[Freelance] High Heels


Tiffany Hwang dikenal sebagai member Girls Generation yang hobi mengumpulkan sepatu berhak tinggi—atau sebut saja high heels. Dibalik semua itu, alasan tersembunyinya adalah…

Genre                   : romance, drama

Length                  : Oneshoot [PG-14]

Other cast           : Lee Taemin, Choi Sulli, Kim Taeyeon, Seo Joohyun dan Kim Hyoyeon. 

.

“HIGH HEELS“

Choi Siwon and Hwang Tiffany 

.

Standard Disclaimer Applied

Ninischh present

.

GADIS itu tertawa pelan. Pemuda di sebelahnya tersenyum senang lalu merangkul bahu sang gadis lembut. “Jadi, apakah hutangku terbayar, eh, Fanny ah?” kata si pemuda akhirnya. Gadis itu menghentikan langkahnya lalu mendongak dan memandang lelaki di sampingnya.

Ya, ampun. Melihatnya dari jarak sedekat ini membuat Tiffany betul-betul sadar perbedaan jauh antara tingginya dengan Siwon. Pemuda itu berdiri dengan dadanya yang tegap, membuatnya semakin tinggi menjulang. Namun menatapnya secara close up juga menyadarkan Tiffany betapa tampan pacarnya ini.

“Tentu saja belum,” tukasnya. “Hutangmu itu tak kan pernah lunas, oppa. Setiap kali menyalakan tivi dan melihatmu dengan wanita itu beradu akting selalu membuat dadaku sakit. Kau tak kan sanggup membayarnya.” Tiffany lalu menggelengkan kepala sedih seolah hal itu memang benar terjadi.

Yah, sebut saja keduanya saat ini sedang kencan. Siwon terlalu sibuk dengan syuting dramanya beberapa bulan terakhir ini. Tiffany juga mengurusi persiapan untuk come back grupnya satu bulan mendatang. Hal itu membuat gadis berambut hitam panjang ini lelah dan merindukan masa liburnya.

Jadi malam ini keduanya berjalan santai di bawah sinar bulan di pusat kota Seoul. Hanya berjalan dan mengobrol saja.

Siwon tertawa kecil dan berkata, “Benarkah?” Tiffany menatapnya sesaat kemudian mengangguk yakin. “Mau kubayar dengan apa, ya? Uhmn, uang? Hadiah? Atau… ciuman?”

Gadis itu tersentak lalu menganga lebar. Saat ini keduanya sedang ada di trotoar kota Seoul. Bagaimana mungkin Siwon hendak menciumnya? “Ya, Siwon oppa!”

Pemuda itu tersenyum kecil lalu tanpa sadar sudah mendekatkan wajahnya ke arah Tiffany. Agak—atau sangat sulit—karena Tiffany sungguh pendek dan ia harus menjulurkan kepalanya lebih ke bawah. Dan gadis itu harus menjingkat tinggi untuk menciumnya.

“Eh, itu bukanya Siwon oppa?” sembur seseorang mengagetkan keduanya. Tiffany tersentak kaget lalu merapikan rambutnya dan menoleh ke arah sumber suara. Begitu juga Siwon.

Siwon mengerjap. “Taemin? Sulli ah?” panggilnya—takut mereka melihat adegan mencekan keduanya barusan. Taemin dengan Sulli berjalan mendekat ke arahnya sambil melambai. “Siwon hyung,” sapa Taemin ketika sudah sampai di hadapan keduanya. Pemuda itu menoleh ke arah Tiffany dan tersenyum. “Tiffany noona.

“Wah, beruntung sekali bisa bertemu dengan kalian di sini. Cieee, sedang kencan, ya?” goda Sulli kepada keduanya. Siwon tertawa sementara Tiffany hanya bisa mengangguk sopan. Ia tidak begitu dekat dengan Taemin atau pun Sulli—hanya sekedar kenal dan saling sapa.

Pernyataan Sulli sungguh aneh. Jelas-jelas Siwon sedang merangkul bahu Tiffany. Siapa pun yang melihatnya pasti tahu kalau mereka sedang ngedate. “Ya, Sulli, ah, enak saja kau bicara. Memangnya kau dan Taemin sedang apa, hmn?” balas Siwon pura-pura marah.

