[Freelance] Because I Love You #1


Judul FF                 : BECAUSE I LOVE YOU (Chapter 1)

Nama Author      : Similikiti_balabala

Cast                            : Kyuhyun, Seohyun

Genre                        : Romance, Family

Type                          : Chapter

Anyeong haseyoo …

Perkenalkan aku author dengan nama “similikiti_balabala”. Namanya agak aneh memang dan itu aku ambil dari nama kedua hamster aku (-___-!!) #gapenting. Oh iya, sebenarnya aku baru loh mengenal K-pop. Kurang lebih dua bulan ini, aku tiba-tiba terserang virus itu. Huaachiii !! Sampe ga berhenti2. Dan aku mau bilang kalo aku sangat suka dengan couple SEOKYU. Yaaa …. Entahlah. Aku suka aja sama mereka sejak pandangan pertama #ceileee.

Lanjut … Oh iya, ini FF pertama aku. Dan aku juga baru kenal dan baca2 FF kurang lebih beberapa minggu ini. Ternyata gara2 baca FF, jadi kepengen juga menulis FF. Terutama FF yang menceritakan SEOKYU Couple. So, mohon masukannya yaa … Biar tambah semangat untuk lanjut menulis FF. Satu lagi .. mian kalo kosakata korea-nya sedikit dan salah. Maklum baru belajar mengenal korea. Mohon bimbingannya. Kamsamida … (bener ga sih ini nulisnya -___-)

Author’s pov

Langit Kota Seoul tampak cerah. Serabut awan putih membentang luas. Tidak ada tanda hujan akan turun. Burung-burung banyak berterbangan. Semakin memperindah cakrawala angkasa Kota Seoul pagi hari ini. Di sebuah kamar di salah satu apartemen mewah, tampak seorang namja berumur 25 tahun yang masih enggan membuka matanya. Ia masih asyik dengan mimpi yang menemaninya. Walaupun bunyi alarm sudah dua kali berdering keras di dekat telinganya, tetap saja tak ada tanda ia akan segera bangkit dari tempat tidurnya.

Tak lama, bunyi i-phonenya berdering.

Perlahan matanya mulai dibuka. Ia memeriksa panggilan telpon yang masuk ke dalam i-phonenya.

“Wae?” jawabnya malas.

“Tuan muda, segeralah bangun … Maaf saya membangunkan Anda melalui telpon. Karena saya sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar Anda. Namun, Anda sama sekali tak menjawabnya,” ucap seorang namja berumur 50 tahun melalui i-phonenya.

“Hah … baiklah. Aku akan segera bangun,” balas namja itu sambil mematikan i-phonenya.

“Aiiiisssshhh …. Aku sangat ingin tidur lagi!!!!!” teriak sang namja keras.

Cho Kyu Hyun. Namja berumur 25 tahun ini merupakan penerus pemimpin perusahaan advertising nomor satu di Kota Seoul. Namja yang terkenal keras kepala dan egois ini baru saja menyelesaikan studi S-2nya di bidang manajemen advertising. Sifatnya yang juga perfectionist selalu membuat repot para staf dan pegawai yang bekerja di perusahaan ayahnya. Semua pekerjaan yang diperintahkan olehnya harus benar-benar sempurna dikerjakan. Kalau tidak, dia tak akan segan-segan membentak orang tersebut.

Tak akan lama lagi ia akan diangkat oleh ayahnya untuk menjadi direktur utama perusahaan yang telah dikelola ayahnya selama 20 tahun itu. Tak heran jika ia selalu bekerja keras belakangan ini dan seringkali membuatnya pulang larut malam dan kemudian bangun telat di pagi harinya. Untungnya dia memiliki asisten pribadi di apartemennya, yaitu Asisten Kim. Namun, Asisten  Kim sering dibuat repot pula dengan sikap Kyuhyun. Terutama akhir-akhir ini, karena Kyuhyun sulit untuk dibangunkan pagi-pagi.

