[Freelance] My Brother, My Love


My Brother, My Love (Oneshot)

Author             : SparkFishy

Cast                 : Cho Jihyun (OC), Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Song Qian (Victoria)

Genre              : Family, Romance, Friendship

Title                 : My Brother, My Love

Note                : Ini ff oneshot pertama yang aku buat. Maaf  kalau bahasanya masih acak-acakan. Sebelumnya, ff ini pernah di publish di fan3less.wordpress.com dan superjuniorff2010.wordpress.com. Buat kalian yang merasa pernah baca ff ini selain di sm town fanfiction dan kedua blog di atas berarti itu PLAGIAT.

FF ini aku ambil dari sisi Jihyun semua (Jihyun POV). Ada dua notes dalam ff ini yang aku ambil dari salah satu novel. Semoga pada suka sama ceritanya. Happy reading!^^

Tuhan memberi perasaan cinta agar hidup manusia terasa lebih indah dan bermakna.

Namun terkadang, cinta tak mengenal pada siapa ia akan menjatuhkan pilihannya.

 

Aku mencoret-coret buku tulisku dengan kesal. Sudah hampir satu jam aku mencoba mengerjakan soal ini tapi tetap tak kutemukan jawabannya. Aku memang lemah dalam pelajaran hitungan.

Kyuhyun oppa menghampiriku, “kau kenapa Jihyun, kesulitan mengerjakan tugas lagi?”

Aku mengangguk, kemudian menunjuk soal Matematika yang hampir membuatku frustasi.

Hanya memerlukan 3 menit oppa menyelesaikan soal itu sambil menjelaskan padaku cara mengerjakannya. Sementara aku sibuk mengendalikan perasaanku karena jantungku bekerja lebih cepat dari biasanya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya, hembusan nafasnya membuat telingaku berdesir.

“Kau sudah mengerti kan? Makanya kalau sonsaengnim sedang menjelaskan, kau dengarkan.” ujar Kyuhyun oppa sambil mencubit pipiku, gemas.

Aku tertawa cengengesan(?), masih sangat kurasakan jantungku berdegup kencang. Kemudian Kyuhyun oppa berlalu menuju kamarnya.

‘Selalu merasa seperti ini setiap kali berada di dekatnya.’

***

”Jihyun-ah..ireona! Kau bisa telat ke sekolah.” Kyuhyun oppa mengguncang badanku. Aku bangun.

”Aku tunggu kau di bawah, 15 menit dari sekarang. Ppali!”

Karena belum sepenuhnya sadar, aku berjalan limbung dan tanpa sengaja menabrak kursi yang ada di depanku.

”Auww…appo!” Aku meringis kesakitan.

Kyuhyun oppa yang sudah melengos keluar kembali berbalik menghampiriku setelah mendengar teriakanku.

Aku terduduk di tempat tidur sambil memegang ujung kaki kananku.

”Wae Jihyun-ah? Omo! Kakimu berdarah. Chakkaman, aku ambilkan obat.” Dengan cekatan Kyuhyun oppa melesat keluar kamar dan kembali dengan membawa kotak obat.

Selama ia mengobati lukaku, aku memperhatikannya. Ia terlihat sedikit cemas dan mengobatiku dengan hati-hati. Setelah selesai, ia menatapku, ”lain kali, kau harus hati-hati. Aigo..kenapa kau bisa ceroboh sekali sih!”

”Sekarang lebih baik kau segera mandi dan bersiap-siap ke sekolah.” Kyuhyun oppa menarikku berdiri dan membantuku berjalan.

”Gwaenchana oppa, aku bisa sendiri kok.”

”Jinjja? Baiklah.”

‘Setiap kali aku terluka, ia terlihat begitu khawatir. Perhatian yang kau berikan membuat perasaan ini seperti……ada sesuatu yang berbeda.’

***

Tok..tok..tok terdengar suara pintu kamarku diketuk. Aku beranjak dari tempat tidur dan membukanya.

“Saengil chukahamnida..saengil chukahamnida. Saranghanda uri Jihyun. Saengil chukahamnida!”  Kyuhyun oppa berdiri dan menyanyikan selamat ulang tahun di depanku sambil membawa kado. Dia menggamit tanganku dan mencium kedua pipiku. Deg! Lagi-lagi perasaan itu muncul.

