[Freelance] Time Machine #1


 TIME MACHINE (CHAPTER 1)

Main Cast : Kim Joong won (Yesung), Kwon Yuri

Other Cast : Super Junior, SNSD

Genre : Romance, Adventure

Author : “Mawar” (bukan nama sebenarnya)

“Annyeong readers nim… Perkenalkan aku sendiri readers di sini dengan nick ‘han_ka_tya’ biasanya. Ini adalah cerita temanku. Sebenernya cast dan lokasi di cerita aslinya ini sama sekali nggak ada hubungannya ama Korea. Murni imajinasinya. Sayang banget kalo karyanya ini hanya sekedar menjadi koleksi pribadinya, makanya kuusulkan biar dimasukin page ini aja and cast-lokasinya diganti biar nyambung ama page ini. Panggil saja dia dengan sebutan ‘Mawar’ (bukan nama sebenarnya-hhahahaha-kaya yang di berita2 ya??) Ini perdananya author ‘Mawar’ dengan couple SuGen YesYul/YulSung/YeRi. Soalnya aku pikir page ini gag banyak yang pake ni couple. Tapi couple ini emang asli favourite author ‘Mawar’ juga kok. Happy reading aja, ya…”

Soundtrack List :

  • Jin Ho – Man Yage Uri
  • Meja – It’s Too Late
  • Keane – Nothing In My Way
  • Incubus – Dig
  • K. Will – Dropping Tears
  • Girls’ Generation – Time Machine
  • Keane – Somewhere Only We Know
  • Rihanna feat Calvin Harris – We Found Love

 

~ CHAPTER 1 ~

Yeoja itu. Ia terus memandangku lekat. Bibir tipisnya mengatup rapat. Alisnya yang tebal sebentar – sebentar bertautan. Kedua bola matanya yang bulat mengarah tepat pada manik mataku. Sudah dua puluh detik berlalu dan pandangan yeoja itu tidak beralih juga dari manik mataku. Siapa dia? Kenapa dia terus memandangiku sejak pertama kami bertemu di tempat ini?

SEOUL, 30 Agustus 1962

“Hyung, apa kau sudah lama menungguku?”

“Ah, KyuHyun ssi, animnida. Gwaenchanahamnida. Aku juga baru saja datang di tempat ini.”

“Ah… Mianhamnida, Hyung. Tahu kan, anakku – HyunJoo, sulit sekali membiarkanku pergi, sampai – sampai istriku JooHyuni kewalahan mengalihkan perhatiannya. Baiklah, Hyung. Sampai di mana progress bagian, Hyung? Apa Hyung sudah selesai merakitnya?”

. . . . . . . . . . .

“Hyung?? Kim JongWoon ssi?”

“Ah, mianhamnida, KyuHyun ssi, aku… aku… tadi hanya tidak fokus karena kurang tidur tadi malam.”

“Jinjjahamnikka? Geureomnikka, kenapa mata Hyung sepertinya malah fokus ke arah yeoja yang di sebelah sana terus?”

“Jeon?”

“Ne. Hyung tadi terus memandangnya selama lebih dari sepuluh detik.”

“Jinjja?? Sepuluh detik?? Ya, Cho KyuHyun ssi, lebih baik kau fokus pada menghitung teori waktu masa lampaumu itu saja!”

“Hha – ha – ha – ha – ha – ha! Itu tidak lucu, Hyung!”

“Ne! Apa aku terlihat tertawa tadi? Memang tidak ada yang lucu!”

Cho KyuHyun ssi, kau menggangguku saja! Baru saja mata kami tadi kembali bertemu… Nona, siapakah dirimu sebenarnya? Kenapa ada perasaan aneh setiap kau memandangku begitu?  Entah bagaimana, tetapi di setiap sudut matamu dapat kurasakan pancaran hangat yang lama kurindukan. Dan di saat bersamaan juga terasa menyesakkan di dada. Seperti ada sesuatu yang pernah terjadi dan kurasakan hingga keganjalan itu tiba – tiba juga ikut menyembul di dalam tatapanmu. Entahlah, betapa sebuah tatapan dari sepasang mata indah seorang yeoja telah mampu membuat gejolak dalam darah dan desiran angin lembut menenangkan jiwa merasuk di dalam tubuhku.

Sudah satu jam berlalu semenjak aku dan adikku – setidaknya ia bisa kuanggap sebagai adikku sendiri – duduk dan berdiskusi di tempat ini. Memang tempat ini belum pernah kudatangi sebelumnya. Baru dua minggu terakhir ini aku dan KyuHyun ssi sering datang ke tempat ini. Sebuah tempat makan lengkap dengan aneka minuman ringan yang dapat diracik oleh sang pemiliknya langsung. Itu sebabnya tempat ini menjadi favorit KyuHyun ssi, karena jujur saja, di balik pembawaannya yang tenang dan berwibawa – di samping sekarang ia telah menjadi seorang ayah –  KyuHyun ssi adalah seorang peminum yang handal. Apakah istrinya tidak tahu dan keberatan? Seo JooHyun ssi, istri Cho KyuHyun ssi, adalah gadis – yah, gadis karena umurnya jauh lebih muda tiga tahun dari KyuHyun ssi dan tujuh tahun dariku – cantik, manis, baik, dan penurut. Aku jarang sekali mendengar KyuHyun ssi mengeluh soal istrinya itu. Malah tidak pernah!

