengan air, sabun dan peralatan mandi lainnya Kyuhyun segera keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap—dia sudah memakai pakainnya ketika berada di dalam kamar mandi. Kyuhyun pagi ini terlihat tampan hanya dengan menggunakan kaos berwarna biru, celana pendek berwarna abu-abu dan sepatu kets.

Ia mematut dirinya di cermin, “Kau memang tampan Cho Kyuhyun.” Kemudian dia tertawa pelan.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumamnya pelan.

Ketika Kyuhyun sedang berpikir tiba-tiba bel interkom berbunyi dan dengan cepat memotong jalan pikirannya. Dengan segera Kyuhyun berjalan ke arah pintu depan dan sedikit melihat ke arah interkom yang terpasang di dinding dan mengintip lewat layar kecil yang ada di sana.

“Appa?” Melihat sang ayah yang ada di sana membuat Kyuhyun terheran-heran, “tumben sekali dia kemari? Apakah dia akan memberiku uang?” gumam Kyuhyun sanksi.

“Kyu, apa kau ada di dalam?” teriak ayah Kyuhyun—Cho Yunho—dengan lantang.

Kyuhyun segera tersentak dari alam pikirannya dan segera membukakan pintunya untuk ayahnya. Sejenak Kyuhyun menatap ragu ayahnya yang sedang berdiri di hadapannya dengan senyum manis. Kyuhyun mengerutkan keningnya—bingung—biasanya jika ayahnya datang menjenguknya dengan tanpa diundang itu berarti dia ada maunya. Ia bersiap mengambil ancang-ancang untuk menanyakan maksud kedatangan sang ayah sebelum Cho Yunho atau yang akrab disapa Yunho cepat-cepat berbicara sebelum anaknya mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang sangat malas untuk dijawabnya.

“Aku kesini hanya untuk melihat keadaan anakku,” ujarnya santai. “Setidaknya aku harus memastikan bahwa ia masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.”

Kyuhyun hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan membulatkan sedikit mulutnya menandakan bahwa ia menerima alasan dari ayahnya yang dinilainya cukup masuk akal. Kemudian suasana kembali hening. Baik Yunho maupun Kyuhyun masih sibuk dengan alam pikirnya masing-masing.

“Apa kau tak mengizinkan appamu yang tampan ini masuk, Kyuhyun-ah?” Kyuhyun segera tersadar dari lamunannya dan langsung mempersilahkan ayahnya masuk.

“Masuk saja Appa,” Kata Kyuhyun santai sambil masuk terlebih dahulu meninggalkan sang ayah yang masih berdiri di ambang pintu. Kurang sopan memang karena Kyuhyun yang notabene anak dari Cho Yunho meninggalkannya begitu saja sendirian, tapi hal itu sudah biasa bagi Cho Kyuhyun karena memang keluarganya yang lain juga seperti itu—santai. “ini juga apartemenmu, kan kau yang membelikannya untukku dengan uangmu.”

Yunho melangkah lebar memasuki apartemen milik anaknya itu, tidak, bukan milik anaknya tapi miliknya dan juga anaknya—seperti yang Kyuhyun katakan tadi—ia yang membeli apartemen ini khusus untuk anak lelakinya itu karena ingin Kyuhyun bisa hidup mandiri.

Yunho tampak melirik ke sekeliling apartemen anaknya tersebut. Cukup rapi. Itulah kesan pertama yang ia dapatkan ketika berhasil menyapu arah pandangannya ke segala sudut di ruangan tersebut. Alis Yunho berkerut—bingung. Bagaimana mungkin? Kyuhyun bukan tipe orang yang hobi merapi-rapikan barang apalagi ruangan. Apakah mungkin….?

Yunho menatap tajam ke arah anaknya tersebut, “Apakah anak si Seulong itu menginap di sini semalam Cho Kyuhyun?” tanyanya dengan nada ketidaksukaan yang terpeta jelas di sana.

Kyuhyun membalikan badannya ke arah sang ayah dan balas menatapnya tajam, “Jika iya memang kenapa?” tantangnya, “Apa urusanmu?”

