[Freelance] From Lie To Love #3


Author                  : Tulith28 (@tulith28)
Title                       : From Lie To Love #3
Length                  : Chapter
Genre                   : Romance, Tragedy, etc
Rating                   : PG15
Cast                       : Please find by YourSelf ^^
Notes                    : Maaf jika pairingnya tak sesuai dengan kehendak reader. Maaf jika banyak salah disana-sini, mohon dimaklumi. Maaf jika ceritanya nglantur dan kata-katanya aneh juga terkesan lebay. Ini FF juga aku post di WP pribadi aku, jadi jangan dianggep plagiat ya. Dan yang terakhir, ide cerita ini sama seperti drama ‘Wish To See You Again’, Cuma idenya. Karena ceritanya sama sekali berbeda dengan drama itu.

  HAPPY READING!!! ^^

YOONA POV

Aku cukup kebingungan melihat dia yang pingsan didepanku. Setiap orang yang lewat , hanya melihatku dengan tatapan aneh, tanpa ada niat membantu. Akhirnya aku putuskan untuk membawanya kerumahku. Kupapah tubuhnya yang kecil namun cukup berat itu menuju mobil yang diparkirnya dipinggir jalan. “Berat sekali badannya , padahal dia terlihat kurus dan kering.” Gumamku pelan lalu menyandarkannya di kursi sebelah kemudi. Aku duduk dibelakang kemudi. Walau aku belum lulus tes menyetir mobil, tapi aku yakin bisa menyetir mobil ini selamat sampai ke rumahku nanti. Dengan hati yang cukup deg-degan aku menghidupkan mesinnya. “Yoona, kamu pasti bisa! Hwaiting!” ucapku untuk menyemangati diriku sendiri. Kupacu mobil dengan sangat pelan. Kecepatan jauh dibawah normal untuk ukuran mobil sport berkecepatan 800x tenaga kuda.

RYEOWOOK POV

Hanya sakit yang aku rasakan. Bernafaspun menjadi sulit untuk kulakukan karena perihnya perutku.

“Yoona. Kamu pasti bisa! Hwaiting!” kudengar suara Yoona yang menyemangati dirinya sendiri. Perlahan kubuka mataku. Kudapati Yoona duduk dibelakang kemudi, dan mulai menjalankan mobil. ‘Lucu.’batinku. kututup lagi mataku dan membiarkan Yoona menganggapku masih pingsan.

++++

“Ryeowook-ssi, ireona! Dirimu sungguh berat. Jinjja!” keluh Yoona sembari memapahku keluar dari mobil. Dia terlihat sangat keberatan dengan badanku ini. Gak tega sih, tapi kalau aku bangun sekarang , nanti dikira aku mempermainkan dia lagi. Kunikmati sajalah ocehannya. Mendengar ocehan-ocehan Yoona sungguh membuatku ingin tertawa sekeras-kerasnya. Yoona memapahku menuju ke sebuah rumah yang bisa dibilang cukup kecil, ya aku sempat melihat rumahnya saat membuka sedikit mataku.

++++

‘Aku bersedia sakit jika itu akan membuatku selalu bersamamu, tapi harap aku akan selalu sehat agar bisa menemanimu tertawa.’

‘Biarkan sakit ini menertawakan aku yang lemah dihadapanmu, karena aku berhutang budi pada mereka yang membawamu kesisiku.’

‘Sakit atau sehat, jika bersamamu, hidupku ini akan indah.’

++++

“Yoona, namja ini, nuguya?”Tanya seorang yang suaranya terdengar merdu.

“Ah, ini. Eonni, ini, ehm. Dia……” Jawab Yoona terbata-bata.

“Wae, Yoona-ya? Namja ini siapa?” tanyanya dengan sedikit menaikkan volume suaranya. Suara yang tadi terdengar merdu kini mejadi menyeramkan.

“Yoona , biar aku yang jawab. Annyeong, Kim Ryeowook imnida. Aku chingu-nya Yoona.” Jawabku dalam hati, dan pasti mereka berdua tidak mendengarnya. *apaan?*

 

YOONA POV

“Ryeowook-ssi, ireona! Dirimu sungguh berat. Jinjja!” keluhku sembari memapah tubuhnya keluar dari mobil. Berkali-kali aku mengeluarkan kata-kata keberatan, tapi tetap saja namja satu ini tidak bangun-bangun juga. Sesampainya di kamarku , kubaringkan tubuhnya dikasurku. Kalau bukan gara-gara dia menanggapi serius kata-kataku tadi sampai gak makan siang, sudah kubiarkan namja satu ini tergeletak di pinggir jalan.

