[Freelance] How Great Is Your Love #5


How Great Is Your Love

(Chapter 5 Part 2 END)

Author                        :           GiSica (Gita Jessica)

 

Main Cast                  :

  • Lee Donghae
  • Im Yoon Ah

Support Cast             :

  • Seo Joo Hyun
  • Cho Kyuhyun
  • Kwon Yuri
  • Jung Yunho

 

Length                        :           Sequel

Rating                         :           General

Genre                         :           Romance (kayanya J)

 

Annyeong reader. Btw ini adalah chapter terakhir dari ff ini.. Author melanjutkan di tengah hiatus, hahaha… YoonMin ini sudah end…😀 … kayanya nih ff rada panjang deh, jangan bosan bacanya. Mian jelek… Oce langsung ajah yah.. Happy Reading…..

 

Check this out……

 

~Donghae Pov (PEROLOG)~

 

            Aku bukan pria yang lemah, kau tak usah mengasihaniku.

 

            Menyusuri jalan pasangan suami istri itu terlihat sangat mesra, di tengah udara yang dingin membeku. Angin bertiup seakan mengiris tubuh, karena dingin yang menggigit. Seperti menderita hipotermia, yang rasanya terjepit seluruh tubuh dalam balok es. Mungkin sangat menderita, tetapi tidak untuk mereka. Pasangan suami istri itu terus menerobos jalan panjang yang dilewatinya.

“Apa kau merasa dingin?” tanya namja cute itu pada istrinya, yang dengan setia mengapit lengan kanannya.

“Ani, ini masih siang… lagi pula salju belum turun. Bagaimana kalau kita ke villa.” Yeoja itu tersenyum manis, ia juga makin mengeratkan rangkulan tangannya pada sang suami.

“Terserah, aku akan menurutimu.”

Perjalan kembali berlanjut, hingga sampailah mereka di sebuah villa mewah. Villa yang tak asing buat mereka, villa yang menjadi tempat saksi bisu malam pertama itu. Yoona memandang ke segala arah, lalu senyum manis pun terukir dari wajah cantiknya.

“Aku tak percaya akan kembali ke tempat ini lagi.”

“Yoong, ayo kita masuk.” Donghae menarik pelan tangan Yoona memasuki perkarangan villa.

Mereka membuka pintu dengan perlahan-lahan. Dan tampaklah suasana yang masih sama, seperti pertama kali Yoona menginjakkan kakinya ke villa ini.

“Tak ada yang berubah…” Yoona menatap ke seluruh ruangan yang tertangkap oleh pandangannya.

“Ya tak ada yang berubah, tapi apa hatimu berubah… ini untuk kedua kalinya kau menginjakkan kakimu di sini.” Ujar Donghae yang menghadapkan dirinya di hadapan Yoona.

“Hatiku Berubah?? Aku pikir kau bisa menjawabnya…” hanya kata itu yang terlontar dari Yoona. Donghae tertawa pelan, dan semakin menguatkan genggaman tangannya.

“Emmm… aku ingin membuatkan kue untukmu.” Setelah mengacak pelan rambut Yoona, Donghae berlari pelan ke dapur.

Di dapur Donghae mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue, ia mengeluarkan terigu, telur, dan beberapa bahan pendukung juga buah strawberry. Tak lupa ia mengenakan clemek, sebagai alas agar pakaiannya tak terkena kotoran saat membuat kue. Pertama ia mulai dengan mengocok telur dan memberi bahan tambahan lain… Yoona berdiri tak jauh darinya, sambil tersenyum sangat manis.

“Kenapa aku semakin tak ingin kehilanganmu, bisakah kau terus berada di sampingku. Aku tak peduli dengan sikap awalmu dulu, atau caramu yang menikahiku dengan terburu-buru… atau pun hal yang lainnya. Yang aku mau kau hanya akan melihatku, dan aku hanya akan melihatmu oppa.” Rintih batin Yoona lirih, ia menangis kecil. Lalu segera menghapusnya, langkah pendeknya pun menghampiri Donghae. Dipeluklah dengan mesra dari belakang Donghae yang tengah berkutit dengan peralatan dapur.

Donghae sejenak menghentikan aktivitasnya. “Yoong wae??”

“Aku ingin memelukmu, bolehkan…” kata Yoona manja, yang semakin mengeratkan pelukannya. Tanganya panjangnya melingkar dengan sempurna di perut Donghae.

“Tentu saja.” Sahut Donghae, dan kembali membuat kue.

“Aku sangat dingin oppa, tapi bukan tubuhku. Melainkan hatiku, aku ingin menghilangkan rasa dingin di hatiku ini. Dengan cara memelukmu, meski tetap sama. Tapi aku merasa lebih hangat.” Lagi-lagi Yoona membatin.

Cukup lama Yoona memeluk Donghae dari belakang, sampai Donghae hampir sulit mengerjakan aktivitas pembuatan kuenya. Ia tak enak membangunkan Yoona, yang ternyata sudah tertidur berdiri memeluknya dari belakang. Untung saja Donghae sangat cekatan, bahkan ia sudah menyelesaikan proses pembuatan kuenya… dan tahap garnis pun selesai. Lalu tampaklah kue tart berwarna merah yang dihiasi buah strawberry, serta krim putih yang di ukir hingga membentuk huruf ‘Y’.

Donghae menolehkan kepalanya, ia tersenyum jahil. “Yoong, kau masih tidur… kuenya sudah jadi.” Yoona membuka matanya, ia melepaskan tangannya yang masih melingkar di perut Donghae.

“Huah, oppa… mianhae aku tertidur.” Ucap Yoona dengan agyeonya. Kini pandangannya beralih pada kue tart buatan Donghae.

“Oppa, ini benar kau yang buat??” tanya Yoona, yang tak henti menatap kue tart itu.

“Kenapa, jelek yah??” raut wajah Donghae berubah seperti ini L.

“Ani… ini sangat cantik oppa. Sepertinya enak, aku mau coba.” Yoona langsung mencolek kue tart itu, namun segera dihalangi Donghae.

“Jangan di makan dulu, kita foto bersama dengan kue ini yah??” Donghae memindahkan kue tartnya ke meja makan, ia pun segera mengambil kamera dan mulai berfoto-foto ria.

