Sequel of Because I’m a Fool (Please! Say That You Love Me) Chapter 2


Title : Sequel of Because I’m a Fool (Please! Say That You Love Me) Chapter 2

Author : Lyka_BYVFEGS

Main Cast : Lee Donghae x Im Yoona and others

Genre : Romance, Friendship, maybe Comedy

Length : Chaptered

Notes :

Ini dia FF yang ditunggu oleh jutaan readers *emang ada? PD kali aku.

Selamat menikmati sajian menyegarkan dariku yaitu sequel Because I’m a Fool Part 2.

Mianhe kalau typo, gaje dan nggak sesuai harapan kalian semua.

Karena hanya inilah yang terpikir didalam otakku.

Sekali lagi mianhe kalau kurang memuaskan.

HAPPY READING!!!

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

3rd day

“Yoona-ah, sebenarnya kau bawa apa saja? Kenapa barang bawaanmu banyak sekali? Dan kemana kita akan pergi hari ini?” tanya Donghae heran karena mendapati Yoona membawa 1 buah keranjang piknik lumayan besar dan 1 buah tikar.

“piknik, oppa.” Jawab Yoona santai.

“Mwo? Piknik?” tanya Donghae sambil mengerutkan alisnya.

“Ne. hari ini kita pergi ke kebun binatang setelah itu kita piknik.” Jawab Yoona dengan semangat ’45 (?).

“tapi bukankah hari ini kebun binatang akan sangat ramai karena hari libur?” tanya Donghae.

“Tidak apa-apa, oppa. Siapa tahu nanti disana aku bisa bermain bersama anak-anak kecil. Pasti sangat menyenangkan. Iya kan, oppa?”

“Ne, terserah kau saja.” Jawab Donghae pasrah.

“Waeyo? Apakah oppa sakit?” tanya Yoona sambil menyentuh kening Donghae.

“Gwaenchana.” Jawab Donghae sambil menepis tangan Yoona lembut.

“Tapi kenapa oppa tampak lesu seperti ini? Tidak bersemangat sama sekali. Oppa tidak suka pergi denganku?” tanya Yoona dengan pandangan curiga.

“bukan begitu. Oppa hanya sedikit lelah, tapi demi kau oppa akan melakukan apapun. Kajja! Kita berangkat sekarang.” Ajak Donghae sambil memasukkan barang-barang mereka ke bagasi mobil.

Setelah itu mereka segera menuju ke kebun binatang yang tidak begitu jauh dari rumah mereka.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

“bukankah tempat ini sangat menyenangkan, oppa?” tanya Yoona kepada Donghae setelah mereka sampai di pintu masuk kebun binatang.

“Ne, oppa rasa juga begitu. Lihatlah! Banyak sekali anak-anak yang menghabiskan liburan mereka disini.” Jawab Donghae sambil melihat ke sekeliling mereka.

“Kajja, oppa! Kita masuk sekarang.” Ajak Yoona menarik tangan Donghae.

“Ne.” jawab Donghae.

Setelah membeli tiket masuk, merekapun segera memasuki pintu masuk yang telah ditentukan.

“Oppa, menurutumu apa yang sebaiknya kita lihat terlebih dahulu?” tanya Yoona kepada Donghae.

‘Molla. Tapi bagaimana kalau kita telusuri jalan setapak ini saja. Bukankah jalan setapak ini menuju ke pintu keluar?”

“Ne. baiklah.” Kata Yoona dengan penuh semangat.

“Wah!!! Oppa, lihatlah! Bukankah monyet itu lucu sekali. Mengingatkanku kepada teman oppa yang pernah oppa kenalkan padaku dulu.” Kata Yoona tanpa melepas pandangannya dari monyet yang tengah berebut makanan yang diberikan oleh pengunjung yang lain.

“nugu?” tanya Donghae bingung.

“emm… kalau tidak salah namanya Eunhyuk. Ya, namanya Eunhyuk oppa.” Jawab Yoona tanpa merasa bersalah sedikitpun.

“Ya! Im Yoona! kenapa kau membandingkan Eunhyuk hyung dengan monyet?” sungut Donghae tidak terima.

“Mianhe, oppa. Aku kan hanya mengutarakan pendapat saja.” Kata Yoona yang kali ini disertai dengan raut muka yang bersalah.

“Tapi kalau dilihat-lihat, memang mirip juga.” Kata Donghae polos.

“Ya! Oppa!”

“Hehehe….” Donghae hanya bisa ketawa nyengir. “Kajja! Kita lanjutkan.” Ajak Donghae kemudian.

‘Ne.” jawab Yoona.

“Oppa, setelah aku perhatikan ikan itu mirip dengan oppa.” Kata Yoona sambil menunjuk beberapa ekor ikan yang tengah berenang di kolam.

“Mwo?” tanya Donghae bingung.

“Lihatlah! Wajah oppa dan ikan itu mirip sekali.” Kata Yoona sambil tersenyum lebar.

“YA! Tadi kau bilang Eunhyuk hyung mirip monyet, sekarang aku yang kau bilang mirip ikan. Kau benar-benar membuatku kesal hari ini.” Kata Donghae sambil mengerucutkan bibirnya.

“Aku kan hanya bicara kenyataan oppa.” Kata Yoona polos.

“terserah kau saja.” Kata Donghae sambil berlalu meninggalkan Yoona.

“Ya! Oppa! Tunggu aku!” kata Yoona mengejar Donghae yang telah meninggalkannya.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

“Oppa, bagaimana kalau kita istirahat di taman dekat sini saja? Bukankah tempat itu banyak pohon rindang?” tanya Yoona setelah mereka berdua keluar dari kebun binatang.

“ne. kajja!.” Kata Donghae menarik tangan Yoona menuju mobil mereka untuk mengambil barang yang tadi mereka bawa. Karena letak taman yang tidak begitu jauh, mereka memutuskan untuk berjalan kaki menuju kesana.

“Oppa, bagaimana kalau disana saja?” kata Yoona sambil menunjuk ke sebuah pohon besar yang terletak di pinggiran taman.

“Ne.” jawab Donghae mengikuti langkah Yoona.

“Wah! Oppa, udara disini benar-benar sejuk.” Kata Yoona setelah selesai menata ‘tempat piknik sekejap’ mereka.

“Ne. Ah, aku lapar sekali. Apa yang kau bawa hari ini?” tanya Donghae sambil mengintip keranjang yang masih tertutup itu.

“aku hanya sempat memasak ini.” Kata Yoona sambil membuka keranjang tempat makanan itu disimpan.

“benarkah kau yang memasak ini semua?” tanya Donghae ragu.

“oppa meragukan kemampuanku, huh?” tanya Yoona pura-pura tersinggung.

“ani, tapi seingatku kau itu tidak terlalu pandai memasak.” Jawab Donghae.

“aish, makanya jangan terlalu lama pergi. Oppa kan jadi tidak tahu apa saja perubahan yang terjadi pada diriku ini. Termasuk kemampuan memasakku. Selama oppa pergi aku belajar memasak dengan eomma. Dan bisa dikatakan sekarang aku adalah koki andalan dirumah.” Ucap Yoona membanggakan diri.

“ne, arasseo. Tapi apa yang membuatmu berniat untuk belajar memasak?” tanya Donghae penasaran.

“aku kan seorang calon ibu rumah tangga, aku ingin suamiku nanti memasak makanan buatanku. Jadi nantinya aku dan oppa tidak perlu membeli makanan di luar terlalu sering mengingat kemampuan memasak oppa yang tidak lebih baik dariku.” Jawab Yoona panjang lebar.

“Mwo? ‘Aku dan oppa’? maksudmu kau akan menikah denganku?” tanya Donghae penasaran.

