Love-affair (Seoul, South Korea) Prologue


Judul FF: Love-affair (Seoul, South Korea) Prologue
Cast: Lee Donghae, Choi Siwon, Lee Hyukjae, and Tan Hangeng
Genre: Romance
Author: Vii-Chan

Angin musim dingin ini menusuk. Sangat menusuk mengingatkan akan sebuah luka dalam. Segalanya kembali berjalan dalam ingatan, kembali membuka luka lama. Setitik air mata melukiskan segalanya, akan perbedaan sebuah cinta yang terlampau jauh. Segalanya begitu sulit untuk disatukan. Hingga sebuah gengaman erat merangkul tubuh ringkis yang rapuh tertimpa angin musim dingin.
“ What are you doing Dear? it so cool and it’s midnigth honey…” Si-Won berbisik pelan pada Sean. Pelukan hangat itu begitu menyadarinya bahwa ia sangat merindukan sesosok yang entah dimana. Bukan pelukan ini yang ia harapkan.
Sean mendorong lembut tubuh gagah dihadapannya—melepas diri pada pelukannya. “It’s cool dear, I can give you warmth” Si-Won menatap mata kelabu Sean, terlihat setitik kesedihan disana. “Are you cry?” Sean bergeming, ia sendiri juga tidak menyadari akan hal itu, yang dilakukannya hanyalah menatap langit.
“It’s ok baby. I’m in here now…” Si-Won kembali meraih Sean dalam dekapannya dan kali ini ia tidak mendapat sebuah penolakan.
“I’m tired, can I rest?” Sean menatap mata Si-Won tanpa merubah segala posisi mereka membuat wajah mereka sangat dekat. “I’m tired” Ulangnya lagi dengan suara yang agak lirih kali ini.
Si-Won melepas dekapannya secara perlahan—engan untuk melakukannya. Tanpa sepatah katapun Sean segera melesat menuju tumpukan selimut Pink hangatnya, menengelamkan diri di dalamnya dan mencoba memejamkan mata.
Si-Won hanya dapat menatapnya nanar, sudah hampir dua tahun usia pernikahan mereka dan entah mengapa sikap dingin istrinya tidak pernah berubah. Menyakitkan memang mengetahui mata indahnya tidak pernah menatapnya ada. Kecupan hangat mendarat indah di dahi Sean “Good Night Sean Choi…” Si-Won menekankan kalimat akhirnya menegaskan bahwa Sean hanyalah miliknya.
Seluruhnya telah menjadi gelap. Hanya Sean dan tumpukan selimut hangatnya di ruangan tidurnya—mereka berbeda kamar. Mata kelabu yang mulanya terlelap kini kembali terjaga dan terdiam namun segera menutup lagi dan membawanya ke dalam mimpi.
knowing her to be near you. But you can’t achieve is a very painful thing in my life—Choi Si-Won.
—***—

“Choi Aggashi baru saja pergi. Sepertinya ia akan menuju villa di Incheon…”
Si-Won menyeruput kopi hangatnya. “Kenapa tidak ke Donghae City saja?” Ucapnya santai. Pria perjas hitam itu hanya diam tak mengerti. “Ah, Apa kau tidak bisa membaca pikirannya? Apa kau tahu siapa yang bisa membaca pikirannya?” Pria berjas itu masih saja diam dengan seluruh pertanyaan aneh presidennya.
“Sudahlah!” Si-Won bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan pria tadi di ruangannya. Sebuah Lamborgi Revento hitam berhenti dihadapannya.
Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas tidak akan pernah ada kesempatan untuk Sean lepas dari Choi Si-Won. Lamborgi hitam itu melesat membelah jalan Seoul.
—***—

