[Freelance] Annyeong!


Author               : Amy Kamilia

Cast                   : Kim Jonghyun and Jung Soona (Readers)

Length               : One shoot

Genre                : Romance, sad

Rating               : PG-13

Description        : Aku berharap takdir mempertemukan kita kembali .. ..

Dipublish juga di : http://shininginspiritfanfiction.wordpress.com/

Annyeong!

Yeoja itu! Ia hanya duduk manis di sebuah kursi taman rumah sakit yang tengah ramai oleh pasien – pasien lainnya untuk menghirup udara segar di pagi hari. Pandangannya menatap lurus, tak tahu apa yang dilihatnya. Apa yeoja itu sedang melamun? Entahlah, karena ia tidak merasa terganggu ataupun dipusingkan dengan orang – orang yang berlalu – lalang di hadapannya. Malah sepertinya ia tak menganggap mereka semua ada. Baginya ia hanya seorang diri.

“Tidak pantas jika yeoja cantik sepertimu duduk sendirian.” Suara lembut seorang namja menghampiri yeoja itu. Yeoja itu menoleh ke arah sumber suara itu. “Bolehkah aku menemanimu disini?” tanya namja itu.

“Hmm .. ne~” jawab yeoja itu tersenyum karena kini ia tidak merasa sendirian lagi.

Joneun Dino imnida.” Namja itu mengulurkan tangannya,

“Jung Soona imnida.” namun yeoja itu tidak membalas uluran tangan itu. “Kau bukan orang Korea ya? Tapi bahasa Korea-mu lancar sekali?”

“Oh, aku orang Korea, hanya saja namaku yang seperti itu. Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa namaku seperti itu, hhe ..” ucap Dino. “Apa yang sedang kau lakukan disini?”

“Hmm .. aku tidak tahu, eomma yang membawaku kemari. Kalau kau?” tanya Soona.

“Melihatmu.” Soona tertegun mendengar ucapan Dino. Tangannya mengepal keras di atas kedua pahanya. “Aku pernah melihatmu dua kali duduk disini dan aku berjanji pada diriku sendiri, jika aku melihatmu untuk yang ketiga kalinya, maka aku akan menghampirimu. Maka dari itu aku disini.” Jelas Dino.

“Omm .. gomawo! Senang berkenalan denganmu.”

***

Namja itu menjalankan kursi rodanya dengan kedua tangannya. Ia terlihat tergesa – gesa. Tak sabar untuk bertemu dengan yeoja yang berhasil membuat hari – hari di rumah sakit menjadi lebih menyenangkan. Semenjak ia mengenal senyuman itu, dunianya berubah. Akhirnya kursi roda itu berhenti di depan sebuah pintu bertulisakan angka 501 di atasnya.

Annyeong Soona! Bolehkah aku masuk?” tanyanya ketika ia membuka pintu.

“Oh, annyeong Dino! Ne~ masuk saja.”

Dino mendorong kursi rodanya mendekati Soona yang sedang duduk di atas ranjang. Seperti biasanya, tatapan matanya kosong namun senyuman itu tetap terlukis indah di bibirnya. Tangan Dino menggenggam tangan Soona lembut.

“Apa yang membawamu kemari?” tanya Soona.

“Aku tidak melihatmu duduk di kursi taman, maka dari itu aku memutuskan untuk kemari.” Soona hanya menganggukkan kepalanya, tanda ia mengerti. “Mengapa kau tidak ke taman?” kini giliran Dino yang bertanya.

“Tidak ada yang membawaku ke taman. Eomma sedang pulang ke rumah, ia bilang ada urusan yang harus dikerjakan. Lagipula, aku tak mengerti mengapa aku selalu di bawa ke taman? Aku’kan tidak bisa melihat apa – apa.”

“Tapi kau bisa merasakannya. Merasakan apa yang ada di sekitarmu.”

Dino melihatnya! Raut wajah Soona berubah seketika. Senyumannya memudar digantikan dengan sendu. Tes! Satu tetes air mata berhasil meluncur di pipinya, namun segera ia menyeka air mata itu dan mencoba untuk tersenyum kembali.

“Hmm .. bolehkah aku meraba wajahmu? Aku ingin mengenalimu.” Pinta Soona.

