Trapped [Chapter 3]


Judul: Trapped [Chapter 3]

Cast: Jessica Jung, Krystal Jung, Lee Donghae, Minho, Im Yoona, Choi Siwon, Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Kim Kibum, Seo Joohyun, etc.

Author: Ara Yeon / Aracchi

Type: Series

Pairings: HaeSica, MinStal, (possible) YoonBum

Genre: Drama, Romance, Action

Rating: 15+

Warnings: Alternate Universe, Mafia Centric, Violence, Coarse language

 

Disclaimer: Jessica, Krystal, Donghae, etc. bukan milik saya. Saya hanya meminjam nama (dan penggambaran fisik) dari orang-orang tersebut. Apabila ada kesamaan karakter dan cerita, itu semua hanya kebetulan karena fanfic ini murni dari hasil pemikiran saya.

 

 

Normal POV

 

 

“Oppa, coba lihat ke kaca!”

 

“Wae?”

 

“Wajahmu!”

 

“Ada apa dengan wajahku?”

 

“Lihat kalau ekspresimu seperti itu, kau jadi mirip ikan hehehe.”

 

“Enak saja! Aku tidak mau disamakan dengan ikan!”

 

“Eeeh~ tapi cocok kan, namamu kan DongHae. Jadi cocok saja kalau aku memanggilmu ikan.”

 

“Memangnya menurutmu aku mirip Ikan apa?”

 

“Ikan badut!”

 

“Yah, beraninya kau!”

 

SooYeon tersentak dari tidurnya, ia merasa mimpi yang baru saja ia alami tadi terlalu aneh. Semuanya buram. Dan hanya terlihat samar-samar bayangan anak perempuan dan anak lelaki bermain di sebuah ruangan. Yang bisa ia cerna jelas hanyalah suaranya. Entah kenapa suara-suara itu terdengar tidak asing baginya. Sebelumnya ia tidak pernah bermimpi yang seperti itu. Kepalanya terasa berdenyut-denyut sekarang. Gadis itu memijat kedua pelipisnya dengan satu tangan, kedua matanya pun ia pejamkan rapat-rapat. Ia berusaha mengingat-ingat mimpinya dan suara suara yang ia dengar.

 

“Dong… Hae…” bisiknya lembut. “DongHae… DongHae…” ulangnya lagi. Ia berhasil mengingat nama yang sempat muncul di mimpinya itu.

 

“DongHae… kenapa kau ada di mimpiku?”

 

–o0o–

08.45 AM – Lady Marmalade Café

 

YoonA’s POV

 

 

“Yoona-ssi, tolong cappucinonya satu ya!”

 

“Ndeee, segera dataaang~”

 

Annyeong, namaku Im Yoona. Umur 21 tahun. Pekerjaan: waitress. Ya, pekerjaanku memang menjadi seorang pelayan, bukan pelayan paruh waktu seperti yang biasanya dilakukan anak seumurku. Aku tidak melanjutkan sekolahku dan pendidikan terakhir yang kudapat hanyalah SMA. Karena aku anak yatim piatu jadi aku memutuskan langsung bekerja. Yah setidaknya aku menyukai pekerjaanku ini.

 

“Silahkan pesanannya.” Seruku riang sambil meletakkan segelas cappuccino di mejanya. Aku membungkuk sedikti ke arah pelanggan dan kembali ke balik counter untuk melanjutkan pekerjaanku yang tadi sempat tertunda, mengelap gelas dan piring.

 

“Perlu bantuan?” suara maskulin dari arah belakang membuatku menengok dan menemukan Nichkhun oppa, teman kerjaku, sedang tersenyum lebar.

 

“Ah tidak usah oppa, aku tidak sedang repot kok.” Jawabku seraya terus mengelap gelas. Sebaiknya aku lebih fokus ke arah gelas kalau tidak mau gajiku dipotong karena gelasnya pecah.

 

“Begitu? Kalau ada apa-apa sebaiknya panggil aku ya.” Katanya sambil menuju ke meja pelanggan lain untuk membereskan gelas dan piring kotor. Aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai jawaban.

 

Berbeda denganku, Nichkhun oppa itu bekerja paruh waktu di sini. Dia seorang mahasiswa yang sekarang ada di tahun pertamanya untuk mengambil gelar S2. Bahkan jauh-jauh datang dari negeri asalnya, Thailand, untuk belajar di Seoul. Kudengar sebenarnya Nichkhun oppa itu kaya raya, tetapi karena dia tidak ma uterus membebani orang tuanya dia memutuskan kuliah sambil bekerja. Ckckck, masih ada juga ya orang langka seperti itu di Seoul.

 

‘Klining… klining…’ suara bel yang dipasang di pintu masuk berbunyi menandakan ada pembeli yang datang. Aku mendongakkan kepala untuk memberi salam seperti biasa, “Selamat datang…” tetapi setelah kata terakhir keluar dari mulutku, nafasku seolah terhenti.

 

Pria itu datang lagi. Pria dengan tatapan teduh itu yang selalu mengambil tempat duduk di pojok dekat jendela. Pria yang selalu datang dengan pakaian rapid an berjas hitam. Yang selalu memesan espresso tanpa gula. Yang selalu membuatku gugup tiap kali ia melangkahkan kaki ke café ini.

 

Seperti yang kuduga, lelaki itu berjalan menuju kursi yang ada di pojok dan mendudukkan dirinya menghadap jendela. Ia selalu begitu, menatap ke arah jendela dan memandang ke luar seolah sedang mencari sesuatu. Pria itu akan tetap seperti itu bahkan sampai pesanannya datang. Sesekali meminum kopinya tetapi kemudian menerawang kembali ke arah jendela. Sampai-sampai kami pegawai yang ada di sini memanggilnya ‘Pria Jendela’

 

Aku mencondongkan tubuhku sedikit dari counter dan mencari di mana Nichkhun oppa. Setelah kami bertatap muka dari kejauhan, aku mengedikkan kepalaku ke arah Pria Jendela yang duduk diam. Nichkhun oppa menggeleng, ia kemudian mengarahkan dagunya ke arahku dan mengedikkan kepalanya ke arah Pria Jendela juga. Aku menggeleng pelan. Tetapi Nichkhun oppa lalu menunjuk ke bawahnya dengan dagu, rupanya tangannya sedang penuh dengan piring dan gelas kotor. Ya, sedari tadi kami sibuk mengirim isyarat siapa yang harus mencatat pesanan pria itu. Aku menghela nafas berat, tidak ada pilihan lain.

 

Setelah menaruh gelas yang sedari tadi kugosok, aku mengambil memo kecil dan bolpoin lalu berjalan ke arahnya. Kugigit bibir bagian bawahku tanpa sadar, aku tidak tahu kenapa aku selalu gugup kalau disuruh berhadapan dengannya. Bahkan kenal saja tidak.

 

“Pesanannya?” tanyaku pelan ketika sudah berdiri di samping mejanya. Pria jendela itu menoleh ke arahku. Rasanya ada yang menggeliat di dalam perutku ketika aku menatap dua bola sendunya itu sedekat ini.

 

Ketika dia hendak membuka mulut, tanpa sadar aku menyeletuk, “Espresso tanpa gula?” Sial, aku dan mulut harimauku.

 

Pria itu tampaknya terkejut sedikit tapi dengan cepat ia tutupi. Sudut bibirnya tampak seperti terangkat hingga aku sempat mengira ia tersenyum. Tapi itu mustahil, aku tidak pernah melihatnya tersenyum. Berekspresi saja tidak, dia memang seperti robot.

 

“Bagaimana kau bisa tahu apa yang mau kupesan?” tanyanya dengan nada penasaran. Duh, tentu saja aku tahu, aku kan yang selalu melayanimu.

