[Freelance] Between Friends #1


Halo semuaaa. Apa kabar? Masih ingat AAL? ^^. Udh berbulan-bulan aku gak muncul disini dan sekarang aku comeback dengan membawa ff baru dengan cast yg lg hot yaitu kai dan sehun dari EXO! Sebenernya ff ini udh lama kubikin jauh sebelum exo debut loh hehe. Dan karena ini pertama kalinya aku nulis tentang kedua cowo ganteng itu maaf kalau terjadi byk kesalahan. Dan ff ini merupakan ff ‘gebrakan’ aku karena penulisanku yg sudah berubah. bagus atau tidak itu pendapat kalian. J

PS: bagi kalian yg nunggu kelanjutan ff seokyu ku seperti love trip to Italy,putih abu-abu dan taste of oce cream jgn khawatir. Pasti aku lanjutin ko J

Tittle: Between Friends Part 1 (KAI)

Cast: Kim Jong In aka KAI

Oh SeHun aka Sehun

Amelia Salisbury (OC)

Genre: Romance, friendship, family.

Author: AAL. (@adlnayu)

Notes: Fanfiction ini pernah di post di salah satu blog yaitu hazelwine.wordpress.com

 

Author’s

Pov Tod: “We’ll always be friends forever, won’t we?” |

Copper: “Yeah, forever.” –The Fox and the Hound

Pemuda itu menghirup udara pantai yang khas sambil memejamkan kedua matanya. Aroma yang menguar dari campuran air laut dan pasir putih selalu berhasil membuat ia betah berlama-lama berada disini.

Ia dudukkan tubuhnya pada gundukan pasir yang terasa hangat dan merasakan hembusan angin sore yang membelai rambut cokelatnya dengan lembut. Tak bosan-bosannya ia mengagumi keindahan yang disuguhkan oleh pantai ini.

Orang lain mungkin lebih memilih untuk mengunjungi pantai Haeundae yang terdapat di daratan Busan ini,tapi pemuda ini berbeda.

Ia begitu menyukai pantai ini. Pantai tak bernama yang terdapat di sebuah desa kecil ,daratan Busan. Pasirnya yang putih dan lembut selalu berhasil membuat telapak kakinya yang pucat terasa hangat. Suara deburan ombak yang mengalun terasa lebih indah dibandingkan nada lagu yang biasa keluar dari sebuah kotak musik tua.

Pemuda itu melirik benda putih yang melingkari pergelangan tangannya,lalu berdecak kesal. “Ada dimana mereka? Padahal tinggal 5 menit lagi!”

“Kami disini!”

Pemuda itu-Sehun, menoleh ke arah sumber suara. Terlihatlah seorang lelaki dan seorang gadis sedang berlari kearahnya dengan langkah tergopoh. Sehun melambai-lambaikan tangan kanannya, “Cepat! Tinggal 5 menit lagi pertunjukannya akan segera dimulai!”

Kedua insan itu langsung mendudukan tubuhnya tepat di samping Sehun. Dengan nafas yang masih terengah lelaki berambut hitam itu berkata dengan nada memelas “Maaf kami telat, tadi ditengah jalan ban sepedaku bocor,jadi kami terpaksa berlari sampai kesini.”

Si gadis berambut merah yang duduk disebelahnya,ikut-ikutan berucap dengan nada yang sama “Benar. Jangan  marah pada kami ya! Salahkan ban sepeda sialan milik Kai yang sudah lama tidak diganti itu!”

“Hei kenapa kau jadi menghina sepedaku? Kalau tidak suka kenapa tadi tidak jalan kaki saja?”

Lelaki itu-Kai sudah siap-siap untuk berdiri dan menerjang kearah sang gadis tapi Sehun berhasil menahan lengannya. “Sudahlah jangan bertengkar. O-oh,lihat! Pertunjukannya sudah mulai!”

Mereka bertiga langsung melupakan soal pertengkaran yang hampir terjadi dan mengfokuskan pandangan pada pemandangan yang tersuguh di depan mata.