***

Kyuhyun’s pov

Aku berjalan tegak menuju ruang pribadiku di kantor. Sesekali aku membalas salam hormat dari para pegawai. Aku melirik jam yang menempel di tangan kananku, pukul delapan tepat dan kulihat semua pegawai nampak sibuk mempersiapkan pekerjaan dan agenda mereka masing-masing. Aku senang melihat kedisiplinan mereka. Bagaimanapun juga, mereka adalah pegawaiku nantinya. Dan aku tidak ingin ada yang tidak disiplin.

Aku memegang gagang pintu ruang pribadiku, kemudian membukanya. Aku tersontak kaget karena di dalam ruanganku sudah ada Appa yang terduduk diam di kursi kerjaku. Aku membungkuk hormat, kemudian menghampirinya di kursi tersebut.

“Hmmm … Appa ingin berbicara sesuatu padamu,” ujarnya sesaat setelah melihat ekspresiku yang penuh tanya.

“Appa ingin berbicara apa?” tanyaku penasaran. Appa bangkit dari duduknya. Ia memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit turun di hidungnya.

“Nanti malam Appa akan mengenalkanmu pada seseorang. Appa tahu, hal ini pasti akan mengejutkanmu. Tapi ini adalah rencana kita untuk memperlancar bisnis.”

“Apa maksdu Appa? Aku masih tidak mengerti …” Aku mengerutkan kening. Aku masih tidak bisa menebak maksud perkataan Appa.

“Kau akan Appa jodohkan dengan anak rekan bisnis Appa. Mau tidak mau, kau harus menerimanya. Karena ini adalah rencana Appa untuk memperlancar bisnis kita.”

Wajahku seolah baru saja tertimpa sesuatu yang sangat menyakitkan. Bagaimana mungkin Appa tega melakukan semua ini padaku? Aku bahkan dipergunakan sebagai barang untuk dijual kepada rekan bisnisnya. Dan semua itu hanyalah untuk uang.

Aku masih terdiam. Aku sama sekali tidak berkomentar apa-apa. Lidahku terasa kaku. Dan jantungku seolah mendadak berhenti.

“Kau tidak akan menolak, kan?” tanya Appa memastikanku. Wajahnya seolah mengancam aku untuk berkata “tidak”. Namun, aku masih saja diam. Aku tak tahu harus menjawab apa.

“Kyuhyun?”tanyanya kembali.

“Kenapa Appa melakukan semua ini padaku?! Apakah Appa tidak memikirkan perasaanku?! Bagaimana mungkin aku menikah dengan orang yang sama sekali tidak pernah aku cintai?! Bagaimana mungkin semua itu akan aku lakukan?!!” bentakku pada Appa. Jujur sekali aku tidak menginginkan perjodohan itu terjadi. Aku memang belum memilki seorang wanita yang aku cintai. Namun, aku juga tidak ingin pernikahanku diatur bahkan disangkut-pautkan dengan pekerjaan. Bagiku, pernikahan adalah sesuatu yang sangat suci dan tentu saja aku hanya akan melakukannya dengan orang yang aku cintai. Bukan dengan cara bodoh seperti ini! Dan juga bukan karena sebuah bisnis permainan!

“Hah! Cinta akan bertumbuh seiring dengan pernikahan kalian. Untuk apa kau memikirkan hal seperti itu?! Yang terpenting sekarang adalah bisnis kita semakin maju, bahkan bisa mencapai prestasi internasional!!” Appa tak kalah keras mengeluarkan suaranya. Sikap inilah yang paling aku benci. Ia sangat keras kepala, selalu memaksakan kehendaknya sesuka hati. Pantas saja jika Umma lebih memilih pisah rumah dengannya dan juga Sooyoung noona serta Siwon hyung yang meninggalkan Appa. Ya, tentu saja mereka semua lebih memilih tinggal sendiri dan menjalani hidup mereka masing-masing. Mereka tidak ingin hidup mereka diatur.

