Music Love Story [Chapter 1]


Music Love Story [Chapter 1]
Author  :: Hasnasadewo
Genre  :: Romance
Tipe     :: Chapter
Cast     :: Kim Jonghyun, Jung So Ra
* * *
Di hari yang sangat cerah, angin berhembus dengan lembutnya. Seorang gadis  cantik berjalan dengan membawa sebuah koper berukuran sedang dan juga tas mahal di bahunya. Ia berjalan menelusuri jalan panjang di bandara Incheon. Dia adalah Jung So Ra, seorang gadis belia yang berparas cantik dan dengan wajah yang putih bersih dan bibir merah muda serta rambut panjang yang lurus berwarna hitam.
Ia baru saja datang dari New York, dan dia datang ke Seoul untuk masuk ke Universitas S yang selama ini ia dambakan. Jung So Ra memiliki ibu yang lahir di Seoul Korea Selatan dan ayah yang lahir di New York Amerika. Itulah sebabnya So Ra yang lahir di Seoul 20 tahun lalu  itu sempat menetap di Seoul selama 2 tahun dan pindah ke New York. Ia cukup lancar berbahasa Korea. So Ra adalah seorang gadis cerdas, saat masih di sekolah menengah, ia sering mencari universitas yang menurutnya bagus dan cocok untuknya. Hingga akhirnya ia menemukan Universitas S di Seoul sebagai tujuannya.
Jung So Ra seketika melihat jam yang ada di tangan kirinya, lalu segera mempercepat langkahnya. Sambil melihat poster yang tertempel di sepanjang jalan menuju pintu keluar, So Ra memikirkan hal-hal yang ia butuhkan untuk mengawali hidupnya di Seoul. Namun langkahnya terhenti di depan sebuah poster yang bertuliskan ‘The Big Music Show by The Best Musician of The Year’. Ia membaca tiap detail dalam poster tersebut, namun seketika dia berkata, “hmm, sayangnya aku tak tertarik dengan musik”. Jung So Ra kembali berjalan menuju pintu keluar. Sesampainya di luar bandara Incheon, So Ra menghentikan langkahnya di samping sebuah taksi. Ia hanya cukup berdiri dan membiarkan seorang supir taksi mengangkat kopernya untuk dimasukkan bagasi, setelah itu So Ra masuk ke dalam taksi tersebut. So Ra segera mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa angka yang ada, ia ingin menghubungi seseorang.
“Halo, ibu ? Aku hanya ingin bertanya, di mana alamat apartemenku ?”, tanya So Ra pada orang yang  ia hubungi. “Ah, ibu lupa memberi tahumu ya ? Maafkan ibu, ibu tidak hafal alamatnya. Setelah ini ibu akan mengirimkanmu pesan ya”, jawab orang di seberang telepon yang ternyata adalah ibunya So Ra. “Baiklah bu, kutunggu segera”, ucap So Ra seketika telpon terputus. Tak lama kemudian supir taksi tadi masuk dan duduk di kursi kemudi, saat itu juga So Ra menerima sebuah pesan dari ibunya. Supir taksi itu lantas bertanya kemana tujuan penumpangnya itu, lalu So Ra memberikan alamat yang tertulis di ponselnya. Supir taksi itu segera menjalankan taksinya dan berangkat menuju tujuan, apartemen So Ra.
*
Di Seoul, So Ra hidup sendiri. Kedua orang tuanya masih harus bekerja dan harus merelakan anak tunggal mereka itu pergi ke Seoul untuk mencapai cita-citanya. Beberapa waktu kemudian taksi berhenti di depan sebuah gedung bertingkat tinggi berwarna putih. So Ra turun dari taksi itu dan begitu juga sang supir taksi. Koper So Ra diturunkan oleh sang supir taksi, lalu So Ra memberikan sejumlah uang pada supir taksi itu. So Ra berjalan memasuki gedung  apartemen itu. Ia berjalan menuju sebuah lift yang pintunya masih terbuka, lalu Jung So Ra menekan tombol ‘11’ yang ada di dinding lift tersebut. Beberapa waktu kemudian, So Ra sampai di lantai 11 dan segeraa berjalan menuju sebuah pintu bertuliskan angka ‘408’.