“Sudah selesai foto-fotonya… aku potong yah.” Anggukan setuju dari Donghae. Ketika Yoona ingin memotong kue tart itu, ia memandang kue disertai senyum terbaiknya.

“Katanya mau kau potong, kok diam Yoong.”

“Apa ini huruf Y, hahaha… aku terlalu pede padahal belum tentu ini huruf Y. Lagi pula, mentang-mentang nama ku dari Y…  aku…” ucap Yoona malu-malu, sambil tertawa. Donghae meneruskan perkataan Yoona, yang belum selesai.

“Itu huruf Y, dan itu untukmu… memang sih banyak sekali nama orang yang di awali dengan huruf Y, tapi bagi Lee Donghae huruf Y hanya untuk Im Yoona… seseorang yang sangat teramat kucintai, melebihi apa pun bahkan diriku sendiri.” Donghae meraih tangan kanan Yoona, dan metetakkan di dadanya.

“Oppa, aku ingin makan kuenya…” Yoona memecahkan keheningan yang terjadi sejenak antar mereka. Usai memotong kue potongan pertama, Yoona menyuapi kue tersebut ke Donghae. Tapi Donghae menolak halus, dan membuat Yoona bingung.

“Wae??”

“Aku tak mau disuapi dari tanganmu, tapi dari…” Donghae menunjuk bibir Yoona, Yoona pun langsung mengerti maksud Donghae. Ia langsung menaruh potongan kue tersebut di mulutnya. Kue yang hanya separuh sudah masuk di dalam mulutnya, sementara sisanya masih menonjol (?) di luar mulutnya. Tanpa banyak bicara Donghae membuka mulutnya, dan memakan kue yang masih berada di luar mulut Yoona. Kue tart itu sudah mulai habis, hingga bibir mereka berdua bertemu. Yoona tak bergerak, ia hanya berdiam diri sambil memejamkan matanya. Ketika Donghae membersihkan sisa-sia krim tart di bibir tipis Yoona.

“Emm… rasanya sangat manis kan??” ucap Donghae, seraya mengelap bibir Yoona dengan tissu sekarang.

“Ne, itu enak sekali oppa…”

“Itu?? Maksudnya??” Yoona merasa ia salah mengatakan.

“Ya, tentu saja kuenya… memangnya kau berpikir apa??” mendadak Yoona menjadi salah tingkah. Donghae terus menggoda Yoona, ia tersenyum evil.

“Benarkah Yoong, bukannya itu sangat enak. Mau kita ulangi lagi.” Yoona menghela napas panjang, ia pergi dari dapur dan beralih ke jendela ruang tamu. Donghae berjalan pelan mengikuti Yoona… ia juga memeluk Yoona dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Yoona.

“Hufh, kau seperti anak kecil. Hahaha…” sebuah ucapan aneh terlontar dari Yoona.

“Yoong, apa kau mencintaiku??” posisi Donghae masih tetap sama. Sontak Yoona membisu, ia tak tahu harus berkata apa.

“Yoong?” masih tetap diam.

“Haruskah aku menjawabnya, aku menyayangimu oppa.” Sahut Yoona datar, kini Donghae makin mengeratkan pelukan dari belakang.

“Yah, gomawo untuk jawabanmu…” donghae mengecup bahu Yoona, ia tak tahu kalau Yoona menitihkan air mata.

“Oppa, apa jawaban ini yang kau mau dengar. ‘Saranghae’.” Ucap Yoona dalam hatinya.

“Yoong, kita jalan-jalan ke luar yuk… aku bosan di sini.” Rengek Donghae pada Yoona, ia tetap saja bertingkah seperti anak-anak.

“Sama oppa, aku juga ingin ke luar. Kajja.” Yoona menarik tangan Donghae, dengan cepat mereka keluar dari villa.

 

_______

 

Di rumah sakit Yuri sedang berkemas, hari ini ia sudah diizinkan pulang. Ketika sedang berkemas, datanglah seorang dokter tampan menghampirinya.

“Yuri-ah, hari ini kau keluar dari rumah sakit?” ucap dokter Yunho, Yuri menyambut dengan senyum yang terlukis indah di wajah cantiknya.

“Ne, apa kau mau menemaniku menjenguk appa di kamarnya?”

“Tentu saja… kau sudah beri tahu Yoona, kalau besok operasi transpaltasi sum-sum tulang belakang Tuan Im.” Yuri menggelengkan kepalanya.

“Aku tak bisa menghubungi Yoona ataupun Donghae, sepertinya kedua ponsel mereka sengaja dimatikan.” Jawab Yuri, sambil beranjak keluar dari ruang kamar rawatnya bersama dokter Yunho.

“Secepatnya kau harus beri tahu Yoona, karena kondisi Tuan Im sudah sangat parah.” Dokter Yunho kembali berkomentar, namun hanya ditanggapi senyuman ketir oleh Yuri.

Mereka pun tiba di ruang rawat Tuan Im, Yuri dan dokter Yunho berjalan memasuki ruang rawat. Tampak Tuan Im, terbaring dengan sangat lemah. Seluruh sisi ranjangnya, sudah terpasang berbagai peralatan medis, Yuri dan dokter Yunho mengenakan pakaian khusus dengan masker di wajah.

“Appa, cepat sembuh yah… besok kau akan melakukan operasi. Usai operasi, aku harap appa dapat kembali seperti biasa. Appa yang selalu ceria, dan baik hati.” Yuri mencium punggung tangan kanan Tuan Im, dokter Yunho hanya tersenyum.

“Yul, di mana Yoong dan Donghae?” ujar Dokter Im, dengan kondisinya yang lemah. Suaranya cukup parau, dan terlalu serak juga tersedat-sedat.

“Mereka sedang ada acara appa, nanti mereka akan menjenguk appa kok.” Sahut Yuri berbohong, ia berusaha menutupi semuanya di depan Tuan Im.

 

_______

 

Di depan jendela apartement yang menghadap langsung pemandangan kota Seoul, berdirilah seorang yeoja cantik dengan rambut panjang hitamnya yang terurai. Wajahnya menundukkan kesedihan yang mendalam, seperti banyak sekali beban pikiran yang bergelumat hebat di otaknya.