Ketiga pasang mata itu seakan terbius oleh keindahan sang surya yang tenggelam di ufuk barat. Warna jingga yang menyala-nyala terlihat semakin indah dengan sinar violet disekelilingnya. Permukaan laut membiaskan cahaya sang penguasa langit itu. Menimbulkan warna pelangi yang seakan terlukis tepat di depan mata.

Tiga anak manusia itu tanpa sadar saling berpegangan tangan. Erat, hangat, seakan tidak akan pernah terlepas.

“Berapa kalipun dilihat,matahari terbenam adalah sebuah pertunjukan yang sangat menakjubkan ya.” gadis berambut merah itu berujar pelan. Matanya yang berwarna sebiru samudra menunjukan binar penuh kekaguman, “Matahari terbenam di Meksiko memang indah,tapi disini terasa jauh lebih indah karena ada kalian berdua.”

Kedua lelaki yang duduk mengapit gadis itu kontan tersenyum.

Kai memutar kepalanya, walaupun gadis dihadapannya masih fokus memperhatikan sang surya yang sudah sepenuhnya tenggelam ia bergumam pelan, “Aku juga senang karena kau ada disini, Ri Ah.”

Gumaman yang pelan,tapi cukup terdengar oleh pendengaran Sehun yang tajam. Ia eratkan pegangan tangannya pada gadis bernama Ri Ah itu seakan tidak akan melepaskannya. Seakan menunjukan pada dunia dan semua orang bahwa gadis ini miliknya.

“Aku beruntung memiliki kalian.” Akhirnya gadis itu angkat bicara ,“Orang bilang sahabat adalah orang yang telah mengenal kita dalam jangka waktu yang lama. Tapi menurutku itu salah. Walaupun aku baru mengenal kalian 3 tahun yang lalu,aku benar-benar menganggap kalian berdua sebagai sahabat terbaikku.”

Aku juga berfikir seperti itu.

“Kita akan selalu seperti ini kan?” gadis itu menatap kedua sahabatnya bergantian, “Berjanjilah padaku bahwa kita tidak akan berubah. Selamanya akan begini. Sahabat sejati yang tak akan terpisah.”

Kedua lelaki itu terdiam. Bisakah mereka berjanji seperti itu? Berjanji akan persahabatan yang tidak akan berubah? Bukankah hidup ini tidak ada yang abadi? Bagaimana kalau hubungan ini akan berubah? Bagaimana kalau merekalah yang berubah?

Merasa pertanyaannya tidak dijawab. Gadis itu menggoyang-goyangkan kedua tangannya yang masih terbungkus oleh kedua telapak tangan yang berbeda. “Hei,kenapa kalian tidak menjawab pertanyaan ku? Apa kalian tidak mau berjanji?”

“Aku…” Kai yang pertama kali membuka mulutnya yang tadi sempat terkatup rapat, ia hadapkan wajahnya untuk menatap gadis disampingnya dengan sorot mata yang tidak bisa dijelaskan, “Aku tidak bisa berjanji akan persahabatan yang tidak akan berubah. Tapi aku berjanji bahwa kita bertiga akan selalu bersama.”

Gadis itu terdiam. Kecewa karena lelaki berambut hitam itu mengatakan tidak bisa menepati janji? Sepertinya tidak. Gadis itu menoleh pada lelaki yang satunya. Lelaki berambut cokelat itu menatap ujung kakinya yang berlumuran pasir putih dengan tampang kosong.

“Sehun-ah, bagaimana dengan mu?”

Lelaki berambut cokelat yang dipanggil Sehun itu mengangkat wajahnya,tapi tidak seincipun ia gerakan kepalanya untuk menghadap gadis di sebelahnya. “Sama denga Kai.” Katanya, “Semua yang ada di dunia ini pasti akan berubah,termasuk persahabatan ini. Aku hanya bisa berjanji kalau kita akan selalu bersama. Hubungan kita nanti akan menjadi apa,aku tidak tau.”