“ah! Ani, ani. Lupakan saja. Lebih baik oppa makan sekarang, aku tahu oppa lelah. Buka mulutmu, oppa! Aaaa…..” kata Yoona menyuapkan sesuap kimchi untuk Donghae. Donghae yang senang karena Yoona menyuapinya tidak mempedulikan lagi rasa penasaran yang tadi sempat hinggap di dalam dirinya.

Setelah 2 kali menyuapi Donghae, Yoona pun menyuruh Donghae makan sendiri. Dengan berat hati Donghae pun menurutinya, walaupun sebenarnya dia sangat ingin Yoona menyuapinya sampai mereka selesai makan.

Selesai makan, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar taman itu. Menghabiskan waktu sebelum mereka pulang kerumah.

“oppa?” panggil Yoona.

“hmmm.”

“apakah oppa mempunyai teman wanita selama di New York?” tanya Yoona penasaran. Dia takut jika selama di New York Donghae jatuh cinta kepada wanita lain.

“Memangnya kenapa?” tanya Donghae penasaran.

“ani, hanya ingin tahu saja.”

“hmm… ada beberapa. Oppa kan disana kuliah, Yoona-ah. Jadi pasti oppa punya banyak teman. Kau itu bagaimana?” tanya Donghae heran.

“bukan begitu. Maksudku apa oppa menyukai seseorang disana?” tanya Yoona ragu-ragu.

“waeyo? Kau cemburu?” tanya Donghae menggoda.

“Ah! Ani. Aku hanya ingin tahu saja. Pokoknya kalau oppa punya yeojachingu harus dengan persetujuanku.” Kata Yoona memberi keputusan.

“kenapa begitu?” tanya Donghae sambil mengerutkan kedua alisnya.

“aku ingin wanita yang terbaik untuk oppa, karena oppa adalah orang yang baik. Aku tidak mau oppa jatuh ketangan wanita yang salah.” Jawab Yoona. ada sebuah bom yang meledak dihatinya, membuat rasa sakit yang luar biasa saat mengatakan itu.

Yoona tidak ingin Donghae tahu bahwa dia mencintai laki-laki itu. Dia tidak mau hubungan mereka memburuk jika pada kenyataannya Donghae tidak mempunyai perasaan yang sama. Begitupun dengan Donghae.

“Ne, oppa akan memberitahumu nanti. Dan kau boleh menilai mana wanita yang baik untuk oppa dan mana yang tidak. Oppa yakin pasti kau memilihkan yang terbaik untuk oppa, benarkan?” kata Donghae sambil tersenyum lebar kearah Yoona dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut.

Ada semacam perasaan tertentu yang disalurkannya melalui sentuhan ringan itu, berharap gadis didepannya mengetahui perasaannya. Tapi sepertinya gadis itu tidak menyadarinya atau memang pura-pura tidak tahu. Entahlah. Donghae juga tidak mampu menjawabnya.

Meskipun mereka telah saling mengenal selama 12 tahun sangat sulit untuk mengetahui siapa orang yang dicintai gadis untuk saat ini. Walaupun terkadang Donghae menangkap pesan tersirat dari pembicaraan mereka yang mengatakan bahwa gadis itu mencintainya tapi dia tidak mau mengambil keputusan yang belum tentu benar adanya. Itulah sebabnya selama 12 tahun ini dia memendam perasaan itu seorang diri, meskipun sahabat-sahabatnya mengetahui fakta itu dan berusaha untuk membantu mereka supaya bisa bersama, tapi Donghae merasa dialah yang harus melakukannya sendiri. Tanpa bantuan orang lain. Biarkan dia yang memikirkan waktu dan cara yang tepat untuk mengatakan perasaannya kepada Yoona.

“oppa! Kau membuat rambutku berantakan. Aish! Pasti kecantikanku berkurang sekarang.” Gerutu Yoona.

“Hahaha… tidak ada hubungannya Im Yoona rambut yang berantakan dengan mengurangi kecantikan. Kau itu ada-ada saja.” Kata Donghae tidak bisa menahan tawanya.

“tentu saja ada. Lihatlah aku sekarang, rambutku jadi berantakan dan pasti orang mengira aku baru bangun tidur, atau mungkin mereka malah mengira aku orang gila. Itu kan bisa menghilangkan image wanita tercantik se-Korea yang kusandang, oppa.” Ucap Yoona penuh percaya diri.

“waw! Sejak kapan seorang Im Yoona mengakui dirinya cantik?” tanya Donghae penasaran.

“sejak dulu.” Jawab Yoona asal sambil merapikan rambutnya.

“Sini oppa bantu!” kata Donghae yang kemudian membantu Yoona merapikan rambut gadis itu.

“Selesai. Sekarang tuan putri sudah cantik seperti semula, karena ada pangeran tampan disini” giliran Donghae yang membanggakan dirinya.

“ckck… sejak kapan oppa tertular narsisnya Kyuhyun oppa?” tanya Yoona.

“sejak dulu.” Jawab Donghae asal menirukan jawaban Yoona tadi.

Yoona yang mendengarnya hanya cemberut, sedangkan Donghae yang melihatnya tampak tersenyum lebar. Tidak ada yang membuatnya begitu bahagia selain bersama gadis yang ada didepannya itu. Donghae pun meraih tangan kiri Yoona dengan tangan kanannya dan menggenggam tangan gadis itu dengan erat. Melanjutkan jalan-jalan mereka di sekitar taman itu. Tetapi baru beberapa langkah terdengar suara seseorang yang memanggil.

“Donghae oppa!” panggil seseorang. Donghae yang merasa dirinya dipanggilpun segera mencari sumber suara itu berasal. Dan tepat 2 meter dibelakangnya berdirilah seorang gadis cantik berambut pirang. Donghae yang melihatnya pun tersenyum lebar.

“Jessica!” panggil Donghae tidak percaya.

“Ne, oppa. Ini aku.” Kata gadis yang dipanggil Jessica itu setelah berdiri dihadapan Donghae dan Yoona.

“kenapa kau ada disini? Kapan kau datang?” tanya Donghae.

“Kemarin. Aish! Oppa pasti lupa, aku kan memang berencana menetap di Seoul setelah urusan kuliah di New York selesai. Bukankah kita berencana akan berangkat bersama? Tapi karena oppa sudah terlalu merindukan Seoul dan aku yang masih harus mengurus kepindahanku, akhirnya kita berangkat sendiri-sendiri. Apa oppa lupa itu?”

“hehehe… ne, oppa lupa.” Jawab Donghae sambil nyengir (?).

“oppa, nugu?” bisik Yoona yang sedari tadi dikucilkan (?).

“oh, ini teman kuliah oppa waktu di New York. Yoona-ah, kenalkan ini Jung So Yeon tapi biasa dipanggil Jessica. Jessica ini Im Yoona, teman oppa sejak kecil.” Kata Donghae memperkenalkan mereka berdua.

“Annyeong, Im Yoona imnida.” Kata Yoona sambil mengulurkan tangannya ke arah Jessica.

“Annyeong, Jessica Jung imnida.” Kata Jessica menerima uluran tangan Yoona.

“Oppa, dia cantik sekali. Apakah dia yeojachingumu?” tanya Jessica kepada Donghae setelah menarik kembali tangannya.

“Ani. Kami hanya teman.” Jawab Donghae ragu.

“benarkah?” tanya Jessica tidak percaya.

“Ne.” jawab Donghae. “kapan-kapan akan oppa kenalkan kau kepada teman-teman oppa yang lain. Lebih tepatnya teman masa kecil oppa.” Tambah Donghae.

“Ne. kalau begitu aku pergi dulu, oppa. Aku harus membereskan apartementku yang masih berantakan. Annyeong Donghae oppa, Yoona-ssi.” Pamit Jessica kepada Donghae dan Yoona.

“Annyeong.” Jawab Donghae dan Yoona bersamaan.