“Jagi, kau kenapa??” tanya seorang namja, yang menghampiri yeoja tersebut. Ia memeluk dari belakang yeojanya dengan sangat lembut, meletakkan dagunya di bahu yeoja cantik itu.

“Oppa, aku takut… sangat takut.” Kata Seohyun yang menatap lurus ke arah pemandangan kota Seoul.

“Wae jagi? Kau takut apa? Ada aku di sini, aku akan selalu menemanimu…” Kyuhyun membalikan tubuh kekasihnya ke hadapannya, ia kecup kening yeojanya itu dengan lembut dan lama.

“Bukan mengenai aku oppa, tapi ini tentang kakakku.” Perkataan Seohyun, membuat Kyuhyun menatapnya serius.

“Donghae hyung, memang kenapa dengan dia.” Seohyun kembali membalikkan tubuhnya membelakangi Kyuhyun, dan pandangan matanya sama seperti tadi.

“Donghae oppa menderita leukimia, aku sudah tahu penyakitnya sejak lama. Dia tak mau siapa pun tahu tentang penyakitnya, saat itu akulah yang tahu. Aku merahasiakan ini selama bertahun-tahun, aku selalu bertanya apa dia selalu menjaga kesehatannya. Apa dia tak telat makan, atau dia tak lupa melakukan pengobatannya. Kau tahu oppa, meski penyakit parahnya itu kian menyerang. Ia tak pernah letih untuk memulihkan kesehatannya, dan semua dia lakukan demi Im Yoon Ah… kakakku akan melakukan apa pun, demi yeoja yang dicintainya itu. hiks.. hiks…” ucap Seohyun dengan panjang lebar, namun ucapannya terhenti dengan air mata yang terjatuh dengan deras. Kyuhyun segera membalikkan tubuh Seohyun ke hadapannya, dan merangkul Seohyun.

“Aku tak mau kehilangan kakakku.” Seohyun semakin terisak dalam pelukan Kyuhyun.

“Uljima… Seohyunie. Aku yakin Donghae hyung akan bertahan, dia sudah bertaha sejak lama melawan penyakitnya… sekarang aku yakin, dia akan melakukannya. Apalagi ada wanita yang sangat dicintai menemaninya.” Kyuhyun berusaha menghibur Seohyun, agar Seohyun berhenti menangis.

 

_______

 

Hari sudah semaki sore, dan matahari mulai menatap nanar. Langit pun semakin mendung, hawa dingin menguasai pada sore itu. Tepatnya di sebuah taman, yang pertama kali Donghae membawa Yoona ke tempat ini.

“Oppa, aku ingin naik ayunan itu…” tunjuk Yoona pada ayunan yang sedang dinaiki anak-anak.

“Sekarang kau yang seperti anak kecil Yoong.” Donghae meraih tangan Yoona, dan membawanya mendekati ayunan yang sedang dipenuhi anak-anak.

“Kau lihat kan, masih banyak anak-anak…” Donghae memasang wajah memelas.

“Hufh, bagaimana kalau kita beli es krim oppa.” Yoona mengapit tangan kanan Donghae, seraya berkata dengan agyeonya.

“Ne.” Mereka berjalan mengitari taman, mencari penjual es krim. Setelah menemukannya, mereka membeli dua es krim strawberry. Namun mereka tak kembali ke tempat ayunan, melainkan ke kotak pasir. Donghae meraih ranting pohon yang tergeletak, lalu menuliskan kata-kata di pasir tersebut.

Yoong and Hwae

We’re Still No. 1

‘Saranghae’

            Lalu Yoona menambahkan sebuah kalimat di bawahnya.

Fishy Hwae

&

Deer Yoong

‘Forever’

            Donghae menoleh ke arah Yoona, sedangkan Yoona tertawa kecil. Lalu Donghae mengusap rambut Yoona pelan dan membangunkannya.

“Sudah Yoong, sebentar lagi sunset… kita lihat yuk.”

Mereka duduk berdua di bangku taman, yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Perlahan-lahan Donghae, menidurkan tubuhnya… Yoona menopang kepala Donghae, dikedua pahanya.

“Istriku, dari sisi manapun aku menatapmu… kau selalu saja terlihat cantik.” Donghae mencoba menggombal. Sementara Yoona, mengusap lembut rambut Donghae… bahkan sesekali ia menjahili suaminya itu. Dengan mencubit hidung, dan kedua pipi Donghae.

“Aduh, appo Yoong.” Kata Donghae memegang hidungnya.

“Itu balasannya, karena kau itu selalu saja menggombal.” Yoona tertawa puas.

Usai melihat matahari terbit, dan hari semakin malam mereka menikmati santapan malam dengan mampir ke kedai. Mereka terlihat bercanda, dan saling berbagi makanan bersama. Sungguh pemandangan yang membuat iri, pasangan yang melihat keakraban serta keromantisan mereka.

Setelah puas menyantap sajian kuliner di kedai dan pasar, Donghae mengajak Yoona ke sebuah taman kota Mokpo. Mereka duduk di bawah pohon cemara yang sangat tinggi, dengan hiasan lampu di pohon itu untuk menambah penerangan kota. Ditambah suara percikan air mancur, dan lantunan pemusik jalanan yang bermain biola.

“Yoong, apa kau ingin bertanya padaku?” ucap Donghae memulai perkataan, ia menatap lurus. Nyaris saja wajahnya terlihat tanpa ekspresi, namun ia tutupi dengan senyum khasnya.

“Tanya, apa?” kini Yoona bingung dengan pernyataan Donghae.

“Iya, apa saja yang ingin kau tanyakan. Bukankah kau ingin tahu, sejak kapan aku menyukaimu. Kenapa sikap awalku sangat dingin, juga hari pernikahan kita yang begitu sangat cepat.” Ujar Donghae lirih, Yoona segera menyenderkan kepalanya di bahu Donghae.

“Aku memang ingin bertanya padamu, bahkan sangat. Tapi bagiku sekarang, itu tak penting lagi… aku ingin mengetahui itu semua nanti. Setelah kau sembuh, kau harus menjawab pertanyaanku.” Tanpa disadari Donghae, Yoona mulai menitihkan air mata.