Tanpa ada jawaban dari Dino, Dino langsung meraih kedua tangan Soona dan menuntunnya untuk menyusuri setiap lekuk wajahnya. Tangan mungil itu menyentuh wajahnya dengan perlahan. Entahlah, perasaan aneh mulai menyusup ke dalam benaknya seiring dengan sentuhan tangan Soona. Seandainya saja Soona dapat melihat, apa Dino akan terus melihat senyuman itu? Jika jawabannya iya, Dino sangat ingin mata itu dapat melihat lagi. Melihat indahnya dunia. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Dino memejamkan kedua matanya, berharap menemukan jawaban itu di dalam pikirannya. Namun hasilnya kosong! Yang ada, air keluar dari sudut matanya.

“Kau menangis?” pertanyaan Soona membuyarkan lamunannya. Soona segera menarik tangannya, menjauh dari wajah Dino.

AAniyo! Aku berkeringat.” Elak Dino sambil menyeka air itu dari pipinya.

Keure? Hmm .. sepertinya kau memiliki wajah yang bisa memikat para yeoja. Berarti kau juga playboy. Betul tidak?” terka Soona.

“Menurutmu begitu? Pernyataan pertama mungkin benar, tapi aku tidak playboy!” Dino menyentuh puncak kepala Soona dan mengusapnya lembut. “Apa kau termasuk salah satu dari yeoja­ – yeoja itu?” tanya Dino jahil. Dino memperhatikan pipi Soona yang merona merah. “Neomu kyeopta~” Kemudian Dino mulai bersenandung sebuah lagu untuk Soona.

… …

Namani hal su itneun jakeun sunmooleul

Kkok negae jugo shipeo jigeum dalryeoga gobaek.halgeoya

 

Hamkkae hago shipeun game jongil hago shipeunde

Neon nae mameul moreuneun geoni

Oneulun kkok dan hana neega haengbokhagae

Kkamjjak nollan mankeum nae sarangeul soksakil geoya … …”

(SHINee – Your Name)

***

Seperti biasanya, Soona sudah duduk manis di kursi taman rumah sakit. Kemarin malam, Dino memintanya untuk menunggunya di taman. Entahlah, apa yang Dino inginkan. Semenjak Soona mengenal Dino, ia tak pernah merasa kesepian lagi. Dino selalu menemani hari – harinya di rumah sakit. Baginya, Dino adalah secerca cahaya yang bersinar terang ditengah gelap gulita.

Mian, telah membuatmu menunggu lama.” Suara itu terdengar khas di telinganya.

Soona merasakan seseorang telah duduk di sampingnya. Tangan Soona menyentuh paha orang itu, “Kau sudah tidak menggunakan kursi roda lagi, Dino?” tanya Soona.

Ne~ sekarang aku belajar menggunakan tongkat.” Balas Dino. “Oh ya, apa kau sudah mendapatkan donor kornea mata?”

Molla, dokter tidak mengatakan apapun. Sepertinya belum. Kau tahu? Tak akan ada yang mau memberikan keindahan untuk melihat dunia hanya untuk orang sepertiku.”

“Siapa bilang? Aku mau mendonorkan korneaku untukmu.”

Mendengar perkataan Dino, membuat Soona terdiam. Itu tidak mungkin! Itu tidak akan terjadi! “Kau sedang tidak bercanda bukan?” Soona ingin memastikan perkataan Dino.

“Hahahahahahaha .. ..” Dino malah tertawa dengan suara tawa yang seperti sedang dibuat – buat. “Aku telat menemuimu, karena aku menyiapkan ini.” Dino memberikan sebuah benda kecil yang ukurannya bisa digenggam oleh tangan. Benda elektronik? Kemudian ia memasangkan headphone ke telinga Soona.

“Apa ini?”

“Ini iPod. Coba dengarkan ini …” Dino menekankan sebuah tombol di iPod tersebut kemudian sebuah lagu mulai mengalun lembut di telinga Soona.

“… …

Geure geurotge nega noye sarami dwen-goya

Motnatdon nechuok deuri ijen giokjocha anna

Nareul kkokjapeun soni bomchorom ttatteuthaseo

 

Ije kkumchorom nemameun geode gyote gamanhi momcwosoyo

Hansunhan-gan do kkeji anneun kket omneun kkumeul kkwoyo

 

Ije sumchorom ne gyote hangsang swimyo geurotge issojumyon

Nothing better nothing better than you

Nothing better nothing better than you ..”