So Ra tersenyum sambil melihat sebuah plat bertuliskan ‘408’ dan segera membuka pintu ber-password itu. Ia sudah diberi tahu password nya. Mata bulat nan indah milik Jung So Ra menyapu seluruh ruangan di depannya. Seakan ia tak sanggup mengedipkan kedua matanya lagi, ia begitu kagum akan keindahan dekorasi ruangan tersebut. Lantas So Ra berkata, “pasti room-mate ku adalah seorang gadis cantik yang cinta kebersihan dan keindahan” lantas So Ra tersenyum lebar. Yang So Ra tahu, ia akan tinggal dengan seorang room-mate yang juga satu universitas dengannya.
So Ra berjalan menelusuri ruangan yang cantik itu, hingga ia melihat selembar poster di atas meja ruang tengah. Poster itu adalah poster yang tadi ia lihat di bandara. So Ra lalu berpikir , “apakah room-mate ku ini pergi untuk menonton pertunjukan musik ini ?”. Yang So Ra pikirkan saat itu adalah, ia memiliki seorang room-mate cantik dan berkepribadian  baik dan menyukai musik. Sayangnya So Ra tidak suka musik.
So Ra yang lelah berjalan menuju dapur yang tertata rapi, ia membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Ketika ia menutupnya, ia melihat selembar kertas yang tertempel di pintu kulkas. ‘Selamat datang room-mate baru ! Semoga kamu menyukai tempat ini. Maaf aku tak bisa menyambutmu ketika kamu datang, aku sedang pergi ke sebuah pertunjukan musik. Sepulang dari acara itu nanti aku mempunyai beberapa urusan yang harus aku selesaikan, mungkin aku tidak pulang untuk beberapa malam. Aku akan segera menemuimu. Dari room-mate mu’, begitulah tulisan yang ada dalam kertas itu. So Ra semakin senang karena room-mate nya benar-benar baik padanya.
*
So Ra merasa begitu  lelah, namun  ia tetap segera merapikan barang-barangnya di dalam kamar barunya. Memasukkan pakaiannya ke dalam  lemari dan menata barang-barang di sekitar tempat tidur dan meja belajarnya. Setelah itu So Ra membaringkan tubuhnya di atas sebuah tempat tidur berwarna putih elegan yang empuk. Dalam sekejap ia terlelap dalam dunia mimpinya.
Hari sudah menjadi gelap, petang telah datang. So Ra terbangun dari tidur lelapnya. Ia pergi ke kamar mandi di samping kamarnya. Ia terhenti sejenak dan memandangi ruangan dengan pintu tertutup di depan kamarnya itu. “Pasti itu kamar room-mate ku”, ucapnya. So Ra segera masuk ke kamar mandi yang terletak di antara kamar So ra dan kamar room-mate So Ra. Beberapa menit kemudian So Ra keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. So Ra lantas mengganti pakaiannya dan menuju ke ruang tengah.
“Apa lebih baik aku juga pergi ke pertunjukkan ini  ? Aku bosan sendirian di rumah seperti ini. Meskipun aku tidak terlalu menyukai musik, tapi mungkin aku akan bertemu dengan room-mate ku di sana”, ucap So Ra sambil memandangi poster yang ada di meja. Jung So Ra tak perlu berpikir lama, ia segera mengganti pakaiannya dan mengambil tasnya lantas pergi meninggalkan apartemen barunya itu.
So Ra segera naik ke sebuah taksi yang telah ia pesan sebelumnya dari resepsionis apartemen. Ia memberikan alamat seperti yang terulis di poster kepada sang supir taksi, lalu taksi itu segera berangkat ke tujuan So Ra.  Sekitar 1 jam lamanya perjalanan So Ra menuju tempat pertunjukan. So Ra membeli tiket di sebuah loket di depan bangunan itu sesaat setelah sampai di sana. So Ra langsung masuk ke gedung pertunjukan yang megah itu. Dan  ia segera duduk di kursi sesuai dengan tiket yang ia dapatkan.