“Kalau begitu, lupakan aku sebagai penerus perusahaan ini!!” Kali ini aku mengancam Appa. Aku yakin Appa akan kaget mendengar ancamanku. Tentu saja dia akan mempertahankan aku, mengingat dua anaknya yang lain tidak ada yang ingin meneruskan perusahaan ini. Mereka semua tidak tahan dengan sikap Appa. Terlalu egois!

“Apa kau bilang?! Kau berani mengancam Appa?!!”

“Tentu saja! Kenapa tidak?! Bukankah Appa juga membutuhkan aku?!!”

“Anak tidak tahu terima kasih!”

“Bagaimana mungkin aku akan berterima kasih dengan seorang Appa yang selalu memaksakan kehendaknya sesuka hati?!! Appa tidak lihat?! Siapa yang masih sanggup bertahan di samping Appa selain aku? Lihat umma, Sooyoung noona, dan juga Siwon hyung! Apakah Appa tidak cukup kehilangan mereka?! Asal Appa tahu, aku bertahan sampai saat ini, bahkan aku rela mengambil kuliah di jurusan yang kau pilih, hanya karena aku tidak ingin meninggalkan Appa sendiri! Hanya saja, aku mungkin lebih memilih tinggal di apartemen bersama Asisten Kim. Itu semua karena aku tidak tahan dengan sikap Appa!!” Tanpa kusadari, aku mengeluarkan semua perasaan yang selama ini aku pendam. Hatiku bergetar dan tubuhku sangat panas. Aku menatap Appa dengan tajam. Begitu pula dengan Appa. Garis-garis tua yang tergambar jelas di wajahnya membuatku sedikit bersalah. Namun, kali ini aku benar-benar harus menyadarkannya. Bagaimanapun, keluarga adalah lebih penting dari semua yang selama ini dipertahankan olehnya.

“Kau …”

Tiba-tiba Appa memegang dadanya. Kulihat Appa seperti menahan sakit. Seketika itu juga, tubuhnya melemas.

“Appa??” Aku menopang tubuh Appa, kemudian aku sandarkan tubuhnya di kursi kerjaku. Ia nampak berusaha menarik napasnya.

“Appa baik-baik saja?” tanyaku pelan. Aku sangat khawatir dengan kondisinya. Bagaimanapun juga ia adalah Appa-ku. Aku merasa bersalah karena telah membentaknya.

Tak lama, Appa memejamkan matanya. Seketika itu juga dia pingsan.

Aku segera berlari keluar ruangan. Aku meminta beberapa staf untuk memanggil ambulans.

End Kyuhyun’s pov

***

Author’s pov

Seorang namja berumur 50 tahun berjalan di sepanjang koridor rumah sakit. Di belakangnya turut mengikuti dua orang yeoja berumur 22 tahun dan juga 45 tahun. Mereka semua diliputi kekhawatiran, terkecuali yeoja berumur 22 tahun yang masih terlihat malas mengikuti kedua orang tuanya tersebut.

“Appa, umma, aku kan baru saja pulang. Masa aku sudah harus ke rumah sakit?” tanya yeoja berumur 22 tahun tersebut. Raut wajahnya sedikit kesal.

“Seohyun, sabar ya. Setelah ini kita akan pulang ke rumah. Tapi sekarang, kita harus menemui rekan bisnis Appa-mu dulu di rumah sakit. Tadi pagi, dia terkena serangan jantung,” ujar yeoja berumur 45 tahun itu kepada anak semata wayangnya.

Tak lama, mereka bertiga tiba di sebuah ruang rawat bernomor 308. Ruang dengan fasilitas VIP tersebut dipenuhi dengan aroma lavender yang sangat harum.

“Hmmm … aku suka wanginya,” ungkap Seohyun pelan begitu dirinya memasuki ruangan tersebut.

