[Freelance] IF…


IF

Author: Gita Jessica

Cast: Im Yoon Ah, Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Seo Joo-Hyun

Length: One Shoot

Rating: General (semua umur)

Genre: Tentukan Sendiri.

(In First Love And Timeless)

Jika Cinta Bayangan terlihat sama

            Annyeong kalau sebelumnya, ada yang pernah baca ff ini coz author pernah publish ff  ini di blog and fb author. Hehehe happy reading ajah ya…..ini ff rada panjang sepertinya ~Sudut pandang orang kedua Pov~

“TUT… TUT…TUUUT…”  suara panjang nan nyaring berbunyi bising terdengar lantang menggema di stasiun kereta api Seoul.  Bunyi yang berasal dari cerobong asap kereta api tua itu, membuat para penumpang merasa terganggu. Itulah tanda pemberhentian kereta api tersebut, benar-benar kereta yang sangat kuno. Ternyata masih saja dipertahankan di sebuah ibu kota yang sudah menjadi pusat perhatian negera. Sulit dipercaya, tapi ini kenyataan. (sebenarnya gak tahu ada atau  gak, ini mah author yang ngarang. Hehe😀 ).

Meski begitu banyak sekali orang yang masih menaiki kereta tua ini, mungkin karena harga tiket yang murah. Tetapi kenapa mereka juga mengeluh menumpangi kereta tua ini, toh mereka semua yang mau. Berbeda denganmu yang seakan sudah jamak dengan suara bising kereta api ini, ditambah asap hitam yang mengebul keluar bersamaan bunyi bising itu. Lalu kaki jenjangmu melangkah menjauhi stasiun kereta api itu. Kau memandang ke segala arah, disertai senyum terbaikmu.

“SEOUL.” Kau bergumam senang, namun ada pancaran rasa tak percaya dikerlingan matamu. Ya! Tentu saja kau seakan tak percaya dengan apa yang kau lihat, kini kau telah menginjakkan kakimu di ibu kota. Seoul, kota impianmu sejak kecil. Kau selalu ingin menjamah kota ini, dan sekarang kau telah berpijak di sini. Perasaanmu sekarang, berkumpul menjadi satu. Perasaan yang tak bisa dilukiskan oleh kata-kata, kau bahagia, kau senang, dan bercampur dengan keinginan menggebu-gebu untuk bertemu seseorang. Seseorang yang memotivasimu untuk berusaha mendapat beasiswa melanjutkan perguruaan tinggimu di ibu kota. Mungkin seseorang itu juga, satu-satunya yang kau kenal di sini.

Kau berpikir sejenak untuk menaiki kendaraan apa meninggalkan stasiun kereta api. Bus kah? Atau taksi. Awalnya kau enggan menumpangi taksi, dan memilih bus dengan ongkos yang akan meringankan kantongmu. Tetapi taksi bisa mempermudahmu mencari alamat yang menjadi tujuanmu. Alamat yang tertulis bercetak miring, di sebuah kartu nama berukuran kecil seperti kartu tanda penduduk. Walau harus menguras kantongmu, tentunya.

“Nona, alamat yang kau tuju. Sudah sampai, nona.” Supir taksi itu membangunkanmu yang tertidur dengan lelap. Kau membuka mata besarmu, mengelap air liur yang bersarang di pinggir-pinggir bibir tipismu.

“Benarkah, ini alamatnya? Kalau begitu, terima kasih.” Katamu dengan menampilkan senyuman manismu. Sambil memberikan beberapa uang kertas ke supir taksi itu. Kau keluar dari taksi itu dengan gontai. Semula kau merasa tenang, saat masih berada di stasiun. Ataupun di dalam taksi, bahkan kau sempat tertidur dengan pulas.

Kini keadaan berbeda, kau merasa cemas. Kau berusaha tersenyum, meski senyum yang memaksa. Entah kau sendiri menyadarinya atau tidak bersikap begitu tegang seperti ini.

“Atur napasmu, Im Yoon Ah. Ya! Kau akan bertemu kembali dengannya.” Sekarang kau terlihat lebih tenang. Ternyata dengan mengatur oksigen yang kau hirup, dapat menetralisasikan napasmu yang tercengah karena cemas. Padahal, apa yang dicemaskan… tentu saja itu karena kau yang teramat tegang bertemu sosok yang kau rindukan. Rindukan? Apakah kau dengan dia berteman sejak kecil, atau dia kekasihmu…. kau saja tak mengerti bagaimana hubunganmu dengan dia. Mungkin cukup dikatakan, dia teman sepekanmu selama kau tinggal di kampung halamanmu.

Dengan napasmu yang telah teratur membaik, kau melangkah dengan mantap mendekati pagar rumah. Pagar besi yang tinggi, nyaris menutupi rumah tingkatnya. Kau tertegun melihat rumahnya yang begitu mewah dan luas. Rumah yang berbeda dengan pikiranmu sebelumnya, kau berpikir rumah yang biasa dan sederhana. Seperti dia, yang kau tahu. Pribadi ramah dan penuh keserderhanaan.

“Inikah rumahnya??” ketegangan dan kecemasaanmu kembali lagi menggaulimu menjadi satu dalam tubuhmu. Kau tampak bingung bersikap…. tentu saja kau harus bersikap wajar.

“Permisi nona, kau sedang mencari siapa?” tanya seorang pemuda tegap, dengan tinggi semampai. Mengenakkan pakaian hitam, seperti pakaian tugas penjaga keamanan rumah atau dia seorang bodyguard.

“Pemilik rumah ini.” Tuturmu singkat.

Sekilas penjaga rumah itu, tampak memperhatikanmu. Pandangan yang aneh menurutmu, karena ia memandangmu dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Apa kau pembantu baru?” ujarnya sembarangan. Kau merasa ingin marah, karena mendugamu sebagai pembantu baru. Tetapi kau menahan emosimu yang meluap, kau tak ingin terjadi masalah pada hari pertamamu di Seoul. Kau juga berpikir positif, kenapa ia bisa berujar seperti itu. Mungkin karena penampilanmu atau tas gendong besar milikmu.

“Bukan, aku ingin bertemu dengan pemilik rumah ini. Bisahkah kau panggilkan dia??” katamu tegas. Namun ia malah mengerutkan dahinya, tampak sedikit raut kebingungan di wajah pemuda itu. Bingung? Kenapa ia harus bingung, tinggal panggil kan saja. Pikirmu parau dalam hati.

“Kau ingin bertemu siapa? Tuan Lee teuk atau nyonya Kim Taeyeon.” Penjaga rumah yang belum mengerti maksudmu, kembali bertanya.

“Bukan keduanya, aku ingin bertemu dengan Lee Donghae.” Kau bicara dengan semangat, saat kau menyebut nama pemuda itu ‘Lee Donghae’.

“Tuan muda?” ia mempertegasmu. Kau hanya membalas dengan anggukan serta senyum ramah.

“Apa kau sudah membuat janji dengannya?” rupanya penjaga rumah ini, sedikit membuatmu kesal. Terlalu banyak pertanyaan, ini berliku-liku. Kau tak menyukai percakapanmu dengan penjaga rumah yang terkesan mengintogasi kedatanganmu. Seakan kau seorang penjahat yang akan menguntit rumah mewah ini.

“Aku belum membuat janji dengannya, cepatlah aku ingin bertemu dengannya. Bilang saja Im Yoon Ah mencarinya, dia pasti mengenalku.” Katamu dengan berteriak, kau mulai terpancing emosi sekarang.

“Sudahlah jangan berteriak-teriak, aku tak tahu apa hubunganmu dengan tuan muda. Tetapi kalau kau kekasihnya, yang baru saja tiba dari belahan kota mana pun. Itu sangat disayangkan nona, tuan muda sedang melaksanakan pertunangan dengan nona Seo Joo Hyun. Gadis yang memiliki derajat dan kedudukan yang sama dengan tuan muda. Kau mengerti sekarang!” ucap penjaga rumah dengan panjang lebar. Namun ada nada ketus dari pengucapannya.

Kau mengepal kedua tanganmu, ingin rasanya kau memberikan sebuah tinju ke wajah penjaga rumah yang mengesalkanmu sedari tadi. Tetapi aliran darahmu seperti terhenti, dan detak jantungmu bergemuruh hebat di dalam. Telinganmu panas, matamu mulai berair. Apakah kristal-kristal bening akan jatuh dari pelupuk matamu, tunggu sampai semuanya bereaksi semakin hebat tak terkendali. Bahkan saat itu kau ingin berteriak, atau memilih membisu menerima keadaan yang ada.

“Apa kau tak bermaksud menipuku?” tanyamu lirih, kau berusaha menyembunyikan kesedihanmu. Tetapi penjaga rumah itu, mengetahui kau tampak melemah.

“Sepenting itukah aku menipu gadis sepertimu! Ingatlah tuan muda sudah dimiliki oleh gadis yang pantas dengannya. Jika dibandingkan dengan dirimu, itu tak berarti.” Kata-katanya seperti bisa ular yang mematikan. Ya! mulutnya benar-benar bisa beracun, mampu membuat lidahmu kelu dan tak sanggup berkata.

Kau berlarih meninggalkan penjaga rumah itu. Yang ucapannya, seperti menjatuhkan harga dirimu. Langkahmu terseok-seok. Pikiranmu entah berada di mana. Kau menerawang jauh, kau berusaha mengendalikan emosi yang labil melanda pikiranmu. Namun sulit, kau terlalu dipenuhi hasrat kepedihan. Pedih? Kau merasa pedih, apa karena ia telah bertunangan… benar kau ini hanya teman sepekannya, bukan kekasih atau sahabat kecilnya. Jadi tak ada arti dirimu baginya. Sadarlah, percuma kau terisak tak ada yang mendengarmu apalagi memperdulikamu. (author peduli kok :D).

Kau meringis melihat sekelilingmu, mendengar raungan sirene terdengar mendekat. Kau mengangkat kepalamu yang tertunduk, ambulans pembawa jenazah melintasimu. Rintik hujan menyertai perjalanan panjang tanpa tujuan lagi. Hinggi rintik hujan itu, berubah menjadi air deras yang jatuh dari langit. Langit menangis, seperti dirimu sekarang. Mungkin air langit ingin menghapus air mukamu. Dengan caranya menurunkan air sebanyak mungkin, hingga tak dapat memperlihatkan kesedihan di wajahmu. Tetapi sekarang kau telah basah, bukan hanya wajahmu… semua bagian dari tubuhmu sudah basah kuyup.

“Bodoh, kau bodoh Im Yoon Ah. Ia kau bodoh telah datang mengunjunginya… ingatlah kau datang ke sini untuk melanjutkan kuliahmu karena beasiswa itu.” Kau berteriak-teriak merutuki dirimu, untung saja tak banyak orang berlalu lalang hingga tak ada yang menganggapmu memiliki kelainan jiwa.

‘Jika hujan membuatmu sedih, tutup matamu dan rasakan bau tanah yang menyengat.

Kau mengingat untaian kata yang menggema kerasa di pikiranmu sekarang. Kata-kata pemuda di masa lalumu, yang kini telah terikat dalam pertunangan. “Apa yang kau tangisi, dia bukan siapa-siapamu… untuk apa kau menangis. Yang kau lakukan sekarang, kembali bersemangat, dan lupakan hal-hal yang dapat menghancurkan masa depanmu. Taklukkanlah Seoul, seperti keinginanmu…” kau mengangkat wajahmu, kembali menyunggingkan senyum manis. Sepertinya kau telah kembali menjadi dirimu lagi, ya itulah Im Yoon Ah.