So Ra yang tidak begitu menyukai musik tidak memperhatikan hal-hal yang ada di atas panggung. Ia justru sibuk mencari sesuatu. “Kira-kira yang mana ya room-mate ku, apa dia duduk di sekitarku?”, tanya So Ra dalam hati sambil menoleh dan memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
Namun seketika So Ra dekejutkan dengan suara alunan piano yang indah yang berasal dari atas panggung. Sebuah alunan yang memecah konsentrasi So Ra yang sibuk mencari room-mate nya.So Ra merasakan sesuatu yang merasuki hatinya, sesuatu yang mengajaknya untuk mengetahui bahwa alunan ini dapat membuatnya menjadi lebih menyukai musik. Alunan itu perlahan membuat hati So Ra tersentuh, tetesan air mata membasahi pipi So Ra yang bahkan tidak tahu mengapa ia menangis. Yang bahkan tak mengerti tentang musik.
Namun alunan piano yang dimainkan orang tersebut berhasil membuat penonton mengerti bahwa ini adalah alunan yang menggambarkan kesedihan. So Ra tak suka hal seperti ini, ia langsung berdiri. Dan So Ra yang berdiri itu membuat suara berisik di tengah pertunjukan, hingga semua orang memandanginya. Bahkan sang pemain piano itupun terhenti dari aktivitasnya. So Ra merasa begitu malu dan langsung berlari ke luar gedung.
*
So Ra tidak ingat betul tentang daerah di Seoul. Ia hanya berlari kemana kakinya ingin melangkah. Hingga ia terhenti di sebuah restoran kecil. Ia cukup lelah dan butuh sesuatu yang mengganjal perutnya yang sedari tadi hanya diisi air mineral. Ia memesan ddokbokki dan segelas air mineral. So Ra tidak suka makan banyak di malam hari. Ia lalu makan sambil mengingat kejadian memalukan yang baru saja menimpanya. Ia semakin malu jika mengingatnya. Jung So Ra yang merasa cukup kenyang, melanjutkan perjalanannya menuju ke apartemen.
Ia tidak tahu kemana ia harus berjalan, ia masih baru. Hanya taksi yang harus ia tumpangi. Namun seorang gadis cantik seperti Jung So Ra memang berbahaya jika harus berjalan sendirian. Hingga seorang pria mabuk menghampirinya, “hey gadis cantik. Sedang apa kau malam-malam begini di jalanan ? Lebih baik kau ikut bersamaku, kita akan pergi ke rumahku”, kata pria tak dikenal itu. “Maaf, tolong jangan ganggu aku”, jawab Jung So Ra. So Ra terus menolak, namu pria itu tetap memaksa, bahkan dia semakin menyentuh tubuh cantik So Ra. Seorang Jung So Ra sedang dalam bahaya.
BRUK ! Pria itu lantas terjatuh dan lemas, ia yang sedang mabuk tak mampu mebangunkan badannya. Seorang laki-laki ternyata memukul pria itu, suatu pukulan yang dapat melumpuhkan orang mabuk  pengganggu. Jung So Ra yang sangat ketakutan hanya mampu menutup matanya dan terduduk sambil gemetar.
“Apa kamu tidak apa-apa?”, tanya laki-laki itu pada So Ra.
“Aaa ! Jangan ganggu aku, tolong biarkan aku pergi !”, teriak So Ra yang masih ketakutan dan mengira laki-laki itu adalah orang yang tadi mengganggunya.
“Tenang saja, orang tadi sudah tak mampu berkutik lagi. Berdirilah”, kata laki-laki itu, So Ra lantas mengangkat kepalanya dan menyadari ternyata itu bukan priatadi. So Ra berdiri dan kakinya masih lemas. Laki-laki tadi membantu So Ra berjalan dan mengajaknya duduk di sebuah restoran kecil dan memberi So Ra segelas air.