“diakah gadis itu oppa?” tanya Yoona setelah kepergian Jessica.

“Maksudmu?” tanya Donghae bingung.

“gadis yang oppa sukai. Sepertinya kalian akrab sekali. Tadi aku juga mendengar kalau kalian berencana pulang bersama. ” Kata Yoona menyembunyikan kesedihan di setiap kalimatnya.

”Ne, oppa menyukainya. Dia gadis yang cantik dan baik.” Jawab Donghae santai.

“begitu.” Kata Yoona menyimpan sejuta kepedihan.

Benar apa yang ditakutinya selama ini. Donghae jatuh cinta kepada gadis lain. Sejak semula Yoona sudah mempersiapkan hatinya jika suatu saat dia mengetahui bahwa Donghae mencintai gadis lain. Tapi tetap saja, hatinya masih merasakan sakit yang amat sangat. Sekuat tenaga Yoona menyembunyikan air mata yang hendak keluar dari kedua mata indahnya. Dia tidak mau Donghae mengetahui dia menangis karena masalah ini. Yoona tidak ingin membuat Donghae merasa bersalah karena telah membuatnya menangis. Walau sebenarnya bukan Donghae yang membuatnya menangis, tapi dirinya sendiri, atau mungkin ini adalah kesalahan hatinya yang telah mencintai seorang Lee Donghae. Entahlah, Yoona sendiri tidak tahu siapa yang harus disalahkan atas rasa cintanya yang begitu besar untuk Donghae, sahabatnya sendiri. Seseorang yang selama ini menjadi seorang ‘oppa’ baginya.

“Yoona-ah?” panggil Donghae sambil megoyang-goyangkan tubuh Yoona.

“Ne?” jawab Yoona terkejut.

“kenapa? Apa kau melamun? Daritadi oppa memanggilmu tapi kau tidak merespon sama sekali, apa ada yang kau pikirkan?” tanya Donghae sedikit khawatir.

“Aniya.” Jawab Yoona dengan lesu.

“benarkah kau tidak apa-apa? Tapi kenapa kau tiba-tiba lesu seperti itu?” tanya Donghae menambah kekhawatirannya.

“Aniya. Mungkin aku hanya terlalu lelah saja. Kajja! Kita pulang sekarang. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.” Kata Yoona mengalihkan pembicaraan.

“tapi…”

“Aku tidak apa-apa, oppa. Tidak perlu khawatir, aku ini Im Yoona yang kuat.” Kata Yoona dengan wajah ceria supaya Donghae tidak mengkhawatirkannya lagi dan terutama tidak bertanya yang macam-macam kepadanya.

“ne. kajja!” kata Donghae tersenyum lebar mendapati Yoona kembali ceria seperti biasanya.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

4th day

Seperti biasa pagi ini Donghae menjemput Yoona dirumahnya, setiap kali menjemput Yoona yang ada dipikirannya hanyalah kemana gadis itu akan membawanya pergi hari ini. Selalu kalimat itu yang tergiang dikepala Donghae saat di terjaga dari tidurnya di pagi hari. Dia bukannya keberatan dengan ajakan Yoona, tapi tempat yang didatangi gadis itu adalah tempat yang sering mereka berdua kunjungi. Apa maksud Yoona dengan mengajaknya ke tempat itu? Semula Donghae mengira kalau Yoona akan mengajaknya ke tempat yang jauh atau yang belum pernah mereka datangi, tapi nyatanya itu adalah tempat dia bersama dengan Yoona ataupun sahabat-sahabatnya yang lain menghabiskan waktu bersama.

“oppa.” Sapa Yoona begitu memasuki mobil yang Donghae gunakan untuk menjemputnya sekaligus ‘mengantarkannya’ hari ini.

Donghae hanya tersenyum menanggapi sapaan Yoona. “akan kemana kita hari ini, tuan putri?” tanya Donghae sambil mengedipkan sebelah matanya.

“aish! Oppa genit. Eemmm… kemana ya? Aku sendiri bingung oppa.” Jawab Yoona sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di kepala tanda bahwa dia sedang berpikir.

“kalau bingung, lebih baik hari ini kita tidak usah pergi saja.” Kata Donghae yang langsung mendapat tatapan tajam dari Yoona.

“Ya! Oppa mau mengingkari janji, huh? Kalau begitu, baiklah. Kita tidak jadi pergi hari ini dan jangan harap aku memaafkan oppa.” Kata Yoona sambil membuka pintu mobil.

“Chakkaman!” cegah Donghae sebelum Yoona benar-benar turun dari mobilnya.

“wae?” tanya Yoona ketus.

“Ne, mianhe. Kita pergi hari ini.” Kata Donghae yang membuat Yoona mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil. Donghae tampak sedang berpikir keras tempat yang paling tepat untuknya dan Yoona menghabiskan waktu hari ini.

“bagaimana kalau kita ke pantai?” usul Donghae beberapa saat kemudian.

“pantai?” tanya Yoona meyakinkan.

“Ne, bukankah sudah lama kita tidak kepantai?”

“oppa benar, sejak 2 tahun yang lalu kita tidak pernah pergi kemana-mana berdua.” Jawab Yoona lesu.

“aish! Im Yoona jangan mengungkit tentang masalah itu lagi.” Kata Donghae kesal.

“waeyo? Bukankah oppa seharusnya bahagia karena telah mendapatkan seseorang yang oppa sukai disana?” tanya Yoona sarkatis.

Yoona masih tidak bisa melupakan pernyataan Donghae kemarin saat mengatakan dia menyukai gadis lain. Yoona sudah berusaha untuk tidak memikirkan hal itu sampai 7 hari perjanjian mereka berakhir, tapi pengakuan Donghae membuatnya merasakan sakit yang sangat dalam dihatinya. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap Donghae. Dia ingin bersikap biasa saja, tapi sepertinya seluruh kinerja tubuhnya tidak berjalan seirama. Jadilah Yoona yang sekarang, sedikit sensitif di pagi yang cerah ini.

“Maksudmu Jessica?” tanya Donghae.

“jangan sebut namanya!” jawab Yoona dengan ketus.

“kenapa? Kau cemburu?” tanya Donghae sambil tersenyum lebar.

“Ani, untuk apa aku cemburu. Kajja! Kita berangkat sekarang.” Ajak Yoona.

“Kemana?” tanya Donghae yang sengaja menggoda Yoona, berusaha mengembalikan mood gadis itu agar lebih baik.

“Ya! Oppa menyebalkan! Bukankah tadi oppa yang mengatakan kalau kita akan ke pantai. Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Perjalanan ke pantai cukup jauh, nanti kita tidak bisa bermain sepuasnya jika tidak segera berangkat.” kata Yoona panjang lebar menandakan mood gadis itu berangsur membaik.

“ne, ne. baiklah, tuan putri.” Kata Donghae.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

“Wah!!! Lama tidak datang pantai ini semakin indah saja.” Kata Yoona setelah mereka berdua sampai dipantai.

“Udaranya juga sejuk.” Tambah Yoona sambil merentangkan kedua tangannya. Donghae yang melihatnya hanya tersenyum.

“Yoona-ah, apa kau ingat kejadian 12 tahun yang lalu dipantai ini?” tanya Donghae kepada Yoona yang sekarang tengah duduk disebelahnya menikmati pemandangan pantai yang indah.

“Tentu saja. Tapi aku merasa malu jika mengingat kejadian itu.” Jawab Yoona.

“Waeyo?” tanya Donghae bingung.

“itu….”

Flashback

12 tahun yang lalu…

“hiks…hiks…” tangisan gadis kecil yang tidak lain adalah Yoona mengalihkan perhatian Donghae dari pemandangan pantai yang indah.

“Yoona-ah, kau kenapa?” tanya Donghae sambil menyentuh pundak Yoona yang menelungkupkan wajahnya dikedua lutut.