Ya, KyuHyun ssi sama sekali tidak pernah membicarakan hal jelek tentang istrinya itu. Ia sama sekali tidak pernah komplain, mengeluh atau pun mungkin kecewa pada adanya beberapa sifat jelek istrinya.Sebaliknya, setiap hari ia akan bercerita bagaimana harmonis dan bahagianya kehidupan rumah tangganya yang kini telah dikaruniai seorang anak perempuan. Anak itu mereka beri nama Cho HyunJoo. Betapa irinya hatiku mendengar cerita adik angkatku ini. Masih muda, cerdas, tampan, dan telah memiliki keluarga kecil yang bahagia.  Tidak seperti diriku yang sudah akan berkepala tiga. Dan… masih sendiri.

 

“Oke, Hyung. Ini sudah lebih setengah jam dari waktuku biasanya. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku takut JooHyuniku akan mengkhawatirkanku karena aku belum tiba juga di rumah. Baiklah, besok kita bertemu langsung di workshop saja, ya? Sisanya Hyung bisa kerjakan sendiri, kan?”

“Ya – ya –ya – ya… Aku tahu KyuHyun ssi… Oke, pulanglah duluan, aku juga akan merasa sangat bersalah sekali pada JooHyun ssi kalau kau sampai terlambat pulang karena aku dan juga ide gilaku ini. Hati – hatilah di jalan KyuHyun ssi!! Langsung pulang!! Jangan mampir – mampir lagi!!” kugoda lelaki yang telah kuanggap sebagai adikku itu. Yang sebenarnya sudah dari delapan detik yang lalu telah menghilang dari pandanganku.

Yah, seperti aku tidak tahu saja, KyuHyun ssi memang bisa dibilang workaholic, tetapi ia sangat bertanggung jawab dan tahu diri akan posisinya sebagai seorang pemimpin keluarga sekarang. Apalagi kalau menyangkut tentang JooHyun ssi istrinya dan HyunJoo ah anak pertamanya itu. Jangankan badai, bahkan lautan api pun akan diterjangnya hanya untuk memastikan istri dan anaknya tidak kecewa dan marah padanya karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia selalu ingin menjadi ‘appa’ dan ‘oppa’ yang paling sempurna bagi kedua ‘permata’ di hidupnya, Seo JooHyun ssi dan Cho HyunJoo ah.

Tadinya aku masih belum ingin pulang meski hari sudah beranjak menjadi senja dan tempat ini pun mulai sepi pengunjung karena pada malam hari tempat ini ditutup. Tunggu dulu. Ada sesuatu yang sedari tadi menggangguku. Ke mana kah Nona Misterius itu berada sekarang? Aku baru tersadar kalau sedari tadi aku belum melihatnya lagi. Sejak KyuHyun ssi mengganggu ‘pertemuan’ kedua mata kami tadi pagi. Jelas sudah semuanya sekarang. Pantaslah kalau aku memang ditakdirkan untuk selalu sendiri dalam percintaan karena nona secantik dan semanis Nona Misterius itu pun tidak dapat kujaga dengan baik dari pandanganku.

Hhahahahaha… Kim JongWoon… Memang sudah takdirmu seperti ini. Dan mungkin akan selamanya begini. Selamat datang dalam kehidupanku, wahai kesepian dan kesendirian!

Kutenggak habis minumanku yang telah dipesankan KyuHyun ssi tadi. Sial, aku sudah terlalu terbiasa dengan rasa pahit minuman ini. Harusnya, sesekali aku tolak saja tiap KyuHyun ssi menawariku minuman. Agar aku pun tidak terlalu menjadi pecandu seperti ia dulu sebelum mengenal JooHyun ssi. Aku tidak mau menjadi lelaki kesepian yang selalu berakhir dengan beberapa gelas besar kosong minuman – minuman seperti ini. Oke. Sudah waktunya aku melanjutkan kembali kehidupanku.

“Ya, SiWon ssi! Gamsahamnida untuk hari ini! Aku pamit dulu, ya!”

“Ne, YeSung ssi!! Kami selalu senang dan terbuka menerima kunjunganmu kemari!”

“Aratseumnida! Sampaikan salamku pada Nyonya Choi SooYoung, ya! Annyeonghigasibsiyo!”