“Yoona, namja ini, nuguya?” omona! Itu suara Taeyeon eonni. Habislah riwayatku.

“Ah, ini. Eonni, ini, ehm. Dia……” jawabku terbata. Tatapannya sungguh membuatku seakan terbunuh.

“Wae, Yoona-ya? Namja ini siapa?” Tanya Taeyeon eonni dengan nada yang sedikit menaik.

“Dia.. dia Kim Ryeowook, Eonni.” Jawabku sekenanya.

“Eonni, dia tadi pingsan dipinggir jalan. Aku kan masih punya hati nurani, jadi dia kubawa kesini. Dia bukan siapa-siapa aku kok, Eonn.” Jelasku jujur.

“Ne, tapi apa kamu gak tau dimana dia tinggal? Darimana kamu tau namanya?” Tanya Taeyeon Eonni dengan nada penuh selidik dan pertanyaannya cukup membuatku sadar akan sesuatu.

“Aigoo! Kenapa aku bisa lupa? Babo, babo!” kutepuk jidatku dengan tangan. Kenapa aku tidak kepikiran untuk membawanya ke hotel. Kenapa aku bisa lupa?

“Wae, Yoona-ya?”

“Kenapa aku bisa lupa? Kenapa dia tidak aku bawa ke hotel saja?.”

“MWO?? Yoona-ya!!!” astaga! Kurasakan aura pembunuh yang keluar dari tatapan Taeyeon Eonni, benar-benar menyeramkan!!

“Eonni, jangan salah paham dulu. Aku dan dia pertama kenal itu dihotel.”

“MWOYA? Apa yang kau lakukan di hotel saat bertemu dengannya.” Ups! Keceplosan lagi! Kim Ryeowook kau sungguh menyusahkan. Eonni, mianhae, aku harus berbohong.

“Kemarin, aku diundang temanku ke acara ulang tahunnya yang diadakan di hotel. Eonni tau Kim Jonghyun kan? Dia yang ulang tahun, dan Ryeowook ini temannya.” Jelasku seperti anak SD yang sedang mengarang bebas.

“Bukannya Jonghyun ulang tahunnya minggu depan ya? Aku juga dapat undangannya. Trus kenapa dia tidak kamu antar ke rumah Jonghyun saja? Kenapa malah membawanya kesini, juga sempat berfikir untuk membawanya ke hotel?” aku hanya terdiam mendengar pertanyaan Taeyeon eonni yang men-detail.

“Ah, ulang tahunnya itu kemarin, eonni. Yang minggu depan itu hanya sekedar pesta perayaan biasa. Keluarga Jonghyun tadi pagi berangkat ke Italy, jadi rumahnya kosong. Trus kenapa aku sempat berfikir untuk membawanya ke hotel karena aku merasa gak enak sama Eonni, aku tahu Eonni gak suka ada namja masuk rumah ini.” Huh, leganya bisa menjawab semuanya dengan lancar. Aku perhatikan wajah Taeyeon Eonni yang tampak mencerna baik-baik jawabanku.

“Ah, eonni. Kau terlihat capek. Pasti pekerjaanmu sangat melelahkan ya hari ini? Lebih baik kau cepat istirahat, kalau kau kurang istirahat, wajah dan suaramu nanti jadi gak enak loh. Sales girl sepertimu kan butuh suara dan wajah yang fresh. Sudah sana tidur atau baca-baca novel gitu. Dan namja ini, tenang saja, aku bisa mengurusnya tanpa menimbulkan masalah. Selamat malam , Eonni.” Aku merangkulnya keluar dari kamarku sebelum Eonniku yang satu ini semakin bertanya yang macam-macam. Setelah kulihat dia masuk kekamarnya, aku kembali masuk kekamarku, dan melihat keadaan Ryeowook.

‘Mianhae, Taeng eonni. Aku tidak jujur tentang pekerjaan baruku. Aku takut kau tidak bisa menerimanya. Aku tau luka itu masih ada.’

