[Freelance] The Silly Part Of Love


Author                 : Tulith28 (@tulith28) 
Title                     :
The Silly Part Of Love
Length                :
Oneshoot (4198 words)
Genre                  : Romance, Tragedy,
Yaoi(dikit),  etc.
Rating                 : PG15
Cast                    :

– Kim Ryeo Wook As Kim Ryeowook
– Im Yoona As Im Yoona
– Lee Donghae As Lee Donghae
– Tiffany Hwang As Tiffany Hwang
– Lee Hyuk Jae As Kim Hyuk Jae
– Choi Siwon As Choi Siwon
– Etc.
Notes                   : Maaf jika pairingnya tidak sesuai dengan kehendak reader. Maaf jika ceritanya nglantur dan kata-katanya aneh juga terkesan lebay. Maaf jika kata-katanya berbelit-belit. Maaf jika banyak salah. mohon dimaklumi saya masih dalam tahap ‘learning’. Oh iya, cerita ini juga aku post di WP pribadi aku, jadi jangan dikira plagiat ya! J

 HAPPY READING!!! ^^

NORMAL POV

“Ani-yo, oppa!” teriak seorang yeoja cantik yang mulai mengeluarkan butir-butir kristal dari kelopak matanya yang indah.

“Yoona-ya, kau harus mengerti. Kita ini saudara kandung. Kita tak mungkin meneruskan hubungan ini.”

“Ani-yo, oppa. Kau bukan kakakku, kau kekasihku!” yeoja yang bernama Im Yoona ini tetap teguh pada pendiriannya.

“Yoona…” teriak namja yang cukup jangkung ini. Tapi sayang yang dipanggil hanya bisa membawa pergi tubuhnya dengan tangisan yang tak henti.

“Kau tetap kekasihku oppa.” Teriaknya dari jauh.

RYEOWOOK POV

“Haruskah?” tanyaku pada yeoja yang sekarang berdiri dengan manisnya dihadapanku.

“Ne, oppa.”

“Fine, terima kasih atas perhatianmu ini. Selamat tinggal.” Aku melangkahkan kakiku keluar dari cafe yang penuh dengan kenanganku dengan yeoja yang baru saja memutuskanku dengan alasan yang cukup masuk akal itu. Dia seorang artis terkenal. Jika hubungan ini diteruskan ini mungkin akan melukaiku juga dia.

NORMAL POV

Hujan deras mengguyur kota yang penuh dengan artis-artis korean hallyu wave itu. Seoul.

Ciiiitttt.. Braakkkk..

“Ahhhhhhhh…” teriak Yoona yang tubuhnya telah tertabrak mobil sport warna biru safir.

“Omona! Aku menabrak orang!” teriak heboh sang pengemudi mobil yang berhasil menabrak Yoona, ya dia Ryeowook.

“Agassi, gwaenchanha?”  tanya Ryeowook pada Yeoja yang tubuhnya terkulai lemas karena darah yang sudah banyak keluar dari tubuhnya itu.

“Kau gila, aku sudah hampir mati, kau malah tanya apa aku baik-baik saja? Baboya!” kesal Yoona dengan suara yang lirih, sangat lirih. Dan akhirnya dia pun pingsan.

“Ya! Bertahanlah. Aku akan membawamu ke Rumah sakit, Agassi.” Tanpa banyak kata lagi, Ryeowook mangangkat tubuh Yoona yang sudah bersimbah darah. Dimasukkannya Yoona kedalam mobil, dan dia memacu mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit terdekat dari posisi mereka sekarang.

++++

“Dia kenapa, dok?” tanya Ryeowook khawatir.

“Alhamdulillah, dia gak apa-apa, Tuan. Hanya dia mungkin karena masih belum sadar, karena masih dalam pengaruh obat bius.” (nb: nieh dokternya dari indonesia dan beragama islam)

“”Syukurlah, apa aku boleh menjenguknya sekarang dok?”

“Jangan dulu. walaupun tidak ada luka yang serius, tapi dia masih butuh istirahat dan saya masih butuh memeriksanya lagi nanti saat dia sadar.”

“Ne, dok. Gomapseumnida.” Dokter yang masih muda itu meninggalkan Ryeowook yang masih berdiri didepan ruang UGD, tempat dimana Yoona sekarang sedang dalam masa pemeriksaan.

++++

“Agassi, kau sudah sadar?” tanya Ryeowook saat Yoona mulai membuka matanya.

“Hmm. Neo.. Nuguya?” tanyanya masih setengah sadar –mungkin-.

“Kau tidak tau aku? Kau kemarin kan melihatku sebelum pingsan.” Ujar Ryeowook.

“Aku yang kemarin… hmm,..” tambah Ryeowook dengan kata-kata yang digantungkan.

“Kau yang kemarin mutusin aku, kan? Neon nappeun namja. Nappeun!” tebak Yoona sambil mulai memukul-mukul Ryeowook yang duduk disampingnya.

“Mwo? Mworago, agassi?” tanya Ryeowook bingung. Ryeowook yang tubuhnya sudah kusut –karena semalam, dia terus menunggui Yoona di rumah sakit. Dan tidak sempat pulang untuk mengganti bajunya- kini menjadi semakin kusut karena dipukul Yoona , walaupun itu hanya sekedar pukulan kecil.