“Oppa!” teriak Yoona langsung memeluk Donghae.

“Waeyo? Kenapa kau menangis?” tanya Donghae sambil mengelus rambut Yoona yang panjang tergerai.

“mereka jahat oppa. Aku tidak boleh ikut bermain.” Rengek Yoona melepas pelukannya dan menunjuk ke arah 8 temannya yang tengah bermain di dekat bibir pantai.

“Kenapa kau tidak boleh ikut bermain?” tanya Donghae heran.

“karena aku tidak punya pasangan. Mereka memainkan permainan yang membutuhkan pasangan sedangkan aku tidak punya. Seandainya saja Heechul oppa ikut pasti aku bisa berpasangan dengannya dan ikut bermain bersama mereka.” Jawab Yoona panjang lebar.

“lalu kenapa kau tidak mengajak oppa, Yoona-ah?” tanya Donghae.

“aku takut oppa tidak mau aku ajak bermain. Sepertinya aku lihat oppa lebih suka menikmati pemandangan di sekitar sini daripada ikut bermain.” Jawab Yoona.

“Babo!” kata Donghae sambil menyentil dahi Yoona.

“Appo!” rintih Yoona sambil mengelus-elus dahinya.

“Mulai sekarang jika kau butuh teman, carilah oppa karena oppa akan menemanimu. Jika kau butuh seseorang untuk kau ajak berbagi cerita, ceritakanlah pada oppa. Jika kau butuh tempat untuk bersandar karena terlalu lelah, datanglah pada oppa yang akan selalu siap menyediakan bahu oppa untukmu bersandar. Jika kau butuh perlindungan, oppa adalah orang pertama yang akan melindungimu. Jika kau membutuhkan tempat untuk berbagi kesedihan dan tangismu oppa siap menyediakan kedua tangan oppa untuk memelukmu dengan erat. Bahkan jika kau membutuhkan seseorang untuk kau pukuli guna melampiaskan kekesalanmu, oppa siap untuk kau pukuli. Pokoknya oppa akan selalu ada untukmu tidak peduli apapun yang terjadi. Jadi jangan pernah menangis lagi. Kau jelek jika menangis. Ara?” kata Donghae panjang lebar.

“benarkah?”

“Ne.”

“Yaksok?” tanya Yoona sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

“yaksok.” Jawab Donghae sambil mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking milik Yoona.

“kau lebih cantik jika tersenyum, jadi tersenyumlah!” kata Donghae membuat pipi Yoona bersemu merah.

Seakan terhipnotis oleh perkataan Donghae, Yoona pun tersenyum lebar ke arah Donghae dan dibalas dengan senyuman pula oleh Donghae.

“oppa?”

“Ne?”

“kelak jika aku dewasa dan membutuhkan seorang pria untuk aku nikahi, maukan oppa menjadi orang itu?” tanya Yoona dengan penuh harap.

“Mwo? Kau melamar oppa, Yoona-ah?” tanya Donghae tidak percaya.

“ani, bukankah tadi oppa akan selalu ada saat aku butuh. Jadi jika aku membutuhkan mempelai pria untuk bersanding denganku nanti, aku bisa meminta bantuan oppa kan?” tanya Yoona polos.

Donghae terkejut mendengar pertanyaan Yoona, dia terdiam seribu bahasa tidak tahu harus menjawab apa. Usia mereka yang selisih 4 tahun tentu membuat perbedaan pemikiran antara dirinya dan Yoona terhadap pertanyaan Yoona barusan. Yoona pasti menganggap itu hanyalah permintaan biasa seorang dongsaeng kepada oppanya, tapi tidak dengan Donghae. Bagi Donghae itu artinya Yoona memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Donghae tidak langsung menjawab pertanyaan Yoona, dia menatap lekat-lekat gadis kecil dihadapannya yang menampakkan raut muka penuh harap menanti jawaban yang akan Donghae berikan. Setelah beberapa saat memandangi Yoona, Donghae tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Yoona itu. “Ne, tentu saja. Oppa akan menjadi suamimu nanti.”

“gomawo.” Kata Yoona langsung memeluk Donghae dengan erat.

Flashback End

“Aish! Benar-benar memalukan.” Kata Yoona sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“waeyo? Kenapa malu?” tanya Donghae menyingkirkan tangan Yoona yang menutupi wajahnya dan menatap intens gadis itu.

“Oppa, jangan melihatku seperti itu!”

“waeyo? Bukankah saat memintaku menjadi suamimu kau tidak malu sama sekali? Malah kau memintanya dengan penuh harap dan dengan wajah polos tanpa beban.” Jawab Donghae santai.

“saat itu aku masih berusia 9 tahun, oppa. Jadi tidak tahu arti dari permintaanku itu.”

“benarkah? Tapi sepertinya saat itu kau benar-benar mengharapkannya. Buktinya setelah itu kau selalu mencariku setiap saat. Hingga akhirnya kita dekat seperti sekarang.”

“itu karena oppa sudah berjanji akan selalu ada untukku, oppa lupa dengan janji oppa sendiri?” tanya Yoona.

“ani. Hanya saja sepertinya kau masih mengharapkannya sampai sekarang.” Kata Donghae yang tiada hentinya menggoda Yoona.

“oppa, sudahlah! Jangan menggodaku seperti itu!” kata Yoona memalingkan wajahnya.

“waeyo? kau benar-benar mengharapkannya kan?” tanya Donghae.

“ani! Kalau oppa menggodaku terus, lebih baik aku pulang.” Kata Yoona beranjak dari duduk.

“Chakkaman!” cegah Donghae.

“wae?” tanya Yoona ketus.

“Mianhe, oppa bercanda. Maafkan oppa.” Kata Donghae.

“baiklah! Sebagai permintaan maaf oppa harus menemaniku bermain air.” Ajak Yoona sambil menyeret Donghae menuju pantai.

“tapi oppa tidak membawa baju ganti, Yoona-ah.” Tolak Donghae.

“aku juga.” Sahut Yoona asal.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

To be continued…

Ah! Akhirnya selesai juga part 2nya *merentangkan kedua tangan.

Pendek ya? Pastinya. Nggak tahu kenapa nich setiap kali ngetik udah lebih dari 11 lembar otakku langsung macet, jadi ya dinikmati aja part yang pendek sangat ini. Hahaha *author ketawa evil bareng Kyu.

Mianhe kalau nggak romantis, sebenarnya part ini dan sebelumnya aku ingin membuat moment romantis YoonHae atau moment dimana mereka hanya berdua saja. Tapi sepertinya gagal total, karena ku rasa FF ini nggak ada romantis-romantisnya sama sekali.

Untuk part selanjutnya akan ada konflik, kalau kalian jeli membaca part ini mungkin kalian bisa menebak konflik apa yang akan terjadi di antara Yoona dan Donghae.

Bagi yang tidak tahu silahkan ditunggu saja kelanjutannya, bagi yang sudah tahu silahkan menunggu juga *apasih author ini #nggak penting.

Terakhir, jangan lupa comment dan like nya.

Gomawo semuanya….

Dadah… *meluk readers satu persatu.

Title : Sequel of Because I’m a Fool (Please! Say That You Love Me) Chapter 2

Author : Lyka_BYVFEGS

Main Cast : Lee Donghae x Im Yoona and others

Genre : Romance, Friendship, maybe Comedy

Length : Chaptered

Notes :

Ini dia FF yang ditunggu oleh jutaan readers *emang ada? PD kali aku.

Selamat menikmati sajian menyegarkan dariku yaitu sequel Because I’m a Fool Part 2.

Mianhe kalau typo, gaje dan nggak sesuai harapan kalian semua.

Karena hanya inilah yang terpikir didalam otakku.

Sekali lagi mianhe kalau kurang memuaskan.

HAPPY READING!!!

