[sequel] You Touched My Heart


You Touched My Heart

 

Author                                                  : @janioetomo

Main cast                                             : Lee Donghae, Im Yoon Ah

Supported cast                                 : Super Junior

Genre                                                   : Romance comedy, Friendship

Type                                                      : One Shot

Recommended backsound          : Nun gam dong iusseo – Sung Si Kyung

Ps: Ini sequel dari The Beginning yang sebelumnya pernah saya post di sini. Kisah mereka pun berlanjut… Happy reading!! J

 

Aku tak pernah memikirkan bagaimana aku – kami akan bisa sampai pada hari ini. Sebenarnya aku punya cukup alasan untuk tetap berada di sampingnya. Tapi semua itu tak terlalu mempengaruhiku, aku hanya ingin selalu berada di sampingnya tanpa alasan-alasan, itu saja.

***

Suhu kota Seoul 24˚F, langit biru cerah tanpa awan cumulonimbus yang berpotensi badai atau cuaca buruk. Aku mengenakan dress  favoritku – tanpa lengan, kerah berenda dengan sejumput pita di bagian dada, dan paduan cardigan turquoisse yang baru kubeli minggu lalu. Sementara rambutku yang ikal, kutata penuh gaya dan kubiarkan tergerai. Benda yang kubawa-bawa dalam pangkuanku adalah pot kecil dengan Bunga Dandelion yang kubungkus hati-hati dan rapi seperti parcel. Aku tersenyum menatap kelebatan pemandangan Seoul di pagi hari melalui jendela bus yang kunaiki, mengingat masa-masa kebersamaan kami selama hampir dua tahun.

“Apa kau sudah sampai?” Suara namja dari seberang ponselku terdengar gelisah.

“Ne…” jawabku dengan nada kesal yang kubuat-buat.

“Apa kau terlambat? Lagi?” tanyaku.

Aku tahu kebiasaan buruk yang susah sekali ditinggalkannya.

“Mianhaeyo, aku terjebak macet dan taksi ini benar-benar…yaa ahjussi cepat salip mobil di depan itu!”
“Arasseo, arasseo, akan kutunggu.” Aku mengakhiri perdebatannya dengan sopir taksi entah dimana itu, kututup ponselku sambil tersenyum dan mendengus mendapati kebiasaannya yang tidak pernah berubah.

“Yaa..Im Yoon Ah, Yoona aku di sini!” Dia melambaikan tangannya dengan penuh semangat ke arahku dan berlari sambil menghindari kontak fisik dengan orang-orang yang lalu lalang di taman ini. Huh, satu lagi yang aneh pada dirinya, dia tidak suka bersentuhan dengan orang asing. Entah takut tubuh indahnya lecet atau…aku curiga dia adalah tipe pria-sok-higienis.

“Apa kali ini aku sangat…sangat terlambat?” tanyanya yang telah berdiri di hadapanku sambil memegangi dadanya, mencoba mengatur napas.

“Ya, 35 menit 10 detik.” jawabku sambil pura-pura mengecek jam tanganku.

Aku melotot sebal ke arahnya.

“Habis siapa suruh kau ajak ketemuan di Seocho-gu? Taman ini kan selalu ramai tiap akhir pekan.” belanya tak mau kalah. Dia bahkan mengabaikan bibirku yang cemberut marah.

“Hoh!! Kau…jinjja!” geramku

Aku sudah mengayunkan tanganku untuk memukulnya, tapi terhenti di udara ketika dia mengatupkan kedua telapak tangannya dan menggosok-gosokkannya sambil meminta maaf dengan tatapan memelas. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku dan menahan tawa atas tingkahnya. Tidak tahu kenapa aku selalu luluh saat melihat matanya.

Lee Donghae, namja dihadapanku ini adalah cinta pertamaku. Saat pertama bertemu, dia bilang tawaku seperti rusa. Sejak itu selama hampir dua minggu aku mematut diri di depan kaca dan memperhatikan dengan seksama garis wajahku saat tertawa, yeah mulutku memang agak sedikit lebih lebar – oke! lebar –  saat tertawa. Karena tidak terima dibilang seperti itu, aku pun berjanji jika bertemu lagi dengannya akan kukontani dia. Betul saja, sebulan kemudian dia muncul di tempat yang sama saat pertama kami bertemu dan tanpa malu menghampiriku, dan bilang senyumku sudah membuat hatinya berdebar. Dia bilang, dia sering datang ke tempat itu hanya agar bisa bertemu denganku. Jelas aku curiga, kupikir dia penguntit atau apa. Aku jadi ingat pesan Cha Seung Won ahjussi untuk jangan mudah percaya dengan kata-kata pria, eng…sejujurnya aku lebih tidak bisa percaya dengan kata-kata ahjussi. Ternyata itu taktik Donghae untuk bisa berkenalan denganku. Konyol…atau norak, entahlah. Sampai akhirnya kami bisa bersama dalam kurun dua tahun terakhir, ini sungguh keajaiban.