“Yoong, aku ingin bercerita padamu. Dengarkan aku…” Donghae mempererat genggaman tangannya.

 

*Flashback*

 

Hari itu adalah pertemuan rapat perusahaan Lee Group bersama perusahaan Im Group. Di loby utama perusahaan Im Group, tampaklah seorang namja berpakaian kantor rapi. Ia sibuk berkutat dengan ponsel di tangannya, tapi pikirannya tidak konsen. Melainkan tatapan matannya terus memperhatikan, yeoja yang sibuk dengan majalah yang dibacanya serius.

“Tuhan, kenapa dadaku berdetak sangat kencang. Ini pertama kalinya kurasakan seperti ini, saat memperhatikan seorang gadis. Apa ini yang namanya jatuh cinta, pada pandangan pertama. Sulit dipercaya.” Namja itu terus menahan dirinya, ia berusaha bersikap normal. Hingga yeoja yang menjadi pusat perhatiannya, pergi dari loby itu.

Usai rapat namja itu masih saja berkutat dengan pikirannya, pikiran yang terus mengganggunya sedari tadi.

“Eonni, kau lama sekali rapatnya… aku sampai bosan duduk sendirian di ruanganmu.” Kata yeoja cantik yang sempat memalingkan perhatiaan namja itu. Namja itu tampak senang kembali melihat yeoja cantik itu yang kini berada antara dia dan seorang yeoja yang dipanggil kakak.

“Mian, tadi rapatnya lama. Eonni pikir sebentar, jadi kau harus menunggu.” Jawab kakak perempuan yeoja cantik itu.

“Ne, gwenchana. Ya sudah aku pulang.. bye bye eonni.” Yeoja itu segera berlalu, dan sebelumnya ia mencium pipi kakaknya dan membukuk dengan sangat rendah di hadapan namja tampan itu.

“Kelakuannya sangat manis, seperti wajahnya.” Ucap namja itu yang menatap kepergian yeoja itu, tanpa ia sadari bahwa kakak perempuan yeoja itu mendengarnya.

“Sepertinya Mr. Lee Donghae menyukai adikku.” Kata Yuri tertawa. Lee Donghae, nama namja itu menjadi salah tingkah.

“Akh.. kau bisa saja Yuri-ssi… aku…” belum sempat Donghae berkata lagi, wanita cantik bernama Yuri sudah mulai berbicara.

“Tapi kau terlambat Lee Donghae, Yoona adikku sudah memiliki kekasih dan mereka sangat sulit dipisahkan. Hanya takdir yang bisa mengubah semuanya.” Perkataan Yuri, seperti sambaran petir di hati Donghae. Seakan bunga yang baru tumbuh berkembang, tiba-tiba harus layu.

“Gomawo untuk infonya, tapi kita tetap menjalin kekerabatan kan dalam kerja sama antar perusahaan ini.” Donghae berusaha menyembunyikan kesedihannya, ia pun segera pamit.

Seminggu berlalu, entah kenapa sejak kejadian itu Donghae tak pernah berhenti memikirkan Yoona. Meski pernyataan Yuri sudah cukup ia pahami. Namun ia segera membuang rasanya yang terus bergejolak kian hebat.

“Ya, hanya takdir Tuhan yang mampu mengubah semuanya.” Donghae berkata dengan penuh semangat dan keyakinan.

Lima bulan berlalu, ketika Donghae yang sedang sibuk dengan urusan pekerjaan, tiba-tiba Yuri datang membawa kabar padanya, kabar yang membuat Donghae hanya terdiam saat pertama kali mendengar.

“Namjachingu adikku pergi ke Jepang tanpa kabar, sudah sekitar lima bulan yang lalu. Satu minggu kau berkunjung ke kantorku, aku sangat sedih melihat kondisi adikku yang tak hentinya bersikap aneh… apa kau bisa membantuku? Apa perasaanmu padanya masih ada?” Perasaan Donghae bercampur-campur, senang, sedih dan tak percaya. Senang karena ia mempunyai harapan untuk memiliki gadis impiannya, sedih karena ia tak tega melihat gadis yang dicintainya bersedih, dan tak percaya kalau ia mendapat berita seperti ini… yang bahkan tak pernah ia pikirkan sebelumnya.

saat itu juga Donghae mendapat tugas untuk mengurus perusahaannya yang berkembang di Kanada. Donghae harus menjalankan perusaahaan itu selama tiga tahun, bukan hanya itu saja. Ada yang aneh dengan kondisi tubuh Donghae, setelah memeriksa kesehataanya. Ternyata Donghae mengidap leukimia, dan saat itu pula Donghae merasa harapan untuk memiliki Yoona menipis. Tapi adiknya Seohyun yang mengetahui penyakit kakaknya itu, sangat sedih… ia memberi semangat pada kakaknya agar tetap berusaha meraih apa yang diimpkan kakaknya. Termasuk memiliki Yoona. Berkat Dorongan itulah Donghae kembali bersemangat, ia mulai menjaga kesehatan dan rajin melakukan apa pun untuk menyembuhkan penyakitnya.

Tak lupa Donghae selalu berkirim pesan dengan Yuri, menanyai hal apa pun tentang Yoona. Selama Donghae di Kanada. Sampai akhirnya tiga tahun berlalu, Donghae kembali ke Korea. Dan berniat melamar Yoona, dengan mengunjungi ayah Yoona. Ia meyakinkan segala cara agar Tuan Im, mau menerimannya sebagai menantu. Yuri yang selalu membantu Donghae, turut campur dalam pembicaraan Donghae dan Tuan Im. Hingga akhirnya Tuan Im, merestui Donghae menjadi calon menantunya.

 

*FLASHBACK END*

 

            “Itulah pertama kali aku jatuh cinta padamu? Hahaha, konyol bukan… apa yang aku lakukan bersama kakakmu itu.” Usai bercerita dengan panjang lebar Donghae malah tetawa, entah apa yang ia tertawakan padahal tak ada sama sekali yang lucu. Yoona masih tetap menyenderkan kepalanya ke bahu Donghae, ia juga tak hentinya menahan air matanya itu.