Setelah So Ra merasa lebih baik, laki-laki itu langsung bertanya. “Loh, bukankah kamu orang yang tadi menghentikan pertunjukan?”, tanyanya.
“Bagaimana kamu tahu ? Apakah kamu ada di sana juga ?”, tanya So Ra yang kaget dan malu.
“Iya, kamu mudah sekali dikenali. Semua orang menggunakan pakaian berwarna putih, hitam, dan cokelat. Sedangkan kamu menggunakan kaos merah dan blue jeans yang sangat berbeda tentunya.Dan aku adalah orang yang kamu hentikan permainan pianonya. Sebenarnya itu sangat mengganggu”, ucapnya.
“Apa ?! Maafkan aku…”, So Ra semakin malu.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu membuat suara yang bisa mengganggu itu ?”, tanya laki-laki itu.
“A, aku.. Aku hanya tidak suka musik, maka aku ingin keluar”, jawab So Ra.
“Tidak suka musik ? Lantas kenapa kamu datang ?”, laki-laki itu menjadi bingung.
“Aku hanya iseng”, So Ra menjawab lantas menundukkan kepalanya.
“Baiklah. Oh iya, aku baru ingat. Perkenalkan, aku Kim Jonghyun”, ucap laki-laki itu. “A, a.. Aku Jung So Ra”, jawabnya terpatah-patah. “Maaf, aku harus pergi. Sudah malam, aku harus segera pulang. Terima kasih banyak”, ucap So Ra lantas berlali meninggalkan Jonghyun.
So Ra berhasil mendapatkan taksi dan kembali ke apartemennya dengan selamat. Sesampainya di apartemen, So Ra segera mandi dan beristirahat. Di tempat tidur, So Ra hanya berpikir. “Untung saja ada laki-laki tadi. Kim Jo, Jong, Jong siapa ya ? Aku bahkan sudah lupa namanya. Aa ! Jonghyun ! Aduh, besok aku harus melakukan apalagi ya ? Hari pertama masuk kuliah masih 2 hari lagi”, tanya So Ra lantas tertidur.
*
Di lain tempat, Kim Jonghyun yang baru saja sampai di sebuah hotel dekat gedung pertunjukan langsung masuk ke kamarnya. Jonghyun adalah seorang musisi hebat. Ia bisa memainkan banyak alat musik dan memiliki vokal yang kuat nan indah. Ia memiliki wajah putih tampan dan rambut cokelat kehitaman serta tubuh ideal dan memiliki mata indah serta bibir yang sering disebut seksi.
Meskipun Kim Jonghyun juga tinggal di Seoul, tapi ia harus menginap di hotel dekat gedung pertunjukan itu sampai pertunjukannya selesai. Jonghyun yang begitu lelah juga membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya. “Kenapa gadis tadi terus masuk dalam bayanganku sih ? Matanya bulat, indah, bibirnya, merah muda.. Aku sangat yakin tadi dia tidak menggunakan lip gloss atau apapun, karena bibirnya merah muda alami. Rambutnya juga hitam dan indah, ia begitu cantik. Ah ! Apa yang aku pikirkan ? Tunggu tadi siapa ya namanya, Jung So … Ra ! Ah, sudahlah ada apa denganku ini”, pikir Jonghyun lantas turut tertidur.
*
Keesokan harinya Jonghyun terbangun. Begitu bangun, ia segera bersiap-siap untuk persiapan pertunjukan hari itu. Ia yang bangun sedikit terlambat berlari ke kamar mandi. Sedangkan So Ra yang tidak ingin menganggur hari itu memutuskan untuk pergi ke kampus barunya. Seusai beriap-siap, So Ra pergi menggunakan taksi. Sekitar 20 menit kemudian ia sampai di  Univeristas S. So Ra yang cerdas tak ingin membuang-buang waktu hanya untuk melihat-lihat sekitar kampusnya. Ia segera mencari perpustakaan.