Seohyun beserta kedua orang tuanya segera memberi salam kepada penghuni ruangan itu. Nampak seorang namja berumur 50 tahun yang terbaring lemas di ranjang tidur serta namja berumur 25 tahun yang berdiri di samping ranjang tidur. Mereka adalah Cho Kyu Hyun dan Cho Hyun Bin.

“Ahh … Cho Hyun Bin. Kenapa kau bisa berada di sini?” tanya Appa Seohyun sambil mendekati temannya tersebut.

“Entahlah … tiba-tiba dadaku sakit dan aku sudah ada di sini,” jawab Appa Kyuhyun sambil tersenyum kecil.

“Kau ini … sepertinya kau sudah harus pensiun dan membiarkan perusahaanmu diurus oleh anakmu.”

“Tentu saja! Aku sudah mempersiapkan semua itu. Oh iya, ini Kyuhyun. Apa kau masih ingat?”

“Kyuhyun? Ahhh … aku ingat! Dia anak bungsumu kan? Ternyata sudah sangat besar ya. Dan tentu saja sangat tampan ….” ucap Appa Seohyun sambil tersenyum ke arah Kyuhyun. Sementara itu, Kyuhyun tersenyum dan membungkuk hormat.

“Benar! Dia sangat tampan sepertiku, kan? Dia baru saja menyelesaikan studi S-2nya di Amerika. Dan sekarang aku sedang mempersiapkan dirinya sebagai direktur utama perusahaanku.”

“Wah, hebat! Oh iya, mana Siwon dan Sooyoung? Sudah lama sekali aku tidak bertemu mereka …”

“Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Entahlah, mereka lebih memilih dengan dunianya. Tapi sudahlah … aku tidak begitu memikirkan hal itu lagi. Masih ada Kyuhyun yang akan melanjutkan perjuanganku.”

“Jinjja? Hmmm … oh iya, ini putriku Seo Joo Hyun. Dia baru saja pulang dari  Jerman menyelesaikan S-1nya.”

“Wah, dia sangat cantik! Tak kusangka Seohyun yang kecil sudah sebesar ini. Apa kau masih ingat dengan ahjussi, Seohyun?”

“Hmmm … ahjussi yang memberikan aku boneka Keroro kan pada saat ulang tahunku ke  10?”Seohyun tampak mengingat-ingat.

“Benar! Waktu itu ahjussi yang memberikanmu boneka itu. Ternyata kau masih ingat ya?”

“Tentu saja ahjussi. Aku tidak akan pernah melupakan orang yang memberikan aku boneka keroro. Karena itu adalah boneka kesayanganku.” Seohyun tersenyum. Kyuhyun tampak memperhatikan senyum itu. Tiba-tiba rasa kesal pada Appa-nya menghilang. Apalagi melihat keakraban Seohyun dengan Appa-nya. Dan juga melihat Appa-nya yang seolah kembali ceria.

***

Kyuhyun’s pov

Seo Joo Hyun. Hmmm … sudah lama sekali aku tidak mendengar nama itu. Seingatku, dulu ia masih gadis kecil berambut panjang yang selalu diikat dua. Dia adalah gadis yang pemberani. Dia juga sering kutemukan duduk di atas pohon taman belakang sekolah sambil membaca buku cerita anak. Waktu itu, aku menemukannya ketika sedang asyik bermain PSP di bawah pohon cherry. Lalu dengan berani dia menyapaku tanpa menyebutku dengan panggilan “Oppa”. Aku sangat kesal dengan sikap tidak sopannya. Bahkan aku pernah membentaknya karena ia berkali-kali memanggil namaku tanpa sebutan “Oppa”. Dasar anak tidak sopan!

Tapi dia tetap saja cuek. Dia bahkan meledekku terus sampai aku benar-benar kesal. Tak lama, dia pindah ke Jerman. Ya, pada saat umurnya 10 tahun. Mungkin, pada saat ulang tahunnya itu, Appa memberikan boneka keroro itu pada Seohyun. Aku baru mengetahui hal itu sekarang, karena aku sempat melihat Appa membeli boneka keroro yang sangat besar dan aku tidak tahu boneka itu untuk siapa. Sementara di kamar Sooyoung noona tak pernah ada boneka keroro itu.

