Escape from the Undead Land [ Part 4 ] (Game and the Hermina)


<a href=”http://imgur.com/gSh3j”><img src=”http://i.imgur.com/gSh3j.jpg&#8221; alt=”” title=”Hosted by imgur.com” /></a>

Title                : Escape from the Undead Land [ Part 4 ] (Game and the Hermina)

Author             : Jung Yeonmin

Cast                 : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Jo Youngmin, Jo kwangmin, Kim Jongwoon, Cho             Kyuhyun, Lee Sungmin, Park Jungsoo

Genre              : Horror, Thriller, Friendship, Family, Fantasy

Rating              : G

A.N                   : WARNING!! Jangan baca part ini selagi makan, ataupun sebelum makan. Yang mau nyoba silahkan author ga tanggung jawab karena author bukan bang toyib~ *kabur ^^

Summary:

“palli, kita pergi!” kata hyukjae dan sekarang dia ikut menggandeng tanganku.

“kemana??”

“tentu saja ke istana Raja Hactrex!”

“APA????????”

Akupun mengomel sepanjang perjalanan tapi mereka seolah tidak mendengarku. Mereka berdua mengandeng kedua tanganku sehingga membuatku tidak bisa melepaskannya. Bodoh, bodoh pabo! Ini gila, sudah cukup gila. Akhirnya aku menyerah dan mengikuti langkah mereka, kalau saja hal itu tidak terjadi… aku pasti tidak akan disini, hal yang menyedihkan yang bisa terjadi di dalam hidupku aku ingin mengulangnya kembali, aku menyesal.

~.

Manusia adalah setan yang sesungguhnya, kau kesepian? Kau ketakutan? Mereka semua akan tunduk kepadamu. Mereka semua akan bertekuk lutut padamu. Percayalah ini bukan akhir hidupmu, kita akan membangun dunia baru yang lebih menyenangkan dari ini. Habisi, dan bunuh mereka semua. Mereka semua akan menjadi budakmu, mereka semua akan MATI.

            Kwangmin terbelak tidak percaya. Bagi anak kecil pada umumnnya itu adalah mimpi buruk di siang hari namun baginya, itu adalah awal dari kebahagian yang semu. Walaupun ia tersenyum, namun jiwanya tidak siap melihat pemandangan itu. Perlahan semuanya berubah menjadi gelap

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Author POV

A day in the autumn..

Tes.. tes.. tes..

“appa?”

Tes.. tes.. tes..

“kenapa tubuh appa terselimuti sirup merah?”

Sreeet

“bayangan apa itu?”

“k-k-kyu…”

“appa? Kau berbicara?”

SREEET

“itu kan.. satan!”

“pe-pe-pergi…pergi.. cep-aa.. AAAAAAAAAAAAAARRRGGHH”

JLEBB

“SATAN!!! Kau  satan?? Apa yang kau lakukan pada appaku?? Ia belum selesai berbicara kenapa kau menusuk kepalanya begitu saja hingga pecah?????”

“ikutlah denganku..”

“aniya!”

“begitu? Baiklah kalau itu maumu, selamat bersenang-senang dengan appamu…”

“tunggu! Kau mau pergi kemana?”

“tentu saja kembali”

“itu.. kenapa kau membawa game yang dibelikan appa kemarin??”

“hem, bocah kecil.. aku datang dari game ini aku membawanya kembali ke duniaku”

“tidak boleh! Kembalikan”

Bocah kecil itu berlari dan melompat menuju satan yang telah memegang game yang diberikan appanya. Ia berusaha sekuat tenaga menarik kembali game itu namun usahanya sia-sia.

“HAHAHAHAHAHA bocah kecil, kau mencoba menggelitikiku?”

“tidak! Kembalikan game ku!!!”

“bodoh, dasar keras kepala!”

Makhluk itu menghempaskan tubuh mungil bocah kecil yang tidak bersalah itu dan mengacungkan tongkat panjang yang di ujungnya terdapat pisau berbentuk sabit, seperti pedangnya dewa kematian.

“satan kau memang jahat seperti di dalam game!”

“yaya begitulah aku, dan sebentar lagi aku akan mengakhiri mimpi burukmu dan ini.. rasanya akan sedikit sakit”

“apa yang akan kau lakukan???”