 

Aku mencoba tersenyum tanpa terlihat grogi, “Kami selalu menghafal pelanggan regular kami.” Alasan bagus Yoona, tentu saja aku menghafalnya kalau pria ini entah kenapa selalu membuatku gugup.

 

“Begitu? Kalau begitu tolong pesankan satu.” Pintanya dengan nada datar dan wajah yang dingin seperti biasa. Aku mengangguk kepadanya dan perlahan berjalan kembali ke counter. Dari tembok yang ada di  belakangnya terdapat lubang berbentuk kotak kira-kira lebarnya 50 cm yang menghubungkan café depan dengan dapur. Dengan ini menyerahkan order dan mengambil pesanan akan lebih mudah. Aku melongok ke arah kotak dan berteriak “Espresso tanpa gula satu!”

 

“Segera datang!” bartender sekaligus koki kami, Ha DongHoon oppa, atau yang sering kami sebut HaHa oppa, menjawab dengan lantang. Laki-laki itu sudah berumur 31 tahun, dengan fisik menyerupai Pororo si Penguin. Meskipun sering bercanda dan hampir tidak pernah serius HaHa oppa selalu membimbingku dan Nichkhun oppa dengan baik. Itu sebabnya kami sangat menghormatinya. Tidak ada 10 menit, pesanannya sudah siap dan disodorkan melalui lubang kotak.

 

“Cepat sekali oppa.” Celetukku sambil mengambil nampan dan gelas berisi espresso.

 

“Kau kan tidak mau Pria Jendela-mu menunggu.” Ia mengedipkan sebelah matanya seraya menggodaku.

 

“Aish oppa~” gerutuku sambil lalu. Akupun segera bergegas menuju meja Pria Jendela dan meletakkan pesanannya di meja pelan-pelan. “Silahkan pesanannya.”

 

Pria itu hanya diam tidak bergerak, kepalanya tetap mengarah ke luar jendela tanpa menengok sekalipun padaku. Aku mengerutkan dahiku karena heran dengan tingkah tak biasanya ini. Biasanya ia akan mengucapkan terima kasih singkat atau paling tidak menganggukkan kepalanya sedikit. Tetapi kali ini ia mematung tanpa ada gerakan apapun. Aku mengernyit lagi karena setelah menunggu beberapa waktu pria itu tak kunjung bergerak. Tetapi segera saja aku meninggalkan mejanya karena menurutku ini bukan urusanku.

 

Aku berjalan melewati meja-meja lain menjauh dari tempat Pria Jendela berada. Di dalam kepalaku aku terus-terusan berpikir tentang kelakuan aneh si Pria Jendela. Rasanya ada yang mengganjal di hatiku. Namun di saat bersamaan, aku juga selalu mengingatkan diriku bahwa tidak seharusnya aku begitu memikirkan ini. Bukankah itu memang biasa dilakukan oleh pelanggan lain, bersikap acuh tak acuh? Lagipula aku tidak mengenalnya, tahu namanya saja tidak. Aku hanya seorang pelayan di sebuah café dan dia mungkin saja seorang pewaris perusahaan besar, kalau dilihat dari cara berpakaiaannya sih. Mengingat wajahku saja belum tentu. Lihat kan? Aku jadi merasa semakin bodoh karena tanpa alasan yang jelas bersikap gugup di depannya.

 

‘Gedubrak!!’ suara keras yang terdengar seperti benda terbanting ke lantai membuatku spontan memutar badan 180 derajat ke belakang. Di sana, di meja yang barusan kudatangi, kursi yang tadi didudukinya tergeletak di lantai dan meja kecil itu ikut terbalik hingga menumpahkan gelas keramik berisi espresso yang tercecer di lantai. Dan dapat kulihat jelas dengan kedua mataku, dengan mata tertutup seolah kehilangan kesadaran sama sekali, Pria Jendela itu sedang terkapar seperti tiba-tiba jatuh dalam tidur yang memperangkap. Seketika itu juga saat melihatnya, jantungku seolah berhenti berdetak.

 

–o0o–

08.45 AM – Choi’s Headquarter

 

SooYeon’s POV

 

 

“SooYeon-ssi, hari ini tidak ada pekerjaan untukmu.”

 

Aku mengerutkan dahi dan berkali-kali meyakinkan pendengaranku. Apa itu benar? “Maaf, tapi apakah kau benar-benar yakin SungMin-ssi? Tolong dicek lagi.” Aku bertanya lagi pada SungMin yang biasanya mengantar perintah dari atasan kami langsung. Biasanya tiap hari ia akan memberi kami para assassin file dan data orang yang harus kami eksekusi. Tetapi kali ini perkataannya membuatku terkejut karena tak biasanya aku dibebas tugaskan. Biasanyajika ada assassin rookie yang gagal mengeksekusi maka misinya akan dilimpahkan kepadaku dan SooYoung tetapi entah kenapa yang terjadi sampai begini.

 

Setelah membolak balik forder yang dibawanya, SungMin tetap menggeleng kepadaku. “Aku yakin sekali, SooYeon-ssi. Hari ini kau dan SooYoung-ssi memang diliburkan.”

 

“Kenapa?” tanyaku heran.

 

“”Hari ini orangtua SooYoung-ssi pulang dan… yah, Anda pasti tahu selanjutnya.” Jawab SungMin lamat-lamat.

 

Begitu, jadi orangtuanya pulang. Tapi kenapa mendadak sekali, aku kok tidak tahu. Biasanya kalau adik dari Ayahnya Siwon itu pulang, setidaknya aku akan diberitahu oleh SooYoung. Cewek itu biasanya heboh sendiri kalau orangtuanya pulang dari HongKong. Karena tiap kali mereka pulang ke Seoul pasti mereka memaksa SooYoung untuk dipertemukan dengan ‘salah satu’ dari calon suami pilihan Ayah dan Ibunya. Kasihan sekali shikshin itu, pasti sekarang sedang tenggelam dalam kebosanan.

 

“SungMin-ssi, kenapa ini begitu mendadak? Biasanya aku akan dikabari terlebih dahulu.” Tanyaku lagi.

 

“Emm… sepertinya mereka pulang karena permintaan Tuan Siwon. Saya tidak begitu tahu.”

“Oh begitu… kalau begitu terima kasih.” Setelah puas mendengarkannya aku cepat-cepat mempersilakan diri dari sana. Segera saja aku mengeluarkan ponselku dan mengiriminya sms.

 

To: Shiksin

 

Selamat bersenang-senang. Sampaikan salamku pada Paman dan Bibi. Ngomong2, kali ini jangan sampai kau menendang calon suamimu lagi ya.

 

Baru saja aku mendapat laporan pengiriman, aku tidak perlu menunggu lama sampai mendapat balasan dari cewek jangkung itu.

 

From: Shiksin

 

Bersenang senang apanya =_= Pantatku panas tahu sdh 2 jam drtd aku dipaksa duduk manis mendengarkan gombalan lelaki aneh berambut klimis di depanku ini. Kalau saja tdk kau ingatkan mungkin menendang wajahnya terdengar seperti ide yang bagus.

 

To: Shiksin

 

Setidaknya dia masih berambut walaupun klimis. Bagaimana penampilannya? Apakah hatimu berdesir ketika melihatnya pertama kali?

 

Aku memutuskan untuk menyindir SooYoung dan sifatnya yang terlalu pemimpi. Kau tahu, dia termasuk tipe gadis yang masih percaya bahwa setiap orang telah ditakdirkan untuk memiliki satu belahan jiwanya. Sedangkan aku menganggap semua khayalannya itu lelucon. Agak ironis juga kalau mengingat SooYoung yang seperti itu dalam pekerjaannya bisa lebih keji dan bengis daripada aku.