“Ne! Tentu saja, YeSung ssi! Istriku itu sedang dalam perjalan kemari untuk menjemputku dan membantu menutup tempat ini! Berhati – hatilah dalam perjalan pulang!”

Kulemparkan anggukanku padanya dan membungkuk singkat ke arahnya. Kulangkahkan kedua kakiku keluar dari tempat SiWon ssi, salah seorang sahabat yang kukenal juga dari KyuHyun ssi. SooYoung ssi istri SiWon ssi adalah adik kelasku dulu di sekolah dasar. Lucu juga, setelah sekian lama ternyata aku bertemu kembali dengan orang – orang dari masa laluku. Masa lalu, masa kini  dan masa depan. Tiga waktu yang akan selalu mengitarimu dan menghubungkanmu. Saling mempengaruhi dan tidak akan mungkin dapat dicegah atau pun diputar kembali.

Yah, setidaknya itu hanya untuk sementara ini saja. Kenapa? Karena aku dan KyuHyun ssi sedang dalam pemikiran gila kami. Aku tahu mungkin hal ini bisa dikatakan konyol dan tidak masuk akal atau pun gila. Terserah saja orang ingin memilih yang mana. Tetapi ini lah yang sedang kami kerjakan saat ini. Dibantu dengan teman – teman seperjuangan kami yang saat ini tengah berada di luar kota Seoul karena menghadiri pertemuan pertukaran pelajar bidang ilmu pengetahuan dan fisika serta kimia. Mereka adalah Kim RyeoWook ssi dan Kim KiBum ssi. Lee DongHae ssi dan Lee HyukJae ssi serta Park JongSoo ssi sedang dalam perjalanan kembali ke Seoul setelah satu minggu berada di Wina untuk menghadiri pertemuan komunitas pertukaran pelajar yang pernah mereka ikuti beberapa tahun lalu. Lee SungMin ssi sedang dalam perjalan bulan madunya setelah seminggu yang lalu ia baru saja resmi menikah dengan Lee SunKyu ssi, kekasihnya yang juga teman semasa kecilnya. Sedangkan ShinDong ssi dan Kim HeeChul ssi sedang berada di Moskow, masih dalam masa pertukaran pelajar. Baru dua minggu yang lalu mereka berangkat dan akan berakhir dua tahun lagi ke depan. Untung saja mereka berdua sudah cukup banyak mengerjakan bagian mereka dalam proyek kami ini.

Kami semua sebenarnya adalah teman yang bertemu karena tidak sengaja mengikuti perkumpulan pelajar yang sama. Satu hal yang menjadi persamaan kami adalah, kami semua menyenangi pelajaran bidang ilmu pengetahuan dan fisika serta kimiawi. Kami semua bertemu karena hubungan antar pertemanan. Seperti KiBum ssi yang sebenarnya merupakan teman satu kuliah dengan RyeoWook ssi. RyeoWook ssi adalah juniorku dan senior KyuHyun ssi di sekolah tinggi kami dulu. Sedangkan SungMin ssi adalah senior KyuHyun ssi di masa sekolah menengahnya dulu. DongHae ssi adalah teman masa kecilku yang sudah berteman dengan HyukJae ssi di sekolah tingginya. JongSoo ssi adalah senior mereka. HeeChul ssi adalah tetangga JongSoo ssi yang juga masih berhubungan kerabat dengan ShinDong ssi.

Kami semua terlihat seperti sedang berputar – putar saja, kan? Hhahahahahaha. Tentu saja, karena kami memang tengah terjebak dalam lingkaran takdir. Mungkin terdengar seram. Setidaknya menurutku. Tetapi seperti inilah akhirnya cerita kami bermula. Sudah dua tahun ini proyek ini kami kerjakan. Kami sangat berharap banyak pada proyek kami ini. Banyak hal – hal besar yang kami gantungkan nantinya setelah proyek ini berhasil membuka mata ilmuwan dunia.

Tiba – tiba langkah kakiku terhenti karena gendang telingaku menangkap suara ketidak wajaran dari arah yang tak jauh  di depanku.

“Lepaskan aku! “

. . . . . . . . . . .

“Kumohon hentikan!  Jangan sakiti aku!”

Suara sayup – sayup seorang gadis yang sepertinya tengah dalam kesulitan, seolah segera menyadarkanku untuk menghentikan pemikiranku saat sedang menebak – nebak apa yang sebenarnya terjadi di hadapanku saat ini. Kucoba untuk tidak terlalu terburu – buru mencampuri urusan yang sedang terjadi. Kuputuskan untuk mengintai dari balik dinding menuju gang sempit yang gelap di hadapanku. Terlihat bayangan seorang gadis yang tengah dikelilingi beberapa pria bertubuh gempal dan besar.