“mengirim bocah nakal sepertimu ke neraka HA HA HA HA HA”

JLEEEEEBB

Gelap

.

.

.

.

Dalam gelap, terdapat sebuah suara serak dari bocah kecil itu dan berkata

angeloth?

~.~.~.~.~.

 

 

Seoul, police office

Seorang pria paruh baya dengan penampilan yang sangat berantakan dengan kemeja yang lusuh, sepatunya yang penuh dengan tanah, jamnya yang sudah retak, lingkaran hitam yang melingkar di kedua matanya dan raut wajahnya yang terlihat sangat panik. Berjalan terburu-buru menghampiri seorang polisi yang tengah siap menerima tamu lengkap dengan laptopnya untuk mencatat kesaksian apa yang akan diberikan. Pria paruh baya itu setengah berlari menuju meja polisi itu dan ketika sampai ia menggebrak meja polisi itu. Sukses membuat sebuah cangkir berisi kopi hangat yang baru diminum setengah jatuh kelantai dan menghadirkan suasana hening di ruangan kantor polisi itu.

“TOLONG!! TOLONG ANAK KAMI!!”

Dengan muka merah padam dan gelagatnya yang tidak sabaran terlihat jelas di wajahnya, takut khawatir penyesalan menumpuk dan bercampur di raut wajahnya.

“tenang dulu pak, kami akan menolong anakmu.. tenangkan diri bapak dahulu duduklah dengan rileks dan ceritakan apa yang terjadi”

Dengan raut muka yang masih tidak berubah, dan sekujur tubuhnya yang menegang iapun mencoba untuk duduk di bangku yang tersedia di depan meja polisi tersebut.

“minumlah ini, tenangkan dirimu”

Slurrrp

“bagus, sekarang tarik nafas dalam dan ceritakan semuanya pelan-pelan”

Pria itu mencoba menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Nampaknya itu cukup berhasil, namun tetap saja raut wajahnya tidak berubah.

“anakku.. anakku menghilang!! Tolong dia!! Kumohon! Istriku.. sekarang istriku sudah menjadi gila! Dan aku juga.. aku nyaris gila akan semua ini!! Kumohon tolong anakku, ia adalah anak sematawayang kami!! Tolongg kumohon tolong!!”

“baik pak, tenang dulu kami pasti akan menolong anak bapak. Bisa bapak ceritakan bagaimana dia bisa hilang?”

Pria itu terdiam iapun menunduk dan mengerutkan kedua alisnya. Ia seperti memikirkan sesuatu.

“bagaimana kalau.. kalian ikut denganku? Ditempat anakku hilang! Aku akan membayar berapapun yang kalian minta asal ia bisa selamat!!”

“hem.. baiklah kami akan menyediakan tim pencarian dan juga anjing pelacak, bagaimana kalau besok kita berangkat?”

“ya!! Benar, aku akan mengantar kalian ketempat itu besok!”

Sungmin POV

Keesokannya

“hyung.. aku khawatir melihat keadaanmu, apa kau yakin ingin mengantar tim polisi itu ketempat yang.. menurutmu hyukjae menghilang?”

“bukan menurutku sungmin-ah! Tapi dia benar-benar menghilang disana! Sudahlah kemudikan mobil ini dengan benar dan arahkan ke tempat itu”

“tapi hyung.. bagaimana jika para polisi itu.. menolak lagi seperti polis-polisi yang sebelumnya?”

“tidak.. mereka tidak boleh setega itu kepadaku! Aku sudah membayar mereka mahal!”

“jongwoon hyung.. aku kasihan padamu” kataku di dalam hati

Jongwoon hyung terdiam, hening di dalam mobil mewah milik hyungku ini yang sedang kupegang kemudinya. Berhari-hari semenjak aku memberitakan kematian noona membuatnya terlihat sangat kacau. Belum lagi hyukjae, anak sematawayangnya yang menghilang secara misterius. Dari cerita yang kudengar darinya, penjelasannya sangat jauh dari akal manusia. Sama sekali tidak logis dan masuk akal. Mungkinkah ia memiliki gangguan jiwa? Mungkin saja hyukjae kabur dengan teman-temannya dan bersembunyi di suatu tempat, anak itu memang nakal. Sampai aku mendapatinya telah bersama dengan teman-temannya aku tidak akan segan untuk menamparnya, ini sudah sangat kelewatan. Tidak tahu kah ia? Bahkan eommanya menjadi gila dan sekarang appanya setengah gila! Akupun menginjak pedal rem secara perlahan dan menghentikan mobil mewah berwarna hitam legam ini. Begitupun tim polisi yang berada di belakang kami yang ikut berhenti.