 

From: Shiksin

 

Berdesir? Lbh terasa spt ingin kabur dari sini sejak millisecond pertama aku melihatnya. Jelas bkn tipeku. Msh muda tp tampak seperti sudah 40 th ke atas. Haloooo, yg benar saja. Msh mending koki ganteng di Restoran Cina di pusat kota itu. Umm… aduh apa nama restorannya? Aku lupa.

 

To: Shiksin

 

Blue Lotus. SooYoung-ah, 3 hari lalu kau bilang kau yakin koki itu belahan jiwamu tetapi kau lupakan begitu saja restorannya. Tdk bisa dipercaya.

 

From: Shiksin

 

Yah! Kau sdh tahu kan aku tdk bs mengingat hal2 remeh seperti itu.

 

To: Shiksin

 

Lupa nama restorannya bukan berarti kau bisa seenaknya saja menyuruhku membeli samgyeopsal kapan pun kau mau seperti kmrn malam. Aku partnermu, bukan pembantumu. Ngomong2 kau msh hutang makan siang selama seminggu.

 

From: Shiksin

 

Tenang saja Tuan Putri, lain kali aku yang datang sendiri supaya bisa ketemu koki ganteng itu fufufu. Aish kalau soal utang2an sj kau pasti ingat. Oh iya, SooYeon-ah, stlh kuceritakan pada ibuku soal restoran Blue apalah itu dia jd tertarik  sekali ingin makan. Jd, SooYeon yg cantik dan baik hati, maukan kau menolongku membelikan mapotofu kesukaan ibuku dan membungkusnya utk dibawa pulang? Pleeeasseee~? Demi ibuku😉

 

To: Shiksin

 

Yah, sedetik yang lalu kau bilang sendiri utk selanjutnya tdk akan menyuruhku lg.

 

From: Shiksin

 

Akan kuambil mapotofunya di markas 1,5 jam lg oke?

 

“Aaaish! Bocah ini, benar-benar…” gerutuku ke arah layar ponsel. Jempolku segera menekan nekan layar touchscreen benda kecil itu dengan penuh emosi.

 

To: Shiksin

 

Hanya karena ibumu aku mau melakukan ini. Sbg gantinya kau mentraktirku makan malam lagi selama seminggu penuh.

 

Setelah aku menekan tombol ‘send’, aku langsung berjalan keluar dari headquarter mencari terminal bus terdekat dan menaiki bus yang menuju pusat kota tanpa basa-basi lagi.

 

–o0o–

09.30 AM – Yoona POV

 

 

Aku duduk di samping tempat tidur sambil meremas handuk kecil supaya air yang membasahinya keluar sehingga agak mengering. Mataku melirik ke arah lelaki yang kini terbaring di tempat tidur. Kami sekarang berada di kamar tidur milik Nona Kim TaeYeon, manager sekaligus pemilik café ini. Kamarnya ada di lantai dua sedangkan café-nya berada di lantai dasar. Setelah meminta ijinnya via telepon kami memutuskan menggotong pria ini dan dan mengistirahatkannya di tempat tidur. Untunglah Nona TaeYeon yang sekarang sedang ada bisnis di Busan tidak membawa kunci cadangan kamarnya sehingga kamar ini dapat digunakan.

 

Mataku tidak bisa lepas dari wajah pria ini, ya, Pria Jendela itu sekarang terbaring lemas setelah tadi pingsan tanpa alasan yang jelas hingga terjatuh dari kursinya. Tidak ada luka sama sekali di dirinya jadi kami berasumsi mungkin ia hanya kelelahan. Suhu tubuhnya cukup tinggi dan aku berinisiatif untuk mengkompresnya dengan handuk dingin supaya temperaturnya turun.

 

Aku menghela nafas sambil mengganti handuk lama dengan handuk baru di dahinya. Tak ada reaksi sama sekali dari tubuh pria itu, seolah olah ia sedang tertidur pulas. Aku sendiri bertanya-tanya kenapa aku mau melakukan ini semua. HaHa oppa dan NichKhun oppa sudah kembali ke bawah untuk mengurus café dan aku disuruh tinggal di sini untuk menjaganya. Ya Tuhan, padahal dia orang asing.

 

Tanpa sadar, aku sudah mengamati wajah Pria Jendela itu lekat-lekat. Entah kenapa tiap kali aku meneliti tiap detail wajahnya, aku seperti ditarik hingga tak mau mengalihkan pandanganku ke arah lain. Bulu matanya lentik dan tebal, hidungnya mancung dan bibirnya tampak sempurna untuk seorang lelaki. Secara keseluruhan wajahnya nampak melankolis namun di saat bersamaan juga terlihat tangguh. Kulitnya halus sekali untuk ukuran Pria. Aku baru sadar setelah dilihat dari dekat begini si Pria Jendela jadi terlihat tampan. Duh, Im Yoona, lihat kan pikiranmu jadi aneh sekarang.

 

Ketika aku larut mengamatinya, kelopak mata Pria itu berkedut-kedut. Aku terlonjak dan bergerak menjauh sedikit. Apakah Pria itu akan segera sadar? Omo! Apa yang harus kulakukan? Yang lebih buruk lagi, sekarang matanya mulai terbuka perlahan dan berkedip-kedip mengumpulkan kesadaran. Setelah nampaknya sadar sepenuhnya, tiba-tiba ia bangkit terduduk hingga membuatku terkejut lagi akibat tingkah spontannya.

 

Lelaki itu memegangi kepalanya dengan satu tangan, mungkin karena pusing yang tiba-tiba menyerangnya. Entah apa yang merasukiku, tetapi secara spontan tanganku terulur ke arahnya. “Kau masih butuh istirahat.” Tetapi sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku tiba-tiba saja lengannya mencengkeram tanganku yang tinggal berjarak satu jengkal darinya. Aku mengernyit karena genggamannya yang erat terasa menyengat.

 

“Kenapa aku di sini?” suaranya yang dingin memenuhi ruangan yang sepi ini. Matanya menatapku dengan gelap dan tampak mengancam seolah-olah ingin menerkamku. Detik itu untuk pertama kalinya aku merasakan takut kepada lelaki yang ada di hadapanku sekarang ini.

 

Gara-gara itu aku jadi tergagap ketika menjawab pertanyaannya, “A-anda… tadi pingsan. Tiba-tiba. Bbbegitu saja.”

 

Setelah mendengarkanku sepertinya lama kelamaan ia mulai bisa mengingatnya karena pandangannya kini sudah tak segelap tadi. Ia juga menurunkan tanganku dan tangannya. Wajahnya tampak lebih rileks sekarang.

 

“Kami tidak tahu kenapa Anda pingsan, tetapi Anda tampaknya tidak terluka sama sekali jadi mungkin Anda sedang sakit atau apa. Suhu tubuh anda cukup tinggi.” Lanjutku setelah merasa nyaman sedikit.

 

Tetapi lelaki yang kuajak bicara ini malah tidak mendengarkanku. Ia sibuk mengamati keadaan di sekelilingnya. Kepalanya tertoleh ke kanan-kiri-atas-samping meneliti segala detail yang ada di kamar ini.

 

“Aku di mana?” tanyanya, lagi-lagi begitu singkat dan tanpa emosi.

 

“Ini berada di lantai 2, café yang tadi Anda datangi ada di lantai dasar. Kami memutuskan merawatmu sementara di sini sampai kau sadar.”

 

“Begitu.” Katanya pendek, tetap tidak mau menatapku dan asyik mengamati kamar milik Nona TaeYeon ini. Aku melirik ke arah tangan kiriku yang sampai sekarang masih digenggamnya.