“Lalu, kenapa kau memutuskan untuk menikah denganku dengan sangat terburu-buru. Kenapa kau tak berusaha mengenalkan dirimu, misalnya kita berpacaran dahulu saling mengenalkan diri kita masing-masing.” Kini Yoona mulai angkat suara, padahal dari tadi hanya diam mendengarkan cerita Donghae.

“Aku sudah mengenalmu secara tak langsung, melalui Yuri.” Sahut Donghae, yang langsung mendapat cubitan pelan di lengannya dari Yoona.

“Dasar egois, itu kan kau. Aku tak tahu apa-apa tentangmu, Yuri eonni tak pernah bercerita mengenai kau. Ia memberitahu sehari sebelum kita menikah, bagiku itu sangat keteraluan. Ditambah dengan sikapmu yang menyebalkan pada kesan pertama, dan kau juga sudah merampas dengan paksa malam pertamaku.” Yoona tak mau kalah bersuara, meski nada bicaranya tetap datar.

“Ya maaf untuk semuanya, meski itu tak kan bisa termaafkan. Kau ingin tahu kenapa aku ingin menikahimu pada saat kita bertemu. Karena sehari kita menikah itu, besok adalah tanggal 15 bulan 5…” Donghae menghentikan ucapannya sejenak.

“Hah, lalu ada apa dengan tanggal itu. itu bukan ulang tahunku, ataupun ulang tahunmu kan?” rupanya Donghae mampu membuat Yoona bingung.

“Itu pembagian antara ulang tahunmu dan aku. Di ambil dari tanggal lahirku, dan bulan lahirmu. Tapi bukan hanya itu saja ada yang unik dari angka kelahiran kita. Angka tersebut saling berhubungan. Kau lahir tanggal 30 bulan 5, dan aku tanggal 15 bulan 10. Jika 30 (tanggal lahir Yoona) : 2 = 15 (tanggal lahir Donghae). Lalu 10 (bulan lahir Donghae) : 2 = 5 (bulan lahir Yoona). Seperti itulah, dan pembagian dua itu anggap saja. Aku dan kau. (reader ngerti kan. Hehehe….). Kalau aku tak menikahimu pada tanggal segitu, aku akan menikahimu tahun depan lagi. Dan aku tak mau menunggu dengan waktu yang lama itu.”

“Hahaha, kau itu ada-ada saja Hae oppa. Aku saja tak pernah terpikirkan hal itu, ternyata aku beruntung menikah denganmu. Hahaha.” Yoona terus tertawa, di tengah kesedihannya.

“Beruntung?? Bukan kau, tapi aku… mian yah pertama kali kesanku sangat buruk di matamu. Sebagai namja yang dingin dan angkuh, itu karena aku tak mau terkesan lemah di hadapanmu. Berlagak menjadi pria sok manis, aku ingin terlihat lebih keren. Hahaha… soal malam pertama itu, aku tak tahan melihat wajah cantikmu. Yah kurasa aku namja normal pada saat itu.”

“Mwo?? Tapi kan kau, langsung berlagak sok manis. Dan aku hampir menerka-nerka bagaimana kau sebenarnya pada saat itu. Dan kau pikir itu keren, bahkan kau seperti psikopat tahu. Ia kau namja normal, tapi kau hampir saja membuatku murka.” Yoona melipat kedua tangannya di atas dadanya, dengan memasang tampang cemberut.

“Tapi, pada malam itu kau sempat menikmatinya kan?? Walau kemudian kau terisak-isak.” Donghae menggoda Yoona, sontak Yoona merah merona.

“Aish, kau… sudah-sudah aku tak mau membahas itu.” pukulan kecil hinggap di lengan kanan Donghae.

“Ne, jagiya… kajja kita lihat sekumpulan orang bermain musik.”

Mereka pun meninggalkan bangku taman kota itu, bangku yang sudah agak lama mereka duduki saat tadi. Lalu mereka mendatangi, sekumpulan orang bermain musik.

“Karena ini malam spesial, dan sepertinya salju akan turun sebentar lagi. Buat para pasangan-pasangan yang ada di sini, siapa yang ingin menyanyi untuk para kekasihnya. Bagi yang berminat, silahkan daftar hanya untuk tiga pasang pasangan. Hadiahnya, mendapatkan paket daging segar. Lumayankan.” Ucap seorang namja pemain biola tersebut.

“Oppa, ayo kita ikut…” Yoona dan Donghae mendaftar, mereka pun menjadi peserta ketiga. Sambil menunggu giliran, Yoona terlihat senyum-senyum.

“Yoong, kau kenapa? Bukankah kau sudah biasa mendengarku menyanyi di depanmu.” Ujar Donghae mengacak pelan rambut Yoona.

“Ani, bukan kau yang nyanyi. Tapi aku, ayo oppa sekarang giliran kita.” Yoona menarik tangan Donghae ke hadapan pemain musik itu. Donghae memasang tampang ragu seperti ‘Memangnya dia bisa menyanyi’.

“Kau ragu? Suaraku memang tak bagus, tapi kau berdirilah. Aku akan menyanyi untukmu.” Yoona membisikkan lagu yang ia akan nyanyikan pada pemusik-pemusik itu, mereka mengangguk setuju.

Dengan hitungan, musik di mulai dan Yoona mulai menyanyi. Menyanyikan lagu innisfree. Ternyata kekhwatiran Donghae benar. Suara Yoona terdengar kekanak-kanakan, bahkan penonton yang sudah mulai berdatangan terlihat mentertawakan Yoona. Donghae yang melihat itu, langsung meminta pemain musik memberhentikan musik. Ia tak mau istrinya itu menjadi bahan tertawaan banyak orang.

“Oppa, kenapa kau menghentikannya… aku kan belum selesai.” Yoona mengambek.

“Yoong, sudahlah kita pulang saja.” Yoona menepis tangan Donghae, yang akan membawanya pergi.

“Yoong.” Kata Donghae sedikit keras.

“Ani, aku mau nyanyi lagi.” Yoona tetap pada kemauannya.