Dengan tidak sabaran jongwoon hyung melepaskan seat belt yang mengikat tubuhnya sepanjang perjalanan. Iapun memencet sebuah tombol dan secara otomatis pintu mobilpun terbuka. Ia keluar mobil secara terburu-buru dan langsung menghadap pemimpin para polisi itu. Akupun mengikutinya.

“ia menghilang disini!”

“disini?”

Dengan muka sedikit heran polisi tersebut melangkah mendekati tebing juram dan melihat pemandangan di bawah. Kemudian iapun menatap sekeliling. Hanya ada jalan, tebing tinggi yang menjulang di samping kami, dan jalan buntu yang dibawahnya terdapat sungai deras dan hutan yang sangat lebat.

“mungkin.. sekarang.. dia sudah mati”

“tidak!!! Kesimpulan apa itu?? Terakhir aku meninggalkannya dia masih hidup! Hidup sehat walafiat!”

“hemm.. apa dia gila?” kata polisi itu dan menatapku

“dia..”

“aku tidak gila!! Saat itu.. ada sebuah kota disini!! Yaa, jalan ini tidak buntu!! Ada sebuah kota yang sangat mengerikan!! Para penduduknya berkulit pucat seperti zombie! Aku mengirimkan anakku ketempat tinggal noonaku, dari alamat yang noona berikan tapi..”

“apa?”

“ketika aku telah mengantar anakku dan dalam perjalanan pulang, sungmin menelponku! Ia berkata.. hyeon noona sudah meninggal seminggu yang lalu!!!! Dan ketika aku hendak kembali ke kota itu.. kota itu hilang!!! Dan berubah menjadi jalan buntu!!”

“kau seharusnya membawa dia ke psikiater, atau rumah sakit jiwa..” kata polisi itu kepadaku.

Oke, aku sudah menduga ini akan terjadi.

“AKU TIDAK GILA PAK POLISI!! pak polisi aku serius! Anakku hilang dibalik tebing ini! Waktu itu disini ada sebuah kota aneh! Aku berani bertaruh! Aku tidak gila!”

“maaf sudah membuat kekacauan” kataku kalem dan membungkukan badanku

“tidak!! Apa yang kau katakana sungmin-ah??? Tunggu!! Anjing pelacak! Tunggu dulu, biarkan anjing itu mencium bau anakku!!”

Jongwoon hyungpun setengah berlari menuju anjing itu dan menyodorkan sebuah sepatu kets milik hyukjae. Anjing itupun mendengus-dengus sepatu itu. Terlihat jelas di wajah jongwoon hyung penuh dengan kecemasan dan penuh harap. Ia berharap anjing itu melangkah ke suatu tempat dan menemukan hyukjae. Namun semuanya sirna, karena tidak ada reaksi yang dilakukan anjing itu.

“baiklah nampaknya ini waktunya untuk kembali” kata polisi itu dan mengangkat alisnya

“sekali lagi maaf telah merepotkanmu” kataku dan membungkuk kepadanya.

“ya tidak masalah, kusarankan untuk membawanya ke psikiater”

“baiklah terimakasih”

Satu persatu tim polisipun mulai menaiki mobil patroli, begitupun polisi yang memegang anjing pelacak itu. Namun, aku mendapati suatu keganjalan. Ketika polisi tersebut menarik tali anjing tersebut, anjing tersebut tidak bergeming sedikitpun! Nyaris tidak ada reaksi, ia hanya terdiam menatap lurus dan seperti mati.. anjing itu terlihat seperti patung.

“anjing itu sakit?”

“mwo? Apa maksudmu?” kata pemimpin polisi itu yang baru saja hendak menaiki mobil patroli.