“Ya, Agassi! Kami hanya ingin mengambil kalung dan anting mutiaramu di kedua telingamu itu… Santai sajalah sedikit pada kami, tidak perlu histeris seperti itu, kan…”

“Ya, janganlah berlebihan atau kami akan melakukan hal yang lebih buruk lagi padamu!”

Cih, bajingan – bajingan tengik di kota ini tidak juga berkurang. Baiklah, mereka ada berempat. Kebetulan sekali sudah lama juga aku tidak mempraktekkan beberapa gerakan TaekWonDo yang sempat kudalami tiga tahun lamanya ini.

. . . . . . . .

“Ya! Aku pikir tadinya bajingan – bajingan tengik seperti kalian ini sudah cukup berkurang di kota ini. Rupanya kalian tertinggal kereta hukum, hah?”

“Ya! Siapa kau?! Berani – beraninya mengganggu aksi kami!”

“Aku? Aku hanyalah namja tampan yang jengah dengan bajingan – bajingan model kalian ini!”

“Mwoya?!! Aissh… jangan banyak bicara dan banyak tingkah kau! Rasakan ini!”

Pria bertubuh gempal pertama menyerangku. Hantaman dari tangan kanannya berhasil kutepis dengan tangan kiriku dan dengan sigap kukalungkan tangan kiriku menjepit tangan kanannya tadi. Dengan memanfaatkan dorongan tenaganya saat ia maju menghantamku tadi, cukup untuk menyungkurkan badannya ke tanah. Tubuh gempal pria pertama terpelanting keras dengan mudah, diiringi  erangan melengkingnya. Sepertinya salah satu tulang punggungnya ada yang bergeser dilihat dari posisinya yang terjatuh tidak tepat. Pria pertama tidak bergerak lagi. Ia terus mengerang kesakitan.

Mendengar erangan temannya yang kesakitan parah membuat seorang pria gempal satunya lagi mendekat untuk ikut menghajarku, diikuti yang bertubuh agak pendek juga. Cih, mulai bermain keroyokan denganku? Aku tidak mau kalah cepat.  Setelah berhasil menghindari pukulan pertama pria kedua, tanpa ba – bi – bu saat melihat perut kanannya terbuka tanpa pertahanan, dengan cepat kuhentakkan kaki kiriku menendang perut kanannya tadi dan kuakhiri dengan menghantam sisi kanan kepalanya. Percikan darah segar dari mulut pria kedua pun sempat tersembur dan mengenai kemeja putihku. Pria kedua pun jatuh tersungkur sembari mengerang lebih kesakitan tak jauh dari tempat pria pertama. Sama saja, ia juga tidak bergerak lagi, terus mengerang – erang kesakitan.

Aku tersenyum dan sedikit terlena karena tidak menyangka keahlianku dalam bela diri rupanya masih memuaskan juga. Hingga akhirnya satu hantaman cukup keras menjatuhkanku. Punggungku serasa berdenyut dan terasa panas sekali. Seperti dihantam benda tumpul yang keras. Seketika kepalaku agak pusing dan menyebabkan pandanganku agak sedikit kabur. Namun, aku berusaha tetap terjaga. Benar saja, tak lama setelah itu, pria ketiga yang tiba – tiba telah membawa  kayu panjang tumpul mulai menghampiriku dan bersiap menghajarku lagi.

“Matilah kau, pemuda tukang ikut campur urusan orang!!”

Aku?? Tukang ikut campur?? Enak saja! Aku ini pembela kebenaran!

Saat kulihat kaki pria ketiga makin mendekat, inilah kesempatan emasku. Tanpa ia sadari, kuayunkan kaki kananku dengan cepat dan keras ke arah kaki kirinya. Karena ia tidak siap, ia pun tidak dapat mengelak dan terjatuh. Dan kayu bekasnya itu pun terjatuh tepat di hadapanku. Segera kupungut dan kuayunkan ke arah dadanya sekali dengan cepat dan keras. Pria ketiga ini malah pingsan ternyata. Payah. Kulirik pria keempat yang sedang membekap mulut gadis teraniaya itu. Pria itu berdiri dekat lampu temaram satu – satunya di gang sempit dan kecil ini, membuatku akhirnya mampu melihat dengan jelas sosok gadis yang sedang menjadi korban bajingan – bajingan tengik ini.

Astaga! Nona Misterius! Kenapa dia yang menjadi korban empat bajingan tengik ini?? Ada apa ini??

“Jangan mendekat kau! Atau agassi ini akan mati!”

Pria keempat itu ternyata ketuanya. Pantas sedari tadi ia tidak menyerang. Karena ia telah membawa sebilah pisau lipat yang kini tengah ia arahkan padaku. Ya, pisau lipat berukuran sedang. Cih, aku pikir senjata tajam yang ia bawa akan lebih besar seperti golok atau mungkin malah senjata api. Rupanya hanya pisau lipat berukuran sedang.