 

“Umm… Tuan, maaf, tetapi Anda bisa melepasnya sekarang.” Ucapanku berhasil menarik perhatiannya. Sepertinya ia juga tidak menyadarinya karena dia tampak begitu terkejut lalu buru-buru melepas genggamannya di tanganku.

 

Aku berdehem sebentar lalu melanjutkan lagi, “Sebaiknya Anda berbaring lagi. Sepertinya keadaan Anda masih tidak begitu baik.”

 

Pria Jendela itu malah melakukan sebaliknya dari nasihatku. Ia berusaha turun dari kasur dan malah berjalan menuju tiang yang menggantungkan mantel miliknya. Aku jadi gelagapan sendiri menghadapinya yang keras kepala.

 

“Ma-maaf… Anda sebaiknya istirahat lagi.” Aku sampai berdiri dari dudukku dan menghampirinya yang bergerak sangat cepat sekali untuk ukuran orang sakit.

 

“Aku tidak apa-apa . Maaf merepotkanmu.” Katanya sambil lalu, tetapi mendadak ia berhenti bergerak dan kini menatapku lekat-lekat.

 

“Terima kasih atas bantuanmu, Im Yoona-ssi.”

 

Aku berjengkit, dari mana ia tahu namaku? “A-Anda tahu dari mana, nama saya…?” Pria ini benar-benar bisa membuatku tergagap berkali-kali. Hebat.

 

Si Pria Jendela menunjuk dada kirinya dengan telunjuk, “Name tag” jawabnya datar. Bodoh, tentu saja, aku sampai lupa dengan name tag yang selalu kukenakan saat kerja.

 

“Lagipula kau kan yang selalu mengantar pesananku tiap kali aku ke sini.” Sambungnya, kali ini salah satu sudut bibirnya terangkat sedikit dan inilah gesture darinya yang paling bisa kusebut sebagai tersenyum. Gara-gara itu aku jadi bersemu merah dan merasa malu begitu hebat. Lagi-lagi aku gugup.

 

“Anu… saya tetap berpikir kondisi Anda tidak cukup memungkinkan untuk berpergian…” aku mengeluarkan kata-kata itu dengan bersusah payah karena  saluran nafasku sepertinya tercekat.

 

“Tidak apa-apa. Aku merasa cukup kuat. Dan aku punya pekerjaan yang masih harus diselesaikan, kalau tidak partner dan dan pimpinanku bisa mengamuk.”ucapnya simpel seraya mengancingkan mantelnya. Sebelum aku bisa bereaksi ia sudah berjalan menghampiri pintu dan bersiap keluar.

 

“Ah! Tu-tuan…!” seruku spontan sebelum ia menghilang dari pandangan.

 

“Ya?” ia menghentikan langkahnya dan menengokkan kepalanya ke belakang.

 

“Uh… nama… nama Anda…?” tanyaku gagap, ah kalian tidak tahu betapa berdebarnya aku ketika itu. Pria Jendela tampak tidak langsung menjawab, ia seperti tenggelam dalam pikirannya.

 

“KiBum…” pada akhirnya ia menjawab meski dengan suara pelan, “namaku KiBum. Kim KiBum.”

 

Aku sendiri terkejut karena akhirnya ia tidak akan ambil pusing dan tetap menyelonong pergi. Tiba-tiba aku jadi tidak tahu apa yang harus kukatakan selanjutnya.

 

“Ah kalau begitu, tolong hati-hati di jalan, KiBum-ssi…” ketika namanya meluncur dari lidahku, pipiku semakin memanas dan aku tak mampu menatapnya lagi. Memanggil namanya langsung merupakan hal yang baru bagiku. Aku tidak bisa tidak salah tingkah.

 

Di luar dugaan, Pria Jendela -eh- KiBum ssi justru bereaksi dengan tenang. Ia hanya menganggukkan kepalanya sekali kepadaku sambil berkata, “Kau juga, Yoona-ssi.” Dan pergi begitu saja tanpa pamit dan tanpa kata-kata sampai jumpa.

 

Ketika ia sudah tidak terlihat lagi aku langsung menjatuhkan diriku ke lantai sambil menghela nafas sekeras-kerasnya. “Haaaah! Pria Jendela, kau ini benar-benar… tidak bisa dipercaya.” Gumamku pada ruangan kosong yang terdiam membisu.

 

–o0o–

09.30 AM – Blue Lotus Chinese Dining Restaurant

 

SooYeon’s POV

 

 

“Agasshi, silahkan mapotofu anda.”

 

“Terima kasih,” aku menerima seplastik bungkusan berisi pesanan SooYoung dari seorang Pria berbadan tinggi tegap yang berpakaian serba putih ala koki. Aku menatapnya lekat-lekat dari kepala sampai kaki. Jadi begini ini ya yang tipenya SooYoung.

 

“Anu… agasshi… bayarannya.” Koki muda itu menadahkan telapak tangannya ke depan wajahku. Seketika aku baru sadar telah menatapnya terlalu lama dan lupa menyerahkan bayaran dari mapotofu yang kubeli. Aku buru-buru meletakkan uangnya di tangan koki itu, dan ia tampak puas sekali.

 

“Kamsahamnida, Tuan Koki.” aku membungkuk sedikit ke arah si koki dan ia dengan senang hati menerimanya. Bahkan menyuruhku untuk datang lagi kapan-kapan.

 

“Lain kali silakan datang lagi, Blue Lotus akan selalu terbuka untuk Anda. Ngomong-ngomong, panggil saja saya HanKyung, jangan Tuan Koki.” Katanya riang.

 

“Ne, HanKyung-ssi. Kalau begitu saya permisi.” Aku mempersilakan diri dan melangkah menuju jalan trotoar. Sampai di luar restoran, aku langsung merapatkan mantel yang kupakai. Sudah mulai musim gugur, jadi udaranya semakin dingin hingga menusuk tulang. Aku melangkahkan kakiku cepat-cepat menuju tempat pemberhentian bus terdekat, semoga bus yang berikutnya cepat datang supaya aku bisa menghangatkan diri di bus.

 

Aku melirik ke arah ponselku yan kugenggam di tangan, sudah pukul 09.35 pagi dan 30 menit lagi SooYoung akan mengambil mapotofunya di Rumah Induk. Sementara jarak dari sini hingga ke rumah membutuhkan waktu 25 menit, semoga masih sempat deh.

 

Hm? Aneh sekali, jarang-jarang jalanan sepi dengan orang yang berjalan kaki saat ini hanya ada aku yang menunggu di Bus Stop dan tidak terlihat pejalan kaki sama sekali di sekitar. Mungkin karena ini ada di bagian terpinggir pusat kota dan sekarang sudah masuk jam kerja. Oh tunggu, ternyata ada juga, di seberang jalan kulihat ada nenek-nenek yang mau menyeberang. Kenapa dia tidak menyeberang di zebra cross? Itu kan berbahaya. Memang sih tidak terlalu banyak mobil yang lalu lalang, tapi kan tetap saja…

 

Aku memperhatikan nenek itu berjalan tergopoh-gopoh berusaha menyeberang jalan, dengan tubuhnya yang agak bungkuk itu mungkin untuk bisa berjalan saja sudah susah payah. Aku berdiri dari tempatku duduk dan berjalan menuju tepi jalan ketika kulihat Si Nenek itu menjatuhkan salah satu barang bawaannya yang banyak. Nenek itu malah berhenti di tengah jalan dan berusaha mengambil barangnya. Sayangnya dari arah barat dapat kulihat mobil sedan berwarna hitam sedang melaju cepat setelah masuk dari tikungan, bisa saja dia tidak melihat si Nenek. Spontan aku langsung berteriak dan melangkahkan kakiku menghampirinya lebih dekat “Nenek, awas!!”