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

3rd day

“Yoona-ah, sebenarnya kau bawa apa saja? Kenapa barang bawaanmu banyak sekali? Dan kemana kita akan pergi hari ini?” tanya Donghae heran karena mendapati Yoona membawa 1 buah keranjang piknik lumayan besar dan 1 buah tikar.

“piknik, oppa.” Jawab Yoona santai.

“Mwo? Piknik?” tanya Donghae sambil mengerutkan alisnya.

“Ne. hari ini kita pergi ke kebun binatang setelah itu kita piknik.” Jawab Yoona dengan semangat ’45 (?).

“tapi bukankah hari ini kebun binatang akan sangat ramai karena hari libur?” tanya Donghae.

“Tidak apa-apa, oppa. Siapa tahu nanti disana aku bisa bermain bersama anak-anak kecil. Pasti sangat menyenangkan. Iya kan, oppa?”

“Ne, terserah kau saja.” Jawab Donghae pasrah.

“Waeyo? Apakah oppa sakit?” tanya Yoona sambil menyentuh kening Donghae.

“Gwaenchana.” Jawab Donghae sambil menepis tangan Yoona lembut.

“Tapi kenapa oppa tampak lesu seperti ini? Tidak bersemangat sama sekali. Oppa tidak suka pergi denganku?” tanya Yoona dengan pandangan curiga.

“bukan begitu. Oppa hanya sedikit lelah, tapi demi kau oppa akan melakukan apapun. Kajja! Kita berangkat sekarang.” Ajak Donghae sambil memasukkan barang-barang mereka ke bagasi mobil.

Setelah itu mereka segera menuju ke kebun binatang yang tidak begitu jauh dari rumah mereka.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

“bukankah tempat ini sangat menyenangkan, oppa?” tanya Yoona kepada Donghae setelah mereka sampai di pintu masuk kebun binatang.

“Ne, oppa rasa juga begitu. Lihatlah! Banyak sekali anak-anak yang menghabiskan liburan mereka disini.” Jawab Donghae sambil melihat ke sekeliling mereka.

“Kajja, oppa! Kita masuk sekarang.” Ajak Yoona menarik tangan Donghae.

“Ne.” jawab Donghae.

Setelah membeli tiket masuk, merekapun segera memasuki pintu masuk yang telah ditentukan.

“Oppa, menurutumu apa yang sebaiknya kita lihat terlebih dahulu?” tanya Yoona kepada Donghae.

‘Molla. Tapi bagaimana kalau kita telusuri jalan setapak ini saja. Bukankah jalan setapak ini menuju ke pintu keluar?”

“Ne. baiklah.” Kata Yoona dengan penuh semangat.

“Wah!!! Oppa, lihatlah! Bukankah monyet itu lucu sekali. Mengingatkanku kepada teman oppa yang pernah oppa kenalkan padaku dulu.” Kata Yoona tanpa melepas pandangannya dari monyet yang tengah berebut makanan yang diberikan oleh pengunjung yang lain.

“nugu?” tanya Donghae bingung.

“emm… kalau tidak salah namanya Eunhyuk. Ya, namanya Eunhyuk oppa.” Jawab Yoona tanpa merasa bersalah sedikitpun.

“Ya! Im Yoona! kenapa kau membandingkan Eunhyuk hyung dengan monyet?” sungut Donghae tidak terima.

“Mianhe, oppa. Aku kan hanya mengutarakan pendapat saja.” Kata Yoona yang kali ini disertai dengan raut muka yang bersalah.

“Tapi kalau dilihat-lihat, memang mirip juga.” Kata Donghae polos.

“Ya! Oppa!”

“Hehehe….” Donghae hanya bisa ketawa nyengir. “Kajja! Kita lanjutkan.” Ajak Donghae kemudian.

‘Ne.” jawab Yoona.

“Oppa, setelah aku perhatikan ikan itu mirip dengan oppa.” Kata Yoona sambil menunjuk beberapa ekor ikan yang tengah berenang di kolam.

“Mwo?” tanya Donghae bingung.

“Lihatlah! Wajah oppa dan ikan itu mirip sekali.” Kata Yoona sambil tersenyum lebar.

“YA! Tadi kau bilang Eunhyuk hyung mirip monyet, sekarang aku yang kau bilang mirip ikan. Kau benar-benar membuatku kesal hari ini.” Kata Donghae sambil mengerucutkan bibirnya.

“Aku kan hanya bicara kenyataan oppa.” Kata Yoona polos.

“terserah kau saja.” Kata Donghae sambil berlalu meninggalkan Yoona.

“Ya! Oppa! Tunggu aku!” kata Yoona mengejar Donghae yang telah meninggalkannya.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

“Oppa, bagaimana kalau kita istirahat di taman dekat sini saja? Bukankah tempat itu banyak pohon rindang?” tanya Yoona setelah mereka berdua keluar dari kebun binatang.

“ne. kajja!.” Kata Donghae menarik tangan Yoona menuju mobil mereka untuk mengambil barang yang tadi mereka bawa. Karena letak taman yang tidak begitu jauh, mereka memutuskan untuk berjalan kaki menuju kesana.

“Oppa, bagaimana kalau disana saja?” kata Yoona sambil menunjuk ke sebuah pohon besar yang terletak di pinggiran taman.

“Ne.” jawab Donghae mengikuti langkah Yoona.

“Wah! Oppa, udara disini benar-benar sejuk.” Kata Yoona setelah selesai menata ‘tempat piknik sekejap’ mereka.

“Ne. Ah, aku lapar sekali. Apa yang kau bawa hari ini?” tanya Donghae sambil mengintip keranjang yang masih tertutup itu.

“aku hanya sempat memasak ini.” Kata Yoona sambil membuka keranjang tempat makanan itu disimpan.

“benarkah kau yang memasak ini semua?” tanya Donghae ragu.

“oppa meragukan kemampuanku, huh?” tanya Yoona pura-pura tersinggung.

“ani, tapi seingatku kau itu tidak terlalu pandai memasak.” Jawab Donghae.

“aish, makanya jangan terlalu lama pergi. Oppa kan jadi tidak tahu apa saja perubahan yang terjadi pada diriku ini. Termasuk kemampuan memasakku. Selama oppa pergi aku belajar memasak dengan eomma. Dan bisa dikatakan sekarang aku adalah koki andalan dirumah.” Ucap Yoona membanggakan diri.

“ne, arasseo. Tapi apa yang membuatmu berniat untuk belajar memasak?” tanya Donghae penasaran.

“aku kan seorang calon ibu rumah tangga, aku ingin suamiku nanti memasak makanan buatanku. Jadi nantinya aku dan oppa tidak perlu membeli makanan di luar terlalu sering mengingat kemampuan memasak oppa yang tidak lebih baik dariku.” Jawab Yoona panjang lebar.

“Mwo? ‘Aku dan oppa’? maksudmu kau akan menikah denganku?” tanya Donghae penasaran.

“ah! Ani, ani. Lupakan saja. Lebih baik oppa makan sekarang, aku tahu oppa lelah. Buka mulutmu, oppa! Aaaa…..” kata Yoona menyuapkan sesuap kimchi untuk Donghae. Donghae yang senang karena Yoona menyuapinya tidak mempedulikan lagi rasa penasaran yang tadi sempat hinggap di dalam dirinya.

Setelah 2 kali menyuapi Donghae, Yoona pun menyuruh Donghae makan sendiri. Dengan berat hati Donghae pun menurutinya, walaupun sebenarnya dia sangat ingin Yoona menyuapinya sampai mereka selesai makan.

Selesai makan, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar taman itu. Menghabiskan waktu sebelum mereka pulang kerumah.

“oppa?” panggil Yoona.

“hmmm.”