Hmmm … aku memang seniornya sewaktu sekolah dulu, dan memang tak begitu dekat dengannya. Namun, karena ia begitu tomboy dan pemberani, banyak murid-murid yang membicarakan hal itu dimana-mana. Ahh … dan sekarang gadis kecil itu ternyata sudah besar. Aku akui dia sangat manis. Sama sekali tidak tampak sifatnya yang tomboy dan pemberani. Justru ia jauh lebih feminim.

Kruyuukkk … Kruyuuuukkk …

Tiba-tiba sebuah bunyi menyadarkan aku dari lamunan. Aku mencari-cari sumber bunyi tersebut.

“Suara apa itu?” tanya Appa kemudian.

“Mianhae … itu suara perutku,” jawab Seohyun sambil menunduk malu.

Spontan semua yang berada di ruangan tertawa mendengar ucapan Seohyun. Begitu juga denganku. Gadis ini begitu polos.

“Ahh … Seohyuniee, umma lupa kalau kau belum makan. Bagaimana ini? Apa kita keluar sebentar mencari makan?”tanya umma Seohyun.

“Ah, sebaiknya biar Kyuhyun yang mengantar Seohyun mencari makan,” ujar Appa mengagetkan aku.

“Mwo?? Kenapa aku?”

“Kau kan lebih tahu lokasi tempat makan di sekitar rumah sakit. Biarlah Seohyun pergi denganmu.”

“Ne …” jawabku pasrah. Sebenarnya aku merasa canggung jika harus berjalan berdua saja dengannya. Tapi, tak apalah, aku juga agak lapar.

Tak lama, kami berdua pergi keluar ruangan. Aku berjalan santai di depannya. Sementara Seohyun tampak mengikutiku dari belakang. Sesekali aku melirik, tapi tetap saja aku tak dapat melihat dirinya yang tepat di belakangku.

Tiba-tiba aku menghentikan langkah dan berbalik ke arahnya.

“Kenapa kau berjalan di belakangku? Seperti orang yang sedang mematai-matai saja!’ protesku padanya.

“Ya! Kyuhyun, aku punya hak untuk berjalan dimana saja, kan? Kenapa kau protes?!!” ujarnya membalas. Dan tentu saja perkataannya membuatku kaget. Ternyata dia belum berubah! Dia masih saja tak sopan! Dia masih memanggilku tanpa sebutan “Oppa”. Padahal umurnya 3 tahun di bawahku. Dasar tak sopan! Gerutuku di dalam hati.

“Ternyata kau masih sama seperti dulu. Tidak sopan! Aku pikir kau sudah berubah. Panggil aku dengan sebutan Oppa!!”perintahku dengan nada sedikit keras.

“Tidak mau!”tolaknya dengan nada yang menyamaiku.

“Kau kan lebih muda dariku? Kenapa kau tidak memanggilku dengan sebutan Oppa?!”

“Biar saja! Aku tidak peduli! Kau itu tidak pantas aku panggil Oppa!” tanpa mempedulikan aku, Seohyun berjalan meninggalkan aku. Langkah kakinya ia perbesar untuk mendahuluiku. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya yang sangat aneh.

Tiba di sebuah café dekat Seoul National Hospital, Seohyun tampak mencari-cari bangku yang kosong. Kemudian ia berlari ke sebuah seat yang letaknya dekat dengan jendela. Ia duduk rapi sambil tersenyum menatap ke arah luar jendela. Matanya tampak asyik menikmati pemandangan di luar jendela.

“Kau mau pesan apa?” tanyaku begitu sampai di tempat yang ia pilih. Aku menyodorkan sebuah buku menu dari pelayan ke hadapannya.