Hujan tak lagi turun, kau kembali berjalan menyusuri jalan gang yang sempit. Langkah panjangmu pun terhenti pada suatu bangunan sedikit kumuh, yang bertuliskan ‘Terima Kos Wanita’. Mulanya kau tak ingin, tapi harga penyewaannya sangat murah. Cukup untuk kau bertahan hidup, sembari mengenyam pendidikan di universitas ternama di Seoul. Maklumlah kau tak memiliki satu pun sanak keluarga atau kerabat terdekat di Seoul… satu-satunya hanya pemuda itu. Lalu kau mendapati secarik kertas di dalam tas pakaianmu, entah kapan kerats itu berada di dalam tasmu. Kau membukanya dan membacanya dengan sangat teliti.

Hai, rusa… mungkin saat kau membaca ini. Kau sudah berada di Seoul, dan kau akan memulai hari-hari yang sangat penat tanpa aku😀. Selamat yah kau telah masuk Inha University, kau juga mendapatkan beasiswa sampai strata dua. Aku bangga padamu, dan tunggu aku juga… aku akan mengikuti program beasiswa untuk masuk universitas yang sama denganmu, atau aku akan merayu ayahku…. okelah tetap jaga kesahatanmu, yang selalu menyayangimu CHO KYUHYUN YANG TAMPAN….” Ya! Ialah Kyuhyun sahabatmu sejak kecil, kau tak hentinya tersenyum membaca surat pendek darinya.

Hari terus berlalu, sudah dua hari kau berada di Seoul. Kau juga sudah mulai merasa senang dengan lingkunganmu sekarang, walau bukan dari kalangan-kalangan tingkat atas atau penduduk setempatnya tak memiliki gelar perguruan tinggi… mereka sangat ramah dan saling membantu. Kau juga bekerja di rumah makan sederhana (masakan Padang dong :D) salah seorang penduduk setempat, dan kau sangat menikmati pekerjaanmu itu sebagai koki. Tetapi kau masih gugup untuk memasuki universitas terkemuka itu, ada sedikit perasaan rendah dirimu yang menguak. Kau merasa tak percaya diri, takut-takut semua yang berada di sana memandang status sosial keluargamu. Sedangkan dirimu, hanya gadis yang berasal dari kampung. Dengan ekonomi keluarga yang cukup, keluargamu hanya mempunyai satu rumah dan satu kebun yang dipenuhi sayuran mayur dan ukurannya juga tidak luas.

Kegugupanmu malah menjadi bumerang dalam semangatmu, kau berusaha terus melawannya rasa takut yang menggeluyutimu. Kau memulai langkahmu untuk mencari kelas hukum yang kau ambil, tetapi langkahmu terhenti dengan insiden kecil yang menimpamu. Kau diserempet oleh seseorang yang berkendara dengan sedan putihnya. Dan kau tersungkur, hingga lututmu sedikit lecet.

“Maaf, aku tak sengaja. Maaf ya, kau luka… tunggu sebentar.” Ia tampak panik melihat kondisimu, gadis ini benar-benar bertanggung jawab. Kau sempat berpikir. Gadis yang tengah mengobati lukamu, akan keluar dengan marah-marah dan tak mau disalahkan apalagi bertanggung jawab. Ini berbeda, ia juga bertutur kata sangat halus. Mungkinkah kau akan berteman dengan gadis seramahnya, waktu yang akan menjawab.

“Kamshamnida!!” kau berseru dengan sangat formal.

“Cheonma, Mianhae. Oh ya, kau tak usah berkata dengan sangat formal. Apa kau mahasiswi baru, sama sepertiku?” balasnya manis. Sementara kau hanya menganggukkan kepalamu, sambil tersenyum ramah.

“Waw, salam kenal aku Seo Joo Hyun… dan aku mengambil jurusan hukum.” Nama itu?? Kau teringat perkataan penjaga rumah Lee Donghae. Apa mungkin, ini Seo Joo Hyun gadis yang sama dengan tunangan teman sepekanmu. Kau tertegun, terus memandangi wajah gadis itu. menatapnya lekat-lekat, rupanya kau seakan terhipnotis dengan nama itu. Sampai-sampai mendengar nama yang sama kau jadi seperti ini.

Ia melayang-layangkan tangannya di hadapan wajahmu. “Apa ada yang salah?” pikiranmu pun kembali sadar.

“Mianhae, aku Im Yoon Ah… kita satu jurusan. Dan aku berasal dari Busan.”

“Benarkah? Hem… pertama masuk sudah dapat teman. Ayo kita masuk bersama, kau mau kan menjadi temanku.” Tanpa canggung, ia berjalan mengapit lengan kananmu. Kalian terlihat seperti sudah berteman sangat lama.

“Andaikan ini benar, dia orang yang sama… aku bersyukur kau mendapat tunangan yang baik seperti Seo Joo Hyun. Dan semoga kalian berdua bahagia.” Batinmu terucap, dengan tanpa sadar kau terus memandangi wajah gadis itu.

Hari-hari berlalu dengan lumayan menarik, kau juga semakin bisa bersosialisasi dengan mahasiswa atau pun mahasiswi di sini… ternyata pemikiranmu lumayan melenceng. Yang semula kau berargumen, mereka semua akan memandang status sosial. Ternyata salah, tak semua dari mereka seperti itu. Mungkin ada beberapa di antaranya, tetapi sebagian lagi tak begitu.

Lalu hubungan pertemananmu juga dengan Seo Joo Hyun pun semakin akrab. Meski ada pengganggu kecil yang selalu mengganggu temanmu itu, yaitu seorang pemuda dari jurusan management bisnis. Jung Yong Hwa, dia mantan kekasih Seo Joo Hyun. Tetapi terus mengejar-ngejar temanmu, bahkan usai bertemu dengan pemuda itu. Seo Joo Hyun selalu berwajah sendu, kau ingin bertanya kenapa bisa sampai sesedih itu. Tetapi kau masih terlalu tak enak hati, biarlah temanmu sendiri yang akan menceritakannya.

Selama kau menjalani hari-hari di Seoul, dan kau juga bekerja paruh waktu di sebuah rumah makan sederhana. Pemilik rumah makan itu menawarkanmu pekerjaan yang tak terlalu berat, dengan upah yang besar. Kau tertarik dan menerimanya. Kau memutuskan untuk mendatangi rumah yang dimaksud oleh pemilik rumah makan tempat kerjamu sebelumnya.

“Inikan…” sulit dipercaya, tapi ini nyata. Kau kembali ke rumah ini, rumah pertama yang kau datangi saat kau berada di Seoul. Memandang, tak hentinya kau melakukan itu. Kau mengatur napasmu, menariknya lalu menghembusakan dengan pelan.

“Berjalan masuklah Im Yoon Ah… Tidak ada apa-apa di depan.”

Sambutan ramah diterimamu saat masuk di pintu gerbang oleh penjaga rumah. Ternyata penjaga rumahnya berbeda lagi, apa ada banyak penjaga rumah ini di sini. Pikirmu!!

“Annyeong, namaku Im Yoon Ah. Aku mendapat rekomendasi untuk bekerja di rumah ini, mengurus salah seorang anggota keluarga Lee.” Sapamu memperkenalkan diri, lalu membukuk dengan rendah di hadapan nyonya Lee.

“Ya benar, aku Kim Taeyeon… nyonya Lee. Kau akan mengurus ayahku Kim Young Woon. Kedua tangannya tak dapat digerakkan, kau harus membantunya makan dan menyiapkan keperluannya. Maka dari itu, kau harus tinggal di sini. Dan selamat datang Im Yoon Ah.” Katanya seraya mengantarkanmu ke kamar ayah nyonya Lee.

“Ini kamarnya, dan kau lihat laki-laki itu yang sedang duduk di kursi roda menghadap jendela. Itu ayahku…. kau bisa kan mengurusnya, aku percaya padamu. Saat kau kuliah, pembantu di sini akan menggantikan pekerjaanmu. Kau mengerti!!” usai berkata seperti itu, nyonya Lee berlalu dari hadapanmu. Kau melangkah masuk ke dalam kamar dengan tertatih dan gugup, dengan permulaan mengetuk pintu terlebih dahalu.

“Masuklah, apa kau perawat baru??” tanyanya, suaranya terdengar sangat berat. Tetapi ia terlihat ramah, dan tak terlalu menakutkan.

“Salam kenal tuan Kim, namku Im Yoon Ah. Mulai hari ini aku akan menjadi perawatmu, kuharap kita bisa menjadi patner yang baik.” Inilah sikapmu, memperkenalkan diri dengan tingkah ceria tanpa melepas senyum manismu itu.

“Hahaha, sudah-sudah… tolong jangan panggil aku Tuan Kim, cukup harabeoji saja. aku lebih suka dipanggil seperti itu.” Cetusnya dengan sangat ramah.

“Ne, tu… maksudku harabeoji. Ngomong-ngomong, apa harabeoji ingin memakan buah? Aku akan mengupasnya.” Tawarmu pada tuan Kim

“Boleh, ini hari pertama. Kau merawat kakek tua, nona manis.” Godanya. Kau melangkah keluar menuju dapur.

Ketika kau telah selesai mengupas buah dan menata dengan cantik di piring. Ada hal yang membuat kakimu sulit melangkah… pemuda itu. Ia membuka kulkas, mengambil botol air mineral dan meneguknya. Mulutmu nyaris tak menutup, terpaku atau tersita yang sedang kau alami sekarang. Padahal kedua pernyataan itu sama saja, intinya kau sedikit merindukan sosok yang berada di hadapanmu sekarang.

“Fishy Hae!!” suara pelan nan lembut, tak mungkin pemuda itu mendengarnya. Tanganmu bergetar, tubuhmu lemas, dan matamu mulai berair. Apakah tiara akan muncul dari pelupuk mata indahmu itu.

“Kau siapa?” tanyanya, sambil memandangimu dengan bingung.

“Siapa?” apa yang baru di dengar olehmu, kenapa ia tak mengenalmu. Apa hanya kau mengenal dengan sepekan bersamanya, ia mampu menghapusmu dan namamu dalam ingatannya.

“Aku perawat tuan Kim yang baru, permisi aku harus mengantarkan ini padanya.” Tanganmu mengepal, menahan segala yang berkecambuk di dalam dadamu. Tetapi kau merasa sedikit janggal, apa benar Lee Donghae tak mengenalimu. Atau… kau tak mampu melanjutkan lagi, dan memilih untuk tak memperdulikan semuanya.

Dengan tergesa-gesa kau memasuki kamar tuan Kim, kau juga tampak tak ceria seperti sebelum kau meninggalkan kamar tuan Kim. Tuan kim merasa ada yang aneh denganmu, tetapi kau terus mengelak. Berusaha menunjukkan sikap ceriamu, meski kau tak menyadari tuan Kim sangat pintar membaca situasi. Hingga datang seseorang yang mengejutkan kalian.

“Harabeoji, apa kau lihat topi hitamku. Bukan kah waktu itu kau meminjamnya??” pemuda tampan itu, terlihat sibuk mengacak-ngacak kamar kakekknya.

“Aku tak tahu, sudah kembalilah Lee Donghae. Kau menggangguku bersama dengan perawatku yang cantik ini.” canda tuan Kim.