“Saengil chukae, Jihyun-ah! Tidak terasa, adikku yang masih terlihat bocah ternyata sudah semakin tua. Hahaha.”

Dia meledekku tapi aku  tersenyum, “gomawo, oppa.”

Ternyata dia selalu ingat hari ulang tahunku padahal omma dan appa saja terkadang lupa.

“Ini untukmu.” Dia menyerahkan kado bersampul biru kepadaku. ‘Dia tahu warna kesukaanku.’

Aku segera membukanya, sebuah sweater rajutan berwarna putih.

“Otte, kau suka?” aku mengangguk dan tersenyum padanya. Aku langsung mencobanya. “Neomu yeppeo! Ternyata pilihan temanku memang tepat,” ujarnya.

“Mwo?”

“Aku meminta bantuan teman yeoja ku untuk memilihkan kado untukmu. Jujur saja sebenarnya aku bingung ingin menghadiakanmu apa. Tapi baguslah kau menyukainya.” Dia berujar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Oppa..apapun yang kau berikan untukku pasti aku menyukainya.’

***

Dear diary,

Entahlah sepertinya aku sudah jatuh cinta dengannya. Mencintai namja yang seharusnya tidak kucintai karena dia oppa-ku, kakak kandungku. Kami lahir dari rahim yang sama, mempunyai appa dan omma yang sama, tumbuh besar bersama, tinggal dalam satu atap rumah bersama, hampir setiap hari kami selalu menghabiskan waktu bersama.

Namanya Cho Kyuhyun, dialah kakak kandungku satu-satunya. Dia lahir 2 tahun lebih awal  dariku. Dia kakakku yang pintar, tampan, dan perhatian. Dia sekarang sudah kuliah mengambil jurusan Sastra Jepang.  Awalnya appa dan omma tidak setuju dengan keputusan jurusan yang ia ambil karena kakakku cukup berbakat di bidang sains, terutama Matematika. Tapi itulah kakakku, dia berusaha mempertahankan keputusannya sesuai yang dia inginkan. Dia maniak games. Dia bisa betah seharian tanpa keluar kamar bila sudah bermain games. Kalau kalah, sering teriak-teriak sendiri seperti orang gila. Kami (aku, appa, dan omma) hanya bisa menggelengkan kepala dan mengelus dada melihatnya.

Kyuhyun oppa memiliki postur tubuh yang ideal dan berwajah tampan. Karena itu, banyak yeoja yang selalu berusaha merebut hatinya. Tapi tak pernah kudengar ia berpacaran dengan seorang yeoja. Saat kami masih satu sekolah di Hanyoung High School, hampir setiap hari selalu ada yeoja yang mendekatiku, menitipkan sesuatu untuk Kyuhyun oppa. Entah itu berupa hadiah, surat, atau sekedar salam. Semenjak Kyuhyun oppa lulus dan melanjutkan kuliahnya di Seoul National University, mereka jarang mendekatiku lagi.

Sekarang, justru aku yang seperti terperangkap pada perasaanku sendiri. Aku menyukai dia yang perhatian padaku. Aku menyukai dia yang memarahiku kalau aku ceroboh atau melakukan kesalahan. Aku menyukai dia yang selalu ada untukku di saat aku membutuhkan bantuan. Aku menyukai wajahnya yang tampan. Aku menyukai dia yang meledekku karena kalah pintar dengannya. Aku menyukai dia yang sering menjahiliku dengan wajah evilnya. Aku menyukai senyumannya. Aku menyukai semua yang ada pada dirinya meskipun terkadang ia menyebalkan. Aku menyukainya sebagai oppa dan sebagai namja.

***

Siang hari sepulangnya dari sekolah. Aku duduk di ruang tengah, menonton tv. Omma sedang pergi keluar sebentar dan appa masih ada di kantor. Jadi sekarang aku sendirian di rumah.

“Aku pulang!” Ku dengar suara Kyuhyun oppa dari arah pintu masuk. Kulirik sejenak, ternyata tidak sendiri, ia membawa temannya.

Kyuhyun oppa menghampiriku, “kenapa sepi sekali, omma kemana?”

“Tadi omma bilang ia ingin pergi keluar sebentar, mungkin ke swalayan terdekat.”

“Tumben oppa sudah pulang?”

