[Freelance] Trapped [Chap.4]


Judul: Trapped [Chapter 4]

Cast: Jessica Jung, Krystal Jung, Lee Donghae, Minho, Im Yoona, Choi Siwon, Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Kim Kibum, Seo Joohyun, etc.

Author: Ara Yeon / Aracchi

Type: Series

Pairings: HaeSica, MinStal, (possible) YoonBum

Genre: Drama, Romance, Action

Rating: 15+

Warnings: Alternate Universe, Mafia Centric, Violence, Coarse language

 

Disclaimer: Jessica, Krystal, Donghae, etc. bukan milik saya. Saya hanya meminjam nama (dan penggambaran fisik) dari orang-orang tersebut. Apabila ada kesamaan karakter dan cerita, itu semua hanya kebetulan karena fanfic ini murni dari hasil pemikiran saya.

 

A/N (WAJIB DIBACA): Karena kemaren masih banyak yang bilang minta dilanjutin, akhirnya saya memutuskan untuk update satu chapter lagi di smtownff. Tapi untuk selanjutnya, mianhae ff ini tidak akan saya submit ke smtownff lagi karena kurangnya waktu saya dikarenakan ujian nasional yang kian dekat. Jika masih berminat membaca terusan ff ini, blog saya masih akan mengupdate lanjutannya sampai saya hiatus untuk sementara. Kunjungi icyfishy.wordpress.com bagi yang ingin membaca chapter selanjutnya. Gomawo, dan saya ucapkan sekali lagi maaf sebesar-besarnya untuk para readers.

–o0o–

 

16.00 PM – Jung Resident

 

Normal POV

 

Krystal sedang membolak-balik halaman majalah yang baru dibelinya di taman belakang rumah keluarga Jung yang besar dan rindang. Setelah pulang sekolah, pewaris muda itu tidak punya pilihan lain selain harus langsung kembali ke rumahnya. Semenjak insiden yang terjadi kemarin, Krystal ‘dihukum’ oleh penasehat Ayahnya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah DongHae sendiri, tidak boleh keluyuran ke manapun selain sekolah, rumah, dan tempat les sampai waktu yang tidak ditentukan kapan. Awalnya ia sempat memprotes tapi setelah mencerna baik-baik bahwa itu semua itu semua akibat ulahnya sendiri, remaja tanggung itu akhirnya menurut dengan catatan ia menuntut dibolehkan pergi (meski tetap diawasi oleh Minho) setiap akhir pecan. Karena itulah Krystal berada di sini karena tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

 

“Hmm…” gumam gadis berambut hitam panjang bergelombang panjang itu pada majalahnya. Sesekali bodyguardnya yang setia, Minho, melirik ke arah Tuan Putrinya itu mengecek keadaan. Meskipun dari tempat ia berdiri dan bangku tempat Krystal duduk tidak berjarak lebih dari dua kaki, Minho tetap tak sekalipun mengurangi kewaspadaannya. “Oh Minho-ya, lihat ini sebentar lagi SHINee akan merilis album barunya! Huwaaa~ aku akan minta Ayah membelikanku satu ah!” seru Krystal girang setelah membaca berita tentang boy group favoritnya di majalah. “Ne, Minho-ya, kamu mau satu juga tidak?”

 

“Tidak terima kasih Nona, Saya tidak begitu tertarik dengan sekumpulan cowok yang menari dan menyanyi.” Jawab Minho tenang dan kalem. Tentu saja Krystal yang menganggap dirinya sebagai fans berat nomor satu langsung cemberut, “Kamu nggak seru. Mereka kan punya talent, ganteng-ganteng lagi.” Minho hanya tertawa pelan melihat kelakuan majikannya.

 

“Nona Krystal!!” Kepala Krystal otomatis langsung tertoleh ke arah suara yang tadi memanggilnya berasal. Awalnya ia mengira ada seorang lelaki asing yang melambaikan tangannya dari jauh. Ia berjalan dari arah gedung induk dan sekarang menuju ke arah mereka. Krystal memicingkan mata, ia merasa tidak mengenal lelaki asing yang tadi memanggilnya. Tetapi setelah sosok itu mulai mendekat dan sampai ke dalam jarak pandangan, Jung paling muda itu langsung terlonjak dari tempatnya duduk dan berlari menuju ke arahnya.