Pemuda itu tak menghiraukan kakeknya, ia terus mencari sesuatu yang tak ditemukan juga.

Sementara kau terdiam memandangi gelagat aneh Donghae, tuan Kim malah memandangimu. Melayangkan tatapan menilai ke arah wajahmu.

“Biarkan lah nanti dia berhenti sendiri. Topinya sudah ia berikan pada anak kecil di panti asuhan.” Ujar Tuan Kim, menyadarkan lamunanmu.

Kau hanya mengernyit dan mengerutkan dahimu, bingung… seperti itu mungkin persaanmu. “Lalu kenapa ia masih mencarinya, dan apa ia tak mendengarkan ada yang bicara atau tidak, ini terlihat aneh.” katamu pelan, tapi mampu di dengar oleh tuan Kim.

“Bukan hanya pendengaran, ingatannya pun terganggu. Bahkan terkadang ia sulit berbicara, dan bertingkah seperti orang idiot.”

“Maksudnya, apa dia amnesia??” jawabmu tangkas, tapi kau tak terlalu mengerti tentang sikap menjadi idiot. Amnesia tak akan merubah seseorang menjadi idiot bukan, hanya ingatannya saja yang terganggu… lalu apa sebenarnya yang diderita Lee Donghae. Kau malah berargumentasi sendiri, berkalut dalam alibi-alibi yang kau tak mengerti penjelasaannya seperti apa.

“Lebih parah, tepatnya dementia.” Ucap tuan Kim.

“Penyakit apa itu?” tanyamu cemas, seraya terus memperhatikan Lee Donghae yang sibuk sendiri.

“Semacam lupa ingatan, ia terkadang ingat akan dirinya kadang juga tidak. Dan lebih parah dia sudah lupa dengan masa lalu. Ingatannya hanya yah, kejadian yang sedang di alami atau beberapa bulan belakangan ini.”

“Apa karena ini ia tak mengenaliku?” lagi-lagi kau bergumam pelan, rupanya tuan Kim masih dapat mendengarnya.

“Kau mengenalnya??” sontak kau terdiam, mematung.

Lalu kau mulai bersuara, dengan membenarkan posisi dudukmu ke hadapan tuan Kim. “Aku pernah bertemu dengannya. Kami hanya bertemu selama sepekan…. Itu bermula dari stasiun kereta api….”

~Sudut pandang orang kedua Pov End~

*FLASHBACK*

-Author Pov-

“TUT…TUT…TUUT…” suara nyaring nan bising itu terus menggema dari stasiun kereta api kota Busan. Bunyi yang berasal dari cerobong asap kereta api tua itu, dengan gerbong-gerbong kereta yang warna catnya sudah hampir memudar. Kereta api yang tak layak dipakai. Tetapi apa boleh buat itu satu-satunya kereta api yang menghubungkan aktivitas mereka di pusat kota, dan pedesaan. Bagi mereka yang tinggal di pedalaman kota Busan, harus menaiki kereta api agar bisa sampai ke pusat kota Busan. Di mana pusat kota tersebut, jantung dari mata pencaharian mereka.

Terdapat pasar-pasar tradisional, pelabuhan, dan berbagai macam jenis mata pencaharian. Sungguh ramai dan indahnya pusat kota Busan, terutama pada malam hari. Namun pedesaannya juga tak kalah indahnya, dengan pemandangan yang asri dan suasana yang damai. Sungguh menajubkan pemandangan alamnya, ada aliran sungai yang panjang membentang dengan di atasnya terdapat rel kereta api. Maka dari itu, mereka yang tinggal di pedesaannya harus menaiki kereta api agar dapat menempuh pusat kota. Bukan hanya sungai yang terdapat di pedesaan itu, ada juga hamparan rumput halus yang rata. (gak tahu ada apa gak, bodo amat ah =,=).

Ketika fajar mulai menyingsing di langit, seorang gadis terpogoh-pogoh keluar dari kereta api itu bersama seorang pemuda yang setia di sebelahnya. Mereka mengenakan seragam sekolah menengah atas, sepertinya mereka habis pulang sekolah. Pemuda itu menyeringai, saat gadis itu menarik tangannya keluar dari stasiun kereta api yang mulai sepi.

“Oppa, pulang saja dengan sepedaku. Aku harus bekerja di stasiun kereta api ini.” Tutur gadis itu memberikan kunci sepedanya, yang biasa dititipkan di penjaga tiket saat akan berangkat ke sekolah.

Pemuda itu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecut. Ia masih belum mengambil kunci sepeda yang diberikan gadis itu. “Hah, kau nanti pulang pakai apa? Coba appa tak menghukumku untuk tidak memakai sepeda, dan harus pulang cepat. Aku akan menemanimu seperti biasannya.”

Tertawa dan tersenyum, gadis itu melayangkan ekspresi yang begitu manis di hadapan pemuda itu. “Kyuhyun oppa, aku bisa pulang sendiri. Lagi pula itu salahmu, kenapa uang bayaran sekolah kau habiskan untuk bermain games dan warnet… ckckck!!!”

Wajah pemuda yang bernama Kyuhyun itu, kembali masam. “Aish.. Yoong, iya aku salah… sudah-sudah mana kunci sepedamu. Hati-hati, jangan pulang larut dan jaga dirimu.” Kyuhyun mengambil kunci sepeda milik Yoona nama gadis itu. Ia pun berlalu pergi, namun sebelumnya ia sempat mengacak-ngacak rambut Yoona dan juga melambaikan tangannya tanda sampai jumpa.

Yoona membalik kan tubuhnya, ia menuju stasiun kembali dan mengambil perlengkapan bersih-bersih. Sebelumnya ia mengganti pakaian seragam sekolahnya, dengan pakaian biasa. Yoona bekerja sepulang sekolahnya, sebagai tukang bersih-bersih stasiun kereta ataupun di dalam keretanya. Selain membantu ekonomi keluarganya. Ia memang gadis yang sangat rajin, dan sangat suka kebersihan. Pantas saja sahabat sejak kecilnya Cho Kyuhyun menyimpan rasa pada gadis cantik itu. Kyuhyun berasal dari keluarga terpandang di desa Busan, tetapi ia tak pernah memilih teman.

Buktinya ia berteman dengan Yoona, yang anak seorang nelayan dari ekonomi bawah. Meskipun Kyuhyun menyimpan perasaan pada sahabatnya itu, ia tak pernah menyatakan perasaannya yang terpendam. (author mengarang bebas… hahaha). Makanya Yoona tak pernah tahu kalau sahabatnya tergila-gila padanya, yang ia tahu Kyuhyun adalah sahabat dan seniornya di sekolah. Ya! Mereka satu sekolah. Yoona kelas satu menengah atas, dan Kyuhyun kelas tiga menengah atas.

“Hufh, ternyata sudah banyak orang lagi yah. Sebentar lagi keretanya berangkat!” ucap Yoona, sambil mengelap bangku-bangku yang biasa diduduki untuk menunggu kereta tiba.

“Tut…Tut…Tuut!!!” suara nyaring nan kerasa itu, kembali mengumandang. Itulah pertanda kereta api itu berangkat dan berhenti. Saat kereta api itu mulai menjalankan mesinnya, dan cukup melaju agak lambat untuk permulaan. Tampaklah seorang pemuda tampan, berlari tunggang langgang mengejar kereta api itu. Yoona yang melihat aksi pemuda itu, hanya tersenyum ketir. Saat pemuda itu berlari melintasinya. Nihil, semuanya sia-sia. Pemuda itu tak berhasil mengejar kereta api yang sudah melaju cepat.

Pemuda itu berjalan lemas ke arah tempat duduk, yang baru saja dibersihkan. “Hah, aku harus menunggu lagi.” Gumam pemuda itu, seraya menyandarkan tongkatnya ke sisi bangku.

“Tenang, masih ada kereta api selanjutnya. Tapi cukup lama, kau harus menunggu sekitar satu jam.” Ucap Yoona menghampiri pemuda itu.

“Iya aku dengar-dengar juga begitu. Makanya, aku sengaja mengejar kereta api itu. Dan sialnya, itu percuma.” Sahut pemuda itu menatap lembut Yoona.

“Ya, meski kereta api itu tua… tapi jalannya sangat cepat. Ngomong-ngomong, apa kau orang baru… sebelumnya aku tak pernah melihatmu.” Yoona berbicara dengan asyik, ia memang mudah bergaul dengan siapa pun.

Pemuda tampan itu mengangguk mantap, ia juga tak pernah melepas senyum manisnya. Atau tawa renyah, yang selalu ditunjukkan. “Ya, aku baru dua hari di sini. Aku dari Seoul, dan namaku Lee Donghae.” Lee Donghae, nama pemuda itu mengulurkan tangan kanannya pada Yoona.

“Seoul??” kata Yoona dalam hatinya. “Ne, namaku Im Yoon Ah. Kau bisa memanggilku dengan Yoona atau….” Yoona menghentikan ucapannya.

Donghae mengernyit. “Atau siapa? Sudahlah tak usah malu, bagaimana kalau aku panggil kau Yoong.” Sontak Yoona terkejut, bagaimana pemuda di hadapannya tahu nama panggilan akrabnya.

“Terserah kau saja…” Yoona menarik panjang napasnya, dan kembali tersenyum. Ia tak mau menjelaskan apa pun lagi mengenai masalah nama panggil.

“Senang berkenalan denganmu Im Yoon Ah atau Yoona atau Yoong.” Mereka sama-sama tertawa.

Yoona kembali mengerjakan tugas bersih-bersihnya, sementara Donghae telah asyik dengan buku bacaannya. Ketika Yoona telah usai membersihkan area stasiun, ia kembali menghampiri Donghae.

“Ehemm.. apa kau haus??” Yoona berdehem, sambil menawarkan air mineral pada Donghae. Donghae tanpa ragu mengambil air mineral dari tangan Yoona, dan meneguknya sampai habis. Rupanya pemuda ini sangat kehausan, mungkin juga kelaparan.

“Gomawo, mian airnya habis.” Ucap Donghae tersenyum malu, karena menghabiskan air mineral Yoona.

“Gwenchana, aku masih ada kok.” Yoona menunjukkan air mineralnya dari dalam saku celananya.

Donghae meminta Yoona untuk duduk menemaninya, sampai kereta api datang. Yoona pun menemani pemuda tampan itu dengan senang hati. “Apa setiap hari kau bekerja di sini?” Yoona mengangguk. Lalu ia menatap tongkat yang berada di sebelahnya.

“Ini punyamu kan??” tanya Yoona.

“Yah!” sahut Donghae pendek, ia terdiam kemudian berbicara lagi. “Ini karena kecelakaan, aku nyaris kehilangan nyawaku… tapi untungnya Tuhan berkehendak lain. Aku selamat.”

“Kakimu pengecualiannya??” ucap Yoona memandang kaki Donghae, yang berbungkus perban.

“Ya, makanya aku mengasingkan diri dulu untuk beberapa pekan di sini. Sekalian menghapus trauma, akibat kecelakaan itu.”

Tak lama berbincang-bincang, kereta api pun datang. Seluruh penumpang dengan teratur. Turun dari kereta tersebut.

“Ehmm, aku berangkat yah… sampai ketemu lagi.”

Donghae mulai melangkahkan kakinya ke dalam kereta api, yang masih sepi. Ternyata penumpang di dalamnya hanya ada beberapa orang saja. Ada sekitar lima orang, bila Donghae dihitung juga.