Hari terus berlalu dan seluruhnya terasa berat. Menghela nafas secara perlahan pun hanya semakin mencekik, hanya deru nafas yang memburu yang dapat dirasakan. Adakah kebahagiaan itu, kebahagiaan yang dulu sempat diraihnya. Aroma harum biji-biji kopi menyeruak memenuhi dapur sebuah cafe di tengah kepadatan Seoul. Setidaknya aroma itu bisa membuat perasaan lebih tenang di pagi yang melelahkan ini.
“Young-Chi! Apa yang kau lakukan! Cepat rapikan meja disana!”
Seorang wanita yang tengah menatap langit tersentak merapikan celemek dan juga pakaiannya dan segera melesat keluar. Mencari meja kosong yang harus dirapikannya—itulah pekerjaannya. Tangan kecil itu terus merapikan setiap meja dan membawa cangkir-cangkir kosong yang setidaknya dapat memberikan tunjangan kehidupannya.
“Young-Chi! Ada seorang yang memesan Cappucino ini dan dia menyuruh kau yang mengantarnya!” Youn-Chi hanya mengangukkan kepalanya dan meraih nampan kayu dengan dua cangkir Cappucino hangatnya tanpa mempedulikan bisikan lain yang menatap iri dirinya.
Youn-Chi meletakan cangkir itu dan dengan segera hendak pergi. “Ah! Chagio” Seorang pria pelangan tetap cafe itu menahan tangannya yang hendak pergi. “Aku punya dua cangkir, duduklah dan temani aku”
Mereka terduduk saling pandang dan hanya pria aneh yang selalu datang memesan dua cangkir kopi dan juga selalu memintanya menemaninya yang terus tersenyum manis padanya.
“Minumlah…” Young-Chi menyeruput cappucino itu perlahan dan kembali terbawa dalam aroma kehangatan kopi itu. “Kau menyukainya?”
“Aku selalu menciumnya setiap hari…” Young-Chi bangkit dari duduknya teringat dengan segala tugas dan ocehan atasannya padanya. “Gamapseumida… aku harus kembali berkerja!”
“Tudak usah! Duduklah… aku sudah bilang pada atasanmu untuk menyuruhmu menemaniku sebentar”
“Ani. Tapi aku harus berkerja… Mianhaeyo Lee-Ssi” Kali ini pria itu tidak menahannya hanya menatap punggung kecil itu meninggalkannya dan menghilang dalam pintu kayu.
Pria itu telah pergi dan meninggalkan secarik kertas di atasnya, Young-Chi hanya melihatnya tanpa sepatah katapun menatap barisan kata yang selalu di temuinya setiap hari sejak mereka bertemu di sini—cafe ini. Senyumnya berkembang.
“Young-Chi apa yang kau lakukan! Cepat rapikan meja itu dan antarkan pesanan ini!” Youn-Chi segera menyimpan kertas itu dalam sakunya dan membawa dua cangkir itu.
Kertas itu terus terkumpul dan terkumpul bertumpuk pada pojok sudut loker kerjanya. Seulas senyum selalu tersungging setiap kali melihat tumpukan kertas itu. Hanya tumpukan kertas itu yang bisa membuatnya melupakan segala bebannya dan membuatnya bisa kembali bernafas lega.
—***—

Hamparan lukisan tertata rapi menenuhi gedung dengan cat putih bersihnya. Lantunan lembut musik Symphonya memenuhi gedung luas tersebut. Seluruh karya terbaik seorang pelukis muda terpajang disana. Dalam usiannya yang baru menginjak 25tahun sudah dapat memiliki gedung pameran seninya sendiri.
Seorang pria dengan Mantel YSL hitamnya diam menatap setiap goresan dalam lukisan dengan warna soft dan tampah dua orang yang berbeda terpisah oleh sesutu. “Lukisan ini memiliki arti kedua orang yang berbeda berada dalam dimensi yang berbeda” Ucapan lembut seorang wanita mengarah pada pria itu.
“Dan apakah mereka saling terhubung? Atau mencintai?”
“Ya…” Wanita itu tersenyum.
“Apa kau Shin Je-Kyung?”
“Dan anda Lee Hyuk-Jae?”
Mereka tersenyum satu sama lain merasakan perkenalan mereka setelah sekian lama berpisah.
Menghabiskan waktu dengan kenangan masa lalumu mungkin sangat menyenangkan. Mengingat kembali seluruh hal bodoh yang pernah kalian lakukan bersama. Kembali tertawa seprti dulu hal yang mungkin akan sulit kau lakukan kedepannya.
—***—