Donghae menyerah juga, ia membiarkan Yoona menyanyi kembali. Yoona menundukkan kepalanya, hingga musik yang sangat lembut terdengar. Lagu Because I’m Miss You (ost Heartstring) di nyanyikan Yoona dengan teramat dalam, bahkan suaranya sudah mulai terkontrol.

saranghae saranghaeyo geudaereul saranghaeyo
maljocha motagoseo geudaereul geureoke bonaenneyo

mianhae mianhaeyo naemari deullinayo
dwineuseun nae gobaegeul geudaen deureul su isseulkkayo
saranghaeyo

(Love you, love you, I love you
I hadn’t even spoken the words, I just let you go
Sorry, sorry, do you hear my words
My late confession, can you hear it
I love you)

 

Donghae terdiam mendengar Yoona menyanyikan lagu tersebut, belum sempat Yoona menghabiskan lirik lagu yang dinyanyikannya. Donghae segera meraih Yoona dalam rangkulannya, seperti tak ada yang bisa memisahkan mereka.

“SARANGHAE IM YOON AH!” Mereka saling berpelukan, dan tepuk tangan dari para penonton menyertai mereka.

Tak terasa malam sudah semakin larut, mereka mulai berjalan pulang ke rumah. Meski tak dapat hadiah itu, tapi mereka cukup senang.

“Oppa, kita kalah. Mian yah, harusnya kau saja yang menyanyi.” Yoona merasa bersalah atas kekalahannya.

“Anio, ini pertama kalinya aku mendengar istriku bernyanyi. Sudahlah itu hanya permainan, mian aku sempat membentakmu. Karena aku  tak mau kau ditertawakan.” Kecupan singkat di kening Yoona dari Donghae, mereka saling berhadapan. Saling menerawang pandangan mata masing-masing.

“Yoong, saat kau menyanyikan lagu kedua itu. Rasanya itu seperti jawaban atas pernyataan cintaku. Aku ingin kau menjawabnya dengan sedekit sentuhan. Jika kau mencintaiku kau harus menciumku di bibir, kalau kau menganggapku hanya oppamu (seperti Seohyun menganggap Donghae kakaknya) kau menciumku di kening, dan kedua pipiku kalau kau hanya sekedar menganggap keakraban kita saja.” Kata Donghae dengan panjang lebar, namun Yoona tak melakukan ke semua yang di perintah Donghae. Ia malah memeluk Donghae, dan memejamkan matanya dalam-dalam.

“Yoong, kau…”

“Aku tak mau kehilanganmu oppa, bagiku memelukmu sudah semakin menguatkan jawaban yang kau mau itu.” kata batin Yoona.

 

______

 

Malam kian larut, tak terasa salju turun dengan sangat indah. Sepasang kekasih, tampak berbahagia menyambut salju pertama turun. Yah itulah Seohyun dan Kyuhyun, lain lagi dengan dokter Yunho yang menyelimuti tubuh Yuri di ruang tunggu dengan jaket tebalnya. Yuri tertidur dengan sangat pulas.

Sedangkan di Mokpo, Donghae menatap salju yang turun dari dalam jendela kamar di villa.

“Salju yang indah, turunlah dengan damai.” Gumam Donghae, tanpa disadari istrinya telah berada di sisinya.

“Ini pertama kalinya aku melihat salju pertama turun. Dan aku berada di kamar bersama seorang namja, dan namja itu adalah suamiku. Semoga musim salju berikutnya, kita bisa bersama lagi.”

“Amin!” hanya kata pendek terlontar dari bibir tipis Donghae, ia juga segera meninggalkan Yoona yang masih berdiri. Namun Yoona pun menahan Donghae.

“Hae oppa, aku…” Yoona mendekatkan dirinya ke hadapan Donghae, bukan itu saja. Ia juga menarik tengkuk Donghae, dan mencium bibir Donghae dengan sangat lembut penuh perasaan. Lalu pelan-pelan Yoona melepas ciumannya, yang tanpa balasan dari Donghae.

“Yoong, apa maksudmu menciumku?” tanya Donghae bingung, ia teringat perkataanya tadi. Yaitu sebuah jawaban yang akan diberikan Yoona.

“Tidak ada maksud apa-apa? Aku hanya ingin menciummu saja, tak lebih.” Ada suatu kata penekanan di perkataan Yoona ‘Tak Lebih’.

“Yeah!” Donghae beranjak ke tempat tidur, Yoona pun mengikuti Donghae. Kalau biasanya Yoona yang selalu membelakangi Donghae, kini giliran Donghae yang membelakangi Yoona.

“Oppa, kenapa kau membelakangiku.” Tanpa ada jawaban dari Donghae, Yoona memeluk Donghae dari belakang. Seperti biasa yang dilakukan Donghae, saat mereka tidur.

“Yoong, aku punya dua permintaan padamu… dan kau berjanji harus menurutinya.”

“Apa itu oppa?” Yoona semakin mengeratkan pelukannya.

“Pertama, aku ingin kau selalu menjaga kesehatanmu. Jangan sampai kau sakit, dan kedua kau harus secepatnya mendonorkan sum-sum tulangmu itu untuk abeoji. Hanya itu pintaku, kau bisa kan memenuhinya.” Kata Donghae, yang ternyata ia tak dapat membendung air matanya sendiri.

“Aku mau tidur oppa.” Yoona memilih tak menjawab, ia terisak sendiri di dalam hatinya.

Hingga waktu menunjukkan tengah malam, Yoona merasa Donghae sudah mulai tertidur pulas. Dengan gontai, Yoona membuka ponselnya yang sengaja ia tak aktifkan agar tak mengganggu.

“Besok operasi appa.” Yoona kaget, melihat pesan dari Yuri. Ia mulai menghubungi Yuri.

“Annyeong eonn, mian malam-malam aku mengganggu. Benarkah besok operasi appa?? Lalu bagaimana dengan Haeppa. Aku kasihan padanya eonni, aku sangat-sangat kasihan dan tak tega melihat kondisinya.”

Tanpa Yoona sadari, Donghae mendengar semua percakapan Yoona dan Yuri melalui telepon. Ditambah penekanan kata kasihan selalu diucap oleh Yoona, membuat Donghae bersedih.

“Jadi kau hanya kasihan padaku Yoong, apa karena penyakit ini.” Tukas Donghae meringis pelan-pelan.

 

_______

 

Pagi harinya Yoona terbangun, ia tampak gelisah karena Donghae sudah tak berada di sampingnya.