“Boleh aku duduk di sampingmu?” ujar Yoona, yang langsung duduk di samping Donghae.

“Kau??”

“Tiba-tiba eonni menyuruhku ke pasar untuk membeli bahan masakkan. Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang panjang.” Ujar Yoona, mengeluarkan makanan ringannya dan tak segan ia menawarkan pada Donghae.

“Ya, perjalanan yang menarik… bersama gadis manis.” Donghae tersenyum manis, sementara gadis di sampingnya tampak merah merona.

Kereta api siap berangkat, dengan penumpang yang tak banyak… suara bising itu kembali berbunyi. selama berada di dalam kereta api Donghae terus memandang ke luar dari jendela. Tak butuh waktu lama mereka untuk tiba di pusat kota Busan. Tanpa ragu Donghae menarik tangan Yoona pelan, membawa gadis itu keluar dari kereta api itu.

“Kita sampai juga.” Teriak Donghae penuh kegirangan, dan Yoona yang melihat tingkah manis Donghae. Ia tersenyum-senyum sendiri.

Mereka mulai memasuki arena pasar yang padat, dengan aktivitasnya. Donghae meminta Yoona untuk tetap menemaninya, karena ia tak terlalu hapal sudut-sudut kota ini. Mereka pun sama-sama ke tempat yang sama. Mulai dari membeli bahan-bahan dapur, mencicipi berberapa makanan di pasar. Dan juga pemancingan ikan, yang ikannya di pancing oleh Donghae.

“Op…” Yoona menghentikan perkataannya, ia baru sadar sedari tadi belum menyebut nama Donghae. hanya ada ucapan ‘aku’ dan ‘kau’. Dan sekarang tanpa sengaja ia memanggil ‘Oppa’.

“Oppa… aku tak keberatan kau memanggilku oppa.” Donghae kembali memperlihatkan senyum terbaiknya.

“Baiklah, oh ya… kereta di sini hanya sampai jam 8 malam. Kalau sudah kelewat dari jam segitu, kita harus menginap di kota.” Ujar Yoona. sambil meninggalkan tempat pemancingan ikan.

“Oke, sekarang sudah jam 7. Berarti masih ada satu jam lagi. Ayo kita ke tempat lain.” Mereka berlari pelan menerobos kerumunan orang yang berlalu lalang di tempat tersebut. Langit semakin gelap, tapi lampu-lampu kota menyala sangat terang membuat kegelapan malam seakan tertutup oleh pencahayaan lampu. Pusat kota benar-benar ramai, mulai dari suara bising kapal dari pelabuhan. Orang-orang yang berjualan, serta pemusik jalanan. Sungguh malam yang ramai.

“Oppa, lihat badut itu lucu bukan?” Yoona menunjuk pria gemuk yang memakai kostum badut.

Donghae tertawa. “Iya, kalau aku didandani seperti itu. Apa aku akan kelihatan lucu juga.” Yoona mengercutkan bibirnya, kemudian tersenyum tipis.

“Kenapa hanya tersenyum.” Lalu pandangan mereka beralih ke suara musik-musik, seperti sebuah aktrasi musik.

Mereka dengan asyik menonton pertunjukkan alat musik yang dimainkan oleh pemusik jalanan. Mulai dari alat music tradisional samapai alat musik daerah.

“Huah!!!” seru Yoona heboh, ia tak hentinya tepuk tangan. Tanpa ia sadari, Donghae terus memperhatikannya.

Menit terus berjalan, tak terasa satu jam sudah lewat. Mereka yang baru tersadar akan terlewatnya waktu, yaitu tepat jam 8 malam. Kini mereka berlari kencang menerobos kembali orang-orang sekitar. Tetapi sia-sia, kereta api itu sudah berangkat. Mereka tertinggal….

“Oppa, bagaimana?? Kita tak bisa kembali, sampai esok pagi.” Yoona tampak cemas, berbeda dengan Donghae yang sangat tenang.

“Apa kau tahu tempat mana yang bisa kita singgahi bersama?” Tanya Donghae.

Yoona berpikir sejenak, kemudian ia teringat sesuatu. “Sepertinya aku tahu.” Ajak Yoona pada Donghae. Ia membawa Donghae ke stasiun kereta api. Donghae tampak bingung oleh sikap Yoona.

“Kita akan menginap di sini.” Rupanya Donghae agak ragu.

“Kau pasti berpikir di stasiunnya, bukan. Tapi di sana.” Yoona menunjuk kereta tua yang sudah tak beroperasi lagi.

“Di dalam kereta?” Tanya Donghae, ia masih bingung. Bahkan sangat bingung. Yoona menggeleng, dan membawa Donghae untuk menaiki atap kereta itu.

Mereka pun tiba di atas atap gerbong kereta api, yang dilapisi dengan jerami-jerami tebal. (inget film india. Chaya-chaya itu :D).

“Kau pernah menginap di sini?” posisi Donghae telah berubah, ia sudah terlentang dengan kedua tangannya di atas kepala sebagai penopang.

“Anio, temanku Kyuhyun oppa. Pernah menceritakan, kalau ada kereta yang tak bisa digunakan lagi. Dan banyak di jadikan tempat penginapan.” Yoona masih tetap sama ia masih duduk, dengan megapit lututnya dengan kedua tangannya. Sesekali ia menatap langit, yang semakin larut.

“Jadi ini yang pertama???” Yoona mengangguk mantap. “Kau bersama orang asing.” Tak ada jawaban dari Yoona. Karena pandangannya telah tersita dengan kembang api yang meletus-letus di langit dengan indahnya. (balon kali meletus). Yoona mulai lelah, ia menyamakan posisinya telentang di samping Donghae.

“Kembang api sangat indah, tapi tak hanya di lihat… bahkan dengan mendengarnya. Kau bisa mersakan sesuatu yang tersembunyi dari letupan Pyrotechnics itu.” Ujar Donghae, memejamkan matanya. Yoona menilik sebentar, lalu ia mengikuti Donghae memejamkan kedua matanya.

“Dadaku bergetar, ketika menutup mata mendengar bunyi firework itu… meskipun aku tak melihat keindahannya. Pyrotechincs yang tersembunyi di dalamnya. Mampu membuat kau merasakan keindahannya, meski kau tak melihat secara langsung.” ujar Yoona yang masih memejamkan matanya. donghae membuka kedua matanya dan ia tersenyum lepas.

________

Pagi hari yang cerah mereka mulai membuka mata perlahan-lahan. saat itu juga mereka mulai bergegas dan meninggalkan pusat kota tersebut.

“Kita akan kembali??” Donghae menahan tangan Yoona, saat Yoona menginjakkan kakinya ke dalam kereta api. Kini posisi mereka, dengan Yoona berdiri di depan pintu kereta dan Donghae masih di luar pintu.

“Memangnya kita mau kemana lagi??” Yoona masih berdiri di depan pintu kereta api.

“Ini hari libur kan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan lagi.”

Mereka meninggalkan stasiun kereta api. Dengan penuh tawa mereka saling berpegangan tangan, berjalan-jalan di sekitar dermaga. Memperhatikan kapal-kapal yang melaju menjauh, ketika itu cuaca yang cerah mendadak berubah menjadi gelap. Padahal masih sangat pagi.

“Oppa hujan…” mereka mulai mencari tempat meneduh. Begitu juga dengan yang lainnya, sibuk mencari tempat  peneduhan. Akhirnya mereka berteduh di sebuah pondok, pondok itu hanya ada seorang nenek tua yang ramah.

“Apa kalian sepasang kekasih?” tanya nenek pemilik pondok, seraya mengizinkan mereka masuk ke dalam pondoknya.

“Ani.” jawab Yoona dan Donghae pelan.

“Wajah kalian terlihat mirip, bukan itu saja aku seperti melihat keabadian… dari aura kalian berdua.” Yoona dan Donghae bingung, mereka saling pandang.

“Hahaha, aku hanya bercanda. Jangan di dengarkan omongan nenek tua ini.” mereka kembali tersenyum.

Hujan sudah berhenti, mereka mulai meninggalkan pondok. Tak lupa mereka juga berterima kasih pada nenek yang memberikan tempat untuk berteduh.

“Akhirnya kita akan kembali….” gumam Yoona pelan, tetapi Donghae dapat mendengar itu.

“Iya, tapi kita masih bisa bertemu kan?” sahut Donghae, sambil mengendus-gendus. Entah apa yang ia lakukan itu.

“Apa yang kau lakukan?”

“Bau tanah basah usai hujan, bau yang sangat khas.”

“Kau sangat menyukainya yah??”

“Iya, Jika hujan membuatmu sedih, tutup matamu dan rasakan bau tanah yang menyengat. Itu sedikit mengurangkan rasa sedihmu, saat kakak laki-lakiku meninggal aku melakukan ini usai hujan. Kakakku sangat menyukai hujan, kami sering sekali bermain hujan saat masa kanak-kanak.

“Apa dia sakit??”

“Ya, dia sakit paru…” Donghae tersenyum ketir. Yoona menepuk-nepuk punggung tangan Donghae, ia seakan memberi semangan kepada pemuda di hadapanya. Mereka mulai meninggalkan pusat kota.

Tak butuh waktu lama untuk kembali ke pedesaan, dan ketika itu pula mereka berpisah. Tetapi hari kemudian mereka kembali berjumpa. Dan semakin sering bertemu.

_________

Di Sore hari yang merah, Donghae dan Yoona tengah asyik menyandarkan tubuh mereka di batang pohon besar. Dengan dilapisi alas untuk mereka duduk. Donghae membawa buku-buku cerita yang ia tulis ringkas dalam satu buku.

“Itu buku apa oppa??: tanya Yoona yang membalik kan buku tersebut.

“Buku cerita yang kurangkum, saat aku masih sekolah menegah atas. Guruku memberi tugas, merangkum cerita-cerita apa saja dalam satu buku.” Cerita Donghae, ketika membuka halaman pertamanya.

“Ada apa saja?” tanya Yoona penasaran.

“Hanya ada tiga judul. Judul pertama The Reader, If Only, dan yang terakhir Romeo dan Juliet.” Kata Donghae menjelaskan.

“Apa kau mau menceritakannya, kedengarannya itu sangat seru. Yang aku tahu dari ketiga judul yang kau sebut, hanya Romeo dan Juliet.”

“Rupanya karya William Shakespeare sangat terkenal. Aku memang akan menceritakannya padamu… dengarkan aku yah.” Donghae memulai bercerita, Yoona menjadi pendengar yang baik. Tak jarang Yoona heboh sendiri, kalau ada kata-kata yang aneh.

Usai bercerita Yoona menitihkan air mata, Donghae bingung dan menghapus kristal-kristal bening itu dari pelupuk mata Yoona dengan kedua tangannya.

“Kenapa kau menangis?” tanya Donghae, sambil menutup bukunya.

“Kau sangat suka sad end yah?” sahut Yoona serak. Ternyata selagi Donghae bercerita, Yoona tak hentinya menumpahkan tiara-tiara itu dari mata indahnya yang besar. Donghae mengangguk mantap.

“Dari ketiga story itu, tak ada yang happy end. Mulai dari The Reader, tokoh utama wanitanya yang mati. Lalu If Only, giliran toko utama prianya yang mati. Kemudian Romeo dan Juliet, ini story yang paling terkenal… yaitu kedua tokoh utamanya mati. Tak ada yang happy end kan?” Ujar Yoona. Mengulas pendek inti cerita, yang baru saja dibacakan Donghae.