“umh aniya..” kataku.

Akupun berjalan menuju jongwoon, yang nampaknya ia menyadari keganjalan dari anjing pelacak itu. Jongwoonpun berlutut menatap anjing itu. Dan polisi yang memegang kendali anjing tersebutpun tidak berusaha memaksa anjing itu untuk pergi. Ketika aku mendekat, sekilas aku melihat polisi tersebut tersenyum tipis. Kemudian polisi tersebut berjongkok dan mengusapkan tangannya ke kepala anjing itu dengan lembut. Jongwoon terdiam dengan wajah penuh harap.

“chien de grade, bon travail”

Polisi itu berbicara pada anjing itu, kurasa ia berbicara dalam bahasa perancis. Seakan mengerti perkataan tuannya, anjing tersebutpun menghentakan kakinya secara teratur selama tiga kali.

“apa yang terjadi padanya?” tanyaku kemudian

“ia senang atas pujianku”

“eh?”

TINN TINN TIIINNN

Bunyi klakson mobil patroli menglaksoni kami, memberikan pertanda kepada sang polisi untuk segera kembali ke dalam mobil patroli.

“temui aku di la borerau bleu besok jam 4 sore”

Kata polisi itu kemudian iapun memberiku secarik kertas dan meninggalkan kami. Iapun menaikan anjingnya di tempat khusus anjing di bagian belakang dan iapun naik dan duduk di bagian depan mobil. Kemudian mobil itupun bergegas jalan. Anjing itupun menyembulkan kepalanya melalui jendela. Perlahan mobil-mobil patrol itu mulai meninggalkan kami. Dan ketika mobil patrol itu mulai menjauh, tiba-tiba saja semua anjing pelacak yang terdapat di mobil polisi itu meraung secara bersamaan. Seolah malam bulan purnama telah datang, merekapun menyerukan senandung yang sukses membuat bulu kudukku berdiri. Jongwoon tersenyum puas.

“lihat, kurasa.. polisi itu tau! Lihat sungmin-ah aku tidak gila!!”

Akupun mengerutkan dahiku, akupun mencek secarik kertas yang telah diberikan polisi itu. Tertulis:

ßφД

“tulisan latin? Apa ini? Sandi?”

.

.

.

.

Hyukjae POV, Axphrote world

“heeyy lepaskan aku kalian pabo!! Lepaskan dasar anak manusia bodoh!! Lepaskan lepaskaaann” amuk youngmin kepada kami.

“hey, donghae-ya apa kau punya obat tidur?”

“obat tidur? Kekekeke yang benar saja, aku tidak menyimpan benda seperti itu!”

“anak ini berisik sekali, kau mau kusumpal mulutmu dengan kaus kakiku hah??”

“huh anak manusia bodoohh lepaskan akuu!!”

“baiklah baiklah hyukkie, kita sudah berjalan sekitar dua kilometer jauhnya dengan memeganginya sepanjang jalan, apa kau tidak lelah? Bagaimana kalau kita melepaskannya saja?”

“huh menyusahkan saja kau youngmin! Baiklah baiklah kita lepaskan”

Akupun melepaskan tanganku yang sedari tadi memeganginya sepanjang perjalanan. Iapun menepuk-nepuk bahunya dan sekujur lengannya seolah-olah terdapat banyak debu di sekujur tubuhnya. Dasar anak yang sombong, padahal aku kan bermaksud menyelamatkannya bermaksud berbaik hati kepadanya tapi kenapa ini balasannya???

KRIUUKK~~ KRIUKK~

“kau lapar?” Tanya donghae padaku

Akupun memegangi perutku dan tersenyum. Kamipun melemparkan pandangan ke segala arah. Akupun melirik ke arah jam tangan hitamku yang tak pernah lelah mengalung di pergelangan tanganku walaupun kini kacanya telah penuh goresan.