“Aku mau pesan kentang goreng, spaghetti jamur, salad, es krim vanilla cheese, dan orange juice. Hmmm .. satu lagi pudding coklat.”

“Ya! Kau makan banyak sekali! Kau itu kan wanita?!” Lagi-lagi aku memprotes karena bingung dengan banyaknya semua pesanan yang ia sebutkan.

“Memangnya wanita tidak boleh makan banyak?! Siapa yang melarang?! Appa-ku tidak pernah melarang!”

“Tapi nanti kau bisa gendut!”

“Itu kan urusanku! Kenapa kau yang pusing?!”

“Terserah lah! Dasar wanita aneh!” gerutuku. Ia menatapku sinis. Seolah-olah tidak terima dengan sikapku padanya.

Dua jam berlalu. Kami telah menghabiskan semua makanan yang ada di meja. Lebih tepatnya Seohyun yang menghabiskan semua makanan di meja, karena aku hanya memesan daging steak dan lemon tea saja.

“Huaaa … aku sangat kenyang! Dan sekarang aku mengantuk …” ucapnya sesaat setelah menghabiskan sisa orange juice di gelasnya.

“Kau tunggu di sini dulu. Aku mau ke toilet sebentar,” ucapku sambil berlalu dari tempat duduk. Kulihat sekilas ia menguap lebar-lebar tanpa menutup mulutnya. Sekali lagi, aku hanya mampu menggeleng-geleng kepalaku. Bagaimana mungkin ada wanita seaneh dia?

Sepuluh menit, aku kembali dari toilet. Aku menatap Seohyun yang ternyata sudah pulas tertidur di bangkunya. Ia menyandarkan tubuhnya dengan santai. Aku bingung, kemudian menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

“Hei, Seohyun! Bangun! Ayo, kita kembali ke rumah sakit!” ujarku sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya. Namun, tidak ada tanda-tanda dirinya akan bangun. Ia masih saja tampak pulas.

“Aiiiissshh … bagaimana ini?! Dasar wanita aneh! Merepotkan saja!” ucapku kesal. Aku memutar otak untuk membangunkan dirinya.

“Seohyun!! Banguuuuunnnnnn!!!” teriakku tepat di telinganya.

“Hmmm … uuummm …” Kulihat ia mulai menggeliat. Matanya terbuka perlahan.

“Bangunlah!” ujarku lagi sambil menggoyang bahunya.

“Gendong akuuu …” ucapnya seperti orang mengigau. Matanya kembali tertutup dan tubuhnya kembali melemas.

“Aiiisssshhh … dia tertidur lagi! Hah, masa bodo! Lebih baik kutinggal!”

Aku segera meninggalkan Seohyun yang masih tertidur pulas. Namun, tiba-tiba aku berpikir, bagaimana mungkin aku meninggalkan dia di sini sementara orang tuanya menunggu di sana?! Ahhh … merepotkan!

Aku kembali ke tempat itu. Kemudian berusaha menggendong Seohyun di belakang punggungku. Kulihat beberapa pengunjung restoran tampak melihat kami berdua. Aku berusaha tersenyum dan menganggukkan kepala untuk tetap bersikap wajar di hadapan mereka.

Aku menghembuskan napas panjang. Mencoba mencari kekuatan baru untuk tetap dapat menggendong bayi besar di belakang punggungku. Berulang kali aku menggerutu.

“Wanita aneh! Tak sopan! Sangat merepotkan!” ujarku kesal sambil tetap menahan berat badan tubuhnya di punggungku.

Tak lama kami tiba di ruangan Appa. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu kaget melihatku yang sedang menggendong Seohyun di belakang punggung. Termasuk Appa dan Umma Seohyun.

“Ada apa dengan Seohyun?” tanya Umma Seohyun menghampiriku.

Aku tak mampu menjawab. Aku masih saja menahan rasa sakit di punggungku. Sebenarnya Seohyun tidak terlalu berat tapi jarak café dengan ruangan Appa sangat jauh. Itu yang membuatku lelah.