“Aku kalah. Aku menyerah, Bung! Tapi, kumohon jangan sakiti agassi itu!”

“Jangan macam – macam kau! Apa yang akan kau lakukan, hah?!”

“Santai, Bung! Aku hanya akan meletakkan kayu ini sebagai tanda aku benar – benar menyerah pada kalian! Kalian menang!”

Kuletakkan kayu itu perlahan – lahan tanpa melepas pandangan pada pria keempat. Aku berpikir keras bagaimana caranya mengalihkan perhatian pria keempat ini tanpa melukai Nona Misterius yang tampak benar – benar ketakutan sekarang. Karena, pria yang membekapnya saat ini sedang membawa sebilah pisau lipat berukuran sedang. Ber – ukuran – se – dang.

Setelah aku melepaskan kayu itu dan mengangkat kedua tanganku ke atas tanda menyerah, pria keempat itu tampak sedikit lega dan berjalan mundur perlahan dari tempatku berdiri saat ini. Sial, jangkauanku pada Nona Misterius yang tampak kesakitan karena mulutnya dibekap kuat – kuat oleh pria keempat itu, jadi makin jauh. Aku harus bagaimana ini.

Tiba – tiba saja terlintas ide yang cukup beresiko di benakku, tapi karena keadaan yang sedang gawat dan mendesak ini, tidak ada waktu lagi untuk menghitung teori relevannya apakah ideku ini akan berhasil atau tidak. Kulihat pria keempat tadi tampak ngeri dengan nasib ketiga temannya yang sudah terkapar semua di  tanah dan tidak juga terbangun lagi. Raut panik pada pria keempat makin menjadi saat pria ketiga yang terkapar di dekatnya benar – benar pingsan tak bergerak. Entahlah, mungkin pria keempat malah mengira pria ketiga itu sudah mati. Itu sebabnya ia jadi terlihat ketakutan. Bagus!

“Ya! Apa itu?!” teriakku sambil menunjuk ke arah belakangnya.

Berhasil! Pria keempat terkecoh! Bodoh juga ia rupanya. Segera kuambil lagi kayu di depanku tadi dan segera kuayunkan ke arah sisi kiri kepalanya yang masih membelakangiku. Mungkin ia masih mencari – cari ‘apa itu’ yang kumaksud untuk sengaja mengecohnya tadi.

Hantaman keras dari kayu yang kugenggam itu pun berhasil menjatuhkannya dan melepaskan pisau lipat serta bekapan Nona Misterius. Tanpa aba – aba dariku, si Nona Misterius langsung berlari menjauh dariku dan pria keempat. Ia  langsung bersembunyi di balik tong sampah besar agak jauh di hadapanku. Pria keempat jatuh tersungkur namun ia cukup kuat juga. Pisau lipatnya segera diraihnya kembali dan ia dengan sigap telah berdiri, bersiap bertarung satu lawan satu denganku.

“Wah, kau cukup kuat juga, Bung!”

“Kau cukup cerdik juga, Anak Muda!”

Pria keempat itu mulai mengayun – ayunkan pisaunya ke arah perutku. Aku pun terus menghindar dengan mundur ke belakang. Menempatkan posisi yang aman untuk Nona Misterius. Aku ingin agar pria keempat tadi tidak lagi berhasil menghampiri Nona Misterius yang masih bersembunyi agak jauh di belakangnya. Sekedar mengantisipasi hal paling buruk.

“Kau hanya menghindar saja, Anak Muda Jagoan?? Ayo, maju!!”

“Waeyo? Kau kangen pada hantamanku lagi, Ahjussi??”

“Ya! Jangan panggil aku ‘ahjussi’, Pabo Namja!”

“Mwo?? Kau memang sudah ‘ahjussi’, Pabo!”

Kuayunkan kayuku ke arah pisau lipatnya, tidak kena. Ia sudah membaca yang kuincar. Sialnya, karena aku tadi terlalu keras mengayunkan kayuku, tanganku jadi terbawa arus karena aku tadi malah memukul udara, menyebabkanku agak terayun sendiri dan hilang keseimbangan. Benar saja, pria keempat berhasil mengayunkan pisau lipatnya dan menyayat lengan kiriku agak panjang.

“Akh!” erangku karena terasa perih dan mengalirkan darah lumayan. Rupanya dalam juga sayatan pisaunya yang mengenaiku.

Pria keempat tadi berusaha menusukku lagi tepat di perutku yang agak terbuka. Dengan cepat kujejakkan kaki kiriku yang sekarang tepat berada di bawah sekitar selangkangannya dengan keras dan sekali hentak. Berhasil! Rasakan itu! ‘Investasi Masa Depan’mu pasti tidak akan terasa sama lagi seperti dulu. Dasar bodoh!

