[Freelance] My Heart


My heart

author : Elfishysparkyu

cast : Im Yoona, Jessica Jung, Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun

genre : oneshoot, sad

rating : PG 13

note : kalo biasanya aku bikin ff yang romantis, manis, happy ending, jangan harap menemukannya disini… kali ini aku akan menjungkirbalikkan hati pyro dan icefishy, siap-siap yahhh…

My heart

Padamu akan kutitipkan hatiku..

“Siapa namamu gadis kecil? Dimana orangtuamu?” Yoona menekuk kedua lututnya. Menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan gadis mungil di depannya yang tengah terdiam murung. Sungguh tidak tega melihatnya.

Gadis itu mendongak, matanya teduh memancarkan kedamaian. Seulas senyum seketika terlukis manis.

“Siapa namamu?” ulang Yoona lagi.

“Hana, Lee Hana. Ahjumma, kau cantik sekali.”

Yoona tersenyum kecil. “Kau juga sangat cantik. Berapa usiamu?” tanyanya.

“Tujuh tahun.”

“Kau sendirian? Dimana orangtuamu?”

“Eomma memintaku menunggu disini sebentar. Tapi kenapa lama sekali ya ahjumma?”

Yoona lekas mengusap kepala gadis itu pelan. “Eommamu sebentar lagi pasti datang sayang. Biar ahjumma yang menemanimu disini ya?”

Hana seketika mengangguk, anak yang sangat manis. Yoona tersenyum sendiri. Melihat gadis ini seakan melihat cermin dirinya saat kecil. Dan juga mata Hana sekilas mengingatkannya pada seseorang. Yoona lekas menggeleng menepis pikirannya itu.

“Eomma…….” teriakan ceria Hana kontan membuat Yoona ikut mendongak.

Sesosok wanita cantik tengah melangkah anggun. Sosok yang membuat Yoona seketika ikut tersenyum lebar. Sedikit tidak menyangka dan tidak percaya. Bukan karena ia ikut senang ibunya Hana telah datang. Tapi karena ia kenal betul wanita itu.

“Sica onnie..” ucapnya pelan.

Cukup bagi Jessica untuk menghentikan tapakan kakinya. Pandangannya nanar, ia membatu seketika. Im Yoona? Ini nyatakah?

“Eomma.” gelayutan manja Hana pada tangannya baru membuat Jessica tersadar. Masih terasa mimpi ia tersenyum getir. “Yoona..” ucapnya kelu.

Seulas senyum langsung terukir di bibir Yoona. Tanpa pikir panjang ia segera berhambur memeluk Jessica. Menumpahkan kerinduan pada sosok sahabat lama. Sementara Jessica hanya sanggup mematung kaku. Pandangannya semakin nanar menatap Yoona dan Hana bergantian.

* * * * *

Sebuah cafetaria tengah kota Seoul yang ramai. Dua orang wanita dan seorang gadis kecil tengah menikmati makan siangnya. Memilih duduk di pojokan sambil menikmati pemandangan luar.

“Aku kira kau masih di Jepang. Kapan kau datang?” tanya Jessica akhirnya. Setelah sibuk menata hatinya kini ia baru siap untuk bicara.

“Ini hari ketigaku di Seoul. Ada pekerjaan yang mengharuskanku kembali ke negara ini. Setelah tujuh tahun banyak sekali yang berubah ya onnie?” Yoona masih saja asyik menyuapkan makan siang ke mulutnya.

Jessica tersenyum tipis. “Tapi kau tidak berubah.”

“Hahaha, tentu saja onnie. Justru kaulah yang berubah. Ternyata kau sudah menikah dan punya seorang malaikat kecil. Ah iya, siapa suamimu?”

Lidah Jessica seketika kelu. Terus melirik Hana yang tengah menikmati puding strawberrynya.

Dan Yoona ikut melakukan hal yang sama. Turut menatap lekat Hana hingga ia menyimpulkan sesuatu. “Onnie.. Tidak mungkin kan?” desisnya tertahan.

Segera ia beralih memandang Jessica tajam. “Putrimu Lee Hana kan? Lee? Lee Donghae?” ucapnya bergetar.

Jessica tetap membisu pedih. Membiarkan Yoona melanglangbuana dalam pemikirannya.

“Benarkan onnie? Matanya mirip sekali.” lanjut Yoona lagi.

“Ne.” jawab Jessica lemas.

Yoona pun tak kalah lemas. Sebuah kenyataan yang tak pernah ia duga. Donghae, orang yang tak bisa lepas begitu saja dari drama kehidupannya. Kehidupan masa lalu yang ia kubur dalam-dalam selama tujuh tahun. Kehidupan masa lalu yang ia lupakan dengan melarikan diri ke Tokyo. Dan sekarang saat ia kembali ke Seoul, namja itu telah menikah dengan sahabat baiknya. Jessica, salah satu orang yang menjadi saksi kisah kasihnya bersama Donghae dulu. Tapi sedikit aneh, sejak kapan mereka menikah? Dan gadis kecil ini?? Yoona terus memandang Hana semakin dalam.

“Aku sungguh tidak menyangka onnie.” bisik Yoona lirih. “Tujuh tahun aku pergi dan kau sudah punya putri berumur tujuh tahun? Kapan kalian menikah?”

Jessica semakin menunduk. Terlalu takut untuk sekedar menatap mata Yoona.

“Hana sangat mirip denganku.” imbuh Yoona lagi.

Dan Jessica sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya. Satu tetes airmata mengalir damai dari pelupuk matanya.

Merasa ada yang janggal, Yoona berganti menatap lekat Jessica. Mungkinkah kata hatinya benar? “Sica onnie, apa dia putriku?” tanyanya terbata.

Butuh waktu beberapa detik sampai Jessica mengangguk pedih. Hanya itu yang mampu ia lakukan.

Airmata Yoona seketika mengalir tanpa instruksi. Ia membekap mulutnya agar isakannya tak terdengar. “Jadi dia masih hidup? Jadi dia tidak meninggal saat kulahirkan?” tanyanya.

Lagi-lagi anggukan Jessica semakin membuat tangisan Yoona membuncah. Ia lekas mendekap erat Hana tak peduli gadis kecil itu tampak bingung. Dan Jessica, tentu saja hanya bisa membiarkannya.

* * * * *

“Oppa, apa kau yakin tujuh tahun lalu bayiku meninggal saat kulahirkan?” tanya Yoona lantang. Matanya menatap tajam Kyuhyun meminta penjelasan.

Kyuhyun yang tengah membaca koran seketika bergetar seluruh tubuhnya. Lekas ia taruh koran dari tangannya. “Kau ini bicara apa Yoona-ya?” ia mengekeh pelan, menyembunyikan kegundahan yang terselip dalam batinnya.

Yoona hanya mencibir sinis. “Hana, kemarilah.” panggilnya.

Sesosok gadis kecil melangkah takut-takut dari balik pintu. Terus menunduk pada situasi yang dirasanya asing. Ia lekas menggenggam erat tangan Yoona karena dengan begitu ia menemukan kenyamanan disana.

“Siapa anak ini?” tanya Kyuhyun terbata.

“Hana, Lee Hana.” Yoona tersenyum simpul menatap raut lembut Hana. Tapi kemudian beralih menatap Kyuhyun tajam. “Putriku.” ucapnya lantang.

“Mwo?” lagi-lagi bibir Kyuhyun bergetar. Lidahnya terlalu kelu. Ia hanya mampu tertegun membisu.

“Kenapa kau menyembunyikan kenyataan ini dariku oppa? Kenapa kau bilang anakku meninggal saat kulahirkan padahal kenyataannya dia masih hidup? Tujuh tahun oppa, tujuh tahun aku terpisah darinya. Kenapa kau tega sekali memutuskan pertalian darah diantara kami?” Yoona terus saja memekik menumpahkan gemuruh dadanya.

Sementara Kyuhyun hanya sanggup membisu nanar.

“Kyuhyun oppa, aku sungguh tidak menyangka kau bisa berbuat sejahat ini.”

“Ahjumma, jangan bertengkar dengan ahjussi.” gumaman pelan Hana itu barulah membuat Yoona tersadar. Ia segera memeluk dan mengusap lembut kepala Hana. “Tidak sayang.” ia tahu putri mungilnya pasti ketakutan akan sikapnya tadi.

Dan tertatih Kyuhyun perlahan menghampiri mereka. Ia memandang sosok mungil Hana takjub. Persis seperti Yoona waktu kecil meski tidak bisa dipungkiri bahwa mata gadis itu sangat mirip appanya.

“Mianhae Yoona-ya. Saat itu aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya mengikuti perintah appa.” ucap Kyuhyun akhirnya.

Yoona tetap membatu, lebih memilih membelai lembut rambut Hana.

“Aku tahu kesalahanku sangat fatal. Saat itu aku sudah berusaha mati-matian membujuk appa tapi hasilnya nihil. Appa menyuruhku membuang bayimu ke panti asuhan tapi aku membawanya pada Lee Donghae. Kupikir jauh lebih baik kalau dia berada dalam asuhan appanya.” lanjut Kyuhyun lagi.

“Lalu setelah appa meninggal, kenapa kau tetap tidak memberitahuku kenyataan ini Kyuhyun oppa?”