Yunho hanya menyunggingkan senyum sinisnya. Kyuhyun hanya mengangkat bahunya sambil lalu dan menjatuhkan dirinya ke sofa. Lalu ia mendongak menatap ke arah Yunho—ayahnya—yang masih menatapnya dengan senyum sinis. Kyuhyun mengamati raut wajah ayahnya, terlihat jelas jika dia tak suka dipandang seperti itu.

“Apakah kau betah berdiri terus, Appa?” Kyuhyun menghela napas berat kemudian kembali menatap ayahnya yang justru sekarang menatapnya tajam. “Kenapa kau suka sekali menatapku dengan tatapan mengerikan? Apa kau tak tau aku tak suka melihatnya, Cho Yunho.”

“Jaga bicaramu Cho Kyuhyun!” akhirnya Yunho angkat bicara membalas perkataan anaknya yang dinilainya sudah kelewat batas. “Apakah gara-gara anaknya si Im Seulong itu kau jadi seperti ini?”

“Dia punya nama Appa!”

“Aku tak peduli!” ujar Yunho ketus. “Sudah berapa kali kukatakan untuk tidak dekat-dekat dengan yeoja itu! Aku tak suka jika anakku harus berurusan dengan keluarga Im sekalipun itu tentang masalah percintaan, aku tak peduli. Kau harus mengerti Kyu, aku hanya tak mau kau diapa-apakan oleh mereka. Apa kau tak mengerti aku khawatir terhadapmu?” Yunho mengambil nafas dan menghembuskannya secara perlahan.

Kyuhyun tidak suka dengan perkataan ayahnya dan mendecakkan lidah. “Oh, jadi ini,” sahut Kyuhyun. “Jadi ini tujuan utamamu kemari, Appa? Untuk melarang hubunganku dengan Yoona? Aku tidak akan pernah memutuskan hubunganku dengannya apalagi hanya karenamu, tidak akan!”

Yunho tertawa meremehkan. “Jadi begitu?” kemudian dia melanjutkan, “Baiklah Kyu, akan kutunggu sampai kapan hubunganmu dan Yoona akan bertahan. Aku rasa tak akan lama. Setidaknya dalam satu tahun ini bisa kupastikan hubunganmu dan Yoona akan kandas.”

“Appa!” sentak Kyuhyun kesal. “Tidak bisakah kau untuk tak mencampuri urusan pribadiku? Kau boleh mengatur semuanya, bahkan fakultas untukku pun kau yang memilihnya bukan? Tapi tolong jangan pernah ikut campur urusan pribadiku apalagi masalah percintaan. Aku bisa menentukan dan memilih jalan cintaku sendiri. Tak perlu kau atur.”

“Ya ya ya, terserah kau saja Kyu,” kata Yunho acuh tak acuh. “Tapi, kau boleh memotong lidahku jika memang hubunganmu dan Yoona tidak berakhir dalam waktu satu tahun ini.”

***

Seo Jongwoon terlihat tengah sibuk berkutat dengan rak-rak buku di perpustakaan pribadi yang memang disediakan khusus olehnya di rumahnya. Ia tampak sedang mencari sesuatu. Apalagi kalau bukan buku yang berisi list anak-anak para relasi perusahaannya. Bukan tanpa alasan ia mencari buku yang Seohyun sebut konyol tersebut, ia memang sengaja mencarinya karena ia berniat mengenalkan anak gadisnya dengan salah satu anak relasinya tersebut. Siapa tahu saja Seohyun merasa cocok bukan?

Jongwoon terus saja mencari tanpa lelah, ini demi anakku, pikirnya. Setelah berputar-putar di antara dua belas rak buku yang berisi ratusan buku per raknya, akhirnya Jongwoon menemukan apa yang dicarinya. Dia sedikit berterima kasih kepada dirinya sendiri karena tak sengaja menyenggol salah satu rak sehingga buku-buku yang ada di sana berjatuhan dan salah satunya adalah buku yang dicarinya.

“Saatnya mencari Jongwoon-ssi,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Hmmm, mulai dari mana ya?”