Gadis itu terdiam-lagi. Gantian, ia pandangi ujung jempol kakinya yang mengais-ngais pasir putih dibawahnya. “Kalau begitu berjanjilah, jangan pernah meninggalkanku. Jangan pernah membiarkan diriku sendiri. Kalian berdua harus selalu ada untukku.”

Permintaan yang egois,memang. Tapi bukankan itu adalah sikap dasar yang dimiliki oleh semua wanita?

Kedua lelaki itu mengangguk-hampir bersamaan. Dalam hati mereka berjanji akan selalu melindungi gadis ini. Berjanji untuk selalu menyediakan tempat kosong di hati mereka untuk gadis itu tempati. Berjanji akan perasaan mereka yang tidak akan berubah.

Tapi siapa yang tau kalau di hati ketiga orang itu tersimpan sebuah perasaan. Perasaan yang bisa mempersatukan ataupun menghancurkan. Perasaan yang terpendam terlalu dalam dan bisa meledak kapan saja. Perasaan yang ditujukan pada satu orang.

Perasaan yang bernama cinta.

 

   ~BETWEEN FRIENDS~

“Meeting you was fate, becoming your friend was a choise. But falling in love with you, i had no control over”

 

Kai’s POV.

Ckiiiittt!!!

Aku berhasil mengerem sepeda berwarna hitam ini dengan satu kaki. Kutolehkan kepalaku kebelakang,dan menemukan Sehun masih berusaha mengayuh sepeda putihnya dengan nafas yang memburu. Untuk ketiga kalinya dalam minggu ini,aku berhasil mengalahkannya.

“Lebih cepat 10 detik dari catatan waktu kemarin” Gumamku pada diri sendiri.

“Fuuuhhhh!!!” akhirnya Sehun berhasil menjajariku. Ia hapus peluh yang membasahi poninya yang berwarna cokelat, “Kenapa kau tidak pernah merasa capek sih? Jarak dari rumah kita ke apartemen Ri Ah, kan cukup jauh.”

“Apanya yang jauh? Hanya mengayuh sepeda 20 menit saja kau sudah mengeluh begini. Payah!” ejekku sambil berdecak. Aku mendongakan kepalaku, menatap bangunan setinggi tiga lantai itu sambil menyipitkan mata dari sinar matahari pagi yang cukup menyilaukan.

Sebenarnya bangunan itu lebih terlihat seperti gedung tua terbengkalai daripada apartemen. Cat putih yang melapisi bangunan ini sudah terkelupas di beberapa bagian. Tangga kayu yang biasa digunakan untuk mencapai lantai atas selalu mengeluarkan suara decitan saat kaki kita menginjaknya. Bel yang dipasang tepat di depan pintu setiap kamarpun sudah tidak bisa berfungsi.

Mau bagaimana lagi, di desa kecil seperti ini mana ada sih yang sanggup membangun apartemen mewah seperti yang ada di Seoul?

Kring~ kring~

Aku membunyikan bel sepedaku. Lima detik kemudian salah satu pintu dari lantai dua terbuka. Seorang gadis dengan rambut merahnya yang panjang keluar sambil bersungut-sungut seakan habis terjatuh. Ia kunci pintu apartemennya sebelum merapikan seragamnya yang –sepertinya- baru selesai di seterika itu dengan terburu-buru.

Buenos días!” Sapa gadis itu saat ia sudah berhasil menapaki dirinya tepat dihadapanku. Alih-alih mengucapkan selamat pagi dengan bahasa korea,gadis ini malah menggunakan bahasa asing, “Si usted dormir bien?

 

Aku memutar bola mataku untuk pertama kalinya dalam pagi ini, “Ya ya, tidur ku semalam nyenyak dan berhentilah menggunakan bahasa itu disini! Ini Korea, bukannya Meksiko!”