 

Dalam hitungan cepat, mobil sedan itu mengerem mendadak hingga menimbulkan bunyi yang melengking ketika bannya bergesekan dengan aspal. Si Nenek juga tampak terkejut sekali sampai-sampai ia jatuh terjungkal ke belakang. Untunglah mobil itu bisa berhenti tepat ketika jaraknya sudah tinggal 5 langkah dari si Nenek. Aku langsung berlari menghampiri Nenek yang masih duduk bersimpuh di tengah jalan dengan wajah shock setengah mati.

 

“Nenek, Nenek tidak apa-apa?” Aku menyentuh pundak nenek itu dan berlutut di sampingnya untuk mengecek kondisi. Bisa kudengar ada suara pintu mobil ditutup dan langkah kaki yang cepat menghampiri kami. Sepertinya pemilik mobil itu juga khawatir.

 

“Oh… oh… apakah aku masih hidup?” rintih si Nenek sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

 

“Ya, ini masih di Bumi, tenang saja.” Kataku padanya. Aku berusaha mengecek kondisi nenek itu dan memastikan bahwa ia baik-baik saja, hanya sedikit shock.

 

“Apakah dia baik-baik saja?” suara seorang lelaki tiba-tiba menyahut di sampingku, dari suaranya bisa kudengar ia cukup khawatir.

 

Aku menoleh ke belakang untuk melihat wajahnya tetapi yang kudapat malah sesuatu yang mengejutkanku. Awalnya aku tidak begitu yakin tetapi melihatnya sedekat ini (wajahnya tidak sengaja hanya berjarak 2 jengkal dariku) otomatis aku langsung mengenalinya. Lelaki itu juga tampak menyadariku dan ekspresinya ketika terkejut itu benar-benar sesuatu.

 

“YAH!”

 

“Kau.”

 

Kami hampir berteriak bersamaan (lebih tepatnya dia yang berteriak, aku cuma mengeluarkan suara bernada tinggi saja), ia langsung menatapku sengit sesudah itu. “Nona Arogan…” desisnya.

 

Aku menjawab ‘sapaan’nya dengan kalem, “Senang bertemu denganmu lagi Pria Ikan.”

 

Ketika ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, aku langsung memotong tanpa basa-basi. “Daripada berargumen denganku lebih baik menolong nenek ini dulu. Yang ini lebih penting.”

 

Untunglah Pria Ikan bisa langsung berpikir dengan logikanya dan memutuskan untuk membereskan masalah yang ini dulu.

 

Perhatianku kualihkan sepenuhnya ke si Nenek yang sepertinya masih tampak bingung. “Nenek… bisa berdiri?” selagi aku menanyakan si Nenek, Pria Ikan mulai memunguti tas-tas nenek itu yang berserakan dan mulai merapikannya.

 

“Oh… Ya…” jawabnya terpatah-patah. Aku berusaha menopangnya ketika ia berusaha menjejakkan kaki untuk berdiri tetapi tiba-tiba nenek itu seperti kehilangan kekuatannya dan mulai terjatuh lagi. Untunglah Pria Ikan dengan sigap berhasil menopang tubuh si Nenek sehingga Nenek itu tidak terjatuh keras.

 

“Ow, sepertinya tidak bisa…” rintih si Nenek, aku dan Pria Ikan akhirnya mendudukkannya kembali ke aspal. Buru-buru aku langsung meraba pergelangan kaki si Nenek dan menemukan ada kejanggalan di sana.

 

“Kaki Nenek terkilir.” Kataku setelah memastikannya, “Mungkin karena tadi Nenek terjatuh karena shock.”

 

Pria Ikan langsung menatapku dengan pandangan khawatir karena merasa bersalah, “Benarkah?”

 

Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban dan kemudian beralih kembali pada Nenek yang kalau dilihat-lihat seperti  ingin menangis. “Oh ya ampun bagaimana ini…. Padahal aku harus segera ke rumah putriku…”

 

Mendengar itu aku dan Pria Ikan langsung saling bertukar pandang.

 

“Rumah Nenek ada di mana?” tanya Pria Ikan.

 

“Gyeonggi-do…”

 

“Heh?! Itu kan jauh dari sini, kenapa Nenek ngotot sekali bawa-bawa tas sebanyak ini dan berangkat ke Gyeonggi-do sendirian?” untuk kali ini aku harus setuju dengan Pria Ikan, dengan kondisi Nenek yang bahkan tidak bisa melihat dengan begitu jelas yang ada di depannya mana mungkin tidak akan terjadi apa apa.

 

“Tapi putri Nenek akan segera melahirkan dan aku berjanji akan membawakannya banyak kebutuhan untuk ibu hamil…” jawabnya cemas. Aku menghela nafas berat dan menatap si Pria Ikan dengan penuh arti, mencoba memberikan semacam pesan rahasia. Sayangnya di kepala Pria Ikan itu kelihatannya isinya hanya ada air karena ia malah balas menatapku bingung. Aku menghela nafas lagi, “Tenang Nek, biar Pria ini yang akan mengantarmu.”

 

“EH?! Oh… ya, ya, aku yang akan mengantarmu ke sana. Sebagai permintaan maaf karena hampir menabrak Nenek.” Wajah si Nenek terlihat begitu lega dan bersyukur ketika Pria Ikan mempersilakan si Nenek untuk menumpang mobilnya.

 

“Terima kasih anak muda… kalian benar-benar baik.” Katanya lirih dan penuh terima kasih.

 

Pria Ikan akhirnya menggendong si Nenek di punggungnya dan membantunya masuk ke jok belakang mobil (ternyata mobilnya Mercedes, hmph, orang kaya). Aku membantu memungut tas tas milik Nenek dan ikut meletakkannya di jok belakang juga. Ketika sudah selesai memasukkan semuanya, aku menutup pintu mobilnya dan melangkah mundur menjauh dari Mercedes hitam milik Pria Ikan.

 

“Hei, kau mau ke mana?” seru Pria Ikan yang sudah bersiap-siap untuk masuk ke mobil.

 

“Ha?” aku bingung dengan pertanyaannya itu.

 

“Masuklah, kau ikut dengan kami.”

 

“Wae?! Kenapa aku juga?”

 

“Kau tidak ada kerjaan kan?”

 

Aku menggeleng dengan ragu.

 

“Kalau begitu naik, temani Nenek ini. Aku tidak bsia melakukannya sendirian.” Itu nada suara memerintah, bukan minta tolong. Jujur saja aku agak terganggu mendengarnya tetapi mengingat keadaan si Nenek aku juga jadi merasa turut bertanggung jawab.

 

Aku menggeretakkan gigiku dan berdesis pada Pria Ikan, “Fine. Baiklah, tapi hanya demi si Nenek.” Pada akhirnya menyerah dan mendekati mobil hitam itu dengan agak terpaksa.

 

Jalanan jadi sedikit ramai gara-gara insiden tadi dan kini mereka mulai mengumpulkan perhatian dari setiap orang yang telat.  Dengan setngah hati aku merebahkan tubuhku di kursi depan, tepat di samping Pria Ikan, karena jok belakang penuh dengan Nenek dan tas-tasnya yang begitu banyak.

 

Ketika mobil dinyalakan dan mulai meluncur di jalan, aku baru tersadar akan barang yang daritadi kugenggam di tanganku. Plastik berisi bungkusan makanan SooYoung. Dalam hati aku menepuk dahiku keras-keras, maafkan aku SooYoung-ah, aku akan terlambat sedikit.

