[Freelance] Goodbye My Love


Judul FF : Good Bye My Love/Kasih Tak Sampai [ONESHOOT]

Cast : Leeteuk, Jessica

Genre : Sad Romance

Author : Shin Hye Ri

(Terinspirasi dari MV FT ISLAND – SEVERALLY)

Aku sangat mencintaimu……………….

Daripada kehilanganmu

Lebih baik aku mati

Karna menjalani hidup tanpamu

Adalah mustahil bagiku

      Hari ini aku berada di gereja ini seorang diri untuk pertama kalinya sejak ia pergi dari hidupku. Gereja ini penuh akan kenangan kami berdua. Kami sering menghabiskan waktu di sini. Berdoa, berbincang dengan pastur-pastur, atau bermain dengan anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan yang tak jauh dari sini. Namun kini, ia tak lagi ada di sampingku menemaniku. Hanya selembar foto yang kupegang satu-satunya kenangan yang tersisa darinya. Kupandangi parasnya yang cantik bak bidadari itu. Ah! Aku tak sanggup lagi menahan air mataku kala memandangi fotonya. Selalu seperti ini! Pertahananku selalu rapuh jika mengingat apapun tentang dirinya. Kalian boleh merutukiku yang masih belum bisa menerima takdir bahwa ia telah meninggalkanku untuk selamanya. Aku sudah berusaha untuk melupakannya tapi Tuhan seakan-akan melarangku untuk melakukan itu. setiap detik, segala tentang dirinya menari di kepalaku. Aku seperti orang gila! Gila karena terus memikirkanmu. Gila karena kenanganku tentangmu bagaikan sel kanker yang telah menggerogoti tubuhku. Aku tak lagi memiliki semangat untuk menjalani hidupku.

       “Tuhan, bisakah kau beri padaku mesin waktu. Aku ingin kembali ke waktu di mana kami masih bersama. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu lagi bersamanya” doaku dalam hati. Aku tahu apa yang aku minta itu mustahil tapi tak ada salahnya aku meminta padaNya. Bukankah dia Yang Maha Kuasa.

       Usai berdoa, aku keluar dari gereja dengan tergesa-gesa. Aku baru ingat kalau hari ini aku ada Ujian Tengah Semester. Namun, saat aku keluar dari gereja, tanpa sengaja aku menabrak seseorang. “Mianhae” ucapku tanpa melihat wajahnya.
       
     “Gwaenchana……….” balasnya lalu ia masuk ke gereja.

Deg……! jantungku berdetak cepat. Suara itu? Suara yang sangat ku kenali. Suara yang selalu aku rindukan. Suara yang paling ingin ku dengar di dunia ini. Di luar kesadaranku, aku melangkahkan kakiku memasuki gereja itu lagi dan mendapati seorang gadis sedang berdoa. Meski ia membelakangiku, aku tahu itu dia. Siluet tubuhnya tak mungkin dapat ku lupakan selamanya. Aku yakin itu pasti dia. Dia Jung Jessica atau aku biasa memanggilnya Sica. Dia Sica, kekasihku.

      “Sica………” teriakku. Dia menoleh dan menatapku dengan heran. Aku langsung memeluknya. Ah benar! Dia Sica-ku. Wangi tubuhnya masih tetap sama, aroma rambutnya pun begitu masih tetap memabukkanku. Aku makin mempererat pelukanku. Namun di luar dugaan, dia malah mendorongku hingga aku terjatuh.

       “Yak! Apa yang kau lakukan? kenapa kau tiba-tiba memelukku? Aisshhh! Kau pasti sudah gila” bentaknya lalu ia keluar gereja dan meninggalkanku yang diam terpaku. Seulas senyumpun ku sunggingkan. Tuhan, inikah jawaban atas doaku selama ini. Terima Kasih karena telah memberiku kesempatan. Ini takkan ku sia-siakan.