Langit kembali menjadi malam, memexpos segala keindahan tata surya dengan kerlap-kerlipnya. Merapatkan jaker tebal murahan yang dibelinya dalam ajang discoun merupakan salah satu cara Young-Chi menghangatkan diri di malam yang sangat dingin. Boot lusungnya terus menerobos tumpukan salju tebal dijalan, namun sebuah Sepatu karya terbaik Kris Van menghentikannya.
“Kenapa kau tidak menungguku? Apa kau tidak baca pesanku?”
“Aku membacanya…”
Young-Chi hanya kembali berjalan menelusuri salju yang bertumpuk dengan boots usangnya, dan Sepatu karya terbaik Kris Van itu kembali menghentikannya. Kali ini sarungtangan kulit yang begitu lembut menarik tangannya yang hanya tersembunyi dibalik kantong jeans tipisnya menariknya menuju Porshe yang terparkir manis di tepi jalan.
Lantunan lembut musik Jazz mengema di dalam mobil mewah itu membuat mereka berdua menikmati setiap nada dalam malam mereka. “Kau suka?” Young-Chi hanya tersenyum menatap jalan Seoul yang cukup sepi. “Jika kau merasa bosan kita bisa mengantinya menjadi Rock” Senyum Young-Chi kembali terseungging dan semakin lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
“Aku suka…” Jawab Young-Chi.
“Kau suka musik?” Young-Chi kembali terdiam dalam kenangan masa lalunya yang indah.
“Ya! Dan aku sering menonton Konser. Symphonya, Rock, Pop, R&B, Jazz, bahkan hingga dramanya”
“Sungguh? Aku akan mengajakmu jika kau mau”
Young-Chi tersenyum—hal yang akhir ini kembali dalam hidupnya setelah lama menghilang. Percakapan ringan diantara mereka terus berlalu membuat waktu berjalan dua kali lebih cepat. Young-Chi menutup pintu Porsche dengan lembut meninggalkan sang empunya didalam.
Kehidupan usangnya kebali terasa. Young-Chi membuka pintu kayu lapuk rumahnya dan memasukinya, menganti boot usangnya dengan sendal rumah tua berbulu. Seorang wanita paru bayah terkepar lemah diatas meja dengan berbotol-botol birnya. Young-Chi menghela nafas dan segera meraih botol-botol yang masih terisi itu pergi hendak membuangnya.
“Young-Chi ya?” Suara rendah itu keluar dari mulut kecil wanita paruh baya itu. “Jangan dibuang! Itu milik Omma!”
Tangan kecil itu bergetar menahan botol-botol soju yang akan dijatuhkannya kedalam tempat sampahnya. “Young-Chi ya!” Wanita itu mencoba bangkit dengan segala kesadarannya yang hanya setengah.
Tangan kecil itu kini melepas botol-botol itu dan membiarkannya terjatuh dalam tumpukan sampah. “Kau tidak boleh meminumnya lagi!” Suaranya agak tercekak untuk mengatakannya.
“Ya! Kau!” Wanita itu segera bangkit dan meraih botol-botolnya di dalam tempat sampahnya namun seluruh airnya telah tumpah membaur dengan sampah lain. Tangan wanita paruh baya itu kini meraih sapu rumahnya dan melepas begitu saja botol sojunya. Bahu ringkis yang sedang mencuci piring-piring kotornya kini terhantam kuat sapu itu. Tak ada suara pemberontakannya dan hanya suara hantaman kayu pada bahunya yang bertubi-tubi.
“Anank sialan!! Sudah Omma bilang jangan membuang minuman Omma!!!” Suara serak itu mengema memnuhi ruangan kecil yang hanya memiliki 1 ruang 4×6 dengan sebuah kamar mandi.
Young-Chi terdiam meringis menahan sakit pada bahunya hingga serangan itu terhenti dan tinggalah dirinya bersama ibunya yang sama terisak. Mereka diam dalam isakan masing-masing. Young-Chi menatap bahu wanita dihadapannya yang bergetar hebat.
Withstand everything and feel it own … no backrest and refuge. only me … only a matter of time until I could no longer limit—Han Young-Chi
—***—