Jongwoon mulai mencoba membuka buku yang sedikit usang itu. Padahal baru satu tahun yang lalu ia meng-update buku tersebut. Sekedar mengubah status anak-anak para relasinya tersebut jika memang ada yang baru saja menikah.

“Akhirnya!” Jongwoon sedikit berteriak—kegirangan—ketika buku tersebut berhasil dibuka olehnya, bukan pekerjaan sulit memang. Tapi entah kenapa hanya dengan buku itu terbuka dia sudah sesenang itu.

“Mulai dari, ah ini dia,” Jongwoon mulai mencari. “Choi Siwon…Shim Changmin…Kim Kibum…Choi Minho…Lee Sungmin…Kang Minhyuk…Kim Jonghyun…Lee Jonghyun…Ok Taecyeon…”

Jongwoon menggerutu kesal. “Ah, bagaimana mungkin?” kemudian ia melanjutkan, “Semuanya sudah menikah? Yang benar saja! Dan apalagi ini? Choi Junhyung telah menikahkan kedua anaknya si Siwon dan Minho itu? Apakah hanya anakku yang belum menikah?”

Jongwoon terdiam sejenak. “Ayolah Yesung, kau harus bisa! Ayo cari lagi, ini demi anakmu.”

Akhirnya Jongwoon melanjutkan membaca daftar nama tersebut. “Lee Jinki…Kim Heechul… Lee Donghae…Kim Joonmyun…Byun Baekhyun, ah terlalu muda untuk Joohyun. Kim Minseok…Kim Kibum, hah? Kim Kibum? Bukannya tadi sudah ada? Ah, lewatkan saja. Kim Sunggyu… Jang Dongwoo… ah, ini dia!” Jongwoon meloncat kegirangan. “Cho Kyuhyun! Ya, Cho Kyuhyun. Dia kan anaknya Cho Yunho yang tampan itu. Pasti Joohyun senang memiliki pacar seperti dia. Ya, aku harus segera menghubungi Yunho, harus!” tekadnya.

Kemudian Jongwoon mengeluarkan ponselnya dan segera mencari kontak Yunho di buku telpon yang tersedia di ponselnya. “Yeah, ketemu!” girang Jongwoon. Segera saja Jongwoon menekan tombol hijau dan beberapa saat kemudian terdengar sapaan dari seberang sana.

“….Ah, Yeoboseyo Yunho hyung, bisakah aku meminta bantuanmu?…. Benarkah? Syukurlah, aku hanya ingin kau mengenalkan anakmu kepada anakku…. Woah, apa itu hyung?…. Apakah bisa?…. Baiklah terima kasih hyung, aku berhutang budi padamu…. Ah, tidak justru aku yang berhutang budi, kalau begitu terima kasih ya!…. Baiklah kalau begitu sampai jumpa pada rapat besok, okay? Kita ada rapat bersama yang lainnya, bukan?…. Okay, sampai jumpa!” Jongwoon menutup percakapan singkat namun menyenangkannya dengan Yunho, dia terus tersenyum sembari melangkah keluar dari perpustakaan.

“Appa?” panggil Seohyun heran. “Kenapa Appa senyum-senyum sendiri? Appa tadi habis menelepon siapa? Oh, apakah kau selingkuh Appa? Ya! Eomma sangat setia kepadamu Appa, kenapa kau tega mengkhianati eomma? Padahal kan eomma itu wanita yang paling cantik dan seksi. Tch! Dasar appa-appa selalu saja seenaknya dengan wanita. Jika aku punya suami aku tak mau dia seperti Appa. Dia itu harus….”

Jongwoon buru-buru menjawab. “Joohyun-ah, kenapa kau mengoceh panjang sekali? Aigo, kau benar-benar mirip eommamu, selalu saja tidak memberikan kesempatan orang lain berbicara. Tadi appa habis menelpon teman appa biasalah urusan pekerjaan dan itu tidak ada hubungannya dengan perselingkuhan. Lagian kau benar juga Hyun, tidak ada yang lebih cantik dan seksi selain Eomammu.”