“sekarang sudah jam 12 siang, memang sudah sepantasnya kita lapar”

“ah iya benar juga, kau kan butuh makan hemm”

Iapun terlihat berfikir sebentar kemudian ia menghampiri sebuah pohon yang uh., apa itu benar-benar pohon? Maksudku, tumbuhan itu terlihat seperti sebuah.. bongkahan kayu besar yang menjulang tinggi sekali dan aku tidak dapat melihat ujungnya karena hanya gelap yang kudapati. Mungkin itu adalah daun dari pohon tersebut yang menutupinya sangkin lebatnya pohon tersebut. Namun.. batang pohon itu sangat tidak kokoh, malah sangat lunak dan terlihat sangat uh menjijikan. Batang pohon itu terlihat seperti bangkai yang sudah membusuk. Donghaepun menggapai salah satu batang yang berukuran sedang dan dengan sekuat tenaga ia menariknya. Hingga aku dapat melihat batang sedang itu terpisah dari badannya dan terdapat lendir berwarna kemerahan keluar dari dalamnya dan menjuntai seakan tidak mau terpisah dengan badannya. Hal ini membuat donghae harus mengeluarkan pedangnya untuk memisahkan lendir kental kemerahan itu dengan badannya. Setelah berhasil terpisah secara ajaib lendir itupun membentuk batang baru lagi.

“kurasa ini cukup untuk kita bertiga”

“kau tidak akan menyuruhku memakan itu kan?” kata youngmin

“hemmm menurutmu?” sambil berkata itu donghaepun mengayunkan pedangnya dan menebas batang pohon itu menjadi tiga bagian.

Uhh sejujurnya kalau boleh memilih aku lebih memilih untuk tidak makan tapi.. perutku tidak bisa di kompromi. Sudahlah eunhyuk, anggap saja kau sedang memakan kimchi.. yah.. mungkin sedikit mirip dengan kimchi karena warnanya kemerahan.. uh kurasa begitu.

“ini untukmu hyukjae dan ini untukmu youngmin”

“tidak! Aku tidak lapar!” iapun membuang mukanya. Beberapa menit kemudian.

KRIUUKK~~ KRIUKK~~

Aku dan donghaepun saling berpandangan, suara itu berasal dari youngmin. Kamipun melempar pandangan kami kearahnya dan mengangkat kedua alis kami.

“apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?? Aku tidak la—“

KRIUUUKKKK~~

“hahahahaha sudahlah ambil ini, hanya ini yang bisa kita makan untuk menyelamatkan perut kita makanlah” kata donghae dan diikuti oleh gigitannya ke batang itu. Lendir merah itupun menjalar ke sekitar mulutnya donghae terlihat sangat menikmatinya seolah ia memakan ayam panggang yang berlumuran saus.

Aku mematung

“AKU MANUSIA BODOH! Bukan Aphr sepertimu!!! Aku tidak mau makan makanan menjijikan seperti itu!!”

“uh.. ayolah youngmin kurasa ini tidak masalah” kataku dan mulai mengangkat batang itu mendekati mulutku. Akupun menelan ludah dengan muka sedikit khawatir akupun menutup hidungku dengan tangan kiriku dan memejamkan mataku. Baiklah hyukjae, masukan benda ini kemulut segera kunyah dan habiskan, begitu saja kan? Bayangkan ini kimchi hyukjae!! Ini kimchi!! Dan benda itu semakin mendekat semakin mendekat dan..

PLAAKKK

Aku merasakan basah di punggungku. Dingin, seperti ada sesuatu cairan yang menghantamku dari belakang namun nampaknya cairan ini masih berada di punggungku ah, tidak bukan cairan biasa sepertinya.. ini..

PLAAAKKK

Bagus sekarang benda itu mendarat di kepalaku. Akupun menjatuhkan batang yang akan kumakan tadi, melepaskan tangan kiriku dari hidungku dan kini kedua tanganku menuju kepalaku. Akupun memegan kepalaku dan mendapati suatu.. cairan kental, dingin dan bergerak-gerak diatas kepalaku. Akupun mengambil secuil dan perlahan membuka mataku dan mendekatkan secuil cairan kental itu ke depan kedua mataku. Perutku mual, dan mataku terbelak. Kudapati sebuah cairan berwarna oranye bergerak gerak bagai hidup dan terdapat sebuah bola mata kecil di dalamnya.

“GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

Tiba-tiba terdapat hujan dari cairan-cairan aneh itu menghujani kami. Donghae dan youngmin memainkan pedangnya secara rancau aku cuman bisa berlari sambil berteriak. Uh ini sangat menjijikan rasanya aku mau memotong rambutku hingga botak agar aku bisa terpisah dari cairan yang berisikan bola-bola mata yang sangat menjijikan ini.

“HUAAAAAA EOMMAAAAA EOMMMAAAAAAAAAAAAA”

“dasar anak manusia bodoh, seharusnya kau membantu kami mencari musuh yang bersembunyi yang melempari kita dengan cairan aneh itu bukan berteriak memanggil ibumu!!!!”

“aaaaaaahhh aku tidak bisa melakukan apapun!! Ini menjijikan aku mau mun—“

HOEEEEKK

“bagus, sekarang kau malah muntah! Dasar tidak berguna”

“anii, kurasa mereka menyerang kita dari atas pohon itu”

“itu semua pasti gara-gara kau haedong!! Kau yang seenak jidat menebas batang pohon itu!!”

“haedong?? Ya youngmin!! Namaku donghae bukan haedong!!”

“terserah, hey anak manusia kau kan punya panah kalau mereka berada di atas pohon cepat gunakan itu!!”

“ah iya kau benar..”

PLAAKK sebuah cairan mendarat di punggungku kembali

HOEEEKKK

“ahh kau tidak bisa diandalkan setiap kena lendir itu kau muntah, sini berikan senjatamu itu padaku!”

“tidaakk!! Aku yang akan memanah sen—“

“HUAAAAAAAAAAA!!” jerit kami bertiga dan..

BLUBB

Bagus, sekarang kami terperangkap di dalam kubangan yang lagi-lagi berbentuk lendir aneh berwarna kehijauan.

HOEEEEKKKK

“YA! HYUKJAE YA BISA TIDAK KAU BERHENTI MUNTAH????”

~.~.~.~.~.~

Sekarang aku telah berada di sebuah panci besar berisikan lendir berwarna kehijauan itu tubuhku yang penuh dengan lendir oranye dan terdapat bola mata di dalamnya, dan kini?? Kami digerek dengan sebuah tali yang berasal dari batang hijau pohon tersebut menuju ke atas. Semakin ke atas mendekati kegelapan yang terdapat di atas pohon itu. Apapun itu, aku berharap semoga kami tidak akan dijadikan santapan makan siang mereka. Ya semoga saja.

Sekarang, kami sampai di atas, lebih tepatnya disebuah rumah pohon. Gelap, sangat gelap aku tidak bisa melihat apapun. Tubuhku sangat lemas karena sedari tadi aku mengeluarkan isi perutku yang sebenarnya isinya saja sudah kosong. Ini tidak bagus. Rasanya aku mau mati, aku benar-benar ingin keluar dari sini! Didalam gelap, aku dapat mendengar suara seseorang yang berbincang-bincang dengan sebuah bahasa yang yang sangat aneh. Sepertinya ia berbicara dengan sebuah benda.. mungkinkah handphone? Nampaknya ia juga bukan seorang aphr, entah kenapa firasatku menyatakan tubuhnya sempurna dan dia bukanlah aphr. Tiba-tiba panci kami bergerak dengan sendirinya, seperti sebuah kekuatan sihir yang menggerakannya. Dan orang yang melakukan itu berada di belakang kami karena aku dapat mendengar jelas langkahnya. Aku dapat mendengar jelas suara seseorang berusaha membuka pintu yang terkuci, kemudian perlahan pintu itu terbuka. Sebuah cahaya silau menyorot kedua mataku. Sangat silau aku memejamkan mataku, kornea mataku belum siap untuk menerima cahaya yang begitu menyilaukan setelah aku menyelami kegelapan.

“manusia?? Dia manusia!!” kata salah seorang dari mereka dan aku masih tidak bisa melihat jelas wajahnya.

Tiba-tiba sebuah semprotan lembut menepuk kepala dan sekujur tubuhku, sebuah air segar yang sangat kurindukan. Air segar itupun membasahi kepalaku hingga lendir menjijikan itu telah hilang, air itu juga berhasil mencairkan lendir hijau yang terdapat di panci kami. Kemudian salah satu dari mereka menaruh suatu benda di dekat panci kami dan..