“Neo, Nappeun. Aku sudah mencintaimu sedalam ini, tapi hanya karena secarik kertas kau sudah berani memutuskan hubungan ini. Hiks. Hiks.” Yoona mulai menangis tersedu-sedu.

“Dokter, dokter.” Teriak Ryeowook sambil berlari keluar dari ruang inap Yoona.

++++

“Ada apa dengannya, dok?” tanya Ryeowook , saat sang dokter baru saja keluar dari kamar rawat Yoona.

“Begini, Tuan. Nona itu mengalami seperti amnesia.”

“Mwo? Amnesia?” tanya Ryeowook kaget.

“Ne, tapi dia hanya kehilangan ingatan khusus. Tidak tau ingatan seperti apa yang dilupakannya.” Jelas sang dokter yang cukup bingung juga dengan apa yang dialami Yoona.

++++

‘Cintamu tak sedalam yang aku kira. Semua katamu itu tak sebanding dengan tetesan air mataku kini.’

“Oppa, aku ingin tetap mencintaimu seperti dulu.” Gumam Yoona. Tubuhnya kini terpaku melihat pemandangan 2 orang yeoja dan namja yang sedang duduk mesra dihadapannya. Dia iri, ya, dia ingin merasakan lagi saat-saat seperti itu dengan orang yang sangat dicintainya.

“Yoona-ssi, ternyata kau ada disini.” ucap Ryeowook yang akhirnya menemukan Yoona ditaman yang ada dibelakang bangunan rumah sakit itu.

“Yoona-ssi, neo, gwaenchanha?” tanya Ryeowook khawatir saat mendapati Yoona menitihkan air mata.

“Yoona, uljima!” Ryeowook memposisikan dirinya duduk disebelah Yoona, dan ikut melihat apa yang Yoona lihat juga.

“Kau merindukan oppa-mu?” Yoona hanya menggeleng pelan dengan tetap menangis.

“Don’tell me lie, Yoona. I know what ur think now.” Kata Ryeowook seperti dukun. Pertahanan Yoona runtuh seketika, disandarkan kepalanya di bahu tenang Ryeowook.

“Aku merindukannya. Hatiku yakin merindukannya. Tapi aku tak tahu siapa yang aku rindukan dan hatiku rindukan itu. Hiks.” Ujarnya.

“Mianhae, jeongmal mianhae, Yoona-ssi. Aku yang membuatmu kehilangan ingatanmu tentang dia.” Ujar Ryeowook sedih.

“Gwaenchanha. Disudut hatiku yang lain, aku sungguh berterima kasih padamu. Karena kau membuatku menghilangkan ingatan tentang dia. Aku mencintainya karena cintanya itu, bukan karena siapa dirinya.” Ujar Yoona dengan masih tetap menyandarkan kepalanya dibahu Ryeowook.

“Ya, sudahlah Yoona-ssi. Kelihatannya sebentar lagi akan turun hujan. Lebih baik kita masuk kedalam sekarang. Kau juga butuh istirahat lebih. Kajja!” Ryeowook menarik lembut tangan Yoona.

++++

6 bulan berlalu.

“Ya! Yoong-aa! Kau ingin aku mematahkan sendiri kakiku, hah?” teriak Ryeowook ditengah ramainya pengunjung salah satu department store terkenal di korea. Sedangkan yang diteriaki hanya santai saja.

“Aigoo, oppa. Kau lemah sekali. Itu baru, 1, 2, 3, 4, , , , baru 8 kantong, kau sudah mengeluh seperti membawa 100 truk dibahumu.” Cibir Yoona yang sedari tadi memain-mainkan rambutnya yang baru saja dirawat disalon langganannya.

Prakk. Seketika kantong-kantong yang berisikan baju-baju juga sepatu-sepatu yang baru saja Yoona beli berceceran dilantai. Semua orang berada disekitar Ryeowook hanya menatap Ryeowook dengan tatapan kau-ingin-uang-gajianmu-dipotong-oleh-majikanmu-hah-?.

“Oppa…” Yoona hanya melongo melihat barang-barang miliknya berceceran dilantai.

“Im Yoona, tak bisakah kau bawa sendiri barang-barangmu ini? Kau pikir aku pembantumu?” kesal Ryeowook.

“Oppa, aku kan yeoja, sedangkan kau namja. Jika ada namja sebaik dan segagah dirimu yang menemani yeoja sepertiku belanja, kenapa aku harus membawa sendiri belanjaanku. Aku bukan menganggapmu pembantu, budak atau semacamnya. Aku menganggap dirimu ini namja tulen nan gentleman.” Rayu Yoona yang lagi-lagi sukses membuat Ryeowook tersanjung. Ryeowook mengambil lagi kantong-kantong yang dijatuhkannya tadi. Ini sudah sekian kalinya terjadi selama 5 bulan lebih mereka berteman. Ya selalu seperti ini metamorfosisnya. Yoona yang belanja, Ryeowook yang disuruh bawa, lalu Ryeowook merasa dimanfaatin lalu marah, tapi dengan pintarnya Yoona merayu dan Ryeowookpun luluh.