“Kemana Donghae oppa?” seluruh ruang Yoona telusuri untuk mencari keberadaan Donghae, namun hasilnya nihil. Donghae tak ada di sudut mana pun. Yoona yang merasa tak kuat memopang kakinya, ia terduduk lemas di lantai.

“Kenapa kau pergi lagi oppa, kau kemana?” kata Yoona lirih, seraya mengapit kedua kakinya. (adagen ini memang sengaja dimiripin sama dramakor Yoong, You are my destiny :D).

Ting tong…. bell berbunyi dengan nyaring, Yoona langsung berlari menuju pintu.

“Donghae opp….” Ya! Bukan sosok Donghae lah yang ia lihat, melainkan seorang gadis cantik bertampang angel.

“Annyeong, eonni… aku Lee Seohyun. Adik dari Donghae oppa…” sapa Seohyun dengan ramah. Yoona masih tertegun, ia pun melemparkan senyum hambar.

“Donghae oppa, memintaku untuk menjemputmu ke Seoul. Bukan kah hari ini, ayah eonni akan melakukan operasi.” Yoona terdiam sejenak.

Lalu ia pun mulai bersuara. “Ini pesan dari kakakmu, tunggu sebentar aku akan beres-beres dahulu.”

Lima belas menit kemudian, Yoona dan Seohyun meninggalkan villa dengan taksi.

“Eonn, kau baik-baik saja kan?” tanya Seohyun yang memecahkan keheningan di antara mereka.

“Ne.” Yoona memandang ke arah luar dari dalam taksi yang sedang melaju. Pemandangan yang di penuhi salju di mana-mana begitu lebat salju-salju itu.

“Eonn, apa kau ingat sosok Cho Kyuhyun.” Tukas Seohyun. Tiba-tiba saja Yoona menoleh ke arah Seohyun yang berada di sampingnya.

“Apa kau mengenalnya?” Seohyun mengangguk mantap. “Mianhae eonni, aku adalah kekasihnya sekarang.”

“Kekasihnya?” ekspresi Yoona terlihat datar, tak ada nada schok yang ia ucapkan.

“Mian eonni… ini bukan salah Kyuhyun oppa. Ini salahku… Kyuhyun oppa mengalami kecelakaan hingga ia hilang ingatan. Ketika itu….”

 

______

 

*FLASHBACK*

 

            ~Seohyun Pov~

 

            Gara-gara jatuh dari tangga, kakiku harus sedikit pincang. Tapi aku bosan berada di kamar rumah sakit ini. lebih baik aku jalan-jalan keluar. Aku melangkahkan kaki ku ini ke sebuah balkon rumah sakit yang letaknya paling atas lantai ini. Huah… ternyata udara di sini jauh lebih menyegarkan.

            Aku mendengar ada yang berteriak sangat keras, lalu kudengar saja yang namja itu teriakkan. “Aku benci diriku, aku bahkan tak tahu siapa aku…. aku ingin mengakhiri semuanya. Lebih baik aku lompat saja.” Oh! Tuhan, apa yang mau dia lakukan. Apa dia mau bunuh diri. Tidak! Aku harus mencegahnya sekarang juga.

            “Hentikan!!!!” teriakku, tanpa rasa takut aku berjalan tertatih  mendekatinya. Ia menatapku dengan tatapan yang mengerikan, nyaris saja saat itu tubuhku melemas karena pandangan matanya padaku.

            “Kau siapa? Apa hakmu mencegahku, ini hidupku…. oh! Tidak, ini bukan hidupku. Aku bahkan tak ingat apa pun, jadi pergilah!!!!!!” ucapnya dengan garang, aku malah terkekeh mendengarnya.

            “Haha, kau adalah namja pengecut yang bodoh. Hanya karena kau tak ingat apa pun, kau mau mengakhiri hidupmu. Konyol sekali kedengerannya, kau mau lompat. Lompatlah, tapi kau jangan menyesal… ketika ingatanmu mulai pulih, kau memiliki sesuatu yang sangat penting… dan tanpa sadari kau akan meninggalkannya, dengan cara seperti ini. Oh! No no…. kau tak kan menyesal karena kau setelah lompat sudah berada di timbunan tanah, dan para malaikat siap menggiringmu ke neraka yang paling dalam.” Kataku dengan panjang lebar, entah dari mana aku bisa berkata-kata seperti ini… tanpa banyak bicara lagi, aku meninggalkan namja bodoh itu. jujur saja, usai mengatakan itu tubuhku bergetar.

            Satu minggu berlalu, ini takdir atau bukan aku bertemu dengan namja bodoh itu. Bukan di rumah sakit, melainkan di universitas. Ternyata aku dan dia satu kampus. Awalnya kami terlihat canggung, itu karena ulahku yang pertama kali bertemu dengannya dengan cara yang kurang baik. Ia terlihat lebih segar dari yang kutemui di rumah sakit. Tanpa disangka, ia berterima kasih padaku. Katanya aku telah menyadarkannya dari tindakan bodoh, yang nyaris saja ia lakukan. Hari, minggu, bulan terus berganti… aku semakin akrab dengannya. Aku mulai menmbantunya untuk mengingat semua tentangnya, meski pun sangat sulit. Hingga tahun berlalu, aku semakin dekat. Kedekatan yang aneh. Ya! Sangat aneh, aku menyukainya. Sampai akhirnya ia membalas cintaku, kami menjalani kisah cinta yang indah…. ia menceritakan padaku, kalau dia sudah mengingat semuanya. Termasuk jalinan cintanya dengan kekasihnya yang yang berada di Korea. Terkadang aku sangat bersedih dan merasa bersalah, karena aku ia tak dapat kembali dengan kekasihnya.

 

~Seohyun End Pov~

*FLASHBACK END*

 

Yoona mengernyitkan dahinya, usai mendengar cerita Seohyun yang lumayan panjang. Seohyun menggenggam kedua tangan Yoona, dan terisak sedih.

“Aku sangat bersalah, kalau saja aku tak bertemu dengannya. Ini tak akan terjadi, mianhae eonni… mianhae karena aku telah jatuh cinta pada kekasihmu, mianhae karena kakakku juga menikahimu dengan tindakannya.” Yoona tersenyum manis, dan memeluk Seohyun sangat lembut.