So Ra akan masuk ke Departemen Komunikasi dan Bahasa, maka So Ra mencari buku-buku yang ia perlukan. So Ra tidak lupa untuk mengurus kartu perpustakaan nya, juga artu mahasiswanya. “Oh iya, aku butuh buku panduan untuk Departemen Komunikasi dan Bahasa. Aku mungkin harus bertanya pada pengurus”, tanya So Ra dalam hati yang lantas berjalan menuju meja sirkulasi buku.
“Maaf, aku adalah Jung So Ra. Murid baru yang akan masuk ke Departemen Komunikasi dan Bahasa  besok lusa. Bisakah saya meminjam buku panduannya ?”, tanya So Ra pada wanita pengurus itu. “Aah, tantu saja. Kau begitu begitu sopan dan cantik. Tapi sebelumnya buatlah kartu perpustakaan dan mahasiswamu di bagian kemahasiswaan di sebelah perpustakaan ini”, jawab wanita itu dengan senyum. “Terima kasih banyak ahjumma”, ucap So Ra lalu berjalan menuju ruang yang dimaksud pengurus tadi.
*
So Ra memberanikan diri masuk ke ruangan pengurusan mahasiswa. Ia lalu diminta mendaftarkan diri dengan mengisi data diri. Lalu So Ra diharuskan menunggu selama 1 jam untuk pencetakan kartu mahasiswa dan perpustakaan. 1 jam kemudian So Ra kembali ke perpustakaan dan memberikan kartunya.
”Ah, gadis cantik. Kau sudah datang. Aku baru saja cek buku panduan yang kamu inginkan, tetapi buku itu sedang dipinjam. Dia berjanji akan mengembalikan buku itu besok lusa. Maka ambillah ketika hari pertamamu masuk, pukul 7 pagi. Karena diatas jam itu akan ada yang meminjam lagi”, ucap pengurus itu. “Ah, benarkah ? Baiklah ahjumma. Mm, panggil saja aku So Ra. Terima kasih, aku akan kembali lagi”, jawab So Ra lalu berjalan keluar.
So Ra juga sudah berumur 20 tahun. Maka ia memutuskan untuk membuat Surat Ijin Mengemudi. Sebelumnya, di New York ia suda pernah diajari oleh pamannya untuk mengemudi ketika berusia 18 tahun. Maka tak heran, ketika Jung So Ra selesai mengisi datanya dan melakukan tes mengemudi ia berhasil dengan mudah. Dan So Ra pun mendapatkan Surat Ijin Mengemudinya.
So Ra kembali ke apartemennya dan beristirahat. Sedangkan Kim Jonghyun sedang sibuk dalam pertunjukannya. Ia dengar, hari ini penonton pertunjukan 2 kali lipat dari penonton kemarin. Ia memang lebih sibuk bebrapa hari ini. Tapi dia sangat senang bisa menghibur penonton yang datang. 3 jam telah berlalu, pertunjukan itu selesai dan Jonghyun kembali ke hotel.
Dalam perjalanannya kembali ia teringat oleh Jung So Ra. Gadis cantik yang ia temui kemarin. “Kenapa aku terus teringat gadis itu ? Apa karena ia terlalu cantik ? Haha, lebih baik aku segera istirahat. Besok aku akan menampilkan pertunjukan lagi, dan besok adalah hari terakhir. Esok harinya aku akan kembali kuliah.”, ucap Jonghyun. Hari semakin malam. Jonghyun dan So Ra tertidur.
Ketika pagi datang, Jung So Ra sudah terbangun dan menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya. Ia membuat roti panggang dengan keju dan meletakkan beberapa sayur. So Ra memang orang yang suka menjaga kesehatan, ia akan melakukan apapun dan menghindari apapapun untuk tetap menjaga kesehatan. Sesudah makan sarapan buatannya, So Ra berjalan menuju balkon yang terletak tak jauh dari ruang tengah. Ia dapat melihat pemandangan langit biru yang begitu indah. Setelah itu So Ra kembali ke ruang tengah dan menyalakan TV. Ia terus mengganti dan menekan tombol channel yang ada. Hingga tangannya terhenti di sebuah acara TV yang menampilkan pertunjukan  yang ia datangi beberapa hari lalu. Ia melihat pria yang ia temui sebelumnya, Kim Jonghyun.