 

Gadis bermata biru itu tergelak. Memamerkan deretan gigi putihnya yang rapih sempurna “Hahahaha ,aku hanya rindu dengan kampung halamanku itu,Kai. Ngomong-ngomong…siapa yang menang pada pagi hari ini?”

 

“Tentu saja aku!” aku mendelik kearah Sehun dan tersenyum puas melihat ekspresi mukanya yang berubah masam, “Belum setengah jalan Sehun sudah ngos-ngosan!”

 

“Enak saja!” Sehun menyikut pinggangku keras ,“Fisikku tidak selemah itu. Kau tau?!”

 

O,o,ow! Detener (berhenti)! Pagi-pagi sudah bertengkar. Dasar cowok.” Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan tanggap ia dudukkan tubuhnya di jok belakang sepeda dan melingkarkan lengannya pada pinggangku, “Lebih baik kita berangkat sekarang kalau tidak mau terlambat.”

 

Tanpa aba-aba Sehun tiba-tiba mengayuh sepedanya dengan cepat. “Lihat saja kali ini akulah yang akan sampai duluan ke sekolah!”

 

“Hei jangan curi start duluan,dasar curang!” dengan terburu-buru kukayuh pedal sepada ini dengan cepat, mengakibatkan gadis yang berada diboncenganku ini hampir terjungkal kebelakang, “Ri Ah, pegangan yang erat kalau tidak ingin kepalamu jatuh menyentuh tanah!”

 

Walau aku tidak bisa melihatnya, aku bisa merasakan kalau gadis itu mengangguk.

 

Ia eratkan pelukannya pada pinggangku. Sedetik kemudian wajahku memerah. Dengan posisi yang seperti ini aku bisa merasakan permukaan dadanya menempel pada punggungku. Dan entah kenapa aku merasakan sensasi geli karenanya. Ah sial,kenapa otakku tiba-tiba jadi yadong begini?

 

Aku menggelengkan kepalaku dan kembali berkonsentrasi mengejar Sehun yang sudah sepuluh meter memimpin.

 

Tapi Semakin aku mempercepat kayuhan sepedaku,semakin erat pula Ri Ah mempererat pelukannya. Dan itu benar-benar membuatku kehilangan konsentrasi. Demi Tuhan , Kim Jong In cepat hapus pikiran kotormu itu!

 

“Aku menang!” Sehun turun dari sepedanya lalu berjingkrak-jingkrak tepat di depan sebuah gedung sekolah , “kau lihat? Aku bisa menang darimu, yeah walaupun curang sih hahahaha” ,Ia tertawa sendiri oleh omongannya yang padahal menurutku sama sekali tidak lucu.

 

Aku tidak merespon omongannya dan masih sibuk menetralisir warna wajahku agar kembali seperti biasa,sampai telapak tangan Ri Ah tiba-tiba menyentuh keningku “Kai, kenapa kau diam saja? Kau sakit?”

 

Seperti tersengat arus listrik ,aku reflek menampar tangannya dan mundur selangkah. Membuat Sehun dan Ri Ah menatapku bingung. “Kai, kau kenapa? Mukamu merah.”

 

Aku berjengit lalu langsung menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku yang besar. “Su-sudah, jangan melihatku seperti itu.”

 

Sehun dan Ri Ah berpandangan,lalu mengangkat bahu tidak peduli. “Yasudah, kalau begitu ayo kita masuk ke kelas sebelum Young Wook saem membunuh kita.”

 

Kedua insan itu langsung memasuki area sekolah seolah tidak terjadi apa-apa. Meninggalkanku yang masih berdiri dengan wajah semerah tomat.

 

***

 

Aku sudah mengenal Sehun hampir seumur hidupku. Kami lahir dihari yang sama, bulan yang sama, bahkan ditangan bidan yang sama. Mungkin karena efek ‘kesamaan’ itulah kami menjadi sahabat yang tidak terpisahkan.