Jongwoon tersenyum-senyum sendiri mengingat pertama kalinya ia bertemu dengan Yuri, benar-benar bidadari yang manis. Pikirnya ketika pertama kali bertemu, tetapi kesan pertama itu langsung hilang begitu saja ketika ia mengenal Yuri lebih dekat.

Seohyun yang sedari tadi memperhatikan ayahnya hanya memandang takut. Apakah appa harus kubawa ke dokter?, pikirnya.

Jongwoon kemudian tersadar kemudian membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. “Oh iya, Joohyun-ah. Appa dan eomma harus pergi. Kami ada urusan, sebentar saja kok. Tidak akan lama.”

Jongwoon kembali membuka mulut setelah terdiam beberapa saat. “Tenang saja Hyunie, nanti akan ada anak teman appa yang menemanimu di rumah jadi kau tidak kesepian lagi.”

Seohyun menarik napas kemudian menghembuskannya kasar. Matanya terlihat berkaca-kaca dan kedua tangannya saling meremas satu sama lain. “Shireo! Aku tidak mau! Aku hanya ingin appa dan eomma yang menemaniku, kenapa kalian tidak mengerti sama sekali? Kalian selalu saja sibuk dengan urusan kalian masing-masing, tidak pernah mempedulikanku yang jelas-jelas anak kalian. Selalu membiarkanku menunggu kalian untuk membagi waktu bersamaku, bercanda, tertawa bersama, jalan-jalan bersama. Kenapa kalian selalu mementingkan urusan kalian masing-masing? Kalian benar-benar mengecewakanku, appa.”

Jongwoon kembali ingin membuka mulut, akan tetapi sepertinya anaknya belum selesai bicara. “Aku mohon appa, hari ini saja. Kita habiskan waktu bersama. Aku ingin jalan-jalan bersama kalian, bisakan?” katanya dengan suara yang lebih pelan.

Jongwoon hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya, benar-benar manja, pikir Jongwoon.

“Hyun-ah, ini semua demi kebaikanmu sayang. Appa yakin kau pasti senang dengan kejutan yang Appa berikan.”

Seohyun tersenyum setelah mendengar kata “kejutan” dari sang ayah. “Benarkah akan ada kejutan, Appa?” lanjutnya, “Baiklah, kalau begitu kalian boleh pergi.”

Jongwoon hanya tertawa melihat Seohyun yang bisa tersenyum lagi kemudian memeluk anak gadis semata wayangnya itu. “Ini demi kebaikanmu, Hyun-ah.”

Seohyun hanya bisa mendesah lega di pelukan sang ayah.

***

Keadaan masih hening di apartemen Cho Kyuhyun. Baik Kyuhyun maupun Yunho sepertinya enggan untuk memecah keheningan yang benar-benar menjenuhkan tersebut. Keduanya tersentak kaget karena ponsel Yunho berdering kencang. Yunho dengan segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Sedikit mengernyit ketika melihat nama si pemanggil—Seo Jongwoon—yang terletak jelas di layar lebar ponsel Yunho yang merupakan iPhone 4s tersebut.

“Yesung?” gumam Yunho heran. “Tumben sekali dia menghubungiku.”

Kyuhyun yang kesal dengan suara ponsel ayahnya tersebut akhirnya angkat bicara. “Cepatlah angkat telponnya, appaku,” kemudian melanjutkan. “Deringannya benar-benar membuat kepalaku pusing.”

Yunho hanya memandang jengkel ke arah anaknya itu.

“Yeoboseyo, ada apa Yesung-ah?…. Bantuan apa? Boleh selagi bisa kubantu…” Yunho terdiam sejenak mendengar jawaban dari sang penelpon kemudian melirik ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun yang merasa diperhatikan menoleh sekilas ke arah ayahnya. “Mwo?!”

Yunho menghiraukan pertanyaan anaknya itu kemudian melenggang ke arah balkon apartemen Kyuhyun.