Aku mendekati sebuah sofa, kemudian mencoba meletakkan tubuh Seohyun di atas sofa itu. Namun tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang bergerak di punggungku secara perlahan.

“Aaaaaahhhhhh …. Turunkan aku! Turunkan aku!” teriak Seohyun tepat di telingaku. Tentu saja membuat telingaku sangat sakit. Bahkan seperti ingin pecah.

“Apa yang kau lakukan?!! Namja kurang ajar!” teriak Seohyun kembali sambil memukul-mukul lenganku. Hal itu membuatku kehilangan keseimbangan dan aku pun terjatuh di lantai. Spontan Seohyun pun juga terjatuh, tepat di atas tubuhku.

“Aaahhh … !!” pekikku menahan rasa sakit.

“Hei, apa yang kau lakukan?!!” bentak Seohyun sambil menjambak rambutku.

“Seohyun, tenang! Kita dengar dulu penjelasan dari Kyuhyun. Kau jangan kasar seperti itu …” Umma Seohyun tampak menenangkan Seohyun. Sementara aku sangat berterima kasih karena Umma Seohyun berhasil mengamankan tangan Seohyun dari rambutku.

“Aiiiisssshhhh … seharusnya kau berterima kasih padaku! Kau tertidur di café, sudah kubangunkan berulang kali tetap saja tertidur. Lalu terpaksa aku menggendongmu. Masih bagus tidak aku tinggal di café!” jelasku dengan nada kesal sambil memijat-mijat punggungku yang terasa nyeri.

“Tapi kau kan masih bisa memaksaku untuk bangun. Aku pasti akan bangun!!” balas Seohyun tak terima dengan penjelasanku.

“Hei, wanita aneh! Aku sudah membangunkanmu berkali-kali! Seharusnya kusiram saja kau dengan air tadi! Jadi aku tak perlu capek-capek menggendongmu sejauh ini! Huuuh … menyebalkan!” Aku semakin kesal. Aku bahkan tidak peduli lagi dengan orang tua Seohyun yang melihat kekesalanku.

“Sudah … Sudah. Chagi, kau seharusnya minta maaf dengan Kyuhyun Oppa. Dia sudah menolongmu,” ujar Umma Seohyun melerai pertengkaran kami. Aku sangat setuju dengan ucapan Umma Seohyun. Seharusnya memang dia yang meminta maaf padaku.

“Aku tidak mau!! Tetap saja dia tidak sopan!” Seohyun tetap menolak untuk meminta maaf padaku. Benar-benar keras kepala! Menyebalkan!

“Seohyun … kau tidak boleh begitu chagi. Bagaimanapun, kau yang bersalah. Masih bagus Kyuhyun Oppa tidak meninggalkanmu di café sendirian. Bagaimana kalau nanti kamu diculik? Umma dan Appa pasti akan lebih repot lagi kalau sampai kejadian itu terjadi.” Kali ini Appa Seohyun menasehati Seohyun dengan lembut. Ia tampak mahir mengatasi sikap anaknya yang keras kepala.

“Appaaa …” ucap Seohyun dengan nada manja. Kulihat wajah Seohyun mulai luluh. Sepertinya ia akan menuruti permintaan Appa-nya.

“Ne … Mianhae Kyuhyun …”ujar Seohyun kemudian dengan nada pelan. Matanya menunduk ke bawah, tak berani menatapku.

“Apaa?! Aku tidak dengar kau ngomong apa?! Suaramu pelan sekali!” Aku merasa menang dan kucoba untuk mengerjainya supaya dia merasa jera. Padahal sebenarnya aku mendengar dengan jelas permintaan maafnya barusan.

“Mianhae … Kyuhyun.” Dia mulai memperbesar volume suaranya. Matanya masih tetap menunduk ke bawah. Tawaku hampir memecah, namun kutahan. Jujur aku merasa puas melihat sikapnya yang berubah ketakutan seperti itu. Apalagi di depan kedua orang tuanya.