“Aku hanya tidak ingin membuka luka masa lalumu. Mianhae Yoona-ya, maafkanlah aku. Aku akan berusaha menebus semua kesalahanmu. Kau boleh melakukan apapun untuk meraih kebahagiaanmu kembali. Bersama putrimu, bersama Donghae.”

“Terlambat.” desis Yoona getir. “Apa kau tidak dengar tadi oppa? Hana memanggilku ahjumma dan justru memanggil eomma pada orang lain.”

“Maksudmu Donghae sudah menikah?”

Yoona mengangguk lemah. Membuat Kyuhyun lekas bersimpuh dan merengkuh adik kesayangannya itu.

“Mianhae.” bisiknya. Meski seribu kali mengatakannya pun rasanya belum mampu untuk menghapus semua kesalahannya. Dan tidak akan bisa mengubah apapun yang telah terjadi.

* * * * *

“Ahjumma, namamu Yoona kan? Apa kau malaikat tanpa sayap?”

“Hem?” Yoona mengernyit bingung pada pertanyaan Hana itu. Ia lalu mengulum senyumnya. “Apa maksudmu Hana?”

“Kata appa, Yoona adalah malaikat tanpa sayap.” jawab Hana polos.

“Appamu yang bilang seperti itu?”

Hana mengangguk. “Ne, dulu setiap aku mau tidur appa selalu mendongeng tentang malaikat tanpa sayap. Saat aku tanya siapa namanya, appa bilang Yoona.”

Yoona mengekeh pelan. “Apa sekarang appamu masih bercerita tentang malaikat itu?”

Hana menggeleng kecewa.

“Tidak apa-apa. Kita tunggu eommamu disini saja ya Hana? Sebentar lagi eommamu akan menjemputmu.” pinta Yoona. Ia segera menuntun Hana untuk duduk di bangku taman.

Jemari lentik gadis itu terus memainkan ujung rambutnya. Membuat Yoona gemas sendiri melihatnya.

“Lee Hana.” panggilan pelan itu kontan membuat mereka mendongak.

Deg. Jantung Yoona seakan melompat dari tempatnya. Nafasnya tercekat sesaat.

“Appa…..”

Bahkan teriakan Hana itu tidak ia pedulikan. Sampai Hana beranjak dari sisinya dan beralih pada sosok disana, Yoona pun masih mematung.

“Appa, aku bertemu ahjumma malaikat tak bersayap.” celoteh Hana.

Tapi Donghae tetap terdiam tak kalah kelu dari Yoona. Mata teduhnya terus memandang sayu pada sosok dihadapannya. Orang yang sejujurnya masih sangat ia rindukan. Orang yang tujuh tahun lalu harus terpisah darinya karena permainan takdir.

“Im Yoona, kau darimana saja?” tanya Donghae akhirnya. Ia tersenyum miris seiring rasa yang menyesaki dadanya. Terlalu bingung harus bersikap bagaimana? Ada rasa rindu membuncah yang tak sanggup ia luapkan.

Mata Yoona lekas terpejam pedih. Ingin sekali berlari ke dalam rengkuhan Donghae tapi apa daya keadaan tak lagi sama.

“Appa kenal Yoona ahjumma? Jadi benar Yoona ahjumma adalah malaikat tanpa sayap yang appa ceritakan?”

Donghae lekas menuduk dan mengusap kepala Hana pelan. “Ikutlah dengan eomma ya sayang.” pintanya. Ia melirik Jessica yang berdiri kaku agak jauh di belakangnya.

Jessica yang tahu segera melangkah mendekat dan mengambil alih Hana. Ia segera menuntun gadis kecil itu menjauh. Dan sebuah senyuman perih sempat tersungging dibibirnya.

Ya Tuhan, hati Yoona semakin teriris sakit. Melihat ia, Hana, Donghae dan juga Jessica. Sandiwara apa yang tengah ia mainkan ini?

* * * * *

Seoul yang mendung segelap hati dua insan yang saling terdiam pilu. Donghae dan Yoona, keputusan bicara berdua rasanya salah. Karena mereka sejak tadi hanya membisu tanpa terucap sepatahkatapun.

Tujuh tahun berlalu rasanya belum mampu menghapus segala cerita cinta yang pernah mereka torehkan. Cinta yang terasa belum terkikis sempurna. Rasa rindu yang masih saja menguasai jiwa.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Yoona pelan. Matanya bahkan tak mampu untuk sekedar melirik manusia disampingnya.

“Baik, kau sendiri?” Donghae pun menjawabnya tak kalah hampa.

“Seperti yang kau lihat.”

“Mianhae.” Donghae bergumam lirih. “Maaf untuk semua yang pernah terjadi.”

“Untuk apa kau minta maaf? Kau tidak salah, aku juga tidak salah. Semua yang terjadi lebih karena takdir Tuhan lewat keegoisan appa.”

Donghae mengangguk. “Bagaimana kabar ayahmu?”

“Sudah meninggal dua tahun lalu.”

“Maaf.” sesal Donghae.

“Tidak apa-apa.” Yoona menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. “Mengenai Hana..” ucapnya tertahan.

“Ne, putri kita.” potong Donghae cepat. “Dia sangat mirip denganmu kan?”

Yoona mengulum senyumnya. “Aku bahkan tidak tahu kalau aku punya putri kecil yang sangat cantik. Bertahun-tahun aku seperti orang bodoh yang mengira anakku meninggal saat kulahirkan.”

“Justru akulah yang bodoh. Aku tidak tahu kau hamil sampai Kyuhyun membawa padaku seorang bayi mungil.” Donghae menerawang kemudian mendesah pelan. “Kau pasti sangat menderita.”

“Segala penderitaanku rasanya sirna saat aku melihat wajah Hana. Sayangnya dia tidak bisa memanggil eomma padaku.”

“Sica memang yang membantuku merawat Hana saat bayi. Akhirnya aku putuskan menikah dengannya karena Hana butuh sosok ibu. Maaf kalau itu menyakitimu.”

“Anio, aku tidak apa-apa. Sica onnie sahabat baikku, tentu aku percaya padanya.”

“Dan kau belum menikah?” tanya Donghae hati-hati. Rasanya terlalu lancang menanyakan ini.

Yoona hanya tersenyum kecut. “Aku sudah bercerai. Kami menikah karena perjodohan. Tapi sekarang aku berteman baik dengan mantan suamiku itu. Dia temannya Kyuhyun oppa.”

Sedikit tercengang Donghae akan penuturan Yoona. Ternyata lepas darinya pun kisah hidup Yoona begitu kelam.

Hening. Mereka kembali saling terdiam. Berusaha menyelami isi hati masing-masing tapi rasanya terlalu sulit.

“Aku ingin dekat dengan Hana.” pinta Yoona pelan.

“Kau boleh melakukannya kalau kau mau.”

“Benarkah?” tanya Yoona antusias.

“Tentu saja, dia juga putrimu.”

“Gomawo. Sejujurnya aku ingin dia tahu kalau aku ibu kandungnya, tapi mungkin itu terlalu egois. Tidak apa-apa, dengan hanya melihat senyumnya aku sudah bahagia.”

Donghae turut mengulum senyumnya. Melihat Yoona seperti itu juga membuatnya ikut bahagia. Karena sampai kapanpun rasa yang pernah ada tetaplah sama.

* * * * *

“Surprise….!!!!” teriakan membahana itu menyambut Yoona saat ia baru membuka pintu rumahnya. Turut serta pula Hana bersamanya.

“Kenapa kau ada di Korea?” tanya Yoona bingung.

Jonghyun lekas tersenyum kecil. “Kau tidak merindukan mantan suamimu yang tampan ini?” tanyanya setengah bercanda.

Dan Yoona juga menanggapinya dengan bercanda. “Sayang sekali tidak.” gelengnya lalu tersenyum.

“Iya, aku tahu. Aku hanya merindukan tanah kelahiranku dan juga merindukan seseorang. Sudahlah lupakan. Gadis cantik ini pasti putri kecilmu kan?” Jonghyun segera beralih lalu berjongkok di depan Hana. “Hai Lee Hana. Margaku juga Lee. Kau boleh memanggilku Jonghyun appa.”

“Anio Hana, panggil ahjussi.” potong Yoona cepat.

“Yah, kau ini.” protes Jonghyun. “Baiklah, ayo main bersama ahjussi.” ajaknya.

“Main bersama ahjussi saja.” sahut Kyuhyun tak mau kalah. Ia yang baru datang segera menuju Hana dan mengambil alih tangannya dari genggaman Yoona.

Tentu saja Jonghyun tidak terima. “Hyung, aku kan yang baru pertama kali melihat Hana. Kenapa kau merebutnya dariku?”

“Tapi Hana keponakanku.” Kyuhyun lalu membawa Hana agak menjauh dari Jonghyun dan memangkunya duduk di ujung sofa. “Keponakanku yang cantik pasti ingin bermain dengan ahjussinya yang tampan.” pamernya.

Dan Jonghyun lekas menyusul mereka. “Aku lebih tampan kan Hana?” ia tak mau kalah.

Yoona hanya menggeleng melihat tingkah dua orang itu. Dua orang dewasa tapi bersikap lebih kekanakan dari Hana.

“Hana, menurutmu antara Kyuhyun ahjussi dan Jonghyun ahjussi siapa yang lebih tampan?” tanya Kyuhyun kemudian. Ia menatap antusias Hana, begitupun dengan Jonghyun.