“Selalu saja.” Gumam Ryeowook yang merasa dia selalu lemah dihadapan Yoona.

“Oppa, aku lapar. Makan yuk!” ajak Yoona.

“Daritadi kek ngajak makannya.”

Merekapun meninggalkan department store itu dan segera pergi ke restaurant  yang ada tidak jauh dari department store itu.

“Lagi-lagi makan di restaurant Indonesia ini.” Gumam Ryeowook saat mobil Yoona berhenti didepan Restaurant Indonesia “Doa Mama”.

“Kenapa , oppa? Kau tidak suka?” Tanya Yoona yang mendengar gumaman Ryeowook.

“Ani-yo, Cuma…”

“Sudahlah, oppa. Aku sudah lapar. Kajja!” ajak Yoona yang sudah keluar dari mobil. Dengan enggan Ryeowook mengekori Yoona.

Flashback 1 On

“Wha, banyak sekali makanan yang kau pesan, Yoong?” seru Ryeowook yang melihat banyak makanan dimeja yang dibookingkan Yoona untuk ulang tahun Ryeowook yang ke-24.

“Rendang, gado-gado, nasi goreng, bakwan malang, gudeg, rujak cingur, rawon, ketoprak, bakso. Sudah lengkap semuanya.” Kata Yoona senang.

“Wha, aku tidak sanggup jika harus menghabiskan ini semua.”

“Oppa, ini bukan hanya untukmu. Nanti teman-temanku akan datang kesini untuk merayakan ulang tahunmu, Oppa.” Ujar Yoona.

“Yoona eonni.” Panggil seorang yeoja jangkung nan cantik.

“Seohyun-aa, disini.” Teriak Yoona ketika melihat Seohyun dan ketujuh teman lainnya yang lain mulai menampakkan diri direstaurant Indonesia yang telah lama ada di kota Seoul ini.

“Itu temanmu semua, Yoong?” Tanya Ryeowook kaget saat melihat teman-teman Yoona yang datang, Yoona hanya mengangguk pasti. ‘Bujuh-buneng, itu temen satu kampus diajak semua.’ Batin Ryeowook’.

<SKIP WAKTU MAKANNYA>

“MWO???” Teriak Ryeowook kaget saat melihat tagihan makan yang kini sedang dilihatnya. Pesta makan-makan ini berakhir 15menit yang lalu. Teman-teman Yoona sudah meninggalkan Restaurant ini dengan tenang. Tidak untuk Ryeowook yang jantungan saat baru melihat bill-nya, dan mungkin akan terserang kanker saat melihat dompetnya akan kosong tanpa sehelai lembar uangpun disana, mengingat tagihan yang harus dibayarnya adalah 500ribu won. Ulang tahun yang menyakitkan.

“Yoong, tak berniatkah kau membantuku untuk membayar tagihan ini?” Tanya Ryeowook memelas.

“Ani, oppa. Toh, aku hanya makan satu piring.”

“Ne, satu piring. Satu piring rendang, satu piring nasi goreng, satu piring gudeg, satu piring gado-gado, satu piring rujak cingur. Belum lagi teman-temanmu itu. Aish, jinjja!”

“Oppa, kau tidak rela untuk mengeluarkan uangmu untuk membayar ini semua? Apa kau menyesal karena merayakan ulang tahunmu disini? Padahal aku sudah berusaha untuk merayakan ulang tahunmu ini semengesankan mungkin, tapi ternyata kau tak suka.” Kata Yoona dengan sedikit unsur merayu.

“Ani-yo, Yoong. Aku suka, aku terkesan sekali. Aish, jinjja! Ne,ne aku akan bayar ini semua dan ikhlas(?) kok.” pasrah, hanya itu yang bisa Ryeowook lakukan. Yoona tersenyum penuh arti.

“Gitu dong.”

Flashback 1 Off

Flashback 2 On

Makanan berbagai nama telah tersedia di meja yang dipesan Ryeowook dan Yoona di Restaurant Indonesia itu. Tempat yang sama saat Ryeowook ‘merayakan’ ulang tahunnya bulan lalu bersama dengan Yoona dan teman-temannya.

“Ya! Yoong-aa, buat apa kau pesan makanan sebanyak ini? Jangan bilang kau mau mengundang lagi teman-temanmu itu untuk makan bersama, lalu aku yang harus membayarnya? Aku tidak mau, aku kan gak lagi ulang tahun.” Cerocos Ryeowook.

“Tenang saja, oppa. Aku tidak akan mengundang temenku lagi kok. Ini Cuma buat kita berdua. Dan yang pasti ini aku semua yang bayar. Jadi cepetan deh oppa makan.” Kata Yoona yang mulai memakan nasi goreng yang ada dihadapannya.

“Jeongmal? Ini baru aku suka. Kau memang baik, Yoong.” Puji Ryeowook pada Yoona. Yoona hanya tersenyum sekilas lalu kembali memakan nasi gorengnya.

“Eitss, oppa jangan makan yang itu.” Cegah Yoona saat Ryeowook akan mengambil daging rendang yang ada dimeja.

“Waeyo, Yoong?”