“Kami juga tidak kencan. Sebentar lagi aku lulus dan Taemin oppa mengajakku melihat-lihat universitas yang bagus. Kami pergi dari pagi dan sekarang baru mau pulang,” bela Sulli disusul anggukan Taemin. Ya, ampun. Mereka pergi sejak pagi, jadi tak mungkin hanya melihat-lihat universitas saja. “Wah, itu namanya kencan. Mau kulaporkan ke Heechul hyung, eh?” kata Siwon lagi.

Ketiganya—Siwon, Sulli dan Taemin—mengobrol seru dan Tiffany hanya bisa mendengarkan. Tanpa sadar gadis itu memperhatikan Sulli dan Taemin, dongsaengnya. Kalau diperhatikan, tinggi Taemin dan Sulli tidaklah jauh berbeda. Cukup untuk membuat orang yakin bahwa Sulli setahun lebih muda dari Taemin. Gadis itu tersenyum kecut ketika membayangkan bahwa sekarang Sulli sedang memakai high heels.

Tiffany lalu menatap sepatu keduanya dan tersentak. Taemin memakai sneakers sementara Sulli hanya mengenakan flat shoes biasa. Jadi bisa dibilang, itulah tinggi asli Sulli. Tiffany mendongak untuk meyakinkan bahwa tinggi Sulli memang tak jauh beda dengan Taemin. Ketika sadar bahwa hal itu benar, gadis itu berubah lemas.

Chagiya, kau kenapa?” Tanya Siwon tiba-tiba pada Tiffany. Pemuda itu tak mengindahkan sorakan Taemin dan Sulli kala ia berkata ‘chagiya’ dan malah mencemaskan pacarnya. Gadis itu cuma bisa tersenyum lemas dan berbisik, “…Bisa kita pulang sekarang, oppa?” katanya kalut.

Siwon mengangguk paham lalu berbalik pada TaeLli. “Kalian pulang naik apa? Aku bawa mobil, mau serempak?” tawarnya. Taemin langsung menolak. “Tak usah, hyung. Aku tak ingin merepotkan, lagi pula jarak rumah kita jauh berbeda. Aku juga bawa kendaraan, jadi tak usah cemas.” Ujarnya.

Pemuda itu kembali mengangguk dan pamit. Tiffany melambai sementara keduanya berjalan menuju tempat di mana mobil Siwon terparkir.

Taemin dan Sulli sungguh membuatnya syok. Usia keduanya bahkan belum dua puluh tahun—dan Sulli sudah menjadi lebih tinggi dari Tiffany. Keduanya juga nampak cocok karena tinggi mereka hampir sama. Tiffany semakin merasa resah. Tingginya dan Siwon jauh berbeda. Orang mungkin akan berpikir bahwa ia adik Siwon—bukan pacarnya—ketika mereka jalan berdua.

Gadis itu melipat bibirnya. Ini tidak boleh dibiarkan. Ia harus menemukan solusinya.

“HIGH HEELS“

 “FANNY ah, kau gila, ya?” seru Taeyeon heran. Gadis yang diajak bicara menoleh lalu tersenyum wajar. “Apanya?” jawab Tiffany.

Leader SNSD itu menggeleng lebay lalu ikut duduk di sebelah Tiffany. Ia mendesah sebelum menunjuk foto-foto di layar laptop Tiffany. “Kau beli semua sepatu itu? Semuanya?” tanya Taeyeon. Tiffany mengangguk. “Humn. Memangnya kenapa?”

“Makanya kubilang kau gila. Sudah cukup kita pakai sepatu high heels di depan kamera, dan sekarang kau hendak membelinya untuk kau pakai sehari-hari? Nggak kasihan dengan kakimu itu, eh?” jelas Taeyeon.  Tiffany menggeleng sebagai jawaban.

“Sepatu ini kubeli dengan uangku sendiri, Taeng ah. Lagi pula yang akan memakainya juga aku. Jadi jangan khawatir, oke?” kata gadis itu tenang lalu mengklik ‘buy all’ pada menu di layar laptopnya. Membeli dengan online shop memang mudah dan menyenangkan.

Hari ini jadwal SNSD kosong. Mereka diberi sedikit libur sebelum ke depanya akan semakin sibuk dengan jadwal comeback mereka. Hampir semua member pergi ke luar. Tinggal Taeyeon dan Tiffany di dorm. Jam dua siang nanti Tiffany juga akan mengunjungi lokasi syuting Siwon—hanya untuk bermain saja.

Taeyeon kembali berdecak kagum. “Ckckck, tak sanggup aku bayangkan betapa merananya kakimu itu, Fanny ah. Sekali-kali kita juga harus beristirahat dari sepatu heels dan memakai flat shoes. Tua nanti kakimu rusak, lho,” tegur gadis itu lagi. Tiffany hanya diam dan terus melihat-lihat sepatu yang dijual di online shop lainya.