Pria keempat jatuh terhempas sambil memegang daerah sekitar selangkangannya. Mungkin denyutannya terasa lebih panas sekali karena aku pun sedang menggunakan sepatu safetyku yang memiliki alas besi dan pelindung jari – jari kaki. Ada untungnya juga aku memiliki kebiasaan aneh suka menggunakan sepatu safety untuk berjalan – jalan. Setidaknya menurutku sendiri hal itu tidak aneh. Yang paling sering mengejek adalah tentu saja, evil KyuHyun ssi.

Tadinya aku bermaksud menghajar pria keempat lagi, tetapi pria keempat itu cepat – cepat berteriak mohon ampun sambil sesekali mengerang kesakitan. Aku jadi tidak tega. Entah sudah berapa lama, tiba – tiba ketiga teman pria keempat sudah sadar dan sembari tertatih – tatih mereka semua bersimpuh mohon ampun padaku untuk mau melepaskan mereka semua dan memaafkan perbuatan mereka tadi, baik padaku dan juga pada Nona Misterius yang masih terus bersembunyi di balik tong sampah besar itu.

Aku masih terdiam sambil memandangi mereka dengan tatapan tajam saat mereka semua buru – buru pergi dan saling memapah satu sama lain. Bahkan si ketua yang dipapah pria kedua tidak henti- hentinya menbungkukkan badan dan terus mengucapkan, “Jeongmal  joesonghamnida, Sajangnim, Gamsahamnida!!”

Ada – ada saja. Aku harap mereka berempat benar – benar menepati janji mereka padaku tadi untuk tidak lagi mengganggu warga di sini dan berubah menjadi orang baik. Wuah… lega juga akhirnya. Kulemparkan kayu yang sedari tadi masih kugenggam.

“Akh!” rintihku, karena darah masih terus mengalir di lengan kiriku dan berdenyut – denyut. Oh, ya! Di mana Nona Misterius itu? Apa dia menghilang lagi? Kutengok ke arah tong sampah besar itu. Rupanya ia masih berada di sana sembari terus memejamkan kedua mata dan menutup telinganya. Pantas saja ia tidak bergerak. Ia masih benar – benar mengira kalau bajingan – bajingan tengik tadi masih belum pergi. Kasihan sekali nona itu. Sebegitu ketakutannya hingga dapat kulihat dengan jelas tubuhnya yang berbalut dress hitam selutut dipadu syal bergetar.

. . . . . . . . . . .

“Agassi? Gwaenchahamnikka?”

Kurasakan sayup – sayup terdengar suara seorang lelaki di hadapanku. Aku masih belum berani membuka mataku.

“Agassi?”

“Akh!”

Aku tersentak dan seketika kedua mataku kubuka saat tiba – tiba aku merasakan ada sebuah tangan halus yang hangat menyentuh pundakku. Astaga! Lelaki yang menolongku malam ini!

“Ah, joesonghamnida, Agassi!” ucapnya sopan padaku sembari menyingkirkan tangan kirinya dari pundakku.

Eomeo! Lengan kirinya berdarah! Pasti ia tersayat cukup dalam tadi…

Perlahan kulepaskan kedua tanganku yang tadinya masih menutup kedua telingaku. Sungguh, demi apa pun juga, aku tidak ingin lagi berada dalam situasi seperti itu tadi.

“Agassi, gwaenchahamnikka?”

“Ne, gwaenchahamnida. Jeongmal, neomu gamsahamnida, Ahjussi,” ucapku tidak berani menatap mata lelaki penyelamatku ini.

“Geureomnikka, kajja?”

Tangan kanan lelaki itu terulur ke arahku seakan untuk membantuku berdiri. Kuraih tangannya dan benar saja. Dengan sekali hentak dari tangannya, aku pun telah berdiri tegak sekarang.

Eomeo, tangan hangatnya, kenapa terasa sangat familiar untukku?? Sebenarnya, apa yang salah padaku?

Kurasakan tiba – tiba seperti  ada jutaan kupu – kupu yang terbang melayang – layang dari dalam perutku. Sungguh, perasaan ini, hawa yang nyaman dan menenangkan jiwa ini, angin yang tiba – tiba berdesir dalam darahku juga, kenapa begitu memabukkanku?

“Ahjussi, jamkkanman, apa lengan Anda baik – baik saja?”

Kulihat lengan kirinya sudah lumayan berlumuran darah. Sungguh, aku jadi merasa ngeri melihat banyaknya bercak darah pada baju dan lengan lelaki ini.

“Ah, ne, gwaenchahamnida,” ucapnya lembut. Astaga, suara yang lembut dan menenangkan itu, membuatku selalu ingin terus mengajaknya berbicara agar menjadi nyanyian tersendiri di telingaku.

“Ahjussi, aku rasa kita harus mengobati lengan Anda itu…”

Dia hanya menatap lengan kirinya datar dan tersenyum singkat ke arahku sembari berkata, “Animnida. Jeoneun jeongmal gwaenchahamnida. Gamsahamnida, Agassi.”