Lee Donghae seperti medan magnet bagiku, dia akan berusaha menarikku ke kutub-kutub pesonannya, bahkan saat seharusnya kutub-kutub kami tolak-menolak, dia akan dengan sekuat tenaga menarikku kembali ke pelukannya. Ini yang membuatku bingung – kadang sampai frustasi, aku selalu takluk di hadapannya.

“Hey! Hey, kau kenapa Yoona? Kesambet ya?” Donghae membuyarkan pikiranku sambil menggerak-gerakkan telapak tangannya nyaris mengenai hidungku.

“Eng…anio.” Cuma itu yang keluar dari mulutku, otakku mendadak lambat untuk mencari alasan logis seperti yang selalu kulakukan.

“Oh…” responnya.

Hanya ‘oh’. Huh! Untunglah dia tidak banyak tanya seperti biasanya.

“Tapi, apa itu yang kaubawa-bawa?” tanyanya sambil menunjuk bungkusan di tangan kananku. Ternyata dia lebih tertarik pada pot bungaku, haah dasar!

“Bukan apa-apa, ayo jalan!” ajakku acuh. Aku menggamit tangannya dan berjalan menjauhi keramaian taman yang ada di distrik Banpo-dong, Seocho-gu ini.

“Kapan tepatnya kau akan memberitahuku, mau kemana kita sebenarnya?” gerutunya. Dia benar-benar tidak suka kejutan, dan aku tahu itu. Tapi biarlah, toh ini hari spesial.

“Diam dan ikuti aku saja.” ujarku.

Donghae mempererat genggamannya padaku dan menarik napasnya lalu dihembuskannya pelan-pelan, aroma napasnya menenangkan. Dia berjalan dalam diam seperti instruksiku, kadang dahinya  mengernyit jika ada yang sedikit saja menyentuh ujung kemejanya. Jika seperti itu, dia akan menahan napas untuk menandai ketidaksukaannya. Aku geli memperhatikan raut mukanya yang seakan-akan habis dihantam lonceng kuil Shaolin. Tapi diam-diam aku menikmati suasana ini, aku memperhatikan namjaku. Dia benar-benar tampan, kaos V-neck putihnya berbalut kemeja biru muda yang lengan panjangnya ia gulung sampai siku. Aku juga menikmati aroma BB Lotionnya, Laneige Homme, yang wanginya maskulin.

“Masih jauh?” tanyanya tak sabar.

“Sebentar lagi, belok kiri dan kita akan sampai.” jawabku santai.

“Oh..oke.” sahutnya lembut.

“Setidaknya di sini tidak ada yang menyentuhku.” gumamnya, lebih untuk menenangkan phobia anehnya. Lagi-lagi aku menahan senyum, siapa yang tidak geli punya pacar sepertinya.

“Apa ini? Kau mengajakku ke Perpustakaan Nasional Korea?” tanyanya tak percaya.

Kami berdiri di depan gundukan anak tangga yang di atasnya tepat berdiri Perpustakaan Nasional Korea. Gedung yang terdiri dari 8 lantai termasuk 1 lantai bawah tanah ini punya koleksi lebih dari 6,5 juta dokumen, termasuk 260 ribu naskah dan peta kuno. Perpustakaan ini juga menyimpan Sipchilsachangogeumtongyo (volume 17) yang telah ditetapkan sebagai Harta Nasional Korea Selatan.

“Ne, ada masalah? Tidak kan? Ayo naik!” pintaku tanpa mempedulikan mulutnya yang terbuka lalu tertutup dan terbuka lagi – persis seperti nemo. Jelas sekali Donghae kehabisan kata-kata, atau dia tidak mau membantahku karena takut tendanganku melayang ke tulang kering di kakinya.

Dia menaiki anak tangga dengan tidak bersemangat.