 

Orang lain selalu melihat kami bagaikan dua kubu yang berbeda. Sehun merupakan pemuda impian semua orang tua dimuka bumi. Mata one-eyelid miliknya selalu berhasil membuat wajahnya seakan selalu terlihat tersenyum. Nada bicaranya sangat teratur. Jarang sekali –atau bahkan tidak pernah- aku mendengarnya berteriak ataupun mengumpat. Berada didekatnya saja sudah mampu membuat perasaan terasa tenang.

 

Berbeda denganku. Aku-Kim Jong In alias Kai adalah pemuda paling bersemangat dan bengal di desa ini. Tapi jangan mengartikan kata ‘bengal’ ini sebagai sesuatu yang negatif ya. Dikatakan bengal karena aku hobi berlomba balap sepeda yang sering disalah artikan oleh warga disini. Mereka beranggapan kalau aku suka mencelakai diri sendiri. Huh, dasar kuno.

 

Tapi perbedaan itulah yang membuat kami dekat. Selalu bersama dan saling membutuhkan.

 

Semuanya berjalan seperti biasa,sampai seorang gadis masuk diantaranya.

 

Nama gadis itu Amelia Salisbury. Kami berdua biasanya memanggilnya dengan panggilan Ri Ah. Dikarenakan aksen busan kami yang kental, susah rasanya menyebut nama barat seperti itu. Bukannya A-Me-Li-A, kami malah menyebut namanya dengan Ah-Meey-Ri-Ah.

 

Gadis kelahiran meksiko itu menganggapnya aneh. Karena itulah ia meminta kami memanggilnya dengan Ri Ah saja.

 

Sekarang aku dan Sehun bukan lagi berdua,melainkan bertiga dengan hadirnya Ri Ah.

 

Aku tidak keberatan. Hadirnya Ri Ah mewarnai hubungan persahabatan kami, setidaknya sampai hari itu terjadi.

 

Di desa kecil seperti ini, jangan harap kau akan menemukan gedung pencangkar langit ataupun departement store. Yang ada hanyalah mini market yang terdapat diujung jalan dan stasiun kereta yang sudah lama tidak beroperasi.

 

Warga disini lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bersantai di teras rumah sambil menikmati secangkir teh ginseng hangat ataupun berjalan-jalan dengan anjing mereka daripada menghambur-hamburkan uang seperti yang biasa dilakukan oleh orang kota.

 

Tidak seperti remaja biasa yang menghabiskan waktu luangnya untuk..hmmm…apa ya namanya, oh iya, orang kota menyebutnya clubbing, kami bertiga malah menghabiskan waktu luang sepenuhnya di pantai.

Kami sering menebak arah angin, menghitung jumlah bintang, menerka bentuk awan, kegiatan yang sederhana, namun terasa menyenangkan karena dilakukan bersama.

Saat itu kami berjanji pergi ke pantai itu lagi untuk menebak gugus bintang apa yang akan dilukis langit pada malam itu.

Acara itu hampir batal saat aku dan Ri Ah tiba di depan pintu rumah Sehun dan menemukan pemuda berambut cokelat itu muncul dengan wajahnya yang sangat pucat dan kompres menempel pada dahinya.

 

Demam, katanya. Kalian pergilah tanpa aku.

 

Ri Ah sudah berniat untuk merawatnya tapi Sehun menolaknya dengan halus. Karena itulah kami disini. Menghempaskan tubuh di atas pasir putih sambil menatap ribuan bintang yang menghiasi malam.

 

Sudah dua puluh menit kami berbaring tapi tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir masing-masing. Lebih memilih menikmati pemandangan malam dengan kesunyian yang mendominasi.

 

Merasa mulai bosan dengan keheningan ini aku menoleh pada gadis yang sedang berbaring disebelahku.

 

Gadis itu terlihat sedang memejamkan kedua matanya, sepertinya ia ketiduran. Butiran pasir menempel di kedua pipinya yang pucat. Rambut merahnya yang panjang membingkai wajahnya yang disinari cahaya bulan.