Hana tampak berpikir sambil menggelembung-gelembungkan pipinya. Ia lalu tersenyum lebar. “Lebih tampan appa.” ucapnya polos.

“Hahaha.” tak elak Yoona seketika tertawa mendengar jawaban Hana itu. Jawaban yang jujur menurutnya.

Sementara dua orang dewasa disamping Hana hanya bisa saling merengut.

“Yoona-ah, sampai kapan kau akan seperti ini?” tanya Kyuhyun kemudian.

“Apa maksudmu oppa?”

“Menjemput Hana lalu mengantarnya pulang lagi. Apa itu tidak menyakiti dirimu sendiri?”

Yoona terdiam, sejujurnya yang dikatakan Kyuhyun benar. Apalagi setiap saat ia harus melihat kehidupan Donghae dan Jessica. Keluarga bahagia bersama Hana yang adalah putri kandungnya. Tapi saat ini yang paling penting baginya adalah bisa bersama Hana, melihat senyumnya, mendekapnya hangat.

“Apa kau pernah berpikir untuk mengambil Hana dari Lee Donghae?” imbuh Jonghyun.

“Ne, Yoona-ah. Pasti lebih menyenangkan kalau bisa memiliki Hana seutuhnya dalam hak asuhmu.” Kyuhyun ikut menimpali.

Yoona terlihat gamang. Tidak pernah terbesit sedikitpun dalam pikirannya akan hal itu. Melihat Hana bahagia, itu sudah cukup baginya. Tapi tampaknya sekarang ia mulai bimbang.

Jauh dalam lubuk hatinya ia juga ingin Hana memanggilnya eomma. Ingin merasakan jadi seorang ibu seutuhnya. Meski ini pasti akan tidak adil bagi Donghae.

* * * * *

Hari yang mulai beranjak senja. Menyisakan matahari jingga di ufuk terbarat langit. Untuk kesekian kalinya Donghae mondar-mandir mengitari taman kecil depan rumahnya.

“Apa kau benar sudah menelepon Yoona? Kapan dia akan mengantar Hana? Kenapa mereka tidak juga datang?”

Jessica yang sejak tadi duduk tenang di teras hanya bisa menghela nafasnya pelan. “Tunggulah sebentar lagi Donghae oppa.” ucapnya. Ia tak habis pikir kenapa Donghae harus seresah ini? Karena menunggu Hana? Atau justru Yoona? Ia lekas menggeleng menepis pikirannya itu. Mengingat hubungan Donghae dan Yoona dulu rasanya wajar jika ia turut gelisah.

Benar kan, tak berapa lama sebuah black audy melaju perlahan sampai akhirnya menepi pelan. Hana turun dari sana beserta Yoona dan seorang pria asing ada dibalik kemudi.

Donghae memicingkan matanya. Awalnya ia kira Kyuhyun tapi ternyata bukan, siapa?

“Appa, eomma, tadi aku jalan-jalan bersama Yoona ahjumma dan Jonghyun ahjussi. Aku senang sekali.” Hana berlari-lari kecil menghampiri Donghae. Diikuti Yoona yang melangkah pelan dibelakangnya. Sementara Jonghyun lebih memilih untuk menunggu di mobil.

“Apa aku terlambat mengantarnya? Tadi kami pergi ke taman bermain sampai lupa waktu.” Yoona tetap berusaha bersikap sedatar mungkin. “Sica onnie, tadi baju Hana terkena es krim. Maaf aku tidak sempat menggantinya karena takut kemalaman.” ujarnya.

“Tidak apa-apa.” Jessica tersenyum tipis. Ia melirik kaos warna pink Hana yang sedikit kotor. “Hana, ayo kita ganti bajumu.” ajaknya.

Ia berniat menuntun Hana untuk masuk sampai Donghae berucap pelan.

“Hana, apa kau tidak pamitan pada Yoona ahjumma? Bilang juga terimakasih.” perintahnya.

Hana mengangguk. Tergesa ia hampiri Yoona. “Terima kasih ahjumma malaikat tanpa sayap, aku sayang padamu.” ucapnya lalu berlari kecil kembali pada Jessica yang buru-buru membawanya masuk.

Ada rasa pedih yang coba Jessica sembunyikan. Rasanya wajar jika ia kalut dan takut akan keberadaan Yoona. Takut kehilangan akan apa yang ia miliki saat ini.

“Baiklah, aku harus pulang.” pamit Yoona. Berhadapan dengan Donghae masih saja membuatnya canggung.

“Tunggu.” cegah Donghae. “Siapa yang mengantarmu?” tanyanya. Itulah penyebab penasarannya sejak tadi.

“Jonghyun oppa, mantan suamiku.” jawab Yoona lugas.

Seketika ada rasa tidak terima yang menyergap hati Donghae. Ia terus tersenyum getir. Pantaskah jika ia masih cemburu? Rasanya lucu tapi memang itulah yang terjadi.

“Apa aku berhak untuk cemburu?” tanyanya. Lebih terlihat gumaman untuk dirinya sendiri.

Dan tentu saja langsung dijawab gelengan oleh Yoona. “Cemburumu tidak pada tempatnya.” ucapnya sedikit sinis. “Permisi.” ia lekas berbalik pergi.

Melangkah tertatih membawa kepedihannya sendiri. Yoona lekas menarik kedua ujung bibirnya hingga melengkung tipis. Ia sadar ia bukan lagi anak remaja yang bisa meluapkan kegundahannya lewat airmata. Ia harus bisa tetap tersenyum bahagia meski dihatinya ada luka yang menganga.

* * * * *

“Apa Jessica onnie tahu kita pergi bersama?” tanya Yoona memastikan. Tentu saja ia ragu saat harus pergi bersama Donghae dan Hana hanya bertiga.

“Anio.”

“Kenapa? Dia itu istrimu Donghae oppa.”

Donghae justru tersenyum tipis. “Aku kira aku tidak bisa lagi mendengarmu memanggilku oppa Yoong.”

“Yoona bukan Yoong, Yoong sudah mati.” ucap Yoona ketus. Ia hanya tidak mau terlalu terhanyut dalam kenangan masa lalunya.

“Ne, Yoona.” ralat Donghae segera. Ia memperhatikan Yoona yang tengah menyuapkan es krim ke mulut Hana. Sebuah pemandangan yang dulu hanya ia dapati dalam mimpi.

“Appa, kenapa melihatku dan Yoona ahjumma sampai seperti itu?” tanya Hana, ia tertawa sendiri setelahnya.

Merasa kepergok Donghae ikut tertawa. “Kau senang Hana?” tanyanya.

Hana mengangguk. “Ne, andai saja eomma bisa ikut.” celotehnya.

Yoona seketika terdiam. Tentu saja di hati bocah kecil ini Jessica begitu berarti.

“Hana, kau bisa memanggil eomma pada Yoona ahjumma.” perintah Donghae.

“Anio appa, Yoona ahjumma itu malaikat cantik tanpa sayap bukan eommaku.” jawab Hana cepat.

Yoona menunduk pedih. Putri kecilnya masih terlalu polos. Bagaimanapun dalam pemahaman Hana ia memang orang asing yang baru datang. Seorang ibu adalah orang yang membesarkannya sejak bayi, dan itu Jessica.

“Hana, dengarkan appa. Panggil eomma pada Yoona ahjumma.” ulang Donghae lagi. Yoona sendiri tidak menyangka Donghae akan sengotot itu.

Dan lagi-lagi Hana menggeleng. “Aku tidak mau appa.”

“Sudahlah Donghae oppa, tidak apa-apa. Hana masih terlalu kecil untuk mengerti.” potong Yoona akhirnya. Ia sudah cukup paham posisinya sekarang.

“Mianhae.” sesal Donghae. “Dulu kau selalu berkhayal punya keluarga kecil yang bahagia. Aku pernah berjanji untuk mewujudkan impianmu itu suatu saat nanti. Tapi nyatanya sekarang aku tidak menepati janjiku.”

“Aku sudah tidak peduli pada itu semua. Yang paling penting bagiku sekarang hanya Hana. Hana seperti cahaya yang tiba-tiba muncul untuk menerangi jalanku yang gelap.”

“Aku masih berharap kalau kita adalah sebuah keluarga yang utuh.”

“Donghae oppa, sudahlah. Tolong pikirkan sedikit perasaan Sica onnie.”

Donghae mengangguk pelan. “Ne, aku berhutang banyak pada Sica.”

“Jangan karena hutang budi tapi cintai dia.”

“Sejak dulu sampai sekarang aku sedang belajar untuk mencintainya Yoong. Dengan terus berada disisinya apa itu belum cukup?”

Yoona mengangguk. “Iya, teruslah berada disisinya. Jessica onnie orang yang sangat baik, jangan kecewakan dia.” ucapnya. Meski terlihat begitu tegar sebenarnya hatinya menangis pedih.

Jessica adalah sahabat baiknya. Donghae adalah orang yang dicintainya. Sampai sekarang perasaan itu tak pernah berubah. Merelakan cinta demi sahabat rasanya sangat bijak meski tidak mudah untuk melakukannya.

* * * * *

“Eomma, tadi aku dan appa pergi menemui Yoona ahjumma.” ucapan polos Hana itu terasa sangat menyesakkan dada Jessica.

“Benarkah?” tanyanya. Ia masih sibuk menyisir rambut Hana meski pikirannya berpetualang entah kemana.