“Kau kan memiliki darah tinggi, jadi gak baik makan makanan yang yang berminyak seperti itu.” Jelas Yoona.

“Gomawo, Yoong. Kau perhatian sekali.”

“Eitss, jangan makan itu, Oppa!” teriak Yoona ketika Ryeowook akan mengambil gule.

“Waeyo, Yoong?” jawab Ryeowook mulai kesal.

“Oppa, aku kan baru mengingatkan kalau kau ini darah tinggi, gule itu kan pake daging kambing.” Jelas Yoona lagi.

“Oh, lalu aku ini baiknya makan apa, Yoong-aa?” Tanya Ryeowook.

“Itu, jangan. Yang ini, jangan. Yang itu, jangan deh. Yang ini, jangan juga. Hmmm. Ini oppa. Ini yang paling sehat.”

“Mwoya? Ini saja?” Ryeowook melihat piring yang ditunjuk Yoona. Piring yang berisikan Tahu goreng, tempe bacem, sama beberapa lalapan.

“Dan nasi dong tentunya, Oppa.”

“Aigoo, kalau begini lebih baik, aku gak usah kamu traktir deh.” Cibir Ryeowook, tapi Yoona tak peduli.

Flashback 2 Off

 

“Bye, oppa!” Yoona melambaikan tangannya keluar mobil. Ryeowook membalas lambaian tangan Ryeowook dengan senyuman manis. Ryeowook tersenyum dengan penuh arti, lega, senang, bangga, bercampur jadi satu didalam senyumnya. Ya, Kim Ryeowook telah mencintai Yoona, gadis yang ditabraknya saat patah hati 6 bulan lalu itu. Tapi, dia belum berani mengungkapkan cinta itu ke Yoona karena takut Yoona tidak mempunyai rasa yang sama dengannya. Belum lagi tentang amnesia Yoona yang aneh itu, yang membuat Kim Ryeowook belum mengetahui siapa sebenarnya orang yang dicintai Yoona itu.

“Hyung, aku pulang.” Teriak Ryeowook saat sudah masuk kedalam rumahnya. Karena tidak ada yang menjawab, Ryeowook pun bergegas berjalan kekamarnya dan segera melepas lelah dikamarnya tercinta itu.

“Jagi-ya, ahhhhhh…” Ryeowook pun menghentikan langkahnya, saat terdengar suara jeritan dari kamar hyungnya. ‘Pasti mereka sedang beraksi.’ Batin Ryeowook. Walaupun sudah mengetahui apa yang sedang terjadi dikamar hyung satu-satunya itu, Ryeowook tetap saja penasaran dengan gaya yang sedang diperagakan oleh Pasangan itu. Tanpa banyak pikir, Ryeowook pun mendekati kamar hyungnya dan sedikit mengintip kedalam kamar hyungnya itu.

“Sssshhh, ahhhhhh…” Suara jeritan dan desahan terdengar jadi satu dari kamar hyungnya itu. ‘Mereka sangat gila.’ Batin Ryeowook.

“Kenapa mereka melakukan ‘itu’? Mereka kan sama-sama namja. Emang bisa ngelakuin kayak ‘gitu’ kalau sama?” gumam Ryeowook yang mulai berjalan meninggalkan kamar Hyungnya itu. Hyungnya yang sudah gila karena berpacaran dengan Lee Dong Hae, teman sekampusnya itu.

“Kim Hyuk Jae Hyung, ckckckck. Sadar-sadar lah abang, ingat apa gendermu. Cepat-cepat tinggalkan, namja itu bukan jatahmu.” Ryeowook bersenandung a la istri bang toyib. Walau dia tidak ingin menyalahkan Hyungnya yang seperti itu, tapi dia sadar dan cukup tau kalau yang seperti itu salah.

++++

RYEOWOOK POV

“Ne, oppa. Sebentar lagi aku akan sampai sana.” Bip. Yoona memutuskan percakapan kami lewat telepon ini. Hari ini aku dan Yoona janjian di danau yang berada di pinggiran kota Seoul. Setelah semalaman aku memikirkan tentang hal ini, akhirnya aku memutuskan untuk memberitahunya tentang perasaanku ini padanya. Aku sudah siap menerima jika dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Dan akupun siap jika dia ternyata menolakku, aku siap untuk gantung diri. Enggak ding. J Aku  tahu, perasaan setiap orang itu tidak bisa dipaksakan. Jadi, apapun jawaban Yoona nanti, aku akan menerimanya dengan lapang dada bahkan lebih seperti lapangan sepak bola.

“Oppa. Kau sedang melamun?” Tanya Yoona yang sudah duduk disebelahku.

“Oppa, apa hal penting yang ingin kau sampaikan padaku?” tanyanya to the point.

“Yoong-aa, kau tau berapa lama Tuhan menciptakan dunia ini?” tanyaku.

“Enggak, oppa. Wae?” tanyanya tanpa ekspresi.

“Sama sepertimu yang tidak tau berapa lama Tuhan menciptakan dunia ini, aku juga gak tau berapa lama perasaan ini sudah mulai mengisi hatiku.”

“Perasaan? Perasaan apa, oppa?”