 

–o0o–

Mobil yang kami naiki meluncur dengan tenang di jalan raya, untunglah jalan tidak terlalu ramai sehingga perjalanan bisa berjalan mulus. Tapi tetap saja… ugh, perutku mulai mual. Aku membungkukkan badanku supaya mualnya hilang sedikit. Selalu saja begini tiap kali aku naik mobil.

 

“Kenapa kau?” tanya Pria Ikan dari samingku. Aku meliriknya dan bisa melihat sebenarnya dia tidak benar-benar ingin tahu keadaanku, matanya tetap terfokus ke jalan dan ekspresi Pria itu tetap datar dan cuek.

 

“Aku tidak suka naik mobil.” Jawabku singkat.

 

“Terserah, asal jangan muntah di mobilku.” Cih, cecunguk ini benar-benar… Tenang, SooYeon, jangan emosi dulu. Ugh, tidak bisa tidak emosi.

 

“Yah! Lagipula siapa yang suruh aku naik mobilmu? Daridulu aku juga tidak suka naik mobil, aku lebih terima jalan kaki. Salah sendiri kamu yang menyuruhku naik ke sini!”

 

“Kenapa juga kamu mau? Kamu yang aneh kenapa mau masuk ke mobil orang asing.” Ya ampun aku belum pernah bertemu lelaki semenyebalkan ini.

 

“Kalau bukan karena aku kasihan dengan si nenek aku tidak akan sudi duduk di sini. Semua ini juga berawal dari kamu dan otakmu yang tidak dipakai saat menyetir.”

 

“Hei, aku juga biasanya tidak pernah menyetir, karena supirku mendadak sakit dan minta libur makanya aku harus menyetir sendiri. Wajar kan kalau aku jadi agak canggung setelah lama sekali tidak menyetir.”

 

“Yang benar saja, memangnya SIMmu itu palsu? Kalau tidak bisa menyetir ya nggak usah menyetir dari awal tadi.”

 

“Nona Arogan, kalau tidak mau kita semua terlibat dalam kecelakaan lagi sebaiknya kita akhiri saja debat kita sekarang.” Mendengar dia menjawab dengan tenang begitu membuatku langsung menutup mulut rapat-rapat. Dalam hati aku mengutuk diriku yang bisa-bisanya lepas kendali seperti ini. Persoalan kecil saja bisa jadi adu mulut, ke mana dirikuyang biasanya kalem dan tenang? Ck, aku rasa aku benar-benar harus mengambil istirahat.

 

“Kalau merasa sudah tidak enak badan, bilang saja, nanti kutepikan mobilnya.” Hm? Apakah aku tidak salah dengar? Hebat juga cowok ini bisa merubah perilakunya secepat kilat. Aku cuma mengangguk tanda mengerti, daripada ribut lagi dan nanti bisa membangunkan nenek yang tertidur di belakang.

 

Anehnya, ada sesuatu dari pria ini yang benar-benar menarikku. Aku menemukan diriku tidak bisa berhenti meliriknya. Sepertinya aku mulai menikmati mengamati Pria Ikan sembunyi-sembunyi begini. Waktu pertama kali bertemu dengannya hari sudah gelap jadi wajahnya tidak terlalu jelas. Tetapi sekarang aku bisa melihatnya dengan leluasa (meski sembunyi-sembunyi sih).

 

Dari pakaiannya, aku bisa menebak pasti penghasilannya besar. Dengan jas yang pas di badan dan jahitan rapi, sepertinya dibuat berdasar permintaan. Ia memakai jas dan kemeja yang mahal, tetapi tidak memakai dasi, berarti ia bukan pegawai kantoran. Padahal masih muda dan tidak terlihat berbeda jauh dari umurku, tapi sudah bisa membeli mobil sendiri (Mercedes pula) dan memiliki supir pribadi. Antara orangtuanya yang super kaya atau dia genius sejati di bidangnya sehingga pekerjaannya memberikan uang yang tidak sedikit. Bisa saja sih kalau dia kerja di dunia yang illegal sepertiku uang memang gampang mengalir, tapi dari tampangnya saja membuatku berpikir orang ini pasti tidak pernah menyentuh hal-hal seperti itu. Tetapi daritadi ada satu hal yang mengusikku…

 

“Maaf tiba-tiba menanyakan ini, aku hanya penasaran, tapi… memangnya kamu tidak bekerja? Kenapa punya waktu luang untuk mengantar nenek?” Setelah aku menanyakannya Pria Ikan tampak duduk agak gelisah.

 

“Um… pekerjaanku tidak terlalu menuntut waktu.” Jawabnya pelan. Aku melirik curiga ke arahnya yang masih terfokus pada jalan.

 

“Benarkah? Memangnya pekerjaanmu apa?” tidak biasanya aku ingin tahu tentang orang asing yang tidak terlalu kukenal, tetapi Pria Ikan ini mempunyai sesuatu yang membuatku penasaran.

 

“Penerbitan, aku bekerja di penerbitan buku.” Hmmh, aku tidak tahu kalau penerbitan buku bisa memberi pegawainya sebuah Mercedes.

 

“Bagaimana denganmu? Kalau kutebak, kau ini mahasiswi yang baru lulus dan sedang nganggur karena semua perusahaan menolakmu.”

 

Alisku bertaut, Pria Ikan ini semacam… tidak bisa ditebak. Sedetik yang lalu bersikap sopan, secepat kilat bisa berubah menjadi kurang ajar seperti ini. Tanganku benar-benar gatal ingin mencekiknya.

 

“Apa katamu?” desisku, “Memangnya penampilanku terlihat murah bagimu ya?” Kalau dilhat, aku memang hanya mengenakan sweater biasa dan celana pendek dengan legging hitam. Dan mantel yang sekarang kuapakai, memang bukan yang terbaik yang kupunya tapi kan tidak jelek-jelek amat. Memang matanya buram apa?

 

“Hei, hei, aku tidak bilang penampilanmu terlihat murah. Aku kan hanya bertanya. Seorang gadis muda berkeliaran sendiri di jam sibuk seperti ini, kau pasti punya banyak waktu kan.”

 

Aku berdecak, “Aku sedang libur. Bukannya tidak punya pekerjaan.” Setidaknya aku tidak sepenuhnya bohong kan, hari ini aku memang diliburkan. Asal aku tidak bercerita padanya saja kalau tiap malam aku menghilangkan nyawa orang.

 

“Kebiasaanmu itu ya, jelek sekali, berjalan sendirian seperti itu.” Cetus si Pria Ikan. “Kamu ini wanita muda, harusnya lebih berhati-hati. Gadis yang berjalan sendirian itu sasaran empuk.”

 

“Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Gumamku tanpa mau melihat ke arahnya. Tiba-tiba saja pemandangan di luar jendela jadi terlihat lebih menarik. Pria Ikan mengerang pelan dan berbisik “keras kepala” di mulutnya. Sayangnya, aku masih bisa mendengarnya.

 

“Aku heran kenapa ada orang yang begitu suak mencampuri urusan orang lain sepertimu.” Tanpa ampun lagi aku menyemprot pria itu dengan kata-kata paling dingin yang kupunya. “Memangnya hidupmu begitu gampangnya ya sampai kamu lebih suka mengurusi yang lain.”

 

“Terserahlah! Kalau memang begitu kamu mengartikan niat baikku.” Pria Ikan menjawabku sambil setengah berteriak. Sudah kuduga hubungan kami pasti tidak akan pernah membaik. Ini kedua kalinya kami bertemu namun tidak pernah kami tidak berdebat seperti ini.

 

“Omona.” Terdengar suara dari belakang kami, rupanya si Nenek sudah bangun. “Kalian mengingatkanku akan aku dan suamiku waktu muda dulu.”