 

Tanpa kusadari tangan kananku terangkat. Menelusuri setiap inci wajahnya dengan lembut.

 

Gadis ini sebenarnya tidak begitu cantik. Kulitnya pucat, dengan bintik-bintik merah menghiasi pipinya. Bentuk matanya kurang proporsional. Walaupun badannya ideal, bahunya agak sedikit lebar karena terlalu sering berenang. Rambut merahnya yang panjang menyentuh pinggang. Mengingatkanku pada tokoh komik Red Haired Anne.

 

Saat jariku masih asyik menari diatas wajahnya tiba-tiba kedua kelopak mata gadis itu terbuka. Membuatku terkejut dan reflek menarik kembali tangan kananku. “Kai, lihat keatas!” tiba-tiba gadis itu berdiri ,satu tangannya menunjuk angkasa ,“Ada bintang jatuh!”

 

Aku mengikuti gerakannya dan ikut menengadah keatas. Sebuah bintang yang paling bersinar diantara yang lain tiba-tiba terjatuh. Seakan terlepas dari genggaman sang langit dan akhirnya jatuh ke bumi.

 

“Cepat buat permohonan!” Ri Ah menyelipkan jari-jarinya ke dalam genggamanku lalu menundukan kepala. Matanya terpejam dan mulutnya berkomat-kamit seperti sedang mengucapkan doa, “Selesai!”

 

Gadis itu mendongakan kepalanya ,menoleh padaku lalu tersenyum manis. Bola matanya yang lebih biru dari samudra manapun menatap manik mataku dengan lembut. Sinar rembulan jatuh tepat diatas wajahnya yang pucat. Dimataku ia terlihat seperti malaikat.

 

Cantik.

 

“Permohonanku agar kita bertiga bisa lulus dengan nilai terbaik.” gadis itu tertawa pelan. Ia menyelipkan rambut panjangnya yang tertiup angin malam dibelakang telinga lalu bertanya padaku, “Kai, apa keinginan terbesarmu?”

 

Suaranya yang lembut menimbulkan sebuah perasaan aneh yang masuk ke relung hatiku. Perasaan asing yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.

 

Gadis itu memiringkan kepalanya ,menunggu jawabanku. Senyum indah itu seakan tidak pernah hilang dari wajahnya.

 

Aku mengeratkan genggaman tanganku dengan hangat. Berusaha menjawab pertanyaannya dengan menyuguhkan senyum terbaik yang pernah aku tunjukan.

 

Aku ingin memilikimu.

~BETWEEN FRIENDS~

Beast: “I want to do something for her.” | Cogsworth: “Well, there’s the usual: flowers, chocolates, promises you don’t intend to keep.”

 

 

Hari ini aku bangun setengah jam lebih pagi dari biasanya. Setelah membersihkan diri aku mengayuhkan sepedaku menuju apartemen Ri Ah ditemani oleh Sehun. Sebenarnya ini kegiatan yang biasa kami lakukan. Menghabiskan waktu libur di salah satu rumah kami lalu bermain sampai malam. Tapi hari ini ada yang spesial.

 

Aku berniat memberikan sepiring Guacamole untuk gadis itu.

 

Guacamole adalah sebuah hidangan khas Meksiko yang terbuat dari alpukat yang sudah dihaluskan, dicampur dengan air jeruk lemon dan berbagai bumbu. Aku tidak yakin rasanya enak atau tidak tapi tidak ada salahnya mencobakan?

 

Aku masih ingat gadis itu pernah mengatakan kalau ia rindu dengan kampung halamannya itu. Karena itulah aku ingin memberikan makanan ini padanya, semoga bisa mengobati rasa rindunya.

 

“Siap?” Tanya Sehun saat kami sudah sampai tepat di depan pintu apartemen Ri Ah.

 

“Tunggu sebentar, aku harus siap-siap dulu!” aku merapihkan baju yang kupakai dengan tergesa. Memang baju yang kukenakan ini hanyalah kaus hitam yang biasa kupakai tapi semua orang pasti ingin selalu tampil rapih didepan orang yang disukai kan?