(Kim Jonghyun Ver. – Nothing Better)

“Apa lagu ini kau yang menyanyikannya Dino?” tak ada jawaban. “Dino?” tetap tak ada jawaban. “Dino?” panggil Soona lagi. Sampai akhirnya ia sadar bahwa Dino tak lagi duduk di sampingnya.

“Aku harap dengan lagu ini, kau akan selalu mengingatku. Dan jika kau merindukanku .. dengarkanlah lagu ini, percayalah aku akan ada di sampingmu. Sampai jumpa lagi .. Aku berharap takdir mempertemukan kita kembali .. .. ..”

Apa maksud kata – kata Dino diakhir rekaman lagu itu? Dipertemukan kembali oleh takdir? Dino pergi? Dino telah pergi meninggalkannya? Mata Soona mulai terasa panas. Merasakan sebuah bendungan air di kelopak matanya yang bisa pecah kapan saja.

“Aku mohon, jangan kau lakukan itu untukku ..” rintih Soona bersamaan dengan jatuhnya tetesan air mata yang pertama.

“Soona~” suara lembut panggilan eomma terdengar di telinganya. “Dokter bilang, ia sudah menemukan donor kornea mata untukmu.”

MWO?” pekik Soona kaget dan membuat tetesan air mata yang lainnya jatuh semakin deras membasahi pipinya.

***

2 bulan kemudian …

Di sebuah kantin universitas terlihat penuh dan bising. Kebanyakkan mahasiswa sibuk mengisi perutnya sebelum kelas kembali dimulai. Namun berbeda halnya dengan mahasiswa yang sedang duduk di salah satu meja kantin dengan roti isi dihadapannya. Jung Soona. Kedua telinganya mendengarkan musik dari iPod kesayangannya. Hanya 1 lagu yang selalu ia dengarkan. Lagu yang mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang sangat ia rindukan. Berkat donor kornea yang ia dapat, kini ia dapat melihat dunia. Entahlah, seharusnya ia bahagia karena hal itu, namun justru ia terlihat sedih? Yah, ia kehilangan orang yang sangat berarti di dalam hidupnya.

Setelah matanya bisa berfungsi sebagaimana mestinya, ia mencoba mencari informasi tentang keberadaan Dino dari pihak rumah sakit. Namun anehnya tidak pernah ada pasien yang bernama Dino di rumah sakit itu. Bagaimana bisa? Bukankah Dino pun dirawat di rumah sakit itu? Berulang kali ia meminta resepsionis rumah sakit untuk memeriksa data pasien yang di rawat di rumah sakit dan hasilnya tetap sama. Tidak ada! Tiba – tiba saja rasa penasaran itu menghampirinya. Ia meminta daftar nama pendonor kornea di rumah sakit itu. Dan apa yang ia lihat? Nama itu terdaftar disana …

Berhari – hari ia terlarut dalam kesedihan. Dan berulang – ulang kali pula kalimat itu selalu terngiang – ngiang di dalam pikirannya. “Lebih baik aku tidak bisa melihat daripada aku bisa melihat, tapi aku tidak bisa melihatmu .. ..” Namun ia juga tahu, ia tidak bisa seperti ini terus. Ia harus memanfaatkan mata ini. Ia tidak ingin pengobanan Dino sia – sia. Dan alhasil ia berada di universitas ini. Menjadi seorang mahasiswa baru.

“Soona~” seseorang menguncang – guncangkan lengan Soona. “Minggu ini temani aku datang ke fan meeting SHINee. Ya, ya, ya, ya ..” pinta Hyesoo. Hyesoo adalah teman pertamanya di universitas ini. “Aku sudah membeli 2 tiket.” Hyesoo menunjukkan tiket itu ke hadapan Soona. Soona melepas headphone­-nya dan memperhatikan tiket itu dengan seksama. “Aku jamin, kau tidak akan menyesal datang ke fan meeting itu. Malah kau akan berterimakasih padaku karena aku telah mempertemukanmu dengan malaikat – malaikat yang tampan.”

“Aku masih ingin hidup. Aku tidak mau melihat malaikat.” Jawab Soona sekenanya.

YA! Itu hanya perumpamaan saja bodoh!” Hyesoo melayangkan jitakan ke kepala Soona. “Coba lihat ini!” Hyesoo kembali menyodorkan sebuah video di handphone­-nya. “Ini namanya SHINee beranggotakan Onew, Jonghyun, Key, Minho dan Taemin.”