Flashback On

NORMAL POV

“Jagi, apa kau benar-benar mencintaiku?” Tanya seorang namja yang sedang menatap kearah yeoja yang sedang duduk di depannya.

“Ne, oppa. Nan jeongmal saranghamnida.” Jawab sang yeoja mantap.

“Walaupun aku tidak lagi menjadi Park Jung Su yang seperti kau lihat saat ini?” tanyanya lagi.

“Ne, Kim Taeyeon akan mencintai Park Jung Su selamanya, takkan pernah berubah walaupun kau berubah menjadi jelek, tua, jahat, atau apapun. Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini kepadaku, oppa?”

“Tidak kenapa-kenapa, hanya aku ingin saja.” Namja yang bernama Park Jung Su hanya memberikan senyuman manis kearah yeoja yang sudah 2 tahun menjalin cinta dengannya. Senyumannya sungguh sangat manis, sampai dia terlihat seperti malaikat. Namun sayang, dibalik senyum malaikatnya tersimpan dendam yang sangat dalam di hatinya.

++++

“Ya, dipersilahkan untuk kedua orang yang berbahagia berjalan keatas panggung untuk bertukar cincin.” Ucap seorang MC yang sudah berada dikerumunan orang-orang yang sedang menghadiri acara pertunangan Park Jung Su dan Kim Taeyeon yang diadakan di hotel mewah itu. Kim Taeyeon berjalan keatas panggung dengan terus menyunggingkan senyum manisnya. Tubuhnya yang mungil dibalut dress mini putih yang indah. Sedangkan Park Jung Su yang memakai Kemeja Putih dan Jas warna hitam pun berjalan kearah panggung juga.

“Silahkan Tuan Park Jung Su memakaikan cincinnya ke jari Nona Kim Taeyeon.” Ucap sang MC yang sudah bertengger juga diatas panggung dengan Kim Taeyeon dan Park Jung Su. Kedua orang tua Kim Taeyeon dan juga Yoona adik Taeyeon , hanya bisa tersenyum bahagia melihat anak dan kakaknya akhirnya bisa bertunangan dengan Park Jung Su.

“Inilah waktunya….” Gumam Jung Su sambil merogoh kantong yang ada didalam jasnya.

“Oppa??” Tanya Taeyeon kaget saat melihat benda yang dikeluarkan oleh namjachingunya itu. Bukan kaget bahagia, tapi kaget yang berbalut rasa takut. Ya, Jung Su bukan mengeluarkan cincin dari saku jasnya melainkan sebuah Pistol Beretta 92 yang notabenenya menyandang pistol terbaik didunia.

“Apa yang dia lakukan?” bisik-bisik dari para tamu yang menghadiri acara pertunangan itu.

“Tuan Kim Young Won apa kau lupa dengan pistol ini?” Tanya Jung Su pada Appa Taeyeon.

“Park Jung Su? Itu.. itu..” jawab Appa Taeyeon terbata-bata.

“Ya! Ini pistol yang kau gunakan untuk membunuh keluargaku 12 tahun yang lalu.” Bentak Jung Su. Yang membuat suasana semakin mencekat.

“Kau! Kau sangat kejam, kau bunuh kedua orang tuaku dan kakakku didepan mataku.!” Kata Jung Su mulai berjalan mengitari Appa dan Umma Taeyeon juga Yoona.

“Oppa! Apa yang kau lakukan?” Tanya Taeyeon yang mulai menitihkan air matanya.

Semua undangan tidak ada yang keluar dari hall mewah hotel itu. Semua orang hanya mematung membisu.

“Jagi-ya! Kau belum tau kelakuan bejat Appa-mu?” Tanya Jung Su dengan suara yang lembut.

“Appa-mu yang selalu kau banggakan ini, adalah sahabat yang kejam! Pengkhianat! Gila Harta! Tak setia kawan!…”

“STOP, OPPA!!!” teriak Taeyeon.

“Kenapa, Jagi? Kau tak kuat mendengarkan fakta tentang Appa-mu ini? DIA PEMBUNUH!! DIA HARUS DIBUNUH DIDEPAN MATAMU.”

JEDEEERRRRRR. Satu peluru meluncur indah dari pistol yang dibawa Jung Su dan mendarat tepat di paru-paru Kim Young Won.