“Sekarang, apa yang akan kita lakukan? Apa kita akan membaca naskah kuno? Coba kau lihat mana ada orang yang datang ke sini?” matanya menyapu area di sekitar perpustakaan mencari orang normal yang mau ke tempat seperti ini di akhir pekan.

“Lihat! Hanya ada paman tukang kebun yang sedang mencabuti rumput dan sekelompok pelajar berkacamata tebal yang kelewat cepat untuk belajar menghadapi ujian negara. Huh!! Kukira aku akan mendapati kencan yang menyenangkan. Kukira kita akan ke theme park, Seoul Tower, atau nonton film Jackie Chan di bioskop. Kalau begini aku lebih memilih mencari undur-undur di pantai sambil membawa Ddangkoma. Atau main game seharian dengan Kyu, meski kesempatanku untuk menang darinya sangat tipis.” Donghae mengoceh sebanyak yang ia mampu.

“Sudah selesai bicaranya?” tanyaku kalem.

“Hoh! Ehmm..ye.” jawabnya pelan. Donghae seperti berusaha membaca air mukaku, mengantisipasi apakah aku akan mengamuk dan mendaratkan tinjuku ke lengannya karena celotehannya tadi.

“Baiklah.” kataku, mungkin terdengar sedikit tidak sabar di telinganya, karena ia mundur sebanyak langkah kakiku saat hendak mendekatinya.

“Oo…wae?” tanyaku tersinggung.

“Opso…” ia menggelengkan kepalanya dan berusaha pasrah.

“Lee Donghae ssi…” aku menggantungkan kalimatku saat berdiri tepat di hadapannya.

“Saranganta…” lanjutku, aku menyibakkan poninya dan berjinjit untuk mengecup keningnya.

Satu detik, dua detik, tiga detik, oh entahlah aku begitu menikmati sensasi saat bibirku menyentuh kulitnya. Sampai otot-otot kakiku protes aku baru menyudahinya.

Sekarang kami bertatapan dan aku pun tersenyum padanya, semanis yang kubisa, kuharap senyumanku tak lagi sekedar menggetarkan hatinya. Seperti seorang yang tamak, aku ingin menguasai hatinya kali ini dan untuk seterusnya.

“Yoong…” balasnya lirih, matanya mulai berkaca-kaca.

Aku menutup gerakan bibirnya dengan telunjukku dan menggeleng. Sepertinya ia menangkap kode jangan-protes-dan-terima-saja dariku, karena ia mengangguk pelan.

Sarang-haneun Donghae ssi saeng-il chukahamnida” bisikku ke telinganya.

Aku memberinya pelukan hangat dan ciuman di kedua pipinya. Saat kutatap Donghae, matanya sudah basah begitu pula dengan mataku. Tapi tetap kuusahakan sebuah senyuman untuknya.

“Im Yoon Ah…kau,” Donghae menyeka airmatanya sambil mendongakkan kepalanya, mencoba menahan keluar airmatanya lebih jauh.

Aku tersenyum melihatnya menutup dan membuka kelopak matanya berulang-ulang. Tidak lama kemudian, jemari tangannya merengkuh pipiku, dan kedua ibu jarinya bergerak seirama menghapus jejak airmata di pipiku. Donghae menatapku hangat dan dalam, aku seperti di X-ray olehnya.

“Gomapseumnida, Yoona sayang.” katanya lembut.

Donghae mendaratkan kecupannya di kepalaku. Kurasakan dia menghirup aroma lavender dari rambutku dengan penuh gairah. Aku terpaku, hidungku hanya beberapa centi dari jakunnya. Oh…untunglah aku hampir menghabiskan setengah botol shampoo pagi ini, jika tidak, mungkin Donghae akan mundur dan mendorongku hingga jatuh menggelinding melewati anak tangga-anak tangga tadi. Dan aku berakhir dengan tubuh tebujur kaku di bawah sana sementara Donghae berjalan pergi sambil bernyanyi ~Sorry-sorry~ Aku menggeleng untuk menghilangkan khayalan konyolku itu.

“Waeyo?” tanyanya bingung.

“Anio, amugeotto eopseoyo.” jawabku malu.

Donghae meletakkan pot bunga yang sedari tadi kupegang di dekat kakiku lalu ia tersenyum padaku, senyumnya sangat manis…manis sekali malah, ini kelewat manis bagiku. Apa ini?! Apa ini hukum keterbalikan? Kenapa hatiku yang bergetar sekarang? Kumohon…hentikan senyum itu, aku tidak mau terlihat konyol di depanmu Hae! Aku memejamkan mataku, berusaha mengontrol hatiku.