Melihat Tiffany tak menjawab membuat Taeyeon kesal. Menyadari ada yang aneh, gadis itu menatap Tiffany tajam. “Kau bukan orang yang akan melakukan sesuatu tanpa alasan, Fanny ah. cepat beri tahu aku alasanmu!” serunya.

“Tidak ada alasan khusus, Taeyeon,” geleng Tiffany sambil terus menatap laptopnya. “Ada, pasti ada. Kau tak pintar berbohong, Hwang Miyoung,” kata Taeyeon lagi. Tiffany lalu mendesah. Gadis itu berbalik menatap Taeyeon dan menggigit bawah bibirnya.

“Kemarin… Sulli dan Taemin… Siwon oppa…” katanya terputus-putus. Tiffany kemudian menjelaskan semuanya secara runtun pada Taeyeon. Termasuk niatnya untuk menjadi lebih tinggi di hadapan Siwon dengan menggunakan sepatu high heels. Taeyeon lalu menatapnya lama setelah Tiffany menceritakan keinginanya secara keseluruhan.

“..Bukan begitu caranya, Tiffany. Orang tidak menilai sesuatu dari tampangnya. Kau—maaf, ya—pendek dengan Siwon oppa yang tinggi, bagiku biasa saja. Justru kau membuatnya malah semakin unik. Kalau kau dan Siwon oppa memang berjodoh nanti, dan kalian berdua menikah, tinggi badanmu itu tak kan mempengaruhi. Percayalah padaku.” Nasihat leader SNSD tersebut.

Tiffany menatap Taeyeon sebelum mengangkat sebelah alisnya. “Benarkah..?” tanyanya. Taeyeon kemudian mengangguk. Tiffany mendesah sebelum menatap gambar sepatu yang terpampang di layar laptopnya. Ia seolah sedang berpikir sesaat sebelum berkata, “Tidak, aku harus tetap lebih tinggi dengan menggunakan heels. Aku tak kan kalah dengan anak SMA,” putusnya.

Taeyeon malah ikut mendesah. “Masa mau kalah dengan anak SMA, yang benar saja..” gumamnya sendiri. Ia lalu menatap Tiffany sebelum bangkit berdiri. “Ya, sudah, kalau itu maumu. Aku nggak ikut tanggung jawab.” Katanya.

“Maksudnya kalah dengan Sulli, ya? Hahh..” gumam Taeyeon lagi sebelum berlalu pergi.

“HIGH HEELS“

“CHAGIYA, kau tak apa?” kata Siwon, memegang lengan Tiffany untuk menjaganya tetap berdiri tegak. Tiffany menggeleng lalu merapikan pakaianya yang kusut. Ketika berjalan tadi ia tersandung, jadi Siwon menarik lenganya agar gadis itu tidak jatuh.

“Kau yakin akan ikut denganku hari ini? Pengambilan gambarnya akan dilakukan di banyak tempat. Jadi akan memakan waktu yang sangat lama. Kusarankan kau kembali saja ke dorm, atau main dengan temanmu,” saran Siwon kala Tiffany bersikeras untuk ikut denganya syuting drama hari ini.

Setelah kesal dengan Taeyeon di dorm tadi pagi, Tiffany langsung ambil langkah seribu ke tempat syuting Siwon. Dan tentu saja ia sudah siap dengan pakaian terbaik dan sepatu heelsnya. Gayanya yang kasual namun stylish sudah memuai banyak pujian. Buktinya, penata pakaian dari kru drama Siwon saja memujinya tadi.

“Tak apa, aku akan menemanimu di sini. Lagi pula aku jadi bisa belajar berakting darimu. Kalau suatu saat nanti ada tawaran main film, aku jadinya sudah siap,” jelas gadis itu sambil mengangkat kedua alisnya yakin.

Siwon tertawa lalu mengangguk. Eye-smile Tiffany memang nomor satu, bahkan seorang Siwon pun dapat terpengaruh olehnya. Pemuda itu kemudian mengedarkan pandanganya ke sekeliling tempat, mencari kru yang sedang istirahat jadi bisa diajaknya untuk menemani Tiffany.

“Akh, bagaimana kalau kau kukenalkan dengan kru drama yang lain?” ajak Siwon lalu menatap jam ditanganya. “Aku masih punya waktu luang sampai satu jam ke depan. Jadi aku bisa menemanimu. Kajja.”