BOOOOMMM

Sebuah ledakan meledak tepat di depan panci kami namun anehnya hanya asap yang mengebul menghalangi pandangan dan berhasil menghancurkan panci itu beserta lendir hijau yang kini telah menhilang dalam hitungan detik. Masih didalam asap yang tebal semprotan air segar itu kini dapat kurasakan kembali, dan benar-benar mengenai sekujur tubuhku. Aku berasa hidup kembali. Perlahan asap itu mulai menghilang, perlahan aku bisa melihat beberapa sosok dan seorang sosok yang berdiri di depan kami, dengan sayapnya yang menjuntai indah di pundaknya. Astaga.. apa aku bermimpi? Ini.. ini..

“malaikat??”

“bukan hyukkie, tapi angeloth” kata donghae dan tersenyum.

“kau benar, selamat datang di hermina aku Jungsoo, angeloth pemimpin dari para hermina

~.~.~.~.~

Author POV

“yang mulia.. mereka pergi ma-ma-maafkan aku”

“aku tahu”

“arwah bodoh itu yang membawa mereka pergi”

“lalu..?”

Raja merekapun tersenyum tipis, dibalik sorot matanya yang tajam diantara kegelapan. Aphr itupun menundukan kepalanya, melangkahkan mundur kakinya dan membalik badannya seolah ia berbicara kepada para prajurit.

“cepat sampaikan ke seluruh penjuru kota! cari manusia-manusia itu! Kita harus mendapatkan mereka semua! Kita harus membawa mereka semua kesini!”

Iapun menghela nafas

“tenang saja, aku berani menjamin manusia-manusia bodoh itu tidak akan pernah bisa lari dari sini..”

“be-begitukah? Sy-syukurlah.. apa kau menggu—“

“pengawal”

“ya?”

“bawa aphr yang tidak berguna ini pergi”

“kemana tuan?”

doomshell”

“baik laksanakan tuan”

“tu-tunggu!! Ja-ja-jangaan! Maafkan aku tidak maafkan aku yang mulia!!”

GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

.

.

.

.

.

.: To Be Continued :.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Akhirnya~ selesai juga part 4nya ^^ mian lama updatenyaaahh >< author sibuk liburan keliling eropa sama akang henli u.u *digilesstrings* hehehe ^^v jeongmal kamsahamnida buat chingudeul yang udah setia nungguin dan baca fanfic EFTUL ini. Please like and commentnya yaahh chingu, satu comment mu berharga untuku u.u tunggu kelanjutannya  kapan-kapan~ #plak


15 thoughts on “Escape from the Undead Land [ Part 4 ] (Game and the Hermina)

  1. hyah……
    telah lma q nunggu2 ni ff.
    akhr nya kluar jga.
    hue….
    kngen……..

    tetep daebakk chingu…
    tp q bsen nunggu in nya.
    klmaan…

    Like

  2. Akhirnya *menelus dada*
    Di Post juga!!! yeyeyey *jingkrak2 dikasur*
    Waaah, ada Leeteuk oppa juga… heheheh makin seru nih…😀
    Tapi aku agak gak dong soal Kyuhyun oppa itu o.O
    Ayo chingu lanjutkan!!! 😀

    Like

  3. Lama bgt nunggu lanjutannya kirain gabakalan dilanjutin lagi..
    Gantung bgt itu akhirannya thor😀
    Lanjut lagi ya, kalo bisa panjangin lagi *ditempelengauthor*

    Like

  4. When shopping from the internet, a telephone number of hoi polloi often look at clip to read through a pair off of reviews on the cartesian product ahead
    devising a buy. This is because; online mathematical product reviews gift
    the diverse opinions from those WHO consume bought the products ahead.
    Thus, it would be earmark to state that online production reviews hind end
    let an bear upon on the gross sales of those products.

    The impact of online production reviews on sales tail end either be
    electropositive or minus founded on the quality and mode in which they are scripted.
    At times, it tush also be founded upon the mass World Health Organization compose them.

    However, it should be illustrious that an idealistic online
    production critique should be distinctly scripted founded on the customer go through and
    non any other personal reasons. That is the lone manner through and through which they force out be
    useful to you as the stage business possessor and your perceived customers.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s