“Aku hanya mampir sebentar mengambil bukuku yang ketinggalan. Setelah itu, aku harus kembali ke kampus lagi.”

Hm..aku mengangguk, tanda mengerti ucapannya.

“Oia..aku belum mengenalkan temanku. Kenalkan dia teman baikku. Meski kita beda jurusan tapi kami sangat dekat. Namanya Donghae, dia kuliah di jurusan Sastra Inggris.”

Dia mengulurkan tangannya kehadapanku, “annyeong..naneun Lee Donghae imnida” dan tersenyum. Wajahnya tampan dan manis tapi tetap tidak setampan Kyuhyun oppa.

Aku membalas uluran tangannya, “annyeong..naneun Cho Jihyun imnida. Bangapseumnida Donghae oppa.”

“Panggil saja aku Donghae,” balasnya.

“Oke..Donghae,” aku tersenyum.

“Yak! Kau harusnya menyuruh Jihyun memanggilmu Donghae oppa, kau kan seumuran denganku.” Kyuhyun oppa mencoba protes.

“Gwaenchana..Kyuhyun-ah, tidak masalah bagiku,” ucap Donghae.

“Tuh..lihat kan. Dia saja tidak apa-apa. Kenapa jadi oppa yang protes,” aku membela diri.

“Ah..sudahlah, aku mau ke kamarku dulu mengambil buku. Kalian mengobrolah berdua.”

Kyuhyun oppa beranjak ke lantai atas, meninggalkan kami berdua.

Tiba-tiba Donghae sudah duduk di sebelahku mengajakku bicara sambil sesekali diselingi oleh candaan.

Begitulah awal perkenalanku dengan Donghae. Sampai sekarang ia cukup sering mengunjungi rumahku dan sepertinya ia mulai akrab dengan appa dan omma. Kami sudah mengenalnya cukup baik. Dia orang yang ramah dan mudah akrab dengan siapa saja, termasuk denganku. Aku dengannya juga cukup sering berbincang bersama, ternyata dia orang yang menyenangkan dan penuh rasa humor. Aku cukup nyaman berada di dekatnya, seperti kakak sendiri bagiku.

***

Bukankah memang begitu cinta seharusnya?

Memberikan senyum untuk dia yang kita cintai,

meski diam-diam menumpuk sedih sangat banyak di dalam hati.

 

Aku tiba di rumah lebih telat dari biasanya, karena tadi ada pelajaran tambahan mendadak dari sonsaengnim. Aku mendengar suara ramai dari dalam rumah, sepertinya sedang ada tamu. Aku masuk dan omma menyapaku dengan senyuman khasnya.

“Jihyun-ah, kau sudah sampai. Kenapa jam segini baru pulang?”

“Mianhae omma, tadi sonsaengnim mendadak memberi jam belajar tambahan untuk persiapan ujian minggu depan. Sepertinya ada tamu yah omma, kenapa ramai sekali?”

“Ne.. Kyuhyun-ah membawa seseorang. Ayo segera masuk!” ucap omma sambil mengelus kepalaku.

Aku dan omma menuju ke ruang tengah, disana ada appa, Kyuhyun oppa serta seorang perempuan. Siapa dia?

“Akhirnya kau pulang juga Jihyun. Aku menunggumu dari tadi karena ingin mengenalkan seseorang padamu.” Dia menggamit pundak perempuan itu dan membawanya ke hadapanku. Perasaanku mulai tidak enak.

“Kenalkan ini Qiannie yeojachinguku.”

Deg! Aku berusaha menjernihkan pendengaranku tapi yang ku dengar barusan itu memang benar. Wanita yang berdiri di hadapanku ini adalah yeojachingu Kyuhyun oppa. Aku hanya bisa tersenyum miris di depannya dan dia balas tersenyum ramah padaku. Cantik, manis, semampai, dan rambut panjangnya sangat indah. Pantas Kyuhyun oppa menyukainya, dia sangat serasi dengan Kyuhyun oppa.

Aku sekilas mengenalkan diriku padanya kemudian pamit menuju kamarku. Aku beralasan bahwa tubuhku sangat lelah dan kepalaku sedikit pusing jadi aku ingin beristirahat.

Airmataku mulai mengambang dan jatuh berderai tanpa bisa ku tahan. Aku terduduk di lantai kamarku. Rasa pahit dan sakit menghantam hatiku, pecah berantakan seperti diriku yang sudah ambruk.