Tiffany mengangguk lalu mengayunkan kaki untuk melangkah. Namun sial, berkat heels tercintanya kakinya justru bergoyang dan terjatuh. Choi Siwon mulai berjalan tepat ketika Tiffany kembali tersandung jatuh. Karena Siwon sudah berada di depanya, jadi kali ini Tiffany harus pasrah jatuh ke tanah dengan posisi terduduk. Gadis itu mengaduh kesakitan.

“Ommo, Fanny ah,” kata Siwon lagi. Pemuda itu membalikan badan ketika mendengar bunyi ‘bruk’ lalu segera mendekati Tiffany dan menolongnya.

Tiffany melipat bibir seraya meringis. Kakinya terasa perih. Dan asal kau tahu, jatuh dengan sepatu high heels—apalagi diperhatikan oleh banyak orang—itu malunya tak tertahankan. Apalagi ia seorang Hwang Tiffany, anggota girlband paling populer di Korea. Zaman sekarang ini siapa yang tak kenal denganya?

“Auw,” keluhnya. Tiffany kembali meringis lalu menatap nanar kaki dan sepatu heelsnya. “Biar kulihat kakimu,” ujar Siwon. Pemuda itu menuntun Tiffany menuju kursi terdekat dan mendudukan gadisnya itu di sana. “Eh, nggak usah, oppa. Aku nggak apa-apa” tolak Tiffany.

Siwon mendengus lalu mendongak. “Kakimu ini terluka dan kau masih mau memprotes, humn? Sini biar kulihat,” seru pemuda itu bersikeras.

Jantung Tiffany berdebar kencang kala Siwon meraih kakinya dan menarik sepatunya hingga lepas. Kaki sebelah kananya baik-baik saja, hanya sebelah kiri yang terluka. Darah yang mengucur sedikit, namun karena bergesekan dengan sepatu justru jadi semakin lecet.

“Ya, ampun. Apa yang kau lakukan dengan kakimu sampai bisa luka begini?” tanya Siwon. Tiffany kembali diam. Padahal niatnya adalah untuk memukau Siwon dengan menjadi lebih tinggi daripada tingginya yang sebenarnya. Kenapa malah jadi begini? Apakah sepatu yang dipakainya berkualitas rendah?

“Kau punya kapas—atau tisu?” ujar pacar Tiffany itu. Gadis yang bersangkutan meraih tasnya dan memberikan apa yang diminta Siwon. Pemuda itu meraihnya lalu membersihkan lecet di kaki Tiffany. Siwon kemudian mengeluarkan plester dari sakunya dan menempelkanya di kaki Tiffany yang terluka.

“Sudah,” kata Siwon, menatap hasil kerjanya puas. Pemuda itu berdiri dan menatap Tiffany sebelum menelengkan kepalanya. “Kau itu perempuan, Fanny. Jaga dengan baik kakimu—tubuhmu. Aku tidak tahu seberapa sering kau harus memakai sepatu itu,” Siwon menunjuk high heelsnya, “Tapi sebaiknya selain waktu kerja, kau pakai sepatu biasa saja.”

Tiffany mendecak. Bukan ini maksudnya. Siwon nggak ngerti. Pemuda itu tak kan paham perasaanya. Siwon punya postur tubuh yang tinggi tegap dan sempurna. Ia tak kan pernah mengeluh dan mempermasalahkan tubunnya. Tapi Tiffany beda. Ia pendek dan kecil. Bahkan dengan anak SMA saja ia kalah tinggi. Tidak tahukah Siwon betapa malunya ia?

“Nggak usah berlagak tinggi. Sepatu heels itu justru membuatmu makin tersiksa” katanya lagi. Tiffany menggeram dalam hati. Pemuda ini, benar-benar…

“Hwang Tiffany, hey. Lihat aku,” panggilnya. Siwon meraih kedua sisi wajah Tiffany lalu menghadapkanya ke depan, hingga wajah keduanya tepat berhadapan.  Tiffany berusaha untuk tidak menoleh namun kekuatan tangan Siwon sungguh besar. Jadi Tiffany terpaksa menatapnya dengan mata ditajamkan.

“Kau dengar aku, kan, chagiya..?”

Tiffany menarik kedua napasnya dalam-dalam. Siwon… tak mengertikah ia? tak pahamkan ia bagaimana perasaan Tiffany?