Donghae masih mencintai Yoona, tentu saja ia tahu betul akan hal itu. Tapi statusnya sebagai istri Donghae memaksanya untuk egois. Ia tidak ingin kehilangan Donghae meski kebahagiaannya selama ini semu belaka.

“Kau tidak perlu khawatir Sica-ya, tidak akan ada yang berubah.” Donghae yang tiba-tiba muncul hanya bisa memberi sedikit ketenangan.

Jessica tersenyum simpul. Terlalu pahit ketika Donghae bahkan tidak menatapnya saat tengah berbicara padanya.

Suaminya itu justru beranjak mendekati Hana.

“Putri appa cantik sekali.” pujinya.

“Tentu saja appa.”

Lagi-lagi Jessica hanya mampu mematung miris melihat dua orang yang disayanginya itu. Donghae dan Hana adalah miliknya. Ia terus menekankan hal itu.

“Appa, ayo ajari aku melipat origami.” ajak Hana. Jemari mungilnya lekas menarik-narik tangan Donghae.

Tentu Donghae lekas menuruti permintaan putri kesayangannya itu. Sambil beranjak pergi ia menepuk bahu Jessica pelan.

“Tenanglah, aku tidak akan meninggalkanmu.” ucapnya yakin.

Jessica mengangguk. Apa yang harus ia khawatirkan sekarang? Kau harus bahagia Jessica Jung, ia membatin. Tapi kenapa kelegaan itu belum juga menghinggapinya? Masih saja ada perasaan pedih yang terus menyesakkan dada.
Kenapa ia harus segusar ini dengan kehadiran Yoona?

* * * * *

“Aku harap kau tidak lagi menemui Donghae oppa.” ucap Jessica halus tapi terkesan tegas.

Sedikit tertegun Yoona dengan permintaan Jessica itu. “Onnie, aku menemui Hana bukan Donghae oppa.”

“Tapi aku sangat terancam dengan keberadaanmu.”

“Sica onnie.” desis Yoona. Tidak menyangka Jessica tega berkata seperti itu. Tapi kalau dipikir-pikir jika ia ada di posisi Jessica mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama.

“Aku mencintai Donghae oppa tapi dia mencintaimu, itu rasanya sakit sekali. Hampir tujuh tahun kami menikah, tapi dia tidak pernah memandangku sebagai istrinya. Lalu saat kau tiba-tiba muncul apa salah kalau aku memintamu menjauh darinya?” tanya Jessica lirih. Tampak sekali ia sedang menahan gemuruh dadanya.

Sebagai sesama wanita Yoona cukup mengerti perasaan Jessica. Statusnya adalah istri Donghae, tentu ia berhak mempertahankan apa yang jadi miliknya.
Tapi sebagai ibu dari Hana, Yoona juga merasa kalau ia berhak untuk egois.

“Onnie, biarkan Hana bersamaku. Kupastikan aku tidak akan lagi bertemu Donghae oppa.”

Jessica lekas mendongak tajam. Memperlihatkan dengan jelas matanya yang mulai berkaca-kaca. “Apa maksudmu?”

“Aku akan membawa Hana ke Tokyo.” ucap Yoona tak kalah nanar.

“Mwo? Itu tidak mungkin. Hana adalah segalanya bagi Donghae oppa.”

“Hana juga segalanya bagiku.” sambar Yoona cepat. “Donghae oppa masih bisa punya anak lagi darimu onnie. Aku mohon berikan Hana padaku.”

“Tidak semudah itu Im Yoona.” sentak Jessica tajam. “Kau juga masih bisa menikah lagi dan melahirkan anak-anakmu.”

Yoona menggeleng. “Aku pernah gagal dan tidak mau gagal lagi onnie. Percuma merajut sebuah pernikahan kalau rasanya hampa.” ia mendesah kemudian memilih memandang hamparan langit biru diatasnya.

Jessica juga sama. Ia memilih bersandar pada bangku taman dan terdiam pilu.

“Sica onnie, kenapa takdir harus mempermainkan hidup kita seperti ini?” desah Yoona pelan. Adakalanya ia merasa sangat rapuh.

Jessica lekas menggeleng. “Andai bisa diulang, aku juga tidak ingin memainkan peran seperti ini. Ini terlalu berat sampai aku merasa pundakku tidak mampu lagi memikulnya. Dan mungkin tanpa sadar kita sudah saling menyakiti.”

Untuk kali ini Yoona setuju. Ia melirik Jessica disisinya. Ia yakin perasaan Jessica tak kalah sendu darinya. Menyayangi dan mencintai orang yang sama itu rasanya menyakitkan.

* * * * *

“Sudah kuputuskan aku akan mengambil Hana. Kalau perlu sampai ke pengadilan sekalipun akan kulakukan.”

Kyuhyun dan Jonghyun yang tadinya fokus melihat pertandingan sepakbola lekas berbondong-bondong menghampiri Yoona.

“Kau serius?” tanya Kyuhyun sangsi.

“Tentu saja oppa, aku akan membawa Hana ke Tokyo. Memulai kehidupan baru yang lebih baik.”

“Tapi itu pasti tidak mudah. Apa Donghae mau menyerahkan Hana padamu?” imbuh Jonghyun. Sebagai seorang pengacara tentu ia lebih paham situasi seperti ini.

Yoona menggeleng. “Aku baru bicara pada Sica onnie dan dia menolak menyerahkan Hana. Kurasa Donghae oppa akan melakukan hal yang sama. Mungkin jalan terakhir aku akan melakukan gugatan ke pengadilan.”

“Bagaimana menurutmu?” Kyuhyun menyenggol Jonghyun pelan. “Aku akan membantu semampu yang aku bisa tapi aku tidak yakin.” lanjutnya.

“Kau benar hyung.” angguk Jonghyun. “Posisimu sulit Yoona-ah. Kau tidak pernah terikat pernikahan dengan Lee Donghae jadi sulit untuk mengambil hak asuh anak. Memang kau bisa melakukan tes DNA untuk membuktikan kau ibu kandungnya Hana tapi itu saja tidak cukup. Ditambah lagi kau seorang single parent saat merawat Hana, itu juga akan menjadi pertimbangan di pengadilan.”

“Lalu aku harus bagaimana? Apa perlu aku menikah lagi denganmu agar punya keluarga yang utuh untuk bisa mendapat hak asuh Hana?”

Jonghyun hanya berdecak sambil menggeleng pelan. “Tidak harus seperti itu Im Yoona. Hyung, bagaimana ini?” ia beralih ke Kyuhyun.

“Kita bisa bicara baik-baik dulu pada Donghae. Pengadilan adalah jalan terakhir.” ucap Kyuhyun bijak.

Jonghyun mengangguk. “Aku sependapat. Pengadilan itu prosesnya sangat rumit. Iya kalau kita menang, kalau kalah? Itu pasti lebih menyakitkan.”

“Terserah kalian saja.” Yoona melangkah lemas. Meski sesulit apapun ia tetap akan merebut Hana dari Lee Donghae.

* * * * *

“Aku tidak serakah onnie, yang kuinginkan hanya Hana bukan Donghae oppa. Aku dapatkan Hana dan kau dapatkan Donghae oppa, adil kan?”

Perkataan Yoona itu terus terngiang dalam benak Jessica. Ia yang tengah menikmati sarapannya hanya terus mengoleskan selai cokelat dalam rotinya tak berselera.

“Eomma, selaimu banyak sekali.” celotehan Hana itu barulah membuat Jessica tersadar.

Buru-buru Jessica letakkan rotinya. “Donghae oppa, bagaimana kalau Hana tinggal bersama Yoona?” ucapnya hati-hati.

“Mwo?”

“Aku hanya berpikir Hana berhak untuk tinggal bersama ibu kandungnya.”

“Yoona boleh setiap hari menemui Hana tapi tidak untuk tinggal bersamanya.” tegas Donghae.

Yah sebelumnya Jessica juga sudah mengira kalau jawabannya akan seperti itu.

“Kenapa oppa? Kau takut kehilangan Hana? Atau kau ingin setiap hari bertemu Yoona?” lekas Jessica alihkan pandangannya karena ia tahu Donghae tengah menatapnya tajam.

Benar, yang dikatakan Jessica benar meski itu bukan alasan utama.

“Apa Yoona yang meminta Hana untuk tinggal bersamanya? Kalau menginap beberapa hari mungkin masih aku pertimbangkan tapi tidak untuk selamanya.”

“Tapi Yoona berniat membawa Hana ke Tokyo.”

“Apa maksudnya?” sentak Donghae. “Apa dia berpikir untuk mengambil Hana dariku? Itu tidak akan pernah terjadi.”

“Kurasa Yoona juga berhak untuk mengasuh Hana karena dia ibunya.”

“Kau ini bicara apa Jessica Jung? Apa kau sudah tidak mau lagi menjadi ibunya Hana? Atau kau tidak lagi menyayangi Hana?” cecar Donghae bertubi-tubi. “Selamanya Hana akan tetap bersamaku.”

“Aku tahu kau masih mencintai Yoona.” gumam Jessica getir. “Apa salah jika aku takut kehilanganmu? Biarkan saja Hana bersama Yoona. Kau masih bisa punya anak lagi dariku kan?”