“Mianhamnida, Ahjussi… Itu semua gara – gara aku…” ucapku seraya melepas syalku dan cepat – cepat membalutkannya singkat ke lengannya untuk menghentikan pendarahannya sementara. Lelaki ini tidak menolak dan membiarkanku melakukan ‘pertolongan pertamaku’ pada lengannya. Ia hanya memandangiku sejenak kemudian beralih mengambil jasnya yang sempat ia geletakkan begitu saja di tanah saat bertarung dengan para penjahat tadi.

“Ah, Ahjussi, sekali lagi mianhamnida. Itu semua gara – gara aku.”

“Animnida, Agassi. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai namja, kan?”

“Hajiman…”

“Gwaenchahamnida. Di mana rumah Agassi, kalau boleh aku tahu?”

“Wae geureomnikka?”

“Ah, joesonghamnida, aku ingin mengantarmu pulang. Tidak baik kalau aku membiarkanmu pulang sendiri dan untuk memastikan saja agar kau tidak lagi mendapat gangguan berbahaya seperti tadi.”

Lelaki ini benar. Astaga, ia begitu perhatian sekali padaku. Lagi pula, ini salahku juga, aku ceroboh karena menggunakan perhiasan yang terlalu mencolok. Ini semua karena ibu tadi menyuruhku bardandan cantik dan semenarik mungkin untuk menunggu lelaki yang akan menjadi calon suamiku di tempat SiWon dan SooYoung ssi.

“Jamkkanman, Agassi. Pakailah jasku ini, dress Anda agak sedikit terbuka kurasa. Agar Agassi tidak kedinginan dan terhindar lagi dari hal – hal membahayakan seperti tadi. Aku rasa itu karena Anda tidak sengaja memperlihatkan perhiasan yang dikenakan tanpa menutupinya dengan semacam blazer pada dress Anda.” ucapnya sopan sekali seraya memakaikan jasnya padaku.

Astaga, lelaki tampan dan sopan ini tidak henti – hentinya membuat pipiku bersemu kemerahan. Aku rasa pasti wajah merahku ini sudah terlihat terlalu jelas di hadapannya. Ah… aku malu sekali!

“Gamsahamnida, Ahjussi,” ucapku lagi, sembari tersenyum singkat ke arahnya.

“Kajja?” ajaknya lagi sembari tersenyum membalasku. Ia menjadi berjuta kali lipat terlihat tampan di malam yang temaram ini!

Aku pun menunjukkan di mana tempat tinggalku berada. Sepanjang perjalanan kami saling berjalan beriringan, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang terucap di bibir kami. Kami hanya terlarut pada kesunyian dan irama kehidupan malam di sekitar kami. Aku tahu betul kalau sedari tadi ia sebenarnya merintih kesakitan. Tetapi, itu semua ditahannya. Mungkin karena ia merasa tidak enak padaku. Tentu saja sikapnya yang begitu malah membuatku semakin merasa bersalah padanya.

Akhirnya kami tiba di rumahku. Aku bersikeras menyuruhnya untuk masuk sejenak sembari membersihkan lukanya dan mengganti kemejanya yang sudah sangat kotor dan berlumuran darah. Untung jasnya tidak terlalu kotor, karena aku tidak memiliki jas yang pantas untuk mengganti jasnya mengingat statusku sebagai satu – satunya anak perempuan di keluargaku. Jas ayah pasti akan sangat kebesaran untuknya karena bagian tubuh ayah yang buncit di bagian perutnya.

Malam ini sepertinya ayah dan ibu baru saja pergi untuk sebuah acara perjamuan makan di salah satu rumah kerabat kami. Itu artinya di rumahku hanya akan ada aku. Aku pun mempersilahkannya masuk setelah cukup lama aku agak membujuknya. Awalnya ia bersikeras menolak sementara aku bersikeras menyuruhnya untuk masuk dan mengobati lukanya itu.

. . . . . . . . . . . . . . . . .

“Akh!”

“Ah, Ahjussi, mianhamnida! Mianhamnida!”

“Animnida, gwaenchahamnida, Agassi.”

“Jebal, maafkanlah aku, karena telah membuat lengan Anda terluka parah seperti ini…”

“Agassi, bukankah berkali – kali telah kukatakan pada Anda aku tidak apa – apa…”

“Ne, Ahjussi.”

“Joesonghamnida, siapa nama Anda?”

“Ne?”

“Ah, joesonghamnida, aku hanya ingin tahu dan ingin memastikan saja. Bukankah Anda ini yang tadi pagi bertemu denganku di tempat milik SiWon ssi di ujung jalan beberapa blok dari sini?”

DEG!

“Ah, ne, itu aku, Ahjussi.”