“Yoona…naneun…” tangan kanannya mengangkat daguku sedangkan tangan kirinya menyangga tengkukku. Donghae mendekatkan wajahnya dan memiringkan kepalanya. Lalu ia mencium bibirku, lambat pada awalnya lalu terasa begitu bergejolak tapi ini lembut, yeah ciuman yang lembut dan bersemangat. Aku balas menciumnya, satu tanganku menarik kemejanya, tanganku yang lain meremas rambutnya. Sementara tangan kanan Donghae beralih memeluk pinggulku. Berapa lama kami berciuman? Mungkin hampir 3 menit. Kalau selama itu, ramen yang biasa kumasak sudah matang.

Aku menyerah lebih dulu, Donghae pun sepertinya bisa menerima. Kepala kami tertunduk dan tertumbuk. Kami menghembuskan napas panjang-panjang dan bergantian. Aku tertawa pelan, Donghae pun demikian. Kami saling menatap dan melempar senyum penuh arti. Lalu tiba-tiba,

“Meooonnngg~~…” suara kucing mengagetkanku. Aku spontan menjinjit dan memeluk Donghae.

“Dimana kucingnya? Usir…cepat usir!” pintaku ketakutan.

“Sssuhhh!!” Donghae mengambil batu kecil dan melemparnya ke arah si kucing.

“Pergi kau, mengganggu orang pacaran saja.” canda Donghae.

“Tidak lucu Lee Donghae!” sahutku sambil mengembungkan pipi dan mendelik sebal padanya.

“Hoh…benarkan? Jika tidak ada kucing itu mungkin sudah ada yang kedua.” belanya.

“Yang kedua apanya?” tanyaku bingung.

“Itu.” Donghae menyentuh bibirku dengan telunjuknya.

“Aaa…Donghae ssi, hentikan! Kau membuatku malu.” Aku menutup mukaku yang seperti terbakar dan semerah udang rebus.

Donghae melepaskan tanganku dari wajahku dan mencubit kedua pipiku.

“Yoona, kau lucu jika sedang malu. Kau itu pacarku yang lucu dan menggemaskan.” hiburnya. Ia tersenyum lebar.

“Jadi dimana kadoku?” Donghae menuntut hadiahnya yang lain.

“Ini.” Aku mengambil pot bunga Dandelion dan menunjukkannya pada Donghae.

“Tidak mau!” tolaknya.

“Katamu itu bukan apa-apa. Aku mau yang apa-apa sebagai hadiahku. Mana?” tuntutnya lagi.

“Sekarang ini menjadi apa-apa. Terima saja!” ancamku sambil mengepalkan tinju.

“Aahh! Kau ini, mana ada pacar yang galak seperti dirimu, apalagi di hari ulang tahun pacarmu.” rengeknya. Tapi tetap diterimanya pot itu dan dibukanya.

“Waa…Dandelion? Darimana kau tahu aku sedang mencari Dandelion?” serunya takjub.

“Gomawo Yoong…” ungkapnya sambil mengacak rambutku.

Aku tersenyum lebar dan bertanya penasaran, “Kenapa Dandelion?”

Dia pun menjawab, “Bunga dandelion, terlihat sangat rapuh, namun sangat kuat, sangat indah, dan memiliki arti yang dalam. Kuat menentang angin, terbang tinggi dan menjelajah angkasa, dan akhirnya hinggap di suatu tempat untuk tumbuh menjadi kehidupan baru.”

Akhirnya aku mengerti. Tampaknya makna Dandelion itu seperti seseorang yang sedang mencari separuh hatinya, terombang-ambing oleh ganasnya angin, dan sampai suatu saat dimana dia akan menemukan pelabuhan terakhir untuk menyempurnakan separuh iman darinya. Aku tersenyum tulus pada Donghae, mungkinkah aku tambatan terakhirnya?

“Ya, tentu saja ini akan berakhir padamu.” gumam Donghae yang seolah bisa membaca pikiranku barusan.

“Lalu..ehmm…” Donghae memutar bola matanya dua kali sebelum melanjutkan kalimatnya, “mana hadiahku yang lain?” tanyanya polos.