                                                                                                 *****

Aku merasa diriku seperti penguntit saja. Aku membuntuti kemanapun Jessica pergi. Aku sudah hafal semua kegiatannya jadi tak sulit bagiku untuk menemukannya. Seperti hari ini, aku mengikutinya sampai di tempat kursus latihan baletnya. Aku tersenyum sambil melihatnya menari di balik pintu kaca yang memisahkan kami. melihat tariannya makin membuatku yakin bahwa dialah Sica-ku. Tarian baletnya yang indahlah yang membuatku jatuh hati padanya. Aku menoleh pada tumpukan surat kabar yang menunjukkan tanggal hari ini, 17-01-2012. Mataku hampir saja keluar saking kagetnya. Apa ini? Apa aku kembali ke masa lalu? Jika benar, aku sangat berterima kasih padamu Tuhan. Terima kasih karena memberiku mesin waktu untuk kembali ke masa ini. masa di mana Tuhan mempertemukan kami.

Malam harinya ketika dia telah menyelesaikan latihan baletnya. Dia akan menyebrang jalan dan saat itu sebuah mobil hampir saja menabraknya. dengan sigap kutarik tubuhnya kepelukanku agar ia tak tertabrak mobil. Saat itu aku tahu itu akan terjadi karena di moment itulah kami bertemu. Dulu aku memang pernah menyelamatkan nyawanya dan setelah itu kejadian itu kami menjadi semakin dekat.

       “Gwaenchana?” tanya-ku.
     
       “Ah, ne! Gwaenchana. Gomawo” jawabnya gugup. Mungkin dia masih kaget karena hampir tertabrak mobil.

       “Syukurlah kalau kau tidak apa-apa agasshi”

       “Sekali lagi terima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku. Siapa namamu?” tanya-nya.

Aku tersenyum “Aku Park Jungsoo tapi kau bisa memanggilku Leeteuk”

       “Aku  Jessica Jung, tapi kau bisa memanggilku Sica”

dan kami pun berkenalan. Ku tawarkan padanya untuk mengantarnya pulang, untung dia tidak keberatan. Sepanjang perjalanan kami membicarakan banyak hal. Dia menceritakan keinginannya untuk sekolah ballet di Amerika dan aku menceritakan keinginanku untuk sekolah piano di luar negeri. Kami memiliki keinginan yang sama, mungkin inilah yang membuat kami terlalu asyik bercerita sampai-sampai tanpa kami sadari, kami sudah berada di depan rumahnya.

       “Oppa…!! Terima kasih, kau sudah menyelamatkan nyawaku tapi kau malah berbaik hati mengantarku pulang”

       “Tidak perlu berterima kasih, Sica. Aku senang membantumu”

Ku lihat wajah Sica bersemu merah. Dia bertambah sangat cantik jika sedang malu

       “Baiklah, oppa. aku masuk dulu. Lain kali kita akan mengobrol lebih banyak lagi”

Meski sedikit tidak rela, namun aku harus menekan egoisku. “Ne! Masuklah. Aku akan pergi setelah melihatmu masuk di rumah dengan selamat.

       Aku pun pergi setelah melihat Sica masuk ke rumahnya. Tak dapat kuceritakan betapa bahagianya aku saat ini mendapat kesempatan bersama dengannya lagi meski hanya sebentar. Akan ku tebus waktu yang selama ini terbuang percuma. Tiba di rumah, aku melingkari kalender yang menunjukkan hari ini. Hanya ada seminggu waktuku untuk bersamanya. Ya, hanya seminggu. karena tepat seminggu setelah ini adalah hari kepergiannya. Tuhan hanya memberiku waktu seminggu menikmati kisah cinta bersamanya.

      Sejak saat itu aku terus berada di sampingnya. Aku tidak ingin membuang waktu kami yang sedikit ini. Aku ingin mengambil kenangan sebanyak-banyaknya sebelum kami berpisah. Seperti hari ini, kami memutuskan untuk ke coffee shop. Kami berdua memang coffee addict (anggap aja kayak gitu). Aku memasukkan satu gula balok ke dalam kopinya, dia kaget dan mungkin bertanya-tanya dalam hati kenapa aku bisa tahu kalau dia hanya memasukkan 1 gula balok untuk kopinya. Dia memandangiku dengan tatapan yang aneh hingga aku yang sedang meminum kopiku jadi tersedak karena kepanasan. Dia menertawaiku tapi aku tak marah. tawanya yang khas adalah salah satu hal yang ku sukai darinya.