 

“Ambeeeeerr!!” Krystal meneriakkan nama itu senyaring yang bisa dilakukan oleh tenggorokannya. Dengan kecepatannya berlari seperti itu, Amber tidak yakin apakah ia sekarang sedang dipeluk atau ditubruk oleh gadis muda ini. Amber tertawa renyah begitu sang Tuan Putri melepaskan pelukannya.

 

“Kenapa tak bilang padaku kalau mau pulang? Lihat dirimu! Kau sudah banyak berubah!! Sampai-sampai aku tidak mengenalimu! Aku kira tadi kamu ini semacam laki-laki asing yang tidak kukenal, Ya Tuhan dan kau sekarang mengecat rambutmu jadi pirang!!!” rentetan kalimat tak henti-hentinya keluar dari mulut Krystal yang begitu antusias melihat kawan lamanya lagi.

 

“Hahaha kejam sekali, aku masih perempuan tahu! Dan rambut ini… cuma ingin ganti suasana sih. Tapi DongHae oppa langsung mencak-mencak begitu melihatnya. Dia tidak terlalu senang. Oh, yo! Minho!” sapa Amber pada bodyguard yang langsung mendampingi Krystal di belakangnya. Sigap seperti biasa.

 

Minho membungkuk sedikit pada cewek tomboy itu, “Annyeonghaseyo, Amber-ssi.”

 

Amber tertawa lagi, “Hahaha! Tetap well-mannered seperti biasa ya. Kamu tidak banyak berubah, tetap nempel pada Nona Krystal ke manapun ia pergi.”

 

Pipi Krystal sempat bersemu merah namun dengan cepat ia menepisnya. “Amber kenapa tiba-tiba pulang dari Amerika? Kenapa tidak memberi tahuku dulu?” sembur Krystal.

 

“Aku baru saja menyelesaikan ujian akhirku di sekolah, sebentar lagi aku lulus SMA lho hehe. Makanya aku memutuskan untuk pulang sebentar.” Tidak bisa dipungkiri ada semburat kebahagiaan yang muncul di wajah Amber ketika ia menceritakannya pada Krystal yang mendengarkannya dengan setia.

 

Krystal menepuk-nepukkan tangannya sebagai tanda ikut senang, “Benarkah? Berarti kalau kau sudah lulus di Amerika, Amber akan pulang ke sini?”

 

“Ah… tidak tahu juga sih…” jawab Amber lamat-lamat, “Mungkin iya dan mungkin tidak. Bisa saja aku meneruskan sekolah di sana. Biasanya dengan kehadiranku di Amerika akan memberi bantuan sedikit pada Tuan Jung.”

 

“Heh?” Krystal tidak bisa begitu mengerti dan mencerna apa maksud dari kata-kata Amber tadi.

 

Amber cuma nyengir dan tertawa lagi, “Hahaha tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Ah ngomong-ngomong aku harus pamit sekarang. Aku mau memberi salam pada Ayahmu dulu.”

 

“Begitukah? Yah… sayang sekali… Berjanjilah padaku kau akan sering-sering main ke sini ya!” Gadis muda itu merasa sedikit kecewa karena kunjungan Amber yang begitu singkat. Sudah setahun lamanya semenjak kepulangannya yang terakhir dan Krystal hanya ingin menghapiskan waktu lebih lama lagi dengan sahabat lamanya yang tomboy itu.

 

“Tenang saja, lain kali aku akan mampir lagi. Kalau begitu aku pergi dulu. Daaah! Minho, kau juga, jaga Nona Krystal baik-baik ya!” Amber melambaikan tangannya sambil berlari kembali ke arah Gedung Induk. Krystal dan Minho cuma bisa melepasnya dan menyaksikan punggungnya menghilang ketika sudah semakin menjauh.

 

“Dia anak yang baik, sama sekali tidak berubah rupanya. Seperti melihat DongHae hyung versi wanita saja.” Celetuk Minho pada majikannya.

 

Krystal tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar komentar Minho, “Hahaha. Tapi dia benar-benar teman yang baik.”