“Picik sekali.” desis Donghae. Ia lekas berdiri dari tempatnya lalu menghampiri Hana yang sejak tadi tampak ketakutan melihat pertengkaran orangtuanya. “Hana, kau ke sekolah bersama appa saja ya?” ucapnya seakan tak mempedulikan keberadaan Jessica.

Hana hanya mengangguk patuh lalu melangkah beriringan dengan appanya. Meninggalkan Jessica yang masih mematung kelu. Airmatanya perlahan mengalir pelan.

* * * * *

Seorang wanita melangkah terburu sambil sesekali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tidak boleh terlambat menjemput Hana, itu yang terus Yoona pikirkan. Tadi Donghae menelepon menyuruhnya menjemput Hana di sekolah. Aneh memang, padahal itu biasanya tugas Jessica. Tapi ia akan dengan senang hati melakukannya.

Yoona tersenyum lega begitu melihat putri kecilnya masih berdiri manis di depan gerbang sekolahnya.

“Hana, apa kau menunggu lama?”

“Ahjumma.” ucap Hana singkat. Mungkin tidak menyangka kalau Yoona yang menjemputnya. “Dimana eomma?” tanyanya.

“Aku tidak tahu Hana, tadi appamu minta ahjumma yang menjemputmu.”

Terdengar desahan pelan Hana, sepertinya ia kecewa.

Yoona sebenarnya lebih kecewa lagi karena yang diharapkan Hana justru Jessica, tapi ia mencoba untuk menepisnya.

“Baiklah ayo kita pulang Hana.” ajaknya.

Sungguh diluar dugaan Hana justru menggeleng. “Aku mau eomma.”

Raut Yoona seketika nanar. Tapi ia terus mencoba menyembunyikannya. “Hana ikut ahjumma dulu ya? Nanti eomma pasti akan menjemputmu.” bujuknya sabar.

“Benarkah?”

“Iya.” angguk Yoona yakin.

Kali ini Hana mengangguk. Meski masih tampak malas toh ia menerima genggaman tangan Yoona lalu mulai melangkah pelan.

“Ahjumma, apa benar kau ibu kandungku?”

Pertanyaan tiba-tiba Hana itu sontak membuat langkah Yoona terhenti. “Siapa yang mengatakannya Hana?” tanyanya tercekat.

“Tidak ada.” geleng Hana. “Aku hanya mendengar pembicaraan appa dan eomma. Orang dewasa sangat sulit dimengerti. Mana ada anak yang punya dua ibu. Teman-teman sekolahku eommanya cuma satu.”

Ternyata Hana sangat kritis untuk anak seusianya. Yoona hanya mampu tersenyum miris. Harus jawab apa ia sekarang?

“Hana, bukankah bagus punya dua eomma? Berarti banyak yang sayang pada Hana.”

“Aku tidak mau.” jawab Hana ketus.

“Kenapa?” Yoona mengernyit bingung.

“Aku tidak mau appa dan eomma bertengkar lagi. Aku tidak mau appa marah. Aku tidak mau eomma menangis.” dan kini si kecil Hana mulai terisak lirih.

“Hana.” desis Yoona tertahan. Ia hanya mampu mengusap kepala gadis itu pelan. Ternyata keluarga bahagia yang ada dalam bayangan Hana tidak ada dirinya. Tapi hanya Donghae dan Jessica.

Yoona lekas menghapus airmatanya yang mengalir tanpa intruksi. Ia tidak boleh menangis. Kehidupan memang pahit tapi sepahit apapun itu akan terasa manis jika mampu menghadapinya.

Tapi untuk kali ini Yoona merasa benar sangat merapuh. Airmata itu terus saja jatuh bersaing dengan perihnya hati.
Terlalu bingung bagaimana meluapkan perasaannya ia hanya mampu memeluk erat Hana.

“Ahjumma, kau menangis?”

Yoona menggeleng. “Anio Hana.” sangkalnya.

“Jangan menangis ahjumma, aku sudah tidak menangis.” dan Hana buru-buru menghapus sendiri airmatanya lalu mulai tersenyum ceria. “Lihat kan? Aku sudah tidak menangis.” pamernya.

Kali ini Yoona mengangguk lalu kembali merengkuh Hana dalam pelukannya.

“Ahjumma, sebenarnya aku sangat menyayangimu karena kau malaikat tanpa sayapku.”

Gumaman terakhir Hana itu mau tidak mau kembali membuat airmata Yoona mengalir damai.

* * * * *

“Ini hari ulang tahun Hana yang ke tujuh. Kyuhyun bilang ia lahir tanggal 29 mei, benar kan? Sehari setelah ulang tahun eomma dan sehari sebelum ulang tahunmu. Sungguh beruntung ia bisa berada ditengah nenek dan ibunya.”

Donghae tersenyum sendiri sambil terus mengemudikan mobilnya pelan. Sesekali melirik Hana yang tertidur pulas di jok belakang. Sementara disampingnya Yoona hanya mematung kaku.

Terlalu nekat menerima ajakan Donghae ke Jeju untuk merayakan ulang tahun Hana sekaligus ulang tahunnya esok.

Malam telah larut saat mereka sampai. Sebuah penginapan kecil dekat peternakan menjadi pilihan mereka. Suasananya sangat sejuk dan asri.

Perlahan Donghae melepaskan Hana dari gendongannya. Merebahkannya pelan-pelan ke atas ranjang. Ia sendiri lekas menghampiri Yoona di balkon kamar.

“Kau juga tidurlah, pasti sangat lelah kan?” perintahnya.

Tapi Yoona justru menggeleng. “Aku tahu ini tidak benar.” gumamnya. “Aku ingin mengakhiri ini semua tapi rasanya terlalu berat. Aku hanya ingin Hana, hanya Hana.”

“Yoong….”

“Berhenti memanggilku seperti itu Donghae oppa.” sela Yoona tegas. “Aku sakit mendengarnya.”

“Anio. Yoong, Yoong, Yoong, aku akan terus memanggilmu seperti itu.”

“Saat ini bukan tujuh tahun yang lalu. Semua tak lagi sama.”

“Tapi perasaanku tetap sama Yoong.” Donghae segera meraih kedua bahu Yoona agar menghadap padanya. “Aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu, terus mencintaimu. Apa kau tahu bagaimana rasanya aku tujuh tahun merindukanmu? Bagaimana rasanya kehilangan harapan bahwa aku tidak bisa melihatmu lagi?”

Yoona mengangguk seiring tetesan airmatanya. “Jangan terus membuat hatiku semakin tersiksa.” isaknya.

Bersamaan itu pula Donghae lekas memeluknya dan mendekapnya erat.

“Tujuh tahun juga belum bisa membuatku melupakanmu Donghae oppa.” tangis Yoona pecah semakin menjadi-jadi.

Lama mereka saling terdiam dalam posisi seperti itu. Sedikit sebagai penawar rindu yang lama terpendam. Hingga akhirnya Yoona mulai bergumam pelan.

“Serahkan Hana padaku, aku akan pergi jauh dari kehidupanmu.” pintanya.

“Ani. Aku tidak akan melepaskan Hana, juga tidak akan melepaskanmu lagi.”

“Kau ini bodoh atau apa Lee Donghae?” sentak Yoona tajam. Ia segera berontak dari rengkuhan Donghae. “Kau sudah menikah, apa kau lupa itu?”

“Aku pernah seakan hampir gila karena kehilanganmu. Apa kau tahu itu Im Yoona?” balas Donghae tak kalah sengit. “Anggap saja saat ini aku memang sudah tidak bisa lagi memakai akal sehatku. Aku menginginkanmu Yoongie.” tegasnya.

Yoona terus menggeleng lirih. “Aku tidak sepicik itu. Kau punya kehidupanmu sendiri dan aku tidak pantas ada disana.”

“Appa..” panggilan pelan Hana itu kontan membuat Donghae mendekat. Begitupun Yoona mengekor di belakangnya. Mereka pikir Hana terbangun tapi rupanya hanya mengigau.

Tapi setidaknya itu sanggup membuat pertengkaran Donghae dan Yoona terhenti. Kini mereka hanya saling terdiam sendu.

“Aku tidak mengerti lagi harus bagaimana.” Yoona memilih beranjak ke sisi Hana tidur, merebahkan tubuhnya disana lalu membelai putrinya itu. “Aku lelah.” ucapnya.

Donghae sendiri akhirnya memilih tidur di sofa. Karena memang disitulah tempat yang pantas.

* * * * *

Fajar menyingsing tatkala Yoona sampai di Incheon airport. Malam itu juga ia kembali dengan penerbangan terakhir dari Jeju. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Dibawanya serta Hana tentu saja tidak dengan sepengetahuan Donghae.

Mungkin ini adalah hal yang ternekat yang pernah ia lakukan seumur hidupnya. Membawa lari putrinya sendiri saat Donghae sedang lengah tertidur lelap.

Dalam taksi yang membawanya ke Seoul Yoona terus merenung gusar. Benarkah yang dilakukannya ini? Ia melihat Hana yang terus membisu pucat dalam pangkuannya. Ya Tuhan, bagaimana perasaan putrinya itu sekarang?

Kini Yoona seakan kehilangan akal sehatnya. Ia sudah terlalu lelah. Lelah badan dan pikiran. Ia hanya ingin meraih kebahagiaannya yang hilang dengan cara apapun. Meski kebahagiaan itu tak lagi sempurna.