***

Semenjak kejadian itu hubunganku dengan Kyuhyun oppa sedikit merenggang karena aku sendiri yang menjaga jarak dengannya. Sepertinya Kyuhyun oppa mulai menangkap gelagatku yang mulai aneh, dia masuk ke kamarku saat aku sedang berusaha asik menyibukkan diri dengan buku yang kubaca.

“Jihyun-ah, wae geurae? Akhir-akhir ini kau bersikap aneh kepadaku. Kau ada masalah apa?” dia duduk di tepi tempat tidurku dan menghadapkan tubuhnya ke arahku.

Aku menjawabnya sambil tetap menatap buku yang sebenarnya tidak sedang kubaca “Gwaenchana oppa, hanya saja belakangan ini aku sedikit stres menghadapi ujian akhir.”

“Hm..begitu. Benarkah tidak ada masalah lain?” sepertinya ia masih penasaran denganku.

“Anio,” jawabku.

“Tapi, aku merasa ada hal lain yang membuatmu seperti ini.” Aku hanya diam.

‘Geurae, itu semua karenamu oppa. Karenamu aku jadi uring-uringan seperti ini. Karenamu aku menangis hampir setiap malam. Karena oppa telah menyakiti hatiku.’

“Arraseo. Sebaiknya kau segera mencari namjachingu agar kau tidak uring-uringan terus seperti ini. Apakah kau mempunyai seseorang yang kau sukai?”

‘Ada..kaulah orangnya.’

“Ani..saat ini aku ingin fokus pada ujian akhirku agar aku bisa lulus dengan nilai baik dan bisa masuk ke universitas yang kuinginkan,” jawabku berbohong.

“Sayang sekali, padahal aku ingin menjodohkanmu pada seseorang. Dia tertarik padamu.”

‘Aku tidak tertarik, aku hanya tertarik denganmu, oppa!’

“Nugu?”

“Kau sudah mengenalnya, mungkin sudah akrab.” Aku mengerutkan keningku, jujur aku juga sebenarnya penasaran.

“Donghae. Dia bilang dari pertama kali bertemu denganmu, dia sudah tertarik denganmu. Katanya, kau orang yang lucu dan menggemaskan. Aish..belum tahu saja aslimu begitu menyebalkan.” Kyuhyun oppa terkekeh ringan.

Aku mengerucutkan bibirku dan mengarahkan bukuku ke tangannya. Pletak!

“Aigo..kau galak sekali. Aku kan hanya bercanda.”

“Jadi bagaimana, kau tertarik tidak dengannya?”

Tanpa pikir panjang aku menjawab, “terserah oppa saja.”

 

Mulai dari saat itu, Donghae oppa lebih rajin mengunjungi rumahku. Tidak hanya itu, dia juga suka menjemputku sekolah dan mengajakku jalan-jalan. Aku senang dan aku menyukainya. Tapi aku tetap tidak bisa melupakan perasaanku pada Kyuhyun oppa. Hampir setiap hari Kyuhyun oppa mengajak Qian onnie ke rumahnya dan aku harus menahan rasa sakitku melihat kebersamaan mereka. Hubungan mereka semakin dekat dan sepertinya appa dan omma menyukainya. Saat ini, hanya Donghae oppa yang bisa menghiburku, tanpa ia tahu perasaanku yang sebenarnya.

***

Malam ini kami sekeluarga makan malam bersama di sebuah restoran. Donghae dan Qian onnie juga ikut makan bersama karena kami sudah menganggapnya sebagai keluarga. Saat sedang enaknya menikmati hidanganku, omma tiba-tiba bicara, “Kyuhyun-ah..sebaiknya kau segera bertunangan dengan Qian.”

Glek! Aku menjadi tidak berselera untuk makan. Rasa sakit itu kembali muncul bahkan lebih dari yang sebelumnya. Aku menahan airmataku agar tidak keluar sambil menggenggam alat makanku kuat-kuat.

“Omma..aku dan Qiannie masih kuliah. Kami sama-sama bertekad untuk mendapatkan gelar sarjana dulu, baru kami memikirkan hal itu.”

Omma menyela, “tapi kalian kan hanya tunangan. Omma rasa usia kalian sudah cukup dewasa untuk segera bertunangan. Lagipula tidak baik membuat perempuan menunggu terlalu lama.”