“Ah, joesonghamnida Agassi, bisakah Anda berhenti memanggilku ‘ahjussi’? Aku hanya merasa aku masih belum terlalu pantas untuk dipanggil seperti itu.”

“Ah? Ne, aratseumnida. Kwon YuRi imnida.”

“Kim JongWoon imnida. Tapi orang – orang biasa memanggilku YeSung.”

“Ah, YeSung ssi, kau bisa memanggilku YuRi.”

“Ne, senang berkenalan denganmu YuRi ssi.”

“Ah, jeo ddo. YeSeong ssi.”

. . . . . . . . . . .

“Ah, YuRi ssi, jeongmal neomu gamsahamnida untuk perban dan obat lukanya. Ini sudah tidak terasa sakit lagi dan aku rasa kau cukup berbakat dalam membalut luka. Jeongmal neomu gamsahamnida.”

Eomeo! Senyuman manisnya itu! Sungguh, kau benar – benar namja yang tampan, manis, sopan, baik, dan berani, YeSung ssi! Andai saja aku memiliki seorang ‘oppa’ sebaik dan setampan dirimu juga!

“Ne, cheonmanhamnida, YeSung ssi.”

“Geuromyeon, aku permisi dulu YuRi ssi, sekali lagi mianhamnida telah merepotkanmu.”

“Animnida, YeSung ssi, harusnya aku yang meminta maaf karena telah membuatmu terluka.”

“Ne. Kita anggap saja semua impas, itji?”

“Ne, Oppa!”

“Mwo?”

Aissh! Aku dan mulutku ini! Terkadang tidak bisa kukendalikan!!”

“Ah! Joesonghamnida, YeSung ssi! Aku… aku…”

“Gwaenchahamnida, YuRi ssi, aku tidak keberatan. Kau boleh memanggilku ‘oppa’, sebenarnya aku juga senang kau memanggilku begitu, agar kesan formal ini… tidak terlalu terasa – hhahahahahaha”

“Ah, gamsahamnida, YeSung ssi, ah – ani, YeSung oppa!”

“Ne, YuRi ssi. Ah, hampir lupa, kemeja ini akan kukembalikan lusa. Tidak keberatan, kan?”

“Ne, Oppa, terserah Oppa saja. Asal juga tidak merepotkan Oppa saja.”

“Jeongmal? Hhahahahaha. Ani. Geureom, jigeumeun, anyyeong YuRi ssi!”

“Ne, annyeong, Oppa!”

 

*To*Be*Continued*


27 thoughts on “[Freelance] Time Machine #1

  1. waaaahhhh keren chingu, kereeennnn banget, ini salah satu couple yg aku suka chngu.
    lanjutannya di tungguyaaa chingu😀

    Like

  2. Ceritanya bgs nih
    Emank sayang klo ceritanya d diemin doank gk d posting k blog’
    Aku ska ma karakternya trus penulisannya jg rapi enak d bca
    Ditunggu part selanjutnnya

    Like

  3. OMG!!! Siapa sih authornya? kita kenalan yuk hahahahaa yulsung❤ makasih banget udah buat ff yulsung. kalau authornya yulsung shipper juga mampir ke blog juga dong hehehe
    mrschokyuhyun.wordpress.com aku baru update ff yulsung❤

    keep update!!

    Like

  4. hwaaa seneng bgt ada ff yulsung apalagi cerita menarik.
    Narasi perasaan n sikonnya bgs bgt thor. Bener” terasa.
    Lanjuut author dan temennya author. .

    Like

  5. Yeaaah~
    Akhirnya, dapat FF YulSung yang bahasanya begitu keren!!! Seperti membaca novel saja. Emang sayang juga sih kalau cuma disimpan sebagai koleksi pribadi. Good job buat penulisnya ya!!
    Ini cerita maju mundur nggak ya? Soalnya, judulnya aja mesin waktu gitu. Pasti bakalan seru…
    Ditunggu lanjutannyaaa yaaa!

    Like

  6. Waaahh chingu,FF nya unik abis suer
    Aku suka banget ama jalan ceritanya yg misterius gitu :b
    Btw Siapa ya yg jd calon suami yul unnie?😀
    Apalagi pairingnya couple kesukaan,bacanya jadi gimana gituu hehehe
    Lanjutin ff nya yah chinguuu,jangan lama2 :b

    Like

  7. salam kenal ? aku bukan reader baru, tpi baru ngasih komen sekarang, maaf ya ? aku suka bgt yesyul couple, cri ff yg cast’x mereka tuh jarang bgt, dan jjeng…jjeng aku nemu ff ini, seneng bgt, crtanya sru, next part jangan lma-lma ya, hehe🙂

    Like

  8. Couple Favorite aku🙂
    Udah Couple Favorite Ceritanya BAGUS.
    Hatiku Meledak-ledak baca FF iniii
    Next Chap Jangan Lama lama ya Thorr🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s