“Kau sangat nekat Yoona-ah?” omelan Kyuhyun itulah yang langsung ia dapatkan ketika baru menginjakkan kakinya dirumah.

“Kita harus ke Tokyo siang ini juga Kyuhyun oppa. Passport Hana ada ditanganku, jadi tidak ada masalah lagi kan?”

“Im Yoona, ini tidak benar.” sahut Jonghyun, ia terus menggeleng tak habis pikir. “Ini termasuk penculikan, kau bisa bermasalah dengan hukum.”

“Mana ada ibu yang menculik putrinya sendiri?”

“Tapi Hana tidak terdaftar dalam kartu keluargamu. Dimata hukum ini tetap saja salah.”

“Lalu aku harus bagaimana? Aku sudah terlalu lelah.” dan kini Yoona sudah tidak mampu lagi membendung airmatanya.

“Yoona-ah, coba kau pikirkan perasaan Hana.” gumam Kyuhyun pelan. Ia melirik keponakan cantiknya yang tampak ketakutan dan tertekan.

“Hana, eommamu adalah aku bukan Jessica. Aku yang melahirkanmu Hana. Panggil eomma padaku, jangan pada Jessica.” Yoona justru mengcengkeram erat kedua bahu Hana hingga gadis itu menangis ketakutan.

Dan Kyuhyun terpaksa menyingkirkannya menjauh dari Yoona. “Apa yang kau lakukan Yoona-ya?”

“Aku ingin dia tahu kalau aku ibunya oppa. Rasanya sakit sekali saat ia lebih memilih Jessica onnie dibanding aku yang melahirkannya. Aku sudah tidak kuat lagi Kyuhyun oppa. Kenapa hidup ini terlalu kejam padaku?” kali ini Yoona terjatuh bersimpuh dengan airmatanya yang semakin membanjir.

Membuat Jonghyun memutuskan untuk memeluknya sedikit memberi ketenangan. “Hana masih terlalu kecil untuk mengerti Yoona-ah.”

Yoona mengangguk, ia juga paham itu. Tapi kali ini keegoisan benar-benar telah merajai dirinya. Ia terlalu lelah menahan tangis dan airmatanya hingga yang tersisa hanya keputusasaan.

* * * * *

Donghae terus mengemudikan mobilnya tak terkendali. Membelah jalanan Seoul yang ramai. Saat ia terbangun dan tidak mendapati Hana begitupun Yoona, ia tahu sesuatu yang buruk pasti telah terjadi.

“Apa kau sudah menelepon Yoona lagi? Apa masih tidak bisa dihubungi?” cecarnya pada Jessica yang duduk diam disampingnya.

Rasanya Jessica sudah bosan untuk menjawab karena sudah berkali-kali Donghae menanyakannya. Ia pun lebih memilih melengos memandang pemandangan lewat jendela.

“Yah, Jessica Jung. Apa kau sudah tidak peduli pada Hana?”

“Aku lelah.” dan Jessica malah mulai memejamkan matanya.

Tentu saja itu membuat Donghae semakin geram. Ia mengerem mobilnya mendadak hingga terhenti dipinggir jalan. “Apa maumu sebenarnya? Kenapa kau bisa tidak berperasaan seperti ini? Aku sudah cukup pusing memikirkan Hana. Jangan menambah masalahku.”

Jessica tertawa getir. “Mungkin perasaanku sudah mati.” bisiknya.

“Aku mohon untuk kali ini mengertilah keadaanku Sica-ah. Kita harus bersatu untuk mencari Hana.”

Sejujurnya dalam hati Jessica mencibir perkataan Donghae itu. Mengerti keadaannya? Kurang mengerti apa ia selama ini? Donghae saja tidak pernah mengerti hatinya yang selalu kacau.

Saat kemarin Donghae pergi bersama Yoona dan Hana ke Jeju toh ia sama sekali tidak dianggap keberadaannya. Lalu sekarang Donghae minta dimengerti? Jessica membatin sinis. Kalau sekarang Hana dibawa Yoona, ingin sekali Jessica mensyukuri hal itu. Bahkan kalau perlu ia akan menertawainya. Kehilangan Hana adalah tamparan keras bagi Donghae. Itu seperti balasan yang setimpal atas sakit hatinya selama ini.

Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Jessica, akhirnya Donghae kembali melajukan mobilnya pelan. Biarkan saja Jessica mendiamkannya, ia tak peduli. Yang paling penting baginya kini hanya Hana.

* * * * *

Gadis kecil itu masih betah berada dalam pangkuan Kyuhyun. Memainkan boneka barbie walau terlihat tak bersemangat. Wajahnya pun masih tak kalah sendu dari tadi. Ada kalanya ia juga tertawa saat Kyuhyun mengajaknya bercanda. Tapi itu hanya sesaat. Karena sejak tadi yang berkali-kali terlontar dari mulutnya hanya “Appa.”

Di sisi lain sofa duduk Yoona dan Jonghyun yang saling membatu.

“Kau tidak lihat Yoona-ah? Hana mulai bosan. Hana ingin pulang bertemu appanya.”

Omongan Jonghyun itu sama sekali tidak Yoona gubris. Ia masih terus terdiam sambil sesekali melirik Hana.

“Coba kau pikir? Jika kau membawanya ke Tokyo itu akan memperumit masalah. Bagaimana kalau kita kembali ke rencana awal? Kau bisa mengajukan gugatan ke pengadilan, meski prosesnya lama dan sulit aku akan berusaha membantumu sekuat tenaga.” lanjut Jonghyun terus berusaha membujuk.

Yoona menggeleng lemah. “Anio, kemungkinanku untuk menang kecil kan?”

Memang itu benar, tapi Jonghyun tentu tidak mau mengatakannya. “Kita kan belum mencobanya Yoona-ah.”

Lagi-lagi Yoona menggeleng. “Aku sudah tidak mampu untuk bertahan lebih lama lagi.” ia kembali tertuduk sendu.

Sampai akhirnya sebuah keributan memecah lamunannya.

“Hana.. Hana…Lee Hana, apa kau ada di dalam? Im Yoona, kembalikan Hana padaku.”

Teriakan membahana itu kontan membuat mereka tersadar akan sesuatu. Itu Lee Donghae. Ia berteriak seperti orang kesetanan dan terus menggedor pintu.

Membuat Yoona seketika panik sendiri. Ia lekas berdiri gugup. “Apa yang harus kita lakukan? Harusnya tadi kalian menurutiku membawa Hana ke Tokyo saat itu juga.”

“Appa..” dan teriakan Hana diiringi tangisannya itu justru membuat Yoona semakin ricuh.

“Cepat kau halangi Lee Donghae, Jonghyun oppa. Aku dan Kyuhyun oppa akan membawa Hana ke bandara.”

“Anio, Yoona-ya.” tolak Kyuhyun lembut. Ia tahu adiknya itu pasti kecewa. Tapi ia hanya tidak ingin Yoona menjadi orang yang tidak berperikemanusiaan seperti ini. “Biarkan Hana kembali pada Donghae.” pintanya.

“Kyuhyun oppa.” Yoona memekik histeris. Bagaimana mungkin ia harus melepaskan Hana.

“Lihatlah putri kecilmu, lihatlah Hana. Kau tidak kasihan padanya?”

Yoona terus menggeleng dengan airmatanya yang membanjir. “Aku menyayangi Hana. Dia anakku, aku ingin bersamanya.”

Segera Kyuhyun menyerahkan Hana dari gendongannya pada Jonghyun. Ia sendiri lekas menghampiri Yoona. Memandang lekat adik kesayangannya itu.

“Kau hanya perlu sedikit lebih bersabar lagi Yoona-ya. Tuhan memberi yang kau butuh bukan yang kau ingin. Tuhan pasti punya rencana yang jauh lebih baik untukku. Kelak saat Hana dewasa ia pasti mengerti keadaan orang tuanya. Ia pasti tahu kalau kau ibu kandungnya. Dan ia pasti akan menyayangimu. Yakinlah, semua akan indah pada waktunya.”

Lekas Kyuhyun mendekap Yoona. Membiarkan airmata adiknya itu tumpah dalam pelukannya. Seiring dengan gedoran di pintu yang semakin menjadi-jadi. Mungkin diluar sana Donghae tengah mengamuk karena tak kunjung dibukakan pintu.

Dan Hana yang dalam gendongan Jonghyun perlahan turun menghampiri Yoona.

“Ahjumma.” panggilnya takut-takut. “Aku akan memanggilmu eomma tapi biarkan aku ikut appa.”

Yoona seketika tercengang, ia hanya mampu memandang Hana nanar.

“Eomma, eomma, eomma, eomma…” ucap Hana berkali-kali membuat hati Yoona semakin teriris pedih.

“Kau lihat kan?” tunjuk Kyuhyun. “Meski segala yang terjadi diluar keinginanmu, percayalah itu pasti yang terbaik.”

Kali ini Yoona mengangguk lalu lekas memeluk Hana. Memeluknya erat seakan tak ingin melepaskannya. Karena setelah ini mungkin ia tidak bisa memeluknya lagi. Yah, Yoona akhirnya mengalah. Hidup memang berat, hidup memang sulit, hidup memang pahit, dan hidup memang penuh pilihan.

* * * * *

“Appa….” Hana langsung berhambur memeluk Donghae begitu pintu itu terbuka.