 

Mendengarnya alisku langsung berkedut, apa Nenek ini tidak salah? Memangnya seburuk apa hubungannya dengan suaminya sampai-sampai kami yang seperti ini dibilang mirip dengan mereka? “Hahaha.” Aku mengeluarkan tawa datar yang terdengar dingin sampai-sampai Pria Ikan melirikku tajam untuk menyuruhku diam.

 

Dari kaca spion, aku bisa melihat si Nenek tersenyum lembut, “Tidak… aku bersungguh-sungguh. Kalian benar-benar mirip. Kamu dulu sering bertengkar juga.”

 

“Tapi kami bukan sepasang kekasih nek. Ketemu saja baru kemarin, dan sayangnya… sekarang juga bertemu.” Celetuk Pria Ikan yang membuatku mengirimkan tatapan sinisku kepadanya. Nenek cuma mengangguk-angguk pelan tetapi tak sekalipun senyumnya luntur.

 

“Kami juga dulu begitu. Kami dijodohkan. Minggu-minggu pertama kami menikah tidak ada satu hari yang terlewat tanpa bertengkar.”

 

Tidak ada yang menyahut, seisi mobil hening menunggu Nenek melanjutkan ceritanya. Sebelum memulai, wanita sepuh itu menghembuskan nafas berat, “Tetapi itu sebelum kami mengenal satu sama lain. Kami sadar kami tidak akan bisa merubah keadaan, maka kami memutuskan untuk menerimanya dan belajar untuk saling mencintai,”

 

“…Dan apa kalian tahu? Setelah itu kami dikaruniai seorang putri yang begitu cantik, kehadirannya membuat hidup kami terasa begitu sempurna.” Aku seolah bisa melihat pendaran cahaya dari mata Nenek ketika ia mengatakannya. Seumur hidupku rasanya aku belum pernah melihat sesorang begitu tulus ketika menceritakan sesuatu. Dan ketika ia bercerita, aku hanya bisa terpukau oleh kelembutannya. Setiap kata yang ia ucapkan seolah memberi kehangatan tersendiri. Aku bahkan tak mengira rupanya aku masih bisa merasakan kehangatan seperti ini.

 

“Aku bersyukur sekali,” sambung si Nenek lagi, “bisa selalu bersama suamiku. Bahkan ketika akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir, aku masih bisa berada di sampingnya. Ia terus menggenggam tanganku dan ketika akhirnya tiba saatnya, ia masih bisa tersenyum padaku.”

 

Pria Ikan menatapku dan aku membalas tatapannya. Kamu saling berpandangan, entah apa yang menarik kami.

 

“Karena itu kalian juga, aku harap kalian juga bisa menemukan orang yang akan terus menemani kalian sampai kapanpun.” Kata Nenek mengakhiri. Aku mengalihkan mataku ke arah jendela mobil dan menatap pemandangan di luar. Aku tersenyum getir.  ‘Orang yang akan selalu menemani sampai kapanpun’ ya? Konyol, tidak seharusnya aku menginginkan hal seperti itu.

 

Untukku yang hidup di jalan yang gelap, tidak ada namanya cinta. Janji sehidup semati mungkin hanya ada di angan-angan. Olehku yang setiap saat mempertaruhkan nyawa, yang setiap saat bisa saja manghilang dari muka bumi ini tiba-tiba jika lengah sedikit saja. Tidak ada. Karena aku tidak pantas, karena aku terlalu hina untuk mengenal satu hal bernama cinta.

 

Maaf Nek, tapi sepertinya aku memang tidak akan menemukan ‘orang itu’.

 

–o0o–

“Eomma!” Seorang perempuan muda berjalan menghampiri mobil kami setelah Pria Ikan memarkirkannya di depan sebuah rumah bercat putih yang sederhana.
Aku yang sedang membantu nenek keluar dari mobil langsung tahu kalau wanita itu pasti putri Si Nenek. Tidak sulit mengenalinya dengan perut yang sudah membesar begitu.

 

“Eomma, gwenchana yo?” raut wajahnya begitu khawatir dan cemas.

 

“Tadi kakinya terkilir ketika jatuh, tetapi selain itu tidak apa-apa.” Kataku meyakinkannya. Tubuh si Nenek bertopang pada pundakku supaya bisa berjalan, sementara si Pria Ikan mengeluarkan semua barang-barang Nenek dan membawanya sendirian menuju ke dalam rumah. Kemudian dengan segera putri si Nenek menuntun kami semua masuk ke dalam rumahnya.

 

Ketika aku sudah mendudukkan nenek di kursi, aku dan Pria Ikan langsung berpamitan supaya tidak terlalu merepotkan. Nenek dan putrinya tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada kami. Baru setelah kami keluar dari pelataran rumah Nenek dan Putrinya melepas kami.

 

“Terima kasih ya.” Celetuk Pria Ikan yang berjalan di sampingku.

 

“Untuk apa?”

 

“Mau menemaniku menolong si Nenek. Setelah kupikir-pikir ternyata kau punya sisi baik juga, mau menolong orang asing yang kamu bahkan tidak kenal.” Ia mulai menggaruk-garuk belakang lehernya.

 

Mataku meliriknya yang sedang berjalan aneh di sampingku. Kalau dicerna sih, meski terkadang mulutnya menyebalkan tetapi dia punya manner yang baik. Mungkin memang dia tidak seburuk yang kukira.

 

“Pria Ikan, kau ini tidak bisa ditebak.” Aku bahkan tidak percaya bisa mengatakannya sambil tertawa pelan. Kapan ya terakhir kali aku tertawa?

 

Lelaki di sampingku itu memutar badannya ke arahku tiba-tiba “Mwo? Kamu itu yang tidak terbaca. Bagaimana bisa aku membacamu kalau wajahmu selalu datar dan dingin seperti itu! Dan namaku bukan Pria Ikan!” tiba-tiba satu hal muncul di kepalaku, sepertinya Pria Ikan juga menyadarinya. “…Ngomong-ngomong, sepertinya kita belum berkenalan ya.” Ia kemudian mengulurkan tangannya ke arahku sambil tersenyum ramah.

 

Untuk sejenak, aku hanya bisa menatap telapak tangannya dalam diam. Bagi seorang assassin, memberikan informasi sekuat ‘nama’ merupakan hal fatal yang mungkin bisa membahayakan kami. Karena itulah aku hampir tidak pernah memberitahukan namaku yang sebenarnya. Kami selalu berhati-hati dan hanya memberikannya pada orang yang kami pikir bisa kami percayai. Tetapi kali ini berbeda. Ada sesuatu dari pria ini yang membuatku melewati batasan itu.

 

Aku menerima uluran tangan dan menjabatnya erat, “SooYeon, panggil saja SooYeon.” Tidak memberikan nama marga tidak akan terlalu membahayakan kan?

 

Pria Ikan tersenyum lebar ketika akhirnya aku selesai berbicara, “SooYeon? Nama yang bagus sekali. Kalau begitu perkenalkan,” kedua matanya yang dalamseolah menjebakku ketika aku menatapnya, “Namaku Lee DongHae.”

 

‘Ngiiing’

 

Segera setelah ia selesai, kepalaku seperti disengat oleh jarum-jarum panas. Rasanya sakit tak tertahankan. Aku mencengkram kepalaku dengan kedua tanganku dan mulai mengerang kesakitan. Sakit. Sakit. Tolong.

 

“SooYeon-ssi? Gwenchanayo?” tanyanya khawatir seraya maju lebih dekat. Tetapi satu tangankumenahannya supaya tidak berjalan jauh lebih dekat lagi.