Kim Jonghyun memainkan piano dengan begitu indah, dan ternyata jika So Ra tidak meninggalkan gedung itu, ia akan mendengarkan Jonghyun bernyanyi dengan suara indah. Bahkan penonton semakin menangis tersedu-sedu.  Lalu Jonghyun masih akan memainkan alat musik lain dan bernyanyi dengan suara indah yang memberi suatu semangat dan rasa tersendiri pada pendengarnya.
Sesuatu terasa masuk lagi ke dalam  hati So Ra. Ia menjadi berpikir, musik tak begitu sulit dipahami. Tapi tetap saja, So Ra tak dapat menyukai musik. Ia hanya mampu memandangi penyanyi yang di fokuskan oleh kamera. “Benarkah dia orang yang menolongku sebelumnya ? Ia memang memiliki sisi baik yang bahkan sudah terlihat ketika ia tampil di depan orang banyak”.
So Ra merasa begitu lelah, namun ia masih punya suatu rasa penasaran yang belum hilang. Siapakah room-mate nya ? Mengapa ia tak kunjung datang ? Lalu So Ra memutuskan untuk melihat-lihat sekitarnya, ia tak ingin lancang masuk kamar room-mate nya. Ia menemukan beberapa foto Kim Jonghyun terpajang di ruangan itu. “Apakah dia fans berat Kim Jonghyun itu ? Atau jangan-jangan ia ada hubungan dengan Kim Jonghyun ? Mungkin pacaran atau tungangan ?”, pikir So Ra ketika melihat foto-foto itu.
**
Di lain tempat, Kim Jonghyun yang kelelahan karena baru saja menyelesaikan pertunjukannya beristirahat di kamar hotelnya. Dia segera mandi dan lantas tidur. Karena esok hari ia harus pergi kuliah. Begitu juga dengan Jung So Ra.
Sinar matahari belum menyinari langit Seoul, tetapi Jung So Ra sudah bangun. Ia mandi dan mengganti pakaiannya dengan kaos merah dan blue jeans kesukaanya. So Ra mengurai rambut hitamnya. Kaos merahnya itu semakin membuat kulit putihnya lebih terlihat. So Ra tidak menggunakan make-up atau lip gloss. Ia tak perlu semua itu, selain So Ra tak begitu suka berdandan di saat santai ia juga sudah cantik.
So Ra bergegas sarapan dengan menu kesukaannya, roti panggang dengan keju serta sayuran ditambah dengan segelas susu. So Ra selalu ingin sehat. Lalu ia pergi meninggalkan apartemennnya dan pergi naik bus. Beberapa waktu terakhir ia memang sudah mulai mengahafalkan rute bus di Seoul dan lokasi-lokasi yang ia rasa akan ia kunjungi sewaktu-waktu. Dan So Ra mulai mengurangi menggunakan taksi karena ia harus bisa menggunakan uangnya dengan baik, meski sebenanrnya ia dikirimkan uang sebanyak 1 sampai dengan 3 juta won tiap 2 bulan oleh kedua orang tuanya yang memang kaya raya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.55 ketika Jung So Ra sampai di Universitas S. So Ra masih ingat betul kalau dia hanya punya waktu sampai pukul 7 untuk sampai di perpustakaan mengambil buku panduannya. Ia hanya punya waktu 5 menit, sedangkan seingatnya perjalanan ke perpustakaan kemarin adalah 10 menit. So Ra memutuskan untuk berlari. Saat berlari So Ra juga melihat ke jamnya, begitu banyak orang yang memandanginya. Seorang gadis cantik yang tak pernah mereka lihat berlari dengan rambut hitam berkibar, sebuah pesona seakan menghipnotis tiap mata yang memandangi So Ra yang berlari. So Ra tetap melihat jamnya yang menunjukkan waktunya tinggal 2 menit.