“Fann—“

“—Hentikan, Siwon-ssi. Kau tak paham perasaanku. Aku ingin memakai sepatu itu. Aku membutuhkanya. Kau yang harus mendengarkanku!” serunya. Gadis itu bangkit berdiri—dengan sebelah kaki masih  terluka—dan melihat tajam kedua mata pacarnya. Siwon terkejut sementara melihat Tiffany dengan muka kesal yang membentaknya.

“Aku tak jadi menemanimu. Aku pulang!” Tiffany memasang ekspresi benci pada Siwon lalu menyambar kasar sepatu heels yang sedari tadi digenggam Siwon. Gadis itu mendesah sebelum berlalu pergi. Dengan kaki setengah terluka membuat Tiffany kesulitan berjalan, namun hal itu tak menghambat niatnya untuk pulang dengan hatinya yang terlanjur kesal.

Siwon memperhatikan Tiffany yang berjalan pincang menuju pintu keluar ruang syutingnya. Pemuda itu menghela napas sebelum berseru, “YA, TIFFANY AH!” dan berjalan menyusulnya.

Tepat ketika Siwon bangkit berdiri dan sudah hampir menyusul Tiffany, seorang kru memanggilnya untuk memulai syuting. Selama beberapa detik, pemuda itu bimbang, hendak menyusul Tiffany atau menuruti panggilan sang sutradara. Berpikir cepat membuatnya panik, jadi Siwon membalikan badan kembali ke tempat syuting dan membalas panggilan kru itu.

Syuting hari ini nampaknya akan meresahkan pikiran Siwon.

“HIGH HEELS“

“DIA… eh, sedang menunggumu di luar, Fanny ah. Boleh kupersilahkan masuk?” tanya Taeyeon ragu. Gadis itu menunduk untuk memandang wajah Tiffany lebih jelas. Tiffany sedang duduk di sofa ruang tamu, persis di depan pintu dorm mereka. Taeyeon sendiri ada tepat di belakang pintu, dengan tangan sudah siap untuk membuka kenopnya. Tinggal menunggu persetujuan dari Tiffany saja.

“Fanny eonni… persilahkan Siwon oppa masuk. Bagaimana pun dia tamu kita,” saran Seohyun, namun Tiffany tetap diam seribu bahasa. Saat ini hanya ada tiga gadis itu di dorm. Yang lainya sibuk dengan jadwal masing-masing. Seohyun, yang duduk di sebelah Tiffany, menunggu jawaban dari kakaknya itu cemas.

Tiffany dengan Siwon bertengkar? Benar sekali. Sejak peristiwa di tempat syuting Siwon seminggu yang lalu, Tiffany selalu menghindar dari pemuda itu. Sudah capek member SNSD menasihatinya untuk berbaikan dengan Siwon. Apalagi gadis itu merajuk—kesal hanya karena hal kecil saja. Sepatu high heels itu benar-benar pembuat masalah.

Gadis kelahiran Korea-Amerika itu mendesah hebat sebelum berpaling untuk menatap Taeyeon. “Jangan biarkan dia masuk, Taeng. Biarkan dia di luar saja,” kata Tiffany tajam.

Taeyeon yang mendengarnya jadi ikut kesal. Yang berpangkat sebagai pacar Siwon adalah Tiffany, lalu kenapa Taeyeon dan member lain harus ikut sibuk juga?

Jadi leader SNSD itu seketika menggeram. “Arrgh, temui dia sekarang, Hwang Miyoung,” perintah Taeyeon. Kalau sudah kesal atau marah gadis itu akan berteriak—memerintah.

“Pergi ke luar. Katakan padanya kau menyesal dan tak kan pakai high heels lagi selain waktu kerja. Fanny ah, aku tahu kau mendengar. Lakukan sekarang atau aku tak kan bisa bayangkan apa yang akan terjadi padamu!”

Tiffany mencibir. “Terserah,” gerutunya.

Gadis itu bangkit tepat ketika Taeyeon membuka pintu dorm mereka lebar-lebar. Nampak di mata Tiffany, Taeyeon dan Seohyun, Siwon yang sedang membelakangi pintu segera membalikan badan dan mendongak. Wajah pemuda itu nampak lelah dan berat. Namun ia tersenyum kala melihat Tiffany berjalan ke arahnya.

“Eh, eonni…” ujar Seohyun kaget. Gadis itu melihat Tiffany meraih sepatu heels 12 centi dari rak dan memakainya sebelum berlalu ke luar dorm. Tiffany berjalan ogah-ogahan sementara Taeyeon berseru, “Selesaikan masalahmu, Fanny ah!”