“Entahlah, aku juga tak tau pasti. Yang pasti rasanya itu seperti minum es di kutub utara.”

“Nde?”

“Rasa itu samar.” Jawabku singkat.

Hening melanda aku dan Yoona untuk beberapa saat.

“Yoong, kau melihat perahu itu?” tanyaku memecah keheningan yang sempat melanda aku dan Yoona. Aku menunjuk perahu tua yang sudah lumutan yang bersandar ditepi danau.

“Ne, Oppa. waeyo?”

“Kamu tau apa yang membuat perahu itu terlihat menyedihkan seperti itu?”

“Karena perahu itu tidak dirawat, perahu itu ditinggalkan sang pemilik, Oppa.”

“Kau benar. Seperti itulah gambaran hatiku kelak jika kau pergi dariku. Jika bayanganmu pergi dari hidupku.

Hening. Lagi-lagi itu yang terjadi.

“Yoona, kau pernah merasakan perihnya tertusuk duri mawar?” tanyaku mulai memecah keheningan-lagi- yang sempat hinggap.

“Tidak pernah, oppa. Waeyo?” tanyanya Yoona yang mulai bingung.

“Seperti tertusuk duri tajam mawar, itulah perasaan yang selalu kurasakan saat kau mulai membuatku sakit. Walau sakit tapi itu tidak sebanding dengan keindahan yang kau pancarkan.”

“Oppa, kenapa kau jadi seperti ini? Kau habis dari Indonesia ya?”

“Anio, Yoong-aa. Aku tidak pernah ke Indonesia, memangnya kenapa?”

“Aku kira , Oppa. Karena melihatmu, aku menjadi merah putih kayak bendera Indonesia.”

“Mwo?”

“Merah pipiku bersemu karena perasaanku, putih kasihku tak dapat lagi aku pungkiri.”

“Ah, Yoong-aa. Kau ini seperti ratu gombal saja.”. eitss, kok jadi main gombal-gombalan gini ya? Sudah kayak PRT ajah? Back to the Topic.

“Yoong-aa, sejujurnya aku mencintaimu.”

“Naddo, Oppa.” Benarkah yang dia ucapkan? Ah, senangnya!

“Would you be my girlfriend?”

“Kan dari dulu aku memang girlfriend-mu, oppa. Siapa bilang aku boyfriend-mu?”

“Huh, disaat seperti ini kenapa kau malah bercanda, Yoong?”

“Ani, aku tidak bercanda.”

“Ne, ne, aku ulangi pertanyaanku ya. Im Yoona, maukah kau jadi kekasihku?”

“Oh, jadi ini yang ingin kau sampaikan padaku. Kau mencintaiku dan ingin aku jadi kekasihmu?” tanyanya, aku hanya mengangguk.

“Aku memang mencintaimu, Oppa. Tapi, aku lebih mencintai Lee Dong Hae-ku yang dulu aku lupakan.”

“Lee Dong Hae? Yang pernah kau lupakan?”

“NE, oppa. Aku sudah mengingat kembali hal yang pernah aku lupakan.”

“Lee Dong Hae? Wait a minute. Nama itu sepertinya tidak asing bagiku.” Aku mencoba mengingat-ingat sesuatu tapi tak kunjung ketemu.

“Di korea ini, banyak yang bernama Lee Dong Hae, oppa. Mungkin saja kamu mempunyai teman yang bernama Lee Dong Hae. Ya sudah , oppa. Aku ingin ke rumah Lee Dong Hae oppa dulu. Mianhae telah ,menolak cintamu. Annyeong!” Yoona pergi dengan meninggalkan banyak luka dihatiku. Tapi, Lee Dong Hae? Itukan namjachingu-nya Hyuk Jae Hyung. Jadi dia, juga namjachingu-nya Yoona? Sungguh serbaguna! Eh?

“Oppa!”

YOONA POV

‘Mianhae, oppa. Aku juga sangat mencintaimu. Tapi, perasaanku ini masih milik Donghae Oppa’. Kulangkahkan kakiku menjauh dari Ryeowook Oppa yang masih terduduk ditepi danau itu. Kini saatnya aku menemui Donghae oppa dan mengatakan kebenarannya.

“ Donghae oppa, kau memang kekasihku bukan kakakku.” Gumamku saat sudah duduk didalam mobilku. Kupacu mobil dengan sangat cepat menuju kerumah Donghae oppa yang berada tidak jauh dari taman bunga ini.

Flashback On

Tit,, Tit,,

kudengar bunyi bel apartemenku ini berbunyi. Tubuhku yang baru saja kubaringkan, kupaksakan untuk bangun lagi.

“Annyeong.” Sapa seorang ahjussi dengan ramah lewat layar intercomm.

“Paman, ini siapa? Kesini mau cari siapa?”

“Lee Dong Hae imnida. Saya mau cari Im Yoona.” Mencariku? Siapa ahjussi ini? Namanya familiar banget ya.

Tiiit… kunci pintu apartmenku terbuka otomatis. Kubukakan pintu apartmenku ini untuk ahjussi yang mengaku bernama Lee Dong Hae itu. Kupersilahkan ahjussi itu untuk duduk di sofa.