“…. Ah iya, aku masih di sini Yesung-ssi, baiklah aku punya rencana!…. Aku akan menyuruh Kyuhyun untuk mengantarkan makanan dan menyuruhnya menemani anakmu di rumah hingga sore, kebetulan sekali dia sedang bersamaku saat ini. Sebaiknya kau dan istrimu Yuri biarkan anakmu sendirian di rumah, arra?….. tentu saja bisa, serahkan semuanya padaku Yesung…. Ah, kau tidak berhutang budi padaku, justru aku yang berhutang budi padamu…. Ne, sama-sama Yesung…. Iya, kita ada rapat besok pukul delapan di hotel biasa, adakah yang perlu dibicarakan lagi Yesung-ah? Kalau tidak kututup dulu teleponnya ya, ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan, sampai jumpa besok!….” Yunho segera melangkahkan kakinya kembali ke dalam apartemen Kyuhyun dan melihat anaknya yang masih setia duduk di sofa.

“Kyu-ah,” panggil Yunho pelan. “Bisakah appa meminta bantuanmu?

Kyuhyun menghela napas kemudian mengangguk pelan. “Selagi tidak merepotkan, bisa-bisa saja.

Yunho tersenyum licik tanpa disadari Kyuhyun. “Tolong kau belikan banyak makanan terus kau antarkan ke rumah anak teman appa.”

Kyuhyun menganga hebat, ekspresinya benar-benar berlebihan saat ini. “Apa maksudmu Appa?” ujar Kyuhyun tak terima. “Aku bukan kurir restoran yang kerjaannya mengantarkan makanan ke rumah pelanggan. Shireo! Aku tidak mau!”

“Benarkah?” Lagi-lagi Yunho tersenyum licik namun kali ini Kyuhyun melihatnya. “Kalau kau tidak mau aku akan….”

Dengan cepat Kyuhyun menyela perkataan ayahnya. “Ya ya ya, aku akan menyita kartu kreditmu dan menjual apartemen ini. Kau harus kembali ke rumah dan berlatih memimpin perusahaan,” Kyuhyun menghela napas sejenak kemudian kembali membuka suaranya. “Aku akan menuruti semua kemauanmu, tapi ingat! Jangan lakukan itu semua. Apa ada lagi yang harus kubantu, Yunho-ssi?”

“Sebenarnya ada,” ujar Yunho santai. “Tapi aku tak akan mengatakannya sekarang, kau akan tahu sendiri nantinya.”

Kyuhyun melotot ke arah ayahnya.

Yunho hanya tersenyum simpul kepada Kyuhyun. “Tenang saja Kyu, tugasnya tidak berat kok.”

Kyuhyun mendesah dalam hati. Mengutuk dirinya sendiri kenapa dari awal menyetujui ini semua. Seharusnya aku bisa mencari alasan yang logis untuk menolaknya.

“Kau tidak merencanakan sesuatu untuk menolak permintaanku kan?”

Kyuhyun menoleh ke arah Yunho. Sungguh, jika orang ini bukan ayahnya mungkin ia akan dengan segara mengambil ancang-ancang untuk membunuh orang ini.

“Kau mau membunuhku?” tebak Yunho.

Kyuhyun mencondongkan tubuhnya ke depan—ke arah Yunho. “Jika boleh, aku mau melakukannya Appa,” bisiknya. “Dengan senang hati.”

Yunho tertawa, Kyuhyun memang sangat mudah ditebak, pikirnya. Sebenarnya mungkin hanya dia yang bisa menebak Kyuhyun. Mungkin ibunya Kyuhyun—Tiffany Hwang—juga bisa. Siapa tahu? Naluri seorang ayah dan ibu memang kuat, bukan?

***

Kyuhyun berjalan santai menuju perumahan di kawasan Hannam-Dong—kawasan yang sama dengan apartemennya—setelah sempat membeli beberapa macam makanan. Kyuhyun menggerutu pelan sambil memberengut sebal. Dia lupa meminta uang kepada ayahnya tadi untuk membayar semua makanan ini akhirnya dengan sangat terpaksa, ia membayarnya dengan uangnya sendiri. Sebenarnya bukan uangnya, itu uang jajan yang di berikan ayahnya minggu lalu.