 

Minho melangkah maju dan memposisikan dirinya tepat di samping Krystal, ia sekilas mencuri pandang ke arah gadis muda itu yang masih menerawang.

 

“Sepertinya Amber-ssi benar-benar orang yang berharga bagi anda.” Ucap Minho.

 

Krystal tersenyum lembut, sesuatu yang jarang sekali Minho temukan di dunianya yang keras. “Aku menyukainya karena ia orang yang selalu jujur dan tidak pernah berpura-pura. Amber akan tetap menjadi Amber di depanku. Dia tidak pernah memakai topeng.”

 

Untuk sejenak Minho terhenyak dengan kata-kata yang keluar dari mulut Krystal. Pewaris muda Keluarga Jung yang ia pikir terlalu terjebak dalam dilema remaja itu ternyata banyak menyimpan pemikiran-pemikiran yang tidak terduga olehnya sama sekali.

 

“Tidak seperti kebanyakan orang,” lanjut Krystal, “yang selalu menampakkan pribadi palsu di depanku. Entah apakah orang itu takut akan nama keluargaku atau ia hanya merasa harus berbuat baik karena aku adalah seorang Jung.”

 

Ada nada kesedihan yang tergambar di setiap katanya, dan Minho bisa menangkapnya dengan jelas, Pria itu bisa mengerti, sangat mengerti, apa yang dirasakan Nona Muda itu. Sebagai orang yang hampir selalu berada di samping Krystal, Minho seolah membagi setengah hidupnya untuknya. Ia menyaksikan semua orang yang berinteraksi dengan Krystal, semua kegiatannya, seluruh aktivitasnya. Minho bisa melihat jelas seperti apa perlakuan orang-orang terhadap majikannya. Beberapa takut akan menjauh ketika tahu siapa sebenarnya gadis itu. Sebagian besar lagi berusaha menjilat Sang Tuan Putri, berharap dengan begitu setidaknya mereka memberi image baik di depan Keluarga Jung yang tersohor.

 

Sayangnya Krystal tidaklah buta akan semua topeng palsu itu. Sebagai pewaris satu-satunya, ia sepenuhnya sadar akan tanggung jawab yang ia pegang. Karena itu ia mengerti dan mulai belajar untuk bersikap ‘wajar’ di hadapan orang-orang yang seperti itu. Minho bisa melihat semuanya, termasuk kesepian yang sering membelenggu seorang Krystal Jung.

 

“Sedihnya aku jadi tidak bisa mudah percaya orang.” Keluh Krystal sambil menghela nafas keras-keras. “Hanya orang-orang seperti Amber dan DongHae oppa saja yang bisa kupercaya.”

 

Gadis muda itu menolehkan kepalanya dan kini sudah menghadap sepenuhnya ke arah Minho. Ia sunggingkan lagi sebuah senyuman yang tak kalah tulus, “Minho-ya juga.”

 

“Eh?” Minho sedikit terperanjat ketika mendengar namanya ikut disebut-sebut.

 

“Aku juga percaya padamu! Karena Minho adalah Minho. Minho yang tidak akan pernah mengkhianatiku. Ya kan?” kali ini senyuman Krystal semakin lebar.

 

Hening. Minho cuma bisa menatap dalam dalam kedua bola mata Krystal dan mencoba mencari arti di baliknya. Nona itu memiringkan kepalanya ke arah satu sisi dan mengerutkan dahinya karena Minho tak langsung menjawab.

 

“Minho-ya?” tanya Krystal bingung.

 

Pada akhirnya Minho seperti dibuyarkan dari lamunannya sendiri dan buru-buru memberikan senyuman pada Krystal, “Ne… tentu saja. Saya akan selalu ada di samping Nona Krystal.”

 

–o0o–

20.00 PM – Assassin Lounge, Choi’s Headquarter

 

Normal POV

 

 

“Oh, Double Soo! Kalian akhirnya datang juga.” Seru KyuHyun setelah SooYeon dan SooYoung masuk ke dalam lounge assassin yang sekarang diubah menjadi ruang rapat.