BRAK ! “Maaf, maafkan aku”, So Ra tak sengaja menabrak seorang laki-laki yang yang baru saja keluar dari perpustakaan dengan buku-buku tebal berserakan. So Ra lantas menolong laki-laki itu untuk merapikan buku-bukunya. So Ra tak mampu membantu banyak, ia segera berlari ke sirkulasi dan menemui ahjumma kemarin.
“Maaf, aku So Ra. Apa buku itu masih ada ?”, tanya So Ra.
“Ah, gadis cantik rupanya. Kamu datang tepat waktu, bukunya baru saja dikembalikan oleh orang yang tadi menjatuhkan buku-bukunya di depan perpustakaan, ini”, jawab ahjumma itu sambil memberi buku panduan untuk Departemen Komunikasi dan Bahasa pada Jung So Ra.
“Terima kasih banyak ahjumma”, kata So Ra lantas memberi kartu perpustakaan yang sekaligus kartu mahasiswa nya. Setelah itu So Ra bergegas menuju kelasnya.
So Ra sempat bertanya pada seorang pengurus sekolah dimana letak kelasnya, dan ternyata kelasnya terletak sekitar 10 meter dari perpustakaan. So Ra segera masuk kelas dan mencari tempat duduk. Ia duduk tepat dibelakang seorang laki-laki yang sedang tertidur. Rambutnya cokelat kehitaman, sepertinya ia lelah. Lalu seorang dosen masuk.
“Baiklah semuanya, hari ini kita kedatangan seorang mahasiswi baru pindahan dari New York. Namanya adalah Jung So Ra”, ucap sang dosen yang diikuti tepuk tangan dari seluruh orang di kelas. Lantas Jung So Ra berdiri dan memberi salam. “Halo, nama saya Jung So Ra. Panggil saya So Ra. Mohon bantuannya”, ucap So Ra. Lalu semua orang kembali bertepuk tangan seakan mereka begitu beruntung mendapatkan teman baru yang begitu cantik dan cerdas seperti Jung So Ra.
Laki-laki yang duduk di depan So Ra terbangun mendengar tepuk tangan yang begitu keras. Ia lalu memandangi dosen di depan. Ia hanya bingung mengapa semua bertepuk tangan, karena ia tak sempat melihat So Ra yang sekarang sudah kembali duduk. So Ra memang orang yang sangat pintar. Beberapa kali dosen memberikan pertanyaan, So Ra lah yang dapat menjawab.
Bahkan seorang mahasiswa sempat memberi tahu So Ra, “kau bahkan dapat mengalahkan mahasiswa terpintar di sini.. Lebih tepatnya orang yang duduk di depanmu”. Mata pelajaran kuliah itu berakhir pukul 10.00. Jam istirahat yang dinantikan datang. Namun So Ra melihat beberapa orang dan kebanyakan perempuan menghampiri orang yang duduk di depan So Ra. Lantas So Ra memberanikan diri untuk bertanya. “Mengapa mereka menghampirinya?, tanya So Ra pada teman yang duduk di sebelahnya, Seo Hee. “Ah, ia mereka adalah fansnya”. So Ra pun tak bertanya lagi.
***
Jam pulang telah datang, So Ra berjalan keluar melewati laki-laki berambut cokelat kehitaman itu. Dan langkahnya berhenti ketika seseorang dibelakangnya berkata, “Hey, kau ! Kau yang menabrakku tadi bukan ? ”.
So Ra menoleh dalam posisi membungkuk, “maafkan aku, aku tak sengaja. Aku sedang buru-buru, sekali lagi maafkan aku”. Begitu So Ra kembali menegakkan tubuhnya, So Ra dan juga laki-laki itu sama-sama terkejut. “Jung So Ra !”, “Kim Jonghyun !”, ucap mereka bersamaan.
“Apa yang kau lakukan disini?”, tanya So Ra.
“Tentu saja aku sedang belajar. Ini adalah kampus dan bukan tempat pertunjukan kan?”, jawab Jonghyun. “Tak kusangka kau begitu cerdas, hey.. Kau bahkan menggunakan pakaian yang sama dengan hari itu”,kata  Jonghyun pada So Ra.