Donghae malah mengekeh dan menatap Yoona tajam. “Jika suatu saat nanti, kau mendapati kisah cinta tragis seperti drama-drama yang kuceritakan tadi. Apa yang akan kau pilih? Tokoh perempuannya yang mati, atau tokoh laki-lakinya?”

“Keduanya, jika aku hanya memilih satu itu sama-sama tak adil. Aku lebih tertarik kisah dramatis Romeo dan Julit, meski tidah happy end. Tetapi itu cukup adil pada keduanya, mereka tidak memiliki kisah cinta di dunia ini… mungkin saja di alam berbeda, cinta abadi dapat menyatukan keduanya. Ayo oppa ceritakan lagi dari awal. Aku suka cerita itu.” Yoona menarik-nari lengan Donghae. Donghae mengusap puncak kepala gadis itu, sangat lembut.

“Benar juga katamu, awalnya aku lebih memilih If Only. Aku tak dapat membayangkan aku ditinggal dengan orang yang sangat kucintai. Ngomong-ngomong, apa kau tak bosan?? Baiklah aku akan memulai dari awal lagi…” Donghae kembali bercerita. Mereka terhanyut dalam romansa awan mega merah sore yang menyala memberikan suasana tersendiri pada saat itu. Ditemani lagu First Love dari Utada Hikaru…. Yang sengaja diputar dari ponsel Yoona.

Saigo no kisu wa Tabako no flavor ga shita Nigakute setsunai kaori
ciuman terakhir terasa seperti tembakau pahit dan berbau sedih

Ashita no imagoro ni wa Anata wa doko ni iru n’ darou Dare wo omotte ‘ru n’ darou
esok diwaktu ini, kau akan berada di mana? siapakah yang akan kau pikirkan?

You are always gonna be my love
kau akan selalu menjadi cintaku

Itsu ka dare ka to mata koi ni ochite mo
bahkan jika aku jatuh cinta pada orang lain sekali lagi

I’ll remember to love You taught me how You are always gonna be the one
aku akan mengingat untuk mencintaimu. kau mengajariku bagaimana kau selalu akan menjadi satu-satunya

Ima wa mada kanashii love song Atarashii uta utaeru made
sekarang masih menjadi lagu sedih sampai nani aku dapat menyanyikan lagu baru

Tachidomaru jikan ga Ugoki-dasou to shite ‘ru Wasuretaku nai koto bakari
waktu yang telah terhenti mulai bergerak, ada banyak hal yang tidak ingin kulupakan

Ashita no imagoro ni wa Watashi wa kitto naite ‘ru Anata wo omotte ‘ru n’ darou
esok di waktu sekaperti sekarang, mungkin aku akan menangis keras dan mungkin aku akan mengingatmu
gemingge minggge

You will always be inside my heart
kau akan selalu didalam hatiku

Itsu mo anata dake no basho ga aru kara
kapanpun kau akan selalu punya tempatmu

I hope that I have a place in your heart too
aku harap aku juga punya tempat di hatimu

Now and forever you are still the one
sekarang dan selamanya kau akan tetap menjadi satu-satunya

Ima wa mada kanashii love song Atarashii uta utaeru made
sekarang masih menjadi lagu sedih sampai aku dapat menyanyikan lagu baru

You are always gonna be my love
kau akan selalu menjadi cintaku

Itsu ka dare ka to mata koi ni ochite mo
bahkan jika aku jatuh cinta pada orang lain sekali lagi

i’ll remember to love You taught me how You are always gonna be the one
aku akan mengingat untuk mencintaimu. kau mengajariku bagaimana kau selalu akan menjadi satu-satunya

Mada kanashii love song yeheee Now and forever…
masih merupakan lagu cinta yang sedih yeeehheeeee sekarang dan selamanya….. (copas -.-)

_______

Esok paginya Yoona menemani Donghae ke pusat kota untuk perpisahan mereka, selama sepekan mereka bersama. Di depan dermaga, dengan suara-suara dengungan kapal. Donghae dan Yoona berdiri.

“Kau bersedih?” Donghae menggenggam kedua tangan Yoona di hadapannya.

Yoona mengelak, ia menunjukkan senyum manisnya. Tapi tidak di tutupi ia memang merasa sangat sedih, akan perpisahannya itu.

“Tidak, aku tidak akan bersedih. Karena aku yakin, kita pasti bertemu lagi.” Donghae memeluk gadis itu dengan sangat erat, seperti tidak ingin berpisah.

Usai berpelukan Donghae kembali menggenggam kedua tangan Yoona. “Belajarlah yang rajin, agar kau bisa masuk universitas terkenal di Seoul. (Yoona mengangguk haru). Saat datang ke Seoul, orang pertama yang kau temui adalah aku. Aku akan menunggumu, sampai jumpa.” Donghae berlalu dari hadapan Yoona, sebelum itu ia sempat mengacak pelan rambut Yoona. Dan memberikan kartu namanya. Mereka saling melambaikan tangan. Suara kapal berbunyi, tanda akan keberangkatannya.

“Apa ini yang namanya cinta pertama?????”

 

*FLASHBACK END*

 

Usai bercerita Yoona terisak di hadapan tuan Kim, dan sepasang mata telah mendengar percakapan mereka berdua. Tuan Kim memberikan tissu pada Yoona, Yoona pun menghapus airmatanya.

“Permisi, aku ingin berbicara dengan harabeoji.” Ucap pemuda yang telah berdiri sedari tadi di depan pintu.

“Sejak kapan kau berada di situ Lee Donghae.” Tanya tuan Kim, seraya melirik ke arah Yoona yang segera menghapus air matanya secepat mungkin. Ia juga segera meninggalkan kamar tuan Kim.

“Aku permisi keluar harabeoji.”

“Aku belum lama kok.” Sahut Donghae langsung duduk di bangku yang sebelumnya tempat Yoona duduk. Tuan kim menatap Donghae tajam, sementara yang ditatap hanya memasang wajah sepolos mungkin.

“Apa yang ingin kau bicarakan.” Kini tuan Kim membelakangi Donghae, dan memilih memandang ke arah luar melalui jendela kamarnya.

“Apa benar aku sudah bertunangan??” ucap Donghae masih dengan tampang polosnya, tuan Kim menoleh sebentar. Kemudian ia kembali lagi memandang ke arah luar, terdengar tarikan napas berat dari tuan Kim.

“Iya, kau memang sudah bertunangan… nama tunanganmu Seo Joo Hyun. Aku hampir bosan, kau selalu bertanya hal itu…” ujar tuan Kim berbalik arah, kini ia dengan Donghae saling berhadapan.

Donghae mengernyit. “Mianhae, aku selalu lupa akan hal itu. Ngomong-ngomong siapa nama perawat barumu, tadi dia seperti habis menangis.”

Tuan Kim tersenyum ketir, senyumnya penuh dengan makna… ada perasaan iba kenapa cucunya menjadi seperti ini, dan juga hal yang tampak miris lainnya. “Namanya Im Yoon Ah, kau bisa memanggilnya Yoona atau Yoong. Tadi dia hanya kelilipan.”

Deg… tiba-tiba saja detak jantung Donghae berdetak lebih kencang dari biasanya, setelah mendengar nama Im Yoon Ah. Donghae terdiam sejenak, berusaha mengatur napasnya kembali normal.

“Nama yang bagus, aku mau kembali ke kamar.” Ia bergegas dan meninggalkan kamar tuan Kim.

Tuan Kim masih memandangi Donghae yang berlalu dari kamarnya. “Apa sebelum kau menderita penyakit itu, kau memiliki rasa padanya.”

______

Di dapur Yoona duduk memegang gelas kosong yang habis ia minum. Ia tampak bersedih, namun berusaha menahan rasa sedihnya. Karena percuma pikirnya, hal apa pun yang ia lakukan tak akan membalikkan semuannya ke masa lalu. Yang harus ia lakukan sekarang, hanya menerima kenyataan pahit dan menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Ketika ia masih  termenung, sosok pemuda tampan mengejutkannya dengan sikap aneh yang ditunjukkan pemuda itu.

“Apa yang kau lakukan?” Yoona bangkit dari duduknya, dan menghampiri Donghae yang sedang membuka kulkas.

“Aku mau menaruh baju ini.” Kata Donghae polos, kedua tangannya memegang pakaian-pakaian yang menumpuk rapi habis disetrika.

“Di sini?” ucap Yoona bingung, sambil menunjuk lemari pendingin itu. Donghae mengangguk mantap. Donghae pun  segera memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam lemari pendingin itu, namun Yoona segera mencegahnya.

“Jangan taruh di situ, itu bukan tempatnya.”

Donghae menatap bingung Yoona, tetapi Yoona membalas dengan senyum manisnya. “Lalu tempatnya di mana, setauku di lemari.”

“Memang taruh di lemari, tapi bukan lemari pendingin. Kau lihat di dalamnya ada atau tidak pakaian-pakaian itu di lemari pendingin itu.” Ujar Yoona memberikan petunjuk yang benar, Donghae menggeleng pelan.

“Benarkan, di mana kamarmu? Aku akan menunjukkan baju-baju itu tempatnya di mana.” Tutur Yoona ramah, ia juga berkata dengan lembut.

Senyum yang manis terlukis di bibir Donghae. “Jinjayo? Kau baik sekali, ayo ikuti aku.” Mereka mulai berlalu dari dapur dan menuju kamar Donghae. Setibanya di kamar Donghae, Donghae menuntun Yoona masuk ke dalam kamarnya yang luas.

Yoona terdiam ia menatap ke segala sisi kamar Donghae, ia kembali bersedih. Tetapi ia mampu tertawa melihat tingkah Donghae yang terkesan seperti anak berusia dua tahun. Mungkin lebih tepatnya idiot, ia bertingkah tak wajar. Ternyata maksud tuan Kim, Donghae bertingkah seperi orang idiot begini, pikir Yoona dalam batinnya.

“Kau kenapa diam?” Donghae membuyarkan lamunan Yoona.

“Ani… ayo kita ke lemari pakaianmu.” Yoona dan Donghae melangkah mendekati lemari cokelat besar di dekat ranjang tidur Donghae. Yoona pun membuka lemari pakaian Donghae.

“Kau lihat kan, ada baju-baju di lemarimu… berarti baju-baju itu juga di letakkan di sini.”

“Wah benar juga yah, aku tak ingat. Hahaha… oh yah gomawo Yoong.” Donghae meletakkan baju-baju yang dibawanya ke dalam lemari, namun sebelumnya ia juga sempat berkata terima kasih dan menyebutkan nama Yoona dengan Yoong.

“Kau bilang Yoong??” Yoona tercengah mendengarnya.

“Iya, tadi harabeoji memberitahu namamu… aku lupa nama lengkapmu. Yang kuingat nama Yoong itu…” sahut Donghae santai.

“Oh! Ya sudah, kalau kau butuh bantuan aku siap membantumu. Aku permisi kembali ke kamar harabeoji.” Yoona meninggalkan kamar Donghae, dengan perasaan yang menggalau kembali… entah apa yang ia galaukan.

Di dalam kamar Donghae masih sibuk dengan urusan-urusan yang tak pentingnya. Ia melihat sepatu yang tergelatak di dekat ranjang tidurnya. Bingung mau diletakan di mana, ia taruh saja sepatu itu di atas televisi. Dengan santai ia menghenyakan tubuhnya di atas ranjang tidur.