“APPA…”

“YEOBO..”

“AHJUSSI…”

Teriakan dari Taeyeon, Umma Taeyeon dan Yoona menggema keseluruh hall. Sedangkan Jung Su hanya tersenyum.

“Bagaimana rasanya?” Tanya Jung Su.

“Park Jung Su kau…..!!!” Teriak Umma Taeyeon

JEDEEEEEERRRRRR. Satu peluru lagi meluncur dari pistol Berreta 92 itu dan menancap sempurna diperut umma Taeyeon.

“UMMA!!!” teriak Taeyeon melihat ummanya tergeletak lemas di sampingnya.

“Haruskah aku juga menancapkan peluru panas ini ditubuhmu juga tubuh adikmu itu?” tanyanya dengan ekspresi yang sangat mematikan.

“PARK JUNG SU!!! Neo,, jinjja!!!!” Taeyeon hanya bisa berteriak, kakinya terasa keluh untuk berdiri. Yoona hanya bisa tetap menangis melihat 2 orang yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya itu mati dengan sia-sia.

“Goodbye, Jagi. Saranghae!!”

JEDERRRRRRRR. Jung Su menembakkan peluru terakhir yang ada dipistolnya tepat di pelipisnya sendiri. Peluru yang menembus otak utamanya langsung membuat nyawa Jung Su terpisah dari raganya

Hari itu sungguh hari yang sangat membuat Taeyeon trauma akan namanya Hotel dan namja. Karena hari itu yang seharusnya menjadi hari bahagia untuk Taeyeon, malah menjadi hari penuh darah mengalir dari Ketiga orang yang sangat dicintainya dan sangat berarti baginya.

Flashback Off

++++

RYEOWOOK POV

“Hyun-aa, waeyo? Uljima!” tanyaku pada Seohyun yang kudapati sedang mennagis dibangku taman.

“Ryeowook oppa, hiks. Dia, hiks, dia mengkhianatiku.” Ucapnya tersedu-sedu. Dia memelukku, dan aku membalasnya dengan belaian lembut dirambutnya.

“Sabar ya, hyun-aa. Kamu pasti dapet namja lain yang lebih baik dari dia kok.” Ucapku menenangkan. Dia melepas pelukannya dan menatapku aneh.

“Namja lain? Oppa, nada bicaramu biasa sekali , oppa? Apa kau tidak senang aku putus dengannya?” kini aku yang menatapnya aneh. Suara tangisnya kini mulai reda.

“Oppa, aku putus dengan Yong Hwa karena dia menduakanku. Ternyata, oppa yang terbaik untukku. Mianhae karena aku sudah mencampakkan, oppa.” Jelasnya panjang lebar.

“Ne, gwaenchanha.” Kataku singkat. Mungkin dulu aku pernah mencintai dan menginginkannya, tapi tidak dengan sekarang. Aku sudah menemukan hati yang baru.

“Oppa, saranghae.”

“Mwo?” tanyaku sedikit kaget mendengar pernyataannya. Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan CHU ,diapun mencium bibirku. Aku segera menjauhkan tubuhnya dari tubuhku.

“Seo Joo Hyun, apa yang kau lakukan?”

“Oppa, aku masih mencintaimu, tidakkah kau masih mencintaiku?” tanyanya.

“Tapi aku sudah……” ucapku terpotong karena dia kembali mencium bibirku, air matanya mulai mengalir lagi. Kucoba untuk melepas ciumannya, tapi dia menautkan bibirnya lebih dalam dibibirku. Dan yang aku bisa lakukan hanyalah tidak membalas ciumannya.

“Ryeowook-ssi…” terdengar sepenggal suara.

“Mianhae, Seo Joo Hyun. Tapi sekarang rasa yang kumiliki untukmu hanyalah sekedar rasa yang diberikan oleh kakak untuk adiknya.” Aku berdiri dari posisi dudukku. Aku mencari asal suara yang membuat Seohyun melepaskan ciumannya.

“Ryeowook-ssi.” Suara itu lagi terdengar. Aku mulai berlari-lari kecil untuk menemukan asal suara itu.

“Ryeowook-ssi. Ryeowook-ssi.” Aku semakin mempercepat langkahku untuk menelusuri tempat yang ber-background putih ini.