      “hahaha! makanya hati-hati, oppa. itu khan masih panas kau ini seperti anak kecil saja” ledeknya. Aku hanya tersenyum salah tingkah mendengar ledekannya. Akupun lebih hati-hati meminum kopiku.

     “Oppa….!!! untuk apa payung itu?” tanya-nya saat kami pulang dari coffee shop. Dia melihatku memegang sebuah payung.

      “Nanti kau juga akan tahu” aku melihat jam ku dan menghitung waktunya. Aku membuka payung dan tak berapa lama hujanpun turun dengan derasnya. sepertinya dia terpana melihat ini. Ku rangkul bahunya dan kamipun berjalan bersama di bawah lindungan payung (kyaaaa! romantisnya).

       Sekarang sudah tanggal 19, berarti sisa 5 hari lagi waktu kami bersama di dunia ini. semakin dekatnya hari semakin membuatku takut. Tuhan, haruskah dia yang Kau ambil? bayangan saat tubuhnya tertabrak mobil terus menghantuiku. Tidak! Aku tidak boleh begini. Tuhan telah memberiku kesempatan kedua. Aku hanya akan membuang kesempatan jika aku terus termenung di sini.

       Hari berikutnya kami habiskan dengan berbelanja. tujuan utamaku sebenarnya bukan ini. Aku hanya ingin ada sedikit kenangan yang tercipta jika aku nantinya ke sini tanpa dia. Dan lagi sepertinya dia sangat senang aku ajak berbelanja. ketika asyik memilih barang, mataku tertuju pada satu barang yang menarik perhatianku. sebuah jam saku antik namun entah kenapa aku tak ingin membelinya. Ku letakkan kembali jam itu ketempatnya semula.

       “Ayo kita pergi” ajakku.

waktu semakin berlalu tanpa terasa sekarang sudah tanggal 22. Aku semakin kalut dan takut. Aku belum siap menghadapi ini. Tuhan….! bisa kau beri aku sebuah keajaiban lagi? hatiku semakin sakit kala melihatnya menari. Aku teringat akan cita-citanya. Tuhan, kenapa tak kau biarkan gadis ini meraih cita-citanya. Kau berikan padanya bakat yang luar biasa tapi kenapa Kau tidak memberikan padanya kesempatan. Mianhae, Sica. Andai ada yang bisa ku lakukan untukmu. Aku sungguh tak tahan. Melihat senyumnya yang manis membuatku tak rela ia harus pergi. Senyuman itu! sebentar lagi akan sirna dan tak dapat lagi ku lihat. Karena tak tahan, aku tidak ingin menangis di depannya jadi kuputuskan untuk keluar dari ruangan latihannya.

       Begitu aku kembali, aku melihat ia memegang sesuatu, sepertinya itu potongan koran yang memberitakan tentang kecelakaannya. Aku menghampirinya, namun justru ia marah padaku.

       “Apa ini? Siapa kamu sebenarnya?”

       “Maafkan aku, Sica. Akan aku jelaskan. Akupun sebenarnya tidak mengerti apa yang terjadi”

       “Apa maksudmu tidak mengerti? kau merencanakan semua ini khan oppa?”

       “Tunggu dulu. Kau salah paham”

       “Cukup! Aku tidak mau mendengar apapun darimu. pergi dan jangan pernah temui aku lagi”

       “Tapi………………”

       “Aku bilang, pergiiiiiiiiiiiiii” teriaknya. Dia melempar jaket yang aku taruh di tiang ke arahku dan mengusirku. Sica, apa kau semarah ini padaku?

Tak ingin memancing keributan, akupun keluar dari ruang tari-nya. Akan ku jelaskan lagi padanya jika saatnya tepat. Tapi kapan? tak ada banyak waktu lagi yang tersisa. Tanggal 23 berlalu begitu saja tanpa ada waktu yang kami habiskan bersama seperti kemarin. Dan hari itupun tiba. Hari yang sangat aku takuti. Hari di mana Tuhan akan memisahkan kamii. Dengan langkah tergesa-gesa kutelusuri jalan yang biasa dilewatinya, Aku panik dan takut tak bisa mengejar waktu. Jika memang kami ditakdirkan untuk berpisah, ijinkan ku sampaikan padanya betapa aku mencintainya.