“Gomawo, Agassi.” Ucap ahjussi itu saat aku mempersilahkannya untuk minum jus jeruk yang baru saja aku buatkan.

“Ne. Ahjussi tadi bilang ingin bertemu dengan Im Yoona kan? Saya Im Yoona.”

“Agassi, saya kesini Cuma mau ngasih tau, kalau surat hasil test DNA punya Agassi tertukar dengan punya saya.”

“Mwo? Surat hasil test DNA?”

“Ne, ini punya anda, Agassi.” Ahjussi itu menyerahkan amplop putih yang sedari tadi dipegangnya. Kutatap lekat-lekat amplop itu.

“Silahkan di-cek , Agassi.” Kubuka amplop itu dan kutarik kertas yang ada didalam amplop itu.

“Nona Im Yoona dan Tuan Lee Dong Hae dinyatakan tidak cocok. Mwo?” Apanya yang tidak cocok. Pikirku. (hadeh, mbaknya. Dibaca mulai awal dong. /timpukin Yoona unnie pake uang *receh*)

“Lee Dong Hae itu siapa?” gumamku.

“Saya, Agassi.”

“Lee Dong Hae yang dimaksud test DNA nya disini?”

“Owh, kalau itu saya tidak tau. Agassi, sepertinya saya harus balik dulu. Annyeong, Agassi.”

“Ahjussi…” panggilku pada Lee ahjussi yang sudah akan memutar kenop pintu.

“Ne, Ahjussi tadi bilang ini tertukar kan? Jika ini anda yang bawa, berarti hasil tes punya anda ada di saya, kan?” tanyaku.

“Ne.”

“Tapi, hasil tes itu saya tidak punya. Mianhae.”

“Ah, gwaenchanha, Agassi. Rumah sakit tempat kita tes DNA masih mempunyai salinannya.” Jawab ahjussi itu santai. Ahjussi itupun keluar dari apartmentku.

“Siapa Lee Dong Hae itu?” tanyaku bingung.

“ARggghhhh…” jeritku. Kepalaku tiba-tiba pusing.

‘Ani-yo, oppa’ ….. ‘Yoona-ya, kau harus mengerti, kita ini saudara kandung. Kita tak mungkin meneruskan hubungan ini.’ ….. ‘Ani-yo, oppa. Kau bukan kakakku, kau kekasihku!’……. ‘Oppa, kau tahu? Nan jeongmal saranghaeyo.” ….. “Yoona-ya, sekarang atau selamanya kau adalah milikku, dan aku hanya milikmu.’.

Semua suara-suara itu menggema ditelinga bergantian. “Argggghhhh!!!!!” teriakku frustasi , karena suara itu semakin keras terdengar. Belum lagi sekelebat bayangan-bayangan yang aku kenali berputar-putar diatas kepalaku.

“Donghae Oppa? Kau kah yang terlupakan?”

Flashback Off

++++

Teng, tong.. teng, tong..

Sudah berkali-kali aku memencet bel yang ada dirumah ini. Tapi, pintunya belum juga terbuka.

“Apa password-nya belum ganti ya?” kupencet beberapa angka yang adalah ulang tahun Mama Donghae oppa.

Tit.. ting.. kuncinya terbuka.

Cklek.. kuputar knop pintunya.

“Omo!” kututup mulutku denganku kedua tanganku. Kulihat pemandangan yang menyakitkan mataku.

“Donghae Oppa?” tanpa menunggu komando dari mulutku, kakiku berjalan begitu saja mendekati kedua orang namja yang sedang bermesraan itu.

“Donghae Oppa? Itu benar kau?” Ya, dia Donghae Oppa-ku. Namja yang terlupakan 6 bulan ini. Dia, kenapa dia seperti  ini? Apa yang dia lakukan? Berciuman mesra dengan namja lain?

“Yoona?” didorongnya menjauh tubuh namja yang tadi beradu lidah dengannya.

“Apa yang baru saja kau lakukan?” tanyaku lirih. Amplop yang sedari tadi kupegang , terlepas begitu saja dari genggamanku.

“Yeobo, dia siapa?” Tanya namja imut nan ganteng(?) itu kepada Dong Hae Oppa. Dia memanggil Dong Hae oppa apa? Yeobo? Omo!

“…………..” Dong Hae oppa diam seribu bahasa. Tubuhnya hanya mematung melihatku.

“Oppa, aku kira, hikss. Kita bukan saudara,, hikss. Aku bukan adik kandungmu. Hikss. Akupun tidak sudi menjadi adik seorang namja laknat, hikss , sepertimu. Apalagi, hiks, menjadi kekasihmu.hiks.” aku menangis tersedu-sedu. Aku ingin keluar dari rumah laknat ini, tapi kakiku terasa kaku. Air mataku semakin deras mengalir.

“Mianhae, Yoona. Aku tahu kita bukan saudara kandung. Mianhae, Yoona. Aku lebih mencintai Hyuk Jae. Aku , aku, aku tau ini salah, tapi ini yang kumau.” Cukup! Pengakuannya ini cukup membuatku untuk meninggalkannya.

“Oppa, hikss.” Aku berlari keluar rumahnya dengan air mata yang masih menetes dari mataku.