Sementara Yoona kembali ke kamar tuan Kim, ia juga tampak lebih ceria… meski ada sedikit rasa sedih yang menjalar dipikirannya.

“Dari mana saja nona manis??” tegur tuan Kim, seraya mengelap guci-guci di kamarnya dengan sangat hati-hati.

“Aku habis menenangkan pikiranku, aku juga mengerti maksudmu dia bertingkah seperti orang idiot.” Tuan Kim memberhentikan aktivitasnya. Ia memandang Yoona sejenak, lalu kembali mengelap guci-guci itu.

“Apa yang dilakukan anak itu lagi!” seru tuan Kim, masih setia mengelap guci-gucinya.

Yoona melangkah mendekati tuan Kim, dan duduk di sampingnya. “Ia mau menaruh baju-baju di kulkas, aku sangat terkejut. Lalu kutunjukkan saja tempat yang benar menaruh baju-baju itu.”

“Hah, itu baru baju… biasanya dia menaruh setrikanya di dalam kulkas… lalu bajuku yang baru disetrika, di pakai untuk lap mobil… ckckck… cucuku yang malang.” Tuan Kim tersenyum, tetapi kentara sekali ia begitu sedih dari senyum ketirnya.

“Apa penyebabnya? Sudah berapa lama ia begini?” sama halnya dengan tuan Kim, Yoona juga terlihat bersedih dengan penyakit Donghae.

Sekarang tuan Kim telah selesai mengelap guci-guci kesayangannya. “Dia terkena kecelakaan, ini sudah kedua kalinya. Kecelakaan pertama, sebelum ia pergi ke Busan dan bertemu denganmu. Setahun lalu, ia kecelakaan lagi. Dan hampir saja, nyawanya tak selamat. Dan menurut Dokter benturan-benturan keras yang menimpanya membuat gangguan jaringan otaknya terganggu. Dan mulai itu ia lupa masa lalunya, dokter juga memvonis ia terkena dementia.”

Yoona mengatur napasnya, ia merasakan sesak di dadanya. “Ya, apa itu tak akan sembuh??”

“Dementia, termasuk ke dalam katagori alzheimer. Penyakit yang dapat melupakan semuanya, hingga akhirnya si penderita tak mengingat apa pun lagi… Lee Donghae terkadang dia tampak idiot, tapi ia bisa bersikap seperti dirinya kembali. Saat gangguannya menyerang, kadang kala ia menangis dan tertawa tanpa sebab… maka dari itu, anak dan menantuku tak mengizinkannya lagi untuk mengurus perusahaan.” Air mata Yoona terjatuh perlahan-lahan, rupanya ia tak mampu membendungnya. Perih, yang kini ia rasakan tak dapat dipertahankan di dalam hatinya, ia ingin berteriak. Tetapi itu tak mudah baginya, untuk apa ia berteriak sementara toh sakit di hatinya akan terus terasa. Sakit hati yang ia mulai sendiri, dan hanya ia yang tahu mengakhirinya.

Tuan Kim tak pernah melepas pandangannya pada Yoona, ia tahu Yoona teramat sedih mendengar ucapanya mengenai kondisi Donghae. Tetapi gadis itu berusaha tegar dan tetap tenang, meski hatinya mungkin terasa ditusuk belati tajam. “Kau Yoona, bukan kah nantinya kau akan menyandang gelar sarjana hukum. Carilah pemuda yang pantas bersanding denganmu, dan hidup dengan bahagia. Lupakan masa lalumu, mulailah hidup baru. Keikhlasan akan mengalahkan kemalangan, dan keyakinan akan mengalahkan derita. Dan dalam hidup jangan bertindak setengah-setengah, apa pun yang kau pilih. Lakukan dengan hati penuh-seluruh.”

___________

Hari semakin berlalu Yoona sudah mulai akrab dengan keluarga Lee. Begitu juga dengan Donghae, ia semakin bisa memahami sikap-sikap Donghae yang tiba-tiba datang menyerang gangguan otaknya. Bukan hanya itu saja, Seo Joo Hyun yang kini menjadi sahabat baiknya. Ternyata benar adalah tunangan Donghae… ia sering berkunjung ke rumah keluarga Lee saat hari libur.

Tak dipungkiri Yoona ada perasaan cemburu dengan Seo Joo Hyun yang statusnya adalah tunangan Donghae. Namun itu hanya status antar mereka berdua. Donghae dan Seo Joo Hyun, tak terlihat seperti layaknya pasangan kekasih. Malkumlah mereka dijodohkan demi hubungan kerja sama antar perusahaan. Seo Joo Hyun, gadis manis yang baik hati… dengan ikhlas memutuskan hubungannya dengan kekasihnya Jung Yong Hwa demi permintaan keluarganya untuk bertunangan dengan Lee Donghae. Sedangkan Lee Donghae, yang memiliki penyakit aneh… ia hanya menurut saja.

Perbedaan terus terjadi, terkadang Yoona dan Donghae terlibat cekcok (?)… itu dikarenakan ulah Donghae. Ya! penyakitnya menyerang, ia marah-marah tak jelas pada Yoona. Juga menangis tanpa ada sebab, atau sikap menyebalkannya. Seperti pergi keluar tak bilang-bilang, dan menghilang hingga orang rumah kalap mencarinya. Bagaikan anak kecil yang ke sasar, ia kembali ke rumah dengan bantuan polisi.

Dari semua kejadian-kejadian yang terjadi di alami Yoona selama berada di Seoul. Ada satu hal yang sangat membahagiakan Yoona, karena sahabatnya Cho Kyuhyun. Sekarang sudah satu kampus dengannya, tetapi berbeda jurusan. Kyuhyun mengambil jurusan management bisnis. Dan ini adalah minggu kedua Kyuhyun berada di Seoul. Ia tinggal di sebuah apartement kecil yang ia beli dari uang tabungannya sendiri. Bahkan Kyuhyun pun telah dikenalkan pada keluarga Lee. Ia juga sering berkunjung di kala jam kosong, ataupun hari libur. Di antara semua keluarga Lee, Kyuhyun paling akrab dengan tuan Kim… mereka sering berbagi cerita dan pengalaman masing-masing.

Tak diragukan kalau tuan Kim dan Kyuhyun keduanya memang pandai bergaul… jadi lebih mudah berteman. Bahkan Kyuhyun yang menyukai Yoona, tuan Kim telah menebak dahulu. Sebelum Kyuhyun bercerita pada tuan Kim, mungkin karena sikap yang ditunjukan Kyuhyun pada Yoona terlihat lebih dari teman… ia menginkan lebih. Tetapi orang yang diingankannya, tak pernah tahu akan hal itu.

Malam hari yang larut, ditambah angin sepoi-sepoi. Menyegarkan, tetapi cukup membuat kulit terasa ditembus duri-duri. Seorang pemuda bertubuh tinggi semampai, dengan wajah tampan. Mengenakan setelan yang santai begitu chic terlihat. Ia berdiri di depan Namsan Tower, memegang setangkai bunga mawar merah. Sepertinya pemuda tampan itu sedang menunggu seseorang datang.

“Annyeong Kyu oppa, mianhae aku lama…” ujar gadis manis, yang sedari tadi ditunggui dengan sabar oleh pemuda tampan itu.

“Gwenchana, aku juga baru kok. Ini untukmu.” Katanya berbohong, padahal nyaris satu jam ia menunggu. Diserahkanlah bunga mawar merah itu pada gadis di hadapannya.

Gadis manis itu mengernyit dan mengerutkan dahinya. “Untukku, tumben sekali aku dikasih bunga olehmu. Gomawo.”

Ia hanya tersenyum, dan menarik pelan gadis itu ke dalam menara. Hingga sampailah mereka tepat di puncak menara tersebut. Pemandangan kota Seoul, sungguh menarik dan begitu menajubkan. Pemuda dan gadis itu terkesima memandang suasana malam kota Seoul yang begitu tampak jelas, dan ini pertama untuk mereka.

“Im Yoon Ah, ada yang aku katakan kepadamu?” ucap pemuda itu, di sela-sela kekaguman mereka. Yoona menilik sebentar, lalu kembali memperhatikan pemandangan yang membuat mata tak hentinya ingin memandang.

“Selama kau tak bersama-sama denganku, aku merasa kesepian dikegelapan malam. Kau seperti cahaya bagi kehidupanku, pelangi untuk mengindahkan mataku. Dan kembang api, yang membuat detak jantungku seperti waktu berhenti saat menatap matamu… aku berusaha untuk membuang perasaan ini, karena melupakan lebih sulit daripada mengingat. Aku ingin berubah untuk tidak mencintaimu lagi, demi hatiku yang terluka. Tetapi kau nyata untukku, dan aku tak ingin menjadi ilusi yang berakhir memilukan.” Ujar Kyuhyun panjang lebar, dengan kata-kata puitisnya itu. Usai itu Yoona tersenyum, kentara sekali senyum memaksakan dari bibir tipisnya.

“Sejak kapan kau jadi puitis seperti ini… aku tahu kau menyukaiku sejak dulu. Tetapi saat aku tahu kau menyukaiku, aku sudah menyukai orang lain. Dia yang membuat jantungku berdegup kencang, dia yang membawaku berusaha belajar keras agar aku mendapatkan beasiswa. Dia juga yag telah….” Yoona tak melanjutkan perkataanya karena air matanya sudah mulai menumpah, ditambah Kyuhyun telah mendekapnya dengan erat… penuh sayang.

“Menangislah sekarang, karena aku tak ingin kau menangis lagi…. demi cinta.” Yoona makin terisak, ia tersedu-sedu dalam kesedihanya. Sementara Kyuhyun terus mengeratkan pelukannya, tak ada niat mengendorkan atau melepaskan dekapan hangatnya itu.

“Jika aku tak bertemu dengannya, aku mungkin bisa membalas perasaanmu. Aku sudah berusaha untuk menghilangkan rasa cinta ini, tetapi benar yang kau katakan melupakan lebih sulit daripada mengingat. Meski sekarang aku tampak seperti bayangan…” perlahan-lahan Kyuhyun melepas pelukannya, dan menatap Yoona dengan penuh cinta(ceilah bahasa gue ;p).

Tiba-tiba saja tatapan sayang Kyuhyun berubah menjadi tatapan amarah. Amarah yang mungkin tertahan tak tersampaikan.

“Bayangan! Sampai kapan kau ingin terus seperti ini, kau terlalu terlalut pada cinta pertamamu. Yang pada akhirnya, cinta kalian tak akan bersatu… kau hanya akan terbuai pada angan-angan dan mimpimu yang konyol. Terima kenyataan Im Yoon Ah. Dan bersikaplah lebih rasional.” Api seakan menyulut Kyuhyun, ia berteriak keras. Terdengar kasar, dan egois. Yoona terdiam tak ada satu kata pun terlontar darinya.

Kyuhyun tersenyum evil, ia memegang kencang bahu Yoona dan menarik tengkuk lehernya… Yoona menolak dengan mentah sentuhan Kyuhyun yang kini menjalar mendekati bibirnya. Semakin memaksa dan kasar. Entah setan apa yang merajai benak Kyuhyun bersikap seperti itu pada Yoona… apa cinta itu buta. Sehingga apa pun yang di hadapannya tampak sama, seperti hitam dan putih.