Kyuhyun melirik jam di tangannya. Sudah satu setengah jam semenjak ia melangkahkan kakinya dari rumah untuk menuju ke kediaman keluarga Seo. Kyuhyun melepaskan headphone yang terpasang di kepalanya dengan kasar, kemudian memasukannya ke kantung belanjaan yang ia tenteng. Sedari tadi ia terus melirik ke sekelilingnya. Ia sudah sampai sedari tadi di komplek perumahan yang dimaksud oleh ayahnya. Hanya saja ia masih belum menemukan di mana rumah keluarga Seo. Kyuhyun merutuki kebodohannya, kenapa aku tidak bertanya kepada satpam saja?

Langkah lebarnya ia kerahkan ke arah yang pos satpam. Kyuhyun menekan bel yang tertempel di dinding, dan tak lama kemudian keluar dua security yang sedikit berbeda appearance. Yang satu gendut dengan kumis tebal dan yang satunya kurus dengan kulit sedikit gelap.

“Ada yang bias saya bantu, tuan?” tanya security yang berbadan gendut.

Kyuhyun tersenyum dan segera menjawab, “Saya hanya ingin menanyakan, di mana rumahnya keluarga Seo Jongwoon?”

Security yang berbadan kurus kemudian menimpali. “Ada keperluan apa anda menanyakan kediaman keluarga Seo Jongwoon? Boleh saya lihat kartu identitas anda?”

Kyuhyun menjawab sembari merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan dompetnya. “Saya disuruh appa saya untuk mengantarkan makanan ini ke rumah keluarga Seo,” lanjutnya, “Ini kartu identitas saya, Ahjussi.” Timpalnya sambil memberikan kartu identitasnya.

“Cho Kyuhyun ya?” gumam kedua security tersebut secara bersamaan.

“Oh, Cho Kyuhyun.” Security yang berbadan gendut kali ini tersenyum sekilas. “Kau Cho Kyuhyun, salah satu penghuni di apartemen sebelah kan?” tanyanya ramah.

Kyuhyun menampakkan raut terkejut kemudian dengan cepat merubahnya dan tersenyum kecil ke arah kedua security tersebut. “Ne, ahjussi!” jawab Kyuhyun mantap.

“Kalau begitu, mari saya antarkan ke rumahnya keluarga Seo Jongwoon,” ujar security yang berbadan kurus. “Mari nak!” lanjutnya.

Kyuhyun  mengangkat wajahnya dan menatap security berbadan kurus yang sudah berjalan di depannya itu dengan pandangan heran, benar-benar security yang ramah, pikirnya. Lama terdiam akhirnya Kyuhyun mengikuti juga security tersebut yang sudah hampir menghilang dari jarak pandangnya.

“Ahjussi, tunggu!” teriak Kyuhyun berlari-lari kecil sambil tetap menenteng makanannya.

Merasa terpanggil, security tersebut membalikkan badannya dan balas berteriak. “Cepatlah anak muda, aku masih punya banyak pekerjaan setelah ini.”

***

Seohyun terlihat bosan di kamar. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya. Ini benar-benar menyebalkan. Apa appa berbohong padaku? Pikirnya. Seohyun berjalan ke arah lemarinya dan mengambil salah satu boneka keroro koleksinya terus memeluknya dan kembali melanjutkan ritual mondar-mandirnya.

Ini semua gara-gara dia yang dengan mudahnya percaya pada bualan ayahnya.

Mana kejutan yang dijanjikan sang ayah?

Tidak bisakah dipercepat datangnya?

Seohyun terus saja mondar-mandir tanpa henti, tidak tahu harus melakukan apa. Ini sudah pukul sepuluh tepat dan sampai sekarang hadiah yang dijanjikan ayahnya belum juga datang. Seohyun menggerutu pelan. Ia berjanji tidak akan menuruti kemauan ayahnya lagi jika hingga pukul sebelas nanti kejutannya tidak juga datang.

Sepuluh menit berlalu akhirnya bunyi dari bel interkomnya terdengar.