BYUURRRRR

“Ryeowook-ssi! Ireona!” kurasakan sesuatu yang basah mengalir dari atas tubuhku, suasana menjadi dingin seketika.

“Ryeowook-ssi!”

“Dingin bukan karena ini musim dingin, semuanya karena hangat tubuhmu yang beranjak menjauh dari sisiku. Dingin, karena cintamu tak lagi bertahta dihatiku. *ngemeng apaan nih orang?*”. ucapku sesaat ketika ada tangan halus yang membelai pipiku lembut pipiku.

PLAKKKK.

“Awwwww!! Appo!” teriakku dari dunia tidurku. Eh?

 

NORMAL POV

Ryeowook yang mendapat tamparan keras dari Yoona langsung berdiri tegak, tanpa transit ke posisi duduk. “Yoona-ssi, tega sekali kau menamparku sekeras itu.” Ucap Ryeowook dengan tampang memelas dan tangan yang mengelus-elus pipinya yang mendapat ‘serangan pagi hari’ dari tangan Yoona.

“Kau sendiri yang salah, tidur sambil gerak-gerak gak jelas, bikin aku takut aja. Dibangunin juga gak bangun-bangun, jangan salahkan aku kalau aku membangunkanmu dengan kekerasan, Kim Ryeowook.” Jelas Yoona dengan tampang tak bersalah.

“Ryeowook-ssi, kau kenapa?”

“Yoona, dingin.” Ucap Ryeowook yang mulai menggigil. Yoona yang melihat Ryeowook gemetar gak jelas, segera melepaskan satu persatu kancing kemeja yang digunakan Ryeowook.

“Yoona-ssi.”

“Mianhae, Ryeowook-ssi. Tadi saat melihatmu tidur dengan gelisah, aku berusaha membangunkanmu dengan menyiramkan air es ke badanmu.” Jelas Yoona jujur. Ryeowook hanya terdiam, mungkin karena badannya yang terlalu dingin.

“Sepertinya kau harus mandi air hangat, biar kau tidak masuk angin. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu.” Kata Yoona setelah berhasil membuat Ryeowook telanjang dada.

“Tak perlu repot-repot, Yoona-ssi, aku akan segera balik ke hotel.” Ucap Ryeowook pada Yoona yang sudah berdiri hendak menyiapkan air hangat untuk Ryeowook.

“Tapi, Ryeowook-ssi, ini kan masih jam 3 pagi. Apalagi bajumu kan basah.” Ujar Yoona perhatian.

“Kau punya kemeja?” . Yoona hanya mengangguk mendengar pertanyaan Ryeowook.

“Aku pinjam kemeja-mu.”

“Ne, tapi kemeja-ku, semuanya bermodel Kemeja untuk yeoja.” Ucap Yoona.

“Ah, gwaenchanha. Toh, tidak ada orang yang memperhatikan cara berpakaian seseorang pagi-pagi seperti ini, ya kan?” tanpa menyahuti ucapan Ryeowook, Yoona segera berjalan menuju lemari yang berada dikamarnya itu. Yoona tampak bingung memilih kemeja yang cocok untuk Ryeowook. Semua kemeja yang ada dilemarinya sangatlah girlie. Akhirnya dia menemukan kemeja putih berlengan panjang yang biasa digunakannya untuk kerja. “Cuma ini yang terlihat netral. Tapi kemeja ini kan aku harus menggunakannya besok.” Gumam Yoona pelan.

“Kalau memang kemeja itu kau harus memakainya besok, aku pinjam yang ini saja. Tidak apa-apa kan?” kata Ryeowook yang sudah ada dihadapan Yoona.

“Tapi itu kan….”

 

YOONA POV

“Tapi itu kan….”. aku lihat dia bergantian dengan kemeja yang diambilnya dari lemariku. Memang itu kemeja terbesar yang aku punya, tapi kemeja itu berwarna pink dan “bermotif bunga-bunga?” tanyanya seperti mampu membaca pikiranku. “Namja gak boleh pake kemeja warna pink yang bermotif bunga-bunga?”. Aku hanya bisa menggeleng lalu mengangguk pelan. “Yasudah lah, mau kamu menggeleng apa mengangguk, aku akan tetap memakai kemeja ini. Aku pinjam ya!!” dia berjalan keluar dari kamarku ini sembari memasangkan kemeja pink-ku itu ke tubuhnya.