Tiffany mendengus. Gadis itu berjalan lebih dulu sebelum Siwon. Pemuda itu mebalikkan badan dan membungkuk sopan sekilas ke arah Taeyeon dan Seohyun sebelum menyusul Tiffany.

“Taeyeon eonni, tadi Fanny eonni pakai high heels lagi.” Bisik Seohyun. Taeyeon hanya bisa mendesah.

“HIGH HEELS“

SIWON memandangi gadis di sebelahnya canggung. Keduanya sudah sering—bahkan sudah ribuan kali—berjalan-jalan bersama namun yang kali ini rasanya aneh. Siwon dan Tiffany sudah pernah bertengkar sebelumnya, tentu saja, tapi nampaknya tak sampai secanggung ini suasananya.

Jadi untuk mencairkan atmosfer yang tak wajar, Siwon berujar, “Fanny ah.”

Tiffany tidak menjawab. Mengira gadis itu tak mendengarnya, Siwon kembali berkata, “Tiffany ah.” Pemuda itu tak melihat, namun nampak kepala Tiffany yang mengangguk sekikas.

Kali ini Siwon berpikir Tiffany mencuekinya, jadi dengan sedikit tekanan dan volume yang dibesarkan, pemuda itu berseru, “Hwang Tiffany!”

“Apa?! Nggak usah teriak pun aku dengar suaramu, Siwon oppa!” bentak gadis itu. Mata tajam Tiffany yang biasa tersenyum kini sayu. Siwon menelan ludah dan tersentak. Ia menyunggingkan cengir aneh. “Eh, iya… maaf.”

“Tsk,” Tiffany mendengus lalu berjalan pergi. Gadis itu masih marah—tentu saja—pada Siwon. Rasa kesalnya bahkan mengalahkan perasaan sukanya untuk pemuda itu.

Tiffany kesal karena Siwon tak kunjung paham akan perasaanya. Selama ini ia sudah berusaha memahami Siwon, dengan membolehkanya tetap bermain drama dan melakukan berbagai adegan ‘mencekam’ itu. Tak bisakah Siwon juga mengerti dirinya?

Belum sampai lima langkah Tiffany berjalan, sepatu gadis itu menginjak batu—dan dengan sepatu setinggi itu tentu membuatnya jatuh.

“Kyaaa!” pekiknya tepat ketika jatuh tersungkur. Siwon tersentak lalu segera membantu Tiffany. Meskipun gadis itu terlanjur jatuh terduduk, namun setidaknya Siwon cepat menahanya sehingga jatuhnya tidak begitu keras. Faktor waktu yang sudah semakin gelap mungkin mengaburkan pandangan Tiffany sehingga membuatnya jatuh.

“Fanny ah, gwenchanayo?” ujar Siwon khawatir. Diraihnya lengan Tiffany dan digenggamnya untuk dibantu berdiri. Tiffany tidak menolak dan membiarkan Siwon menuntunya menuju kursi taman terdekat.

Gadis itu melipat bibir tepat setelah keduanya duduk di kursi. Kakinya terasa perih. Belum seminggu luka di kakinya sembuh, kini luka itu bertambah lagi. Dan sekarang mereka duduk di kursi dengan kakinya yang terluka—lagi. Rasanya seperti de javu.

“Fanny,” ujar Siwon. Matanya menatap khawatir Tiffany yang sedari tadi tak kunjung juga buka suara. Tanpa sadar pemuda itu jadi memperhatikan wajah Tiffany. Kedua alis matanya yang lentik, rambutnya yang terurai lembut, kedua pipinya yang merona. Oh, ya ampun. Menatap wajahnya saja bisa membuat Siwon mabuk.

“Boleh kulihat… lukamu?” tawarnya. Pemuda itu menelan ludah. Wajahnya memang memukau namun eskpresinya yang sendu membuatnya jadi tak lagi indah. “Tak usah, oppa.” Tolak Tiffany.

“Tapi kakimu terluka. Luka yang kemarin belum sembuh betul, kan? Pasti sakit,” kata Siwon bersikeras. Tiffany lalu mendengus. Bagaimana bisa pemuda ini menebak pikiranya dengan tepat?

Tanpa menunggu jawaban Tiffany lagi Siwon menunduk di bawah kakinya. Persis seperti posisi pemuda yang hendak melamar gadisnya. “Tidak perlu, oppa. Rasanya tidak sesakit yang kau bayangkan,” katanya tegas.