 

Nafasku mulai tak teratur, aku seperti kesusahan mengatur aliran udara yang masuk dan keluar dari paru-paruku. Rasanya berat sekali, seperti ada tali kasat mata yang mengikat kepalamu.

 

“Kau benar-benar tidak apa-apa? Biar kuantar sampai rumah sakit terdekat.”

 

“Tidak usah…” dengan susah payah akhirnya aku berhasil mengeluarkan suara meskipun terdengar gemetar.

 

“Tapi kondisimu seperti ini!” setiap suaranya yang masuk ke telinga seolah memiliki duri yang menusuk-nusuk ke dalam kepalaku. Tolong hentikan ini semua!

 

“SooYeon-ssi…” ketika tangannya menyentuh pundakku, secara refleks aku menepisnya dengan kasar. Ia tampak terkejut sampai mundur beberapa langkah.

 

“Aku tidak butuh bantuanmu!” teriakku sekuat tenaga.

 

Sebelum aku sadar ternyata kakiku sudah membawaku berlari menjauhinya. Bisa kudengar berkali-kali ia mencoba memanggilku tetapi aku terus berlari tanpa mempedulikan apapun. Yang kutahu, saat ini aku harus menjaga jarak sejauh mungkin darinya sampai sakit ini hilang.

 

 

 

 

Lee DongHae

 

 

 

Nama itu lagi.

 

–o0o–

11.50 AM – Gyeonggi do

 

Normal POV

 

 

SooYoung mencermati tiap jalan yang ia lewati dengan berhati-hati. Matanya mencari sesosok orang di antara keramaian yang mulai memenuhi trotoar meskipun ia tahu akan sangat sulit dilakukan jika sambil menyetir seperti ini. Audi biru gelapnya ia jalankan perlahan seraya mencari seorang gadis berambut tembaga yang tadi tiba-tiba meminta pertolongannya melalui telepon singkat.

 

Baru ketika ia sampai di dekat bus stop gadis jangkung itu menangkap sosok yang familiar. Meskipun kepala orang itu menunduk dan rambutnya yang panjang bergelombang hampir menutupi seluruh wajahnya, tetapi ia langsung tahu ia telah menemukan orang yang dicarinya.

 

SooYoung menghentikan mobilnya tepat di depan gadis itu.

 

“SooYeon-ah!!” teriak SooYoung dari kaca mobil yang terbuka pada perempuan berambut brunette itu. SooYeon mendongak dan langsung membuka pintu mobil ketika ia tahu siapa yang memanggilnya. Didudukkannya ia di jok depan tanpa berbasa-basi lagi, setelah itu SooYoung langsung menyalakan mobil dan mereka berdua meluncur di jalanan yang tenang.

 

“Yah ada apa denganmu? Tiba-tiba minta jemput di tempat seperti ini? Bisa-bisanya nyasar padahal tadi cuma ke pusat kota. Tumben banget sampai mau naik mobil, kupikir kamu alergi kendaraan ini.” Cerocos SooYoung. Yang diajak bicara justru tidak sepenuhnya merespon dan hanya memandang ke luar jendela tanpa suara.

 

“Hei, SooYeon-ah, kau ini kenapa sih? Oh mana mapotofuku?? Aish sebenarnya daritadi apasih yang kamu lakukan?”

 

SooYeon menghela nafas berat ketika ia mengingat betapa bodohnya ia sampai meninggalkan makanan itu di mobil Pria Ik… DongHae, ketika membantu Nenek berdiri. Tetapi gadis itu sekarang merasa sedang tidak enak badan dan hanya ingin semua ini cepat berlalu.

 

“SooYoung jalankan saja mobilnya. Bawa aku ke Rumah Induk.” Perintah SooYeon tanpa sekalipun meilirk ke arah partnernya.

 

Tentu saja si gadis jangkung tidak akan menerimanya semudah itu, “Mwo?! Kamu belum menjawab pertanyaanku sama sekali dan sekarang main perintah begitu. Aku benar-benar tidak bisa mengertimu sama sekali.”

 

“Diamlah dan bawa mobil sialan ini ke Rumah Induk secepat mungkin.” Sambar SooYeon dengan suara paling dingin yang bisa ia berikan.

 

Partnernya hanya menghembuskan nafas berat dan memilih untuk menyerah, “Arasseo… Arasseo…” yang jelas, SooYoung tahu pasti ada sesuatu sampai bisa membuat gadis itu bersikap aneh seperti ini. Ia akan menanti sampai SooYeon sendiri yang akan menceritakannya.

 

-TO BE CONTINUED-

 

A/N: annyeong semua, maaf menunggu lama ^^ sebelumnya saya mau minta maaf kalo misalnya ada banyak typo, belum sempat re-reading untuk ngecek hehe. Bagi yang telah membaca mohon dikomen ya :> kalo bisa, saya mohon sekali komennya yang membangun hehe. Boleh komentar apapun kok, asal jangan bashing aja ^^ Thanks~


31 thoughts on “Trapped [Chapter 3]

  1. keren crita’a dah mulai inget tu Sica!!
    Minstal’a ga kluar y?
    wah,lanjut’a cpt jgn lm2!!!
    fighting!!
    b’harp da seokyu jg!!
    #plakk

    Like

  2. lanjutkan kereeeeeeeeen critanya…..
    HAESICA memang co2k hehehehehehe
    eh ad YOONBUM tmbah mantaaaaap xexexexexe
    lnjtannya jngan lma2 ya……..

    Like

  3. annyeong, di sini Ara authornya🙂
    dengan sangat terpaksa saya harus mengumumkan bahwa fanfic ini tidak akan saya submit di smtownff lagi berkaitan dengan kesibukan saya sehingga hampir tidak ada waktu lagi untuk mengirimkan ke smtownff. Tetapi fanfic ini masih akan dilanjutkan di blog pribadi saya, jika berminat membaca kelanjutannya silahkan mampir ke icyfishy.wordpress.com

    Mian… dan sekali lagi saya ucapkan terima kasih buat para readers di smtownff.

    Like

  4. ni dy ff yg termasuk reader tunggu…
    Pairnya sy suka semua sih! Tapi sayang g da minstalnya di sini. Haesica ma yoonbum momentnya memuaska eon! Suka deh…

    Ng, sooyoung nanti ma hankyung ya? Yah, padahal reader ngarepnya ma Changmin, kan reader changsoo shipper *mang sapa yg nanya* tapi terserah eonnie, sih… Gak terlalu jadi masalah kok! Yg penting da haesica, minstal, ma yoonbum!

    Like

  5. aakkhhh daebaaakkk😀
    suka bgt fic fic action begini… ini jarang bangettt~
    bahasanya enak, gak banyak typo^^
    SooYeon cuma buat DongHae yah! Krys sm Minho kok gaada?
    aku kira si Pria jendela itu Donghae loh ._. ternyata Kibum…. ahihihi.. YoonBum! setuju!!!!~
    lanjuut! cepaaattt~!

    Like

  6. awalnya ga terlalu tertarik, eh taunya pas baca malah langsung suka
    dan pas liat ada yoonbum udah deh bakalan nunggu terus lanjutannya nih hehe. lanjut thor ^^

    Like

  7. wow, ada hankyung ada sooyoung (klo sooyoung emg udh dr part sebelumnya emg-_-)
    ak hrp ada moment hansoo walaupun sedikit..hehehe..
    lanjut terus eon🙂 penasaran sm kelanjutannya..
    di tunggu part selanjutnya ya eon🙂
    mian br RCL skrg *bow*

    Like

  8. keren2… ini FF fiction terkeren yg pernah qbaca^^… siip deh buat authornya.Semua karakternya rasanya pas dan enak dibayanginnya hehehehe… semangat ya chingu:)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s