“Ryeowook-ssi…”panggilku pelan, karena kau tak mau Taeyeon Eonni terbangun karena kau berteriak-teriak pagi buta seperti ini. Aku yang baru sadar dari kekagetanku, segera berlari menyusulnya keluar.

“Ryeowook-ssi.” Kupanggil dia lagi. Dia ternyata masih duduk dikursi yang ada didepan rumah ini.

“Kenapa duduk disini?” tanyaku.

“Aku gak boleh duduk disini?” tanyanya balik.

“Anio, hanya saja kenapa kau tidak cepat-cepat balik ke hotel?”

“Kau mengusirku, Yoona-ssi?” tanyanya balik (lagi).

“Nde? Anio, maksudku….”

“Yasudahlah, ini kan sudah pagi, aku mau balik ke hotel dulu. Annyeong.”. dia bangkit dari duduknya lalu berjalan ketempat mobilnya tadi kuparkirkan.

“Ryeowook-ssi, aku antarkan kau balik ke hotel.” Kataku. Dia menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya sehingga menghadapku.

“Tidak perlu. Kau kan yeoja. Masa’ seorang namja tulen sepertiku diantar seorang yeoja balik ke hotel? Kau lebih baik cepat tidur! Kau terlihat capek.”. dia kembali membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya. Melihat dia berjalan menuju mobilnya, akupun cepat- cepat masuk kedalam rumah.

 

RYEOWOOK  POV

“Aigoo!! NSP sekali diriku!!*NSP=Namja Super Pabo*” runtukku dalam hati. Kulihat Yoona sudah tidak ada didepan rumahnya. Akupun berdiri lemas disamping mobilku.

KRUCUKKK.. KRUCUKKK..

Kupegangi perutku yang memulai lagi aksi demonya. Kurogoh saku celanaku yang selamat dari guyuran hujan local tadi. “Handphone-ku mana?” gumamku saat tak kudapati smartphone yang selalu kubawa kemana-mana itu tak ada di saku celana yang kupakai. Benar-benar sial!! Sudah kunci mobilku masih di Yoona , kini smartphone-ku tak tau ada dimana?

“Ini handphone-mu.”. Yoona? Kuambil smartphone-ku dari  Yoona yang sudah ada di hadapanku dengan memakai Hoodie yang cukup tebal.

“Ayo cari makan dulu sebelum kau kuantar balik ke hotel. Kasihan cacing-cacing diperutmu yang puasa sejak kemarin.” Ajaknya.

“Ne.” . entah karena terhipnotis atau apa, akupun menurut kepada Yoona. Aku masuk kemobilku dan duduk disebelah kemudi.

 

NORMAL POV

Tanpa banyak kata yang dilontarkan lagi, Ryeowook pun langsung memasuki mobilnya yang sudah dibuka oleh Yoona. Sedangkan Yoona, tersirat rasa gugup yang amat jelas diwajahnya saat dia mulai duduk dibelakang kemudi.

 

YOONA POV

‘Babo! Babo! Babo! Kenapa aku sok-sokan mau nyetir sih? Aku kan bisa nganterin dia balik ke hotel tanpa harus ada acara menyetir seperti ini?’ omelku dalam hati saat aku mulai masuk kedalam mobilnya ini.

“Yoona-ssi, gwaenchanhayo?” tanyanya yang sontak menambah kegugupanku.

“Nan.. nan.. gwaen.. gwaenchanha, Ryeowook-ssi.” Tuturku terbata.

“Cepat jalankan mobilnya kalau gitu, perutku sudah perih.” Suaranya lirih, tapi aku tau ada nada bentakan terselip dikata-katanya itu.

“Sabar dong.”. kalau bukan karena salahku dia jadi begini, sudah kubentak habis-habisan ini orang. Huh, menghadapi dia sungguh membuat emosiku naik-turun, perasaannya seperti layang-layang, terkadang baik terkadang juga sangat menyebalkan.