Melahap segala hidangan mewah dengan lantunan musik classik yang mengema diseluruh penjuru restouran dengan interior mewahnya begitu menenangkan. Melahap sepotong daging sapi gunung dengan kualitas terbaik sekorea begitu memanjakan lidah. Dan itulah yang mereka lakukan di pagi yang indah ini.
Sean yang sudah menyelesaikan makannya segera bangkit dan meninggalkan Si-Won yang masih menikmati makannya.
Angin di Inchoun cukup kencang, Sean sendiri hanya menatap laut dari balkon restoran dan membiarkan rambutnya berterbangan seprti sulur-sulur yang mencoba meraih laut. Dipejamkan matanya merasakan angin mencoba membiarkan dirinya terbang oleh angin.
Sebuah tangan meraih bahunya yang hampir terjatuh kebelakang tertiup angin kencang. Mata kelabu itu terbuka menatap mata kecoklatan dan rambut hitamnya yang dipotong pendek. Mata yang selalu menatapnya teduh.
“Han-Geng?” Ucap Sean yang cukup bergetar dengan siapa sosok pria yang tadi meraihnya. Han-Geng, seorang yang menjadi salah satu bagian hidupnya yang menghilang.
Han-Geng hanya tersenyum dan membungkukan badannya. Ia sungguh berbeda dengan yang dulu. Jika dulu ia selalu melihat Han-Geng dengan mantel dan jaket-jaket yang bisa kau dapat dengan harga yang sangat murah tidak dengan yang ini. Ia sangat berbeda sangat… bahkan terakhir kali Sean melihatnya.
“Kenapa?”
“Annyeong Choi-aggashi”
Sean semakin membeku dalam dirinya dan udara Inchoun yang kencang semakin memperburuk keadaannya.
“Kalian sudah bertemu? Apa kalian saling kenal?” Si-Won muncul dari balik pintu kaca. Dan lagi-lagi Han-Geng kembali membungkukan badannya. “Kau pernah mengenalnya Sean? Dia Hangeng, Asisten terbaikku yang mengurusi bisnis ku di Manhattan selama ini” Ucapan santai Si-Won yang langsung meraih pingang kecil Sean dalam rangkulannya. Sean sendiri masih membeku tak percaya dengan seluruhnya.
All this was a dream. I went back to see you … with you! Did you really miss me? It was still too impossible for me—Sean Choi
—***—

Menatap laya kecil dengan pantulan seorang yang tenggah berkelahi, menatapnya dengan serius dan berteriak dengan kecang “CUUTTTT!!!”
Young-Ra bangkit dan menatap kedua aktor-nya dengan pandangan membunuh, sudah dua hari ia bekerja dan hampir tanpa tidur tapi ia masih belum mendapatkan hasil maksimal. “Ya! Apa yang kau pikirkan!! Focus! Lari kesana dan meloncatlah, anggaplah dirimu seringan kapas dan lincahlah!!”
Saat ini tak ada yang berani mendekatinya seluruhnya hanya focus pada kerjaan mereka masing-masing—terlalu takut mendapat ocehan dari sang sutradara. Seorang staff mencoba mendekatinya dan memberikannya sebucket bunga.
Young-Ra menatapnya kilas dan menemukan sang pengirim nama disana kali ini seulas senyum yang tersungging diwajahnya. Secarik kertas biru laut terselip diantara bunga-bunga indah dan menampakan kalimat yang membuat segala amarahnya kembali teredam.
Jangan terlalu keras Jaggy… beristirahatlah…
monkey who very loved and miss you…
Hyuk-Jae ^^
have that stupid monkey like you make wholly enjoyable—Song Young-Ra
—***—