“Kenapa kau minta maaf, cinta tak pernah salah. Apa kau bahagia bersamanya? (Seohyun mengangguk). Kalau begitu, aku juga bahagia bersama kakakmu. Sudahlah itu masa lalu, aku akan melakukan hal apa pun. Asalkan Donghae oppa bisa selamat.”

 

_________

 

Perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka tiba juga di rumah sakit Seoul. Mereka mulai berjalan ke arah beberapa orang yang berdiri dengan wajah was-was di depan kamar rawat Tuan Im.

“Yoona~ah.” Yuri menghampiri Yoona, dan memeluknya dengan lembut.

“Eonni, appa…” sekilas Yoona melihat appanya yang berada di dalam ruangan, dari jendela kaca di luar. Di samping mereka berdua juga, ada Kyuhyun dan Seohyun yang tak kalah khawatir.

“Annyeong, Yoona-ssi.” Sapa Kyuhyun ramah, seraya sedikit menundukkan tubuhnya. Yoona membalas dengan senyuman. Rupanya mereka berdua masih terlihat canggung.

“Yoona-ssi, cepat kau ganti pakaian. Sebentar lagi Tuan Im, akan melakukan operasi.” Perintah Dokter Yunho, Yoona mulai mengikuti dokter Yunho untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian operasi.

Usai berganti pakaian, Yoona berjalan pelan memasuki ruang operasi. Ia beruasaha tegar, di tengah kesedihannya. Sesekali ia menoleh ke segela arah untuk menemukan sosok Donghae, namun itu hanya harapannya. Karena Donghae tak tampak di hadapannya sekarang.

“Oppa, kau kemana?” Yoona tak dapat menahan air matanya, yang terus terjatuh.

Tetapi Yoona salah, di balik dinding… ada seseorang yang ia cari memperhatikannya. Namja itu tersenyum manis, dengan wajah yang pucat pasih.

“Uljima… uljimarayo Yoongku. Kau harus melakukannya sayang. Semoga operasinya berhasil, aku akan baik-baik saja. Aku sangat mencintaimu.” Ucap Donghae parau, sambil menahan tubuhnya yang tiba-tiba saja sudah sangat lelah berdiri.

Pintu operasi di tutup, Yoona mulai memejamkan matanya. Ia merasapi sesuatu hal yang pernah terjadi dalam hidupnya, sebelum obat bius menenggelapkan dalam tidur. (sambil ngomong ini, Yoona membayangkan dirinya bersama appa dan Donghae dari awal ia menikah sampai sekarang).

“Sesuatu yang tak pernah bisa kubayangkan sebelumnya, senyum, tertawa, menangis, membenci, dan menyangimu semua menjadi satu saat bersamu. Kau menciptakan cinta yang indah untukku. Cintamu, hidupmu, dirimu, kau adalah kebahagianku. Aku senang mengenalmu, dan melalui banyak hal di waktu yang yang singkat ini. Andai waktu dapat di putar kembali, aku ingin mengenalmu dari awal…. mungkin tiga tahun lalu itu. Meski hanya sebentar, kau terlalu mencintaiku… Ya! How Great Is Your Love. Dan kali ini aku mulai mengerti satu rasa yang sangat sulit kukatakan.. SARANGHAE.” Obat bius Yoona mulai bereaksi, ia memejamkan matanya dengan erat, dan di sisi lain. Tepatnya di luar ruang operasi, Donghae ambruk dan terjatuh bersamaan dengan Yoona yang mulai terbius.

 

 

Hahaha… Huah, bagaimana ffnya menggantungkah, dan mengecewakan yah??:D… panjangkah ff ini?? mian banget banyak typo (bow). YoonHae and SeoKyu is the best forever couple for me…. :D…

Menurut reader ini sudah end belum?? Author undur pamit, dan akan kembali dengan ff berikutnya…. gomawo yang sudah mau membaca ff ini (bow)….

 

~RCL~

 

 

-END-

 


35 thoughts on “[Freelance] How Great Is Your Love #5

  1. Bukannya yg kmrn udah ada sequelnya ya?
    Kok tiba2 muncul part 5 nya….
    Tapi tetep FF ni daebak.
    Sedih rasanya melihat mereka gak bersatu

    Like

  2. udah end nie thor ???😦
    yah jangan dulu dong😦 masih ngegantung😦
    ayo dong author lanjut ya🙂 # sujud2 didepan authorm
    tapi setelah aku baca semuanya …. ceritanya Bener-bener ROMANTIS❤
    aku pengen deh dapat namjachingu seperti Hae oppa yang setia sama Yoong Eonnie # mimpi !!
    Tapi beneran deh Ceritanya bagus … aku kasih 5 jempol utk author (y)(y)(y)(y)(y)

    Like

  3. Blm ned author..
    Q pngin liat donghae oppaitu meninggal/g trus yoona mengandung dan pnya anx donghae sembuh dia dpt donor tp dri someone…
    Lanjutin… Thor

    Like

  4. Author ini udah end?
    Kalau gitu bikin sequel kayak waktu itu dong!!! Ya..ya..ya… *reader maksa*
    Tapi DAEBAK kok ceritanya.
    Ditunggu kelanjutannya ya Thor, atau gak FF YoonHae yang lain

    Like

  5. Yah author masa ceritanya gantung gitu ..
    seharusnya happy ending dong yoonhae nyaa..
    lanjut lagi dong thor

    Like

  6. Uda End Ya?? Kok Ngegantung Gt.!!
    Tp FF Nya Keren Banget,, Sedih Karna Hae Oppa Sakit, Seneng Karna YoonHae Moment Nya Romantis Bangt,,^^

    Sama Thor, YoonHae & SeoKyu
    Itu, The Best Couple..
    Di Tunggu FF YH yg Lain….

    Like

  7. waaaah kcian hae hyuuung..

    kok kyany endingny bkal sedih yah??abis nie momen brduany kyany aneh bgt c..

    gimana nsib hae hyung yak??

    trus itu apakah nti trjadi ssuatu pd saat operasi??

    pnasaran!!ditunggu updetanny..

    Like

  8. Gk rela ending nya kayak gini
    Kan lom tau nasib donghae gmna?
    Apa donghae selamat atau dpt donor baru..
    Kyknya perlu sequel nih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s