“Hoh! Kau ini seperti anak kecil saja, berapa hadiah yang kauharap bisa kau dapatkan tahun ini hah?” tanyaku pura-pura kesal.

“Ehmm…setidaknya dua atau tiga lebih banyak dari hadiahku tahun lalu.” jawabnya enteng sambil nyengir lebar.

“Hah…lihat saja nanti malam, mungkin kau akan mendapatkannya di Handel and Gretel.” Aku melempar senyum-penuh-rahasia di hadapannya.

Hening sesaat. Lalu Donghae membuka percakapan,

“Yoona, gomawo…jeongmal gomawoyo.” Pernyataannya terdengar tulus.

“Terimakasih untuk kencan dan hadiah indah ini.” lanjutnya sambil mengangkat pot bunganya.

“Kau benar-benar telah menyentuh hatiku. Dan kupikir hatiku tertawan selamanya olehmu.” Donghae mengungkapkan perasaannya. Matanya memancarkan keteduhan, dan kurasa aku benar-benar tersihir karenanya.

“Na do…gomawo Donghae ssi karena kau sudah menggenggam hatiku.” balasku lembut. Aku melempar senyum manisku – semanis senyum rusaku, padanya.

“Hey! Apa kalian sudah selesai?” Suara orang ketiga yang selalu menggangguku dan Donghae terdengar. Aku dan Donghae pun mencari sumber suara itu. Di bawah sana, tepat di depan anak tangga pertama berdiri Lee Hyukjae dan… Apa? Semua teman-temannya? Semua anggota Super Junior yang bertahan, berdiri dan mendongak menatapku dan Donghae.

“Sejak kapan kalian di situ?” seru Donghae kesal.

“Sejak kapan lagi menurutmu? Ya sejak kau mencium Yoona…” teriak Eunhyuk.

Apa?? Aku seperti ingin menggelindingkan tubuhku di tangga saat itu juga. Kenapa si yadong itu berteriak semau mulutnya? Bagaimana jika orang lain mendengar? Well…sejauh radius pendengaran kami, mungkin tidak akan ada yang mendengar dengan jelas, tapi tetap saja, kenapa dia harus berteriak sih?

“Apa kalian masih mau di situ sampai siang bolong hah? Ayo pulang, aku ada janji dengan Kang Sora nih.” keluh Leeteuk.

“Kalau mau pulang, pulang saja, kenapa harus bawa-bawa kami. Apa kau yang mengundang mereka ke sini?” omel Donghae padaku.

“Hoh! Bukannya kau?” serangku balik.

“Haa..jinjja! Mereka merusak kencan kita saja, Yoong~ eotteoke?” Donghae mengacak-acak rambutnya tanda frustasi.

Kami pun pulang dengan kegaduhan layaknya rombongan sirkus. Di depan berjalan Leeteuk oppa yang melempar senyum pada semua gadis yang lewat dan bersorak girang ke arah kami, di sampingnya Shindong oppa yang memeluk sekantong snack sibuk mengunyah tanpa henti sambil sesekali mengedipkan matanya pada ahjumma-ahjumma yang juga tak kalah girangnya. Ryeowook oppa yang mengalungkan tangan kirinya di lengan kananku segera mengipasiku dan dirinya –  kebanyakan dirinya sendiri sih, dengan kipas bergambar Sohee Wonder Girl, aku curiga kipas itu diambilnya diam-diam dari kamar Heechul oppa. Sedangkan Eunhyuk oppa, jelas dia menyerobot tempat di antara aku dan Donghae. Dia mengalihkan perhatian Donghae dariku dengan melontarkan cerita-cerita yadongnya. Saat itu juga Kyuhyun oppa merangkul pundakku sambil menggenggam sesuatu.

“Apa yang kau genggam?” tanyaku curiga.

“Bukan apa-apa.” jawab Kyu santai.

Aku tidak percaya dan memukul-mukul genggamannya agar terbuka, bahkan kucoba tarik sekuatku. Saat terbuka…memang tidak ada apa-apa.

“Nah…tidak ada apa-apa kan? Kenapa sih kau selalu tidak percaya padaku?” goda Kyu sambil tetap tersenyum jahil.

Aku menggelengkan kepalaku kepadanya dan melotot sambil memberi sinyal, jangan-macam-macam-denganku. Hah! Seandainya ada Siwon oppa di sini, mungkin aku akan aman dalam lindungannya, dan tidak perlu repot-repot diapit oleh dua namja tengil macam Ryeowook dan Kyuhyun. Terutama Kyuhyun!