Tiffany mendorong pundak Siwon lembut. Gadis itu tak bisa menahan darahnya yang berdesir, namun rasa kesal mengalahkan semuanya. Ia tak mau Siwon mengomel lagi perihal sepatunya. Ia tak suka, sungguh.

“Tak, apa. Biar kulihat sin—“

“OPPA, kubilang tidak ya tidak usah!” tukas Tiffany keras. Ditangkisnya jemari Siwon yang sudah meraih pergelangan kaki Tiffany. Pemuda itu tersentak dan kaget. Siwon mengangkat wajahnya dan menatap Tiffany terpana. Sama halnya dengan gadis itu. Ia mengerjap kaget, sadar bahwa hal yang dilakukanya sudah di luar batas.

Dengan alis mengekerut, Siwon bangkit berdiri dan berujar, “Tiffany.” Ekspresinya yang tajam dan menusuk membuat Tiffany semakin merasa bersalah. Oh, ya Tuhan. Ia baru saja membentak Siwon, dan pemuda itu pasti marah padanya. Apa yang baru saja ia lakukan?

“Oppa,” sahut Tiffany. Mendongak menatap pemuda itu dengan eskpresinya membuat Tiffany takut. Ia melipat bibirnya dan tiba-tiba matanya berair. Siwon terus menatapnya intensif. Tiffany tiba-tiba terisak dan berkata, “Siwon oppa.”

Dadanya terasa sesak. Tiffany kemudian menangkupkan mulutnya dengan kedua tangan dan menunduk malu. Air matanya mengalir tanpa alasan yang jelas. Namun hatinya yang kian perih membuat air mata itu tak kunjung berhenti.

Lagi-lagi Siwon terpana. Apakah ia berbuat salah? Dirinya kah yang membuat gadis manis ini menangis? Dengan seluruh perasaan tak enak Siwon duduk di sebelah Tiffany dan mengelus punggungnya lembut. “Hei, Tiffany, tak usah menangis,” katanya.

Mianhe, oppa, jeongmal mianhe,” bisiknya diantara tangis. Siwon menarik nafas sementara mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya. Ia sudah membuat seorang gadis menangis. Ya, Tuhan. Apa yang baru saja ia perbuat?

“Maaf untuk apa?”

Gadis itu menerima sapu tangan yang disodorkan Siwon dan menggunakanya untuk mengusap air mata. “Maaf karena aku tidak menuruti perintahmu. Aku terus saja menggunakan sepatu itu meskipun sudah kau larang. Akhirnya aku sendiri yang kena imbasnya. Dasar Tiffany gadis bodoh. Pabo jeoya ya, pabo!”

“Hei, kau itu bukan gadis bodoh,” hibur Siwon. Sorot mata pemuda itu kian melembut. Akh, siapa pun yang ditatap dengan tatapan seperti itu oleh Siwon pasti akan meleleh. Begitu juga Tiffany. Gadis itu mengangkat kepalanya dan memasang wajah seolah berakat, “Nde?”

“Kau pasti punya alasan untuk itu. Alasan itu pasti begitu kuat, karena risikonya adalah kakimu yang terluka begini,” Siwon menelengkan kepalanya ke arah kaki Tiffany dan itu sanggup membuatnya menghentikan tangis.

“Aku.. aku iri melihat pasangan-pasangan lain. Hampir semua dari mereka memiliki tinggi yang sama, anatara si pemuda dan gadisnya,” kata Tiffany buka suara. Siwon diam mendengarkan sementara gadis itu terus melanjutkan.

“Taemin dan Sulli… mereka contohnya, terlihat cocok karena tinggi mereka hampir sama. Ketika berkaca barulah aku sadar betapa pendeknya aku. Apalagi ketika bersanding denganmu, badanku nampak semakin kecil. Karena itulah aku memutuskan untuk terus mengenakan high heels, agar bisa menyamai tinggiku denganmu. Agar… Oppa tidak malu ketika jalan berdua denganku.”

Tiffany lalu menunduk malu, sementara Siwon justru tersenyum mendengarnya. “Aku tidak malu berjalan berdua denganmu, Fanny. Apa pun keadaanmu—kekurangan fisikmu—aku terima dengan senang hati.”

Gadis itu mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap Siwon. “Terima kasih sudah mau terbuka denganku. Aku senang,” ujar pemuda itu. Tiffany tertawa. “Benarkah?”