“apakah oppa mempunyai teman wanita selama di New York?” tanya Yoona penasaran. Dia takut jika selama di New York Donghae jatuh cinta kepada wanita lain.

“Memangnya kenapa?” tanya Donghae penasaran.

“ani, hanya ingin tahu saja.”

“hmm… ada beberapa. Oppa kan disana kuliah, Yoona-ah. Jadi pasti oppa punya banyak teman. Kau itu bagaimana?” tanya Donghae heran.

“bukan begitu. Maksudku apa oppa menyukai seseorang disana?” tanya Yoona ragu-ragu.

“waeyo? Kau cemburu?” tanya Donghae menggoda.

“Ah! Ani. Aku hanya ingin tahu saja. Pokoknya kalau oppa punya yeojachingu harus dengan persetujuanku.” Kata Yoona memberi keputusan.

“kenapa begitu?” tanya Donghae sambil mengerutkan kedua alisnya.

“aku ingin wanita yang terbaik untuk oppa, karena oppa adalah orang yang baik. Aku tidak mau oppa jatuh ketangan wanita yang salah.” Jawab Yoona. ada sebuah bom yang meledak dihatinya, membuat rasa sakit yang luar biasa saat mengatakan itu.

Yoona tidak ingin Donghae tahu bahwa dia mencintai laki-laki itu. Dia tidak mau hubungan mereka memburuk jika pada kenyataannya Donghae tidak mempunyai perasaan yang sama. Begitupun dengan Donghae.

“Ne, oppa akan memberitahumu nanti. Dan kau boleh menilai mana wanita yang baik untuk oppa dan mana yang tidak. Oppa yakin pasti kau memilihkan yang terbaik untuk oppa, benarkan?” kata Donghae sambil tersenyum lebar kearah Yoona dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut.

Ada semacam perasaan tertentu yang disalurkannya melalui sentuhan ringan itu, berharap gadis didepannya mengetahui perasaannya. Tapi sepertinya gadis itu tidak menyadarinya atau memang pura-pura tidak tahu. Entahlah. Donghae juga tidak mampu menjawabnya.

Meskipun mereka telah saling mengenal selama 12 tahun sangat sulit untuk mengetahui siapa orang yang dicintai gadis untuk saat ini. Walaupun terkadang Donghae menangkap pesan tersirat dari pembicaraan mereka yang mengatakan bahwa gadis itu mencintainya tapi dia tidak mau mengambil keputusan yang belum tentu benar adanya. Itulah sebabnya selama 12 tahun ini dia memendam perasaan itu seorang diri, meskipun sahabat-sahabatnya mengetahui fakta itu dan berusaha untuk membantu mereka supaya bisa bersama, tapi Donghae merasa dialah yang harus melakukannya sendiri. Tanpa bantuan orang lain. Biarkan dia yang memikirkan waktu dan cara yang tepat untuk mengatakan perasaannya kepada Yoona.

“oppa! Kau membuat rambutku berantakan. Aish! Pasti kecantikanku berkurang sekarang.” Gerutu Yoona.

“Hahaha… tidak ada hubungannya Im Yoona rambut yang berantakan dengan mengurangi kecantikan. Kau itu ada-ada saja.” Kata Donghae tidak bisa menahan tawanya.

“tentu saja ada. Lihatlah aku sekarang, rambutku jadi berantakan dan pasti orang mengira aku baru bangun tidur, atau mungkin mereka malah mengira aku orang gila. Itu kan bisa menghilangkan image wanita tercantik se-Korea yang kusandang, oppa.” Ucap Yoona penuh percaya diri.

“waw! Sejak kapan seorang Im Yoona mengakui dirinya cantik?” tanya Donghae penasaran.

“sejak dulu.” Jawab Yoona asal sambil merapikan rambutnya.

“Sini oppa bantu!” kata Donghae yang kemudian membantu Yoona merapikan rambut gadis itu.

“Selesai. Sekarang tuan putri sudah cantik seperti semula, karena ada pangeran tampan disini” giliran Donghae yang membanggakan dirinya.

“ckck… sejak kapan oppa tertular narsisnya Kyuhyun oppa?” tanya Yoona.

“sejak dulu.” Jawab Donghae asal menirukan jawaban Yoona tadi.

Yoona yang mendengarnya hanya cemberut, sedangkan Donghae yang melihatnya tampak tersenyum lebar. Tidak ada yang membuatnya begitu bahagia selain bersama gadis yang ada didepannya itu. Donghae pun meraih tangan kiri Yoona dengan tangan kanannya dan menggenggam tangan gadis itu dengan erat. Melanjutkan jalan-jalan mereka di sekitar taman itu. Tetapi baru beberapa langkah terdengar suara seseorang yang memanggil.

“Donghae oppa!” panggil seseorang. Donghae yang merasa dirinya dipanggilpun segera mencari sumber suara itu berasal. Dan tepat 2 meter dibelakangnya berdirilah seorang gadis cantik berambut pirang. Donghae yang melihatnya pun tersenyum lebar.

“Jessica!” panggil Donghae tidak percaya.

“Ne, oppa. Ini aku.” Kata gadis yang dipanggil Jessica itu setelah berdiri dihadapan Donghae dan Yoona.

“kenapa kau ada disini? Kapan kau datang?” tanya Donghae.

“Kemarin. Aish! Oppa pasti lupa, aku kan memang berencana menetap di Seoul setelah urusan kuliah di New York selesai. Bukankah kita berencana akan berangkat bersama? Tapi karena oppa sudah terlalu merindukan Seoul dan aku yang masih harus mengurus kepindahanku, akhirnya kita berangkat sendiri-sendiri. Apa oppa lupa itu?”

“hehehe… ne, oppa lupa.” Jawab Donghae sambil nyengir (?).

“oppa, nugu?” bisik Yoona yang sedari tadi dikucilkan (?).

“oh, ini teman kuliah oppa waktu di New York. Yoona-ah, kenalkan ini Jung So Yeon tapi biasa dipanggil Jessica. Jessica ini Im Yoona, teman oppa sejak kecil.” Kata Donghae memperkenalkan mereka berdua.

“Annyeong, Im Yoona imnida.” Kata Yoona sambil mengulurkan tangannya ke arah Jessica.

“Annyeong, Jessica Jung imnida.” Kata Jessica menerima uluran tangan Yoona.

“Oppa, dia cantik sekali. Apakah dia yeojachingumu?” tanya Jessica kepada Donghae setelah menarik kembali tangannya.

“Ani. Kami hanya teman.” Jawab Donghae ragu.

“benarkah?” tanya Jessica tidak percaya.

“Ne.” jawab Donghae. “kapan-kapan akan oppa kenalkan kau kepada teman-teman oppa yang lain. Lebih tepatnya teman masa kecil oppa.” Tambah Donghae.

“Ne. kalau begitu aku pergi dulu, oppa. Aku harus membereskan apartementku yang masih berantakan. Annyeong Donghae oppa, Yoona-ssi.” Pamit Jessica kepada Donghae dan Yoona.

“Annyeong.” Jawab Donghae dan Yoona bersamaan.

“diakah gadis itu oppa?” tanya Yoona setelah kepergian Jessica.

“Maksudmu?” tanya Donghae bingung.

“gadis yang oppa sukai. Sepertinya kalian akrab sekali. Tadi aku juga mendengar kalau kalian berencana pulang bersama. ” Kata Yoona menyembunyikan kesedihan di setiap kalimatnya.

”Ne, oppa menyukainya. Dia gadis yang cantik dan baik.” Jawab Donghae santai.

“begitu.” Kata Yoona menyimpan sejuta kepedihan.