“Panggil aku dengan sebutan Oppa!” bentakku lagi.

“Jeongmal mianhaee … Oppa!!” teriaknya seperti melawan nada bicaraku.

“Seohyun … kau tidak boleh teriak-teriak seperti itu. Ini di rumah sakit, chagi,” tegur Appa Seohyun sambil membelai lembut rambut panjang Seohyun yang terurai rapi.

“Appa, dia menyebalkan sekali!” protesnya sangat kesal.

“Hahaha … kalian berdua sangat kekanak-kanakan sekali. Sepertinya kalian membuatku semakin sembuh. Berulang kali aku ingin tertawa melihat tingkah laku kalian berdua.” Kulihat Appa tersenyum lebar pada kami berdua.

“Ahh, iya mereka berdua sangat lucu. Mereka berdua cocok …” ujar Umma Seohyun yang berhasil membuat mataku melotot. Cocok?? Apa maksud perkataannya? Aku mengerutkan kening.

“Benar. Sebaiknya kita langsung membicarakan hal ini pada mereka,” ungkap Appa dengan bersemangat.

“Kyuhyun, Seohyun, begini … Mungkin berita ini terdengar mengejutkan. Tapi, ini adalah perjanjian kami sewaktu kalian masih kecil. Kami akan menjodohkan kalian berdua. Tenang saja, pernikahan kalian tidak akan secepat yang kalian pikirkan. Hanya saja kami akan melangsungkan pertunangan dengan kalian terlebih dahulu. Bagaimana?” Appa Seohyun menjelaskan panjang lebar.

“Apa?! TUNANGAAAAAAANN ??!!” teriak aku dan Seohyun berbarengan.

 

TBC

***


50 thoughts on “[Freelance] Because I Love You #1

  1. seokyu…seokyu….
    Wah! Ada seokyu lg! Asyik!
    Wah ternyata wires bnyk jga y…
    Pi ntr lw mrka bnran pcrn kira2 wires akn te2p ngdukung gx y!
    Author dtunggu kelanjutannya! Fighting and jngn lama lama !

    Like

  2. Muahaha lucu lucu, aku suka sikap seo di ff ini. Biasanya di ff lain seo tuh lemah lembut, dewasa gitu-______-
    lanjut yo, jangan lama2:-D

    Like

  3. Seruu,,seruu…
    Hemm,, ky bkn seonni aj deh,, bis d.sni seonnie jd cwe yg crewet, brni n gak plos..
    Tp jd sru crita ny..hihi

    Like

  4. wah keren ceritanya..
    seru tau..
    seokyu udah di jodohin…
    wah ayo buat mereka bersatu…

    walaupun mereka sekarang berantem…tapi nanti mereka pasti saling cinta…
    ditunggu lanjutannya…

    Like

  5. wkwk😄
    kocak banget itu seonni,, yaampun cantik2 nyablak bgt yak😄 #plak *dibakarseomate
    ahh..kyuppa galaak bgt, tp kyk’a dia jg suka deh sm seonni…hihiii
    ahh klo psngan yg mau dijodohin ke kyu itu seonni, aku dkung Appa’a kyu 100000%!!😄
    update soon ^^

    Like

  6. waaa kereeen,lanjuut lanjuuuuut,disini seohyun kece bngt ><
    gak sabar pingin baca lanjutannya😄,next part jangan lamalama ya eonn

    Like

  7. kyaaaaaaaaaaa NICE FF ^^
    LOVE IT
    LOVE SEOKYU
    haha seru kyanya mreka brdua tunangan n nikah LOL

    selalu di tunggu part selanjutnya ^^

    Like

  8. seokyu beranrem mulu…
    seo disini jadi keras kepala ya?
    jadi lucu liat mereka berdua berantem mulu
    lanjuttt

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s