 

Alis SooYoung berkedut mendengar nickname yang dibuat oleh ular licik itu. Dia tidak terlalu menyukainya, Double Soo terdengar seperti nama grup pelawak. Di lain pihak, partnernya, SooYeon memilih tidak menggubris sama sekali dan berjalan tenang menuju sofa panjang tempat semuanya duduk. Setelah ia memposisikan diri duduk di sebelah KiBum yang juga sama diamnya, ia memperhatikan seisi lounge dengan seksama. Total ada 5 orang yang sekarang duduk di sini. Maknae SeoHyun masih asyik melahap buku tebal yang dibawanya, di sebelah maknae duduk KyuHyun dengan PSP di tangan. Selain dirinya dan SooYoung, menyisakan si robot KiBum untuk membuat jumlahnya genap menjadi 5.

 

Bukan kebetulan para assassin itu sekarang berkumpul di sana. Masing-masing menerima pesan untuk berkumpul di lounge, ada misi penting yang menunggu, begitu kata perintahnya. Yang menjadi perhatian SooYeon dalam benaknya sekarang adalah fakta bahwa misi kali ini kemungkinan dilakukan oleh 5 orang sekaligus, di mana hal itu sangat jarang sekali terjadi. Biasanya misi diberikan untuk satu partner yang berisi 2 orang. Tidak pernah dalam jumlah sebesar ini. Terlebih dengan keikutsertaan KyuHyun dan KiBum membuat semua gambaran menjadi lebih buram. Untuk apa sampai melibatkan kelompok elit seperti mereka?

 

Baru 5 menit SooYeon menunggu, pintu lounge menjeblak terbuka. Datanglah seorang lelaki berbadan tegap dengan suara lantang. “Aaah! Untunglah kalian semua datang. Ini file-file yang kalian perlukan.” Tanpa menunggu lebih lama lagi pria itu melempari para assassin folder untuk masing-masing. Tentu saja dengan insting dan refleks yang terlatih ke-5 orang tersebut berhasil menangkap folder mereka yang melayang tiba-tiba.

 

KyuHyun yang pertama kali membukanya, “Foto siapa ini KangIn?” tanyanya heran setelah menemukan foto seorang lelaki di dalam folder.

 

“Kapten, KyuHyun. Kapten KangIn. Perlu diingat aku adalah atasanmu.” Pria itu bernama KangIn, SooYeon sangat mengenalnya karena ia bukanlah lelaki biasa. KangIn adalah atasan mereka semua yang diberi tanggung jawab mengkoordinir semua assassin keluarga Choi termasuk kelompok elit. Junga orang yang langsung menghubungkan mereka semua ke Kepala Keluarga ini. KangIn selalu mendapat perintah langsung dari SiWon sendiri, tanpa ada perantara. Itu menunjukkan betapa penting posisinya di mata Keluarga Choi. Bisa dibilang lelaki itu adalah tangan kiri Choi SiWon yang bertugas menghabisi semua yang menghalanginya.

 

“Aku akan memberikan waktu untuk kalian mengamati foto itu baik-baik sebelum aku memberi tahu identitasnya.” Seru KangIn yang berdiri di depan mereka semua.

 

“Dia tampak familiar, tapi aku yakin dia bukan politikus.” Celetuk SooYeon setelah menganalisa foto seorang lelaki yang kira-kira berumur setengah abad itu.

 

“Bajunya bagus.” Kata SooYoung asal.

 

SeoHyun sebagai yang paling muda tiba-tiba tampak menyadari sesuatu, “Kapten, sepertinya aku pernah membaca sesuatu berita tentang dirinya. Tapi aku tidak yakin apa.”

 

“Namanya Jung WooSuk, saat ini memiliki perusahaan konstruksi terbesar di Jepang.” Beber KangIn pada akhirnya.

 

Sontak, kelima kepala mendongak dan menatap KangIn lebar-lebar. “Jung…? Jangan-jangan…” kata SooYoung setengah terkejut.

 

“Keluarga Jung yang itu?” meskipun suara SooYeon terdengar datar, ekspresi gadis itu menunjukkan wajah antara tidak percaya dan ingin tertawa. Ia masih berpikir Kaptennya itu pasti bercanda karena memberikan misi ini.