Perlahan kupencet tombol Start Engine-nya. ‘Ayolah, kau tadi sudah menyetir dengan sangat baik walau pelan. Dan kini kau hanya perlu mengulanginya lagi’ semangatku dalam hati. Saat hendak kuinjak pedal gas mobil ini, tiba-tiba Ryeowook membuka pintu dan berdiri dari posisinya semula dan menutup pintu mobil dengan halus. Aku yang kaget dengan keluarnya dari mobil ini, refleks memajukan kakiku dan itu berhasil membuat mobil ini berjalan maju. Aku tersentak kaget karena mobilnya berjalan dan malah membuat kakiku semakin dalam menginjak pedal gas.

“Huwaaaa…. Eotteohke?” teriakku heboh. Aku mencari-cari pedal rem, mataku kufokuskan menatap kebawah. Lalu kau kembali menatap kedepan.

“Arrgghhh…” kulihat ada seorang pedagang yang sedang menyebrang didepan mobil ini, dengan pikiran yang sangat kacau kubanting stir kearah kanan untuk menghindari pedagang itu dank arena kehilangan keseimbangan , akupun menabrak deretan mobil yang sedang terparkir dipinggir jalan.

 

RYEOWOOK POV

“Sabar dong.” Ucapnya. Perlahan dia mulai menyalakan mesin mobilku ini. Melihatnya semakin gugup, aku menjadi tidak tega. Aku pun keluar dari mobil, dan berniat untuk menggantikan posisinya yang berada dibelakang kemudi. Tapi, saat aku sudah keluar dari mobilku itu, kulihat tiba-tiba mobilnya berjalan. Kaca yang tertutup rapat dan juga dilapisi scotlite hitam, menghalangiku untuk melihat apa yang sebenarnya dilakukan Yoona.

CIIIITTTT,, BRAAKKKKK….

“Yoona.”

++++

NORMAL POV

Sirene ambulance sudah mulai menggema disepanjang jalan menuju tempat kecelakaan.

“Yoona.” Ucap Ryeowook saat sudah berhasil menarik keluar tubuh Yoona yang terhimpit kemudi mobil.

“Ryeowook-ssi, mianhae.” Gumam Yoona lirih. Darah segar banyak mengalir dari tubuh Yoona.

“Jangan beritahu Taeyeon eonni tentang ini.” Yoona pun memejamkan matanya dan tubuhnya melemas.

++++

“Apa ada keluarganya disini?” Tanya dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.

“Saya keluarganya, dok.” Aku Ryeowook berbohong. Ryeowook yang sedari tadi hanya bisa duduk termenung, kini sudah berdiri tegak dihadapan sang dokter.

“Dia baik-baik saja kan, dok?” Tanya Ryeowook khawatir.

“Dia sudah melewati masa kritisnya.”

“Syukurlah.” Ujar Ryeowook lega.

“Tapi….”

“Tapi, apa dok?”

“Tapi, karena ada benturan keras dikepalanya saat kecelakaan dan efek shock menyebabkan kerusakan kecil pada otaknya dan itu membuat dia kehilangan beberapa memori di otaknya.” Jelas sang dokter.

“Dia amnesia?”

“Bisa dibilang seperti itu, Tuan,”

“Berapa lama dia akan kehilangan ingatannya itu, dok? Selamanya kah?” Tanya Ryeowook yang mulai berkeringat dingin.

“kalau soal itu, kami belum bisa memastikan, Tuan. Karena keadaan pasien yang belum sadar. Jadi kami belum bisa bertindak lebih lanjut. Tapi, jika melihat lukanya yang cukup parah, bisa saja dia mengalami amnesia akut yang membuat memori ingatannya tak bisa kembali.” Penjelasan dokter itu cukup membuat Ryeowook terduduk lemah dan semakin tenggelam didalam rasa bersalahnya.

“Eotteohke?” gumam Ryeowook saat sang dokter sudah meninggalkan Ryeowook sendirian termangu dibangku tunggu.

 

__TBC__

Astaghfirulloh. Makin geje saja ini FF. readers-nim, masih ada yang mau baca FF inikah?

 


12 thoughts on “[Freelance] From Lie To Love #3

  1. hahaa…
    baru smpet comment…
    eh ntu yoona gmana?
    ntar ga lupa ma ryeowook kan?
    itu dokternya ga nyadar pa yya si wookie pke kmeja pink bunga-bunga*bayangin…
    nice ff ^^
    i’m always waiting for next chapter ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s