Begitupun Donghae yang langsung memeluk hangat putri kesayangannya. Perasaan kacaunya yang tadi berkecamuk perlahan sirna.

Jessica yang tadi hanya bertahan di mobil akhirnya turun dan menghampiri mereka.

“Eomma.” Hana lekas beralih ke Jessica.

Jessica mengangguk dan mendekapnya sejenak.

Pemandangan yang sungguh menyakitkan bagi Yoona. Kalau tidak ada Kyuhyun dan Jonghyun disampingnya mungkin ia sudah jatuh tak berdaya.

“Ingatlah Yoona-ya, masih ada kami bersamamu.” ucap Kyuhyun, ia merangkul pundak Yoona menguatkan.

Yoona mengangguk, setidaknya dengan adanya mereka mampu membuatnya berdiri tegar.
Perlahan ia menghampiri keberadaan Hana, Donghae, juga Jessica.

“Mianhae.” ucapnya getir. “Aku tidak akan lagi mengganggu kalian. Aku memutuskan akan kembali ke Tokyo. Mianhae untuk semua yang kulakukan.”

“Yoong…” bisik Donghae. Entah kenapa ia masih tidak rela semua berakhir seperti ini.

“Aku menyayangi Hana, sangat menyayangi Hana. Aku titip Hana padamu Donghae oppa.” ucap Yoona lirih. “Jagalah dia baik-baik.”

Donghae mengangguk. “Dan aku titip hatiku padamu.” sebuah ucapan biasa tapi maknanya sangat dalam.

Membuat dua wanita di sampingnya seketika menangis tersedu. Jessica menangis karena hanya bisa memiliki tubuh Donghae, miris memang. Dan Yoona menangis karena hanya mampu memiliki hatinya, ini juga tak kalah memilukan.

* * * * *

Haneda airport.. Tiga orang itu baru saja menginjakkan kakinya di tanah yang baru. Menghirup udara yang hampir dua bulan ditinggalkan. Tokyo, kota yang selamanya menjadi tempat pelarian. Tempat memulai kehidupan baru dan mengubur segala kenangan.

Kyuhyun, Yoona, dan Jonghyun terus melangkah beringingan keluar dari bandara.

“Jadi apa rencanamu Yoona-ya?” tanya Kyuhyun. “Kau tidak berpikir untuk melajang selamanya kan?” ia terkekeh sendiri akan pertanyaannya.

Yoona sendiri hanya tersenyum simpul. Terlalu dini untuk memikirkan masa depan saat jiwanya masih terbelenggu di masa lalu.

Justru Jonghyun yang tertawa terbahak mendengar pertanyaan Kyuhyun itu.

“Hyung, pertanyaan itu lebih cocok untuk dirimu sendiri.” cibirnya.

“Apa maksudmu? Apa salahnya jika aku lajang?” sungut Kyuhyun, ia tidak terima dengan penghinaan Jonghyun itu. “Lalu kau sendiri?” balasnya.

“Setidaknya aku pernah menikah dengan Yoona walau akhirnya bercerai.” ujar Jonghyun santai.

Tak elak Yoona langsung memukul lengannya pelan. “Itu tidak patut untuk dibanggakan Lee Jonghyun.” pekiknya.

“Biar saja, daripada Kyuhyun hyung perjaka tua.”

Kyuhyun pun langsung mendelik geram. “Lee Jonghyun, mati kau mati kau.” ia berniat memukul Jonghyun tapi tidak kena karena terhalang Yoona ditengah mereka.

Dan itu semakin dibalas Jonghyun dengan ejekan. Ia terus berlindung dengan Yoona sebagai tamengnya.

“Yah, hentikan.” Yoona ikut memekik ricuh.
“Hahahaha….” ia pun tak kuasa menahan tawanya melihat tingkah dua namja disampingnya yang benar-benar seperti anak TK. Ia sendiri tidak sadar kalau tengah tertawa. Sampai Kyuhyun dan Jonghyun menatapnya takjub. Yoona sungguh tertawa lepas, sebuah tawa yang akhir-akhir ini sangat langka.

* * * * *

Jessica tersenyum lebar menatap matahari pagi Namwon. Sebuah kota tempat dimana ia menghabiskan masa kecilnya. Tidak seramai Seoul tapi sangat mendamaikan hati.

Segalanya terasa sangat ringan sekarang. Melepaskan Donghae sama artinya dengan melepaskan segala beban yang setiap hari menyesakkan dadanya.

Perceraian adalah sebuah pilihan yang tepat. Ia terlalu lelah menunggu. Ia terlalu lelah berharap. Ia terlalu sakit tak dianggap. Hidup dengan Donghae sama saja hidup dengan manusia tanpa jiwa. Hanya terasa kosong dan hampa.

Jessica menghirup udara dalam-dalam. Mulai saat ini ia akan memulai kehidupan barunya di tempat ini. Di kota baru, rumah baru, dan hati yang baru.

* * * * *

“Appa, jadi malaikat tanpa sayap itu berubah jadi manusia? Apa dia menemukan pangerannya?”

Malam telah larut, Hana masih saja terjaga meski beberapa kisah dongeng telah Donghae bacakan.

“Appa, kau tidur?” tanyanya pada sang ayah disampingnya yang sedang menahan kantuk.

Donghae tersenyum tipis. “Hana juga tidur ya, ini sudah malam.”

“Appa, kenapa eomma pergi? Yoona ahjumma juga pergi. Katanya aku punya dua eomma? Kenapa pergi semua?”

Tertegun Donghae akan pertanyaan putrinya itu. Ia lekas mengecup lembut puncak kepala Hana. “Nanti kalau Hana sudah dewasa Hana pasti mengerti. Jessica eomma dan Yoona eomma semua menyayangi Hana. Tapi mereka tidak bisa bersama kita. Meski begitu mereka tetap ada di hati Hana.”

“Benarkah?”

“Ne. Sekarang Hana tidur ya?”

Kali ini Hana mengangguk. “Semoga dalam mimpi aku bertemu eomma dan Yoona eomma malaikat tanpa sayap.” doanya.

Donghae mengangguk. Ia lekas mendekap erat dan hangat putrinya itu. Satu-satunya harta berharga yang ia miliki saat ini.

~ END ~


84 thoughts on “[Freelance] My Heart

  1. Nangissss bombayyyyy,,,,,,,,
    Ceritanya kereennn abissss
    Cuman ending agak ngegantung,,,,,,
    Bikin sequelnya dong yah,,,,yah,,,,,,

    Like

  2. sad ending…akhirnya yoona, sica, donghae memilih jalan hidupnya masing2…chingu, ff-mu itu mengaduk-aduk hatiku..satu kata deh buat ff-nya “Daebak”🙂

    Like

  3. nangis baca nya T.T
    kalo yoona masi ada kyu sma jonghyun oppa..
    hae ada hana,
    kasian sica tetep sendiri😦
    sequel boleh biar jelas semuanya

    Like

  4. Ïýª amppuunn sumpaaaah nangiiis.. Huuaa.. Ini banjir.. Kereen bgt.. Bener” bikin yg baca terbawa suasana..
    Bkin sequelnya donk.. Tp sama yoona.. Pliss hhE

    Like

  5. uwa malah lebih menyakitkan
    mending Donghae Oppa sama Yoong oenni aja ya..sica oenni pasti nemuin yang lebih baik dari pada Donghae oppa🙂
    bikin sequelnya ya author oppa/oenni..tpi donghae oppa sama Yoong oenni ya, jebal🙂

    Like

  6. omo~ bner” nusuk hati bacanya! suer ga boong! v
    huaaaaahh..pngen nangis rasanya! T.T
    daebakk ini ffnya!
    ditunggu karya”mu selanjutnya..

    Like

  7. Nangis lho bebbb😦 hana kasian banget waktu scene dia maunya sama jessica TT
    Beb ini disekuelin dong…perlu happy ending… Cuma perlu lima-enam paragraf lagi palingan buat cerita happy endnya. Tadinya kukira udah aja sica cerai, yoonhae balik. Sica sama jong apa kasi cowo lain juga gapapa. Kasian bener tau sedih banget baca kaya gini TT

    Like

  8. aku suka author nya adil.__. /di bunuh readers/
    GYAH>< cuma rada nyesek aja sih pas bagian yoona 'gadianggep' hana, dan sica 'gadianggep' donghae.____.
    ini sebenernya aku ga tau loh comment apaan… /di santet authornya/
    aku hanya ingin bilang, good job buat authornya! xD n_n

    Like

  9. Annyeong Haseo, q reader bru dsni!!
    Daebak Author cerita na,..
    jadi nangis pas ngebca cz gak tega liat Yoona eonnie! Huhuhu ^ ^

    Like

  10. Ɣªªª allooohh chingu.. FF mu ini bner2 deh.. Situasi Yoona,Donghae and Jessica disini emang sulit.. Coba ajj pas Donghae cerai sama Sica dy lgs nyusul Yoona ke Tokyo..