 

Seolah ia sependapat dengan anak buahnya, KangIn juga setengah hati menganggukkan kepalanya lambat-lambat. “Tapi keluarga Jung adalah keluarga yang sudah lama menjadi rival keluarga kita. Kalau kita membunuh orang ini…” SeoHyun ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

 

“Akan menjadi kekacauan besar.” Lanjut KiBum menyelesaikan.

 

KangIn menghela nafasnya dengan berat, “Aku mengerti perasaan kalian. Tapi ini adalah perintah atasan. Pria itu, adalah adik dari Jung JooHyuk, Kepala Keluarga Jung saat ini.”

 

Setelah ia selesai berbicara kelima anak buahnya itu langsung bergumam tidak percaya. “Kenapa harus kami berlima?” tanya KyuHyun.

 

“Justru karena itu, misi ini kuberikan pada kalian.” Terdengar suara baru dari arah pintu. Choi SiWon melangkah dengan auranya yang mengintimidasi mendekati mereka. Otomatis semuanya langsung berdiri dari posisi duduk mereka masing-masing. Tetapi setelah diperhatikan lebih dekat Kepala Keluarga Choi itu rupanya tidak sendiri. Menempel di belakangnya dengan terus menggamit lengan SiWon, berdiri seorang gadis dengan wajah bak boneka.

 

“Sulli!” seru SooYoung yang paling dekat dengan pintu segera setelah melihat sosoknya.

 

Gadis itu tersenyum manis, “Annyeonghaseyo, SooYoung unnie.” Sementara itu, SooYeon tetap terpukau dengan kehadiran seorang Choi Sulli yang tak terduga. Sepupu SiWon dan SooYoung yang seharusnya berada di Jepang itu cukup mengejutkan dengan kemunculannya yang tiba-tiba. SooYeon memperhatikan sosok Sulli baik-baik. Gadis yang bahkan lebih muda dari SeoHyun itu memiliki kulit putih mulus bak porselen. Wajahnya bulat oval dengan rambut cokelat panjang bergelombang yang mencapai punggung. Tak heran banyak yang menyebut kecantikannya bagai boneka Prancis, terlebih dengan bulu mata lentik dan bibir merah penuh. Wajahnya melankolis dan yang paling menarik perhatian adalah kedua bola mata yang selalu tampak bersinar tetapi seolah menyembunyikan banyak sekali rahasa. Itu semua menjelaskan mengapa gadis itu mendapat julukan “Bidadari Keluarga Choi.”

 

Hari itu Sulli datang dengan Little Black Dress yang membungkus badannya yang kecil dan ramping. Sebuah liontin perak terkalungkan di lehernya yang jenjang. SooYeon mengenali liontin yang dipakainya itu sebagai ‘perhiasan keluarga’. Berbentuk lingkaran permata berwarna perak dengan lambang singa berdiri di tengahnya. Lambang dari keluarga Inti Choi. Perhiasan yang sama yang juga selalu dipakai SooYoung, dan SooYeon juga melihat SiWon memakai versi cincinnya setiap hari di tangan.

 

Choi Sulli berbanding terbalik dengan SooYoung. Tidak ada sifat tomboy dan asal-asalan pada diri Sulli. Gadis itu terlalu feminine dan lemah lembut. Badannya yang lemah dan sakit-sakitan membuatnya dimanja oleh semua Keluarga Choi. Ia terlihat sangat rapuh seperti boneka keramik. Gadis itu membuat semua orang yang melihatnya seolah ingin melindungi Sulli.

 

Sayangnay, Sulli selalu menatap rendah semua orang yang tidak disukainya. Seperti yang saat ini ia lakukan pada SooYeon. “SooYeon unnie, senang sekali mengetahui kau masih hidup.” Meskipun Sulli mengatakannya dengan senyum lebar, SooYeon tahu gadis itu hanya mengucapkannya setengah hati. Si Ratu Pokerface Sulli.

 

Tetapi SooYeon tetap membungkuk pada Sulli untuk memberi penghormatan, “Senang bertemu denganmu Sulli-ssi.” Semenjak seluruh hidupnya yang ia habiskan selama diasuh oleh Tuan Choi Senior, tak pernah sekalipun Sulli menyukai SooYeon. Gadis muda itu merasa SooYeon tak pantas mendapat perlakuan istimewa, apalagi dari pamannya yang begitu berkuasa. Bahkan SooYoung unnie dan SiWon oppanya juga menyukai ‘anak pungut’ itu. Semakin besar pula kebencian Sulli pada SooYoeon yang ia anggap mencuri semua perhatian yang seharusnya ia dapatkan.