PLAKK!!! Yoona terbebas dari cengkraman Kyuhyun, yang berusaha menciumnya. Namun gagal, karena Yoona telah berhasil menghindar dengan sekuat tenaganya. Ia juga mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi kanan pemuda yang kini tampak malang.

“Aku tak tahu apa yang telah merasukimu, kau bukan Kyuhnyun oppa yang aku kenal. Dia bukan orang yang memaksa atau melakukan sesuatu sesuai kemauannya.”

“Yoong, mianhae… aku tak tahu kenapa aku bisa seperti ini.” Sekarang Kyuhyun meminta maaf, setelah perbuatannya tadi yang memaksa juga perkataan dengan nada tingginya itu.

Seperti tak ada kata belas kasih yang ditunjukkan Yoona, wajahnya penuh dengan amarah. “Ya aku memang bayangan. Dan aku hanya akan menjadi bayangan, yang akan hilang bila sinar cahayanya telah sirna.” Ia berlalu pergi dari hadapan Kyuhyun, dengan air tumpah di wajah sendunya. Khuhyun terus memanggil Yoona, tapi gadis itu tetap berjalan lurus tanpa menoleh suara yang memanggilnya.

Yoona si gadis manis nan cantik itu berjalan dan melangkah tertatih sesampai rumah keluarga Lee. Rumah itu adalah tempat singgahnya, juga tempat di mana ia tak bisa melupakan masa lalunya. Tentu saja seseorang di masa lalunya ada tinggal bersamanya, mereka saling bertemu, menyapa, dan berbagi suka dan duka. Tetapi toh percuma, seseorang itu tak mampu mengingat masa lalu… bukan masa lalu, terkadang sesuatu yang baru saja terjadi ia melupakannya. Penyakit yang membuatnya seperti itu, hanya keajaiban yang mampu membalikkan keadaan.

“Kau kenapa?? Kau habis nangis yah?” seseorang pemuda tampan mendapati Yoona di halaman depan rumahnya. Yoona menahan air mukanya yang ingin terjatuh kembali.

“Gwenchana… kau sedang apa di sini??” sahut Yoona lirih.

“Aku bosan di dalam, mau menemaniku… kata harabeoji tetangga sebelah akan menyalakan kembang api. Aku ingin melihatnya, kita lihat bersama… yuk!!” ajaknya pada Yoona yang langsung menarik lengan gadis itu, tanpa persetujuan.

Mereka duduk di bangku taman depan rumah keluarga Lee yang luas, malam memang semakin larut. Tetapi cahaya bulan, mampu menerangi malam sunyi itu. Tak butuh waktu lama mereka baru saja duduk. Kembang api itu telah menyala-nyala dengan indahnya, berbagai warna serta bentuk-bentuk yang ditunjukkan menjadi ciri khas tersendiri dari berbagai jenis kembang api. Yoona merasa ia kembali pada masa lalunya, di mana ia menlihat kembang api bersama dengan seseorang yang kini berada di sebelahnya.

“Indahnya, bagaimana kalau kita memejamkan mata… kurasa kembang api itu, tak hanya indah dilihat. Dengan hanya mendengarnya, mampu merasakan hal yang ada di dalam pembuatan kembang api itu. Pyrotechnics…” entah sadar atau tidak ucapan Donghae, ia mampu membuat lidah Yoona kelu… kata-kata Donghae hampir persis dengan Donghae di masa lalu… di aras gerbong kereta.

“Kau masih sama dengan dia…” batin Yoona. Donghae telah memjamkan matanya terlebih dahulu, lalu Yoona menyusul dengan menyandarkan kepalanya di bahu kanan Donghae.

“Adakalanya aku menangis mengingat kembang api.” Tutur Yoona, tanpa ia sadari dalam pemejaman matanya. Kristal bening, terjatuh satu, sepuluh, seratus, atau berkali-kali. Sampai ia membuka matanya kembali.

“Kau menangis lagi, jangan menangis.” Donghae mengangkat wajah Yoona hingga ke hadapannya, ia juga menghapus air mata itu dengan kedua tangannya.

“Donghae oppa…” ucap Yoona serak. Ia juga langsung memeluk Donghae, dan Donghae membalas pelukan tersebut. Mereka melepas pelukkan masing-masing, kini mereka saling pandang memasuki kedalaman pancaran mata keduanya. Hingga wajah mereka memiring dan semakin mendekat. Mereka saling menyatu dalam sentuhan dari kedua bibir mereka, memagut dengan sangat lama. Mereka saling mengetatkan tangan besarnya di sekeliling jemari yang menggenggam.

“Sekalipun aku harus berpisah denganmu, aku ingin kau mengingat kembali saat pertama kita bertemu… meskipun itu tak mungkin. Dan Ciuman ini terasa seperti tembakau pahit yang berbau sedih.” Ujar Yoona dalam batinnya.

Tanpa mereka sadari sepasang mata tersenyum memandang mereka.

“Jika cinta telah bertaut pada hati masing-masing… penyakit separah apa pun mengalahkan kekuatan hati.” Gumam tuan Kim yang terduduk di korsi rodanya….

_________

Sejak kejadian malam itu, Yoona merasa kikuk berhadapan dengan Donghae. Padahal belum tentu pemuda itu mengingatnya, saat penyakitnya menyerang. Kemudian hari kembali berlalu, semakin berlalu. Kemarahan Yoona pada Kyuhyun pun telah sirna, mereka kembali bersikap seperti biasa. Persahabatan, itulah mungkin takdir mereka… menjadi sepasang sahabat yang saling mendukung, dan menerima apa pun. Tanpa menuntut macam-macam, dari sebelah pihak.

Ketika langit tampak cerah, Donghae ingin sekali pergi bersama Yoona di suatu tempat. Ya! mereka memang sering pergi berdua akhir-akhir ini, karena semua keinginan Donghae. Dan keluarga Lee, sudah sangat percaya pada Yoona. Jadi mereka tak khawatir Donghae pergi keluar, bersama Yoona.

“Aku suka kalau kita pergi bersama.” Ucap Donghae mengapitkan lengannya pada tangan kanan Yoona. Yoona tersenyum, ia merasa nyaman.

Namun kedamaian mereka, terusik dengan hadirnya seorang pemuda. Ia memberhentikan motor besarnya, tampak ia percaya diri menghampiri Yoona dan Donghae.

“Annyeong Im Yoon Ah.” Sapa pemuda yang mengenakan kaos dipadukan kemeja biru kotak-kota tanpa kancing yang mengait.

Yoona menoleh suara yang menyapanya, ia agak tak suka dengan kehadiran pemuda itu. Pemuda berwatak keras kepala dan egois menurut Yoona. Dia Jung Yong Hwa, mantan kekasih Seo Joo Hyun. Yang selalu berusaha mendapatkan kemabali Seo Joo Hyun, namun semuanya sia-sia. Gadis cantik itu tetap pada pendiriannya, menerima lelaki yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya… Lee Donghae pemuda beruntung itu. Sejak persahabata Yoona dan Seo Joo Hyun terjalin, Yong Hwa tak pernah henti mengganggu mereka. Ditambah pengetahuan Yong Hwa, bahwa Yoona satu atap dengan Donghae.

“Ne, Annyeong.” Sahut Yoona jutek.

Yong Hwa makin mendekat, matanya kelihatan penuh emosi yang tertahan. “Gadis secantikmu tak pantas untuk berucap jutek.”

“Mau apa kau??” kata Yoona to the point.

“Mauku, aku hanya berjalan-jalan. Tak sengaja aku melihat kau, dan dia.” Jawabnya, ada penekanan ‘dia’ dengan nada emosi. Ia kembali bersuara lagi. “Aku tak suka basa-basi. Untuk sekian kalinya, aku mengatakan padamu. Tolong urus tuanmu (menunjuk Donghae), oh… maksudku cinta terpendammu. Aku akan merebut kembali Seo Joo Hyun, dia hanya milikku.”

Yoona melolong, ia tersentak kaget dengan pernyataan ‘cinta terpendammu.’ Bagaimana pemuda picik itu mengetahuinya, bahkan Seo Joo Hyun tak tahu menahu akan perasaan ini. Pikirmu. Rupanya pemuda itu dapat membaca situasi yang ditunjukkan dari ekspresi Yoona.

“Aku tahu kau menyukai pemuda itu, dan tak penting aku mengetahui hal itu dari mana. Aku hanya ingin memberitahumu cintaku dan Seo Joo Hyun. Tak akan pernah terpisah cinta kami abadi. Takdir kami adalah bersama.”

“Kau begitu sombong, bahkan kau ingin melawan takdir. Jika kau mencintainya, biarkanlah dia bahagia dengan pilihannya. Toh cinta tak mesti harus bersatu bukan.” Teriakkan keras keluar dari tenggorokkan Yoona, ia mulai terpancing emosi.

“Haha, cinta tak mesti harus bersatu. Itu cintamu (ia menunjuk jari telunjuknya ke hadapan wajah Yoona). Bukan cintaku.” Amarah Yong Hwa semakin membuncah, ia geram dan matanya melotot merah.

“Tapi kalau Tuhan sudah berkendak kau hanya akan menerima pil pahit dari ucapanmu sendiri.”

“Tak ada yang mustahil di bawah awan.” Ia kembali mengerang keras.

Sementara hal yang menjadi salah satu obyek pembicaraan hanya diam, seperti tak mengerti apa pun. “Apa penyakitnya kali ini menyerang pendengarannya?” lirih batin Yoona, melihat Donghae yang memeganggi kedua telinganya. Ia terlihat, seperti orang tuli. Yoona terduduk lemas di bangku taman, ia merasa pernyataan Yoong Hwa ada benarnya.

“Jika kita berusaha apa pun pasti kita dapatkan, rintangan terbesar adalah ujian yang harus kau tempuh. Aku mencintai gadis itu sangat besar, mungkin lebih daripada cintamu pada dia. Aku berani bertaruh apa pun agar cintaku tetap bersatu.” Tiba-tiba saja Yong Hwa pemuda egois itu merendahkan suaranya, tutur bahasanya cukup rapi dan halus.

“Kau tak mengerti soal cinta.” Sahut Yoona polos.

Emosi Yong Hwa memnuncak kembali. “Jangan ajarkan aku mengenai arti cinta… lalu kau sendiri apa yang kau pertaruhkan pada lelaki seperti itu??” sindirnya tajam, sambil menunjuk Donghae yang terduduk lemah. Yoona terdiam, ia masih membisu seribu bahasa.

“Hah…tidak ada lagi kan… aku pergi!” sebelum Yong Hwa berlalu, Yoona melangkah kecil.

“Nyawaku.” Katanya tegas dan penuh keberanian dalam pelafalannya.

Yong Hwa kembali membalikkan badannya, tetapi ia hanya diam di tempat. “Nyalimu rupanya cukup kuat.”

“Jika itu jalannya, aku tak bisa mengelak.” Sahut Yoona dengan percaya diri, tanpa ada rasa takut.

“Hah… itu terdengar seperti drama tingkat tinggi.” Yong Hwa makin menyunggingkan senyumnya.

“Aku mencintainya seperti aliran sungai yang mengalir selamanya, tanpa ada ujung hingga berhenti di tempatnya yaitu lautan yang luas. Tetapi aku sadar cinta tak selamanya harus memiliki, aku tak mau bersikap egois sepertimu.”