Ketika lagu itu telah mencapai tengahnya, Soona mengerutkan dahinya, sepertinya ia pernah mendengar lagu ini. “Ini judul lagunya apa?” tanya Soona.

Your Name.” Binggo! Dino pernah menyanyikan lagu ini untukn Soona saat di rumah sakit. Jadi penyanyi aslinya itu SHINee. “Tuh’kan benar apa kataku, kau langsung menyukai lagunya bukan? Ini baru satu lagu milik mereka, masih banyak lagi yang lainnya dan aku yakin kau pun akan suka.” Hyesoo tersenyum lebar karena berhasil meracuni pikiran temannya dengan SHINee.

“Minggu depan, kita pergi jam berapa?”

>>>>>

Annyeong haseo, binaneun SHINee imnida!”

Seisi gedung berteriak ketika kelima namja itu memberikan senyuman terbaiknya untuk para fans. Termasuk Hyesoo! Hyesoo memang tergila – gila dengan SHINee terutama Minho. Tak henti – hentinya Hyesoo meneriakkan nama Minho sampai – sampai Soona yang berada di sampingnya harus menutup telinganya dengan kedua tangannya. Berbeda halnya dengan Soona, ia lebih tertarik dengan namja yang memiliki perawakan lebih pendek dari yang lainnya.

“Siapa nama namja itu?” tanya Soona pada Hyesoo sambil menunjuknya.

“Oh! Itu Kim Jonghyun. Suaranya bisa menghipnotis siapa saja yang mendengarnya.”

“Mereka berlima keren bukan? Aku berhasil mendapatkan kelima tanda tangan mereka.” Hyesoo tak henti – hentinya memandangi album SHINee yang kini penuh dengan tanda tangan mereka. Mereka berdua kini sedang berjalan di lorong gedung untuk pulang. “Oh ya, aku juga memintakan tanda tangan Jonghyun untukmu. Habisnya kau tidak ikut mengantri meminta tanda tangan juga sih.” Hyesoo mengulurkan note kecil yang selalu dibawanya kemana – mana.

Gomawo.” Soona mengambil note itu dan memperhatikan tinta hitam yang telah menodai kertas putih itu. Kim Jonghyun! Baiklah, nama itu akan Soona simpan di dalam memori ingatannya. Suara Jonghyun itu … entahlah, mungkin telinga sedang bemasalah atau mungkin karena ia terlalu merindukan orang itu hingga berhalusinasi berlebihan.

Ketika mereka berdua sampai di pintu depan gedung, Soona meminta izin untuk ke kamar kecil dulu. Jadi Soona kembali masuk ke dalam gedung dan Hyesoo menunggunya di depan. Berjalan dengan tergesa – gesa, karena ia sudah tidak tahan untuk ke kamar kecil. Bahkan langkahnya kini setengah berlari. Diluar dugaan, Soona menabrak seseorang yang membuat tubuhnya oleng. Terjatuh dan membuat note yang berada di genggaman tangannya terlempar jauh.

Soona segera berdiri dan membungkukkan badannya “Mianhae, jeongmal mianhae ..

Gwaenchana ..” Soona mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang ditabraknya. Ya ampun! Kim Jonghyun! “Ini punyamu?” Jonghyun memungut note yang terjatuh di lantai.

Ne. gomawoyo ..” Soona mengambil note itu dari tangan Jonghyun.

Namun setelah note itu berpindah tangan ke tangan Soona, Jonghyun malah menggenggam pergelangan tangannya. Dan akhirnya kedua mata itu pun bertemu. Aneh! Sentuhan itu … suara itu … Bagai serihan – serpihan kaca, memori ingatan Soona mulai tersusun kembali. Matanya membulat tak percaya begitu serpihan memori itu berhasil bersatu kembali. Soona menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang kering.

“Di—Dino?” itulah satu kata yang terucap dari bibir Soona.

Annyeong Soona .. kita bertemu lagi ..”

THE END^^

Ditunggu kritik dan sarannya J


6 thoughts on “[Freelance] Annyeong!

  1. Keren thorr !!! Loh kok jonghyun/dino bisa ngeliat ? Trus siapa dong yg nyumbangin kornea mata buat soona ? Perjelas dong thorr …. Tpi daebak lah thorr hehehee

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s