“Jjong, bukankah seorang musisi terkenal.. Tapi..”, ucap So Ra.
“Jjong ? Baru pertama kali ada orang yang memanggilku seperti itu, hahaha”, lalu Jonghyun tertawa.
“Bukankah itu lebih singkat? Yasudahlah, aku pulang dulu”, So Ra berjalan.
“Hey Dino ! Tunggu aku !”, teriak Jonghyun pada So Ra.
“Dino ? Apa maksudmu ?”, tanya So Ra dengan nada kecewa.
“Aku belum pernah melihat orang sepertimu sebelumnya, kau sangat langka”, ucap Jonghyun.
“Tapi Dino itu sudah punah, bukan langka lagi !”, So Ra kembali berjalan.
“Dino ! Tunggu ! Yasudahlah itu hanya panggilan kok, maafkan aku”, teriak Jonghyun sambil mengejar So Ra. Sesampainya di pintu depan kampus So Ra mempercepat langkahnya dan menuju ke halte bus dan segera masuk ke bus ketika bus itu datang, sedangkan Jonghyun membawa mobil sendiri.
Setelah sampai di apartemen, So Ra langsung membersihkan diri dan masuk ke kamarnya lalu menguncinya. “Dasar orang aneh, mana ada orang dipanggil dengan nama Dino. Jjong aneh !”, gumam So Ra. So Ra akhirnya memutuskan untuk membaca buku untuk melupakan hal yang baru saja ia alami. Sedangkan Kim Jonghyun yang baru saja kembali ke apartemennya langsung masuk ke kamarnya yang sangat ia rindukan itu. Ia berbaring sebentar.
“Ah, memang kenapa sih kalau aku panggil Dino ? Itu hanya panggilan kan. Tapi kenapa aku tiba-tiba memanggilnya seperti itu? Dia bahkan memanggilku Jjong. Aish. Lebih baik aku mandi dan tidur.”, ucap Jonghyun lantas keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar mandi. Jung So Ra sedang fokus ke bukunya, namun ia masih merasa kesal pada Kim Jonghyun yang ia panggil Jjong itu. Ia memutuskan untuk menulis di buku hariannya.
‘Hari ini aku bertemu lagi dengan Kim Jonghyun, aku bahkan memanggilnya Jjong. Tapi ia aneh, memanggilku Dino. Apa aku punah ? Dia bilang aku langka ? Dasar orang aneh. Sangat menyebalkan. Panggil orang itu harusnya dengan panggilan yang baik-baik kan? Entah kenapa aku harus punya masalah dengannya begini’, tulis So Ra.
So Ra jadi bingung, sebenarnya ada hal apa yang membuatnya begitu aneh akhir-akhir ini. So Ra memutuskan untuk tidur. Namun ia tidak bisa tidur. Ia sudah mencoba beberapa metode seperti menghitung bintang-bintang yang terlihat dari jendela kamarnya. Namun tetap saja gagal. Tiba-tiba So Ra merasa lapar. Memang, sepulang dari kuliah tadi ia belum makan. Tapi sekarang sudah cukup malam, ia lebih pilih untuk minum saja.
So Ra berjalan menuju pintu dan keluar dari kamarnya. Kim Jonghyun yang sudah menyegarkan tubuh lelahnya hanya menggunakan celana pendek kesukaannya dan kaos. Ia merasa kembali menjadi orang biasa. Rambutnya yang masih basah sesekali ia gosokkan dengan handuknya. Jonghyun keluar dari kamar mandi sambil terus menggosok rambut basahnya. Namun tiba-tiba, “Jjong ?!”, “Dino?!”. Ucap seseorang dari depan kamar yang terletak di depan  kamar Jonghyun yang ternyata Jung So Ra dan Kim Jonghyun dari depan kamar mandi samping kamar So Ra.
Ternyata room-mate baru So Ra adalah Kim Jonghyun, dan room-mate baru Jonghyun adalah Jung So Ra !
 bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s