 

“Bercengkramanya nanti saja. Misi ini lebih penting.” Potong SiWon dengan suara super dinginnya. Sulli semakin memeluk lengan SiWon erat seperti benalu.

 

“Kalian berlima adalah yang terbaik yang kita miliki. Lakukan misi ini dengan cepat dan tanpa meninggalkan jejak satupun.”

 

Sementara itu SooYoung bergerak gelisah di tempatnya berdiri, tetapi akhirnya gadis itu memberanikan diri untuk bicara. “SiWo… Maksudku, Tuan SiWon, apa alasannya sampai harus membunuh Jung WooSuk? Laki-laki ini salah satu anggota keluarga inti Jung.” Tanpa sadar atmosfer yang menyelimuti ruangan itu semakin menegang. SiWon tidak langsung menjawab dan hanya diam terpaku.

 

“Karena dia ancaman bagi kita.” Sebuah suara feminine memecah keheningan, asalnya dari Sulli. “Aku tinggal di Negara yang sama dengan orang itu untuk waktu yang lama. Dia ancaman yang harus kita musnahkan secepatnya.”

 

“Jung WooSuk terus mendesak kekuasaan kita di sana, terutama di Osaka, tempat Sulli tinggal.” Jawab SiWon menambahi.

 

“Karena itu aku kembali ke Seoul. Meskipun untuk sementara aku harus mengabaikan udara Seoul yang kotor yang tidak baik untuk kesehatanku. Tetapi aku sadar kalau kita tidak bergerak cepat maka akan berakibat besar pada keluarga Choi. Kita akan kalah.” Sulli menyapu seisi ruangan dengan kedua bola matanya yang jernih tetapi juga sekaligus memberi aura yang menekan. Sebuah bakat yang mendarah daging yang ada di dalam diri semua keluarga Choi.

 

“Salah satu orang kita terbunuh di Osaka.” Suara SiWon seolah mempunyai efek yang membuat suasana menjadi dingin. “Dia terbunuh karena terlibat bentrok dengan anak buah Jung WooSuk.”

 

SooYoung menelan ludah, ia hampir bisa membaca apa yang akan terjadi selanjutnya jika mereka berhasil. Perang berdarah antara dua keluarga paling berpengaruh di dunia bawah tanah Korea. Akan ada banyak nyawa yang direnggut, penyergapan, dan baku tembak. SooYoung hanya pernah mendengar tentang perang antarkeluarga dari Ayahnya, dan itu terjadi bertahun-tahun lamanya ketika dirinya sendiri bahkan belum bisa berjalan. Mendengar ceritanya saja sudah membikin bulu kuduk meremang, apalagi kalau ia sendiri yang harus terlibat di dalamnya.

 

“Akan kukirim kalian ke Osaka besok. Berkemas-kemaslah. Luna sudah kuminta untuk mengurus paspor palsu dan urusan imigrasi. Kalian hanya perlu mencemaskan bagaimana kalian akan membereskan misi ini.”

 

SooYeon melirik Sulli yang sedari tadi tetap menempel pada SiWon. Gadis itu tersenyum lebar penuh kemenangan. “Aku tidak ingin mendengar kabar yang lain. Laki-laki itu harus mati.” Ucap SiWon mengakhiri.

 

Tidak ada yang menyahut, semua tetap terdiam sampai SiWon dan Sulli mempersilakan diri dan meninggalkan lounge. KangIn menghela nafas berat, “Kalian sudah dengar sendiri. Lakukan misi ini tanpa kegagalan. Blue Print rumah Jung WooSuk ada di dalam folder, pelajari itu baik-baik. Besok datanglah pagi-pagi, briefing akan dilakukan di sini. Mengerti?”

 

Terdengar sahutan mengiyakan dari anak buahnya, tetapi SooYoung mengabaikan ucapan panjang lebar KangIn dan melenggang begitu saja menyusul SiWon dan Sulli.

 

“SooYoung…” seru SooYeon mengingatkan partnernya.