“Oppa, namja-mu sungguh ganteng. Hiks.” Ucapku sebelum benar-benar keluar dari rumah ini dan takkan menginjaknya lagi.

‘Bahagialah, Oppa. Kesalahan bukanlah hal yang harus dihindari. Kesalahan hanya butuh untuk diperbaiki.’

‘Cintaku terlalu egois? Maaf, oppa. Itu karena perasaanku yang terlalu dalam padamu.’

‘Mianhae, Oppa. Aku pernah menganggapmu sebagai orang baik.

Pikiran-pikiran tentang Donghae Oppa mewarnai tangisku. Aku butuh tempat sandar. Aku butuh dermaga yang bisa untuk tempatku menghindari kekacauan ini. Kuinjak pedal gas mobilku lebih dalam, kuarahkan mobilku menuju taman bunga. Kuharap Ryeowook Oppa masih ada disana.

‘aku salah memilih. Semoga cintaku ini bisa tepat memilih hati untuk tempat bersemayam.’

Flashback On

Kulirik jam weker yang ada di nakas sebelah kasurku. Jam 2 pagi. Aku benar-benar galau. Hatiku ini sedikit banyak telah mencintai Ryeowook Oppa yang 6 bulan ini mengisi hari-hariku. Tapi, aku sekarang telah mengingat Donghae Oppa, namja yang setengah mati kucintai dulu. Hatiku lebih memilih Ryeowook Oppa, tapi pikiranku lebih memilih Donghae Oppa.

“ARGHHH.” Teriakku frustasi.

“Donghae Oppa? Ryeowook Oppa?”

“Ryeowook Oppa belum tentu mencintaiku juga kan, ya?

“Donghae Oppa lebih ganteng.”

“Donghae Oppa saja lah.”

“Dia cinta pertamaku. Semoga dia jadi yang terakhir. Dia lebih pasti.”

‘Yang pertama belum tentu jadi yang terakhir. Yang terakhir belum tentu pernah menjadi yang pertama. Tapi yang penting bukanlah siapa yang terakhir dan pertama, yang terpenting adalah siapa yang UTAMA.’

Flashback Off

RYEOWOOK POV

“Oppa.”

“Tiffany? Benarkah itu kamu?” tanyaku memastikan.

“Oppa, bogoshippeo-yo.” Fany mendekat kearahku, dan langsung memelukku. Sudah sejak kami putus malam itu dicafe, aku tidak pernah melihat dia lagi. Aku hanya melihatnya sesekali itupun hanya melalui layar kaca.

“Aku juga merindukanmu, Fany-aa. Bagaimana pekerjaanmu?” tanyaku berbasa-basi.

“Oppa, kau tahu? Aku tidak bisa mengerjakan semua dengan baik saat kau tak ada disisiku.”

“Jeongmal?”

“Ne, Oppa. Oppa, apa selama 6 bulan ini kita tidak berjumpa, kau sering main ke danau ini?”

“Ne, aku masih suka kesini. Karena kenangan indah kita berdua banyak terjadi disini.”

“Aku juga sering sekali main disini, Oppa. Berharap bisa ketemu kamu disini, dan sekarang doaku itu terkabul, aku bisa bertemu denganmu disini.”

“……….”

“Oppa, apa kau sudah mempunyai yeojachingu sekarang?”

Hening beberapa saat. Aku bingung mau menjawab pertanyaannya dengan apa (*dengan kata-kata dong ,Oppa! Masa’ pake bahasa isyarat.)

“Oppa, kau sudah mempunyai yeojachingu?” dia mengulangi lagi pertanyaannya.

“Tidak. Seharusnya sih iya. Tapi, entahlah.” Jawabku bingung. Bayangan tentang Yoona kembali muncul dalam pikiranku.

“Oppa, kau masih mencintaiku?”

“Sangat, Selalu, Selamanya.”

“Jadilah milikku lagi, Oppa.”

“Tidak.”

“Waeyo, Oppa?”

“Nanti kalau kita pacaran, bagaimana dengan karier keartisanmu itu?” tanyaku, aku masih tetap mementingkan masa depan dia.

“Oppa, kau tahu? Karierku berjalan dengan baik saat aku bersamamu.”

“Benarkah?” tanyaku. Fany hanya mengangguk pasti dan tersenyum manis. Senyum yang 6 bulan ini tak pernah kulihat. Senyum yang 6 bulan ini digantikan dengan senyum jail Yoona.

“Oppa, Saranghae, Yeongwonhi…”

“Naddo, Fany-aa.”

“Kini aku jadi kekasihmu lagi kan, Oppa?”

“Ne. Tiffany Hwang, yeojachingu Kim Ryeowook. Untuk kemarin, sekarang, besok dan selamanya.”

CHU~~ Aku mencium pipi Fany lembut.

“Ryeowook Oppa. Hiks.” Lho? suara siapa itu? Kuedarkan pandanganku, mencari si asal suara.

“Yoong-aa.” Kulihat Yoona yang berdiri tak jauh dari tempat aku dan Fany duduk. Banyak air mata yang keluar dari matanya nan indah.

“Yeoja itu Tiffany, Oppa? Artis terkenal itu? Hiks.” Tanyanya tetap dengan tangisan yang kini mulai mereda.