Menatapnya yang terus saja asik berkutat dengan canvasnya dapat membuat segalanya kembali seperti dulu. Kebahagiaan yang pernah ada bahkan rasa. Mengingat dirinya yang pernah datang dan mengisi seluruhnya.
“Stop it Monkey! Don’t look at me like that.” Ucapnya tenang sambil terus melukis sesuatu pada canvasnya.
Tangan itu kini kembali membelai lembut rambut lurusnya, membuat seluruh rasa yang telah terkubur mungkin akan segera muncul kembali.
“Kau melukis aku?”
Je-Kyung tertawa santai. “Tidak ada seninya melukis seorang monyet jelek sepertimu!”
“Sungguh? Kenapa kau dulu selalu melukisku?”
Je-Kyung terdiam menelan ludahnya yang semakin teras pahit dan getir. Eun-Hyuk meraihnya memeluknya dari belakang dengan posisinya yang terduduk, tangan Eun-Hyuk melingkar di lehernya. Semuanya terdiam, terlalu sulit untuk terus menekan perasaannya.
“Hyuk—“ Je-Kyung mencoba melepaskan dirinya. “Itu cerita dulu. Jadi bisakah kita kembali menatap kedepan! Dan ingatlah Young-Ra mu”
Eun-Hyuk tertawa santai dan terduduk di sisi kanan Je-Kyung. “Aku ingat! Ayolah… aku hanya bercanda Je-Kyung” Je-Kyung tersenyum menyadari itu hanya keisengan bodoh.
Don’t give me a little hope … no matter how small! because I would expect great on you.—Shin Je-Kyung.
—***—
Semilir angin membelai. Segalanya kembali berputar dan kecangungan dapat dirasakan. Seberapa keras mencoba menyembunyikannya hanya akan menjadi semakin memperlihatkan seluruhnya. Bahkan waktu tidak dapat menghilangkan dan menghapus seluruhnya, hanya membuatnya semakin menyadari sesuatu.
“Sudah lama kita tidak berjalan bersama”
Eun-Hyuk membuka pembicaraan mereka yang sedari tadi hanya diam mentap kosong hamparan sungai Han. “Aku selalu menanti waktu dapat berjalan lagi bersamamu seperti ini” Lanjutnya lagi denga Je-Kyung yang masih diam.
“Kau tahu? Walaupun aku berkata aku melepasmu aku tidak sungguh-sungguh melakukannya. Saat aku sendiri aku masih memikirkanmu… entahlah, aku tidak bisa menghilangkannya begitu saja”
Je-Kyung diam dan hatinya ikut bersuara dengan apa yang Eun-Hyuk katakan. Ya, mereka telah berpisah tapi mereka tidak benar-benar terpisah. Seluruhnya telah terkubur dalam tapi segera muncul lagi.
“Seberapa sering kau memikirkan ku tetap kau tidak akan pernah bisa melepasnya” ada sebuah getaran yang tertahankan dalam nada Je-Kyung.
“Tapi jika kau ingin kembali aku masih akan menerimamu…”
Tidak akan ada tempat lagi, mereka tahu itu. Tidak ada! Ini bahkan sudah terlalu terlambat untuk kembali.
time continues to spin … everything continues to run. There hue tired in your face. but nothing can eliminate it.—Love-affair(Seoul, South Korea)
—***—
To Be Continues…
Hah! Entahlah ini bagus atau tidak!! Hahaha😀
But, Happy Reading aja deh yang ngbacanya.. Enjoy it =))
FF ini untuk Farahdilla A.H (Sebagai Sean), Annisa Whida (Sebagai Han Young-Chi), Shade (Sebagai Song Young-Ra) dan diriku sendiri sebagai Shin Je-Kyung. Hahaha😀
Ini FF untuk kalian yaa… itu semua sesuai sama bias kalian kan =))
Satu lagi, ini cuman prologue jdi mungkin ada cerita yg beda nantinya di chap1 OK! jadi ngan bingung..
Vii-Chan ^^


4 thoughts on “Love-affair (Seoul, South Korea) Prologue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s