“Ah, itu dia!” Seohyun terlonjak girang. “Kejutanku datang.”

Seohyun melenggang santai menuju pintu depan, tanpa mengintip siapa yang datang dari layar kecil yang tertempel di dinding di sebelah pintu rumahnya. Seohyun langsung saja memutar kenop pintunya. Sedetik kemudian Seohyun menganga hebat. Tampan sekali, siapa dia?

Cho Kyuhyun—sang tamu—memandang heran ke arah Seohyun—tuan rumah—yang tengah menganga hebat sekarang. Gadis ini…kenapa memasang ekspresi tidak berdosa seperti itu?

“Hai!” sapa Kyuhyun dengan nada biasa saja.

“Hai juga!” sapa Seohyun balik. “Kamu siapa?”

“Oh, aku?” balas Kyuhyun nampak santai. “Aku, Cho Kyuhyun.”

“Aku, Seo Joohyun.” Sahut Seohyun tanpa ditanya.

Kyuhyun mengibaskan kedua tangannya. “Aku tidak bertanya siapa namamu,” kemudian Kyuhyun melirik kantung belanjaannya yang sejak tadi masih setia berada di antara buku jarinya “Ini, aku hanya ingin memberikan ini saja kepadamu Joohyun-ssi.”

Seohyun terlonjak kaget mendengar perkataan Kyuhyun barusan, barusan dia memanggilku apa? Joohyun?. Kyuhyun memandang heran ke arah Seohyun dan kembali memandang ke arah tangannya yang masih setia terulur ke arah Seohyun hanya untuk memberikan satu kantung berisi makanan.

“Ya Joohyun-ssi, mengapa kau….” Perkataan Kyuhyun terputus ketika Seohyun buru-buru memotongnya.

“Nama panggilanku bukan Joohyun tapi Seo….”

Merasa tak terima karena perkataannya barusan dicela, Kyuhyun akhirnya memotong juga perkataan Seohyun.

“Aku tak peduli,” sahutnya cepat. “Tolong cepat ambillah kantung makanan ini setelah itu aku akan pergi, Joohyun-ssi.”

Seohyun menggerakkan kepalanya untuk menatap tepat ke arah Kyuhyun dengan pandangan tanya. “Tapi….” Perkataannya menggantung sesaat. “Appa bilang, kau disuruh menemaniku hingga senja nanti, Kyuhyun-ssi.”

 

 

*Note(s)          : Hi! Dear all of my readers, your comment is an inspiration to me, thank youJ

 


19 thoughts on “[Freelance] Je Me Souviens #1

  1. asataga baru baca ff yg kyuhyun oppa pikirannya gak yadong(?) hehehe
    biasanya kan kalo ada kesempatan pasti langsung nyium pacarnya hahahaha gak percaya kyuhyun oppa bisa kaya gitu😀
    endingnya kyuhyun oppa dingin amat sama seo.

    part selanjutnya aku tunggu yah chingu😀

    Like

  2. oh ternya appa seo dan kyu berencana menjodohkan mereka..
    seo sih kayakny suka sama kyu..
    tapi kok kyu gitu dingin banget sama seo…
    kyu juga kenapa sama yoona?
    ditunggu lanjutannya

    Like

  3. Ooo jd SeoKyu mw dijodohin ni? Bguz bguz
    Kyu tumben alim? #plakk!!# tpi Seo akan mnerima dirimu apa adany kok oppa^^
    Lnjut thor!!

    Like

  4. sebenernya Kyuhyun itu suka sama yoona gak ?? :O
    dan sebenarnya ada masalah apa keluarga yoona sama keluarga kyuhyun ??
    wah wah wah… kayaknya seohyun kepincut sama kyuhyun nie:D tapi kyuhyun dingin bener …# emang es ?

    Ayo thor lanjut ya😀

    Like

  5. Wahh
    Keren keren

    Si Kyuhyun dingin banget yah .-.
    Hoho (?), tp dia panggil Seohyun dengab sebutan “Joohyun” ><

    Part selanjutnya buruan,,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s