Sementara itu Donghae, Eunhyuk, Yesung dan Sungmin sibuk dengan obrolan mereka.

“Hyung kenapa kau bawa Ddangkoma segala sih?” tanya Donghae pada Yesung.

“Entahlah, Kyu bersikeras menyuruhku membawanya. Padahal aku mau Ddangkoma istirahat, dia sudah berjalan sejauh 2 meter bolak-balik pagi ini. Kaki-kakinya pasti lelah, dan lihat tempurungnya…dia kan tidak bisa terkena sinar matahari terlalu lama.” jelas Yesung dengan tampang polos mendekati bego.

“Hey Sungmin! Mana payung Ddangkoma. Tadi kan kusuruh kau membawanya.” tanya Yesung pada Sungmin.

“Omo! Mianhae hyung, kurasa aku meninggalkannya saat aku beli es krim di ujung jalan tadi.” jawab Sungmin tanpa muka penyesalan sedikit pun.

“Mwo!” Yesung mendekati Sungmin dan memukul kepalanya, mereka siap bertengkar. Sementara Kyuhyun menyeringai senang karenanya.

Aku menyipit memandang Kyu.

“Mwo?” tanyanya dengan tampang tak bersalah yang dibuat-buat.

“Apa yang kau rencanakan Kyuhyun ssi?” tanyaku masih menyipitkan mata.

“Opso~ apa sih maksudmu, aku tidak mengerti.” jawabnya sepolos mungkin.

“Oke…jawab pertanyaanku, apa kau yang membawa kucing itu dan melemparnya ke arah kami tadi?” Entah kenapa aku menanyakan hal itu, tapi kecurigaanku cukup beralasan.

“Anio…” jawab Kyu, tertangkap olehku kilatan kejahilan yang tersisa di sudut matanya.

“Oh…jadi kucing tadi, kucing yang kau bawa dari rumah berpagar bata di sana itu ya Kyu.” celoteh Ryeowook sambil menunjuk arah Barat Daya dengan kipasnya.

“Oh…jadi kucing itu untuk mengganggu Donghae hyung dan  Yoona…pantas saja warna bulu dan ekor pendeknya sama.” terang Ryeowook oppa benar-benar innocent.

“Kyuhyun ssi!!” geramku tak sabar, aku pun menjewer telinga Kyuhyun oppa tanpa kasihan.

“Aa…aa..aaaa, sakit, sakit Yoong. Ya..ya..aku mengaku, aku mengaku salah. Tapi aku hanya disuruh oleh Eunhyuk hyung.” Kyuhyun menahan tanganku untuk menarik telinganya lebih panjang lagi.

“Lee Hyukjae ssi…!!!” teriakku pada Eunhyuk oppa.

Kudapati Eunhyuk oppa sudah bersembunyi di balik punggung Donghae begitu sadar namanya kuteriakkan. Tapi Donghae membalas kekesalanku dengan memukul Eunhyuk.

“Yaa…Hyuk, jadi itu tadi ulahmu ya? Dasar kau?!!” erang Donghae.

Yang lain tertawa melihat misi Eunhyuk yang ketahuan. Kyuhyun tertawa paling keras.

“Im Yoon Ah, kenapa kau ajakku ke Perpustakaan Nasional Korea?” tanya Donghae tiba-tiba, saat kami berhasil memisahkan diri dari rombongan makhluk planet itu.

“Apa kau lupa?” aku balik bertanya.

“Apa?” tanyanya lagi.

“Ahh…kau ini, bukannya di sana kau pertama kali bertemu denganku dan selalu datang untuk bisa melihatku.” jelasku sedikit gengsi.

“Anio, maksudku kenapa harus pada kencan kita kali ini, kenapa tepat di hari ulang tahunku?” tanyanya masih penasaran.

“Kau tidak tahu Lee Donghae ssi, ah…kau ini babo~… Berapa sih nilai Sejarahmu?” godaku.

“Ba..babo??” ulangnya tak percaya. Mukanya mendadak masam.

“Hahaah hentikan memasang tampang seperti itu, itu membuatku geli.” kataku.

“Kau tahu kapan pertama kali perputaskaan itu dibuka?”

Donghae menggeleng polos.

“Tanggal 15 Oktober 1945, dan tepat 41 tahun kemudian lahirlah seorang namja keren yang sekarang jadi pacarku.” jawabku singkat sambil pura-pura memperhatikan  tatanan ubin merah yang membuat pola diagonal di pedestrian yang kami lalui.