Benar apa yang ditakutinya selama ini. Donghae jatuh cinta kepada gadis lain. Sejak semula Yoona sudah mempersiapkan hatinya jika suatu saat dia mengetahui bahwa Donghae mencintai gadis lain. Tapi tetap saja, hatinya masih merasakan sakit yang amat sangat. Sekuat tenaga Yoona menyembunyikan air mata yang hendak keluar dari kedua mata indahnya. Dia tidak mau Donghae mengetahui dia menangis karena masalah ini. Yoona tidak ingin membuat Donghae merasa bersalah karena telah membuatnya menangis. Walau sebenarnya bukan Donghae yang membuatnya menangis, tapi dirinya sendiri, atau mungkin ini adalah kesalahan hatinya yang telah mencintai seorang Lee Donghae. Entahlah, Yoona sendiri tidak tahu siapa yang harus disalahkan atas rasa cintanya yang begitu besar untuk Donghae, sahabatnya sendiri. Seseorang yang selama ini menjadi seorang ‘oppa’ baginya.

“Yoona-ah?” panggil Donghae sambil megoyang-goyangkan tubuh Yoona.

“Ne?” jawab Yoona terkejut.

“kenapa? Apa kau melamun? Daritadi oppa memanggilmu tapi kau tidak merespon sama sekali, apa ada yang kau pikirkan?” tanya Donghae sedikit khawatir.

“Aniya.” Jawab Yoona dengan lesu.

“benarkah kau tidak apa-apa? Tapi kenapa kau tiba-tiba lesu seperti itu?” tanya Donghae menambah kekhawatirannya.

“Aniya. Mungkin aku hanya terlalu lelah saja. Kajja! Kita pulang sekarang. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.” Kata Yoona mengalihkan pembicaraan.

“tapi…”

“Aku tidak apa-apa, oppa. Tidak perlu khawatir, aku ini Im Yoona yang kuat.” Kata Yoona dengan wajah ceria supaya Donghae tidak mengkhawatirkannya lagi dan terutama tidak bertanya yang macam-macam kepadanya.

“ne. kajja!” kata Donghae tersenyum lebar mendapati Yoona kembali ceria seperti biasanya.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

4th day

Seperti biasa pagi ini Donghae menjemput Yoona dirumahnya, setiap kali menjemput Yoona yang ada dipikirannya hanyalah kemana gadis itu akan membawanya pergi hari ini. Selalu kalimat itu yang tergiang dikepala Donghae saat di terjaga dari tidurnya di pagi hari. Dia bukannya keberatan dengan ajakan Yoona, tapi tempat yang didatangi gadis itu adalah tempat yang sering mereka berdua kunjungi. Apa maksud Yoona dengan mengajaknya ke tempat itu? Semula Donghae mengira kalau Yoona akan mengajaknya ke tempat yang jauh atau yang belum pernah mereka datangi, tapi nyatanya itu adalah tempat dia bersama dengan Yoona ataupun sahabat-sahabatnya yang lain menghabiskan waktu bersama.

“oppa.” Sapa Yoona begitu memasuki mobil yang Donghae gunakan untuk menjemputnya sekaligus ‘mengantarkannya’ hari ini.

Donghae hanya tersenyum menanggapi sapaan Yoona. “akan kemana kita hari ini, tuan putri?” tanya Donghae sambil mengedipkan sebelah matanya.

“aish! Oppa genit. Eemmm… kemana ya? Aku sendiri bingung oppa.” Jawab Yoona sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di kepala tanda bahwa dia sedang berpikir.

“kalau bingung, lebih baik hari ini kita tidak usah pergi saja.” Kata Donghae yang langsung mendapat tatapan tajam dari Yoona.

“Ya! Oppa mau mengingkari janji, huh? Kalau begitu, baiklah. Kita tidak jadi pergi hari ini dan jangan harap aku memaafkan oppa.” Kata Yoona sambil membuka pintu mobil.

“Chakkaman!” cegah Donghae sebelum Yoona benar-benar turun dari mobilnya.

“wae?” tanya Yoona ketus.

“Ne, mianhe. Kita pergi hari ini.” Kata Donghae yang membuat Yoona mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil. Donghae tampak sedang berpikir keras tempat yang paling tepat untuknya dan Yoona menghabiskan waktu hari ini.

“bagaimana kalau kita ke pantai?” usul Donghae beberapa saat kemudian.

“pantai?” tanya Yoona meyakinkan.

“Ne, bukankah sudah lama kita tidak kepantai?”

“oppa benar, sejak 2 tahun yang lalu kita tidak pernah pergi kemana-mana berdua.” Jawab Yoona lesu.

“aish! Im Yoona jangan mengungkit tentang masalah itu lagi.” Kata Donghae kesal.

“waeyo? Bukankah oppa seharusnya bahagia karena telah mendapatkan seseorang yang oppa sukai disana?” tanya Yoona sarkatis.

Yoona masih tidak bisa melupakan pernyataan Donghae kemarin saat mengatakan dia menyukai gadis lain. Yoona sudah berusaha untuk tidak memikirkan hal itu sampai 7 hari perjanjian mereka berakhir, tapi pengakuan Donghae membuatnya merasakan sakit yang sangat dalam dihatinya. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap Donghae. Dia ingin bersikap biasa saja, tapi sepertinya seluruh kinerja tubuhnya tidak berjalan seirama. Jadilah Yoona yang sekarang, sedikit sensitif di pagi yang cerah ini.

“Maksudmu Jessica?” tanya Donghae.

“jangan sebut namanya!” jawab Yoona dengan ketus.

“kenapa? Kau cemburu?” tanya Donghae sambil tersenyum lebar.

“Ani, untuk apa aku cemburu. Kajja! Kita berangkat sekarang.” Ajak Yoona.

“Kemana?” tanya Donghae yang sengaja menggoda Yoona, berusaha mengembalikan mood gadis itu agar lebih baik.

“Ya! Oppa menyebalkan! Bukankah tadi oppa yang mengatakan kalau kita akan ke pantai. Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Perjalanan ke pantai cukup jauh, nanti kita tidak bisa bermain sepuasnya jika tidak segera berangkat.” kata Yoona panjang lebar menandakan mood gadis itu berangsur membaik.

“ne, ne. baiklah, tuan putri.” Kata Donghae.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

“Wah!!! Lama tidak datang pantai ini semakin indah saja.” Kata Yoona setelah mereka berdua sampai dipantai.

“Udaranya juga sejuk.” Tambah Yoona sambil merentangkan kedua tangannya. Donghae yang melihatnya hanya tersenyum.

“Yoona-ah, apa kau ingat kejadian 12 tahun yang lalu dipantai ini?” tanya Donghae kepada Yoona yang sekarang tengah duduk disebelahnya menikmati pemandangan pantai yang indah.

“Tentu saja. Tapi aku merasa malu jika mengingat kejadian itu.” Jawab Yoona.

“Waeyo?” tanya Donghae bingung.

“itu….”

Flashback

12 tahun yang lalu…

“hiks…hiks…” tangisan gadis kecil yang tidak lain adalah Yoona mengalihkan perhatian Donghae dari pemandangan pantai yang indah.

“Yoona-ah, kau kenapa?” tanya Donghae sambil menyentuh pundak Yoona yang menelungkupkan wajahnya dikedua lutut.

“Oppa!” teriak Yoona langsung memeluk Donghae.

“Waeyo? Kenapa kau menangis?” tanya Donghae sambil mengelus rambut Yoona yang panjang tergerai.

“mereka jahat oppa. Aku tidak boleh ikut bermain.” Rengek Yoona melepas pelukannya dan menunjuk ke arah 8 temannya yang tengah bermain di dekat bibir pantai.

“Kenapa kau tidak boleh ikut bermain?” tanya Donghae heran.

“karena aku tidak punya pasangan. Mereka memainkan permainan yang membutuhkan pasangan sedangkan aku tidak punya. Seandainya saja Heechul oppa ikut pasti aku bisa berpasangan dengannya dan ikut bermain bersama mereka.” Jawab Yoona panjang lebar.