 

“Ah, lama!” tanpa mendengar pendapatku lagi Sehun langsung menekan bel pintu apartemen Ri Ah dan tidak sampai satu menit gadis berambut merah itu sudah muncul di depan mataku.

 

“Oh! Sehun-ah, Kai ? annyeong!” sapa Ri Ah, kaget melihat kami tiba-tiba muncul di depan pintu ,“Ada apa?”

 

A-annyeong!” kami membalas salamnya hampir bersamaan. Sehun menyikut lenganku, menyuruh agar langsung mengutarakan niatku kemari, “Ri Ah, Kai ingin memberikan sesuatu untukmu.”

 

Aku menoleh kearah Sehun dengan tampang horror. Mataku mengisyaratkan ‘Aku belum siap,bodoh!’

 

Ri Ah memiringkan kepalanya sambil tersenyum “Oya? Apa?”

 

Kedua tanganku yang tersembunyi di belakang punggung tiba-tiba bergetar. Dengan ketegangan yang tiba-tiba menjalar, tangan kananku terangkat menunjukan kotak makan berwarna merah yang sedari tadi kubawa “Aku…membuatkan Guacamole untukmu.”

 

Kedua pasang mata bermata biru itu membulat. Tangannya terangkat untuk mengambil kotak makan itu “Wahhhh….”  Ia membuka tutup kotak makan tersebut , “Muchas Gracias! (terima kasih)”

 

Rasanya beban berat yang sedari tadi hinggap di punggungku hilang. Aku menghela nafas lega. Tanganku yang tadi bergetar sudah kembali seperti biasa. Aku tersenyum pada gadis itu “De Nada (sama-sama).

 

“Coba kau cicipi, enak tidak?” Sehun yang sedari tadi berdiri di belakang punggungku tiba-tiba nyeletuk.

 

Aku kembali menoleh kearahnya dengan tampang horor ‘Bodoh! Kalau tidak enak bagaimana?’

 

Ri Ah memiringkan kepalanya, lalu mengangguk “Benar juga.” dengan perlahan ia mengambil sendok yang sudah tersedia di dalam kotak makan itu, menyendok sedikit Guacamole lalu memasukannya kedalam mulut.

 

Jantungku berdebar keras. Seiring pipinya yang naik turun akibat mengunyah makanan, tanganku kembali bergetar.

 

Gadis itu menelan kunyahannya. Wajahnya terlihat seperti sedang menimang-nimang “Rasanya aneh. Alpukatnya terlalu manis dan air lemonnya terasa kecut.” mendengarnya bicara seperti itu bahuku langsung merosot. Tapi seketika seulas senyum terlukis di wajahnya, lalu ia berkata ,“Tapi karena kamu yang buat…rasanya terasa enak!”

 

Aku ingin melompat!

 

-TBC-

 

Gimana? Kurang greget? Ya aku tau karena sebenernya ini adalah ff oneshoot tapi karena ternyata pas aku cek lagi ff ini lebih dari 35 halaman makanya aku potong-potong hehe ^^.

Hmmm….. Kai memberi hadiah untuk Ri Ah? Kira-kira tanggapan sehun gimana ya? Lalu bagaimana perasaan ri ah tentang kai?

Cuma mau mengingatkan kalau ff ini pernah di publish sebelumnya di blog pribadiku hazelwine.wordpress.com ,disana juga ada ff2 bagus karya temen2ku, kalian bisa sering2 main kesana J

 

 Jangan lupa RCL yaa karena jujur aku kangen bgt sama RCL kalian :”)

 


4 thoughts on “[Freelance] Between Friends #1

  1. Kyaaa daebakkkk!!!
    Kira2 Ri ah sukanya ma sapa ya?? Kai apa sehun??
    Kai aja ya chingu pliis #maksa smbil narik2 bju author#

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s