 

Gadis jangkung itu sama sekali tidak menoleh dan hanya melambaikan sebelah tangannya, “Aku ada urusan sebentar.” SooYeon mengerutkan dahi, ditatapnya punggung partnernya sampai menghilang dari pintu.

 

–o0o–

SooYoung mempercepat langkahnya. Matanya berkelebat mencari dua orang yang tadi telah membuatnya kalut setengah mati. Ketika akhirnya ia bisa menangkap visual punggung mereka dari belakang, kakinya sudah setengah berlari demi memperpendek jarak.

 

“SiWon! Tunggu!” seru SooYoung yang sukses membuat dua orang sepupunya berhenti.

 

Kepala Keluarga Choi itu hanya diam dna menunggu sampai SooYoung yang memulai. “Maaf Sulli, tapi aku butuh bicara berdua dengan SiWon.” Kata SooYoung di sela-sela nafasnya yang memburu. Sulli memprotes, ia justru semakin memeluk lengan SiWon erat-erat. Gadis remaja itu menolak untuk meninggalkan tempatnya berdiri.

 

“Sulli, aku mohon…” kali ini SooYoung tak segan-segan untuk meminta-minta meskipun itu agak melukai harga dirinya. Sulli menggeleng, tetapi kali ini justru SiWon yang menarik diri dari Sulli dan melepaskan cengkramannya. “Sulli, tunggu di mobil.” Siwon tidak pernah memberikan suara mengancam pada sepupu termudanya, namun juga bisa memberikan aura yang menekan jika diperlukan. Ajaib, Sulli langsung menurut dengan sekali perintah pendek. Dengan cemberut dan setengah hati gadis itu melangkah menjauh sendiri.

 

“Apa yang kau perlukan?” tanya SiWon setelah memastikan Sulli tidak akan mendengar.

 

“YAH!! Apa kau gila?!!” desis SooYoung tanpa mempedulikan lagi posisi jabatan mereka. Kali ini hanya pembicaraan antara Choi SooYoung dan Choi SiWon, tidak lebih.

 

“Apa yang ada di pikiranmu ketika memberikan job ini pada kami?”

 

SiWon tak bergeming, ia tetap tenang seperti telaga yang dalam. “Tidak ada. Kalian harus menyelesaikan ini. Itu saja.”

 

“Dan membuat SooYeon membunuh pamannya sendiri?”

 

SiWon mengernyit, SooYoung telah tepat mengenai sasarannya. “Aku tak mengerti maksudmu.” Dalih SiWon yang tak mau menatap mata SooYoung langsung.

 

Gadis jangkung itu melipat kedua tangannya di depan dada, “Kau mengerti lebih dari siapapun, SiWon.”

 

“Dia hilang ingatan. Dia bahkan sudah tidak mengenali pamannya sendiri. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.”

 

“Dan bagaimana kalau dia mengingatnya? SooYeon mendapat penglihatan, SiWon. Dia bilang padaku dia memimpikan suatu potongan memori yang dimilikinya.”

 

“Kita hanya harus mencegahnya untuk ingat. Karena itu kau menjadi partnernya. Itulah tugasmu.” SiWon masih memasang topeng kakunya di hadapan SooYoung.

 

SooYoung mendesis lagi, “Bukan berarti dengan dia hilang ingatan berarti kita bisa melakukan apapun yang kita mau.”

 

“Dia mengabdi pada Keluarga Choi. SooYeon sepenuhnya sadar akan hal itu.”

 

SooYoung menatap SiWon tak percaya, SiWon yang dikenalnya dulu tidak akan pernah mengatakan hal seperti ini. SiWon yang dulu begitu hangat. Tetapi kini sepupunya itu memakai topeng baja yang dingin, menutup hatinya dari semua orang di sekitarnya. Hampir saja SooYoung meneteskan air mata jika ia tidak memilih untuk menahannya.

 

“Apa alasanmu SiWon? Kenapa kau memutuskan misi ini? Aku tahu pasti masih ada alasan lain.” Suara SooYoung kini bergetar karena menahan emosi yang meluap. SiWon masih terdiam, mengunci mulutnya rapat-rapat.