Omma memandang ke arah Qian onnie dan kulihat dia seperti tersenyum tersipu malu.

Aku benar-benar sudah tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Kenapa kalian jadi membicarakan hal ini di saat makan sih?

“Kalau itu yang omma inginkan, aku akan mempertimbangkannya dengan Qiannie.” Kyuhyun oppa menjawab sambil menatap Qian onnie dengan tatapan mesra.

Rasanya perutku penuh, bergolak dan seperti mau meledak. Hidangan yang berkilauan di depanku mulai terlihat kabur karena airmataku yang mengambang.

“Permisi..aku mau ke toilet sebentar.” Aku sudah tidak tahan lagi.

Aku berlari dan menangis terisak di dalam toilet.

Kenapa harus seperti ini? Aku tahu perasaanku itu salah tapi aku tidak bisa melihat kebersamaan mereka. Aku tidak bisa melihat Qian onnie merebut Kyuhyun oppa dariku. Andwae!!

***

Kadang, kita mencintai seseorang begitu rupa

sampai tidak menyisakan tempat bagi yang lain.

Membuat kita lupa untuk sekedar bertanya, inikah sebenarnya cinta?

 

Hari pertunangan Kyuhyun oppa dan Qian onnie semakin dekat. Membuat mereka ikut sibuk menyiapkannya dan aku juga semakin sibuk dengan jam belajar tambahan dan tugas-tugas sekolah yang cukup menyita waktuku. Membuat intensitas pertemuan kami pun jadi berkurang. Aku semakin jarang bercengkrama dengan Kyuhyun oppa, omma, dan appa. Pergi sekolah pagi-pagi dan pulang ke rumah saat petang, menyibukkan diriku dengan mengerjakan soal-soal latihan ujian akhir dan tugas sekolah yang hampir tiap hari ada, turun ke bawah hanya saat makan bersama saja, menonton tv pun jarang kulakukan.

 

Melelahkan sekali, pelajaran tambahan hari ini benar-benar merontokkan pikiran dan tubuhku. Aku segera beranjak ke kamar, membayangkan kasurku yang empuk, sepertinya enak sekali kalau bisa tidur sebentar. Eh..tapi kenapa pintu kamarku sedikit terbuka? Saat aku masuk ke dalam, Kyuhyun oppa duduk di kursi meja belajarku seperti sedang membaca sesuatu.

“Oppa!” dia terlihat kaget dan tanpa sadar menjatuhkan sesuatu yang sedang ia baca tadi. Aku  mendekatinya dan memungut barang itu dari lantai. Ini buku diary ku, kenapa oppa berani membacanya?

Tiba-tiba ia menarik buku diary itu dari gengamanku, mencari lembar halaman yang sedang dibacanya tadi, menemukannya dan menunjukkannya di depan wajahku.

Aku melihatnya, itu..itu lembar halaman yang menceritakan perasaanku kepadanya.

“Apa maksud semua ini, Jihyun? Jelaskan padaku!”

Aku diam karna tak mampu berkutik di depannya. Tubuhku kaku. Entah bagaimana aku harus menjelaskan ini semua kepadanya. Aku kembali merebut buku diaryku dan tanpa sadar aku berteriak di hadapannya.

“Apalagi yang perlu aku jelaskan?! Semuanya sudah jelas tertulis disitu! Kau sudah membacanya! Kenapa kau lancang sekali masuk ke kamarku dan mengacak-acak barang pribadiku?! Aku tidak suka! Sekarang kau keluar dari kamarku!” Lagi-lagi butiran bening seperti mengambang di kelopak mataku tanpa bisa kucegah, mereka turun dengan leluasanya.

“Jihyun-ah..mianhae. Aku tidak bermaksud melanggar privacy-mu. Aku benar-benar tidak sengaja, mianhae. Jadi itu semua benar? Semua yang tertulis disitu benar?”

Badanku lunglai, aku terduduk di lantai kamarku. Aku sudah tak kuat lagi menopang tubuhku, aku menangis sesenggukan di depannya. Memalukan, tapi aku seperti sudah tidak peduli lagi dengan itu semua. Tiba-tiba kurasakan tubuhku menghangat. Kyuhyun oppa memelukku, menyandarkan wajahku pada dada bidangnya, mengusap kepalaku dengan lembut berusaha menenangkanku sambil sesekali mengecup puncak kepalaku.