“Humn, karena itulah aku mencintaimu,” ucap Siwon. Tiffany melebarkan senyumnya dan matanya kini berair lagi. Gadis itu merengkuh badan Siwon dan memeluknya hangat. “Gomawo, Siwon oppa.”

Pemuda itu mengangguk dan membalas pelukanya. “Sama-sama, chagiya.”

“HIGH HEELS“

“HEY, Tiffany, ada paket untukmu,” seru Hyoyeon dari pintu depan. Tiffany berjalan terburu-buru dan segera menandatangi suratnya. Gadis itu mengangguk sopan setelah petugas pengantarnya pergi. Dibawanya kardus besar itu ke ruang tengah dibantu oleh Hyoyeon.

“Dari.. online shop? Kau membeli apa?” tanya Hyoyeon heran menatap tulisan yang tertera di atas kardus. Kardus coklat itu sungguh besar. Tingginya bahkan mencapai pinggang Tiffany.

Gadis yang bersangkutan hanya diam. Ia mengambil gunting dan mulai membuka kardus tersebut. Hyoyeon kemudian ikut mengambil pisau dan membantunya membuka.

“Uoh? Kau beli sepatu sebanyak ini?” pekik Hyoyeon setelah kardus itu dibuka. Diambilnya salah satu sepatu paling menarik dan gadis itu makin terpana. “Kau beli high heels sebanyak ini? Mau kau pakai ke mana, eh, Fanny ah?”

Tiffany menghela nafas melihat sepatunya. Ia mendongak untuk menatap Hyoyeon dan tersenyum canggung.

“The End”

Uhmn, anyone comment please? I need some advise kekkke =3

ini fanfic Siwon-Tiffany pertama yang saya buat. bingung nih nama couplenya yang betul WonFanny atau SiFanny. hahhha tapi yang mana pun yang betul saya tetap sukaa.

Thaaaanks for readiing anyway =)

Ninischh

PS: aku nemu ff kamu di blog sebelah, jadi sekalian di copas gapapa kan? biar gak ribet nyari fotox lagi…🙂


51 thoughts on “[Freelance] High Heels

  1. Hahahaha Tiffany jadi kesenengan pake high heels deeh…
    Kira aku isi kardusnya itu Flat Shoes
    ternyata?Ya High heels
    I like it!! Daebak!!

    Like

  2. waw keren eonni ff nya,,,😀
    aku jg suka poster nya, keren bgt,,,😀
    fany eonni terobsesi bgt pingin tinggi sampe beli high heels sebanyak itu, hehe,,,
    siwon oppa pengertian bgt, mw nerima kekurangan n kelebihan fany eonni,,,
    sifany so sweet deh,,, >,<
    di tunggu ff lainnya eonni ^^
    sifany jjang !!!

    Like

  3. Asiiik akhirnya ada FF SiFany yang bahasanya keren dan bagus… aku suka banget sama ceritanya. Pokoknya, suka deh!
    ditunggu FF SFany selanjutnya yaaa :3

    Like

  4. Kereeennn…………………..
    SiFany SiFany SiFany……………………..
    ditunggu ff yg castnya Tiffany eunni lagi yach………………..
    kya misalnya EXOFany couple………………….
    hehehe……………..*_*

    Like

  5. Sifany …, Sifany …
    suka sma ni dua couple dan jarang pula ff ny ada di sini …
    kren ff ny …
    buat lgi donk ff Sifany nya …

    Like

  6. aaaa yeyyyy SIFANNY againn
    kereennn bahasanyaaaa aaaakuu sukaaa good job !!!

    oiyaaaaaaaaaaaaaaaaaa author….. faithless nyaaaa kapannn lanjutttttt aku udah lumutannn nungguinnyaaaaa

    Like

  7. kardus dr OL shop berisi high heel setinggi sepingang fany unnie.. aigoo berapa pasang high heel yg kau bli unnie ><

    dan.. fany unnie pendek gpp koq unnie. justru malah terkesan imut… kn sayang kaki ny di paksa gitu.. untung wonppa perhatian.. hehe
    dan buat poster ny.. keren loh^^

    Like

  8. Halo…..
    Aku reader baru🙂

    Ceritax Keerrenn
    sifany couple
    aku suka
    tapi fany eonnie sharusx gak usah khawatir krn siwon oppa tetap cinta kok sama onni:D

    Like

  9. aku baru baca ceritanya kekeke ceritanya ringan, lucu dan aku suka banget sama pairingnya😀 keep writing about sifanny ya thor hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s