“lalu kenapa kau tidak mengajak oppa, Yoona-ah?” tanya Donghae.

“aku takut oppa tidak mau aku ajak bermain. Sepertinya aku lihat oppa lebih suka menikmati pemandangan di sekitar sini daripada ikut bermain.” Jawab Yoona.

“Babo!” kata Donghae sambil menyentil dahi Yoona.

“Appo!” rintih Yoona sambil mengelus-elus dahinya.

“Mulai sekarang jika kau butuh teman, carilah oppa karena oppa akan menemanimu. Jika kau butuh seseorang untuk kau ajak berbagi cerita, ceritakanlah pada oppa. Jika kau butuh tempat untuk bersandar karena terlalu lelah, datanglah pada oppa yang akan selalu siap menyediakan bahu oppa untukmu bersandar. Jika kau butuh perlindungan, oppa adalah orang pertama yang akan melindungimu. Jika kau membutuhkan tempat untuk berbagi kesedihan dan tangismu oppa siap menyediakan kedua tangan oppa untuk memelukmu dengan erat. Bahkan jika kau membutuhkan seseorang untuk kau pukuli guna melampiaskan kekesalanmu, oppa siap untuk kau pukuli. Pokoknya oppa akan selalu ada untukmu tidak peduli apapun yang terjadi. Jadi jangan pernah menangis lagi. Kau jelek jika menangis. Ara?” kata Donghae panjang lebar.

“benarkah?”

“Ne.”

“Yaksok?” tanya Yoona sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

“yaksok.” Jawab Donghae sambil mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking milik Yoona.

“kau lebih cantik jika tersenyum, jadi tersenyumlah!” kata Donghae membuat pipi Yoona bersemu merah.

Seakan terhipnotis oleh perkataan Donghae, Yoona pun tersenyum lebar ke arah Donghae dan dibalas dengan senyuman pula oleh Donghae.

“oppa?”

“Ne?”

“kelak jika aku dewasa dan membutuhkan seorang pria untuk aku nikahi, maukan oppa menjadi orang itu?” tanya Yoona dengan penuh harap.

“Mwo? Kau melamar oppa, Yoona-ah?” tanya Donghae tidak percaya.

“ani, bukankah tadi oppa akan selalu ada saat aku butuh. Jadi jika aku membutuhkan mempelai pria untuk bersanding denganku nanti, aku bisa meminta bantuan oppa kan?” tanya Yoona polos.

Donghae terkejut mendengar pertanyaan Yoona, dia terdiam seribu bahasa tidak tahu harus menjawab apa. Usia mereka yang selisih 4 tahun tentu membuat perbedaan pemikiran antara dirinya dan Yoona terhadap pertanyaan Yoona barusan. Yoona pasti menganggap itu hanyalah permintaan biasa seorang dongsaeng kepada oppanya, tapi tidak dengan Donghae. Bagi Donghae itu artinya Yoona memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Donghae tidak langsung menjawab pertanyaan Yoona, dia menatap lekat-lekat gadis kecil dihadapannya yang menampakkan raut muka penuh harap menanti jawaban yang akan Donghae berikan. Setelah beberapa saat memandangi Yoona, Donghae tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Yoona itu. “Ne, tentu saja. Oppa akan menjadi suamimu nanti.”

“gomawo.” Kata Yoona langsung memeluk Donghae dengan erat.

Flashback End

“Aish! Benar-benar memalukan.” Kata Yoona sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“waeyo? Kenapa malu?” tanya Donghae menyingkirkan tangan Yoona yang menutupi wajahnya dan menatap intens gadis itu.

“Oppa, jangan melihatku seperti itu!”

“waeyo? Bukankah saat memintaku menjadi suamimu kau tidak malu sama sekali? Malah kau memintanya dengan penuh harap dan dengan wajah polos tanpa beban.” Jawab Donghae santai.

“saat itu aku masih berusia 9 tahun, oppa. Jadi tidak tahu arti dari permintaanku itu.”

“benarkah? Tapi sepertinya saat itu kau benar-benar mengharapkannya. Buktinya setelah itu kau selalu mencariku setiap saat. Hingga akhirnya kita dekat seperti sekarang.”

“itu karena oppa sudah berjanji akan selalu ada untukku, oppa lupa dengan janji oppa sendiri?” tanya Yoona.

“ani. Hanya saja sepertinya kau masih mengharapkannya sampai sekarang.” Kata Donghae yang tiada hentinya menggoda Yoona.

“oppa, sudahlah! Jangan menggodaku seperti itu!” kata Yoona memalingkan wajahnya.

“waeyo? kau benar-benar mengharapkannya kan?” tanya Donghae.

“ani! Kalau oppa menggodaku terus, lebih baik aku pulang.” Kata Yoona beranjak dari duduk.

“Chakkaman!” cegah Donghae.

“wae?” tanya Yoona ketus.

“Mianhe, oppa bercanda. Maafkan oppa.” Kata Donghae.

“baiklah! Sebagai permintaan maaf oppa harus menemaniku bermain air.” Ajak Yoona sambil menyeret Donghae menuju pantai.

“tapi oppa tidak membawa baju ganti, Yoona-ah.” Tolak Donghae.

“aku juga.” Sahut Yoona asal.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

To be continued…

Ah! Akhirnya selesai juga part 2nya *merentangkan kedua tangan.

Pendek ya? Pastinya. Nggak tahu kenapa nich setiap kali ngetik udah lebih dari 11 lembar otakku langsung macet, jadi ya dinikmati aja part yang pendek sangat ini. Hahaha *author ketawa evil bareng Kyu.

Mianhe kalau nggak romantis, sebenarnya part ini dan sebelumnya aku ingin membuat moment romantis YoonHae atau moment dimana mereka hanya berdua saja. Tapi sepertinya gagal total, karena ku rasa FF ini nggak ada romantis-romantisnya sama sekali.

Untuk part selanjutnya akan ada konflik, kalau kalian jeli membaca part ini mungkin kalian bisa menebak konflik apa yang akan terjadi di antara Yoona dan Donghae.

Bagi yang tidak tahu silahkan ditunggu saja kelanjutannya, bagi yang sudah tahu silahkan menunggu juga *apasih author ini #nggak penting.

Terakhir, jangan lupa comment dan like nya.

Gomawo semuanya….

Dadah… *meluk readers satu persatu.


16 thoughts on “Sequel of Because I’m a Fool (Please! Say That You Love Me) Chapter 2

  1. rame…rame…
    lucu yg waktu yoona dgn polosnya ngomong kalo dia btuh pendamping mau minta hae yg jd pendampingnya..^^
    lanutkan ya..
    jgn lama thor……

    Like

  2. gomawo semuanya udah baca+comment….
    untuk chapter slanjutnya silahkan ditunggu saja…
    tapi biasanya akan aku selingi oneshot distiap chapternya…
    nggak tahu kenapa, otak ini akan bekerja untuk kelanjutan FF ini stelah membuat FF oneshot yoonhae..
    wklwkwkwkwk…
    aku benar-benar aneh…
    ya sudah…
    daripada banyak ngomong lebih baik aku kembali menjelajah dahulu…
    sekali lagi terimkasih buat yang udah baca+comment…
    dadah………*meluk reader satu persatu

    Like

  3. keren kok thor~~ yaampun waktu kecilnya yoonhae pasti unyu – unyu banget~~ kyaaa senyam senyum ndiri waktu baca yoona nglamar donghae🙂 lanjut ya thor..

    haduh jess udah mulai menyerbu! sebel😄

    Like

  4. yoona cemburu ma jessica..
    donghae kpn sih mau bilang cinta ma yoona..
    kn kasian yoona patah hati gara2 jessica..
    donghae bersedia klo bener2 jadi mempelai pria yoona..
    ditunggu kelanjutannya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s