Tanpa berkata-kata lagi Yong Hwa benar-benar berlalu dari hadapan Yoona, dan pergi menjauh… semakin menjauh…. Hingga sosok dirinya tak tampak lagi. Usai itu Yoona memegang dadanya, tubuhnya bergetar. Ia menitihkan air mata untuk kesekian kalinya.

____________

Waktu terus bergulir, hari telah berganti. Hingga datanglah bulan baru, dan musim baru dating menjamah. Semakin dekat hari pernikahan Lee Donghae dan Seo Joo Hyun. Semua telah dipersiapkan, undangan telah dibagikan, pakaian pengantin tak perlu ditanya semua sudah siap…. Tempat pernikahan telah di atur sempurna. Benar-benar sudah mencapai klimaks dari perjodohan yang dilakukan antar keluarga terpandang itu.

“Annyeong eomma.” Panggil Yoona pada seorang wanita cantik berambut pendek, yang sedang melihat perhiasan-perhiasannya di sebuah kotak persegi empat berukuran sedang. Ada satu hal lagi, sejak Yoona tinggal di rumah itu mengurus tuan Kim. Keluarga Lee telah menganggapnya keluarga, terutama nyonya Lee yang sangat saying pada Yoona.

“Annyeong Yoong, kemarilah eomma mau menunjukkanmu cincin warisan keluarga Lee.” Yoona yang berdiri di depan pintu segera mendekat ke nyonya Lee atau nyonya Kim Taeyeon.

Nyonya Lee mengeluarkan cincin cantik itu dari kotak. “Ini cincin yang akan dipakai Seo Joo Hyun kalau dia sudah resmi menjadi istri Donghae. Oh ya kau mau mencobanya.”

“Ani… eomma… aku.” Yoona menolak, meski sebenarnya ia ingin.

“Tidak apa-apa sayang, kau sudah eomma anggap anak sendiri. Apalagi eomma tak punya anak perempuan.” Kim Taeyeon mengelus rambut Yoona, dan memasangkan cincin itu ke jari manis tangan kanan Yoona. Ada suatu perasaan yang tak bisa diucapkan oleh kata-kata, saat cincin itu melingkar di jari manis Yoona. Ia menerawang jauh, seandainya cincin itu ialah pemiliknya. Lama mencoba, sewaktu ingin dilepaskan cincin itu begitu kuat sepeti tak mau lepas.

“Eomma, cincinnya tak bisa lepas. Bagaimana ini?” Yoona cemas dan bingung, ditari-ditarik cincin itu tak mau lepas juga. Sampai minyak kelapa yang membuat cincin itu terlepas.

“Akhirnya terlepas juga.”

“Mianhae Yoong, ini semua salah eomma.”

“Anio eomma, simpanlah dan pakaikan lah pada Seo Joo Hyun nanti.” Mereka saling berpelukan.

________

*SOMEONE POV*

 

Aku memandang bengis diriku sendiri di depan cermin. Tersenyum, senyumku yang tak ikhlas. Aku ingin berteriak, tetapi itu percuma. Hanya ada satu cara aku harus memusnahkannya, pemuda terkutuk itu akan kuhabisi dengan caraku sendiri.

Gumprang!!!!!!!! Kupecahkan cermin di hadapanku, hingga kacanya menancap dijariku. Darah hangat keluar, aku menahan rasa sakit yang tak seberapa disbanding rasa sakit hatiku.

*SOMEONE POV END*

__________

Harinya telah tiba, pernikahan itu akan berjalan beberapa jam lagi. Semua sanak keluarga besar telah berkumpul di gereja yang telah dipersiapkan sebelumnya. Geraja yang akan menjadi saksi bisu, bersatunya sepasang manusia dalam ikatan suci pernikahan.

Tetapi tidak dengan sang mempelai pria, ia masih di rumah bersama dengan Yoona yang menemaninya.

“Oppa, kau berangkat saja, kau kan yang akan menikah. Aku masih menunggu Kyuhyun oppa, dia sedang ujian.” Ujar Yoona meminta Donghae untuk pergi dahulu. Ya! Pemuda itu sangat tergantung pada Yoona, ia tak mau pergi kalau Yoona tak ikut bersamanya.

“Aku akan menunggu Kyuhyun… kita pergi bersama.” Jawab Donghae kekeh.

“Oppa jangan keras kepala, dengarkan aku. Aku pasti datang ke pernikahanmu, tetapi kau berangkat duluan.” Yoona terus memaksa, sampai akhirnya Donghae luluh. Ia pergi dahulu ke gereja dengan di temani supir.

“Ya sudah oppa, kau hati-hati yah. Dah-dah…” Yoona melambaikan tangannya, mobil yang membawa sang mempelai semakin menjauh. Tetapi ada yang janggal, supir yang membawa Donghae berbeda dengan yang tadi pagi. Atau ini hanya perasaannya… entahlah!!!!!

Yoona kini berada sendiri di rumah yang sangat besar, ia melangkah pelan memasuki kamar Donghae. Lancing! Pikirnya! Tapi ini terakhir kalinya, ia memasuki kamar ini. Karena saat janji suci itu terucap, sudah ada wanita lain yang mengurus kamar ini. Tangan tak tinggal diam untuk memegang benda-benda di kamar itu, hingga laci-laci ia teluri…. Dan sesuatu telah ia temukan di situ. Buku?? Buku rangkuman tiga cerita yang pernah dibacakan oleh pemilik buku ini di masa lalunya. Kembali mengenang, Yoona membuka buku itu dan di lembar terakhir ia menemukan sebuah tulisan yang membuat tubuhnya gemetar.

Hahaha…apa ini cinta pertama?? Tapi aku tak tahu, aku begitu menyukai matanya… wajah cantiknya dan senyum manisnya. Gadis itu berbeda dari gadis lain yang pernah kutemui. Pertemuan singkat, tetapi membawa kesan yang dahsyat untukku. Tuhan aku ingin bertemu dia lagi, bersama seperti masa ini. Jika diizinkan aku mencintai seseorang, maka aku akan memilih gadis itu… Im Yoon Ah.

Tangannya terasa kaku, air mata tak dapat dibendung menumpah begitu saja… ia semakin mengeratkan buku usang itu ke dalam dekapannya. Tak kala ia melihat tanggal penulisan di tepi ujung buku itu, bulan dan tahun yang sama saat mereka bertemu.

“Hik…hiks… Kau memiliki perasaan yang sama sepertiku. “ tanpa suara ia menangis tersedu.

Tret..Tret…. getaran ponsel Yoona bergetar, ada seseorang yang menghubunginya dengan nomor pribadi.

“Hallo.” Suara Yoona agak parau.

“Hallo, nona Im… sebentar lagi kau akan melihat akhir dari cintamu. Cinta siapa yang tak akan memiliki, aku akan membunuhnya. Aku berada di dekat stasiun kereta, jika kau ingin bertemu dengannya untuk terakhir kalinya. Datanglah…” kata pemuda itu dingin, dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.

“Hallo, kau gila… Jung Yong Hwa, itu kau…” Yoona keluar dari kamar Donghae dan rumah dengan berlari tunggang langgang. Pikirannya sangat kacau, ia mencari kendaraan umum. Lalu ia memutuskan untuk menaiki taksi.

Di tempat berbeda, di dekat stasiun kereta api yang sepi. Donghae sudah dikeroyoki oleh segerombolan orang-orang. Ia masih mempertahankan tenaganya untuk berdiri.

“Kau harus pergi dari dunia fana ini Lee Donghae.” Kata Yong Hwa yang amarahnya sudah memuncak tak tertahan. Ia juga mengeluarkan belati tajam dari saku celananya.

“Sebentar lagi.” Donghae tak bergerak karena ia suah banyak kehilangan tenaga. Sementara Yoona yang baru sampai stasiun, ia melihat dari kejauhan segerombolan orang mengepung Donghae. Tanpa ragu Yoona berlari mendekat, ia terus berlari dengan gaun yan dikenakannya untuk menjadi pengiring pengantin.

Semakin mendekat… dan…. Tertancaplah belati tajam itu tepat di ulu hati Yoona. Darah segar pun keluar dengan deras.

“Oppa.” Ujar Yoona menahan sakitnya, Donghae segera membopong Yoona. Sementara Jung Yong Hwa yang melakukan aksi itu, ia terdiam…. Ia jadi teringat kata-kata Yoona saat di taman itu.

“Nyawaku.” Berkali-kali kata-kata itu terngiang di telinga Yong Hwa. Ia bersama gerobolannya pergi dari tempat itu, tapi sebelum itu…

Door!! Door!! Lima peluru tertancap di punggug Donghae.

Ia yang menahan tubuh Yoona agar tak terjatuh, tubuhnya pun semakin melemah. Sampai akhirnya tubuh mereka jatuh bersama.

            Kenagan itu terulang lagi, saat mereka menjatuhkan tubuh mereka bersama… kenangan masa lalu…. Kenangan cinta pertama dan… hingga akhirnya seperti ini. Inikah keabadian cinta sesungguhnya….

“Apa yang kita lakukan di sini, dan siapa namamu?” Tanya Donghae, di tengah sekaratnya. Ingatannya kembali menyerang.

“Im Yoon Ah, itu namaku….” Sahut Yoona, ia menitihkan air matanya. Rasa sakit yang tertusuk oleh belati tajam itu, tak sebanding dengan apa yang ia terima kenyataan ini.

            “Aku tak dapat mendengarmu, siapa namu?”

“Im Yoon Ah, itu namaku…” ucap Yoona sekali lagi.

Donghae tak lagi bersuara ia diam.

“Jika ini hanya mimpi tolong bangunkan aku.” Tangan mereka saling berpegang dengan sangat erat, mereka terlentang di tengah aspal. Tak ada orang melihat peristiwa naas ini.

“Aku mencintaimu seperti ini, akhir dari pencarian panjang. Kutinggalkan kesedihan tak berakhir di dunia ini. menapaki jalan yang banyak dan tak diketahui, kuikuti cahaya yang redup. Itu sesuatu yang kita lakukan bersama sampai akhir menuju dunia baru kita bersama.” Di waktu yang bersamaan aliran darah mereka berhenti, jantung tak lagi memompa seperti biasa… dan mata mereka mulai menutup…. sampai akhirnya mereka menghebuskan napas untuk terakhir kali.

-END-

Gimana ffnya jelek ya?? Mian ffnya aneh kan.. haha .. wong authornya juga aneh, tapi tetep kece *pede* . Mian banyak typo, sangat panjang yah….. YoonHae forever❤❤❤ .

RCL.


22 thoughts on “[Freelance] IF…

  1. maaf ya, tapi saya mau kasih sedikit masukkan sebaiknya tulisannya yang “kau” diubah jadi aku. Biar lebih enak aja di bacanya, tapi ceritanya bagus kok🙂

    Like

  2. Bgus banget ceritanya
    kata-kata yang dipakai juga aku suka banget
    sampai nangis pas baca endingnya..
    ditunggu ya FF berikutnya..

    Like

  3. huahhhh… akhirnya sad..
    gak rela!! tapi yg penting tetep YOONHAE jjang!!
    kkk~ lain kali eonni, bikin FF yg akhirnya happy end yahh tapi tetep harus YoonHae!!
    FF eonni, jeongmal daebak.. ditunggu FF lainnya KEEP WRITING eonni!!😀

    Like

  4. Romantis banget …. mirip banget kayak Romeo dan juliet ^^ tapi endingnya Sad😥
    Alurnya keren …. ceritanya jelas , klimaksnya keren😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s