Ah, itu dia. Aku melihatnya memandangi poster seorang penari balet dengan tatapan yang sedih. lalu dia memasang headset ditelinganya. Pandanganku beralih pada mobil yang melaju kencang padahal lampu jalan menunjukkan untuk pejalan kaki lewat. Tidak! itulah mobil yang merenggut nyawa Sica-ku.

       “Sica, awasssss” teriakku. namun dia tidak mendengarkannya. sepertinya suara music terlalu keras.

Semua di luar kendaliku. Tiba-tiba saja kakiku melamgkah ke jalan dan aku bermaksud menghentikan mobil itu, namun…………..

BRAKKKKKK…..!!!! Ku rasakan benda keras menghantam tubuhku dan akupun terpelanting. Sakit sekali rasanya. Apa ini yang Sica-ku rasakan waktu ia meregang nyawa? Aku bersyukur bukan Sica yang tertabrak. Dia tidak akan merasakan sakit ini dua kali.

       “Oppa………” Jessica kaget begitu melihat tubuh Leeteuk tergeletak di tanah. dengan segera ia menghampiti tubuh yang telah kehilangan nyawa-nya.

      “Oppa………” jessica terus mengguncang tubuh Leeteuk namun sayang tak ada respon darinya.

      “Tolong…… tolong……. siapa saja tolong aku” teriaknya disela isak tangis.

Semua telah terlambat dan takdirpun telah berubah dan yang terjadi telah terjadi. Dia yang telah pergi membawa kisah cintanya yang belum sempat terucapkan.

Sica………….!!!!

Kau adalah hidupku

Tanpa dirimu hidup terasa mustahil unuk ku jalani

Maka daripada kau yang meninggalkanku

Biarlah aku pergi membawa cerita cintaku sendiri

yang tak sempat ku sampaikan


NB: Huaaaaa! akhirnya FF ke tujuh aku udah selesai juga hanya dalam waktu dua jam. Mianhae jika jelek, maksa dan abal karena sesungguhnya author emang ga pandai nulis FF tapi maksa pengen nulis dan maaf juga kalau ini ga sesuai EYD soalnya author punya gaya bahasa sendiri yaitu, ESG alias Ejaan Semau Gue. hehehe! buat yang udah berbaik hati baca FF ini harap tinggalkan jejak ya.

oh iya! jangan pada heran ya kalau judulnya agak aneh. Masa judul Time Machine tapi inspirasinya dari MV FT ISLAND. Soalnya author belum pernah liat MVnya SNSD secara Full. Liatnya sepotong2 sih jadi ga tahu jalan ceritanya kayak apa. kkkkkk! sekian catatan kaki dari author ini. Byeeee!!!!!!




22 thoughts on “[Freelance] Goodbye My Love

  1. setelah baca FF ini aku ngerti dengan MVnya # tapi rada-rada masih bingung juga Sama alur MVnya :O
    Feelnya Sedih banget …😥 rela berkorban apapun demi orang yg dicintai dan FFnya Bagus😀 Daebak (y)

    Like

  2. Uwaaaaaaaa aku nangis bacanya …
    Chingu ceritanya sedih banget siih !!
    Mana aku bacanya pas lagi di dalam BW lagii
    Uwaaaaa malu kan kalau nangis di sini
    Keren banget chingu ceritanya …..
    Baru pertama kali baca ff teukSica sedih kaya gini ….
    Aku juga rela mati buat nyelamatin Sica Onnie … #lebei
    Abis kasihan kalau di dunia ini ga ada lagi Sica Onnie sedihhhhhhh rasanya #curcol ye?
    Buat lagi ff yang main cast nya sica Onnie yang banyak yya …
    I love her forever ….
    Muaaaacccchhhh

    Like

  3. Silent reader komen😀
    Ceritanya bagus banget thor *baru baca, telat banget -___-
    Tapi kok kayaknya aku pernah liat cerita yang alurnya kaya gini dan ketabrak mobil juga tapi di film barat. Hehehe
    Over all ceritanya daebak :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s