“Aku menghargai perasaanmu. Gomawo karena kau sudah menyayangiku lebih dari yang kubayangkan. Tapi jika aku membalas perasaanmu, itu sudah menyalahi kodrat Tuhan karena tidak seharusnya saudara kandung memiliki hubungan melebihi hubungan seperti kakak kepada adik atau sebaliknya,” ucap Kyuhyun oppa panjang lebar.

“Tapi aku benar-benar menyayangimu. Aku tidak bisa membiarkan Qian onnie merebutmu dariku. Aku ingin selalu bersamamu oppa,” aku berujar di sela tangisku, masih dalam dekapan Kyuhyun oppa.

“Aku juga menyayangimu dan bahkan mencintaimu. Tapi kita tidak bisa selalu bersama. Akan ada saatnya nanti aku menikah dan hidup bersama perempuan yang kucintai. Kaupun juga begitu, menikah dengan laki-laki yang kau cintai dan hidup bahagia dengannya. Walaupun kita tidak selalu bersama tapi kita tetap memiliki ikatan disini sampai mati.” Kyuhyun oppa menunjuk ke arah dadanya kemudian ke dadaku.

“Karena kita sudah ditakdirkan sebagai saudara kandung yang akan saling melindungi. Sekarang kau mengerti kan maksudku?” Dia melepaskan dekapannya dan menatapku, mencari jawaban dariku.

Aku terdiam, masih berusaha mencerna apa yang Kyuhyun oppa jelaskan padaku. ‘Memang dari awal seharusnya seperti ini. Aku saja yang bodoh, menyalahartikan perhatian yang Kyuhyun oppa berikan padaku.’

Aku mengangguk dan tersenyum padanya, tangisku mulai mereda. Dia kembali mendekapku. Akupun membalas pelukannya. Hangatnya pelukanmu akan selalu kurindukan, Kyuhyun oppa.

***

Pertunangan Kyuhyun oppa dan Qian onnie hari ini dilaksanakan di rumah Qian onnie. Bukan di gedung mewah, restoran mahal atau di tempat romantis lainnya. Mereka sendiri yang memutuskan tempatnya karena mereka lebih suka dengan hal yang sederhana. Cincin ikatan sudah melekat di jari keduanya. Aku tersenyum melihat pemandangan di depanku. Perasaan itu perlahan-lahan mulai menguap. Rasa sakit, perih, dan tidak rela kini sudah mulai tergantikan dengan senyum, tawa, dan bahagia. Tiba-tiba ada yang menggenggam tanganku. Tangannya hangat dan lembut sama seperti Kyuhyun oppa.

“Jagiya..kapan yah kita bisa menyusul mereka?” ujar namja yang duduk di sebelahku.

“Donghae-ah, aku baru lulus sekolah dan masih harus kuliah dulu. Bersabarlah sedikit sampai aku lulus kuliah,” ucapku padanya.

“Berarti aku harus menunggumu selama 4 tahun? Andwae! Kau sudah keburu keriput dan tidak cantik lagi. Lebih baik aku mencari perempuan lain saja.” Dia meledekku.

Aku melepaskan genggamannya dan mencubit tangannya. Dia mengaduh kesakitan. “Ya! Kau sudah tidak setia lagi padaku?! Beraninya mengatakan aku keriput dan tidak cantik. Sampai sepuluh tahun kedepan pun wajahku masih tetap cantik!” Aku mendengus kepadanya.

“Arra..arra. Aku hanya bercanda jagiya.”  Dia memainkan tanganku dan mengelusnya dengan lembut.

Tanpa kusadari Kyuhyun oppa dan Qian onnie sudah berdiri di depan kami. Mereka memandang kami.

Kyuhyun oppa berusaha meninggikan nada suaranya, “wah..wah sepertinya sebentar lagi akan ada yang menyusul kita nih.”

Aku hanya menunduk malu, merasakan genggaman tangan Donghae yang semakin erat. Kulirik sejenak ke arahnya, dia tersenyum manis sekali.

 

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan.

Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan.

Tapi melepaskan bukanlah akhir dari segalanya,

melainkan awal suatu kehidupan yang baru.

 

_FIN_

 

 


10 thoughts on “[Freelance] My Brother, My Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s