 

“Apa karena dia?” tanya SooYoung lagi, “Karena Tiffany? Sampai kapan kau akan melupakan hal itu?”

 

“Jangan. Sebut. Namanya…” SiWon mendesis marah, lelaki itu melangkah maju untuk mengancam.

 

Tetapi SooYoung tidak menyerah dengan ketakutannya, “Kau melakukan hal ini karena urusan pribadi bukan? Ke mana akal sehatmu? Tiffany tidak pernah meminta inI!!”

 

GREB. Satu tangan SiWon mencengram leher SooYoung dan menengadahkan wajah gadis berambut pendek itu supaya bisa ditatapnya. Tetapi SiWon sekarang hampir kehilangan kendali dirinya sendiri. Setiap kali mendengar nama itu, ia tidak tahu mengapa ada sesuatu yang ingin lepas dan mengamuk di dalam hatinya.

 

“Sekarang untuk siapa kau melakukan ini semua? Ayahmu? Keluarga ini? Tiffany? Atau dirimu sendiri?” SooYoung masih bisa sempat berkata-kata meski kesusahan mengambil nafas. Air mata mulai keluar satu persatu membasahi pipinya. “Kau sudah kehilangan dirimu sendiri SiWon. Kau tersesat.”

 

SiWon semakin mencengkram wajah SooYoung dan menatapnya dalam kemarahan. “Aku Kepala Keluarga ini. Semua berjalan sesuai perintahku. Aku memerintahkan kalian untuk membunuh laki-laki itu, maka kalian akan melakukannya.” SiWon melepas SooYoung dengan kasar. Ia berjalan menjauh menuju Sulli yang sudah menunggunya di dalam mobil tetapi dalam hatinya ia masih bisa merasakan emosi yang meledak yang tidak akan reda untuk waktu yang singkat.

 

Sendirian di lobi headquarter yang sepi, SooYoung masih berusaha menghentikan air matanya yang keluar bersama kesedihannya.

 

-TBC-


9 thoughts on “[Freelance] Trapped [Chap.4]

  1. akhir’a publish jg!!
    OMO!!
    Fany knp??
    donghae’a ga kluar!!peansaran bgt pa bkl da p’tumpahan darahkah???
    seru..seru..seru!!
    lanjutttt

    Like

  2. waaaah itu tiffany jagi knapa??kok disbut” ma youngie??

    owh jd sica tu ilang ingatan cm dy direkrut ma kluarga choi gt yh??

    wah mkin complicated, tp kok hae hyung ga muncul ni di ep x ini..

    ditunggu next partny chingu..

    Like

  3. Kyaa….!! Akhirnya publish juga…!!! Hih… makin seru ajah ceritanya, tapi kok update next chapternya bakal lama?? Aissh… jinjjayo, aku tak tahan kalau harus menunggu lama!!! *lebay mode on* Eh, YoonBum belum keluar lagi nih ya?? And Tiffany, ada apa antara SiWon dan Tiffany di masa lampau?? Aigoo… jadi makin penasaran kan… Good job, chingu, Like This so much. Update di blognya aku tunggu ya… PHAITING~ NB. Sukses buat UNASnya, adek aku juga UNAS tahun ini, semoga kamu dan adek aku sama2 lulus dengan nilai bagus, ya… AMIN

    Like

  4. aduh ya ampun.. ff sebagus ini knapa sdikit yang ngomen!!!!!!!!!!!!!!! hey kalian! kenapa ga liat ff se nyata ini! unnie ini ff paling T.O.P B.G.T

    Like

  5. Aku udah baca ff ini di blogmu sebelumnya …
    Dan kini aku baca lagii
    Ahhh tetep ajjh keren !!
    Ga bisa ngomong apa” lagii ….
    Pertanyaan Sooyoung juga pertanyaan yang ada di otakku …
    Sampe sekarang aku belum ngertii kenapa Siwon kaya gitu ??
    Padahal aku udah ngikutin sampe chapter 6 nya …
    Hahahaha
    Chingu cepet di post yya kelanjutannya ..
    Aku selalu mampir ke blogmu tapii belum liatt tanda” (?) kelanjutan ff ini di sana …
    Cepett update nya yya …
    Penasaran banget soalnya …
    Hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s