“Ne, dia yeojachinguku.”

“Oppa, hiks. Belum genap satu jam aku menolakmu, tapi kau sudah menembak yeoja lain, hiks. Kau…” tanpa menyelesaikan kata-katanya Yoona berlari meninggalkan aku dan Fany. Ingin aku mengejarnya, memeluknya, meminjamkan bahuku untuk tempat sandarnya. Tapi, aku tak bisa seperti itu, Fany yang akan tersakiti bila aku melakukan itu.

“Dia siapa , Oppa?”

“Dia Im Yoona. Dia yang menemaniku selama 6 bulan ini.”

“Kau mencintainya, Oppa?”

“Ne. aku mencintainya. Walau cintaku lebih besar kepadamu.”

“Oppa, terima kasih untuk tetap menjaga cintaku dihatimu itu.”

“Aku juga berterima kasih karena kau telah mempercayakan cintamu itu kepadaku.”

Chu~~ kucium puncak kepalanya.

‘Memang ini pernah goyah. tapi cinta tanpa halangan. Bukankah itu tidak dapat dipastikan keteguhannya?’

‘Biarlah sakit itu menyiksa, dan jadikan cinta sebagai obatnya.’

‘Ini semua kau yang memulai, kau juga harus mengakhirinya. Terima kasih karena telah membuatku kembali pada bidadariku.’ ‘Yoona, gomawo.’ J

 

NORMAL POV

Truk dari arah berlawanan berjalan dengan oleng, sopir yang mengemudikannya terlihat sedang mengantuk. Mobil imut berwarna merah muda yang dikendarai Yoona pun tak kalah oleng, karena Yoona mengemudikan mobilnya dengan mengingat-ingat kejadian-kejadian hari ini yang dialaminya.

CIIITTTTTTTT… BRAKKKKKK…

Akhirnya kedua kendaraan beroda empat ini menabrak satu sama lain. Mobil Yoona terbalik dan terpental sejauh 500 meter. Sedangkan Truknya terbalik dan menumpahkan seluruh isi yang diangkutnya.

“Cepat, panggil ambulance, polisi, juga perusahaan mobil derek. Kasihan Nona yang ada didalam mobil itu.” Teriak salah satu pengguna jalan yang menyaksikan tabrakan hebat itu secara live.

YOONA POV

Tiut, tiut, tiut… suara ambulance menggema keseluruh penjuru jalanan.

“Aww.” Aku meringis kesakitan, melihat kakiku terjepit badan kemudi.

“Cepat, bawa Nona ini. Dia perlu banyak darah. Perhatikan terus detak jantung dan denyut nadinya.” Teriak salah satu tim medis.

“Lho? Nona? Aku disini dok? Aku belum terangkat?” aku berteriak-teriak memanggil sang medis. Tapi tidak ada yang mendengar. Kulongokkan mataku pada Yeoja yang bersimbah darah sedang terbaring ditandu yang akan dimasukkan kedalam Mobil ambulance. Lho? itu aku?.

“ANDWAEEEEEEEEE.., aku sudah mati!!!”

“Hey, jangan teriak-teriak, Agassi.” Ucap seorang namja jangkung nang ganteng layaknya seorang malaikat.

“Eh? Kau mendengarku?”

“Ya iyalah.”

“Aku belum mati, dong?”

“Anio. Kau sudah mati, Agassi.”

“MWo? Kalau aku sudah mati, kenapa kau masih bisa melihatku?”

“Karena aku juga sama sepertimu. Perkenalkan, Choi Siwon imnida.”

“Andwaaaeeeeee…” teriakku frustasi.

‘Apa ini semua nyata? Bila iya, tolong katakan tidak. Bila tidak, cepat bawa aku kembali ke duniaku yang sesungguhnya. Aku ingin mengulangi lagi masa aktif hidupku. Aku ingin mati terpuji, bukan seperti ini!!!!’

‘Cinta biarkan rasa itu membuatmu tetap hidup. Jangan biarkan keagungan Cinta membuatmu mati. Karena cinta yang pasif, itu hanya sekedar rasa samar yang salah diartikan.’

^^END^^

Aduh, geje ya? Jelek ya? Gak bermutu ya? Mianhae, readers-nim. Otakku yang pas-pasan ini Cuma bisa buat cerita yang seperti ini. Makasih buat yang mau baca, jangan lupa comment-nya ya? ^^

Wassalam…


8 thoughts on “[Freelance] The Silly Part Of Love

  1. Yah,pertamanya agak sebel karena yoona pelit dan morotin(?) Ryeowook! Tapi, gak sebel lagi soalnya yoona dapet balasan yg setimpal. Eh?
    Ceritanya bagus kok. Alurnya juga lumayan. Endingnya ok. Cuma agak ga ngerti sama story awal ryeowook-fanny sama donghae-yoona . .
    Kekeke~

    Like

  2. ngakak pas tau nama restaurant indo itu ” doa mama ” wakakaka
    hiks kasian ya yoong. tapi setidaknya dia udah dapet temen baru,siwon pula wakak😄
    ffnya keren abis thor (?) keep writing

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s