    Walopun sedih n perih baca’n tp msh αϑα 1 hal yang buat aku seneng. Hati Donghae tetep buat Yoona. ƍάк akan berubah smpe kapan pun ^^

    Ditunggu FF YoonHae lain’n Ɣªªª… ^^

    Like

  11. daebak chingu,, crtanya menyentuh skali hampir membuatku nangis hehe,, klo ada sekuelnya bkin skuelnya ya chingu,,

    Like

  12. eonni akhirnya ff YoonHae d.publish juga
    keren eonn
    bagus kata”a
    aku suka ff eonni
    walaupun sad ending
    tapi aku akan slalu menunggu fanfic eonni

    Like

  13. Hua ff ini keren banget, rasanya cmpur aduk . .
    Thor buat sekuelnya dong tp happy ending si yoonhae balikkan trus sica sama jong atau ga sama heechul gtu huhuhu
    Ga tega liat smuanya, pdh rasanya. . ;(

    Like

  14. Elfishysparkyu, sangat bagus karyamu..
    salah satu fanfic terbagus yang pernah aku baca.
    sayang, ga happy ending.
    buat lagi ya, yang happy ending dong.. Hwaiting!

    Like

  15. Serius, sumpah, beneran ini ff sangat amat bagus sekali!!! Nangis bombay..!!! T^T
    Bikin sequelnya dong thor.. Ini nanggung bgt sumpah. Masa mau jd janda&duda seumur hidup mereka..
    Kyu-nyu juga gimana??
    Sequelnya ya!! ><

    Like

  16. author ini bener2 butuh sequeeeeel -____- let it be yoonhae, please. biar gimanapun yoona kan ibu kandung nya dan jalinan ibu dan anak bener2 sulit dipisahin. gila ini angsty bangeeet T_T frustasi sendiri deh bacanyaaa. great story. plis bikin happy ending yah yah yah?

    Like

  17. daebak thor! bikin sequelnya ya😀 tapi akhirnya YoonHae ya thor ga tega sama Yoona eonnie. aku kira awalnya ini akan HaeSica KyuNa ._.

    Like

  18. maaf ya semuanya… gak usah ada sequel yah~ kalo sequel skrg Hana tetep belum ngerti ntar jadinya dia nolak yoonhae.. itu sih yg ada dalam bayanganku.. happy endingnya ntar pas Hana gede, tp kelamaan jd ya gak usah dibuat, hahaha mian mian mian *bow*

    Like

  19. Huah.. :O penuh emosi bacanya. Keren banget! Feelnya nyampe. Cerita model gini yg kusuka, ga ‘sinetron abis’. Disini ga ada yg antagonis, cuma manusia wajar dengan sifat egoisnya. Cukup Realistis lah😉
    ga ada yg salah sih, cuma disini aku lebih kasian sama yg cewe2 :” *maaf hae oppa~ (*3(-_-)
    tapi end nya.. Adil sih. Cuma penasaran sama kisah hidup mereka selanjutnya u.u
    Tapi, ini ff udah keren banget! Daebak authornya ^^

    Like

  20. chingu berhasil membuatku mengeluarkan air mata!!
    kereenn,,, hae oppa tega sma yoonsic !! aku gak tega sama yoong dan sica eoniie.. semuanya salah takdir, mempermainkan yoonhaesica, hiks hiks T_T
    daebakk banget!!! endingnya gak ketebak, klo bkal mlih jalan hidupnya sendiri”, chingu you’re the best author !!!

    Like

  21. kyaaaaa….ga suka ini,,sad ending
    galauu segalau-galau’a,,
    kasian yoona..kasian donghae..kasian sica,,
    bsa bkin sequel’a g???
    pgen happy end..tp yg adil buat semua..
    #tpi ngarep yoonhae

    Like

  22. wah…..
    sampai ngeluarin air mata baca FF ni….

    bikin sequelnya dong….
    gimana mereka kok berpisah…
    ama yang itu dilanjutin…
    harus YOONHAE….kekeke

    Like

  23. Astaga, ane gak bisa berkata2 lagi habis ngebaca ff ini. Ff ini ceritanya bagus banget. Feel sedihnya dapet n sad endingnya bagus banget. Wah, pokoknya daebak banget deh. 4 jempol buat author n ff ini.

    Like

  24. kenapa salah 1nya gaada yg bahagia thor……
    yoona kasian,,,,,, jessica juga……hhuhuhu
    #pas liat gambarnya aku kira kyuna lo…..hehe

    Like

  25. sumpaaah daeeebaaaak abiiiies critaany..

    kok bs kpikiran c chingu jalan crita konplik n alur yg ky gini??sumpah ud kaya sinetron abis, mgkn klo dijadiin sinetron atw kdrama psti keren bgt sumpaah..

    bikin afterstory atw sequelny donk chingu, pnasaran ma klanjutanny c anak donghae hyung..

    ditunggu yuuaahh..

    Like

  26. Ceritanya bagus! Q ja ikut stres bacanya.
    Konfliknya bener-bener terasa!
    Sepertinya cuma q yg icefishies?
    Q sakit lho semua comment yg udah ada mengarah ke yoonhae. Disini sica yg paling kasian kan? Gak dianggep sama donghae. Diakui hana tapi akhirnya berpisah. Apalagi sica sendiri setelah cerai dari donghae. Untuk yoona kan ada kyu n jong.
    Tapi, q gak bakal ngebash yoonhae kok.
    Untuk sequel, kayaknya banyak yg minta ya?
    Padahal menurut q, lebih mengena end yg kayak gini!
    Tapi, kalo emang ada q saranin tentang hana udah abg n tau kenyataan masa kecilnya aja. Yoonhaesica juga hanya mendukung tokoh hana aja.

    Mian ya kebanyakan permintaan. Gak diturutin juga gak apa-apa.
    Keep writing author! ^^

    Like

    1. iya aku juga lbh suka yoona jonghyun rujuk. di cerita ini jonghyun lebih bisa buat yoona ketawa, dan lebih bs diandalkan yoona
      aku kasian jg sama jessica, berharap sica bs ketemu cowo yg cinta tulus sama dia

      Like

  27. FF nya patut di acungi jempol, aku sampe nangis bacanya. kasihan yoona, udah di bohongi, ga diakui sebagai ibu oleh anaknya, kekasih menikah dengan orang lain dan akhirnya dia mengalah untuk pergi,,,,,,,,,,,,,,,,,,
    sedih banget,,,,,,,,,,,

    Like

  28. FFnya sedih banget thor …
    bikin hati aku kacau banget baca ini >,<
    tapi salut deh sama ketegaran sica eonnie dan yoona eonnie …
    tapi pada akhirnya memilih kehidupan masing2 deh🙂
    ayo dong author buat sequelnya dong🙂

    Like

  29. Aaaaaah ini sedihhhh
    Tapi entah kenapa, aku ngerasa lebih kasian sica hehehe._. *peace*
    Tapi endingnya bijaksana, donghae gasama siapa2🙂

    Like

  30. eonni, aku minta sequelnya dong!!
    buat YoonHaenya bersatu..
    baca FF ini nyesek bnget kerasa feelnya..
    aku tunggu SEQUELnya yahh eonni, kalo nggak FF YoonHae yg lainnya tapi happy end *mian reader nego* kkkk~!! ^^
    KEEP WRITING!! =D

    Like

  31. ya ampun bagus banget author terharu..
    aku harap yoona menikah lagi sama jonghyun hehehe..
    biar tambah mesra gtu ..

    dan aku berharap FF ini bisa masuk dalam mimpi aku..

    Like

  32. Cerita nya baguuus!
    Kasian yoong sm sica. Tp dsni aq lbh kasian sm sica ny.
    ending ny udah bgus kok.
    Adil. Dk sm siapa2.

    Like

  33. Endingnya miriisssss bnget, bkin nyesek! Critanya bagus, alurnya gak kcpetan..
    Sequel dongg, klo bisa YoonHae JongSica.
    Author Elfishsparkyu emang author favoriteku. Crita yg di tulis gk prnah ng.bosenin.

    Like

  34. Author,Unnie,chingu , ,
    tga.x kau mmtar blikkan hti.q , ,
    ahh , ,
    y00ngnie,mris bgt,tpi ttep hti haepPa hx tuk y00ngnie , ,
    2hyun dsni smpah kcak abiz , ,
    sicAnie , ,
    daebbAKKk , ,

    Like

  35. bagus bangeeettt!!! suka sama jalan ceritanya!! keren keren keren
    aku suka akhirnya yoona jesicca donghae milih jalan masing2.
    tp menurutku lbh bagus lagi kalau yoona balik sm jonghyun, jessica nemuin orang baru, donghae jg nemuin orang baru
    tp gak masalah, ceritanya tetap keren bgt!! ^^

    Like

  36. aku juga berharap yoona nikah lagi sama jonghyun, terus jesicca dan donghae masing masing nemuin orang baru. jadi ceritanya lbh happy ending🙂

    Like

  37. banjiirrr banjir air mata
    sumpah thor ini nyesek pake banget,
    knp gk dibikin squelnya?
    Harusnya Donghae sma Hana nyusul Yoona k Tokyo, trus mreka bisa brsama lagi huhu

    Like

  38. ekh ada yg ketinggalan kkkk🙂
    wlo endingnya Yoona gk ma Donghae tpi aku senang bgt hati Donghae ttp buat Yoona & hati Yoona ttp bwt Donghae
    YoonHae

    Like

  39. ah………

    author tanggung jawab..kau telah membuatku menangis.. HUAAAAAA

    seharusnya YoonHae bersatu bukan berpisah…

    HUAAA..

    tp thor crita’a kerennnnnnnnn bangettt salut sama author

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s