“Yoong…jadi begitu.” responnya.

Donghae lalu menarikku dalam dekapannya dan memelukku erat, “Saranghae…” bisiknya.

“Dong…Hae…a..a..ku..ti..dak…bis…a…berr…nap…ass~” ujarku terengah.

-Fin-

 

A/N:

Reader: “Dimana benang merahnya??”

Author: “Saya harap ada yang ingat jika Yoona menjatuhkan kartu keanggotaan Perpustakaan Nasional saat pertama bertemu Donghae.”

Reader: “Kok Yoona bilang mereka pertama kali bertemu di Perpustakaan Nasional? Bukannya di depan sebuah toko saat menunggu hujan reda.”

Author: “Memori seorang wanita tentang sebuah pertemuan adalah yang paling berkesan, saya rasa Yoona mendapat kesan “sedikit dihina” saat dibilang tawanya mirip rusa oleh Donghae. Itu sebabnya tempat dimana mereka pertama bertemu dan saling bicara satu sama lain berbekas dalam ingatan Yoona sebagai pertemuan pertama. Sementara pada pertemuan terdahulu mereka, saya buat Yoona tidak begitu memperhatikan Donghae, (ˇ_ˇ’!l)”

Reader: “Oh..gitu, terima kasih penjelasannya thor~~ ” #mukamaless

Author: “Sama-sama…” #tariknapas #keringetdingin ><”

Kkk~ ini sequel gak jelas banget ya…langsung lompat ke 2 tahun kemudian… -__-” semoga kalian senang…jika tidak senang salahkan author >.<

Oh ya, Fanfic ini pernah dipublish di blog tetangga, tapi main castnya bukan Yoona melainkan OC…karena saya mengirim Fanfic ini di Republik SM Ent. Maka saya ubah jadi Yoona…^^,


29 thoughts on “[sequel] You Touched My Heart

  1. kyaaaa… mau bgt jd Yoona.. bisa jd pacar donghae oppa truz dket sama semua member SUJU gitu.. ><
    cerita'n sih emang rada aneh.. Tp aq suka klo ada YoonHae'n heheee ^^ donghae oppa romantis n manja bgt klo sama yoona ^^

    Like

  2. Aah suka sekali sma ffnya..
    Ceritanya ga terlalu berat jd mudah utk dipahami arah jalan ceritanya..😀
    Hhm..ditunggu Ƴª krya² selanjutnya, terutama klo main cast-nya YOONA unnie..🙂

    Like

  3. kejutan ultah yah
    akhirnya kok ga jd d H&G?
    pdhal penasaran ada kejutan apa lagi yg disiapin Yoong.
    keep writing chingu
    jgn bosen tulis YoonHae yah

    Like

  4. Siapa bilang ga jelas thor, malah q suka. Apa lagi pas kencan yoonhae gagal karena ulah member suju yang lain meski ga semuanya ada sich, tapi kalau pun ada pasti siwon, heechul ga rela kalo kyu jahilin yoona. Hahaha,,,
    iri banget ma yoona sedekat itu ma member suju,,

    Like

  5. woooow daeebaaaaak, mantaaabh bgt nie trnyata nie critany, benang merahny brmakna skali, kyany chingu curcol nie hihihiiiii…

    ditunggu sequelny lg chinguuu, yoonhae jjang!!

    Like

  6. Ngakak pas bagian yoona ngekhayal itu=))
    daebak, terus bikin ff YH ya kalau bisa dipost jg di yoonghaeutiful.wordpress.com, aku readers di sana😀 *gakadaygnanya

    Like

  7. Keren chingu,,,,,,so sweet bgt,,,,,,,
    mau donk jd yoona unnie biar bsa brduan ma haeppa:)
    hyukppa cemburu niihh…….
    Aq ska smua FF klu ad yoonhae.a:)

    Like

  8. Keren.Bagus.suka ff nya8-)
    so sweet YoonHae ~ lucunya juga ada ^^ apalagi ada evilKyu xD haha
    ada sequel nya ga thor? Ditunggu deh next ff YH😉

    Like

  9. wah daebak bingitt ffnya.
    Yoonhae so sweet banget. Bikin iri.

    Hae manja deh.
    Jadi gemes.

    Kudu baca before storynya nih.
    Hehehe.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s